Anda di halaman 1dari 17

TUGAS FINAL

PRINSIP-PRINSIP ILMU EKONOMI

EKONOMI MAKRO
OLEH :
ANDI PUTRIANISA NURFADILAH
P1000215007

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2015
Konsep Utama Ekonomi Makro
Ekonomi Makro atau makro-ekonomi adalah studi tentang ekonomi secara
keseluruhan. Makro-ekonomi untuk menjelaskan perubahan ekonomi yang
mempengaruhi banyak masyakarakat, perusahaan dan pasar. Makroekonomi dapat
digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk mempengaruhi tujuan kebijakan
seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian
neraca berkelanjutan.
Meskipun ekonomi makro merupakan bidang kajian ata pembelajaran yang
luas, ada dua bidang penelitian yang mencirikan disiplin ini, kegiatan untuk
mempelajari penyebab dan efek dari fluktuasi jangka pendek penerimaan negara
(siklus bisnis), dan kegiatan untuk mempelajari faktor-faktor penentu
pertumbuhan ekonomi jangka panjang (meningkatkan pendapatan Nasional).
Model ekonomi makro yang ada dan ada prediksi yang jamak digunakan oleh
pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar untuk membantu dalam
pengembangan dan evaluasi kebijakan ekonomi dan strategi bisnis.
Makro-ekonomi mencakup berbagai konsep dan variabel, tetapi selalu ada
tiga topik utama untuk penelitian ekonomi makro. Teori fenomena makroekonomi biasanya terhubung ke output, pengangguran dan inflasi. Melampaui
teori makro-ekonomi, topik ini juga sangat penting bagi semua pelaku ekonomi,
termasuk pekerja, konsumen dan produsen.
Ada tiga model dalam ekonomi makro yaitu
1. Sangat Jangka Panjang Model : domain dari teori pertumbuhan berfokus
pada pertumbuhan kapasitas produksi ekonomi
2. Jangka Panjang Model : snapshot dari model jangka yang sangat panjang ,
di mana modal dan teknologi yang sebagian besar tetap. Tingkat diberikan
modal dan teknologi menentukan tingkat output potensial. Output adalah
tetap , tetapi harga ditentukan oleh perubahan AD
3. Jangka Pendek Model : teori siklus bisnis. Perubahan AD menentukan
berapa banyak dari kapasitas produktif digunakan dan tingkat output dan

pengangguran. Harga yang tetap dalam periode ini , tetapi output adalah
variabel
Output atau keluaran nasional adalah nilai total seluruh produksi negara
pada periode yang berwenang. Yang semuanya diproduksi dan dijual
menghasilkan pendapatan. Oleh karena itu, output dan pendapatan biasanya
dianggap setara, dan dua istilah yang sering digunakan secara bergantian ternyata.
Output dapat diukur sebagai jumlah pendapatan, atau, bisa dilihat dari segi
produksi dan diukur sebagai total nilai barang dan jasa atau bisa juga dari jumlah
semua nilai tambah di dalam negeri.
Output atau keluaran ekonomi makro biasanya diukur dengan Produk
Domestik Bruto (PDB) atau salah satu rekening nasional. Ekonom yang tertarik
kenaikan jangka panjang dalam output akan mempelajari pertumbuhan ekonomi.
Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Produk (GDP), dalam
pengertiannya menurut definisi para ahli mengatakan bahwapengertian Produk
Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Produk (GDP) adalah jumlah
produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi pada suatu
daerah di saat tertentu. Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan alat pengukur
dari pertumbuhan ekonomi dimana alat pengukur pertumbuhan ekonomi adalah
PDB, PDB perkapita dan Pendapatan per jam Kerja.
Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Produk (GDP) tidak
mempertimbangkan kebangsaan perusahaan atau warga negara yang
menghasilkan barang atau jasa negara tersebut. GDP dihitung berdasarkan nilai
barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berdomisili di negara
tersebut, baik pribumi maupun warga negara asing.
Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar adalah jumlah nilai
tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu
wilayah. Nilai tambah adalah nilai yang ditambahkan dari kombinasi faktor produksi dan
bahan baku dalam proses produksi. Penghitungan nilai tambah adalah nilai produksi
(output) dikurangi biaya antara. Nilai tambah bruto di sini mencakup komponenkomponen pendapatan faktor (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan),
penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Jadi dengan menjumlahkan nlai tambah bruto

dari masing-masing sektor dan menjumlahkan nilai tambah bruto dari seluruh sektor tadi,
akan diperoleh Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar.

