Anda di halaman 1dari 33

a.

Ketidakpastian (uncertainty) seperti tugas, rutinitas, repetisi, dan

b.

faktor-faktor eksternal lainnya.


Teknologi dan saling ketergantungan (technology and interdependence)

seperti proses produksi, produk masal, dan lainnya.


c.
Industri, perusahaan, dan unit variabel seperti kendala masuk ke
dalam industri, rasio konsentrasi, dan ukuran perusahaan.
d.
Strategi kompetitif (competitive strategy) seperti penggunaan biaya
e.

rendah atau keunikan.


Faktor-faktor yang

dapat

diamati

(observability

factor)

seperti

desentralisasi, sentralisasi, budaya organisasi dan lainnya


Chenhall dan Morris meneliti tentang hubungan antara variabel
kontinjensi ketidakpastian lingkungan dan ketergantungan organisasi
terhadap hubungan antara struktur organisasi dan persepsi atas manfaat
sistem akuntansi

REFRENSI
Ikhsan Lubis, Arfan. 2011. Akuntansi Keperilakuan Edisi 2. Jakarta: Salemba
Empat.

KONSEP DAN PERAN PERILAKU ORGANISASI


Dosen :
Ibu Mila Fitrah, SE., M. AK
Program Studi : S1 AKUNTANSI
Disusun Oleh Kelompok 2 :
Mumtaz Sausan Y.
Deliana Astuti
Wahyu Fitriani
Siti Mutmainah
Jusriani Tumanggor
Abdur Rahman

(2012351771)
(2012351773)
(2012351784)
(2012351794)
(2012351795)
(2012351806)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


AHMAD DAHLAN JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyusun makalah ini dengan judul Konsep dan PeranPerilaku Organisasi
yang berisi tentang Pengertian, Konsep dan Peran Perilaku Organisasi dalam suatu
perusahaan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis sehingga makalah ini dapat
diselesaikan. Rasa hormat dan ucapan terima kasih yang setulusnya penulis sampaikan
kepada :
1.

Ibu Mila Fitrah, SE., M. AK selaku dosen mata kuliah Akuntansi Perilaku yang telah

membantu dan memberikan penjelasan mengenai perilaku organisasi.


2. Kepada orang tua penulis yang telah memberikan dukungan moril maupun materil yang
sangat diharapkan penulis dalam penyusunan makalah ini.
3. Kepada rekan-rekan yang memberikan dukungan, sumbangan saran dan memotivasi kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
4. Perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ahmad Dahlan yang telah menyediakan
literatur-literatur dan referensi yang berhubungan dengan materi pembahasan dalam makalah
ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan yang bersifat elementer. Oleh karena itu, penulis mohon maaf jika terdapat
kesalahan-kesalahan dalam makalah ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua yang
membaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Tangerang Selatan,

September 2015

Penulis
i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
BAB I
1.1
1.2
1.3

ii
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perumusan Masalah
Tujuan
BAB II

1
2
2

LANDASAN TEORI

BAB III

2.1

Pengertian Perilaku Organisasi

2.2

Pengertian Organisasi

2.3

Tujuan Organisasi

2.4

Target Organisasi

PEMBAHASAN

3.1

Dimensi-dimensi Dalam Berorganisasi

3.2

Kerangka Dasar Konsep Perilaku Organisasi

3.3

Peran yang terdapat di dalam Organisasi

11

3.4

Perbedaan Perilaku Organisasi dengan Ilmu Perilaku Lainnya

3.5

Studi Kasus Perilaku Organisasi pada Perusahaan Enron

BAB IV

KESIMPULAN

12
13
17

DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan yang
digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Tujuan
informasi tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih tindakan yang paling baik
untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi. Namun,
pemilihan dan penetapan suatu keputusan bisnis juga melibatkan aspek-aspek keperilakuan
dari para pengambil keputusan. Dengan demikian, akuntansi tidak dapat dilepaskan dari
aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan informasi yang dapat dihasilkan oleh
akuntansi.
Studi perilaku organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan
konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Manusia adalah salah satu faktor penting
dalam organisasi. Kinerja organisasi sangat tergantung pada kinerja individu yang ada
didalamnya. Dalam seluruh pekerjaan, anggotalah yang menentukan keberhasilannya,
sehingga berbagai upaya meningkatkan produktivitas organisasi harus dimulai dari perbaikan
produktivitas anggota. Oleh karena itu, pemahaman tentang perilaku organisasi menjadi
sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerjanya. Organisasi merupakan suatu sistem
aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Dengan demikian, akuntansi tidak dapat dilepaskan dari aspek perilaku manusia serta
kebutuhan organisasi akan informasi akuntansi. Kesempurnaan teknis tidak pernah mampu
mencegah orang untuk mengetahui bahwa tujuan jasa akuntansi bukan hanya sekedar teknik
yang didasarkan pada efektivitas dari segala prosedur akuntansi, melainkan bergantung pada
bagaimana perilaku orang-orang di dalam organisasi itu sendiri.

1
1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah ditulis diatas, maka untuk
memudahkan dan memperjelas dalam makalah ini, penulis akan merumuskan masalahmasalahnya sebagai berikut :
a. Apa pengertian perilaku organisasi ?
b. Apa pengertian organisasi ?

c. Dimensi apa saja yang terdapat di dalam organisasi ?


d. Konsep apa saja dan peran seperti apa dalam perilaku organisasi ?
1.3

Tujuan
Berdasarkan masalah diatas maka tujuan pembuatan makalah ini antara lain sebagai
berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian perilaku organisasi


2. Untuk mengetahui pengertian organisasi
3. Untuk mengetahui dimensi yang terdapat di dalam organisasi
4. Untuk mengetahui konsep dan peran dalam perilaku organisasi

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1

Pengertian Perilaku Organisasi

Perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyelidiki bagaimana individu-individu,


kelompok-kelompok serta struktur memengaruhi dan dipengaruhi oleh perilaku dalam
organisasi. Perilaku mengacu pada apa yang ingin dilakukan oleh orang dalam organisasi,
bagaimana orang-orang tersebut dibentuk, dan apa sikap mereka.
2.2

Pengertian Organisasi
Organisasi adalah pengaturan yang disengaja terhadap sejumlah orang untuk

mencapai tujuan tertentu. Pertama, tiap organisasi memiliki tujuan yang khas. Tujuan itu
biasanya dinyatakan dalam sasaran atau sekelompok sasaran yang oleh organisasi tersebut
diharapkan untuk dicapai. Kedua, tiap organisasi terdiri atas orang-orang. Seseorang yang
bekerja sendirian bukanlah suatu organisasi, dan diperlukan lebih dari satu orang agar dapat
melakukan pekerjaan yang diperlukan oleh organisasi untuk mencapai sasarannya. Ketiga,
semua organisasi menyusun struktur yang disengaja sehingga anggotanya dapat melakukan
pekerjaan mereka.
2.3

Tujuan Organisasi
Tujuan organisasi merupakan hasil terukur yang harus dicapai. Tujuan tersebut

menggambarkan hasil yang harus dicapai dalam jangka pendek guna mewujudkan visi jangka
panjang. Tujuan tersebut langsung diturunkan dari faktor penentu keberhasilan agar
menciptakan terobosan yang realistis.
2.4

Target Organisasi
Target merupakan tujuan kuantitatif atau tolak ukur kinerja. Target merupakan nilai

yang ingin dicapai oleh organisasi, dan perwujudannya dapat diukur dengan menggunakan
tolak ukur kinerja.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Dimensi-dimensi Dalam Berorganisasi

