Anda di halaman 1dari 30

ANALISIS KERUANGAN

MENGGUNAKAN MODUL
SPATIAL ANALYST
PADA ARCVIEW 3.3

OLEH
HARTANTO SANJAYA

http://hartanto.wordpress.com

2006

KATA PENGANTAR

Buku ini merupakan bahan pelatihan yang mencoba menerangkan


langkah demi langkah dalam memanfaatkan modul Spatial Analyst pada
perangkat lunak ArcView 3.3.
Bermacam langkah yang diterangkan dalam buku ini diusahakan
sesederhana mungkin agar dapat diikuti dengan baik sehingga
pemahaman akan proses analisis keruangan diharapkan bisa dikuasai.
Modul pelatihan ini khusus untuk digunakan pada kalangan sendiri dan
pengguna harus telah mengetahui pemakaian perangkat lunak ArcView.
Pada pemakaiannya disertai oleh data yang telah siapkan khusus sehingga
dapat dioperasikan sesuai petunjuk yang ada.
Masih banyak terdapat kekurangan dalam materi yang tersaji, oleh karena
itu penyusun akan menerima dengan senang hati masukan yang
konstruktif untuk pengembangan lebih lanjut.

Bogor, 15 Januari 2006

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................... ii
Daftar Isi .............................................................................................. iii
1 Pengenalan SIG dan Perangkat Lunak Pendukung ..................
1.1 Sistem Informasi Geografis .............................................
1.2 Perangkat Lunak Pendukung .........................................

1
1
1

2 Data Raster dan Grid .....................................................................


2.1 Konsep Data Raster ..........................................................
2.2 Pengertian Grid ................................................................

3
3
3

3 Pengaturan Theme .........................................................................


3.1 Mengaktifkan Modul Spatial Analyst ...........................
3.2 Konversi ke Theme Grid .................................................
3.3 Properti Analisis ...............................................................

5
5
6
8

4 Analisis Permukaan .......................................................................


4.1 Menghitung Kerapatan ...................................................
4.2 Interpolasi Grid dari Data Titik ......................................
4.3 Pembuatan Garis Kontur ................................................
4.4 Pembuatan Hillshade ......................................................

10
10
12
14
16

5 Menghitung Jarak ........................................................................... 19


5.1 Jarak Euclidean ................................................................. 19
5.2 Menentukan Jarak Terdekat ........................................... 20
6 Konversi Format Grid .................................................................... 23
6.1 Mengekspor Grid ............................................................. 23
6.2 Mengimpor Grid .............................................................. 23

Daftar Pustaka .................................................................................... 25


Apendiks
A-1 Metadata ...................................................................................... 26

iii

1 PENGENALAN SIG DAN PERANGKAT LUNAK


PENDUKUNG
1.1 Sistem Informasi Geografis
GIS adalah akronim dari Geographic Information System (Sistem Informasi
Geografis), dan saat ini juga dikenal sebagai Geographic Information Science.
Suatu system informasi geografis adalah suatu system informasi berbasis
computer yang digunakan untuk memanipulasi, menyederhanakan,
memilih, memperbarui dan menampilkan data spasial beserta atributnya.
Sistem Informasi Geografis juga sering diartikan sebagai suatu integrasi
dari perangkat keras dan lunak berserta manusianya yang dapat
membantu dalam merepresentasikan dan menganalisis data berbasis
geografi. Sistem ini mereferensi sistem koordinat dunia-nyata. Suatu SIG
dapat juga untuk menyimpan data atribut yang mengandung informasi
yang menjelaskan fitur pada peta. Informasi ini biasanya diletakkan
terpisah dari data grafis, dalam suatu file database, tetapi tetap terkait
dengan data grafis yang ada.
SIG dapat juga didefinisikan sebagai suatu sistem komputer yang dapat
membuat, menyimpan, memanipulasi, dan menampilkan informasi yang
bereferensi geografis.
Suatu SIG dapat menjawab pertanyaan sederhana seperti Berapa banyak
racun yang tersebar dalam jangka satu kilometer dari pabrik kimia di
Cibinong? atau Jalur tersingkat manakah untuk menuju Surabaya? SIG
juga dapat menjawab pertanyaan yang lebih kompleks seperti
menentukan factor lingkungan yang mempengaruhi penyebaran penyakit
malaria, atau lokasi terbaik bagi pendirian sebuah supermarket berdasar
beberapa criteria seperti kondisi demografi dan lokasi competitor.
Geographic Information Science mengarah pada konsep yang lebih teoritis
seperti disain SIG, data, dan metoda dan mengenal hubungan erat dengan
keilmuan lain seperti kartografi, geodesi, dan analisis kuantitatif.
1.2 Perangkat Lunak Pendukung
Banyak sekali terdapat paket perangkat lunak pemetaan tetapi yang bisa
digolongkan sebagai perangkat lunak SIG hanya jika perangkat lunak
tersebut bisa melakukan analisis spasial (keruangan).