Produk Nasional Bruto (PNB) atau yang dalam bahasa inggris Gross
National Product (GNP) adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang dihitung
dalam pendapatan nasional hanya barang- barang dan jasa-jasa yang diproduksi
atau dihasilkan oleh faktor-faktor produksi yang dihasilkan warga negara sendiri
baik yang berada di dalam negeri maupun yang berada di luar negeri selama suatu
periode (biasanya satu tahun).

Mengukur Kegiatan Ekonomi


Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Produk (GDP), dalam
pengertiannya menurut definisi para ahli mengatakan bahwa pengertian Produk
Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Produk (GDP) adalahjumlah
produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi pada suatu
daerah di saat tertentu. Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan alat pengukur
dari pertumbuhan ekonomi dimana alat pengukur pertumbuhan ekonomi adalah
PDB, PDB perkapita dan Pendapatan per jam Kerja. Sebagai alat pengukur
dalam pertumbuhan ekonomi PDB memiliki rumus dalam mencari PDB
PDB juga memiliki empat komponen sebagai berikut
Komponen-Komponen Produk Domestik Bruto
a. Konsumsi rumah tangga
b. Investasi
c. Konsumsi pemerintah
d. Ekspor bersih, yang merupakan selisih dari total ekspor dan impor.
Rumus Mencari PDB
Berdasarkan komponen-komponen tersebut, maka dirumuskan seperti
dibawah ini..
PDB = C + I + G + (X-M)
Keterangan :
C : Konsumsi rumah tangga
I : Investasi
G : Konsumsi pemerintah
X : Ekspor
M : Impor
Dari rumus tersebut, dapat dijelaskan bahwa apabila konsumsi bertambah
makan akan berpengaruh pada PDB yang akan meningkat pula. Begitu juga
dengan Investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor bersih apabila mengalami
peningkatan maka jumlah PDB akan meningkat, hal ini dikarenakan komponen-

komponen tersebut berada dalam satu fungsi linier. Oleh karena itu, setiap negara
selalu berusaha untuk meningkatkan konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah,
dan nilai ekspor bersih. Secara kasar PDB dapat dijadikan ukuran kesejahteraan
ekonomi suatu negara, akan tetapi ukuran ini tidak terlalu tepat. Mengapa
dikatakan tidak tepat karena jika hanya melihat PDB, perhitungan tersebut masih
mengabaikan faktor jumlah penduduk. Pendapatan pribadi berkorelasi positif
terhadap besarnya nilai konsumsi. Naiknya pendapatan akan meningkatkan nilai
komsumsi rumah tangga. Ketika komsumsi rumah tangga naik, maka GDP
cenderung naik. Hal ini menjelaskan bahwa peningkatan GDP dapat terjadi ketika
pendapat pribadi naik.
Investasi dipengaruhi oleh tingkat pengembalian modal dan tingkat bunga.
Para pemilik modal akan berinvestasi jika tingkat pengembalian modal lebih besar
daripada tingkat bunga. Tingkat bunga yang tinggi menyebabkan investasi
menjadi tidak menarik atau tidak menguntungkan. Ketika tingkat bunga tinggi
sebagian modal digunakan untuk mencari keuntungan dari tingkat bunga melalui
deposito atau tabungan. Tingkat bunga tinggi pada akhir akan mengurangi jumlah
modal yang diinvestasikan. Jika pengeluaran investasi berkurang, maka GDP
cenderung menurun. Hal ini menjelaskan bahwa ketika tingkat bunga tinggi, dan
deposito lebih menarik bagi para investor, maka GDP akan cenderung turun .
Pembelian pemerintah adalah nilai barang dan jasa yang dibeli oleh
pemerintah pusat dan daerah. Contoh pembelian pemerintah adalah pembelian
peralatan militer, pembangunan sarana umum, jalan, gaji pegawai dan jasa yang
diberikan oleh pemerintah. Pengeluaran pemerintah dipengaruhi oleh pendapatan
pemerintah dari pajak dan pendapatan bukan pajak, seperti perusahaan milik
pemerintah. Jika pengeluaran pemerintah turun, maka GDP cenderung turun. Hal
ini menjelaskan bahwa jika pendapatan pemerintah naik dan pembelian juga naik
maka nilai GDP akan naik.
Karena salah satu pendapatan pemerintah adalah pajak, dan jika
pendapatan dari pajak naik, kemudian pemerintah membelanjakan pandapatan
dari pajak ini, maka naiknya pajak akan cenderung meningkatkam GDP.