Teori Peran

Susunan atau tanggapan perilaku yang kita harapkan dan kehendaki disebut sebagai
peranan sosial. Peranan dapat digunakan secara sederhana sebagai bagian dari orang-orang
yang saling berinteraksi.
Peranan sosial menggambarkan hak, tugas kewajiban dan perilaku yang sesuai dengan
orang yang memegang posisi tertentu dalam konteks sosial tertentu. Dalam kelompok formal
suatu organisasi, peran digambarkan secara eksplisit dalam manual organisasi dimana peran
tersebut umumnya diatur berdasarkan hukum. Peran membedakan perilaku dari orang yang
menduduki posisi organisasi tertentu dan berfungsi mempersatukan kelompok dengan
menyediakan spesialisasi dan fungsi koordinasi. Dalam organisasi bisnis pembagian kerja dan
peran adalah sesuatu yang rumit. Suatu aspek penting dari teori peran adalah identitas dan
perilaku dianugerahkan secara sosial pada dukungan sosial.
Struktur Sosial
Studi keperilakuan manusia yang sistematis bergantung pada dua fakta. Pertama,
orang-orang bertindak secara teratur dengan pila berulang. Kedua, orang-orang tidak
mengisolasikan bentuk, tetapi mereka saling berhubungan.
Untuk mempelajari sejumlah aturan dalam perilaku manusia, konsep masyarakat dan
budaya perlu dipertimbangkan. Masyarakat mungkin digambarkan sebagai penjumlahan dari
total hubungan manusia. Konsep masyarakat menyiratkan suatu kesinambungan dan
kompleksitas dari hubungan kelembagaan dan hubungan antar pribadi.

4
Budaya
Budaya merupakan suatu sudut pandang yang pada saat yang bersamaan dijadikan
jalan hidup oleh suatu masyarakat. Tidak terdapat masyarakat suatu budaya dan budaya tidak
eksis diluar masyarakat. Jika demikian, maka budaya atau jalan hidup meliputi sistem
kepercayaan umum yang sesuai dengan gaya dan perilaku atau pada pemikiran dan
pengetahuan teknis yang diharapkan, serta menentukan cara melakukan sesuatu. Budaya
mempengaruhi pola teladan perilaku manusia yang teratur karena budaya menggambarkan
perilaku yang sesuai untuk situasi tertentu.

Budaya telah didefinisikan dengan berbagai cara, tetapi sampai sekarang belum dapat
ditentukan definisinya secara pasti. Budaya merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang
mengarahkan perilaku anggota organisasi.
Ada dua jenis praktik organisasi yang dilakukan dan menghasilkan nilai-nilai budaya.
Kedua jenis praktik tersebut adalah proses seleksi dan proses sosialisasi. Proses seleksi terdiri
dari dua komponen, yaitu persekutuan dan seleksi individu.
Untuk memahami perbedaan antar-bangsa Hofstede menggunakan kerangka berpikir
yang dinamakan dimensi budaya nasional. Budaya nasional didefinisikan sebagai nilai-nilai
kepercayaan dan asumsi yang dipelajari sejak masa anak-anak yang membedakan antara satu
kelompok dengan kelompok lain. Menurut Hofstede (1980 1991), ada empat dimensi
budaya nasional, yaitu :
1.

Jarak Kekuasaan (Power Distance)


Jarak kekuasaan yaitu sejauh apa orang percaya bahwa kekuasaan dan status
didistribusikan secara tidak merata dan bagaimana orang menerima distribusi kekuasaan yang

2.

tidak merata tersebut sebagai cara yang tepat untuk mengorganisasikan sistem sosial.
Penghindaran Ketidakpastian (Uncertain Avoidance)
Penghindaran ketidakpastian yaitu sejauh apa orang merasa terancam dengan keadaan
yang tidak tentu (tidak pasti) atau tidak diketahui.

5
3.

Maskulinitas dan Feminitas (Masculinity And Femininity)


Maskulinitas yaitu suatu situasi yang ditandai dengan nilai-nilai yang dominan dalam
masyarakat yang lebih menekankan dan mementingkan uang, harta benda, atau materi.
Sementara itu, feminitas adalah suatu situasi yang menjelaskan nilai-nilai yang dominan
dalam masyarakat, yang lebih menekanan pada pentingnya hubungan antar manusia,

4.

kepedulian orang lain dan ketentraman hidup.


Individualisme dan Kolektivisme (Individualism and Collectivism)
Individualisme adalah situasi yang menjelaskan orang-orang dalam suatu masyarakat
yang cenderung memperhatikan dirinya sendiri dan keluarga dekatnya saja. Sementara,
kolektivisme adalah situasi yang menjelaskan orang-orang dalam masyaraat yang cenderung
merasa memiliki ikatan kuat dengan satu kelompok berbeda dengan kelompok lainnya. Orang
dalam suatu kelompok cenderung mempedulikan dan melindungi anggotanya, dan
mengharapkan kesetiaan para anggotanya terhadap kelompok tersebut.

Keempat dimensi budaya nasional tersebut mengandung nilai-nilai tertentu. Artinya


budaya nasional suatu bangsa akan memengaruhi pandangan, sikap, dan kemudian perilaku
dari bangsa tersebut.
3.2

Kerangka Dasar Konsep Perilaku Organisasi


Kerangka dasar pada perilaku organisasi adalah terletak pada dua komponen, yaitu :

Komponen yang pertama adalah individu-individu yang berperilaku, baik itu perilaku secara
individu, perilaku kelompok, dan perilaku organisasi.

Komponen yang kedua adalah organisasi formal sebagai wadah dari perilaku itu, yaitu
sebagai sarana bagi individu dalam bermasyarakat ditandai dengan keterlibatannya pada
suatu organisasi dan menjalankan perannya dalam organisasi tersebut.

6
Perubahan pada Tingkat Individu
Pada tingkat individu, manajer dan karyawan perlu mempelajari bagaimana
cara bekerja dengan cara bekerja dengan orang-orang yang mungkin memiliki perbedaan
dengan diri mereka sendiri dalam berbagai dimensi. Individu juga memiliki perbedaan tingkat
dari kepuasan kerja dan motivasi dan ini mempengaruhi bagaimana cara manajer mengatur
karyawannya.
1.

Perbedaan Individu
Orang-orang memasuki kelompok dan organisasi dengan karakteristik tertentu seperti
karakteristik kepribadian, persepsi, nilai dan sikap yang akan mempengaruhi perilaku mereka
sendiri. Karakteristik ini sebenarnya tetap utuh ketika individu menggabungkan diri ke suatu
organisasi, tetapi terdapat kemungkinan bahwa organisasi dapat menimbulkan perubahan
terhadap diri individu tersebut, dimana perubahan itu berdampak sangat nyata terhadap

2.

perilaku individu yang bersangkutan.


Motivasi
Secara umum, motivasi dapat diartikan sebagai sesuatu yang ada pada diri seseorang
yang dapat mendorong, mengaktifkan, menggerakkan dan mengarahkan perilaku seseorang.

Motivasi yang ada didalam manusia terdorong karena :


Keinginan untuk hidup
Keinginan untuk memiliki sesuatu
Keinginan akan kekuasaan
Keinginan akan adanya pengakuan

3.

Pemberdayaan
Pemberdayaan berarti menajer sedang menempatkan karyawan yang berwenang
terhadap apa yang mereka lakukan. Terdapat beberapa faktor yang mendorong organisasi
dalam melaksanakan pemberdayaan, diantaranya :

Tuntutan pelanggan yang semakin tinggi terhadap kualitas produk maupun layanan
Jaminan keamanan
Perlindungan konsumen
Persaingan dalam efisiensi dan inovasi produk
7
Penggunaan teknologi baru yang canggih
Peraturan pemerintah, dan lain-lain
Dibawah ini terdapat kesamaan tujuan pemberdayaan dalam organisasi, yaitu :
1)

Meningkatkan motivasi guna mengurangi kesalahan dan mendorong karyawan untuk

bertanggung jawab terhadap tindakannya.


2) Meningkatkan dan mengembangkan kreativitas dan inovasi.
3) Mendorong peningkatan kualitas produk dan jasa.
4) Meningkatkan kepuasan pelanggan dengan mendekatkan karyawan ke pelanggan sehingga
5)
6)

karyawan dapat melayani dengan lebih baik.


