Anda di halaman 1dari 24

PENGENALAN ALAT

LABORATORIUM TEKNOLOGI DAN FORMULASI SEDIAAN PADAT


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
Jl. Raya BandungSumedang KM. 21
Jatinangor
Modul 1:

Kelompok : 1

PENGENALAN ALAT

1. Ayu Apriliani

260110140078

2. Putri Raraswati

260110140079

3. Ummi Habibah

260110140080

4. Ayyu Widyazmara

260110140081

5. Anggia Diani Amaliah

260110140082

6. Siti Nurrohmah

260110140083

7. Ai Siti Rika Fauziah

260110140084

8. Nisa Maulani Nuraliyah

260110140085

9. Tiffany Sabilla R

260110140086

10. Nurmalia Saraswati

260110140087

Tgl. Pelaksanaan : 29 Februari 2015


Hari

: Senin

Waktu : 13.00 16.00

1. Corong Alir

Fungsi :
Mengukur laju alir serbuk guna mengevaluasi serbuk tersebut (Lachman, 1994).
Cara kerja :
Massa cetak diletakkan dalam corong alat uji kecepatan alir yang bagian
bawahnya ditutup. Massa cetak yang keluar dari alat tersebut dihitung kecepatan
alirannya dengan menghitung waktu yang diperlukan oleh sejumlah serbuk untuk
turun melalui corong alat penguji dengan menggunakan stopwatch dari mulai
dibukanya tutup bagian bawah hingga semua massa serbuk mengalir keluar dari
alat uji. Timbunan serbuk dapat digunakan untuk menghitung sudut istirahat.
Diameter rata-rata timbunan serbuk dan tinggi puncak timbunan serbuk diukur.
(Lachman, 1994).
Parameter pengukuran alat :
Hubungan antara sudut istirahat dengan sifat aliran

Hubungan antara kecepatan alir dengan sifat aliran serbuk

(Lachman, 1994).

2. Disolution Tester / Alat Uji Disolusi


Tipe : Tipe 1 (Tipe Keranjang)

Fungsi :
Untuk mengetahui terlarutnya zat aktif dalam waktu tertentu
Cara penggunaan :
Prosedur untuk kapsul, tablet tidak bersalut dan tablet bersalut bukan enteric :
1. Masukan sejumlah volume media disolusi seperti yang
tertera pada masing-masing monografi, pasang alat,
biarkan media disolusi hingga suhu 370 0,50 dan
angkat thermometer.
2. Masukan 1 tablet atau 1 kapsul kedalam alat, hilangkan
gelembung udara dari permukaan sediaan yang diuji
dan segera jalankan alat pada laju kecpatan seperti yang
tertera dalam masing-masing monografi.

3. Dalam interval waktu yang ditetapkan ambil cuplikan


pada daerah pertengahan antara permukaan media
disolusi dan bagian atas dari keranjang berputar,tidak
kurang 1cm dari dinding wadah.
4. Lakukan penetapan seperti yang tertera pada masingmasing monografi.
Parameter :
Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, persyaratan dipenuhi
jika jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang diuji sesuai dengan tablet
penerimaan.
Kriteria penerimaan menurut FI IV adalah :
Tingkat

Jumlah

yangKriteria Peneriman

Pengujian
S1

diuji
6

Tiap unit tidak kurang dari Q +5%

S2

Rata-rata dari ke 12 unit sediaan (S1+S2) adalah


sama dengan atau lebih besar dari Q dan tidak

S3

12

satu unit sediaan yang lebih kecil dari Q-15%


Rata-rata dari 24 unit sediaan (S1+S2+S3) adalah
sama dengan atau lebih besar dari Q tidak lebih
dari 2 unit sediaan yang lebih kecil dari Q-15%
dan tidak satu unit pun lebih kecil dari Q-25%
(Depkes RI, 1995)

Disolution Tester / Alat Uji Disolusi


Tipe : Tipe 2 (Tipe Dayung)

