Anda di halaman 1dari 350

PROGRAM DRAMA TELEVISI

DESERSI

TUGAS AKHIR
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan program Diploma Tiga
(D.III)

Diah Ayu Triasmadi

42090583

Farid Irawan

42090536

Retna Permata Sari

42090585

Eko Hariansyah Maulana

42090567

Putra Dwi Laksana

42090557

Dwi Setyorini

42090580

Wahyu Seno Aji

42090713

Jurusan Penyiaran
Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika
Jakarta
2012

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama
NIM
Perguruan Tinggi
Alamat Kampus
Alamat Rumah

:
:
:
:
:

Diah Ayu Triasmadi


42090583
AKOM Bina Sarana Informatika
Jl. Salemba Tengah No 45, Jakarta Pusat
Apartemen Gading Icon, Rosewood A, 03/02 Pulogadung

Dengan ini menyatakan bahwa tugas akhir yang telah saya buat dengan judul:
Desersi, adalah asli (orsinil) atau tidak plagiat (menjiplak) dan belum pernah
diterbitkan/dipublikasikan dimanapun dan dalam bentuk apapun.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada
paksanaan dari pihak manapun juga. Apabila dikemudian hari ternyata saya
memberikan keterangan palsu dan atau ada pihak lain yang mengklaim bahwa tugas
akhir yang telah saya buat adalah hasil karya milik seseorang atau badan tertentu,
saya bersedia diproses baik secara pidana maupun perdata dan kelulusan saya dari
Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika dicabut/dibatalkan.

Dibuat di
: Jakarta
Pada tanggal : 27 Juni 2012
Yang menyatakan,

Diah Ayu Triasmadi

ii

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH


UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :
Nama
NIM
Perguruan Tinggi
Program Studi
Alamat Kampus
Alamat Rumah

:
:
:
:
:
:

Diah Ayu Triasmadi


42090583
AKOM Bina Sarana Informatika
Penyiaran
Jl. Salemba Tengah No 45, Jakarta Pusat
Apartemen Gading Icon, Rosewood A, 03/02 Pulogadung

Dengan ini menyetujui untuk memberikan ijin kepada pihak Akademi Komunikasi
Bina Sarana Informatika, Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non-exclusive
Royalti-Free Right) atas karya drama televisi kami yang berjudul: Desersi.
Dengan Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif ini pihak Akademi Komunikasi Bina
Sarana Informatika
berhak menyimpan, mengalih-media atau format-kan,
mengelolanya dalam pangkalan data (database), mendistribusikannya dan
menampilkan atau mempublikasikannya di internet atau media lain untuk
kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari kami selama tetap
mencantumkan nama kami sebagai penulis/pencipta karya ilmiah tersebut.
Saya bersedia untuk menanggung secara pribadi, tanpa melibatkan pihak Akademi
Komunikasi Bina Sarana Informatika, segala bentuk tuntutan hukum yang timbul
atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah saya ini.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dwi Setyorini

Dibuat di
: Jakarta
Pada Tanggal : 27 Juni 2012
Yang menyatakan,

Putra Dwi Laksana

Diah Ayu Triasmadi

Eko Hariansyah Maulana

Farid Irawan

Wahyu Seno Aji

Retna Permata Sari

iii

PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR


Tugas Akhir ini telah disetujui dan disahkan serta diizinkan untuk dipresentasikan
pada ujian lisan tugas akhir periode I 2011/2012

DOSEN PEMBIMBING 1

DOSEN PEMBIMBING 2

Tugas Akhir

Tugas Akhir

Supriyadi, M.Kom

Adityo Fajar, A.Md

KETUA JURUSAN
Penyiaran

Anisti, S.Sos

iv

PENGUJI TUGAS AKHIR

Tugas akhir ini telah dipresentasikan pada tanggal

PENGUJI 1

PENGUJI 2

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan
baik. Adapun judul tugas akhir yang penulis ambil adalah Program Drama Televisi
Desersi.
Tujuan penulisan tugas akhir ini dibuat sebagai salah satu syarat kelulusan
Program Diploma Tiga (D.III) Akademi Penyiaran Bina Sarana Infomatika. Penulis
menyadari bahwa tanpa bimbingan dan dorongan dari semua pihak, penulisan tugas
akhir ini tidak akan lancar. Oleh karena itu izinkanlah penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada:
1. Bapak Direktur AKOM BSI.
2. Ibu Anisti, S.Sos selaku Ketua Jurusan Penyiaran AKOM BSI.
3. Bapak Supriyadi, S.Kom selaku dosen pembimbing tugas akhir.
4. Bapak Adityo Fajar selaku asisten pembimbing tugas akhir.
5. Staff / karyawan / dosen di lingkungan Akademi BSI.
6. Orang tua tercinta yang telah memberikan dukungan moral maupun spiritual.
7. Rekan-rekan mahasiswa kelas 6A.
Serta semua pihak yang telah membantu terwujudnya penulisan ini. Penulis
menyadari bahwa penulisan tugas akhir ini masih jauh sekali dari sempurna, untuk itu
penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
penulisan dimasa yang akan datang.

vi

Akhir kata semoga tugas akhir ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan
bagi para pembaca yang berminat pada umumnya.

Jakarta, 3 Juli 2010

Penulis

vii

ABSTRAKSI
Diah Ayu Triasmadi (42090583) sebagai Produser, Farid Irawan (42090536)
sebagai Sutradara, Retna Permata Sari (42090585) sebagai Penulis Naskah, Eko
Hariansyah Maulana (42090567) sebagai Penata Kamera, Putra Dwi Laksana
(42090557) sebagai Editor, Dwi Setyorini (42090580) sebagai Penata Suara,
Wahyu Seno Aji (42090713) sebagai Penata Artistik, Program Drama Televisi
Desersi.
Drama Televisi merupakan karya audio visual drama yang menggunakan
televisi sebagai media penayangannya. Sebuah format acara televisi yang diproduksi
dan dicipta melalui proses imajinasi kreatif dari kisah-kisah drama atau fiksi yang
direkayasa dan dikreasi ulang. Format yang digunakan merupakan interpretasi kisah
kehidupan yang diwujudkan dalam suatu runtutan cerita dalam sejumlah adegan.
Adegan tersebut akan menggabungkan antara realitas kenyataan hidup dengan fiksi
atau imajinasi khayalan para kreatornya.
Drama Televisi Desersi ini merupakan Drama Action. Bercerita tentang
perjuangan seorang aparat satuan khusus,Nicholas, menguak kematian sang adik.
Sang adik, Reno, bekerja di tempat yang sama namun di divisi yang berbeda. Kasus
kematian Reno saat penyergapan penyelundupan narkoba berada dalam tanggung
jawab Hans, atasan dan kawan Nicholas. Setelah dua minggu berlalu kasus ini tak
kunjung menemukan kejelasan. Keinginannya mengetahui dalang pembunuhan sang
adik terhalang aturan prosedural, menyebabkan Nicholas mengundurkan diri. Hingga
pada akhirnya ia menemukan jawaban bahwa Hans adalah otak dari semuanya.
Sebagai pembuat drama televisi, kami memiliki tujuan dan harapan dapat
memberikan suatu pemikiran bagi masyarakat akan arti penting sebuah keadilan,
tanggung jawab dan kepercayaan. Melalui drama televisi Desersi, kami ingin
menyampaikan sebuah pesan moral pada masyarakat bahwa keadilan harus tetap
ditegakkan meskipun telah tertutup oleh uang dan kekuasaan.
Kata kunci : Drama Televisi, Desersi.

viii

ABSTRACT
Diah Ayu Triasmadi (42090583) as a Produser, Farid Irawan (42090536) as a
Director, Retna Permata Sari (42090585) as a Scriptwriter, Eko Hariansyah
Maulana (42090567) as a Cameraman, Putra Dwi Laksana (42090557) as an
Editor, Dwi Setyorini (42090580) as a Soundman, Wahyu Seno Aji (42090713) as
an Art Director, Television Drama Program "Desertion".
Television drama is an audio visual work that uses television as a medium of
broadcast. Kind of television program which make, create through creative
imagination from drama stories or fictional engineering-work and was remade. The
format used is the interpretation of the story of life realized in a sequence of stories in
a number of scenes. The scene will combine reality with fiction or real life fantasy of
the creator's imagination.
Television drama "Desertion" is a Drama Action. Tells of the struggles of a
special forces unit, Nicholas, reveals the death of his brother. His brother, Reno,
works in the same place but in different divisions. Reno when the ambush deaths of
drug trafficking is responsible for Hans, boss and Nicolas friend.After two weeks,
this case never found clarity. His will in revealing the murder of his brother was
blocked by procedural rules, causing Nicholas to resign. At last he found that Hans is
the mastermind of it all.
As the creator of the television drama, we have goals and expectations can
provide a rational among society for the importance of justice, responsibility and
trust. Through the television drama "Desertion", we want to convey a moral message
to the public that justice must still be upheld even been covered by money and power.
Keywords: Television Drama, Desertion.

ix

DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Judul Tugas Akhir.............................................................................................i
Lembar Pernyataan Keaslian Tugas Akhir................................................................... ii
Lembar Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah ........................................... iii
Lembar Persetujuan dan Pengesahan Tugas Akhir .................................................... iv
Lembar Konsultasi Tugas Akhir ................................................................................. v

Kata Pengantar .......................................................................................................... vii


Abstraksi .................................................................................................................... ix
Abstract.. . x
Daftar Isi..................................................................................................................... xi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
Daftar Lampiran ........................................................................................................ xii

BAB I

PENDAHULUAN...................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................1
1.2. Maksud dan Tujuan....................................................................................3
1.3. Metode Pembuatan.....................................................................................5
1.4. Ruang Lingkup...........................................................................................6

BAB II

PEMBAHASAN......................................................................................9

2.1. Landasan Teori...................................................................................9


A. Komunikasi..
B. Televisi....
C. Format Acara Televisi.
D. Film.
E. Drama..
x

F. Drama Action..
2.2. Analisa (Perancangan/pembuatan)....................................................
A. Proses Kerja Produser.
1. Pra Produksi
2. Produksi.
3. Pasca Produksi
4. Peran dan Tanggung Jawab..
5. Proses Penciptaan Karya
6. Kendala Produksi ( Solusi Produksi )
Lampiran Lembar Kerja Produser
B. Proses Kerja Sutradara..
1. Pra Produksi
2. Produksi.
3. Pasca Produksi
4. Peran dan Tanggung Jawab..
5. Proses Penciptaan Karya
6. Kendala Produksi ( Solusi Produksi )
Lampiran Lembar Kerja Produser
C. Proses Kerja Penulis Naskah.
1. Pra Produksi
2. Produksi.
3. Pasca Produksi
4. Peran dan Tanggung Jawab..
5. Proses Penciptaan Karya
6. Kendala Produksi ( Solusi Produksi )
Lampiran Lembar Kerja Penulis Naskah

xi

10

D. Proses Kerja Kamera/Lighting..


1. Pra Produksi
2. Produksi.
3. Pasca Produksi
4. Peran dan Tanggung Jawab..
5. Proses Penciptaan Karya
6. Kendala Produksi ( Solusi Produksi )
Lampiran Lembar Kerja Kamera/Lighting
E. Proses Kerja Lighting.
1. Pra Produksi.
2. Produksi
3. Pasca Produksi.
4. Peran dan Tanggung Jawab
5. Proses Penciptaan Karya.
6. Kendala Produksi ( Solusi Produksi ).
Lampiran Lembar Kerja Lighting
F. Proses Kerja Editor..
1. Pra Produksi
2. Produksi.
3. Pasca Produksi
4. Peran dan Tanggung Jawab..
5. Proses Penciptaan Karya
6. Kendala Produksi ( Solusi Produksi )
Lampiran Lembar Kerja Editor
G. Proses Kerja Penata Suara
1. Pra Produksi
2. Produksi.

xii

3. Pasca Produksi
4. Peran dan Tanggung Jawab..
5. Proses Penciptaan Karya
6. Kendala Produksi ( Solusi Produksi )
Lampiran Lembar Kerja Penata Suara
H. Proses Kerja Penata Artistik
1. Pra Produksi
2. Produksi.
3. Pasca Produksi
4. Peran dan Tanggung Jawab..
5. Proses Penciptaan Karya
6. Kendala Produksi ( Solusi Produksi )
Lampiran Lembar Kerja Penata Artistik

BAB III PENUTUP ............................................................................................ 80


3.1. Kesimpulan.............................................................................................. 80
3.2. Saran-saran ............................................................................................. 81

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
SURAT KETERANGAN PKL/RISET
LAMPIRAN-LAMPIRAN

xiii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Gambar II.1 Storyboard .
2. Gambar II.2 Floor Plan Penata Cahaya ..
3. Gambar II.3 Floor Plan Penata Artistik....

xiv

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Tabel II.1 Working Schedule .
2. Tabel II.2 Breakdown Budget ...
3. Tabel II.3 Shooting Schedule
4. Tabel II.4 Casting Sheet
5. Tabel II.5 Daily Production Report ...
6. Tabel II.6 Equipment List .
7. Tabel II.7 Casting List
8. Tabel II.8 Director Treatment
9. Tabel II.9 Script Breakdown Sheet
10. Tabel II.10 Camera Report .
11. Tabel II.11 Lighting Sheet .
12. Tabel II.12 Laporan Editing ..
13. Tabel II.13 Logging Picture ..

xv

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
A.1. Laporan Pengeluaran ( Kwitansi ).
A.2. Release Form Talent.
A.3. Surat Perjanjian Lokasi.
A.4. Surat Izin Penggunaan Lagu

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Drama televisi saat ini menjadi hiburan yang sangat digemari oleh
masyarakat. Namun fenomena ini seperti memiliki dua sisi yang bertolak belakang.
Di sisi pertama bisa disebut ini merupakan kemajuan dalam pertelevisian Indonesia,
yang ditandai dengan banyaknya kemunculan drama televisi ( sinetron, FTV atau
sitkom ). Namun di sisi lain kuantitas yang memuncak tidak disertai dengan kualitas
yang baik.
Pihak televisi swasta banyak yang mengesampingkan nilai edukasi. Mereka
menuhankan pasar, memarakkan budaya konsumtif dan kurang mencerdaskan
masyarakat. Drama televisi dewasa ini cenderung membuai masyarakat dengan
menjual mimpi-mimpi yang berlebihan, kemewahan yang mencolok. Tak cukup
dengan ironi tersebut, drama televisi pun tak jarang diwarnai dengan kata-kata kasar,
perangai licik dan masalah yang tak jauh dari perebutan harta dan kekuasaan.
Memang tak semua drama televisi meracuni masyarakat dengan mimpi yang
terlampau manis dan tinggi, ada juga drama yang tetap mempedulikan pesan positif.
Pasar memang tujuan utama para produsen, tapi bukan berarti mereka tidak
mengindahkan salah satu unsur terpenting dalam suatu karya. Karya yang
dipasarkan harus memiliki prinsip mencerdaskan penonton, harus ada pesan moral
yang dapat dipetik, yang membuat masyarakat memiliki pandangan menggugah

2
tentang kebaikan. Televisi swasta komersial seharusnya tetap menghormati nilainilai agama dan budaya masyarakat. Jangan sampai karena alasan pasar, televisi
swasta komersial tidak bertanggung jawab pada masyarakat.
Menurut Naratama (2006:65), drama adalah sebuah format acara televisi
yang diproduksi dan dicipta melalui proses imajinasi kreatif dari kisah-kisah drama
atau fiksi yang direkayasa dan dikreasi ulang. Sedangkan drama televisi merupakan
karya audio visual drama yang menggunakan televisi sebagai media penayangannya.
Pada kesempatan kali ini, penulis memilih Program Drama Televisi dengan
Genre Action. Sebuah genre yang bisa dibilang jarang diangkat dalam dunia
perfilman. Jika dibandingkan dengan genre lain seperti Horor, Romance maupun
Suspense akan terlihat dengan sangat jelas perbedaan dari segi kuantitas. Padahal
film action memiliki tantangan yang cukup besar, tentang bagaimana kita tetap dapat
menyampaikan suatu pesan dengan cerita yang heroik. Menyampaikan pesan dengan
cara yang mungkin dapat kita sebut lebih garang dibanding cara penyampaian
pesan dalam genre film lainnya.
Adapun tema yang penulis angkat adalah tentang seorang aparat satuan
khusus yang terperangkap di situasi tidak tepat dalam upaya mengungkap kematian
sang adik. Alasan memilih tema diatas adalah penulis ingin menunjukkan pada
penonton bahwa keadilan harus tetap ditegakkan meskipun telah tertutupi oleh uang
dan kekuasaan. Keadilan adalah harga mati yang harus tetap diperjuangkan.
Untuk judul penulis memilih Desersi. Satu kata simpel yang menurut penulis
memiliki karakter yang kuat dan cocok untuk dijadikan judul film action. Sedangkan
arti dari kata desersi adalah

persekongkolan, pengunduran diri, pengkhianatan.

3
Persekongkolan disini ditujukan pada karakter Hans yang bersekongkol dengan
Daniel, sang pengedar narkotika. Sedangkan pengunduran diri menitikberatkan pada
Nicholas. Ia memilih untuk mengundurkan diri demi menguak siapa yang
membunuh adiknya.
1.2. Maksud dan Tujuan
A. MAKSUD
Maksud dari pembuatan karya ini adalah menerapkan ilmu yang didapatkan
selama perkuliahan dan menjadikannya menjadi sebuah karya akhir. Sedangkan
maksud dibuatnya film ini selain untuk menghibur para pecinta film action
khususnya, juga untuk menambah deretan koleksi atau memberikan pilihan
tambahan dalam genre action yang sekarang ini masih jarang dilirik oleh para
produsen film.
B. TUJUAN
Sedangkan tujuannya terbagi menjadi 3, diantaranya :
1. Tujuan Akademis
Tujuan secara akademis adalah sebagai syarat kelulusan untuk tugas akhir
dan memberi pengalaman proses produksi.
2. Tujuan Praktisi
Mengaplikasikan

ilmu

yang

menuangkannya dalam sebuah karya.

kami

dapat

selama

kuliah

dan

4
3. Tujuan Umum
Memberikan pesan moral pada masyarakat untuk tetap menegakkan keadilan
meskipun telah tertutup oleh uang dan kekuasaan. Selain itu juga memberikan
referensi salah satu media hiburan masyarakat.
1.3. Metode Pembuatan
A. Studi Pustaka
Penulis termotivasi untuk membuat film dengan baik dari buku Dongeng
sebuah Produksi Film oleh Tino Saroengallo. Dari segi naskah, penulis menggunakan
buku Penulisan Naskah Televisi Program Acara Televisi Format Acara Televisi
Drama oleh Anton Mabruri KN. Selain itu penulis juga menggunakan buku
Manajemen Produksi Program Acara Televisi Format Acara Televisi Drama oleh
Anton Mabruri KN.
B. Dokumentasi Audio Visual
Penulis terinspirasi oleh film The Negotiator yang disutradarai oleh F.Gary
Gray karena memiliki alur cerita yang tidak mudah ditebak, penonton dibuat
memiliki pandangan yang terbalik dan baru akan mengerti keseluruhan cerita di
akhir film. Untuk inspirasi drama televisi penulis memilih Catatan Seorang Jurnalis
yang ditayangkan di TV One. Drama televisi ini berani tampil beda dengan
mengangkat kisah nyata tentang kriminalitas.
1.4. Ruang Lingkup
Dalam drama televisi action ini, penulis membidik kelas menengah atas
sebagai target audiens dan tentu saja para pencinta film action. Penulis memilih
kelas menengah atas dengan alasan alur cerita yang penulis miliki berbeda dengan

5
drama televisi yang banyak beredar di pasaran. Dari segi usia film ini ditujukan
untuk kalangan dewasa. Anak-anak tidak dianjurkan menonton film ini dengan
alasan adanya adegan perkelahian dan penggunaan senjata api. Alur twist membuat
film ini berbeda. Alur yang menggiring penonton ke arah yang berlainan di awal
cerita lalu membalikkan semuanya di akhir cerita akan membuat cerita tak mudah
ditebak. Kelebihan lain dari karya ini adalah mengangkat cerita yang penuh dengan
strategi dan taktik, bukan sekadar cerita action yang melulu soal perkelahian karena
beda pendapat, perseteruan antar kelompok atau hal-hal yang lebih menonjolkan otot
dibanding kecerdasan otak. Tentu saja film ini memiliki pesan yang ingin
disampaikan dan diterima dengan baik oleh para penonton. Pesan moralnya adalah
keadilan harus tetap ditegakkan meskipun telah tertutup oleh kekuasaan dan uang.
Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki, Penulis berharap film ini akan
menjadi sajian yang berkualitas dan menarik untuk dinikmati.

6
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori
A. Komunikasi
Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat sosial.
Kehidupan bermasyarakat tak akan berlangsung normal tanpa adanya komunikasi.
Dapat dikatakan jika komunikasi adalah vital item. Menurut Yulia (2010:7) secara
etimologis, istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin : communication, yang
bersumber dari kata communis ( artinya : milik bersama atau berlaku dimanamana) yang selanjutnya bermakna sama, yaitu sama dalam memberikan makna (
interpretasi ) mengenai sesuatu hal.
Komunikasi sendiri terbagi dalam beberapa jenis, diantaranya komunikasi
intrapersonal, komunikasi interpersonal,dan salah satunya adalah komunikasi massa.
Bicara tentang komunikasi massa tentu yang ada dalam logika kita adalah
komunikasi yang berhubungan dengan sejumlah besar orang dalam sekali
penyampaian

informasi.

Menurut

Onong

(2009:225)

menjelaskan

bahwa

komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi melalui media massa,


jelasnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa (mass media
communication).
B. Televisi
Saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi dalam komunikasi
massa disebut media massa. Yang termasuk dalam media massa adalah media cetak
dan media elektronik. Media cetak disini berupa koran dan majalah. Sedangkan

7
media elektronik memiliki radio, internet dan televisi. Dibandingkan dengan radio
dan internet, televisi memiliki nilai lebih, yaitu dapat menyajikan informasi dan
hiburan melalui audio dan video yang menarik. Selain itu jangkauan siarnya pun
lebih luas dibanding radio. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut televisi berhasil
merebut perhatian khalayak dengan mudah.
Televisi merupakan sarana penyampaian informasi modern yang paling
dikenal oleh masyarakat dari segala lapisan. Lapisan yang dimaksud disini berasal
dari berbagai macam latar belakang. Mulai dari latar belakang pendidikan yang
berbeda, latar belakang sosial, pekerjaan yang berbeda, hingga selera yang berbeda
dalam menikmati program televisi. Dengan televisi kita bisa mendapatkan banyak
informasi baik politik, sosial , budaya, agama, ekonomi dan lain sebagainya.
Informasi disini tak melulu informasi berupa berita, televisi pun memberikan banyak
hiburan dan edukasi melalui program-program yang mereka miliki. Hampir 90%
penduduk di negara-negara berkembang mngenal dan memanfaatkan televisi sebagai
sarana hiburan, informasi, edukasi dan lain sebagainya. Menurut KBBI (Kamus
Besar Bahasa Indonesia), televisi adalah alat penangkap siaran bergambar. Televisi
berasal dari kata tele (jauh) dan vision (tampak), jadi televisi berarti tampak atau
dapat dilihat dari jauh.
C. Format Acara Televisi
Dalam sebuah stasiun televisi terdapat banyak program yang menjadi bahan
baku produksi. Penayangan sebuah program televisi akan memiliki feedback yang
positif dari para penonton bukan hanya bergantung pada konsep penyutradaraan atau
kreativitas penulisan naskah, melainkan sangat bergantung pada kemampuan

8
profesionalisme dari seluruh kelompok kerja di dunia broadcast dengan seluruh mata
rantai divisinya. Acara yang bagus juga bisa jatuh bila jam tayangnya tidak tepat.
Acara yang bagus juga bisa jatuh bila kualitas gambar buruk. Namun, semuanya
masih bisa diantisipasi jika memiliki kunci yang tepat. Kunci tersebut adalah format
acara televisi. Menurut Naratama (2006:63) mengatakan bahwa Format Acara
Televisi adalah sebuah perencanaan dasar dari suatu konsep acara televisi yang akan
menjadi landasan kreativitas dan desain produksi yang kan terbagi dalam berbagai
kriteria utama yang disesuaikan dengan tujuan dan target pemirsa.
D. Film
Film bukanlah kata yang jarang kita dengar, film sangatlah familiar. Sebelum
membahas lebih jauh, sebaiknya kita telaah dahulu apa pengertian dari film.
Menurut Badar (http://masbadar.com/definisi-film-sinema-gambar-bergerak-motionpicture/), Film, Sinema, Movie atau Gambar Bergerak, (dalam bahasa inggris
disebut motion picture) adalah serangkaian gambar-gambar yang diproyeksikan pada
sebuah layar agar tercipta ilusi (tipuan) gerak yang hidup. Gambar bergerak, movie,
film atau sinema adalah salah satu bentuk hiburan yang populer, yang menjadikan
manusia melarutkan diri mereka dalam dunia imajinasi untuk waktu tertentu. Meski
demikian, film juga mengajarkan manusia tentang sejarah, ilmu pengetahuan,
tingkah laku manusia dan berbagai macam hal lainnya. Beberapa film
mengkombinasikan hiburan dan pendidikan, agar proses belajar menjadi lebih
mudah dan nyaman. Dalam semua bentuknya, sinema adalah sebuah seni yang indah
sebagaimana bisnis, dan para pembuatnya akan memperoleh kebanggaan tinggi
tersendiri akan hasil kreasi mereka.

9
Tetapi secara umum film adalah media komunikasi

yang mampu

mempengaruhi cara pandang individu yang kemudian akan membentuk karakter


suatu bangsa. Fungsi inilah yang ternyata sebagai pranata sosial, mempengaruhi
tatanan sosial. Sayangnya di Indonesia belum banyak film yang mampu memberi
sumbangsih mendidik. Film di negeri ini kebanyakan masih terbatas pada tatanan
menghibur, money oriented, mengesampingkan esensi dari film itu sendiri yang
berperan sebagai sarana penyampaian pesan moral/informasi

yang dapat

memberikan pandangan menggugah bagi penontonnya.


Untuk pembagian jenis film ada yang berdasarkan bahan pembuatnya dan ada
pula yang berdasar proses produksinya. Menurut bahan pembuatnya film dibedakan
menjadi jenis film 8 mm, 16 mm, 35 mm, dan 70 mm. Jenis film 8 mm dan 16 mm
banyak digunakan untuk memproduksi film pendidikan dan dokumentasi.
Sedangkan untuk film yang diputar di bioskop menggunakan film jenis 35 mm dan
70 mm.
Sedangkan film berdasarkan proses produksinya, menurut Konfiden dalam
Effendy (2009:3) membagi jenis film menjadi 4 antara lain :
1. Film dokumenter
2. Film cerita pendek (short films)
3. Film cerita panjang (feature-length films)
4. Film-film jenis lain : profil perusahaan, iklan televisi, program televisi, dan
video klip.

10
Film ini termasuk dalam dua kategori yaitu film pendek karena durasi kurang
dari 60 menit dan program televisi karena diproduksi untuk konsumsi pemirsa
televisi.
E. Drama
Drama menjadi sorotan yang paling bersinar jika dibandingkan dengan
program televisi lainnya. Hal ini dikarenakan drama memiliki konflik cerita yang
juga terjadi dalam kehidupan nyata masyarakat. Walaupun tidak semua konflik
mewakili potret masalah masyarakat luas. Setidaknya drama memiliki ikatan
emosional yang cukup besar yang membuatnya dekat dengan target audiencenya.
Drama pun memiliki trik tersendiri agar penonton semakin tertarik. Trik tersebut
antara lain dari segi pemain yang secara fisik enak dilihat, baik pemain wanita
maupun pria.
Ada tiga bagian dari format acara televisi yaitu Drama, Non-Drama, dan Berita
Olahraga. Bisa juga dikategorikan menjadi Fiksi, Nonfiksi, dan News Sport.
Menurut Naratama (2006:65) Fiksi (Drama) adalah sebuah format acara
televisi yang diproduksi dan dicipta melalui proses imajinasi kreatif dari
kisah-kisah drama atau fiksi yang direkayasa dan dikreasi ulang. Format yang
digunakan merupakan interpretasi kisah kehidupan yang diwujudkan dalam
suatu runtutan cerita dalam sejumlah adegan. Adegan-adegan tersebut akan
menggabungkan antara realitas kenyataan hidup dengan fiksi atau imajinasi
khayalan para kreatornya. Contoh : Drama percintaan (love story), tragedi,
horor, komedi, legenda, aksi (action), dan sebagainya.
F. Drama Action
Dalam drama terdapat banyak jenis/genre. Antara lain drama romance, komedi,
horor, suspense, legenda dan aksi/action. Untuk drama action di Indonesia masih

11
jarang dilirik oleh para podusen. Kuantitasnya masih kalah jika disejajarkan dengan
genre film lain.
Menurut
Santino
(http://mubi.com/topics/the-action-film-genre-and-thedefinition-of-a-good-action-film), Film Action adalah sebuah genre film
dimana ada satu atau lebih pahlawan yang masuk dalam serangkaian tantangan
yang membutuhkan keterampilan fisik, disertai perkelahian dan pengejaran.
Film action cenderung menampilkan karakter cerdas yang berjuang melawan
rintangan yang lur biasa dan mungkin melibatkan situasi yang membahayakan.
Perkembangan cerita dan karakter umumnya menunjukkan adu fisik, kontak
senjata, dan pengejaran menggunakan mobil.

12
2.2 Analisa ( Perancangan/Pembuatan )
A. Proses Kerja Produser
Dewasa ini industri program televisi sepertinya memiliki kiblat yang berbeda.
Suatu program dinyatakan berhasil jika menduduki rating teratas. Rating seolah
menjadi Tuhan yang menjadi acuan keberhasilan suatu program. Padahal jika
ditelusuri lebih dalam rating hanya berdasarkan kuantitas atau seberapa banyak
masyarakat yang menonton suatu program stasiun televisi. Sedangkan orang
menonton suatu program acara tidak selalu bisa dipastikan ia menyukainya. Bisa saja
hanya sekadar menonton televisi. Tak ada patokan yang lebih konkret dalam
penentuan sebuah rating. Rating benar-benar perhitungan kuantitatif bukan kualitatif.
Rating merupakan alasan utama ditayangkannya sebuah program acara. Meski
suatu acara dikatakan jelek, tidak mendidik, namun bagaimanapun itu merupakan
bentuk keinginan masyarakat sendiri. Ketika acara ini jelek tetapi ratingnya tinggi,
meaning apa? Ya enggak tahu ya, orang-orang suka kok. Orang suka enggak tahu
(alasannya) kenapa, kalau dia (pengkritik/penonton) enggak suka, ya enggak suka aja,
demikian menurut Riza Primadi, Direktur Pemberitaan Trans TV.
Pemahaman tentang rating inilah yang menyebabkan banyak program televisi
di Indonesia menjadi mirip satu sama lain. Rating begitu keras memacu sebuah
keinginan untuk meniru, bukan mencipta. Kecenderungan seperti itu tak terhindarkan
karena para pengiklan selalu base on rating. Hal ini jika diperhatikan nampak seperti
sebuah simbiosis mutualisme antara pihak produsen program acara televisi dengan
pihak pengiklan. Rating seolah menjadi penghubung hitam diantara keduanya.
Sebuah program acara dengan rating tinggi akan kebanjiran iklan. Iklan disini

13
berperan sebagai ladang uang untuk pihak produsen program acara televisi. Di sisi
lain pihak pengiklan akan mendapatkan benefit pula, berupa kesempatan untuk
mempromosikan produknya.
Sedangkan penonton menjadi pelaku sekaligus korban dalam kasus ini.
Dikatakan pelaku karena penghitungan rating berdasarkan seberapa banyak orang
yang menonton program A/B. Program acara yang tidak berkualitas seharusnya
secara logika ratingnya buruk. Namun kenyataannya justru sebaliknya, program
seperti sinetron yang banyak menjual mimpi, konflik dangkal yang berkutat tak jauh
dari harta, fitnah dan persaingan malah mendulang untung. Program yang minus
secara kualitas tak akan mendapat rating di puncak jika masyarakat memiliki selera
yang baik. Namun masyarakat pun dapat menjadi korban atas ketidakseimbangan
sistem rating. Mereka yang memiliki selera di atas dari masyarakat kebanyakan
seakan harus menerima menjamurnya program acara yang minim kualitas. Secara
singkat masyarakat hanya memiliki andil pada tahap awal, selebihnya industri atau
pasarlah yang memegang kendali lebih dominan.
Satu hal yang patut dipertanyakan adalah dimana peran sebuah lembaga
sensor di Indonesia. Bagaimana bisa sinetron, bahkan film layar lebar yang tidak
berkualitas dapat beredar. Bukan saja beredar namun justru sekarang hampir sebagian
besar film layar lebar yang terpampang di bioskop merupakan film horor esek-esek
yang menurut penulis jauh dari kata mendidik ataupun berkualitas. Selayakya dengan
adanya lembaga sensor, program yang masyarakat nikmati haruslah berbobot.
Apakah regulasi yang berlaku tentang batas-batas kewajaran dalam sebuah film telah
mati? Sebuah lembaga sensor memiliki peranan besar dalam tatanan mendidik

14
masyarakat melalui film. Jika tugas mereka tak dilakukan dengan baik akan
berdampak pada moral masyarakat. Tapi sayang, kenyataan justru sebaliknya. Film
dengan tema horor plus-plus itu makin marak menghiasi jajaran film layar lebar kita.
Menurut penulis film layar lebar harus berkualitas.
Penulis sebagai mahasiswa yang menuntut ilmu penyiaran merasa miris. Film
merupakan cerminan suatu bangsa. Apa yang terjadi jika 70% film yang ada masuk
kategori sampah? Hal positif apa yang dapat diambil dari film horor esek-esek yang
hanya menonjolkan eksotisme para pemainnya? Apakah lembaga sensor dan para
produsen film itu tak memikirkan dampak dari apa yang mereka lakukan? Sungguh
penulis yakin masyarakat jenuh dengan film yang hanya menjual lekuk tubuh dan
sensualitas. Masyarakat menantikan tindak nyata dari semua pihak yang bergelut
dalam dunia perfilman. Program yang sehat dan berkualitas tentu akan mendatangkan
banyak hal positif bagi semua pihak.
Dengan dasar itulah penulis sebagai produser memiliki pandangan bahwa
rating bukanlah segala-galanya. Tak perlu menghalalkan semua cara demi rating.
Yang terpenting dalam produksi program adalah semua kru yang terlibat diharuskan
melakukan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Utamakan kualitas sebuah program,
maka keberhasilan pun akan kita dapatkan. Berpikirlah secara bijak dalam berkarya.
Pastikan program yang dihasilkan menyampaikan hal positif bagi masyarakat.
Menurut Saroengallo (2008:8) menjelaskan produser adalah mereka yang
bertanggung jawab dalam mengelola jalannya sebuah produksi sebuah film, mulai
dari persiapan hingga film selesai disunting.

15
Sedangkan menurut Widagdo Dan Gora S dalam Mabruri (2011:27)
mengemukakan jika produser adalah orang yang bertugas menjadi fasilitator
dan menyiapkan segala kebutuhan produksi dari tahap awal hingga tahap akhir,
termasuk di dalamnya menyiapkan formulir, dan catatan produksi untuk
kelancaran syuting.
Menurut kutipan di atas produser adalah orang yang mempunyai tanggung
jawab besar dalam sebuah produksi film. Menjadi seorang produser harus dapat
memimpin, mengayomi, mengenal dengan baik karakter para kru dan dapat menjadi
penengah yang bijak ketika terjadi masalah dalam sebuah tim. Keberhasilan dan
kegagalan produksi sebuah film merupakan tanggung jawab seorang produser.
Keberhasilan itu dapat terwujud jika proses pra produksi hingga pasca produksi
dikelola dengan baik oleh produser, tak lepas pula dari kerjasama seluruh kru.

1. Pra Produksi
Pada proses ini, penulis menentukan tim sebagai langkah pertama. Kesamaan visi
misi menjadi hal yang penulis utamakan. Bekerja bersama orang yang memiliki
keinginan yang serupa tentunya akan lebih mudah dan tidak memerlukan tenaga lebih
untuk mengatur ataupun mengarahkan. Kesadaran akan kewajiban yang harus
dilakukan tiap departemen sangat diperlukan demi kelancaran terwujudnya sebuah
film. Setelah tim terbentuk, penulis bersama anggota lain mulai mencari ide cerita.
Ide yang telah didapat dan disetujui oleh semua anggota tim akan diajukan pada
dosen pembimbing untuk memperoleh persetujuan. Saat cerita disetujui, penulis
memastikan ide cerita tersebut dikembangkan oleh penulis naskah. Setelah naskah
terbentuk, bedah naskah per departemen dilakukan. Selain itu penulis mulai membuat
shooting schedule.

16
Hasil dari bedah naskah tiap departemen akan menjadi panduan penulis dalam
mempersiapkan segala kebutuhan dan merangkumnya menjadi sebuah rencana
anggaran. Ketika total anggaran telah diketahui, proses pengumpulan dana pun
dimulai. Pencarian lokasi dan casting talent menjadi agenda berikutnya. Hunting
lokasi dilakukan bersama anggota yang lain. Penulis memecah tim menjadi dua atau
tiga kelompok dalam pencarian lokasi. Hal ini dilakukan agar lebih cepat
memperoleh lokasi. Sebagai produser penulis bertugas mengajukan izin lokasi secara
prosedural dan melakukan nego harga.
Casting talent dilakukan penulis yang bertindak sebagai produser bersama
sutradara, penata kamera dan penulis naskah. Tahap berikutnya adalah pemilihan
pemain yang sesuai dengan karakter dalam film. Sebagai persiapan berikutnya,
produser menyewa alat, memesan konsumsi untuk seluruh crew dan pemain selama
produksi hingga hire crew tambahan untuk kelancaran syuting. Sebelum syuting
dilakukan produser memastikan semua persiapan mencapai 100%.

2. Produksi
Dalam proses ini produser bertindak sebagai pengawas, memastikan syuting
berjalan dengan lancar dan berlangsung sesuai jadwal yang telah ditentukan. Selain
itu produser juga berperan sebagai pemimpin ketika terjadi masalah saat syuting
dilakukan. Setelah syuting selesai, produser melakukan pembayaran mulai dari
penyewaan alat, catering, crew tambahan, lokasi hingga para pemain.

17
3. Pasca Produksi
Proses pasca produksi dimulai dengan editing. Penulis sebagai produser dalam hal
ini mengawasi proses editing yang dilakukan oleh editor dan didampingi oleh
sutradara. Penulis memastikan hasil editing sesuai dengan standar yang ada, layak
untuk dinikmati dan sudah berbentuk DVD. Selain itu penulis menyelesaikan desain
produksi dan lampiran-lampiran kerja serta mengumpulkan laporan kerja dari tiap
departemen dan menggabungkannya dalam satu desain produksi.
4. Peran dan Tanggung Jawab Produser
Peran seorang produser dalam sebuah produksi film sangat penting seperti yang
diutarakan oleh Effendy dalam Mabruri (2011:27) bahwa Pada intinya produser
adalah orang yang mengepalai departemen produksi yang bisa jadi penggerak awal
sebuah produksi film. Tugas dan tanggung jawab produser menurut Mabruri
(2011:30) adalah :
1. Mencari dan mendapatkan ide cerita untuk diproduksi.
2. Membuat proposal produksi berdasarkan ide dan skenario film/program
televisi.
3. Menyusun rancangan produksi.
4. Menyusun rencana pemasaran.
5. Mengupayakan anggaran dana untuk produksi.
6. Mengawasi pelaksanaan produksi melalui laporan yang diterima dari semua
departemen.
7. Bertanggung jawab atas kontrak secara hukum dengan berbagai pihak dalam
produksi yang dikelola.

18
8. Bertanggung jawab atas seluruh produksi.
5. Proses Penciptaan Karya
a. Konsep Kreatif
Penulis memilih program drama action dengan alasan masih minimnya
jumlah film dengan genre action yang beredar. Penulis merasa tertantang untuk
membuat sebuah karya yang berbeda. Drama televisi Desersi menceritakan
tentang perjuangan seorang kakak yang bertugas sebagai aparat satuan khusus
yang mengundurkan diri demi menguak kasus terbunuhnya sang adik.
Penulis menyebut karya ini berbeda dengan karya action lainnya karena
dikemas dengan alur cerita twist. Alur yang memutar balikkan jalan pikiran
penonton masih jarang digunakan dalam perfilman Indonesia. Alur ini sanggup
mengecoh penonton, membuat cerita tak mudah ditebak. Kelebihan pada alur
inilah yang akan penulis tonjolkan.
b. Konsep Produksi
Pada proses ini penulis menyiapkan segala hal yang menjadi kebutuhan tiap
departemen untuk mewujudkan hasil karya yang maksimal. Sebagai produser
penulis menyadari dalam sebuah produksi film membutuhkan banyak orang. Oleh
karena itu penulis memutuskan untuk menambah crew dan melakukan
perangkapan jobdesk. Penulis bertindak sebagai akomodir dan pengawas
berjalannya proses produksi. Selain itu penulis harus mempunyai strategi jika
dalam proses produksi terjadi masalah.

19
c. Konsep Teknis
Penulis memilih alat-alat yang berkualitas mulai dari kamera, sound hingga
lighting. Pilihan kamera jatuh pada Sony PMW EX3 dengan alasan sudah HD (
High Definition ), resolusi mencapai 1080,dilengkapi fitur PS ( Progresif Scan )
dapat menembus kualitas gambar 24/25 Frame per second, sehingga jika kamera
bergerak dalam posisi pan atau tilt maka tidak ada komet di belakangnya, ini
sangat membantu jika ingin memperbesar kualitas gambar. Tidak memakai kaset
melainkan memory card. Mudah pula digunakan secara handheld.
Untuk sound penulis menyewa satu paket alat sound yang terdiri dari mixer,
boom mic, clip on wireless, phantom. Penulis ingin sound terkontrol dengan
sebaik mungkin agar suara yang dihasilkan jernih.
Sedangkan untuk lighting, penulis menggunakan blonde untuk key light. Fill
light menggunkan kinoflo 4 banks, terkadang Arri 300. Untuk back light penulis
memakai red head dan Arri 300.
Untuk editing penulis menyiapkan seperangkat PC dengan RAM 8 Gb untuk
menghindari out of memory pada saat tahap editing.
6. Kendala Produksi
a. 24 Mei 2012
Hari kedua penulis mengalami hambatan, hujan turun sehingga penulis
terpaksa menghentikan syuting di outdoor. Padahal talent untuk penyergap dari
pihak Polisi Udara sudah standby dan mereka tidak bisa pulang terlalu larut
karena paginya harus dinas. Penulis pun harus melakukan syuting kembali di

20
Kota Bunga pada tanggal 7 Juni 2012 setelah menyesuaikan jadwal dengan para
pemain dan kru.

b. 26 Mei 2012
Pada hari ketiga ini penulis mengalami kendala saat pindah lokasi ke gudang
bekas peluru di Pondok Gede. Sampai di lokasi pada pukul 17.00 WIB, penulis
mendapati ada aktifitas bongkar muat barang yang dilakukan oleh pihak yang
menyewa gudang tersebut. Penulis sebagai produser komplain pada penjaga
gudang, karena penulis telah konfirmasi jauh-jauh hari jika pada tanggal 26 Mei
2012 akan melakukan syuting dan telah mendapatkan izin dari pemilik gudang.
Setelah berunding dengan kedua belah pihak, keputusannya adalah penulis dan
tim harus menunggu hingga proses bongkar muat barang selesai. Selama
menunggu proses selesai, para kru dapat mulai set alat agar tidak membuang
waktu percuma.
Untuk memanfaatkan waktu, syuting dilakukan lebih dulu di outdoor gudang.
Meskipun telah mendahulukan syuting di outdoor, waktu syuting tetap kurang
karena banyak detail shot harus diambil yang membutuhkan waktu lebih lama.
Karena itu syuting terpaksa dilakukan sampai pukul 05.00 WIB, molor dari
jadwal dimana seharusnya pukul 00.00 WIB syuting harus selesai.

c. 27 Mei 2012
Hari keempat, lokasi syuting di Rusun Karet Tengsin. Penulis mendapatkan
waktu dari pukul 07.00-22.00 WIB. Jadwal crew call pukul 07.00 WIB. Namun

21
alat baru sampai pukul 11.00 WIB karena lama mencari alamat lokasi. Dengan
keterlambatan alat, maka syuting pun mundur. Penulis bersama kru lain juga
terlambat sampai lokasi dikarenakan paginya baru sampai rumah pukul 05.30
WIB. Sedangkan syuting di rusun dijadwalkan pukul 07.00 WIB. Penulis
memutuskan istirahat selama 3 jam untuk menjaga stamina agar tidak drop.
Penulis sempat mengajukan perpanjangan waktu pada pihak pengelola rusun,
namun nihil hasilnya. Syuting tetap harus selesai pukul 22.00 WIB.

Karena

masih ada beberapa adegan yang belum diambil, penulis dan kru akan kembali
melakukan syuting di rusun pada tanggal 9 Juni 2012.

d. 7 Juni 2012
Hari ketujuh syuting kembali hambatan terjadi dari pihak Polisi Udara,
mereka di hari itu ada latihan menembak. Awalnya mereka menjanjikan sampai
lokasi pukul 10.00 WIB namun mereka baru sampai pukul 15.30 WIB. Seluruh
kru bekerja dengan cepat agar tetap selesai syuting pukul 23.00 WIB dan
alhamdulillah syuting selesai tepat waktu. Sepulangnya dari puncak, penulis
melakukan traveling shot tiga mobil beriringan di jalan seputar Jakarta hingga
pukul 03.00 WIB.

e. 9 Juni 2012
Hari kedelapan syuting lokasi di Rusun Karet Tengsin. Penulis mendapatkan
waktu dari pukul 06.00-14.00 WIB. Crew call pukul 06.00 WIB. Kru mulai
loading alat dan barang. Penulis sebagai produser mengecek apakah genset sudah

22
sampai lokasi atau belum. Penulis mendapati jika genset belum datang. Merasa
sedikit janggal, karena biasanya genset selalu datang lebih dulu dari mobil alat,
penulis mencoba menghubungi operator genset namun tak ada jawaban. Sampai
pukul 08.00 WIB penulis mendapatkan kabar jika mobil genset mengalami
kecelakaan di Halim dan tidak bisa mengantarkan genset lain sebagai pengganti.
Agar tidak membuang banyak waktu, pengambilan gambar tetap dilakukan
namun dipilih yang tidak perlu menggunakan lighting terlebih dulu.
Penulis berusaha secepat mungkin untuk mendapatkan genset pengganti.
Akhirnya genset sampai lokasi pukul 09.00 WIB. Dikarenakan musibah
kecelakaan, penulis sebagai produser meminta kebijakan dari pengelola untuk
menambah waktu syuting hingga pukul 16.00 WIB. Awalnya pihak pengelola
bersikeras dan tidak mau tahu akan kendala yang penulis hadapi. Namun setelah
melalui rapat internal, penulis mengantongi izin untuk syuting hingga pukul 16.00
WIB.
Di tengah produksi, kembali terjadi kendala. Kali ini datang dari pemilik unit
yang kami pakai untuk syuting. Pemilik unit merasa tidak ada izin dari pihak
pengelola jika unit miliknya digunakan untuk kegiatan syuting. Kali ini penulis
sebagai produser menghubungi pihak pengelola sebagai penanggung jawab untuk
menyelesaikan masalah ini. Penulis merasa ini bukan lagi ranahnya untuk
berbicara, masalah ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak pengelola.
Penulis sudah mendapatkan izin lokasi syuting dan melakukan kewajibannya
membayar sewa lokasi. Setelah pihak pemilik unit dan pengelola berunding,

23
penulis dan kru harus mengosongkan unit dari alat-alat dan properti. Setelah itu,
syuting dilanjutkan di area koridor hingga selesai.

24

LEMBAR KERJA PRODUSER


1. Konsep Program
2. Working Schedule
3. Breakdown Budget
4. Shooting Schedule
5. Casting Sheet
6. Daily Production Report
7. Equipment List
8. Surat Ikatan Kerja
9. Surat Izin Lokasi

25

KONSEP PROGRAM
Saat ini Industri Perfilman Indonesia tengah bangkit jika dibandingkan pada
era 90-an, dimana pada saat itu banyak film dengan tema khusus untuk orang dewasa
bermunculan menyebabkan lumpuhnya produktifitas para insan perfilman. Ditambah
lagi dengan munculnya film-film Hollywood yang membuat film Indonesia tak lagi
menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Di awal tahun 2000, industri perfilman
Indonesia mulai bangkit dari masa suram dengan munculnya film musikal anak-anak
Petualangan Sherina, dan dua tahun berikutnya pada tahun 2002 Ada Apa Dengan
Cinta semakin menguatkan pernyataan jika Film Indonesia benar-benar bangun dari
tidur panjangnya.
Kondisi perfilman Indonesia baik itu film layar lebar atau produksi drama
televisi memang tengah berkembang pesat. Namun sayangnya perkembangan dari
segi kuantitas tak dibarengi dengan perkembangan secara kualitas. Memang tak
semua film dan drama televisi memiliki kualitas yang memprihatinkan, banyak pula
film layar lebar yang mendidik dan mencerahkan pandangan masyarakat seperti
Sang

Pencerah

yang

disutradarai

Hanung

Bramantyo.

Sang

Pencerah

mengungkapkan sosok pahlawan nasional itu dari sisi yang tidak banyak diketahui
publik. Selain mendirikan organisasi Islam Muhammadiyah, lelaki tegas pendirian itu
juga dimunculkan sebagai pembaharu Islam di Indonesia. Laskar Pelangi, besutan
seorang penulis kondang Andrea Hirata yang difilmkan oleh Riri Riza dan berhasil
membuat warna baru pada industri perfilman Indonesia. Itulah segelintir contoh karya
berkualitas dan memiliki prinsip dalam berfilm.

26
Namun tak sedikit pula karya yang berhasil masuk dalam jajaran layar lebar
tak memiliki kualitas yang mumpuni. Banyak film horor kamuflase, dengan arti
mencatut filmnya dalam jalur horor namun yang menonjol justru sisi sensualitasnya
dan menjual eksotisme pemainnya. Masyarakat sebenarnya bosan dengan tema-tema
semu yang hanya menjadi balutan agar film tak terkesan vulgar dan penonton pun
jengah akan dramatisasi realita yang berlebihan. Kami sebagai mahasiswa di bidang
broadcast mengetahui jika film secara umum tak hanya sebagai hiburan semata,
namun film lebih kepada bagaimana memvisualisasikan pesan, informasi dan
motivasi pada penonton. Film bukan hanya berorientasi pada materi dan konsep pasar
musiman

yang

cenderung

meminimalisir

bahkan

menghilangkan

esensi

sesungguhnya dari film yang mendidik dan mencerahkan pandangan. Film harus
menjadi sarana berbahasa dan berbicara secara visual yang baik. Tak hanya baik dari
segi bungkus tapi juga dari harus memberikan hal positif dari segi pesan dan
motivasi yang disampaikan.
Apabila kita amati lebih dalam, film lokal dengan genre action masih sangat
sulit ditemui. Disini kami mencoba menyuguhkan film action dengan ide, tema dan
cerita yang berbeda. Berbeda karena menggunakan alur twist yang bertujuan
memutarbalikkan pemikiran penonton dan penonton baru akan mengetahui seluruh
rangkaian film di akhir cerita. Dengan ide Sebuah kebenaran harus tetap ditegakkan
meski kebenaran tersebut telah dikuasai oleh uang dan kekuasaan, penulis ingin
masyarakat sadar akan arti sebuah kebenaran, kejujuran.
Mencoba mengangkat sosok seorang anggota pasukan khusus penulis pikir
adalah hal yang menarik dan masih jarang divisualisasikan dalam sebuah film.

