Anda di halaman 1dari 233

BAB 1

DATA PENGALAMAN PERUSAHAAN


1.1 Sejarah Perusahaan
Latar belakang perusahaan PT. SAE CITRA ENDAH didirikan pada tahun 1997
dengan landasan pendirian adalah Akte Pendirian Perseroan Terbatas Notaris
Suryana, S.H, No. 50 tanggal 9 Juli 1997
dengan alamat perusahaan di Tasikmalaya,
Jawa Barat, Indonesia.
Pada perjalanannya PT. Sae Citra Endah
mengalami

beberapa

perubahan.

Perubahan pertama sesuai dengan akte


perubahan pasal 2 No. 61 tanggal 27
November 1995 oleh Notaris Suryana, S.H,
kemudian akte pernyataan pemasukan dan
pengunduran diri serta perubahan pasal 5
oleh Notaris Suryana, S.H, No. 15 tanggal
13 Mei 2002.
Namun demikian pada tahun 2005 dilakukan
restrukturisasi perusahaan terutama dalam
hal kepemilikan saham dan susunan direksi
dan komisaris serta pemindahan alamat yang di perkuat dengan keluarnya Akte
pemasukan dan pengeluaran sebagai persero serta perubahan anggaran dasar,
Notaris Leontine Anggasurya, S.H, No. 29 tanggal 31 Januari 2005, yang
kemudian dilakukan perubahan anggaran dasar dengan Akte perubahan
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi
dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-1

anggaran dasar, Notaris Leontine Anggasurya, S.H, No. 21 tanggal 11 Februari


2005. Berdasarkan risalah rapat dilakukan perubahan anggaran dasar dengan
Akte perubahan anggaran dasar, Notaris Leontine Anggasurya, S.H, No. 28
tanggal 21 Februari 2009.
Adapun kualifikasi perusahaan yang didasarkan pada Surat Ijin Usaha Jasa
Konstruksi (IUJK) dan Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang dikeluarkan oleh
instansi terkait dan masih berlaku pada saat ini, PT. Sae Citra Endah termasuk
pada Perusahaan dengan Golongan Menengah.

1.2 Lingkup Jasa Konsultan


PT. Sae Citra Endah memiliki bidang pelayanan pekerjaan yang berdasarkan
Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang dikeluarkan oleh INKINDO yaitu terdiri dari:
a. Konstruksi
1. Sipil
2. Tata Lingkungan
3. Mekanikal
4. Elektrikal
5. Arsitektur
b. Non-Konstruksi
1. Keuangan
2. Transportasi
3. Pengembangan Pertanian dan Pedesaan
4. Kepariwisataan
5. Telematika
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi
dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-2

Sedangkan subbidang pelayanan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh


perusahaan (PT. Sae Citra Endah) berdasarkan pada sertifikat badan usaha dari
instansi terkait, meliputi:

1. Prasarana Keairan
2. Prasarana Transportasi
3. Struktur Bangunan
4. Analisa Mengenai Dampak Lingkungan
5. TeknikLingkungan
6. Pengembangan Wilayah dan Kota
7. Instalasi

Tata

Udara,

Lift

dan

Eskalator, Isolasi Termal dan Suara,


Instalasi Plumbing dan Utilitas
8. Telekomunikasi
9. Arsitektur Bangunan
10. Bank Sentral
11. Bank Komersial
12. Bank Pembangunan
13. Bank Dagang
14. Pasar Uang
15. Manajemen Pasar Modal dan Bursa
Efek
16. Manajemen Keuangan Lembaga Non Bank

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-3

17. Pembelanjaan Sektor Pemerintah


18. Manajemen Keuangan Perusahaan
19. Manajemen Investasi dan Portfolio
20. Pengawasan dan Regulasi Sektor Keuangan
21. Sub Bidang Keuangan Lainnya
22. Legislasi/Peraturan Bidang Transportasi
23. Usaha Jasa Angkutan
24. Sub Bidang Transportasi Lainnya
25. Prasarana

Sosial

dan

Pengembangan/Partisipasi Masyarakat
26. KreditdanKelembagaanPertanian
27. Perkebunan dan Mekanisasi Pertanian
28. Pembibitan
29. Pengendalian Hama/Penyakit Tanaman
30. Peternakan
31. Kehutanan
32. Perikanan
33. Tanaman Keras dan Pengan, dan Produk Tanaman Lain
34. Konservasi dan Penghijauan
35. Sub Bidang Pengembangan Pertanian dan Pedesaan Lainnya
36. Permintaan, Aspek transportasi dan Studi Dampak Pariwisata
37. Penyiapan dan Implementasi Proyek Wisata

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-4

38. Pengelolaan Fasilitas Wisata


39. Museum, Benda-Benda Bersejarah, Margasatwa, Kerajinan dan Lain-Lain
40. Sub Bidang Kepariwisataan Lainnya
41. Telekomunikasi Darat
42. Telemunikasi Satelit
43. Perangkat Keras
44. Konten
45. Aplikasi/Perangkat Lunak
46. Sub Bidang Telematika Lainnya
Sedangkan lingkup layanan PT. Sae Citra Endah adalah:
1. Jasa SurveyTeristis
2. Penginderaan Jauh/Fotogrametri
3. Survey Hidrografi/Batimetri
4. Sistem Informasi Geografi
5. Survey Regristrasi Kepemilikan Tanah/Kadastal
6. Survey Geologi
7. SurveyPertanian
8. Studi Makro
9. Studi Kelayakan dan Studi Mikro Lainnya
10. Studi Perencanaan Umum
11. Jasa Penelitian
12. Jasa Bantuan Teknik

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-5

13. Perencanaan Sistem Akuntansi


14. Penelitian dan Pengembangan SDM
15. Konsultasi Manajemen Fungsional
16. Konsultasi Hukum Bisnis
17. Jasa Teknologi dan Informasi
18. Jasa Penilai/Appraisal/Valuer
19. Jasa Surveyor Independen
20. Jasa Sertifikasi
21. Jasa Inspeksi Teknik
22. Jasa Kehumasan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-6

1.3 Struktur Organisasi


PT. SAE CITRA ENDAH merupakan perusahaan jasa konsultansi yang
menjunjung tinggi etika dan profesionalisme kerja. Untuk itu disusun suatu
bentuk

jaringan

koordinasi

yang

mampu

menterjemahkan

etika

dan

profesionalisme tersebut dalam bentuk struktur organisasi yang handal, seperti


yang digambarkan pada bagan di bawah ini.Dalam mendukung Profesionalisme
dan Efisiensi dan efektifitas perusahaan, PT. Sae Citra Endah didukung oleh
para tenaga profesional sebagai pegawai tetap dan juga menjalin kerjasama
dengan para tenaga ahli profesional, dengan demikian kualitas pekerjaan akan
tetap terjaga dan memiliki tingkat keakuratan yang sesuai dengan harapan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-7

Gambar 1.1
Organisasi PT. Sae Citra Endah
Komisaris
Mochamad Yunus

Direktur Utama

Ir. Hj. Metty Triantika

Direktur Teknik
Ir. Agung Triwibowo
Tenaga Ahli
Sipil Air

Tenaga Ahli
Sipil Bangunan

Direktur Umum

Tenaga Ahli
Arsitektur

Direktur Operasional

Bagian Keuangan

Bagian Operasional
Perusahaan
Bagian Marketing
Perusahaan

Bangunan
Tenaga Ahli
Arsitektur Lansekap

Tenaga Ahli
Kajian Sosekbud

Tenaga Ahli
Perenc. Wil & Kota

Bagian Administrasi

Tenaga Ahli
Telematika & IT

Tenaga Ahli
Sipil

Tenaga Ahli
Sipil Transportasi

Bagian Dokumen
Teknis Penawaran

Jalan&Jembatan
Tenaga Ahli
Mekanikal Elektrikal

Tenaga Ahli
Pendidikan

Tenaga Ahli
GIS dan Pemetaan

Tenaga Ahli
Lingkungan

Staff Teknis

Tenaga Ahli
Urban Design

Umum

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-8

Sebagai bahan pertimbangan mengenai kualifikasi dan pemahaman perusahaan


mengenai jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan berikut ini dilampirkan daftar
pengalaman perusahaan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dan pengalaman dalam
pekerjaan

sejenis,

semoga

daftar

tersebut

dapat

dijadikan

penilaian.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-9

Tabel 1.2
Daftar Pengalaman Kerja Sejenis 10 (Sepuluh) TahunTerakhir

No

Pejabat Pembuat
Komitmen/
Sumber Dana

Nama dan Uraian


Pekerjaan

Lingkup
Layanan

Periode

Orang
Bulan

Nilai
Kontrak

Mitra
Kerja

Juni 2009 Des 2009

64

446.187.000

Juni 2008 - Des 2008

76

431.000.000,00

Dinas Permukiman
1. dan Perumahan
Provinsi Jawa Barat

2.

