Anda di halaman 1dari 16

RANGKUMAN BAB II SUB BAB C

PENGHANTAR ILMU POLITIK


Paper ini dibuat dalam rangka perkuliahan ilmu politik

PENDEKATAN PENDEKATAN ILMU POLITIK


Dibawah bimbingan

Dr. Philips A. Kana.,SH.,MH

Disusun oleh kelompok V:


JESSIKA OKTAVIANA L.TOBING

1433. 001.054

NANDA WARA NISA

1433. 001.116

JOSHUA MARDA DOLOK

1433. 001.046

MAULANA BAGAS

1433. 001.139

BAGAS FEBRI WICAKSANA

1433. 001.074
1433. 001.062

RIDWAN ASRI PINARIA

1433. 001.004

ABDULLAH RADYA GIFARI

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA
2014

PENDEKATAN PENDEKATAN ILMU POLITIK

Dalam ilmu politik terdapat banyak pendekatan yang digunakan untuk mengkaji
berbagai permasalahan perilaku politik masyarakat modern. Hal ini mengingat ilmu politik
merupakan ilmu sosial yang bersifat empiris yang didalamnya banyak dipengaruhi oleh ilmuilmu sosial lainnya, dimana dalam abad 21 mengalami perkembangan yang pesat seiring
dengan perkembangan masyarakat dan Negara yang berubah secara cepat dan mengglobal
(Christoper Lloyd, 1997).
Melalui pendekatan pendekatan yang ada, seseorang yang berminat untuk mengkaji
perilaku politik dapat memilih salah satu atau menggabungkan diantaranya. Disadari bahwa
untuk sampai kepada pengkajian politik yang komprehensif dan holistik, diperlukan
instrument yang memadai, termasuk didalamnya prespektif dan pendekatannya. Oleh karena
begitu banyak pendekatan yang berkembang, maka hanya akan di uraikan beberapa
pendekatan dan perspektif serta bidang- bidang yang utama (Cheppy Haricahyono (1991)),
sebagai berikut:
1. Pendekatan tradisional
Pendekatan tradisional meliputi beberapa metode analisa politik yang mulai
popular di kalangan sarjana politik amerika serikat pada sekitar abad XIX dan
permulaan abad XX, yang selanjutnya masih banyak diikuti oleh sarjana politik, dalam
pendekatan yang sangat penting dalam ilmu politik. Masing masing adalah
pendekatan historis, legistis dan institusional.
Dari awal pendekatannya, sekitar abad XIX, ilmu politik di Amerika Serikat
oleh sebagian besar sarjana dianggap disiplin sejarah, sehingga dikenal adanya Sejarah
Politik Amerika atau Sejarah Politik Eropa. Dalam hubungan ini umumnya mereka

berpendirian sebenarnya hanya sedikit perbedaan yang bisa ditarik antara ilmu politik
dan ilmu sejarah, pendirian yang merupakan cabang atau bagian dari sejarah. Untuk
ini bisa dicatat pendapat Richards Jensen yang mengatakan, history is pact politics
and politics present history. Karena itu, yang dianut ilmu politik sebenarnya tidak
lain dari sejarah partai politik, sejarah hubungan meliputi bidang bidang besar
mengenai politik.
Meskipun pendekatan historis mengalami masa puncaknya pada tahun 60- 70an yang lalu, tetapi banyak bukti menunjukan hingga kini masih dijumpai pengguna
pendekatan ini , salah satu bukti yang bisa dikemukakan adalah pendapat yang
menyatakan adanya kesamaan metode yang digunakan para sarjana sejarah dan
sarjana politik. Sebagaimana ditegaskan oleh Edward Said: The historical approach is
indispensable. It affords the only mean of appreciating the true nature of institutions
and perculiar way in which they have been fashioned. Satu kenyataan yang tidak dapat
diingkari, dewasa ini banyak pendekatan historis yang di gunakan oleh para sarjana
politik yang kebetulAn juga di kenal sebagai ahli sejarah. Pada umumnya mereka
memberikan deskripsi tentang peristiwa- peristiwa politik masa kini secara terperinci,
dan itu semua dilakukan dengan gaya narasi seorang sejarahwan. Apa yang mereka
hasilkan bisa dikenal sebagai studi kasus. Dalam hubungan ini dianut suatu pendirian
bahwa studi kasus yang dikerjakan dengan baik dan mampuh memberikan gambaran
tentang peristiwa politik secara realistis barangkali sulit untuk di tolak kegunaannya.
Kecuali erat persatuaannya dengan sejarah, tampak pula adanya rantai antara
studi politik dengan hukum atau sistem hukum. Kenyataan semacam ini memberikan
landasan berpijak bagi pengembangan pendekatan legistis dalam ilmu politik
sebagaimana yang juga populer di Amerika Serikat. Pendekatan legistis adalah suatu

