Anda di halaman 1dari 74

i |BNPP

BADAN NASIONAL PENGELOLAH PERBATASAN


KATA SAMBUTAN

Perbatasan

Negara menyandang status sangat stragegis dan penting bagi sebuah

Negara. Dari perspektif pertahanan keamanan, perbatasan Negara merupakan pagar paling
depan penyangga masuknya anasir-anasir yang dapat mengancam kedaulatan NKRI. Karena
itu. pengamanan perbatasan menjadi sebuah keniscyaan yang tidak bisa ditawar- tawar.
Karena itu, TNI diminta atau tidak sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku
senantiasa hadir di perbatasan untuk menjaga keamanan Negara. Dari perspektif
kesejahteraan, perbatasan Negara merupakan beranda depan NKRI yang harus dibangaun dan
dirawat sehingga memberikan sebuah kesan bahwa bangsa indonesia memiliki kedaulatan
dan martabat yang harus dibela dan dijungjung tinggi. karena itu, kesejahteraan masyarakat
perbatasan harus ditingkatkan melalui kegiatan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Pembangunan ekonomi sangat terkait dengan pembangunan wilayah dan pengembangan
sosial budaya lokal. Dari perspektif hubugnan dan hukum internasional, perbatasan Negara
memiliki kompleksitas yang tinggi. Ketika dua negara menghadapi konflik satu sama lain,
penyelesaiannya tidak dilakukan malalui cara-cara tidak beradab seperti agitasi dan perang.
melainkan melalui proses diplomasi yang santun dan produktif dan harus berlandasankan
etika dan prinsip-prinsip hukum internasional.
Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa pengelolaan perbatasan negara sama seperti
disiplin bidang ilmu lainnya. Yaitu kompleks dan dinamis serta berkembang sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang turut mendandaninya. Berbagai istilah
memiliki arti khusus yang harus dipahami secara benar baik oleh kaum praktisi maupun
pengambilan kebijakan. Diharapkan, penerbitan glossary perbatasan antar negara ini
bermanfaat dan memperkaya khasanah perbendaharaan peminta dan pembaca sesuai
kebutuhan.

ii |BNPP

LOKASI PRIORITAS PALOH

Keadaan Umum Lokpri


Keadaan umum Kecamatan Paloh sebagai lokasi prioritas daerah perbatasan di Kalimantan
Barat terdiri dari wilayah administrasi, Kependudukan, Pendidikan, Kesehatan, Agama, dan
Perekonomian.
Wilayah Administrasi
Kecamatan Paloh adalah kecamatan yang terdapat di Kabupaten Sambas yang berbatasan
langsung dengan Negara Malaysia. Kecamatan tersebut dapat dikategorikan sebagai
Kecamatan yang membutuhkan perhatian khusus baik dari pemerintah setempat, pemda
provinsi, maupun pemerintah pusat. Bukan hanya karena letaknya yang diperbatasan
sehingga menjadi wilayah yang strategis, namun juga kondisi kecamatan yang relatif
terbelakang.
Kecamatan Paloh adalah kecamatan yang terletak di bagian utara dari Kabupaten Sambas
tepatnya berada di antara 1 35 Lintang Utara serta 2 05 Lintang Utara dan 109 38 Bujur
Barat serta 109 38 Bujur Timur. Secara administratif, Kecamatan Paloh berbatasan dengan:
Sebelah Utara

: Laut Cina Selatan

Sebelah Selatan

: Kecamatan Teluk Keramat

Sebelah Barat

: Laut Cina Selatan

Sebelah Timur

: Malaysia dan Kecamatan Sajingan Besar

Luas Kecamatan Paloh adalah 1.148,84 Km2 atau sekitar 17,96% dari seluruh luas Kabupaten
Sambas. Hingga tahun 2010 Kecamatan Paloh terbagi atas 8 buah desa, yaitu Desa
Kalimantan, Desa Matang Danau, Desa Tanah Hitam, Desa Malek, Desa Nibung, Desa
Sebubus, Desa Temajuk, dan Desa Mentibar.
Desa terluas adalah Desa Sebubus dengan luas 326,21 km2 atau 28,41 persen sedangkan yang
terkecil adalah Desa Matang Danau dengan luas sebesar 44,01 km2 atau 3,83 persen dari luas
wilayah Kecamatan Paloh.

1 |BNPP

Tabel 2.1
Luas Wilayah Kecamatan Paloh
No Desa / Kelurahan

Luas (Km2)

1
Kalimantan
2
Matang Danau
3
Tanah Hitam
4
Malek
5
Nibung
6
Sebubus
7
Temajuk
8
Mentibar
Kecamatan Paloh

Persentase Terhadap Luas


Kecamatan (%)

64,87
44,01
125,06
136,7
147,85
326,21
231
72,58
1.148,28

5,65
3,83
10,89
11,9
12,88
28,41
20,12
6,32
100

Sumber : Kecamatan Paloh Dalam Angka 2010

Kependudukan
Jumlah penduduk Kecamatan Paloh pada tahun 2009 berjumlah sekitar 23.623 jiwa
dengan kepadatan penduduk sekitar 21 jiwa per kilometer persegi atau 1.074 jiwa per dusun.
Karena itu, persoalan mendesak bagi daerah adalah minimnya sumber daya manusia untuk
mengelola pembangunan di daerah yang potensinya amat besar.
Penyebaran penduduk di Kecamatan Paloh tidak merata antar desa yang satu dengan
desa yang lainnya. Desa Matang Danau merupakan Desa dengan tingkat kepadatan penduduk
tertinggi yaitu 92 jiwa/km2. Sebaliknya, Desa Temajuk dengan luas sekitar 20,12 persen dari
total wilayah Kecamatan Paloh hanya di huni 6 jiwa/km2.
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk di Kecamatan Paloh Tahun 2010
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Desa / Kelurahan
Kalimantan
Matang Danau
Tanah Hitam
Malek
Nibung
Sebubus
Temajuk
Mentibar
Jumlah

Laki-laki
844
1.965
1.558
1.230
1.223
3.409
730
554
11.513

Sumber : Kecamatan Paloh Dalam Angka 2010

2 |BNPP

Perempuan
912
2.080
1.708
1.283
1.319
3.512
702
594
12.110

Jumlah
1.756
4.045
3.266
2.513
2.542
6.921
1.432
1.148
23.623

Pendidikan
Keberhasilan proses pendidikan sangat tergantung oleh tersedianya sarana dan
prasarana serta tenaga pengajar yang memadai. Pada tahun 2009, jumlah prasarana SD
mengalami peningkatan, dari 23 Sekolah Dasar menjadi 24 Sekolah Dasar di Kecamatan
Paloh. Kemudian untuk prasarana SLTP dan SLTA sama dengan tahun sebelumnya yaitu
untuk SLTP terdapat 6 sekolah dan untuk SLTA terdapat 3 sekolah.
Di tingkat SD, jumlah murid mengalami peningkatan sebesar 1,28 persen. Sedangkan
jumlah guru mengalami kenaikan sebesar 2,95 persen. Pada tahun 2009 jumlah murid SD
mencapai 3.736 orang dan jumlah guru yang ada sebanyak 305 orang. Hal ini berarti, rasio
murid terhadap guru mencapai 12,25 ini berarti beban tiap guru mendidik rata-rata 12 s/d 13
murid. Sama halnya dengan tahun sebelumnya. Di tingkat SLTP, jumlah murid mengalami
peningkatan dari 1.099 orang menjadi 1.208 orang di tahun 2009 atau naik sekitar 9,02
persen. Dengan rasio murid terhadap guru 13,42.
Untuk di tingkat SLTA, jumlah murid mengalami peningkatan yaitu dari 446 murid
menjadi 521 murid pada tahun 2009 atau mengalami peningkatan sebesar 15,40 persen.
Jumlah guru dari 36 orang menjadi 39 orang di tahun 2009, sehingga rasio guru terhadap
murid mencapai 13,36. ini berarti setiap guru mengajar 13 s/d 14 murid.
KESEHATAN
Sejak awal pemerintah sudah memperhatikan dan berupaya meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dengan alasan kemanusiaan. Hal ini dapat kita lihat dari pembangunan
berbagai fasilitas kesehatan.
Pelayanan kesehatan merupakan salah satu kewajiban Negara terhadap rakyatnya.
Sebab status kesehatan masyarakat adalah indikator penting dari seluruh indikator yang ada
dan merupakan faktor penting dari produktivitas ekonomi.
Pembangunan di bidang kesehatan saat ini diarahkan pada penyediaan berbagai sarana
dan prasarana yang meliputi bangunan fisik (Rumah Sakit, Puskesmas, Balai pengobatan dan
Poliklinik) serta pengadaan tenaga kesehatan yang terampil.
Dokter merupakan sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan dalam dunia
kesehatan. Dengan bantuan dokter maka banyak kemungkinan penyakit yang dapat

3 |BNPP

disembuhkan. Di Kecamatan Paloh hanya terdapat 2 orang dokter yaitu 1 dokter umum dan
1 dokter gigi, tentu saja jumlah ini tidak mencukupi bagi optimalisasi pelayanan kesehatan di
Kecamatan Paloh.

AGAMA
Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menjamin kehidupan
umat beragama dan senantiasa mengembangkan kerukunan hidup antara pemeluk agama /
kepercayaan guna membina kehidupan masyarakat dan sekaligus mengatasi berbagai masalah
sosial budaya yang mungkin dapat menghambat kemajuan bangsa. Untuk itu, diperlukan
sarana dan prasarana yang memadai bagi semua umat serta peningkatan pelayanan bagi
kepentingan pelaksanaan ibadah keagamaan, mencakup prasarana beribadah serta pelayanan
yang menyangkut perkawinan. Pada tahun 2009, jumlah prasarana peribadatan di Kecamatan
Paloh sama seperti tahun lalu yaitu 59 tempat ibadah yang terdiri dari 26 Masjid, 25 Surau, 3
Gereja Protestan, dan 5 Vihara.
PEREKONOMIAN
Untuk lebih meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus mewujudkan
pemerataan pendapatan, perlu adanya peningkatan mutu sumber daya manusianya yang
diikuti pengendalian jumlah penduduk serta peningkatan infrastruktur. Keterpaduan antara
program pemerintah dengan peran swasta dan masyarakat perlu diperhatikan guna
menyelaraskan langkah dalam menggali sektor-sektor potensial yang sekaligus memiliki
potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
PDRB Kecamatan Paloh atas dasar harga berlaku meningkat sebesar 12,88 persen dari
224,03 milliar rupiah pada tahun 2008 menjadi 252,88 milliar rupiah pada tahun 2009.
Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2008 mencapai 131,95
milliar rupiah, kemudian meningkat menjadi 138,73 milliar rupiah pada tahun 2009 atau naik
sekitar 5,14 persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.4 dan Tabel 2.5

4 |BNPP

Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku


Kecamatan Paloh Tahun 2005 2009 ( Jutaan Rupiah )
No
1

Sektor / Subsektor
PERTANIAN

a. Tanaman Bahan Makanan


b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan & Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
2

PERTAMBANGAN & PENGGALIAN

a. Pertambangan tanpa Migas


b. Penggalian
3
4

INDUSTRI PENGOLAHAN
LISTRIK & AIR MINUM

a. L i s t r i k
b. Air Minum
5
6

BANGUNAN
PERDAGANGAN, HOTEL &
RESTORAN

a. Perdagangan Besar &


Eceran
b. H o t e l
c. Restoran
7

PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI

a. Pengangkutan
1. Angkutan Jalan Raya
2. Angkutan Laut
3. Ang. Sungai, Danau &
Penyeb.
4. Jasa Penunjang Angkutan
b. Komunikasi
1. Pos dan Telekomunikasi
8

KEUANGAN, PERSEW. & JASA


PERUS.

a. Bank
b. Lembaga Keuangan tanpa
Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
9

JASA-JASA

a. Pemerintahan Umum
1. Adm. Pemerintahan &
Pertahanan
b. Swasta
1. Sosial Kemasyarakatan
2. Hiburan & Rekreasi
3. Perorangan & Rumah
tangga
PRODUK DOMESTIK
REGIONAL BRUTO

5 |BNPP

2005
84.013,20
44.912,75
28.315,60
1.124,77
1.811,10
7.848,98
626,24
0,00
626,24
6.647,18
394,05
394,05
0,00
1.831,70

2006
95.941,79
50.153,24
32.520,99
1.341,39
1.879,92
10.046,25
678,97
0,00
678,97
7.457,71
433,36
433,36
0,00
2.056,80

2007
109.102,62
56.897,14
37.581,17
1.482,58
1.857,78
11.283,96
769,74
0,00
769,74
8.521,63
478,64
478,64
0,00
2.329,59

2008
121.785,75
60.441,15
44.856,12
1.683,48
1.853,82
12.951,17
993,83
0,00
993,83
9.746,71
535,26
535,26
0,00
2.717,53

2009*)
137.297,70
68.618,54
49.950,15
1.886,81
1.877,27
14.964,92
1.259,83
0,00
1.259,83
11.041,28
647,44
647,44
0,00
3.134,83

44.574,01

50.392,52

57.077,38

62.693,91

70.948,19

44.362,58

50.154,50

56.811,41

62.396,17

70.612,08

0,00
211,43
5.943,16
5.818,70
2.649,86
2.370,66

0,00
238,02
6.455,06
6.325,64
2.904,34
2.535,22

0,00
265,97
7.160,80
7.021,86
3.287,00
2.735,62

0,00
297,74
7.998,02
7.848,93
3.790,00
2.933,02

0,00
336,11
8.786,69
8.626,69
4.235,36
3.135,06

457,04

513,45

568,71

634,10

706,41

341,14
124,46
124,46

372,63
129,43
129,43

430,53
138,94
138,94

491,81
149,09
149,09

549,86
160,00
160,00

4.924,29

5.612,23

6.283,93

6.765,62

7.402,40

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

69,47

77,67

87,31

100,57

112,56

4.854,81
0,00
6.860,96
6.262,20

5.534,55
0,00
7.652,32
6.975,34

6.196,62
0,00
9.136,96
8.386,36

6.665,05
0,00
10.791,34
9.962,16

7.289,84
0,00
12.362,48
11.447,92

6.262,20

6.975,34

8.386,36

9.962,16

11.447,92

598,76
130,94
21,46

676,98
152,14
23,30

750,61
170,53
24,61

829,18
191,80
26,63

914,56
210,01
29,20

446,35

501,53

555,46

610,74

675,34

155.814,81

176.680,74

200.861,28

224.027,97

252.880,84

POTENSI EKSISTING
Potensi eksisting di Kecamatan Paloh terdiri atas pertanian, peternakan, perkebunan,
perikanan, kehutanan dan pertambangan. Potensi tersebut sebagian sudah dimanfaatkan
sementara sebagian lainnya masih belum dibudidayakan
POTENSI LAHAN
A. Pertanian

Pertanian tanaman pangan berupa tanaman padi yang dihasilkan di Kecamatan Paloh
berasal dari padi sawah. Di Kecamatan Paloh tidak terdapat produksi padi yang berasal dari
penanaman di ladang. Luas panen padi fluktuatif setiap tahunnya sebagaimana yang tersaji
pada tabel di bawah ini. Luas panen padi mencapai puncaknya di tahun 2007, yaitu seluas
6.565 hektar dan terendah tahun 2008 seluas 3.601 hektar. Rata-rata produksi perhektar
dalam empat tahun terakhir adalah 3,32 ton/hektar, produkstivitas ini rendah dibandingkan
rata-rata produktivitas yang ada di sentra produksi beras.
Luas Panen Produksi dan Produktivitas Tanaman Padi Sawah
di Kecamatan Paloh Tahun 2006 s/d 2009
Tahun
Luas Panen (Ha)
Rata-rata produksi
(Kw/Ha)
Produksi (Ton)

2006
4.208
32,60

2007
6.565
32,54

2008
3.601
36,10

2009
5.818
31,65

37.627

21.363

12.999

18.414

Sumber: Kecamatan Paloh Dalam Angka (Tahun 2006 -2010)

Tanaman palawija yang diusahakan di Kecamatan Paloh adalah jagung, ubi kayu, ubi
jalar, kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau. Tanaman palawija tidak banyak ditanam
petani, penanaman sebatas memenuhi kebutuhan lokal,
komersial, merupakan tanaman tegalan ataupun pekarangan.

6 |BNPP

tidak dibudidayakan secara

Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Palawija


di Kecamatan Paloh Tahun 2006 s/d 2009
Komoditas
Jagung

Ubi kayu

Ubi jalar

Kedelai

Kacang hijau

Uraian

Tahun

Luas Panen (Ha)


Rata-rata produksi (Kw/Ha)
Produksi (Ton)
Luas Panen (Ha)
Rata-rata produksi (Kw/Ha)
Produksi (Ton)
Luas Panen (Ha)
Rata-rata produksi (Kw/Ha)
Produksi (Ton)
Luas Panen (Ha)
Rata-rata produksi (Kw/Ha)
Produksi (Ton)
Luas Panen (Ha)
Rata-rata produksi (Kw/Ha)
Produksi (Ton)

2006
10
16.86
16.86
1
111,20
11,12
2
65,00
13,00

2007

2008

2
111,13
22,23
1
72.31
7.23

3
110.09
33
2
72.25
14

5
6.01
3.01

2009
10
16.34
16

48
9.35
45
63
6.13
39

Sumber: Kabupaten Sambas Dalam Angka (beberapa tahun)

B. Peternakan
Peternakan yang diusahakan masyarakat terdiri dari sapi, kambing dan babi. Ternak
kambing merupakan ternak yang banyak dimiliki masyarakat Kecamatan Paloh,
hampir tiap-tiap rumah tangga tani memiliki ternak kambing. Jumlah populasi ternak
baik sapi, babi maupun kambing dari tahun 2006 s/d 2009 terus bertambah
meskipun pertambahannya relatif sedikit. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Tabel 2.8.
Tabel 2.8
Populasi Ternak Besar di Kecamatan Paloh Tahun 2006 s/d 2009
Populasi (ekor)
Sapi
Babi
Kambing

2006
847
530
1.073

2007
963
540
1.170

2008
976
545
1.198

2009
991
519
1.210

Sumber: Kabupaten Sambas Dalam Angka (beberapa tahun)

Sedangkan ternak unggas terdiri dari jenis ayam dan itik. Ayam ras kurang
berkembang di masyarakat, sebagaimana tersaji pada Tabel 2.9. Jumlah ternak
ayam ras pedaging terus menurun. Sedangkan ayam buras dan itik merupakan
unggas yang banyak dipelihara, dengan alasan mudah memeliharanya.

7 |BNPP

Jumlah

ayam buras menunjukkan angka yang relatif tetap dari tahun ke tahun, demikian
juga jumlah itik yang dipelihara petani juga relatif konstan.
Tabel 2.9
Populasi Ternak Unggas di Kecamatan Paloh Tahun 2006 s/d 2009
Populasi (ekor)
Ayam ras pedaging
Ayam ras petelur
Ayam buras
Itik

2006
34.140
4.085
25.138
12.198

2007
34.350
4.647
25.205
13.555

2008
400

2009
400

25.247
13.563

25.463
13.586

Sumber: Kabupaten Sambas Dalam Angka (beberapa tahun)

C. Perkebunan
Tanaman perkebunan yang diusahakan merupakan tanaman perkebunan
rakyat terdiri dari tanaman karet, kelapa, lada, kopi dan sawit. Tanaman yang sudah
berproduksi adalah tanaman karet, kelapa, kopi dan lada.

