Anda di halaman 1dari 13

STRESS GURU DAN

PERILAKU SISWA DI
KELAS
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Dosen
DosenPengampu
Pengampu: :Bp.
Bp.Suprapto
SupraptoM.Pd
M.Pd

A. STRES Pada GURU


Dalam menjalankan tugas-tugas profesionalnya, guru menghadapi beragam
perilaku siswa yang terkadang melahirkan problema psikologis baginya. Ada
siswa yang santun, ada pula siswa yang nakal atau pembandel. Profesi guru
memang merupakan suatu profesi yang berguna untuk hidup, meski sesekali
atau bahkan sering frekuensinya malahan membuat stres ringan hingga stres
berat.
Pada daftar di bawah ini mengenai gejala umum stres yang diderita guru :
1. Kelelahan dan kekurangan tenaga
2. Selalu dalam keadaan tegang dan cepat naik darah
3. Sakit tenggorokan, batuk, dan flu
4. Sembengkakan, nyeri sendi dan otot
5. Rasa sakit di dada, punggung dan perut
6. Susah bernafas
7. Diare atau sebaliknya susah buang air besar
8. Gairah seks menurun
9. Sakit kepala
10. Depresi, mual-mual dan pusing

Apa penyebab utama stres yang dialami oleh guru?


Hasil kajian menunjukkan ada beberapa penyebabnya, antara lain
: kemampuan manajemen kelas, disiplin, dan hubungan antara
guru-siswa. Hal tersebut merupakan perwujudan rasa
ketidakmampuan guru-guru, baik yang masih pemula maupun
yang sudah berpengalaman dalam mengembangkan hubungan
kerja yang baik dengan siswa, yang diidentifikasi sebagai
penyebab utama stres.
Mengapa guru stres dalam mengajar?
Banyak guru yang khawatir karena telah menghabiskan waktu
berjam-jam mengembangkan apa yang mereka percayai
menyenangkan serta mampu menyampaikan substansi pelajaran
yang relevan, tetapi hasilnya hanya membuahkan tingkah laku
siswa yang tidak layak sehingga merusak seluruh pengalaman
manis tentang pengajaran. Guru lainnya hanya menemui sedikit
kesulitan bila berhubungan dengan siswa, tetapi ada sekelompok
kecil siswa yang benar-benar menantang. Mereka melawan dan
kurang hormat terhadap guru.
Beberapa guru berhasil menerapkan disiplin ketat pada siswa. Tapi
untuk mencapai keadaan seperti itu guru-guru harus bersikap
kurang menyenangkan terhadap siswa. Misalnya, bersikap kasar,
kehilangan kesabaran, dan berteriak. Untuk beberapa guru,
mereka menyesal telah menunjukkan kekerasan pada siswa.

B. Dari OTORITER Ke DEMOKRATIS


Hubungan yang demokratis antara guru dan siswa menjadi dambaan, meski tidak
terlalu bisa. Adakalanya guru harus bertindak tegas, meski sering ditafsirkan otoriter
oleh siswanya. Ini merupakan resiko kerja bagi guru. Memang tidak dapat dipungkiri
bahwa pelaksanaan aturan di sekolah sekarang ini tidak begitu otoriter jika
dibandingkan dengan kegiatan yang sama pada 50 tahun yang lalu. Guru-guru kini
menyadari kalau mereka tidak bisa lagi mendominasi siswa. Hubungan secara
profesional antara guru dan konsultan, menunjukkan bahwa secara umum guruguru telah dipaksa untuk mengikuti gaya yang tidak terlalu otoriter dan lebih
demokratis. Guru-guru mengatakan hal-hal sebagai berikut : Siswa mengetahui
hak-hak mereka dan mereka tidak mau diperintah serta selalu bertanya secara rinci
tentang segala sesuatu. Jika guru-guru berbicara tentang alasan mengapa mereka
bersedia untuk bernegosiasi dengan siswa atau membiarkan siswa lebih
berpartisipasi dalam menentukan kegiatan, hal ini merupakan kasus sesuatu yang
harus dilaksanakan daripada sesuatu yang ingin dilakukan oleh guru-guru.
Jika guru-guru bernegosiasi dengan siswa atau memberi hukuman siswa agar tetap
disiplin, guru-guru akan melakukannya. Guru-guru akan mengizinkan siswanya
untuk bersuara lebih banyak dalam mengambil kebijakan dalam aturan kelas atau
jika harus memberi sogokan pada siswa, guru-guru akan melakukannya. Mereka
menunjukkan kecenderungan untuk mengadopsi proses demokratisasi tersebut,
tetapi pada kenyataannya untuk kepentingan otoriterisme. Tindakan guru yang
otoriter memang dilarang, namun ketegasan mutlak perlu, meski banyak siswa yang
tidak bisa membedakannya.

