Anda di halaman 1dari 17

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia

Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat


IWI Jakarta, 24 Maret
2016

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA KESERTAAN KB


MELALUI METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG (MKJP)
DI KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT
Oleh: MUNAWAR SHODIQ, S.A.N.
Widyaiswara Ahli Pertama Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung
Jl. Abdi Negara No. 3 Teluk Betung Utara 35214
(Diterima 14 Maret 2016; Diterbitkan 24 Maret 2016)
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi
rendahnya kesertaan KB melalui Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Kabupaten
Tulang Bawang Barat. Kajian ini dilandasi dari hasil telaah program KKBPK Provinsi Lampung
Tahun 2014, dimana capaian MKJP Kabupaten Tulang Bawang Barat baru 16,21%, jauh lebih
rendah daripada capaian MKJP di tingkat provinsi, yakni sebesar 22,03% dan di tingkat nasional
sebesar 26,03%. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan
triangulasi data dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif yang bersifat interaktif.
Berdasarkan hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi
rendahnya kesertaan KB melalui MKJP di Kabupaten Tulang Bawang antara lain (1) Faktor
petugas medis; (2) Faktor budaya; (3) Faktor sosial; (4) Faktor ekonomi; (5) Faktor pendidikan; (6)
Faktor sarana dan pelayanan KB.
Keywords: Petugas Medis, Budaya, Sosial, Ekonomi, Pendidikan, Sarana dan Pelayanan KB,
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang.
Corresponding author: Munawar Shodiq, E-mail: munawarshodiq.bkkbn@gmail.com

Pendahuluan
Indonesia menghadapi masalah jumlah penduduk yang terus meningkat, maka dalam hal ini
pemerintah terus berupaya melaksanakan upaya-upaya preventif untuk mencegah kenaikan
angka kelahiran yang tidak terkendali. Tidak terkendalinya laju penduduk ini tidak dapat

dipisahkan dari anggapan tradisional

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016
masyarakat kita yang masih meyakini bahwa
banyak anak

akan mendatangkan banyak reziki. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya


yakni semakin banyak anak di zaman sekarang justru dapat menjadi beban keluarga dan negara,
misalnya, untuk pengeluaran belanja pendidikan, permintaan pelayanan publik, dan kualitas
lingkungan.
Dalam konteks di atas, berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2007 dan 2012 menunjukkan bahwa angka kelahiran yang dihitung dari rata-rata kelahiran (TFR)
wanita berusia 15-49 tahun telah mengalami kenaikan dari 2,4 perwanita, menjadi 2,6. Terjadi
peningkatan dari angka kelahiran. Temuan demikian sejalan dengan hasil Sensus Penduduk
2010, dimana jumlah penduduk Indonesia melebihi perkiraan yang ditetapkan sebelumnya
(Elfindri & Fasli Jalal, 2014: 17).
Lemahnya pengendalian angka kelahiran di Indonesia menurut beberapa pengamat disebabkan
oleh

beberapa

fenomena,

yaitu;

pertama,

setelah

desentralisasi

intensitas

kebijakan

kependudukan dan segala program di daerah tidak lagi setajam di era Orde Baru; kedua, capaian
penggunaan kontrasepsi sekalipun sudah relatif tinggi namun efektifitas penggunaan alat
kontrasepsi masih rendah. Di mana peserta KB aktif umumnya adalah wanita dan berdimensi
kontrasepsi jangka pendek. Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika biaya untuk
mendapatkan kontrasepsi relatif tinggi untuk ukuran kurang mampu; ketiga, prioritas program KB
dalam menjangkau kelompok PUS masih belum terlayani secara maksimal. SDKI 2007 dan 2012
menunjukkan angka unmeet need yang masih berkisar antara 11-12 persen. Padahal jika program
KB diarahkan kepada kelompok ini sebenarnya akan semakin baik dampaknya terhadap
penurunan angka kelahiran.
Terkait penyelenggaran Keluarga Berencana (KB) di era otonomi daerah, pelaksanaan KB secara
struktural berada di bawah koordinasi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
hanya di tingkat provinsi, sementara pada level kabupaten/kota secara penuh dilimpahkan kepada
daerah. Sejak saat itu, muncul beragam variasi kebijakan terhadap KB di tingkat daerah/kota.
Bahkan, sebagian besar daerah menganggap program KB tidak termasuk skala prioritas dan
bukan sektor strategis. Padahal, pertambahan jumlah penduduk yang tidak terkendali
mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan seperti, ekonomi, pendidikan, lingkungan,
kesehatan, dan sosial. Berbagai persoalan ini jika tidak terpenuhi akan memunculkan persoalan
sosial lainnya seperti pengangguran, pencurian, permpokan, pembegalan, dan masalah kriminal
lainnya. Masalah-masalah tersebut akan menambah beban bagi pemerintah baik pusat maupun
daerah.

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016

Untuk mempercepat pengendalian fertilitas melalui penggunaan kontrasepsi, program keluarga