PDB Nominal dan Riil


PDB yang mengukur nilai output yang dihasilkan berdasarkan harga
harga yang berlaku pada waktu output tersebut diproduksi. Nilai ini bisa berubah
setiap saat, baik karena ada perubahan dalam jumlah barang dan jasa atau ada
perubahan dalam harga barang dan jasa tersebut. Pada intinya PDB Nominal
mennggunakan harga saat ini untuk menilai produksi barang dan jasa dalam
perekonomian. Seiring waktu, tingkat umum harga naik karena inflasi, yang
menyebabkan peningkatan PDB nominal bahkan jika volume barang dan jasa
yang dihasilkan tidak berubah.
PDB Riil mengukur nilai output dalam dua tahun atau lebih yang berbeda
dengan menilai barang dan jasa disesuaikan dengan inflasi. Secara khusus, para
ekonom ingin mengukur jumlah barang dan jasa yang diproduksi oleh
perekonomian yang tidak dipengaruhi oleh perubahan harga barang dan jasaa.
PDB Riil menjawab satu pertanyaan hipotesis, yakni berapa nilai barang dan jasa
yang diproduksi pada tahun ini jika kita menilai barang dan jasa tersebut dengan
harga yang berlaku pada tahun tertentu pada masa lampau.
PDB Riil menunjukan bagaimana produksi barang dan jasa keseluruhan
dalam perekonomian seiring berjalannya waktu dengan mengevaluasi produksi
masa sekarang menggunakan harga-harga yang ditetapkan di masa lampau. PDB
Riil cocok untuk digunakan sebagai alat ukur kesejahteraan, karena
mencerminkan kemampuan perekonomian dalam memenuhi kebutuhan dan
keinginan orang-orang.

Tabungan dan Investasi


Dalam masyarakat kita, mungkin istilah tabungan masih diartikan sama
dengan investasi. Padahal keduanya jelas sangat berbeda. Kali ini saya mau bahas
beda investasi dengan tabungan. pertama-tama sebaiknya kita harus paham
dengan definisi investasi dan tabungan. Investasi adalah segala macam usaha yang
dilakukan seseorang untuk menambah nilai dari aset-aset yang telah dimiliki.
Sedangkan Tabungan ialah sebagian hasil pendapatan yang disimpan atau
disisihkan untuk kepentingan masa mendatang atau bukan kepentingan sekarang.
ini dia perbedaannya.
Tabungan :

Lebih banyak diperuntukkan untuk jangka pendek atau berjaga-jaga

pertumbuhan nilai aset sangat lambat

minim resiko/hampir tidak beresiko apapun


Menurut Undang-undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Tabungan
adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat
tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan
/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Kategori barang-barang konsumsi
Barang yang tidak tahan lama (non-durable goods),

barang yang

berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu / beberapa kali penggunaan,


seperti sabun. Karena barang ini dikonsumsi dengan cepat dan sering dibeli maka
strategi yang sesuai adalah menyediakan dibanyak tempat. Barang tahan
lama (durable goods), barang berwujud yang biasanya tetap bertahan walaupun
sudah digunakan beberapa kali: lemari es, pakaian. Produk tahan lama biasanya
memerlukan penjualan dan pelayanan yang lebih pribadi. Jasa (service), produk
yang tidak berwujud, tidak terpisahkan dan mudah habis. Akibatnya produk ini
memerlukan pengendalian mutu, kredibilitas pemasok, dan kemampuan
penyesuaian yang lebih tinggi.