C. DISIPLIN Yang DEMOKRATIS


Dilema kedisiplinan muncul berdasarkan pemikiran guru bahwa
mereka memerlukan sebuah pemahaman, tujuan, dan teknik
dari beragam pendekatan terhadap disiplin kelas. Mereka
dapat memilih suatu pendekatan tertentu atau beberapa
pendekatan dan teknik dari satu atau beberapa pendekatan.
Pemilihan yang dilakukan bergantung pada kepribadian guru,
murud tertentu, waktu, tempat dan sebagainya.
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa guru-guru kurang
memberikan kesempatan pada siswa untuk ikut mengambil
keputusan dalam proses belajar mengajar sewaktu siswa
beranjak lebih dewasa. Alasan kedua adalah timbulnya
kemungkinan sebuah skenario dimana orang tua menentang
atau menyarankan model disiplin tertentu karena mereka
menyadari akan pentingnya interaksi dalam mempengaruhi
nilai-nilai siswa. Apa yang diinginkan orang tua siswa tidaklah
konsisten dengan apa yang dipikirkan guru-guru sebagai
orang-orang yang profesional.

Untuk memberikan pembekalan pada guru mengenai


manajemen kelas dalam rangka pembelajaran yang efektif,
model teks yang mudah dibaca tetap dipertahankan.
Banyak buku tentang disiplin yang ditulis oleh akademisi
terlalu teoritis untuk digunakan oleh guru atau pengajar.
Apapun teorinya, interaksi antara guru dan siswa yang
dapat membantu menerangkan tentang beberapa masalah
disiplin kelas yang membuat banyak guru risau. Guru harus
sabar dan tidak cepat menyerah. Dalam beberapa kasus
guru-guru sama sekali tidak merespon meski sebenarnya
mereka ingin.
Di lain kasus, guru menggunakan bahasa yang lebih tegas
dari yang mereka harapkan. Guru percaya bahwa penting
bagi siswa untuk membuat keputusan sendiri sehingga
mereka tidak belajar untuk menggantungkan diri kepada
seseorang, memberitahu apa yang layak dikerjakan dan
tidak layak dikerjakan, mana yang benar dan yang salah.
Guru semacam ini berbicara tentang kepatuhan yang
buta, semacam kepatuhan yang dilakukan siswa hanya
karena mereka diperintahkan begitu tanpa kemampuan
atau keinginan berpikir tentang apakah mereka harus

Banyak guru yang akan merasa bahagia menggunakan


hukuman yang ada dasarnya, pujian atau hadiah, baik dari
orang tua maupun guru yang digunakan untuk mengontrol
sikap siswa mereka sendiri, tetapi mereka merasa bahwa untuk
masa kini cara tersebut tidak akan berhasil karena siswa
melawan. Mereka berpikir siswa masa kini meminta haknya
tidak menjadi masalah apakah mereka mengambil ide tersebut
dari sekolah dan tidak akan melakukan begitu saja apa yang
diperintahkan sebagaimana yang dilakukan siswa jaman
dahulu. Guru-guru yang menganut pandangan ini percaya
bahwa mereka perlu menjadi keras tanpa beralasan untuk
mengatasi perlawanan siswa.
Dengan kata lain, meski banyak guru memiliki ide yang jelas
tentang apa yang mereka percaya sebagai sikap yang tidak
layak dari siswa, atas dasar beberapa alasan mereka segan
memberikan respon terhadap sikap semacam itu. Secara umum
mereka percaya keterlibatan mereka akan menjadi tidak efektif,
baik karena beberapa sifat siswanya maupun karena ada yang
salah dengan sikap otoriter yang mereka percayai harus
dipergunakan agar campur tangan mereka membuahkan hasil.