berencana nasional di Indonesia lebih diarahkan kepada pemakaian Metoda Kontrasepsi Jangka
Panjang (MKJP), karena metode ini dikenal efektif dan efisien untuk tujuan pemakaian
menjarangkan kelahiran atau mengakhiri kehamilan pada pasangan yang sudah tidak ingin
tambah anak lagi. sekaitan dengan hal tersebut, Kabupaten Tulang Bawang Barat merupakan
salah satu daerah di Provinsi Lampung yang memiliki capaian rendah dalam penggunaan MKJP.
Berdasarkan hasil Telaah Program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga Provinsi
Lampung Tahun 2014, Kabupaten Tulang Bawang Barat baru memiliki akseptor KB MKJP sebesar
16,21%. Capaian KB melalui MKJP dari kabupaten ini berada pada kuadran IV dengan katergori
rendah. Hal ini jauh lebih rendah daripada capaian KB MKJP di tingkat provinsi, yakni sebesar
22,03% dan di tingkat nasional sebesar 26,03%.
Berkaitan dengan masalah di atas, kajian ini diharapkan dapat menggambarkan dan
mendeskripsikan Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya kesertaan KB melalui metode
kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Kabupaten Tulang bawang Barat tahun 2014.
Metodologi
Berangkat dari hasil Telaah Program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga Provinsi
Lampung Tahun 2014, Kabupaten Tulang Bawang Barat baru memiliki akseptor KB MKJP sebesar
16,21%. Capaian KB melalui MKJP dari kabupaten ini berada pada kuadran IV dengan katergori
rendah. Hal ini jauh lebih rendah daripada capaian KB MKJP di tingkat provinsi, yakni sebesar
22,03% dan di tingkat nasional sebesar 26,03%. Selanjutnya yang dijadikan sumber data dari
kajian ini adalah SKPD, PLKB dan Medis (bidan dan dokter) yang ada di wilayah Tulang Bawang
Barat. Adapun penentuan sumber data kajian ini dilakukan dengan cara purposive, yakni
mendapatkan sumber data disesuaikan dengan kebutuhan. Oleh sebab itu, sumber data kajian ini
adalah hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa informan (SKPD, PLKB dan petugas
Medis (bidan dan dokter) yang ada di daerah terteliti. Dalam hal ini, informan yang diwawancarai
dalah beberapa informan yang dibutuhkan saja (purposive) yang dianggap mampu memberikan
keterangan yang diperlukan dan tentu saja keabsahan datanya dapat dipercaya. Informan yang
diwawancarai dalam kajian ini diambil secara snowball dengan tujuan agar data yang diinginkan
benar-benar terpenuhi dan terwakili. Oleh sebab itu, pengambilan data dalam kajian ini melalui
wawancara mendalam (deepinterview) terhadap orang-orang yang dibutuhkan keterangannya
sehingga diperoleh data yang mencapai titik kejenuhan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Teknik analisis data yang digunakan

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016 interaktif yang
adalah analisis deskriptif yang bersifat

disampaikan oleh Hubberman dan Miles (1992:20) di mana terdapat tiga hal utama dalam analisis
interaktif, yakni: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hal tersebut
menurut Fuad dan Nugroho (2014) sebagai suatu yang jalin menjalin pada saat sebelum, selama,
dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk sejajar, untuk membangun wawasan umum yang
disebut analisis. Adapun langkah-langkah menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Melakukan pengumpulan data di lapangan.
2. Melakukan reduksi data dalam arti data tersebut dipilih dan difokuskan sesuai pertanyaan
penelitian serta dilakukan analisis secara deskriptif interaktif untuk mendapatkan data yang
sesungguhnya.
3. Melakukan penyajian

data yang telah dianalisis sebagai upaya untuk menarik sebuah

kesimpulan dan pengambilan keputusan terhadap data yang telah dianalisis.


4. Melakukan verifikasi atau menarik sebuah kesimpulan terhadap hasil penelitian.

Hasil
Berdasarkan

data yang

diperoleh

dari lapangan

terungkap bahwa

faktor-faktor

yang

mempengaruhi rendahnya kesertaan keluarga berencana (KB) melalui metode kontrasepsi jangka
panjang (MKJP) di Kabupaten Tulang Bawang Barat meliputi:
a. Faktor Petugas Medis
Faktor petugas medis (bidan dan dokter) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
rendahnya kesertaan KB MKJP di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Berdasarkan keterangan
yang didapat, hal ini dikarenakan selain petugas medis yang masih masih terbatas, juga
dikarenakan petugas medis sendiri sebagai ujung tombak lebih menyukai penggunaan suntik.
Petugas medis merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan
strategis terutama dalam penurunan angka kelahiran. Maka, dalam konteks di atas cara yang
paling efektif untuk menggalakan program KB MKJP adalah melalui penguatan petugas
kesehatan dalam pelayanan dan peningkatan kualitas seperti bidan-bidan desa untuk
berperan secara aktif dalam memberikan pemahaman dan pelayanan kepada masyarakat
tentang manfaat KB MKJP. Pelatihan kepada bidan desa sangat penting digalakkan
mengingat peran bidan desa dalam pengendalian penduduk di level akar rumput sangat

signifikan. Untuk itu, peran bidan dan

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016
pelayanan keluarga berencana
merupakan satu

kesatuan untuk mengajak masyarakat ikut program KB MKJP.


Dalam konteks di atas, untuk menguatkan petugas kesehatan dalam upaya meningkatkan
program KB di antaranya dapat dilakukan dengan penyebaran bidan ke setiap daerah di
perdesaan sehingga dapat mengatasi kebutuhan masyarakat terhadap alat kontrasepsi jangka
panjang. Di Kabupaten Tulang Bawang Barat terdapat 85 bidan yang tersebar di delapan
Puskesmas, namun yang menjadi kendala pelaksanaan program KB di kabupaten baru ini
yaitu hanya memiliki tiga (3) tenaga PLKB. Sebagaimana dimaklumi, bahwa minimnya sumber
daya manusia tersebut membuat program KB sulit dapat menyentuh hingga level akar rumput
terutama di kalangan masyarakat awam.
b. Faktor Budaya
Faktor budaya masih menjadi hambatan dalam pelaksanaan program KB di Kabupaten Tulang
Bawang Barat. Hal ini disebabkan karena pengaruh tentang nilai anak dalam masyarakat
Lampung masih tampak kental sekali. Nilai merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta
melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial bukan secara
biologis atau bawaan sejak lahir. Nilai memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam
usaha pemenuhan-pemenuhan kebutuhan sosial, nilai-nilai juga melibatkan emosi. Syani
(1995) mendefinisikan nilai sebagai kumpulan perasaan mengenai apa yang dinginkan atau
yang tidak diharapkan, mengenai yang boleh dilakukan atau yang tabu dilakukan. Kaitannya
dengan nilai tersebut, beberapa kelompok masyarakat di Kabupaten Tulang Bawang Barat
dan beberapa kabupaten di Provinsi Lampung memiliki nilai yang bertolak belakangan dengan
program KB dalam memahami kehadiran seorang anak. Diantaranya mereka berkeyakinan
bahwa setiap anak membawa rezeki sendiri sehingga banyak anak akan banyak rezeki. Selain
itu, dalam komunitas masyarakat Lampung kedudukan anak laki-laki yang dianggap sebagai
penerus keturunan keluarga, maka hal itu sangat berpengaruh terhadap jumlah anak.
Misalnya, dalam sebuah kelurga yang masih belum mendapatkan anak laki-laki maka
kehadiran seorang anak tersebut tetap menjadi penantian, sehingga dalam konteks ini
kehadiran seorang yang tidak diharapkan karena tidak sesuia dengan yang diharapkan sangat
rentan terjadi.
Masalah budaya dapat menimbulkan masalah serius dalam hubungannya dengan program
KB, sehingga perlu adanya kerjasama anggota masyarakat untuk mengontrol banyaknya anak
dalam satu keluarga. Dalam hal ini, peran serta masyarakat sangat penting agar dapat saling