pendekatan yang memandang ilmu politik terutama mengkaji masalah kontitusi dan
peraturan- peraturan perunndangan.
Dalam berbagai pembicaraan kita mengetahui betapa pentingnya aspek
legalitas dalam berbagai pengertian dan definisi. Dalam keragka ini hubungan antara
pengertian dan pendekatan akan semakin jelas. Apabila politik sebagai pokok
permasalahan ilmu politik mempunyai kedudukan sendiri lataran asal usul atau
hakikat legalitasnya, wajarlah jika para sarjana politik memusatkan perhatiannya pada
aspek- aspek hukum tertentu dari sistem poitik.
Beberapa sarjana politik melihat pendekatan legistis sebagi pendekatan yang
memperkaya pendekatan historis. Dalam pandangan ini pendekatan legitis dianggap
mampu mengungkapkan perbedaan antara dunia sejarah dan dunia politik. Para
sarjana politik sekarang ini mampu melihat perbedaan dirinya dengan sejarahwan.
Kecuali itu, perlu digarisbawah, dalam menerima dan menggunakan pendekatan
legalitas, para sarjana politik tidak lagi dibatasi untuk mengkaji sistem hukum sematamata, tetapi beberapa aspek hukum dan konstitusional setiap institusi politik dapat
pula dikaji dan diuji.
Salah satu yang paling menarik dari upaya ini adalah apa yang dilakukan oleh
Edward S. Corwin dalam analisanya tentang lembaga kepresidenan sebagai salah
suatu constitutional offices. Data utama yang digunakan dalam studi Corwin tersebut
adalah keputusan keputusan peradilan yang mengungkapkan kekuasaan dan
pembatasan- pembatasan yang diberikan kepada presiden. Dalam kaitan ini patut
diperhatikan, ada pula sarjana- sarjana politik lain yang menggap pendekatan legalistis
sebagai bentuk lain yang lebih serdehana dari studi historis. Tetapi kecuali yang
terakhir ini, para sarjana politik cendrung mengkaji masalah masalah dari segi
konstitusi atau keputusan keputusan peradilan. Dengan demikian para sarjana politik
dapat menggunakan pendekatan legistis dan historis secara simultan.