Karet merupakan

tanaman yang banyak ditanam oleh masyarakat di Kecamatan Paloh. Kelapa sawit
merupakan tanaman yang mulai diminati oleh para petani dengan luas baru
mencapai 262 hektar, namun belum menghasilkan.

Tanaman karet dan kelapa

dalam merupakan tanaman yang dominan ditanam petani di Kecamatan Paloh,


dimana luas tanaman terus menunjukkan adanya peningkatan. Produksi tanaman
karet dan kelapa dalam menunjukkan kenaikan dari Tahun 2006 sampai Tahun
2008, namun Tahun 2009 menunjukkan penurunan produksi. Sedangkan tanaman
lada tidak terlalu banyak dibudidayakan, Tahun 2009 luas tanaman lada
menunjukkan penurunan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.10, berikut
ini

Tabel 2.10
Jenis, Luas dan Produksi Tanaman Perkebunan di Kecamatan Paloh
Tahun 2006 s/d 2009
Jenis Tanaman
Karet
Kelapa Dalam
Kelapa Sawit

8 |BNPP

Luas Tanam & Produksi


Luas Tanaman (Ha)
Produksi (Ton)
Luas Tanaman (Ha)
Produksi (Ton)
Luas Tanaman (Ha)

2006
835
15,66
849
31,85

2007
1.036
83,00
846
171,00

2008
1.139
375,69
827
358,69

2009
15.333
277
926
172
262

Lada
Kopi
Aneka Tanaman

Produksi (Ton)
Luas Tanaman (Ha)
Produksi (Ton)
Luas Tanaman (Ha)
Produksi (Ton)
Luas Tanaman (Ha)
Produksi (Ton)

294
61
21
1.73

288
72
61
21
21
5

318
172,51
65
16,04
19
5,76

163
48
62
22
17
1

Sumber: Kabupaten Sambas Dalam Angka (beberapa tahun)

D. Perikanan
Hasil perikanan Kecamatan Paloh berasal dari kegiatan penangkapan maupun
budidaya. Perikanan tangkap terutama berasal dari perikanan laut.

Produksi

perikanan laut, perairan umum dan budidaya menunjukkan angka yang terus
meningkat sejak tahun 2006 s/d 2009, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel
2.11, berikut ini.
Tabel 2.11
Luas Usaha Pemeliharaan Ikan Budidaya di Kecamatan Paloh Tahun 2006 s/d 2009
Jenis Komoditi
Produksi (Ton)
Perikanan laut
Perairan umum
Budidaya
Jumlah
Nilai Produksi (Juta
Rp)
Perikanan laut
Perairan umum
Budidaya
Jumlah

2006

2007

2008

2009

1.814,2
14
123.5
1.951,7

3.461,2
15.6
137.1
3.613,.9

3.812,7
17.2
187.1
4.017

4.194,5
19.1
186.9
4.400,5

19.687.426
14.4847
1.855.613
21.687.886

21.677.892
20.110
2.212.095
23.348.897

24.061.237
183.502
4.216.609
28.461.348

13.967.726
208.441
3.721.835
17.898.002

Sumber: Kabupaten Sambas Dalam Angka (beberapa tahun)

Potensi Hutan
Total luas hutan yang ada di Kecamatan Paloh adalah 46.095 hektar, dengan
jenis hutan terbesar berupa Hutan Produksi (HP) seluas 30.605 hektar atau
mencapai 66,40 % dari keseluruhan kawasan hutan yang ada. Sebagai kecamatan
yang berada deka pantai, Kecamatan Paloh mempunyai hutan mangrove sebesar
5.138 Ha atau 11,14% dari luas total hutan yang ada. Sedangkan taman wisata alam

9 |BNPP

mencapai 22,46% atau 10.352 Ha. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel
2.12 dan Gambar 2.2, berikut ini.
Tabel 2.12
Jenis Hutan dan Luasannya di Kecamatan Paloh Tahun 2006 s/d 2009
No
1
Z
3
4
5
6

Jenis Hutan

Luasan (Ha)
10.352

TWA
HL
HLB/Mangrove
5.138
HPT
HP
30.605
HPK
Total
46.095
Sumber : Badan Planologi Kehutanan Bogor

%
22,46
11,14
66,40
100

Potensi Tambang
Bahan galian adalah sumberdaya mineral dalam bentuk asli yang dapat
ditambang untuk keperluan manusia. Potensi Sumberdaya mineral di Kecamatan
Paloh secara garis besar dikelompokkan kedalam 3 (Tiga) kelompok yaitu bahan
galian logam , bukan logam dan bahan galian energi
1. Bahan Galian Logam
Bahan galian logam yang ada di Kecamatan Paloh terdiri dari Besi (Fe), Mangan
(Mn), Bauksit (Al), dan Antimoni (Sb).
a. Besi (Fe)
Bijih besi antara lain terdiri dari magnetit (Fe4O4), hematit (Fe2O3), limonit
(Fe2O3.H2O), Pirit (FeS) dan Siderit (FeCO3). Bijih besi yang paling komersil adalah
bijih sedimenter, magmatik, kontak metasomatik dan replacement. Di Kecamatan
Paloh Biji Besi ini terdapat di Gunung Pangi dan Gunung Asuansang. Untuk jumlah
sumber daya belum dikatehuhi sebab belum dilakukan pengukuran.

10 |BNPP

Gambar 2.2
Peta Kawasan Hutan

b. Mangan (Mn)
Mangan adalah jenis logam lunak berwarna hitam, berformula (Mn) dikenal
sejak jaman Romawi Purba, sebagai zat pewarna gelas kaca. Bila disentuh dengan
tangan warna hitam itu akan menempel ditangan. Mineral-mineral komersil mangan
antara lain Pyrolusit (MnO2), Hausmanit (Mn2O4), rhodokrosit (MnCO3) dan
rhodonit (MnSiO2). Di Kecamatan Paloh Mangan terdapat di Gunung Pangi, tetapi
untuk jumlah sumber daya belum diketahui sebab belum dilakukan pengukuran. Di
Kecamatan Paloh terdapat kandungan Mangan yang berada di Gunung Pangi, tetapi
untuk jumlah kandungan sumber daya alam belum diketahui, sebab belum dilakukan
pengukuran
c. Bauksit (Al)
Bauksit adalah bijih logam alumunium (Al). Nama bauksit berasal dari nama
sebuat tempat di Perancis Beaux. Bauksit adalah suatu koloid oksida Al dan Si yang
mengandung air. Istilah bauksit dipergunakan untuk bijih yang mengandung oksida
alumunium monohidrat atau anhidrat. Biasanya berasosiasi dengan laterit, warnanya
tergantung dari oksida besi yang terkandung dalam batuan asal. Makin basa batuan
asal biasanya makin tinggi kandungan unsur besinya, sehingga warna dari bijih
bauksit akan bertambah merah. Di alam bauksit berupa mineral gipsit (Al2O3H2O),
ahmit (Al2O3.H2O) atau diaspor [(Al2O3(OH)]. Di Kecamatan Paloh terdapat

11 |BNPP

kandungan Bauksit tetapi untuk jumlah kandungan sumber daya alam belum
diketahui, sebab belum dilakukan pengukuran
d. Antimoni (Sb)
Antimoni (Sb), adalah mineral yang jarang terdapat. Dari berbagai mineral yang
mengandung antimoni, hanya stibnit (Sb2S2) yang komersil. Kebanyakan bijih
antimoni terjadi dari larutan hidrothermal temperatur rendah dan dangkal, mengisi
celah-celah dan rongga-rongga yang bentuknya tak beraturan. Beberapa endapan
primer telah mengalami pengayaan oleh residu pelapukan, membentuk bijih oksida.
Berdasarkan penelitian terindikasi di Kecamatan Paloh terdapat Antimoni,
berdasarkan penelitian terdapat di Hulu Sungai Paloh. Untuk jumlah sumber daya
belum diketahui.
2. Bahan Galian Bukan Logam
a. Pasir Kuarsa
Pasir kuarsa atau Pasir putih terdiri dari kristal- kristal mineral kurasa (silika),
berkomposisi SiO2, mempunyai ukuran diantara 200 mesh sampai 2 milimeter,
berwarna bening putih, mempunyai kekerasan mineral 7 skala Mohs' dan berat jenis
2,6. Serta analisa yang dilakukan biasanya analisa kimia dan analisa butir. Di
Kecamatan Paloh Terdapat Pasir Kuarsa dengan jumlah sumber daya kurang lebih
4.140.000 Ton.
b. Granit Diorit
Granit dan diorit adalah jenis batuan beku yang banyak di alam, ditemukan dalam
berbagai warna tergantung dari susunan mineral pembentuk, bertekstur kasar,
holokristalin.
Granit disusun oleh mineral orthoklas berwarna keabuan, kemerahan, kekuningan,
kuarsa berwana putih, biotit berwarna gelap kehijauan, kecoklatan. Diorit terutama
disusun oleh mineral plagioklas, amfibol, piroksen tanpa mineral kuarsa. Mineral
pengiring antara lain apatit, zirkon dan magnetit.
Di Kecamatan Paloh berindikasi terdapat Granit dan Diorit dengan jumlah sumber
daya kurang lebih 600.000.000 Ton.
12 |BNPP

3. Bahan Galian Energi


Untuk potensi bahan galian energi di Kecamatan Paloh terdapat Batubara lokasinya
tersebar pada hutan lindung dan tanah dengan system lahan TWI, yaitu tanah yg
tidak sesuai untuk pertanian dan perkebunan. Untuk lokasi batubara yang berada
pada hutan lindung tidak dapat dimanfaatkan, namun pada APL dapat dimanfaatkan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.4 Peta Formasi Pembawa
Batubara di Kecamatan Paloh.
Potensi Pariwisata
Potensi Pariwisata yang ada di Kecamatan Paloh antara lain :
1. Pantai Camar Wulan: Terletak di Desa Sebubus Kecamatan Polah. Uniknya
pantai berpasir putih dan kuning dengan gelombang pantai yang lambat dan
sekitar pantai banyak pohon cemara.
2. Pantai Tanjung Kemuning: Berada di Kecamatan Paloh berhadapan dengan laut
Natuna. Banyak pemandangan indah dan menarik di tempat-tempat ini yang
banyak di kunjungi wisatawan.
3. Tanjung Dato: Pantai ini adalah pantai terpanjang yang berada di Kalimantan
Barat, terletak di Desa Tamajo. Pasis pantai di tanjuk dato berwarna putih
dengan batu karang yang terdapat di bibir bantai. Pantai Tanjung Dato ini
dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Selain pantai yang panjang, di Desa Temajok juga memiliki berbagai macam
potensi wisata, salah satunya ekowisata.
Fenomena yang terjadi belakangan ini adalah bahwa ekowisata tidak hanya
menjadi isu nasional tetapi juga mendunia. Ekowisata dipandang sebagai suatu
bentuk industri yang sangat penting baik dalam kaitannya dengan peningkatan
kesejahteraan masyarakat, pelestarian alam, bahkan dalam hal pertahanan dan
keamanan.
Ekowisata mencakup prinsip pariwisata lestari dengan adanya dampak terhadap
ekonomi, sosial, dan lingkungan, namun juga memiliki prinsip-prinsip tertentu berupa
memberi sumbangan aktif bagi pelestarian alam dan budaya, melibatkan

13 |BNPP

masyarakat setempat dalam kegiatan ekowisata sehingga dapat menciptakan


keberlanjutan, kesejahteraan dan rasa tanggung jawab serta cinta terhadap tanah
air.
Ekowisata

diyakini

sebagai

pendekatan

yang

paling

tepat

dalam

menggabungkan langkah-langkah pembangunan lingkungan berkelanjutan dengan


industri wisata yang diharapkan dapat mengangkat kualitas hidup masyarakat
setempat.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa konsep ekowisata merupakan metode
pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya pariwisata yang ramah lingkungan
dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai subjek utama dalam kegiatan wisata.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan masyarakat lokal dalam kegiatan
ekowisata diantaranya adalah kegiatan memandu wisatawan, penyewaan homestay,
usaha rumah makan, jasa ojek, penyewaan motor air, jasa foto dan video, jasa
kesehatan, jasa keamanan laut, kerajinan/cinderamata, penyewaan peralatan atau
perlengkapan kegiatan wisata, pengelolaan usaha penginapan, dan lain sebagainya.
Diharapkan peran serta masyarakat ini akan terus berkembang seiring dengan
berkembangnya ekowisata di suatu wilayah terkhusus bagi desa Temajuk.
Berikut ini merupakan potensi wisata yang ada di Desa Temajok antara lain
Pantai Mauludin, Pantai Camar Bulan, Pantai Bayuan, Pantai Tanjung Bendera, dan
Taman Wisata Alam Gunung Pangi

14 |BNPP

15 |BNPP

16 |BNPP

Potensi Sosial Budaya


Di Kecamatan Paloh terdapat empat (4) suku atau etnis dengan bahasa
sehari-hari Bahasa Indonesia. Kehidupan Sosial Budaya di Kecamatan Paloh begitu
beragam

dan

bervariasi.

Dari

data

yang

diperoleh

terdapat

sejumlah

agama/kepercayaan serta agama yang mayoritas dianut oleh masyarakatnya,


sejumlah sarana-sarana ibadah, fasilitas perlindungan sosial, dan organisasi
kemasyarakatan.
Agama/kepercayaan yang berkembang di Kecamatan Paloh sebanyak
agama/kepercayaan yang diakui di Indonesia. Islam merupakan agama yang
mayoritas dianut oleh masyarakat. Fasilitas peribadatan juga banyak jumlahnya.
Pada tahun 2009 tercatat jumlah masjid sebanyak 26 buah, langgar 25 buah, gereja
protestan sejumlah 3 buah dan 5 buah vihara/klenteng
Pemetaan Komoditas Unggulan
Pemilihan Komoditas Unggulan
a)

Fisiografi

Secara fisiografis kondisi tanah di Kecamatan Paloh sebagian besar secara system lahan
adalah MDW yang merupakan rawa-rawa gambut yang dangkal sebesar 97,4% atau 22.830
Ha, yang memiliki bahan induk gambut dengan jenis tanah Tropohemists Troposaprists
(organosol/gambut) dan Tropaquents (alluvial) yang memiliki rata-rata kelerengan < 2 %.
(Lihat Tabel 2.13. Deskripsi Group Fisiografi dan Luasan Di Kecamatan Paloh) dan
Gambar 2.6 Peta Fisiografi di Kecamatan Paloh.
b)

Kesesuaian Lahan

Kondisi fisiografi di Kecamatan Paloh mengakibatkan sebagian besar tanah di Kecamatan


Paloh tidak sesuai baik untuk tanaman pangan lahan basah (TPLB) dan tanaman pangan
lahan kering (TPLK). Namun sesuai marginal (S3) untuk perkebunan yang tahan terhadap
kondisi tanah mengandung air. Sedangkan tanah yang cukup sesuai dan sesuai marginal
untuk kegiatan perikanan, memiliki luas 0,2 atau 45 Ha. (Lihat Tabel 2.13. Kesesuaian
lahan aktual untuk TPLB, TPLK dan Tanaman Perkebunan di Kecamatan Paloh).
Berdasarkan analisis sub-kelas kesesuaian lahan aktual, tanah yang dapat dimanfaatkan
dengan melakukan berbagai upaya adalah untuk padi sawah, tanaman pangan lahan kering,
sawit dan karet pada lahan MDW tersebut. (lihat Tabel 2.13. Sub-Kelas Kesesuaian Lahan

17 |BNPP

Aktual, Potensial (P) Tanaman Pangan Dan Tanaman Tahunan/Perkebunan Di


Kecamatan Paloh Tahun 2011).

Tabel 2.13
Deskripsi Group Fisiografi dan Luasan Di Kecamatan Paloh
No

System
Lahan

KJP

MDW

PKU

TWI

Grup
Fisiografi
Dataran lumpur
di daerah
pasang surut
dibawah bakau
dan nipah (B63)
Rawa-rawa
gambut yang
dangkal (A11)
Teras-teras
berpasir
berhobak
(P32)
Kelompok
punggung
batuan granit
yang
teratur.(MH34)

Bahan Induk
Tanah

Jenis Tanah

Lereng
(%)

Luas
Ha

Endapan laut
yang baru
(beragam)

Sulfaquents,
Hidraquents

<2

45

0,2

Gambut

Tropohemists
Troposaprists
Tropaquents

<2

22.830

97,4

Endapan pasir
tua

Plasaquods,
Tropopsamme
nts Distripepts

2-8

416

1,8

Granit

Tropodults
Dystropepts,

41->60

158

0,7

23.449

100

Total
Sumber : Peta Land System
Skala 1 : 250.00 (Pusat Penelitian Tanah Bogor, 1989).

Deskripsi dari kelas kesesuaian lahan aktual masing-masing komoditas tanaman


yang dinilai pada setiap SPL di Kecamatan Paloh dapat dilihat pada Tabel 2.14, berikut ini.

Tabel 2.14
Kesesuaian Lahan Aktual Untuk TPLB, TPLK, dan Tanaman Perkebunan Di
Kecamatan Paloh Tahun 2011

SPL

1
2

Land
System

Lereng

KJP

<2

MDW

<2

PKU

2-8

18 |BNPP

Jenis Tanah
Sulfaquents,
Hidraquents
Tropohemists
Troposaprists
Tropaquents
Plasaquods,
Tropopsamme
nts
Dystropepts

Sub Kelas Kesesuaian Lahan


TPLB TPLK Perkebunan Perikanan
N2

N2

N2

N1nwg

N1nfwg

S3-nfwg

N2

N2

N2

S2/S3

Luas
Ha

45

0,2

22.830

97,4

416

1,8

TWI

41->60

Tropodults
Dystropepts,

N2

N2

N2

Total

158
23.449

0,7
100

Sumber : Hasil Analisis, Tahun 2011.


Keterangan : TPLB : Tanaman Pangan Lahan Basah(Sawah) ; TPLK : Tanaman Pangan Lahan Kering n=
ketersediaan hara/kesuburan tanah, f =reaksi tanah (pH),
w=genangan air , g=ketebalan gambut. Untuk
perikanan perlu kajian lebih lanjut.