mengingatkan, ikut serta dalam program

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016 lainnya untuk
pemerintah, menghimbau masyarakat

berpartisipasi di dalamnya. Di Kabupaten Tulang Bawang Barat, berkaitan dengan nilai anak
kelompok etnik Lampung dan Batak memiliki kecenderungan memiliki jumlah anak lebih dari
dua. Bagi orang Lampung yang memiliki budaya patrenial yang sangat kuat berpengaruh
terhadap nilai anak laki-laki di mata keluarga, hal itu karena garis keturunan keluarga jatuh
pada anak laki-laki. Untuk itu, ketika dalam keluarga masih belum memiliki anak laki ada
kecenderungan mereka akan menambah anak hingga mendapatkan anak yang diharapkan
tersebut.
Selain orang Lampung, orang Batak juga memiliki nilai budaya yang bertolak belakang
dengan program KB, yaitu nilai kebanggaan terhadap jumlah komunitas keluarga yang
banyak. Menurut keyakinan mereka, ketika seseorang keluarga memiliki jumlah anak yang
banyak maka di masa tuanya mereka akan banyak yang merawat. Dalam konteks ini,
meskipun orang Batak juga memilki budaya patrineal namun selain itu mereka juga memiliki
nilai yang tinggi terhadap jumlah komunitas.
Sementara itu untuk orang Jawa, mereka yang memiliki kecenderungan punya anak lebih dari
dua adalah mereka yang bergabung dengan komunitas organisasi keagamaan tertentu.
Menurut kelompok ini Islam sangat menganjurkan untuk melahirkan anak-anak dan
memperbanyak keturunan dengan merujuk pada Al Araf: 86 yang berbunyi: Ingatlah di waktu
dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu, dan juga sabda
Rasulullah: Nikahilah wanita-wanita yang pencintan dan bisa beranak banyak. Sesungguhnya
aku akan membanggakan banyaknya umatku di hadapan umat-umat lain (HR. Abud Daud)
Pada dasarnya semakin banyak jumlah penduduk di suatu daerah, maka ini berdampak pada
jumlah penduduk ke depannya. Jika tidak ditanggulangi dari sekarang, jumlah penduduk
semakin lama semakin bertambah. Apalagi jika penduduk di suatu daerah tersebut memiliki
budaya yang variatif

sehingga mereka memiliki pandangan atau persfektif sendiri-sendiri

terhadap KB. Masalah ini ini akan berdampak pada kesertaan KB di daerah setempat.

c. Faktor Sosial
Dari hasil temuan dilapangan membuktikan bahwa faktor sosial merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi rendahnya kesertaan KB melalaui MKJP di Kabupaten-kabupaten di

Lampung, baik di Kabupaten Tulang

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
Bawang Barat maupun di Kabupaten 2016
lainnya. Masyarakat

Tulang Bawang Barat menyebar di beberapa daerah daerah yang jaraknya jauh dari kantor
SKPD KB maupun dari tempat-tempat pelayanan KB. Banyak masyarakat yang khususnya
tinggal di pelosok desa, mereka enggan untuk datang ke pertemuan-pertemuan KB dengan
alasan jauh dari tempat tinggalnya. Selain itu, masyarakat lebih menyukai KB non-MKJP
daripada KB dengan mengunakan MKJP. Hal ini disebabkan beberapa faktor, antara lain
faktor tempat tinggal yang jauh, sikap terhadap kesertaan KB melalui MKJP masih kurang,
dan pengetahuan masyarakat terhadap alat-alat KB modern itu sendiri masih rendah..
Jika dikaji lebih mendalam terlihat bahwa masyarakat yang tinggal di daerah terpencil akan
sulit mendapatkan pemahaman tentang alat kontrasepsi keluarga berencana (KB). Apalagi
jika pendidikannya masih rendah. Mereka memilih untuk pasrah dengan keadaan yang
dialaminya. Bagi mereka hidup harus dijalani kerena itu semuanya telah ditentukan oleh sang
pencipta, yaitu Allah. Prinsip hidup seperti itu sebaiknya sudah tidak digunakan lagi untuk saat
ini. Meskipun kita wajib melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, itu
bukan berarti kita tidak boleh mengubah hidup kita lebih baik daripada sebelumnya.
Pada dasarnya, masyarakat yang memiliki pengetahuan yang tinggi dan mau bergaul dengan
orang lain, serta mampu mengubah mainsednya ia akan lebih terbuka dan lebih mudah
menerima suatu pertubahan dalam hidupnya. Ia akan lebih proaktif untuk mengubah hidupnya
menjadi lebih baik. Oleh sebab itu, ia membutuhkan motivasi baik dari diri sendiri maupun dari
orang lain untuk mengubah pola hidupnya. Hal inilah yang mengharuskan masyarakat (PUS)
untuk selalu

