Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH

ETIKA MORAL DAN HUKUM


Paper ini dibuat dalam rangka perkuliahan etika moral dan hukum

HEDONISME
Dibawah bimbingan

Dra. Hj. Indrihadi Isnaeni M.Sc

Disusun oleh kelompok I :


ABDULLAH RADYA GIFARI

1433. 001. 004

FAUZAN WIJAYA

1433. 001. 029

EDO FREDERICKO

1433. 001. 057

REZA MIRWAN P.

1433. 001. 066

FABER RISWANTORO

1433. 001. 148

RACHMAWATI H.B

1433. 001. 137

JESSIKA OKTAVIANA

1433. 001. 054

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA
2015

HEDONISME

A. Pengertian Etika Hedonisme


Etika hedonisme dalam buku-buku etika masuk dalam telologis, (dari kata Yunani
telos, tujuan dan logos, kata atau fikiran), terarah pada tujuan. Etika hedonisme, biasanya
dimasukkan ke kelompok teori-teori egoisme etis, karena mengusahakan kebahagiaan bagi
orang yang bertindak itu sendiri (individualistik). Karena berbicara tentang tindakan baik dan
buruk, etika hedonisme juga masuk dalam teori etika normative.
Hedon (diikuti dengan -isme; Hedonisme) berasal dari bahasa Yunani: hdon, yang
berarti nikmat, kegembiraan, kesenangan, kepuasan (pleasure). Hedonisme menggambarkan
berbagai macam pemikiran yang menjadikan kesenangan sebagai pusat kendali.
Hedonisme secara umum bisa menyimpulkan bahwa kesenangan adalah kebaikan tertinggi
atau di dalam perumusan lain apapun yang membawa kesenangan atau kenikmatan
adalah benar. Lebih jauh lagi, Hedonisme bisa didefinisikan sebagai sebuah doktrin yang
berpegang pada anggapan bahwasanya kebiasaan manusia itu dimotivasi oleh hasrat akan
kesenangan atau kenikmatan dan menghindar dari penderitaan.
Hedonisme

berangkat

dari

pendirian

bahwa

menurut

kodratnya

manusia

mengusahakan kenikmatan atau kesenangan. Contoh dalam kehidupan sehari-hari manusia


selalu menghindari rasa sakit, penderitaan, hal-hal yang menyakitkan lainnya dan sebaliknya
mengejar apa saja yang dapat menimbulkan kesenangan atau kenikmatan. Seseorang
dikatakan baik baginya apabila mengusahakan kenikmatan. Seseorang dikatakan baik bila
perilakunya dibiarkan ditentukan oleh pertanyaan bagaimana caranya agar dirinya
memperoleh kenikmatan yang sebesar-besarnya; dengan bersikap seperti itu ia bukan hanya
hidup sesuai dengan kodratnya, melainkan juga memenuhi tujuan hidupnya.
Hedonisme dalam kehidupan sehari-hari seperti anggapan bahwa orang akan menjadi
bahagia dengan mencari perasaan-perasaan menyenangkan sebanyak mungkin dan sebisa
mungkin menghindari perasaan-perasaan yang tidak enak. Secara pendek, carilah nikmat dan
hindarilah perasaan-perasaan menyakitkan. Karena kenikmatan merupakan kenyataan hidup,
dengan frekuensi, kadar, dan bentuk yang berbeda.
Hedonisme sering muncul sebagai teori yang mau menentang etika-etika tradisional
yang kaku dan kadang-kadang munafik, yang hanya menekankan peraturan saja, tanpa dapat
menjelaskan manfaat peraturan-peraturan itu. Melawan mereka kaum hedonis bertanya secara
provokatif: apa ada yang lebih masuk akal sebagai pedoman hidup daripada mencari