27
Penulis ingin menunjukkan perjuangan seorang aparat satuan khusus yang
terperangkap di situasi tidak tepat dalam upaya mengungkap kematian sang adik.
Rasa sayang ditambah kesal tak ada perkembangan kasus tewasnya sang

adik

membuatnya harus mengundurkan diri agar dapat mengusut siapa otak di balik
semuanya. Nicholas merupakan seorang aparat. Ia memiliki adik bernama Reno yang
juga merupakan anggota pasukan khusus namun di divisi yang berbeda.
Cerita ini dimulai saat Reno tengah berada di sebuah misi penyergapan
terhadap organisasi penyelundupan narkotika berskala besar. Reno dipilih sebagai
pimpinan regu penyergapan. Konflik mulai terjadi saat Reno tewas tertembak saat
tengah membidik tersangka bernama Daniel yang pada akhirnya berhasil kabur.
Nicho sebagai seorang kakak sangat terpukul atas peristiwa tersebut dan berniat
untuk menangkap Daniel. Kasus yang ditangani secara penuh oleh Hans yang
merupakan pimpinan divisi juga kawan dekat Nicho tak juga menemukan jawaban.
Nicho memutuskan untuk keluar dari satuan khusus dan berencana menangkap
sendiri Daniel yang tengah buron. Konflik pun mencapai klimaks saat Daniel
ditemukan tewas saat Nicho tengah berada di tempat persembunyian Daniel. Hal
tersebut menjadikan Nicho sebagai tersangka tunggal atas terbunuhnya Daniel.
Namun, konflik mulai terselesaikan saat Nicho akhirnya menemukan tersangka
sebenarnya dalam penyelidikan yang ia lakukan demi membersihkan nama baiknya.
Potongan potongan informasi dari barang bukti pun akhirnya menjurus ke satu
nama yang sangat tidak ia duga. Satu nama yang ternyata juga merupakan sutradara
peristiwa tewasnya sang adik saat bertugas.

28
Dengan cerita seperti di atas, penulis berharap penonton dapat menerima
pesan yang disampaikan bahwa kebenaran harus tetap ditegakkan dengan segala
konsekuensinya.

Shooting Schedule
Production
Company
Project Title
Durasi

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Tahapan

PRA
PRODUKSI

PRODUKSI

PASCA
PRODUKSI

: BSI
: Desersi
: 30 Menit

Produser
Director
Time Broadcast

Aktifitas
Pembentukan Tim
Penemuan Ide
Pengembangan Gagasan
Penulisan Naskah
Breakdown Naskah
Hunting Lokasi/Recce
Casting Talent
Reading ( Talent )
Pengumpulan Dana
Final Meeting
Shooting
Daily Production Report
Evaluasi Produksi
Capturing
Rough Cut
Offline
Online Editing

April
1
2

Target Per Minggu


Mei
4
1
2
3
4

: Diah Ayu Triasmadi


: Farid Irawan
:

Juni
1
2

1
No.

Item

Jumlah Harga/satuan
Pra Produksi

Total

Print Dokumen ( Dispro,


Naskah )
FC Dokumen
Materai
Konsumsi Casting &
Reading Talent
Recce

Sewa Basecamp

3.550.000

7
8
9

Printer,Tinta & Kertas


Keperluan Basecamp
Syukuran

982.000
360.000
700.000
7.280.000

1
2
3
4

500.000
10

7.000

309.000
70.000
453.000
356.000

Sub Total
Produksi (Teknik)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Kamera
Lighting & Filter
Sound
Monitor
Genset & Bensin
Kabel Perleng
Sandbag
Crane
Dinky Dolly
Steger

11

C-Stand

15

20.000

600.000

12

Kain Hitam

50.000

500.000

Sewa 3
bulan

8.000.000
3.400.000
2.700.000
800.000
6.000.000
250.000
500.000
1.200.000
2.300.000
720.000

Sub Total
Produksi (Artistik)
1

Ket.

Properti, Wardrobe &


Make up
Fee Hire Ass.Crew

26.970.000
3.000.000

Sub Total
Produksi (Unit)

1.400.000
4.400.000

Sewa 2
hari
Sewa 2
hari

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Akomodasi ( Sewa
Mobil Box,Mobil
Crew,Driver,Bensin )
Sewa Lokasi Rusun
Karet
Sewa Lokasi Ricks
Billiard
Sewa Lokasi Gudang
Sewa Lokasi Makam
Pdk Ranggon
Sewa Lokasi Kantor
Sewa Lokasi Rumah
Konsumsi Talent &
Crew
P3K

10.000.000
4.200.000
3.300.000
1.300.000
200.000
500.000
2.550.000
10.260.000
Sub Total
Produksi (Talent)

1
2
3
4

Fee Main Talent


Fee Extras
Fee CAT
Fee Polud
Sub Total
Pasca Produksi

1
2
3

Copy Film dan Poster


RAM
Dana Cadangan
Sub Total

Dana Swadaya

Sewa 8
hari

100.000
32.410.000
6.900.000
1.325.000
1.035.000
3.350.000
12.610.000
500.000
330.000
3.000.000
3.830.000

GRAND
TOTAL

87.500.000

12.500.000

27 orang

SHOOTING SCHEDULE
Production Company: BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.

Hari dan Tanggal

Rabu, 23 Mei 2012

Kamis, 24 Mei 2012

Sabtu, 26 Mei 2012

Produser
Director
Unit Manager

Waktu Pelaksanaan
07.00
07.00-07.30
07.30-08.30
08.30-12.30
12.30-13.00
13.00-18.00
18.00-18.30
18.30-24.00
24.00-05.00
05.00-05.30
05.30-06.00
06.00-07.00
07.00
07.00-13.00
13.00-13.30
13.30-18.00
18.00-18.30
18.30-24.00
24.00-01.00
01.00-03.00
04.30-05.00
05.00-06.00
06.00-06.30
06.30-07.00
07.00-12.30
12.30-13.00
13.00-14.00
14.00-15.00

29.

15.00-16.00

30.
31.
32.
33.
34.
35.

16.00-17.30
17.30-18.00
18.00-22.00
22.00-22.30
22.30-01.00
01.00-02.00

: Diah Ayu
: Farid Irawan
:

Kegiatan
Crew & Talent Call
Sarapan
Setting Alat
Pengambilan Gambar
Break makan & Sholat
Pengambilan Gambar
Break makan & sholat
Pengambilan Gambar
Break Produksi (Tidur)
Sholat
Sarapan
Setting Alat
Talent Call
Pengambilan Gambar
Break Makan & Sholat
Pengambilan Gambar
Break Makan & Sholat
Pengambilan Gambar
Take out all equipment
Perjalanan pulang
Loading alat
Menuju lokasi
Sarapan
Setting alat
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Pengambilan gambar
Take all equipment
Perjalanan menuju lokasi
berikutnya
Loading & setting alat
Break sholat
Pengambilan gambar
Break makan
Pengambilan gambar
Take out all equipment

4
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.

Minggu, 27 Mei
2012

Senin, 28 Mei 2012

Selasa, 29 Mei 2012

Kamis, 7 Juni 2012

02.00-03.00
03.00-07.00
07.00
07.00-07.30
07.30-08.30
08.30-13.00
13.00-13.30
13.30-18.00
18.00-18.30
18.30-22.00
22.00-23.00
23.00-24.00
00.00-07.00
07.00-07.30
07.30-08.00
08.00-08.30
08.30-09.00
09.00-14.00
14.00-14.30
14.30-15.30
15.30-16.30
07.00
07.00-07.30
07.30-08.30
08.30-13.00
13.00-13.30
13.30-18.00
18.00-18.30
18.30-23.00
23.00-00.00
00.00-00.30
05.30-07.30
07.30-08.00
08.00
08.00-08.30
08.30-13.00
13.00-13.30
13.30-18.00
18.00-18.30
18.30-22.00
22.00-23.00
23.00-01.00
01.00-03.00

Perjalanan pulang
Istirahat
Crew & Talent Call
Sarapan
Setting alat
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Pengambilan gambar
Take out all equipment
Perjalanan pulang
Istirahat
Sarapan
Loading alat
Menuju lokasi
Setting alat
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Take out all equipment
Perjalanan pulang
Crew call
Sarapan
Setting alat
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Pengambilan gambar
Take out all equipment
Perjalanan pulang
Perjalanan menuju lokasi
Loading alat
Crew & talent call
Sarapan
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Pengambilan gambar
Take out all equipment
Perjalanan menuju jakarta
Pengambilan traveling shot

5
79. Sabtu, 9 Juni 2012
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.

05.00-05.30
05.30-06.00
06.00-07.00
07.00
07.00-07.30
07.30-12.30
12.30-13.00
13.00-14.00
14.00-15.00

Loading barang
Menuju lokasi
Setting alat
Crew & talent call
Sarapan
Pengambilan gambar
Break makan & sholat
Pengambilan gambar
Take out all equipment

CALL SHEET
Production Company
Project Title
Durasi
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

: BSI
: Desersi
: 30 Menit

Nama
Marco
Menco Hidayat
Ibnu
Fatoni
M.Luqman Ismail
Jhon Saragih
Ferry
Anggi
Lannang Wicaksana
Anang

Produser
Director

: Diah Ayu
: Farid Irawan

Berperan sebagai
Nicholas
Hans Kristian
Daniel
Hari Darmanto
Reno
Teman Reno
Penyergap
Penyergap
Penyergap
Penyergap

No Telpon
0878800660xx
0878850268xx
0821228902xx
087770000xx
0857274699xx
0819324199xx
0813457499xx
081283377xx
0813813420xx
085674808xx

DAILY PRODUCTION REPORT


Production Company
Project Title
Hari & Tanggal
Keterangan
Crew call
st
1 Camera Roll
Wrap

Peran

Pemeran

Nicholas

Marco Z S

Peran

Pemeran

Nicholas

Marco Z S

Porsi Catering
Makan Pagi
Makan Siang
Makan Malam

: BSI
Produser
: Desersi
Director
: Rabu, 23 Mei 2012 Lokasi
Terjadwal
07.00
08.00
24.00
Scene 6
Usia
Kostum
Handuk besar dan
Dewasa
handuk kecil
Scene 3
Kostum
Celana training
Dewasa
abu-abu, handuk
kecil, t-shirt
Usia

Dipesan
Dipesan
Dipesan
Dipesan

: Diah Ayu
: Farid Irawan
: Kota Bunga

Pelaksanaan
08.00
10.00
05.00

On Set

Pulang

08.00

Inap

On Set

Pulang

08.00

Inap

Realisasi
18 bungkus
18 bungkus
30 bungkus

DAILY PRODUCTION REPORT


Production Company
Project Title
Hari & Tanggal

: BSI
: Desersi
: Kamis, 24 Mei 2012

Keterangan
Crew call
st
1 Camera Roll
Wrap
Scene 5
Peran
Nicholas

Scene 11
Peran
Nicholas

Produser : Diah Ayu


Director : Farid Irawan
Lokasi
: Kota Bunga

Terjadwal
07.00
08.00
24.00

Pemeran

Usia

Marco Z S

Dewasa

Pemeran

Usia

Marco Z S

Dewasa

Scene 13
Peran

Pemeran

Nicholas

Marco Z S

Hans
Kristian

Menco

Pasukan

Lannang Wicaksana
Ferry Setiawan
Didik Kuncoro
Andrian Tigor
Adi Perdana
Ahmad Nasution
Nugroho Karyanto
Nur Adi Wijaya
Eko Nugroho

Pelaksanaan
09.00
10.00
03.00

Kostum
T-shirt lengan
panjang, celana
training putih

On Set

Pulang

08.00

Inap

Kostum
Kemeja abu-abu,
celanja jeans
hitam, sepatu kets,
jam tangan hitam.

On Set

Pulang

08.00

Inap

Kostum
Kemeja abu-abu,
celanja jeans hitam,
Dewasa
sepatu kets, jam
tangan hitam.
Kemeja NCU, jeans
Dewasa
hitam, sepatu PDL,
emble, jam tangan.
Kaos raider hitam, topi
hitam, 1 set seragam
penyergap
(celana hitam, vest,
Dewasa
pelindung siku,
pelindung lutut,
sarung tangan, unit
senjata, HT, sarung
handgun, sepatu PDL )

On Set

Pulang

08.00

Inap

08.00

Inap

13.00

Inap

Usia

9
Porsi Catering
Makan Pagi
Makan Siang
Makan Malam

Dipesan
Dipesan
Dipesan
Dipesan

Realisasi
30 bungkus
50 bungkus
40 bungkus

10

DAILY PRODUCTION REPORT


Production Company: BSI
Project Title
: Desersi
Hari & Tanggal
: Sabtu, 26 Mei 2012
Keterangan
Crew call
st
1 Camera Roll
Wrap ( 1st Location )
Wrap ( 2nd Location )
Scene 2
Peran
Nicholas

Hans Kristian

Produser
Director
Lokasi

Terjadwal
07.00
08.00
14.00
24.00

: Diah Ayu
: Farid Irawan
:TPU Ranggon
Pelaksanaan
08.00
10.00
14.00
05.00

Pemeran
Usia
Kostum
Marco Z S Dewasa Kemeja hitam,
jeans hitam, sepatu
semi pantopel, jam
tangan hitam
Menco
Dewasa Kemeja abu-abu,
jeans hitam, jam
tangan

On Set
08.00

Pulang
Pulang

08.00

Pulang

Scene 1 ( Gudang Bekas peluru Pondok Gede )


Peran

Pemeran

Usia

Reno

Ismail Luqman

Dewasa

Teman
Reno

Jhon Saragih

Dewasa

Hans
Kristian

Menco

Dewasa

Daniel

Ibnu Bagus

Tua

Extras mafia

Adam
Anugrawan

Dewasa

Kostum
Seragam NCU,
vest hitam, topi
hitam, HT, sepatu
PDL, handgun.
Seragam NCU,
vest hitam, topi
hitam, HT, sepatu
PDL, handgun.
Seragam NCU,
vest hitam, sepatu
PDL, jam tangan,
HT
Kemeja biru
lengan panjang,
jeans biru dongker,
jam tangan, sepatu
pantopel
Baju casual, sepatu
kets

On
Set

Pulang

16.00

Pulang

16.00

Pulang

08.00

Pulang

16.00

Pulang

08.00

Pulang

11
Dwi Prabowo
Ivan Febrianto
Idang
Penjaga
Gudang

Eiko Saiya

Aparat NCU Eko Nugroho


Lannang
Wicaksana
Andrian Tigor
Didik Kuncoro
Adi Perdana
Ahmad Nasution
Nugroho
Karyanto
Nur Adi Wijaya
Anang
Misbahudin
Priyadi
Porsi Catering
Makan Pagi
Makan Siang
Makan Malam

Dewasa
Dewasa

Dipesan
Dipesan
Dipesan
Dipesan

Kaos, jaket hijau


tua, celana jeans
pendek, sepatu
kets
Kaos raider hitam,
topi hitam, 1 set
seragam
penyergap
(celana hitam,
vest, pelindung
siku, pelindung
lutut, sarung
tangan, unit
senjata, HT,
sarung handgun,
sepatu PDL )

Realisasi
30 bungkus
30 bungkus
50 bungkus

08.00

Pulang

17.00

Pulang

12

DAILY PRODUCTION REPORT


Production Company: BSI
Project Title
: Desersi
Hari & Tanggal
: Minggu, 27 Mei 2012
Keterangan
Crew call
st
1 Camera Roll
Wrap
Scene 10
Peran
Nicholas

Terjadwal
07.00
08.30
22.00

Pemeran

Usia

Marco Z S Dewasa

Daniel

Ibnu
Bagus

Tua

Hans Kristian

Menco

Dewasa

Aparat NCU &


Fighter

Anggi
Adit
Kus
Anang
Nur

Dewasa

Surip

Tua

Extras
Vika

Scene 12
Peran
Hans Kristian

Produser
Director
Lokasi

Dewasa

: Diah Ayu
: Farid Irawan
: Rusun Karet
Pelaksanaan
08.00
11.00
23.00

Kostum
Kemeja abu-abu,
jeans hitam, sepatu
kets, jam tangan
Kemeja hijau
kotak-kotak, jeans,
sepatu pantopel,
Seragam NCU, vest
hitam, sepatu PDL,
jam tangan
Kaos raider hitam,
topi hitam, 1 set
seragam penyergap
(celana hitam, vest,
pelindung siku,
pelindung lutut,
sarung tangan, unit
senjata, HT, sarung
handgun, sepatu
PDL )
Kaos, Jaket, Jeans,
Sepatu Kets
Kaos, Rok pendek
pink, flat shoes

On Set

Pulang

11.00

Pulang

11.00

Pulang

11.00

Pulang

13.00

Pulang

11.00

Pulang

Kostum
Seragam NCU,
vest hitam,
sepatu PDL, jam
tangan

On Set

Pulang

11.00

Pulang

Pemeran

Usia

Menco

Dewasa

13

Daniel

Ibnu Bagus

Tua

Tim Forensik

Marcos
Fendrik

Tua
Dewasa

Adev
Kurniadi
Restu
Aparat NCU &
Fighter

Adrian
Danardono

Dewasa

Dedi
Ahmandi

Porsi Catering
Makan Pagi
Makan Siang

Dipesan
Dipesan
Dipesan

Kemeja hijau
kotak-kotak,
jeans, sepatu
pantopel,
Celana bahan
hitam, kemeja
putih, rompi
hitam, sarung
tangan, masker.
Kaos raider
hitam, topi
hitam, 1 set
seragam
penyergap
(celana hitam,
vest, pelindung
siku, pelindung
lutut, sarung
tangan, unit
senjata, HT,
sarung handgun,
sepatu PDL )

11.00

Pulang

11.00

Pulang

13.00

Pulang

Realisasi
40 bungkus
40 bungkus

14

DAILY PRODUCTION REPORT


Production Company
Project Title
Hari & Tanggal

: BSI
Produser
: Desersi
Director
: Senin, 28 Mei 2012 Lokasi

Keterangan
Crew call
st
1 Camera Roll
Wrap
Scene 9
Peran

Terjadwal
07.00
09.00
14.00

Pemeran

Usia

Nicholas

Marco Z S

Dewasa

Hans Kristian

Menco

Dewasa

Waitres

Siti
Maesaroh

Dewasa

Extras

Pemain billiard

Ulfa
Fitri
Nover
Adam
Umar
Yoga
Encang
Ajeng
Maulida
Adrian
Kiki Sabda
Ivan
Fadil

Porsi Catering
Makan Pagi
Makan Siang

Dewasa

Dewasa

Dipesan
Dipesan
Dipesan

: Diah Ayu
: Farid Irawan
: Ricks Billiard
Pelaksanaan
08.00
10.00
14.00

Kostum
Kemeja kotak
kuning, jeans
hitam, sepatu
semi pantopel,
jam tangan
Kemeja, sweater
abu-abu, jeans
hitam, jam
tangan, sepatu
pantopel
Seragam
Billiard, Celana
hitam, flat shoes
Polo shirt putih,
jeans, flat shoes

Kaos, Jeans,
Sepatu kets

On Set

Pulang

09.00

Pulang

09.00

Pulang

09.00

Pulang

09.00

Pulang

09.00

Pulang

Realisasi
30 bungkus
30 bungkus

15

DAILY PRODUCTION REPORT


Production Company
Project Title
Hari & Tanggal
Keterangan
Crew call
st
1 Camera Roll
Wrap
Scene 8
Peran
Nicholas

Hans Kristian

Hari Darmanto

Scene 4
Peran

Pemeran

: BSI
Produser
: Desersi
Director
: Selasa, 29 Mei 2012 Lokasi
Terjadwal
07.00
08.30
23.00

Usia

Kostum
Kemeja hijau tua,
celana bahan hitam,
Marco Z S Dewasa
pantopel, jam
tangan, emblem
Kemeja biru, celana
bahan hitam,
Menco
Dewasa
pantopel, jam
tangan, emblem
Kemeja putih, dasi
Fatoni
Tua
merah, setelan jas
hitam, pantopel

Pemeran

Usia

Nicholas

Marco Z S

Dewasa

Hans
Kristian

Menco

Dewasa

Extras

Edo Dwi
Fajar
Juniarty
Vinda P.Z
Anin
Yuliantina
Eka P.
Ery F.
Ajie

Kostum
Kemeja biru, jeans
hitam, sepatu
pantopel, jam
tangan, emblem
Kemeja peach,
celana bahan hitam,
jam tangan,
pantopel, emblem

Setelan seragam
kerja ( pria dan
wanita ) dan kemeja
Dewasa
NCU, sepatu (
pantopel dan high
heels )

: Diah Ayu
: Farid Irawan
: Fatmawati
Pelaksanaan
08.00
10.00
22.00

On Set

Pulang

08.30

Pulang

08.30

Pulang

08.30

Pulang

On Set

Pulang

08.30

Pulang

08.30

Pulang

08.30

Pulang

16

Tahanan
Scene 7
Peran

Jundi Faruq
Agung Jaya
S.
Dewi P.
Deddy
Saputra
M.
Imaduddin

Pemeran

Nicholas

Marco Z S

Hans
Kristian

Menco

Extras

Edo Dwi
Fajar
Juniarty
Vinda P.Z
Anin
Yuliantina
Eka P.
Ery F.
Ajie
Jundi Faruq
Agung Jaya
S.
Dewi P.
Deddy
Saputra

Porsi Catering
Makan Pagi
Makan Siang
Makan Malam

Dewasa

Kaos oblong,
celana panjang

Usia

Kostum
Kemeja hijau tua,
celana bahan hitam,
Dewasa
pantopel, jam
tangan, emblem
Kemeja biru, celana
bahan hitam,
Dewasa
pantopel, jam
tangan, emblem

Setelan seragam
kerja ( pria dan
wanita ) dan kemeja
Dewasa
NCU, sepatu (
pantopel dan high
heels )

Dipesan
Dipesan
Dipesan
Dipesan

08.30

Pulang

On Set

Pulang

08.30

Pulang

08.30

Pulang

08.30

Pulang

Realisasi
40 bungkus
40 bungkus
40 bungkus

17

DAILY PRODUCTION REPORT


Production Company
Project Title
Hari & Tanggal
Keterangan
Crew call
st
1 Camera Roll
Wrap
Scene 13
Peran

: BSI
Produser
: Desersi
Director
: Kamis, 7 Juni 2012 Lokasi
Terjadwal
08.00
08.30
22.00

Pemeran

Usia

Nicholas

Marco Z S

Dewasa

Hans
Kristian

Menco

Dewasa

Aparat
NCU

Lannang
Wicaksana

Porsi Catering
Makan Pagi
Makan Siang
Makan Malam

Dewasa

Dipesan
Dipesan
Dipesan
Dipesan

: Diah Ayu
: Farid Irawan
: Kota Bunga
Pelaksanaan
09.00
10.00
22.00

Kostum
Kemeja abu-abu,
jeans hitam, sepatu
kets, jam tangan
Seragam NCU, vest
hitam, sepatu PDL,
jam tangan
Kaos raider hitam,
topi hitam, 1 set
seragam penyergap
(celana hitam, vest,
pelindung siku,
pelindung lutut,
sarung tangan, unit
senjata, HT, sarung
handgun, sepatu
PDL )

On Set

Pulang

09.00

Pulang

09.00

Pulang

15.00

Pulang

Realisasi
25 bungkus
30 bungkus
30 bungkus

18

DAILY PRODUCTION REPORT


Production Company
Project Title
Hari & Tanggal

: BSI
Produser
: Desersi
Director
: Sabtu, 9 Juni 2012 Lokasi

Keterangan
Crew call
1st Camera Roll
Wrap
Scene 10
Peran
Nicholas

Terjadwal
07.00
07.30
15.00

Pemeran

Usia

Marco Z S Dewasa

Hans Kristian

Menco

Dewasa

Daniel

Ibnu
Bagus

Tua

Aparat NCU

Anggi
Adit
Kus
Anang
Nur

Dewasa

Scene 12
Peran

Kostum
Kemeja abu-abu,
jeans hitam, sepatu
kets, jam tangan
Seragam NCU, vest
hitam, sepatu PDL,
jam tangan
Kemeja hijau
kotak-kotak, jeans,
sepatu pantopel,
Kaos raider hitam,
topi hitam, 1 set
seragam penyergap
(celana hitam, vest,
pelindung siku,
pelindung lutut,
sarung tangan, unit
senjata, HT, sarung
handgun, sepatu
PDL )

Pemeran

Usia

Daniel

Ibnu Bagus

Tua

Tim Forensik

Marcos
Fendrik

Tua
Dewasa

Kostum
Kemeja hijau
kotak-kotak,
jeans, sepatu
pantopel,
Celana bahan
hitam, kemeja
putih, rompi
hitam, sarung

: Diah Ayu
: Farid Irawan
: Rusun Karet
Pelaksanaan
08.00
09.00
16.00

On Set

Pulang

08.00

Pulang

08.00

Pulang

08.00

Pulang

11.00

Pulang

On Set

Pulang

08.00

Pulang

08.00

Pulang

19

Aparat NCU

Porsi Catering
Makan Pagi
Makan Siang
Makan Malam

Adev
Kurniadi

Dewasa

Dipesan
Dipesan
Dipesan
Dipesan

tangan, masker.
Kaos raider
hitam, topi
hitam, 1 set
seragam
penyergap
(celana hitam,
vest, pelindung
siku, pelindung
lutut, sarung
tangan, unit
senjata, HT,
sarung handgun,
sepatu PDL )

08.00

Realisasi
30 bungkus
30 bungkus
30 bungkus

Pulang

20

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST HARIAN )


Production Company: BSI
Produser
: Diah Ayu
Project Title
: Desersi
Director
: Farid Irawan
Hari dan Tanggal : Rabu, 23 Mei 2012 Technical Director :
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama
Kamera
Equipment for
Camera
Lighting
Lighting
Lighting
Lighting
C stand
Headphone
Boom Mic
Monitor
Perleng
Sandbag
Alligator Clamp

Seri
Sony EX3

Jumlah
1

Keterangan
Sewa

Dolly Track

Sewa

Kinoflo 4 feet 4 bank


Blonde
Red Head
ARRI 300 W

2
5
2
2
5
1
1
1
20
18
4

Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Milik Sendiri
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa

Philips
Sennheiser
LG

21

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST HARIAN )


Production Company: BSI
Produser
: Diah Ayu
Project Title
: Desersi
Director
: Farid Irawan
Hari dan Tanggal : Kamis, 24 Mei 2012 Technical Director :
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama
Kamera
Equipment for
Camera
Lighting
Lighting
Lighting
Lighting
C stand
Headphone
Boom Mic
Monitor
Perleng
Sandbag
Alligator Clamp

Seri
Sony EX3

Jumlah
1

Keterangan
Sewa

Dolly Track

Sewa

Kinoflo 4 feet 4 bank


Blonde
Red Head
ARRI 300 W

2
5
2
2
5
1
1
1
20
18
4

Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Milik Sendiri
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa

Philips
Sennheiser
LG

22

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST HARIAN )


Production Company: BSI
Produser
: Diah Ayu
Project Title
: Desersi
Director
: Farid Irawan
Hari dan Tanggal : Sabtu, 26 Mei 2012 Technical Director :
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama
Kamera
Equipment for
Camera
Lighting
Lighting
Lighting
Lighting
C stand
Headphone
Boom Mic
Monitor
Perleng
Sandbag
Alligator Clamp

Seri
Sony EX3

Jumlah
1

Keterangan
Sewa

Jib Crane

Sewa

Kinoflo 4 feet 4 bank


Blonde
Red Head
ARRI 300 W

2
5
2
2
5
1
1
1
20
18
4

Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Milik Sendiri
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa

Philips
Sennheiser
LG

23

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST HARIAN )


Production Company: BSI
Produser
: Diah Ayu
Project Title
: Desersi
Director
: Farid Irawan
Hari dan Tanggal : Minggu, 27 Mei 2012 Technical Director :
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama
Kamera
Equipment for
Camera
Lighting
Lighting
Lighting
Lighting
C stand
Headphone
Boom Mic
Monitor
Perleng
Sandbag
Alligator Clamp

Seri
Sony EX3

Jumlah
1

Keterangan
Sewa

Dolly Track

Sewa

Kinoflo 4 feet 4 bank


Blonde
Red Head
ARRI 300 W

2
5
2
2
5
1
1
1
20
18
4

Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Milik Sendiri
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa

Philips
Sennheiser
LG

24

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST HARIAN )


Production Company: BSI
Produser
: Diah Ayu
Project Title
: Desersi
Director
: Farid Irawan
Hari dan Tanggal : Senin, 28 Mei 2012 Technical Director :
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nama
Kamera
Lighting
Lighting
Lighting
Lighting
C stand
Headphone
Boom Mic
Monitor
Perleng
Sandbag
Alligator Clamp

Seri
Sony EX3
Kinoflo 4 feet 4 bank
Blonde
Red Head
ARRI 300 W
Philips
Sennheiser
LG

Jumlah
1
2
5
2
2
5
1
1
1
20
18
4

Keterangan
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Milik Sendiri
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa

25

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST HARIAN )


Production Company: BSI
Produser
: Diah Ayu
Project Title
: Desersi
Director
: Farid Irawan
Hari dan Tanggal : Selasa, 29 Mei 2012 Technical Director :
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama
Kamera
Equipment for
Camera
Lighting
Lighting
Lighting
Lighting
C stand
Headphone
Boom Mic
Monitor
Perleng
Sandbag
Alligator Clamp

Seri
Sony EX3

Jumlah
1

Keterangan
Sewa

Dolly Track

Sewa

Kinoflo 4 feet 4 bank


Blonde
Red Head
ARRI 300 W

2
5
2
2
5
1
1
1
20
18
4

Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Milik Sendiri
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa

Philips
Sennheiser
LG

26

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST HARIAN )


Production Company: BSI
Produser
: Diah Ayu
Project Title
: Desersi
Director
: Farid Irawan
Hari dan Tanggal : Kamis, 7 Juni 2012 Technical Director :
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama
Kamera
Apple Box
Lighting
Lighting
Lighting
Lighting
C stand+Arm
Headphone

Clip On Wireless

10

Clip On
Boom
Microphone
Mixer
Phantom
Monitor
Perleng
Sandbag
Alligator Clamp
Kain hitam
Besi Alumunium

11
12
13
14
15
16
17
18
19

Seri
Sony EX3

Jumlah
1
1
2
3
2
2
14
1

Keterangan
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Milik Sendiri

Sewa

Sewa

MKH 416

Sewa

Shure FP 42

1
1
1
15
15
4
5
8

Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa

Kinoflo 4 feet 4 bank


Blonde
Red Head
ARRI 300 W
Philips
Sennheiser EW 100 G2
Body Pack
Sennheiser ECM 77 B

Sony 14

27

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST HARIAN )


Production Company: BSI
Produser
: Diah Ayu
Project Title
: Desersi
Director
: Farid Irawan
Hari dan Tanggal : Sabtu, 9 Juni 2012 Technical Director :
No
1

3
4
5
6
7
8

Nama
Kamera
Equipment for
camera
Lighting
Lighting
Lighting
Lighting
C stand+Arm
Headphone

Clip On Wireless

10

Clip On
Boom
Microphone
Mixer
Phantom
Monitor
Perleng
Sandbag
Alligator Clamp
Kain hitam
Besi Alumunium

11
12
13
14
15
16
17
18
19

Seri
Sony EX3

Jumlah
1

Keterangan
Sewa

Dolly Track

Sewa

Kinoflo 4 feet 4 bank


Blonde
Red Head
ARRI 300 W

2
3
2
2
5
1

Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Milik Sendiri

Sewa

Sewa

MKH 416

Sewa

Shure FP 42

1
1
1
15
15
4
5
8

Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa
Sewa

Philips
Sennheiser EW 100 G2
Body Pack
Sennheiser ECM 77 B

Sony 14

28
Deskripsi Program
Kategori Program
Media
Format Program
Judul Program
Durasi Program
Target Audience
a. Umur
b. Jenis Kelamin
c. S E S

:
:
:
:
:

Hiburan
Televisi
Drama Televisi
Desersi
30 menit

: Dewasa ( 18 35 )
Orang tua ( 36 keatas)
: Laki-laki dan Perempuan
: A ( Atas )
B ( Menengah keatas)

Karakteristik Produksi: Record ( Single Camera )


Jam tayang
: 22.00 22.30 WIB
Alasan
: Karena terdapat adegan perkelahian dan anak-anak
tidak dianjurkan untuk menonton, penulis memilih
menayangkan program ini pada malam hari.

29
B. Proses Kerja Sutradara
Dunia pertelevisian yang dewasa ini tumbuh berkembang pesat, membuat
industri film semakin meningkat. Karena media penyampaiannya dalam bentuk
audiovisual yang mudah dicerna, sehingga industri ini semakin banyak diminati dan
dinikmati oleh hampir setiap individu. Selain untuk memberikan hiburan, televisi
juga memberikan banyak manfaat yang positif bagi para penikmatnya. Bahkan bagi
para pemasang iklan, dalam proses promosinya televisi dapat mendatangkan
keuntungan yang sangat besar.
Namun dengan banyaknya stasiun televisi yang bermunculan, membuat
masyarakat dengan bebas memilih stasiun televisi mana yang mereka gemari, serta
asik untuk ditonton.Begitu pula dengan pemasang iklan, merekapun memilih dan
menentukan stasiun televisi mana yang pas untuk dapat dijadikan tempat
berpromosi.Hal inilah yang membuat stasiun televisi saling bersaing untuk
memberikan program-program acara yang menarik dan berkualitas, agar dapat
menarik minat penonton serta dapat mendatangkan para pemasang iklan dalam
jumlah yang banyak.
Hal seperti inilah yang menjadi tugas berat bagi para produsen film tentunya
dalam membuat sebuah tayangan yang sudah tentu harus memiliki daya tarik
penonton serta daya jual yang tinggi.Dan berbicara mengenai kualitas, tidak sedikit
film tayangan televisi di Indonesia yang sering mengutamakan nilai-nilai kemewahan
tanpa memperhatikan nilai edukasi yang dapat mempengaruhi psikologis penonton.
Menurut Naratama (2004:62) Buat mereka, yang penting ada pemeran (artis), ada

30
kamera, dan ada peralatan paskaproduksi/editing, lalu langsung syuting. Hasilnya,
acara menjadi tidak fokus, ceritanya janggal, dan semua penonton sibuk ngedumel.
Sutradara memegang peranan yang sangat penting baik pada saat pra
produksi, produksi, maupun pascaproduksi.Menurut daftar istilah dalam buku Mari
Membuat Film (2009:101) Sutradara adalah orang yang mengontrol tindakan dan
dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang
dimaksud oleh naskah dan atau produser.

1. Pra Produksi
Langkah awal untuk membuat sebuah film, adalah pada tahap ini. Seorang
sutradara bersama penulis naskah dan produser menyepakati ide awal yang telah
dibuat oleh penulis naskah, untuk dibedah secara mendalam guna menentukan arah
dan tujuan film agar penonton nantinya dapat memahami isi dari cerita film yang
akan diproduksi, serta mempertimbangkan tingkat kesulitan dari setiap adegan yang
akan diproduksi yang nantinya akan mempengaruhi biaya produksi.
Ide cerita yang telah dibentuk dalam skenario, kemudian dibedah oleh penulis
kedalam bentuk directors treatment, shot list, danstory board. Menurut Saroengalo
(2008:34) Sutradara juga mempunyai tugas di masa persiapan produksi ini, yaitu:
Membedah skenario, memahami skenario, menghafal skenario, menyerap skenario,
menyatu dengan skenario.
Setelah menyatukan misi daritriangle system atas ide cerita yang telah
disepakati dan skenario yang telah dibuat, penulis membuat konsep penyutradaraan
yang mencakup konsep dari semua departement yang nantinya akan dibicarakan

31
bersama kepala masing-masing departement dalam rapat produksi agar segala aspek
yang ada dalam pemikiran penulis dapat dipahami oleh kepala masing-masing
departement dan dapat direalisasikan sesuai dengan keinginan penulis. Dan dalam
rapat produksi pula segala kemungkinan yang akan menjadi kendala shooting
dibicarakan serta diperhitungkan guna meminimalisir adanya kendala pada saat
proses shooting berlangsung.
Bersama dengan penata kamera, produser, dan penata artistik, penulis
melakukan hunting lokasi guna menghasilkan setting yang sesuai dengan skenario.
Adapun dengan penata kamera, penulis membicarakan mengenai angle shot yang
akan dibuat, kebutuhan cahaya yang diperlukan dalam pengambilan gambar, serta
movement kamera yang akan dipergunakan dan bloking pemain pada adegan yang
terjadi di lokasi tersebut. Dan bersama dengan penata artistik, penulis membicarakan
mengenai setting yang dibutuhkan di lokasi yang akan digunakan. Jika memang
lokasi yang dipergunakan sudah sesuai dengan konsep penulis, maka penulis hanya
meminta kepada penata artistik untuk lebih memperhatikan nilai estetika pada setting
yang ada di lokasi tersebut agar dalam framing nantinya lebih terlihat indah.Namun
jika lokasi yang didapat masih jauh dari konsep, penulis membicarakan lebih jauh
kepada penata artistik agar nantinya setting pada lokasi tersebut benar-benar harus
sesuai dengan konsep penyutradaraan dari penulis.
Selanjutnya pada proses pra produksi ini pula penulis melakukan casting
pemain agar mendapatkan talent yang karakternya sesuai dengan kebutuhan skenario.
Dan setelah proses casting ini selesai hingga penulis mendapatkan peran yang cocok,
penulis membuat schedule bersama talent terpilih untuk melakukan reading. Dalam

32
reading inilah penulis memberikan pengarahan tentang karakter yang akan
diperankan, dan adegan yang akan dilakukan oleh masing masing pemain, serta
menjelaskan kepada setiap pemain akan latar belakang dari tokoh yang akan
diperankan oleh masing-masing pemain, agar pemain dapat lebih mendalami karakter
yang akan diperankannya nanti.Meski seorang pemain seharusnya bisa menafsirkan
karakter tokoh yang ia perankan dari alur cerita dan percakapan tokoh tersebut,
namun tambahan deskripsi tentang latar belakang tokoh tersebut dari Sutradara akan
memudahkan pemahaman atas karakter tokoh tersebut. menurut Saroengallo
(2008:37).

2. Produksi
Pada proses produksi, penulis menjelaskan adegan kepada kepala masingmasing departement perihal urutan shot yang akan diambil berdasarkan breakdown
shooting.Serta penulis memberikan arahan kepada setiap pemain untuk melakukan
blocking yang disesuaikan dengan blocking kamera. Dan pada tahap ini pula penulis
memberikan pengarahan terhadap pemain mengenai ekspresi yang harus diberikan
pada saat pengambilan gambar, dan jika dirasakan masih kurang, penulis
mengkoreksi acting

pemain hingga dirasakan pas dengan pengadeganan yang

dibutuhkan. Penulis pun mengambil keputusan yang cepat dan tepat jika pada saat
proses produksi ini mengalami kendala. Seperti misalnya adegan yang dilakukan
diruang terbuka, namun tiba-tiba cuaca tidak bersahabat, maka penulis berinisiatif
dan secara cepat mengambil keputusan untuk merubah urutan breakdown shoot
dengan pengambilan gambar di dalam ruangan terlebih dahulu. Setelah proses

33
shooting selesai, penulis melihat hasil syuting setiap harinya untuk memastikan
bahwa tidak ada shot yang terlewat yang dapat menghambat pada saat proses editing
nantinya.

3. Pasca Produksi
Pada tahap ini penulis memilih shot yang dianggap bagus dari hasil shooting.
Menurut Saroengallo (2008:171) Penyuntingan adalah proses kerja sama yang
panjang antara Sutradara dan penyunting, baik Penyunting gambar maupun
penyunting Suara. Pada proses pasca produksi ini, penulis mendampingi editor
untuk mengarahkan editing agar menjadi sebuah jalan cerita yang memiliki unsur
dramatik, serta nilai estetika yang sesuai dengan skenario, serta kontinuitas yang
benar.Penulis juga memperhatikan proses editing dari berbagai aspek, diantaranya
metode penyambungan yang dilakukan oleh editor pada setiap pemotongan shot, dan
pada saat editor memberikan transisi dalam setiap penyambungan gambar. Aspek
lainnya yaitu colour grading. Agar editor tidak lari jauh dari konsep penyutradaraan
yang telah dikonsepkan oleh penulis, maka penulis pun memberikan arahan dengan
memberikan penjelasan dari keinginan penulis atas colour grading yang dapat
memberikan karakter pada film Desersi ini.
Dan bersama dengan penata suara pula penulis mengarahkan dan memilih
ambience, sound FX, serta ilustrasi musik yang sesuai dengan adegan pada film, serta
menjaga kualitas suara terutama pada saat terjadi dialog diantara para pemain.

34
4. Peran dan Tanggung Jawab Sutradara
Menurut Sartono (2008:220) Pengarah/Sutradara juga dikenal sebagai
Directing adalah jabatan yang bertanggung jawab membantu produser untuk
melaksanakan pekerjaan mengarahkan para tenaga kerja produksi program
agar berjalan dengan lancar dan berhasil. Oleh karena itu dibutuhkan orang
yang memiliki kemampuan managerial yang baik.

Kualifikasi kemampuan seorang sutradara yang diharapkan adalah sebagai


berikut:
a. Membaca dan menginterpretasikan naskah
b. Mengatur proses seleksi pemeran / artis
c. Mengatur latihan pemeran
d. Menyutradarai / mengarahkan para pemain
e. Mengarahkan kru
f. Bekerjasama dengan penyunting / penulis naskah untuk menyelesaikan
produksi
g. Menentukan cakupan kamera
5. Proses Penciptaan Karya
a. Konsep Kreatif
Untuk menarik minat penonton yang lebih banyak, dalam karya film
Desersi ini penulis memberikan ideide kreatif yang berbeda dengan program
drama televisi lainnya yang sudah ada. Dari mulai pemilihan genre action yang
berani beda dibandingkan drama televisi lainnya yang mayoritas bergenre romance,
penulis memberikan konsep sesuai dengan konsep penyutradaraan, sampai

35
pengadeganan dalam film yang dilakukan oleh para pemain yang tentunya
mendukung kualitas isi film hingga berani beda.
Konsep kreatif dari opening cerita, penulis memberikan tayangan atau adegan
terlebih dahulu baru kemudian menampilkan judul film. Hal ini bertujuan agar
membuat rasa penasaran penonton atas keingintahuan judul film ini, juga untuk
membuat emosi penonton terbawa naik saat melihat opening dari tayangan film
Desersi ini.
Selanjutnya dari segi penataan kamera dan cahaya, penulis memberikan
movementkamera yang sesuai dengan aliran nafas pemain, sehingga penonton dapat
merasakan apa yang sedang pemain rasakan. Seperti misalnya penggunaan kamera
handheld saat adegan pengejaran, penulis membawa adrenalin penonton seolah - olah
ikut berlari bersama pemain dengan pergerakan kamera yang shaking. Juga dalam
adegan lain penulis memberikan pergerakan kamera secara track-in kepada close up
ekspresi pemain agar memberikan penekanan penjelasan kepada penonton bahwa
pemain sedang berpikir, dan tentu saja dengan dibantu movement kamera seperti itu,
penonton akan ikut merasakan apa sedang dipikirkan oleh pemain. Atau dengan kata
lain, memberikan penekanan pada ekspresi pemain yang dapat dirasakan oleh
penonton. Begitu pula dengan penataan cahaya pada film ini, penulis memberikan
kesan cozy pada adegan tertentu, yaitu dengan cara memberikan cahaya yang under
atau lowlight serta memberikan efek sedikit bluist. Tujuannya adalah selain membuat
terlihat real dengan setting, penulis ingin memberikan unsur dramatik secara visual
yang pas dengan genre film ini sehingga penonton dapat lebih cepat menangkap
emosi dari isi cerita film ini.

36
Dari segi penataan artistik, penulis memberikan konsep kreatif yang berbeda
baik dari segi setting, wardrobe, maupun property yang terdapat pada film. Penulis
mengkonsepkan setting kantor polisi yang berbeda dari kantor polisi yang sudah ada,
serta divisi dengan logo baru pada penceritaan isi film, yang sebelumnya belum ada
di Indonesia. Namun penulis memberikan identitas yang dikalungkan pada pemain
dengan logo polisi sebagai informasi bahwa para pemain adalah anggota polisi.Begitu
pula dengan penggunaan kostum dari para pemain.Konsep berbeda yang diciptakan
oleh penulis yaitu membuat seragam kepolisian sendiri berdasarkan divisinya, serta
penggunaan seragam dan unit senjata pada saat adegan penyergapan.Hal ini ditujukan
agar memberikan sebuah pandangan baru penonton terhadap polisi atas kreatifitas
penulis, dengan tetap memperhatikan pakem atau aturan aturan yang terdapat dalam
kepolisian di Indonesia.
Menurut pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33
Tahun 2009 Tentang Perfilman (UU baru tentang perfilman) dalam Anton
Mabruri (2010:2) Film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata
sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah
sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukan.
Berdasarkan penjelasan diatas, tentu saja film yang dapat dipertunjukkan tidak
luput dari peran audio yang sangat mendukung dalam film dengan genre action yang
berjudul Desersi ini.Adapun konsep penyutradaraan dari segi penataan audio,
penulis mengkonsepkan beberapa konsep tata suara. Diantaranya adalah saat
terjadinya dialog, penulis memberikan konsep yang dimana ada dialog

secara

langsung yang dilakukan oleh para pemain ataupun dengan voice over jika dialog
dilakukan dengan pemunculan video yang bukan pemain tersebut yang berbicara.
Voice over ini pun digunakan saat pemain melakukan adegan berbicara melalui lawan

37
mainnya menggunakan telepon. Adapun untuk penggunaan musik sebagai theme
song, penulis akan memberikan lagu yang liriknya sesuai dengan isi film, dan juga
beat yang pas dengan genre film ini.Lagu yang digunakan nantinya, tentu saja lagu
yang sudah mendapatkan izin dari pencipta lagunya, sehingga penulis bisa
mempergunakan lagu sesuai dengan kebutuhan film tanpa melanggar penggunaan
hak cipta dari lagu tersebut. Penggunaan ambience yang mendukung, serta sound efek
yang sesuai, dapat membawa adrenalin penonton ke tingkat emosi yang harus dicapai
pada isi cerita film. Seperti misalnya efek suara saat adegan penembakan dan baku
hantam saat perkelahian terjadi.
Penulis memberikan konsep kreatif dari segi editing, yang tidak kalah dengan
drama televisi yang sudah ada.Pada saat adegan penembakan misalnya, penulis
mengkonsepkan pembuatan efek tembakan yang terlihat realdengan menggunakan
software Adobe After Effects.Teknik editing lainnya pun penulis konsepkan agar
pesan dari film dapat disampaikan dengan baik.Terlebih saat adegan flashback,
penulis membuat warna gambar yang lebih kental dan berbeda dari adegan lain,
namun tidak dalam visual hitam putih. Hal ini bertujuan untuk lebih menekankan
kepada penonton bahwa ada shot yang diambil oleh penulis, dan memang
menginformasikan isi utama dari film ini. Penggunaan font untuk judul dan
pemunculan grafis saat film dimulai, penulis mengonsep kreatifkan jenis huruf yang
digunakan sebagai sebuah penekanan identitas film yang sesuai dengan judul dan
genre film. Adapun pemunculan grafis, penulis memunculkan nama pemeran utama
diawal film, dan memunculkan nama seluruh crew dan pemain yang terlibat serta

38
instansi-instansi yang telah membantu dalam proses pelaksanaan produksi film
Desersi ini dalam credit title.

b. Konsep produksi
Dalam menyiasati jalannya proses produksi agar tetap lancar, pada saat
shooting penulis melakukan sesuai dengan breakdown shot yang telah penulis buat
pada saat pra produksi. Penulis pun melakukan pengarahan kepada kepala masingmasing departement, dan menjelaskan keinginan dan maksud dari gambar yang akan
diambil. Dengan sosialisasi seperti ini, merupakan cara efektif penulis agar tim
mengerti apa yang harus dilakukan, dan dikerjakan sesuai dengan keinginan penulis,
guna mengefisienkan waktu yang sangat terbatas pada saat proses produksi.
Dari segi pengaturan schedule para pemain pun, penulis telah membuat talent
call yang dimana ditujukan agar pemain datang beberapa jam sebelum scene pemain
tersebut akan diambil, mengingat mood dari pemain tersebut yang harus selalu
penulis jaga. Serta penyediaan tempat istirahat bagi para pemain yang sebelumnya
sudah berkoordinasi bersama produser, yang bertujuan untuk memberikan
kenyamanan bagi para pemain.

c. Konsep Teknis
Dalam konsep penyutradaraannya, penulis mengonsepkan teknis pembuatan
film Desersi ini agar lebih berkualitas dalam semua aspek. Baik dari kualitas
gambar, suara, tata cahaya, tata artistik, hingga proses editing. Untuk itu, penulis

39
bersama masing-masing kepala departement membicarakan masalah teknis mengenai
alat apa yang akan mereka gunakan, untuk mewujudkan konsep dari penulis.

6.Kendala Produksi ( Solusi Produksi )


Melakukan persiapan syuting pada saat pra produksi dengan maksimal, bukan
berarti menghilangkan masalah pada saat proses produksi. Namun persiapan
dilakukan untuk meminimalisir kendala-kendala yang mungkin akan terjadi pada saat
proses produksi. Seperti persiapan yang telah dilakukan oleh penulis dan seluruh kru
dari film Desersi ini contohnya. Berbagai upaya telah dilakukan agar proses
produksi berjalan dengan lancar, namun kendala pada saat produksi muncul dengan
sendirinya secara tidak terduga. Dalam hal ini penulis sebagai sutradara, harus lebih
cepat dalam mengambil keputusan dengan tepat agar semua masalah dapat teratasi
dan proses syuting berjalan sesuai breakdown shoot.
Berikut adalah kendala-kendala yang penulis hadapi pada saat produksi
berlangsung:
1. Di hari kedua syuting, pada saat akan mengambil setting outdoor malam
hari, terjadi kendala dari segi cuaca. Dari semula yang tim prediksikan akan cerah,
namun terjadi hujan yang mengakibatkan tim tidak bisa melakukan setting artistik,
cahaya, dan kamera diluar. Akhirnya penulis sebagai sutradara memutuskan untuk
mengambil gambar dengan setting indoor terlebih dahulu sambil menunggu hujan
reda. Pada saat hujan berhenti, penulis dapat melakukan pengambilan gambar di luar
ruangan sesuai dengan boardyang sudah penulis buat sebelumnya.