Konsumsi merupakan tindakan pelaku ekonomi, baik individu maupun


kelompok, dalam menggunakan komoditas berupa barang maupun jasa untuk
memenuhi kebutuhannya. Mengapa kita harus memahami konsumsi? Membahas
konsumsi sangat penting untuk analisis ekonomi jangka panjang maupun jangka
pendek suatu negara. Secara agregat, konsumsi merupakan penjumlahan dari
pengel;uaran seluruh rumah tangga yang ada dalam suatu perekonomian. Dengan
mengetahui total pengeluaran suatu perekonomian, maka akan dapat diketahui
beberapa masalah penting yang muncul dalam perekonomian, seperti pemerataan
pendapatan, efisiensi penggunaan sumber daya dalam suatu perekonomian ,
masalah-masalah lainnya. Dengan demikian, kita dapat menganalisis dan
menentukan kebijakan ekonomi guna memperbaiki atau meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
Tabungan (saving) adalah bagian pendapatan masyarakat yang tidak digunakan
untuk konsumsi. Masyarakat yang mempunyai penghasilan lebih besar dari
kebutuhan konsumsi akan mempunyai kesempatan untuk menabung Dalam
perekonomian sederhana Pendapatan Nasional akan digunakan untuk : Konsumsi
dan Tabungan
Maka jika dirumuskan :
Y=C+S
Y = Yield (pendapatan)
C = Consumption( konsumsi)
S = Saving (tabunga)
Faktor yang mempengaruhi tabungan ; pendapatan, tingkat bunga, motif berjagajaga.
Investasi (investment) adalah bagian dari tabungan yang digunakan untuk
kegiatan ekonomi menghasilkan barang dan jasa (produksi) yang bertujuan
mendapatkan keuntungan. Jika tabungan besar, maka akan digunakan untuk
kegiatan menghasilkan kembali barang dan jasa (produksi). Tabungan akan
digunakan untuk investasi.

Investasi mempunyai dampak sangat besar terhadap bertambahnya


pendapatan nasional. Bila dirumuskan :
Y=C+S
Y=C+I
Sehingga I = S
Y(yield) : pendapatan
C(consumption): konsumsi
S(saving : tabungan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengusaha untuk melakukan investasi :
a) Tingkat bunga kredit
b) Jumlah permintaan barang/jasa
c) Perkembangan teknologi
d) Pajak Perseroan (perusahaan)
e) Biaya produksi
f) Kebijakan investasi & stabilitas politik
Konsumsi, pendapatan dan tabungan hubungannya sangat erat. Menurut pendapat
JM Keyness dikenal dengan psychological Consumption membahas tingkah laku
masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.
Pendapat JM Keyness sebagai berikut :
a) Jika pendapatan naik, maka konsumsi akan naik, tetapi tidak sebanyak kenaikan
pendapatan
b) Setiap kenaikan pendapatan akan digunakan untuk konsumsi dan tabungan
c) Setiap kenaikan pendapatan jarang menurunkan konsumsi dan tabungan.
2. Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan
a. Fungsi konsumsi
Fungsi Konsumsi menjelaskan hubungan antara konsumsi dan pendapatan
nasional kedalam bentuk persamaan digunakan beberapa asumsi sebagai berikut :

Jika Y = 0 masyarakat tetap akan melakukan pengeluaran konsumsi minimum


(otonom)

Pengeluaran konsumsi tergantung dari besar kecilnya pendapatan

Jika terjadi kenaikan pendapatan, maka konsumsi meningkat dengan jumlah


yang lebih kecil dibanding kenaikan pendapatan.