Meningkatkan kesetiaan dan pada saat yang sama mengurangi tingkat kemangkiran.
Mendorong kerja sama yang lebih baik dengan sesama rekan kerja dalam meningkatkan

7)

pengawasan dan produktivitas.


Mengurangi tugas pengawasan (pengendalian) dari manajemen menengah dalam pekerjaan
operasional sehari-hari sehingga para manajer lebih mempunyai waktu dan perhatian

8)

terhadap masalah-masalah yang lebih besar.


Menyiapkan karyawan untuk berkembang dan menghadapi perubahan, suksesi dan tuntutan

persaingan.
9) Meningkatkan daya saing bisnis.
Untuk melaksanakan pemberdayaan tersebut, maka organisasi biasanya menyusun dan
menentukan visi dan misi organisasi, serta melaksanakan perencanaan strategis dan berbagai
pelatihan yang berkaitan dengan pemberdayaan.
4.

Berperilaku etis
Etika merupakan seperangkat aturan/norma/pedoman yang mengatur perilaku manusia,
baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan, yang dianut oleh sekelompok
atau segolongan manusia/masyarakat/profesi.
Etika juga sebanding dengan moral, dimana keduanya merupakan filsafat tentang adat
kebiasaan. Jadi, secara umum, etika atau moral adalah filsafat, ilmu, atau disiplin tentang

tingkah laku manusia atau tindakan manusia. Etika sebenarnya meliputi suatu proses
penentuan yang kompleks tentang apa yang
8
harus dilakukan seseorang dalam situasi tertentu. Proses itu sendiri meliputi penyeimbangan
dari berbagai pertimbangan dari sisi dalam (inier) dan sisi luar (outner) yang didasari oleh
sifat dari kondisi unik, baik melalui pengalaman maupun pembelajaran setiap individu.
Perubahan pada Tingkat Kelompok
Perilaku dari orang-orang dalam kelompok lebih dari jumlah total dari seluruh
tindakan-tindakan individu dengan cara mereka sendiri. Oleh karena itu, langkah berikutnya
dalam mengembangkan suatu pemahaman dari perilaku organisasi adalah studi terhadap
perilaku kelompok.
1. Bekerja dengan yang lainnya
Banyak keberhasilan dalam setiap pekerjaan melibatkan pengembangan hubungan atau
keterampilan antar pribadi yang baik dari orang-orang didalamnya. Keterampilanketerampilan dasar yang membentuk kekuatan-kekuatan kerja yang berkualitas tinggi
melibatkan komunikasi, pemikiran, pembelajaran, dan bekerja dengan yang lainnya.
2. Perbedaan kekuatan kerja
Organisasi mencoba untuk mengakomodasi kelompok berbeda dari orang-orang dengan
mengakui perbedaan gaya hidup mereka, kebutuhan keluarga, dan gaya kerja.
Perubahan pada Tingkat Organisasi
Ada banyak faktor lain yang saling berinteraksi pada batasan perilaku individu dan
kelompok,antara lain :
1. Produktivitas
Produktivitas menggambarkan suatu keprihatinan terhadap efektivitas (mencapai
tujuan) dan efisiensi (memperhatikan biaya).
2. Pengembangan efektivitas karyawan
Salah satu tantangan utama yang dihadapi organisasi pada 20 abad pertama adalah
bagaimana cara melibatkan karyawan secara efektif sehingga mereka berkomitmen terhadap
organisasi.

9
3. Menempatkan orang pertama

Seorang manajer menekankan kebutuhan terhadap penempatan orang pertama dalam


mempertimbangkan tujuan organisasi dan saran strategis orang-orang pertama tidak hanya
menghasilkan kekuatan dalam pendirian kerja, melainkan juga berpengaruh signifikan
terhadap laba.
4. Mengelola dan bekerja dalam dunia multikultural
Satu implikasi dari semua perubahan yang terjadi adalah Anda dapat menemukan
sendiri pengelolaan atau pekerjaan pada satu lingkungan multikultural.
5. Fleksibilitas
Fleksibilitas dalam manajemen sumber daya manusia dapat diartikan perusahaan
memerlukan pengembangan sistem desentralisasi yang mengutamakan pelimpahan
wewenang dan tanggung jawab secara berjenjang. Fleksibilitas juga menyangkut penggunaan
tenaga kerja dengan mengurangi kecenderungan mengangkat pekerja reguler (pekerja tetap).
Pengangkatan sebaiknya lebih difokuskan pada penggunaan tenaga kerja temporer.
Karakteristik Utama Bidang Perilaku Organisasi
Karakteristik
Tiga tingkatan analisis

Pusat Perhatian
Individu, kelompok, dan organisasi adalah sama
pentingnya untuk penelaahan dan pemahaman

Sifat dasar interdisipliner

perilaku dalam organisasi.


Prinsip, konsep, dan model ilmu perilaku yang
dipakai yaitu psikologi, sosiologi, dan antropologi

Orientasi humanistik

budaya.
Penekanan atas pentingnya sikap dan persepsi dalam

Orientasi prestasi kerja

pemahaman perilaku di dalam organisasi.


Perhatian yang berlanjut diberikan atas pencarian
cara-cara meningkatkan, memelihara, dan mendorong
prestasi kerja yang efektif.
10

Pengakuan adanya kekuatan Pengidentifikasian dan pengamatan berlanjut atas


lingkungan luar

kekuatan

lingkungan

luar

penting

untuk

Penggunaan metode ilmiah

meningkatkan organisasi.
Jika mungkin, metode ilmiah digunakan untuk

Orientasi aplikasi

melengkapi pengalaman dan intuisi.


Pengetahuan yang dikembangkan dalam perilaku
organisasi akan sangat permanfaat bagi manajer

praktikus jika mereka dihadapkan kepada masalah


individu, kelompok dan organisasi.
3.3

Keterlibatan Peran Manager dalam Organisasi


Manajer adalah seseorang yang bekerja dengan dan melalui orang lain dimana dapat

mengoordinasikan kegiatan-kegiatan pekerjaan guna mencapai sebuah tujuan organisasi


tersebut. Hal ini dapat berarti mengoordinasikan pekerjaan dari suatu kelompok atau
departemen, atau dapat berarti menyelia satu orang saja. Pengoordinasian tersebut dapat juga
mencakup pengoordinasikan kegiatan-kegiatan pekerjaan suatu tim yang terdiri atas orangorang dari beberapa departemen berbeda atau bahkan orang-orang dari organisasi berbeda,
seperti karyawan temporer atau karyawan yang bekerja di pemasok dari organisasi tersebut.
Keterlibatan peran manajer dalam suatu organisasi terletak pada kebutuhan akan
koordinasi dan kendali. Untuk tujuan perbaikan kinerja, peranan yang dimainkan oleh
manajer sangatlah besar. Perbaikan kinerja secara terus-menerus dapat dilakukan dengan
komunikasi yang harmonis. Dengan keterlibatan manajer dalam suatu organisasi karyawan
percaya seorang manajer bisa menjadi pendorong bagi penyelesaian masalah yang dihadapi
oleh suatu organisasi, baik itu organisasi bisnis, departemen (divisi) tertentu dalam sebuah
perusahaan tersebut.
Secara umum, tingkatan manajer diklasifikasikan sebagai manajer tingkat bawah,
tingkat menengah, dan tingkat atas.

Manajer Tingkat Bawah ( Lower Manajement)


Manajer ini merupakan orang yang menduduki posisi di tingkatan paling bawah dan
mengelola pekerjaan individu non-manajerial yang terlibat dalam
11
produksi atau penciptaan produk organisasi. Mereka bisa disebut penyelia, tetapi bisa disebut

manajer lini, manajer kantor, atau bahkan mandor.


Manajer Tingkat Menengah ( Midle Manajement )
Bisa mencakup semua tingkatan manajemen antara tingkatan paling rendah dengan tingkat
puncak pada organisasi tertentu. Dan bisa mengelola pekerjaan para manajer lini pertama dan
mempunyai sebutan, seperti kepala bagian atau kepala biro, pemimpin proyek, manajer

pabrik, atau manajer divisi.