Reaksi terhadap pendekatan historis dan legistis dikembangkan oleh aliran


ketiga dalam pendekatan instutisional, yaitu yang dikenal sebagai pendekatan
institusional. Para pendukung pendekatan ini menyadari bahwa ada kekurangan dalam
ilmu politik apabila hanya mengarahkan perhatiannya kepada aspek hukum dan
konstitusi. Sebab itu, penekanan tersebut perlu diubah, sebagaiman nampak pada apa
yang mereka perbuat.
Mereka pada umumnya berbicara tentang pengkajian kenyataan kenyataan
politik peristiwa- peristiwa politik yang aktual, dan tidak sekedar perwujudan historis
dari hukum semata- mata. Mereka menekankan relitas politik yang paling jelas adalah
institusi politik. Karena itu institusi- institusi politik seperti legislatif,eksekutif dan
lembaga- lembaga peradilan paling banyak memperoleh perhatian mereka. Tujuan
hukum institusionalis ini, ingin memberikan deskripsi secara detail tentang institusiinstitusi politik dan tidak sekedar menjelaskan sistem politik.
2. Pendekatan perilaku
Pendekatan perilau sering muncul sebagai salah satu bentuk gerakan protes
terhadap pendekatan tradisional dalam ilmu politik. Tujuan atau tuntutan umum
gerakan behavioralis ini berupa: pertama, ilmu politik yang berkembang sebelumnya
tidak memiliki sifat- sifat sebagi penghasil pengetahuan politik yang reliable. Kedua,
banyak pengetahuan politik yang reliable dapat diterima melalui pendekatanpendekatan dengan metode- metode yang berbeda. Kendatipun demikian, perlihan
dalam hal arah atau sasan tersebut tidaklah spontan sifatnya.
Behavioralisme tidak sepenuhnya menolak pendekatan tradisonal. Bila
dipandang perlu, data historis yang diperoleh dan pendekatan tradisonal tersebut, tetap
digunakan. Dengan kata lain, behavioralisme tetap saja mengkaji aspek hukum suatu
sistem politik, dan tetap menyadari pentingnya lembaga- lembaga yang ada didalam
sistem politik tersebut. Tetapi dalam hubungan ini yang selalu terjadi bahwa

behavioralisme senantiasa mengebalikan semuanya kepada pelaku. Sejarah disusun


dari perilaku manusia: manusia diakui sebagai pembuat, yang tunduk dan sekaligus
yang melanggar hukum; dan satu hal lagi yang penting, adanya pengakuan tidak ada
institusi disusun dari pola- pola perilaku.
Para penganut behabioralisme berkali- kali menegaskan kendatipun institusi
atau lembaga- lembaga politik merupakan aspek penting dalam politik, bukanlah
materi yang nyata dari politik . aktivitas yang ada didalam atau sekitar institusi
politiklah seharusnya memperoleh perhatian besar dari para sarjana politik. Porsi yang
lebih besar dari kekuatan behavioralis tidak diberikan untuk menjelaskan struktur
lembaga- lembaga perwakilan, atau untuk menjelaskan struktur lembaga- lembaga
perwakilan, atau unutk menjelaskan struktur lembaga- lembaga perwakilan,atau
barang kali kewajiban- kewajiaban hukum para wakil rakyat misalnya lebih banyak
dipakai untuk menjelaskan tingkah laku para wakil rakyat dan menjelaskan pula
bagaimana lembaga perwakilan rakyai itu berkerja.
Mengenai perilau itu sendiri, baik peilaku individu maupun kelompok,
semuanya pada dasarnya melakukan aksi dan reaksi, merangsang dan menjawab.
Dalam hubungan ini ada dua cara pandang mengenai signifikansi masing- masing
tingkat perilaku. Pertama, Nampak dari pendapat kebanyakan behavioralis, bahwa
kelompok tidak lain hanya teriri atas anggota- anggota kelompoknya. Inilah yang
dikenal dengan pandangan individualisme. Perilaku lembaga peradilan, misalnya
sebenarnya merupakan perilaku sejumlah kecil individu yang kebetulan ,menjadi
anggota lembaga yang bersangkutan. Tidak ada sifat- sifat kelompok yang diturunkan
dari sifat- sifat individu, dan sebaliknya. Kedua, ada juga yang sarjana politik yang
berpendapat tentang timbulnya sifat kelompok yang tidak diturunkan. Dalam
hubungan ini diakui, kelompok pada dasarnya lebih dari sekedar serangkaiam bagian-