Dari tabel di atas terlihat bahwa untuk pengembangan tanaman pangan lahan
basah (sawah) memiliki tingkat kesesuaian lahan tidak sesuai saat ini (N1) seluas
22.830 ha

dengan faktor pembatas adalah tingkat kesuburan tanah (n), genangan

air (w) dan ketebalan gambut (g). Demikian juga untuk pengembangan tanaman
pangan lahan kering pada umumnya memiliki tingkat kesesuaian lahan yang tidak
sesuai saat ini (N1) dengan luas 22.830 ha. dengan faktor pembatas kesuburan
tanah (n), pH tanah (f) dan genangan air (w) dan ketebalan gambut (g).
Untuk perkebunan, tingkat kesesuaian lahan adalah Sesuai Marginal (S3)
dengan total luas 22.830 ha dengan faktor pembatas kesuburan tanah (n) dan pH
tanah (f), genangan air (w) dan ketebalan gambut. Sementara untuk perikanan air
payau (tambak) dan perikanan darat, memiliki kesesuaian lahan sesuai marginal
mencapai tingkat cukup sesuai, meskipun demikian masih diperlukan pengkajian
mendalam untuk melihat sifat fisik dan kimia air serta pola dan karakteristik sistem
air (hidrologi) yang ada.
Deskripsi dari kelas kesesuaian lahan potensial masing-masing komoditas
tanaman yang dinilai pada setiap SPL di Kecamatan Paloh dapat dilihat pada
Tabel 2.15, selanjutnya apabila digambarkan seperti terlihat pada Gambar 2.7. Peta
Kesesuaian Lahan Kecamatan Paloh

19 |BNPP

Tabel 2.15
Sub-Kelas Kesesuaian Lahan Aktual, Potensial (P) Tanaman Pangan Dan Tanaman
Tahunan/Perkebunan Di Kecamatan Paloh Tahun 2011

Sub Kelas Kesesuaian Lahan Beberapa Jenis Tanaman


No
SPL

Tanaman Pangan
Tanaman Pangan
Lahan Kering

Padi Sawah
Aktual

I/Ti

Aktual

Tanaman Tahunan/Perkebunan
Sawit

I/Ti

Aktu
al

I/Ti

Luas

Karet
P

Aktual

I/Ti

Ha

45
1

N2

N1nwg

N2

N2

N2

N2

N2

N2

N2

N2

N2

P,D/Li,Hi

S3/
S2

N1-nfwg

N2

P,L,D/Li,Li,Hi

S3/S2

S3nfw

N2

P,L,D/Li,Li,Hi

S2

S3-nfwg

P,L,D/Li,Li,Hi

S2

22.830

Jumlah

Sumber : Hasil Analisis, Tahun 2011. (S1=Sangat Sesuai, S2=Cukup Sesuai, S3=Sesuai Marginal, N1=Tidak
Sesuai Saat ini, N2= Tidak Sesuai Selamanya
Faktor pembatas ( n=kesuburan tanah, f=reaksi tanah, w=genangan air, g=ketebalan gambut); Input (
P=Pemupukan, L=Pengapuran, D = Pembuatan Saluran Drainase) ; Tingkat Input ( Li=Tingkat Input Rendah
yang dapat dilakukan petani sendiri, Mi = Tingkat Input Menengah yang memerlukan upaya/dana lebih besar dan
dapat dilakukan dengan bantuan kredit, Hi=Tingkat Input Tinggi yang harus dibantu/dilakukan oleh pemerintah
oleh karena biaya yang sangat tinggi bagi petani)

20 |BNPP

416
158

23.449

0,2
97,4
1,8
0,7

Dari Tabel 2.15 di atas terlihat bahwa melalui pemupukan (P) tingkat input rendah
(Li) dan pembuatan saluran drainase (D) tingkat input tinggi (Hi) lahan dengan penggunaan
lahan terlihat tidak sesuai saat ini (N1) untuk tanaman padi sawah dapat ditingkatkan
menjadi kelas Sesuai Marginal (S3) sampai Cukup Sesuai (S2) seluas 22.830 Ha.
Oleh karena itu untuk dapat meningkatkan produksi padi di Kecamatan Paloh dapat
dilakukan dengan cara intensifikasi pada eksisting lahan sawah yang ada melalui penggunaan
bibit unggul, pupuk berimbang, proteksi terhadap hama dan penyakit tanaman. Selain itu juga
dapat dilakukan dengan cara ekstensifikasi yaitu pengembangan lahan yang berpotensi untuk
sawah dengan pencetakan sawah baru pada areal yang memiliki kesesuaian lahan untuk
sawah.
Potensi Pertanian Pangan Lahan Kering
Dari Tabel 2.15 di atas terlihat bahwa melalui usaha pemupukan dan pengapuran
(tingkat input rendah), dan pembuatan saluran drainase (tingkat input tinggi) lahan dengan
kesesuaian lahan tidak sesuai untuk saat ini (N1) untuk tanaman pangan lahan kering dapat
ditingkatkan menjadi kelas Sesuai Marginal (S3) sampai Cukup

Sesuai (S2). Dengan

demikian lahan yang berpotensi dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian pangan lahan
kering secara total adalah 22.830 ha.
Potensi Lahan Perkebunan
Dari Tabel 2.15 di atas terlihat bahwa melalui pemupukan dan pengapuran (tingkat
input rendah), dan pembuatan saluran drainase (tingkat input tinggi) lahan dengan kesesuaian
lahan Sesuai Marginal (S3) untuk tanaman perkebunan

dapat ditingkatkan menjadi kelas

Cukup Sesuai (S2) . Dengan demikian lahan yang berpotensi dapat dimanfaatkan untuk
tanaman perkebunan secara total adalah 22.830 ha.

21 |BNPP

PEMILIHAN KOMODITAS UNGGULAN


Potensi lahan di Kecamatan Paloh ditentukan berdasarkan ranking komoditas
unggulan. Dari hasil analisis diperoleh ada 5 (lima) komoditi yang diusulkan masyarakat
yang terdiri dari ranking I karet, ranking II kelapa dalam, ranking III lada, ranking IV kelapa
sawit, ranking V padi sawah, seperti terlihat pada Tabel 2.16.
Tabel 2.16
Penentuan Ranking Komoditas Unggulan Kecamatan Paloh
No.

1.
2.
3.
4.
5.

Komoditas

Padi Sawah
Karet
Kelapa
Dalam
Kelapa Sawit
Lada
Bobot

Parameter

TOTAL
NILAI

A
7
8
8

B
8
8
8

C
6
9
8

D
8
8
8

E
7
7
7

F
7
8
7

G
7
9
7

H
7
8
7

I
7
7
7

8
8
8

196
224
210

V
I
II

8
8
5,0

7
7
4,0

7
8
4,5

8
8
3,5

7
7
2,0

8
8
3,0

9
7
2,5

8
8
1,5

7
7
1,0

8
8
0,5

211
210,5

IV
III

Keterangan:
Parameter yang digunakan adalah:
A. Kelayakan Ekonomi
B. Kesesuaian Lahan
C. Exsport (Pemasaran Hasil)
D. Penerimaan Masyarakat
E. Sarana dan Prasarana
F. Harga Komoditas
G. Keterkaitan Hilir yang Kuat
H. Modal Usaha
I. Penguasaan Teknologi
J. Luas Areal

Peringkat
1
3
2
4
7
5
6
8
9
10

Skor Nilai untuk parameter: 9 (tinggi); 8 (sedang); 7 (cukup); 6 (rendah)


Nilai Alternatif: total nilai parameter komoditas X bobot masing-masing

22 |BNPP

Ranking

Bobot
5,0
4,0
4,5
3,5
2,0
3,0
2,5
1,5
1,0
0,5
27,5

DESKRIPSI LOKASI PENGEMBANGAN KOMODITAS


A. KOMODITAS UNGGULAN

Komoditas unggulan yang akan dikembangkan adalah karet, kelapa dalam dan lada.
Selain itu juga akan dikembangkan komoditas potensial kelapa sawit. Komoditas- komoditas
tersebut telah banyak diusahakan oleh masyarakat Paloh, secara eksisting misalnya telah
terdapat 15.333 ha karet, 926 ha kebun kelapa dalam, 163 ha kebun lada dan 262 ha kelapa
sawit.
B. KONDISI BIOFISIK

Kondisi biofisik khususnya

kesesuaian lahan

cukup mendukung dari rencana

pengembangan komoditas unggulan tersebut. Secara umum kesesuaian lahan aktual untuk
tanaman perkebunan berada dalam kelas S3 (sesuai marginal) dengan faktor pembatas antara
lain tingkat kesuburan tanah yang umunya rendah, angka tingkat kemasaman tanah (pH)
yang rendah , genangan air pada lahan-lahan yang masih terdapat genangan misalnya pada
jenis tanah tropaquents (alluvial dan gleisol) dan ketebalan gambut pada tanah-tanah gambut
tropohemist dan troposapris (organosol/histosol). Untuk meningkatkan kelas kesesuaian
lahan sehingga menjadi kelas S2 (Cukup sesuai) perlu dilakukan pemupukan untuk
meningkatkan status kesuburan tanah, pemberian kapur untuk meningkatkan pH tanah serta
pembuatan saluran drainase pada lahan-lahan yang masih tergenang. Untuk tanah gambut,
pada gambut yang memiliki ketebalan > 3 meter harus dijadikan Kawasan Lindung Gambut
(KLG) dan tidak boleh diusahakan menjadi lahan pertanian/perkebunan karena juga
merupakan kawasan reservoir air yang harus dipertahankan.
C. KENDALA PENGEMBANGAN

Beberapa kendala dalam upaya pengembangan komoditas unggulan antara lain adalah
aksesibilitas untuk pemasaran hasil maupun untuk mendatangkan sarana produksi pertanian
seperti Alsintan, Pupuk, Bibit dan Pertisida dimana semuanya

harus didatangkan dari

Sambas. Selain itu cara budidaya yang masih sederhana dan secara turun-temurun dari para
petani juga akan menyebabkan tercapainya tingkat produktivitas yang rendah.

23 |BNPP

D. Pola Pergerakan Barang


Semua hasil pertanian, Perkebunan, Perikanan dan lain-lain di kirim ke Sambas
Luas, volume dan besaran nilai pengembangan komoditas unggulan di masing-masing
kecamatan disajikan dalam Tabel 2.17 berikut :
Tabel 2.17
Luas, volume dan besaran nilai pengembangan komoditas unggulan di Kecamatan Paloh
No

Komoditas
Luas
Lahan
(ha)

1
2
3
1

Unggulan
Karet
Kelapa Dalam
Lada
Potensial
Kelapa Sawit
Jumlah

Kondisi Eksisting
Produktivitas
Total
(ton/ha)
Produksi
(ton)

15.333
926
163

0.018
0.19
0.29

262
16.684

277
172
48
-

Rencana Pengembangan
Luas
Produktivitas
Total
Lahan
(ton/ha)
Produksi
(ha)
(ton)
18.079,59
926
192,19

0.29
0.64
0.59

5.243,081
592,64
113,392

533,7
19.731,48

1.77

944,649

Sumber: Kabupaten Sambas Dalam Angka 2009 dan analisa tim 2011

Dari tabel di atas terlihat bahwa luasan lahan


potensial mengalami kenaikan
Sementara untuk

untuk komoditas unggulan dan

dari kondisi eksisting 16.684 ha menjadi 19.731,48 ha.

proyeksi produksi dari masing-masing komoditas digunakan tingkat

produktivitas komoditas di Kabupaten Sambas oleh karena memiliki nilai yang lebih tinggi
dibanding produktivitas eksisting.
Rata-rata produktivitas perkebunan rakyat di Kabupaten Sambas tahun 2009 adalah sebagai
berikut :
Tabel 2.18
Rata-rata Produktivitas Perkebunan Rakyat Sawit, Kelapa Dalam, Lada dan Karet di
Kabupaten Sambas Tahun 2009
Komoditas
Sawit
Kelapa Dalam
Lada
Karet

Luas
8498
23019
1505
53875

Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, 2009

24 |BNPP

Produksi
15075
14793
892
15758

Produktivitas
1.77
0.64
0.59
0.29

PENGEMBANGAN BERBASIS KOMODITI UNGGULAN


a. Model Pengembangan Kawasan Perkebunan Rakyat

Kebijakan pengembangan KAWASAN perkebunan rakyat diarahkan untuk


meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat melalui pengembangan kawasan dengan
pengelolaan sumberdaya secara optimal melalui sistem agribisnis. Dengan demikian
diharapkan subsektor Perkebunan mampu memenuhi sendiri kebutuhan dalam negeri dan
tidak lagi bergantung pada negara lain, bahkan sekaligus dapat bersaing dengan produk
perkebunan dari luar negeri.
Pengembangan kawasan perkebunan rakyat ini dapat dibedakan menjadi empat tahap,
yaitu: tahap pembukaan dan penyiapan lahan kawasan, pembangunan sarana dan prasarana,
tahap pemilihan dan penanaman komoditas, dan tahap perhitungan kelayakan ekonomi dan
finansialnya. Keempat tahap ini sangat erat hubungannya satu sama lain dalam menunjang
keberhasilan proyek pengembangan kawasan perkebunan rakyat ini.
Ada dua kelompok komoditas tanaman yang dapat dikembangkan dalam
pengembangan kawasan perkebunan rakyat, menurut Ditjen Perkebunan, yaitu kelompok
Tanaman Tahunan dan Tanaman Semusim. Termasuk dalam kelompok pertama adalah:
karet, kelapa (kopra), kelapa sawit (cpo), kopi, teh, lada, cengkeh, kakao, jambu mete, kapok,
pala, kayumanis, vanili, kemiri, pinang, kapulaga, asam jawa, dll. Sedangkan yang masuk
dalam kelompok kedua adalah: tebu, tembakau, kapas, jarak, sereh wangi, serat karung,
nilam, jahe, dll.
Memilih salah satu dari komoditas yang paling cocok dengan kondisi kawasan yang
ada, terbentuklah kawasan perkebunan rakyat murni/homogen atau khusus.

Selain itu,

kawasan perkebunan rakyat juga dapat dikembangkan secara sinergis dengan kawasan
ekonomi lainnya sehingga membentuk kawasan yang heterogen. Kawasan perkebunan rakyat
ini

dikembangkan

secara

tumpangsari

dengan

kawasan

agribisnis

lain,

dengan

memperhatikan faktor-faktor yang saling mendukung, kawasan perkebunan rakyat seperti ini
disebut kawasan perkebunan terpadu.

25 |BNPP

B. Strategi Pengembangan dan Pembinaan Kelembagaan

Dalam pengembangan kawasan perkebunan rakyat, diperlukan kelembagaan


Perkebunan yang kuat, yang dapat dibina dengan memperkuat kelembagaan ekonomi petani
Perkebunan di pedesaan. Untuk itu diperlukan pendekatan yang efektif agar para petani
kebun dapat memanfaatkan program pembangunan yang ada secara berkelanjutan, melalui
penumbuhan rasa memiliki, partisipasi, dan pengembangan kreativitas, yang disertai
dukungan masyarakat lainnya sehingga dapat berkembang di pedesaan. Pengembangan ini
diarahkan pada terbentuknya kelompok-kelompok Petani kebun, dan kerjasama antar
kelompok Petani kebun, sehingga terbentuk kelompok-kelompok produktif yang terintegrasi
dalam kelembagaan koperasi di bidang Perkebunan. Untuk mendorong tercapainya
peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha dalam pengembangan kawasan Perkebunan
Rakyat, diperlukan pembinaan kelembagaan Perkebunan baik formal maupun non formal.
Pembinaan kelompok formal diarahkan pada pemberdayaan anggota kelompok, agar
memiliki kekuatan mandiri, mampu menerapkan inovasi, baik teknis, sosial, maupun
ekonomi; mampu memanfaatkan azas skala ekonomi; dan mampu menghadapi resiko usaha,
sehingga dapat memperoleh tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang layak. Pembinaan
dan pengembangan kelembagaan atau kelompok Perkebunan ini dibedakan menjadi 4 tahap,
yaitu:
1.

Pembinaan Kelas Belajar-mengajar. Disini kelompok Perkebunan merupakan wadah


bagi anggota untuk berinteraksi guna meningkatkan: Pengetahuan, Ketrampilan, dan
Sikap (PKS); serta Ambisi, Kemampuan dan Usaha (AKU) dalam beragribisnis yang
lebih baik, menguntungkan, dan mandiri. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah
berikut:
a.

Mengadakan pertemuan rutin yang berkelanjutan untuk mendiskusikan pengetahuan


dan ketrampilan, serta pengalaman dalam menghadapi permasalahan yang berkaitan
dengan teknologi, budidaya, penyediaan sarana produksi, pemasaran, dan analisis
usaha;

b.

Mengundang nara sumber ahli dari Dinas Perkebunan, perusahaan swasta, koperasi,
BUMN/BUMD, atau lembaga keuangan, sebagai pembicara;

26 |BNPP

c.

Mengembangkan kader kepemimpinan di kalangan anggota.

d.

Mengikuti pelatihan atau kursus yang diperlukan dalam upaya peningkatan usaha
tani kelompok;

2.

Pengembangan kelembagaan sebagai unit produksi. Usaha tani dari masing-masing


kelompok Perkebunan secara keseluruhan dipandang sebagai satu unit produksi,
sehingga dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi yang berwawasan
agribisnis. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah berikut:
a.

Merencanakan dan menentukan pola usaha tani yang menguntungkan berdasarkan


informasi yang tersedia dalam bidang teknologi, sosial, pemasaran, sarana produksi,
dan sumberdaya alam;

b.

Menyusun rencana usaha seperti: Rencana Definitif Kelompok (RDK), dan Rencana
Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), yang di dalamnya termasuk rencana
permodalan, gerakan bersama, dll;

c.

Melaksanakan kegiatan untuk kepentingan bersama seperti menerapkan teknologi


tepat guna yang telah disepakati, pengadaan sarana produksi, pemasaran,
pemberantasan hama penyakit, pelestarian sumberdaya alam, dan lain sebagainya;

d.

Menganalisis dan menilai usaha tani yang dilaksanakan serta merumuskan perbaikan
dan peningkatannya.

3.

Pembinaan Kelembagaan sebagai Wahana Kerjasama. Dalam hal ini, kelompok


merupakan tempat memperkuat diantara sesama Perkebunan dalam satu kelompok dan
antar kelompok dengan pihak lain, untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan
dalam menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan. Untuk itu perlu
dilakukan langkah-langkah berikut:
a.

Menetapkan kesepakatan atau ketentuan yang wajib diikuti atau dilaksanakan oleh
seluruh anggota kelompok, beserta sangsi bagi anggota yang melanggarnya;

b.

Mengadakan pembagian tugas, baik pengurus maupun anggota kelompok, sehingga


seluruh anggota kelompok dapat berperan dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan
oleh kelompoknya;

c.

Menjalankan administrasi kelompok secara tertib, meliputi catatan anggota


kelompok, inventarisasi kekayaan kelompok, hasil-hasil pertemuan, keuangan, suratmenyurat, buku tamu, dan lain-lain;

27 |BNPP

d.

Meningkatkan kelompok menjadi kelompok usaha bersama agribisnis (KUBA) yang


terintegrasi menjadi kelompok Perkebunan.

4.