Pembangunan Sistem Informasi Geografis didukung oleh pengembangan


perangkat lunak pendukung dan perkembangannya saat ini sangat pesat.
Perangkat lunak pendukung pabrikan dapat kita peroleh dari vendor
sedangkan untuk perangkat lunak yang berbasis Open Source bisa kita
dapatkan dengan mengunduh dari internet.
Perangkat lunak pendukung yang termasuk pabrikan antara lain adalah
Arc/Info, ArcView, MapInfo. Sedangkan yang termasuk Open Source
antara lain adalah GRASS, freeGIS, dan DivaGIS.
Dalam materi ini akan dibahas penggunaan perangkat lunak ArcView,
khususnya dalam memanfaatkan modul bantu Spatial Analyst. ArcView
merupakan produk dari ESRI dan merupakan salah satu perangkat lunak
pendukung SIG yang popular digunakan di Indonesia.
Spatial Analyst merupakan suatu modul khusus yang berfungsi untuk
memudahkan proses analisis keuangan pada ArcView. Beberapa
persoalan yang dapat dipecahkan dengan menggunakan alat bantu ini
seperti menemukan lokasi terbaik untuk pembangunan pasar swalayan
dengan memperhatikan pertumbuhan penduduk dan perubahan
demografi. Dapat juga dikembangkan pada bidang pertanian dengan
memperhatikan hubungan kimia tanah dan hasil panen untuk
mengoptimalkan keuntungan.
Spatial Analyst merupakan modul yang terpisah dari paket ArcView,
sehingga diperlukan penginstallan khusus. Dan untuk mengaktifkannya
melalui pengaktifan extension saat ArcView telah dijalankan.

2 DATA RASTER DAN GRID


2.1 Konsep Data Raster
Suatu data raster adalah data yang berupa pixel dan tersusun dalam baris
dan kolom, menyimpan informasi spasial dalam sebuah grid atau matrik.
Tiap pixel mempunyai nilai, dan nilai ini dapat merepresentasikan
sesuatu, seperti ketinggian (dalam DEM, digital elevation model), jenis
tanah, penggunaan lahan, kemiringan dalam suatu nilai greyscale (dalam
sebuah citra/image).
Data raster biasanya digunakan untuk menyimpan informasi mengenai
feature geografis yang kontinyu pada suatu permukaan, seperti
ketinggian, nilai reflektan, kedalaman air tanah, dan lain-lain. Data citra
adalah satu bentuk data raster dimana pada tiap sel atau pixel menyimpan
nilai yang direkam oleh peralatan optic atau elektronik. Grid pada
pembahasan di buku ini adalah data raster.
Data raster mempunyai resolusi beragam dan ukuran sel dalam suatu grid
adalah tetap, sehingga jika kita lakukan zoom pada data raster maka akan
terlihat bentuk dari jajaran sel tersebut.

2.2 Pengertian Grid


Spatial Analyst menggunakan theme GRID untuk menganalisis data.
Theme GRID adalah sama dengan theme raster pada feature theme biasa.
Grid adalah satu obyek yang menyimpan data spasial yang terhubungkan
dengan data lainnya. Grid mempunyai struktur data raster (berbasis sel)
dimana tiap sel menyimpan satu nilai data numeric. Kelas Grid dapat
menyediakan hasil analisis yang menghasilkan obyek Grid yang baru dari
satu obyek Grid lainnya. Suatu obyek Grid object dapat memiliki suatu
table atribut nilai yang dinamakan VTab. Jika terdapat VTab maka table
ini menunjukkan atribut dari obyek Grid yang terkait. Suatu VTab
otomatis akan terbentuk untuk obyek Grid bernilai bilangan bulat
(integer) yang mempunyai rentang nilai kurang dari 100.000 atau nilai
khusus (unique) kurang dari 500. Obyek Grid yang bertipe Floating point
(pecahan) tidak mempunyai obyek VTab.