Bappeda Provinsi
Banten

Penyusunan Rencana Tata


Ruang Strategis Jawa Barat
(Koridor Bandung Cirebon)
Pemantapan Revisi RTRW
Provinsi Banten 2009 - 2029

Tata
Lingkungan/
Jasa Perencanaan
Urban
Tata
Lingkungan/
Jasa Perencanaan
Urban

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-10

Sebagai bahan pertimbangan mengenai kualifikasi dan pemahaman perusahaan


mengenai jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan berikut ini dilampirkan uraian
pengalaman kerja sejenis yang telah dikerjakan, semoga uraian tersebut dapat
dijadikan penilaian.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-11

Uraian Pengalaman Kerja Sejenis


10 (Sepuluh) Tahun Terakhir
Pengguna Jasa

: Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat

Nama Paket Pekerjaan


Lingkup Produk Utama
Lokasi Kegiatan
Nilai Kontrak
No. Kontrak
Waktu Pelaksanaan
Nama Pimpinan Kemitraan
Alamat
Negara Asal

: Penyusunan Rencana Tata Ruang Strategis Jawa Barat


(Koridor Bandung Cirebon)
: Tata Lingkungan/ Pengembangan Kota dan Wilayah
: Koridor Bandung Cirebon
: Rp. 446.187.000,: 602.2/65/SPPP-KORIDOR/TRK/2009
: 12 Juni 2009 9 Desember 2009
: Ir. Hj. Metty Triantika
PT SAE CITRA ENDAH
: Jln. Malang No.8 Antapani Bandung 40291
: Indonesia

Jumlah Tenaga Ahli


Tenaga Ahli Asing
Tenaga Ahli Indonesia
Perusahaan Mitra Kerja

: 64 OB
: - OB
: 64 OB
Jumlah Tenaga Ahli ( salah satu )
4.1.1

Asing
a.
b.
c.

Tenaga ahli tetap yang terlibat :


4.1.2 Posisi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Team Leader
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Ass Tenaga Ahli
Ass Tenaga Ahli

OB
OB
OB

Keahlian
Ahli PWK
Ahli Lingkungan
Ahli Geodesi
Ahli Transportasi
Ahli Ekonomi
Ahli Sosial Budaya
Ahli Hukum dan Perundangan
PWK
Ahli Lingkungan

Indonesia
-

OB
OB
OB

Jumlah Orang
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Uraian Pekerjaan :
1. Inventarisasi data lingkungan Untuk Pengoptimalan Penataan
2. Kompilasi Menciptakan Keserasian Rencana Tata Ruang
3.Penataan Rencana Pembangunan
4.Penetapan Rencana Pengembangan Pengolahan Kawasan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-12

engguna Jasa
Nama Paket Pekerjaan

: Bappeda Provinsi Banten

Lingkup Produk Utama


Lokasi Kegiatan
Nilai Kontrak
No. Kontrak
Waktu Pelaksanaan
Nama Pimpinan Kemitraan
Alamat
Negara Asal

: Pemantapan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah


Provinsi Banten 2009 - 2029
: Tata Lingkungan/ Pengembangan Kota dan Wilayah
: Provinsi Banten
: Rp. 431.000.000,: 074/480.3-KPBJ/SU/Bapp/2008
: 25 Juni 2008 12 Desember 2008
: Ir. Hj. Metty Triantika
PT SAE CITRA ENDAH
: Jln. Sukanagara No. 63 Antapani Bandung 40291
: Indonesia

Jumlah Tenaga Ahli


Tenaga Ahli Asing
Tenaga Ahli Indonesia
Perusahaan Mitra Kerja

: 76 OB
: - OB
: 76 OB
Jumlah Tenaga Ahli ( salah satu )
Indonesia

Asing
a.
b.
c.

Tenaga ahli tetap yang terlibat :


Posisi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Team Leader
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Tenaga Ahli
Ass Tenaga Ahli
Ass Tenaga Ahli
Ass Tenaga Ahli

Keahlian
Ahli PWK
Ahli Geografi
Ahli Ekonomi Pembangunan
Ahli Kelembagaan/Hukum
Ahli Lingkungan Hidup
Ahli GIS
Ahli Geologi
Arsitek
Geografi
Ahli Ekonomi Pembangunan
Ahli Lingkungan Hidup
GIS

OB
OB
OB

OB
OB
OB

Jumlah Orang
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Uraian Pekerjaan :
1. Inventarisasi data lingkungan Untuk Pengoptimalan Penataan
2. Kompilasi Menciptakan Keserasian Rencana Tata Ruang
3.Penataan Rencana Pembangunan
4.Penetapan Rencana Pengembangan Pengolahan Kawasan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

1-13

BAB 2
TANGGAPAN TERHADAP KAK
PERSONIL & FASILITAS PENDUKUNG
2.1.

Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Tanggapan Terhadap KAK (Kerangka Acuan Kerja) dilakukan sebagai upaya


untuk melengkapi beberapa poin pemikiran yang belum terdapat didalam KAK.
Tanggapan ini akan dibagi kedalam dua bagian yaitu Tanggapan Umum dan
Tanggapan Khusus. Tanggapan Umum akan membahas kepada gambaran
pelaksanaan pekerjaan secara umum, sedangkan Tanggapan Khusus akan
membahas terhadap item-item yang termuat didalam KAK dan akan menjadi sub
bab dalam Usulan Teknis.
Berdasarkan pemahaman terhadap KAK yang telah dilakukan serta review
terhadap Berita Acara Penjelasan Tugas (Aanwijzing), maka Konsultan telah
cukup memahami subtansi materi dari kegiatan pekerjaan PENYUSUNAN
PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS ASPEK FUNGSI
DAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DI KOTA CIMAHI. Namun seperti telah
dijelaskan diatas, Konsultan akan menyampaikan beberapa tanggapan terhadap
KAK terutama untuk kepentingan peningkatan kinerja pada saat pelaksanaan
pekerjaan nantinya.
Tanggapan yang akan dikemukakan oleh Konsultan pada dasarnya untuk
memperjelas subtansi dan materi yang akan diuraikan pada KAK, agar tidak ada
permasalahan dan kendala dalam proses pelaksanaannya, sehingga produk
yang dihasilkan dapat optimal dan tentunya dapat diselesaikan dengan tepat

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-1

waktu. Dengan demikian, tanggapan yang akan disampaikan Konsultan ini


diharapkan dapat juga menghindarkan dari kesalahan interpretasi yang dapat
merugikan semua pihak. Tanggapan dari Konsultan terhadap KAK dapat dilihat
pada bahasan sub bab berikut.
2.1.1 Tanggapan Khusus
a. Latar Belakang
Judul pekerjaan ini adalah Penyusunan Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis Aspek Fungsi Dan Daya Dukung Lingkungan Di
Kota Cimahi. Sudah cukup dimengerti.Adapun untuk pelaksanaan
pekerjaan, tetap akan mendasarkan pada judul pekerjaan tersebut.
b. Maksud, Tujuan dan Sasaran
Maksud

dari

kegiatan

Penyusunan

Perencanaan

Pengembangan

Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan di Kota


Cimahi adalahuntuk menyediakan rencana pengelolaan bagi semua
stakeholders/ para pemangku kepentingan (pemerintah, masyarakat,
pihak swasta dan instansi non-pemerintah) di Kota Cimahi. Sedangkan
tujuannya kegiatan ini yaitu menyusun acuan dalam pengelolaan
kawasan

strategis

di

Kota

Cimahi

dalam

upaya

melaksanakan

pembangunan berkelanjutan dan keseimbangan.


Sementara sasaran yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini
adalah:

Tersedianya deliniasi kawasan strategis aspek fungsi dan daya


dukung lingkungan.