bagiannya. Pemikiran yang demikian ini dekenal sebagai pemikiran historis dan
sosisolis, yang pengaruhnyaterhadap banyak sarjana politik juga cukup besar.
Banyak para behavioralis nampaknya menfikuti alur pemikiran individualistis.
Meraka menekan signifikasi perilaku individu sebagai bagunan dasar ilmu politik.
Para intitusionalis akivitas voting, lobbying dan lain sebagainya. Dengan demikian
sebenarnya antara behavioralisme dan individualism sering kali saling melengkapi.
Apabila seseorang berangkat dari pandangan behavioralisme, penekanan
mereka tentu kepada perilaku. Bentuk perilaku yang memperoleh perhatian utama
adalah perilaku individual. Dari kenyataan ini, kita bisa mengasumsikan adanya
korelasi atau hubungan yang kuat antara behavioralisme dengan individualisme. Akan
tetapi hendak dicatat, ini tidak berati membatasi penganut behavioralisme untuk hanya
mengkaji kelompok- kelompok atau Negara- Negara saja. Ekstensi kelompok dan
Negara- negara sudah tidak bisa lagi diingkari.
Pendek kata, para sarjana politik dewasa ini mencurahkan perhatian kepada
masalah- masalah empiris dibandingkan masalah masalah filosofis. Pada tahap ini
behavioralisme menjadi pertanda gerakan ilmiah dalam ilmu politik. Tujuannya adalah
mengembangkan generalisasi- generalisasi empiris dan teori- teori sistimatis unutk
menjelaskan gejala-gejala politik. Ini berarti bahwa didalam menekankan pentingnya
faktor empiris, mendasarkan semua pernyataan kepada hasil observasi; dan dalam
berbagai usaha mengkuantifikasikan semua kasus, maka para sarjana politik
behavioralisme seringkali harus memusatkan perhatiannya kepada masalah- masalah
yang sudah trivial sifatnya. Topik topik yang penting seperti sebab- sebab perang,
hanya memperoleh sedikit perhatian, sedangkan persoalan- persoalan yang sebenarnya
lebih mudah, seperti perilaku dalam pemilihan umum, ternyata malah memperoleh
perhatian yang sangat berlebihan.
3. Filsafat politik

Setiap perilaku politik manusia, baik secara individual mauoun kelompok.


Umumnya dilandasi oleh nilai- nilai politik tertentu. Itulah sebabnya, pehatian utama
para sarjana politik, dari platosampai dengan pemikir- pemikir politik abad XXI,
terfokus pada nilai nilai yang dianggap paling esensial bagi Negara dan rakyatnya.
Carlton Clymer Rodee et al (2000), melihat masalah- masalah yang menyakut nilainilai iani anatara lain: apakan keadilan itu? Faktor- faktor apa saja yang menujang
kekuatan politik? Sanksi apa saja yang bisa dijatuhkan kepada mereka yang
menentang kekuasaan Negara? Bagaimana seharisnya peraturan tentang pemilikan dan
pembagian kebijakan Negara dapat mengatasi ketimpangan- ketimpangan social?
Sejauhmana warganegara boleh ikut berpartisipasi dalam proses pengambilan
keputusan pemerintah?
Jawaban atas masalah- masalah itu mungkin menjadi bahan perdebatan yanga
tidak ada akhirnya. Ini bisa dimengerti mengingat masalah- masalah tersebut lebih
banyak menyangkut nilai- nilai (values), bukan fakta yang bisa dilihat dengan jelas
dalam kehidupan sehari- hari. Bisa saja seorang menggunakan faka dan logika untuk
mendukung nilai- nilai yang dianutnya. Tetapi bagaimanapun juga nilai- niai tersebut
masih harus dibuktikan kemampuannya, khususnya ketika bertabrakan dengan nilainilai khususnya ketika bertabrakkan dengan nilai- nilai yang dianut orang lain.
Biasanya seseorang tidak akan bisa membuktikan niali- nilai yang dianutnya melalui
pengamatan empiris, deduksi matematis, atau cara- cara pengujian lainnya yang
didasarkan pada logika. Boleh jadi filsafat politik merupakan pendekatan ilmu politik
yang kurang begitu ilmiah. Hal ini terjadi karena ia berkaitan dengan implikasi
normatif organisani dan pelaku politik.
4. Proses Peradilan dan Hukum
Permasalahan yang sering dikaji oleh pendekatan ini adalah: bagaimana
konstitusi bisa mempengaruhi peyelenggaraan pemerintah, dan sebaliknya apakah