Format GRID adalah format yang dimiliki oleh ESRI yang mendukung
grid raster berjenis bilangan bulat (integer) 32-bit dan pecahan (floatingpoint) 32-bit.
Grid sangat baik dalam merepresentasikan fenomena geografis yang
berkeruangan kontinyu, dan juga dalam membentuk model keruangan
dan analisis aliran, kecenderungan, dan permukaan seperti yang terdapat
dalam keilmuan hidrologi.
Dengan menggunakan extension Spatial Analyst kita dapat mengubah
tema berbasis fitur vector ke grid. Kita dapat juga menghasilkan grid dari
bermacam operasi analisis spasial. Grid dapat ditampilkan dalam window
view pada ArcView sebagai theme grid. Kita dapat membuat kelas pada
sel-sel grid dan menentukan warna pada tiap kelasnya.

3 PENGATURAN THEME

3.1 Mengaktifkan Modul Spatial Analyst


Untuk dapat melakukan analisis keruangan dengan menggunakan modul
Spatial Analyst, maka kita harus pastikan bahwa pada ArcView yang
digunakan telah terinstall modul tersebut. Untuk melihat apakah sudah
terinstall dan sekaligus untuk mengaktifkannya, caranya adalah sebagai
berikut:
Pilih menu File, lalu pilih Extensions Akan terlihat window seperti
dibawah ini, lalu scroll hingga menemukan Spatial Analyst. Jika tidak ada
maka modul tersebut belum terinstall, jika ditemukan maka aktifkan
dengan meng-klik pada kotak pilihannya.

Gambar 3.1 Pengaktifan modul Spatial Analyst.


Setelah kembali pada window View, maka akan terlihat penambahan
menu yaitu Analysis dan Surface.

Gambar 3.2 Penambahan menu Analysis dan Surface


setelah Spatial Analyst diaktifkan.

3.2 Konversi ke Theme Grid


Pada analisis keruangan yang dilakukan dalam format grid, maka kita
harus melakukan konversi format yaitu dari format shape kedalam format
grid. Untuk melakukan hal tersebut maka yang harus kita lakukan
kemudian adalah memanggil data shape kita untuk kemudian kita
konversikan pada format grid.
1.

Buka theme yang akan dikonversi (yaitu theme daerah studi


dengan nama admin.shp, pada folder data) kemudian aktifkan
theme tersebut.

2.

Pilih menu Theme, lalu Convert to Grid, kemudian akan muncul


kotak dialog:

Gambar 3.3 Kotak dialog pada proses konversi.


3.

Tentukan nama grid (admin_grd), jangan lupa tempatkan pada


folder tempat penyimpanan data, kemudian klik OK. Akan
muncul kotak dialog:

Gambar 3.4 Kotak dialog yang muncul pada konversi grid.


4.

Pada kotak dialog ini ada beberapa isian yang harus kita isikan
sesuai dengan proses analsis keruangan yang kita inginkan:
a. Output Grid Extent, merupakan besar hasil yang akan
dibuat. Pilihan yang ada adalah Same as View berarti
sebesar View, Same as Display yaitu sebesar tampilan
dilayar, dan Same as <Theme> yaitu sama dengan besar
theme yang ada. Dalam hal ini kita pilih Same as
Admin.shp karena semua luaran akan kita sesuaikan
dengan luasan batas administrasi yang kita gunakan.
b. Output Grid Cell Size, yang berarti ukuran resolusi
spasial yang diinginkan. Map unit yang digunakan pada
data ini adalah meter, sesuai dengan seting pada property
View. Isikan 30, yang berarti grid yang akan dihasilkan
mempunyai dimensi 30 x 30 meter. Number of Row dan
Number of Columns akan menyesuaikan dengan besaran
data yang telah diset pada dua isian terdahulu.

5.

Klik OK, kemudian akan muncul pilihan field yang akan


digunakan sebagai nilai sel pada grid luaran. Yang ditampilkan
hanya field dengan jenis numeric. Pilih field ID kemudian OK.
Jika field tersebut merupakan integer maka ArcView akan
bertanya lagi, apakah nilai atribut dari table shape akan sertakan
(link) dalam table theme grid. Pilih No, kemudian Yes untuk
menampilkan theme grid hasil kedalam View.