Teridentifikasinya kawasan strategis aspek fungsi dan daya


dukung lingkungan

Tersedianya rencana pengelolaan kawasan strategis aspek fungsi


dan daya dukung lingkungan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-2

Penyusunan Rancangan Peraturan Walikota Kawasan Strategis


aspek fungsi dan daya dukung lingkungan di Kota Cimahi.

c. Lingkup Kegiatan
Agar tujuan dari kegiatan ini dapat dicapai maka ruang lingkup dari
kegiatan ini adalah sebagai berikut :

Melakukan kajian peraturan dan perundangan mengenai kawasan


strategis aspek fungsi dan daya dukung lingkungan.

Melakukan deliniasi kawasan strategis aspek fungsi dan daya


dukung lingkungan.

Melakukan identifikasi kawasan strategis aspek fungsi dan daya


dukung lingkungan.

Menyusun rencana pengelolaan kawasan strategis aspek fungsi


dan daya dukung lingkungan.

Menyusun indikasi program perencanaan pengembangan kawasan


strategis aspek fungsi dan daya dukung lingkungan.

Menyusun Rancangan Peraturan Walikota Kawasan Strategis


aspek fungsi dan daya dukung lingkungan di Kota Cimahi.

Melakukan koordinasi dan konsultasi ke instansi pemberi kerja


dalam rangka penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan di Kota
Cimahi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-3

d. Metodologi
Metodelogi pengerjaan kegiatan tidak dijelaskan dalam kerangka acuan
kerja akan tetapi Konsultan akan menggunakan pendekatan dan
metodologi yang diarahkan oleh pemberi tugas dan akan disesuaikan
dengan pandangan dari konsultan. Hal ini nantinya akan merupakan
sebuah

brainstorming

antara

pihak

pemberi

jasa

dan

pihak

penggunajasa, untuk menemukan metode analisis yang tepatdidalam


pelaksanaan pekerjaan ini.

e. Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan


Pekerjaan jasa Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan di Kota Cimahi
akan dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan terhitung sejak
dikeluarkannya Surat Perintah Pelaksanaan Pekerjaan (SPK). Pekerjaan
akan diselesaikan sebaik mungkin sesuai dengan jangka waktu yang telah
disepakati.

2.2 TanggapanTerhadapPersonil/FasilitasPendukung
2.2.1 TanggapanTerhadapPersonil
Dalam Kerangka Acuan Kerja telah dijelaskan bahwa tenaga ahli yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan ini berjumlah 4 (empat) personil
Tenaga Ahli dan 4 (empat) personil Tenaga Assisten. Masing-masing personil
dengan minimal pengalaman kerja dan kualifikasinya, serta latar belakang
pendidikan merupakan syarat mutlak.Mengenai proporsi keterlibatan masingmasing tenaga ahli akan disesuaikan dengan materi pelaksanaan pekerjaan.
Secara umum kebutuhan akan kualifikasi tenaga ahli yang ada sudah cukup
dimengerti. Tenaga ahli yang diusulkan oleh Konsultan untuk menangani
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi
dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-4

pekerjaan ini merupakan tenaga-tenaga ahli pilihan yang telah berpengalaman


dalam menangani pekerjaan-pekerjaan sejenis dan sesuai dengan kebutuhan
tenaga ahli yang dikehendaki di dalam dokumen pengadaan jasa konsultan
seperti tercantum dalam kerangka acuan kerja (KAK). Hal-hal lain di luar yang
dikemukakan tersebut di atas sekiranya cukup jelas dan akan dipakai sebagai
bahan acuan kerja.

2.2.2 Fasilitas Pendukung


Dalam KAK yang disampaikan fasilitas pendukung tidak dijelaskan secara detail,
untuk fasilitas pendukung yang akan digunakan dalam pekerjaan ini konsultan
memberikan masukan untuk menggunakan fasilitas pendukung yang akan
dipergunakan dalam survey lapangan maupun dalam studio.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-5

Tabel 2.1
Data Fasilitas Pendukung
No
1
1
2

Jenis
Fasilitas/Peralatan/
Perlengkapan
2
Kursi Gambar
Kursi Direktur

Jumlah

Kapasitas atau
output
pada saat ini

Tahun
Pembuata
n
5

Merk dan tipe


4

10 buah

Memadai

5 buah

Memadai

Kondisi
(%)

Lokasi
Sekarang

7
Bandung

Bukti
Kepemilik
an
8

Rakuda

2010

Baik

Chitose

2011

Baik

Bandung

Ada

Ada

Chitose

2011

Baik

Bandung

Ada

Chitose

2007,2009

Baik

Bandung

Ada

Rakuda

2007,2008,
2009,2010

Baik

Memadai

Jati Zaki
Furniture

2006

Kursi hadap

20 buah

Memadai

Kursi Lipat Chitose

20 buah

Memadai

Kursi Kerja

10 buah

Meja dan Kursi Tamu

5 unit

Meja Gambar

10 unit

Memadai

Mutoh

2005

Baik

Bandung

Ada

Meja Kerja 1 biro

5 unit

Memadai

Venus

2006

Baik

Bandung

Ada

Meja Kerja biro

17 unit

Memadai

Venus

2006

Baik

Bandung

Ada

10

Meja Rapat

3 unit

Memadai

Venus

2006

Baik

Bandung

Ada

11

Meja Komputer

10 unit

Memadai

ADITEC ADC 2060

2006

Baik

12

Meja Dorong

5 unit

Memadai

Venus

2006

Baik

Bandung

Ada

13

Rak Buku Samping

5 unit

Memadai

Venus

2006

Baik

Bandung

Ada

14

Filling Kabinet

7 unit

Memadai

Solid

2006

Baik

Bandung

Ada

15

Lemari Buku / Arsip

6 unit

Memadai

Olympic , Solid

2006,2008

Baik

Bandung

Ada

16

Mesin Gambar

5 unit

Memadai

Tracker Max PM

2005

Baik

Bandung

Ada

Memadai

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-6

Baik

Bandung
Bandung

Bandung

Ada
Ada

Ada

No
1

Jenis
Fasilitas/Peralatan/
Perlengkapan
2

Jumlah

Kapasitas atau
output
pada saat ini

Tahun
Pembuata
n
5

Merk dan tipe


4
912 GL II

Memadai

Uchida Plader
SP2-BI

Kondisi
(%)

Lokasi
Sekarang

2005

Baik

Bandung

2005

Baik

Bukti
Kepemilik
an
8
Ada

17

Mesin Gambar

5 unit

18

Mesin Gambar

5 unit

19

Mesin Gambar

5 unit

Memadai

Plan Master
PM.550 VB

2005

Baik

Bandung

Ada

20

Paintograph

3 unit

Memadai

KEN

2005

Baik

Bandung

Ada

21

Jangka Besar

5 set

Memadai

KEN

2005

Baik

Bandung

Ada

22

Jangka Kayu

5 set

Memadai

KEN

2005

Baik

Bandung

Ada

23

Jangka Bova

3 set

Memadai

Bova

2005

Baik

Bandung

Ada

24

White Board Magnet

Sakura

2007,2008,
2009,2010

Baik

2008,
2009,
2010,2011

4 buah

Memadai

Memadai

Mutoh Type L

25

Komputer

10 unit

Memadai

Intel Pentium
Core 2 duo, AMD
Phenom X2, AMD
athhon X2

26

Note Book (Laptop)

5 unit

Memadai

Toshiba,Acer,Co
mpaq,HP,VAIO
Core Duo

2008,2009
2010,2011

27

LCD Proyektor

1 Unit

Memadai

Acer PD113P

28

Printer Canon

3 unit

Memadai

iX 5000, iX 4000
BJC 6500

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-7

Bandung

Bandung

Ada

Ada

Bandung

Ada

Baik

Bandung

Ada

2005

Baik

Bandung

Ada

2008,2009
,2010

Baik

Bandung

Ada

Baik

No
1
29

Jenis
Fasilitas/Peralatan/
Perlengkapan
2
Printer Canon

Jumlah

Kapasitas atau
output
pada saat ini

3
4 unit

Tahun
Pembuata
n
5

Merk dan tipe


4

Memadai
Memadai

IP 1880IP 1980
IP 2770

Kondisi
(%)