berinteraksi

dengan masyarakat. Dengan demikian, pemahaman terhadap

KBMKJP yang diberikan oleh petugas KB baik dari petugas medis maupun PLKB akan lebih
mudah diterima oleh PUS. Namun, kenyataan yang ada di lapangan sebagian besar peserta
KB lebih memilih suntik KB dan Pil KB.
d. Faktor Ekonomi
Dari hasil temuan di lapangan, keluarga yang memiliki ekonominya rendah atau prasejahtera
(pra KS), beberapa keluarga ini malah cenderung tidak mau masuk menjadi akseptor KB.
Kalaupun ada, kontrasepsi yang mereka pilih kebanyakan non MKJP seperti pil KB, suntik,
kondom, dan lain-lain. Oleh sebab itu, mereka lebih mengandalkan program gratis dari
pemerintah karena bagi mereka biaya KB melalui MKJP lebih mahal daripada biaya KB NonMKJP.

Dalam konteks di atas, sejak era

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016
otonomi daerah kewenangan Pemerintah
Pusat untuk

mendorong pelaksanaan KB di daerah sangat terbatas. Bantuan pemerintah pusat kepada


daerah berupa Dana Alokasi Khusus (DAK) namun hanya diperuntukkan bagi sarana dan
prasarana kesehatan seperti dipakai untuk membeli mobil unit penerangan, mobil unit
pelayanan, sepeda motor bagi petugas lapangan KB dan alat-alat keperluaan KB lainnya.
Sementara itu, untuk operasional pelaksanaan KB menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun, yang
menjadi persoalan kemudian adalah banyak pejabat daerah merasa enggan secara penuh
memperhatikan program KB karena tidak mendatangkan sumber pendapatan bagi daerah,
padahal program KB sebenarnya tidak hanya membatasi angka kelahiran melainkan lebih
jauh lagi dapat meningkatkan kualitas penduduk dengan ketahanan keluarga.
Bila dibandingkan dengan masa Presiden Soeharto, program keluarga berencana menjadi
prioritas pembangunan jangka panjang setelah Indonesia menandatangani Deklarasi PBB
(Perserikatan Antar Bangsa-Bangsa) di Teheran bersama 20 Pemimpin Negara lainnya pada
tahun 1967.

Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Deklarasi PBB tersebut maka

dibentuklah Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) tahun 1969 sebagai upaya untuk
menekan angka kelahiran. LKBN yang Semi Pemerintah ini kemudian ditingkatkan menjadi
Lembaga Pemerintah Non Departemen melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 8 tahun
1970 tentang Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan tugas
menjalankan koordinasi dan integrasi terhadap pelaksanaan program nasional secara
terpadu.
Atas dasar Keppres tersebut Program KB mulai digalakkan dengan mengkoordinasikan
dengan Instansi Pemerintah, Swasta dan Institusi Masyarakat serta memperkuat komitmen
politis sampai ke tingkat desa dengan target menurunkan angka kelahiran 50% pada tahun
1990 dibandingkan dengan keadaan tahun 1970. Namun, seiring jatuhnyar rezim Orde Baru
(1998) program KB 2 anak cukup mendapatkan protes kelompok reformis karena dianggap
melanggar Hak Azasi Manusia (HAM). Akibat dari desakan tersebut terbitlah Keppres No. 103
tahun 2001 tentang Tugas dan Kewenangan Lembaga Pemerintah Non Departemen. Salah
satu pasalnya menegaskan bahwa sebagian tugas pemerintahan yang dilaksanakan oleh
BKKBN akan diserahkan kepada Pemerintah Daerah selamat-lambatnya 31 Desember 2003.
Sejak pelimpahan wewenang program kependudukan kepada pemerintah daerah (2004) di
atas program KB tidak lagi berjalan maksimal karena daerah menilai program KB tidak
penting. Sehingga komitmen anggaran terhadap bidang kependudukan menjadi sangat kecil

yaitu rata-rata daerah hanya

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016 untuk bidang
mengalokasikan 0,4% dana APBD-nya

kependudukan.Bahkan dari 511 kabupaten/kota yang memiliki urusan kependudukan, hanya


20 daerah yang kelembagaannya utuh. Bahkan, ada daerah yang tidak memasukkan urusan
kependudukan ke satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Kondisi menjadi sangat
memprihatikan ketika banyaknya PKB/PLKB dimutasi ke unit lain yang tidak ada hubungannya
dengan bidang KB. Akibat mutasi dan PKB/PLKB yang pensiun, jumlahnya menyusut drastis
di era otonomi daerah.
e. Faktor Pendidikan
Sejalan dengan yang dikemukan dalam teori Anderson (2003) bahwa pendidikan
mempengaruhi pemilihan alat kontrasepsi. Pendidikan seorang ibu akan menentukan pola
penerimaan terhadap informasi dan pengambilan keputusan, semakin berpendidikan seorang
ibu, maka keputusan yang akan diambil akan lebih baik.
Berdasarkan keterangan yang didapat di lapangan sependapat bahwa pendidikan merupakan
salah satu faktor yang sangat menentukan terhadap pengetahuan dan persepsi seseorang
terhadap pentingnya keikutsertaan dalam KB. Seseorang yang berpendidikan tinggi umumnya
memiliki pengetahuan terhadap sesuatu hal lebih luas, termasuk tentang pembatasan angka
kelahiran. Hubungan antara pendidikan dengan pola pikir, persepsi dan perilaku masyarakat
sangatlah signifikan dalam hal pengambilan keputusan pilihan-pilihan jenis KB. Selain faktor
pendidikan, peran bidan tetaplah penting dalam menyosialisasikan jenis alat kontrasepsi
kepada masyarakat. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap jenis-jenis kontrasepsi
jangka panjang membuat program KB seakan berjalan di tempat.
Mengacu pada pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa keberhasilan program KB MKJP
setidaknya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Adapun yang
dimaksud dengan faktor internal yaitu berkaitan dengan tingkat pendidikan di mana mereka
yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung mempunyai aktivitas tinggi sehingga
berpengaruh terhadap keputusan jumlah anak dalam keluarga. mereka yang berpendidikan
tinggi memiliki pemahaman yang rasional terkait dampak tentang kepadatan penduduk.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah kemampuan bidan dalam
memberikan informasi yang objektif dan lengkap terkait keutamaan-keutamaan pemakaian
metode kontrasepsi jangka panjang.