40
2. Di hari ketiga syuting, yang berlokasi di gudang peluru Pondok Gede,
dengan tingkat pengambilan gambar yang cukup sulit, membuat waktu shot menjadi
lebih lama. Sementara dari pihak tim polisi udara yang berperan sebagai tim
penyergap, memiliki keterbatasan waktu dikarenakan esok dini hari mereka harus
melakukan latihan menembak. Maka dari itu penulis dengan cepat merubah
breakdown shoot yang seharusnya melakukan pengambilan gambar pemeran utama
yang lebih dulu, menjadi para penyergap, guna mendahulukan tim dari polisi udara
agar cepat selesai.
3. Di hari keempat syuting, kendala datang dari pihak internal yang dimana
seluruh tim Desersi terlambat datang ke lokasi selama beberapa jam. Hal ini
disebabkan oleh proses produksi di hari sebelumnya yang baru selesai pada pukul 5
pagi. Mengingat akan kondisi fisik yang tetap perlu dijaga, maka dari itu penulis
membuat crew call yang semula pukul 6 pagi menjadi pukul 11 siang. Memang hal
ini sangat beresiko akan waktu dari lokasi yang sangat terbatas, ditambah kendala
lainnya

yang

datang

dari

pihak

luar

yaitu

keterlambatan

datang

nyakamera.Breakdown shot yang telah dibuat oleh penulis, penulis kerjakan


semaksimal mungkin demi mendapatkan kebutuhan-kebutuhan shot yang harus
dipenuhi. Kekurangan shot pada hari itu, penulis bicarakan bersama produser dan tim
agar di reschedulekembali untuk melakukan pengambilan gambar dilokasi yang sama
dengan hari yang berbeda.
4. Di hari kedelapan, tim mendapat kendala dari mobil genset yang ternyata
mengalami kecelakaan pada saat perjalanan menuju lokasi. Akhirnya penulis
merubah shooting breakdown secara on the spot dengan melakukan proses shooting

41
dengan set yang tidak memerlukan lighting terlebih dahulu hingga produser
mendapatkan genset baru sebagai penggantinya. Ditengah proses shooting
berlangsung, tim mendapat kendala kembali yang kali ini datangnya dari pemilik unit
rusun. Akhirnya penulis berinisiatif untuk mengambil gambar pada set lain terlebih
dahulu sementara produser yang menyelesaikan masalah lokasi tersebut.

42

LEMBAR KERJA SUTRADARA


1. Konsep Penyutradaraan
2. Konsep dan Casting List
3. Director Treatment
4. Script Breakdown Sheet

43

KONSEP PENYUTRADARAAN
Dalam film pendek drama action Desersi, penulis akan menerapkan
beberapa konsep menonton diantaranya: What people want to see, what people need
to see, what people want and need to see, serta element of the shot.
Alasan penerapan konsep what people want to see adalah penulis ingin
memenuhi shot yang diinginkan penonton untuk dilihat dari adegan atau set yang
menceritakan dari isi film Desersi seperti misalnya shot pada scene yang
mengambil set ruangan komandan di sebuah kantor polisi, yang dimana sang hero
berhadapan langsung dengan komandan nya untuk mengundurkan diri dari jabatan
nya sebagai anggota polisi karena ketidakpuasan sang hero atas kinerja kepolisian
yang terkesan lambat dalam penangkapan seorang buron heroin yang mengakibatkan
tewasnya sang adik saat tim kepolisian melakukan aksi penyergapan di gudang
heroin.
Penerapan konsep what people need to see oleh penulis, bertujuan untuk
memberikan emosi dan unsur dramatik dari shot yang diambil. Seperti misalnya
adegan perkelahian serta pengejaran yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap
sang hero yang merupakan mantan seorang anggota polisi. Disertai dengan
penambahkan efek suara yang sesuai dengan adegan, agar dapat membuat emosi
penonton meningkat serta dengan konsep sinematografi yang mendukung
pengadegannya.
Yang ketiga yaitu konsep what people want and need to see, adalah kesatuan
dari dua konsep diatas, yaitu apa yang ingin dan perlu dilihat oleh penonton. Seperti

44
misalnya adegan dalam scene terakhir yang dimana semua teka teki dalam film secara
keseluruhan diungkap. Dengan menampilkan adegan flashback yang merupakan shot
informasi yang menjelaskan bahwa peran yang diceritakan dari awal adalah seorang
protagonis, ternyata teman dari sang hero tersebut adalah peran antagonis dalam film
Desersi ini. Serta dalam adegan scene terakhir ini pun penulis memberikan unsur
dramatik secara emosional kepada penonton dengan menampilkan dialog secara
personal diantara sang hero dengan peran antagonis yang merupakan sahabat nya
sendiri. Dan dialog pun dilakukan di ruangan terpisah, agar mengindikasikan bahwa
mereka tidak saling mengetahui apa yang sedang mereka lakukan, tapi hanya
penonton yang dapat mengetahuinya.
Yang terakhir, element of the shot adalah konsep yang diterapkan penulis
dalam film Desersi dengan memenuhi keseluruhan unsurnya yaitu motivasi,
informasi, komposisi, sound, kamera angle, dan continuity.
Konsep dari penulis yang memenuhi unsur motivasi adalah shot yang dimana
pada setiap pengambilan gambarnya memiliki arti untuk setiap penyambungan
gambar dari setiap penceritaan isi cerita. Seperti misalnya adegan seorang protagonis
yang memiliki kebiasaan membakar ujung pangkal rokok sebelum membakar rokok
tersebut. Adegan tersebut menjelaskan kepada penonton yang secara tidak sadar
penonton pada akhirnya akan mengetahui pelaku kejahatan yang sebenarnya dari
adegan tersebut, karena diakhir scene penulis akan membuat adegan flashback
dengan menggunakan adegan-adegan tersebut yang memberikan pengarahan kepada
penonton tentang siapa pelaku kejahatan sebenarnya.

45
Unsur informasi yang dikonsepkan oleh penulis adalah untuk memberikan
secara jelas tentang informasi shot yang diambil, khususnya dari segi pendeskripsian
tempat / setting. Hampir dari setiap shot, penulis akan memberikan establish shot
beserta ambience nya agar penonton dapat mengetahui setting pada adegan yang
sedang terjadi dipotongan gambar selanjutnya. Seperti misalnya awal sebelum adegan
didalam kantor, penulis akan memberikan establish shot sebuah gedung yang dapat
menginformasikan bahwa gedung tersebut adalah tempat dari setting tersebut. Serta
penulis akan mengonsepkan dari segi property serta shot pendukung yang dapat
memberikaninformasi shot secara detail kepada penonton.
Komposisi dalam unsur element of the shot ini memiliki arti yang sangat
penting.Maka

dari

itu

penulis

membuat

komposisi

ini

kedalam

konsep

penyutradaraan, guna menghasilkan nilai estetika yang tinggi dalam setiap shotnya,
sehingga dapat memanjakan mata pononton saat menikmati film Deseri ini. Bagian
yang termasuk dalam unsur komposisi ini adalah Framing, illusion of depth, subject
or object, dan warna.
Dalam unsur sound ini, penulis mengonsepkan suara yang sesuai dengan
kebutuhan video, guna mempertegas informasi yang diberikan oleh shot tersebut.
Seperti misalnya adegan flashback yang diberikan sound efek yang berbeda, sehingga
penonton dapat mengetahui secara jelas arti dari shot yang diberikan.
Dengan unsur kamera angle, penulis memberikan konsep yang dapat diterima
oleh mata penonton. Karena dalam kamera angle inilah kita akan membawa sudut
pandang penontong terhadap shot yang diberikan. Serta penulis akan memberikan
konsep dari segi angle kamera ini sesuai dengan literature, agar tidak membingunkan

46
penonton. Seperti misalnya pemberian angle kamera saat dua objek saling
berhadapan, penulis akan selalu memberikan shot dengan angle yang tidak melanggar
garis imajiner, agar perhatian penonton tidak terpecah.
Dan yang terakhir, adalah continuity.Penulis memberikan konsep yang dapat
membuat penonton dapat tetap menikmati film Deseri ini dari awal hingga akhir,
tanpa ada rasa kejanggalan baik dari segi content nya, movementnya, positionnya,
soundnya, hingga dialognya yang saling berkesinambungan. Seperti misalnya adegan
perkelahian, yang dimana perpindahan gambar tersebut masih dalam satu setting,
penulis akan membuat semuanya terlihat enak dilihat karena kontinuitasnya yang
terjaga. Dari mulai adegan tandangan yang di cut dari medium shot ke close up shot
dengan gerakan yang sama, posisi property seperti sejata yang jatuh ditempat yang
sama dari awal adegan hingga akhir adegan, sound efek yang sesuai dengan
pengadeganan, hingga dialog yang dilakukan pada saat ada cutting dari shot yang
satu ke shot selanjutnya.

47
KONSEP ARTISTIK SUTRADARA
1. Setting
Film drama action Desersi, terdapat 6 set yang akan digunakan. Dalam hal
ini penulis memiliki konsep sesuai dengan skenario.Jika dalam skenario dijelaskan
jumlah scenenya adalah 13, namun ada beberapa scene yang terdapat dalam satu
setting.
Berikut adalah penjabaran konsep setting yang dianalisa oleh penulis:
Scene1
Dalam skenario disebutkan bahwa setnya adalah gudang. Penulis
mengonsepkan dalam set ini adalah gudang tempat penyimpanan narkoba yang cukup
luas, dan terdapat beberapa tumpukan barang dalam bungkusan kardus yang berisi
narkoba berjenis heroin, dan mobil box. Barang tersebut tertata rapi, dan terlihat
beberapa anak buah mafia yang sedang memindahkan barang tersebut ke dalam
mobil box tersebut agar dapat terlihat oleh penonton seolah-olah barang tersebut siap
kirim.
Saat adegan penyergapan, beberapa tumpukan kardus tersebut terjatuh
sehingga terlihat isi didalamnya.Serta ornamen-ornamen lain seperti scaffolding yang
disusun rapi beserta barang-barang lainnya yang dapat menambah kesan gudang
dalam setting tersebut.
Adapun set kantor yang terdapat dalam scene ini hanyalah terlihat meja kerja
dari Hans saja beserta propertinya.

48
Untuk set jalanan, penulis memilih jalan yang sesuai dengan isi cerita dan
tentunya jalanan yang sisinya terdapat gedung-gedung tinggi agar dapat menjelaskan
bahwa kejadian tersebut adalah dipusat kota.

Scene 2
Setting kuburan yang penulis konsepkan adalah kuburan yang tertata rapi, dan
terlihat adanya banyak kesamaan dengan kuburan yang ada disekitarnya. Hal ini agar
membuat nilai estetika dalam scene ini muncul, disertai lambang-lambang salib yang
memiliki ukuran sama dengan kuburan yang digunakan dalam adegan.

Scene 3
Berdasarkan skenario, dalam scene 3 ini ada 2 set yang berbeda, yaitu kamar
mandi yang disertai washtafel, dan ruang kamar. Dalam set washtafel, penulis
mengonsepkan washtafel dengan warna putih, agar terlihat blend dengan ruangan
kamar mandi yang nantinya akan diberi efek tungsten dalam pencahayaannya.
Sedangkan untuk setting ruang kamar, penulis akan memberikan konsep
sebuah kamar yang terlihat sederhana, dan tidak terlalu banyak ornamen, dengan
tembok berwarna tone cokelat muda atau sedikit tua, agar terlihat kesan kamar
tersebut milik seorang laki-laki, dan pada saat diberi cahaya baik itu daylight maupun
tungsten, warna tembok tersebut tidak terlalu banyak memantulkan cahay sepeti
warna putih.

49
Scene 4
Untuk penyettingan dalam scene ini, penulis akan membuat sebuah kantor
polisi dari imajinasi penulis, dengan tetap memberikan identitas yang dapat
dijelaskan kepada penonton bahwa kantor tersebut adalah kantor polisi. Sesuai
dengan skenario, kantor polisi yang penulis konsepkan tentu saja disertai beberapa
meja kerja yang terdapat dalam satu ruangan, beberapa tumpukan file, papan
whiteboard, monitor komputer, dan terdapat beberapa divisi didalamnya.

Scene 5
Seperti yang terdapat dalam skenario, penulis akan mengonsepkan sebuah
ruangan tamu dalam rumah dengan warna tembok hampir sama dengan warna
tembok kamar, yaitu tembok yang bertone colour cokelat muda atau sedikit tua.
Selain intuk mengsinkronisasi warna dengan set sebelumnya, pada saat pengambilan
gambar nantinya penulis akan memberikan cahaya tungsten dalam ruangan tersebut,
agar warna nya semakin hidup dan sesuai dengan mood pada adegan tersebut. Hal ini
disebabkan adegan terjadi malam hari dalam ruangan. Adapun untuk seetingan
didalam nya, penulis hanya akan memberikan tambahan sofa yang sudah satu set
dengan mejanya.

Scene 6
Setting dalam scene ini adalah ruangan tengah dalam rumah, yang tentunya
masih satu rumah dengan scene 3 dan 5. Dari segi warna tembokpun penulis

50
mengonsepkan sama. Namun setting yang terdapat dalam ruangan tengah ini adalah
lemari TV beserta TV nya, dan juga hiasan-hiasan didalamnya.
Scene 7
Setting dalam scene 7 sama dengan setting scene 4

Scene 8
Sesuai dengan skenario, setting scene 8 ini adalah sebuah ruangan komandan.
Penulis mengonsepkan setting dalam ruangan komandan ini hanya terdapat sebuah
meja dan kursi yang saling berhadapan, disertai dengan tumpukan file dan monitor
PC. Serta dilengkapi papan nama diatas meja.

Scene 9
Setting dalam scene 9 ini penulis akan mengambil konsep sebuah billiard
yang terlihat real. Lengkap dengan beberapa meja billiyard, disertai dengan meja bar
yang dimana pengunjung dapat duduk dan minum di meja bar tersebut.

Scene 10
Dalam scene ini, terdapat beberapa spot setting yang masih terdapat dalam
satu lokasi. Seperti misalnya halaman parkir apartement, koridor apartement, tangga
apartement, unit apartement, hingga roof top apartement tersebut.
Dalam konsepnya, penulis akan membuat semua settingan tersebut senatural
mungkin. Hanya saja dari segi pemilihan warna tembok, penulis akan memilih warna
yang soft dan tidak terlalu bright. Namun untuk unit apartement, penulis akan

51
mengonsepkan setting dalam ruangan tersebut hanya terdapat sebuah meja dan kursi,
yang dimana seolah-olah unit tersebut memang jarang dihuni oleh pemiliknya, yaitu
mafia yang diceritakan dalam film Desersi ini.

Scene 11
Untuk setting dalam scene 11 ini sama dengan scene 3, 5, dan 6.

Scene 12
Setting dalam scene inipun sama dengan setting unit apartement pada scene

Scene 13
Dalam scene 13 ini, terdapat beberapa spot yang masih dalam satu lokasi.
Yaitu halaman depan rumah dan 3 ruangan dalam rumah. Untuk setting dalam rumah,
setting yang digunakan sama dengan scene 11. Dan untuk setting luar rumah, penulis
akan memperlihatkan depan rumah tersebut secara real, agar tidak terdapat
kejanggalan dengan shot sebelumnya dari segi setting, dalam membangun kontinuitas
dalam film Desersi ini.
2. Properti
Film drama action Desersi terdapat banyak property yang akan digunakan
pada setiap scenenya. Adapun penggunaan property pada setiap scene ada yang sama,
bahkan ada yang berbeda. Maka dari itu, sutradara mengonsepkan property pada
setiap scenenya.

52
Scene 1
Pada set gudang, properti yang digunakan adalah pistol dengan jenis Revolver
dan M4. Jenis Revolver ini terlihat lebih stylish dan simple, dengan kalibernya yang
besar, dan jarang Jammed, maka pistol ini akan digunakan oleh talent yang sudah
lebih dulu tiba dilokasi pada setting gudang tersebut. Sedangkan untuk jenis M4,
terlihat lebih gagah, dan jenis pistol ini akan digunakan oleh para tim penyergap yang
tiba dilokasi beberapa saat setelah kepala anggota dari tim tersebut sudah tiba dilokasi
penyergapan.
Properti lainnya, yaitu HT beserta Handsfreenya, box kardus yang berisi
heroin, handphone yang digunakan oleh bos mafia saat menelepon, mobil box, serta 3
mobil hitam yang tiba dilokasi penyergapan beserta lampu strobonya.
Set selain gudang pada scene ini adalah set kantor yang dimana properti yang
penulis konsepkan adala sebuah receiver yang dapat menerima signal HT dari
jangkauan jaraka jauh, beserta telepon kantor yang digunakan untuk menelepon
pasukan.
Set jalanan pada scene ini penulis akan memebrikan konsep propertinya yaitu
HT mobil. Yang dimana kegunaannya untuk tetap dapat berkomunikasi dengan
pasukan yang sudah tiba di lokasi penyergapan.

Scene 2
Properti yang digunakan pada scene ini hanyalah sebuah mobil hitam yang
dikendarai oleh teman sang hero.

53
Scene 3
Dalam scene ini, terdapat 2 setting artistik yang tentu saja menggunakan
property yang berbeda. Setting washtafel, property yang digunakan hanya sebuah
handuk kecil yang digantungkan disamping washtafel. Sedangkan pada setting
kamar, property yang digunakan adalah beberapa foto Reno, sang adik dengan ukuran
kecil dan satu foto berukuran besar.

Scene 4
Properti yang digunakan pada scene ini adalah sebuah identitas yang
dikalungkan di setiap pemain, sebagai penegas dan pemberi informasi bahwa mereka
adalah seorang polisi.

Scene 5
Properti pada scene ini adalah sebuah buku yang sifatnya rahasia yang hanya
dimiliki oleh anggota kepolisian, serta sebuah laptop dengan file systemnya.
Scene 6
Properti pada scene ini adalah sebuah handuk berukuran kecil berwarna putih,
dan sebuah koran dengan Headlinenya tentang pembunuhan yang dilakukan oleh
seorang kelompok mafia terhadap adik sang hero.
Scene 7
Selain menggunakan properti yang sama dengan scene 4, pada scene ini ada
beberapa tambahan property diantaranya, file map, dan buku yang sifatnya rahasia
sama seperti pada scene 5.

54
Scene 8
Didalam ruangan komandan pada scene ini, properti yang digunakan adalah
identitas polisi dan sebuah pistol berjenis revolver.

Scene 9
Properti yang digunakan pada scene ini adalah sebuah rokok mild yang
terdapat filter pada pangkal rokoknya. Alasannya adalah terdapat motivasi shot pada
film ini pada adegan talent membakar pangkal rokoknya sebelum merokok. Properti
lainnya pada scene ini adalah beberapa set permainan billiyar termasuk stiknya, dan
beberapa gelas minuman, serta kartu nama yang dibagian belakangnya dapat
dituliskan alamat sebagai pengantar scene selanjutnya.

Scene 10
Pada scene ini, properti yang digunakan adalah senjata dengan jenis M4 dan
Revolver, serta sebuah kendaraan roda dua yang ber CC tinggi, dengan helmnya.
Properti lainnya adalah sebuah tas selempang dengan isi didalamnya adalah rokok,
asbak, agenda, flashdisk, dan sebuah handphone jenis blackberry.

Scene 11
Properti pada scene ini adalah hanya sebuah tas selempang beserta isinya,
yang dimana isi dari tas tersebut sama dengan scene 10.

55
Scene 12
Properti yang digunakan adalah sebuah kamera SLR, kuas, dan sarung tangan
untuk tim forensic. Sedangkan property yang mendukung settingan pada scene ini
adalah sebuah Police Line.

Scene 13
Properti pada scene ini adalah beberapa senjata jenis M4 dan Revolver, HT
dan Handsfreenya, dan juga sebuah flashdisk.
3. Wardrobe
Film drama action Desersi memiliki film yang lebih dari 2 minggu. Maka
dari itu, hampir dalam setiap scenenya setiap pemain dalam film ini menggunakan
wardrobe yang berbeda.
Adapun konsep dari penulis mengenai wardrobenya adalah:
Nicholas: Mengenakan kemeja beserta celana jeans panjang dan sepatu
semiformal

untuk

scene

dengan

setting

kuburan,

billiyard

dan

adegan

ending.Tentunga dengan warna yang berbeda, dan dari segi pemilihan warnapun
warna yang dipilih adalah warna soft, namun tetap dapat membuat Nicholas Standout
sebagai peran utama. Dan untuk setting kantor, Nicholas menggunakan kemeja kerja
formal tangan panjang dengan tangan digulung hingga sikut, dan celana bahan hitam
beserta sepatu pantofel hitam. Untuk adegan saat malam hari di rumah, nicholas
hanya menggunakan kaos dan celana training saja.Dan untuk pagi hari didalam
rumah, Nicholas hanya menggunakan handuk saja, tanpa mengenakan atasan.

56
Hans : Mengenakan kemeja formal tangan panjang, beserta celana bahan, dan
sepatu pantofel saat adegan dikantor. Konsep penulis mengenai wardrobe kantor
untuk di kantor ini hampir sama dengan Nicholas. Namun peran Hans memiliki
seragam satuan khusus yang terdiri kemeja hitam, vest hitam, celana hitam, serta
sepatu PDL hitam. Untuk setting lainnya, Hans menggunakan kemeja serta vest dan
celana jeans serta sepatu semiformal.
Fransiskus Reno : Mengenakan seragam satuan khusus yang terdiri dari kaos
dalam hitam, vest hitam, celana kargo hitam, sepatu pantofel, dan topi hitam.
Hari Darmanto : Mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih disertai
dasi merah. Alasannya adalah karena Hari adalah seorang komandan dalam
kepolisian yang mempunyai jabatan tinggi.
Daniel : Mengenakan kemeja formal tangan panjang, beserta celana jeans.
Dan Dhanil memakai sepatu semi formal.Alasannya agar Dhanil terlihat gagah, rapi,
tapi tetap stylish, sebagai bandar heroin berkelas internasional.
Tim Penyergap : Mengenakan seragam satuan unit yang sama dengan
Fransiskus Reno yaitu kaos dalam hitam, vest hitam, celana kargo hitam, sepatu
pantofel, dan topi hitam.
Tim Mafia : Mengenakan pakaian casual, beserta celana Jeans. Ada beberapa
dari mereka mengenakan jaket, maupun kemeja.
Extra kantor : Ada beberapa dari mereka yang mengenakan pakaian formal,
juga ada yang mengenakan seragam satuan unit. Agar lebih bervariatif, dan establish
kantor polisi dapat lebih dirasakan.

57
4. Make up
Drama action Desersi memiliki banyak unsur penyergapan, pengejaran serta
pekelahian. Adegan yang dilakukan oleh pemain ini tentu saja harus ditunjang dengan
make up efek yang menunjang agar terlihat lebih real. Maka dari itu, konsep penulis
untuk make up adegan perkelahian dan penembakan adalah menggunakan make up
efek (luka, memar, berdarah). Adapun jika ada adegan yang tidak ada adegan
perkelahian atau pnembakan, penulis mengonsepkan make up senatural mungkin,
dengan sedikit berminyak dan sedikit berkeringat.

58
KONSEP SINEMATOGRAFI SUTRADARA
Drama action Desersi akan menggunakan system single camera. Agar dapat
lebih memfokuskan pada masing-masing shot untuk detailnya, baik dari segi
penataan artistik, maupun dari segi penataan pencahayaan.

Type of shot
Type of shot yang akan digunakan dalam film drama action ini bervariatif,
dari mulai wide shot hingga extreme close up. Wide shot akan digunakan untuk
pendeskripsian lokasi, Full shot akan digunakan pada saat penceritaan karakter
pemain, medium shot dan medium close up akan digunakan pada saat pemain
melakukan dialog, close up akan digunakan untuk memperlihatkan ekspresi dari
pemain, big close up dan extreme close up digunakan untuk lebih mendramatisir dari
sebuah adegan yang sedang terjadi.

Camera Angle
Camera Angle yang digunakan dalam film drama action ini pun sama
variatifnya seperti type of shot, dari mulai high angle, eye level, hingga low angle.
High Angle digunakan pada saat penceritaan adegan yang membutuhkan view dari
atas, agar penonton dapat lebih merasakan situasi yang terdapat dalam setting cerita
film ini. Sementara eye level, digunakan pada saat pemain melakukan dialog agar
penonton dapat lebih memahami apa yang sedang dibicarakan, serta dapat merasakan
seolah-olah memposisikan diri sebagai pemain. Dan low angle digunakan pada saat

59
akan menguatkan pengkarakteran, agar penonton lebih dapat merasakan karakteristik
dari tiap-tiap pemain.

Camera movement
Desersi adalah sebuah drama film dengan genre action, yang didalamnya
banyak terdapat adegan berkelahi. Agar gambar terlihat lebih dinamis, dan emosi
penonton lebih terpacu, penulis akan lebih banyak menggunakan movement Hand
held. Namun penulispun akan menggunakan movement panning dalam beberapa
adegan tertentu, untuk

mengarahkan fokus penonton akan objek yang sedang

begerak. Selain itu, movement tracking pun dikonsepkan dalam film ini yang
bertujuan agar fokus penonton kepada satu objek, walau background berubah.

Lighting
Dalam film Desersi ini, penulis mengonsepkan lighting menggunakan
lowkey secara keseluruhan. Agar set dan ambience dapat dirasakan oleh penonton.
Dan secara emosional akan lebih cepat untuk mendapatkan karakter dari masingmasing pemain. Serta dramatisasi dari film ini pun akan lebih terasa, dengan
pencahayaan yang tidak terlalu terang.

Warna
Sama seperti halnya lighting, warnapun berperan dalam menciptakan emosi
penonton. Dalam proses shooting, warna yang akan digunakan dalam kamera adalah
warna natural.

60

KONSEP TATA SUARA


1. Speech / Dialog
Film drama action Desersi ini menggunakan dua jenis speech, yaitu voice over
dan dialog. Voice over digunakan saat adegan sang hero melakukan dialog melalui
telepon atau HT, sedangkan dialog digunakan saat pemain melakukan interaksi
dengan lawan bicaranya.

2. Atmosfer / Ambience
Dalam film ini, penulis akan menggunakan ambience yang sesuai dengan setting
di masing-masing scene, serta atmosfer yang mencekam disaat ada adegan-adegan
yang menegangkan agar emosi penonton dapat ikut meningkat.

3. Musik
Jenis musik yang akan digunakan dalam film ini jenis musik yang mempunyai
beat / tempo yang tinggi sebagai pengantar pada saat film akan dimulai, dan juga
sebagai penutup pada saat credit title ditayangkan. Serta ilustrasi musik akan
digunakan pada saat-saat adegan yang memiliki tingkat emosi tinggi, agar
dramatisasinya dari film ini bisa didapatkan oleh penonton.

4. Sound efek
Untuk sound efek dalam film Desersi ini, lebih ditekankan pada saat adeganadegan perkelahian serta adegan penembakan. Agar lebih menciptakan efek suara

61
yang sama dengan realita. Serta penekanan adegan seperti misalnya sebuah pukulan
yang dilakukan pemain, agar penonton dapat merasakan adrenalin yang diciptakan
oleh penulis.

62

KONSEP EDITING
Drama action Desersi memakai konsep editing continuity. Yang bertujuan
agar memberikan sebuah penuturan cerita yang jelas, serta cutting dalam adegan
perkelahian terlihat berkesinambungan.
1. Metode penyambungan
Metode penyambungan yang penulis konsepkan dalam film Desersi ini
adalah cut to cut, dissolve, dan dip to black. Cut to cut, yang dimana dapat
memberikan sebuah pergerakan yang dinamis, mengingat adegan action seperti
perkelahian dan penembakan memerlukan waktu yang sangat cepat dan singkat.
namun secara teknis, hasil dari pergerakan dapat dilihat jelas oleh penonton. Dissolve
digunakan pada saat transisi antara scene terakhir dengan pemunculan grafis credit
title di akhir film. Sementara Dip to black digunakan untuk transisi perpindahan
scene yang dimana scene sebelum dan scene sesudah nya memiliki film time yang
lama, dengan adanya perbedaan emosi.

2. Colouring
Colouring pada saat proses editing, memberikan unsur bluist pada setiap
frame nya. Dan dalam proses editing ini, colouring dilakukan juga untuk menebalkan
warna, agar lebih kuat pengkarakterannya.Seperti misalnya adegan flashback, penulis
memberikan efek warna yang lebih kental agar adegan mengingat masa lalu dapat
dirasakan.

63
3. Grafis
Pemunculan grafis pada drama action ini akan ada pada setiap dialog, yang
berupa subtitle bahasa Inggris. Pemunculan grafis diawal sebelum film dimulai,yaitu
berupa pemunculan nama PH serta pengenalan nama pemain sebagai pengantar film,
dan grafis akan muncul juga pada saat film selesai, yaitu berupa credit title.

4. Font
Font yang akan digunakan sebagai judul film adalah jenis BankGothic Lt BT,
seperti dibawah ini:

DESERSI

64
C. Proses Kerja Penulis Naskah
Film bukan suatu hal yang baru di Indonesia. Jauh sebelum lembaga
lembaga pendidikan menciptakan sarana penjurusan mengenai broadcasting, layar
lebar maupun layar kaca telah dihiasi berbagai suguhan film yang beragam. Seperti
munculnya tema horor seperti era Suzzana, tema komedi di era Warkop, tema drama
musikal pada era Rhoma Irama, serta masih banyak lagi jenis film yang ditayangkan
pada era 70 sampai 80an. Namun perfilman Indonesia tidak selalu berjalan lancar.
Hal itu terbukti ketika perfilman Indonesia sempat mengalami mati suri sampai
akhirnya kembali bergerak setelah munculnya film remaja AADC. Bioskop bioskop
tanah air kembali ramai dikunjungi. Namun hal baik tersebut tidak dapat memungkiri
kenyataan bahwa bioskop merupakan sarana penayangan film yang termasuk mahal.
Banyak masyarakat yang akhirnya hanya dapat mendengar cerita dari sebuah film
dibandingkan dengan menonton secara langsung film tersebut. Hal tersebut membuat
televisi yang sebagain besar sudah dimiliki oleh masyarakat menjadi jauh lebih
efisien dalam sarana audio visual. Dengan latar belakang yang seperti itu, akhirnya
film yang ditayangkan di bioskop dapat dinikmati pula di layar televisi, tentunya
setelah beberapa bulan pasca penayangan pada bioskop.
Besarnya minat masyarakat terhadap tv serta tingginya peluang rating
membuat para tokoh perfilman menciptakan banyak karya yang ditayangkan di
televisi. Namun sepertinya peluang usaha serta keuntungan yang dijanjikan dunia
pertelevisian membuat beberapa pekerja film bergeser dari jalur awal tujuan sebuah
film.

65
Mungkin masih ada beberapa tokoh pertelevisian yang memegang teguh
pendapat bahwa televisi merupakan salah satu sarana pendidikan di antara keinginan
untuk menghibur, namun tayangan yang disuguhkan televisi saat ini menunjukan
bahwa keuntungan serta sarana bisnis yang ditawarkan dunia televisi menjadikan
kualitas serta isi pesan yang akan diberikan kepada pemirsa di rumah pun menjadi
kosong. Apa yang ingin disampaikan kepada penonton pun terabaikan, bahkan
cendrung tidak difikirkan.
Bertambahnya tahun serta adanya pertukaran zaman membuat masyarakat
menjadi lebih cerdas dalam memilih tontonan, namun tidak sama halnya dengan
pertelevisian itu sendiri. Karena tampaknya sampai sekarang tayangan televisi
khususnya drama tidak menunjukan pergerakan yang berarti. Bahkan durasi drama
tersebut bertambah berkali kali lipat. Seperti jam tayang yang melebar . Kondisi
yang selalu deadline atau kejar tayang menyebabkan banyak drama atau biasa disebut
sinetron menampilkan alur cerita yang sulit digambarkan pada kehidupan nyata,
khususnya sinetron dengan genre action. Seperti halnya sinetron laga atau action
yang mengangkat cerita fiktif, yang dalam hal ini fiktif dengan arti yang sebenarnya,
yaitu tidak masuk akal.
Pada dasarnya pekerja seni khususnya perfilman dan pertelevisian memiliki
peran yang sangat penting dalam kondisi masyarakat. Banyak pekerja seni yang tidak
menyadari bahwa karya yang mereka hasilkan dan dipertontonkan sangat
berpengaruh terhadap apresiasi masyarakat akan film itu sendiri. Kita ambil
contohnya film remaja My Heart yang dibintangi oleh Irwansyah dan Acha Septriasa.
Ketenaran film tersebut di kalangan masyarakat membuat beberapa remaja secara tiba

66
tiba menyukai rumah pohon, persis dengan yang ada di film tersebut. Bukankah hal
itu menunjukan bahwa film mempunyai dampak yang sangat luas baik positif
maupun negatif. Namun penulisngnya pekerja seni kita menggunakan istilah pasar
sebagai tameng mereka. Mereka beranggapan apa yang tengah disukai dan booming
pada saat itu merupakan pasar yang sedang digandrungi masyarakat. Pernahkah kita
sebagai pelaku perfilman dan televisi menyadari bahwa pasar itu bukan ditentukan
oleh penonton?. Benar, bukan penonton atau masyarakat yang menentukan tren atau
pasar di perfilman, melainkan para pekerja seni itu sendiri. Kita yang menentukan apa
yang akan kita berikan kepada penonton, apa yang akan kita suguhkan sebagai
hiburan masyarakat. Penonton atau masyarakat sebenarnya hanya sebagai korban
atas apa yang kita berikan. Penonton tidak memiliki kuasa untuk menentukan film
atau sinetron seperti apa yang akan ditayangkan. Alasan kenapa bioskop masih tetap
ramai dengan penayangan film horor semi porno adalah karena penonton tidak
memiliki pilihan selain menikmati film tersebut, sedangkan masyarakat tetap butuh
hiburan. Sehingga penayangan film produksi luar dengan cepat mendapat tanggapan
ketika penayangan film luar disandingkan dengan film lokal bertema horor semi
porno. Maka pembuat film lah yang memaksa masyarakat membuat pasar itu
sendiri. Di sini lah peran penulis naskah mulai dimainkan.
Menurut Anton Mabruri KN (2010:41) penulis skenario adalah sineas
professional yang menciptakan dan meletakan dasar acuan bagi pembuatan film
dalam bentuk (format) naskah (skenario).
Berdasarkan alasan dan pemahaman tersebut, penulis selaku penulis naskah
ingin menciptakan sebuah skenario yang dapat membawa pesan positif dan

67
memberikan dampak baik bagi masyarakat ketika skenario tersebut telah menjadi
sebuah film yang utuh. Penulis ingin memberikan alur cerita yang berbeda dengan
drama action serta FTV action kebanyakan. Alur cerita drama action Desersi pun
dibuat dengan unsur yang tidak biasa dan sangat kuat, seperti unsur kesetiaan,
kejujuran, prinsip diri, serta pengendalian diri saat sisi gelap diri kita menuntut lebih.
Dari segi karakter film, drama action Desersi

tidak hanya

mengedepankan alur cerita yang menarik, namun juga dari segi kualitas pemain saat
menyatu dengan karakter tokoh yang diperankan, setting lokasi yang sesuai dengan
alur cerita, serta perlengkapan khusus seperti kostum lengkap dengan properti yang
benar benar mendukung dan memperkuat jalannya cerita.
1.

Pra Produksi
Pra produksi merupakan salah satu bagian inti dalam pembuatan sebuah film.

Pada bagian inilah para pemain balik layar mulai mempersiapkan segala sesuatu
yang dapat membuat sebuah khayalan penulis naskah menjadi nyata dalam bentuk
film, karena diproses inilah semua element element penunjang berjalannya sebuah
produksi dikumpulkan. Seperti naskah, dana, peralatan shoting, serta seseorang yang
bertindak sebagai pemain.
Sebagai seorang penulis naskah, bagi penulis proses Pra Produksi merupakan proses
terpenting dalam penciptaan sebuah karya, karena proses Pra Produksi dapat
dikatakan sebagai ruang kerja bagi penulis naskah. Diproses inilah penulis
mendapatkan ruang dan waktu yang cukup untuk menyajikan bahan cerita yang akan
diolah lebih matang oleh kru yang lain.

68
Dalam produksi kali ini penulis tidak memiliki waktu yang banyak untuk
mencari ide atau tema, sehingga setiap pertemuan meeting pra produksi dilakukan
seefisien mungkin, tidak membuang waktu dengan percuma. Keuntungan yang kami
peroleh saat mengawali proses pra produksi adalah tim sudah pernah bekerja sama
sejak produksi drama semester 3, 4, dan 5, sehingga masing masing anggota sudah
memiliki spesifikasi jobdesk yang selalu konsisten. Pada meeting pertama pun tidak
lagi menentukan jobdesk yang akan disandang, melainkan langsung masuk pada
tahan penentuan ide dan tema apa yang akan diangkat kali ini. Ide pertama yang
penulis coba berikan mendapat penolakan dari pihak produser, sehingga penulis
dengan segera mencoba menentukan ide lain yang sekiranya disetujui oleh produser
serta rekan kru yang lain. Banyak hal yang menjadi kendala terciptanya sebuah tema,
salah satunya adalah minimnya pengalaman penulis dalam menulis sebuah cerita
bergenre Action. Demi kelancaran pembuatan skenario, seluruh kru

turut serta

membantu dengan memberikan beberapa referensi film action yang menutut mereka
memiliki kualitas dalam segi cerita. Hal tersebut ternyata sangat membantu dalam
merangsang otak penulis untuk menciptakan sebuah tema dengan alur yang menarik.
Ide pun didapat, meeting diadakan disalah satu restoran cepat saji yang
terdapat di sebuah pusat perbelanjaan domisili Cililitan Jakarta Timur. Disaksikan
oleh produser dan sutradara, penulis pun mempresentasikan ide baru yang telah
didapatkan. Sesuai perencanaan, meeting awal penentuan ide hanya di lakukan oleh
Three Angle System, hal tersebut dilakukan untuk mempermudah jalannya perumusan
ide serta outline naskah. Setelah ide telah disepakati dan outline pun selesai disusun,

69
barulah

ide

tersebut

dapat

penulis

presentasikan

dalam

meeting

yang

mengikutsertakan kru yang lain, seperti kameraman, editor, serta divisi lainnya.
Meeting berikutnya dilaksanakan setelah jam perkuliahan selesai, tepatnya di
salah satu koridor kampus. Pada meeting ini penulis selaku penulis naskah mulai
mempresentasikan ide yang telah didapat. Penulis juga menyampaikan apa yang
menjadi alasan kenapa ide tersebut yang digunakan. Akhirnya ide pun disetujui oleh
seluruh anggota tim. Penulispun masuk ke dalam tahap penyususan pengadeganan.
Dalam hal ini penulis acap kali meminta pendapatt serta masukan dari produser serta
sutradara, adegan seperti apa yang sekiranya dapat membuat alur cerita menjadi lebih
menarik. Satu minggu kemudian penulis telah mengantongi konsep penulisan naskah
sederhana berupa ide, tema, karakterisasi, basic story serta sinopsis. Semua
dipersiapkan guna memasuki proses bimbingan dengan dosen pembimbing kami
yaitu bapak Supryadi S.Kom. Pada bimbingan

pertama penulis diminta

mempresentasikan ide apa yang ingin direalisasikan menjadi sebuah film drama
action. Setelah mempresentasikan ide serta konsep cerita, dosen pembimbing pun
menyetujui ide tersebut. Dosen pembimbing pun meminta agar dalam pertemuan
bimbingan berikutnya yang berarti satu minggu kemudian, ide sudah dapat menjadi
sebuah skenario yang utuh.
a. Ide / Gagasan Cerita
Sebuah ide tidak hanya tercipta dari sebuah pemikiran sesaat. Sebagain orang
berfikir bahwa sebuah ide itu seperti layaknya sebuah angin. Di tempat dan
dalam situasi yang tidak direncanakan si ide muncul atau terlintas di benak
begitu saja. Menurut penulis pemahaman seperti itu tidak tepat. Jika sebuah

70
ide diperoleh dengan mudah atau mempercayakan ide yang terlintas dengan
cepat di benak kita, maka tidak menutup kemungkinan ide tersebut juga
dengan mudah pernah terlintas di benak orang lain. menurut Aristoteles dalam
Anton Mabruri KN (2009:10) mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada satu
pun ide yang lahir dari fikiran sendiri. Maka ide pun dapat diciptakan dengan
bantuan referensi. Banyak hal yang dapat dijadikan bahan referensi, di
antaranya pengalaman pribadi, buku bacaan, musik, film terdahulu, kisah
seseorang dan masih banyak lagi.
Pada drama action Desersi pun penulis tentunya memiliki sumber
ide atau bahan referensi, yaitu beberapa referensi film film action yang
merupakan produksi bangsa asing. Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa
harus film produksi bangsa asing?. Menurut penulis film film produksi anak
bangsa tidak buruk, bahkan mulai menampakan kualitasnya, namun untuk
genre action sendiri bisa dikatakan masih belum banyak sineas Indonesia
yang memproduksi. Ada beberapa film action yang cukup bagus, seperti
Serigala Terakhir, Merantau serta yang baru baru ini tayang yaitu The Raid.
Namun penulis membutuhkan banyak referensi untuk merangsang penciptaan
sebuah ide. Sampai saat ini bangsa asing khususnya wilayah Barat masih
menjadi sumber produksi film action terbanyak tiap tahunnya, sebut saya
Hollywood. Mereka seperti tidak kehabisan ide untuk memproduksi sebuah
film, terlebih lagi action. Mereka berani menciptakan sebuah ide yang bahkan
sulit untuk sekedar kita bayangkan. Penulis ingin mencontoh sikap mereka
yang berani untuk menciptakan ide yang hanya dapat dibayangkan. Setelah

71
menonton banyak film action, penulis akhirnya menemukan ide yang
menarik, yaitu ide yang mengisahkan situasi serta realita keadilan yang
semakin menipis gaungnya. Keadilan yang semakin mudah ditimbun dengan
iming iming jabatan, harta dan kekuasaan. Sebuah kebenaran harus tetap
ditegakan meski kebenaran tersebut telah dikuasai oleh uang dan kekuasaan.
Dengan gamblang penulis mempresentasikan ide tersebut yang akhirnya
disetujui oleh seluruh tim.
b. Jenis Cerita
Menurut Kinoysan (2008a:12) jenis cerita pada dasarnya ada dua kelompok
besar, yaitu drama dan dokumenter. Dalam penciptaan karya yang penulis
buat adalah merupakan jenis cerita yang disebut drama. Adapun alasan
mengapa memilih drama, yaitu karena menurut penulis secara pribadi drama
merupakan sebuah karya yang menarik. Di mana kita meciptakan suatu karya
yang berasal dari daya khayal pekerja seni itu sendiri. Layaknya merubah
sebuah mimpi menjadi sesuatu yang nyata.
Adapun jenis dari drama itu sendiri menurut Kinoysan (2008b:12), adalah :
1. Drama tragedi, yang berakhir dengan kematian ato duka lara
2. Drama komedi, yang bikin orang ketawa
3. Drama misteri, yang ngutamain unsure ketegangan
4. Drama laga, yang ngutamain adegan perkelahian atau adu fisik
5. Melodrama, yang mengeksploitasi kesedihan
6. Drama sejarah; kisah berdasarkan sejarah

72
Dengan apa yang disebutkan oleh Kinoysan, maka jenis cerita drama
yang penulis rangkai adalah jenis drama laga atau yang kita kenal dengan
drama action, yaitu drama yang mengutamakan adegan perkelahian. Namun
tentu saja tetap dibumbui dengan beberapa adegan drama yang memainkan
emosi penonton. Menurut penulis, drama action memiliki ketegangan
tersendiri dalam proses pembuatannya, tidak hanya memainkan emosi
penonton dengan kisah sedih dan cucuran air mata dari karakter tokoh.
Namun bagaimana membuat sebuah cerita yang menggabungkan unsur
ketegangan, rasa ingin tahu, serta permasalahan yang kompleks. Menguras
emosi penonton dengan ketegangan, bukan hanya dengan alur cerita yang
sendu.
c. Tema Cerita
Tema berbeda dengan ide. Tema merupakan lingkup yang lebih
meruncing dari sebuah ide pokok. Tema mempunyai rumus tersendiri, yaitu
tentang apa, siapa, yang bagaimana. Tema juga bisa dikatakan wajah awal
sebuah skenario, karena dari tema lah pihak terkait seperti produser
mengetahui kisah siapa yang akan diceritakan dan kisah apa yang akan
diceritakan. Para pekerja seni sinetron saat ini tampaknya tengah hanyut
dengan tema mengenai anak yang terpisah dari orang tuanya, bahkan
dibeberapa judul sinetron juga menampilkan tema yang serupa. Maka disini
penulis mencoba memberikan tema yang berbeda dalam drama action
Desersi, yaitu mengenai seorang aparat satuan khusus yang terperangkap
di situasi tidak tepat dalam upaya mengungkap kasus kematian sang adik.

73
d. Intisari Cerita / Premise
Premise atau intisari cerita adalah ringkasan cerita yang hendak kita
utarakan dalam satu kalimat, atau yang dapat juga diartikan sebagai sebuah
pesan serta tujuan dari cerita yang diciptakan. Premise juga merupakan dasar
dari pembentukan plot (plotline) cerita, karena premise akan muncul setelah
kita menemukan ide pokok. Contohnya premise Srigala Terakhir, yaitu
mempertanyakan kekuatan persahabatan ketika terjadi sebuah perselisihan.
Adapun premise yang digunakan penulis dalam penciptaan skenario drama
action Desersi yaitu, mengukur kesetiaan seseorang terhadap teman,
lingkungan dan negara saat ditawarkan sejumlah harta .
e. Plot / Alur Cerita
Anton Mabruri KN (2009:27) mengungkapkan, bahwa plot adalah
jalan cerita atau alur cerita dari awal, tengah dan akhir. Sebelum kita membuat
naskah sangat dianjurkan untuk mengetahui plot terlebih dahulu, sehingga
penulis naskah sudah tau kemana tujuan dari sebuah cerita, apa permasalahan
yang terjadi, serta bagaimana solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.
Meskipun bisa dikatakan klasik atau cara kuno namun terciptanya tangga
dramatik yang baik berkenaan pula dengan penyusunan konstruksi dramatik
yang baik pula. Dalam penyusunannya, dikenal adanya struktur tiga babak,
yang terdiri dari opening, kemudian middle, dan disusul dengan end.
Dalam drama action Desersi ini penulis memilih menggunakan alur maju
mundur dengan plot konflik di awal. Struktur drama tiga babak ini terbagi
menjadi :

74
Babak 1 Opening berisi permulaan konflik
Babak 2 Middle atau konplikasi masalah
Babak 3 End yang berisi resolusi masalah
Opening merupakan lahan untuk proses pengenalan tokoh serta
identifikasi masalah apa yang mengawali sebuah konflik serta resiko apa yang
akan didapat tokoh pada skenario. Beda dengan babak 2 yaitu middle, yang
berisi tahap dimulainnya konflik dan penyelesaian apa yang dibutuhkan. Pada
tahap ini konflik mulai semakin meningkat sampai akhirnya cerita terus
bergulir menuju klimaks. Sedangkan dalam tahap babak 3 yang berisi end
lebih memaparkan penyelesaian masalah, apakah itu happy ending, sad
ending, atau bahkan open ending yang di mana penonton sendiri yang akan
menduga akhir cerita tersebut, atau yang biasa dikenal dengan ending
menggantung.
f. Sinopsis
Sinopsi merupakan tahapan keempat yang penulis lakukan setelah
menentukan ide, tema serta pembuatan basic story.
Menurut Anton Mambruri (2009:21) sinopsis bukan dipahami hanya sebagai
ringkasan cerita cerita sebuah film. Sinopsis bukan karya sastra untuk
dipamerkan, tetapi yang lebih penting lagi adalah agar penonton memahami
secara sekilas bagaimana film tersebut disajikan.
Sinopsis tidak hanya berisi ringkasan film saja, melainkan terdapat
point point penting di dalamnya, seperti alur cerita, konflik, tokoh mana
yang menjadi pusat perhatian dan yang hanya sebagai penunjang plot, serta

75
yang tidak kalah penting adalah informasi tempat dan waktu kejadian. Pada
umumnya sinopsis terdiri dari 3 alinea. Alinea pertama berisi informasi
identifikasi atau perkenalan, alenia kedua memaparkan konflik yang terjadi
dan perkembangan allure ceritanya, sedangkan alinea ketiga lebih mencakup
kepada klimaks dan penyelesaian konflik. Namun pola seperti ini bukan
sesuatu yang baku bagi seorang penulis naskah, terkadang ada beberapa
penulis naskah yang hanya membuat sinopsis hanya dalam 1 alinea atau
bahkan lebih dari 3 alinea. Akan tetapi hakekatnya sinopsis tetap mengandung
unsur tiga babak, yaitu pengenalan, konflik, dan penyelesaian.
g. Karakter / Peran
Penulis berpendapat bahwa penciptaan karakteristik tokoh bukan
hanya berfungsi sebagai pemudah proses casting, namun juga sebagai
gambaran atau cerminan peran seperti apa yang bermain di dalamnya, emosi
yang bagaimana, serta ciri apa yang dimiliki tokoh. Karakter juga merupaka
sarana untuk membawa penonton ke dalam perjalanan emosi dari tokoh itu
sendiri. Melalui karakter penonton merasakan emosi emosinya sepanjang
perjalanan cerita. Cerita yang relative sederhana dapat menjadi kompleks
melalui pengaruh karakter tokoh. Karakter lah yang memberikan dimensi
cerita dan menggerakan cerita dalam arah yang baru dan menentukan alur
cerita atau plot. Sehingga dapat dikatakan bahwa karakter adalah sebab
sedangkan plot adalah efek.
Penulis mencoba memberikan salah satu contoh sebagai pemahaman
yang lebih sederhana, yaitu seperti halnya tokoh yang memiliki karakter

76
mudah menyerah akan menghasilkan alur cerita yang berbeda dalam upaya
mencari pekerjaan dibandingkan dengan tokoh dengan karakter gigih.
Secara garis besar terdapat pembagian jenis jenis karakter yang
mewarnai sebuah cerita menurut Set dan Sidharta (2006:31), adalah:
1. Karakter protagonis: yaitu karakter yang sering disebut sebagai karakter
utama. Ia mewakili sisi kebaikan dan mencerminkan sifat sifat
kebenaran yang mewarnai setiap aktifitasnya dalam cerita. Tokoh yang
mengemban karakter protagonis dalam drama action Desersi adalah
tokoh Nicholas, yaitu tokoh yang bertindak dalam lingkar kebenaran dan
mencoba menguak kebenaran serta keadilan yang mulai mengabur.
2. Karakter sidekick: karakter ini berpasangan dengan karakter protagonis.
Tugasnya membantu setiap tugas yang diemban sang karakter protagonis.
Karakter ini biasanya bertindak sebagai teman, guardian, penolong, atau
guru yang membantu sang protagonis. Di dalam drama action Desersi
karakter sidekick tidak digunakan, hal itu dikarenakan Nicholas yang
merupakan karakter protagonis bertindak dan berjuang seorang diri, tanpa
bantuan dari tokoh manapun.
3. Karakter antagonis: karakter antagonis selalu berlawanan dengan karakter
protagonis. Ia selalu berupaya menggagalkan setiap upaya karakter
protagonis dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Jika
dihubungkan dengan drama action Desersi, penulis menciptakan
seorang tokoh berkarakter antagonis yang bernama Hans Kristian. Yaitu
tokoh yang memiliki pemikiran yang sangat licik dalam menggagalkan

77
upaya Nicholas dalam mengungkap kasus kematian sang adik. Bahkan
Hans yang pada awalnya merupakan sahabat serta rekan Nicholas,
sanggup menadikan Nicholas sebagai kambing hitam atas kejahatannya.
4. Karakter kontagonis: kontagonis adalah karakter yang membantu setiap
aktivitas yang dilakukan karakter antagonis dalam menggagalkan langkah
sang protagonist. Tokoh ini biasanya dilambangkan sebagai tokoh yang
licik . Drama action Desersi tidak menggunakan karakter kontagonis,
hal tersebut disebabkan karena dalam seknario penulis memang tidak
menciptakan karakter kontagonis. Sehingga karakter antagonis bertindak
seorang diri. Durasi film yang singkat juga menjadi penyebab tidak
diciptakannnya karakter tersebut. Karena jika karakter seperti ini
diciptakan, maka akan butuh durasi lebih guna memperlihatkan
keterlibatan karakter kontagonis dalam mendukung karakter antagonis.
5. Karakter skeptis: Sesuai dengan sifat skeptis yang disandangnya, tokoh ini
adalah karakter yang paling tidak perduli terhadap aktivitas yang
dilakukan sang tokoh protagonis. Ia menganggap tokoh protagonis sebagai
pecundang. Walaupun bukan lawan, tokoh ini selalu muncul mengacaukan
segala rencana yang dijalankan sang protagonis. Sama halnya dengan
karakter kontagonis dan karakter sidekick, karakter skeptis tidak penulis
munculkan dalam alur cerita drama action Desersi.