Pembinaan Kelembagaan sebagai Kelompok Usaha. Dalam pembinaan kelompok ini,


segala kemampuan yang dimiliki diarahkan agar mampu memanfaatkan berbagai
kesempatan berusaha, serta peningkatan usaha kearah komersial, dimana kegiatankegiatan yang dilakukan sudah memperhitungkan untung-ruginya.
Pembinaan ini dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
a.

Menganalisis potensi pasar dan peluang untuk mengembangkan komoditas yang


lebih menguntungkan;

b.

Menganalisis potensi wilayah, komoditas apa yang dapat dikembangkan sesuai


dengan tersedianya pasar yang memberikan keuntungan berusaha;

c.

Melakukan kerjasama kemitraan dengan perusahaan swasta, koperasi, maupun


BUMN untuk meningkatkan kinerjanya.

c. Manajemen Pengembangan Kawasan Perkebunan Rakyat

Pengembangan

kawasan

perkebunan

Rakyat

adalah

merupakan

model

pengembangan wilayah atau daerah yang memiliki kegiatan utama perkebunan, dengan
komoditas tanaman, baik Perkebunan Murni, Campuran, maupun Serbaguna tetapi juga
merupakan model pengembangan wilayah atau daerah yang diarahkan pada keterpaduan
usaha tani antara perkebunan dengan perkebunan atau perikanan (kawasan perkebunan
terpadu). Keduanya dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan, sehingga
mengarah kepada kemandirian daerah, yang berkembang dengan memiliki nilai ekonomis.
Untuk itu maka penataan, pembinaan, dan pengembangannya harus dilakukan secara terpadu
dan profesional dengan menggunakan manajemen dan teknologi modern.
Adapun arahan manajemen pengembangannya adalah:
1.

Memiliki komoditas unggulan;

2.

Memiliki wilayah andalan yang memadai sebagai sentra produksi;

3.

Perkebunan yang mandiri dan partisipatif;

4.

Kelembagaan Perkebunan yang berkembang dan dinamis;

28 |BNPP

5.

Skala usaha yang menguntungkan dan ekonomis, baik pada tingkat petani
perkebunan, kelompok tani perkebunan, usaha bersama antar kelompok, koperasi,
maupun pada tingkat kawasan;

6.

Sarana dan Prasarana pelayanan yang lengkap dan terpadu;

7.

Bibit yang cukup baik kuantitas dan kualitasnya dan;

d. Pelaksanaan Pengusahaan

Pengusahaan kawasan perkebunan pada dasarnya dilakukan melalui pendekatan


agribisnis yang utuh berbasis di pedesaan, dengan memberikan peluang sebesar-besarnya
pada anggota masyarakat pedesaan untuk menggunakan potensi kapital dan peluang bisnis
yang ada. Dengan demikian diharapkan petani kebun sebagai anggota masyarakat, melalui
koperasi memiliki peluang besar untuk memanfaatkan potensi ekonomi dalam berbagai
subsistem agribisnis perkebunan, mulai dari hulu, on-farm, sampai ke hilir, off-farm,
termasuk berbagai subsistem pendukungnya.
Pengusahaan kawasan perkebunan harus dilaksanakan lebih berdimensi pada
penerapan nilai keadilan dan sekaligus pula mengutamakan efisiensi, produktivitas, dan peran
serta masyarakat, yang perlu diatur dalam satu paket kebijakan. Pengembangan kawasan
perkebunan sesuai SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan
No. 107/Kpts-II/1999, terdiri dari 5 (lima) macam, dengan menempatkan koperasi sebagai
wadah untuk pemberdayaan masyarakat. Pola itu adalah sebagai berikut.
1.

Pola Koperasi Usaha Perkebunan (Pola KUP).


Dalam pola ini, masyarakat membentuk koperasi perkebunan, membangun kebun dan
fasilitas pengolahannya, serta mengembangkan sarana dan prasarana pokok lainnya.
Dalam pengembangan koperasi perkebunan ini, masyarakat dapat meminta bantuan
pihak ketiga berdasarkan suatu Contract Management (CM). Biaya pembangunan kebun,
fasilitas pengolahan, sarana dan prasarana, serta biaya CM, 100 persen bersumber dari
fasilitas kredit lunak jangka panjang yang tersedia.

2.

Pola Patungan Koperasi Investor (Pola Pat K-I).


Pola ini merupakan pengembangan dari pola PIR, dengan menghilangkan pembatas
kelembagaan antara Plasma dan Inti. Dalam pola ini, sejak awal masyarakat membentuk
koperasi secara berpatungan dengan perusahaan, sebagai satu unit perusahaan patungan
perkebunan. Komposisi kepemilikan saham koperasi dan perusahaan adalah 65%: 35%.

29 |BNPP

3.

Pola Patungan Investor Koperasi (Pola Pat I-K).


Pola ini mirip dengan pola Pat K-I, bedanya adalah bahwa kontribusi koperasi dalam
pola ini hanya terbatas pada in kind contribution, yang sejak awal disyaratkan
kepemilikan sahamnya minimal adalah 20%. Nilai saham tersebut merupakan nilai uang
dari lahan anggota koperasi dan nilai kredit tanggungan koperasi. Secara berahap
nantinya kepemilikan saham koperasi akan meningkat sesuai dengan perkembangan
usahanya.

4.

Pola Build, Operate, and Transfer (Pola BOT).


Pola ini terbuka bagi Investor baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha
Milik Swasta (BUMS), maupun Pemilik Modal Asing (PMA). Dalam pola ini, investor
membangun kebun, pabrik, dan sarana pendukung lainnya termasuk membangun
koperasi usaha perkebunan yang akan melanjutkan usaha perkebunan yang akan
dikembangkan.

Tahapan

dan

persyaratan

membangun,

mengoperasikan,

dan

mentransfer, dirancang kesesuaiannya dengan karakteristik


komoditas perkebunan yang diusahakan serta perkiraan kondisi pasarnya. Pada intinya,
kebun dan pabrik ditransfer pada saat koperasi sudah siap, serta kondisi kebun dan pabrik
masih menguntungkan secara teknis ekonomis untuk dikelola oleh koperasi.
5.

Pola Bank
Pola ini mengadopsi pola pengembangan perumahan rakyat yang dikembangkan oleh
Bank. Dalam pola ini, pemerintah tidak hanya menyediakan paket kredit untuk
membangun kebun, tetapi juga mengembangkan kelembagaan keuangan perkebunan,
sebagai lembaga yang membiayai pembangunan kebun dan pabrik yang dilaksanakan
oleh developer. Dalam hal ini, developer dibatasi hanya bagi BUMN atau BUMS atau
PMA yang memiliki kompetensi (core competence) di bidang perkebunan. Kapling
kebun yang sudah dibangun dapat dimiliki oleh para pihak yang ingin menanamkan
modalnya dalam bentuk kebun. Koperasi dikembangkan untuk mengelola kawasan
perkebunan tersebut secara utuh, dengan dukungan dana operasional yang bersumber
dari jasa pengelolaan kawasan perkebunan tersebut.
Bila sudah ada pola UPP, ditransformasi menjadi suatu lembaga koperasi, dan

selanjutnya akan terbentuk Gabungan Koperasi Usaha Pengembangan perkebunan (GKUPP)


yang menjadi jaringan pengembangan kawasan perkebunan rakyat diseluruh Tanah Air.
Tumbuhnya GKUPP akan menjadi sumber pemberdayaan ekonomi lokal yang kuat, dengan
30 |BNPP

rata-rata kepemilikan kebun seluas 8.000 15.000 Ha. Dengan demikian maka gerak GKUPP
menjadi lebih fleksibel dan dinamis, dengan sumber energi penggeraknya adalah motivasi
pengembangan usaha.
Pengembangan kawasan perkebunan terpadu dimulai sejak perencanaan awal
pembangunan perkebunan, pembiayaan, dan pengelolaan perusahaan (pelaksanaan,
pengawasan, dan evaluasi) dalam kesatuan usaha, yang kendali manajemennya melibatkan
pemegang saham, khususnya koperasi, petani kebun, dan pengusaha perkebunan.
Pengusahaannya meliputi beberapa komponen integrasi kawasan terpadu ini, yaitu:
1.

Kebun, yang untuk tiap unit integrasi dirancang seluas 1500 Ha, lengkap dengan fasilitas
perkantoran dan perumahan; jalan perkebunan dan jalan penghubung; sarana
transportasi, komunikasi dan informasi.

2.

Pabrik pengolahan, sesuai dengan rancang bangun yang telah ditentukan.

3.

Perkebunan induk untuk dikembangbiakkan agar menghasilkan bibit yang akan


digunakan sebagai induk pengganti, atau untuk dibesarkan sebagai perkebunan bakalan
penggemukan, atau dijual sebagai perkebunan bibit (jantan dan betina).

4.

Kandang perkebunan sesuai kapasitas dan segmen usaha (kandang induk, kandang
penggemukan, kandang pemasaran, dan kandang kawin dan penanganan perkebunan).

5.

Petani, berfungsi sebagai tenaga kerja perkebunan yang menguasai kebun kelapa sawit
seluas masing-masing 4 Ha dan digunakan sebagai saham.

6.

Tanaman pakan perkebunan, yang diusahakan bersamaan dengan pembangunan


perkebunan berupa cover crops dan atau khusus pakan perkebunan.

7.

Kelembagaan petani. Petani membentuk kelompok tani dan membangun koperasi


sebagai wadah partisipatifnya.
e. Pembiayaan dan Permodalan

Salah satu pranata yang diperlukan untuk mengembangkan kawasan Perkebunan


rakyat adalah dukungan permodalan yang memadai. Modal ini akan digunakan untuk
investasi peralatan dan tanaman kebun, dan untuk modal kerja atau membiayai kegiatan
operasional. Pada pengembangan kawasan perkebunan khusus, modal yang diperlukan dapat
diperoleh dari investor lokal, tetapi pada kawasan terpadu membutuhkan investor yang lebih
kuat permodalannya. Struktur pembiayaan dan permodalan untuk pengelolaan kawasan

31 |BNPP

perkebunan rakyat itu dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok besar, yaitu Kelompok Biaya
Pra-operasi dan Kelompok Biaya Operasi.
Kelompok pertama terdiri dari Biaya Investasi dan Biaya Modal Kerja. Sedangkan
kelompok kedua terdiri dari Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Bahan Baku, Biaya
Operasional Pengembangan Kawasan (overhead), dan Biaya Administrasi Penjualan.
Untuk memperingan pembiayaan yang dibutuhkan untuk mengembangkan kawasan
Perkebunan rakyat, permodalannya dapat dilakukan secara patungan, bila masyarakat sekitar
Perkebunan tidak memiliki modal secara memadai. Untuk mengatasi masalah pembiayaan
dan permodalan ini dapat dilakukan dengan membangun kelembagaan keuangan yang kuat
dengan bermitra dengan bank-bank pemerintah daerah, pemerintah pusat, atau lembaga
keuangan internasional yang peduli dengan program- program pemberdayaan masyarakat.
f. Kelayakan Ekonomi dan Finansial

Salah satu cara yang paling sederhana untuk dapat melihat prospek atau kelayakan
ekonomi dan finansial suatu agribisnis adalah dengan melihat pangsa pasar komoditas.
Sedangkan besarnya pangsa pasar suatu komoditas itu sangat bergantung pada harga pasar,
begitu juga sebaliknya. Tingkat harga suatu komoditas pada suatu waktu akan berpengaruh
pada besarnya permintaan komoditas tersebut, dan besarnya permintaan suatu komoditas
akan berpengaruh pada tingkat harganya. Demikian pula dengan komoditas perkebunan,
sebagai suatu komoditas perdagangan, harga komoditas perkebunan berfluktuasi sesuai
dengan perkembangan permintaan dan produksi dunia. Hal in akan berakibat bahwa
peningkatan volume ekspor komoditas perkebunan tidak selalu diikuti dengan kenaikan nilai
ekspornya.
Perubahan pada lingkungan strategis, baik didalam maupun diluar negeri, dalam 30
tahun terakhir ini, mengakibatkan kenaikan volume ekspor / impor terjadi pada tebu/gula,
karet, minyak sawit, minyak kelapa, kopi, serta kakao. Kenaikan volume impor komoditas
perkebunan yang cukup menonjol adalah gula/tebu. Perkembangan ini menjadikan komoditas
andalan perkebunan Indonesia semakin beragam. Dari data-data ekspor komoditas primer
perkebunan dapat disimpulkan bahwa usaha pengembangan kawasan perkebunan rakyat,
dengan memilih komoditas tebu, karet, kelapa sawit, kelapa, kopi, kakao atau jambu mete,
ternyata memiliki tingkat kelayakan ekonomi dan finansial yang tinggi.

32 |BNPP

g. Pemasaran dan Promosi

Kegiatan pemasaran dan promosi diarahkan agar mampu memanfaatkan peluang


pasar internasional. Pasar hasil perkebunan kelapa sawit misalnya, cukup terbuka di berbagai
pasar internasional seperti negara India, Belanda, Cina, dan Singapura. Pemanfaatan peluang
pasar internasional ini dapat dilakukan dengan mengembangkan pola-pola kemitraan dengan
lembaga-lembaga pemasaran yang ada.
Kegiatan pemasaran dan promosi hasil-hasil Perkebunan rakyat juga dapat dilakukan
oleh kelembagaan lain yang lebih kuat, dalam hal ini yang terbanyak adalah pemerintah,
dalam bentuk fasilitasi-fasilitasi yang sudah ada, atau yang dalam waktu mendatang akan
diadakan. Diantara fasilitasi pemerintah atau lembaga lain yang terkait dengan pemasaran dan
promosi adalah:
1. Membudayakan perdagangan internasional kepada para pengusaha kecil dan
menengah, dengan dibarengi oleh kebijakan debirokratisasi dan deregulasi dari
pemerintah terhadap sektor perekonomian mereka, sehingga kegiatan pengembangan
kawasan perkebunan rakyat tidak hanya tertumpu pada pasar domestik, tetapi juga
berorientasi ekspor.
2. Membantu membangun jaringan pasar internasional, sebagai upaya menggenjot
tingkat usaha Perkebunan Rakyat mendapatkan peluang usaha yang lebih besar.
3. Melakukan standarisasi bahan sumberdaya Perkebunan agar diperoleh kualitas dan
mutu yang lebih baik, sesuai dengan standar industri yang diharapkan pasar.
4. Memberi bantuan pengembangan teknologi pengolahan, untuk meningkatkan kualitas
produk Perkebunan mendekati kualitas produk luar negeri, sehingga dapat menarik
pasar internasional.
Selain itu, kegiatan pemasaran dan promosi juga harus dilakukan secara terpadu,
efektif, efisien, dan proporsional berdasarkan budaya dan perilaku pembeli. Oleh karena itu,
kegiatan ini harus memanfaatkan wahana promosi yang terpadu pula, yang antara lain
meliputi personal selling, advertising, sales promotion, sponsorship marketing, publicity, dan
point of purchase communication. Untuk itu, perlu diambil langkah-langkah untuk
meningkatkan pangsa pasar atau mencari pasar baru, baik pasar lokal, regional, maupun
global. Langkah-langkah tersebut antara lain adalah:

33 |BNPP

1.

Mengusahakan peningkatan dana promosi untuk menunjang pemasaran.

2.

Menerapkan perencanaan strategis pemasaran (strategic marketing planning) yang


meliputi:

Market penetration strategy, dengan menjual lebih banyak produk perkebunan


yang ada kepada pelanggan lama.

Market development strategy, yaitu menjual produk perkebunan yang ada kepada
pelanggan baru.
Product development strategy, yaitu mengembangkan jenis produk baru dengan
memanfaatkan hasil-hasil riset, untuk dijual kepada pelanggan.
Diversification strategy, yaitu dengan menjual kepada pelanggan baru melalui
pengiriman sampel produk baru.
3.

Menyebarkan informasi dan promosi hasil perkebunan rakyat melalui leaflet, booklet,
dan spanduk atau selebaran lainya.

4.

Meningkatkan koordinasi kegiatan promosi komoditas perkebunan baik di pasar


domestik maupun internasional.
PROGRAM PENGEMBANGAN KOMODITAS

a. Kebutuhan Sarana Produksi

Pengembangan usaha komoditas unggulan sangat dipengaruhi oleh input atau sarana
produksi, sarana produksi merupakan faktor penentu keberhasilan atau produksi usaha tani.
Sesuai dengan hasil survey lapangan dan hasil analisis diperoleh gambaran kondisi pertanian
di Kawasan Perbatasan di Kecamatan Paloh pada umumnya menunjukkan minimnya sarana
produksi yang digunakan, mulai dari ketersediaan bibit yang bermutu, ketersediaan pupuk
dan obat-obatan di tempat, ketersediaan alat-alat atau mesin-mesin pertanian apalagi hormon
pertumbuhan atau untuk pembungaan/pembuahan. Kondisi irigasi yang sangat sederhana atau
masih tradisional bahkan kadang-kadang hanya mengandalkan tadah hujan.
Kedua, adalah kondisi penguasaan teknologi budidaya, dimana keterampilan dan
pengetahuan budidaya juga sangat minim, kurangnya kegiatan pelatihan dan penyuluhan bagi
petani mulai dari cara-cara pembibitan, cara-cara budidaya sampai pada penanganan hama
penyakit serta penanganan pasca panen.
Ketiga adalah kondisi pasca panen, dimana hasil pertanian hanya dijual dalam bentuk bahan
34 |BNPP

mentah,dan kalaupun ada hanya seadanya atau sangat sederhana sehingga tidak menaikkan
nilai tambah. Tidak adanya alat-alat atau mesin pengolahan hasil yang tepat guna bagi
masyarakat.

Kondisi pertanian yang seperti diuraikan di atas, maka program pengembangan usaha
yang utama di Kawasan Perbatasan adalah Penyediaan Kebutuhan Sarana Produksi yang
berupa:
1.

Perbaikan dan peningkatan bendung dan saluran irigasi bagi daerah yang sudah ada
irigasinya, dan bagi daerah yang belum ada perlu dibangun bendung dan saluran
irigasi

2.

Penyediaan bibit bermutu secara lokal, baik melalui pendirian Balai Benih ataupun
penjualan benih berlabel yang mudah didapat di lokasi usaha tani.

3.

Pendirian kios-kios pertanian yang menjual sarana produksi pertanian seperti pupuk,
pestisida ataupun hormon yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil pertanian, baik
melalui kios-kios swasta ataupun dalam bentuk koperasi pertanian.

4.

Penyediaan alat-alat dan mesin-mesin yang tepat guna yang dapat dimanfaatkan dan
dioperasikan sesuai kondisi daerah yang tersedia di kios-kios ataupun Koperasi

5.

Penyediaan alat-alat dan mesin-mesin pengolahan hasil pertanian yang tepat guna
yang dapat dimanfaatkan dan dioperasikan sesuai kondisi daerah.

6.

Penyelenggaraan pelatihan pembibitan, teknologi budidaya dan pemberantasan hama


dan penyakit serta penanganan pasca panen yang sesuai dengan kebutuhan komoditas
unggulan yang ada di masing-masing kawasan perbatasan.

7.