D. GURU Bertindak KERAS


Ada guru yang sukses, ada pula yang gagal dalam mendisiplinkan siswa.
Secara kontras, banyak guru yang sukses menangani sikap siswa yang
tidak layak dengan menggunakan teknik kekuasaan (Otoriter) yang pernah
mereka alami sendiri sebagai anak-anak. Namun, guru semacam ini juga
mendapati dirinya berada dalam dilema karena merasa teknik tersebut
terlalu keras dan cenderung menghalangi siswa untuk bertanggung jawab
terhadap sikap mereka. Ada tipe guru yang juga terlibat dalam merespon
lebih keras dari yang diharapkan. Secara paradoks, guru berikut ini, seperti
guru yang pada awalnya menggunakan pendekatan lebih halus dari yang
diharapkan terhadap sikap siswa, sering kali menjadi frustasi. Akhirnya
rasa frustasi ini berubah menjadi kemarahan dan kebencian yang tidak
dapat diekspresikan menumpuk sampai marahnya meledak.
Kemudian, mereka mengkomunikasikan kejengkelannya melalui teknik
yang sangat efektif tetapi juga merusak. Mereka menggunakan kata-kata
makian yang kasar. Mereka memanggil siswa dengan sebutan bodoh atau
malas. Mereka mungkin juga menangani siswa dengan cara fisik yang
kasar seperti memukul, mengguncang, atau mendorong siswanya. Respon
semacam ini kemudian dilihat oleh guru tersebut sebagai reaksi yang lebih
keras dari yang diharapkan, dan merupakan sumber penyesalan.

E. KEFRUSTRASIAN GURU
Watak frustrasi yang dialami guru berkenaan dengan sikap tidak
layak yang menghasilkan reaksi yang lebih keras dari yang
diharapkan. Sebagai hasilnya, guru-guru ini mengetahui bahwa
teknik yang mereka gunakan efektif, tetapi akan menghancurkan
kejiwaan siswa. Mereka menjadi lebih yakin bahwa satu-satunya
cara mengekspresikan kebutuhan mereka menyakiti siswa, lalu
mereka akan mundur ke model respon lebih halus dari yang
diharapkan, yaitu sampai frustrasi menumpuk lebih jauh lagi dan
kemarahan yang mengarah pada peledakan berikutnya.
Berikut ini adalah beberapa dari salah satu sikap yang ekstrem.
Ada kelompok sikap melawan atau menyerang. Ini direspon
dengan memanggil nama siswa, membandingkan mereka secara
tidak adil dengan siswa lain, menghukum siswa yang tidak
bersalah, berteriak dengan keras sekali, dan dengan sengaja
mempermalukan mereka di depan siswa lain. Sikap ekstrem
lainnya, yaitu sikap guru yang lemah atau tidak bertulang seperti
memilih untuk keluar kelas, memerintah berulang kali tanpa hasil,
menangis dan memohon. Pendekatan yang mungkin dapat
digunakan adalah pendekatan model pengaruh. Pendekatan ini
dinamakan pendekatan berpusat pada siswa dan terdiri dari
teknik yang didesain untuk memberikan fasilitas pelatihan