kebahagiaan, dan apakah kebahagiaan kecuali bahwa kita bebas dari penderitaan dan
memperoleh nikmat sebanyak mungkin?
Hedonisme atau falsafah cari nikmat sampai sekarang masih cukup popular di
masyarakat bahkan berkembang luas menjadi gaya hidup. Sesuatu yang barangkali agak
mengherankan ialah mengapa teori ini pernah diberi status sebagai teori etika. Dalam
masyarakat kita, di mana juga banyak orang hidup bagaikan murid setia hedonisme,
hedonisme mempunyai nama buruk dan biasanya dianggap amoral. Tidak tanpa alasan,
sebagaimana kita akan lihat. Kemudian, untuk menilai hedonisme dengan tepat, perlu kita
perhatikan bahwa kebanyakan filosof hedonisme tidak menganjurkan agar kita mengikuti
segala dorongan nafsu begitu saja, melainkan agar kita dalam memenuhi keinginan-keinginan
yang menghasilkan nikmat bersikap bijaksana dan seimbang dan selalu dapat menguasai diri.
Seperti yang akan dipaparkan berikut ini, karena hedonisme sebagai teori etika tidak terlepas
dari tokoh atau filosof pencetusnya.
B. Sejarah dan Tokoh Etika Hedonisme
Etika hedonisme merupakan teori etika yang paling kuno. Munculnya filsafat etika
hedonisme sudah ditemukan pada Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355 S.M.), seorang
murid Socrates. Ketika Socrates bertanya tentang apa tujuan akhir manusia, ia tidak
memberikan jawaban. Ia hanya mengkritik jawaban-jawaban dari pertanyaannya tersebut.
Pertanyaannya dijawab Aristippos, bahwa yang sungguh baik bagi manusia adalah
kesenangan. Ia menyamakan kebahagiaan dengan kesenangan. Ia menekankan lagi bahwa
kesenangan harus dimengerti sebagai kesenangan aktual, bukan kesenangan dari masa
lampau dan kesenangan di masa mendatang. Kebahagiaan atau kenikmatan yang baik dalam
arti yang sebenarnya adalah kenikmatan kini dan di sini (sekarang). Menurut Aristippos
kenikmatan hanya bersifat badani, aktual dan individual. Kesenangan juga perlu dibatasi pada
kesenangan yang mudah diraih, bukan yang diupayakan dengan kerja keras.
Aristippos mengajarkan bahwa kesenangan merupakan satu-satunya yang ingin dicari
manusia. Kesenangan atau kenikmatan sebanyak-banyaknya, sebab kesakitan adalah suatu
pengalaman yang tidak mengenakkan. Aristippos mengajarkan kenikmatan ada di tanganku,
bukannya aku yang ada di tangan kenikmatan. Selanjutnya jangan sampai terpaku pada
persitiwa sekejap, melainkan hendaknya memandang kehidupan secara menyeluruh, karena
yang utama adalah hasil akhir dari kenikmatan. Mazhab Aristippos juga menampilkan kaum
hedonis yang mengajarkan bahwa tidaklah mungkin manusia selamanya terbebas dari rasa