Cara penggunaan :
Prosedur untuk kapsul, tablet tidak bersalut dan tablet bersalut bukan enteric :
1. Masukan sejumlah volume media disolusi seperti yang
tertera pada masing-masing monografi, pasang alat,
biarkan media disolusi hingga suhu 370 0,50 dan
angkat thermometer.
2. Masukan 1 tablet atau 1 kapsul kedalam alat, hilangkan
gelembung udara dari permukaan sediaan yang diuji
dan segera jalankan alat pada laju kecpatan seperti yang
tertera dalam masing-masing monografi.
3. Dalam interval waktu yang ditetapkan ambil cuplikan
pada daerah pertengahan antara permukaan media
disolusi dan bagian atas dari dau dari alat dayung, tidak
kurang 1cm dari dinding wadah.
4. Lakukan penetapan seperti yang tertera pada masingmasing monografi.
Parameter :
Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, persyaratan dipenuhi
jika jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang diuji sesuai dengan table
penerimaan.
Kriteria penerimaan menurut FI IV adalah :
Tingkat

Jumlah

Pengujian

diuji

yangKriteria Peneriman

S1

Tiap unit tidak kurang dari Q +5%

S2

Rata-rata dari ke 12 unit sediaan (S1+S2) adalah


sama dengan atau lebih besar dari Q dan tidak

S3

12

satu unit sediaan yang lebih kecil dari Q-15%


Rata-rata dari 24 unit sediaan (S1+S2+S3) adalah
sama dengan atau lebih besar dari Q tidak lebih
dari 2 unit sediaan yang lebih kecil dari Q-15%
dan tidak satu unit pun lebih kecil dari Q-25%
(Depkes RI, 1995)

3. Tap Density Tester


Fungsi :
Mengukur kerapatan curah dan kerapatan mampat dari serbuk (Lachman, 1994).
Cara kerja:
Tap density tester adalah alat yang digunakan untuk menentukan kerapatan serbuk
atau granul dengan metode pengetapan (Dwinurahmanto, 2014). Tap density
adalah bulk density yang meningkat

yang dicapai setelah

mekanisme

pengetukam dalam wadah yang berisi sampel powder (WHO, 2012).


Alat tap density tester terdiri dari tiga bagian yaitu holder, mesin pengetuk, dan
penghitung ketukan. Holder digunakan untuk menyimpan tabung berukuran.
Tabung berukuran ini biasanya menggunakan gelas ukur, alat ini fungsinya untuk
wadah sampel yang diuji, mesin pengetuk berfungsi untuk mengangkat gelas ukur
yang tersimpan dalam holder. Tap density diperoleh dengan mekanis mengetuk
gelas ukur atau wadah yang berisi sampel bubuk . Setelah mengamati volume
awal serbuk atau massa, mengukur tabung atau wadah dengan mesin tapped ,
dan volume atau massa yang dibaca dicatat perubahan massanya dan diamati .
tapping didapat dengan mengangkat tabung atau wadah dan dibiarkan jatuh
teretuk-ketuk di bawah massa sendiri. Penghitungan ketukan akan
jumlah ketukan sesuai dengan angka yang ditentukan (WHO, 2012).

dihitung

Rumus dan parameter yang digunakan :


Karena interaksi interparticulate mempengaruhi sifat bulking dari bubuk yang
Juga ber interaksi yang dapat mengganggu laju alir bubuk , perbandingan bulk
dan tapped density dapat memberikan pengukuran yang relatif penting pada
interaksi ini dalam pemerian serbuk. perbandingan seperti itu sering digunakan
sebagai indeks kemampuan laju alir serbuk. Misalnya indeks Compressibility atau
rasio Hausner . Indeks Compressibility dan rasio Hausner adalah ukuran
kecenderungan serbuk untuk

dikompresi seperti dijelaskan di atas . Dengan

demikian , adalah ukuran dari kemampuan bubuk untuk ditetapkan dan dijadikan
penilaian yang relatif penting dari interaksi interparticulate . pada laju alir serbuk,
interaksi tersebut kurang signifikan, dan bulk serta tap density akan menjadi lebih
dekat nilainya . Untuk laju alir yan rendah, interparticulate sering lebih besar
interaksinya, dan perbedaan besar antara bulk dan tap density akan diamati .
Perbedaan-perbedaan ini tercermin dalam Indeks Compressibility dan Rasio
Hausner .
Compressibility Index =
V0