Penyelenggaraan pelatihan pengolahan hasil pertanian yang tepat guna bagi


masyarakat yang bertujuan untuk menaikkan nilai tambah (value added) dengan
mempertimbangkan permintaan pasar yang ada (selera konsumen).

8.

Penyelenggaraan penyuluhan untuk menambah wawasan petani dalam hal budidaya


dan pengelolaan usaha tani.

b. Kebutuhan Sarana Pendukung


Ada beberapa hal yang dapat mendukung terjadinya pengembangan usaha dan juga
diharapkan dapat mendorong meningkatkan pendapatan petani yaitu : adanya kelompok tani
yang handal, KUD yang dapat memfasilitasi berbagai kebutuhan petani termasuk kebutuhan

35 |BNPP

informasi pasar, PPL sebagai petugas dilapangan yang mampu memberikan tambahan
wawasan bagi petani. Selain hal tersebut juga, faktor pendorong lain untuk mengembangkan
pertanian atau usaha tani adalah fungsi kelembagaan, termasuk kelembagaan pemerintah, dan
kelembagaan di tingkat petani. Dalam hal ini kelembagaan pemerintah berupa

Dinas

Pertanian, Kehutanan, Peternakan, Perikanan maupun Dinas Perekonomian dan Perdagangan


baik ditingkat pusat maupun Daerah perlu dikedepankan termasuk diantaranya ujung tombak
mereka seperti para petugas lapangan atau PPL. Dalam hal kelembagaan ditingkat petani,
peran serta aktif para petani dapat didorong melalui lembaga-lembaga seperti kelompokkelompok tani. Dengan adanya kelompok tani yang terstruktur baik, merupakan salah satu
modal dasar yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam rangka pengembangan agribisnis di
kawasan ini.
Kelompok-kelompok tani ini dapat dijadikan sebagai wahana pengembangan
pertanian yang efektif, baik dalam bentuk penyuluhan, penyediaan sarana dan prasarana dan
bahkan dapat dijadikan sebagai titik inisiasi pengembangan usaha.
Untuk mempercepat pencapaian program, pemerintah daerah maupun pusat dapat
memberikan dukungan minimal pada
1.

Alokasi dana kepada wilayah sasaran dari APBD/N

2.

sertifikasi tanah secara massal, agar terjadi kenaikan penawaran dari pihak pemodal jika
tanah tersebut dijadikan agunan

3.

Mencukupi penguasaan lahan/pemilikan lahan sehingga memenuhi skala usaha yang


ditetapkan

4.

Pembangunan infrastruktur pendukung


Bank dalam hal pemberian fasilitas kredit investasi murah dan berjangka panjang.

Lembaga penelitian atau perguruan tinggi perlu di undang untuk mendukung penyediaan
informasi dan teknologi komoditi unggulan.
PENGEMBANGAN KLASTER EKONOMI
Kecamatan Paloh yang sebagian besar wilayahnya merupakan Hutan Produksi
(HP), Taman Wisata Alam (TWA), sedikit Hutan Lindung (HL) dan Hutan Produksi
Konversi (HPK). Hutan Produksi merupakan kawasan yang mendominasi Kecamatan Paloh.
Potensi lahan pada kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) dengan sistem lahan yang
bernotasi KJP, MDW, PKU, dan TWI di Kecamatan Paloh dapat dimanfaatkan antara lain
36 |BNPP

untuk kegiatan penanaman tanaman lada, karet, kakao, kelapa sawit dan padi sawah total
luasnya adalah 23.449 Ha. Selanjutnya dari analisis lahan didapatkan peta arahan penggunaan
lahan yang didapat dari peta kesesuaian lahan.
Berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan di Kecamatan Paloh dikenali
bahwa daerah tersebut yang diperkirakan cocok untuk kegiatan perkebunan namun sifatnya
marjinal S3, dan luasannya adalah 22.830 Ha. Untuk bisa dilakukan kegiatan perkebunan
yang produktif maka lahan tersebut harus diperlakukan secara khusus baik dari segi teknis
pengairan maupun dari penggunaan pupuk secara intensif.
Pada peta kesesuaian lahan untuk tanaman pangan lahan basah Kecamatan Paloh,
terlihat bahwa Tanaman Pangan Lahan Basah (TPLB) memiliki karakter yang tidak sesuai
untuk saat ini (N1) seluas 22.830 Ha. Hal ini hanya dapat diatasi dengan upaya irigasi teknis
yang baik dan penggunaan pupuk secara intensif.
Pada peta Tanaman Pangan Lahan Kering (TPLK) di Kecamatan Paloh
memperlihatkan TPLK untuk saat ini juga tidak sesuai (N1) seluas 22.830. Hal ini berarti
pula bahwa untuk mengembangkan lahan tersebut dengan TPLK diperlukan perlakuan
khusus baik dari irigasi teknis maupun penggunaan pupuk secara intensif.
Pada Gambar 2.12 peta klaster komoditas unggulan di Kecamatan Paloh didapat dengan
melakukan analisis overlay antara Peta Kesesuaian Lahan dengan Peta Area Penggunaan
Lain dan Peta Lereng (Gambar 2.11) dapat dikenali jenis komoditas unggulan yang cocok
ditanam di lahan Kecamatan Paloh yang berupa
-

Sawah dan Palawija seluas 4.025 Ha

Kelapa Sawit dan Lada seluas 18.271,784 Ha

Kelapa Sawit 533,7


Dengan dikenali komoditas unggulan yang sesuai dengan lahan yang ada di

Kecamatan Paloh, maka Model Klaster Kawasan di Lokasi Prioritas Kecamatan Paloh ini
dapat dikembangkan .
Pengembangan komoditas unggulan di Kawasan Perbatasan dikembangkan melalui pola
klaster. Pembagian klaster dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria, yaitu:

Sebaran komoditas unggulan

Kesesuaian lahan kawasan

37 |BNPP

Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, ditentukan pembagian klaster pengembangan sebagai


berikut:
Tabel 2.19
Klaster Kawasan Pengembagan
Klaster
I

Nama Klaster
Paloh

Cakupan Wilayah
Sekecamatan
Plaloh

Komoditas
Unggulan
Karet
Kelapa Dalam
Lada

Komoditas Potensial
Kelapa Sawit
Padi Sawah

Pengusahaan komoditas dibedakan atas tiga jenis yaitu:

Pertanian Rakyat adalah sistem pertanian yang dikelola oleh rakyat pada lahan/tanah
garapan seseorang untuk memenuhi kebutuhan makanan/ pangan dalam negeri.

Perkebunan Rakyat adalah perkebunan yang diselenggarakan oleh rakyat atau


pekebun yang dikelompokkan dalam usaha kecil tanaman perkebunan rakyat dan
usaha rumah tangga perkebunan rakyat.

Perkebunan Besar (Skala Agro) adalah perkebunan yang diselenggarakan atau


dikelola secara komersial oleh perusahaan yang berbadan hukum.

38 |BNPP

Tabel 2.20
Profil Klaster Paloh
Lingkup Wilayah
Komoditas Unggulan

Luas Lahan Pertanian *):


Luas Lahan Pengembangan Perkebunan
(Karet, Lada & Kelapa Sawit)
Luas Lahan Pengembangan Padi Sawah
& Palawija
Luas Lahan pengembangan Kelapa
Dalam dan Kelapa Sawit
Luas Lahan Potensi Pengembangan
Produksi Eksisting

Jenis Pengusahaan

Pasar Potensial

Komoditas Potensial
Sarana Pendukung yang tersedia

Sekecamatan Paloh
Karet
Kelapa Dalam
Lada
18.271,784 Ha
4.024,975 Ha
533,751 Ha

Kondisi Aksesibilitas
Jarak dari Simpul Pergerakan Terdekat
Waktu Tempuh
Kondisi Jalan
Kondisi Angkutan
Pola Pergerakan Barang
Kendala Pengembangan

39 |BNPP

Karet : 5.044,557 Ton


Kelapa Dalam : 400,958 Ton
Lada : 98,346 Ton
Padi sawah : 15.606,66 Ton
Pertanian Rakyat
Perkebunan Rakyat
Skala Agro (Swasta)
Dalam Negeri
Luar Negeri
Kelapa Sawit
Padi Sawah
Irigasi tadah hujan
Balai Penyuluh Pertanian
Ke Sekura 30 KM
1 jam
Beraspal
Menggunakan ojek (sepeda motor)
Semua hasil pertanian, Perkebunan,
Perikanan dll di kirim ke Sambas
Irigasi mengandalkan tadah hujan
Alsintan tidak tersedia di tempat
Pupuk, Bibit, Pertisida, dll dari Sambas
Cara budidaya sederhana
Sulitnya memasarkan hasil pertanian,
perikanan, perkebunan dll dikarenakan
infrastruktur yang terbatas

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Model Pemberdayaan Masyarakat yang dikembangkan untuk membantu percepatan


pambangunan di daerah perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada dasarnya
adalah pengembangan pendidikan dan kemampuan untuk menjadi masyarakat yang mandiri
agar mampu mengolah alam dan lingkungan hidupnya secara lebih baik. Dengan demikian
diharapkan perkembangan masyarakat di daerah perbatasan akan dapat maju dan mampu
membangun wilayah perbatasan dengan potensi wilayah yang dimilikinya.
Hal ini berarti menggeser orientasi dari Production Centered Development
(Pembangunan Berorientasi Produksi) menjadi People Centered Development (Pembangunan
Berorientasi Sumber Daya Manusia) , yang dapat dijabarkan menjadi

Desentralisasi

Pembangunan, Partisipasi Masyarakat, Pemberdayaan Masyarakat, Pelestarian Lingkungan,


Pengembangan Jejaring Masyarakat, PembangunanTeritorial, Pengembangan Ekonomi Lokal
dan Sustainable Development (Pembangunan yang berkelanjutan).

Gambar 2.13
Vicious Circle 01 SDM Masyarakat Perbatasan

40 |BNPP

Dari informasi dan data yang dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat
diinformasikan bahwa rata-rata pendidikan masyarakat di empat kecamatan di berbagai
daerah perbatasan sebagian besar adalah lulusan SD atau SMP. Hal ini menunjukkan
beberapa indikasi atas fenomena yang berlangsung di ke empat kecamatan yaitu rendahnya
kualitas pendidikan dapat datang dari lemahnya kemampuan

masyarakat dalam

menginvestasikan diri pada peningkatan kualifikasi sumber daya manusia, namun dapat juga
karena kurangnya permintaan SDM berkualitas karena bidang pekerjaan yang tersedia
hanya di sektor kehutanan pertanian, perkebunan dan atau perikanan tersebut. Tidak adanya
permintaan SDM pada lapangan kerja diluar lapangan kerja tersebut diatas dikarenakan
perkembangan perekonomian yang lamban dan hanya mengandalkan pekerjaan yang masih
tergantung pada alam dan bersifat tradisional belaka.
Dengan kata lain pembangunan ekonomi yang dilakukan adalah EKONOMI UNTUK
MASYARAKAT BUKAN MASYARAKAT EKONOMI. Ketika permasalahan sumber daya
manusia dan pembangunan menghadapi sebuah kondisi yang serba kurang mendukung ,
maka kondisi SDM ini masuk dalam situasi yang serba tidak mendukung dan pada akhirnya
terbangun sebuah lingkaran setan atau vicious circle. Vicious circle di atas pada
kenyataannya dapat berkembang pada menjadi vicious circle yang lebih besar lagi.
Lingkungan yang

seperti umumnya

terdapat pada daerah rural dengan sistem

sosialnya yang dibangun dengan mekanisme sederhana dan berhubungan langsung dengan
alam, umumnya mencirikan diri mereka sebagai masyarakat yang homogen. Artinya sistem
sosialnya tidak dapat berubah dengan cepat, pembagian kerja dalam masyarakatnya sangat
sederhana, dan dinamika sosialnya relative bergerak statis. Pada masyarakat seperti ini
tuntutan untuk dapat bergerak maju relative rendah.
Ketika pembagian kerja pada masyarakat tingkatannya rendah maka dengan
sendirinya spesialisasi kerja yang dibutuhkan oleh masyarakat juga akan rendah. Pada
masyarakat perdesaan, bidang-bidang kerja seperti yang ada di perkotaan itu tidak
dibutuhkan. Oleh karena itu biasanya pada masyarakat yang tidak membutuhkan tingkat
spesialisasi kerja tinggi, tidak akan membutuhkan orang-orang dengan pendidikan tinggi.
Oleh karena itu bila ada orang yang berpendidikan tinggi pada wilayah itu , maka dia akan
meninggalkan kecamatan tersebut untuk mencari kesempatan mengembangkan pribadinya;
dia akan bermigrasi ke Ibu kota Kabupaten, atau ke Ibu Kota Provinsi, atau ke tempat-tempat

41 |BNPP

lain yang diperkirakan oleh dirinya akan memberikan kesempatan untuk mengembangkan
karirnya.
Karena orang-orang terdidik bermigrasi maka secara logis, kecamatan yang
bersangkutan sudah tidak membutuhkan diadakannya sekolah tinggi seperti perguruan tinggi
dan sebagainya. Oleh karenanya,di kecamatan-kecamatan wilayah perbatasan tidak tersedia
pendidikan tinggi, baik pendidikan untuk tingkat

diploma maupun

perguruan tinggi.

Pendidikan yang tersedia di kecamatan-kecamatan wilayah perbatasan umumnya hanya


sebatas sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan dan kedua jenis ini memiliki
murid yang relative sedikit. Hal lain yang menegaskan pada rendahnya tingkat partisipasi
murid di SMA/SMK sederajat adalah tingkat kemiskinan yang tinggi serta pilihan untuk
mempekerjakan anak untuk menambah pendapatan orang tua dari pada bersekolah.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, maka mereka yang berkeinginan untuk
bersekolah atau memperoleh pendidikan lebih tinggi, umumnya akan bersekolah di luar
kecamatan. Dengan demikian, kecamatan-kecamatan yang ada di wilayah perbatasan
umumnya tidak memiliki orang-orang terlatih dan berpendidikan cukup, sehingga akan selalu
kekurangan orang-orang yang mampu berpikir kreatif dan inovatif. Karena tidak ada fasilitas
untuk mengembangkan diri lebih jauh, maka mereka yang akan meningkatkan kapasitasnya
harus pergi meninggalkan kawasan perbatasan untuk mendekat ke pusat-pusat aktivitas
perkotaan.
Karena di kawasan perbatasan tidak memiliki orang-orang yang relative kreatif dan
inovatif, dan kawasan perbatasan juga kekurangan orang-orang terlatih dan berpendidikan
tinggi, maka kawasan perbatasan menjadi sulit untuk berkembang. Kawasan perbatasan
menjadi seolah-olah hanya jalan di tempat, tidak ada stimulus pembangunan dan tidak ada
rangsangan yang berarti untuk melakukan pergerakan pembangunan. Pada kondisi seperti
demikian, maka kawasan perbatasan cenderung untuk hidup sangat linier dan homogen.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan sebuah pendekatan yang mengarah
pada pengembangan sumber daya manusia setempat Pendekatan System Thinking mencoba
memperlihatkan kondisi dan titik-titik strategis bila sebuah sistem akan diintervensi.

42 |BNPP

Gambar 2.14
System Thinking Dimensi Sosial Kawasan Perbatasan
Dari data yang didapat menunjukkan bahwa penduduk di wilayah perbatasan
sebagian besar beraktivitas di sektor pertanian. Sektor lain yang juga banyak dijadikan
sebagai sumber mata pencaharian penduduk adalah sektor perdagangan dan jasa yang
mencapai

20%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar perbatasan

dapat dikategorikan sebagai homogen dan tingkat spesialisasi kerjanya sangat rendah.
Dalam kondisi tingkat spesialisasi kerja yang sangat rendah dan perkembangan
penduduk cenderung statis dan homogen, hal ini akan memberikan dampak pada rendahnya
sistem produksi masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, pasar yang dibutuhkan tidaklah
terlalu besar dan oleh karenanya

pada kondisi demikian sistem konsumsi masyarakat

biasanya adalah melalui sistem subsistem ekonomi.


Pada kondisi sistem konsumsi masyarakat melalui subsistem ekonomi biasanya pasar
(market place) nya tidak terlalu besar dan bahkan dapat dikategorikan sebagai sangat kecil.
Pada kondisi pasarnya bergerak rendah, maka pergerakan ekonomi masyarakat sangatlah
rendah. Hal inilah yang dapat dikategorikan sebagai lingkaran setan dan seharusnya dapat
dirubah menjadi virtuous circle seperti terlihat dalam gambar berikut ini.

43 |BNPP

Gambar 2.15
Vicious Circle dari Spesialisasi Kerja yang Rendah dengan proses pembalikannya

Selanjutnya yang diperlukan adalah mengidentifikasi hal-hal yang dibutuhkan dalam


melakukan intervensi pada sebuah tatanan yang dapat mengunah arah dari lingkaran setan
menjadi lingkaran keberuntungan.
Berbagai literature dan cerita sukses dalam memperkenalkan ide baru pada
masyarakat selalu dimulai dari pembangunan kesadaran dan adanya perasaan pada diri
masyarakat untuk berubah. Desakan yang besar untuk melakukan perubahan sosial umumnya
dirasakan ketika masyarakat yang bersangkutan telah merasakan pengalaman yang mendalam
dan terlalu sulit untuk dilupakan.
Dari 8 macam isu di atas, bentukan intervensi yang logis, sederhana dan tidak complicated,
namun membutuhkan dana yang besar adalah melalui:
1. Pembangunan infrastruktur ; jalan, jembatan, ketersediaan listrik dsb
2. Pembangunan pasar (market place); tempat terjadinya transaksi ataupun barter antara
penjual dan pembeli.
3. Pembangunan sistem penunjang pergerakan (distribusi) barang/angkutan
Bila dijabarkan dengan lebih sederhana, maka pendekatan Triple Bottom Line dapat
digunakan untuk sebagai alat untuk pembangunan wilayah perbatasan. Sebuah kerangka

44 |BNPP

pembangunan yang berkelanjutan, yang terdiri dari People, Planet, Profit dan sejatinya
memang sangat berkaitan dengan upaya menjadikan pembangunan itu menjadi berhasil 1.
Triple Bottom Line berkaitan dengan spektrum nilai yang diperluas dan kriteria untuk
mengukur sebuah keuntungan yang mungkin dapat diperoleh masyarakat.
Ada tiga pendekatan yang diinjeksikan:
SKENARIO 1
1) [PEOPLE] Intervensi peningkatan kapasitas pengembangan sumber daya manusia yang
mencakup: pengembangan pendidikan, politeknik, sekolah kejuruan
2) [PLANET] Intervensi Perubahan Kebijakan Nasional yang mengarah pada sistem
produksi dan distribusi, dan arahan baru pada pola guna lahan berdasarkan potensinya
agar tercapai optimalisasi produksi.
3) [PROFIT] Intervensi pengembangan lapangan kerja agar terbangun suatu masyarakat
dengan tatanan sosial yang mengarah pada tingkat spesialisasi yang tinggi sehingga
tercapai efisiensi dan efektifitas kerja dan partisipasi pihak swasta dalam penciptaan
daya serap pasar yang bersaing, agar hasil produksi masyarakat di perbatasan yang telah
dibangun dapat memberikan keuntungan yang terus menerus sehingga proses kegiatan
produksi dan pemasaran dapat berjalan dengan lancar.
Sedangkan pendekatan lain adalah:
SKENARIO 2
1) [PLANET] Pembangunan infrastruktur;
2) [PROFIT] Pembangunan pasar (market place);
3) [PEOPLE] Pembangunan sistem penunjang pergerakan (distribusi) barang/angkutan
Adapun pendekatan lainnya lagi adalah:
SKENARIO 3
1) [PEOPLE] Peningkatan kapasitas manusia: Sekolah Kejuruan dan Politeknik
2) [PLANET] Pengembangan industry perkebunan/tambang/perikanan skala besar
3) [PROFIT] Pembangunan infrastruktur penunjang dan Pasar (Market Place)

Gambar 2.16
Intervensi Normatif pada Masyarakat Perbatasan
1

Konsep ini dipengaruhi oleh konsepnya Patrick Geddes yang awalnya menggunakan konsep Folk, Work,
Place

45 |BNPP

Terdapat 3 pendekatan Normative untuk melakukan intervensi pembangunan di


kawasan perbatasan, namun pendekatan normative tersebut memiliki kelemahan dalam
mencegah adanya resistensi dari masyarakat. Strategi atau pendekatan yang lebih sesuai dan
menghindarkan diri dari upaya resistensi dari masyarakat adalah melalui pendekatan
pemberdayaan masyarakat.