sakit. Salah seorang dari pengikut Aristippos, Hegesias bahkan mengatakan bahwa tujuan
tersebut baru akan tercapai setelah mati.
Filsafat terus berkembang semakin luas menjadi suatu seni hidup. Orang bijak adalah
orang yang mengatur hidupnya menurut akal dan rasionya. Ada banyak aliran, semuanya
berusaha menentukan cita-cita hidup manusia. Ada aliran-aliran yang bersifat etis, yang
menekankan kepada persoalan-persoalan tentang kebijaksanaan hidup yang praktis, ada
aliran-aliran yang diwarnai oleh agama. Namun yang ditekankan pada zaman ini umumnya
persoalan etika: bagaimana manusia harus mengatur tingkah lakunya untuk hidup bahagia.
Epikuros dan Stoa termasuk dalam aliran-aliran yang bersifat etis ini.
Epikuros (341-270 S.M) dilahirkan di Samos, tetapi mendapatkan pendidikan di
Athena. Sebagai tokoh masa Hellenisme ia lebih memilih argumen rinci tentang Hedonisme,
melanjutkan dan mengembangkan filsafat etika Aristippos, meskipun untuk sampai pada teori
etikanya ia banyak dipengaruhi oleh teori fisika Demokritos tentang teori atom. Baginya
kesenangan tetap menjadi sumber norma, tetapi tidak sekedar meliputi kesenangan jasmaniah
semata-mata, sebab kesenangan ini akhirnya akan menimbulkan rasa sakit pula. Misalnya,
terlalu banyak makan yang enak akan membuat sakit perut atau penyakit lainnya. Bagi
Epikuros, senang bermakna tidak adanya rasa sakit dalam badan dan tidak adanya kesulitan
kejiwaan. Artinya, lebih mencari argumen yang menghilangkan segala kerisauan jiwa.
Terlampau mengejar nilai kesenangan seperti uang, kehormatan, kekuasaan tidak akan
menimbulkan kepuasan jiwa. Sehingga puncak hedone bagi Epikuros ialah ketenangan jiwa.
Jiwa dapat meninjau kembali peristiwa-peristiwa yang menyenangkan. Jiwa dapat mengatasi
keterbatasan jasmani manusia. Epikurisme merupakan bentuk hedonisme yang bercorak
eudaimonistik.
Pandangan bahwa tercapainya kebahagiaan mesti menjadi tujuan kehidupan manusia
dan bahwa oleh karena itu manusia hendaknya hidup dengan suatu cara yang
mendekatkannya pada kebahagiaan tersebut. Etika yang membuat pencaharian kebahagiaan
menjadi prinsip yang paling dasariah disebut eudemonisme (dari kata Yunani eudaimonia,
kebahagiaan). Pertimbangan yang mendasari etika kebahagiaan itu mudah dimengerti:
kebahagiaan adalah tujuan pada dirinya sendiri. Tidak ada yang mengatasinya. Orang yang
sudah bahagia, tidak memerlukan apa-apa lagi. Tampaknya masuk akal kalau kehidupan
diarahkan pada usaha untuk mencapai kebahagiaan. Berbeda seperti yang maksudkan oleh
Aristoteles, bapak peletak dasar filsafat etika. Baginya eudaimonia merupakan suatu keadaan
obyektif. Eudaimonia berarti mempunyai jiwa (daimon) dalam keadaan baik (eu).

Epikuros, dalam konsep etikanya, bermaksud memberikan ketenangan batin


(ataraxia) kepada manusia. Hal ini disebabkan karena ketenangan batin itu diancam oleh
ketakutan, yaitu ketakutan terhadap murka para dewa, terhadap maut, dan terhadap nasib.
Bukankah para dewa tidak ikut campur dalam urusan dunia? Para dewa tidak menjadikan
jagat raya dan tidak mengurusinya. Inilah pengaruh filsafat Demokritos terhadap Epikuros,
yaitu tentang gerak atom-atom, satu-satunya etika yang sesuai dengan materialisme
mekanistis.
Kaum Epikurean (murid, dan aliran-aliran Epikuros) adalah penganut kebebasan
kehendak. Mereka mau menyelamatkan kebebasan manusia. Manusia bukan budak takdir,
manusia dapat menentukan kehidupannya sendiri. Mereka juga melawan mitos-mitos
keagamaan, ingin mencerahkan manusia, membebaskannya dari ketakutan-ketakutan
terhadap dewa-dewa kematian, pengadilan sesudah mati, serta neraka. Kaum Epikurean
adalah penganut deisme. Karena itu, manusia hendaknya mengatur hidupnya menurut
kebijaksanaanya sendiri. Manusia yang bebas dari ancaman takhayul dan agama dituntun
untuk mencari kebahagiaan. Bagi Epikuros, yang baik adalah yang menghasilkan nikmat, dan
yang buruk adalah yang menghasilkan perasaan tidak enak.
Karena itu, Epikuros sangat menegaskan kebijaksanaan (phronesis). Orang bijaksana
adalah seniman hidup. Ia pandai mempertimbangkan apakah ia memilih nikmat atau rasa
sakit. Dapat saja terjadi bahwa memilih nikmat sesaat menghasilkan penderitaan kemudian,
dan memilih perasaan sakit sesaat meningkatkan kenikmatan jangka panjang. Bukan
perasaan-perasaan nikmat yang hanya sebentar saja yang menentukan apakah kita bahagia,
melainkan nikmat yang bertahan selama seluruh kehidupan. Karena itu, Epikuros
menganjurkan manusia selalu menguasai diri. Orang yang bijaksana tidak akan
memperbanyak kebutuhan, melainkan sebaliknya membatasi kebutuhan-kebutuhannya, agar
dengan membatasi diri dapat menikmati kepuasan. Ia akan menghindari tindakan yang
berlebihan. Untuk itu, perlu seni perhitungan (symmetresis) dapat mempertimbangkan segisegi positif dan negative sehingga ia dapat memilih apa yang dalam jangka panjang lebih
mendekatkan kita pada ataraxia.
Persamaan dan perbedaan pandangan etika hedonisme antara Aristippos dan Epikuros
adalah keduanya mengajarkan teori tentang kenikmatan (hedone). Adapun perbedaannya
bahwa menurut Aristippos kenikmatan badaniah lebih berbobot dibanding kenikmatan rohani,
akan tetapi sebaliknya bagi Epikuros.