100 (V 0Vf )
Vo

= unsettled apparent volume,

Vf= final tapped volume.


Hausner Ratio =

Vo
Vf

(WHO, 2012).

(Carr, 1965)

4. Moisture Analyzer

Fungsi Alat :

Moisture Analyzer merupakan alat yang digunakan sebagai pengujian susut


pengeringan (Lost On Drying (LOD)) atau uji kelembaban dengan melihat selisih
massa serbuk yang telah mengalami pemanasan pada alat moisture analizer dan
dihitung persentase kadar air sesuai susut pengeringan yang terjadi.
Cara Kerja :
Cara dan pinsip kerja yangbisa dilakukan untuk menentukan kandungan air dari
suatu zat. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Termogravimetri
Cara ini dilakukan dengan dua teknik yakni pemanasan da penimbangan.
Selisih beraat sebelum pemanasan dan setelah pemanasan merupakan nilai
dari kandungan air yang ditentukan tersebut.
2. Konduktometri
Prinsip atau cara inilah yang dilakukan oleh alat moisture analyzer tersebut
yaitu salah satu teknik pengukurn kadar air dengan teknik elektrik, dimana
pengukuran didasarkan pada konduktivita atau hantaran listrik. Kadar air
akan berbandig linear terhadap kapasitas listrik yang diukur. Hantaran
listrik tersebut akan ditangkap olehalatyang dinamakan detector.
Kriteria atau Parameter :
Tergantung dari bahan yang diuji dalam susut pengeringan.

5. Hardness Tester

Fungsi Alat :
1. Menjamin agar tablet tidak hancur mulai dari pengemasan, pengangkutan,
penyimpanan dan sampai ketangan konsumen.
2. Menjamin agar tablet hancur pada saaat pemakaian (Depkes RI, 1995).

Cara Kerja :
Kekerasan tablet ditentukan dengan cara tablet diletakkan pada alat hardness
tester dengan skala awal 0, alat dijalankan sampai tablet pecah, skala pada alat
dibaca pada saat tablet pecah dan nilai yang diperoleh menyatakan kekerasan
tablet dalam Kp (Kilopound) (Pratiwi dan Lannie, 2010).
Kriteria dan Parameter Pengukuran :
Suatu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan fisik sediaan tablet
terhadap tekanan mekanik ataupun karena gesekan.Kekerasan tablet dan
ketebalannya berhubungan dengan isi die dan gaya kompresi yang diberikan. Bila
tekanan ditambah, maka kekerasan tablet meningkat sedangkan ketebalan tablet
berkurang. Selain itu, metode granulasi juga menentukan kekerasan tablet.
Persyaratan kekerasan tablet umumnya berkisar 4-8 kg, bobot tersebut dinaggap
sebagai batas minimum untuk menghasilkan tablet yang memuaskan. Hardness
Tester ini diharapakan dapat mengukur berat yang diperlukan untuk memecahkan
tablet (Lachman, 1994). Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi kekerasan
tablet adalah tekanan pada saat pentabletan, sifat bahan yang dikempa serta
jumlah serta jenis bahan obat yang ditambahkan saat pentabletan akan
meningkatkan kekerasan tablet (Ansel, 1989).