46 |BNPP

Gambar 2.17
Diagram Alur Proses Pemberdayaan Masyarakat

Diagram alur yang dikemukakan di halaman diatas dapat dikemukakan bahwa proses
pemberdayaan masyarakat idealnya dilakukan melalui mekanisme pendampingan masyarakat
sejak awal hingga akhir dengan semangat penguatan kapasitas baik pada masyarakat yang
didampingi maupun bagi pihak pendamping itu sendiri. Secara umum seluruh proses
pemberdayaan masyarakat perbatasan dilakukan dalam lima proses utama, yaitu tahapan
mobilisasi, tahapan awal dan sosialisasi, tahapan capacity building, tahapan pengembangan
proposal, dan tahapan pendampingan masyarakat.
a. Tahapan Mobilisasi

Tim pendamping adalah terdiri dari dua unsur utama, yaitu pihak Perguruan Tinggi
sebagai pihak yang dianggap punya kapasitas dan pengetahuan khusus di bidangnya sesuai
dengan potensi yang ada di wilayah yang bersangkutan. Pihak dari perguruan tinggi ini
diharapkan dapat menopang kinerja lembaga pendamping dari sisi ilmu pengetahuan sektoral.
Unsur kedua adalah dari LSM sebagai lembaga yang dipandang memiliki kemampuan dan
47 |BNPP

pemahaman yang cukup atas mekanisme pelaksanaan program pendampingan dengan


kemampuan melakukan pendekatan secara intensif.

Kedua unsur tersebut (LSM dan PT) harus mampu memberikan pendampingan pada
masyarakat secara optimal dan dilandasi oleh hubungan kerjasama antar lembaga. Pada
bagian lainnya adalah Pengorganisasian Massa, proses pengorganisasian massa ini harus
dapat dilakukan berdasarkan bentukan-bentukan eksisting seperti massa di tingkat RW atau
massa di tingkat RT atau bentukan-bentukan lainnya disesuaikan dengan kondisi massa di
lapangan. Model pengorganisasian massa seperti yang telah dilakukan oleh Program PNPM;
masyarakat menentukan sendiri jumlahnya sesuai ketertarikan masing-masing.
b. Tahapan Awal dan Sosialisasi

Pada tahapan ini, tim pendamping memiliki tugas yang sangat penting dan sangat
menentukan dalam selama tim pendamping melakukan pendampingan pada masyarakat. Tim
pendamping yang terdiri atas LSM dan PT memiliki tugas untuk melakukan pendalaman
melalui penyusunan pedoman. Tim Pendamping dari PT melakukan Pendalaman Substansi
Sektor Potensial, bentuk pendalaman yang paling efektif adalah dengan melakukan
Penyusunan Pedoman Pengembangan Sektor.
Sedangkan Tim Pendamping yang berasal dari pihak LSM melakukan Pendalaman
Model dan Teknis Pendampingan. Bentukan nyata dari proses pendalaman model dan teknis
pendampingan ini harus direalisasikan dengan Penyusunan Pedoman Pendampingan dan
Asistensi. Tim Pendamping yang berasal dari LSM dan PT ini harus melakukan Sosialisasi
Potensi pada kelompok-kelompok pada masyarakat. Namun, tentu saja pemberi materi
Sosialisasi harus memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis terlebih dahulu.

48 |BNPP

Pada kelompok lainnya, masyarakat harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu


tentang potensi yang ada di wilayahnya; Sosialisasi Pengembangan Potensi Perkebunan, atau;
Sosialisasi Pengembangan Potensi Budi Daya Perikanan, atau; Sosialisasi Pengembangan
Potensi Pertambangan, dan atau; Pengembangan Potensi Lain-lain.
c. Tahapan Capacity Building

Capacity Building merupakan sebuah proses yang selayaknya akan menjadikan


lembaga apapun menjadi lebih mampu, lebih memiliki kapasitas, lebih memiliki pemahaman
dan pengetahuan. Capacity Building ini harus dilakukan kepada pihak Tim Pendamping dan
masyarakat sasaran. Dengan demikian ke dua belah pihak mampu mengembangkan diri
secara terarah sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh wilayah dimana masyarakat sasaran
dan Tim Pendamping berada.
Pihak Tim Pendamping dari Perguruan Tinggi harus dibekali dengan pengetahuan
dan keterampilan berkaitan dengan Pengembangan Pasar, Pengembangan Kerjasama Usaha,
dan Pengembangan Konsep Bapak-Angkat; ini semua merupakan modal utama dalam
memberikan pendampingan bagi masyarakat dalam menjadikan produk-produk potensial
yang sedang diupayakan untuk berkelanjutan (sustainable).
Tim Pendamping dari LSM harus juga memperoleh pembekalan dalam hal
Pengembangan Manajemen Organisasi sehingga mampu memberikan pembekalan di bidang
sama kepada masyarakat. Pihak LSM pendamping juga harus memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang cukup serta penguasaan aspek-aspek hukum dalam Pengembangan
Kinerja Lembaga dalam Bekerjasama, sehingga diharapkan lembaga ini akan mampu dalam
memberikan pendampingan pada masyarakat nantinya.
Tim Pendamping dengan kekuatannya dalam mendampingi masyarakat harus
memperoleh peningkatan kapasitas dan pemahaman berkaitan dengan Penguatan Kapasitas
Anak Angkat. Hal ini dilakukan agar pada saatnya kelompok masyarakat memiliki bapak
angkat akan dapat menjaga performa dan kapasitas usahanya.

49 |BNPP

Masyarakat sebagai sasaran utama program harus mendapatkan pengetahuan yang


mencukupi dari Tim Pendamping berkaitan dengan pengorganisasian program, penyusunan
skala prioritas dan proses pengambilan keputusan. Tim Pendamping harus memberikan
arahan serta bimbingan teknis kepada kelompok massa bagaimana prosesnya serta prasyarat
yang dikuasai sebelum kelompok tersebut menguasainya.
Dari sisi sektoral, kelompok masyarakat harus memiliki pemahaman dan keterampilan
yang mumpuni dalam kaitannya dengan sistem dan mekanisme (1) Pengembangan Sektor
Potensial, (2) Pengembangan Pembuatan Pupuk dan Pakan Ikan, (3) Pengembangan Sistem
Pemasaran, dan (4) pengembangan Kegiatan Logistik dan Pengepakan.
d. Tahapan Pengembangan Proposal

Tahapan ini merupakan tahapan yang menentukan dalam menjamin keberlanjutan dan
keberlangsungan lembaga yang dibina oleh masyarakat. Pemahaman akan penyusunan
proposal merupakan prasyarat utama dalam setiap pengajuan bantuan dan pengembangan
kerjasama dengan pihak lain. Bahkan pemahaman atas dokumen proposal ini sangat
dibutuhkan oleh setiap kelompok yang berkeinginan untuk maju dan berkembang.

Tim Pendamping harus mampu menjelaskan mekanisme dan jenis proposal yang harus
dikembangkan oleh kelompok. Hal ini menjadi penting untuk dilakukan, karena jenis dan bentuk

50 |BNPP

proposal akan berbeda bila kelompok berniat untuk mengajukannya pada setiap lembaga lain yang
berbeda.
Jenis dan muatan proposal untuk pihak perbankan akan berbeda dengan proposal yang akan
diserahkan kepada pihak Pemerintah (Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah
Pusat). Proposal untuk lembaga swasta besar pun pasti akan berbeda dengan proposal yang akan
disampaikan kepada lembaga donor internasional.
Oleh karena itu, penguasaan materi oleh Tim Pendamping menjadi sebuah keharusan bila
akan melakukan pendampingan kelompok masyarakat yang bertumpu pada sektor-sektor komoditas
alami.
e. Tahapan Pendampingan

Tahapan ini merupakan tahapan yang terakhir dalam proses pendampingan pada
upaya pemberdayaan masyarakat

Kelompok-kelompok masyarakat sebagai sasaran dan target utama dalam upaya


pemberdayaan masyarakat ini, harus medapatkan pendampingan dari Tim Pendamping dalam
hal Pendampingan Peningkatan Mutu (produk dan layanan), Pendampingan Pemeliharaan
Kualitas (produk dan layanan), serta Pendampingan Penetrasi Pasar.
f. Peran

Pemerintah

Daerah

dalam

Lingkup

Pemberdayaan

Masyarakat

Pada bidang Penguatan Kelembagaan dan Pengembangan Partisipasi Masyarakat,


pemerintah daerah harus mengembangkan penetapan kebijakan daerah skala kabupaten, serta
membuat penetapan pedoman,norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penguatan
kelembagaan dan pengembangan partisipasi masyarakat skala kabupaten. Dalam penguatan
kelembagaan masyarakat, pemerintah daerah harus melakukan koordinasi dan fasilitasi
penguatan kelembagaan masyarakat skala kabupaten, serta melakukan penyelenggaraan
penguatan kelembagaan masyarakat skala kabupaten. Pemerintah juga harus melakukan

51 |BNPP

monitoring, evaluasi dan pelaporan penyelenggaraan penguatan kelembagaan masyarakat


skala kabupaten.
Dalam penyiapan masyarakat, pemerintah daerah harus melakukan koordinasi dan
fasilitasi pelaksanaan pelatihan masyarakat skala kabupaten, melakukan pelaksanaan
pelatihan masyarakat skala kabupaten, serta melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan
pelaksanaan pelatihan masyarakat skala kabupaten. Sedangkan dalam pengembangan
manajemen pembangunan partisipatif, pemerintah daerah harus melakukan koordinasi dan
fasilitasi pengembangan manajemen pembangunan partisipatif masyarakat skala kabupaten.
Pemerintah daerah juga harus melaksanakan pengembangan manajemen pembangunan
partisipatif masyarakat skala kabupaten, serta melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan
pelaksanaan pemantapan manajemen pembangunan partisipatif masyarakat skala kabupaten.
Dalam proses implementasi terdapat beberapa muatan kegiatan yang menjadi
kewajiban bagi pemerintah daerah dalam membangun pemberdayaan masyarakat, yaitu
sebagai berikut 2:
1.

Pemberdayaan Ekonomi Penduduk Miskin

2.

Pengembangan Usaha Ekonomi Keluarga dan Kelompok Masyarakat

3.

Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Perdesaan

4.

Pengembangan Produksi dan Pemasaran Hasil Usaha Masyarakat

5.

Pengembangan Pertanian Pangan dan Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat

6.

Fasilitasi Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan

7.

Fasilitasi Pemanfaatan Lahan dan Pesisir Pedesaan

8.

Fasilitasi Prasarana dan Sarana Pedesaan

9.

Fasilitasi Pemetaan Kebutuhan dan Pengkajian Teknologi Tepat Guna

10. Pemasyarakatan dan Kerjasama Teknologi Pedesaan


Ke 10 item di atas merupakan proses intervensi peran pemerintah daerah setempat guna
mambangun masyarakat setempat. Pada ke 10 item tersebut pemerintah daerah harus
melakukan koordinasi, fasilitasi, implementasi, monitoring dan evaluasi atas masing-masing
kegiatan.
2

Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, Lampiran
Pemberdayaan Masyarakat

52 |BNPP

Secara skematis pelaksanaan peran pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat

Secaara regulatif 3 lembaga BPP Provinsi dalam pengelolaan wilayah negara dan
kawasan perbatasan mempunyai wewenang:
a.

melaksanakan kebijakan Pemerintah dan menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka


otonomi daerah dan tugas pembantuan;

b.

melakukan koordinasi pembangunan di Kawasan Perbatasan;

c.

melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar-pemerintah daerah dan/atau


antara pemerintah daerah dengan pihak ketiga; dan

d.

melakukan pengawasan pelaksanaan pembangunan Kawasan Perbatasan yang


dilaksanakan Pemerintah Kabupaten/Kota.
Sedangkan BPP Kabupaten/Kota dalam pengelolaan wilayah negara dan kawasan

perbatasan mempunyai wewenang:


a.

melaksanakan kebijakan Pemerintah dan menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka


otonomi daerah dan tugas pembantuan;

b.

menjaga dan memelihara tanda batas;

c.

melakukan koordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas pembangunan di Kawasan


Perbatasan di wilayahnya; dan

d.

melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar-pemerintah daerah dan/atau


antara pemerintah daerah dengan pihak ketiga.
BPP Provinsi mempunyai tugas menetapkan kebijakan program pembangunan

perbatasan, menetapkan rencana kebutuhan anggaran, mengoordinasikan pelaksanaan, dan

Bedasarkan Perpres Nomor 12 Tahun 2010 tentang BNPP dan Permendagri Nomor 2 Tahun 2011 tentang
Pedoman Pembentukan Badan Pengelola Perbatasan Di Daerah

53 |BNPP

melaksanakan evaluasi dan pengawasan di provinsi. Sedangkan BPP Kabupaten/Kota


mempunyai tugas menetapkan kebijakan program pembangunan perbatasan, menetapkan
rencana kebutuhan anggaran, mengoordinasikan pelaksanaan, dan melaksanakan evaluasi dan
pengawasan di kabupaten/kota.
Sesuai dengan kewenangan yang melingkupinya, pemerintah harus dapat melakukan
koordinasi, fasilitasi, mengarahkan, memonitor dan mengevaluasi program dan kegiatan
secara keseluruhan.
g. Pembiayaan Program

Keseluruhan program pemberdayaan masyarakat ini harus dibiayai APBN melalui


mekanisme pembiayaan pusat melalui mekanisme Dekonsentrasi untuk kegiatan yang
dikelola BPP Provinsi dan atau melalui mekanisme Tugas Pembantuan untuk kegiatan yang
dikelola oleh BPP Provinsi dan atau BPP Kabupaten/Kota.
Bila inisiatif datang dari pemerintah Provinsi maka, pembiayaan dapat dilakukan
dengan sumber dana APBD dengan mekanisme Tugas Pembantuan dengan adanya dana
pendampingan dari masing-masing kabupaten/kota.
Bantuan dana dari APBN atau APBD pada dasarnya merupakan dana stimulan awal
yang digulirkan dengan sistem penjaringan sistem dengan harapan pada suatu titik nanti
ketika sistem ekonomi masyarakat sudah dapat bergulir dan berkembang, sistem dapat
mengakomodasi injeksi investasi dana dari sektor swasta.
Alternatif Pengelolaan Ruang

Arahan pemanfaatan ruang dimaksudkan untuk meletakkan posisi lokasi prioritas


kecamatan Paloh dalam konstelasi regional sehingga akan terlihat peran dan fungsi Paloh
dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah yang lebih luas (Kecamatan Paloh dan
wilayah perbatasan). Dalam kajian ini, akan dilihat bagaimana arah kebijakan pemerintah
daerah terhadap pengembangan Paloh dan posisi geografis Paloh terhadap wilayah sekitarnya.
Berdasarkan arah kebijakan pengembangan wilayah dari berbagai rencana tata ruang,
maka pengembangan lokasi prioritas kecamatan Paloh adalah sebagai berikut :

54 |BNPP

a.

Berdasarkan RTRW Kabupaten Sambas, Kawasan Perkotaan Paloh merupakan pusat


wilayah pelayanan di Kabupaten Sambas. Karena terpisah oleh Sungai Sambas, maka
Kawasan Perkotaan Paloh relatif terpencil di Kabupaten Sambas ini
Rencana pengembangan wilayah meliputi Rencana Pengembangan Sarana dan Prasarana
Wilayah yang terdiri dari pengembangan transportasi, prasarana sumber daya air dan
irigasi, energi, telekomunikasi, serta prasarana perumahan dan permukiman.
1.

Rencana pengembangan transportasi jaringan jalan lokal yaitu jalan penghubung


antar kecamatan dan jalan poros desa sebagai penghubung kecamatan dengan desa.

2.

Rencana Pembangunan Terminal Pelabuhan di tepi Sungai Paloh yang


menghubungkan Paloh dengan wilayah di luar Paloh

b.

3.

Pengembangan sarana kesehatan

4.

Pengembangan sarana pendidikan dasar, menengah dan pendidikan keagamaan.

5.

Rencana pengembangan prasarana sumber daya air dan irigasi

6.

Rencana pengembangan sarana energi listrik dan telekomunikasi

Dilihat dari Rencana pola ruang, maka pemanfaatan ruang yang diarahkan untuk Paloh
adalah sebagai berikut :
1. Kawasan Non-Budidaya (Lindung), meliputi :
a.

b.

Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya;

Kawasan Hutan Lindung (HL)

Kawasan Resapan Air (KRA)

Kawasan Hutan Produksi

Kawasan Hutan Produksi Konversi

Kawasan perlindungan setempat;

c.

Kawasan Sempadan Sungai

Kawasan Taman Wisata Alam;

2. Kawasan Budidaya, meliputi :


a.

Budidaya Pertanian Tanaman Pangan Lahan Basah

b.

Budidaya Pertanian Tanaman Pangan Lahan Kering

c.

Budidaya Perkebunan

d.

Budidaya Peternakan

e.

Budidaya Kehutanan (Hutan produksi biasa dan terbatas)

55 |BNPP

f.

Pengembangan Industri dan

g.

Pengembangan Pariwisata

3. Kawasan Budidaya Perikanan Darat


c.