Manajer Tingkat Atas ( Top Manajement )

Manajer yang menduduki posisi ini biasanya disebut manajemen puncak, yang bertanggung
jawab atas pengambilan keputusan yang mencakup seluruh organisasi dan menyusun rencana
serta sasaran yang akan mempengaruhi keseluruhan organisasi itu.
3.4

Perbedaan Perilaku Organisasi dengan Ilmu Perilaku Lainnya


Perilaku Organisasi (PO) adalah ilmu terapan, sehingga ilmu perilaku organisasi tidak

terlepas dari pengaruh ilmu perilaku sehingga berkontribusi dengan beberapa ilmu perilaku
lain, diantaranya :
Perbedaan antara perilaku organisasi dengan psikologi industri atau organisasi, yaitu perilaku
organisasi mempelajari perilaku manusia dengan tidak diawali pada psikologi manusia yaitu
dengan menggunakan multidisiplin, sedangkan psikologi industri mempelajari perilaku
manusia dengan diawali dari psikologi manusia itu sendiri. Namun, keduanya sama-sama
mempelajari perilaku manusia.
Perbedaan antara perilaku organisasi dengan psikologi dengan teori organisasi terletak pada dua
perbedaan diantaranya, yaitu analisis perilaku organisasi terpusat pada variabel tak terbatas.
Perilaku organisasi mempelajari tingkah laku individu dan kelompok di dalam suatu
organisasi dan penerapan dari lmu pengetahuan tertentu. Teori organisasi adalah studi tentang
susunan, proses, dan hasil organisasi itu sendiri.
Perbedaan antara perilaku organisasi dengan personnel dan human resources adalah bahwa
perilaku organisasi lebih menekankan pada orientasi konsep, berdasarkan teori, sedangkan
personnel dan human resources menekankan pada
12
teknik dan teknologi. Variabel-variabel tak bebas, seperti misalnya tingkah laku dan reaksireaksi yang efektif dalam organisasi, yaitu pada pengelolaan sumber daya manusia itu sendiri
agar berkualitas. Keduanya tetap mengacu pada pengembangan dan kemajuan motivasi serta
kualitas dari, individu, kelompok dan organisasi agar terjadi perubahan yang signifikan.
3.5

Studi Kasus Perilaku Organisasi pada Perusahaan Enron

Profil Perusahaan
Enron Corporation adalah sebuah perusahaan energi Amerika yang
berbasis di Houston, Texas, Amerika Serikat. Perusahaan ini didirikan pada
tahun 1930 dengan nama Northern Natural Gas Company, sebuah
konsorsium dari Northern American Power and Light Company, Lone Star Gas

Company, dan United Lights and Railways Corporation. Kepemilikan konsorsium


ini secara bertahap dibubarkan antara 1941 dan 1947 melalui penawaran
saham kepada publik. Pada tahun 1979, Northern Natural Gas mengorganisir
dirinya sebagai sebuah holding company, InterNorth yang menggantikan
Northern Natural Gas di Pasar Saham New York (New York Stock Exchange).
Pada tahun 1985 oleh Kenneth Lay perusahaan ini berubah nama
menjadi Enron Corporation. Enron Corporation dipimpin oleh Stephen F.
Cooper selaku CEO dan CRO sementara, dengan Ketua John J. Ray, III dan
Wakil Komisaris Clifford Baxter. Majalah Fortune menyebut Enron sebagai
Perusahaan Amerika yang Paling Inovatif selama enam tahun berturutturut. Enron Corporation menjadi salah satu dari perusahaan besar yang
paling berpengaruh di Amerika Serikat.
Kasus Enron Corporation
Pada

akhir

tahun

2001,

Enron

Corporation

menjadi

sorotan

masyarakat luas ketika terungkap bahwa perusahaan ini diduga telah


memanipulasi laporan keuangan yang dilaporkannya selama ini, dengan
didukung oleh penipuan akuntansi yang sistematis, terlembaga, dan
direncanakan secara kreatif. Hal tersebut melibatkan Kantor Akuntan
Publik Arthur Andersen, perusahaan akuntan ternama di Amerika Serikat,
yang mengaudit laporan keuangan Enron dan juga sebagai konsultan
manajemen Enron.
13
Kantor Akuntan Publik tersebut memiliki kebijakan pemusnahan dokumen
yang tidak menjadi bagian dari kertas kerja audit formal. Hal inilah yang
menjadi peluang bagi Enron untuk memanipulasi laporan keuangannya
sehingga tidak sesuai dengan kondisi keuangan perusahaan yang
sebenarnya.
Puncaknya adalah saat Kantor Cabang Operasi Enron di Eropa
melaporkan kebangrutannya pada 30 November 2001, dan dua hari
kemudian pada 2 Desember 2001 Enron Corporation secara resmi
mengajukan

permohonan

kebangkrutannya.

perlindungan

sekaligus

mengumumkan

Pemerintah Amerika Serikat (The US General Services Administration)


akhirnya melakukan investigasi secara mendalam untuk mengungkap
kasus Enron. Enron Corporation dan KAP Arthur Andersen dituduh telah
melakukan kriminal dalam bentuk penghancuran dokumen yang berkaitan
dengan investigasi atas kebangkrutan Enron (penghambatan terhadap
proses peradilan).
Pemerintah Amerika (The US General Services Administration) melarang
Enron dan KAP Andersen untuk melakukan kontrak pekerjaan dengan
lembaga pemerintahan di Amerika Serikat.KAP Andersen diberhentikan
sebagai auditor Enron pada pertengahan Juni 2002, namun KAP Andersen
menyatakan bahwa penugasannya sebagai Auditoroleh Enron telah berakhir
pada saat Enron mengajukan proses kebangkrutan pada 2 Desember 2001.
Pada tanggal 28 februari 2002 KAP Andersen menawarkan ganti rugi
750 juta US dollar untuk menyelesaikan berbagai gugatan hukum yang
diajukan kepada KAP Arthur Andersen. Tanggal 22 Maret 2002 mantan ketua
Federal Reserve, Paul Volkcer, yang direkrut untuk melakukan revisi terhadap
praktek audit dan meningkatkan kembali citra KAP Andersen, mengusulkan
agar manajemen KAP Andersen yang ada diberhentikan dan membentuk suatu
komite untuk menyusun manajemen baru. Komite ini diketuai oleh Paul
Volkcer.
Hasil investigasi menyatakan bahwa Enron Corporation terbukti
telah melakukan beberapa kecurangan, diantaranya :

Window dressing (Memanipulasi akun-akun laporan keuangan) agar


nampak menarik di mata investor dengan cara menyembunyikan hutanghutangnya yang senilai US$ 12 billion.

14

Teknik off balance sheet (mencatat di buku besar sehingga tidak nampak
di laporan keuangan).

Special purpose partnership (Mendirikan 90 Perusahaan diluar Enron untuk


mengalihkan hutang-hutang Enron ke perusahaan-perusahaan tersebut).

Kasus ini akhirnya dapat terungkap dengan kurun waktu yang cukup

singkat. Penyebabnya, yaitu :


Masalah kepentingan pemegang saham mayoritas dan manajemen

transaksi dengan pihak beberapa perusahaan afiliasi.


Pembelian Opsi Saham (stock option plan) yang masif, tidak hanya
kepada karyawan kunci, namun juga komite audit dan karyawan biasa
dapat melakukannya, bahkan diadakan juga program pensiun karyawan

dengan memperoleh opsi saham perusahaan.


Penjualan saham dalam skala besar oleh pihak orang dalam.
Dampak Terungkapnya Kasus Enron
Keruntuhan Enron Corporation cukup berdampak bagi dunia bisnis
internasional. Akibat kebangkrutan Enron sedikitnya 4.000 karyawan
kehilangan

pekerjaan.