6. Alat Uji Friabilitas (kerapuhan)

Fungsi :
Data friabilitas digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap
gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman(Andayana, 2009).
Prinsip :
Prinsipnya adalah menetapkan bobot yang hilang dari sejumlah tablet selama
diputar dalam friabilator selama waktu tertentu (Andayana, 2009). Uji kerapuhan
berhubungan dengan kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi pada permukaan
tablet. Semakin besar harga persentase kerapuhan, maka semakin besar massa
tablet yang hilang. Kerapuhan yang tinggi akan mempengaruhi konsentrasi/kadar
zat aktif yang masih terdapat pada tablet. Tablet dengan konsentrasi zat aktif yang
kecil (tablet dengan bobot kecil), adanya kehilangan massa akibat rapuh akan
mempengaruhi kadar zat aktif yang masih terdapat dalam tablet (Sulaiman, 2007).
Cara kerja :
Pada proses pengukuran kerapuhan, alat diputar dengan kecepatan 25 putaran per
menit dan waktu yang digunakan adalah 4 menit. Jadi ada 100 putaran (Andayana,
2009). Kerapuhan dapat dievaluasi dengan menggunakan friabilator (contoh nya
Rosche friabilator) (Sulaiman, 2007). Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet,
terlebih dahulu dibersihkan dari debunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet
tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator, dan diputar sebanyak 100
putaran selama 4 menit, jadi kecepatan putarannya 25 putaran per menit. Setelah
selesai, keluarkan tablet dari alat, bersihkan dari debu dan timbang dengan

seksama. Kemudian dihitung persentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah


perlakuan (Andayana, 2009).
Parameter :
Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1% (Andayana, 2009).
Yang harus diperhatikan :
Hal yang harus diperhatikan dalam pengujian friabilitas adalah jika dalam proses
pengukuran friabilitas ada tablet yang pecah atau terbelah, maka tablet tersebut
tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Jika hasil pengukuran meragukan (bobot
yang hilang terlalu besar), maka pengujian harus diulang sebanyak dua kali.
Selanjutnya tentukan nilai rata-rata dari ketiga uji yang telah dilakukan
(Andayana, 2009).

7. Sieve Tester

Fungsi alat :
1. Untuk mengetahui distribusi partikel berdasarkan ukuran dari sampel
serbuk
2. Memisahkan serta menentukan ukuran partikel dari serbuk
Cara Kerja :

Alat akan memisahkan sampel serbuk menjadi beberapa fraksi sesuai dengan
ukuran partikel melalui proses pengayakan menggunakan beberapa pengayak
dengan ukuran mesh yang berbeda-beda. Penempatan pengayak secara vertical
dan disusun berdasarkan ukuran mesh pengayak dimana ukuran mesh terbesar
diletakkan paling atas.
(University of Texas Arlington, 2015).
Kriteria atau Parameter Pengukuran :
Penentu dari alat Sieve Tester/Sieve Shaker (Uji ayakan) adalah pengukuran
geometric partikel. Sampel diayak melalui sebuah susuna menurut besarnya
lubang ayakan penguji yang idsusun ke atas. Bahan yang akan diayak dibawa
pada ayakan teratas dengan lebar jala paling besar. Partikel yang ukurannya lebih
kecil daripada lebar jala yang dijumpai akan berjatuhan melewatinya. Mereka
membentuk bahan halus (lolos). Partikel yang tertinggal pada ayakan membentuk
bahan kasar. Setelah suatu ayakan tertentu (pada penimbangan 40-150 g setelah
kira-kira 9 menit) ditentukan melalui penimbangan, persentase mana dari jumlah
yang telah ditimbang ditahan kembali pada setiap ayakan (Voigt, 1984).

8. Jangka Sorong

Fungsi :

Untuk mengukur ketebalan dan diameter


Untuk mengukur panjang dengan ketelitian 0,1 mm digunakan jangka
sorong. Jangka sorong terdiri dari dua pasang rahang. Pasangan rahang
pertama digunakan untuk mengukur diameter dalam, sedangkan pasangan
rahang kedua untuk mengukur diameter luar. Pada rahang tetap terdapat
dua skala utama dalam satuan cm dan mm. Pada rahang geser terdapat skal
pendek yang terbagi menjadi 10 bagian yang sama. Skala ini disebut
nonius atau vernier.