Berdasarkan posisi geografis Kecamatan Paloh, maka wilayah sekitarnya dapat


mempengaruhi perkembangan Paloh. Beberapa hal yang perlu dicermati mengingat
pengaruhnya terhadap perkembangan Paloh adalah :
1. Dalam konteks wilayah nasional, Paloh ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Strategis
Nasional. Fungsi ini ditetapkan mengingat wilayah di Paloh sebagai kawasan
perbatasan negara yang memiliki nilai strategis baik dipandang dari sisi sosial
ekonomi maupun sosial politik.
2. Sejalan dengan pembukaan Pos Lintas Batas yang terdekat dengan Paloh, yaitu
Sajingan Besar, seperti yang tertuang dalam RTRW Provinsi Kalimantan Barat
maka Pemerintah Kabupaten Sambas perlu melakukan antisipasi secara dini dengan
pengembangan wilayah koridor

Paloh - Aruk sebagai satuan wilayah strategis

pendukung pengembangan wilayah inti utama khususnya dan pengembangan


wilayah Kabupaten Sambas pada umumnya. Kegiatan yang dikembangkan di
wilayah ini adalah kegiatan orientasi ekspor yang dapat memanfaatkan segala
sumberdaya alam dan hasil produksi pertanian dalam wilayah inti utama dan
wilayah sekitarnya terutama kawasan di sebelah Barat -Utara. Pengembangan
pariwisata di kawasan ini juga yaitu Kawasan Wisata Sungai Liku sangat membantu
untuk mulai mengenalkan potensi pariwisata Kabupaten Sambas terutama bagi
wisatawan lokal dan mancanegara khususnya wisatawan yang masuk dari SarawakMalaysia . Pusat dari wilayah pengembangan ini diarahkan ke Kota Paloh yang
berfungsi juga sebagai pintu gerbang
Struktur ruangm Kawasan Perkotaan Paloh merupakan suatu kerangka struktural yang
menampilkan bentuk kotanya dan dapat dilihat dari unsur-unsur kegiatan fungsional yang
dihubungkan oleh sistem transportasi serta didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana
kawasan.
Tujuan pembentukan konsep struktur ruang Kawasan Perkotaan Paloh, diantaranya adalah :
a.

Menjabarkan struktur ruang yang dikembangkan di Kawasan Perkotaan Paloh

b.

Memacu pertumbuhan dan mewujudkan pemerataan pembangunan ke seluruh

56 |BNPP

kawasan
c.

Mendayagunakan fasilitas pelayanan

yang penyebarannya dilakukan secara

berjenjang sesuai kebutuhan dan tingkat pelayanan bagi masyarakat


d.

Menciptakan daya tarik bagi seluruh bagian kawasan dengan penyebaran pusat-pusat
pelayanan ke seluruh kawasan

e.

Menciptakan dinamika perkembangan kawasan yang sinergis

Konsep pengembangan struktur ruang Kawasan Perkotaan Paloh penyebarannya dialokasikan


di tempat-tempat strategis atau yang mempunyai aksesibilitas baik, sehingga mudah dijangkau
dari seluruh bagian kawasan. Kegiatan utama yang dikembangkan di pusat pelayanan ini
berupa jasa pelayanan kegiatan pemerintahan, jasa pelayanan kegiatan perekonomian dan jasa,
permukiman, yang dikembangkan secara berjenjang dan terpadu sesuai skala pelayanannya,
meliputi :
1.

Pusat pelayanan utama, berupa pusat jasa pelayanan pemerintahan dialokasikan di pusat
kegiatan pemerintahan dengan skala pelayanan kecamatan dan desa.

2.

Pusat pelayanan kegiatan perdagangan dan jasa, guna melayani kebutuhan penduduk
Kecamatan Paloh yang dialokasikan di Kawasan Perkotaan Paloh yang telah memiliki
tingkat perkembangan kegiatan ekonomi perkotaan yang relatif lebih memadai
dibandingkan dengan desa desa yang lainnya.

3.

Pusat pelayanan kegiatan permukiman, guna melayani kebutuhan penduduk dengan skala
pelayanan beberapa unit lingkungan yang dialokasikan tersebar di simpul-simpul jalan
utama.

4.

Sub pusat pelayanan, merupakan pusat pelayanan lingkungan yang dialokasikan tersebar
merata ke seluruh pusat-pusat lingkungan dengan skala pelayanan lokal, sesuai
ketersediaan lahan dan daya dukung lahan terhadap kegiatan yang akan dikembangkan.

5.

Terkait dengan upaya pengembangan lokasi prioritas kecamatan Paloh, maka prasarana
pendukung utama kawasan tersebut ditempatkan di Kawasan Perkotaan Paloh.

Pengembangan Infrastruktur
Pengembangan kawasan lokpri pada sebuah wilayah akan memberikan konsekuensi terhadap
upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana penunjang kegiatan, khususnya kegiatan
pertanian.
Prasarana pengembangan kegiatan pertanian yang dibutuhkan di Kecamatan Paloh dapat
57 |BNPP

diidentifikasi sebagai berikut :


a.

Irigasi

Irigasi adalah infrastruktur penting kaitannya dengan pengembangan pertanian. Irigasi adalah
merupakan sistem pengairan yang biasa diterapkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi
pertanian. Untuk mengembangkan pertanian di Kawasan lokpri Paloh maka infrastruktur
irigasi ini perlu dibangun guna meningkatkan produksi pertanian yang ada.
b. Jalan akses ke sentral produksi
Dikembangkannya Klaster Prioritas Paloh menjadi daerah yang akan di kembangkan
sebagai kawasan perkebunan sawit, lada dan karet. Tentunya diperlukan pengembangan atau
peningkatan infrastrukur jalan guna melayani kebutuhan pergerakan antar desa serta
pengangkutan hasil pertanian menuju outlet atau pasar.
Pengembangan jaringan jalan di Paloh meliputi peningkatan status jalan dan
pembangunan jaringan jalan baru untuk menghubungkan pengembangan kawasan klaster.
Jalan utama yang melintasi klaster Paloh ini adalah ruas jalan kolektor yang menghubungkan
desa Kekurak lewat Janting kemudian ke desa Paloh.
Usulan rencana pengembangan dan peningkatan ruas-ruas jalan yang meliputi :
1. Pembangunan dan peningkatan status jalan, yaitu jalan yang menghubungkan desa
Kekurak dan Janting dari jalan lain ke jalan lokal.
2. Pembangunan dan peningkatan status jalan yaitu jalan dan jembatan untuk
menghubungkan dusun Merbau ke dusun Ceremai Malang di desa Sebubus .
3. Peningkatan kualitas jalan,

di dusun Merbau, desa Sebubus sehingga dapat

memperlancar interaksi perdagangan di desa tersebut


4. Pembangunan dan peningkatan kualitas jalan lintas batas kecamatan, yaitu Paloh
Sajingan Besar , sehingga dapat memperlancar interaksi dengan kecamatan lain dan
daerah perbatasan Indonesia Malaysia melalui Pos Lintas Batas Aruk.

c. Pengembangan Prasarana Air Bersih


Pengembangan prasarana dan sarana air bersih tentunya harus disesuaikan dengan
budaya masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan. Sebagian besar sudah terbiasa dengan
budaya masyarakat sungai yang memanfaatkan sungai sebagai salah satu sumber kebutuhan
hidupya, dari media transportasi, kebutuhan air minum sampai kepada kebersihan badan.
58 |BNPP

Selain pemenuhan kebutuhan air bersih penduduk setempat, juga harus dipersiapkan untuk
pemenuhan kebutuhan kegiatan industri dan kegiatan produksi masyarakat lainnya, terutama
untuk pelayanan para pendatang, pedagang antar negara yang menginap di kawasan
penginapan, dan tentunya penduduk perkotaan. Oleh karena itu, pengembangan prasarana dan
sarana air bersih, terdiri dari :

Pembangunan instalasi air bersih di pusat klaster Paloh.

Merencanakan, membangun, dan meningkatkan jumlah saluran air bersih ke rumahrumah di pusat-pusat permukiman klaster.

d. Pembangunan Sub Terminal


Kawasan agropolitan di Kecamatan Paloh

perlu didukung oleh infrastruktur sub

terminal angkutan yang bertujuan untuk memberi kemudahan pada kegiatan koleksi dan
distribusi hasil pertanian. Pembangunan sub terminal ini memiliki sasaran pelayanan bagi
pelaku usaha tani pada kawasan lokpri.
e.

Teknologi Komunikasi
Perkembangan sistem informasi yang sedemikian cepat perlu dimanfaatkan oleh para

petani, guna mengakses informasi, baik yang berkaitan dengan harga, kebutuhan konsumen,
serta informasi-informasi lain yang penting. Dengan demikian maka Teknologi Komunikasi
dan Informasi harus menjadi keharusan untuk dibangun di kawasan lokpri.
Sedangkan sarana yang dibutuhkan di Kecamatan Paloh untuk dapat maju dan berkembang
diperkirakan sebagai berikut :
a.

Sarana Produksi
Sarana produksi pertanian sangat dibutuhkan oleh petani dalam upaya melakukan

kegiatan pertaniannya. Permasalahan yang sering dijumpai berkaitan dengan sarana produksi
ini adalah tingkat ketersediaan yang sering terjadi tidak kontinyu dan seimbang, sehingga
petani sering merasa kesulitan dalam mendapatkannya. Sarana produksi pertanian meliputi
alat dan mesin produksi, pupuk, bibit dan benih serta saranan lainnya. Untuk menyikapi
masalah tersebut maka perlu disusun program penanggulangannya seperti :
Program penyediaan alat dan mesin pertanian melalui badan keswadayaan petani atau
melalui sub terminal lokpri
Program penyediaan dan distribusi pupuk melalui kerjasama dengan distributor
Program penyediaan benih dan bibit melalui kerjasama dengan lembaga penangkar
59 |BNPP

benih dan bibit.


b. Sarana Pengembangan dan Penelitian
Pengembangan usaha tani

setiap saat harus mengalami perkembangan dan

peningkatan yang berarti baik dari sisi produksi maupun dari sisi kualitas. Oleh sebab itu
untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu diupayakan penelitian dan pengembangan yang
menunjang kearah peningkatan kinerja tani yang baik secara kontinyu. Penelitian dan
Pengembangan

perlu

dilakukan

dengan

membangun

laboratorium

pertanian

dan

pengembangan demplot.
c.

Sarana Pendidikan dan Pelatihan


Permasalahan mendasar pengembangan pertanian di Kecamatan Paloh khususnya dan

di Indonesia pada umumnya adalah lemahnya kualitas sumberdaya manusia yang tersedia. Hal
ini terbukti dengan besarnya daya dukung lahan di lokpri kecamatan Paloh tetapi produksi
yang dihasilkan belum memperlihatkan angka yang optimal, salah satu penyebabnya adalah
lemahnya sumberdaya manusia yang tersedia. Dengan demikian maka pengembangan sistem
pelatihan dan pendidikan bagi petani khususnya perlu ditingkatkan.
d. Sarana Promosi
Hasil pertanian yang diperoleh sering kali tidak memiliki akses pasar yang baik,
walaupun komoditas tersebut permintaannya cukup besar dipasarkan. Hal ini diakibatkan
sistem promosi yang belum berjalan dengan baik. Dengan demikian maka perlu
dikembangkan model promosi produk pertanian yang dihasilkan melalui sarana promosi yang
baik.
e.

Sarana Pemasaran
Jika petani ingin menjual produknya harus menunggu pengepul yang datang, dan

sering kali posisi tawar petani menjadi rendah karena tidak tahu lagi kemana produknya harus
dijual. Sarana pemasaran produk pertanian yang memungkinkan untuk dikembangkan adalah
melalui pengembangan subterminal lokpri dan terminal lokpri, bahkan jika memungkinkan
perlu juga dibangun balai lelang, sehingga petani bisa mendapat peluang bertransaksi langsung
dengan pembeli dan bias terjadi kontrak tanam atau kontrak jual.
f.

Sarana Permodalan
Modal sering kali menjadi permasalahan yang dihadapi petani dan sulit untuk

dipecahkan, lembaga perbankan kadang tidak memiliki kepercayaan yang penuh terhadap
60 |BNPP

petani apalagi jika petani mengajukan kredit secara individual. Melihat permasalahan tersebut
maka perlu dikembangkan lembaga penyedia permodalan baik bank maupun non bank yang
khusus konsen terhadap Kredit Usaha Tani.
g.

Sarana Pengangkutan
Sarana pengangkutan yang dimaksud adalah alat yang digunakan untuk mengangkut

sarana produksi dan hasil produksi, bisa dilakukan melalui pengembangan trayek angkutan
atau melalui pengembangan terminal lokpri dimana pemerintah memberikan jasa pelayanan
bagi petani untuk mengangkut hasil produksinya ke sub terminal lokpri atau ke terminal
lokpri.
h. Sarana Penyimpanan
Sarana penyimpanan dapat diwujudkan melalui pembangunan gudang. Pembangunan
gudang lebih tepat dikoordinasikan oleh pengelola terminal lokpri dimana pemerintah bisa
berperan sebagai penyedia jasa penyimpanan selama produk tersebut belum dipasarkan.
Gudang ini sangat penting guna menyimpan produk pertanian dan dari gudang ini bisa
mengontrol tingkat kontinuitas dan kualitas produk.
i.

Sarana Sortasi
Sortasi dibutuhkan untuk memisahkan produk pada level tertentu sehingga kualitas

yang diinginkan konsumen dapat terpenuhi dengan baik. Sarana sortasi bisa dikembangkan
pada tingkat kelompok tani atau pada terminal lokpri sebagai jasa layanan yang diberikan
pemerintah.
j.

Sarana Pengolahan
Permasalahan yang tidak kalah pentingnya adalah rendahnya nilai tambah produk

pertanian yang dihasilkan karena sering kali petani menjualnya dalam bentuk hasil primer
sehingga harganya pun menjadi murah. Dengan adanya sarana pengolahan petani diharapkan
mampu meningkatkan nilai tambah produknya. Sarana pengolahan dapat berupa industri hasil
pertanian yang ditempatkan di sekitar sentra pertanian dengan melibatkan kelompok tani
sebagai unsure pengelola.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

k. Sarana Pengemasan
Pengepakan atau pengemasan akan memberikan nilai tambah produk menjadi
61 |BNPP

meningkat. Teknologi Pengemasan perlu disosialisasikan kepada para petani. Sarana


pengepakan bisa dibangun di sub terminal lokpri atau di terminal lokpri. Dan bisa saja
pengepakan ini dilakukan oleh pemerintah melalui jasa layanannya di terminal lokpri

Di Kecamatan Paloh yang mayoritas penduduknya bercocok tanam Sawah dan


Palawija (Pertanian dan Perkebunan) seluas 4.025 Ha; Kelapa Sawit dan Lada seluas
18.271,784 Ha dan Kelapa Sawit seluas 533,751 Ha memerlukan pengembangan kegiatan
untuk pemberdayaan masyarakat sebagai berikut:
Proses

pemberdayaan

masyarakat

idealnya

dilakukan

melalui

mekanisme

pendampingan masyarakat sejak awal hingga akhir dengan semangat penguatan kapasitas
baik pada masyarakat yang didampingi maupun bagi pihak pendamping itu sendiri. Secara
umum seluruh proses pemberdayaan masyarakat perbatasan dilakukan dalam lima proses
utama, yaitu tahapan mobilisasi, tahapan awal dan sosialisasi, tahapan capacity building,
tahapan pengembangan proposal, dan tahapan pendampingan masyarakat.
a) Tahapan Mobilisasi
Tim pendamping adalah terdiri dari dua unsur utama, yaitu pihak Perguruan Tinggi
sebagai pihak yang dianggap punya kapasitas dan pengetahuan khusus di bidangnya sesuai
dengan potensi yang ada di wilayah yang bersangkutan. Pihak dari perguruan tinggi ini
diharapkan dapat menopang kinerja lembaga pendamping dari sisi ilmu pengetahuan sektoral.
Unsur kedua adalah dari LSM sebagai lembaga yang dipandang memiliki kemampuan dan
pemahaman yang cukup atas mekanisme pelaksanaan program pendampingan dengan
kemampuan melakukan pendekatan secara intensif.
Kedua unsur tersebut (LSM dan PT) harus mampu memberikan pendampingan pada
masyarakat secara optimal dan dilandasi oleh hubungan kerjasama antar lembaga.
Pada bagian lainnya adalah Pengorganisasian Massa, proses pengorganisasian massa ini
harus dapat dilakukan berdasarkan bentukan-bentukan eksisting seperti massa di tingkat RW
atau massa di tingkat RT atau bentukan-bentukan lainnya disesuaikan dengan kondisi massa
di lapangan. Model pengorganisasian massa seperti yang telah dilakukan oleh Program
PNPM; masyarakat menentukan sendiri jumlahnya sesuai ketertarikan masing-masing.
b) Tahapan Awal dan Sosialisasi
62 |BNPP

Pada tahapan ini, tim pendamping memiliki tugas yang sangat penting dan sangat
menentukan dalam selama tim pendamping melakukan pendampingan pada masyarakat. Tim
pendamping yang terdiri atas LSM dan PT memiliki tugas untuk melakukan pendalaman
melalui penyusunan pedoman. Tim Pendamping dari PT melakukan Pendalaman Substansi
Sektor Potensial, bentuk pendalaman yang paling efektif adalah dengan melakukan
Penyusunan Pedoman Pengembangan Sektor Pertanian dan Perkebunan.
Sedangkan Tim Pendamping yang berasal dari pihak LSM melakukan Pendalaman
Model dan Teknis Pendampingan. Bentukan nyata dari proses pendalaman model dan teknis
pendampingan ini harus direalisasikan dengan Penyusunan Pedoman Pendampingan dan
Asistensi. Tim Pendamping yang berasal dari LSM dan PT ini harus melakukan Sosialisasi
Potensi pada kelompok-kelompok pada masyarakat. Namun, tentu saja pemberi materi
Sosialisasi harus memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis terlebih dahulu.
Pada kelompok lainnya, masyarakat harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu tentang
potensi yang ada di wilayahnya; Sosialisasi Pengembangan Potensi Perkebunan, atau;
Sosialisasi Pengembangan Potensi Pertanian.
c) Tahapan Capacity Building
Capacity Building merupakan sebuah proses yang selayaknya akan menjadikan
lembaga apapun menjadi lebih mampu, lebih memiliki kapasitas, lebih memiliki pemahaman
dan pengetahuan. Capacity Building ini harus dilakukan kepada pihak Tim Pendamping dan
masyarakat sasaran. Dengan demikian ke dua belah pihak mampu mengembangkan diri
secara terarah sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh wilayah dimana masyarakat sasaran
dan Tim Pendamping berada.
Pihak Tim Pendamping dari Perguruan Tinggi harus dibekali dengan pengetahuan
dan keterampilan berkaitan dengan Pengembangan Pasar, Pengembangan Kerjasama Usaha,
dan Pengembangan Konsep Bapak-Angkat; ini semua merupakan modal utama dalam
memberikan pendampingan bagi masyarakat dalam menjadikan produk-produk potensial
yang sedang diupayakan untuk berkelanjutan (sustainable).
Tim Pendamping dari LSM harus juga memperoleh pembekalan dalam hal
Pengembangan Manajemen Organisasi sehingga mampu memberikan pembekalan di bidang
sama kepada masyarakat. Pihak LSM pendamping juga harus memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang cukup serta penguasaan aspek-aspek hukum dalam Pengembangan
63 |BNPP

Kinerja Lembaga dalam Bekerjasama, sehingga diharapkan lembaga ini akan mampu dalam
memberikan pendampingan pada masyarakat nantinya.
Tim Pendamping dengan kekuatannya dalam mendampingi masyarakat harus
memperoleh peningkatan kapasitas dan pemahaman berkaitan dengan Penguatan Kapasitas
Anak Angkat. Hal ini dilakukan agar pada saatnya kelompok masyarakat memiliki bapak
angkat akan dapat menjaga performa dan kapasitas usahanya.
Masyarakat sebagai sasaran utama program harus mendapatkan pengetahuan yang
mencukupi dari Tim Pendamping berkaitan dengan pengorganisasian program, penyusunan
skala prioritas dan proses pengambilan keputusan. Tim Pendamping harus memberikan
arahan serta bimbingan teknis kepada kelompok massa bagaimana prosesnya serta prasyarat
yang dikuasai sebelum kelompok tersebut menguasainya.
Dari sisi sektoral, kelompok masyarakat harus memiliki pemahaman dan keterampilan
yang mumpuni dalam kaitannya dengan sistem dan mekanisme (1) Pengembangan Sektor
Pertanian Sawah dan Perkebunan, (2) Pengembangan Sistem Pemasaran, dan (3)
pengembangan Kegiatan Logistik.
d) Tahapan Pengembangan Proposal
Tahapan ini merupakan tahapan yang menentukan dalam menjamin keberlanjutan dan
keberlangsungan lembaga yang dibina oleh masyarakat. Pemahaman akan penyusunan
proposal merupakan prasyarat utama dalam setiap pengajuan bantuan dan pengembangan
kerjasama dengan pihak lain. Bahkan pemahaman atas dokumen proposal ini sangat
dibutuhkan oleh setiap kelompok yang berkeinginan untuk maju dan berkembang.
Tim Pendamping harus mampu menjelaskan mekanisme dan jenis proposal yang
harus dikembangkan oleh kelompok. Hal ini menjadi penting untuk dilakukan, karena jenis
dan bentuk proposal akan berbeda bila kelompok berniat untuk mengajukannya pada setiap
lembaga lain yang berbeda.
Jenis dan muatan proposal untuk pihak perbankan akan berbeda dengan proposal yang akan
diserahkan kepada pihak Pemerintah (Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, maupun
Pemerintah Pusat). Proposal untuk lembaga swasta besar pun pasti akan berbeda dengan
proposal yang akan disampaikan kepada lembaga donor internasional.