Kolapsnya

Enron

juga

mengguncang

neraca

keuangan para kreditornya yang telah mengucurkan milyaran dolar seperti


JP Morgan Chase dan Citigroup yang merupakan dua kreditorterbesar Enron.
Para karyawan Enron dan investor minoritas juga dirugikan karena simpanan
hari tua mereka yang musnah. Sebagian besar dana pensiun dan
tabungan 20.000 karyawan Enron terikat dalam saham yang kini tak
bernilai.
Arthur Andersen LLP (member di AmerikaSerikat) yang dianggap ikut
bersalah dalam kebangkrutan Enron juga terkena imbasnya. Member Arthur
Andersen di beberapa negara telah membuat kesepakatan dengan Kantor
Akuntan Publik lain yang merupakan saingan KAP Andersen. Seperti
Jepangdan Thailand yang telah membuat kesepakatan merger dengan KPMG,
di Australia dan Selandia Baru dengan Ernst & Young, dan Spanyol dengan
Deloitte Touche Tohmatsu. Di Amerika sendiri aktivitas seluruh member
Andersen dibekukan pemerintah. Akibatnya, menurut Asian Wall Street
Journal, semua klien Andersen LLP beralih ke berbagai auditor lain.
15
Antara lain Deloitte and Touche Tohmatsu (10 persen), KPMG (11 persen),
Price Water House Cooper (20 persen), dan Ernst & Young (28 persen).

Sedangkan, 40 persen lainnya belum menentukan sikap. Dan banyak halhal lain yang terpengaruh seperti munculnya trauma dalam bursa saham
terhadap efek domino skandal Enron. Hal ini membuat para investor
mengurangi aktivitasnya di bursa saham sehingga gairah bursa saham
dunia menjadi lesu.
Analisa terhadap Kasus Enron
Kasus Enron Company dilihat dari sudut perilaku organisasinya
mencerminkan

sikap

perusahaan

yang

tidak

terpuji

serta

tidak

menunjukkan komitmen bisnis yang bersih, jujur dan bijaksana. Enron


Company telah melakukan manipulasi yang bertujuan untuk menipu
masyarakat serta pemerintah mengenai kondisi perusahaannya yang
sebenarnya diambang kebangkrutan. Setelah kasus penipuan yang
dilakukan oleh Enron Company terungkap menyebabkan kerugian yang
besar tidak hanya bagi perusahaan namun juga bagi karyawannya serta
memberikan dampak buruk pada perekonomian Amerika Serikat. Kasus
Enron memberikan pelajaran bagi para perusahaan untuk lebih berhatihati dalam menjalankan bisnis serta janganlah melakukan kecurangan dan
penipuan yang nantinya akan menimbulkan dampak yang merugikan
banyak pihak.

16

BAB IV
KESIMPULAN
Perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyelidiki bagaimana individu-individu,
kelompok-kelompok serta struktur memengaruhi dan dipengaruhi oleh perilaku dalam
organisasi. Perilaku mengacu pada apa yang ingin dilakukan oleh orang dalam organisasi,
bagaimana orang-orang tersebut dibentuk, dan apa sikap mereka.
Dimensi-dimensi dalam berorganisasi, antara lain sebagai berikut :
Teori Peran
Susunan atau tanggapan perilaku yang kita harapkan dan kehendaki disebut sebagai
peranan sosial. Peranan dapat digunakan secara sederhana sebagai bagian dari orang-orang
yang saling berinteraksi.
Struktur Sosial
Studi keperilakuan manusia yang sistematis bergantung pada dua fakta, pertama,
orang-orang bertindak secara teratur dengan pila berulang. Kedua, orang-orang tidak
mengisolasikan bentuk, tetapi mereka saling berhubungan.
Budaya
Budaya merupakan suatu sudut pandang yang pada saat yang bersamaan dijadikan
jalan hidup oleh suatu masyarakat. Menurut Hofstede (1980 1991), ada empat dimensi
budaya nasional, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Jarak Kekuasaan (Power Distance)


Penghindaran Ketidakpastian (Uncertain Avoidance)
Maskulinitas dan Feminitas (Masculinity And Femininity)
Individualisme dan Kolektivisme (Individualism and Collectivism)
Keempat dimensi budaya nasional tersebut mengandung nilai-nilai tertentu. Artinya
budaya nasional suatu bangsa akan memengaruhi pandangan, sikap, dan kemudian perilaku
dari bangsa tersebut.
Kerangka dasar pada perilaku organisasi adalah terletak pada dua komponen, yaitu :

Komponen yang pertama adalah individu-individu yang berperilaku, baik itu perilaku secara
individu, perilaku kelompok, dan perilaku organisasi.

17

Komponen yang kedua adalah organisasi formal sebagai wadah dari perilaku itu, yaitu
sebagai sarana bagi individu dalam bermasyarakat ditandai dengan keterlibatannya pada
suatu organisasi dan menjalankan perannya dalam organisasi tersebut.

1.
2.
3.
4.

Individu
Perbedaan Individu
Motivasi
Pemberdayaan
Berperilaku etis

1.
2.

Perubahan Pada Tingkat


Kelompok
Organisasi
Bekerja dengan yang
1. Produktivitas
2.
Pengembangan efektivitas
lainnya.
Perbedaan kekuatan kerja.
karyawan.
3.
Menempatkan
orang
4.

pertama.
Mengelola

5.

dalam dunia multikultural.


Fleksibilitas

dan

bekerja

Secara umum, tingkatan manajer diklasifikasikan sebagai manajer tingkat bawah,


tingkat menengah, dan tingkat atas.

Manajer Tingkat Bawah ( Lower Manajement)


Manajer Tingkat Menengah ( Midle Manajement )
Manajer Tingkat Atas ( Top Manajement )
Berdasarkan kasus Enron Company yang sudah dibahas, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa perilaku organisasi sangat berpengaruh bagi kemajuan suatu perusahaan
atau organisasi. Pada kasus Enron memberikan pelajaran bagi para perusahaan atau
organisasi untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan bisnis atau organisasinya serta
janganlah melakukan kecurangan dan penipuan yang nantinya akan menimbulkan dampak
yang merugikan bagi banyak pihak.

18

DAFTAR PUSTAKA
Lubis Arfan Ikhsan. 2014. Akuntansi Keperilakuam Edisi 2. Jakarta : Salemba Empat.

https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_organisasi/17-09-2015/13:32.

BAB III
Konsep Keprilakuan dari Psikologi dan Psikologi Sosial

A. Sikap
Sikap bukanlah prilaku namun sikap menghadirkan suatu siap kesiagaanuntuk tindakan yang
mengarah pada prilaku.Oleh karena itu, sikap merupakan wahana dalam membimbing
prilaku. Sikap tidak sama dengan nilai tapi keduanya saling berhubungan.
Komponen Sikap
Sikap disusun oleh komponen teori,emosional, dan prilaku.Komponen emosional atau efektif
mengacu pada perasaan seseorang yang mengarah pada objek sikap. Komponen prilaku
mengacu pada bagaimana satu kekuatan bereaksi terhadap objek sikap.
Fungsi Sikap
Sikap memiliki 4 fungsi utama: Pemahaman,kebutuhan akan kepuasan, defensive ego dan
ungkapan nilai. Pemahaman berfungsi untuk membantu seseorang dalam memberikan
maksud atau memahami situasi atau peristiwa baru.
Sikap dan Konsistensi
Setiap Individu berusaha untuk menghubungkan sikap-sikap mereka yang terpisah dan
menyelaraskan sikap dengan prilaku mereka sehingga mereka kelihatan rasional dan
konsisten.

Formasi Sikap dan Perubahan


Formasi sikap mengacu kepada pengembangan suatu sikap yang mengarah pada suatu objek
yang tidak ada sebelumnya.Perubahan sikap mengacu pada subtitusi sikap baru untuk
seseorang yang telah ditangani sebelumnya.

B. Beberapa Teori Terkait dengan Sikap


Teori Perubahan Sikap
Teori Perubahan Sikap dapat membantu untuk memmprediksikan pendekatan yang paling
efektif. Sikap, mungkin dapat berubah sebagai hasil pendekatan dan keadaan.