Untuk melihat perbedaan antara theme shape dan theme grid, lakukan
zoom (pembesaran) pada lokasi tertentu, kemudian bandingkan tampakan
keduanya.

Gambar 3.5 Theme shape (kiri) dan theme grid (kanan)


3.3 Properti Analisis
Pengaturan Properti Analisis penting dilakukan sebelum kita melakukan
proses lebih lanjut, karena pengaturan ini menyangkut luaran yang akan
dihasilkan.
Untuk pengaturan ini lakukan dengan memilih menu Analysis, kemudian
Properties, kemudian akan muncul kotak dialog:

Gambar 3.6 Kotak dialog untuk mengatur Properti Analisis.

Hal-hal yang perlu diatur adalah:


1.

Analysis Extent, ini merupakan seting ukuran dari luaran yang


akan dihasilkan. Beberapa pilihan yang dapat dipilih adalah: Same
as View yang berarti ukuran luaran sesuai dengan ukuran View,
Same as Display, dimana luaran akan mempunyai ukuran sama
dengan tampilan pasa saat ini, Intersection of Inputs, menggunakan
daerah yang overlap dari input theme, Union of Inputs,
menggunakan sebagian atau seluruh daerah input, Current Value,
menggunakan nilai semula; Same as <Theme>, sesuai dengan
ukuran salah satu theme yang ada; dan As Specified Below, dimana
kita dapat menentukan sendiri koordinat dan nilai koordinat tepi.

2.

Analysis Cell Size, yaitu ukuran sel hasil. Beberapa pilihan adalah:
Minimum of Input, akan menggunakan ukuran terkecil dari input
yang digunakan; Maximum of Input, menggunakan ukuran sel
terbesar dari input; As Specified Below, dengan ,e,asukkan ukuran
sel sesuai yng kita kehendaki; Current Value, menggunakan nilai
yang ada saat ini; Same as <Grid Theme>, menggunakan ukuran sel
sesuai dengan theme tertentu.

3.

Analysis Mask, menggunakan batasan luaran sesuai dengan


daerah/area tertentu, dengan dua pilihan yaitu No Mask Set dan
<Grid Theme>.

Untuk pengisian ini kita set sebagai berikut: Analysis Extent: Same as
Admin_grd, Analysis Cell Size: Same as Admin_grd, dan Analysis Mask:
Same as Admin_grd. Hal ini berarti semua luaran akan mengacu pada
theme grid Admin_grd.

4 ANALISIS PERMUKAAN

4.1 Menghitung Kerapatan


Modul Spatial Analyst mempunyai fungsi untuk menghitung suatu
kerapatan dengan membuat grid bersifat kontinyu dimana setiap selnya
mengandung informasi jumlah per satuan luas. Fungsi ini bernama
Calculate Density, dimana biasanya digunakan untuk menghitung
kerapatan penduduk, bangunan, dan informasi lain yang nilainya diambil
dari data atribut.
Pada proses yang dilakukan, fungsi akan meminta input berupa data
shape yang bertipe titik. Luaran yang dihasilkan akan diberi nama secara
otomatis sebagai Density from <theme input>. Proses yang terjadi adalah
fungsi akan mengubah theme titik menjadi grid yang kontinyu dengan
ukuran sel yang kita tentukan. Nilai pada tiap sel merupakan hasil
perhitungan jumlah titik pada radius yang ditentukan. Nilai atribut
kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan luas area pada radius tersebut.
Untuk mencoba fungsi ini kita gunakan data penduduk yang terdapat
dalam file shape penduduk_pnt.shp, sehingga langkah awal adalah
membuka penduduk_pnt.shp kemudian aktifkan theme tersebut. Arahkan
penunjuk pada Theme penduduk, lalu jalankan fungsi Calculate Density
dari menu Analysis.
Akan tampil kotak dialog seperti gambar berikut, dan isian yang
diperlukan adalah: Population Field, yaitu menentukan field yang
menyimpan data yang akan dicari kerapatannya; Search Radius, radius
yang menentukan area dimana titik akan diperhitungkan; Density Type,
yaitu Simple atau Kernel dimana Simple hanya memperhitungkan satu
nilai pada area yang tercakup dalam radius sedangkan Kernel membagi
area dalam radius sehingga hasilnya lebih halus; dan Area Units,
merupakan satuan luas yang akan digunakan.