Lokasi
Sekarang

Bukti
Kepemilik
an
8

2008,2009,
2010

Baik

EPSON 1390,
C-90 , T30

2009, 2010

Baik

Bandung

Ada

Canon Laser

Bandung

Ada

30

Printer Epson

3 unit

31

Printer Xeroq

3 unit

Memadai

Phaser 3110

2008

Baik

Bandung

Ada

32

Plotter

1 unit

Memadai

HP Deskjet 500 PS

2007

Baik

Bandung

Ada

33

Scanner Canon

4 unit

Canon, DG46Uex
Lide 25
LiDE 20

2009,2010
2011

Baik

34

Telephone

Memadai

Panaphone,
Panatel,
Panasonic

2008,2010,
2011

Baik

Bandung

Ada

Memadai

Blackberry,
Nokia,Samsung,N
exian,Motorola,
Sony Ericsson

Baik

Bandung

Ada

35

36

Handphone

fax/faximile

5 buah

12 buah

3 unit

Memadai

Memadai

Panasonic kxfp152,
CanonJX200

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2006,2007
2008,2009,

Ada

2010,2011

2007

2-8

Bandung

Baik

Bandung

Ada

No
1

Jenis
Fasilitas/Peralatan/
Perlengkapan
2

Jumlah

Kapasitas atau
output
pada saat ini

Tahun
Pembuata
n
5

Merk dan tipe


4
HP 1040

Kondisi
(%)

Lokasi
Sekarang

Bukti
Kepemilik
an
8

Baik

Bandung

Ada

2007

Baik

Bandung

Ada

2009

Baik

Bandung

Ada

37

Kalkulator

5 unit

Memadai

Casio DR 8620,
CTO15468
SC-0009-27972

38

Adaptor Stavol 1000 Watt

10 unit

Memadai

Century

39

Infokus

1 unit

Memadai

40

Handycam

3 unit

Memadai

JVC, SONY,
Canon

2007,2008,
20100

Baik

Bandung

Ada

41

Mesin absensi

1 Unit

Memadai

AMANO BX6200

2008

Baik

Bandung

Ada

Canon EX-Z110,
Canon PC1263,
Benq DC1220,
Sony DSC-TX5,
Vertex 515

2007,2008,
2009,2010,
2011

Memadai

2005,2007
,2009,2010

Acer

42

Kamera Digital

5 unit

43

Nikon Digital

1 unit

Memadai

DS 300S

2011

Baik

Bandung

Ada

44

Kamera Manual

5 unit

Memadai

Fuji, Canon,
Sony,Casio

2004,2006,
2008, 2009

Baik

Bandung

Ada

45

Telescop

2 unit

Memadai

Army

2003,2008

Baik

Bandung

Ada

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-9

Baik

Bandung

Ada

No
1

Jenis
Fasilitas/Peralatan/
Perlengkapan
2

Jumlah

Kapasitas atau
output
pada saat ini

Tahun
Pembuata
n
5

Merk dan tipe


4

Memadai

Kondisi
(%)

Lokasi
Sekarang

6
Baik

Bukti
Kepemilik
an
8
Ada

MAP 60CSX

2007,2008,
2009

Memadai

Nikon NE-100

2005,2008

Baik

Bandung

Ada

3 unit

Memadai

Royal

2003

Baik

Bandung

Ada

10 buah

Memadai

Sounto

2003

Baik

Bandung

Ada

Mesin tik elektronik

1 unit

Memadai

Brother GX 6750

2005

Baik

Bandung

Ada

51

Mesin Fotocopy

1 unit

Memadai

Canon F251600

2007

Baik

Bandung

Ada

52

Spryer Stainless Steel

1 unit

Memadai

Canon

2004

Baik

Bandung

Ada

53

Roll Meter 50 m

20 set

Memadai

Lokal

2006

Baik

Bandung

Ada

54

Mistar Stainless Steel 100


Cm

4 unit

Lokal

2004

55

Mobil

2 Unit

Memadai

Toyota Fortuner,
Honda Accord

2008

56

Mobil

1 Unit

Memadai

Daihatsu Feroza

1997

57

Mobil

1 Unit

Memadai

Daihatsu xenia,
Toyota Kijang

2007

58

Mobil

1 Unit

Memadai

Suzuki APV

2010

Baik

Bandung

Ada

59

Sepeda Motor

1 Unit

Memadai

Honda Tiger

2004

Baik

Bandung

Ada

60

Sepeda Motor

1 Unit

Memadai

Kawasaki Kinja RR

2006

Baik

Bandung

Ada

61

Sepeda Motor

1 Unit

Memadai

Yamaha Jupiter Z

2008

Baik

Bandung

Ada

46

GPS Garmin

5 unit

47

Digital theodolite

2 unit

48

Mesin Tik

49

Kompas

50

Memadai

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-10

Baik
Baik
Baik
Baik

Bandung

Bandung
Bandung
Bandung
Bandung

Ada
Ada
Ada
Ada

No
1
62
63

Jenis
Fasilitas/Peralatan/
Perlengkapan
2
Sepeda Motor
Sepeda Motor

Jumlah

Kapasitas atau
output
pada saat ini

Tahun
Pembuata
n
5

Merk dan tipe


4

1 Unit

Memadai

1 Unit

Memadai

Honda Supra
Yamaha Vega R

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

2-11

Kondisi
(%)

Lokasi
Sekarang
7

2007

6
Baik

Bandung

Bukti
Kepemilik
an
8
Ada

2009

Baik

Bandung

Ada

BAB 3
GAMBARAN UMUM WILAYAH
3.1 Gambaran Umum Kota Cimahi
Kota Cimahi, Jawa Barat terletak di antara 1073030 BT 1073430 dan
65000 65600 Lintang Selatan. Adapun luas wilayah Kota Cimahi yaitu
sebesar 40,2 Km2 menurut UU No. 9 Tahun 2001 dengan batas-batas administratif
sebagai berikut:
Sebelah

Ngamprah Kabupaten Bandung Barat

Utara

Sebelah

Barat

Kecamatan Marga Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten


Bandung Barat dan Bandung Kulon Kota Bandung

Selatan

Sebelah

Kecamatan Sukasari, Kecamatan Sukajadi, Kecamatan Cicendo


dan Kec. Andir Kota Bandung

Timur

Sebelah

Kecamatan Parongpong, Kecamatan Cisarua dan Kecamatan

Kecamatan Padalarang, Kecamatan Batujajar dan Kecamatan


Ngamprah Kabupaten Bandung Barat

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-1

Gambar 3.1
Peta Administrasi Kota Cimahi

Kota Cimahi termasuk ke dalam wilayah Propinsi Jawa Barat dan meliputi 3
Kecamatan yang terdiri dari 15 Kelurahan, yaitu : Kecamatan Cimahi Utara terdiri
dari 4 Kelurahan, Kecamatan Cimahi Tengah terdiri dari 6 Kelurahan dan Kecamatan
Cimahi Selatan terdiri dari 5 Kelurahan.
Tabel 3.1
Luas Wilayah Kota Cimahi
No.

Kecamatan

Luas (Km)

1.

Cimahi Utara

13,36

2.

Cimahi Tengah

10,87

3.

Cimahi Selatan

16,02

TOTAL

40,25

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-2

Dilihat dari tabel diatas Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu
2

Kecamatan Cimahi Selatan (16,02 km ) sedangkan kecamatan dengan luas


2

terkecil yaitu Kecamatan Cimahi Tengah (10,87 km ).

Tabel 3.2
Struktur Wilayah Adminitrasi Kota Cimahi Tahun 2012

Sumber: Kota Cimahi Dalam Angka 2013

Secara geografis wilayah ini merupakan lembah cekungan yang melandai ke arah
selatan, dengan ketinggian di bagian utara 1,040 meter dpl ( Kelurahan Cipageran
Kecamatan Cimahi Utara), yang merupakan lereng Gunung Burangrang dan Gunung
Tangkuban Perahu serta ketinggian di bagian selatan sekitar 685 meter dpl
(Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan) yang mengarah ke Sungai Citarum.
Sungai yang melalui Kota Cimahi adalah Sungai Cimahi dengan debit air rata-rata
3.830 l/dt, dengan anak sungainya ada lima yaitu Kali Cibodas, Ciputri, Cimindi,
Cibeureum (masing-masing di bawah 200 l/dt) dan Kali Cisangkan (496 l/dt),
sementara itu mata air yang terdapat di Kota Cimahi adalah mata air Cikuda dengan
debit air 4 l/dt dan mata air Cisintok (93 l/dt).