Cara Kerja :
Pastikan bahwa alat ukur berada pada posisi nol ketika rahang tertutup. Tutup
rahang di sekitar objek namun jangan terlalu erat. Rahang harus mendesak secara
kokoh terhadap objek. Ketika sekrup telah dikencangkan, maka skala yang
ditunjukan dapat dibaca (Lindberg, 2013). Pembacaan dilakukan dengan
menambahkan hasil ukur di skala utama dan skala nonius (Widodo, 2009)
Kriteria atau Parameter Pengukuran :
Diameter tablet tidak lebih dari tiga kali dan tidak kurang dari satu sampai tigal
kali ukuran tebal tablet(Dirjen POM, 1979).

9. Disintegration Tester

Fungsi Alat :
Alat untuk mengukur waktu hancur tablet dan kapsul.

Cara Kerja :
Tablet yang akan diuji (sebanyak 6 tablet) dimasukkan dalam tiap tube, ditutup
dengan penutup dan dinaik-turunkan keranjang tersebut dalam medium air dengan
suhu 37 C. Dalam monografi yang lain disebutkan mediumnya merupakan
simulasi larutan gastrik (gastric fluid). Waktu hancur dihitung berdasarkan tablet
yang paling terakhir hancur. Persyaratan waktu hancur untuk tablet tidak bersalut
adalah kurang dari 15 menit, untuk tablet salut gula dan salut nonenterik kurang
dari 30 menit, sementara untuk tablet salut enterik tidak boleh hancur dalam
waktu 60 menit dalam medium asam, dan harus segera hancur dalam medium
basa (Sulaiman, 2007).
Parameter Pengukuran :
Waktu hancur adalah waktu yang dibutuhkan sejumlah tablet untuk hancur
menjadi granul/partikel penyusunnya yang mampu melewati ayakan no.10 yang
terdapat dibagian bawah alat uji. Alat yang digunakan adalah disintegration tester,
yang berbentuk keranjang, mempunyai 6 tube plastik yang terbuka dibagian atas,
sementara dibagian bawah dilapisi dengan ayakan/screen no.10 mesh (Sulaiman,
2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu hancur suatu sediaan tablet yaitu sifat
fisik granul, kekerasan, porositas tablet, dan daya serap granul. Penambahan
tekanan pada waktu penabletan menyebabkan penurunan porositas dan menaikkan
kekerasan tablet. Dengan bertambahnya kekerasan tablet akan menghambat
penetrasi cairan ke dalam pori-pori tablet sehingga memperpanjang waktu hancur
tablet. Kecuali dinyatakan lain waktu hancur tablet bersalut tidak > 15 menit
(Nugrahani, 2005). Untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang tertera
dalam

masing-masing

monografi. Untuk

tablet

parasetamol

tidak

bersalut pengujian dilakukan dengan memasukkan 1 tablet pada masing-masing


tabung dari keranjang, masukkan satu cakram pada tiap tabung dan jalankan alat,
gunakan air bersuhu 37 2 sebagai media kecuali dinyatakan menggunakan
cairan lain dalam masing-masing monografi. Pada akhir batas waktu seperti yang
tertera dalam monografi, angkat keranjang dan amati semua tablet: semua tablet
harus hancur sempurna. Bila 1 tablet atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi

pengujian dengan 12 tablet lainnya: tidak kurang 16 dari 18 tablet yang diuji harus
hancur sempurna (Lachman dkk., 2008).