C. Karekteristik Etika Hedonisme


Hedonisme mengarahkan etika kepada keperluan untuk menghasilkan sebanyakbanyaknya kesenangan bagi manusia. Kesenangan dalam term hedonisme ini tidak
sembarang kesenangan, tetapi kesenangan yang secara instrinsik diinginkan (intrinsically
desirable).
Pandangan ini berangkat dari argumentasi bahwa sesuatu yang diinginkan (desirable),
baik (good), atau bermanfaat (worthwhile), adalah ketika hal itu datang dengan sendirinya
dan tanpa pertimbangan-pertimbangan tertentu. Banyak hal (misalnya, orang yang pergi ke
dokter) termasuk dalam bermanfaat jika dilihat dari dampaknya, akan tetapi tidak akan ada
seorangpun yang mengatakan bahwa pergi ke dokter itu adalah sesuatu yang secara intrinsik
diinginkan.
Kaum hedonist tidak menyangkal bahwa terdapat sesuatu yang diinginkan, tetapi
mereka menyangkal bahwa sesuatu itu secara intrinsik memang diinginkan. Kaum hedonist
juga sepakat bahwa ada sesuatu yang bisa diinginkan secara instrumental, sekalipun tidak
diinginkan secara intrinsik. Menurut mereka, memang tidak menutup kemungkinan bahwa
terdapat sesuatu yang sama-sama diinginkan, baik secara instrumental maupun secara
intrinsik. Sebuah pengalaman yang menyenangkan bisa menjadi baik dalam dirinya sendiri
dan juga baik secara instrumental, jika, misalnya, ia menjadi relax dan mampu bekerja lebih
baik pada hari berikutnya. Singkatnya, batasan kesenangan menurut hedonisme adalah
ketika kesenangan itu secara intrinsik diinginkan, bukan secara instrumental ataupun lainnya.
Pertanyaannya kemudian, apakah kesenangan indrawi hedonisme tersebut, tidak
berseberangan dengan kesadaran moral? dan bagaimana jika kesenangan itu dikontraskan
dengan kemauan akal?
Berpijak kepada batasan kesenangan di atas, dapat dikemukakan bahwa kesenangan
indrawi dalam konteks hedonisme tidak berseberangan dengan kesadaran moral, kecuali
kesadaran moral ini dikaitkan dengan dogma agama. Contohnya, jika sepasang laki-laki dan
perempuan sepakat untuk berhubungan seksual tanpa melalui proses pernikahan sebagaimana
lazimnya, dan mereka menyepakati bahwa apapun yang terjadi merupakan tanggung jawab
mereka berdua, serta berkomitmen untuk tidak melibatkan pihak manapun, maka perbuatan
mereka tidak melanggar kesadaran moral, sebab perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama
suka dan juga tidak mengganggu orang lain.
Akal manusia pun tidak akan menyalahkan perbuatan itu. Alasannya, hubungan
seksual merupakan kesenangan yang diinginkan secara instrinsik dan mungkin juga
diinginkan secara instrumental, jika, misalnya, dengan berhubungan seksual itu seseorang