Pada dasarnya masih ada beberapa karakter yang penulis munculkan


dalam drama action Desersi. Seperti Fransiskus Reno yang merupakan

78
tokoh adik dari karakter protagonis yaitu Nicholas, kemudian tokoh Daniel
yang merupakan karakter bos penyelundupan heroin, serta tokoh Hari
Darmanto yang dimana menyandang karakter sebagai pimpinan satuan khusus
tempat Nicholas dan Hans bernaung. Dan tentu saja karakter pembantu seperti
aparat, masyarakat, pelayan cafe, dan lain sebaginya juga penulis ciptakan
guna menunjang alur dan struktur dramatis dari skenario drama action
Desersi.
h. Media / Tempat
Tempat atau setting merupakan lokasi dimana pengadeganan
berlangsung. Layaknya sebuah pertunjukan teater dengan panggungnya, serta
pertunjukan konser musik dengan stagenya. Sebuah drama televisi maupun
film tidak akan dapat dinikmati tanpa adanya tempat pengadeganan tersebut
dilakukan.
Dalam ruang lingkup media televisi seperti program berita serta talk
show, dikenal dua istilah lokasi atau tempat yang digunakan, yaitu in door
yang berarti berada dalam ruangan tertutup dan out door yang berarti lokasi
yang berada di luar ruangan seperti layaknya lapangan. Sedangkan dalam
istilah perfilman dan drama, istilahnya sedikit berbeda, yakni interior (INT)
dan exterior / EXT. Namun pada dasarnya memiliki pengertian yang sama,
yaitu dalam ruangan dan luar ruangan.
Dalam aplikasinya, penulis juga menentukan tempat / lokasi seperti
apa yang akan digunakan. Namun menentukan lokasi tidak hanya sebagai
tempat dilakukannya pengadeganan, namun juga sebagai penunjang jalannya

79
cerita yang penulis ciptakan. Menurut penulis, cerita yang bagus tidak akan
menjadi menarik ditonton jika pemilihan lokasinya tidak sesuai dengan alur
cerita. Banyak film atau FTV yang mengedepankan lokasi sebagai daya tarik
drama mereka. Seperti halnya FTV yang sering mengambil lokasi di Bali atau
Jogja yang memang memiliki keindahan alam dan budaya yang menarik.
Dalam drama action Desersi penulis menggunakan lokasi interior dengan
porsi yang lebih banyak dibandingkan lokasi exterior. Adapun lokasi interior
yang penulis gunakan dalam drama action Desersi adalah rumah, kantor,
cafe billiard, apartment, dan gudang. Sedangkan lokasi exterior mencakup
jalan raya, area parkir, pemakaman serta area luar gudang. Penulis memilih
lokasi lokasi tersebut tentu saja sesuai dengan alur dan kebutuhan dramatik
cerita.
i. Judul
Judul merupakan wajah depan sebuah film, drama, bahkan program
lainnya. Judul juga bertugas sebagai nama atau identitas sebuah film atau
drama. Dengan kata lain pencakupan keseluruhan cerita serta kisah apa yang
disuguhkan dalam sebuah film dan digambarkan dalam sebuah kata atau
beberapa kata itulah yang disebut dengan judul. Judul dianjurkan dibuat
sesingkat dan semenarik mungkin agar penonton tertarik untuk menyaksikan
drama tersebut. Bagi penulis judul termasuk unsur penting dalam media
promosi, hal itu dikarenakan sebagain masyarakat masih menjadikan judul
sebagai daya tarik pertama sebuah penayangan film ataupun drama televisi.

80
Sehingga banyak sinetron serta FTV yang memilih judul yang cukup unik dan
tidak lazim.
Penulis sendiri memilih untuk menggunakan judul Desersi sebagai
judul drama action yang kami produksi. Desersi sendiri memiliki pengertian
penghianatan, mangkir atau mengelak dari pekerjaan, melakukan kerja sama
dengan musuh serta pengunduran diri. Penulis sendiri mengalami kesulitan
dalam penentuan judul, sehingga penulis meminta bantuan kepada seluruh tim
untuk menentukan judul yang sesuai dengan cerita yang penulis ciptakan.
Judul pun diperoleh dari pemikiran salah satu tim yang bertindak sebagai
artistik.
j. Treatment
Treatment merupakan tahapan selanjutnya yang harus penulis kerjakan
setelah sinopsis selesai dibuat. Dalam sinopsis kita sudah mempunyai materi
materi yang akan kita tuturkan, akan tetapi materi materi ini harus ditata dan
disusun, harus distruktur sehingga susunannya memenuhi struktur dramatik
yang baik. Untuk memudahkan penyusunan struktur dramatic inilah fungsi
utama treatment. Treatment adalah ringkasan detail dari struktur skenario,
termasuk deskripsi karakter, bagaimana dan kapan karakter itu akan muncul.
Deskripsi scene, serta type of shot juga termasuk di dalamnya jika memang
dianggap cukup esensial.
k. Skenario & Struktur Dramatik
Bagi penulis, pembuatan skenario bukanlah sesuatu yang mudah.
Waktu pengerjaan yang minim juga mempengaruhi penyelesaian skenario,

81
sehingga acap kali mengalami tekanan dalam proses pembuatan skenario.
Namun dengan adanya minat, bakat, motivasi, dan dukungan sekitar baik
teman dan keluarga, akhirnya penulisan skenario drama action Desersi
selesai dikerjakan dalam waktu yang telah ditetapkan. Dibutuhkan konsistensi
diri

yang baik guna menyelesaikan sebuah skenario yang kelak akan

diproduksi bersama tim, dan yang tentunya juga akan menjadi sebuah karya
tim yang membanggakan. Pentingnya sebuah skenario dalam proses produksi
yang merupakan pedoman serta pegangan tiap department dalam mengeksplor
sebuah skenario menjadi sebuah karya audio visual yang berkualitas.
Besarnya peran skenario sehingga tidak jarang mengalami beberapa tahap
revisi, dengan tujuan serta harapan skenario tersebut menjadi lebih baik dan
mendapatkan hasil yang maksimal baik dari segi struktur dramatik maupun
segi tehnik penulisan.
Unsur dramatik pun tentu tidak dikesampingkan, mengingat unsur
dramatik sangat berpengaruh terhadap keindahan alur cerita serta kedalaman
emosi penonton ikut larut dalam drama tersebut. Dramatik sebuah cerita
dipahami sebagai unsur karya film drama yang bisa membuat penonton selalu
merasa ingin mengikuti cerita film tersebut hingga akhir. Dengan kata lain
dramatik sebuah cerita atau naskah dapat menjadi pengunci perhatian
penonton. Dramatik sebuah cerita dapat diciptakan dengan membangun
skenario, yang mana dimaksudkan di sini bukan membuat ulang skenario
namun menganalisis skenario yang telah dibuat dengan metode dasar yang

82
ada. Metode metode tersebut terdiri dari: konflik, suspence, curiosity, serta
surprise.
1) Konflik atau Permasalahan
Konflik dapat dikatakan terjadinya action, sedangkan action itu sendiri
muncul dikarenakan adanya alasan atau motive untuk mengurangi adanya
ketergangguan. Konflik juga sebaiknya diberikan sesuai dengan porsinya,
hal itu dikarenakan jika konflik yang diberikan sedikit besar kemungkinan
penonton akan merasa jenuh dan kurang adanya ketegangan saat
menonton drama tersebut. Namun sebaliknya, jika konflik terlalu banyak,
maka penonton akan merasa lelah untuk menonton kelanjutan ceritanya.
Contoh konflik dalam drama action Desersi adalah ketika Nicholas
mengetahui bahwa kasus kematian adiknya belum juga terungkap setelah
dua minggu bergulir.

2) Suspense atau Ketegangan


Suspense berbeda dengan konflik, suspen merupakan ketegangan yang
dihasilkan oleh konflik dan membawa serta penonton ke dalam suasana di
dalam cerita itu sendiri. Kesimpulan yang penulis tangkap adalah,
semakin besar resiko yang akan diterima protagonis, maka ketegangan
penonton juga semakin meningkat.
Contoh suspense yang penulis bubuhkan dalam skenario drama action
Desersi adalah, ketika Nicholas berada tepat di depan mayat Daniel,

83
yang kemudian terjebak dan berkemungkianan menjadi tersangka utama
saat sejumlah aparat datang menyergap lokasi di mana Nicholas berada.
3) Curiosity / Rasa ingin tahu
Curiosity adalah antisipasi dugaan yang berasal dari penonton yang
dapat merangsang keingintahuan atas sebuah adegan. Sebagai contoh,
seorang pria bersembunyi di balik sebuah kotak besar, tatapan pria
tersebut tampak mengawasi keadaan di sekitar. Informasi yang minim
menjadikan penonton tidak mengetahui rintangan apa yang tengah
dihadapi tokoh tersebut. Dengan demikian, efek yang ditimbulkan bagi
penonton bukanlah ketegangan, melainkan rasa ingin tahu.
Contoh curiosity dalam drama action Desersi adalah ketika Nicholas
berada tepat di hadapan Daniel yang telah tewas tanpa diperlihatkan
terlebih dahulu proses Nicholas hingga berada di sana. Ekspresi Nicholas
yang memperhatikan ruangan apartment tersebut dengan mimik yang
tidak terbaca membuat rasa ingin tahu tersendiri di benak penonton, apa
yang tengah Nicholas lakukan di tempat tersebut.
4) Surprise
Penulis berpendapat bahwa surprise merupakan sebuah action yang
terjadi di luar dugaan. Surprise dapat dimunculkan jika sebelumnya
penonton berada dalam situasi yang dapat menduga reaksi yang akan
ditimbulkan oleh karakter yang bersangkutan. Adapun tinggi rendahnya
surprise dapat ditentukan dengan tinggi rendahnya antisipasi dan tingkat
kesalahan dugaannya. Maka dapat disimpulkan bahwa, semakin tinggi

84
antisipasi penonton maka semain besar pula peluang kekeliruan dugaan
dari penonton tersebut.
Contoh surprise yang penulis berikan pada skenario drama acion
Desersi adalah ketika diketahui bahwa pemegang kendali semua yang
terjadi pada Nicholas adalah tidak lain Hans, tokoh yang sejak awal telah
membela serta mendukung Nicholas sebagi seorang teman. Hal tersebut
menyebabkan timbulnya surprise dipihak penonton.
l. Format Skenario
1) Head Scene
Head scene merupakan informasi mengenai tempat dan waktu sebuah
adegan harus dibuat. Informasi ruang dapat dijelaskan dengan inisial EXT
(exterior) untuk ruang terbuka, dan INT (interior) untuk ruang tertutup.
Sedangkan informasi waktu dapat dijelaskan dengan NIGHT untuk malam
dan DAY untuk siang.
Contoh head scene dalam skenario drama action Desersi yaitu:
1.

INT. RUMAH NICHOLAS NIGHT

Font Courier New, 12 pt, capital, bold.

2) Deskripsi Visual
Deskripsi visual merupakan paragraf yang berisi keterangan atau
penggambaran situasi, keadaan, serta segala sesuatu yang dapat
mempermudah kru yang lain untuk mengerti atau memahami serangkaian
adegan yang ada dalam khayalan penulis naskah. Hal ini bertujuan untuk

85
mempermudah kru saat melakukan pembedahan skenario. Font Courier
New, 12 pt
Contoh pada drama action Desersi
DUA ORANG aparat menerobos masuk ke dalam rumah
Nicholas

sambil

Nicholas
salah
hatian

tampak

satu

bersembunyi

pintu

terlihat

geriknya.

menodongkan

ruangan
jelas

Sementara

itu

di

mereka.

bagian

rumahnya.

dari
dua

SENJATA

setiap
orang

samping

Kehati

gerak

aparat

yang

menerobos juga tampak bersiaga...

3) Tokoh Dialog
Menurut penulis penggunaan penulisan tokoh dialog atau nama tokoh
dalam sebuah skenario dirasa wajib untuk dilakukan, hal itu dikarenakan
penulisan nama tokoh berfungsi untuk mengetahui tokoh mana yang akan
mengucapkan dialog tersebut. Sehingga sebuah percakapan pun jelas
dilakukan oleh seseorang, dua orang atau bahkan lebih. Font: Courier
New, 12 pt, capital, bold.

4) Parenthetical
Parenthetical merupakan sebuah kata yang bersifat aktif yang berisi
pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Parenthetical dapat menjadikan

86
sebuah dialog yang diucapkan tokoh menjadi memiliki sebuah motivasi
tertentu.
Contoh penggunaan parenthetical dalam skenario drama action Desersi
adalah: ( Menggelengkan kepala dengan tegas ),
Tegas

),

Menahan

aparat

),

Mengeluarkan

senjata ), dll.
Font Courier New, 12 pt.
5) Dialog
Dialog adalah ungkapan atau rangkaian kata yang keluar dari mulut
seorang tokoh. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan segala sesuatu
yang tidak dapat dilakukan dengan sekedar gerakan serta gambar,
sehingga kata kata dilontarkan oleh tokoh agar penonton mengerti apa
yang dimaksud oleh tokoh tersebut.
Contoh dalam skenario drama action Desersi adalah :
HANS
( Mengeluarkan senjata )
Keluarlah Nicho, kita
bicarakan hal ini. Aku tau
kau sangat tertekan.
Font Courier New, 12 pt, center text.

87
m. Teaser
Menurut Anton Mabruri KN (2009:67) yaitu menggunakan elemen
teaser. Elemen ini sengaja dibuat oleh beberapa penulis untuk menaikkan
tensi atau detak jantung penonton pada awal drama dimulai. Bagi menulis,
penempatan elemen teaser merupakan hal penting dalam penciptaan sebuah
alur cerita, khususnya untuk drama bergenre action. Sebuah film action
hendaknya meletakan sebuah teaser sebelum scene pertama dimulai.
Dalam skenario drama action Desersi, penulis juga turut
memasukan elemen teaser sebagai pembuka atau ACT 0 untuk menciptakan
sebuah keingintahuan, ketegangan dan misteri yang dapat membuat penonton
merasa perlu menyaksikan kelanjutan drama tersebut. Selain itu teaser
memang merupakan elemen yang penting dalam membangun alur cerita
dalam drama bergenre action.
2. Produksi
Seorang penulis naskah memang memegang peran besar dalam sebuah pra
produksi, namun bukan berarti saat produksi berlangsung, penulis naskah dapat
meninggalkan kru yang lain. saat proses produksi berlangsung, seorang penulis
naskah hendaknya berada di mana proses produksi tengah berlangsung. Penulis
naskah memiliki kewajiban sebagai narasumber bagi sutradara dan kru yang lain.
narasumber di sini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan atas skenario yang
dibuat jika ada kesalahpahaman sudut pandang dalam mengartikan skenario tersebut.
Penulis naskah juga harus siap di tempat ketika sutradara atau produser meminta izin

88
jika terjadi sedikit perubahan dialog atau unsur lain ketika situasi lapangan yang tidak
mendukung.
3. Pasca Produksi
Seorang penulis naskah tidak hanya bertugas menulis sebuah naskah, namun
juga bertanggung jawab atas kesinambungan cerita dari skenario tersebut ketika
sudah memasuki proses editing. Hal itu lah yang mendasari alasan mengapa seorang
penulis naskah harus tetap memantau atau melibatkan diri dalam proses pasca
produksi.
4. Peran dan Tanggung Jawab Penulis Skenario
Penulis skenario merupakan seseorang yang meletakkan dasar acuan dalam
pembuatan sebuah produksi film ataupun drama. Seorang penulis naskah memang
bekerja dengan hanya bermodalkan kertas, tidak sama halnya dengan kru lain yang
memang memiliki perlengkapan dan alat produksi masing masing. Namun semua
kru tersebut tidak dapat berkreasi dan melakukan produksi tanpa sebuah naskah atau
skenario yang sudah dalam format utuh, seperti deskripsi visual, dialog, serta tokoh
yang diperlukan. Dengan skenario seluruh kru bahkan seorang sutradara dapat mulai
bergerak melakukan persiapan produksi. Maka seorang penulis naskah juga memiliki
sederet peran dan tanggung jawab dalam sebuah produksi.
Adapun peran dan tanggung jawab seorang penulis naskah menurut Anton
Mabruri KN (2010a:42), adalah:
a. Menciptakan dan menulis dasar acuan dalam bentuk naskah atau dasar ide cerita
sendiri atau ide dari pihak lain

89
b. Bagi penulis, dasar acuan itu bisa dilakukan secara bertahap mulai dari cerita,
basic story, sinopsis, treatment dan skenario
c. Bekerja dari tahap pengembang ide (development) sampai jangka waktu terakhir
dari pra produksi
d. Membuat skenario dengan format yang telah ditentukan.
e. Menjadi narasumber bagi pelaksanaan produksi bila diperlukan.
Selain dari peran dan tanggung jawab, seorang penulis naskah juga memiliki
hak tersendiri dalam sebuah produksi.
Hak penulis naskah menurut Anton Mabruri KN (2010b:42), adalah:
a. Mendapatkan bahan acuan yang memadai sesuai yang telah disepakati untuk
menunjang penulisan skenario
b. Mendapatkan perlengkapan bahan acuan penulisan skenario dalam bentuk
melakukan riset literasi dan atau riset lapangan
c. Apabila bahan acuan penulisan skenario dilakukan secara tim, maka anggota tim
yang lain terlibat berhak untuk mencantumkan dalam credit title
d. Menadapatkan waktu yang memadai untuk melaksanakan proses riset dan proses
penulisan skenario
e. Menerima pertimbangan dari pihak lain apabila ada pengurangan, perubahan dan
penambahan materi dasar dalam skenario (ide dasar, plot, dialog, karakter tokoh
tokoh dsb)
f. Namanya tercantum dalam credit title dan bahan publikasi lainnya.

90
5. Proses Penciptaan Karya
a. Konsep kreatif
Menjadi seorang penulis naskah tidak hanya pandai mengetik serta merangkai
kata pada Microsoft word saja, bukan itu yang diwajib dikuasai seorang penulis
naskah. Seseorang yang berperan sebagai penulis naskah memiliki peran serta
tangguang jawab yang sangat besar dalam penciptaan sebuah karya film ataupun
drama. Penulis naskah harus mampu bertanggung jawab atas cerita yang
diciptakannya, mulai dari keindahan cerita, motivasi dari cerita serta pesan moral
yang akan diberikan kepada penonton lewat skenarionya. Penulis naskah harus
memikirkan motivasi dari setiap adegan dan alur yang ia ciptakan, apakah ada pesan
yang dapat dikutip oleh penonton atau hanya sekedar adegan kosong semata. Hal itu
dikarenakan dampak dari sebuah film berawal dari cerita film itu sendiri.
Saat ini bendera drama tv atau yang dikenal dengan sinetron memang terlihat
sedang berkibar. Banyak sinetron yang secara serentak ditayangkan diberbagai
stasiun televisi, yang tentunya dengan tema yang beragam. Mulai dari tema anak
yang terpisah dari orang tuanya, tema pembagian warisan, tema dendam karena
percintaan, dan banyak lagi yang lainnya. Namun dari sekian banyak tema, penulis
belum dapat menemukan sinetron dengan tema yang benar benar memiliki nilai
moral yang pantas atau layak diambil oleh penonton. Sampai saat ini kebanyakan
tema sinetron atau FTV seperti hanya berjalan di tempat, tidak terlihat adanya
perkembangan tema yang signifikan.
Menurut penulis, sudah saatnya para pekerja seni khususnya pembuat film
dan drama tv memiliki filosofi atau komitmen bahwa tujuan membuat film adalah

91
mendidik, tidak hanya sebatas hiburan. Karena pada dasarnya pekerja seni itu hampir
sama dengan pekerja di bidang pendidikian, seperti guru, dosen, bahkan penulis.
Karena pekerja film juga bertugas dan berkewajiban untuk memberikan suguhan
bernilai positif bagi penonton khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tidak lagi
menyuguhkan mimpi serta hasrat pornografi. Di sini lah peran penulis naskah mulai
dimainkan.
Dengan dasar pemikiran yang telah disebutkan di atas, maka penulis selaku
penulis naskah mencoba untuk memberikan konsep kreatif yang berbeda. Konsep
kreatif yang cukup berani dengan mengedepankan nilai moral serta penciptaan alur
cerita yang tidak berkiblat pada tema tema yang kini tengah diusung oleh sinetron
dan FTV.
Dalam produksi kali ini penulis serta seluruh tim menyepakati bahwa action
adalah genre yang akan kami pilih dalam pembuatan karya. Untuk mempermudah
penciptaan ide dan tema yang akan diangkat sebagai acuan pembuatan skenario,
penulis mencoba menonton berbagai film drama action produksi dalam atau luar
negeri, seperti Merantau, In Time, Arena, dan masih banyak lagi. Keterbatasan
pengalaman penulis dalam membat sebuah skenario action cukup menjadi
penghambat, namun dengan adanya referensi film yang cukup banyak, penulis pun
dapat mendapatkan ide dan tema yang akan digunakan dalam pembuatan skenario.
Penulis memutuskan untuk mengangkat sebuah tema dengan latar belakang
fenomena yang acap kali terjadi di Indonesia, yaitu keadilan, kebenaran, serta
kesetian kepada Negara dan lingkungan yang dengan mudah dikuasai oleh kilau
jabatan, uang dan kekuasaan. Penulis beranggapan bahwa tema yang seperti itu masih

92
belum banyak terjamah oleh dunia pertelevisian atau bahkan perfilman. Selain itu,
penulis mengangkat tema seperti itu selain memang menarik dan berbeda, drama
dengan tema tersebut secara tidak langsung dapat mengkritisi kondisi sebuah arti
keadilan dan kebenaran di Indonesia pada saat ini. Maka penulis mencoba
menciptakan cerita yang dapat menggambarkan dua sisi wajah keadilan di Indonesia,
yaitu keadilan serta kebenaran yang masih bersih dan keadilan yang telah tercemar.
Dalam pembuatan skenario penulis mencoba menciptakan alur yang tidak
biasa digunakan oleh sineas tanah air dalam sebuah drama tv atau FTV. Penulis
memutuskan untuk menggunakan alur twist ending dalam pennyusunan alur cerita.
Alur twist sendiri merupakan sebuah alur penceritaan yang membuat sebuah
pembalikan fakta, opini atau pemikiran penonton yang telah menebak atau merasa
yakin akan ending yang akan terjadi, namun ending yang sisuguhkan atau yang
dilemparkan merupakan ending yang bertolakbelakang dengan apa yang sudah
diperkirakan penonton. Penulis ingin membuat sebuah cerita yang tidak mudah
ditebak alur serta endingnya, karena menurut penulis jika sebuah drama dapat dengan
mudah diketahui babak akhirnya smaka nilai ketegangan dari drama tersebut
berkurang. Terlebih lagi dengan drama bergenre action, ketegangan dan
keingintahuan penonton merupakan harga mutlak dalam pembuatan skenario.
Dalam drama action Desersi ini penulis juga memberikan unsur teaser atau
ACT 0 sebagai adegan pembuka babak opening. Teaser adalah adegan yang secara
langsung mengangkat adrenalin dan ketegangan penonton. Dengan teaser penonton
dapat merasa tertantang dengan rasa ingin tahu yang besar mengenai konflik apa yang
terjadi sejak pertama film dimulai. Untuk menunjang tujuan dari teaser itu sendiri,

93
maka

penulis

memilih

untuk

menyajikan

adegan

penyergapan

organisasi

penyelundup heroin di sebuah gudang kosong. Pada adegan ini penulis menciptakan
sebuah penyergapan yang dilakukan oleh pasukan khusus anti narkoba lengkap
dengan iring iringan mobil aparat yang melintas di jalan raya. Menurut penulis
konsep penyergapan seperti itu masih belum berani diangkat kelayar kaca.
Kebanyakan adegan seperti itu terdapat difilm layar lebar, yang itu pun masih dalam
ruang lingkup film luar negeri. Kebanyakan pekerja seni pertelevisian masih belum
berani menggunakan adegan tersebut dengan alasan keterbatasan tv yang tidak
seheboh layar lebar. Bagi penulis keterbatasan tv seharusnya tidak menjadi alasan
penghambat sebuah kreatifitas, sehingga adegan serta lokasi yang digunakan dalam
sinetron kebanyakan settingan belaka. Menurut penulis, keberanian untuk berbeda itu
adalah dasar dari sebuah kreatifitas.
Kemudian dari segi penciptaan satuan khusus anti narkoba yang merupakan
fiktif memang merupakan konsep awal dari penulis yang merupakan penulis naskah.
Adapun alasan penulis menggunakan aparat fiktif karena tema dengan background
aparat atau bahkan kepolisian di Indonesia masih merupakan tema yang cukup
sensitif. Kemungkinan akan ada banyak pihak yang merasa terganggu dengan
penggunaan nama institusi Negara. Selain itu, penggunaan sebuah institusi Negara
secara langsung akan berpengaruh dengan lambang, properti, serta kostum atau
seragam yang digunakan.
Mungkin bagi penonton, akan timbul satu pertanyaan ketika membaca
skenario yang penulis ciptakan. Kenapa tokoh utama harus seorang kristiani ?. Benar,
penulis memang sengaja memilih agama Kristen sebagi kepercayaan dari tokoh

94
utama, hal itu dikarenakan menurut penulis dengan keyakinan Kristen maka akan
sangat menguntungkan bagi pihak artistik untuk memaksimalkan nilai keindahan
property yang digunakan. Seperti yang kita tahu, agama kristem cukup banyak
memiliki berbagai atribut keagamaan seperti salib, meja altar dan sebagainya.
Untuk pemilihan judul sendiri, penulis cukup mendapatkan kesulitan dalam
penentuan judul yang menurut penulis dapat mewakili keseluruhan isi cerita. Setelah
jelang waktu yang cukup lama, akhirnya penulis menyetujui judul yang diajukan oleh
salah satu kru yang bertindak sebagai artistik, yaitu DESERSI. Desersi sendiri
memiliki arti yang cukup kuat, yaitu pengkhianatan, pembelotan, mangkir dari tugas,
melakukan kerja sama dengan musuh serta pengunduran diri. Menurut penulis judul
tersebut sudah sangat cocok dengan cerita yang penulis ciptakan.

b. Konsep produksi
Dalam sebuah produksi tiap jabatan memiliki wewenang dan waktu
pelaksanaan tugas masing masing. Seperti halnya produser yang yang akan terlihat
lebih sibuk diproses pra produksi dan editor yang memiliki waktu pengerjaan pada
proses pasca produksi. seorang penulis naskah juga memiliki ruang kerja tersendiri,
yaitu pada proses pra produksi. Secara kasar tugas penulis naskah akan berakhir
ketika naskah telah diambil alih oleh sutradara yang memang berwenang sebagai
pemimpin proses produksi. Namun secara umum, seorang penulis naskah juga harus
mengikuti proses produksi sebagai narasumber dalam penyusunan alur yang akan
direalisasikan dalam bentuk visual. Dalam proses produksi berlangsung penulis tentu
saja berada di lokasi di mana shoting berlangsung, namun tugas penulis naskah yang

95
pada dasarnya hanya sebagai narasumber justru turut serta mengerjakan tugas tugas
lainnya.
Keterbatasan jumlah SDM membuat seluruh tim kecuali sutradara harus siap
dengan jabatan ganda atau doble job. Hal itu harus dilakukan agar segala keperluan
dan kebutuhan penunjang produksi tetap dapat dipenuhi meskipun dengan jumlah kru
yang minim. Dengan alasan seperti itulah penulis pun mendapatkan tugas lain di luar
tanggung jawab utamanya sebagai penulis naskah, yaitu wardrobe. Penulis
menyadari bahwa tugas seorang artistik sangat tidak mudah, terlebih lagi dengan
drama bergenre action. Banyak hal yang harus dpersiapkan tim art untuk memenuhi
konsep dari sutradara yang tentunya juga untuk keindahan sebuah drama action.
Maka dari itulah, ketika pihak art meminta bantuan penulis untuk membantu
keperluan wardrobe, penulis pun menyanggupinya. Penulis menyadari bahwa
kewajiban seorang penulis naskah disaat produksi tidak lah sebanyak kru yang lain,
sehingga penulis merasa perlu untuk membantu tim art menyelesaikan tugasnya.
Selain itu drama yang tengah diproduksi merupakan karya bersama, maka sudah
sepantasnya saling membantu keterbatasan tiap department.
Selama

menjabat

sebagai

wardrobe,

penulis

memulainya

dengan

membreakdown naskah untuk kepentingan wardrobe. Penulis terus menjaga


komunikasi dengan tim art dalam menetukan kontum apa yang akan dikenakan
pemain, karena bagaimanapun juga segala sesuatu mengenai wardrobe berada di
bawah wewenang artistik. Setelah semua wardrobe telah ditentukan untuk masing
masing pemain, maka penulis mulai mengumpulkan kostum kostum yang akan
digunakan. Penulis memulainya dengan menghubungi para pemain untuk

96
memastikan mereka memiliki kostum yang diperlukan atau tidak. Jika tidak maka
penulis mulai mencari kostum dengan cara menyewa atau membeli kostum tersebut,
yang tentunya atas persetujuan artistik. Disaat proses produksi berlangsung, sebelum
shoting dimulai penulis dengan segera mengarahkan pemain untuk mengarahkan
kostum mana yang akan digunakan dalam scene. Penulis memang membantu tugas
art dalam menghandle wardrobe, namun bukan berarti penulis meninggalkan tugas
utama penulis sebagai seorang penulis naskah. Setelah semua semua pemain telah
dikenakan kostum yang telah ditentukan, sebelum take dimulai penulis telah stand by
di belakang monitor berdampingan dengan sutradara. Hal itu dilakukan agar jika
terdapat adegan, ekspresi, atau bahkan dialog yang dirasa kurang pas dengan
gambaran atau konsep dasar penulis naskah maka penulis dapat segera mengkoreksi
dan memberikan saran kepada sutradara.
Selain membantu tugas art dalam pengaturan kostum, penulis juga acap kali
membantu pihak soundman untuk menjadi boomer ketika asisten soundman sedang
berhalangan hadir, atau juga turut membantu kinerja produser yang cukup
merepotkan ketika pengaturan makanan, minuman, serta keperluan lain yang
dibuthkan saat produksi dilaksanakan.
Menurut pendapat penulis, doble job sah saja dilakukan jika memang pihak
bersangkutan dirasa mampu untuk mengemban tugas tersebut dan memang
diperlukan untuk kelancaran produksi, namun hal itu tentu saja tidak dapat menjadi
alasan keterbengkalaian tugas pokok atau kewajiban utama dari main job yang
disandang.

97
c. Konsep teknik
Hampir seluruh kru yang bertugas dibalik layar memiliki konsep teknik
tersendiri. Contohnya saja editor dengan Adobe Premiernya, soundman denga mixer
dan boom mic, atau DOP dengan kameranya. Semua hal bersifat teknik tersebut
memang acap kali digunakan bagi mereka yang bekerja menggunakan peralatan.
Namun hal itu tidak mengartikan bahwa seorang penulis naskah tidak memiliki
peralatan kerja. Selain daya imajinasi seorang penulis naskah tentu memerlukan
media penulisan atas apa yang ia fikirkan. Hal itu bukan mengintegrasikan bahwa
sebuah naskah tidak boleh ditulis dengan tulisan tangan, namun menurut penulis akan
sangat baik jika ditulis menggunakan media penulisan. Adapun alasan yang penulis
pahami adalah sebuah naskah merupakan acuan dasar dimulainya proses pra
produksi, produksi maupun pasca produksi. naskah juga akan dipahami dan dibedah
oleh banyak pihak yang bersangkutan dengan pelaksanann produksi. Maka tentunya
naskah harus memiliki cara penulisan yang mudah dibaca dan dipahami, sedangkan
bentuk dari tulisan tangan seseorang memiliki perbedaan yang cukup signifikan atau
tidak universal. Pada masa yang telah lampau mungkin seorang penulis naskah lebih
sering didapati menggunakan mesin tik, namun pada saat sekarang penulis naskah
sudah dapat melakukan penulisan pada software Microsoft Word yang terdapat pada
tiap komputer dan laptop.
Hal itu pula yang dilakukan oleh penulis selaku penulis naskah. Penulis
melakukan proses pengetikan menggunakan Microsoft Word yang ada pada laptop
yang penulis miliki. Penulis mengakui bahwa kehadiran laptop sebagai alat kerja
penulis sangat membantu terciptanya skenario yang diinginkan, dikarenakan

98
bentuknya yang fleksibel dan dapat dibawa kemana saja mempermudah penulis
menyelesaikan penulisan di outdoor agar lebih santai.
Ada sebuah softwere khusus penulisan skenario bernama Celtx yang sudah
penulis miliki, namun untuk saat ini penulis belum mampu untuk menggunakan
softwere tersebut karena masih dalam proses pembelajaran pemakaian, sehingga
penulis hanya menggunakan sarana Microsoft Word sebagai media penulisan.
6. Kendala Produksi dan Solusi
Segala sesuatu yang diusahakan pastilah memiliki kendala, permasalahan, dan
kesenjangan antara perencanaan dengan proses aplikasinya. Kendala bisa dikatakan
sebagai pengujian kekuatan dan kesiapan diri dalam mengahadapi kondisi yang
berada di luar garis zona nyaman diri. Kondisi seperti itulah yang acap kali membuat
rasa emosi berdampak buruk dengan kejernihan fikiran dalam berfikir. Penulis juga
tentu melewati masa masa seperti itu, dimana ketika penulis mendapatkan rasa
nyaman untuk berfikir maka akan ada permasalahan atau tekanan yang membuat
penulis tidak lagi merasa nyaman untuk menulis atau bahkan menghasilkan sebuah
ide. Tidak hanya pada saat pra produksi saja kendala dapat muncul, melainkan ketika
proses produksilah dimana benyak kendala yang bermunculan. Memang sulit untuk
digambarkan di mana pada saat produksi berlangsung yang tentunya memiliki
tekanan tersendiri namun masih terus dihadapkan pada kendala yang mengakibatkan
kesabaran diri menjadi goyah. Akan tetapi segala jenis kendala yang penulis hadapi
tentunya timbul untuk dihadapi, bukan untuk dihindari.

99
Ada beberapa kendala yang muncul dari beberapa aspek, seperti penentuan
ide dan tema, waktu pengerjaan naskah, perkuliahan, tekanan, serta proses revisi.
a. Penentuan ide dan tema
Pada proses ini penulis mengakui adanya kendala yang pada dasarnya
disebabkan oleh pengalaman penulis yang minim. Cukup sulit bagi penulis
dalam menentukan ide dan tema apa yang dirasa bagus untuk diproduksi
dengan genre action yang telah disepakati. Penulis hanya memiliki satu
pengalaman dalam menunilis skenario untuk drama action, yaitu ketika
memproduksi drama pada semester lima yang juga mendapatkan genre action
dari hasil pengundian.
Solusi:
Penulis mengatasai kendala tersebut dengan memperbanyak menonton
dan membaca sinopsis tertulis dari beberapa film bergenre action yang
memiliki keunggulan cerita. Penulis pun berusaha untuk memberitahukan
kekukurangan yang penulis miliki kepada seluruh anggota tim, sehingga
seluruh tim ikut serta membantu penulis dengan cara memberikan beberapa
dvd film bergenre action guna menjadi bahan referensi pencarian ide dan
tema.
b. Waktu pengerjaan naskah
Waktu juga merupakan kendala tersendiri bagi penulis. Dengan jangka
waktu penyerahan hasil karya yang relatif singkat sangat mempengaruhi cara
kerja penulis sebagai penulis nakah. Dari pihak produserpun dengan sangat
jelas memberikan waktu 3 hari untuk proses pengolahan sinopsis hingga

100
terbentuk skenartio yang utuh. Dengan deadline yang diberikan tentu saja
menjadi kendala bagi penulis, mengingat pembuatan skenario tidak dapat
dilakukan dengan tergesa gesa.
Solusi:
Seperti yang diketahui, penulis naskah merupakan pekerjaan yang
membutuhkan ketenangan, kenyamanan dalam menulis, serta kebebasan
dalam pengaturan schedule pengetikan. Namun dengan situasi deadline yang
cukup ketat, maka penulis pun harus dapat menyesuaikan nya dengan cara
kerja penulis. Penulis berusaha untuk menyeslesaikan pembuatan skenario
sesuai dengan deadline yang diberikan, sehingga beberapa kali penulis harus
memaksa diri untuk terus bekerja ketika tubuh seharusnya telah diistirahatkan.
Namun pemanfaatan waktu yang maksimal menurut penulis merupakan solusi
terbaik dalam menghadapi kendala tersebut.
c. Perkuliahan
Selama proses pembuatan tugas akhir, penulis pada awalnya
memperkirakan bahwa sudah tidak adanya lagi masa perkuliahan yang
dilakukan di ruang kelas, sehingga penulis memprediksi bahwa penulis dan
tim memiliki prioritas pemikiran dalam pembuatan tugas akhir. Namun pada
kenyataannya pihak kampus ternyata masih memberikan 2 mata kuliah yang
bersifat materi didalam kelas. Keterbatasan kemampuan acap kali membuat
penulis sedikit sulit utnuk membagi waktu serta fikiran untuk kedua hal
tersebut.

101
Solusi:
Dengan kendala yang seperti itu, mengharuskan penulis untuk dapat
membagi waktu dalam mengerjakan tugas tugas perkuliahan tersebut, yang
tentunya juga harus terus sejalan dengan proses penyelesaiakan tugas serta
kewajiban penulis sebagai penulis naskah dengan hasil yang maksimal pula.
Dalam kondisi ini management waktu yang baik sangat diperlukan untuk
mempermudah penulis.

d. Tekanan
Tanggung jawab sebagai penulis naskah merupakan sesuatu yang sulit.
Pada lapisan depannya, pekerjaan sebagai penulis naskah terlihat tidak sulit
karena hanya berkutat dengan ide dan penulisan. Tidak seperti job desk lain
yang memang memiliki spesifikasi kesulitan dalam mengatur segala sesuatu
yang berbau alat. Namun penulis naskah tidaklah semudah yang terlihat.
Seorang penulis naskah memiliki tanggung jawab moril terhadap penonton
yang akan menyaksikan film yang berasal dari idenya. Penulis pun merasakan
hal yang sama, dengan waktu pengerjaan yang singkat, penulis merasakan
sebuah tekanan dimana penulis harus sesegera mungkin menyelesaikan
skenarionya. Hal itu dikarenakan seluruh tim dan kru yang berada dibalik
layar tidak dapat memulai pekerjaan mereka tanpa sebuah naskah. Maka
penulis harus dengan segera menyelesaikan proses pengetikan. Selain itu
penulis juga merasakan tekanan lain ketika penulis merasa tidak yakin jika

102
skenario yang penulis hasilkan tidak terlalu baik untuk dijadikan sebuah film
drama untuk tugas akhir.
Solusi:
Penulis menyadari bahwa semua proses yang dilewati selama
pengerjaan tugas akhir merupakan sebuah pembelajaran berharga untuk
perjalanan di dunia kerja kelak. Maka penulis berusaha untuk menghasilkan
skenario yang layak untuk ditayangkan. Tidak hanya dari segi cerita, namun
pesan yang akan disampaikan pun memiliki nilai moral yang bagus. Penulis
mengakui keterbatasan yang penulis miliki, maka penulis mencoba untuk
memberikan hasil yang terbaik yang dapat penulis berikan. Tekanan memang
merupakan sebuah kendala yang terjadi di dalam diri sendiri, namun tekanan
tersebut dapat dihadapi dengan terus berkomitmen untuk memberikan yang
terbaik dengan usaha yang maksimal.
e. Proses revisi
Sebuah naskah tidak dapat dengan mudah begitu saja diproduksi, akan
ada beberapa tahap yang harus dilewati untuk sampai pada sesi akhir yaitu
produksi. Salah satu tahapan yang penting dalam pembuatan naskah adalah
revisi. Proses revisi inilah dimana penulis membutuhkan waktu yang lebih
sehingga menghasilkan final script yang sebelumnya membuahkan 4 draft
skanario.
Solusi:
Sebelum akhirnya naskah direvisi oleh dosen pembimbing, penulis
terlebih dahulu menyerahkan naskah kepada produser dan sutradara untuk

103
dapat dilakukan revisi awal. Setelah mendapat revisi, penulis memperbaiki
naskah untuk dapat diperlihatkan kepada seluruh tim. Proses revisi pun
kembali dilakukan. Penulis pun berusaha kembali memperbaiki naskah sesuai
dengan hasil pendiskusian seluruh tim. Proses revisi revisi seperti itu terus
penulis lakukan guna mencapai titik terdekat dari kesempurnaan. Sehingga
ketika naskah diserahkan kepada dosen pembimbing, sudah tidak terlalu
banyak lagi hal yang patut diperbaiki, sehingga lebih menghemat waktu guna
pra produksi.
Selain kendala yang timbul selama penulis menjabat sebagi penulis
naskah, tentunya ada pula beberapa kendala yang muncul ketika penulis
melaksanakan tugas membantu tim art sebagai penanggung jawab wardrobe,
seperti ketiadaan kostum yang diinginkan atau bahkan hilangnya beberapa
wardrobe yang merupakan hasil penyewaan. Namun semua kendala tersebut
masih dapat penulis atasi dengan terus berkomunikasi dengan pihak art yang
mengepalai divisi wardrobe.

104

LEMBAR KERJA PENULIS NASKAH


1. Konsep Penulisan Tokoh
2. Sinopsis
3. Karakteristik Tokoh
4. Skenario
5. Treatment / Scene Plot

105

KONSEP PENULISAN NASKAH


Konsep penulisan naskah merupakan space bagi penulis yang merupakan
penulis naskah untuk menjelaskan atau memaparkan bagaimana penulis melakukan
proses pembuatan dan perumusan ide untuk diolah menjadi sebuah sinopsis. Seperti
yang diketahu pada umumnya, sinopsis merupakan cerita singkat sebuah skenario,
maka sudah tentu jika sinopsis telah selesai dibuat tentu saja penulis sudah
mendapatkan alur cerita peradegan secara utuh. Mulai dari bagaimana penceritaan
dimulai hingga cerita berakhir.
Penulis memiliki konsep tersendiri ketika pembuatan sinopsis, dari alasan
pemilihan alur, pemilihan lokasi adegan, sampai alasan penggunaan tokoh. Ada
beberapa unsur yang merupakan pondasi terciptanya sinopsis dengan alur yang sudah
lengkap. Diawali dengan ide dan tema, adapun alasan penulis membuat skenario
dengan ide dan tema mengenai keadilan dan kesetiaan adalah mengingat minimnya
pengaplikasian 2 kata tersebut dalam kehidupan bermasyarakat dan Negara
khususnya bagi para aparat dan petinggi petinggi negeri. Ide tersebut juga dapat
diartikan lebih luas kepada keadilan dan kesetiaan dalam institusi penidikan,
kesehatan, bahkan pertemanan. Kemudian kenapa penulis lebih memilih aparat
satuan khusus sebagai profesi dari keseluruhan tokoh, yaitu karena menurut sudut
pandang penulis untuk sebuah drama bergenre action konflik yang cukup kompleks
adalah konflik yang terjadi pada seorang aparat Negara, hal itu dikarenakan akan
adanya timbul persoalan yang menggabungkan unsur keterikatan dengan Negara dan
unsur pribadi. Kemudian menurut penulis drama action yang berani mengangkat

106
permasalahan internal yang terjadi pada seorang aparat Negara, maka itu dapat
dijadikan nilai lebih untuk cerita yang penulis ciptakan.
Penceritaan pun dimulai dengan adegan penyergapan penyelundupan heroin
pada sebuah gudang. Alasan penulis memilih heroin sebagai pelopor terjadinya
penyergapan adalah tingginya kasus heroin yang diselundupkan dalam jumlah besar
diberbagai Negara. Dengan penyelundupan heroin sebagai kasus kriminalnya, maka
sudah tentu satuan khusus yang penulis ciptakan pun mestinya satuan khusus
dibidang narkotika sehingga lahirlah NCU atau Narcotic Counter Unit. Adapun
alasan mengapa penulis menggunakan satuan khusus fiktif sebagai institusi Negara
adalah akan ada kemungkinan banyak pihak yang merasa terganggu atas penggunaan
nama institusi Negara. Selain itu, penggunaan nama sebuah institusi Negara secara
langsung akan berpengaruh dengan lambang, properti, serta kostum atau seragam
yang digunakan. Sehingga penulis memilih untuk menggunakan satuan khusus fiktif,
yang tentunya akan memberikan ruang untuk tim artistik dalam berimajinasi dan
berkarya.
Jika ditelaah lebih lanjut, ada sebuah pengadeganan yang dilakukan disebuah
pemakaman.adapun tujuan penulis meletakan adegan pemakaman setelah adegan
penyergapan adalah yang pertama untuk memberikan ritme yang bertolak belakang
dengan adegan sebelumnya. Seperti yang diketahui, adegan penyergapan merupakan
adegan yang menonjolkan sisi ketegangan, lalu kemudian penulis meletakan adegan
pemakaman yang sunyi dan tenang sebagai penurunan emosi penonton yang telah
terpancing saat adegan penyergapan. Semua itu penulis lakukan untuk memenuhi
persyaratan sebuah naskah yaitu unsur dramatik. Lalu kenapa harus pemakaman

107
penganut kristiani? Karena menurut penulis penganut kristiani memiliki banyak
atribut serta ornament ciri khas keagaaman, seperti salib, meja altar dan lain
sebagainya. Sehingga dapat menjadi pancingan untuk kreatifitas tim artistik.
Unsur keluarga pun turut penulis hadirkan dalam skenario drama action
Desersi, yaitu ketika kematian sang adik dari pemain protagonis menjadi pemicu
utama konflik inti yang terjadi dalam skenario yang penulis buat. Menurut penulis,
ikatan atau rasa mencintai antara anggota keluarga merupakan hal yang dapat dengan
cepat menyulut emosi dari seseorang, tidak terkecuali seorang aparat.
Dalam skenario drama action Desersi penulis sedikit menggunakan trik
dalam pengenalan siapa yang menjadi tokoh antagonis. Penulis mencoba mengelabui
penonton dengan memperkenalkan tokoh antagonis sebagai tokoh yang baik, bersih,
dan menjadi teman atau pendukung dari tokoh protagonis. Namun pada akhir dari
cerita, akan ada adegan adegan pembuktian yang menerangkan bahwa tokoh
pendukung protagonis inilah yang menjadi tokoh utama antagonis. Penulis
menggunakan trik seperti itu agar alur cerita tidak dengan mudah dapat ditebak oleh
penonton, sehingga ketegangan dan rasa ingin tahupun tercipta difikiran penonton.
Dalam skenario yang penulis ciptakan, juga terdapat adegan dimana tokoh
antagonis menaruh kepercayaan kepada tokoh antagonis yang pada awalnya
ditampilkan dengan sosok baik. Adegan tersebut digunakan sebagai motivasi adanya
kepercayaan yang dikhianati pada akhir cerita. Lalu bagaimana dengan penempatan
adegan yang dilakukan dibilliard? Tentu saja penulis juga memiliki motivasi pada
adegan tersebut. Pada adegan dibilliard penulis membuat adegan dimana tokoh
antagonis memberikan dukungan serta bantuan kepada tokoh protagonis dalam upaya

108
tokoh protagonis mencapai tujuannya. Penulis menginginkan penonton dapat
menaruh rasa simpatik dan memihak pada tokoh antagonis yang berkedok kebaikan.
Penulis memberikan klimak konflik dengan adegan penyergapan tokoh
protagonis yang ditemukan tengah berada di lokasi pembunuhan, sehingga
perkelahian dan pengejaran yang panjang pun terjadi. Adapun alasan penulis
memberikan adegan pengejaran yang cukup panjang adalah untuk meyakinkan
penonton bahwa tokoh protagonis memang melakukan kesalahan dan pelanggaran
hukum. Hal itu mengakibatkan pihak penonton percaya dan yakin bahwa memang
semua hal yang terjadi merupakan perbuatan tokoh protagonis. Lalu kemudian
penulis berupaya menggiring penonton pada titik ending dengan adegan adegan
yang mulai memperlihatkan watak asli dari tokoh antagonis yang sebenarnya. Seperti
adegan penemuan barang bukti keterlibatan tokoh antagonis oleh tokoh protagonis.
Sehingga penonton yang pada awalnya percaya akan kebaikan tokoh antagonis
merasa terkejut akan kenyataan yang bertolak belakang. Penggunaan flashback pun
dipilih sebagai pengantar terkuaknya segala hal yang disembunyikan tokoh antagonis.
Penulis memilih flashback untuk memperjelas dugaan dugaan yang mulai timbul
dibenak penonton, sehingga penulis mempertegas dugaan tersebut dengan flashback.

109

SINOPSIS DRAMA ACTION DESERSI

IDE

: Sebuah kebenaran harus tetap ditegakan meski kebenaran tersebut telah


dikuasai oleh uang dan kekuasaan.

TEMA : Tentang seorang aparat satuan khusus yang terperangkap di situasi tidak
tepat dalam upaya mengungkap kasus kematian sang adik.

Fransiskus Reno (25), seorang pria muda yang bekerja sebagai pasukan
khusus demi mengikuti jejak sang kakak yang sangat ia idolakan. Reno ditugaskan
oleh Hans Kristian (32), seorang pimpinan divisi yang menaungi Reno. Hans
memerintahkan Reno untuk melakukan penyergapan organisasi penyelundupan
narkotika di sebuah gudang. Untuk beberapa saat, Reno terus mengawasi
segerombolan tersangka yang tengah membongkar muat kotak barang. Di tengah
kesibukan para tersangka, terlihat seorang pria tinggi dengan wajah serius tengah
mengawasi jalannya pembongkaran barang selundupan. Pria tersebut bernama Daniel
(38), Seorang tersangka utama atau bisa dikatakan sebagai pimpinan organisasi
penyelundupan narkotika tersebut.
Demi kelancaran penyergapan tersebut, Reno secara terus menerus
berkomunikasi kepada Hans yang berada di markas pusat melalui HT. Reno akhirnya
meminta tambahan pasukan kepada Hans untuk membantu kelancaran penyergapan.
Hans pun mengirimkan pasukan tambahan seperti yang diminta oleh Reno. Selama
pasukan tambahan beserta Hans tengah dalam perjalanan, Reno dan rekannya
mencoba mempersempit jarak pengintaian, yang tentunya atas persetujuan dari Hans.
Seluruh pasukan tambahan telah tiba di lokasi penyergapan, Reno segera meberikan
kode penyerangan terhadap seluruh pasukan yang ia pimpin. Penyerangan pun terjadi,
namun ternyata strategi yang telah disusun oleh Hans dan Reno kurang berjalan
dengan lancar, karna Daniel dan kelompoknya telah melakukan persiapan antisipasi
penyerangan yang dilakukan Reno dan pasukan. Baku tembak pun tidak terelakan.