10

Gambar 4.1 Kotak dialog pada fungsi Calculate Density


Hasil yang akan diperoleh adalah sebagai berikut:

Gambar 4.2 Data penduduk yang terdapat pada data shape bertipe titik
(kiri) dan hasil Calculate Density (kanan)
Luasan pada tiap sel yang dihasilkan adalah jiwa/km2.
Jika unit map pada View tidak diset, maka satuan sel luaran adalah Square
Map Unit dan bersifat tidak dapat diubah. Tetapi jika sudah diset maka
satuan luaran dapat berupa Square Miles, Square Kilometers, Acres,
Hectares, Square Yards, Square Inches, Square Meters, Square
Centimeters, atau Square Millimeters.
Calculate Density bekerja pada data yang ter-select tetapi jika tidak ada
data yang ter-select maka fungsi ini akan menghitung semua data pada
theme tersebut.
Hasil perhitungan ini tersimpan pada folder kerja yang bersifat temporer,
sehingga jika theme tersebut di delete dari View maka akan terdelete
otomatis. Untuk itu diperlukan langkah untuk menyimpan hasil yang

11

telah diperoleh melalui menu Theme kemudian pilih Save Data Set. Simpan
pada folder data yang digunakan dengan nama kerapatan_pdd.

4.2 Interpolasi Grid dari Data Titik


Proses interpolasi adalah mengisi kekosongan data dengan metoda
tertentu dari suatu kumpulan data untuk menghasilkan sebaran yang
kontinyu. Pada modul Spatial Analyst proses ini dilakukan dengan
menjalankan fungsi Interpolate Grid yang terdapat pada menu Surface.
Aplikasi yang biasanya menggunakan fungsi ini antara lain adalah
membuat DEM (Digital Elevation Model, Model Ketinggian Digital) dari
titik-titik ketinggian yang dimiliki pada suatu area, membuat peta sebaran
hujan dari titik-titik stasiun hujan yang merekam data meteorology.
Contoh yang akan dilakukan kali ini adalah interpolasi data ketinggian
untuk dihasilkan data grid ketinggian yang kontinyu pada daerah studi
kita. Data titik ketinggian tersimpan pada shape titik_tinggi.shp, sehingga
langkah pertama adalah membuka file titik_tinggi.shp pada View.
Kemudian ikuti langkah berikut:
1.

Aktifkan theme titik tinggi, dan tempatkan penunjuk pada theme


tersebut.

2.

Jalankan fungsi interpolasi dengan memilih menu Surface,


kemudian Interpolate Grid, akan muncul kotak dialog:

Gambar 4.3 Kotak dialog pada proses interpolasi.

12

Pada kotak dialog terdapat pilihan mengenai metoda yang akan


diaplikasikan, yang terdiri dari dua macam yaitu IDW dan Spline.
Metoda IDW (Inverse Distance Weighted) mengasumsikan bahwa tiap titik
input mempunyai pengaruh yang bersifat local yang berkurang terhadap
jarak. Metoda ini memberi bobot lebih tinggi pada sel yang terdekat
dengan titik data dibandingkan sel yang lebih jauh. Titik-titik pada radius
tertentu dapat digunakan dalam menentukan nilai luaran untuk tiap
lokasi.
Metoda Spline adalah metoda interpolasi yang biasa digunakan untuk
mendapatkan nilai melalui kurva minimum antara nilai-nilai input.
Metoda ini baik digunakan dalam membuat permukaan seperti ketinggian
permukaan bumi, ketinggian muka air tanah, ataupun konsentrasi polusi
udara. Kurang bagus untuk siatuasi dimana terdapat perbedaan nilai yang
signifikan pada jarak yang sangat dekat. Jika dipilih metoda Spline maka
ada pilihan tipe Regularized dan Tension. Regularized membuat
permukaan halus sedangkan Tension mempertegas bentuk permukaan
sesuai dengan fenomena model.
Karena pada kasus kita adalah melakukan proses grid untuk permukaan
area maka metoda yang dipilih adalah Spline dan tipe yang digunakan
adalah Regularized. Sedangkan nilai titik ketinggian terdapat pada field
Elevation.