Pendekatan yang mirip adalah yang berorientasi pada


siswa disebut sebagai model manajemen. Tujuan guru
dalam pendekatan ini adalah mengatur kelompok dengan
cara tertentu sehingga kelompok itu sendiri mampu
mengatur diri sendiri. Pendekatan berorientasi kelompok ini
merupakan pendekatan di mana seluruh anggota kelas
secara bersama-sama menetapkan peraturan dan hukuman
bagi sikap tidak layak dari siswa itu sendiri. Peraturan dan
hukuman ini kemudian mengikat seluruh anggota kelas.
Pendekatan ini melibatkan campur tangan guru yang
berkuasa yang mengharapkan kepatuhan siswa.
Sebelum menguraikan teknik merespon terhadap sikap
tidak layak dari siswa, penting untuk menekankan bahwa
teknik saja tidaklah cukup. Jika seorang guru memiliki
kemauan baik bagi siswanya, teknik apa pun akan efektif.
Namun, jika seorang guru tidak memiliki kemauan baik,
tidak peduli teknik apapun yang digunakan, teknik tersebut
tidak akan efektif.

F. RESPON Atau SIKAP


Keyakinan bahwa kurangnya kepatuhan siswa merupakan
ungkapan perasaan yang sejati dan dapat dibenarkan tentang
ketidakpuasan siswa terhadap institusi pendidikan yang gagal
dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa yang menjadi hak
mereka. Pandangan ini memfokuskan diri pada cara pemecahan
masalah yang membutuhkan perubahan institusional terhadap isi
dan proses kurikulum, penjadwalan, sumber daya, hubungan
pengajar dengan siswa, dan hubungan antarsiswa itu sendiri.
Untuk dapat memecahkan masalah ini guru-guru harus
menggunakan pendekatan yang bervariasi, yaitu mulai dari
latihan kontrol terhadap sikap siswa sampai pendekatan
konseling.
Cara yang baik untuk mengklarifikasi perbedaan antara
pendekatan tersebut adalah dengan penggunaan analogi
sederhana, yaitu memasukkan sebuah balok ke dalam lubang
yang bundar. Jika terdapat kesukaran untuk menyesuaikan balok
(dalam hal ini murid) ke dalam bentuk bundar (yaitu kondisi
sekolah) guru harus berkonsentrasi bagaimana caranya untuk
menghilangkan sudut-sudut lancip dari balok tersebut. Menurut
penjelasan kedua, balok tersebut bentuknya baik sehingga bentuk
bundar dari tempat tersebutlah yang harus diperbaiki. Dalam
kenyataan, sumber informasi dari kedua hal tersebut sangat

Tipe-Tipe Sikap Siswa


Contoh 1 :
Anto adalah siswa kelas 9 yang sangat pelupa dan ceroboh. Dia sering kali
masuk kelas tampa membawa buku pelajaran, pekerjaan rumah, dan dalam
banyak kesempatan ia tidak membawa buku catatan dan kotak pensil. Pada
saat seperti ini kemampuan Anto untuk belajar benar-benar terganggu.
Contoh 2 :
Fitri merupakan badut kelas di kelas 7. Dia sering kali berteriak memanggil
temannya, terjatuh dari kursi, tersandung tas, mengambil peralatan tulis
menulis temannya, merusak barang-barang pribadi teman-tamannya dan
sebagainya. Kehadiran Fitri di dalam kelas merupakan gangguan besar bagi
teman-teman sekelasnya.
Contoh 3 :
Bondan merupakan masalah yang lain daripada yang lain. Membuatnya
berhenti mengobrol dengan Iwan, teman sebangkunya dan menyuruh
berkonsentrasi pada pekerjaanya, guru pertama-tama memintanya tenang.
Tetapi dia terus saja berbicara dengan Iwan, lalu guru mendekatinya dan
menyuruhnya untuk duduk di tempat lain. Dia mungkin berdiri dan
mengatakan sesuatu seperti guru selalu menyuruh-nyuruhnya lalu berkata
guru brengsek. Tapi tetap saja dia tidak mau pindah. Sikap Bondan mungkin
dapat dimengerti tetapi tidak dapat diterima karena menentang kekuasaan
guru dengan cara yang tidak terhormat.

SEKIAN
SEKIAN