bisa menjadi lebih konsentrasi dalam belajarnya. Perbuatan mereka akan berbeda jika dilihat
dari kacamata agama, yang umumnya melarang hubungan seksual pra nikah; dan berbeda
juga jika dilihat dari perspektif undang-undang negara yang menganggapnya sebagai
perbuatan yang melanggar konstitusi. Pendek kata, kesenangan moral tidak akan
berseberangan dengan kesadaran moral, dan juga tidak akan menyalahi kemauan akal.
Paparan di atas memperjelas bahwa etika hedonisme lebih bercorak individual. Ia
hanya mencari kebahagiaan pribadi, bukan kebahagiaan orang banyak. Hedonisme sendiri
muncul dengan beragam bentuk. Pertama, hedonisme etis, yang memandang bahwa manusia
akan menjadi bahagia asal saja ia mengejar nikmat dan menghindari perasaan-perasaan yang
menyakitkan. Garis pokok argumentasinya adalah bahwa manusia akan bahagia apabila ia
mencapai perasaan nikmat sebanyak mungkin dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak
enak.
Hedonisme ini secara paling jelas menyingkapkan sifatnya ketika mengajarkan bahwa
kenikmatan itu sendiri adalah berharga, sehingga yang penting bukanlah sifat kenikmatannya,
melainkan semata-mata jumlah kenikmatannya. Semakin banyak kenikmatan yang diperoleh,
semakin baik bagi manusia yang bersangkutan; mengenai apakah yang dinikmatinya tidak
dipersoalkan. Karena pemenuhan hasrat jasmani biasanya memberikan kepuasan yang paling
menggairahkan, maka bentuk hedonisme semacam ini mengajarkan orang mengusahakan
kenikmatan jasmani, yang mengingat sifatnya senantiasa merupakan kenikmatan sekejap.
Ciri khas nikmat ialah bahwa ia berkaitan langsung dengan sebuah pengalaman, yaitu
pengalaman terpenuhinya sebuah kecondongan; begitu pengalaman itu selesai, nikmat pun
habis.
Kedua, hedonisme psikologis, yang mendasarkan diri pada suatu teori yang
mengatakan bahwa manusia, bagaimanapun juga, selalu toh hanya mencari nikmat dan mau
menghindari perasaan-perasaan yang tidak enak saja. Menurut hedonisme ini, selain tujuantujuan yang luhur (misalnya memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan) dan motivasi suci
(misalnya menyebarkan agama, berdakwah), motivasi manusia yang sebenarnya adalah
mencari nikmat saja. Jadi teori hedonisme psikologis adalah sebuah teori yang sinis, yang
tidak percaya bahwa manusia dapat betul-betul tergerak oleh cita-cita yang luhur, misalnya
dorongan untuk membantu orang lain dan sebagainya. Menurut teori ini, manusia pada
hakekatnya seorang egois yang hanya mencari nikmat saja, tetapi menyembunyikannya di
balik suatu tirai cita-cita suci.
Selain itu, memang harus diakui bahwa rasa nikmat serta kebalikannya, yaitu rasa
sakit, merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Menurut kodratnya manusia