Teori Pertimbangan Sosial


Teori pertimbangan social terhadap perubahan sikap mengambil pendekatan yang perceptual.
Teori pertimbangan social ini merupakan suatu hasil perubahan mengenai bagaimana orangorang menjadi suatu objek dan bukannya hasil perubahan dalam mempercayai suatu objek.
Konsisten dan Teori Perselisihan
Teori konsisten menjaga hubungan antara sikap dan prilaku dalam ketidakstabilan,walaupun
tidak ada tekanan teori dalam system. Teori perselisihan adalah suatu variasi dan teori
konsistensi.
Teori Disonansi kognitif
Leon Festinger pada tahun 1950-an mengemukakan teori Disonansi Kognitif. Disonansi
kognitif mengacu pada setiap inkonsistensi yang dipersepsikan oleh seseorang terhadap dua
atau lebih sikapnya, atau terhadap prilaku dengan sikapnya.
Teori Persepsi Diri
Teori persepsi diri menganggap bahwa orang-orang mengembangkan sikap berdasarkan
bagaimana mereka mengamati dan menginterprestasikan perilaku mereka sendiri.
Teori Kebutuhan dan Kepuasan
Maslow mengembangkan suatu bentuk teori kelas. Teorinya menjelaskan bahwa maingmasing individu mempunyai beraneka ragam kebutuhan yang dapat mempengaruhi prilaku
mereka.
Teori Prestasi

Riset yang dilakukan oleh McCelland memberikan hasil bahwa terdapat tiga karakteristik
dari orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi, yaitu:
1. Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi memiliki ras tanggung jawab
yang tinggi terhadap pelaksanaan suatu tugas atau pencarian suatu solusi atas suatu
permasalahan.
2. Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi cenderung menetapkan tingkat
kesulitan tugas yang moderat dan menghitung resikonya.
3. Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi memiliki keinginan yang kuat
untuk memperoleh umpan balik(feedback) atau tanggapan atas pelaksanaan tugasnya.
Teori Motivasi
Pada pertengahan tahun 1960-an, Hezberg mengajukan suatu teori motivasi yang dibagi
dalam beberapa factor. Faktor-faktor ini meliputi kebijakan perusahaan, kondisi pekerjaan,
hubungan perseorangan, keamanan kerja dan gaji.
Teori Keadilan
Teori keaadilan pertama kali di publikasikan oleh Adam pada tahun 1963. Teori keadilan
secara umum merupakan bentuk dasar dari konsep hubungan pertukaran social.Para individu
mempertimbangkan input dan output menjadi suatu nilai yang tidak sebanding.
Teori ERG
Teori dari Clayton Alderfer ini menganggap bahwa kebutuhan manusia tersusun di dalam
suatu hirearki. Teori ERG (existence,relatedness,growth) menganggap bahwa kebutuhan
manusia memiliki tiga hierarki kebutuhan, yaitu kebutuhan akan eksistensi,kebutuhan), akan
keterikatan,dan kebutuhan akan pertumbuhan.
Teori Harapan
Ide dasar dari teori ini adalah bahwa motivasi ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan
diperoleh seseorang sebagaii akibat dari tindakannya.Variabel-variabel kunci dalam teori
harapan adalah usaha(effort),hasil(income),harapan(expectancy).
Teori Penguatan
Teori ini mengatakan bahwa perilaku merupakan fungsi dari akibat yang berkaitan dengan
perilaku tersebut. Teori penguatan memiliki konsep dasar, yaitu:
1. Pusat perhatian adalah pada perilaku yang dapat diukur.
2. Kontijensi penguatan,yaitu berkaitan dengan urutan-urutan stimulus,tanggapan, dan
konsekuesi dari perilaku yang di timbulkan.
3. Semakkin pendek interval waktu antara tanggapan atu repons karyawan(misalnya
prestasi kerja) dengan pemberian penguatan(imbalan), maka semakin besar

pengaruhnya terhadap perilaku.Terdapat tiga jenis penguatan yang dapat digunakan


oleh manajer untuk memodifikasi motivasi karyawan, yaitu penguatan positif,
penguata negative dan hukuman.

Teori Penetapan Tujuan


Teori ini dikembangkan oleh Edwin Locke(1986). Teori ini menguraikan hubungan antara
tujuan yang ditetapkan dan prestasi kerja. Konsep dasar dari teori ini adalah bahwa karyawan
yang memahami tujuan (apa yang diharapkan organisasi terhadapnya) akan terpengaruh
perilaku kerjanya.

Teori Atribusi
Teori atribusi mempelajari proses bagaimana seseorang menginterprestasikan suatu
peristiwa,alasan atau sebab perilakunya.Teori ini dikembangkan oleh Fritz Heider yang
beragumentasi bahwa prilaku seseorang ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan internal,
yaitu factor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, sepperti kemampuan atau usaha,
dan kekuatan eksternal, yaitu factor-faktor yang berasal dari luar, seperti kesulitan dalam
pekerjaan atau keberuntungan.
Teori Agensi
Riset akuntansi keprilakuan yang menggunakan teori agensi mendasarkan pemikirannya atas
adanya perbedaaninformasi antara atasan dan bawahan, antara kantor pusat dan kantor
cabang, atau adanya asimetri informasi yang memengaruhi penggunaa system
akuntansi.Teoraldri ini secara umum mengasumsikan bahwa principal bersifat netral terhadap
resiko sementara agen bersifat menolak usaha dan resiko.
Pendekatan Dyadicn
Pendekatan tersebut menyatakan bahwa ada dua pihak, yaitu atasan(superior) dan
bawahan(subordinate), yang berperan dalam proses evaluasi kinerja. Pendekatan tersebut
juga mengakui bahwa atasan kemungkinan tidak memperlakukan seluruh bawahannya secara
sama. Pendekatan ini dikembangkan oleh Danserau etal pada tahun 1975.
B.Persepsi
Persepsi adalah bagaimana orang-orang melihat atau menginterprestasikan peristiwa,objek,
serta manusia. Orang-orang bertindak atas dasar persepsi mereka dengan mengabaikan
apakah persepsi itu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.Faktor-faktor yang
mempengaruhi persepsi ada tiga, yaitu factor dalam situasii,factor pada pemersepsi, dan
faktor pada target.
Ranngsangan fisik vs Kecendrungan Individu

Rangsangan fisik adalah input yang berhubungan dengan perasaan, seperti penglihatan, dan
sentuhan. Kecendrungan Individu meliputi alas an,kebutuhan, sikap, pelajaran dari masa lalu,
dan harapan.Perbedaan persepsi antara orang-orang disebabkan karena perasaan individu
yang menerimanya berbeda fungsi dan hal ini terutama sekali disebabkan oleh kecendrungan
perbedaan.Oleh karena itu, kebijakan perusahaan yang sama bisa saja dirasakan berbeda oleh
para pekerja produksi, para manajer tingkat menengah dan manajer tingkat atas.