penyelenggaraan pemerintahan juga dapat berpengaruh terhadap implementasi


konstitusi? Bagaimana suatu peraturan disusun, diinterprestasikan, dan diterapkan
dalam pemerintahan Negara? Bagaimana pula pemecahannya apabila ada beberapa
peraturan hukum yang saling bertentangan dalam mengatasi suatu persoalan yang
sama? Bagaimana hukum bisa menjamin hak asasi warganegara yang terkena
peraturan tersebut? Lembaga pemerinahan yang mana yang mepunyai kekuasan akhir
untuk

menginterprestasikan

suatu

peraturan

hukum?

Dan

bagaimna

cara

pemecahannya apabila ada konflik anatar lembaga- lembaga legislatif, eksekutif dan
yudikatif?
Berbagai pertanyaan tersebut yang sering diajukan oleh ilmuan politik yang
telah mengkaji proses peradilan dan hukum. Beberapa diantaranya berhasil
mengangkat dimensi analitis, menggantikan orientasi semula yang dalam banyak hal
menekankan pada deskripsi institusional dan historis perkembangan ataupun
penerapan hukum. Seperangkat peraturan hukum yang mengatur aktivitas manusia
dalam dunia bisnis, berbagai bentuk korporasi, dan federasi buruh, banyak di teliti
dalam kedudukannya sebagai kelompok- kelompok kepentingan yang banyak terlibat
dalam aktivitas pembuatan peraturan atau peradilan, khususnya yang berhubungan
dengan kepentingan kepentingan.
Keputusan hakim, misalnya, bisa jadi dipengaruhi oleh kepentingankepentingan kelompok tertentu yang berpepengaruh, atapun berangkat dari masalahmasalah yang biasa muncul dari kasus kasus tertentu. Atau keputusan keputusan
hakim tersebut di evaluasi sesuai dengan pespektif liberal, konservatif, atau sesuai
dengan tinggat proregulatory atau antiregulatory. Apa yang berhasil ditemukan ini
mungkin akan dijelaskan dengan mengacu kepada latar belakang sosial, budaya dan
politik para hakim, sebelum sampai kepada keputusan- keputusan sendiri, atau yang

mungkin mereka pergunakan unutk memperhatikan keputusan yang akan datang yang
menyangkut kasus atau konflik sejenis. Dengan cara demikian itu, proses peradilan
dan hukum menjadi lebih bermakna dibanding sekedar pengkajian mengenai kontitusi,
peraturan perundangan yang lain dan implementasinya oleh eksekutif, legislatif
ataupun cabang-cabang yudikatif lainnya.
5. Proses Eksekutif
salah satu yang menonjol dalam suatu Negara adalah pemimpin lembaga
eksekutifnya. Masakahnya yang dikajikan pasa umumnya berkisar bagaimana kepala
pemerintahan itu dipilih? Apa saja yang menjadi tanggungjawabnya, baik formal
maupun informal? Bagaimana pemimpin terpilih menjalankan kekuasaan tambahan di
samping berbagai peranan lain yang telah dimilikinya dalam penyelenggaraan
kekuasaan politik? Dari pertanyaan- pertanyaan tersebut menunjukan bahwa seorang
raja, perdan menteri, ataupun seorang Presiden, semuanya memerlukan staf eksekutif
yang akan membantu melaksanakan tugas dan kewajibannya sehari hari. Karena itu
bisa dikatakan, fungsi pemerintahan(eksekutif) menjadi lebih kompleks, dan karena itu
pula tidak ada satu pun kepala pemerintahan, apakan itu presiden, gubernur, ataupun
walikota, yang dapat melaksanakan semua tugas dan kewajibannya tanpa bantuan
sejumla personel administratif maupun dukungan partai politik.
Dalam pekembangannya, pengajian mengenai proses pemerintahan menjadi
again studi birokrasi, khususnya yang menyangkut permasalahan bagaimana birokrasi
itu di organisasika serta difungsikan, satu hal yang perlu dicatat, salah satu sifat
,masyarakat yang menjadikan ekonomi sebagai prioritas pembangunan yang paling
menonjol, adalah adanya aparat birokrasi yang luas dengan kekuasaan yang menonjol
mencangkup berbagai sisi kehidupan masyarakat.
Bertitik tolak dari kerangka di atas, muncul pertanyaan: bagaimana cara
memilih aparat- aparat (sumber daya manusia) yang mendukung pelaksanaan