110
Reno yang sejak awal mengincar Daniel, akhirnya tewas dengan luka tembak di
kepala oleh tangan kanan Daniel.
Nicholas (28), merupakan seorang anggota pasukan khusus Angkatan Darat
yang memiliki karir cemerlang. Selain seorang anggota pasukan khusus senior,
Nicholas juga merupakan kakak sekaligus satu satunya keluarga yang dimiliki
Reno. Mengetahui sang adik tewas, Nicholas meminta Hans untuk segera menangkap
pelaku. Selang beberapa waktu, Nicholas tidak melihat adanya perkembangan atas
kasus yang menyebabkan sang adik tewas. Naluri sebagai seorang kakak pun
membuat Nicholas turut campur dalam kasus tersebut. Namun, niat Nicholas
ditentang oleh Hans dengan alasan menyalahi prosedur kerja. Nicholas pun
memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai anggota senior pasukan khusus
agar dapat menangkap Daniel tanpa adanya ikatan prosedur.
Dalam usaha Nicho menangkap Daniel, Nicho justru terperangkap dalam
kasus tewasnya Daniel. Dengan keadaan diduga sebagai tersangka tunggal
pembunuhan Daniel, Nicholas pun terpaksa berjuang membersihkan nama baiknya
sekaligus mengungkap misteri kematian Daniel yang tidak terduga. Beberapa
petunjuk ia dapatkan di tempat persembunyiannya sehingga petunjuk tersebut
menjurus pada seseorang yang sangat ia kenal dan sangat dekat dengan Nicholas,
yaitu Hans.
Kecurigaan yang muncul dalam diri Nicholas membuat Nicho berusaha untuk
membuktikan hal itu. Ternyata apa yang dicurigai Nicholas benar, Hans lah yang
menjadi dalang semua peristiwa yang menimpa dirinya serta sang adik. Nicholas pun
menjebak Hans untuk membongkar sendiri kejahatannya. Hans pun akhirnya
ditangkap. Belakangan diketahui bahwa Hans telah bekerja sama denganDaniel untuk
memperlancar penyelundupan narkotika dengan imbalan uang dalam jumlah besar.

111

KARAKTERISTIK TOKOH

NICHOLAS
Pria berusia 28 tahun dengan fisik sehat dan tegap. Sangat serius serta Dalam
melakukan sesuatu. Aktif dan cerdas dalam bertindak, selalu berpikir cepat dalam
berbagai situasi sulit. Memiliki postur tubuh yang bagus serta tinggi yang ideal
sebagai anggota pasukan khusus. Telah mendapatkan banyak penghargaan dalam
menyelesaiakan kasus kasus sulit. Sedikit temperament jika menyangkut keluarga,
khususnya sang adik yang merupakan keluarga tunggalnya.

FRANSISKUS RENO
Pria muda berumur 25 tahun, memiliki sifat yang aktif serta semangat dalam
menjalani segala sesuatu. Sangat mengidolakan sosok sang kakak yang menurutnya
sebagai pengganti kedua orang tua mereka yang telah tiada. Reno begitu ingin
menunjukan kepada sang kakak bahwa ia dapat melebihi karir sang kakak. Memiliki
postur badan yang lebih kecil dibanding sang kakak, namun tetap ideal sebagai
seorang anggota pasukan khusus.

HANS KRISTIAN
Pria cerdas berumur 30 tahun. Memiliki banyak pengalaman dalam bertugas,
sehingga dipercaya sebagai pimpinan divisinya. Memiliki postur tubuh yang lebih
berisi namun tetap ideal. Memiliki mimic wajah yang keras. Memiliki kebiasaan unik
membakar filter rokok sebelum menyulutnya. Memiliki kekuasaan yang lebih
berpengaruh dalam satuan khusus. Pintar dalam hal menyembunyikan sifat asli.

DANIEL
Pria matang yang sudah memasuki usia 38 tahun. Memiliki postur tubuh yang sedikit
gemuk dengan tatanan kumis dan jenggot yang rapi. Menjadikan heroin sebagai

112
sumber kekayaannya selama kurang lebih 8 tahun. Memiliki tingkat kepercayaan diri
yang cukup tinggi dalam menjalankan bisnis heroinnya. Memiliki kekuasaan yang
disegani oleh anak buahnya, namun akan menjadi pria bernyali kecil jika dihadapkan
dengan situasi kekerasan. Selalu berlindung di belakang seseorang yang dijadikan
tameng diri.

HARI DARMANTO
Pria paruh baya dengan usia 42 tahun. Sudah berkeluarga dengan 4 orang anak.
Memiliki sikap tegas namun cendrung berwajah datar. Bekerja dengan disiplin yang
kuat serta prinsip diri yang selalu dipegang teguh sebagai aparat sejak masih muda,
hingga mencapai posisi sebagai pimpinan satuan khusus. Disegani sebagi pimpinan
NCU yang bijak dalam mengambil keputusan.

113

DESERSI
By

Retna Permata Sari

Prepared For CIRCLES PRODUCTION

114
FADE IN
1. EXT. AREA GUDANG - NIGHT
Di sebuah lingkungan sepi, terdapat sebuah BANGUNAN
yang cukup besar. Di sisi kanan serta kiri bangunan
tersebut terdapat beberapa BANGUNAN BANGUNAN KOSONG
yang membuat gudang tersebut terlihat tersembunyi
dari penglihatan masyarakat sekitar. Namun kali ini
berbeda, BEBERAPA PRIA tampak tengah sibuk mondar
mandir sambil terburu buru mengangkat dan
memasukan beberapa KOTAK berukuran sedang ke dalam
sebuah MOBIL BOX yang terparkir di bagian tengah
gudang. Di bagian depan seorang penjaga terlihat
tengah berjaga di sebuah pos. Dari balik salah satu
SUDUT BANGUNAN KOSONG terlihat seorang PRIA
berpakaian serba hitam dengan LAMBANG Satuan Pasukan
Khusus N.C.U ( NARCOTICS COUNTER UNIT ) di LENGAN
BAJU SEBELAH KIRI . Pria tersebut tengah serius
mengawasi kegiatan yang terjadi di dalam gudang
tersebut. Dari pakaian yang dikenakan sudah dapat
dipastikan bahwa pria tersebut seorang aparat Satuan
Khusus. Pria itu menekan sebuah HT yang menempel di
telinganya.
INTER CUT
RENO
( Mata terus menatap tajam
ke arah gudang )
Target terkunci.
HANS
( Ambience suasana sibuk
kantor )
Ok! laporkan letak lokasi
secara lengkap.
RENO
Gudang bekas penyimpanan
peluru, sebelah utara pusat
kota.
HANS
( Sudut alis menyatu,
berpikir sejenak )

115
Reno kembali menatap tajam ke arah gudang. POV
tatapan Reno pada aktifitas yang terjadi di dalam
gudang.
RENO
Bagaimana dan! kami
menunggu perintah.
HANS
( Ambience suasana sibuk
kantor )
Bagaimana dengan situasi?
Apakah sudah steril?
RENO
Steril Dan, kami butuh
pasukan tambahan segera.
HANS
( Ambience suasana sibuk
kantor )
Pasukan segera dikirim,
terus awasi dan laporkan
perkembangannya.
RENO
Siap Dan!
Reno melepaskan tangan dari HT nya. Reno memeriksa
jumlah PELURU yang tersimpan di dalam senjatanya.
Reno kembali memperhatikan aktifitas di dalam
gudang, lalu memfokuskan pandangannya pada seorang
pria yang terus memberikan perintah di dalam gudang
tersebut. Tampaknya ia merupakan pimpinan gerombolan
organisasi penyelundupan narkotika tersebut. POV
tatapan Reno pada pria tersebut. KAMERA MEDIUM CLOSE
UP pada pimpinan organisasi.
Hans tampak meraih TELEPON dengan cepat, ia
menghubungi pasukan tambahan untuk segera bersiap
menuju TKP penyergapan.
HANS
( Serius dan tegas )

116
Siapkan pasukan. kita
berangkat dalam waktu 3
menit.
AMBIENCE : suasana sibuk kantor.
Hans menutup telepon dengan sedikit keras. KAMERA
EXTREME CLOSE UP pada tangan Hans yang menggenggam
gagang telepon yang sudah diletakan dengan cukup
keras.
Tidak jauh dari tempat persembunyian Reno, terdapat
DUA ORANG rekannya yang juga berpenampilan sama
dengan Reno. Mereka juga tampak siaga penuh. Reno
menatap kedua rekannya secara bergantian, lalu
memberi syarat dengan MENGANGGUKAN sedikit kepala
tanda tetap waspada jika sewaktu waktu mendapat
perintah penyergapan.
CUT TO
MONTAGE. Sementara itu, di sebuah jalan raya yang
tidak terlalu ramai terlihat TIGA BUAH MOBIL HITAM
jenis SUV. tengah mengangkut para pasukan tambahan
termasuk Hans melaju kencang bergerak secara
beriringan menuju lokasi penyergapan yang telah di
informasikan oleh Reno. Beberapa kendaraan pribadi
lainnya tampak menyingkir saat tiga mobil ini
melintasi jalanan yang mereka gunakan. KAMERA FOLLOW
iringan mobil.
Hans tengah berada di dalam salah satu mobil, lalu
meraih HT miliknya untuk menanyakan situasi terkini
di lokasi penyelundupan kepada Reno.
HANS
Bagaimana situasi TKP?
RENO
( Menekan HT di telinganya
)
Situasi terkendali. Target
tetap dalam jangkauan jarak
pandang.
HANS
Segera bersiap, pasukan
akan tiba dalam waktu 2
menit.

117
RENO
Siap Dan!!
CUT BACK TO
Reno menatap kedua rekannya secara bergantian,
kemudian MENGANGGUKAN kepala satu kali sebagai
isyarat untuk mempersempit jarak dengan maju
mendekat. Kedua rekannya pun MEMBALAS ANGGUKAN tanda
mengerti. Reno mengalihkan perhatian penjaga dengan
cara melempar sebuah BATU ke arah samping pos.
Penjaga menoleh lalu bergerak mendekati arah suara.
Segera Reno berjalan dengan mengendap mendekati
penjaga. Dengan gerakan cepat Reno mencengkram
bagian KEPALA dan LEHER penjaga lalu mematahkannya
dengan sekali gerakan. Penjaga yang tidak sadarkan
diri segera diseret ke bagian samping pos.
CUT TO
MONTAGE . Mobil pasukan tambahan terlihat melaju
semakin kencang di jalanan. KAMERA WIDE SHOT iringan
mobil pasukan, kemudian HIGH ANGLE, lalu MEDIUM SHOT
dengan EYE LEVEL.
CUT BACK TO
Reno dan kedua rekannya tampak bergerak tanpa suara
mendekat ke arah gudang, mencoba mempersempit jarak.
POV pandangan Reno terhadap kegiatan di dalam
gudang.
Reno dan kedua rekannya tampak tengah MEMPERSIAPKAN
SENJATA di persembunyian yang baru. Mereka mulai
mengatur ARAH BIDIKAN senjata, mengatur posisi dalam
keadaan stand by menyerang.
Mobil pasukan tambahan memasuki area GUDANG.
Aktifitas di dalam gudang BERHENTI seketika saat
mendengar suara mobil mendekat. Pimpinan organisasi
penyelundupan tampak kesal, lalu memerintahkan
seluruh anak buahnya untuk bersembunyi.
DANIEL
( Menggerutu + berteriak )
Semua sembunyi!!!!!
Seluruh anak buah Daniel meninggalkan KOTAK - KOTAK
yang sedang mereka pindahkan, lalu bergerak dengan

118
cepat untuk bersembunyi. Masing masing mereka
tampak mengeluarkan SENJATA API dari balik pinggang
mereka. Beberapa dari mereka bersembunyi di balik
TUMPUKAN BARANG, lalu ada juga dari mereka yang
bersembunyi di balik PINTU BELAKANG gudang. Daniel
terlihat tampak terburu menuju sebuah TANGGA yang
terhalangi oleh beberapa MESIN. Tempat yang sangat
strategis untuk bersembunyi. Daniel menggenggam
PISTOL dengan kencang dengan wajah penuh
kewaspadaan.
Tidak jauh dari gudang, terlihat mobil pasukan
khusus baru saja menghentikan lajunya. Dua mobil di
belakangnya pun mengikuti untuk berhenti.
Di dalam salah satu mobil terlihat para pasukan
khusus tengah mempersiapkan senjata untuk siap di
tembakan. Pintu mobil terbuka, semua pasukan turun
lalu segera menuju posisi masing masing di sekitar
gudang. Reno segera mengambil alih kepemimpinan,
lalu memerintahkan seluruh pasukan tambahan untuk
bersiap. Hans turun dari mobil lalu berdiri di
samping PINTU MOBIL untuk terus mengawasi. Hans
kembali menghubungi Reno menggunakan HT.
HANS
Semua bersiap!!
Reno dan seluruh tim masuk ke dalam gudang. Dengan
cepat mereka menyebar sesuai dengan apa yang telah
diperintahkan oleh Reno sebelumnya. Anak buah Daniel
yang telah bersiap pun berusaha menyerang pasukan
Reno. Adu tembak pun terjadi. Seorang anak buah
Daniel terlihat tertembak di bagian bahu lalu jatuh
tersungkur. Seorang aparat juga tampak tengah
berusaha keras untuk melumpuhkan para tersangka,
namun sebuah peluru meluncur dari pistol anak buah
Daniel yang berada di belakang dan menembus PAHA
BELAKANG aparat tersebut. Reno tampak tengah berlari
dari satu tempat ke tempat bersembunyi lainnya untuk
menghindari tembakan. Reno kemudian melihat Daniel
yang berada di atas tangga. Reno pun mengarahkan
senjatanya ke arah Daniel. Reno memfokuskan
tatapannya pada Daniel.
Reno mulai menarik pelatuknya secara perlahan namun
pasti. KAMERA EXTREME CLOSE UP pada mata Reno lalu
jari telunjuk Reno yang akan menarik pelatuk. KAMERA

119
CLOSE UP wajah Daniel yang lengah. Sebuah BIDIKAN
terlihat di wajah Daniel.
SOUND : SUARA TEMBAKAN
Reno jatuh ke lantai secara perlahan. Saat tubuh
Reno jatuh, terlihat anak buah Daniel yang bernama
JACK yang mengacungkan pistol dengan ujung senjata
yang BERASAP. KAMERA FOKUS JACK. AMBIENCE suara
tembakan yang beruntun.
Reno jauh ke lantai. Darah segar segera mengalir
membasahi lantai sekitar BAGIAN KEPALA Reno. KAMERA
EXTREME CLOSE UP mata Reno yang TERBUKA LEBAR dengan
darah segar MENGGENANG di sampingnya.
KAMERA CLOSE UP wajah Hans yang menyadari bahwa Reno
tertembak. KAMERA SHOT mayat Reno.
Suasana gudang RAMAI. Seluruh pasukan MENYERBU anak
buah Daniel, anak buah Daniel pun tidak tinggal
diam, mereka juga membalas serangan pasukan dengan
mengarahkan tembakan ke arah Pasukan Khusus. Baku
tembak pun terjadi dengan sengit. SATU ORANG anak
buah Daniel TERTEMBAK di bagian PERUT lalu terjatuh
menabrak TUMPUKAN KOTAK BARANG. Semua kotak
BERJATUHAN, narkotika jenis heroin dalam jumlah
banyak pun BERTEBARAN DI LANTAI.
SEORANG APARAT tampak tengah berusaha MENGHINDARI
TEMBAKAN dengan bermaksud bersembunyi di balik
tumpukan box kayu. Namun belum sempat ia mencapai
tempat tersebut, sebuah PELURU menembus bagian PAHA
KANANNYA, lalu dengan cepat sebuah PELURU kembali
menembus DADANYA. Seketika pasukan tersebut tumbang.
ADU TEMBAK terus berlangsung. Daniel tampak
kewalahan, ia tengah mengatur nafas di salah satu
SUDUT DINDING GUDANG. Daniel lalu memerintahkan
SALAH SATU anak buah untuk melindunginya agar dapat
keluar dari gudang tersebut.
DANIEL
( Berteriak )
JACK!! lindungi gue!!
Anak buah Daniel yang bernama Jack itu pun segera
MENEMBAKI PASUKAN yang berada di depan JALUR PINTU
keluar gudang. Daniel dengan segera BERLARI menuju
pintu lalu kabur seorang diri. Sementara itu Jack
yang tengah melindungi jalan Daniel untuk kabur,
TERTEMBAK di bagian BAHU KIRI, namun Jack tetap

120
menahan diri dan terus menembaki aparat yang ada di
depannya. Jack kembali tertembak di bagian DADA.
Jack jatuh TERSUNGKUR di lantai. Aparat yang
menembak Jack pun berbalik badan untuk pergi. Namun
ternyata Jack masih menggerakan tangannya, lalu
sebuah tembakan meletus dari pistol yang ada di
tangan Jack. Aparat itu pun tumbang dengan peluru
bersarang di PUNGGUNGnya yang tembus ke jantung.
Suasana gudang kembali sepi. KAMERA TRACKING
memperlihatkan suasana gudang yang BERANTAKAN dengan
MAYAT TERGELETAK di mana mana. Semua anak buah
Daniel tewas, begitu pula dengan seluruh aparat
Satuan Khusus yang masuk menyerbu gudang.
Hans dan DUA ORANG aparat yang berdiri di samping
mobil dan tidak masuk ke dalam gudang tampak terpana
dengan wajah tidak percaya. KAMERA WIDE SHOT Hans
dan dua aparat yang berdiri di samping mobil. Lalu
HIGH ANGLE menjauh.
CUT TO
2. EXT. PEMAKAMAN DAY
Di sebuah pemakaman umum yang tenang dan bersih.
Beberapa RUMPUT tampak tumbuh disekeliling
pemakaman, membuat suasana menjadi lebih sejuk dan
tidak terlalu panas. Di pemakaman yang sangat luas
tersebut, terlihat seorang pria bernama NICHOLAS
tengah berdiri menghadap sebuah makam yang terlihat
masih baru. Nicholas tampak berwajah datar. Tatapan
Nicho kosong, seperti sedang menimbun segala
emosinya di dalam dada. Beberapa langkah dari posisi
Nicho berdiri, tampak Hans juga berada di sana.
Menatap makam penuh penyesalan. Tidak lama kemudian
Hans mendekati Nicholas, lalu MEREMAS PUNDAK Nicho.
Kemudian Hans berbalik dan berlalu meninggalkan
pemakaman. Nicholas berdiri seorang diri, tidak
bergerak dan tidak bersuara.
CUT TO
3. INT. RUMAH KAMAR RENO - WASTAFEL NIGHT
Nicholas tengah berada di depan WASTAFEL sederhana
dengan CERMIN di bagian atasnya. Beberapa BOTOL
PENCUCI MUKA terpajang di sana. Nicholas menadangkan
kedua telapak tangannya di bawah guyuran air yang
keluar dari kran wastafel tersebut. Nicholas

121
mendekatkan wajahnya dengan wadah wastafel lalu
membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya yang
penuh air. Nicholas kembali mengguyur wajahnya
sekali lagi. Kedua telapak tangan Nicho menggenggam
pinggiran wastafel dengan kencang. Nicholas menatap
wajahnya di cermin. Sekujur wajah Nicholas basah,
air menetes dari dagu dan hidungnya. Sebuah tekanan
dan kesedihan terlihat jelas lewat pantulan wajahnya
di cermin.
Nicholas meraih HANDUK KECIL yang tergantung di
samping wastafel lalu menghapus air dari wajahnya.
Nicholas melempar handuk tersebut lalu berjalan
menuju sebuah kamar yang tidak terlalu luas. Kamar
itu hanya di terangi oleh cahaya lampu yang sedikit
redup. Nicholas duduk di pinggir TEMPAT TIDUR.
Sejenak ia menyapu pandangannya pada kamar tersebut.
Sebuah FOTO berukuran sedang tampak menghiasi salah
satu dinding. Foto itu memperlihatkan wajah Reno
yang terlihat senang dengan SERAGAM N.C.U saat di
lantik. Di sebelah foto tersebut juga terdapat
sebuah FOTO BERUKURAN LEBIH KECIL. Foto tersebut
berisi foto Nicholas MERANGKUL Reno dengan wajah
yang sumringah. Dalam foto tersebut mereka berdua
sama sama mengenakan SERAGAM N.C.U. Beberapa
PIAGAM dengan nama Reno juga terpajang di kamar itu.
Semua hal tentang Reno di kamar itu membuat
pertahanan emosi Nicholas runtuh. Nicholas
mengepalkan kedua telapak tangannya, lalu kepalanya
menunduk.
CUT TO
4. INT. KANTOR PUSAT N.C.U DAY
ESTABLISH KANTOR.
Sebuah kantor berukuran sedang terlihat sibuk hari
ini. DELAPAN MEJA tersusun saling berhadapan. Masing
masing meja terdapat TUMPUKAN FILE DENGAN FOTO
TERJEPIT DI SUDUT ATAS, ALAT TULIS, LAPTOP, serta
MAP YANG TERSUSUN TIDAK RAPI. Beberapa orang berlari
sambil membawa SETUMPUK MAP. SUARA TELEPON berdering
juga saling bersautan. Beberapa orang lainya tampak
sibuk membongkar bongkar sebuah LEMARI FILE,
mencoba menemukan file yang dibutuhkan. Kemudian ada
pula SESEORANG berpakaian SERBA HITAM dengan ROMPI
ANTI PELURU tengah menggiring seorang PRIA dengan

122
tangan TERBORGOL di belakang. Ruangan kantor itu
memiliki beberapa set meja kerja dengan PILAR
PEMBATAS di antara tiap meja. Meja meja di sana
pun terlihat begitu padat dengan tumpukan map dan
file yg berantakan. Sebuah POSTER lambang Pasukan
Khusus N.C.U terlihat menempel dengan gagahnya di
salah satu dinding.
Hans tengah berdiri sambil berbicara dengan salah
satu aparat. Nicholas datang menghampiri. Hans pun
meminta aparat tersebut untuk pergi.
HANS
( berbicara dengan aparat
lalu berpaling ke arah
Nicholas )
Ok, teruskan penyelidikan.
Ada apa Nicho?

NICHOLAS
Aku hanya ingin memastikan
Hans, apa buron heroin itu
sudah tertangkap?
HANS
( Menghela nafas )
Belum Nicho. Kami mendapat
kesulitan untuk melacak
keberadaannya.
NICHOLAS
Kamu harus segera meringkus
buronan itu Hans,
bagaimanapun juga dia yang
membuat adikku tewas.
HANS
Nicholas, Reno tewas saat
bertugas. Itu sebuah
kebanggaan bagi seorang
prajurit. Kau harus bisa
menerima itu.

123
NICHOLAS
Aku tau Hans, tapi buronan
itu tetap penyebab kematian
Reno.
HANS
( Kembali menghela nafas )
Ok Nicho, kamu tenang saja.
Aku dan tim pasti segera
menangkap buronan itu.
NICHOLAS
Sebaiknya segera Hans.
Secepatnya... aku percaya
padamu.
Nicholas berlalu meninggalkan Hans yang tetap
berdiri di tempat.
CUT TO
5. INT. RUMAH NICHOLAS NIGHT
Nicholas tampak sibuk menatap layar laptopnya.
Beberapa kali ia mengetikkan sesuatu di keyboard.
Ternyata Nicho mencoba mencari data data mengenai
tersangka penyelundupan yang juga penyebab tewasnya
sang adik. Posisinya sebagai salah satu anggota
Satuan Khusus memudahkan Nicho untuk mengakses data
data tersangka di situs resmi keanggotaan Pasukan
khusus. Raut wajahnya seketika terlihat kesal.
Tampaknya Nicho tidak menemukan apa yang ia cari.
Nicho merebahkan tubuhnya di sebuah sofa. Sesekali
ia mengurut pelipisnya untuk mengurangi penat dan
beban pikirannya.
CUT TO
6. INT. RUMAH NICHOLAS DAY
ESTABLISH PAGI.
Nicholas baru saja selesai mandi. Sebuah handuk
kecil masih menggantung di bahunya. Nicholas meraih
sebuah Koran yang terletak di atas sebuah meja kecil
di samping tempat tidur. Berita utama yang tertulis
di halaman pertama Koran itu tampaknya membuat Nicho
tidak senang. KAMERA CLOSE UP Koran bertuliskan
SETELAH 14 HARI PASCA PENYERGAPAN PIMPINAN
ORGANISASI PENYELUNDUPAN NARKOTIKA SKALA BESAR YANG

124
JUGA PENYEBAB KEMATIAN APARAT N.C.U FRANSISKUS RENO
BELUM JUGA TERTANGKAP
Nicholas melempar Koran tersebut ke tempat tidur.
CUT TO
7. INT. KANTOR DAY
Suasana kantor tampak sibuk seperti biasanya.
Nicholas tengah berdiri di samping meja kerjanya.
Tangannya menggenggam sebuah map, namun map tersebut
sama sekali tidak dibuka, ia terlihat tidak fokus.
Tidak lama kemudian Hans keluar dari ruang pimpinan.
Nicholas yang melihat Hans, langsung meletakkan map
di tangannya ke atas meja lalu segera menghampiri
Hans. Hans yang baru saja menutup pintu ruang
pimpinan Pasukan Khusus sontak menunda langkahnya
saat melihat Nicholas mendekat. Nicholas pun
menanyakan perihal kasus buronan penyelundupan yang
telah menewaskan sang adik.

NICHOLAS
( Antusias )
Bagaimana Hans, ada
perkembangan??
Hans tampak menghela nafas panjang, lalu
menggelengkan kepalanya kemudian berlalu pergi.
Nicholas tampak kesal, lalu berniat mengejar Hans.
Namun, belum sempat Nicholas melangkah seorang
aparat menghampiri Nicho untuk memberikan laporan
kasus yang Nicholas pimpin.
APARAT
( Menyodorkan map )
Dan ini laporan pembajakan
pesawat tempo hari.
NICHOLAS
Nanti kita bicarakan lagi.
Ok.
Nicholas pun meninggalkan aparat tersebut lalu
menyusul Hans. Hans tengah duduk di kursinya sambil
memeriksa beberapa BERKAS KEJAHATAN.

125
NICHOLAS
( Kesal )
Hans, kenapa kamu tidak
menjawab pertanyaanku!
Bagaimana kasusnya?!
HANS
( Berdiri )
Nicho, tidak segampang itu
melacak keberadaannya.
Tersangka ini bukan orang
yang mudah ditangkap.
Organisasi ini berskala
internasional, sulit untuk
meringkusnya.
NICHOLAS
Ok. Kalau memang begitu,
aku siap membantu melacak
keberadaan keparat itu.
HANS
( Menghela nafas )
Nicholas, kamu aparat
senior di satuan ini, jadi
kamu tahu secara pasti
kalau tidak ada prosedur
yang mengizinkan anggota
divisi lain untuk ikut
campur menangani kasus
divisi yang lainnya. Nicho,
tolong kamu mengerti,
biarkan kami menangani
kasus ini dengan baik.
NICHOLAS
( Nada tinggi )
Bagaimana aku bisa diam
jika kasus ini sama sekali
tidak mengalami
perkembangan. Hans, kasus
ini sudah dua minggu

126
bergulir, tapi mana
hasilnya?? nihil!!!!
HANS
Kamu tidak bisa melanggar
aturan dan prosedur yang
telah ditetapkan!! kamu
akan mendapat sanksi berat!
Nicho, Kami semua juga
kehilangan Reno.
NICHOLAS
OK!! Kalau memang prosedur
yang kamu permasalahkan,
aku bisa atasi!!
Nicholas berbalik lalu berjalan dengan terburu
menuju ruangan pimpinan Pasukan Khusus. Beberapa
APARAT di ruangan kantor tersebut MENATAP
pertengkaran yang baru saja terjadi diantara aparat
terbaik yang pernah ada.
Nicholas terus berjalan, ia menerobos masuk
keruangan pimpinan.
CUT TO
8. INT. KANTOR RUANGAN PIMPINAN DAY
Nicholas berada di dalam ruangan pimpinan Pasukan
Khusus. Ruangan pimpinan Pasukan khusus tidak
terlalu besar, hanya terdapat sebuah MEJA BESAR
lengkap dengan KURSI KULITNYA. Meja tersebut berisi
beberapa MAP dan PENA. Sebuah PAPAN NAMA diletakan
di atas meja tersebut. Nama HARI DARMANTO TERTULIS
di atas papan tersebut. Sebuah LEMARI penuh map dan
file berdiri kokoh di sudut ruangan. Beberapa PIAGAM
PENGHARGAAN terpajang rapih di salah satu dinding.
Seorang PRIA berusia 40 tahun dengan perawakan tidak
terlalu tinggi, memiliki postur tubuh yang besar
namun tidak gemuk. Pria tersebut tampak
MENGGELENGKAN kepalanya dengan tegas kepada
Nicholas.
HARI DARMANTO
( Menggelengkan kepala
dengan tegas )

127
Tidak bisa Nicho. Saya
tidak akan pernah
mengizinkan. Segala sesuatu
harus mengikuti prosedur
yang ada.
NICHOLAS
( Wajah kecewa + menahan
emosi + meletakkan senjata
dan tanda pengenal di meja)
Baik, saya mengerti.
Sepertinya saat ini memang
sulit bagi saya bekerja
sama dengan semua prosedur
dan birokrasi yang berlaku.
Untuk itu saya memutuskan
mengundurkan diri dari
Satuan ini. Selamat siang.
Nicholas berjalan menuju pintu. Saat melewati pintu,
Nicholas melihat sekilas Hans yang berdiri di AMBANG
PINTU. Nicholas berlalu.
CUT TO
9. INT. TEMPAT BILLIARD NIGHT
SATU SET bola billiard tersusun dalam bentuk
segitiga di tengah meja billiard. Bola putih datang
menghantam susunan bola bola tersebut hingga
terpencar kesegala penjuru. Nicholas dan Hans tengah
berada di sebuah cafe billiard. Seorang BARTENDER
tengah sibuk melayani BEBERAPA PELANGGAN. SEKELOMPOK
ORANG tampak santai bermain billiard. Nicho dan Hans
terlihat duduk di salah satu sudut meja bartender.
DUA GELAS minuman berada di depan mereka, SEBUNGKUS
ROKOK milik Hans pun juga ada di atas meja itu,
tidak jauh dari HANDPHONE milik Hans. Hans meminum
minumannya dengan cepat. Sedangkan Nicholas hanya
MENATAP gelas minumannya. Cafe tersebut tidak
terlalu ramai. Hanya ada beberapa pria sedang
bermain billiard dan beberapa PELAYAN berpakaian
serupa mondar mandir mengantar pesanan. SUARA STIK
menghantam bola billiard terdengar memenuhi ruangan.
HANS

128
( Mengeluarkan sebatang
rokok lalu membakar kulit
FILTERnya )
Keputusan mu sangat
disayangkan Nicho.
Nicholas menoleh, melihat Hans lalu menatap rokok di
tangan Hans. KAMERA CLOSE UP wajah Nicholas yang
menatap rokok Hans. Lalu EXTREME CLOSE UP tangan
Hans yang sedang membakar kulit filter rokoknya.
Hans menyulut rokoknya lalu menghisapnya dalam.
HANS
( Meniup asap dari mulut
nya )
Kamu salah satu aparat
terbaik Nicho, karirmu
sedang menanjak. Banyak
penghargaan yang kamu
terima. Apa kamu harus
melepaskan semua itu?
NICHOLAS
Itu keputusan ku Hans.
HANS
Aku tahu itu keputusanmu,
tapi coba kau pertimbangkan
lagi..
Hans kembali menghisap rokoknya. Kemudian membuang
sisa rokok ke dalam asbak. Hans memasukan
handphonenya kedalam saku celana, bersiap untuk
pergi. Hans berdiri sambil merogoh kantong jaketnya
lalu mengeluarkan secarik kertas.
HANS
( Meletakkan kertas di
dekat gelas minuman Nicho )
Kami berharap kau bisa
bergabung kembali.
Hans menepuk bahu Nicho lalu pergi meninggalkan
Nicholas. Nicho menatap kertas kecil tersebut tanpa

129
menyentuhnya. KAMERA CLOSE UP kertas kecil
bertuliskan SEVEN PARK APARTMENT, LANTAI 5, NO. 203
CUT TO
10.
INT. APARTMENT DAY
Nicholas berdiri di dalam sebuah kamar apartment.
Kamar tersebut terlihat sangat BERANTAKAN. Sebuah
KURSI tampak terjatuh di lantai. Beberapa barang
seperti MAJALAH, GELAS, BOTOL MINUMAN, BUNGKUS
ROKOK, ASBAK dan beberapa barang lainnya terlihat
berserakan di lantai. Wajah Nicho tampak datar.
Seorang mayat tergeletak tepat di hadapannya, DARAH
SEGAR menggenang di sekitar mayat tersebut. Sebuah
LUKA TEMBAK merobek kulit mayat tersebut tepat di
bagian DAHI. Mayat tersebut adalah Daniel. POV Nicho
yang menatap wajah Daniel.
Terdengar SUARA DERAP SEPATU. KAMERA EXTREME CLOSE
UP sepatu aparat yang sedang MENAIKI TANGGA.
SEGEROMBOLAN PASUKAN berlari di tengah koridor
menuju kamar Daniel.
Nicholas terkejut mendengar suara sekelompok orang
datang mendekat. Sebagai mantan anggota Pasukan
Khusus berpengalaman, Nicholas dapat mengenali derap
sepatu itu milik aparat keamanan. KAMERA CLOSE UP
wajah Nicho yang terkejut.
Dengan cepat Nicholas meraih sebuah TAS berukuran
sedang yang tergeletak di lantai.
Dengan terburu Nicholas MERAUP SEMUA BENDA yang ada
di sekitar mayat Daniel dan memasukannya ke dalam
tas.
Pasukan telah siap di depan pintu kamar Daniel.
Nicho semakin cepat memasukan barang barang Daniel
ke dalam tas. Tas tersebut segera dikaitkan di
bahunya.
SEORANG APARAT MENDOBRAK PINTU. Pintu terbuka, namun
tidak terlihat siapa siapa di dalamnya. SEORANG
APARAT masuk ke dalam dengan segera saat melihat
mayat Daniel tergeletak. Sebuah SENJATA mengacung di
tangan pasukan tersebut. Baru saja aparat tersebut
akan melewati daun pintu yang terbuka, Nicholas
dengan cepat melompat keluar dari balik pintu dan
langsung meraih PERGELANGAN tangan aparat tersebut
lalu memutarnya, sehingga sekarang senjata itu
berada di tangan Nicholas. Nicholas menarik aparat
tersebut ke arahnya dan dengan gerakan cepat LEHER

130
aparat tersebut telah TERJEPIT di antara lengan
Nicholas. Kini aparat tersebut menjadi tawanan
Nicholas dengan MONCONG SENJATA menempel ke LEHER si
aparat. Aparat tersebut kini menjadi tameng bagi
Nicholas. Melihat situasi tersebut, aparat keamanan
lain yang akan maju menyerang membatalkan niatnya.
NICHOLAS
( Tegas )
Mundur!!
Semua aparat pun mundur perlahan dengan SENJATA
MENGACUNG KE ATAS. Nicholas bergerak maju dengan
seorang tawanan. Nicholas terus bergerak maju keluar
dari pintu, lalu terus memundurkan langkahnya
memberi jarak aman. Setelah di rasa ada kesempatan
untuk kabur, Nicholas langsung menghantam LEHER
BAGIAN BELAKANG aparat dengan GAGANG PISTOL, lalu
MENDORONG aparat tersebut ke arah pasukaan yang
lain. Sehingga membuat pasukan yang lain jatuh
tertabrak tubuh aparat yang pingsan. Kesempatan
tersebut digunakan Nicholas untuk berlari menuju
PINTU TANGGA DARURAT. Seluruh pasukan berusaha
berdiri lalu mengejar Nicholas ke tangga darurat.
Dengan cepat Nicholas menuruni anak tangga, sesekali
Nicho bahkan melompati BEBERAPA ANAK TANGGA
sekaligus. Beberapa kali Pasukan keamanan MELEPASKAN
TEMBAKAN untuk menghentikan Nicholas. Namun
pengalamannya sebagai aparat membuat Nicho dengan
mudah menghindari tembakan tersebut.
Namun secara tidak terduga, DUA ORANG aparat sudah
menghadang di tangga berikutnya. Dengan terpaksa
Nicho memutar arah dan kembali menuju tangga atas.
Nicho dihadang oleh DUA ORANG aparat yang memang
sedari tadi mengejarnya dari kamar apartment Daniel.
Nicho pun berusaha melewati mereka dengan berkelahi.
Beberapa PUKULAN telak mendarat di WAJAH dan PERUT
aparat tersebut. Dalam waktu singkat kedua aparat
tersebut berhasil dikalahkan. Nicho melihat beberapa
BEBERAPA APARAT yang muncul dari tangga bagian
bawah, Nicho pun kembali berlari hingga tiba di
ROOFTOP. Aparat tampak tetap mengikuti. Perkelahian
kembali terjadi di sana. Beberapa kali Nicho harus
menerima TENDANGAN dan PUKULAN dari para aparat,
namun basic Nicho yang memang mantan aparat handal

131
membuat Nicho berhasil kabur ke arah pintu tangga
darurat dua menuju lantai dasar.
Setelah beberapa lama pengejaran di tangga darurat,
Nicholas menemukan pintu keluar. Dengan segera Nicho
keluar dari gedung itu. Nicholas terpaksa MEMANJAT
PAGAR serta MELOMPATI PARIT yang cukup lebar. Aparat
terlihat kewalahan mengejar Nicho. Beberapa kali
Nicho nyaris saja menabrak PEJALAN KAKI yang ada di
depannya. Saat ia akan melintas, sebuah MOBIL tiba
tiba berhenti di depannya, Nicho pun meloncat dan
meluncur di atas KAP DEPAN mobil tersebut.
Nicholas terus berlari, sampai akhirnya Nicholas
bertemu dengan seorang PRIA yang tengah menghidupkan
SEPEDA MOTORNYA. Tanpa berpikir panjang Nicho
langsung menarik pria tersebut turun dari motor
hingga terjatuh ke TROTOAR. Pria tersebut berteriak
marah.
PRIA PEMILIK MOTOR
( Marah )
apa apaan lo!!!!!
Pria pemilik motor tampak marah, namun seketika diam
saat melihat beberapa polisi yang tampak berlari
mengejar Nicho. Nicholas tidak memperdulikan pria
itu, lalu dengan cepat Nicho merebut motor tersebut
dan kemudian kabur dengan sepeda motor tersebut.
Aparat keamanan tampak akan terus mengejar. Namun
secara tiba tiba Hans muncul dan menahan mereka.
HANS
Biarkan!
Seluruh aparat pun berhenti mengejar. Hans menatap
Nicholas yang semakin menjauh. POV Hans menatap
Nicholas yang semakin menjauh dengan motornya.
CUT TO
11.
INT. RUMAH NICHOLAS NIGHT
Nicholas menutup pintu rumahnya dengan cepat. Nicho
berjalan menuju SOFA lalu menghempaskan tubuhnya di
sana. Dengan pelan Nicho mengatur nafasnya yang
memburu. KERINGAT terlihat membasahi wajah serta

132
baju yang ia kenakan. Setelah nafasnya mulai
teratur, Nicholas meraih TAS yang sedari tadi ia
sandang. Dengan perlahan Nicho mulai mengeluarkan
benda benda yang ia ambil dari apartment Daniel
satu persatu. Sebuah AGENDA KECIL ia keluarkan.
Nicholas menatap agenda tersebut dengan tenang.
Perlahan ia membuka lembar demi lembar agenda
tersebut. Setelah dirasa cukup, Nicho mengeluarkan
benda kedua. Kini sebuah HANDPHONE berada di telapak
tangan Nicho. Sama halnya dengan agenda, handphone
itu pun kembali diperhatikan Nicho dengan sangat
teliti. Beberapa NAMA terlihat di kontak panggilan.
Sekarang giliran FLASHDISK. Nicholas tersenyum
sinis.
CUT TO
12.
EXT. APARTMENT DANIEL DAY
Beberapa aparat tampak menggunakan SARUNG TANGAN dan
MASKER penutup mulut. TOPI berwarna BIRU terpasang
di kepala para Petugas identifikasi. Tampaknya
mereka tengah mengidentifikasi mayat Daniel. POLICE
LINE mulai dipasang. Beberapa benda dimasukan ke
dalam kantong transparan untuk di jadikan barang
bukti. Hans terlihat tengah duduk di atas MEJA yang
terdapat di ruangan itu. Hans seperti sedang
memikirkan sesuatu. Tiba tiba Hans bangkit lalu
berjalan menuju pintu.
HANS
Siapkan pasukan. Saya tau
dimana dia sekarang.
CUT TO
13.
INT. RUMAH NIGHT
DUA ORANG aparat menerobos masuk ke dalam rumah
Nicholas sambil menodongkan SENJATA mereka. Nicholas
tampak bersembunyi di bagian samping salah satu
pintu ruangan rumahnya. Kehati hatian terlihat
jelas dari setiap gerak geriknya. Sementara itu
dua orang aparat yang menerobos juga tampak
bersiaga.

133
APARAT 1
Anda telah terkepung. Cepat
keluar dan menyerah lah!!
Tidak ada jawaban dari Nicholas. Aparat pun
mengulangi peringatan dengan nada lebih tegas.
APARAT 1
Sekali lagi saya katakan,
anda telah terkepung.
Keluar dari persembunyian
anda atau kami paksa untuk
keluar!
Lagi lagi Nicho hanya diam di persembunyiannya.
Dua aparat tersebut tampak kehilangan kesabaran.
Salah satu dari mereka mulai masuk ke dalam ruangan.
Namun secara tiba tiba Hans datang lalu MENAHAN
BAHU aparat yang akan masuk.
HANS
( Menahan aparat )
Biar saya yang masuk.
Nicho mendengar suara Hans.
Dua aparat yang akan masuk pun berjalan keluar. Hans
menutup pintu lalu berjalan perlahan memasuki
ruangan.
HANS
( Mengeluarkan senjata )
Keluarlah Nicho, kita
bicarakan hal ini. Aku tau
kau sangat tertekan.
Nicho hanya diam di tempat persembunyiannya sambil
terus berusaha tetap tenang. Nicho melihat sebuah HT
GENGGAM di atas BUFET yang tidak jauh dari tempat ia
bersembunyi. Hans berhenti di tengah - tengah
ruangan.

134
HANS
( Wajah santai )
Nicho, aku ada dipihakmu.
Keluarlah..
Nicho melihat sebuah HT genggam tergeletak di ujung
bufet. Nicho mencoba meraih HT tersebut. Setelah HT
berada di tangannya, Nicho pun perlahan kembali
bersembunyi. Nicho menggenggam HT lalu menekan
tombol aktifnya. KAMERA EXTREME CLOSE UP tangan
Nicho yang menekan tombol HT.
Di sisi yang lain, Hans tampak berdiri, bersembunyi
di balik dinding pembatas sambil memposisikan
senjatanya untuk siap tembak. Hans sangat berhati
hati menghadapi Nicho, karena Hans tau betul
bagaimana kemampuan Nicho dalam menyerang. Sesaat
kemudian Nicho pun mulai berbicara dengan nada
menginterogasi.
NICHOLAS
Kau percaya padaku?
HANS
Tentu saja aku percaya,
kita berteman sejak lama.
NICHOLAS
Kalau begitu aku minta
bagian.
HANS
( Bingung )
Apa?
NICHOLAS
( Datar )
Aku sudah tau semuanya
Hans.
Hans mulai terlihat resah.
HANS

135
Maksudmu apa? aku tidak
mengerti apa yang kau
katakan.
NICHOLAS
Aku tidak bodoh Hans,
bertahun tahun aku
dilatih untuk jadi pasukan
terbaik. Tidak sulit
untukku mengetahui apa yang
kau lakukan. Bahkan aku
memiliki bukti
keterlibatanmu.
FLASHBACK :
Nicholas mengeluarkan sebuah AGENDA KECIL. Nicholas
menatap agenda tersebut dengan tenang. Perlahan ia
membuka lembar demi lembar agenda tersebut. Setelah
dirasa cukup, Nicho mengeluarkan benda kedua. Kini
sebuah HANDPHONE berada di telapak tangan Nicho.
Sama halnya dengan agenda, handphone itu pun kembali
diperhatikan Nicho dengan sangat teliti. Beberapa
NAMA terlihat di kontak panggilan. Sekarang giliran
FLASHDISK. Nicholas tersenyum sinis.
Nicho memasang flashdisk tersebut di KOMPUTER. Data
data tranksaksi terlihat di layar monitor
komputer. Nicho bersender di bangku, ia kembali
mengambil tas lalu merogoh isi tas tersebut.
Tangannya menemukan sebuah PUNTUNG ROKOK yang masih
setengah dengan kulit filter yang sedikit kecoklatan
karena terbakar. Hans membakar kulit filter rokok
saat di cafe.
Mendengar Nicho sudah mengetahui kejahatannya dan
ternyata ada di pihaknya, Hans mulai terlihat santai
menghadapi Nicho. Tidak ada lagi raut tegang di
wajahnya.
HANS
( Tertawa lalu serius )
Hahaha.. tidak salah kalau
kau jadi pasukan terbaik.
Kau benar, aku memang
terlibat dalam kasus

136
terbunuhnya buron heroin
itu.
FLASBACK :
Daniel terlihat berdiri berhadapan dengan seseorang.
Lalu sebuah PELURU menembus kepala Daniel. Daniel
terjatuh dengan DARAH yang mengalir dari kepalanya.
Wajah si penembak pun terlihat. Penembak itu adalah
Hans.
SOUND : Suara tembakan
Nicho tampak sangat terkejut, namun ia berusaha
menutupi hal itu. ia tidak ingin Hans tau bahwa ia
hanya berpura pura mengetahui kejahatan Hans. Hans
bersender di dinding pembatas tersebut. Hans mulai
terlihat lebih santai.

HANS
Ya.. aku sudah mengenal
pimpinan penyelundup heroin
itu jauh sebelum aparat
keamanan mengendus
keberadaanya. Sebagai
balasannya, aku mendapat
keuntungan yang sangat
besar dari pria itu.
CUT TO
FLASHBACK :
Daniel membuka pintu apartment, Hans terlihat
berdiri di balik pintu tersebut. Hans masuk ke dalam
apartment, sedangkan Daniel melihat keadaan di kiri
dan kanan koridor lalu menutup pintu. Hans berjalan
ke arah MEJA lalu duduk di atasnya dengan santai.
Hans mengeluarkan SEBATANG ROKOK, membakar kulit
filternya lalu menyulut rokok tersebut. Hans dengan
leluasa menghirup rokoknya dengan tangan kiri. ASAP
PUTIH mengepul di sekitar wajahnya. Daniel berjalan
ke arah JENDELA, berdiri menatap area luar
apartment. Daniel terlihat marah karna Hans tidak
menghalangi aparat menyergap gudang penyimpanannya

137
saat ia sedang melakukan pemindahan heroin yang ia
selundupkan. Daniel berbalik badan, namun saat ia
berbalik badan, Hans telah berdiri tepat di dekatnya
lalu MENEMBAK kepalanya. Daniel terjatuh dengan
DARAH mengalir deras. Hans menghisap rokoknya dalam,
lalu membuang rokok tersebut ke lantai.
CUT BACK TO
NICHOLAS
( Bingung )
Keuntungan?

HANS
Benar.. aku membunuhnya
tepat sebelum kau datang
mencari buronan itu.
Obsesimu untuk menangkap
buronan itu membuatku
terpaksa menjadikan kau
kambing hitam sebagai jalan
untuk menyingkirkanmu.
CUT TO
FLASHBACK :
Hans keluar dari apartment dengan terburu buru.
Tangan kanannya memegang HANDPHONE. Hans menelpon
pasukan keamanan untuk datang ke apartment. Hans
berbelok masuk ke pintu tangga darurat. Sesaat
kemudian dari arah yang berbeda Nicholas tampak
datang dan menuju kamar apartment Daniel. Nicho
berada di dalam ruang apartment dengan mayat Daniel
yang tergeletak di lantai.
CUT BACK TO
NICHOLAS
( Bingung )
Jadi..
HANS
( Memainkan senjata yang
ada di tangannya +
tersenyum angkuh )

138
Kau pikir siapa yang
membuat penyelundupan
berskala besar itu sampai
tidak terdeteksi pihak bea
cukai. Atas apa yang aku
lakukan, aku mendapatkan
uang dalam jumlah besar.
Jadi apa yang kamu mau?
NICHOLAS
Seperti yang aku bilang
tadi, aku minta bagian.
HANS
Itu hal mudah Nicho. aku
mendapatkan uang lebih
banyak dari apa yang bisa
kau bayangkan. Sebutkan
berapa banyak yang kau mau.

NICHOLAS
Setengah dari apa yang kau
dapatkan.
HANS
( Tertawa keras )
Hahaha.. kau akan
mendapatkannya Nicho.
tapi.. aku mau kau
menyerahkan semua bukti
yang kau punya padaku.
Nicho mengeluarkan sebuah FLASHDISK lalu
melemparkannya ke arah Hans. Flashdisk tersebut
menggelinding di lantai sampai akhirnya berhenti
tidak jauh dari tempat Hans berdiri. Hans meraih
flashdisk tersebut lalu memandangnya. Hans tersenyum
penuh kemenangan, lalu ia menjatuhkan flashdiks
tersebut dan menginjaknya. Hans berjalan mendekat ke
tempat persembunyian Nicho. Hans membidik senjatanya
sambil terus berjalan perlahan. Hans tampak akan
berniat menembak mati Nicholas.