Proporsi kenaikan pendapatan yang akan dikonsumsi adalah tetap. Proporsi ini
disebut Marginal Propensity to Consume (MPC)
Berdasarkan asumsi persamaan linier pengeluaran konsumsi dirumuskan :
C = a + bY
Yang menunjukkan bahwa :
Y = Pendapatan (income)
C = konsumsi
a = konstanta, besarnya konsumsi saat tidak ada pendapatan ( sama dengan nol)
disebut konsumsi otonom.
b = tambahan melakukan konsumsi bila ada tambahan pendapatan, disebut hasrat
konsumsi marginal, merupakan perbandingan antara perubahan pengeluaran
konsumsi dan perubahan pendapatan.
Untuk menghitung besar a dirumuskan a = (APC MPC) Y
Dimana :
APC : average propencity to consume, rata-rata hasrat mengkonsumsi dengan
membandingkan antara besarnya konsumsi dengan pendapatan itu sendiri.
APC = C/Y
Untuk menghitung b Secara matematis dirumuskan :
MPC= C/Y
(MPC = marginal propensity to consume)
b. Fungsi Tabungan
Fungsi tabungan menjelaskan antara tabungan dengan pendapatan diperoleh dari
persamaan antara pendapatan nasional dengan pengeluaran konsumsi masyarakat
ditambah dengan tabungan masyarakat. Jadi ,
Y=C+S
S = Y- C

Padahal C = a +by maka,


C = Y - (a+by)
C = Y a by
C = -a + y by
C = -a + y by
C = -a + (1-b)y
Jadi fungsi tabungan =
S = -a + (1-b)y atau S =+(1-b) - a
Keterangan :
S = tabungan nasional
(1-b)=MPS (marginal Propensity Save) hasrat marginal menabung ), yaitu
besarnya tambahan tabungan yang disebabkan oleh bertambahnya pendapatan.
(1-b) hasrat untuk menabung marjinal ( (MPS= marginal propensity to save
Secara matematis MPS =
MPS= S/Y
a = pengeluaran konsumsi otonom /pengeluaran apabila pendapatan sama dengan
nol.
S = + (1-b)Y-a
S=YC
S = Y Ca + b
atau MPS = 1 - MPC, sebab MPC + MPS = 1
Karena (b) + (1-b) = 1 maka MPC + MPS = 1
c. Besarnya titik keseimbangan BEP atau break Even income (BEI)
Tingkat BEP adalah tingkat dimana besarnya pendapatan sama dengan besarnya
pengeluaran untuk konsumsi.
Y = C atau Y-C = 0
d. Hubungan antara MPC dengan MPS dinyatakan berikut :
MPC +MPS = 1 atau MPC= 1-MPS atau MPS = 1 - MPC

Siklus Bisnis Dan Multiplier


Siklus bisnis artinya fluktuasi dalam total output nasional, employment,
pendapatan yang umumnya terjadi pada 2 sampai 10 tahun, yang ditandai oleh
kontraksi atau ekspansi dalam sektor-sektor ekonomi
Permintaan agregat/ aggregate demand (AD) adalah hubungan antara
tingkat harga agregat dengan jumlah ouput yang diminta. Dengan kata lain, kurva
permintaan agregat menyatakan jumlah barang dan jasa yang ingin dibeli orang
pada setiap tingkat harga. Persamaan Kuantitas sebagai Permintaan Agregat Teori
kuantitas menyatakan MV=PY, di mana M adalah jumlah uang yang beredar, V
adalah perputaran uang, P adalah tingkat harga, dan y adalah jumlah output. Jika
perputaran uang adlah konstan, maka persamaan ini menyatakan bahwa jumlah
uang yang beredar menentukan nilai nominal output, yang pada akhirnya
merupakan produk dari tingkat harga dan jumlah output. Persamaan kuantitas bisa
di tulis kembali dalam bentuk penawaran dan permintaan untuk keseimbangan
uang riil M/P sama dengan permintaan (M/P)d dan bahwa permintaan adalah
proporsional terhadap output Y. Perputaran uang V adalah sisi lain dari parameter
permintaan uang K. Asumsi perutaran uang konstan sama dengan asumsi bahwa
permintaan untuk keseimbangan uang riil untuk tiap satuan output adalah konstan.
Pergeseran kurva AD
Pergeseran Kurva Permintaan Agregat Kurva permintaan agregat dibuat
untuk nilai dari jumlah uang yang beredar yang tetap. Dengan kata lain, kurva
tersebut menyatakan kombinasi yang memungkinkan dari P dan Y untuk nilai M
tertentu. Jika jumlah uang yang beredar berubah, maka kombinasi yang mungkin
dari P dan Y berubah, yang berarti kurva permintaan agregat bergeser.
Faktor-faktor penyebab:
1. kebijakan fiskal
pengeluaran
pemerintah dan pajak