f.

Faktor sarana dan pelayanan KB

Faktor sarana dan pelayanan KB sangat

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016
menunjang untuk mendukung kesuksesan
program

KB MKJP di lapangan. Berdasarkan temuan di lapangan, sarana dan pelayanan KB di daerah


khususnya di pelosok-pelosok desa masih sangat terbatas. Mengingat begitu pentingnya
peran bidan maka idealnya dibutuhkan koordinator bidan di masing-masing daerah yang
bertugas melakukan kegiatan supervisi dan pendampingan kepada bidan praktik. Tujuannya
adalah untuk mengoptimalkan peran bidan sebagai lini depan pelayanan alat kontrasepsi.
Dalam konteks ini peran bidan koordinator tidak hanya menjalankan kegiatan pencatatan yang
bersifat administratif melainkan juga melakukan pengawasan dan pendampingan. Langkah
menempatkan bikor bertujuan agar strategi penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
(MKJP) bisa berhasil dengan meningkatkan fasilitas dan keterampilan bidan.
Dengan keberadaan bidan koordinator diharapkan dapat meningkatan kualitas pelayan,
seperti bidan-bidan desa untuk berperan secara aktif dalam memberi pemahaman dan
pelayanan kepada masyarakat terkait KB MKJP. Namun selain itu, pemerintah daerah juga
harus melengkapi sarana dan prasana kesehatan termasuk jumlah alat MKJP karena
rendahnya PUS memilih KB MKJP diantaranya disebabkan minimnya sarana pelayanan KB
seperti rumah sakit, puskesmas, bidan desa, dan dokter. Faktor ini sangat berpengaruh
dalam meningkatkan kesertaan KB.
Tabel Permasalahan Bidang Urusan Kependudukan Tulang Bawang Barat 2014
Kelurga
Permasalahan
Faktor Keberhasilan
Berencana dan Petugas Lapangan KB yaitu
Tersedianya Petugas
Keluarga
PLKB belum optimal dalam
Lapangan KB yang
Sejahtera
melakukan mekanisme
berpengalaman melaksanakan
operasional program sehingga mekanisme operasional
berdampak terhadap
program.
keberhasilan program.
Peran Pria dalam KB masih
Meningkatnya
peran
pria
rendah hal ini dapat dilihat dari dalam KB hal ini dapat dilihat
masih rendahnya Pencapaian
dari Meningkatnya pencapaian
peserta KB baru MOP dan
peserta KB baru MOP dan
Akseptor Kondom
akseptor KB Kondom
Anggaran operasional untuk Tersedianya Anggaran
penggerak program KB di operasional untuk penggerak
tingkat lini lapangan seperti program KB di tingkat lini
Pos KB dan Subpos KB masih lapangan seperti Pos KB dan
terbatas
sehingga Sub Pos KB sehingga
berpengaruh terhdap tingkat berpengaruh terhadap tingkat
partisipasi
partisipasi masyarakat.
Sumber: RKPD (Rencana Kerja Pembangunan Daerah) Kabupaten Tulang Bawang Barat 2014.
Halaman. 21.
Pada dasarnya program KB melalui MKJP ini merupakan salah satu persoalan yang perlu
dicari solusinya. Kenyataan di lapangan masih banyak masyarakat yang belum memahami KB

melalui MKJP ini sehingga tingkat

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
KB MKJP di daerah Lampung 2016
masih rendah jika

dibandingkan dengan KB melalui non-MKJP. Dalam hal ini, penyebab rendahnya PUS dalam
memilih KB melalui MKJP sebenarnya karena kurangnya sarana dalam pelayanan KB itu
sendiri. sarana yang dibutuhkan dalam pelayanan KB ini bisa berupa rumah sakit, puskesmas,
bidan desa, dokter, dan petugas PLKB itu sendiri yang harus hadir di setiap daerah dan
melaksanakan fungsinya secara maksimal.
Pembahasan
Berdasarkan laporan Kontrak Kinerja Provinsi (KKP) Lampung 2014 capaian CPR Kabupaten
Tulang Bawang Barat sudah mencapai target 69,9 persen dari target 75,07 persen di tingkat
provinsi. Angka tersebut menggambarkan bahwa pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB)
di Tulang Bawang Barat sudah cukup berhasil dalam mengurangi angka kelahiran. Namun, jika
kita melihat pada capaian MKJP jauh daripada target propinsi, yaitu hanya 5,0 persen dari target
provinsi 26,03 persen. Di samping itu yang tidak kalah mengkawatirkan adalah tingkat ASFR (1519) Kabupaten Tulang Bawang Barat pada angka 67 persen. Dua fenomena tersebut
mencerminkan tingginya proyeksi penambahan jumlah penduduk di kabupaten tersebut,
kenyataan ini sudah terlihat dengan membandingkan jumlah penduduk Tulang Bawang Barat
tahun 2012 berdasarkan data Badan Pusat Statistik berjumlah 258.458 jiwa sekarang (2014)
meningkat menjadi 278.211 jiwa (Laporan Kependudukan Kabupaten Tulang Bawang Barat
Triwulan III [Juli, Agustus, September 2014]). Itu artinya kegagalan program KB MKJP di
kabupaten tersebut akan menambah sederet persoalan kependudukan baik dalam jangka
panjang maupun jangka pendek terkait dengan pemenuhan program-program kesejahteraan bagi
pemerintah daerah.
Berdasarkan sumber data yang sama, jumlah presentase peserta KB MKJP lama dan peserta KB
MKJP baru tidak mengalami perubahan yaitu tetap pada angka 11.896 atau 45,35 persen.
Kenyataan ini terjadi menurut laporan RKPD (Rencana Kerja Pembangunan Daerah) Kabupaten
Tulang Bawang Barat tahun 2014 disebabkan oleh Petugas Lapangan KB (PLKB) belum optimal
dalam melakukan mekanisme operasional program sehingga berdampak terhadap keberhasilan
program. Berkaitan dengan masalah ini ketika menurut SKPD KB Tulang Bawang menjelaskan
bahwa ketidak optimalan peran PLKB tidak lain karena minimnya jumlah kader PLKB yang ada di
lapangan.
Kenyataan terjadinya krisis kader PLKB di daerah sebagaimana di Kabupaten Tulang Bawang
Barat tersebut diakui oleh Kepala BKKBN, Fasli Jalal, bahwa krisis PLKB terjadi secara merata