139
HANS
Kau akan segera mendapat
bagianmu.
Hans berjalan dua langkah lalu berhenti. Ia
menolehkan kepalanya ke arah bufet di mana terpajang
foto Reno.
HANS
Kau ingat penyergapan yang
aku pimpin di gudang waktu
itu. semua yang terjadi di
sana sudah ada dalam
rencanaku. Termasuk
kematian adikmu.
CUT TO
FLASHBACK :
Reno fokus memperhatikan Daniel yang berada di dalam
gudang. Daniel tampak melihat layar HANDPHONE di
tangannya lalu meletakkan handphone tersebut ke
telinganya. Daniel tengah berbicara dengan si
penelpon yang ternyata Hans. Hans terlihat di
kantor, sesaat sebelum ia menyuruh pasukan tambahan
bersiap.
HANS
Seorang pasukan khusus
sedang mengawasimu. saya
akan segera datang dengan
pasukan yang lebih banyak.
DANIEL
Tenang aja. Anak buah gue
yang beresin.
Hans meletakkan handphone. Hans tampak meraih
TELEPON dengan cepat, ia menghubungi pasukan
tambahan untuk segera bersiap menuju TKP
penyergapan.
HANS
( Serius dan tegas )

140
Siapkan pasukan. kita
berangkat dalam waktu 3
menit.
AMBIENCE : Suasana sibuk kantor
Pasukan masuk ke dalam gudang, Reno membidik Daniel.
Seseorang tampak memperhatikan Reno. Orang tersebut
membidik Reno dan menembaknya.
CUT BACK TO
Hans tersenyum sinis lalu melanjutkan langkahnya
untuk mendekati Nicho. Belum sampai Hans mencapai
tempat Nicho bersembunyi, PASUKAN sudah menerobos
masuk. Hal itu membuat niat Hans membunuh Nicho
gagal. Dengan terus menjaga wibawanya di depan para
pasukan, Hans meminta para pasukan menangkap
Nicholas, seolah olah ia juga menginginkan Nicho
ditahan, meski kenyataannya ia sangat meninginkan
Nicho tewas, agar semua rahasianya terjaga.
HANS
Tangkap dia!
Seluruh pasukan hanya diam. Lalu secara serentak
seluruh aparat MENODONGKAN SENJATA, namun senjata
itu bukan membidik Nicho, melainkan Hans.
HANS
( Marah )
Apa lagi yang kalian
tunggu!! segera tangkap
orang itu!!!
Hans yang tengah berdiri tidak jauh dari pintu
mendengar suara teriakannya sendiri dari dalam
ruangan. Hans menoleh ke arah suara yang ternyata
dari arah Nicho. Hans tampak bingung dan tidak
mengerti.
Nicholas pun keluar dari persembunyiannya lalu
mengangkat tangannya dan memperlihatkan sebuah HT
yang ada dalam genggamannya yang ternyata terhubung
dengan HT semua pasukan yang ada di sana. KAMERA

141
CLOSE UP HT di genggaman Nicholas. Lalu CLOSE UP HT
yang di genggam oleh salah satu pasukan.
NICHOLAS
( Berjalan mendekat )
Its over.
Kembali Hans mendengar suara Nicholas dari arah
pasukan. Kali ini suara itu keluar dari HT salah
satu pasukan.
Hans tidak dapat berkata apa apa, seakan tidak
percaya bahwa kejahatannya terbongkar. Ketakutan dan
kepanikan terpancar jelas di wajahnya. Tiba tiba
Hans meraih sebuah PISTOL yang ada di pinggangnya
lalu menodongkannya tepat di keningnya.
HANS
( Berteriak )
MUNDUR SEMUA!!! TURUNKAN
SENJATA KALIAN!!
Semua aparat mundur beberapa langkah. Hans tampak
mulai panik. Hans lalu menatap ke arah Nicho penuh
kemarahan.
HANS
Aku tidak akan pernah di
penjara Nicho!!!
Hans pun mulai menarik pelatuknya. Sebuah PELURU
terlebih dulu menembus BAHU KANANNYA. Si penembak
itu ternyata adalah Nicho. Dengan cepat Nicho
merebut senjata milik salah satu aparat yang tengah
berdiri tidak jauh darinya. Aparat tersebut hanya
tampak terkejut melihat aksi Nicho. Nicho menembak
bahu Hans untuk menghentikan aksi bunuh diri Hans.
Hans tersungkur ke lantai. Nicho mendekat dan
menodongkan senjatanya seolah akan menembak bagian
Kepala Hans. Hans tampak menahan sakit akibat
tembakan di bahunya. Wajah Nicho terlihat menahan
amarah. Matanya memerah menunjukan bahwa ia sangat
ingin membunuh Hans. Namun perlahan tangan Nicho
turun dan tidak lagi membidik Hans. Nicho semakin
mendekat ketubuh Hans, lalu ia berjongkok.

142
NICHOLAS
( Berbisik ke telinga Hans
)
Kau lebih pantas diadili
dari pada mati Hans. Karena
kesalahanmu tidak akan bisa
terbayar oleh nyawamu.
Keadilan akan tetap hidup
Hans.
Nicholas kembali berdiri dan mundur beberapa langkah
untuk memberi ruang bagi aparat meringkus Hans.
SEORANG APARAT menarik kedua tangan Hans ke
belakang, lalu MEMBORGOLNYA.
FADE OUT

THE END

143

TREATMENT / SCENE PLOT


Production Company : BSI
Project title
: DESERSI
Duration
: 30 Menit

Producer
Director

: Diah Ayu
: Farid Irawan

1. EXT. AREA GUDANG - NIGHT


Di sebuah gudang sepi. BEBERAPA PRIA sibuk mondar mandir
mengangkat dan memasukan KOTAK ke dalamn MOBIL BOX. penjaga
tengah berjaga di sebuah pos. seorang pria sedang berdiri di balik tembok
pagar. Pria tersebut serius mengawasi kegiatan di dalam gudang tersebut. Pria
itu menekan sebuah HT yang menempel di telinganya.Reno menatap gudang.
POV tatapan Reno pada aktifitas yang terjadi di dalam gudang.Reno
melepaskan tangan dari HT. Reno memeriksa jumlah PELURU. Reno
memperhatikan aktifitas di dalam gudang. Reno fokus pada seorang pria.
Hans meraih TELPON. Hans menghubungi pasukan tambahan .Hans menutup
telpon dengan keras. DUA ORANG rekan Reno siaga penuh. Reno menatap
kedua rekannya. Reno memberi syarat dengan mengangguk.
MONTAGE. Sementara itu, di sebuah jalan raya yang tidak terlalu ramai
terlihat TIGA BUAH MOBIL HITAM jenis opel blazer dan avanza. tengah
mengangkut para pasukan tambahan termasuk Hans melaju kencang bergerak
secara beriringan menuju lokasi penyergapan yang telah di informasikan oleh
Reno. Beberapa kendaraan pribadi lainya tampak menyingkir saat tiga mobil
ini melintasi jalanan yang mereka gunakan. KAMERA FOLLOW iringan
mobil.

Hans berada di dalam salah mobil, lalu meraih HT. Reno menatap kedua
rekannya, kemudian MENGANGGUKAN kepala. Kedua rekan MEMBALAS
ANGGUKAN. Reno melempar BATU ke arah samping pos. Penjaga menoleh
lalu mendekati arah suara. Reno berjalan mengendap mendekati penjaga.
Reno

mencengkram

bagian

KEPALA

dan

LEHER

penjaga

lalu

144
mematahkannya dengan sekali gerakan. Penjaga yang tidak sadarkan diri.
Penjaga di seret ke samping pos.
MONTAGE . Mobil pasukan tambahan terlihat melaju semakin kencang di
jalanan. KAMERA WIDE SHOT iringan mobil pasukan, kemudia HIGH
ANGLE, lalu MEDIUM SHOT dengan EYE LEVEL.
Reno dan kedua rekannya bergerak mendekat ke arah gudang. Reno dan
kedua rekannya MEMPERSIAPKAN SENJATA. Mobil pasukan tambahan
memasuki area GUDANG. Aktifitas di dalam gudang BERHENTI. Pimpinan
organisasi penyelundupan kesal, lalu memerintahkan seluruh anak buah untuk
bersembunyi. Anak buah Daniel bergerak dengan cepat untuk bersembunyi.
Masing masing mereka mengeluarkan SENJATA API. Beberapa
bersembunyi di balik TUMPUKAN BARANG. Daniel menuju sebuah
TANGGA yang terhalangi oleh beberapa MESIN. Daniel menggenggam
PISTOL dengan kencang. Daniel waspada. Mobil pasukan khusus
menghentikan lajunya. pasukan khusus tengah mempersiapkan senjata. Pintu
mobil terbuka. pasukan turun lalu menuju posisi masing masing. Reno
segera mengambil alih kepemimpinan. Reno memerintahkan pasukan bersiap.
Hans turun dari mobil. Hans menghubungi Reno menggunakan HT.Reno dan
seluruh tim masuk ke dalam gudang. Adu tembak terjadi. anak buah Daniel
tertembak di bagian bahu. Reno berlari dari satu tempat ke tempat
bersembunyi lainnya. Reno melihat Daniel di atas tangga. Reno mengarahkan
senjatanya ke arah Daniel. Reno memfokuskan pada Daniel.Reno mulai
menarik pelatuknya. Sebuah EDITAN PAPAN TARGET terlihat di wajah
Daniel. Reno jatuh ke lantai secara perlahan. Darah segar segera mengalir
sekitar BAGIAN KEPALA Reno. Suasana gudang RAMAI. Seluruh pasukan
MENYERBU. Baku tembak pun terjadi dengan sengit. SATU ORANG anak
buah Daniel TERTEMBAK.Daniel memerintahkan SALAH SATU anak buah
untuk melindunginya agar dapat keluar dari gudang.Daniel BERLARI menuju
pintu.Suasana gudang sepi.

145
2. EXT. PEMAKAMAN DAY
Pemakaman umum yang tenang dan bersih. seorang pria bernama
NICHOLAS tengah berdiri menghadap sebuah makam. Nicholas berwajah
datar menatap nisan salib. FRANSISKUS RENO, nama itulah yang tertulis.
Hans juga berada di sana. Hans menatap makam penuh penyesalan. Hans
mendekati Nicholas, lalu MEREMAS PUNDAK Nicho. Hans berbalik dan
pergi.
3. INT. RUMAH KAMAR RENO - WASTAFEL NIGHT
Nicholas tengah berada di depan WASTAFEL. Nicholas menadangkan kedua
telapak tangannya di bawah guyuran air yang keluar dari kran wastafel
tersebut. Nicholas mendekatkan wajahnya dengan wadah wastafel lalu
membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya yang penuh air.
Nicholas kembali mengguyur wajahnya sekali lagi. Kedua telapak tangan
Nicho menggenggam pinggiran wastafel dengan kencang. Nicholas menatap
wajahnya di cermin. Nicholas meraih HANDUK KECIL yang tergantung di
samping wastafel lalu menghapus air dari wajahnya. Nicholas melempar
handuk tersebut lalu berjalan menuju sebuah kamar yang tidak terlalu luas.
Nicholas duduk di pinggir TEMPAT TIDUR.. Nicholas menggepalkan kedua
telapak tangan nya, lalu kepalanya menunduk.
4. INT. KANTOR PUSAT PASUKAN KHUSUS DAY
Beberapa orang berlari sambil membawa

SETUMPUK MAP. Beberapa

orang lainya tampak sibuk membongkar bongkar sebuah LEMARI FILE,


mencoba menemukan file yang dibutuhkan. SESEORANG berpakaian
SERBA HITAM dengan ROMPI ANTI PELURU tengah menggiring seorang
PRIA dengan tangan TERBORGOL di belakang.Hans tengah berdiri sambil
berbicara dengan salah satu aparat. Nicholas datang menghampiri. Hans pun
meminta aparat tersebut untuk pergi.nicholas berbicara dengan Hans.
Nicholas berlalu meninggalkan Hans yang tetap berdiri di tempat.

146
5. INT. RUMAH NICHOLAS NIGHT
Nicholas tampak sibuk menatap layar laptopnya. Nicho mengetikan sesuatu di
keyboard. Nicho mencoba mencari data data mengenai tersangka
penyelundupan. Raut wajah Nicho seketika terlihat kesal. Nicho tidak
menemukan apa yang ia cari. Nicho merebahkan tubuhnya di sebuah sofa.
Sesekali ia mengurut pelipisnya untuk mengurangi penat dan beban
fikirannya.
6. INT. RUMAH DAY
ESTABLIS PAGI.
Nicholas baru saja selesai mandi. Nicholas meraih sebuah Koran yang terletak
di atas sebuah meja kecil di samping tempat tidur. Nicholas melempar Koran
tersebut ke tempat tidur.
7. INT. KANTOR DAY
Nicholas tengah berdiri di samping meja kerjanya. Tangan nya menggenggam
sebuah map. Hans keluar dari ruang pimpinan. Nicholas yang melihat Hans,
langsung meletakan map di tangannya ke atas meja lalu segera menghampiri
Hans. Hans menunda langkahnya saat melihat Nicholas mendekat. Nicholas
bertanya perihal kasus buronan penyelundupan yang telah menewaskan sang
adik. Hans tampak menghela nafas panjang, lalu menggelengkan kepalanya
kemudian berlalu pergi. Nicholas tampak kesal. seorang aparat menghampiri
Nicho untuk memberikan laporan. Nicholas pun meninggalkan aparat tersebut
lalu menyusul Hans. Hans tengah duduk di kursinya sambil memeriksa
beberapa BERKAS KEJAHATAN. Nicho berbicara dengan nada tinggi.
Nicholas berbalik lalu berjalan dengan terburu menuju ruangan pimpinan
Pasukan Khusus. Beberapa APARAT di ruangan kantor tersebut MENATAP
pertengkaran.

147
8. INT. KANTOR RUANGAN PIMPINAN DAY
Nicholas berada di dalam ruangan pimpinan Pasukan Khusus. Seorang PRIA
berusia

40

tahun

ada

di

ruangan

itu.

Pria

tersebut

tampak

MENGGELENGKAN kepalanya dengan tegas kepada Nicholas. Nicho


meminta ijin menyelidiki kasus adiknya. Pimpinan menolak. Nicho
mengundurkan diri dan meletakan senjata. Nicholas berjalan menuju pintu.
Hans yang berdiri di AMBANG PINTU. Nicholas berlalu.
9. INT. TEMPAT BILLYAR NIGHT
Nicholas dan Hans tengah berada di sebuah cafe billyar. Seorang
BARTENDER

tengah

sibuk

melayani

BEBERAPA

PELANGGAN.

SEKELOMPOK ORANG tampak santai bermain billyar. Nicho dan Hans


terlihat duduk di salah satu sudut meja bartender. Hans meminum minuman
nya dengan cepat. Nicholas hanya MENATAP gelas minuman nya. Beberapa
PELAYAN berpakaian serupa mondar mandir mangantar pesanan. Hans
berbicara mengenai pengunduran diri Nicho. Nicholas menoleh, melihat Hans
lalu menatap rokok di tangan Hans. Nicho tidak mengubah keputusan. Hans
kembali menghisap rokoknya. Kemudian membuang sisa rokok ke dalam
asbak. Hans memasukan handphon nya kedalam saku celana, bersiap untuk
pergi. Hans berdiri sambil merogoh kantong jaketnya lalu mengeluarkan
secarik kertas berisi sebuah alamat.Hans menepuk bahu Nicho lalu pergi
meninggalkan Nicholas. Nicho menatap kertas kecil tersebut tanpa
menyentuhnya.
10. INT. APARTMENT DAY
Nicholas berdiri di dalam sebuah kamar apartment. Wajah Nicho tampak
datar. Seorang mayat tergeletak tepat di hadapannya. Nicho yang menatap
wajah Daniel.
Terdengar SUARA DERAP SEPATU. Aparat yang sedang MENAIKI
TANGGA. PASUKAN berlari di tengah koridor menuju kamar Daniel.

148
Nicholas terkejut. Nicholas meraih sebuah TAS berukuran sedang yang
tergeletak di lantai.Nicholas MERAUP SEMUA BENDA yang ada di sekitar
mayat Daniel dan memasukannya ke dalam tas.Pasukan telah siap di depan
pintu kamar Daniel. Nicho semakin cepat memasukan barang ke dalam tas.
Tas tersebut segera dikaitkan di bahunya.
SEORANG APARAT MENDOBRAK PINTU. Pintu terbuka. Nicholas
dengan cepat melompat keluar dari balik pintu dan langsung meraih
PERGELANGAN tangan aparat tersebut lalu memutarnya, sehingga sekarang
senjata itu berada di tangan Nicholas. Nicholas menarik aparat tersebut. aparat
tersebut menjadi tawanan Nicholas dengan MONCONG SENJATA
menempel ke LEHER si aparat. Aparat tersebut kini menjadii tameng bagi
Nicholas. Aparat keamanan lain diam.Semua aparat pun mundur perlahan
dengan SENJATA MENGACUNG KE ATAS. Nicholas bergerak maju
dengan seorang tawanan. Nicholas terus bergerak maju keluar dari pintu, lalu
terus memundurkan langkahnya memberi jarak aman. Nicholas langsung
menghantam LEHER BAGIAN BELAKANG aparat dengan GAGANG
PISTOL. Nicho MENDORONG aparat. pasukan yang lain jatuh. Nicholas
untuk berlari menuju PINTU TANGGA DARURAT. Nicholas menuruni anak
tangga, sesekali Nicho bahkan melompati BEBERAPA ANAK TANGGA
sekaligus.

Pasukan

keamanan

MELEPASKAN

TEMBAKAN

untuk

menghentikan Nicholas.DUA ORANG aparat sudah menghadang di tangga


berikutnya. Nicho memutar arah dan kembali menuju tangga atas. Nicho
dihadang oleh TIGA ORANG aparat. Nicho pun berusaha melewati mereka
dengan berkelahi. Nicho melawan. Dalam waktu singkat ketiga aparat
tersebut berhasil dikalahkan. Nicho melihat beberapa BEBERAPA APARAT
yang muncul dari tangga bagian bawah. Nicho berlari hingga tiba di
ROOFTOP. Aparat tetap mengikuti. Nicho menerima TENDANGAN dan
PUKULAN dari para aparat. Nicho berhasil kabur ke arah pintu tangga
darurat dua menuju lantai dasar.Nicholas menemukan pintu keluar. Nicho
keluar dari gedung. Nicholas MEMANJAT PAGAR serta MELOMPATI

149
PARIT yang cukup lebar. Aparat terlihat kewalahan mengejar Nicho. Nicho
nyaris saja menabrak PEJALAN KAKI yang ada di depannya. Nicho
meloncat dan meluncur di atas KAP DEPAN mobil.Nicholas terus berlari.
Nicholas bertemu dengan seorang PRIA yang tengah menghidupkan SEPEDA
MOTORNYA. Nicho langsung menarik pria tersebut turun dari motor hingga
terjatuh ke TROTOAR. Pria tersebut berteriak marah.
Nicho merebut motor tersebut dan kemudian kabur dengan sepeda motor
tersebut.
Aparat keamanan tampak akan terus mengejar. Hans muncul dan menahan
mereka. Seluruh aparat pun berhenti mengejar.
11. INT. RUMAH NICHOLAS NIGHT
Nicholas menutup pintu rumahnya dengan cepat. Nicho berjalan menuju
SOFA lalu menghempaskan tubuhnya di sana. Nicho mengatur nafasnya.
Nicholas meraih TAS yang sedari tadi ia sandang. Nicho mulai mengeluarkan
benda benda yang ia ambil dari apartment Daniel satu persatu.Nicholas
menatap agenda tersebut dengan tenang. Nicho membuka lembar demi lembar
agenda tersebut. Nicho meraih HANDPHONE. Nicho meraih FLASHDISK.
Nicholas tersenyum sinis.

12. EXT. APARTMENT DANIEL DAY


Petugas forensik tampak menggunakan SARUNG TANGAN dan MASKER
penutup mulut. Mereka mengidentifikasi mayat Daniel. POLICE LINE mulai
dipasang. Hans terlihat tengah duduk di atas MEJA yang terdapat di ruangan
itu. Hans seperti sedang memikirkan sesuatu. Hans bangkit lalu berjalan
menuju pintu. Hans tau diimana Nicholas.
13. INT. RUMAH NIGHT
DUA ORANG aparat menerobos masuk ke dalam rumah Nicholas sambil
menodongkan SENJATA mereka. Nicholas tampak bersembunyi di balik

150
salah satu BUFET. Aparat menyuruh Nicho keluar. Nicholas tidak menjawab.
Aparat pun mengulangi peringatan dengan nada lebih tegas. Nicho hanya
diam di persembunyiannya. Dua aparat tersebut tampak kehilangn kesabaran.
Salah satu dari mereka mulai masuk ke dalam ruangan. Hans datang lalu
MENAHAN BAHU aparat yang akan masuk.hans menyuruh aparat
keluar.Nicho mendengar suara Hans.aparat berjalan keluar. Hans menutup
pintu lalu berjalan perlahan memasuki ruangan.hans mengeluarkan senjata.
Hansr

menyuruh

Nicho

keluar.Nicho

hanya

diam

di

tempat

persembunyiannya. Nicho melihat sebuah HT GENGGAM di atas BUFET.


Hans berhenti di tengah - tengah ruangan. Hans meyakinkan Nicho bahwa ia
memihak Nicho. Nicho meraih HT. Nicho mengatakan bahwa ia tau kejahatan
Hans. Hans terkejut. Nicho minta bagian untuk tutup mulut. Hans tertawa lalu
memuji kepintaran Nicho. Hans membeberkan kejahatannya kepada Nicho.
Nicho menekan tombol HT. Hans bertanya apa mau Nicho. Nicho meminta
uang.

Hang

menyanggupi.

Nicho

melempar

barang

bukti.

Hans

menghancurkan barang bukti. Hans mendekat. Pasukan yang lain masuk.


Pasukan mengarahkan senjata pada Hans. Hans bingung. Nicho keluar dari
tempat persembunyian membawa HT. Hans panic. Hans menodongkan
senjata ke dahinya. Nicho meraik senjata aparat lalu menembak bahu Hans.
Hans jatuh. Nicho membidik Hans. Nicho melempar senjata. Hans diamankan
aparat.

151
D. Proses Kerja Penata Kamera
Juru kamera secara teknis melakukan perekaman visual dengan kamera
mekanik ataupun elektronik dalam produksi film di bawah arahan pengarah fotografi
dan bertanggungjawab kepadanya. Sutradara juga bekerja sama dekat dengan
operator kamera untuk memastikan bahwa pandangan sutradara ditangkap oleh film
sebagaimana yang diinginkan. Operator kamera adalah kru dari yang terpilih dalam
produksi film yang secara langsung bertanggungjawab dari apa yang terlihat dilayar
(Ariatama dkk, 2008 : 76)
Penempatan kamera juga sangat menentukan hasil gambar yang baik. Begitu
sutradara tahu dimana lokasi pengambilan gambar, keputusan berikutnya adalah
penempatan kamera. Penempatan kamera menentukan elemen elemen shot penting
dan framing angle. Framing menunjuk pada seberapa banyak scene di depan kamera
masuk kedalam sebuah shot, merupakan satu bagian penting dari rangkaian gambar
yang begitu panjang, yang hanya direkam dengan satu take saja (Pintoko dan
Umbara, 2010:97).
Menurut Pintoko dan Umbara (2010 : 104-105) secara mekanis, angle atau
sudut pengambilan gambar itu berhubungan erat dengan lensa kamera, baik jenis
lensa yang digunakan maupun penempatan kamera itu sendiri.
Shooting adalah proses pengambilan subjek ke dalam media, baik subjek
bergerak atau tidak bergerak untuk kepentingan audio visual (Pintoko dan Umbara,
2010:98).

152
1. Pra Produksi
Pada tahap ini, seorang kameraman diberikan pengarahan dari seorang
sutradara atau program director tentang rencana visual yang akan dibuat. Secara
sistematis rencana ini dibuat ke dalam break down script. Dengan break down script
memudahkan semua elemen kru dalam bekerja nantinya. (Pintoko dan Umbara,
2008:86)
Dalam pra produksi, peran triangle system sangat penting. Karena di pra
produksi produser, sutradara, dan penulis naskah merencanakan sebuah ide awal yang
matang untuk diproduksi agar memperkecil kemungkinan adanya hambatan ketika
produksi. Setelah Produser, sutradara dan penulis naskah telah sepakat dengan ide
awal yang telah direncanakan maka penulis sebagai penata kamera bekerja sama
dengan sutradara untuk menentukan konsep pengambilan gambar dan penggunaan
jenis kamera. Adapun yang telah disepakati bersama dalam pra produksi adalah
membuat sebuah program drama televisi berjudul Desersi.
Langkah-langkah yang dihasilkan pada saat pra produksi dari triangle system
dapat diterapkan oleh penulis dalam mempersiapkan suatu produksi antara lain
menentukan angle kamera, komposi gambar serta kamera yang akan digunakan dan
apa yang dibutuhkan oleh seorang penata kamera.
a. Hunting lokasi
MEMILIH lokasi untuk keperluan shooting harus dilakukan jauh hari
sebelumnya. Bahkan ketika lokasi shooting tersebut merupakan studio yang biasa
digunakan. Pencarian lokasi harus sesuai dengan kebutuhan konsep program yang
akan dibuat. (Pintoko dan Umbara, 2010:189)

153
Bersama dengan produser, sutradara, penulis naskah dan penata artistik.
penulis menentukan lokasi-lokasi yang dibutuhkan dalam naskah. Di dalam hunting
lokasi penulis dan sutradara berdiskusi untuk menentukan angle serta komposisi
gambar yang dibutuhkan. Penulis memastikan lokasi berdasarkan segala aspek teknis
dan non teknis seperti budgeting program.
b. Pembuatan Director treatment
Sutradara dan sinematografer seharusnya secara konstan berdiskusi tentang
angle kamera, warna, pencahayaan, bloking, dan pergerakan kamera.
Sutradara tahu apa yang dia inginkan. Bagaimana dia mengerjakan ini
biasanya tergantung kepada sinematografer. Sinematografer menawarkan ide
dan menerima penolakan. Sutradara adalah kapten dari kapal. Seberapa
banyak atau sebatas mana kolaborasi yang dia inginkan adalah keputusannya.
(Pintoko dan Umbara, 2010:221)
Setelah bedah skenario dan hunting lokasi penulis dan sutradara membuat
director treatment yang berguna untuk acuan penulis dan sutradara sewaktu produksi.
Director treatment yang penulis buat terdiri dari shot-shot yang akan diambil sesuai
script dan treatment.
Dalam format acara yang akan di produksi sutradara menginginkan memakai
single camera. Dan setelah disepakati oleh produser dan sutradara, penulis sebagai
penata kamera memilih menggunakan kamera SONY PMW-EX3 pada produksi ini.
Alasan memilih kamera tersebut karena sesuai dengan budget yang tim miliki dan
juga mempertimbangkan kualitas gambar.
c. Pra produksi Final (Final Pre production)
Ini merupakan pertemuan terakhir, di mana masalah teknis dibahas. Segala
kebutuhan produksi harus selesai dilakukan alias segala sesuatunya ready to use.
(Pintoko dan Umbara, 2010:184)

154
Penulis melakukan diskusi/evaluasi bersama-sama dengan tim dan pemain utama
untuk persiapan syuting yang terkait dengan teknis pengambilan gambar,
penyutradaraan dan artistik.
2. Produksi
SHOOTING adalah melukis dengan cahaya. Unsur cahaya berarti sangat
penting dalam pembuatan film maupun acara televis. Cahaya tidak selalu
berurusan dengan lampu. Ada sumber cahaya lain selain dari sumber lampu.
Secara sederhana ada dua jenis sumber pencahayaan, yakni pencahayaan
alami (natural) dan pencahayaan buatan (artificial). (Pintoko dan Umbara,
2010:161)

Teknik dan angle pengambilan gambar dalah kunci pokok produksi, karena
pada sebuah karya televisi yang disuguhkan adalah kualitas gambar dan suaranya.
Jadi fungsi penulis sebagai penata kamera lebih disebut sebagai kepanjangan tangan
sutradara yang dipercaya untuk mengeksekusi adegan. Menguasai dasar-dasar
pengambilan gambar adalah syarat mutlak menjadi kameraman , karena kamera
operator karena tahu benar apa yang seharusnya dilakukan seorang kamera
operator/kameraman dengan instruksi sutradara.
Visualisasi mempunyai harga mutlak untuk dapat ditonton dengan cahaya
sebagai faktor utama. Tak dapat dibayangkan ketika sebuah program televisi
diproduksi hanya dengan mengandalkan cahaya yang minim, sehingga penonton
merabaraba adegan yang dimunculkan. Pemakaian kamera di program drama
televisi Desersi ini memakai single camera. pengambilan gambar shoot di ambil
dengan cara hand held, dolly track dan menggunakan tripod serta jib crane. Hand
held merupakan teknik mengunakan kamera tanpa menggunakan mounting seperti

155
tripod atau monopod. Teknik ini menggunakan kedua tangan sebagai bantuan dalam
mengoperasikan kamera (Pintoko dan Umbara, 2010 : 74).
Dalam produksi drama televisi ini pengambilan gambar 60 persen
mengunakan tehnik hand held. Dan penggunaan tripod, dolly track dan jib crane
digunakan hanya untuk shot master dan shot established. Dibandingkan dengan
menggunakan tripod, penggunaan teknik hand held mungkin sedikit beresiko dengan
gambar yang dihasilkan karena gambar akan lebih banyak goyang dan tidak stabil.
Namun dalam pengambilan gambar pada film ini penulis memang banyak
menggunakan teknik hand held untuk melakukan shaking camera dikarenakan dapat
memberikan nafas pada film itu sendiri yang ber-genre Action.
Penulis juga lebih memperhatikan hal-hal yang bersifat teknis dalam produksi
drama televisi Desersi ini, antara lain :
A. Komposisi
Komposisi yang baik harus terdiri dari unsur-unsur yang tampil menarik dan
saling bersinergi. Kesemuanya berpadu menjadi kesatuan yang jelas, selaras
dan harmonis. Prinsip utama dalam segala macam komposisi adalah
keseimbangan (balance). Kenyamanan estetika yang dihasilkan oleh
keseimbangan nampaknya memiliki sesuatu yang berhubungan dengan
kualitas gerakan mata sewaktu bergerak dari satu sisis ke sisi yang lain
menemukan daya tarik yang sama pada separuh bagian kiri dan separuh
bagian kanan Pintoko dan Umbara (2010 : 112).
Pada tekniknya, frame dibagi menjadi tiga bagian baik horizontal maupun
vertikal. Menurut teori ini , gambar yang baik adalah ketika salah satu subjek yang
kita inginkan berada pada titik pertemuan garis vertikal dan horizontal tersebut.
Berikut beberapa Teknik dalam pengambilan gambar, menurut Pintoko dan Umbara
(2010:112) diantaranya;

156
1. Teknik pengambilan angle kamera
a. High Angle
Posisi kamera lebih tinggi dari objek
b. Normal Angle ( Eye level )
Subjek sejajar dengan lensa kamera
c. Low Angle
Posisi kamera lebih rendah dari objek
d. Top Angle / Bird Eye
sudut pengambilan gambar top high, dengan menghasilkan gambar
dengan pandangan seekor mata burung.
2. Teknik Pergerakan Kamera ( Camera Movement )
Pergerakan kamera atau camera movement ada kalanya diperlukan, yang
paling penting adalah ketika penata kamera melakukan pergerakan kamera
harus memiliki motivasi, tujuan yang jelas, adapun beberapa teknik
pergerakan. menurt Pintoko dan Umbara, (2010:132-134) adalah:
a. Panning
Gerakan kamera secara horizontal ( posisi kamera tetap di tempat ) dari kiri ke
kanan atau sebaliknya.
- Pan Right

: kamera bergeraak ke kanan.

- Pan Left

: kamera bergerak ke kiri.

b. Tilting
Gerakan kamera secara vertical ( posisi kamera tetap di tempat )
dari atas ke bawah atau sebaliknya.

157
- Tilt up

: kamera bergerak ke atas.

- Tilt down

: kamera bergerak ke bawah.

c. Tracking
Gerakan kamera mendekati atau menjauhi objek.
- Track in

: Kamera bergerak ke depan.

- Track out

: Kamera bergerak ke belakang.

d. Follow
Kamera mengikuti objek bergerak sejajar.
e. Zoom In / Out
Kamera seolah-olah mendekati / menjauhi obyek.
f. Swing
Mengayun, kamera diayun ke kiri atas ke kanan.
3. Teknik Focusing
a. Follow Focus
menjadikan objek yang bergerak tetap fokus.
b. Focus to out Focus
mengubah menjadi blur dari objek yang focus.
c. Out Focus to Focus
mengubah gambar menjadi focus dari blur.
B. Shot
Shot merupakan satu bagian dari rangkaian gambar yang begitu panjang, yang
hanya direkam dengan satu take saja, menurut Pintoko dan Umbara (2010:99-118)
berikut merupakan Jenis jenis shot;

158
a. ECU ( Extrem Close Up )
Shot yang menampilkan detail objek
seperti : mata, hidung, telinga
b. BCU ( Big Close Up )
Shot yang menampilkan bagian tubuh atau benda tertentu sehingga
tampak memenuhi layar
seperti : wajah manusia sebatas dagu sampai dahi
c. MCU ( Medium Close Up )
Shot yang menampilkan sebatas dada sampai atas kepala
d. CU ( Close Up )
Shot yang menampilkan dari batas bahu sampai atas kepala
e. MS ( Medium Shot )
Shot yang menampilkan sebatas pinggang samapi atas kepala
f. MLS ( Medium Long Shot )
Shot yang menampilkan lutut sampai atas kepala
g. LS ( Long Shot )
Shot yang menampilkan leseluruhan objek
h. ELS ( Extrem Long Shot )
Shot yang menampilkan objek keseluruhan tapi terlihat jauh
i. Establish Shot
Shot yang memberikan keseluruhan pandangan atau suatu tempat
untuk memberi informasi atau orientasi tempat dimana peristiwa
atau adegan itu terjadi

159
j. OTS ( Over The Shoulders )
Kamera sebagai sudut pandang pelaku atau pemain
C. Garis Imajiner
Garis Imajiner merupakan garis pembatas kanan dan kiri /180 derajat. Metode
ini berlaku untuk penggunaan single kamera maupun multi kamera. Jika garis ini
dilanggar atau crossing the line maka menurut Pintoko dan Umbara (2010:128)
adalah :
1. Bisa mengakibatkan terpecahnya perhatian penonton
2. Bisa merusak kontinuitas yang telah terbentuk
D. Iris/Diafragma
Iris yaitu sejumlah lembaran metal tipis yang disusun sedemikian rupa
sehingga dapat dibuka dan ditutup untuk mengatur banyaknya sinar yang masuk ke
lensa kamera (Pintoko dan Umbara, 2010 : 112). Penulis sebagai penata kamera
harus memperhatikan pengaturan

dalam

menggunakan iris / diafragma dan

pengaturan filter ND karena itu sangat perlu diperhatikan, agar mendapatkan cahaya
yang terbaik seperti yang sutradara inginkan.
Tidak lupa juga penulis memperhatikan pencahayaan, diafragma dan shutter
speed karena dapat menentukan kombinasi yang tepat antara diafragma dan shutter
speed, tujuannya untuk mendapatkan hasil gambar dengan pencahayaan yang terbaik.
Dalam penggunaan kamera juga sangat bergantung dengan berapa ukuran iris
/ diafragma yang penulis gunakan. Shutter speed adalah seberapa cepat lensa
kamera membuka dan menutup untuk membiarkan cahaya masuk. ( Pintoko dan
Umbara, 2010 : 34).

160
Bila penulis menggunakan shutter speed tinggi maka gambar yang terekam
akan terlihat jelas / terang, dan jika penulis menggunakan shutter speed rendah, maka
gambar yang terekam akan terlihat blur. Pada produksi kali ini penulis mematikan
shutter speed agar di dapat gambar yang lebih terang.
3. Pasca Produksi
Menyaksikan preview gambar di monitor yang secara terus menerus memutar
beragam video sources, sutradara memilih momen yang dikehendaki,
menyambungkan source yang dipilih kedalam line (transmisi, channel utama,
studio output). Shot yang terpilih tersebut mungkin shot yang sesuai dengan
yang direncanakan, mendekati, atau yang dimodifikasi oleh kamerawan.
(Pintoko dan Umbara, 2010:202)
Pada prinsipnya tahap ini merupakan tahap penggabungan ide antara sutradara
dan editor mereka harus bekerjasama untuk menjadi tim yang solid untuk
mendapatkan hasil akhir yang sempurna. Peran sutradara berkonsentrasi pada
sejumlah adegan, lokasi, waktu, dan aksi yang telah diambil pada waktu shooting.
Editor menyelaraskan potongan-potongan gambar, memilah-milah gambar terbaik,
dan menyambungkannya menjadi suatu cerita yang utuh sesuai dengan director
treatment yang telah ditentukan sutradara. Peran penata kamera dalam tahapan paska
produksi ini adalah membantu sutradara dan editor memilih - milih gambar terbaik
yang telah diambil pada waktu shooting.
Pada tahap ini penulis terlibat langsung melihat dan mendiskusikan dengan
Editor hasil rought cut dan fine cut baik on line maupun off line. Di sinilah penulis
memberikan arahanarahan terhadap shotshot yang telah penulis pilih sesuai
director treatment Melalui proses editing ini akan memberikan kesempatan pada
penulis untuk memperbaiki kesalahan yang tidak dapat dielakkan pada saat shooting,

161
dan dalam proses editing ini pula kita dapat membuat bentuk-bentuk baru dari bahan
yang sudah tersedia, seperti pemotongan gambar, penambahan efek, backsound,
penaikkan atau penurunan warna gambar dan audio, hingga pembuatan credit title.
Secara garis besar tahap inilah penulis menyatukan imajinasinya dengan imajinasi
editor.
Hasil yang sempurna tak bisa lepas dari peran editor yang kreatif karena
biasanya permainan efek-efek itu tercipta oleh editor dan mereka lebih paham dimana
saatnya harus memasukan backsound, fade in dan fade out, dan keselarasan warna.
Setelah tahapan editing ini selesai dibuat penulis mengkonsultasikan hasil
proses editing kepada dosen pembimbing dengan maksud dan tujuan untuk
mengetahui letak kekurangan dan mendapatkan pengarahan yang beliau berikan guna
memperbaiki segala kekurangan yang ada.
4. Peran dan Tanggung Jawab Penata Kamera
Kamerawan adalah seorang yang bertanggung jawab atas komposisi visual
baik secara teknis maupun artistik atas saran seorang director atau sutradara (Pintoko
& Umbara, 2010 : 180). Sedangkan menurut Ariatama (2008 : 76), Juru kamera
secara teknis melakukan perekaman visual dengan kamera mekanik ataupun
elektronik dalam produksi film di bawah arahan pengarah fotografi dan
bertanggungjawab kepadanya.
Dan yang bertanggung jawab atas kamerawan atau juru kamera adalah
seorang D.O.P (Director of Photography), yaitu seorang yang bertanggung jawab
atas semua aspek teknis dan artistik gambar bergerak atau motion (Pintoko &
Umbara, 2010:91).

162
Peran dan tanggung jawab seorang penata kamera berpengaruh penting
dengan apa yang dihasilkan pada saat produksi. Penata kamera juga membantu
sutradara dalam upaya penerjemahan dari bahasa tulisan ke bahasa visual melalui
pemilihan angle , komposisi dan pergerakan kamera, serta pencahayaan. Dalam
proyek kecil, penata kamera ini dirangkap oleh seorang kameramen yang juga
mengatur peran petugas pencahayaan.
Sudut pengambilan gambar amat menentukan keberhasilan penyampaian
pesan. Sebagai suatu kontras dapat disebutkan bahwa sudut pengambilan gambar
yang tinggi (high angle) terhadap obyek dapat menimbulkan kesan ketidak berdayaan
obyek, dan sebaliknya low angle dapat membantu menimbulkan kesan perkasa pada
obyek yang diambil. Demikian pula pergerakan kamera dapat membantu
menciptakan kesan-kesan tertentu sesuai tuntutan naskah.
Pada umumnya seorang penata kamera dan tidak bekerja sendiri (kecuali
untuk hal-hal tertentu) dan secara umum tugas dan tanggung jawab seorang penata
kamera dan penata cahaya meliputi :
1. Berdiskusi dengan produser serta sutradara, mambahas tentang rencana
produksi.
2. Mempelajari naskah.
3. Menginterpretasikan sebuah adegan/scene.
4. Memberi masukan bagaimana agar bisa mendapatkan gambar yang baik.
5. Memilih peralatan kamera serta penunjangnya juga lampu-lampu dan
penunjangnya.
6. Bekerjasama dengan sutradara

163
7. Melakukan pengambilan gambar atau shooting.
5. Proses Penciptaan Karya
a. Konsep Kreatif
Setelah penulis membaca naskah yang sudah dibuat oleh script writer dengan
judul Desersi penulis sangat terkesan dengan ide cerita ini yang telah tertuangkan
hingga menjadi sebuah cerita drama, saat penulis membaca naskah Desersi
penulis membayangkan shoot yang akan diambil, komposisi serta pergerakan kamera.
Penulis telah berdiskusi dengan sutradara untuk memakai single camera. Penulis
membayangkan konsep gambar yang dinamis sesuai dengan naskah yang telah
dibuat. Kebanyakan shoot yang akan diterapkan oleh penulis dalam program ini di
ambil dengan cara hand held agar pada saat shooting, kamera bisa bergerak leluasa
dan dinamis mengikuti pergerakan pemain. Untuk type of shoot yang telah
dikonsepkan oleh penulis adalah dengan menggunakan shoot-shoot aman seperti
Meduim Close Up dan Medium Shot, dan beberapa jenis Wide Shot untuk
memperlihatkan area keseluruhan lokasi dan established shot.
b. Konsep Produksi
Untuk menghasilkan gambar yang dinamis dan atraktif, penulis beberapa kali
menggunakan teknik hand held dan change focus. Untuk keseluruhan pada saat
pengambilan gambar, penulis banyak menggunakan teknik pergerakan kamera follow
dengan teknik handheld, agar penulis lebih leluasa dalam proses pengambilan
gambar.

164
c. Konsep Teknis
Dari segi teknis seorang penata kamera harus bisa membangun sebuah
komposisi visual. Sebagian orang mungkin berfikir bahwa komposisi merupakan
suatu tindakan seni atau cara untuk merangkai, menata, dan membentuk berbagai
unsur yang hendak ditampilkan dalam suatu shot menjadi tampilan yang baik,
menarik, dan enak dilihat (Pintoko dan Umbara, 2010 : 112).
Adapun beberapa perlengkapan tambahan yang membantu dalam proses kerja
kamera dalam pengambilan sebuah gambar dan suara yaitu :
1. Tripod
2. Dolly Track
3. Jib Crane
4. Boom Mic
5. Wireless Mic
6. Kendala Produksi ( solusi produksi )
Pada proses produksi penulis banyak menemukan kendala-kendala teknis dan
non teknis. Dalam film Desersi ini menggunakan single camera, dalam film action
sangat banyak memerlukan shot-shot detail sehingga membuat proses pengambilan
gambar yang cukup lama. Untuk setiap perpindahan shot tersebut dibutuhkan
penataan lampu yang berbeda sehingga kembali memakan waktu. Untuk kendala non
teknis penulis juga mendapatkan hambatan ketika angin yang bertiup cukup kencang
sehingga membuat jib crane menjadi bergetar sehingga membuat gambar jadi tidak
bagus ketika crane tilt up/down dan pan left/right.

165

LEMBAR KERJA PENATA KAMERA


1. Konsep Penata Kamera
2. Camera Report
3. Spesifikasi Kamera

166

KONSEP PENATA KAMERA


Konsep penulis sebagai penata kamera dalam karya ini adalah membuat hasil
gambar yang semaksimal mungkin. Penulis ingin selalu bekerja sama menganalisis
kepada semua kru dan sutradara dalam pengambilan gambar, angle, blocking dan
pergerakan kamera yang baik dan tepat dalam karya ini.
Dalam tugas drama action ini penulis akan menggunakan kamera Sony
PMW-EX3. Dikarenakan seangat baik untuk pengambilan gambar, warna yang
tajam, akurat dan sensitive kualitas gambarnya. Penulis juga mempunyai alasan
kenapa mempergunakan kamera Sony PMW-EX3 karena untuk masuk tahap
editingnya gambar yang dihasilkan sangat bersih dan jelas. Penulis juga dapat
mengatur kualitas gambar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dalam karya
penulis.
Untuk pengambilan gambar shot dan angle sendiri penulis banyak
menggunakan shot dalam karya ini yaitu Long Shot, Medium Long Shot, Medium
Shot, Close Up, Medium Close Up dan Big Close Up. Sebuah karya akan bagus
hasilnya apabila menggunakan teknik semua shot yang tercantum oleh penulis dalam
kesempurnaan gambar juga didukung oleh angle dan moving camera maka penulis
akan memadukan semua ini dalam produksi drama ini untuk memperkuat kualitas
gambar dan karakter.

167

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
Cameraman
Hari/Tanggal

No
1

Scene
1

Shot
1

Take
1

Angle
WS

Moving
Pan Left

WS

Pan Left

WS

Pan Left

WS

Pan Left

WS

Pan Left

WS

Pan Left

MS

Handheld

MS

Handheld

MS

Handheld

10

MS

Handheld

11

MS

Handheld

12

MS

Handheld

13

MS

Pan Left

14

MS

Pan Left

15

MS

Pan Left

16

MS

Pan Left

17

MS

Pan Left

18

MS

Pan Left

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
: Sabtu/26 May 2012

Video
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
grup shot
Pasukan penyergap
kiri grup shot
Pasukan penyergap
kiri grup shot
Pasukan penyergap
kiri grup shot
Pasukan penyergap
kiri grup shot
Pasukan penyergap
kiri grup shot
Pasukan penyergap
kiri grup shot

Notes
1C
2C
3C
4C
5OK
6C
1C
2C
3C
4C
5C
6OK
1C
2OK
3C
4C
5C
6C

168
19

CU

Handheld

20

CU

Handheld

21

CU

Handheld

22

CU

Handheld

23

CU

Handheld

24

WS

Tilt Up

25

WS

Tilt Up

26

WS

Tilt Up

27

WS

Tilt Up

28

WS

Tilt Up

29

WS

Tilt Up

30

WS

Tilt Up

31
32
33
34

1
1
1
1

6
6
6
7

1
2
3
1

WS
WS
WS
CU

Tilt Up
Tilt Up
Tilt Up
Handheld

35

CU

Handheld

36

CU

Handheld

37

CU

Handheld

38

CU

Handheld

39

CU

Handheld

Hans keluar dari


mobil
Hans keluar dari
mobil
Hans keluar dari
mobil
Hans keluar dari
mobil
Hans keluar dari
mobil
Pasukan penyergap
reverse grup shot
Pasukan penyergap
reverse grup shot
Pasukan penyergap
reverse grup shot
Pasukan penyergap
reverse grup shot
Pasukan penyergap
reverse grup shot
Pasukan penyergap
reverse grup shot
Pasukan penyergap
reverse grup shot
Establish Gudang
Establish Gudang
Establish Gudang
Reno&Jhon di
depan gerbang
gudang
Reno&Jhon di
depan gerbang
gudang
Reno&Jhon di
depan gerbang
gudang
Reno&Jhon di
depan gerbang
gudang
Reno&Jhon di
depan gerbang
gudang
Reno melumpuhkan
penjahat

1C
2C
3OK
4C
5C
1C
2C
3C
4OK
5C
6C
7C
1C
2C
3OK
1C

2C

3C

4C

5OK

1OK

169
40

CU

Handheld

41

CU

Handheld

42

MS

Handheld

43

MS

Handheld

44

MS

Handheld

45

10

MLS

Handheld

46

10

MLS

Handheld

47

10

MLS

Handheld

48

10

MLS

Handheld

49

10

MLS

Handheld

50

11

MLS

Handheld

51

11

MLS

Handheld

52

12

CU

Handheld

53

12

CU

Handheld

54

12

CU

Handheld

Reno melumpuhkan
penjahat
Reno melumpuhkan
penjahat
Reno&Jhon
memasuki area
depan gudang
Reno&Jhon
memasuki area
depan gudang
Reno&Jhon
memasuki area
depan gudang
Reno memimpin
pasukan memasuki
gudang dalam
Reno memimpin
pasukan memasuki
gudang dalam
Reno memimpin
pasukan memasuki
gudang dalam
Reno memimpin
pasukan memasuki
gudang dalam
Reno memimpin
pasukan memasuki
gudang dalam
Reno memimpin
pasukan memasuki
gudang dalam
reverse
Reno memimpin
pasukan memasuki
gudang dalam
reverse
Reno memasuki
gudang semakin
dalam
Reno memasuki
gudang semakin
dalam
Reno memasuki
gudang semakin

2C
3C
1C

2C

3OK

1C

2C

3C

4OK

5C

1C

2OK

1C

2OK

3C

170

55

13

MS

Handheld

56

13

MS

Handheld

57

13

MS

Handheld

58

13

MS

Handheld

59

14

MS

Handheld

60

14

MS

Handheld

61
62
63
64

1
1
1
1

15
15
15
15

1
2
3
4

MS
MS
MS
MS

Handheld
Handheld
Handheld
Handheld

dalam
Reno baku tembak
sampai tewas
Reno baku tembak
sampai tewas
Reno baku tembak
sampai tewas
Reno baku tembak
sampai tewas
Daniel&Jack
meninggalkan
gudang
Daniel&Jack
meninggalkan
gudang
Pasukan clear area
Pasukan clear area
Pasukan clear area
Pasukan clear area

1C
2C
3OK
4C
1C

2OK

1C
2OK
3C
4C

171

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
Cameraman
Hari/Tanggal

No
1
2
3
4

Scene
2
2
2
2

Shot
1
1
1
2

Take
1
2
3
1

Angle
WS
WS
WS
MLS

Moving
Still
Still
Still
Still

MLS

Still

MLS

Still

MLS

Still

MLS

Still

MLS

Still

10

MS

Still

11

MS

Still

12

MS

Still

13

CU

Still

14

CU

Still

15

CU

Still

16

CU

Still

17

MCU

Still

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
:Sabtu 26 May 2012

Video
Establish Kuburan
Establish Kuburan
Establish Kuburan
Nico&Hans
memasuki kuburan
Nico&Hans
memasuki kuburan
Nico keluar dari
mobil memasuki
kuburan
Nico keluar dari
mobil memasuki
kuburan
Nico keluar dari
mobil memasuki
kuburan
Nico keluar dari
mobil memasuki
kuburan
Nico&Hans
mendekati kuburan
Reno
Nico&Hans
mendekati kuburan
Reno
Nico&Hans
mendekati kuburan
Reno
Nico berjongkok
dikuburan Reno
Nico berjongkok
dikuburan Reno
Nico berjongkok
dikuburan Reno
Nico berjongkok
dikuburan Reno
Nico berjongkok

Notes
1C
2C
3OK
1C
2C
1C

2C

3C

4OK

1C

2OK

3C

1C
2C
3OK
4C
1C

172

18

MCU

Still

19

MCU

Still

20

MCU

Still

21
22
23

2
2
2

7
7
8

1
2
1

CU
CU
CU

Still
Still
Still

24

CU

Still

25

CU

Still

26

CU

Still

27

CU

Still

28

LS

JibCrane

29

LS

JibCrane

30

10

MCU

Still

31

10

MCU

Still

32

10

MCU

Still

33

11

MCU

Still

34

11

MCU

Still

35

11

MCU

Still

36

12

CU

Tilt Up

dikuburan Reno
Nico berjongkok
dikuburan Reno
Nico berjongkok di
kuburan Reno
Nico berjongkok di
kuburan Reno
Batu nisan Reno
Batu nisan Reno
Nico berjongkok di
kuburan Reno
reverse
Nico berjongkok di
kuburan Reno
reverse
Nico berjongkok di
kuburan Reno
reverse
Nico berjongkok di
kuburan Reno
reverse
Nico berjongkok di
kuburan Reno
reverse
Nico&Hans
meninggalkan
kuburan
Nico&Hans
meninggalkan
kuburan
Nico&Hans turun
dari mobil
Nico&Hans turun
dari mobil
Nico&Hans turun
dari mobil
Nico&Hans naik
mobil
Nico&Hans naik
mobil
Nico&Hans naik
mobil
Mobil
meninggalkan

2OK
3C
4C
1C
2OK

1C

2C

3OK

4C

1C

2OK

1C
2C
3OK
1OK
2C
3C
1C

173

37

12

CU

Tilt Up

38

12

CU

Tilt Up

kuburan
Mobil
meninggalkan
kuburan
Mobil
meninggalkan
kuburan

2C

3OK

174

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
: Farid Irawan
Cameraman
: Eko Hariansyah
Hari/Tanggal : Kamis/24 May 2012