birokrasi? batasan- batasan apakah yang seharusnya di tentukan untuk setiap posisi
dan peranan jabatan- jabatan administrative serta sumber- sumber apa saja yang bisa
di manfaatkan dalam usaha memaksimalkan pengaruhnya terhadap bawahan ataupun
atasannya? Bagaimana seyogyanya hubungan antara lembaga- lembaga eksekutif dan
legislatif, khususnya yang menyangkut dominasi eksekutif terhadap legislatif sangat
jelas? Dalam kondisi elit- elit eksekutif mempunyai wewenang penuh untuk
menyatakan perang, mengupayakan perdamaian, dan sekaligus memiliki kekuasaan
untuk mengatur ekonomi Negara, apakah masih bermanfaat membicarakan sistem
pemilihan bagi lembaga- lembaga pemerintahan?
6. Kebijakan Legislative
Pendekatan ini biasanya berbicara mengenai: bagaimana hukum dibuat?
Bagaimana kekuasaan disistribusikan kepasa para angota badan legislatif? Sejauh
mana proses legislatif di pengaruhi oleh politik , anggota- anggota komisi, wakil
wakil partai politik, dan oleh hubungan pribadi antara anggota legislatif dengan kepala
pemerintahan ataupun dengan anggota- anggota legislatif yang lain?
Melalui wawancara dengan anggota- anggota badan legislatif, atau dengan
menganalisis kedudukannya sebagai pembawa suara rakyat yang diwakilinya, kita bisa
menentukan seberapa jauh perhatiannya terhadap program- program partai,
hubungannya dengan kepala pemerintahan dan pemimpin- pemimpin partai lainnya,
dan kepekaannya terhadap kepentingan- kepentingan pemilih, khususnya pemilih yang
telah mendukung dan memperjuangan sehingga ia menduduki posisinya.
Akan tetapi persoalan yan sering muncul dan di pertanyakan, sejauhmana
masing- masing variable akan diperjuangkan oleh para anggota legislative, manakala
yang dibicarakan berkaitan dengan masalah masalah luat negeri dan pertahanan

keamanan, perdagangan luar negeri? Peran pemerintah terhadap pengembangan usahausaha bisnis, ketenagakerjaan dan pertanian, peningkatan kesejahteraan, hak- hak
warganegara, atau masalah- masalah politik penting lainnya termasuk organisasi
legislatif, pola- pola distribusi, dan control pemerintah terhadap pelaksanaan
kampanye.
Apabila benar pendapat yang mengatakan bahwa legislative tidak begitu
berperan yang mengatakan bahwa badan legislative tidak begitu berperan dalam
penggunaan hak inisiatif dibandingkan dengan lembaga eksekutif, maka perlu
dipertanyaka apa sebenarnya yang menjadi fungsi utamanya sebagi pengawas lembaga
eksekutif, faktor- faktor apa saja yang memungkinkannya bisa berhasil dalam
memonitor pekerjaan lembaga eksekutif? Dan bagaimana mungkin anggota- anggota
legislatif memperoleh informasi yang memadai mengenai berbagai aktivitas
administrasi? Bagaimana mengetahui kebutuhan- kebutuhan para pemilihnya yang
berbeda?