seluruh Indonesia sejak era otonomi

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016 yang dipindahdaerah di mana tenaga PLKB banyak

pindahkan akibat tidak ada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah (BKKBD).
Pada masa Orde Baru jumlah PLKB mencapai 40 ribu orang. Sementara itu saat ini hanya
berkisar

15

ribu

orang

dengan

kondisi

desa

dan

keluarga

yang

terus

bertambah

(http://www.sindotrijaya.com).
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya
kesertaan KB melalui MKJP adalah faktor petugas medis (bidan dan dokter), budaya, sosial,
ekonomi, pendidikan, sarana, dan pelayanan KB itu sendiri. Hal ini terbukti dari hasil wawancara
peneliti dengan petugas PLKB dan petugas medis (bidan dan dokter) di daerah setempat yang
isinya sebagai berikut.
1. Penggunaan IUD terkendala kerena keputusan suami yang masih beranggapan bahwa IUD
itu mengganggu hubungan seksual dan menyebabkan kurang nyaman.
2. PUS memiliki rasa malu menggunakan KB melalui MKJP (IUD) khususnya pada saat
pemasangan. Hal ini akan menghambat penggunaan MKJP.
3. Masyarakat awam memandang bahwa kalau terjadi kegagalan IUD bisa saja alat kontrsepsi
tersebut menempel di kepala bayi. Padahal itu, pendapat yang keliru (mitos).
Hasil temuan dalam kajian ini diperoleh bahwa pengaruh dukungan suami merupakan salah satu
faktor dominan yang menentukan PUS menggunakan MKJP. Hal ini sebagaimana diungkapkan
dalam teori Lawrence Green bahwa faktor dukungan suami dapat dikatakan sebagai salah satu
faktor anteseden atau pemungkin yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana.
Perpadauan antara dukungan suami dengan kemauan yang kuat dari isteri dalam menetapkan
pilihan pada alat kontrasepsi terbukti efektif membuahkan keputusan yang bulat bagi kedua
pasangan dalam memilih menggunakan alat kontrasepsi.
Adanya dukungan suami dalam pemilihan MKJP disebabkan factor sosial budaya yang sangat
tinggi yang mengharuskan suami memberikan dukungan dan kasih sayang untuk isterinya.
Apalagi dalam konteks Indonesia, keputusan suami dalam mengizinkan isteri adalah pedoman
penting bagi isteri untuk menggunakan alat kontrasepsi. Bila suami tidak mengizinkan atau
mendukung, hanya sedikit isteri yang berani untuk tetap memasang alat kontrasepsi tersebut.
Dukungan suami sangat berpengaruh besar dalam pengambilan keputusan menggunakan atau
dipengaruhi oleh faktor sosial budaya.
Keengganan suami dalam memberikan dukungan terhadap isterinya bisa disebabkan kurangnya
informasi yang diperoleh suami sehingga dalam memberikan dukungan pemilihan alat kontrasepsi

secara umum. Pengetahuan atau kognitif

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
merupakan domain yang penting2016
dalam membentuk

tindakan seseorang.
Pada dasarnya, salah satu hambatan dalam penerimaan kontrasepsi adalah malu waktu
pemasangan karena ada larangan (tabu) untuk memanipulasi alat kelamin wanita, sehingga alat
kontrasepsi tersebut menghilangkan minat wanita. Padahal itu hanyalah kesalahan persepsi
masyarakat saja. Dalam hal ini, masayarakat perlu diberi pemahaman yang mendalam tentang
pemakain alat kontrasepsi baik yang menggunakan MKJP maupun non-MKJP.
Faktor Sosio Demografi merupakan salah satu faktor yang juga mempengaruhi sesorang memilih
alat kontrasepsinya baik melalui MKJP maupun non-MKJP. Sosio Demografi ini meliputi unsur
tingkat pendidikan dan pengetahuan. Dalam hal ini, seringkali dijumpai bahwa lingkungan sosial,
budaya, stigma, dan norma lebih dominan memberikan pengaruh negatif

terhadap informan

(PUS) dalam memilih alat kontrasepsi yang digunakannya.