2. kebijakan moneter---money supply


- pengeluaran
otonomous: investasi,
konsumsi, net ekspor
Model Multiplier Dasar
1. Model multipier menyediakan cara sederhana untuk memahami dampak dari
permintaan agregat pada tingkat output. Dalam pendekatan paling sederhana,
konsumsi rumah tangga adalah fungsi pendapatan setelah pajak dimana investasi
tetap. Keinginan orang untuk mengkonsumsi dan keinginan perusahaan
berinvestasi diseimbangkan dengan penyesuaian output. Tingkat ekuilibrium
output nasional harus berada di perpotongan skedul tabungan dan investasi, yaitu
SS dan II. Kita juga dapat melihatnya dengan menggunakan pendapatan
pengeluaran output, dimana ekuilibrium terdapat di perpotongan skedul konsumsi
dan investasi, C + I, dengan garis 45 derajat.
B. Kebijakan Fiskal pada Model Multiplier
2. Analiasa kebijakan fiskal menguraikan model multiplier Keynesian. Ia
menunjukkan peningkatan dalam pembelian pemerintah., dengan pajak dan
investasi tidak berubah, mempunyai efek perluasan pada ekonomi seperti
investasi. Skedul C + I + G bergeser ke atas ke perpotongan ekuilibrium yang
lebih tinggi dengan garis 45 derajat.
3. Penurunan pajak, dengan investasi dan pembelian pemerintah tidak berubah,
meningkatkan tingkat ekuilibrium output nasional. Skedul CC yang digambarkan
terhadap GDP digeser ke atas dan ke kiri oleh perpotongan pajak. Namun karena
tambahan pendapatan setelah pajak sebagian akan ditabung, maka peningkatan
dollar pada konsumsi tidak sebesar peningkatan pendapatan setelah pajak,
sehingga multiplier pajak lebih kecil dari multiplier pengeluaran pemerintah.
4. Menggunakan teknik statistik dan teori ekonomi makro, para ahli ekonomi
telah mengembangkan model realistis untuk memperkirakan multiplier
pengeluaran. Untuk pendekatan umum, multiplier cenderung antara satu dan satu
setengah untuk periode hingga empat tahun.