Pilihan, Organisasi, dan Penafsiran Rangsangan


Manusia hanya mampu merasakan seesuatau yang kecildan membagi semua rangsangan
tersebut kearah yang diarahkannya. Dengan demikian, manusia bias merasa bimbang atau
tidak bimbang dalam memilih apa yang dipersepsikan. Oleh karena itu, manusia terkosentrasi
pada sesuatu yang dipilih dan menolak yang lain
.Keterkaitan Persepsi bagi Para Akuntan
Seorang penyelia perlu mengenali perasaan dirinya terhadap para bawahannya.Bawahan
tertentu dapat ensimemengaruhi evaluasi mereka dan mereka harus waspada terhadap sumber
penyimpangan persepsi ini.Dalam pengambilan keputusan karyawan, para manajer harus
sesitif terhadap kemungkinan bahwa keputusan mereka menjadi bias dalam hubungannya
dengan kesan pertama.
Persepsi Orang: Membuat Penilaian Mengenai Orang Lain
Pada dasarnya teori ini menyarankan bahwa jika seseorang mengamati prilaku seorang
individu, orang tersebut berusaha menetukan apakah perilaku itu disebabkan oleh factor
internal atau eksternal. Tetapi, penentuan tersebut sebagian besar bergantung pada tiga factor:
1. Kekhususan(ketersendirian), merujuk apakah seorang individu memperlihatkan
perilaku-perilaku yang berlainan dalam situasi yang berlainan.
2. Konsensus, yaitu jika semua orang yang menghadapi suatu situasi yang serupa
bereaksi dengan cara yang sama.
3. Konsistensi. Disini dicari konsistensi dari tindakan seseorang. Apakah orang itu
memberikan reaksi dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.
C.Nilai
Nilai secara mendasar dinyatakan sebagai suatu modus prilaku atau keadaan akhir dari
eksistensi yang khas dan lebih disukai secara pribadi atau social dibandingkan dengan suatu
modus perilaku atau keadaan akhir yang berlawanan.
Arti Penting Nilai

Nilai dinyatakan penting karena nilai meletakkan dasar untuk memahami sikap serta motivasi
dan karena nilai memengaruhi persepsi manusia.
Nilai dan Dilema Etika
Cara yang baik dan ideal dalam mengatasi dilema etika ini adalah dengan
mempertimbangkan kecukupan dari kesempatan yang ada dan selanjutnya memberikan reaksi
terhadap apa yang menjadi kekhawatiran didalamnya.Kesempatan dapat dilihat sebagai suatu
standar etika yang diharapkan.
Nilai-nilai Sepanjang Budaya
Praktek-praktek Sosialisasi yang berbeda mencerminkan budaya yang berbeda dan tidaklah
mengherankan jika menghasilkan tipe karyawan yang berlainan.
D.Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses dimana perilaku baru diperlukan.Pemelajaran terjadi sebagai
hasil dari motivasi,pengalaman, dan pengulangan dalam memproses situasi.Kombinasi dari
motivasi,pengalaman, dan pengulangan dalam merespon situasi ini terjadi dalam tiga bentuk
pengaruh keadaan klasik,pengaruh keadaan operant, dan ppembelajaran social.
Pengondisian Keadaan Klasik
Dapat diringkaskan bahwa pengondisian klasik hakikatnya merupakan proses pembelajaran
suatu respons dan suatu rangsangan yang tidak terkondisi.Dengan menggunakan rangsangan
yang berpasangan, yang satu memaksam dan yang lain netral, rangsangan netral menjadi
suatu rangsangan terkondisi yang kemudian meneruskan sifat-sifat dari rangsangan tidak
terkondisi.
Pengondisian Operant
Pengondisian Operant menyatakan bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari konsukuensikonsukuensi. Orang belajar untuk berprilaku untuk mendapatkan sesuatu yang mereka
inginkan atau menghindari sesuatu yang tidak mereka inginkan.
Pembelajaran Sosial
Teori Pembelajaran merupakan suatu perpanjangan dari pengondisian operant, di mana teori
tersebut mengandaikan perilaku sebagai suatu fungsi dari konsukuensi-konsukuensi, teori itu
juga mengakui eksistensi pembelajaran observasional(lewat pengamatan) dan pentingnya
persepsi dalam belajar. Orang-orang menanggapi berdasarkan bagaimana mereka
membayangkan dan mendefinisikan konsukuesi-konsukuensi, bukan pada konsukuensi
objektif itu sendiri.
E.Kepribadian
Kepribadian mengacu pada bagian karakteristik psilologi dalam diri seseorang yang
menentukan dan mencerminkan bagaimana orang tersebut merespon lingkungannya.

Kepribadian adalah intisari dari perbedaan Individu.Aplikasi utama dari teori kepribadian
dalam organisasi adalah memprediksikan perilaku.

Penentu Kepribadian
Kepribadian seorang dewasa umumnya dianggap terbentuk dari factor keturunan dan
linkungan, yang diperlunak oleh kondisi situasi.
1. Keturunan;Pendekatan keturunan beragumentasi bahwa penjelasan palling akhir dari
kepribadian seorang individu adalah struktur molekul dari gen yang terletak dalam
kromosom.
2. Lingkungan;Lingkungan yang dipaparkan pada seseorang memainkan suaatu peran
yang besar dalam membentuk kepribadian orang tersebut.
3. Situasi;Kepribadian seseorang, walaupun pada umumnya mantap dan konsisten,
berubah dalam situasi yang berbeda. Tuntutan yang berbeda dari situasi yang
berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang.

Dalam bab III ini menelaah mengenai beberapa bidang utama dari konsep-konsep yang ada
pada wilayah psikologi dan psikologi social. Juga telah dijelaskan konsep-konsep utama yagn
terdapat di dalamnya,di mana sikap, perubahan sikap, motivasi, persepsi, pembelajaran, dan
kepribadian dibicarakan. Kemudian, dilihat bagaimana hal tersebut diteraplkan terhadap
system secara teoritis pada akuntansi keprilakuan, kemudian membandingkan perilakuperilaku lain dalam organisasi.

FILOSOFI RISET DALAM BIDANG AKUNTANSI KEPERILAKUAN


Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat yang banyak digunakan sebagai batu pijakan
dalam mengembangkan ilmu maka dari itu filsafat ilmu merupakan jaringan cabang ilmu
yang
sedemikian rupa sehingga filsafat ilmu ini bisa ditelusuri hingga ke induk filsafatnya. Dalam
filsafat ilmu ini digunakan 3 pendekatan sudut pandang yaitu pendekatan subjektivisme
dengan
arti pengetahuan bersifat sangan subjektif, pendekatan objektivisme dengan arti pengetahuan
itu
berada dalam bentuk yang tidak berwujud, dan yang ketiga pendekatan valuntarisme dengan
arti
manusia berada didunia ini untuk pemecahan fenomena social sebagai makhluk yang bebas
berkehendak. Pada tahun 1970 an ada pergeseran yang terjadi dalam riset akuntansi ini akan
tetapi walau terjadi pergeseran yang mendominasi dalam riset tetaplah pendekatan normative
maupun positif walaupun pendekatan utamanya tetaplah riset manajemen dan akuntansi dan
sejak tahun 1980 muncul usaha usaha untuk menggoyang riset tersebut. Suatu pengetahuan
dibangun berdasar asumsi filosofis tertentu yang menurut burrel dan morgan (1979) ada 4 hal
yaitu ontology, epistemology, human nature dan methodology. Berdasarkan asumsi tersebut
pengelompokkan pengetahuan kemudian di jadikan kedalam 3 paradigma yaitu fungsionalis
intrepetif, radikal humanis dan radikal strukturalis. Namun mulai tahun 1997 mulai ada
pengembangan untuk teori akuntansi keperilakuan yang berhubungan dengan paradigm
tersebut.