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-3

3.2 PENDUDUK
Wilayah Kota Cimahi memliki

luas 40,2 km2 yang tersebar di tiga kecamatan

yaitu kecamatan Cimahi Selatan, Cimahi Utara dan Cimahi Tengah.


ketiga

kecamatan

tersebut Cimahi Selatan

Diantara

merupakan daerah terluas

yaitu

seluas 16,9 km2 dengan penduduk sebanyak 241.374 jiwa, dan yang luasnya
terkecil adalah Cimahi Tengah
sebanyak 167.374 jiwa.

yaitu seluas 10,0 km2 dengan jumlah penduduk

Secara keseluruhan pada tahun 2012 Kota Cimahi

memiliki penduduk sebanyak 562.297 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk Kota


Cimahi tahun 2012 adalah 13.987 jiwa/Km 2. Dimana kecamatan Cimahi tengah
memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan dua kecamatan
lainnya yaitu mencapai 16.709 jiwa/Km2. Hal ini terjadi disebabkan oleh mobilitas
penduduk yang cukup tinggi karena penduduk lebih terkonsentrasi di pusat
perkotaan Cimahi dengan keanekaragamannya.
Tabel 3.3
Jumlah Kepadatan dan Penduduk Kota Cimahi Tahun 2012

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-4

Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan atau sex ratio di Kota
Cimahi adalah 102,63. Ini berarti untuk setiap 100 perempuan terdapat sekitar 103
laki-laki.

Dalam hal ini kecamatan Cimahi Tengah memiliki sex ratio terbesar

yaitu 104,94.

Tabel 3.4
Jumlah Penduduk dan Sex Ratio Kota Cimahi Tahun 2012

Jumlah penduduk pencari kerja di Kota Cimahi tahun 2012 sebanyak 2.852 orang,
dimana komposisi laki-laki dan perempuan masing-masing sebanyak 1.530 dan
1.322 orang, disini terlihat bahwa jumlah pencari kerja mengalami pen uru nan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-5

dibanding tahun sebelumnya. Dimana data tahun 2010 jumlah pencari kerja
sebanyak 6.798 orang.
Tabel 3.5
Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-6

Tabel 3.6
Jumlah Penduduk Pencari Kerja menurut Jenis Kelamin

Tenaga Kerja
Cimahi sendiri merupakan daerah industri. Kota ini minim sumber daya alam.
Terdapat 407 unit industri kecil dengan nilai investasi Rp 7,5 miliar. Jumlah
industri berskala menengah dan besar tak kurang dari 300 unit. Dari jumlah
industri yang tergolong banyak tadi, tenaga kerja yang menggerakkannya
sebanyak 71.850 orang.
Ini di luar tenaga kerja asing yang tercatat 101 orang. Kebanyakan tenaga
asing ini berasal dari negara-negara Asia seperti Cina, Taiwan, Jepang, dan
Korea.
Kehadiran 101 orang tenaga kerja asing yang tercatat bekerja di sektor industri
Kota Cimahi turut menambah PAD. Dari target retribusi izin tenaga kerja asing
sebesar Rp 805 juta, sampai dengan Oktober 2003 telah terealisasi Rp 1 miliar
(124%).

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-7

3.3 EKONOMI
A. Kondisi Perekonomian Daerah
Kontribusi terbesar dalam pembangunan ekonomi di Kota Cimahi pada tahun
2009 didominasi oleh sektor industri pengolahan. Sumber data sektor industri
ini diperoleh dari hasil surveitahunan perusahaan industri besar/sedang. Dalam
pengumpulan data statistik industri, yang dimaksud dengan industri besar
adalah perusahaan dengan jumlah pekerja 100 orang atau lebih, industri
sedang dengan jumlah pekerja antara 20 sampai dengan 99 orang, sedangkan
Industri kecil mempunyai pekerja antara 5 sampai dengan 19 orang dan
perusahaan yang mempunyai pekerja kurang dari 5 orang disebut usaha rumah
tangga.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-8

Jumlah perusahaan industri pada tahun 2009 terdiri dari industri besar
sebanyak 61 perusahaan dan industri sedang sebanyak 79 perusahaan.
Jumlah perusahaan industri besar/sedang paling banyak berada di wilayah
kecamatan Cimahi Selatan, yaitu 97 perusahaan (69,29 %). Sedangkan
yang paling sedikit berada di wilayah kecamatan Cimahi Utara, yaitu 15
perusahaan ( 10,71 %).
B. Keuangan Daerah
Dilihat dari kemampuan keuangan pemerintah yang tertuang dalam APBD,
porsi belanja pembangunan memperoleh jatah Rp 77,7 miliar atau 30,2%
dari total APBD tahun 2003. Dari jumlah tersebut, sektor transportasi
memperoleh porsi kedua terbesar setelah sektor aparatur daerah, dengan
nilai Rp 21,3 miliar. Sementara sektor perumahan memperoleh belanja
pembangunan sebesar Rp 7 miliar dan sektor kependudukan sebesar
Rp 235 juta.

Tabel 3.7.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-9

Dari roda perekonomian yang berputar, Pemda berupaya meningkatkan


sumber- sumber pendapatan daerahnya untuk ikut membiayai kegiatan
pembangunan. PAD Kota Cimahi tahun 2003 berjumlah Rp 27,1 miliar. Dirunut
lebih jauh, berdasarkan realisasi penerimaan pos-pos yang menyumbang pada
PAD sampai Oktober 2003, pendapatan terbanyak diperoleh dari retribusi
pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Cibabat (Rp 11,8 miliar), pajak
penerangan jalan (Rp 9 miliar), dan jasa giro (Rp 2,8 miliar).

Tabel 3.8.
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA CIMAHI TAHUN 2003
PENDAPATAN
1. Bagian Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun
2. Bagian Pendapatan Asli Daerah
Lalu
3. Bagian Dana Perimbangan
4. Bagian Pinjaman Daerah
5. Bagian Lain-lain Penerimaan yang Sah
TOTAL
PENGELUARAN
1. Belanja rutin
Pos DPRD
tt
2. Belanja Pembangunan
TOTAL
Sumber: Pemerintah Kota Cimahi, 2003

JUMLAH (Rp)
34.034.530.
27.186.553.
700
180.327.023.
500
0
000
15.025.000.
256.573.107.
000
200
178.842.684.
700
77.730.422.
256.573.107.
500
200

3.3 FASILITAS UMUM DAN SOSIAL


Kebijaksanaan pembangunan dibidang sosial menyangkut berbagai aspek memang
sangat kompleks, selain berdampak terhadap ekonomi juga dalam sosial politik
masyarakat. Bahkan keberhasilan pembangunan bidang sosial dapat dievaluasi dan
dijadikan sebagai indikator tahun-tahun sebelumnya.
Keberhasilan pembangunan bidang sosial tidak hanya dapat dilihat dari bentuk fisik saja
, namun harus dilihat secara keseluruhan, yaitu dari segi fisik dan mental. Segi fisik
meliputi pembangunan sarana dan pra sarana misalnya gedung atau penunjang
lainnya, sedangkan segi mental meliputi kondisi mental penduduknya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-10

Salah satu upaya untuk mencapai delapan jalur pemerataan yang mencakup
usaha/pemerataan dalam rangka pembangunan sosial budaya, Pemerintah

Kota

Cimahi telah mengupayakan berbagai usaha meliputi bidang pendidikan, kesehatan,


agama dan kehidupan sosial lainnya.

KONSEP DEFINISI

Keluarga adalah unit terkecil dalam suatu masyarakat yang terdiri atas Suami
Istri atau suami istri dan anak atau suami anak atau istri dan anaknya.

Keluarga Pra Sejahtera adalah Keluarga yang belum dapat memenuhi


kebutuhan dasar secara minimal seperti pengajaran, agama, sandang, pangan,
papan kesehatan.

Keluarga Sejahtera Tahap 1 adalah keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan


dasar secara minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan

social

psikologis seperti pendidikan, KB, interaksi dengan keluarga/lingkungan.