Efek Perpajakan Dalam Perekonomian


Pajak merupakan suatu pungutan yang dipaksakan oleh pemerintah untuk
berbagai tujuan, misalnya untuk membiayai penyediaan barang dan jasa publik,
untuk mengatur perekonomian, dapat juga mengatur konsumsi masyarakat.
Karena sifatnya yang dipaksakan tersebut maka pajak akan mempengaruhi
perilaku ekonomi masyarakat atau seseorang. Pajak merupakan suatu pungutan
yang dipaksakan oleh pemerintah untuk berbagai tujuan, misalnya untuk
membiayai penyediaan barang dan jasa publik, untuk mengatur perekonomian,
dapat juga mengatur konsumsi masyarakat. Karena sifatnya yang dipaksakan
tersebut maka pajak akan mempengaruhi perilaku ekonomi masyarakat atau
seseorang.
Pajak merupakan sumber penerimaan negara yang sangat penting dalam
menopang pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. Besarkecilnya pajak akan menentukan kapasitas anggaran negara, baik untuk
pembiayaan pembangunan maupun anggaran rutin. Pajak sebagai instrumen fiskal
yang merupakan penerimaan negara kemudian menjadi suatu investasi pemerintah
dan digunakan untuk memenuhi kemakmuran rakyat.
Dampak Ekonomi
Kebijakan perpajakan yang baik ikut menentukan jalannya perekomian di
suatu negara. Dijelaskan bahwa tarif pajak yang tinggi akan menurunkan investasi
yang otomatis menekan pertumbuhan ekonomi dan berdampak mengecilnya
penerimaan pajak. Tarif pajak yang relatif kecil akan berdampak sebaliknya,
investasi melaju, pertumbuhan ekonomi membaik, dan penerimaan negara
membesar. Jadi, jelas setiap kebijakan perpajakan memiliki dampak ekonomi
makro dan aspek sosial lainnya.
Kajian perpajakan yang lebih mendalam dan terperinci meliputi tidak saja
pemahaman aturan perundang-undangan, tetapi juga membuat landasan teori
ekonomi perpajakan. Pentingnya alokasi pembiayaan pengeluaran pemerintah
yang efisien dan distribusi yang adil merata menjadi kajian menarik yang dapat
ditemukan dalam buku ini.
Demikian juga mengenai pentingnya peranan pajak dalam ilmu ekonomi
aspek ekonomi makro. Lebih jauh lagi, dalam era desentralisasi fiskal, posisi
pajak sebagai transfer dana perimbangan memegang peranan sentral dalam
pembangunan dan kesejahteraan daerah.

Kebijakan Ekonomi Makro (Kebijakan Fiskal)


Kebijakan moneter
Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara
untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, dan mendorong usaha
pembangunan nasional. Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu
kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan
keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya
tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur
dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional
yang seimbang.
Kebijakan moneter dapat dilakukan oleh pemerintah dan Bank Sentral
dengan cara langsung atau tidak langsung:

Kebijakan moneter langsung yaitu pemerintah langsung campur tangan dalam

hal peredaran uang atau kredit perbankan.


Kebijakan moneter tidak langsung dilakukan oleh Bank sentral dengan cara
mempengaruhi kemampuan bank-bank umum dalam memberikan kredit.
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara

menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu :

Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy


Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar
Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar.
Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy)

Kebijakan fiskal

Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dibuat pemerintah untuk


mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa
pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang
bertujuan men-stabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan
jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran
dan pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah
dapat memengaruhi variabel-variabel berikut:

Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi


Pola persebaran sumber daya
Distribusi pendapatan
Dengan kebijaksanaan fiskalnya pemerintah dapat mengusahakan

terhindarnya perekonomian dari keadaan-keadaan yang tidak diinginkan seperti


keadaan dimana banyak pengangguran , inflasi , neraca pembayaran internasionla
yang terus menerus defisit dan sebagainya.
Ada analisis yang dipakai dalam kebijakan fiscal
1.

Analisis kebijaksanaan fiskal dalam sistem perpajakan yang sederhana.

Dengan adanya tindakan fiskal pemerintah, pengeluaran masyarakata untuk


konsumsi tidak lagi secara langsung ditentukan oleh tinggi rendahnya pendapatan
nasional, akan tetapi oleh tinggi rendahnya pendapatan yang siap untuk di
belanjakan atau disposable income
2.

Analisis kebijaksanaan fiscal dalam system perpajakan yang Built-in

Flexible
Yang dimaksud dengan system perpajakan yang built-in flexible adalah system
pemungutan pajak pendapatan, maksudnya adalah untuk meratakan distribusi
pendapatan agar tidak terjadi ketegangan ketegangan social. Dikatakan flexible
karena mengikuti pendapatan, apabila pendapatan besar maka jumlah pajak yang
di bayar besar dan begitu sebaliknya.