Tingginya pemilihan metode non-MKJP di Tulang Bawang Barat ini dipengaruhi juga oleh
pekerjaan akseptor yang mayoritas bekerja di sektor perkebunan dan pertanian. Dalam hal ini,
pekerjaan juga mempunyai peranan penting dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi bagi PUS
tersebut.
Faktor Sosio Psikologis juga berpengaruh terhadap rendahnya kesertaan KB melalui MKJP.
Dalam hal ini, tentu saja masih banyak masyarakat yang percaya bahwa kalau belum dapat anak
laki-laki berarti belum boleh berhenti untuk memiliki anak. Kepercayaan masyarakat seperti itu
masih tampak di daerah Tulang Bawang Barat. Masyarakat masih memegang teguh adat istiadat
dari suku asalnya. Pada suku Batak dan Lampung tidak mungkin menggunakan kontrasepsi
MKJP sebelum mendapatkan anak laki-laki, belum ada pengakuan kalau anak perempuan bisa
meneruskan keturunan. Pada suku Batak memandang semakin banyak anak semakin banyak
tempat orang tua tinggal ketika dia tua atau semakin banyak anak yang akan memberikan
bantuan. Dalam hal ini, Suku Jawa adalah kelompok suku yang lebih mudah menerima terhdap
perubahan

sehingga

semua program pemerintaha akan

terlaksana

dengan baik

jika

masyarakatnya banyak bersuku Jawa.


Temuan lain dalam penelitian ini adalah faktor Nilai. Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini
faktor nilai dapat menyebabkan rendahnya kesertaan KB melalui MKJP di Lampung. Nilai tercipta
secara sosial bukan secara biologis atau bawaan sejak lahir. Nilai memuaskan manusia dan
mengambil bagian dalam usaha pemenuhan-pemenuhan perasaan mengenai apa yang

diinginkan atau yang tidak diharapkan,

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016 tabu dilakukan.
mengenai yang boleh dilakukan atau yang

Keadaan ini menggambarkan bahwa nilai yang dianut masih kental di daerah-daerah yang ada di
Lampung.
Keberadaan kultur juga tidak dapat dipisahkan dari masyarakatnya. Melalui kultur, manusia
belajar tentang banyak hal, seperti nilai-nilai, kepercayaan, perilaku, dan objek-objek material
lainnya yang mencermintkan cara hidup masyarakat (Macionis, 1997). Kultur adalah strategu
keberlangsungan hidup bagi masyarakat. Di dalam kultur terdapat peta pemahaman (map of
understanding) yang akan mengarahkan apa yang harus dilakukan manusia dan bagaimana
mereka melakukannya (Bennet, 1998). Sebagai sebuah strategi survival, masyarakat memiliki
harapan agar kultur dapat membantu mereka dalam mengatasi persoalan hidup.
Akan tetapi, kadang-kadang kultur tidak dapat berperan sesuai harapan manusia, lebih jauh lagi
pendekatan kultural tidak selalu berhasil dalam membantu manusia memecahkan persoalannya.
Dalam konteks ini kultur, bahkan bisa menghambat dalam memecahkan persoalan mengapa hal
ini bisa terjadi? Salah satu asumsi dasarnya adalah perubahan sosial yang terjadi saat ini telah
menimbulkan persoalan-persoalan yang baru dan kompleks mengenai kehidupan manusia.
Ada pertanyaan yang membutuhkan jawaban lugas di dalam masyarakat adalah mengapa MKJP
rendah di Lampung? Perlu diketahui bahwa Fatwa Haram MUI tentang alat kontrasepsi vasektomi
berpengaruh di masyarakat. Mitos bahwa vasektomi menurunkan gairah seks juga menjadi
momok yang membatasi peran serta pria dalam KB. Selain itu juga masih ada tokoh agama yang
memimiliki interpretasi terhadap teks agama yang dianutnya yaitu adannya larangan untuk
membatasi jumlah anak dan menganggap KB merupakan perbuatan yang mutasyabihat (samarsamar, antara halal dan haram) juga mempengaruhi KB secara umum.
Di Indonesia, bidan merupakan tenaga kesehatan yang paling banyak memberikan pelayanan KB.
Hal ini karena Bidan berada lebih dekat dengan masyarakat dibanding penyedia layanan KB
lainnya. Sebaliknya peran Petugas Lapangan KB (PLKB) di lapangan tidak berjalan maksimal. Hal
ini karena jumlah PLKB saat ini lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini
menyebabkan informasi mengenai KB tidak dapat tersebar merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan fakta di atas perlu adanya kebijakan strategis dan upaya dari pemerintah untuk
meningkatkan kesertaan KB melalui MKJP (IUD, MOP, MOW, dan Implant) di Provinsi Lampung,
antara lain adalah:
a. Meningkatkan pelayanan KB melalui MKJP secara maksimal.

b. Meningkatkan komitmen dan kemitraan

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016
bersama Ormas, OSIS, Badan Eksekutif
Mahasiswa

(BEM), Unit Kegiatan Siswa (UKS), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan lembaga-lembaga
pendidikan.
c. Memberikan pendidikan tentang alat-alat kontrasepsi KB khususnya KB-MKJP seperti IUD,
Inplant, MOW, dan MOP kepada PUS, siswa remaja, dan mahasiswa.
d. Meningkatkan anggaran/dana untuk pelaksanaan KB khususnya KB melalui MKJP yang
dituangkan dalam RAPBD dan RAPBN.
e. Meningkatkan SDM bagi petugas KB lapangan (PLKB) dan petugas medis (dokter dan bidan)
di setiap daerah di Lampung dengan mengikuti pelatihan-pelatihan secara rutin tentang
f.

penggunaan alat kontrasepsi KB-MKJP.