7. Partai Politik dan Kelompok Kepentingan


Banyak para ilmuan politik melihat bahwa lembaga legislative adalah
lembanga yang disusun dari konflik kepentingan dan kebutuhan berbagai partai politik
dan kelompok kelompok lain yang terdapat dalam suatu masyarakat. Dari perspektif
ini, masalah politik adalah kekuasaan organisasi dan perilaku kelompok, yang
biasanya menggunakan lembaga legislatif sebagai sarana untuk menyalurkan
kepentingan- kepentingan politik, ekonomi dan sosialnya.

Berkaitan dengan masalah partai politk dan kelompok- kelompok kepentingan,


yang menarik perhatian adalah masalah bentuk kepentingan yang di perjuangkan,
karakteristik kepemimpinan dan keanggotaanna, strategi dan taktik yang bisa
digunakan unutk mempengaruhi kebujakan umum, dan bagaimana mereka bisa
menguasai atau Paling tidak mempengaruhi para pengambil keputusan. Pengkajian
yang mendalam mengenai partai politik menunjukan bahwa keanggotan, pandangan
politik dan segala kebijakannya di bentuk oleh berbagai faktor seperti sistem
pemilihannya, perannya dalam lembaga legislatif maupun eksekutif.
Selain itu, banyak pula dipermasalahkan mengenai sejauhmana pengaruh
pendukung- pendukung berbagi partai politk yang didukung oleh kelompok
kelompok masyarakat yang sama atau berbeda tingakat sosial ekonominya?
Bagaimana perbedaan antara program dan kebijakan berbagai politik yang ada?
Bagaimana pula pola karier kepemimpinan yang berkembangkan? Dengan kondisi
yang bagaimana mereka secara bergantian dengan kelompok kelompok lain
mengatasi atau mempengaruhi proses yang terjadi dalam lembaga- lembaga legislatif
dan eksekutif?
Apabila bertolak dari salah satu kelompok politik saja, boleh jadi kita juga
akan mempertanyakan bagaimana mereka membeuat keputusan, memili pemiminpemimpinnya, merekrut anggota- anggotanya, mencari sumber finansial dan
sejauhmana kekuasaan akan dikonsentrasikan atau di sebarluaskan melaui hirarkhi
organisasi? Jawabannya atas permasalahnya terakhir ini tampaknya sangat bervariasi,
terganung pada waku pemilihan, masalah- masalah tertentu yang sangat menonjol
dalam pemerintahan, dan yang tidak kalah pentingnya adlah pendapat umum yang
sedang berkembang.

8. Pendapat Umum dan Voting


Pendekatan pendapat umum dan voting biasanya berangkat dari pertanyaan
pertanyaan: bagaimana pendapat umum yang sedang berkembang dalam masyarakat?
Bagaimana pendapat, sikap, dan kepercayaan rakyat bisa dipengaruhi oleh kebijakan
elit politik? Apakah yang menjadi motivasi rakyat untuk ikut pemilihan umum?
Apakah para pemilih lebih berorientasi kepada masalah, atau mengarah kepada
kepribadian calon- calon tertentu, ataukah sekedar mewujudkan kesetiaannya terhadap
partai tertentu tanpa memperdulikan calon atau bagaimana performance partai itu
sendiri?
Apakah pemilih menyadari adanya diskrepsi atau ketidaktepatan antara
beberapa kategori, sepeti antara loyalitas partai dengan calon partai, bagaimana
seharusnya bersikap? Dan bagaimana berbagai orientasi pemilih bisa bisa dikaitkan
dengan tingakat pendidikan formal pengetahuan politik, usia, jenis kelamin, ras,
agama, profesi, pendapatan, tempat tinggal, atau yang lain?
Beberapa petanyaan tersebut di atas, merupakan sebagian dari permasalahan
umum yang dikaji ilmuwan politik, khususnya berkaitan dengan pendapat umum dan
aktivitas voting.
9. Sosialisasi Politik dan Kebudayaan Politik
Berbagai penelitian dan survey juga sangat diperlukan dalam upaya
mempelajari keinginan warga masyarakat untuk meyalurkan pendapat , sikap, dan
keyakinan- keyakinan ideologisnya, sehingga membantu warga dalam menentukan
pilihan politiknya. Oleh karena itu tidak jarang dipermasalahkan, misalnya:
sejauhmana seseorang memperoleh pendapat- pendapat politknya, apakah dari

keluarga, sekolah, gereja, teman dekat, ataupun teman- teman seprofesinya?