10. Neraca Analitik

Fungsi Alat :

Alat untuk mengukur berat (terutama yang berukuran kecil) atau alat untuk
menimbang suatu zat. alat ini biasanya diletakkan di laboratorium sebagai alat
ukur dalam kegiatan penelitian.
Prinsip kerja neraca analitik :
Alat penghitung satuan massa suatu benda dengan teknik digital dan tingkat
ketelitian yang cukup tinggi. Prinsip kerjanya yaitu dengan penggunaan sumber
tegangan listrik yaitu stavolt dan dilakukan peneraan terlebih dahulu sebelum
digunakan kemudian bahan diletakkan pada neraca lalu dilihat angka yang tertera
pada layar, angka itu merupakan berat dari bahan yang ditimbang.
Manfaat neraca analitik :
Alat ini berfungsi untuk menimbang bahan yang akan digunakan untuk membuat
media untuk bakteri, jamur atau media tanam kultur jaringan dan mikrobiologi
dalam praktikum dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Jumlah media yang tidak
tepat akan berpengaruh terhadap konsentrasi zat dalam media sehingga dapat
menyebabkan terjadinya kekeliruan dalam hasil praktikum

Kekurangan neraca analitik :


1. Alat ini memiliki batas maksimal yaitu 1 mg atau 210 g, jika melewati batas
tersebut maka ketelitian perhitungan akanberkurang
2. Tidak dapat menggunakan sumber tegangan listrik yang besar, sehingga harus
menggunakan stavolt. Jika tidak, maka benang di bawah pan akan putus
3. Harga yang mahal
Kelebihan neraca analitik :
1. Memiliki tingkat ketelitian yang cukup tinggi dan dapat menimbang zat atau
benda sampai batas 0,0001 g atau 0,1 mg.
2. Penggunaannya tidak begitu rumit jika dibandingkan dengan timbangan
manual, sehingga lebih efisien dalam hal waktu dan tenaga.
Cara kerja neraca analitik :
1. Disiapkan timbangan analitik dalam kondisi seimbang atau water pass (dengan
mengatur sekrup pada kaki neracasehingga gelembung air di water pass tepat
berada di tengah).
2. Dibersihkan ruang dalam neraca analitik dengan menggunakan kuas. Piringan
neraca dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan
menggunakan etanol/alkohol.
3. Ditancapkan stop kontak pada stavolt.
4. Ditekan tombol On kemudian tunggu hingga muncul angka 0,0000 g.
5. Dimasukkan alas bahan (gelas arloji, kertas atau benda tipis) dengan membuka
kaca tidak begitu lebar supaya tidakmempengaruhi perhitungan karena neraca
analitik ini sangat peka.
6. Ditutup kaca neraca analitik.

7. Ditekan tombol zero supaya perhitungan lebih akurat.


8. Dimasukkan bahan yang akan ditimbang dengan membuka kaca tidak begitu
lebar, begitu pun ketika akan menambahkanatau mengurangi bahan untuk
menyesuaikan massa yang diinginkan.
9. Ditutup kaca.
10. Ditunggu hingga angka di layar monitor neraca analitik tidak berubah-ubah
dan sesuai dengan massa yang diinginkan.
11. Diambil bahan yang telah ditimbang.
12. Ditekan tombol Off hingga tidak ada angka di layar monitor neraca analitik.
13. Dilepas stop kontak dari stavolt.
14. Dibersihkan ruang dalam neraca analitik dengan menggunakan kuas. Piringan
neraca dapat diangkat dan seluruhtimbangan dapat dibersihkan dengan
menggunakan etanol/alkohol (Mettler, 2015).

11. Mesin Cetak Tablet

Fungsi :
Untuk alat produksi tablet
Cara kerja :

a. Mesin cetak yang menggunakan tangan


Merupakan mesin cetak tablet yang paling kecil dan sederhana yang
didisain sedemikian rupa sehingga operasionalnya dapat dengan
mempergunakan tangan. Prinsip kerja yang dimilikinya sama dengan
single punch yang lebih besar. Mesin cetak tangan ini mampu memberikan
hasil yang seragam dengan penampilan yang baik seperti halnya tablet
yang

dihasilkan

dari

mesin

cetak

lainnya.