Keluarga Sejahtera Tahap 2 adalah keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan


dasar

kebutuhan

psikologis

tetapi

belum

dapat

memenuhi

kebutuhan

perkembangan seperti menabung dan memperoleh informasi.

Keluarga Sejahtera Tahap 3 adalah keluarga yang memenuhi keluarga


tahapan 1 dan 2 tetapi belum dapat memberikan sumbangan maksimal terhadap
masyarakat.

Keluarga Sejahtera Tahap 3 plus adalah keluarga yang dapat memenuhi


keluarga sejahtera tahap 1 sampai tahap 3

A. Pendidikan

Peningkatan sumber daya manusia (SDM) merupakan modal dasar untuk


penggerak pembangunan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan
di samping sumber daya alam. Kebijakan pemerintah di dunia pendidikan sangat
menentukan arah dan mutu pendidikan itu sendiri. Untuk mengambil kebijakan yang
tepat sasaran pemerintah sangat membutuhkan data-data pendidikan yang akurat.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-11

Pada bab ini disajikan data-data jumlah sekolah, siswa dan jumlah guru pengajar
serta status kepegawainnya.
Pada tahun ajaran 2012/2013, rasio perbandingan jumlah murid terhadap jumlah
guru adalah sebagai berikut:

Taman Kanak-kanak

: 10,91 murid/guru

SD dan Sederajat

: 19,75 murid/guru

SLPT dan Sederajat

: 14,71 murid/guru

SMU dan Sederajat

: 10,91 murid/guru

Adapun persebaran fasilitas pendidikan untuk kota Cimahi dikatakan menyebar pada
setiap kecamatan. Untuk persebaran dan jumlah fasilitas pendidikan Kota Cimahi
pada Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.9
Jumlah Fasilitas Pendidikan
Kota Cimahi tahun 2012
NO
1
2
3

KECAMATAN
Cimahi Selatan
Cimahi Tengah
Cimahi Utara
JUMLAH

FASILTAS
TK

SD

32
37
31
100

46
40
31
117

MI
7
7
1
15

SLTP

MTs
7
13
13
33

SLTA

5
3
4
12

MA
4
8
4
16

B. Kesehatan

Upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat dan status kesehatan penduduk


dilakukan antara lain dengan meningkatkan fasilitas dan sarana kesehatan.
Pembangunan dibidang kesehatan bertujuan agar semua lapisan masyarakat
dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, merata dan
dengan

upaya

tersebut

di

harapkan

murah,

akan tercapai derajat kesehatan

masyarakat sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan produktifitas.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-12

2
1
2
5

Pada tahun 2012 jumlah rumah sakit di Kota Cimahi sebanyak 8 rumah sakit yang
terdiri dari rumah sakit pemerintah 2 buah, swasta 2 buah dan rumah sakit
bersalin 4 buah.

Sedangkan jumlah puskesmas pada tahun 2012 mengalami

peningkatan kuantitas dari tahun sebelumnya yaitu terdiri dari puskesmas umum
sebanyak 14 buah, dan puskesmas pembantu 7 buah sedangkan untuk posyandu
posyandu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebanyak 380 menjadi
386 posyandu .
Jumlah keluarga pra sejahtera ( pra KS) sebanyak 5 . 4 5 5 Keluarga di tahun
2012 mengalam i penurunan sebanyak 43,71 % j ika dibandingkan pada
tahun sebelumnya . Jumlah pra KS tertinggi terdapat di Kecamatan Cimahi
Selatan yaitu sebesar 3.400 keluarga.

Tabel 3.10
Jumlah Fasilitas Pendidikan
Kota Cimahi tahun 2012

NO
1
2
3

KECAMATAN
Cimahi Selatan
Cimahi Tengah
Cimahi Utara
JUMLAH

FASILTAS
RSU

RS Bersalin

0
3
1
4

0
2
0
2

Puskesmas

6
3
5
14

P. Pembantu

0
3
0
3

P. Keliling

2
1
1
4

BP

Pos Yandu

10
12
11
33

134
142
110
386

C. Agama
Kegiatan beragama yang ada di Kota Cimahi terbagi dalam 5 agama, yaitu agama
Islam, Kristen Katolik, Kristen Proterstan, Hidu dan Budha. Dari ke lima agama
tersebut jumlah yang paling besar adalah penduduk yang memeluk Agama Islam
dengan jumlah 614.452 Jiwa. Selanjutnya jumlah penduduk berdasarkan agama
dapat dilihat pada tabel ini.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-13

Tabel 3.11
Jumlah Penduduk Menurut Agama
NO

KECAMATAN

Cimahi Selatan

Cimahi Tengah

Cimahi Utara
JUMLAH

ISLAM

AGAMA
KATOLIK PROTESTAN

HINDU

BUDHA

267.288

4.413

12.398

211

553

181.322

3.078

8.701

403

457

165.842
614.452

2.878
10.369

8.104
29.203

237
851

203
1.213

Jumlah mesjid di Kota Cimahi pada Tahun 2012 ada 354 mesjid, sedangkan jumlah
sarana peridagatan lainnya berjumah 30 buah yang terdiri dari gereja protestan 28
buah, gereja katolik 1 buah dan pusa hindu 1 buah.

3.5 PRASARANA DAN SARANA PERMUKIMAN


A. Komponen Air Bersih
Pelayanan air bersih di Kota Cimahi sampai saat ini dilayani oleh Cabang I Kota
Cimahi yang menginduk kepada PDAM Kabupaten Bandung. Cabang I Kota
Cimahi merupakan cabang yang terbesar, baik dari jumlah langanannya maupun
pendapatannya

dibandingkan

dengan

cabang

lainnya

yang

ada

di

Kabupaten Bandung.
Dari kondisi eksisting sistem produksi, PDAM Cabang Cimahi sampai dengan
bulan Juli 2003, dapat memproduksi air selama setahun sebesar 4.941.428 m ,
terdistribusikan sebesar

4.810.966 m

dan

yang

terjual

2.916.912 m,

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-14

sehingga angka kebocoran produksi masih 40,97% dan kebocoran air distribusi
39,36%.
Kebutuhan akan air bersih di Kota Cimahi bersumber dari PDAM Kota Cimahi.
Dan setiap bulan kebutuhan akan air bersih rata-rata mencapai 850.000 m3.
Volume air yang disalurkan selama 2009 sebesar 10.630.708 m3, dan konsumen
terbesar berada pada rumahtangga sebesar 8.509.265 m3 atau 80,0 persen.

Pelayanan air bersih di Kota Cimahi masih belum maksimal, terbukti dari
cakupan palayanan air masih 24,2 %. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih
kota Cimahi dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 3.12
DATA PENGELOLAAN AIR BERSIH KOTA CIMAHI
No Uraian
Satuan Besaran
I. Pelayanan Penduduk
1 Jumlah penduduk
Jiwa 460.427
2 Jumlah pelanggan Jiwa 13.437
3 Penduduk terlayani %
2,9
II. Data Sumber
1 Nama pengelola : PDAM Kota Cimahi
2 Sistem : interkoneksi
3 Sistem sumber : Pengambilan Air
4 Kapasitas sumber
l/det
183
Permukaan
III. Data
Produksi
1 Kapasitas Produksi l/det
200
2 Kapasitas Desain
l/det
253,19
3 Kapasitas Pasang
l/det
250
4 Kapasitas Produksi m/th 4.921.428
IV. Data Distribusi
1 Aktual
Sistem Distribusi : 2 Kapasitas Distribusi l/det
142,95
3 Air Terjual
m/th 2.916.912
4 Air Terdistribusi
m/th 4.810.966
5 Asumsi kebutuhan l/org/h 46.042.700
6 Total penjualan air Rp
2.800.235.5
7 air
Cakupan pelayanan r%
17
8 Cakupan penduduk Jiwa 20
9 air
Jumlah mobil tangki Unit
V. Data Kebocoran
1 Kebocoran
%
5
2 Kebocoran Teknis
%
39,36
Administrasi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-15

Tabel 3.13.
DATA KEBUTUHAN AIR BERSIH KOTA CIMAHI
Jumlah
Penduduk
(jiwa)

KapasitasProduksi
Eksisting

l/det
460.427
200
Sumber: analisis

l/hr
17.280.000

Kebutuhan Ideal
Kota
Sedang
(lt/org/hr)
10

Kebutuhan
Total
(l/hr)

Selisih
(l/hr)

46.042.700 28.762.7

00

Dari data diatas, diketahui bahwa kebutuhan air bersih kota Cimahi adalah sebesar
46.042.700 l/hr. Angka ini didapatkan dari perkalian antara jumlah penduduk kota
Cimahi (460.427 jiwa) dengan kebutuhan ideal air bersih untuk kota sedang (100
l/org/hr). Dan dari angka kebutuhan tersebut, yang bisa dilayani oleh PDAM Kota
Cimahi baru 17.280.000 l/hr. Jadi, kebutuhan air bersih yang masih harus dilayani di
Kota Cimahi ini sebesar 28.762.700 l/hr atau 332,90 l/det.