cenderung mengingkari rasa sakit dan memandang rasa nikmat sebagai sesuatu yang
berharga. Itulah sebabnya mengapa hedonisme teoritik dan terutama hedonisme praktik
begitu tersebar luas.
Kenikmatan merupakan kenyataan hidup, dengan frekuensi, kadar, dan bentuk yang
berbeda orang suka merasakan kenikmatan. Misalnya yang satu lebih cenderung pada
kenikmatan dalam kadar yang berbeda, yang lainnya lebih pada kenikmatan yang mewah.
Ada yang lebih suka kepada kesenangan jasmani, atau mungkin kenikmatan religius. Namun,
apakah kenikmatan dapat dijadikan prinsip dan pegangan untuk menilai hal, perkara, dan
perbuatan secara etis, sebagaimana yang dianut oleh hedonisme?
Bila mengacu kepada pandangan para tokohnya maka etika hedonisme tidak
menganjurkan agar kita mengikuti segala dorongan nafsu begitu saja, melainkan agar kita
dalam memenuhi keinginan-keinginan yang menghasilkan nikmat bersikap bijaksana dan
seimbang dan selalu dapat menguasai diri.
D. Analisis terhadap Etika Hedonisme
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hedonisme terkandung kebenaran yang
mendalam, yaitu manusia menurut kodratnya mencari kenikmatan dan berupaya agar
terhindar dari hal-hal yang menyakitkan. Karena sejak kecil manusia pasti menginginkan
kesenangan hidup. Memang harus diakui, bahwa banyak tindakan manusia terdorong oleh
cenderung untuk mencapai kepuasan. Bahkan ada ahli psikologi yang berpendapat bahwa
semua tindakan itu berdasarkan atas cenderung yang tak terdasari, ialah cenderung untuk
mencapai kepuasan semata, yang disebutnya libido seksual (Sigmun Freud), atau cenderung
untuk mencapai kepuasan dalam kekuasaan (adler). Walaupun teori ini sekarang tidak
diterima oleh psikologi lain, akan tetapi tetaplah benar, bahwa cenderung mencari kepuasan
itu masih merupakan suatu (bukan satu-satunya) factor yang mendorong manusai untuk
bertindak.
Dengan beberapa gambaran di atas kritik atau keberatan yang dilontarkan kepada
hedonisme; pertama, keberatan atau kritik psikologis, benarkah manusia secara kodrati
mencari kesenangan? Bagi penganut hedonisme rasa puas dan bahagia disamakan. Adapun
bahagia itu menenangkan manusia dan mau apa lagi manusia, jika ia sudah tenang hidupnya?
Tetapi betulkah tiap kepuasan rasa selalu mengakibatkan ketenangan? Maka timbul
kemungkinan harus dibedakan macam dan sifat kepuasan itu. Ada kepuasan yang merupakan
kebahagiaan dan menenangkan, tetapi ada juga kepuasan rasa belaka yang kemudian
menimbulkan kehausan dan kegelisahan. Kepuasan manakah yang benar membahagiakan?

Kalau sebenarnya sifat dan macam kepuasan itu yang membahagiakan maka apakah ukuran
sifat itu.
Kedua, kritik yang bersifat praktik. Maksudnya adalah perilaku manusia yang timbul
dari paham tersebut. Nampaknya pengaruh hedonisme sebagai sebuah praktek atau perilaku
hidup yang paling berpengaruh pada manusia, ditunjukkan dengan fenomena gaya hidup
hedonis manusia.
Akibat atau dampak dari paham tersebut adalah untuk mencapai tingkat kenikmatan
yang dicita-citakan manusia dituntut bagaimana supaya hidupnya survive (berkecukupan,
berkelimpahan). Maka, falsafah yang dianut manusia hedonis adalah Struggle for life
(Hidup ini perjuangan). Artinya, tidak boleh menyerah kepada keadaan, sebesar apapun
gelombang dan tantangan harus mampu diterobos, nasib manusia bukanlah ditentukan oleh
kenyataan yang harus diterima begitu saja. Bagi seorang hedonis hidup dipandang sebagai
kondisional, yaitu; suatu keadaan yang dapat berubah.
Percaya atau tidak, kita terjebak dalam hidup yang serba instan. Setiap orang selalu
ingin menikmati kepuasan hidup, praktis tanpa susah payah. Contoh sederhana, hidangan
menu sarapan pagi tak perlu lagi nasi dan lauk-pauk, cukup digantikan sereal. Toh, hasilnya
perut tetap kenyang. Itu baru dari aspek makan dan minum, belum aspek life style (gaya
hidup), lalu parahnya lagi sampai menyentuh tujuan hidup (way of life).
Ketiga, secara umum kenikmatan tidak dapat dijadikan nilai etis yang paling tinggi
dan dijadikan dasar pendirian untuk menilai baik-buruknya hal, perkara, perbuatan. Sebab
kenikmatan itu bermacam-macam tingkat dan bentuknya dan bersifat subyektif, berbeda
untuk masing-masing orang dan relative, menurut orang-perorangan yang merasakan.
Disamping itu karena coraknya yang individualis, sehingga hedonisme mengandung suatu
egoisme, karena hanya mementingkan diri sendiri. Yang dimaksud dengan egoisme di sini
adalah egoisme etis atau egoisme yang menyatakan bahwa saya tidak mempunyai kewajiban
moral membuat suatu yang lain selain bagi diri sendiri.
Keempat, kenikmatan makin tak dapat dijadikan cita-cita dan kriteria etis, karena
menyetarakan kenikmatan, kesenangan atau kepuasan dengan moralitas yang baik. Agar tidak
terjadi hal tersebut, maka sebaiknya etika hedonisme membatasi diri pada etika deskriptif saja
dan tidak merumuskan suatu etika normative, yang baik secara moral adalah mencari
kenikmatan.
Kelima, etika hedonisme bersifat subyektif, karena ukuran kenikmatan tersebut tidak
bisa disamaratakan bagi semua orang.