Mesin

cetak

yang

mempergunakan tangan cocok untuk maksud pembuatan tablet dalam


jumlah kecil dan juga untuk tujuan penelitian di pabrik-pabrik maupun di
laboratorium perguruan tinggi. Mesin cetak ini mempunyai kemampuan
menghasilkan 50 tablet per menit, diameter punch dan dies yang bisa
digunakan pada mesin cetak ini adalah 12,7 mm
b. Mesin cetak single punch
Prinsip kerja mesin cetak single punch ini sama dengan mesin cetak yang
mempergunakan tangan. Kemampuan mesin ini untuk mencetak tablet
dengan diameter 12,7 mm adalah 60-90 tablet per menit, makin besar
diameter tablet yang akan dicetak maka semakin berkurang jumlah tablet
yang akan dihasilkannya. Hal ini disebabkan untuk mencetak tablet
dengan diameter yang besar membutuhkan tenaga/tekanan yang lebih
besar lagi. Tekanan ini dapat dipenuhi apabila daya kerja mesin maksimal
pada kecepatan rendah.
c. Mesin cetak rotary
Desain mesin cetak rotary maupun cara operasionalnya sangat berbeda
sekali dengan mesin cetak single punch apalagi dengan mesin cetak yang
menggunakan tangan. Mesin cetak rotari ini dilengkapi dengan meja die
yang bundar yang memiliki beberapa dies didalamnya disertai satu set
punch yang jumlahnya sesuai dengan dies yang ada pada meja tersebut
d. Mesin Cetak Rotary Ganda
Mesin cetak rotary ganda ini mampu menghasilkan 2 sampai 3 lapisan
tablet. Desainnya sedemikian rupa dilengkapi dengan banyak hopper
tergantung dari jumlah lapisan yang akan dibuat, misalnya untuk tablet
dengan dua lapisan dimana hopper juga dua. Hopper pertama untuk
lapisan pertama, dan hopper kedua berisi granul untuk lapisan kedua.

Pengisian ruang cetak dies dilakukan dua kali. Pertama akan diisi granul
dari hopper pertama dan diatasnya diisi granul dari hopper

kedua.

Pencetakan hanya satu kali, maka hasilnya akan didapat tablet dengan dua
lapis yang berbeda. Cara ini dapat digunakan untuk bahan obat yang tidak
dicampurkan, dapat diproses dalam bentuk granul yang berbeda. Mesin
cetak ganda ini mempunyai model, model pertama dengan 39 station
untuk ukuran diameter maksimum tablet, kedua 47 station dengan
diameter maksimum 11,1 mm dengan kapasitas 1250 dan 500 tablet/menit
(Lachman, 1994).
Parameter pengukuran alat

:-

12. Mesin Penyalut tablet

Fungsi :
Untuk pemberian salut pada tablet yang merupakan langkah tambahan dalam
proses pembuatan
Cara kerja :
Prinsip penyalutan tablet relatif sederhana. Penyalutan tablet adalah pemakaian
suatu campuran penyalut pada sejumlah tablet yang bergerak dengan
menggunakan udara panas untuk memepermudah penguapan pelarut. Distribusi

dari penyalut dilakukan dengan menggerakkan tablet-tablet tersebut, baik secara


tegak lurus (panci penyalut) maupun secara vertikal (alat penyalut suspensi udara)
terhadap pemakaian campuran penyalut (Augsburger & Hoag, 2008).
Tergantung pada peralatan dan fasilitas yang tersedia, operasi penyalutan lapisan
tipis dilakukan dengan menggunakan panci penyalut untuk penyalutan. Cara
penambahan larutan penyalut dapat dilakukan dengan cara penuangan seperti
halnya pada penyalutan gula atau dengan cara penyemprotan dengan alat khusus.
Baik penuangan ataupun penyemprotan dapat dilakukan secara terus-menerus atau
dengan diselang-seling (intermittent) (Basri, 2009).
Parameter pengukuran alat :-