Tabel 3.14
DATA PELAYANAN AIR BERSIH DI KOTA CIMAHI
NO.

URAIAN

SATUA

I. Pelayanan Penduduk
N
1. Jumlah penduduk
Jiwa
2. Jumlah pelanggan
Jiwa
3. Penduduk terlayani
%
II. Data Tarif
1. Rumah tangga
Rp
2. Niaga
Rp
3. Industri
Rp
4. Instansi
Rp
5. Sosial
Rp
Tarif rata-rata
Rp
III. Data Konsumen
1 Jumlah sambungan rumah Uni
2 Jumlah sambungan rumah Uni
t
3 Jumlah sambungan niaga
Uni
tangga
t
4 Jumlah sambungan
Uni
t
5 Jumlah sambungan sosial
Uni
industri
t
6 Jumlah sambungan
Uni
t
instansi
t

BESARAN

460.427
13.437
2,9
640,1.200,2.000,1.100,500,960,13.437
12.144
585
462
190
56

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-16

NO.

URAIAN

SATUA

7 Terminal air
N Uni
8 Hidran umum
Uni
t
9 Kran umum
Uni
t
10 Konsumsi rumah tangga
Jiwa
t
11 Konsumsi non rumah
Jiwa
12 Jumlah jiwa/sambungan
Jiwa/S
13 tangga
Jumlah jiwa/hidran umum Jiwa/un
14 rumah
Tingkat pelayanan umum R %
it
IV. Administrasi
1. Keuangan
Rp
2. Efisiensi penagihan
%
3. Jumlah pegawai
Orang
4. SLA
Rp
5. RPD
Rp
6. Jangka waktu pinjaman
Tahun
7. Jangka waktu pinjaman
Tahun
SLA : data
Sumber
RPD

BESARAN

42
28
84
76
60
-

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-17

Tabel 3.15
SARANA PENYEDIAAN AIR BERSIH RUMAH TANGGA KOTA CIMAHI TAHUN 2002
No.
Kecamatan Sumur
SPT Pompa
KK
PDAM Mata Air
Gal
Listrik
1. Cimahi Selatan
7.04
4.05
7.60
1.21 2.46
i
2. Cimahi Tengah
7.27 1.71
2.30
159 9.48
3
9
3
0
3. Cimahi Utara
5.74 5
1.88
5.95
2.42 0
2.95
5
5
1
9
1
2002
20.07 7.65
15.86
3.79 14.89
8
6 BPS 7Kota Cimahi,
6 2002
9
3
Sumber : Dinas Kesehatan,
0
3
8
8
4
B. Komponen Persampahan
Berikut

ini disajikan

tabel yang

menggambarkan

karakteristik pengelolaan

persampahan di Kota Cimahi :


Tabel 3.16
DATA PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA CIMAHI
NO. URAIAN
SATUA BESARAN
I. Data Pengumpulan Sampah
N
1. Nama pengelola
: UPTD Kebersihan
: integrated system
2. Sistem
Cimahi
3. Kota
Jumlah
penduduk
Jiwa
460.427
4. Asumsi produksi
Lt/org/h 1.381.281
3
1.381,28
r m3/hr
5. sampah
Jumlah sampah
1.151
m /hr
6. Jumlah pelayanan
3
450
m /hr
7. Cakupan layanan
Ha
1.569,89
8. Cakupan layanan
Jiwa 179.566,53
9. geografis
Ilegal dumping : sedang
penduduk
II. Data
TPA
1. Jumlah pelayanan
490
m3/hr
2. Nama TPA
: TPA Leuwigajah
3. TPA
Status TPA
: Milik Pemda
4. Luas TPA
Ha
5. Kapasitas
m
6. Umur
Tahun
: controlled3landfill
7. Sistem
8. Jarak ke permukiman
Km
9. Incenerator
Uni
10. Nama pengelola
:t
III. Data Peralatan TPA
1. Bulldozer
Uni
2. Back hoe
Uni
t
3. Loader
Uni
t
4. Shovel
Uni
t
5. Water tank
Uni
t
Sumber : data
t

1
1
1
1
-

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-18

Dengan asumsi timbulan sampah untuk kota sedang sebesar 3 liter/orang/hari,


maka kebutuhan komponen persampahan Kota Cimahi disajikan dalam tabel
berikut.
Tabel 3.17
KEBUTUHAN KOMPONEN SAMPAH KOTA CIMAHI
Jumlah
Timbulan
Perkiraan
Sampah
Selisih(m3)
Penduduk
Sampah Kota
Timbulan
yang
(jiwa)
Sedang
Sampah Terangkut
(lt/org/hr)
Total
(m3/hr)
3/
(m /hr)
460.427
3
1.381,28
490
931,28
*) Merupakan selisih antara perkiraan timbulan sampah dan sampah terangkut.
Sumber: Analisis

Persampahan

Kota

Cimahi

dilayani

.oleh

UPTD

Kebersihan

dengan

jumlah penduduk 460.427 jiwa, dan asumsi sampah yang dihasilkan 3 l/or/hr,
maka sampah yang dihasilkan adalah sebanyak 1.381,28 m3//hr. Dengan
demikian cakupan sampah yang terlayani adalah sebesar 35,47% sedangkan
sisanya, 890,28 m3//hr, masih harus dipikirkan kembali bagaimana upaya untuk
mengangkutnya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-19

Tabel 3.18
DATA PENGANGKUTAN DAN PEMBIAYAAN SAMPAH DI KOTA CIMAHI
NO
URAIAN
SATUA BESARAN
I. Data Transportasi Persampahan
.1. Jumlah pelayanan
N 3
450
m /hr
2. Jumlah kendaraan
terangkut
Truk
Uni
5
Arm roll
Uni
7
t
Compactor
Uni
t
Pick up
Uni
t
3. Jumlah peralatan
t
Gerobak
Uni
Container
Uni
t
4. Transfer depo
Uni
t
5. Jumlah TPS
Uni
t
II. Data Pembiayaan
t
1. Retribusi
R
2. Biaya pembuangan
R
p
3. Biaya pengangkutan
R
p
4. Biaya pengumpulan
R
p
5. Biaya satuan
R
p
6. Biaya operasional dan
R
p
Sumber : data
pemeliharaan
p
Untuk data biaya/retribusi persampahan belum bisa diketahui, karena adanya
keterbatasan sumber data.

C. Komponen Sanitasi
Kota Cimahi saat ini belum mempunyai sistem pelayanan limbah manusia
secara kolektif. Pengelolaan limbah manusia di Kota Bengkulu saat ini masih
dilakukan secara individu dan semi komunal oleh masyarakat. Penanganan
limbah secara individu menggunakan tanki septik dan sebagian menggunakan
sistem pembuangan terbuka atau melalui riol tertutup dan dibuang ke sungai.
Untuk sanitasi on-site, diperkiraan produksi limbah yang dihasilkan adalah
sebesar 92.085 lt/org/hari

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-20

Tabel 3.19
DATA PENGELOLAAN SANITASI/LIMBAH CAIR DI KOTA CIMAHI
NO
URAIAN
SATU BESARAN
I. Data Sanitasi On Site
.1. Jumlah penduduk AN
Jiwa
460.427
2. Asumsi produksi
Lt/hr
92.085
3. Kapasitas IPLT
m3/bl
4. limbah
Jumlah septik tank
Uni
nUni
5. Cubluk
6. Cakupan on site
-t
t
7. Jumlah komunal
uni
8. Jumlah komunal
Uni
MCK
t
II. Data
Tarif Pelayanan Sanitasi
septikpenyedotan
tank
1. Tarif
Rt
2. Dasar penyedotan
R
p
III. Data Alat Angkut Sanitasi
p
1. Jumlah truk tinja
Uni
2. Kondisi truk tinja : t
IV. DATA IPLT
1. Nama IPLT
:2. Kapasitas IPLT
m3/bl
3. Nama Pengelola IPLT : n: 4. Nama IPAL
5. Lokasi
:6. Operasional angkut : Untuk produksi limbah, setiap manusia diasumsikan memproduksi limbah cair
sejumlah 0,2 lt/org/hr. Angka ini merupakan kebutuhan ideal dari setiap
penduduk pada kelas kota sedang. Sehingga didapatkan asumsi produksi
limbah di Kota Cimahi ini sejumlah 92.085 lt/hr dari hasil perhitungan kebutuhan
ideal produksi limbah setiap manusia dikalikan dengan jumlah penduduk Kota
Cimahi.