Dalam riset akuntansi ini terdapat paradigma fungsionaris yang menjadi paradigma umum
dan
mendominasi dibanding paradigma lain yang banyak digunakan dalam riset hingga saat ini.
Paradigma ini dipengaruhi realitas fisik dan pemahaman tentang realitas ini sangat
mempengaruhi perolehan ilmu pengetahuan yang benar.
Argumen teoritis tentang paradigma telah banyak dibahas oleh para fungsionalis dan
mentodologi yang digunakan tersebut adalah metodologi yang dipakai dalam ilmu alam.
Seiring
berjalanya waktu mulai muncul dan ditemukan kelemahan kelemahan tentang metodologi
paradigm fungsianalis yang digunakan dalam riset akuntansi yaitu tentang apakah ada
relevansi
ilmu pengetahuan alam sehingga menyebabkan para peneliti mulai mencari alternatif lain
dalam
pemecahan masalah social. Dalam pengembangan alternative ini diungkapkan adanya
perbedaan
pandangan pada pendekatan fungsionalis tersebut yaitu realitas merupakan sesuatu yang ada
dalam diri manusia dan bersifat subjektif bukan objektis seperti yang disebutkan dalam
paradigma fungsionalis. Berkaitan dengan sistem pengendalian dan akuntansi manajemen
terdapat 2 perbedaan antara paradigma fungsionaris dan interpretif. Kemudian selain
paradigm
interpretif aliran alternative lain mulai bermunculan seperti aliran strukturalis radikal yang
mengusulkan adanya aliran radikal dalam riset akuntansi. Selain itu mulai muncul juga
paradigma humanis radikal yang berkonsentrasi pada idealism humanistic dan nilai nilai yang
dibandingkan dengan tujuan organisasi. Selain paradigma paradigma yang sudah disebutkan
tersebut ada paradigm yang sifatnya oposisi dalam paradigma modern tersebut dengan
penetapan
sistem wacana, lalu ada juga paradigma sistem akuntansi kritis yang cara pandangnya melalui
refleksi sistem akuntansi kritis dimana penilaian didasarkan pada nilai objektif pada konsep
ekonomi magnitalis. Teori yang dikemukakan oleh mattessich ini tidak mengandung dasar
untuk
melakukan kritik terhadap tatanan ekonomi social dan politi karena sistem ekonomi
dipandang
berdaulat. Sayangnya teori ini menggambarkan pandangan yang salah yaitu bahwa tidak ada
pandangan lain selain kapitalis.akan tetapi dalam pandangan yang kedua yang dikemukakan
tinker menjelaskan bahwa masalah akuntansi baru ini bergerak pada akuntansi yang berdasar
asumsi filosofis alternative dan diklsifikasikan dalam strukturalis radikal serta diklaim
sebagai
sistem akuntansi yang dilakukan secara diskontrusis secara social.
Jadi akuntansi kritis ini adalah bagian dari pandangan teori akuntansi yang berperan
sangat penting dalam pertimbangan dan pemutusan sebuah konflik antara perusahaan dan
public.
Akuntansi kritis ini berbeda dengan riset yang telah ada sebelumnya dan menjadi penjelasan
bagi
peneliti dan investigatornya. Dalam riset akuntansi ini masih banyak peluang riset yang bisa
dilakukan karena suatu makalah tidak mungkin memberikan analisis secara menyeluruh
dalam
seluruh bidang. Dalam lingkungan akuntansi riset dalam pengambilan keputusan dilakukan
pada
lingkungan audit, memberikan keuntungan yang lebih besar dari pada lingkungan audit maka
dibuatlah riset di lingkungan akuntansi keuangan dan berkembang ke bidang akuntansi

manajemen yang menunjukkan pertimbangan yang lebih luas dibanding akuntansi keuangan.
Riset selanjutnya yaitu tentang sistem informasi akuntansi yang berfokus pada proses desain
sistem kemudian riset perpajakan yang berfokus pada kepatuhan kepatuhan dan berhubungan
dengan psikologi masing masing individu. Maka dari itu pertumbukan terhadap riset prilaku
ini
menghasilkan banyak hasil riset dan artikel dari para peneliti serta juga adanya minat
pembaca dalam bidang hasil riset karena riset ini cukup membrikan wawasan yang luas. Riset
ini telah
diterbitkan sejak tahun 1987b- 1991 di accounting review, contemporary accounting research
dan masih banyak lagi.

Filosofi Riset dalam Bidang Akuntansi Keperilakuan


Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat yang banyak digunakan sebagai batu
pijakan dalam mengembangkan ilmu. Jadi, filsafat ilmu adalah jaringan cabang ilmu
sedemikian rupa sedingga ilmu pengetahuan dapat ditelusuri sampai ke induk
filsafatnya.
Filsafat ilmu dapat dikelompokkan menjadi
Ontologi, mempertanyakan hakikat ilmu atau mempertanyakan hal
yang akan dikaji oleh pengetahuan itu.
Epistemologi , mempertanyakan cara pengetahuan diperoleh.
Aksiologi, mempertanyakan tujuan penggunaan dari pengetahuan
yang dimaksud.
1. Pergesaran arah riset
Pendekatan klasikal yang lebih menitiberatkan pada pemikiran normatif yang
mengalami masa kejayaan pada tahun 1960-an. Tahun 1970-an terjadi pergeseran
pada pendekatan dalam riset akuntansi yang dikarenakan pendekatan normatif tidak
dapat menghasilkan teori akuntansi yang siap digunakan dalam praktik sehari-hari.
2. Filosofi Paradigma Metodologi Riset
Menurut Burrel dan Morgan (1971), suatu pengetahuan dibangun berdasarkan
asumsi-asumsi filosofi yang teridir dari ontologi, epistemologi, hakikat manusia, dan
metodologi. Metodologi dipahami sebagai suatu cara menentukan teknik yang tepat
untuk memperoleh pengetahuan.
3. Paradigma Fungisionalis

Sering disebut fungisionalis struktural atau kontijensi rasional yang merupakan


paradigma umum, bahkan sangat dominan digunakan dalam riset akuntansi
dibandingkan dengan paradigma lain sehingga disebut paradigma utama. Secara
ontologi, paradigma utama ini dipengaruhi realitas fisik yang menganggap bahwa
realitas objektif berada secara bebas dan terpisah di luar diri manusia.
4. Paradigma Interpretif
Bagi paradigma interpretif, ilmu pengetahuan tidak digunakan untuk menjelaskan
atau memprediksi, tapi untuk memahami. Tujuan paradigma ini adalah menganalisis
realitas sosial dan cara realitas sosial tersebut terbentuk 5. Paradigma Strukturalis Radikal
Paradigma ini mempunyai kesamaan dengan fungisionalis, yang mengasumsikan
bahwa sistem sosial mempunyai keberadaan ontologis yang konkrit dan nyata.
Riset-riset yang diklasifikasikan dalam paradigma ini adalah riset yang didasat=rkan
pada teori Marxisme tradisional.
6. Paradigma Humanis Radikal
Riset-riset akan diklasifikasikan dalam paradigma ini, jika didasarkan pada teori kritis
dari Frankfurt Schools dan Habermas.
7. Paradigma Posmodernisme
Posmodernisme menyajikan suatu wacana sosial yang sedang muncul dan
meletakkan dirinya di luar paradigma modern. Paradigma ini merupakan oposisi dari
paradigma modern. Contoh karya yang paling banyak digunakan sebagai dasar
aliran posmodernisme yaitu karya Derrida dan Foucault.
8. Paradigma Akuntansi Kritis
Paradigma ini dipandang melalui refleksi dan ilmu sosial kritis dan di kemukakan
pertama kali oleh Mattessicj (1964) melalui sebuah derivatif filosofi fungisionalis
dalam sistem ekonomi kapitalis. Teori ini tidak berkaitan dengan penyelesaian
masalah keterasingan, melainkan dengan proses teknik peilaian yang didefinisikan
sebagai nilai objektif yang didasarkan pada konsep ekonomi marginalis.
9. Peluang Riset Akuntansi Keperilakuan pada Lingkungan Akuntansi
Banyaknya diversifikasi dalam riset akuntansi keperilakuan menyebabkan tidak
mungkin suatu masalah dapat memberikan analisis yang menyeluruh terhadap
peluang riset dalam seluruh bidang. Dengan menelaah riiset ini secara khusus,
dapat diperoleh suatu kerangka analisis dan diskusi yang dibatasi pada peluang,
terutama pada hasil potensi sub-bidang dan implikasinya untuk sub-bidang
akuntansi lainnya.
Audit
Akuntansi Keuangan
Akuntansi Manajemen
Sistem informasi Akuntansi
Perpajakan
10. Pertumbuhan Riset Perilaku
Wawasan dalam riset akuntansi keperilakuan saat ini bisa diperoleh dengan dua
cara berikut, yaitu :
a) Survei publikasi utama dari riset akuntansi keperilakuan
b) Klasifikasi topik artikel yang dipublikasikan dan pemetaan publikasi terhadap
model perilaku individu.