Gambar 4.4 Kotak dialog yang telah dimasukkan nilai untuk proses.
Dari proses ini didapat hasil seperti pada gambar berikut ini:

13

Gambar 4.5 Hasil interpolasi dari titik-titik tinggi ditampilkan bersama


data sebaran titik tinggi yang digunakan.
Langkah yang harus segera dilaksanakan setelah sebuah proses dilakukan
adalah memastikan bahwa theme baru yang dihasilkan telah aman
tersimpan. Untuk itu dilakukan penyimpanan data DEM yang baru
dihasilkan dengan cara memilih menu Theme dan Convert to Grid lalu
letakkan hasil pada folder data.

4.3 Pembuatan Garis Kontur


proses pembuatan kontur akan menghasilkan luaran theme bertipe garis
(line) dari suatu data input grid. Nilai dari tiap garis menggambarkan
ketinggian yang sama, atau nilai yang sama tentang magnitude,
konsentrasi atau apapun sesuai dengan jenis data input. Theme hasil akan
mempunyai field bernama Contour dalam atribut tablenya.
Untuk theme grid fungsi ini tidak menghubungkan titik tengah sel,
interpolasi dilakukan yang menggambarkan kesamaan magnitudo.
Kadang-kadang garis melalui titik tengah sel tersebut.

14

Hasil dari proses Create Contours pada modul Spatial Analyst ini akan
secara otomatis diberi nama Contour of <theme input>. Dan pada contoh
proses, langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.

Aktifkan theme hasil interpolasi (yang bernama dem_grd), dan


pastikan penunjuk berada pada theme tersebut.

2.

Jalankan fungsi Contouring dengan memilih dari menu Surface


kemudian Create Contours kemudian akan muncul kotak dialog:

Gambar 4.6 Kotak dialog pada fungsi Contouring.


3.

Pada kotak dialog terdapat dua isian, yaitu Contour interval dan
Base contour. Contour interval adalah nilai selisih dari masingmasing garis yang dihasilkan. Sedangkan Base contour adalah nilai
yang digunakan ArcView sebagai nilai awal.

Hasil dari proses pembuatan kontur ini adalah sebagai berikut:

15

Gambar 4.7 Hasil dari proses pembuatan kontur dari data DEM
dengan latar belakang data grid ketinggian (DEM).

4.4 Pembuatan Hillshade


Fungsi Compute Hillshade digunakan untuk menentukan hasil penyinaran
secara hipotesis dari suau bentuk permukaan yang merupakan bagian dari
langkah analisis dan tampilan. Untuk keperluan analisis, fungsi Compute
Hillshade dapat digunakan untuk menentukan lama waktu dan intensitas
sinar matahari pada lokasi tertentu. Sedangkan untuk tampilan, Compute
Hillshade dapat digunakan untuk mempertajam relief permukaan.
Ada dua masukna utama yang diperlukan pada proses ini yaitu Azimuth
dan Altitude. Azimuth adalah angka positif yang berupa besar derajat
yang mempunyai rentang dari 0 hingga 360, diukur dari arah utara.
Sedangkan altitude adalah anhka positif yang berupa yang berupa besar
derajat dengan rentang dari 0 derajat pada garis horizon hingga 90 derajat
pada titik diatas kepala.
Luaran theme grid dari fungsi Compute Hillshade otomatis diberi nama
Hillshade of <nama theme>. Data grid hasil proses secara temporer disimpan
pada folder kerja dengan nama "hlshd" diikuti angka yang bersifat unik.

16

Karena itu jangan lupa untuk menyimpan theme grid ini dengan nama
tertentu pada folder data setelah proses selesai.
Pada contoh proses kali ini kita masih menggunakan data grid ketinggian
sebagai input dari fungsi Compute Hillshade. Langkah yang dilakukan
adalah:
1.

Aktifkan theme ketinggian (dem_grd) dan pastikan penunjuk


pada posisi theme tersebut.

2.

Jalankan fungsi Compute Hillshade dari menu Surface. Lalu akan


muncul kotak dialog:

Gambar 4.8 Kotak dialog pada proses Compute Hillshade.


3.

Masukkan nilai default, yaitu 315 untuk Azimuth dan 45 untuk


Altitude. Ini berarti kondisi matahari pada posisi arah barat laut
dan pada ketinggian 45 derajat relative terhadap lokasi. Hasil
perhitungan,
yang
di-overlay
dengan
garis
kontur
memperlihatkan bahwa daerah pada sebelah barat laut dari
beberapa puncak ketinggian terlihat lebih cerah dibandingkan
arah tenggara dari puncak-puncak tersebut.