Manusia dilengkapi dengan berbagai daya

kemampuan (faculty). Ada daya kemampuan indrawi, inetelektual, dan spiritual. Perwujudan

dan pemenuhan daya-daya kemampuan itu membawa rasa nikmat tersendiri. Kita mengenal
beberapa tingkat dan macam nikmat. Ada kenikmatan indrawi karena dorongan panca indra,
satu, beberapa, atau semua, terpenuhi. Kenikmatan intelektual merupakan buah pemenuhan
kemampuan budi entah karena keinginan tahu kesampaian atau pemahaman baru, lebih
mendalam, lebih berarti, diperoleh.
Kenikmatan estetis terjadi manakala hasrat akan keindahan manusia mendapatkan
saluran lewat imajinasi atau karya seni. Bila dipersempit menjadi kenikmatan indrawi,
kenikmatan sensual, karena manusia itu makhluk rohani, dan perbuatan etis manusia justru
berpangkal pada sifat rohaninya itu. Itulah kelemahan hedonisme. Adapun kelemahan itu
masih diperbesar atau diperparah karena dalam praktek hedonisme diikuti oleh konsumerisme
seperti yang menggejala pada masyarakat dunia dewasa ini.
Ada juga hedonisme estetik yang mengandung nikmat keindahan sebagai kebaikan
tertinggi. Bahkan ada juga hedonisme keagamaan; hedonisme semacam ini terdapat bila
agama berfungsi untuk membangkitkan perasaan-perasaan tertentu yang dapat memberikan
keinsyafan terhadap kenikmatan. Manusia tidak ditentukan oleh satu dorongan saja,
melainkan oleh beragam dorongan yang semuanya memang mempunyai fungsi khas dalam
menunjang kelestarian jenis. Dorongan untuk mencari nikmat hanya salah satu di antaranya.
Jadi ada nikmat jasmani, nikmat sosial, nikmat rohani, dan lainnya.
Kenikmatan

etis-moral

dialami

manakala

manusia

berhasil

memahami,

mempraktekkan dan menghayati nilai-nilai etis-moral. Kenikmatan religius mendatangi


manusia jika berhasil memahami dan menghayati nilai-nilai religius, apalagi bertemu dengan
Realitas Tinggi, Tuhan yang dipuja. Singkatnya, dalam hidup kita dapat mendapatkan
berbagai pengalaman nikmat karena daya-daya kemampuan kita terwujud dan terpenuhi.
E. Penutup
Etika hedonisme adalah sebuah doktrin yang berpegang pada anggapan bahwasanya
kebiasaan manusia itu dimotivasi oleh hasrat akan kesenangan atau kenikmatan dan
menghindar dari penderitaan. Hedonisme mau mencapai kebahagiaan dengan cara mencari
nikmat sebanyak-banyaknya.
Hedonisme pertama kali dimunculkan oleh Aristippos yang lebih menekankan pada
kenikmatan jasmani, kemudian diperluas kembali oleh Epikuros. Menurut Epikuros
kenikmatan tidak saja pada kenikmatan jasmani. Baginya kesenangan tetap menjadi sumber
norma. Tetapi tidak sekedar meliputi kesenangan jasmaniah semata-mata. Senang bagi
Epikuros bermakna tidak adanya rasa sakit dalam badan dan tidak adanya kesulitan kejiwaan.

Pandangan mereka dilanjutkan kembali oleh Jeremy Bentham kemudian melahirkan etika
baru yaitu, utilitarianisme.
Karekteristik hedonisme lebih bersifat individualis, yang dicari adalah kebahagiaan
pribadi. Karena coraknya yang privatistik cenderung hedonisme muncul dalam beragam
bentuk, ada hedonisme etis dan hedonisme psikologis.

DAFTAR PUSTAKA
http://marjuki0.blogspot.com/2013/12/etika-hedonisme.html