No
1

Scene
3

Shot
1

Take
1

Angle
CU

Moving
Handheld

CU

Handheld

CU

Handheld

CU

Handheld

5
6
7
8
9
10
11
12
13

3
3
3
3
3
3
3
3
3

2
2
2
2
2
3
3
3
4

1
2
3
4
5
1
2
3
1

MCU
MCU
MCU
MCU
MCU
CU
CU
CU
MCU

Handheld
Handheld
Handheld
Handheld
Handheld
Handheld
Handheld
Handheld
Still

14

MCU

Still

15

MCU

Still

Video
Close Up tangan
Nico di wastafel
Close Up tangan
Nico di wastafel
Close Up tangan
Nico di wastafel
Close Up tangan
Nico di wastafel
Nico cuci tangan
Nico cuci tangan
Nico cuci tangan
Nico cuci tangan
Nico cuci tangan
Nico cuci tangan
Nico cuci tangan
Nico cuci tangan
Nico cuci tangan
reverse
Nico cuci tangan
reverse
Nico cuci tangan
reverse

Notes
1C
2C
3OK
4C
1C
2C
3C
4C
5OK
1C
2OK
3C
1OK
2C
C

175

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
: Farid Irawan
Cameraman
: Eko Hariansyah
Hari/Tanggal : Selasa/29 May 2012

No
1

Scene
4

Shot
1

Take
1

Angle
MLS

Moving
Still

MLS

Still

MLS

Still

MLS

Still

MLS

Still

MLS

Still

MLS

Still

Video
Nico&Hans
berjalan di koridor
kantor
Nico&Hans
berjalan di koridor
kantor
Nico&Hans
berjalan di koridor
kantor
Nico&Hans
berjalan di koridor
kantor
Nico&Hans
berjalan di koridor
kantor
Nico&Hans
berjalan di koridor
kantor
Nico&Hans
berjalan di koridor
kantor

Notes
1C

2C

3C

4OK

5C

6C

7C

176

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
: Farid Irawan
Cameraman
: Eko Hariansyah
Hari/Tanggal : Kamis/24 May 2012

No
1

Scene
5

Shot
1

Take
1

Angle
MS

Moving
Track In

MS

Track In

MS

Track In

MCU

Track In

MCU

Track In

MCU

Track In

CU

Track In

CU

Track In

CU

Track In

10

CU

Track In

11

CU

Track In

12

CU

Track In

13

CU

Still

14

CU

Still

15

CU

Still

16

CU

Still

17

CU

Still

18

CU

Still

19

CU

Still

Video
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Nico di depan
laptop
Tangan Nico di
keyboard laptop
Tangan Nico di
keyboard laptop
Tangan Nico di
keyboard laptop
Tangan Nico di
keyboard laptop
Layar monitor
laptop
Layar monitor
laptop
Layar monitor

Notes
1C
2OK
3C
1C
2C
3OK
1C
2C
3C
4OK
5C
6C
1C
2C
3C
4OK
1OK
2C
3C

177

20

CU

Still

21

MCU

Still

22

MCU

Still

23

MCU

Still

24

MCU

Still

25

CU

Till Up

26

CU

Till Up

27

CU

Till Up

laptop
Layar monitor
laptop
Nico di depan
monitor reverse
Nico di depan
monitor reverse
Nico di depan
monitor reverse
Nico di depan
monitor reverse
Nico bersandar di
sofa
Nico bersandar di
sofa
Nico bersandar di
sofa

4C
1C
2C
3OK
4C
1C
2C
3OK

178

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
Cameraman
Hari/Tanggal

No
1

Scene
6

Shot
1

Take
1

Angle
MS

Moving
Track In

MS

Track In

MS

Track In

MS

Track In

MS

Track In

MS

Track In

MCU

Pan Left

MCU

Pan Left

MCU

Pan Left

10

MCU

Pan Left

11

MCU

Pan Left

12

MCU

Pan Left

13

MCU

Still

14

MCU

Still

15

MCU

Still

16

MCU

Still

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
: Rabu/23 May 2012

Video
Nico keluar dari
kamar mandi
Nico keluar dari
kamar mandi
Nico keluar dari
kamar mandi
Nico keluar dari
kamar mandi
Nico keluar dari
kamar mandi
Nico keluar dari
kamar mandi
Nico keluar dari
kamar mandi
reverse
Nico keluar dari
kamar mandi
reverse
Nico keluar dari
kamar mandi
reverse
Nico keluar dari
kamar mandi
reverse
Nico keluar dari
kamar mandi
reverse
Nico keluar dari
kamar mandi
reverse
Nico melihat koran
diatas buffet
Nico melihat koran
diatas buffet
Nico melihat koran
diatas buffet
Nico melihat koran

Notes
1C
2C
3OK
4C
5C
6C
1C

2C

3C

4C

5OK

6C

1C
2C
3C
4OK

179

17

CU

Still

18

CU

Still

19

CU

Still

20
21
22
23
24
25

6
6
6
6
6
6

5
5
5
5
5
6

1
2
3
4
5
1

MS
MS
MS
MS
MS
CU

Track In
Track In
Track In
Track In
Track In
Still

26

CU

Still

27

CU

Still

28

CU

Still

29

CU

Still

diatas buffet
Nico membaca
koran
Nico membaca
koran
Nico membaca
koran
Nico menuju kamar
Nico menuju kamar
Nico menuju kamar
Nico menuju kamar
Nico menuju kamar
Koran dilempar ke
tempat tidur
Koran dilempar ke
tempat tidur
Koran dilempar ke
tempat tidur
Koran dilempar ke
tempat tidur
Koran dilempar ke
tempat tidur

1C
2OK
3C
1C
2C
3C
4C
5OK

1C
2C
3OK
4C

180

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
Cameraman
Hari/Tanggal

No
1

Scene
7

Shot
1

Take
1

Angle
MS

Moving
Still

MS

Still

MS

Still

MS

Still

MCU

Handheld

MCU

Handheld

MCU

Handheld

MCU

Handheld

MCU

Handheld

10

MCU

Handheld

11

MCU

Handheld

12

CU

Handheld

13

CU

Handheld

14

CU

Handheld

15

BCU

Handheld

16

BCU

Handheld

17

MCU

Still

18

MCU

Still

19

MCU

Still

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
: Selasa/29 May 2012

Video
Hans memasuki
ruangan NCU
Hans memasuki
ruangan NCU
Hans memasuki
ruangan NCU
Hans memasuki
ruangan NCU
Nico menghadang
Hans
Nico menghadang
Hans
Nico menghadang
Hans
Nico menghampiri
meja Hans
Nico menghampiri
meja Hans
Nico menghampiri
meja Hans
Nico menghampiri
meja Hans
Nico membentak
Hans
Nico membentak
Hans
Nico membentak
Hans
Tangan Nico
menggebrak meja
Tangan Nico
menggebrak meja
Hans menjelaskan
kepada Nico
Hans menjelaskan
kepada Nico
Hans menjelaskan

Notes
1C
2OK
3C
4C
1C
2C
3OK
1C
2C
3C
4OK
1C
2OK
3C
1OK
2C
1C
2C
3OK

181

20

MCU

Handheld

21

MCU

Handheld

22

MCU

Handheld

23
24
25

7
7
7

8
8
8

1
2
3

MCU
MCU
MCU

Still
Still
Still

kepada Nico
Nico meninggalkan
Hans
Nico meninggalkan
Hans
Nico meninggalkan
Hans
Hans duduk sendiri
Hans duduk sendiri
Hans duduk sendiri

1C
2OK
3C
!C
2C
3OK

182

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
: Farid Irawan
Cameraman
: Eko Hariansyah
Hari/Tanggal : Selasa/29 May 2012

No
1

Scene
8

Shot
1

Take
1

Angle
MS

Moving
Track In

MS

Track In

MS

Track In

MS

Track In

MS

Track In

MS

Track In

MCU

Still

MCU

Still

MCU

Still

10

MCU

Still

11

MCU

Handheld

12

MCU

Handheld

13

MCU

Handheld

14

MCU

Handheld

15

MCU

Handheld

16

MCU

Handheld

17

CU

Still

Video
Nico menghadap
komandan
Nico menghadap
komandan
Nico menghadap
komandan
Nico menghadap
komandan
Nico menghadap
komandan
Nico menghadap
komandan
Nico menghadap
komandan reverse
Nico menghadap
komandan reverse
Nico menghadap
komandan reverse
Nico menghadap
komandan reverse
Nico berdiri
menyerahkan
senjata dan lencana
Nico berdiri
menyerahkan
senjata dan lencana
Nico berdiri
menyerahkan
senjata dan lencana
Nico berpapasan
dengan Hans
Nico berpapasan
dengan Hans
Nico berpapasan
dengan Hans
Komandan
memandang

Notes
1C
2C
3OK
4C
5C
6C
1C
2C
3C
4OK
1C

2OK

3C

1OK
2C
3C
1C

183

18

CU

Still

19

CU

Still

20

CU

Still

lencana Nico
Komandan
memandang
lencana Nico
Komandan
memandang
lencana Nico
Komandan
memandang
lencana Nico

2C

3C

4OK

184

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
Cameraman
Hari/Tanggal

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Scene
9
9
9
9
9
9
9
9
9
9

Shot
1
1
1
1
2
2
2
2
2
3

Take
1
2
3
4
1
2
3
4
5
1

Angle
WS
WS
WS
WS
MS
MS
MS
MS
MS
WS

Moving
Still
Still
Still
Still
Still
Still
Still
Still
Still
Still

11

WS

Still

12

WS

Still

13

WS

Still

14

MS

Still

15

MS

Still

16

MS

Still

17

CU

Still

18

CU

Still

19

CU

Still

20

CU

Still

21

CU

Still

22

MCU

Handheld

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
: Senin/28 May 2012

Video
Nico duduk di bar
Nico duduk di bar
Nico duduk di bar
Nico duduk di bar
Nico duduk di bar
Nico duduk di bar
Nico duduk di bar
Nico duduk di bar
Nico duduk di bar
Hans menghampiri
Nico di bar
Hans menghampiri
Nico di bar
Hans menghampiri
Nico di bar
Hans menghampiri
Nico di bar
Hans menghampiri
Nico di bar
Hans menghampiri
Nico di bar
Hans menghampiri
Nico di bar
Hans menaruh
kertas
Hans menaruh
kertas
Nico mengambil
kertas dan
membaca
Nico mengambil
kertas dan
membaca
Nico mengambil
kertas dan
membaca
Establish meja

Notes
1C
2C
3OK
4C
1C
2OK
3C
4C
5C
1C
2C
3C
4OK
1C
2C
3OK
1OK
2C
1C

2OK

3C

1C

185

23

MCU

Handheld

24

MCU

Handheld

25

MCU

Handheld

26

MCU

Handheld

27

MCU

Handheld

28

MCU

Handheld

29

MCU

Handheld

30

MCU

Handheld

31

MCU

Handheld

32

MCU

Handheld

33

MCU

Handheld

34

MS

Still

35

MS

Still

36

MS

Still

37

10

CU

Still

38

10

CU

Still

39

10

CU

Still

billiard
Establish meja
billiard
Establish meja
billiard
Establish meja
billiard
Establish meja
billiard
Establish orang
bermain billiard
Establish orang
bermain billiard
Establish orang
bermain billiard
Establish orang
bermain billiard
Establish orang
bermain billiard
Establish orang
bermain billiard
Establish orang
bermain billiard
Bartender
menyiapkan
minuman
Bartender
menyiapkan
minuman
Bartender
menyiapkan
minuman
Tangan bartender
menuang es
Tangan bartender
menuang es
Tangan bartender
menuang es

2OK
3C
4C
5OK
1C
2OK
3OK
4C
5C
6OK
7C
1C

2OK

3C

1C
2C
3OK

186

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
Cameraman
Tanggal

No
1

Scene
10

Shot
1

Take
1

Angle
WS

Moving
Pan Right

10

WS

Pan Right

10

WS

Pan Right

10

WS

Handheld

10

WS

Handheld

10

WS

Handheld

10

MS

Handheld

10

MS

Handheld

10

MS

Handheld

10

10

MS

Handheld

11

10

MS

Handheld

12

10

MS

Handheld

13

10

LS

Pan Right

14

10

LS

Pan Right

15

10

LS

Pan Right

16

10

LS

Still

17

10

LS

Still

18

10

LS

Still

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
: 27 May&9Juni 2012

Video
Establish
Apartemen
Establish
Apartemen
Establish
Apartemen
Pasangan menaiki
motor
Pasangan menaiki
motor
Pasangan menaiki
motor
Nico merebut
motor
Nico merebut
motor
Nico merebut
motor
Nico merebut
motor reverse
Nico merebut
motor reverse
Nico merebut
motor reverse
Nico berlari keluar
dari apartement
Nico berlari keluar
dari apartement
Nico berlari keluar
dari apartement
Pasukan berlari
keluar mengejar
Nico
Pasukan berlari
keluar mengejar
Nico
Pasukan berlari

Notes
1OK
2C
3C
1C
2C
3OK
1C
2OK
3C
1OK
2C
3C
1C
2C
3OK
1C

2C

3OK

187

19

10

MS

Handheld

20

10

MS

Handheld

21

10

MS

Handheld

22

10

MS

Handheld

23

10

MS

Handheld

24

10

MS

Handheld

25

10

MS

Handheld

26

10

MS

Handheld

27

10

MS

Handheld

28

10

10

MS

Handheld

29

10

CU

Handheld

30

10

CU

Handheld

31

10

CU

Handheld

32

10

CU

Handheld

keluar mengejar
Nico
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap

1C

2OK

3OK

4C

5OK

6OK

7C

8OK

9OK

10C

1C

2C

3OK

4OK

188
33

10

CU

Handheld

34

10

CU

Handheld

35

10

CU

Handheld

36

10

CU

Handheld

37

10

CU

Handheld

38

10

10

CU

Handheld

39

10

CU

Handheld

40

10

CU

Handheld

41

10

CU

Handheld

42

10

CU

Handheld

43

10

CU

Handheld

44

10

CU

Handheld

45

10

CU

Handheld

46

10

CU

Handheld

47

10

CU

Handheld

Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan salah satu
pasukan penyergap
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen

5OK

6C

7OK

8C

9C

10OK

1C

2C

3OK

4C

5OK

6OK

7C

8C

9OK

189

48

10

10

CU

Handheld

49

10

10

MS

Still

50

10

10

MS

Still

51

10

10

MS

Still

52

10

10

MS

Still

53

10

10

MS

Still

54

10

10

MS

Still

55

10

10

MS

Still

56

10

11

CU

Follow

57

10

11

CU

Follow

58

10

11

CU

Follow

59

10

11

CU

Follow

60

10

11

CU

Follow

61

10

12

MS

Still

62

10

12

MS

Still

lawan 1
Nico bertarung di
dalam apartemen
lawan 1
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Nico berlari naik
dan turun di dalam
apartemen
Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Pasukan mengejar
Nico grup Shot

10C

1OK

2OK

3C

4OK

5OK

6OK

7C

1OK

2OK

3C

4OK

5C

1C
2OK

190
63

10

12

MS

Still

64

10

12

MS

Still

65

10

12

MS

Still

66

10

12

MS

Still

67

10

12

MS

Still

68

10

12

MS

Still

69

10

12

MS

Still

70

10

12

10

MS

Still

71

10

13

MS

Handheld

72

10

13

MS

Handheld

73

10

13

MS

Handheld

74

10

13

MS

Handheld

75

10

13

MS

Handheld

76

10

13

MS

Handheld

77

10

13

MS

Handheld

78

10

13

MS

Handheld

79

10

14

CU

Handheld

80

10

14

CU

Handheld

Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Pasukan mengejar
Nico grup Shot
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung

3OK
4OK
5C
6C
7OK
8C
9OK
10C
1C

2OK

3C

4C

5OK

6C

7C

8OK

1OK

2OK

191

81

10

14

CU

Handheld

82

10

14

CU

Handheld

83

10

14

CU

Handheld

84

10

14

CU

Handheld

85

10

14

CU

Handheld

86

10

14

CU

Handheld

87

10

14

CU

Handheld

88

10

14

10

CU

Handheld

89

10

15

MS

Still

90

10

15

MS

Still

91

10

15

MS

Still

92

10

15

MS

Still

dengan 2 orang dari


pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Nico bertarung
dengan 2 orang dari
pasukan penyergap
Pasukan menyergap
memasuki kamar
Daniel
Pasukan menyergap
memasuki kamar
Daniel
Pasukan menyergap
memasuki kamar
Daniel
Pasukan menyergap
memasuki kamar
Daniel

3C

4OK

5C

6OK

7OK

8C

9OK

10OK

1C

2C

3OK

4C

192

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
Cameraman
Hari/Tanggal

No
1

Scene
11

Shot
1

Take
1

Angle
MS

Moving
Still

11

MS

Still

11

MS

Still

11

MS

Still

11

MS

Still

11

MS

Track In

11

MS

Track In

11

MS

Track In

11

MCU

Still

10

11

MCU

Still

11

11

MCU

Still

12

11

MCU

Still

13

11

MCU

Still

14

11

MCU

Still

15

11

MCU

Still

16

11

MCU

Still

17

11

MCU

Still

18

11

MCU

Still

19

11

MCU

Still

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
: Kamis/24 May 2012

Video
Nico memasuki
rumah
Nico memasuki
rumah
Nico memasuki
rumah
Nico memasuki
rumah
Nico memasuki
rumah
Nico memasuki
kamar
Nico memasuki
kamar
Nico memasuki
kamar
Nico memasuki
kamar reverse
Nico memasuki
kamar reverse
Nico memasuki
kamar reverse
Nico duduk di
tempat tidur
Nico duduk di
tempat tidur
Nico duduk di
tempat tidur
Nico duduk di
tempat tidur
Nico duduk di
tempat tidur
Nico mengeluarkan
barang dari tas
Nico mengeluarkan
barang dari tas
Nico mengeluarkan

Notes
1C
2OK
3C
4C
5C
1C
2OK
3C
1C
2C
3OK
1C
2OK
3C
4C
5C
1C
2C
3OK

193

20

11

MCU

Still

21

11

MCU

Still

22

11

MCU

Still

23

11

MCU

Still

24
25
26
27
28
29
30

11
11
11
11
11
11
11

6
6
6
6
7
7
8

1
2
3
4
1
2
1

CU
CU
CU
CU
BCU
BCU
CU

Still
Still
Still
Still
Still
Still
Track In

31

11

CU

Track In

32

11

CU

Track In

33

11

MCU

Still

34

11

MCU

Still

35

11

MCU

Still

36

11

10

MCU

Still

37

11

10

MCU

Still

38

11

10

MCU

Still

39

11

10

MCU

Still

40

11

10

MCU

Still

barang dari tas


Nico mengeluarkan
barang dari tas
Nico mengeluarkan
barang dari tas
Nico mengeluarkan
barang dari tas
Nico mengeluarkan
barang dari tas
Nico melihat notes
Nico melihat notes
Nico melihat notes
Nico melihat notes
Notes
Notes
Nico memandang
USB
Nico memandang
USB
Nico memandang
USB
Nico memandang
USB
Nico memandang
USB
Nico memandang
USB
Nico beranjak dari
tempat tidur
Nico beranjak dari
tempat tidur
Nico beranjak dari
tempat tidur
Nico beranjak dari
tempat tidur
Nico beranjak dari
tempat tidur

4OK
5C
6OK
7C
1C
2OK
3C
4C
1OK
2C
1C
2C
3OK
1C
2C
3OK
1C
2OK
3C
4C
5C

194

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit

Director
Cameraman
Hari/Tanggal

No
1

Scene
12

Shot
1

Take
1

Angle
MS

Moving
Track Left

12

MS

Track Left

12

MS

Track Left

12

MS

Track Left

12

MS

Still

12

MS

Still

12

MS

Still

12

MS

Still

12

MS

Still

10

12

MS

Still

11

12

MS

Still

12

12

CU

Track In

13

12

CU

Track In

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
: Sabtu/9Juni 2012

Video
Orang-orang
melihat tim
forensik dari luar
Orang-orang
melihat tim
forensik dari luar
Orang-orang
melihat tim
forensik dari luar
Orang-orang
melihat tim
forensik dari luar
Forensik sedang
menganalisa mayat
Daniel
Forensik sedang
menganalisa mayat
Daniel
Forensik sedang
menganalisa mayat
Daniel
Hans di dalam
ruangan dengan tim
forensik
Hans di dalam
ruangan dengan tim
forensik
Hans di dalam
ruangan dengan tim
forensik
Hans di dalam
ruangan dengan tim
forensik
Hans
menginstruksikan
anak buah
Hans

Notes
1C

2C

3OK

4C

1OK

2C

3C

1C

2C

3OK

4C

1C

2C

195

14

12

CU

Track In

15

12

MCU

Still

menginstruksikan
anak buah
Hans
menginstruksikan
anak buah
Mayat Daniel

3OK

1OK

196

CAMERA REPORT
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit
No
1

Scene Shot
13
1

Director
Cameraman
Tanggal

Take
1

Angle
WS

Moving
Pan Right

13

WS

Pan Right

13

WS

Pan Right

13

MS

Pan Right

13

MS

Pan Right

13

MS

Pan Right

13

MS

Pan Right

13

MCU

Handheld

13

MCU

Handheld

10

13

MCU

Handheld

11

13

MCU

Handheld

12

13

MCU

Handheld

13

13

MCU

Handheld

14

13

MCU

Handheld

15

13

MCU

Handheld

: Farid Irawan
: Eko Hariansyah
: 24May&7Juni 2012

Video
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil

Notes
1C

2C

3OK

1C

2OK

3C

4C

1C
2OK
3C
4OK
5OK
6C
7OK
8OK

197
16

13

MCU

Handheld

17

13

10

MCU

Handheld

18

13

11

MCU

Handheld

19

13

12

MCU

Handheld

20

13

13

CU

Handheld

21

13

WS

Pan Right

22

13

WS

Pan Right

23

13

WS

Pan Right

24

13

MS

Pan Right

25

13

MS

Pan Right

26

13

MS

Pan Right

27

13

MS

Pan Right

28

13

MCU

Handheld

29

13

MCU

Handheld

30

13

MCU

Handheld

31

13

MCU

Handheld

32

13

MCU

Handheld

33

13

MCU

Handheld

34

13

MCU

Handheld

Hans dan pasukan


menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan

9C
10C
11OK
12OK
13C
1C

2C

3OK

1C

2OK

3C

4C

1C
2OK
3C
4OK
5OK
6C
7OK

198

35

13

MCU

Handheld

36

13

MCU

Handheld

37

13

10

MCU

Handheld

38

13

11

MCU

Handheld

39

13

12

MCU

Handheld

40

13

13

CU

Handheld

41

13

WS

Pan Right

42

13

WS

Pan Right

43

13

WS

Pan Right

44

13

MS

Pan Right

45

13

MS

Pan Right

46

13

MS

Pan Right

47

13

MS

Pan Right

48

13

MCU

Handheld

49

13

MCU

Handheld

50

13

MCU

Handheld

51

13

MCU

Handheld

52

13

MCU

Handheld

menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Mobil pasukan
penyergap masuk
rumah Nico
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil
Hans dan pasukan
menuruni mobil

8OK
9C
10C
11OK
12OK
13C
1C

2C

3OK

1C

2OK

3C

4C

1C
2OK
3C
4OK
5OK

199
53

13

MS

Handheld

54

13

MS

Handheld

55

13

MS

Handheld

56

13

MS

Handheld

57

13

MS

Handheld

58

13

MS

Handheld

59

13

MS

Handheld

60

13

MS

Handheld

61

13

MS

Handheld

62

13

MS

Handheld

63

13

MS

Handheld

64

13

MS

Handheld

65

13

MS

Handheld

66

13

MS

Handheld

67

13

MS

Handheld

68

13

MS

Handheld

69

13

MS

Handheld

70

13

MS

Handheld

71

13

MS

Handheld

72

13

MS

Handheld

73

13

10

MS

Handheld

74

13

10

MS

Handheld

Hans keluar dari


mobil
Hans keluar dari
mobil
Hans keluar dari
mobil
Pasukan keluar dari
mobil
Pasukan keluar dari
mobil
Pasukan keluar dari
mobil
Pasukan keluar dari
mobil
Pasukan keluar dari
mobil
Pasukan keluar dari
mobil
Pasukan keluar dari
mobil
Hans memasuki
rumah Nico
Hans memasuki
rumah Nico
Hans memasuki
rumah Nico
Hans memasuki
rumah Nico
Nico bersiap
dibalik lemari baju
Nico bersiap
dibalik lemari baju
Nico mengambil
HT
Hans berbicara
dengan Nico
Hans berbicara
dengan Nico
Hans berbicara
dengan Nico
Hans berbicara
dengan Nico
reverse
Hans berbicara

1C
2OK
3C
1OK
2C
3OK
4OK
5C
6OK
7OK
1C
2C
3C
4OK
1C
2OK
1OK
1C
2OK
3C
1C

2C

200

75

13

10

MS

Handheld

76

13

11

LS

Handheld

77

13

11

LS

Handheld

78

13

11

LS

Handheld

79

13

11

LS

Handheld

80

13

12

MCU

Handheld

81

13

12

MCU

Handheld

82

13

12

MCU

Handheld

83

13

13

LS

Handheld

84

13

13

LS

Handheld

85

13

13

LS

Handheld

86

13

13

LS

Handheld

87

13

14

MS

Handheld

88

13

14

MS

Handheld

89

13

14

MS

Handheld

90

13

15

MS

Handheld

91

13

15

MS

Handheld

92

13

15

MS

Handheld

93

13

16

MCU

Handheld

94

13

16

MCU

Handheld

95

13

16

MCU

Handheld

dengan Nico
reverse
Hans berbicara
dengan Nico
reverse
Hans mulai
mendekati Nico
Hans mulai
mendekati Nico
Hans mulai
mendekati Nico
Hans mulai
mendekati Nico
Hans mulai
mendekati Nico
Hans mulai
mendekati Nico
Hans mulai
mendekati Nico
Nico melempar
USB
Nico melempar
USB
Nico melempar
USB
Nico melempar
USB
Pasukan memasuki
rumah
Pasukan memasuki
rumah
Pasukan memasuki
rumah
Nico keluar dari
persembunyian
Nico keluar dari
persembunyian
Nico keluar dari
persembunyian
Hans menodongkan
diri
Hans menodongkan
diri
Hans menodongkan

3OK

1C
2OK
3C
4C
1C
2C
3OK
1C
2C
3OK
4C
1C
2OK
3C
1OK
2C
3C
1C
2C
3OK

201

96

13

17

MS

Handheld

97

13

17

MS

Handheld

98

13

17

MS

Handheld

99

13

17

MS

Handheld

100

13

17

MS

Handheld

101
102
103
104

13
13
13
13

18
18
18
19

1
2
3
1

MS
MS
MS
MS

Handheld
Handheld
Handheld
Handheld

105

13

19

MS

Handheld

106

13

19

MS

Handheld

107

13

20

MCU

Track Out

108

13

20

MCU

Track Out

diri
Nico menembak
Hans
Nico menembak
Hans
Nico menembak
Hans
Nico menembak
Hans
Nico menembak
Hans
Hans terjatuh
Hans terjatuh
Hans terjatuh
Nico menghampiri
dan berbicara
dengan Hans
Nico menghampiri
dan berbicara
dengan Hans
Nico menghampiri
dan berbicara
dengan Hans
Nico dan salah satu
pasukan melihat
Hans
Nico dan salah satu
pasukan melihat
Hans

1C
2C
3C
4C
5OK
1C
2C
3OK
1C

2C

3OK

1C

2OK

Spesifikasi Kamera
Technical Specifications
Please be aware that the features/specifications can differ from country to country
Collapse all
General
Mass

Approx. 1.9 kg (4 lb 2 oz) (without lens)


Approx. 3.6 kg (7 lb 9 oz) (with lens, lens hood, eye piece, BP-U30 battery, one SxS PRO
memory card)

Dimensions (W x H x D)

250 x 210 x 400 mm (9 7/8 x 8 2/8 x 15 6/8 inches)(with lens) without projection

Power requirements

DC 12 V

Power consumption

Approx. 13.5 W (while recording, LCD viewfinder On)

Operating temperature

0 to +40C (+32 to +104F)

Storage temperature

-20 to +60C (-4 to +140F)

Continuous operating
time

Approx. 210 min. with BP-U60 battery Approx. 100 min. with BP-U30 battery

Recording format

Video MPEG-2 Long GOP HQ mode: VBR, maximum bit rate: 35 Mb/s, MPEG-2 MP@HL SP
mode: CBR, 25 Mb/s, MPEG-2 MP@H14 Audio Linear PCM (2ch, 16-bit, 48-kHz)

Recording frame rate

NTSC setting HQ mode: 1920 x 1080/59.94i, 29.97P, 23.98P, 1280 x 720/59.94P, 29.97P,
23.98P SP mode: 1440 x 1080/59.94i PAL setting HQ mode: 1920 x 1080/50i, 25P, 1280 x
720/50P, 25P SP mode: 1440 x 1080/50i

Recording/Playback time

HQ mode Approx. 50 min. with SBP-16 (16 GB) memory card, Approx. 25 min. with SBP-8 (8

GB) memory card SP mode Approx. 70 min. with SBP-16 (16 GB) memory card, Approx. 35
min. with SBP-8 (8 GB) memory card
Lens
Lens mount

1/2-inch type EX mount

Zoom ratio

14x (optical), servo/manual selectable

Focal length

f = 5.8 to 81.2 mm (equivalent to 31.4 to 439 mm on 35 mm lens)

Iris

F1.9 to F16 and Close, servo/manual selectable

Maximum relative
aperture

1:1.9

Focus

AF/MF/Full MF selectable 800 mm to 8 (MACRO OFF), 50 mm to 8 (MACRO ON, Wide), 735


to 8 (MACRO ON, Tele)

Image stabilizer

ON/OFF selectable, shift lens

Filter thread

M77 mm, pitch 0.75 mm (on lens)

Camera
Pickup device

3-chip 1/2-inch type Exmor Full HD CMOS

Effective picture elements

1920 (H) x 1080 (V)

Optical system

F1.6 prism system

Built-in filters

ND filter OFF: Clear, 1: 1/8ND, 2: 1/64ND

Sensitivity (2000 lx,


89.9% reflectance)

F10 (typical) (1920 x 1080/59.94i mode)

Minimum illumination

0.14 lx (typical) (1920 x 1080/59.94i mode, F1.9, +18 dB gain, with 64-frame accumulation)

S/N ratio

54 dB (Y) (typical)

Horizontal resolution

1000 TV lines or more (1920 x 1080i mode)

Shutter speed

1/33 to 1/2000 sec.

Shutter angle

180, 90, 45, 22.5, 11.25 degrees

Slow Shutter (SLS)

2-, 3-, 4-, 5-, 6-, 7-, 8-, 16-, 32-, and 64-frame accumulation

Slow & Quick


Motion function

720P Selectable from 1 to 60 fps as recording frame rate 1080P


Selectable from 1 to 30 fps as recording frame rate

Signal inputs/outputs
Audio input

XLR-3-pin (female) (x 2), line/mic/mic +48 V selectable

Composite output

BNC (x1), 1.0 Vp-p, 75 ohms

S-Video output

Y: 1.0 Vp-p, 75 O unbalanced, sync negative

Audio output

RCA type (CH-1,CH-2),-10 dBu (reference level), 47 kO

Component output

Mini D (x 1) Y: 1.0 Vp-p, 75 ohms, Pb/Pr: 0.7 Vp-p, 75 ohms

SDI output

BNC (x 1), HD-SDI/SD-SDI selectable

i.LINK input/output

IEEE1394, 4-pin (x 1), HDV stream input/output, S400

Timecode input

BNC (x1), 0.5 to 18 Vp-p, 10 ohms

Timecode output

BNC (x1), 1.0 Vp-p, 75 ohms

Genlock input

BNC (x1), 1.0 Vp-p, 75 ohms

USB

Mini-B (x 1), USB 2.0 High-speed

Headphone output

Stereo mini-jack (x 1), -20.5 dBu (reference level output, 16 ohms load)

DC input

DC jack

Battery input

5-pin

Remote

8-pin

Built-in microphone
Capsule type

Omni-directional stereo electret condenser microphone

Media slot
Type

ExpressCard/34 (x 2)

Interface

ExpressCard compatible

Built-in LCD monitor


Supplied Accessories
14x zoom lens
Component video cable

IR Remote Commander unit


Lens hood
LO-3830 1/2-inch lens adaptor
Operation manual
Shoulder strap
SxS device driver software
USB cable
XDCAM EX Clip Browsing software

E. Proses Kerja Penata Cahaya


Menurut Ariatama (2008 : 88 ), Gaffer atau juga kadang disebut sebagai Chief
Electrician / Chief Lighting, adalah seorang yang bertugas mengatur tata cahaya atas
permintaan sinematografer. Tugasnya adalah :
1. Menerjemahkan tata cahaya sesuai desain pencahayaan dari arahan
sinematografer.
2. Mengatur cahaya dan merawat peralatan lampu.
3. Membantu pengukuran yang tepat baik lighting ratio, exposure, dan
warna cahaya yang diarahkan oleh sinematografer.
4. Mengkoordinasikan semua hal yang berhubungan dengan listrik
termasuk pengoperasian generator.
Tata cahaya yang baik secara teknik dan artistik merupakan kontribusi yang vital
bagi produksi program televisi. Jenis dan model yang dikehendaki dari pengaturan
cahaya harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan sutradara. Cahaya yang baik
adalah bila hasil dilayar terlihat natural atau tercapai tujuannya.
1. Pra Produksi
Dalam proses pra produksi ini penulis melakukan riset atau survei bersama tim,
menentukan lokasi-lokasi yang dibutuhkan dalam naskah dan yang telah disepakati.
Di dalam hunting lokasi penulis berdiskusi dengan sutradara untuk menentukan
metode pencahayaan yang dibutuhkan. Dikarenakan penulis merangkap sebagai
penata kamera
Langkah-langkah yang dihasilkan pada saat pra produksi dari triangle system
dapat diterapkan oleh penulis dalam mempersiapkan suatu produksi antara lain

menentukan apa yang dibutuhkan oleh seorang penata cahaya, menentukan jenis
lighting apa saja yang dibutuhkan pada saat proses produksi nanti, dan selanjutnya
mencatat apa saja yang dibutuhkan disaat produksi kepada produser.
2. Produksi
Memasuki tahap produksi, penulis memperhatikan hal-hal yang bersifat teknis
dalam produksi drama Desersi, yaitu dengan memperhatikan pencahayaan, antara
lain :
A. Arah Cahaya
Arah cahaya dari pencahayaan akan bergantung pada ketinggian dan sudut
dari sumber cahaya tadi. Arah pencahayaan ini biasanya disebut sebagai down
angle dan up angle.
1. Down Angle
Akan menghasilkan bayangan yang jatuh kearah tubuh (kalau subjeknya
orang).
2. Up Angle
Akan menghasilkan pencahayaan yang kurang lazim, namun dengan
penempatan pencahayaan seperti ini subjek akan kelihatan powerfull dan
gagah.
B. Kualitas Cahaya
Menurut Pintoko dan Umbara (2010:166), Kualitas pencahayaan berkaitan
dengan keras atau lembutnya pencahayaan itu sendiri. Secara garis besar ada dua
kualitas pencahayaan, yaitu hard light dan soft light.

1. Hard Light
Mempunyai karakteristik pencahayaan yang kuat dimana shadow atau
bayangan lebih terlihat jelas.
2. Soft Light
Memiliki karakter sebaliknya, antara pencahayaan dengan bayangan
hanya memiliki perbedaan tipis.
C. Jenis Lighting
Banyak sekali jenis lampu yang digunakan dalam proses pengambilan
gambar atau shooting. Menurut Pintoko dan Umbara (2010 : 168-169) jenis
lampu itu terdiri atas :
1. Blonde
1000-2000 watt, biasanya digunakan sebagai pencahayaan flood
untuk area yang luas.
2. Readhead
650-1000

watt, digunakan sebagai key flood untuk area yang luas

3. Pepper Light
100-1000 watt, lampu dengan intensitas rendah digunakan khusus
untuk key atau fill light
4. HMI (Halogen Metalic Iodine)
HMI menghasilkan cahaya dengan suhu warna 5.500 Kelvin Ini
merupakan jenis lampu kualitas tinggi.
5. Hallogen

100-500 watt, digunakan sebagai key flood jenis lampu ini biasanya
digunakan untuk produksi dengan budgeting rendah.
6. Fresnell
Jenis lampu yang memiliki lensa khusus yang memancarkan.
D. Three Points Lighting
Three Points Lighting terdiri : Key Light, Fill Light, Back Light merupakan
langkah dasar pencahayaan dalam produksi video, film dan foto.
Menurut Pintoko dan Umbara (2010 : 163-164), Key Light :
pencahayaan utama yang diarahkan pada objek. Key light merupakan
sumber pencahayaan paling dominan. Biasanya key light lebih terang
dibandingkan dengan fill light. Dalam desain 3 poin pencahayaan, key
light ditempatkan pada sudut 45 derajat di atas subjek. Fill Light
merupakan pencahayaan pengisi, biasanya digunakan untuk
menghilagkan bayangan objek yang disebabkan oleh key light. Fill
light ditempatkan berseberangan dengan subyek yang mempunyai jarak
yang sama dengan key light. Intensitas pencahayaan fill light biasanya
setengah dari key light. Back Light, pencahayaan dari arah belakang
objek, berfungsi untuk meberikan dimensi agar subjek tidak menyatu
dengan latar belakang. Pencahayaan ini diletakkan 45 derajat di
belakang subyek. Intensitas pencahayaan backlight sangat tergantung
dari pencahayaan key light dan fill light, dan tentu saja tergantung pada
subyeknya. Misal back light untuk orang berambut pirang akan sedikit
berbeda dengan pencahayaan untuk orang dengan warna rambut hitam.

3. Pasca Produksi
Setelah melakukan tahapan produksi, kemudian melakukan yang namanya pasca
produksi, disini penulis sebagai penata cahaya hanya melakukan penulisan proposal
dan membantu kebutuhan tim.

4. Peran dan Tanggung Jawab Penata Cahaya

Shooting adalah melukis dengan cahaya. Unsur cahaya berarti sangat penting
dalam pembuatan film maupun acara televisi. Cahaya tidak selalu berurusan
dengan lampu. Ada sumber cahaya lain selain dari sumber lampu. Secara
sederhana ada dua jenis sumber pencahayaan, yakni pencahayaan alami
(natural) dan pencahayaan buatan (artificial) (Pintoko dan Umbara, 2010 :
161).
Penulis bertanggung jawab dengan hal-hal yang mencangkup pencahayaan seperti
warna, intensitas cahaya dan lain-lain. Disini penulis berperan penuh sebagai penata
cahaya yang juga bertanggung jawab atas segala yang bersangkutan mengenai cahaya
dan penulis juga bertanggung jawab atas lighting apa saja yang harus saya pakai.
Secara teknis tujuan penataan cahaya adalah untuk :

1. Memperoleh pencahayaan dasar sehingga kamera,


2. Mampu melihat obyek dengan jelas
3. Menghasilkan contrast ratio yang tepat, perbandingan antara cahaya
yang kuat dan bayangan tidak menyolok, begitu juga warna-warna yang
terang dengan warna yang gelap
4.

Mengatur suhu warna yang tepat, sehingga warna kulit manusia akan
nampak alamiah.

Menyinari objek artinya memberikan pencahayaan agar objek atau


subjek bisa terlihat jelas sesuai konsep film itu sendiri. Tidak semua
bayangan itu diperlukan dan tidak semua bayangan tidak diperlukan.
Dengan pencahayaan tertentu bayangan bisa dihilangkan,
dikurangi,atau bahkan ditambah. Perlu tidaknya bayangan atau
shadow, lagi-lagi sangat tergantung dari konsep film itu sendiri
(Pintoko dan Umbara, 2010 :162-163).

5. Proses Penciptaan Karya


a. Konsep Kreatif
Pada saat membicarakan konsep kreatif penulis sebagai penata cahaya
memberikan ide kepada tim tentang metode pencahayaan dan apa saja yang
diperlukan dalam proses produksi nanti. Bila dilihat dari konsep yang telah
didiskusikan oleh seluruh tim, penulis menginginkan pencahayaan pada saat
proses produksi nanti telihat natural dan sedikit gelap dengan banyak
menggunakan low key light dikarenakan dalam konsep program ini lokasi
pengambilan gambar yang berada di in door.
Untuk konsep kreatif lainnya pada penataan cahaya penulis membuat efek
siang yaitu melakukan produksi pada malam hari dengan membuat penataan
cahaya seperti siang hari dan juga efek malam yaitu melakukan proses produksi
pada siang hari dengan membuat penataan cahaya seperti malam hari.
b. Konsep Produksi
Shooting adalah proses pengambilan subjek ke dalam media, baik subjek
bergerak atau tidak bergerak untuk kepentingan audio visual (Pintoko dan
Umbara, 2010 : 98).
Cahaya merupakan gelombang elektromagnestis yang diterima oleh indera
penglihatan (mata) yang kemudian diteruskan ke otak yang akan merespon,
menanggapi ransangan cahaya terebut. Sederhananya, tanpa cahaya maka benda
tidak akan kelihatan. Atas dasar itulah, produksi film dan video memerlukan
cahaya agar subyek bisa terlihat.

Pada saat produksi penulis dibantu sutradara menerapkan pencahayaan low


key namun cukup menerangi obyek itu sendiri dan terlihat natural.
c. Konsep Teknis
Di produksi program drama ini, penulis bekerja sama dengan sutradara dan
berada di bawah komandonya. Untuk konsep teknis itu sendiri di berikan sedikit
kesan natural. Penulis melakukan penambahan cahaya supaya objek terlihat lebih
terang di dalam kamera.
Produksi program drama tanpa tata cahaya seperti melukis pada kanvas
namun tak terlihat sama sekali, begitu juga tata suara yang sangat penting dalam
produksi program ini. Video merupakan media untuk merekam gambar dan suara.
Pada saat produksi, penulis banyak menggunakan lighting. Karena lokasi
pengambilan gambar lebih banyak di in door, jadi penulis lebih banyak
menggunakan low key light yaitu cahaya berwarna tungsten dan untuk
mengurangi shadow pada objek penulis menggunakan cahaya berwarna daylight
dari kino flo sebagai fill light.
Fill light di gunakan untuk mengurangi bayangan atau bahkan menghilangkan
sama sekali bayangan yang di timbulkan oleh jenis penyinaran key light, dengan
demikian fill light mampu menghilangkan segala efek yang di timbulkan oleh key
light, penempatan fill light berlawanan dengan posisi key light. Dari posisi
demikian mampu menipiskan atau kalau mungkin menghilangkan bayangan key
light.

Penulis juga memakai kekuatan cahaya fill ini untuk memperhalus cahaya
utama yang dihasilkan oleh key light di semua scene film Desersi ini. Adapun
beberapa peralatan yang membantu dalam proses pencahayaan yaitu :
1. Lampu Blonde
2. Lampu Kino Flo
3. Lampu Red Head
4. Lampu Arri 300
5. Cs stand
6. Alligator Clamp
7. Filters ( CTO,CTB,ND,Amber,Brushed silk,Diffuser)
8. Reflector
9. Kabel Verlenght
10. Sand Bag
11. Genset
12. Kain Hitam
6. Kendala Produksi ( solusi produksi )
Pada proses produksi penulis menemukan beberapa kendala diantara lain karena
film action ini memerlukan banyak shot-shot detail sehingga mengharuskan
banyaknya perpindahan letak kamera sehingga dibutuhkan juga perpindahan dari
lampu-lampu yang ada. Hal ini cukup memakan waktu dalam proses pengerjaannya
dikarenakan juga kurangnya crew di bagian lighting. Untuk kendala non teknis
penulis menemukan seperti hujan yang mengharuskan proses produksi out door
dihentikan karena beresiko pada listrik lampu. Juga ketika proses produksi out door

penulis juga mendapatkan hambatan ketika angin yang bertiup cukup kencang
sehingga lampu-lampu berjatuhan walaupun sudah dipasang sand bag. Kendala non
teknis lainnya yg penulis temukan ketika di suatu tempat semua lampu tidak dapat
menyala sehingga terpaksa berpindah tempat. Kendala lain ketika crew melakukan
kesalahan dengan putusnya salah satu bohlam blonde dan arri 300.

LEMBAR KERJA PENATA CAHAYA


1. Konsep Penata Cahaya
2. Lighting Sheet
3. Floor Plan Penata Cahaya
4. Spesifikasi Lighting

KONSEP PENATA CAHAYA


Konsep penulis sebagai penata cahaya dalam karya ini adalah membuat hasil
gambar yang tidak under dan over. Penulis selalu ingin bekerja sama menganalisis
dengan seluruh kru dan sutradara dalam blocking lampu, arah cahaya dan kualitas
cahaya yang baik dan tepat dalam karya ini.
Dalam tugas drama action ini penulis akan menggunakan lampu-lampu yaitu
Blonde 2000w, RedHead 800w, Kino Flo Select 4 banks dan Arri 300 dikarenakan
setelah berdiskusi dengan tim dan menyesuaikan dengan budget yang ada.
Untuk penataan cahaya penulis menggunakan lampu Blonde dan RedHead dan
Kino Flo sebagai key light, RedHead sebagi back light, Kino Flo dan Blonde sebagai
fill light. Sedangkan untuk Arri 300 digunakan sebagai hair light dan juga back light.
Sebuah karya akan bagus hasilnya apabila menggunakan arah cahaya dan kualitas
cahaya makan penulis akan memadukan semua ini dalam produksi drama ini untuk
memperkuat kualitas gambar dan karakter.

LIGHTING SHEET
Production Company : BSI
Project Title
: Desersi
Durasi
: 30 Menit
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Scene
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2

Shot
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
1
2
3
4
5
6
7
8

Key Light
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB

Produser
Director
Lightingman
Back Light
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB

: Diah Ayu
: Farid Irawan
: Eko Hariansyah

Fill Light
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser

Notes

24
25
No
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53

2
2
Scene
2
2
3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
5
5
5
5
5
5
5
6
6
6
6
6
6
7
7

9
10
Shot
11
12
1
2
3
4
1
2
3
4
5
6
7
1
2
3
4
5
6
7
1
2
3
4
5
6
1
2

Key Light

Arri 300w + Diffuser


Arri 300w + Diffuser
Arri 300w + Diffuser
Arri 300w + Diffuser
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + Diffuser
Blonde 2000w + Diffuser
Blonde 2000w + Diffuser
Blonde 2000w + Diffuser
Blonde 2000w + Diffuser
Blonde 2000w + Diffuser
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB

Back Light

Red Head 800w + CTB


Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB

Kino Flo 4 banks + Diffuser


Kino Flo 4 banks + Diffuser
Fill Light
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser

Kino Flo 4 banks + Diffuser


Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser

Notes

54
55
56
No
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83

7
7
7
Scene
7
7
7
8
8
8
8
8
9
9
9
9
9
9
9
9
9
9
10
10
10
10
10
10
10
10
10

3
4
5
Shot
6
7
8
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Blonde 2000w + CTB


Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Key Light
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 20002 + Amber
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB

Back Light

Red Head 800w + Brush Silk


Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + Brush Silk
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB

Kino Flo 4 banks + Diffuser


Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Fill Light
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser

Notes

84
85
86
87
No
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113

10
10
10
10
Scene
10
10
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
12
12
12
12
12
13
13
13
13
13
13
13
13
13

10
11
12
13
Shot
14
15
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Blonde 2000w + CTB


Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Key Light
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB

Red Head 800w + CTB


Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Back Light
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Arri 300w +CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB

Kino Flo 4 banks + Diffuser


Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Fill Light
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser

Notes

114
115
116
117
118
No
119
120
121
122
123
124

13
13
13
13
13
Scene
13
13
13
13
13
13

10
11
12
13
14
Shot
15
16
17
18
19
20

Blonde 2000w + CTB


Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Key Light
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB
Blonde 2000w + CTB

Red Head 800w + CTB


Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Back Light
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB
Red Head 800w + CTB

Kino Flo 4 banks + Diffuser


Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Fill Light
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser
Kino Flo 4 banks + Diffuser

Notes

SPESIFIKASI LIGHTING
RED HEAD

Spesifikasi Teknis:
.
mengetikkan
source:

Open-Face

daya:

800 watt

tegangan:

100-240V

suhu warna:

3200K

bohlam soket:

R7s 80mm

spot / banjir
sudut:

38 / 62

lux daya dalam

3m:

5m:

7m:

mode olahraga 38 :

6400 lx

2400 lx

1380 lx

lux daya dalam

3m:

5m: lx

7m:

modus banjir 62 :

1380 lx

570

295 lx

mount:

klepnya 16mm (5 / 8 "receiver)

kabel listrik:

7.0m dengan in-line menerangi

ONF / OFF
perlindungan kelas:

IP20, CE & RoHS

Bahan:

aluminium

Warna:

merah

Berat Produk:

2.0 kg

paket Berat:

2,5 kg

produk dimensi
(HxWxL):
paket dimensi
(HxWxL)

228 x 228 x 170 mm

BLONDE

Spesifikasi Teknis:
.
mengetikkan
source:

Open-Face

daya:

1000 watt

tegangan:

100-240V

suhu warna:

5600K

bohlam soket:

R7s 100mm

spot / banjir
sudut:

38 / 62

lux daya dalam

3m:

5m:

7m:

mode olahraga 38 :

6400 lx

2400 lx

1380 lx

lux daya dalam

3m:

5m: lx

7m:

modus banjir 62 :

1380 lx

570

295 lx

mount:

klepnya 16mm (5 / 8 "receiver)

kabel listrik:

7.0m dengan in-line menerangi


ONF / OFF

perlindungan kelas:

IP20, CE & RoHS

Bahan:

aluminium

Warna:

Kuning

Berat Produk:

4.0 kg

paket Berat:

4,5 kg

produk dimensi
(HxWxL):
paket dimensi
(HxWxL)

228 x 228 x 170 mm

KINO FLO SELECT 4 BANKS

The 4-Lamp Fixture


Built-in Barndoors
Removable Lamp Harness,
Reflector and Louver
Twist-on, locking Center Mount
True Match daylight and
tungsten lamps
The High Output Ballast
Select and Select/DMX
HO/Standard switching
Flicker-free, remote operation
Individual lamp control
Instant-on, dead quiet

4Bank System Highlights


4-Lamp remote fixture w/ built-in barndoors
Fixture includes removable Lamp Harness, Reflector and Louver
Same fixture takes daylight and tungsten lamps, plus visual effects color lamps
Mounts to stand, light enough to tape to wall
Removable center-mount
Fixture or lamps w/ harness run up to 75 feet (24 meters) from ballast
High-output, flicker-free ballasts
Instant-on, dead quiet
Individual lamp switching - no color shift
HO/Std switching
Same ballast runs 4ft and 2ft lamps

Operates at 1/10th the power of conventional tungsten softlights


UL listed, CE approved

ARRI 300 FRESNEL

The ARRI Fresnel series is ideal for use where compact, lightweight tungsten Fresnel
spotlights are required, especially in small studios where grid height is a problem.
Classic ARRI construction, using corrosion-resistant, extruded, die cast aluminium,
maximises body strength while maintaining the light weight of a location fixture.
Despite the small size of ARRI Fresnels, their short focal length, wide angle lenses
produce impressive light output and good light distribution over the full beam area.
ARRI Fresnels are available in both manual and pole-operated versions.