17

Gambar 4.9 Hasil proses Calculate Hillshade yang di-overlay


dengan garis kontur.

18

5 MENGHITUNG JARAK
5.1 Jarak Euclidean
Untuk menganalisis jarak dengan menggunakan Spatial Analyst, dimulai
dengan menggunakan fungsi Find Distance pada menu Analysis untuk
membuat theme grid yang mengandung nilai jarak terdekat untuk tiap sel.
Feature yang dapat digunakan untuk menghitung jarak dapat berupa
points, lines, polygons, atau sel bernilai non-null.
Jarak Euclidean dihitung antara tiap sel luaran yang tidak mengandung
suatu feature ke feature terdekat. Sel luaran yang mengandung feature
diberi nilai nol. Theme grid jarak yang kontinyu ini digunakan untuk
membuat buffer jarak yang diskrit atau untuk menemukan feature dalam
jarak tertentu dari feature yang lain.
Fungsi Find Distance dapat digunakan hanya untuk memproses beberapa
data yang ter-select, tetapi jika tidak ada data yang ter-select maka fungsi
akan memproses semua data pada theme tersebut. Contohnya adalah jika
kita ingin membuat permukaan kontinyu dari area permukiman pada
theme landuse maka kita harus memilih (select) semua area permukiman
terlebih dulu dengan menggunakan Query builder.
Tiap sel yang mempunai nilai (termasuk nol) dianggap sebagai feature
oleh theme grid. Jika theme grid digunakan sebagai input bagi fungsi Find
Distance, suatu jarak akan dihitung untuk setiap sel pada theme yang aktif
yang mempunyai nilai No Data. Jika kita ingin membuat permukaan
kontinyu dari data jalan dalam theme grid yang mempunyai nilai 1 untuk
jalan dan 0 selain jalan, pertama-tama kita harus memilih (select) semua
sel yang mempunyai nilai 1.
Luaran theme grid dari fungsi Find Distance ini otomatis akan diberi
nama Distance to <theme input>. Data grid dan semua yang terhubung
pada grid ini akan disimpan pada folder kerja yang bersifat temporer,
sehingga sebaiknya setelah didapat hasil segera disimpan pada folder data
dengan nama tertentu.
Pada contoh proses, kita akan menghitung jarak terdekat tiap sel terhadap
kota. Untuk itu langkah yang dilakukan adalah:
1.

Buka data shape kota.shp kemudian aktifkan theme dan pastikan


penunjuk pada theme tersebut.

19

2.

Dari menu Analysis pilih Find Distance, dan proses akan


menghasilkan seperti gambar berikut ini.

Gambar 5.1 Hasil dari proses penentuan jarak, di-overlay dengan


data titik kota yang digunakan sebagai input perhitungan.
Satuan jarak adalah meter, sesuai dengan set pada property
analisis yang telah dibahas pada bagian awal.

5.2 Menentukan Jarak Terdekat


Pada Spatial Analyst terdapat fungsi yang bernama Assign Proximity.
Fungsi ini untuk membuat theme grid yang tiap selnya menyimpan
informasi berupa id, atau nilai, dari feature terdekat. Feature yang
digunakan dapat berupa points, lines, polygons, atau sel non-null. Tiap sel
dalam theme grid luaran adalah merupakan nilai dari salah satu field dari
feature. Theme proximity ini dapat digunakan untuk mendefinisikan
tempat yang tersedia tiap feature atau untuk mengidentifikasi feature
terdekat dalam theme yang lain. Kita dapat menentukan obyek mana yang
paling dekat dengan suatu lokasi.

20

Theme grid yang dihasilkan dari proses ini secara otomatis akan diberi
nama Proximity to <theme input>.
Contoh penggunaan fungsi ini, menggunakan data lokasi wisata, adalah
sebagai berikut:
1.

Buka data shape wisata.shp, kemudian aktifkan theme dan


pastikan penunjuk pada posisi theme tersebut.

2.

Pilih menu Analysis, kemudian pilih Assign Proximity. Maka akan


muncul kotak dialog:

Gambar 5.2 Kotak dialog pada proses Assign Proximity.


3.

Pilih field Keterangan, yang merupakan nama lokasi wisata. Lalu


klik OK. Hasil yang akan diperoleh adalah sebagaimana gambar
berikut.