Bagaimana pola- pola sosialisasi ini bervariasi antara satu individu dengan individu
lainnya sesuai dengan tingkat usia, pendidikan, pendapatan, dan variable lainnya?
Karakteristik sosialisasi politik dan serangakaian pendapat, sikap, dan
kepercayaan mencirikan aspirasi politik masyarakat. Sementara itu karakteristik
kebudayaan politik tertentu, merupakan variable penting dalam menbantu menjawab
beberapa permasalahan mendasar dan yang abadi sifatnya dalam ilmu politik, yaitu
faktor yang menetukan tingkat stabilitas politik masyarakat.
10. Perbandingan Politik
Analisa perbandingan politik sangat membantu pula pemahaman dan
pengidentifikasian karakteristik universal dalam proses politik, dalam arti tidak
tergantung pada waktu dan tempat. Adalah kenyataan, banyak pendapat yang
mengatakan bahwa hipotesis ataupun teori politik, tidak pantas menyandang
kredibilitas, jika tidak diuji dalam beberapa masyarakat yang berbeda, misalnya
dengan cara cross- cultural. Sedangkan pendekatan konvensional dalam perbandingan
politik cenderung menjelaskan deskripsi institusional beberapa Negara asing.
Kecenderungan dewasa ini adalah membandingkan secara cross-cultural karakteristik
sistem politik- sistem politik yang berlaku dalam suatu Negara. Cara tersebut sangat
memungkinkan kita mempelajari lebih jauh tentang dominasi eksekutif dengan
legislatif ataupun yudikatif. Masalahnya dengan melihat hubungan antara eksekutif
dengan legislatif, kita memperoleh gambaran holistik tingkat perkembangan sosial
ekonomi ataupun kebudayaan suatu Negara.

Patut dicatat, walaupun seorang ahli politik hanya mengkonsentrasikan


perhatiaannya kepada aktivitas politik di suatu Negara, tetapi suatu dimensi kompratif
akan memungkinkan penemuan- penemuan yang memiliki tingkatan ketepatan yang
memadai. Dari prespektif perbandingan politik, bidang- bidang penelitian baru juga
bisa dikembangkan, termasuk didalamnya perbandingan tentang perilaku elit politik,
kebebasan politik, ataupun penyalahgunaan kekuasaan politik, sosialisasi politik,
kebudayaan politik, kebijakan politik dan hokum, serta bidang- bidang pengkajian
konvensional lain, seperti partai politik dan kelompok kepentingan. Dengan perspektif
ini, kita bisa memperoleh hasil yang akurat denga menggunakan analisa komparatif.
Demikianlah beberapa pendekatan yang berkembang dalam ilmu politik ,
dimana di dalam buku ini hanya disajiakan pokok- pokoknya saja, yang tentunya
semua pendekatan- pendekatan tersebut memiliki sejumlah kekurangan atau
kelemahan. Oleh karena itu penting diperhatikan bahwa ketika kita hendak
menggunakan salah satu pendekatan, maka diperlukan pemahaman atas pendekatanpendekatan yang lain, agar kita tidak terjebak dalam bingkai justifikasi akademis
terhadap permasalahan politik yang berkembang. Pemahaman yang luas terhadap
permasalahan politik dengan memadukan pada pemahaman teoritis- konseptual
dengan di dukung oleh pendekatan yang tepat, pada gilirannya akan menghasilkan
kajian ilmu politik yang komprehensif dan mendalam.