F. Proses Kerja Editor ( Penyunting Gambar )


Editor merupakan ujung tombak terciptanya sebuah film. Dimana seorang editor
menyunting potongan-potongan gambar yang diambil saat proses produksi. Masa
penyuntingan merupakan proses yang panjang antara editor dengan sutradara juga
ilustrator musik.
Menurut Effendy (2009:102) Editor ialah orang yang bertanggung jawab untuk
mendapatkan seluruh potongan gambar dan mengaturnya ke dalam kesatuan yang
koheren.
Seorang editor yang kreatif dapat menyelamatkan atau minimal meningkatkan
versi akhir film. Agar tercipta suatu kolaborasi gambar yang baik, seorang editor
harus mampu memanjakan mata penonton dengan adegan-adegan yang semenarik
mungkin. Memanipulasi peristiwa untuk jadi lebih baik atau lebih buruk merupakan
tujuan dari editing dan inilah yang disebut seni visual.
1. Pra Produksi
Tahap pra produksi merupakan tahapan penting dalam proses pembuatan karya
audio visual. Pada tahap ini dibuatnya pembentukan kru. Agar tercipta kerjasama
yang maksimal, kesamaan visi misi dengan orang-orang yang memiliki pemikiran
yang sama adalah hal utama.
Penulis bersama kru melakukan pemilihan ide cerita dan alur ceritanya. Penulis
naskah mengembangkan ide tersebut. Dari hasil pengembangan naskah dan naskah
terbentuk, lalu diajukan kepada dosen pembimbing. Setelah disetujui, naskah

dibagikan untuk dibedah ke tiap deparment dan oleh penulis naskah tersebut
dipelajari.
Sekalipun proses editing dilakukan pada tahap pasca produksi, namun seluruh
keperluan untuk proses ini dirancang dan dipersiapkan semenjak tahap produksi.
Penulis merancang tahapan editing untuk didiskusikan guna memberi masukan
kepada sutradara dalam suatu gaya pengemasan karya yang akan dibuat.
Pada pra produksi ini juga, penulis sudah mempersiapkan perangkat hardware,
software dan alat atau media apa saja yang akan dipakai saat proses di meja editing.
2. Produksi
Produksi merupakan proses penciptaan visual dari sebuah naskah menjadi sebuah
gambar sesuai dengan keinginan sutradara. Dalam produksi, penulis sebagai seorang
editor juga turut andil untuk mengingatkan sutradara apabila ada shot yang terlewat di
dalam pengambilan gambar. Penulis juga memberi saran kepada sutradara untuk
membuat shot tambahan seperti detail-detail shot suatu adegan agar memudahkan
penulis saat pasca produksi.
Saat produksi penata kamera memakai kamera Sony PMW-EX3 dimana hasil
gambar terekam dalam memory card, setiap kali kamera melakukan take dan cut
maka mentahan gambar akan terpotong dengan sendirinya, menjadi potonganpotongan tiap shotnya. Dan setiap pergantian scene penulis memback-up data
tersebut. Pencatatan adegan dan potongan-potongan shot tersebut serta gambaran
mengenai hasil film sudah ada dalam pemikiran penulis. Jadi penulis sudah tahu
mana shot yang bagus dan mana yang tidak.

3. Pasca Produksi
Melangkah ke tahap pasca produksi yaitu proses editing. Proses editing
merupakan proses akhir dalam pembuatan suatu karya audio visual. Disini penulis
dituntut untuk menciptakan keselarasan gambar.
Dalam urusan audio, mulai dari musik ilustrasi, ambience dan soundtrack penulis
percayakan kepada penata suara yang merangkap sebagai ilustrator musik. Tetapi
penulis tidak lepas tangan begitu saja, tetap bekerjasama dengan penata suara untuk
menghasilkan audio visual yang dapat dinikmati oleh penonton.
Pengerjaan kegiatan pasca produksi ini dikerjakan menggunakan software editing
Adobe Premiere Pro Creative CS5.5 dan untuk animasinya penulis menggunakan
Adobe After Effects Creative CS5.5, dikarenakan versinya yang sama dengan Adobe
Premiere dan kompatibilitas workspace yang mudah. Kedua software tersebut samasama keluaran Adobe Systems Inc.
Langkah-langkah kerja yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :
A. Off line
Proses tahapan awal bagi seorang editor, dimana editor mulai melakukan
proses editing dari bahan baku yang masih bersifat kasar sampai proses fine cute
(menyusun atau merapihkan gambar)
Dalam hal ini tidak ada capture karena saat produksi menggunakan kamera
yang memakai memory card, mempermudah untuk memulai tahap di meja
editing.

1. Logging
Logging secara sederhana berarti pencatatan time code seluruh shot hasil
shooting. Dikarenakan tidak adanya capture dalam proses ini, memudahkan
penulis ketika melakukan penyuntingan gambar karena materi gambar sudah
terbagi dalam setiap shotnya.
2. Assembling
Pada tahap ini editor mulai menyusun dan menyambung setiap shot
berdasarkan urutan scene pada skenario. Penyambungan yang dilakukan masih
sangat kasar dan masih menggunakan durasi yang sebenarnya.
3. Rough Cut
Tahap rough cut, editor memotong dan membuang adegan-adegan yang tidak
dipakai dan merangkumnya menjadi satu alur cerita. Lalu memilih shot-shot yang
dianggap sudah mewakili apa yang dibutuhkan skenario dari sekian banyak shot
yang nantinya untuk disusun.
4. Fine Cut & Triming
Fine cut merupakan penghalusan dari rough cut. Editor merapihkan setiap
potongan antar shot yang masih kurang rapih. Dalam tahap ini editor memberikan
efek-efek atau transisi sebagai penyambungan atau perpindahan shot dan scene.
Tujuan dari fine cut agar alur cerita tersusun baik dengan insert shot yang tepat.
B. On line
Pada tahap ini seorang editor mulai memperhalus hasil offline, memperbaiki
kualitas hasil dan memberikan tambahan transisi serta efek khusus yang
dibutuhkan. Ditahap ini kerangka cerita dan alur cerita juga sudah terbentuk dari

potongan gambar yang sudah tersusun ditahap sebelumnya. Kemudian seorang


editor menyempurnakan dan memperindah dari sisi penyajian gambar maupun
suara.
1. Colour Grading
Proses pengkoreksian gambar.
2. Titling
Pada tahap pemberian title dan pemunculan nama pamain saat opening, editor
menggunakan software Adobe After Effects Creative CS5.5,
3. Audio mixing
Proses audio mixing yaitu menyatukan dan menyelaraskan suara sekaligus
memberikan ilustrasi musik serta sound effect di setiap scenenya. Agar gambar
menjadi lebih hidup jika diberi sentuhan audio.
4. Realese master
Pada tahapan ini proses editing sudah benar-benar sempurna. Hasil akhir di
ekspor kedalam bentuk movie dan di burning dengan Nero Express 8 Version 8.3.2.1
4. Peran dan Tanggung Jawab Editor
Menurut Sartono (2008:229) Editor bertanggung jawab untuk editing program
yaitu mengumpulkan, memilih, memotong, menyambung gambar-gambar hasil
shoting dan mengurutkan, menata gambar dan suara, music backsound, sound effect
sesuai dengan naskah program sehingga menghasilkan hasil produksi program yang
berkualitas tidak jumping dan dapat dinikmati. Oleh karena itu seorang editor
diharapkan memiliki kemampuan dan keahlian yang memadai. Demikian pula juga

harus memiliki ketahanan fisik yang baik, karena dituntut bekerja keras untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Secara rinci peran dan tanggung jawab serta kualifikasi
kemampuan seorang editor adalah sebagai berikut.
a. Membuat perencanaan kreatif dan keputusan teknis.
b. Mempersiapkan peralatan editing.
c. Mengoperasikan peralatan mesin editing.
d. Mengoperasikan mesin editing dengan sistem linier berbasis digital.
e. Mempersiapkan EDL (editing decision list) dalam proses editing.
f. Mengedit material hasil pengambilan gambar untuk kebutuhan penyiaran
yang mendesak.
g. Mengedit dialog dan suara.

Menurut Pintoko dan Umbara (2010:200) Dengan editing memungkinkan


terciptanya alur yang halus karena editing dapat memberi penekanan pada suatu
informasi atau justru menghambat suatu informasi. Yang perlu diperhatikan pada
saat editing adalah :
a. Moment yang dipilih untuk diganti dari sat shot ke shot lainnya (cutting point)
b. Bagaimana pergantian shot tersebut (cut, mix, dsb) dan kecepatan transisi.
c. Sequence dan durasinya
d. Mempertahankan kualitas gambar yang baik dan kesinambungan audio.
Jadi elemen yang terdapat pada suatu film merupakan tanggung jawab seorang
editor. Dimana seorang editor dituntut untuk menghasilkan keselarasan gambar agar
film dapat dinikmati penonton.

5. Proses Penciptaan Karya


a. Konsep kreatif
Konsep kreatif penulis dalam mendesain potongan-potongan gambar menjadi
sebuah alur cerita yang dapat dinikmati penonton yaitu dalam hal pengeditan
menggunakan teknik editing continuity. Yang dimana bertujuan agar memberikan
sebuah sebuah penuturan cerita yang jelas, serta metode penyambungan cut to
cut, dissolve, dan dip to black.
Cut to cut, yang dimana dapat memberikan sebuah pergerakan yang dinamis,
mengingat adegan action seperti perkelahian dan penembakan memerlukan waktu
yang sangat cepat dan singkat namun secara teknis, hasil dari pergerakan dapat
dilihat jelas oleh penonton.
Dalam hal ini penulis memberikan trik khusus agar adegan perkelahian
terlihat lebih real dengan menggunakan tehnik momotong 1-2 frame pada saat
berkelahi. Dissolve digunakan pada saat transisi antara scene terakhir dengan
pemunculan grafis credit title di akhir film. Sementara Dip to black digunakan
untuk transisi perpindahan scene yang dimana scene sebelum dan scene
sesudahnya memiliki film time yang lama, dengan adanya perbedaan emosi.
Pemunculan grafis berupa nama pemain, judul film dan credit title
eksekusinya dengan sentuhan After Effect merupakan konsep kreatif penulis.
Pengemasan isi konten dengan adegan baku tembak juga diberi sentuhan After
Effect agar terlihat real.

b. Konsep Produksi
Dalam mensiasati jalannya produksi, penulis sebagai seorang editor juga turut
andil untuk mengingatkan sutradara saat shooting apabila ada shot yang terlewat
di dalam pengambilan gambar. Penulis juga memberi saran kepada sutradara
untuk membuat shot tambahan seperti detail-detail shot suatu adegan agar
memudahkan penulis saat pasca produksi.
Memback-up data setiap selesai shooting tiap scenenya memudahkan penulis
dimeja editing untuk mengetahui mana stock shot gambar yang bagus dan mana
yang tidak.

c. Konsep Teknis
Pengerjaan kegiatan pasca produksi ini dikerjakan menggunakan software
editing Adobe Premiere Pro Creative CS5.5 dan untuk animasinya penulis
menggunakan Adobe After Effects Creative CS5.5, dikarenakan versinya yang
sama dengan Adobe Premiere dan kompatibilitas workspace yang mudah. Kedua
software tersebut sama-sama keluaran Adobe Systems Inc.
Dengan penambahan RAM Corsair Vengeance 2x4 Gb DDRIII PC1600, total
RAM 8 Gb, out of memory akan jarang dijumpai. Memudahkan kerja penulis saat
melakukan pengeditan.
6. Kendala Produksi ( solusi produksi )
Dalam hal ini penulis tidak mengalami kendala yang berarti.

LEMBAR KERJA EDITOR :


1. Konsep Editing
2. Laporan Editing
3. Logging Picture
4. Proses Pembuatan Program ID
5. Spesifikasi Alat Editing

PROSES PEMBUATAN ID
1. Colour Bar

2. Logo BSI

3. Program ID

4. Counting Leader

5. Judul Program

6. Content

7. Kerabat Kerja

8. Thanks To

9. Copyright

10. CV Crew

SPESIFIKASI EDITING

HARDWARE
1. Processor

: Intel Core i7 2600K (3.4 GHz, C6Mb, LGA 1155)

2. RAM

: Corsair Dominator CMP8GX3M2A1600C9 2x4 Gb DDRIII

3. Hardisk

: WDC Sata III Caviar Black 1 TB (64Mb 10.000 Rpm)

4. Motherboard

: ASRock Z77 Extreme 4 Gen3 (LGA 1155)

5. VGA

: Nvidia Quadro 600 1Gb 128 Bit

6. Soundcard

: Sound Blaster X-FI Xtreme Audio Sound Card

7. PSU

: Seasonic 650W X650 80 Plus Gold Module

8. Monitor

: Acer X223W 22 (1920 x 1080 @ 60 Hz)

9. Audio

: a. Speaker

b. Headphone

: Simbadda CST 6100

: Philips SHP 2500

10. Keyboard

: Logitech Classic Keyboard K100

11. Mouse

: Logitech Optical Mouse USB M100

12. Dvd Drive

: LG HL-DT-ST DVDRAM GH24NS70

13. Card reader

: SxS SBAC-US10

SOFTWARE
Operating System

: Windows 7 Ultimate x64 with Service Pack 1

Editing Video

: Adobe Premiere Pro CS5.5 Version 5.5.2

Editing Audio

: Adobe Audition CS5.5 Version 4.0 Build 1815

Visual Effect & Titling

: Adobe After Effects CS5.5 Version 10.5.0.253

Image Editor

: Adobe Photoshop CS5.1 (64 Bit) Version 12.1 x64

DVD Authoring

: Encoding to VOB output with Canopus Pro Coder 3


Version 03.00.50.00 and direct burning with Nero
Express 8 Version 8.3.2.1

G. Proses Kerja Penata Audio


Penata suara merupakan sesorang yang mendesain dan memperindah sebuah
gambar dengan memberikan sentuhan seperti musik ilustrasi, sound effect juga theme
song untuk memperkuat isi cerita. Di dalam suatu produksi peranan audio seringkali
diabaikan, padahal peranan audio dalam sebuah tampilan visual sangatlah penting.
Menurut Soeprapto (2006:73) mengungkapkan bahwa Penata suara adalah
seseorang yang mengoperasikan peralatan audio yang akan digunakan pada saat
shooting dan dalam kegiatan paska produksi bertanggung jawab terhadap porsi suara
termasuk bunyi-bunyian seperti musik ilustrasi dan theme song.
Seorang penata suara harus mengerti dengan peralatan yang ia pakai saat proses
produksi juga cara mengoperasikan peralatan tersebut. Di dalam pasca produksi,
penata suara bekerjasama dengan penyunting gambar (editor) di meja editing untuk
menyeimbangkan antara dialog, atmosfer dan juga musik ilustrasi di setiap scenenya.
Theme song, sound effect dan musik ilustrasi sebelumnya sudah disiapkan oleh
penata suara, lalu dikonsultasikan kepada sutradara dan editor. Suara yang baik dan
bagus apabila suara-suara seperti theme song dan musik ilustrasi larut dalam alur
cerita tanpa disadari oleh penonton bahwa ada musik dalam visual tersebut.
1. Pra Produksi
Pra produksi merupakan tahapan awal untuk proses pembuatan suatu karya, yang
dimana 70 persen dari keseluruhan proses shooting ada dalam pra produksi. Pada
tahap ini pembentukan kru dibuat, kesamaan visi misi adalah yang utama agar
tercipta kerjasama yang maksimal. Setelah itu menentukan pemilihan genre film, ide

cerita serta alur cerita yang seperti apa. Setelah diajukan kepada dosen pembimbing
dan cerita disetujui, naskah dibagikan untuk dipelajari lalu dibreakdown di tiap-tiap
department.
Pada tahap pra produksi ini seorang soundman bertugas merancang tata suara
sehingga mampu menghasilkan suasana yang diinginkan oleh sutradara dan
digariskan oleh skenario. Menurut Widagdo dan Gora S (2004:2) mengemukakan
bahwa Suara berfungsi sebagai sarana penunjang untuk memperkuat atau
mempertegas informasi yang hendak disampaikan melalui bahasa gambar.
Penulis memperhatikan hal dalam mendesain tata suara, desain tata suara yang
baik memuat ketiga elemen sejak awal yaitu apakah dialog akan direkam langsung
atau tidak, apakah film perlu musik dan yang terakhir bagaimana akan menyusun
efek suara. Penulis juga mempersiapkan apa yang dibutuhkan saat keperluan
produksi, mulai dari alat apa saja yang akan dibutuhkan serta mengumpulkan materi
seperti musik ilustrasi, sound effect, serta mencari lagu indie yang cocok untuk
dijadikan theme song sebelum mencapai tahap pasca-produksi di meja editing.
2. Produksi
Dalam produksi, pembuatan sebuah film merupakan kerja kolektif. Tiap kru
menyumbangkan keahlian di jobdesk masing-masing sesuai dengan terjemahan visi
sutradara terhadap skenario. Saat produksi, sutradara memerlukan penata suara
(soundman) untuk menghasilkan suara yang jernih dan jelas (exposed) di lokasi
syuting. Proses perekaman dialog dilakukan secara langsung (direct sound)
menggunakan Clip On, boomer serta Phantom, Clip on untuk mengambil suara

dialog dari si talent, boomer untuk mengambil ambience-nya seperti langkah kaki,
pintu tertutup dan lain-lain dan Phantom untuk peredam Noise. Untuk pengaturannya,
penulis mengontrol suara menggunakan mixer dan mendengarkan suara melalui
headphone.
Dalam jobdesk penata suara ini, penulis fokus memonitoring kualitas suara dan
meminimalisir noise. Dengan kru inti yang hanya berjumlah tujuh orang, penulis
membutuhkan kru tambahan untuk ditempatkan sebagai operator boom. Penulis tidak
lepas tangan begitu saja, tetap mengarahkan letak arah dan jarak microphone dengan
objek.
Perekaman suara dengan cara direct sound terkadang hasilnya tak sesuai
keinginan. Jadi, jika penulis merasa saat pengambilan dialog itu kurang bagus,
penulis meminta kepada sutradara untuk mengulang dialog tersebut.
Ada beberapa yang perlu diperhatikan dalam direct sound yaitu kondisi
lingkungan harus mendapatkan perhatian paling utama karena atmosfer lingkungan
atau suara-suara yang tidak diinginkan bisa ikut terekam, untuk itu sebelum take
penulis meminta seluruh kru menjaga ketenangan.
3. Pasca Produksi
Pasca produksi merupakan proses akhir sebelum terciptanya suatu film. Di tahap
ini editor menyunting gambar, membuat kesatuan visual yang indah untuk
memanjakan mata penonton. Sama halnya dengan penata suara, pasca produksi ini
penulis berperan sebagai ilustrator musik. Setelah semua dialog dan efek suara
lengkap, penulis membantu editor untuk meletakkan semua elemen suara agar

sinkron atau sesuai dengan rekaman gambar dan suasana yang diinginkan di tiap
scene-nya, serta memilih suara yang layak untuk didengar dan dinikmati oleh telinga
si penonton.
Askurifai Baksin dalam bukunya yang berjudul Videografi (2009:189-192)
menjelaskan sebagai berikut.
Pada umumnya audio pada tampilan visual terdiri atas :
a. Dialog
Adalah hasil recording audio berupa percakapan. Proses recording dapat
dilakukan langsung pada saat pengambilan gambar (direct sound).
b. Voice Over
Adalah rekaman monolog untuk memperkuat alur cerita atau menceritakan
tentang isi tampilan visual bila diperlukan. VO ini dilakukan distudio rekaman oleh
pelaku cerita atau orang lain yang sama sekali tidak berhubungannya dengan film
tersebut.
c. Soundtrack
Dalam perkembangan tampilan visual, musik tidak hanya sekedar pengisi latar
saja, namun sudah menjadi bagian utuh, bahkan mempunyai nilai jual tersendiri
(lepas dari isi film).
Soundtrack bisa dibagi dalam tiga jenis :

1. Musik Opening
Musik pembuka dari suatu film/video. Bila merupakan cuplikan dari musik
tema atau sama sekali berbeda dengan musik tema (tergantung kepada tujuan/alur
yang akan dibangun)
2. Theme Song
Musik tema sering dihubungkan dengan isi film melalui lirik atau irama yang
dikaitkan dengan tema film/video.
3. Music Scoring/Ilustrasi
Musik/sound/latar untuk memperkuat isi cerita
d. Sound Effect
Sound effect dibagi menjadi dua, yakni natural sound effect dan special effect.
1. Natural Sound Effect
Adalah hasil rekam dari suara-suara yang terjadi sehari-hari, misalnya
suara gemuruh, ketuk pintu dan lainnya
2. Special Effect
Jenis audio ini merupakan hasil audio processing yang digunakan untuk
menambah efek dramatik yang pada kenyataan sehari-hari tidak akan pernah
menemuinya. Misalnya, efek pukulan, desing peluru, dan lainnya.

Dalam pasca produksi ini penulis dituntut untuk mengkomposisikan musik,


memperpadukan dengan sound effect. Membuat musik ilustrasi yang membangkitkan
emosi penonton.

4. Peran dan Tanggung Jawab Penata Suara


Di dalam suatu produksi peranan audio seringkali diabaikan, padahal peranan
audio dalam sebuah tampilan visual sangatlah penting. Kata audio visual dapat
diartikan penggabungan antara unsur gambar dan suara, jadi apalah arti tampilan
visual jika tanpa adanya audio.
Menurut Sartono (2008:225) Seorang penata suara dan sound effect dituntut
memiliki kemampuan secara teknik dan instalasi peralatan sound system yang
diperlukan untuk keperluan produksi program TV di dalam studio
rekaman maupun di luar studio. Oleh karena itu seorang penata suara dan sound
efek diharapkan memiliki kualifikasi sebagai berikut.
a. Mengoperasikan sistem penguat suara
b.Memadukan sumber-sumber suara
c.Menghilangkan derau/noise pada soundtrack
d.Mengoperasikan sound mixing console
e.Menyunting suara menggunakan sistem digital
f.Memasang, mengoperasikan dan membongkar perangkat perekam suara portable
g.Merinci soundtrack
h.Menciptakan keharmonisan suara akhir
i.Mengembangkan dan menerapkan produksi suara untukrekaman
j.Mengatur produksi disain suara

k.Mempersiapkan dan mengkompilasi musik untuk soundtrack


l.Mengarahkan pembuatan master audio final
m.Menerapkan disain suara
n.Menetapkan spesifikasi sound system
o.Mengawasi operasional yang bersifat teknis
p.Memperbaiki dan memelihara peralatan audio
q.Mengoperasikan peralatan audio profesional.
r.Memadukan audio untuk siaran langsung
s.Menerapkan pengetahuan umum audio untuk kegiatan kerja

Hasil rekaman suara selama proses shooting di lokasi merupakan tanggung jawab
dari penata suara. Penata suara harus mampu mengamankan lokasi shooting dari
segala kemungkinan gangguan suara. Peran dan tanggung jawab penata suara tidak
hanya sampai disitu, sebelum produksi penata suara sudah harus me-list peralatan apa
saja yang akan dipakai, mengerti fungsi dari alat-alat tersebut serta harus bisa
mengoperasikannya.
Dalam proses editing peran penata suara berubah menjadi ilustrator musik,
dimana penulis harus berdiskusi dengan sutradara dan editor tentang konsep musik,
mulai dari theme song sampai sound effect. Penulis membuat beberapa option
ilustrasi musik pada setiap scene. Menyusunnya dalam bentuk folder yang sudah
penulis siapkan saat pra produksi.

Penulis juga menyiapkan sound effect. Untuk natural sound effect dan special
effect sebagian ada yang penulis buat sendiri dibantu oleh editor, seperti efek
pukulan, tendangan dan sebagian penulis ambil dari library.
Jadi seluruh elemen suara yang terdapat pada drama televisi Desersi adalah
tanggung jawab dari penata suara, bagaimana penulis menjalankan peran itu dengan
benar agar menghasilkan sebuat karya audio visual yang layak untuk dinikmati dan
didengar oleh penonton.
5. Proses Penciptaan Karya
a. Konsep Kreatif
Minimnya yang memilih genre action sebagai karya Tugas Akhir membuat
penulis dan tim tertantang untuk membuat suatu karya yang berbeda dari yang
lainnya. Maksudnya berbeda disini dengan menyajikan alur twist yakni alur yang
memutarbalikkan pemikiran penonton, sehingga penonton dapat terkecoh dengan
jalan pemikirannya sendiri.
Sebagai seorang Soundman, penulis ingin menampilan musik yang berbeda di
setiap scene. Mulai dari pemilihan music opening, ambience, music illustration,
sound effect sampai soundtrack. Dalam hal musik ilustrasi, dengan dukungan gambar
yang memanjakan mata penonton, penulis menyuguhkan musik dengan tempo musik
yang membangun alur cerita dan emosi penonton.
Sedangkan untuk sound effect ada beberapa yang penulis buat sendiri untuk
menghasilkan efek suara yang terdengar real dan ada juga yang penulis ambil dari
library. Theme song dalam drama televisi Desersi ini, penulis menggunakan lagu

indie berjudul Pengkhianat yang dibawakan oleh band Captain Jack. Lirik yang
menggambarkan penghkianatan yang diperankan oleh salah satu main talent cocok
dengan tema film ini serta dimaksudkan sebagai bagian dari identitas film Desersi.
b. Konsep Produksi
Pada proses ini penulis menyiapkan peralatan audio yang dipakai untuk shooting.
Penulis fokus memonitoring suara saat shooting berjalan. Sebelum shooting dimulai,
penulis selalu memastikan clip on yang dipakai oleh talent terpasang dengan benar
agar suara yang dihasilkan baik. Juga memastikan koneksi kabel audio pada mixer
tersambung dengan kamera.
Dalam menyiasati jalannya produksi, penulis menempatkan kru tambahan yang
ditempatkan sebagai operator boom. Sebelum take dimulai penulis mengarahkan
posisi dan jarak microphone dengan objek. Pada pembuatan film ini, penulis juga
merangkap jobdesk sebagai make up talent.
c. Konsep Teknis
Saat produksi penulis menggunakan alat yang terdiri dari mixer, boom mic, clip
on wireless dan phantom. Penulis ingin sound terkontrol dengan sebaik mungkin agar
suara yang dihasilkan jelas (exposed).
Saat pasca produksi penulis menciptakan efek suara seperti pukulan, tendangan
menggunakan software Garage Band kemudian di export kedalam format WAV.
Dalam me-looping musik ilustrasi, penulis menggunakan software virtual DJ Pro 7
dan untuk mengkomposisikan musik ilustrasi tersebut, penulis mengkomposisinya
menggunakan software Adobe Auditions CS5.5.

Penulis memilih software ini karena software tersebut sudah termasuk standar
broadcast. Software ini masih dalam keluarga Adobe Inc yang dimana workspacenya
kompatibel dengan Adobe Premiere Pro Creative CS5.5 yang dipakai oleh editor
untuk menyuting gambar. Serta hardware yang penulis pakai yaitu Netbook Asus
1215P Eee PC Seashell Series dan Macbook White.
6. Kendala Produksi dan Solusi
Bukan produksi namanya jika tidak ada kendala. Di dalam suatu produksi pasti
ada saja kendala di masing-masing jobdesknya, kendala yang penulis alami saat
produksi yaitu transmitter clip on rusak sehingga sinyalnya menjadi hilang. Mic
wireless bawaan dari clip on tersebut juga menghasilkan suara yang sangat
mengganggu. Sehingga saat pengambilan dialog menghasilkan noise.
Solusi dari permasalahan tersebut yakni penulis mengakalinya dengan
menggunakan transmitter clip on secara bergantian untuk kedua talent tersebut. Serta
mic wireless penulis ganti dengan mic cadangan yang lainnya.

LEMBAR KERJA PENATA SUARA


1. Spesifikasi Kebutuhan Audio Produksi
2. Konsep Audio dan Soud Ilustrasi

H. Proses Kerja Penata Artistik


Menurut Aritama (2008:109), Art director secara teknis adalah koodinator
lapangan yang melaksanakan eksekusi atas semua rancangan desain tata
artistik/gambar kerja yang menjadi tanggung jawab pekerjaan production designer.
Seluruh proses penyediaan material artistik sejak persiapan hingga berlangsungnya
perekaman gambar dan suara saat produksi menjadi tanggug jawab seorang Art
Director.
Menurut Biran (2010:36), Seorang art director harus mempersiapkan unsurunsur media visual yang dimaksud dengan media dan gambar visual adalah segala
sesuatu yang diinfomasikan bagi mata.
Seorang art director merupakan orang yang dalam pembuatan film menyiapkan
semua bahan informasi visual sesuai dengan tuntutan sekenario. Biran (2010 : 22)
Menurut Saroenggalo (2008:139), Pengarah artistik sering juga
disebut dengan desainer artistik atau desainer produksi, adalah orang
yang bertanggung jawab mengepalai departemen artistik. Dialah yang
bertanggung jawab atas keseluruhan look dari film yang akan di
produksi. Oleh karena itu, seorasng pengarah artistik harus bias
bekerja berdampingan dengan sutradara, pengarah fotografi, dan
prakiraan anggaran yang sudah ditentukan.

Set dalam film umumnya dimengerti merupakan sebuah temnpat kejadian atau
peristiwa dalam cerita. Lebih tepatnya satu atau banyak ruang dalam cerita tempat
terjadinya banyak adegan set bisa direkayasa sesuai kebutuhan cerita. Tak harus
tempat yang sesungguhnya dalam kenyataan. Karena set dalam cerita merupakan
imajenasi penata artistik.

1. Pra Produksi
Pada tahap ini penulis bersama sutradara dan penata kamera melakukan meeting
praroduksi untuk menentukan lokasi, wadrobe, dan property yang akan digunakan.
Selain itu Penulis juga melakukan hunting lokasi ke beberapa tempat yang sekiranya
bias dijadikan lokasi syuting. Ada pun beberapa tugas seorang penata artistik adalah :
a. Menjadi koordinator teknis eksekusi (eksekutor) tata artistik sejak
persiapan hingga menjelang dilaksanakannya perekaman gambar dan
suara di lokasi yang telah ditentukan
b. Membuat breakdown dan jadwal kerja khusus bidang tata artistik.
c. Menyiapkan elemen-elemn material tata artistik lebih awal sesuai dengan
rancangan gambar kerja dari production designer sebagai kesiapan
menjelang shooting.
d. Bersama-sama manajer produksi dan asisten sutradara membuat jadwal
shooting.
2. Pra Produksi
Pada tahap produksi penulis melakukan arahan ke pada crew artistic untuk
melakukan setting lokasi yang akan di gunakan suting sebelum jadwal suting hari
tersebut berjalan. Dan juga melakukan hal tersebut berdasarkan breakdown shoot
yang telah di buat oleh sutradara. Adapun pada tahap ini yang penulis lakukan antara
lain:
a. Menjadi koodinator teknis eksekusi (eksekutor) tata artistik termasuk
penanggung jawab penyediaan segenap unsure tata artistik sesuai dengan
tahapan proses perekaman gambar dan suara.

b. Mengarahkan pelaksanaan kerja staf artistik dan menentukan kualitas


hasil akhir sebelum dan selama proses perekaman gambar dan suara.
3. Pasca Produksi
Pada tahapan ini tugas seorang art director tidaklah selesai sampai di tahap
produksi, melaikan ditahap inilah puncak dari hasil tugas yang dikerjakan dari tahap
pra sampai dengan pasca artistik produksi. Yakni membuat laporan pertanggung
jawaban alias laporan kerja art director secara detail salah satunya mulai dari set
design di pra produksi. Membangun ruang non alami, pengolahan make up dan
penempatan property yang tepat selama produksi berlangsung, hingga perbaikan serta
pengembalian segala property yang telah digunakan hingga proses pembuatan
laporan keseluruhan kinerja art director di pasca produksi.
Akan tetapi tugas dari art director tidaklah cukup sampai disitu, ada lagi tugas
yang melibatkan pemebentukan image film sekaligus promosi film dalam bentuk
media cetak yakni bias melalui display, X-baner, dan poster. Ini dilakukan untuk
mempromosikan film kepada khalayak.
4. Peran dan Tanggung Jawab Penata Artistik
Menggambarkan dan menganalisa set ruang yang masih dalam naskah dan
kemudian dituangkan dalm pola set kasar bentuk gambar 2 (dua) dimensi merupakan
tanggung jawab utama seorang penata visual. Kemudian mengembangkan storyboard
dan membuat set design yang menjadi panduan blocking kamera dan lighting
merupakan bentuk kolaborasi anatar job dalam proses pra produksi sebuah film.
Tanggung jawab lainnya yang lebih khusus yakni membangun atau menciptakan
set kontruksi atmosfer frame pada setiap scene. Selain itu dalam hal menyiapkan dan

mengembangkan pola khusus yang akan dipakai talent sesuai ruang dan waktu itu
juga tugas seorang penata visual dalam mengembangkan apa-apa yang akan tampak
visual dalam sebuah frame. Tak hanya itu penataan make up natural dan karakter
darah dan lebam memastikan kontinitas make up yang sama merupakan tanggung
jawab penata visual juga yakni dengan melakukan pemotretan hasil make up awal dan
menjadikannya acuan untuk pemakain make up ulang sehingga tidak akan terdapat
jumping nantinya pada setiap scene.
5. Proses Penciptaan Karya
a. Konsep Kreatif
Setelah penulis membaca naskah yang sudah dibuat oleh script writer dengan
judul Desersi penulis sangat tertarik dengan jalan cerita yang ada, dan dari segi
konsep kreatif, penulias akan membuat beberapa set, diataranya set kamar, ruang
tamu, kamar mandi, gudang, pemakaman, kantor dan apartemen. Diatara set
tersebut penulis akan membuat semuanya dengan konsep yang elegan namun
tidak mengurangi nilai estetika yang ada.
Ketika mulai memikirkan apa yang akan di buat, demi terciptanya sebuah set
yang harmonis dan dinamis, penulis dengan melakukan beberapa riset, akan
menciptakan sebuah set kantor yang berbeda dengan kantor di Indonesia. Kantor
polisi pun di buat sedemikian rupa, sehingga penonton tidak akan mengira bahwa
ini adalah sebuah kantor yang berada di Indonesia.
Untuk set kuburan penulis sendiri mempunya gambaran akan menciptakan
suasana set yang asri, hijau, dan tertata rapih anatara pemakan satu dan yang
lainnya, dan dari set gudang penulis akan membuata seolah-olah gudang itu

adalah gudang tempat penyimpanan barang-barang terlarang, yang terkesan rapat,


dan jauh dari jangkauan masyarakat sekitar.
Rumah dan ruang tamu disini penulis tidak banyak melakukan perubahan,
hanya saja penulis membuat set rumah yang minimalis tanpa mengurangi nilai
artistik yang ada.
b. Konsep Teknis
Dari segi konsep teknis yaitu beberapa property yang digukan dalam film
Desersi adalah property yang 90 mendekati aslinya, diluar barang terlarang
(heroin) dan senjata (pistol) selain kedua barang tersebut merupakan asli. Untuk
menunjang terciptanya sebuah karya yang bagus penulis selalu mencoba untuk
sebagai mana mungkin membuat itu seperti asli. Seperti halnya pada saat mobil
penyergapan penulis menabah beberapa lampu strobo di tiga mobil yang
digunakan sebagai alat transportasi tim penyergap.
Pada saat adegan penyergapan pun para penyergap akan menggunakan pakaian
dan properti yang sedemikian rupa seperti yang asli, dari wadrobe, pistol, hingga
aksesoris pendukung. Untuk set kantor sendiri yang merupakan set dari empat
scene, penulis menambahkan beberapa property seperti rig (receiver HT) dan
beberapa main prop seperti lencana, dan pistol.
Pada saat di gudang tidak banyak yang penulis tambahkan karena gudang
tersebut sudah merupakan gudang aktif tempat penyimpanan barang-barang
mabel, jadi dari segi artistik penulis hanya menambahkan delapan buah steger
untuk menambahkan unsur dramatic di film Desersi ini.

c. Konsep Produksi
Ketika proses produksi seorang art director harus cekatan dalam hal
menanggapi dan mempersiapkan kostum apa saja dan make up yang akan
digunakan talent pada setiap scene yang berbeda waktu tempat dan adegan.
Selain itu penjagaan set kontruksi yang baik juga diperlukan untuk jadwal
suting yang telah ditetapkan produser agar terkonsep dan terprogram dengan
benar. Dan terciptalah karya yang continuity.
6. Kendala Produksi ( solusi produksi )
Kendala

: masalah waktu yang maju dari jadwal yang ditentukan, membuat

semua persiapan artistik terkesan buru-buru.


Solusi

: namun penulis mendapatkan bantuan baik dari segi tenaga maupun

pemikiran dari crew yang lain, dan itu semua bisa teratasi.
Kendala

: ada beberapa property yang rusak, dikarenakan jatuh pada saat

mengeset.
Solusi

: walaupun demikian penulis segera memperbaikinya dengan alat-alat

yang disiapkan oleh penulis.


Kendala

: wardrobe yang kelihatannya agak sulit untuk pengumpulannya,

terlebih untuk anggota pasukan khusus.


Solusi

: adanya kerjasama yang baik dan saya juga dibantu oleh penulis

skenario saya yang bertugas menjadi wadrobe.

LEMBAR KERJA PENATA PENATA ARTISTIK


1. Konsep Tata Artistik
2. Breakdown Penata Artistik
3. Floor Plan
4. Set Design

KONSEP TATA ARTISTIK


Konsep drama penulis kali ini ber genre action. Maka penempatan warna pada
gambar sangat lah penting, agar setiap frame tidak jumping, dan memiliki keselarasan
yang baik. Dalam drama yang berjudul Desersi, penulis melakukan bedah naskah
dan melakukan survei lokasi, dan menghasilkan 6 setting lokasi, 5 indoor, dan 1
outdoor. Yaitu gudang scene 1, pemakaman scene 2, rumah (scene 3,5,6,11,13),
kantor (scene 4,7,8), billiard (scene 9), apartement (scene 9,12).
Untuk property sendiri mengingat cerita ini tentang pasukan elit dari salah
satu organisasi kepolisian, maka penggunaan wadrobe dan property tidak jauh dari
apa-apa yang berhubungan dengan atribut kepolisian. Dan juga ada beberapa properti
yang ada di rumah, kantor dan gudang menyesuaikan dengan kondisi aslinya dan
dengan menambahkan beberapa ornamen-ornamen penunjang seperti, steger pada
gudang dan foto-foto pada rumah.
Untuk wardrobe, penulis cenderung menggunakan pakaian yang berwarna
hitam, agar terkesan lebih gagah dan elegan. Untuk make-up disini akan ada make up
karakter, seperti efek lebam, dan memar, namun secara keseluruhan, make up yang
digunakan lebih banyak kepada make up natural. Lebih kepada apa adanya talent,
sebagai pelengkap dan membantu pencahayaan dan kekontrasan warna pada frame
dan kamera.

Breakdown Wardrobe
No kostum
Cast
Scene

:1
: Hans, Reno, Jhon
: 1,10,12,13

Breakdown Wardrobe
No kostum
Cast
Scene

:2
: Hans
:2

No
kostum : 3

Cast
Scene

: nicholas
:2

Breakdown Wardrobe

No kostum
Cast
Scene

:4
: Anak buah Daniel
:1

No kostum
Cast
Scene

:5
: Tim Penyergap
: 1,10,12,13

Breakdown Wardrobe

No kostum
Cast
Scene

:6
: Daniel
: 1,10

Breakdown Wardrobe
No kostum
:7
Cast
: Nicholas
Scene
: 4,7,8

No kostum
Cast
Scene

:9
: Nicholas
: 10,11,13

No kostum
:8
Cast
Scene

: Hans
: 4,7,8

No kostum
Cast
Scene

: 10
: nicholas
:5

Breakdown Wardrobe
No kostum
: 10
Cast
: nicholas
Scene
:6

Breakdown Properti ( Mobil penyergap )

Narkoba

Rig untuk radi di kantor


dan mobil Hans

HT, yang digunakan


setiap pasukan
penyergap, Hans dan
Reno.

Beretta M 1951.

Mauser 1910 pistol, caliber 6.35mm (.25ACP), left side.

FN CAL assault rifle with folding butt and optional telescope sight

Armalite AR-18 assault rifle (USA)

AK-74M. The latest variant, issued to the Russian troops since early1990s

AK-74M. The latest variant, issued to the Russian troops since early1990s

Colt M4 carbine with Mk.18 CQBR upper receiver, fitted with Aimpoint red-dot sight
and additional back-up iron sights (BUIS)

FN SCAR-L / Mk.16 rifle prototype (1s generation, late 2004),


Colt M4 carbine, current issue model with removable carrying handle, right side

Topi

Rompi Anti Peluru

Emblem Polisi

Setting kamar

Setting ruang tengah

Ruangan Komandan Hari Darmanto

Setting Kantor

Setting Gudang

Perangkat Komputer dan Laptop

Lampu Strobo

Setting Rusun

Floor Plan 3D
Gudang

Pemakaman

Rumah ( Kamar )

Ruang Tamu

Ruang Tengah

Kantor

Koridor Kantor

Ruangan Hari Darmanto Komandan NCU

Unit Apartemen

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dalam pembuatan sebuah karya dibutuhkan kerjasama yang solid dari seluruh
kru. Kesamaan visi misi tentu akan lebih mempermudah jalannya proses penciptaan
suatu karya sinema. Kesadaran akan hasil yang lebih akan didapat dengan usaha
lebih harus benar-benar dipahami dan diaplikasikan dengan baik.
Penulis merasa cukup puas dengan hasil yang telah dicapai dari proses pra
produksi hingga pasca produksi. Persiapan yang matang pada seluruh aspek dalam
tahap pra produksi, proses pengambilan gambar pada saat produksi hingga
penyuntingan hasil film memberikan banyak pelajaran pada penulis. Penulis belajar
bagaimana mengatur seluruh proses tersebut agar berjalan lancar sesuai dengan target
waktu yang telah ditentukan walaupun banyak kendala di tiap prosesnya.
Penulis merasa banyak mengalami kemajuan jika dibandingkan dengan
produksi film sebelumnya. Berbekal ilmu yang didapatkan selama masa perkuliahan
di Bina Sarana Informatika dan pengalaman saat produksi karya pada semester lalu
membuat penulis dapat meningkatkan kualitas secara menyeluruh dan dapat
mengambil keputusan yang tepat saat menemui kendala produksi.
Dengan peningkatan tersebut penulis optimis nantinya dapat mengembangkan
kemampuan yang dimiliki pada dunia kerja yang sebenarnya. Ditambah dengan

besarnya motivasi menghasilkan karya terbaik, penulis yakin dapat membuat karya
yang semakin berkualitas dibanding dengan produksi kali ini.
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
1. Ariatama Dan Muhlisun. 2008. Job Description Pekerja Film. Jakarta: FFTV-IKJ.
2. Baksin, Askurifai. 2009. Videografi. Bandung: Widya Padjajaran.
3. Biran, Misbach Yusa. 2010. Teknik Menulis Skenario Film. Jakarta: FFTV-IKJ.
4. B.W, Arif. 2009. Mari Mengenal Video Editing. Yogyakarta: YESCOM.
5. Effendy, Heru. 2009. Mari Membuat Film. Jakarta: Erlangga.
6. Kinoysan. 2008. Jadi Penulis Skenario Gampang Kok !. Yogyakarta: Andi.
7. KN, Anton Mabruri. 2011. Manajemen Produksi Program Acara TV. Depok: Mind 8
Publishing House.
8. KN, Anton Mabruri. 2011. Penulisan Naskah Televisi. Depok: Mind 8 Publishing
House.
9. Pintoko, Wahyu Wary dan Diki Umbara . 2010. How to become a cameraman.
Yogyakarta: Interprebook.
10. Saroengallo, Tino. 2008. Dongeng Sebuah Produksi Film. Jakarta: PT. Intisari
Mediatama.
11. Sri Sartono,FR. 2008. Teknik Penyiaran dan Produksi Program Radio, Televisi dan
Film. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
12. Soeprapto, Tommy. 2006. Berkarier di Bidang Broadcast. Yogyakarta: Media
Presindo.
13. Widagdo, M Bayu, dan Gora S, Winastwan. 2004. Bikin Sendiri Film Kamu.
Yogyakarta: PD Anindya.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A. Biodata Mahasiswa
NIM

: 42090583

Nama Lengkap

: Diah Ayu Triasmadi

Tempat & Tanggal Lahir

: Klaten, 13 Februari 1989

Alamat Lengkap

: Apartemen Gading Icon, Tower Rosewood


A, Lantai 03 No 02 Pulogadung, Jakarta Timur

Agama

: Islam

No Telpon

: 08561462165

B. Riwayat Pendidikan Formal & Non Formal


1. SDN 1 Kutosari Kebumen

: Tahun Angkatan ( 2001 )

2. SLTPN 3 Kebumen

: Tahun 2001 - 2002

3. SLTPN 2 Gombong

: Tahun Angkatan ( 2004 )

4. SMAN 1 Gombong

: Tahun Angkatan ( 2007 )

5. Universitas Gadjah Mada

: Tahun ( 2007 - 2009 )

6. Bina Sarana Informatika

: Tahun ( 2009 sekarang )

C. Riwayat Pengalaman Berorganisasi dan Pekerjaan


1. Owner Ayunique Online Shop

: Tahun 2010 sekarang

Jakarta, 28 Juni 2012

Diah Ayu Triasmadi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A. Biodata Mahasiswa
NIM

: 42090536

Nama Lengkap

: Farid Irawan

Tempat & Tanggal Lahir : Bandung, 16 Juli 1987


Alamat Lengkap

: Jalan Karet Pedurenan No 91 Room K7, Jak-Sel

Agama

: Islam

Telepon

: 081382984877

B. Riwayat Pendidikan Formal & Non Formal


1. SDN Pagarsih VII Bandung

: Tahun Angkatan ( 1998 )

2. SLTPN 43 Bandung

: Tahun Angkatan ( 2001 )

3. SMAN 6 Bandung

: Tahun Angkatan ( 2004 )

4. Bina Sarana Informatika

: Tahun ( 2009 sekarang )

C. Riwayat Pengalaman Berorganisasi dan Pekerjaan


1. Ketua Sekbid I OSIS

: Tahun 1999 - 2000

2. Ketua Karya Ilmiah Remaja

: Tahun 2002 2003

3. Ketua Sekbid 3 OSIS

: Tahun 2002 2003

4. Freelancer di PH untuk TV Commercial

: Tahun 2006 sekarang

5. Administrasi Proyek PT.IMSI

: Tahun 2004 - 2005

Jakarta, 28 Juni 2012

Farid Irawan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A. Biodata Mahasiswa
NIM

: 42090580

Nama Lengkap

: Dwi Setyorini

Tempat & Tanggal Lahir

: Bekasi, 19 Mei 1991

Alamat Lengkap

: Jalan Jati Indah 4 blok A.15 no 9, Harapan


Jaya, Bekasi Utara

Agama

: Islam

No Telpon

: 08999377515

B. Riwayat Pendidikan Formal & Non Formal


1. SD Bani Saleh 4

: Tahun Angkatan ( 2003 )

2. SLTPN 5 Bekasi

: Tahun Angkatan ( 2006 )

3. SMAN 4 Bekasi

: Tahun Angkatan ( 2009 )

4. Bina Sarana Informatika

: Tahun ( 2009 sekarang )

5. Les Aritmatika Sempoa

: 2004 2006

6. LPIA

: 2006 - 2007

C. Riwayat Pengalaman Berorganisasi dan Pekerjaan


1. OSIS Sekbid 8

: Tahun 2008 2009

2. Magang 1 bulan di M2 Radio

Jakarta, 28 Juni 2012

Dwi Setyorini

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A. Biodata Mahasiswa
NIM

: 42090585

Nama Lengkap

: Retna Permata Sari

Tempat & Tanggal Lahir

: Jakarta, 03 Maret 1991

Alamat Lengkap

: Gg. Dermaga Batu Ampar, Condet.


Kramat Jati, Jakarta Timur

Agama

: Islam

No Telpon

: 085766551669

B. Riwayat Pendidikan Formal & Non Formal


1. SDN 101 Muara Bungo Jambi

: Tahun Angkatan ( 2002 )

2. SLTPN 1 Muara Bungo Jambi

: Tahun ( 2002 - 2003 )

3. SLTPN 1 Tanjung Raya Sumbar

: Tahun ( 2003 - 2005 )

4. SMA Institut Nasional Syafei Sumbar

: Tahun Angkatan ( 2008 )

5. Bina Sarana Informatika

: Tahun ( 2009 sekarang )

C. Riwayat Pengalaman Berorganisasi dan Pekerjaan


1. Anggota Paskibra

: Tahun 2002 2003

2. Anggota Perkusi Maching Band

: Tahun 2005 2008

3. Anggota Teater Hitam Putih

: Tahun 2005 - 2008

4. Bendahara OSIS SMA

: Tahun 2007 2008

5. Karyawan Counter Handphone

: Tahun 2009
Jakarta, 28 Juni 2012

Retna Permata Sari

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A. Biodata Mahasiswa
NIM

: 42090567

Nama Lengkap

: Eko Hariansyah Maulana

Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 6 Desember 1977


Alamat Lengkap

: Jalan Tebet Barat Dalam 1B No 15 Jakarta 12810

Agama

: Islam

Telepon

: (021) 8291711

B. Riwayat Pendidikan Formal & Non Formal


1. TK Santa Ursula

: Tahun Angkatan ( 1984 )

2. SD Santa Ursula

: Tahun Angkatan ( 1990 )

3. SMP Tarakanita 1

: Tahun Angkatan ( 1993 )

4. SMU Dewi Sartika

: Tahun Angkatan ( 1997 )

5. Bina Sarana Informatika

: Tahun ( 2009 sekarang )

C. Riwayat Pengalaman Berorganisasi dan Pekerjaan


1. Anggota Organisasi Radio Amatir Indonesia : Tahun 2002 - sekarang
2. PT.Kibar Mitra Abadi

: Tahun 2006 2010

Jakarta, 28 Juni 2012

Eko Hariansyah Maulana

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A. Biodata Mahasiswa
NIM

: 420905713

Nama Lengkap

: Wahyu Seno Aji

Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 19 Maret 1989


Alamat Lengkap

: Jalan Cipinang Asem Gg Yumas No 3 Makasar,


Jakarta Timur

Agama

: Islam

Telepon

: (021) 8291711

B. Riwayat Pendidikan Formal & Non Formal


1. SD Islam Cililitan 2 Pagi

: Tahun Angkatan ( 2001 )

2. SLTPN 128 Jakarta

: Tahun Angkatan ( 2004 )

3. SMA Angkasa 1 Halim

: Tahun Angkatan ( 2007 )

4. Bina Sarana Informatika

: Tahun ( 2009 sekarang )

C. Riwayat Pengalaman Berorganisasi dan Pekerjaan


1. Adm. Pertambangan Timah PT. Barito Permai

: Tahun 2007 - 2009

Jakarta, 28 Juni 2012

Wahyu Seno Aji

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


A. Biodata Mahasiswa
NIM

: 42090557

Nama Lengkap

: Putra Dwi Laksana

Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 1 Agustus 1991


Alamat Lengkap

: Jalan Kanon Blok E1 No 16, Aren Jaya, Bekasi Timur

Agama

: Islam

Telepon

: 08978564508

B. Riwayat Pendidikan Formal & Non Formal


1. SDN Aren Jaya X

: Tahun Angkatan ( 2003 )

2. SLTPN 11 Bekasi

: Tahun Angkatan ( 2006 )

3. SMAN 2 Tambun Utara

: Tahun Angkatan ( 2009 )

4. Bina Sarana Informatika

: Tahun ( 2009 sekarang )

C. Riwayat Pengalaman Berorganisasi dan Pekerjaan


1. Editor Circles Media Solutions

: Tahun 2011 - sekarang

2. Supervisi Editing Film Pendek

: Tahun 2010

Jakarta, 28 Juni 2012

Putra Dwi Laksana