21

Gambar 5.3 Hasil dari proses Assign Proximity, di-overlay


dengan titik lokasi wisata yang digunakan sebagai input.
Dari hasil diatas bisa terlihat jarak terdekat relative terhadap tiap lokasi
wisata.

22

6 KONVERSI FORMAT GRID

6.1 Mengekspor Grid


Format Grid yang telah kita buat dapat kita ubah formatnya dengan
menyimpan kedalam format lain dengan tujuan agar dapat dibaca oleh
perangkat lunak yang lain untuk suatu keperluan tertentu.
Langkah yang dilakukan adalah:
1.
2.

Pastikan penunjuk terletak pada theme grid yang akan kita


simpan dalam format lain.
Lalu pilih File dan Export Data Source. Kotak dialog yang akan
muncul adalah:

Gambar 6.1 Kotak dialog pada proses Eksport data Grid.


3.

Pada pilihan terdapat dua macam format luaran, yaitu ASCII


Raster dan Binary Raster. Sesuaikan dengan keinginan kita lalu
klik OK, dan beri nama untuk luaran yang akan dihasilkan.

6.2 Mengimpor Grid


Langkah sebaliknya juga dapat dilakukan, yaitu mengimpor suatu data
untuk dimasukkan pada format data grid. Langkah yang dilakukan
adalah:
1.

Pastikan posisi siap pada window View.

2.

Pilih menu File, kemudian Import Data Source. Kotak dialog akan
muncul.

23

Gambar 6.2 Kotak dialog pada saat proses impor.


3.

4.
5.

Tipe file yang dimungkinkan untuk diimpor adalah ASCII Raster,


Binary Raster, USGS DEM, dan US DMA DTED. Pilih salah satu,
kemudian OK. Pilih file yang dimaksud kemudian OK. Maka data
grid akan dibuat untuk tiap file yang kita panggil.
Simpan grid dengan penamaan tidak lebih dari 14 karakter dan
tidak dapat mengandung . atau spasi.
Jika mengimpor file ASCII maka kita harus memilih apakah data
yang diimport mempunyai informasi bilangan bulat (integer) atau
tidak.

Setelah file raster berhasil diimpor kedalam format grid, segera dapat
ditampilkan dalam View sebagai theme.

24

DAFTAR PUSTAKA

Burrough, P.A., (1986). Principles of Geographic Information Systems for Land


Assessment. Oxford University Press, New York.
ESRI, 2002, ArcView 3.3. User Manual, Environmental System Research
Institute, Inc.
Georgia State University, 2005, GIS FAQ, http:// monarch.gsu.edu
/service /gisinfo /gisfaq.htm (diakses pada Januari 2006).
Harder, C., 1998, Serving Maps on the Internet, Geographic Information on the
World Wide Web, ESRI Press.
I Wayan Nuarsa, 2005, Menganalisis Data Spasial dengan ArcView GIS 3.3
untuk Pemula, Elex Media Komputindo.
MIT, MIT Digital Field Camp Web Pages, http:// web.mit.edu /dtfg /www
/education /FieldCampWeb /main.htm (diakses pada Januari
2006).
NPS, National Park Service ArcView GIS On-Line Course, http://
www.nps.gov /gis /av3_online /documents /outline /Outline.html
(diakses pada Januari 2006).

25

A-1 METADATA
Data SIG yang digunakan pada buku ini adalah:
No.

Nama File /
Tema

Sumber

Perlakuan

Keterangan

Data Vektor
1

2
3
4
5
6
7

Administrasi/
Batas
Administrasi
Penduduk
Jalan/
Jaringan jalan
Kota/
Nama Kota
Pulau/
Batas pantai
Wisata/
Lokasi wisata
Titik tinggi

WebGIS KPU

Digitasi
Onscreen

http://webgis.kpu.go.id

Data BPS 2003

Digitasi

*)

Digitasi

*)

Digitasi

*)

Digitasi

*)

Digitasi

*)

Digitasi

Dicrop dan data atribut


disesuaikan.
Dicrop dan data atribut
disesuaikan.
Dicrop dan data atribut
disesuaikan.
Dicrop dan data atribut
disesuaikan.
Dicrop dan data atribut
disesuaikan.
Dicrop dan data atribut
disesuaikan.

*) Peta Rupabumi Indonesia, Lembar 0421-54&53, Edisi I - 1982,


BAKOSRTANAL, sekala 1:50.000.

26