13. Oven

Fungsi :
Tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air sampai batas
perkembangan mikroorganismedan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan
pembusukan terhambat atau terhenti.
Cara kerja :
Pengeringan merupakan proses untuk mengeliminasi keadaan lembab yang dapat
merusak kestabilan sediaan dimana transfer panas dan massa terlibat pada proses
ini. Panas ditransfer mengenai sediaan untuk mengeliminasi zat cair dimana zat
cair diubah menjadi massa uap yang dibawa oleh udara keluar. Transfer massa dan
panas merupakan suatu proses yang tak terpisahkan. Kecepatan pengeringan
ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi transfer massa dan panas
(Dhadhang dan Teuku, 2012).

Parameter pengukuran alat :-

DAFTAR PUSTAKA
Andayana N. 2009. Teori Sediaan Tablet. Tersedia di
http://pembuatan_tablet_nutwuri_ andayanahtml [diakses tanggal 27
februari 2016]

Ansel, C.H. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Jakarta : UI
Press.
Augsburger, L.L. & Hoag, S. W. 2008. Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets.
3rd Edition. Informa health care USA : New York.
Basri. 2009. Batang Brotowali (Tinospora crispa (L) Miers) dengan Bahan
Penyalut Hidroksipropil Metilselulosa dan Polietilen Glikol 400. Tersedia
pada etd.eprints.ums.ac.id/5865/ [diakses pada 1 Mei 2010]
Carr, R. L. 1965. evaluating properties of solid. Chemical Engineering journal,
72. 163-168.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Depkes RI
Dwinurahmanto.

2014.

Alat-alat

Bagian

Farmasetika.

Tersedia

http://farmasi.unej.ac.id/index.php/fasilitas/lab/lab-farmasetika

di

[Diakses

tanggal 17 Maret 2015]


Kurniawan, Dhadhang Wahyu dan Teuku Nanda Saifullah. 2012.
Teknologi Sediaan Farmasi. Purwokerto: UNSOED Press.
Lachman, L., H. A. Lieberman & J.L Kanig. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri Jilid I Edisi II. diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta.
Lindberg, V. 2013. Verniers and the Caliper. Available at www.rit.edu/~wuphsi/VernierCaliper/caliper.html. accessed in Feb 27th 2016.
Mettler Toledo International Inc. 2015. Timbangan Laboratorium. Tersedia online
di id.mt.com/id/home/products/Laboratory_Weighing_Solutions.html.
[diakses pada 28 Februari 2016]

Nugrahani I 2005 Karakterisik Granul dan Tablet Propranolol Hidroklorida


dengan Metode Granulasi Peleburan (cited 2010 Des 13)
Available at:http://jurnalfarmasiuiacid/pdf/2005/v02n02/ilma0202pdf.
Pratiwi, Melinda dan Lannie Hadisoewignyo.2010. Optimasi Formula Tablet
Lepas Lambat Katopril Menggunakan Metode Desain Faktorial. Majalah
Farmasi Indonesia 2 (4) halaman 285-295. Surabaya.
Sulaiman. 2007. Perbandingan Availabilitas In Vitro Tablet Metronidazol Produk
Generik Dan Produk Dagang (cited 2010 Des27)
University of Texas Arlington. 2015. Sieve Analysis Test. Tersedia online di
http://www.uta.edu/ce/geotech/lab/Main/sieve/index.htm.

[Diaksess

tanggal 27 Februari 2016]


Voigt, R. 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi V. diterjemahkan oleh
S.N. Soewandi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Widodo, T. 2009. Fisika. Jakarta: Pusat Perbukuan
World Health Organization. 2012. Bulk Density And Tapped Density Of Powdet..
Geneva : WHO press
.