Membangun dan mengembangkan tempat-tempat pelayanan KB seperti Pos-Pos KB di setiap
Dusun/Desa, Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit yang mampu melayani KBMKJP seperti pemasangan IUD, Inplant, operasai pada wanita (MOW), dan operasi pada Pria

(MOP).
g. Memperbanyak petugas KB Lapangan (PLKB) dan petugas medis (bidan dan dokter) di setiap
daerah di Lampung secara merata yang bertugas melayani KB MKJP.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor penyebab rendahnya kesertaan KB melalui MKJP di Lampung adalah;
1. Faktor petugas medis, bidan yang semestinya menjadi ujung tombak pelaksanaan KB MKJP
dalam praktiknya justru bertolak belakang;
2. Faktor budaya, tidak populernya KB MKJP pada kelompok etnik tertentu karena faktor budaya
dalam kelompok tersebut, seperti etnik Lampung yang kental dengan budaya patrenial
berpengaruh terhadap jumlah anak ketika masih belum mendapatkan anak laki, begitu juga
dengan suku Batak yang memiliki kebanggaan terhadap komunitas keluarga besar membuat
program KB MKJB justru dianggap bertententangan dengan nilai budaya mereka. Hal yang
tidak jauh berbeda dalam komunitas keluarga muslim (Jawa) tertentu yang menganggap
pembatasan jumlah anak sebagai perbuatan yang tidak diridhoi Allah Swt. Hal ini juga
membuat program KB tidak dianjurkan dalam komunitas mereka;
3. Faktor sosial, keberadaan tempat tinggal PUS dan pemahamanan tentang KB MKJP masih
rendah berpengaruh terhadap kesertaannya untuk ber-KBMKJP;
4. Faktor ekonomi, mahalnya biaya jasa pemasangan KB MJP berpengaruh terhadap
rendahnya pemakaian alat kontrasepsi KB MKJP di masyarakat;

5. Faktor Pendidikan, rendahnya

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
pendidikan masyarakat (PUS) berpengaruh2016
tingkat pernikahan

dini di beberapa kelompok etnik tertentu di Lampung, sehingga hal tersebut berpengaruh
terhadap rendahnya pengetahuan masyarakat tentang arti keluarga sejahtera;
6. Faktor Sarana dan pelayanan

program KB itu sendiri, di setiap desa khususnya desa

terpencil sarana untuk pelayanan program KB masih kurang dan pelayanan KB khususnya KB
MKJP pun masih belum optimal.
Berdasarkan pembahasan di atas ada beberapa hal yang dapat disarankan, yakni sebagai
berikut.
1. Perlu adanya kebijakan strategis dan upaya dari pemerintah untuk meningkatkan kesertaan
KB melalui MKJP (IUD, MOP, MOW, dan Implant) di Provinsi Lampung.
2. Pemerintah perlu memberikan penghargaan dan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat
(PUS) yang akan menjadi akseptor KB melalui MKJP.
3. Pemerintah perlu memikirkan insentif

lebih bagi petugas KB (PLKB, bidan, dokter) yang

bertugas di daerah-daerah dan di pelosok desa yang secara optimal melayani KB khususnya
KB-MKJP.
4. Petugas KB lapangan (PLKB) dan petugas Medis (bidan dan dokter)) perlu proaktif melayani
kebutuhan KB bagi masyarakat (PUS) khususnya melayani KB melalui MKJP.
5. Pasangan Usia Subur (PUS) perlu menyadari bahwa mengikuti program KB melalui MKJP
seperti IUD, inflant, MOW, dan MOP lebih aman daripada melalui non-MKJP seperti pil KB,
suntikan, kondom, dan lain-lain untuk membatasi angka kelahiran dalam jangka panjang.
Dengan demikian, perlu dilakukan sosialisasi dan pemberian pemahaman secara mendalam
kepada PUS tentang pentingnya program KB melalui MKJP.

Daftar Pustaka

Asih, Oesman. (2009). Faktor-Faktor

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Widyaiswara Indonesia


Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat
IWI Jakarta, 24 Maret
2016
yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi
Jangka

Panjang (MKJP). Analisis Lanjut SDKI 2007. Jakarta: BKKBN.


Azwar, Saifuddin. (2013). Sikap Manusia:Teori dan Pengukurannya. Yogyakarata: Pustaka
Pelajar.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.(2011). Pedoman Pelaksanaan Pelayanan KB
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Jakarta: BKKBN.
Dewi, Maria Ulfa.K. (2013). Buku Ajar: Kesehatan Produksi dan Keluarga Berencana (untuk
Mahasiswa Bidan). Jakarta: Trans Info Media.
Elfindri & Jalal, Fasli. (2014). Keluarga Berencana Inklusif (Membangun Karakter Keluarga dan
Pekerjaan untuk Kesejahteraan). Jakarta: Baduose Media.
Handayani, Sri. (2010). Buku Ajar: Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Pustaka Rihama.
Laporan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Lampung
2014, Pemantapan Pengendalian Program dan Anggaran Bulan November.
Laporan Kependudukan Kabupaten Tulang Bawang Barat Triwulan III (Juli, Agustus, September
2014): Arsip BKKBN Tulang Bawang Barat.
Laporan Rekapitulasi Hasil Pendataan Keluarga Tingkat Provinsi 2013: Arsip BKKBN Provinsi
Lampung.
Mulyani, Nia S dan Rinawati, Mega. (2013). Keluarga Berencana dan Alat Kontrasepsi.
Yogyakarta: Naha Medika.
Nasution, Sri Lilestina. (2011). Fakktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan MKJP di Enam
Wilayah Indonesia. Analisis Lanjut 2011. Jakarta: BKKBN.
Setiyaningrum, Erna & Aziz, Zulfa B. (2014). Pelayanan Keluarga Berencana & Kesehatan
Reproduksi. Jakarta: Trans Info Media.
Suryanto, dkk. (2014). Optimalisasi Pelaksanaan Advokasi dan KIE dalam Pencapaian Program
KKBJ di Provinsi Lampung: Arsip BKKBN Lampung
Wicaksono. (2014). Kebijakan dan Strategi Program Kesehatan Reproduksi dalam Upaya
Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak, Makalah dipresentasikan dalam Seminar BKKBN
Lampung pada tanggal 14 Maret 2014.,