64 |BNPP

Oleh karena itu, penguasaan materi oleh Tim Pendamping menjadi sebuah keharusan
bila akan melakukan pendampingan kelompok masyarakat yang bertumpu pada sektor-sektor
komoditas alami seperti pertanian dan perkebunan.
e) Tahapan Pendampingan
Tahapan ini merupakan tahapan yang terakhir dalam proses pendampingan pada
upaya pemberdayaan masyarakat.
Kelompok-kelompok masyarakat sebagai sasaran dan target utama dalam upaya
pemberdayaan masyarakat ini, harus mendapatkan pendampingan dari Tim Pendamping
dalam hal Pendampingan Peningkatan Mutu (produk dan layanan), Pendampingan
Pemeliharaan Kualitas (produk dan layanan), serta Pendampingan Penetrasi Pasar.

f) Peran Pemerintah Daerah dalam Lingkup Pemberdayaan Masyarakat


Pada bidang Penguatan Kelembagaan dan Pengembangan Partisipasi Masyarakat,
pemerintah daerah harus mengembangkan penetapan kebijakan daerah skala kabupaten, serta
membuat penetapan pedoman, norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penguatan
kelembagaan dan pengembangan partisipasi masyarakat skala kabupaten. Dalam penguatan
kelembagaan masyarakat, pemerintah daerah harus melakukan koordinasi dan fasilitasi
penguatan kelembagaan masyarakat skala kabupaten, serta melakukan penyelenggaraan
penguatan kelembagaan masyarakat skala kabupaten. Pemerintah juga harus melakukan
monitoring, evaluasi dan pelaporan penyelenggaraan penguatan kelembagaan masyarakat
skala kabupaten.
Dalam penyiapan masyarakat, pemerintah daerah harus melakukan koordinasi dan
fasilitasi pelaksanaan pelatihan masyarakat skala kabupaten, melakukan pelaksanaan
pelatihan masyarakat skala kabupaten, serta melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan
pelaksanaan pelatihan masyarakat skala kabupaten. Sedangkan dalam pengembangan
manajemen pembangunan partisipatif, pemerintah daerah harus melakukan koordinasi dan
fasilitasi pengembangan manajemen pembangunan partisipatif masyarakat skala kabupaten.
Pemerintah daerah juga harus melaksanakan pengembangan manajemen pembangunan
partisipatif masyarakat skala kabupaten, serta melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan
pelaksanaan pemantapan manajemen pembangunan partisipatif masyarakat skala kabupaten.
65 |BNPP

Dalam proses implementasi terdapat beberapa muatan kegiatan yang menjadi kewajiban bagi
pemerintah daerah dalam membangun pemberdayaan masyarakat, yaitu sebagai berikut:
1.

Pemberdayaan Ekonomi Penduduk Miskin

2.

Pengembangan Usaha Ekonomi Keluarga dan Kelompok Masyarakat

3.

Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Perdesaan

4.

Pengembangan Produksi dan Pemasaran Hasil Usaha Masyarakat

5.

Pengembangan Pertanian Pangan dan Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat

6.

Fasilitasi Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan

7.

Fasilitasi Pemanfaatan Lahan dan Pesisir Pedesaan

8.

Fasilitasi Prasarana dan Sarana Pedesaan

9.

Fasilitasi Pemetaan Kebutuhan dan Pengkajian Teknologi Tepat Guna

10.

Pemasyarakatan dan Kerjasama Teknologi Pedesaan

Ke 10 item di atas merupakan proses intervensi peran pemerintah daerah setempat guna
membangun masyarakat setempat. Pada ke 10 item tersebut pemerintah daerah harus
melakukan koordinasi, fasilitasi, implementasi, monitoring dan evaluasi atas masing-masing
kegiatan.
Secara regulatif lembaga BPP Provinsi dalam pengelolaan wilayah negara dan kawasan
perbatasan mempunyai wewenang:
a.

melaksanakan kebijakan Pemerintah dan menetapkan kebijakan lainnya dalam


rangka otonomi daerah dan tugas pembantuan;

b.

melakukan koordinasi pembangunan di Kawasan Perbatasan;

c.

melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar-pemerintah daerah dan/atau


antara pemerintah daerah dengan pihak ketiga; dan

d.

melakukan pengawasan pelaksanaan pembangunan Kawasan Perbatasan yang


dilaksanakan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Sedangkan BPP Kabupaten/Kota dalam pengelolaan wilayah negara dan kawasan perbatasan
mempunyai wewenang:
a.

melaksanakan kebijakan Pemerintah dan menetapkan kebijakan lainnya dalam


rangka otonomi daerah dan tugas pembantuan;

b.

menjaga dan memelihara tanda batas;

66 |BNPP

c.

melakukan koordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas pembangunan di Kawasan


Perbatasan di wilayahnya; dan

d.

melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar-pemerintah daerah dan/atau


antara pemerintah daerah dengan pihak ketiga.
BPP Provinsi mempunyai tugas menetapkan kebijakan program pembangunan

perbatasan, menetapkan rencana kebutuhan anggaran, mengoordinasikan pelaksanaan, dan


melaksanakan evaluasi dan pengawasan di provinsi. Sedangkan BPP Kabupaten/Kota
mempunyai tugas menetapkan kebijakan program pembangunan perbatasan, menetapkan
rencana kebutuhan anggaran, mengoordinasikan pelaksanaan, dan melaksanakan evaluasi dan
pengawasan di kabupaten/kota.
Sesuai dengan kewenangan yang melingkupinya, pemerintah harus dapat melakukan
koordinasi, fasilitasi, mengarahkan, memonitor dan mengevaluasi program dan kegiatan
secara keseluruhan.

g) Pembiayaan Program
Keseluruhan program pemberdayaan masyarakat ini harus dibiayai APBN melalui
mekanisme pembiayaan pusat melalui mekanisme Dekonsentrasi untuk kegiatan yang
dikelola BPP Provinsi dan atau melalui mekanisme Tugas Pembantuan untuk kegiatan yang
dikelola oleh BPP Provinsi dan atau BPP Kabupaten/Kota.
Bila inisiatif datang dari pemerintah Provinsi maka, pembiayaan dapat dilakukan
dengan sumber dana APBD dengan mekanisme Tugas Pembantuan dengan adanya dana
pendampingan dari masing-masing kabupaten/kota.
Bantuan dana dari APBN atau APBD pada dasarnya merupakan dana stimulan awal
yang digulirkan dengan sistem penjaringan sistem dengan harapan pada suatu titik nanti
ketika sistem ekonomi masyarakat sudah dapat bergulir dan berkembang, sistem dapat
mengakomodasi injeksi investasi dana dari sektor swasta.
1.4
1.

Kesimpulan
Pola pertumbuhan penduduk di Kecamatan Paloh dan dengan minimnya
perkembangan di sektor non pertanian-perkebunan di sekitar Kecamatan Paloh,
perkembangan pola kebutuhan akan sektor-sektor lain pun diperkirakan masih statis
dan tidaklah tinggi, kecuali ada injeksi kegiatan yang luar biasa dari luar.

67 |BNPP

2.

Pertanian tanaman pangan berupa tanaman padi yang dihasilkan di Kecamatan Paloh
berasal dari padi sawah. Di Kecamatan Paloh tidak terdapat produksi padi yang
berasal dari penanaman di ladang. Produktivitas ini rendah dibandingkan rata-rata
produktivitas yang ada di sentra produksi beras.

3.

Potensi sumberdaya lingkungan yang ada di Kecamatan Paloh terdiri atas pertanian,
peternakan, perkebunan, perikanan, kehutanan dan pertambangan. Pertanian tanaman
pangan berupa tanaman padi yang dihasilkan di Kecamatan Paloh berasal dari padi
sawah. Luas panen padi mencapai puncaknya di tahun 2007. Rata-rata produksi
perhektar dalam empat tahun terakhir adalah 3,32 ton/hektar, masih rendah
dibandingkan rata-rata produktivitas yang ada di sentra produksi beras. Tanaman
palawija yang diusahakan adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai,
dan kacang hijau.

4.

Tanaman perkebunan yang diusahakan merupakan tanaman perkebunan rakyat terdiri


dari tanaman karet, kelapa, lada, kopi dan sawit. Tanaman yang sudah berproduksi
adalah tanaman karet, kelapa, kopi dan lada. Karet merupakan tanaman yang banyak
ditanam oleh masyarakat di Kecamatan Paloh. Kelapa sawit merupakan tanaman yang
mulai diminati oleh para petani namun belum menghasilkan. Tanaman karet dan
kelapa dalam merupakan tanaman yang dominan ditanam petani di Kecamatan Paloh,
dimana luas tanaman terus menunjukkan adanya peningkatan.

5.

Pengembangan tanaman pangan lahan basah (sawah) tidak sesuai saat ini dengan
faktor pembatas adalah tingkat kesuburan tanah, genangan air dan ketebalan gambut.
Demikian juga untuk pengembangan tanaman pangan lahan kering pada umumnya
tidak sesuai saat ini dengan faktor pembatas kesuburan tanah, pH tanah dan genangan
air dan ketebalan gambut. Oleh karena itu untuk dapat meningkatkan produksi padi di
Kecamatan Paloh dapat dilakukan dengan cara intensifikasi pada eksisting lahan
sawah yang ada melalui penggunaan bibit unggul, pupuk berimbang, proteksi
terhadap hama dan penyakit tanaman. Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara
ekstensifikasi

yaitu pengembangan lahan yang berpotensi untuk sawah dengan

pencetakan sawah baru pada areal yang memiliki kesesuaian lahan untuk sawah.
6.

Untuk perkebunan, tingkat kesesuaian lahan adalah Sesuai Marginal dengan faktor
pembatas kesuburan tanah dan pH tanah, genangan air dan ketebalan gambut.

68 |BNPP

Sementara untuk perikanan air payau (tambak) dan perikanan darat, memiliki
kesesuaian lahan sesuai marginal mencapai tingkat cukup sesuai, meskipun demikian
masih diperlukan pengkajian mendalam untuk melihat sifat fisik dan kimia air serta
pola dan karakteristik

sistem air (hidrologi) yang ada. Melalui pemupukan dan

pengapuran (tingkat input rendah), dan pembuatan saluran drainase (tingkat input
tinggi) lahan dengan kesesuaian lahan Sesuai Marginal untuk tanaman perkebunan
dapat ditingkatkan menjadi kelas Cukup Sesuai.
7.

Komoditas unggulan yang akan dikembangkan adalah karet, kelapa dalam dan lada.
Selain itu juga akan dikembangkan komoditas potensial kelapa sawit. Komoditaskomoditas tersebut telah banyak diusahakan oleh masyarakat Paloh.

8.

Kebijakan pengembangan KAWASAN perkebunan

rakyat

diarahkan

untuk

meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat melalui pengembangan kawasan


dengan pengelolaan sumberdaya secara optimal melalui sistem agribisnis. Dengan
demikian diharapkan subsektor Perkebunan mampu memenuhi sendiri kebutuhan
dalam negeri dan tidak lagi bergantung pada negara lain, bahkan sekaligus dapat
bersaing dengan produk perkebunan dari luar negeri.
9.

Bila tujuan pengembangan perkebunan itu adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan
masyarakat, maka pola yang akan dikembangkan adalah kawasan perkebunan rakyat
Murni. Dengan demikian komoditas yang akan dipilih adalah tanaman pangan dengan
berbagai jenisnya. Bila tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan,
maka komoditas yang akan dipilih adalah tanaman obat-obatan, dengan pola kawasan
perkebunan murni. Bila tujuan yang menyangkut kepentingan masyarakat itu lebih
dari satu, maka komoditas yang dipilih lebih dari satu macam tanaman.

10. Pengembangan kawasan Perkebunan yang dipadu dengan sektor atau subsektor lain
ini perlu digalakkan untuk lebih mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah yang
berbasis pertanian atau agribisnis. Daerah yang berpotensi untuk dikembangkan
menjadi kawasan terpadu setidaknya harus memenuhi dua syarat.
11. Dalam pengembangan kawasan perkebunan rakyat, diperlukan kelembagaan
Perkebunan yang kuat, yang dapat dibina dengan memperkuat kelembagaan ekonomi
petani Perkebunan di pedesaan. Untuk itu diperlukan pendekatan yang efektif agar
para petani kebun dapat memanfaatkan program pembangunan yang ada secara
69 |BNPP

berkelanjutan, melalui penumbuhan rasa memiliki, partisipasi, dan pengembangan


kreativitas, yang disertai dukungan masyarakat lainnya sehingga dapat berkembang di
pedesaan.
12. Pengembangan usaha komoditas unggulan sangat dipengaruhi oleh input atau sarana
produksi, sarana produksi merupakan faktor penentu keberhasilan atau produksi usaha
tani.
13. Berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan di Kecamatan Paloh dikenali
bahwa daerah tersebut yang diperkirakan cocok untuk kegiatan perkebunan namun
sifatnya marjinal. Untuk bisa dilakukan kegiatan perkebunan yang produktif maka
lahan tersebut harus diperlakukan secara khusus baik dari segi teknis pengairan
maupun dari penggunaan pupuk secara intensif.
14. Model Pemberdayaan Masyarakat yang dikembangkan untuk membantu percepatan
pambangunan di daerah perbatasan Kecamatan Paloh pada dasarnya adalah
pengembangan pendidikan dan kemampuan untuk menjadi masyarakat yang mandiri
agar mampu mengolah alam dan lingkungan hidupnya secara lebih baik. Dengan
demikian diharapkan perkembangan masyarakat di daerah perbatasan akan dapat maju
dan mampu membangun wilayah perbatasan dengan potensi wilayah yang dimilikinya
melalui mekanisme pendampingan masyarakat sejak awal hingga akhir dengan
semangat penguatan kapasitas baik pada masyarakat yang didampingi maupun bagi
pihak pendamping itu sendiri. Secara umum seluruh proses pemberdayaan masyarakat
perbatasan dilakukan dalam lima proses utama, yaitu tahapan mobilisasi, tahapan awal
dan sosialisasi, tahapan capacity building, tahapan pengembangan proposal, dan
tahapan pendampingan masyarakat.
15. Pada bidang pemberdayaan masyarakat ini, pemerintah daerah harus mengembangkan
penetapan

kebijakan

daerah

skala

kabupaten,

serta

membuat

penetapan

pedoman,norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penguatan kelembagaan dan


pengembangan partisipasi masyarakat skala kabupaten. Pemerintah daerah harus
melakukan koordinasi dan fasilitasi juga harus melakukan monitoring, evaluasi dan
pelaporan penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat.

70 |BNPP

Dalam proses implementasi terdapat beberapa muatan kegiatan yang menjadi


kewajiban bagi pemerintah daerah dalam membangun pemberdayaan masyarakat,
yaitu sebagai berikut:
a.

Pemberdayaan Ekonomi Penduduk Miskin

b.

Pengembangan Usaha Ekonomi Keluarga dan Kelompok Masyarakat

c.

Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Perdesaan

d.

Pengembangan Produksi dan Pemasaran Hasil Usaha Masyarakat

e.

Pengembangan Pertanian Pangan dan Peningkatan Ketahanan Pangan


Masyarakat

f.

Fasilitasi Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan

g.

Fasilitasi Pemanfaatan Lahan dan Pesisir Pedesaan

h.

Fasilitasi Prasarana dan Sarana Pedesaan

i.

Fasilitasi Pemetaan Kebutuhan dan Pengkajian Teknologi Tepat Guna

j.

Pemasyarakatan dan Kerjasama Teknologi Pedesaan

16. Keseluruhan program pemberdayaan masyarakat ini harus dibiayai APBN melalui
mekanisme pembiayaan pusat melalui mekanisme Dekonsentrasi untuk kegiatan yang
dikelola BPP Provinsi dan atau melalui mekanisme Tugas Pembantuan untuk kegiatan
yang dikelola oleh BPP Provinsi dan atau BPP Kabupaten/Kota. Bila inisiatif datang
dari pemerintah Provinsi maka, pembiayaan dapat dilakukan dengan sumber dana
APBD dengan mekanisme Tugas Pembantuan dengan adanya dana pendampingan
dari masing-masing kabupaten/kota.
Bantuan dana dari APBN atau APBD pada dasarnya merupakan dana stimulan awal
yang digulirkan dengan sistem penjaringan sistem dengan harapan pada suatu titik
nanti ketika sistem ekonomi masyarakat sudah dapat bergulir dan berkembang, sistem
dapat mengakomodasi injeksi investasi dana dari sektor swasta.

71 |BNPP

72 |BNPP