D. Komponen Drainase
Untuk sistem drainase, data yang berhasil dikumpulkan hanyalah panjang
total saluran drainase yaitu 24,5 km dan pengelolanya adalah Sub Dinas Cipta
Karya Kota Cimahi.

E. Komponen Jalan
Berikut adalah beberapa data-data jalan di Kota Cimahi :
1. Data Jenis Permukaan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-21

Nama Pengelola

Panjang total jalan (km)

: 176,10

Panjang jalan aspal (km)

: 82,90

Panjang jalan kerikil (km)

: 11

Panjang jalan tanah (km)

:8

: Sub. Dinas Bina Marga Kota Cimahi

2. Data Fungsi

Panjang jalan arteri (km)

:-

Panjang jalan kolektor (km)

:-

Panjang jalan lokal (km)

: 101,90

3. Kewenangan

Panjang jalan nasional (km)


Panjang jalan propinsi (km)
Panjang jalan lokal (km)

:: 13
: 61,20

Tabel 3.20
PANJANG JALAN MENURUT JENIS PERMUKAAN, KONDISI, DAN KELAS JALAN
(KM) KOTA CIMAHI TAHUN 2002
Uraian
Negara
I. JENIS PERMUKAAN
1. Diaspal
2. Kerikil
3. Tanah
4. Beton Rabat

Panjang Jalan (Km)


Propinsi
Kota

6,95
0
JUMLAH
6,95
II. KONDISI
0
JALAN
6,95
1. Baik
0
2. Sedang
3. Rusak
4. Rusak Berat
JUMLAH
6,95
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota
Cimahi,
2002
0

95,29
0
95,290
24,05
8
31,83
0
31,89
0
87,778
-

Untuk kondisi jalan, kebanyakan berada dalam kondisi sedang dan rusak, yaitu
31.830 km dan 31.890 km, sedangkan yang baik hanya sebesar 24.058 km. Sedangkan
untuk fasilitas intermodanya , di Kota Cimahi terdapat 1 terminal lokal dan 1 stasiun
kereta api.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

3-22

BAB 4
APRESIASI DAN INNOVASI
4.1 Pemahaman Tentang Tata Ruang
a.

Pengertian Tata Ruang


Semakin luasnya pemaknaan, penerapan dan ruang lingkup persoalan yang berkaitan dengan
perencanaan telah semakin memperluas pengartian terhadap perencanaan atau planning. Di
dalam perkembangannya dari pandangan di negara yang telah sejak lama mengfungsikan
perencanaan, bahkan keluasan arti ini menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan
perencanaan seperti arti untuk plan, planning, planner yang masing masing diartikan sebagai
produk dari proses perencanaan proses kegiatan penyusunan rencana dan subyek perencana
atau penyusun rencana. (Prof. Djoko Sujarto) Tata Ruang: wujud struktural dan pola
pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak (UU No 26 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang).

Penataan Ruang: suatu sistem proses perencanaan penataan ruang,

pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai suatu proses yang
ketiganya tersebut merupakan satu kesatuan sistem yang tidak dapat dipisahkan satu dengan
yang lainnya (UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang).
Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang, ditempuh langkah-langkah kegiatan
1. Menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi, sosial,
budaya, daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta fungsi pertahanan keamanan.
2. Mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah
perencanaan
3. Perumusan perencanaan tata ruang
4. Penetapan rencana tata ruang
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-1

Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta


pembiayaannya, yang didasarkan atas rencana tata ruang, diselenggarakan secara bertahap
sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang.
Pengendalian pamanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan
penertiban terhadap ruang. Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam
bentuk pelaporan, pemantauan dan evaluasi.
Penertiban pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan
dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pengertian 'perencanaan' pada hakekatnya mengandung 4 hal pokok sebagai 'ingre-dients'
yaitu :
1. Tujuan yang lebih baik dimasa yang akan datang
2. Adanya sumber daya (alam, manusia, modal dan informasi)
3. Adanya limitasi dan kendala (limitation and constraints)
4. Efisiensi dan keefektifan

b.

Pengertian Perencanaan

Berdasarkan terminologi planologis, prinsip perencanaan tata ruang menurut Prof. Djoko
Sujarto, antara lain :
1. Suatu penentuan pilihan (setting up choices). Perencanaan terkait dengan pengambilan
keputusan untuk menetapkan pilihan. Dalam hal ini maka proses pemilihan ini didasari oleh
suatu pertimbangan untuk memilih unsure-unsur yang akan dikembangkan dan tindakan mana
yang akan dipakai sebagai cara bertindak di dalam pembangunan.
2. Suatu penetapan pengagihan sumber daya (resources allocation). Pada dasarnya perencanaan
merupakan suatu usaha untuk mempertimbangkan secara rasional pengagihan sumber daya
yang potensial dan dimiliki termasuk sumber daya manusuia, sumber daya alam, sumber daya
modal untuk mencapai tujuan pembangunan berdasarkan keterbatasan dan kendala sumber

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-2

daya potensial tersebut berdasarkan strategi yang akan menentuan urutan prioritas
pembangunan.
3. Suatu penetapan dan usaha pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan (setting up goals
and objectives), yaitu menetapkan sasaran tujuan yang diperhitungkan sesuai dengan kuantitas
usaha pencapaian dan apa yang ingin dicapai dalam kurun waktu mendatang tertentu.
Seringkali terjadi bahwa sasaran dan tujuan pembangunan yang ditetapkan akan berdeviasi di
dalam kurun waktu pelaksanaan pembangunan tersebut.
4. Suatu mencapai

keadaan yang baik

masa mendatang

yang di

dalam

usaha

menrealisasikannnya perlu mempertimbangkan dua hal pokok yaitu :


Pertama, dapat membuat perkiraan yang baik dan menjabarkannya dalam suatu
penjadwalan yang berurutan (sequential) sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang
mendukungnya
Kedua, Pelaksanaan pentahapan untuk,mencapai tujuan masa mendatang disusun dalam
urutan kegiatan yang logis, rasional dan tertata secara bertahap berurutan.
Dalam perkembangan selanjutnya 'planning' atau 'perencanaan' kemudian dikaitkan dengan upaya
merumuskan keinginan dan cita cita manusia dalam arti yang lebih luas. Perencanaan merupakan
rumusan keinginan dari kelompok manusia dalam mencapai keadaan yang lebih baik. Dengan
berbagai sifat yang ada pada manusia sebagai mahluk dinamis, maka makna dan arti planning telah
mengalami perkembangan. Sekarang kalau berbicara 'planning' atau 'perencanaan', maka selalu
terkandung pengertian adanya suatu rangkaian yang menerus secara bersinambungan.

Planning is a continuous process


Ini tidak lain karena planning merupakan suatu upaya merumuskan keinginan dan cita cita dimasa
datang bagi manusia yang mempunyai ciri dinamis tersebut yang akan menuntut sesuatu yang
berkelanjutan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-3

Planning merupakan suatu hasil rangkaian kerja untuk merumuskan sesuatu yang didasari oleh
suatu pola tindakan yang definitif, yang menurut pertimbangan yang sistematis akan dapat
membawa keuntungan tetapi dengan anggapan bahwa akan ada tindakan tindakan selanjutnya
yang akan merupakan rangkaian kegiatan sistematis lainnya.
Jadi tindakan yang dirumuskan semula masih bersifat terbuka bagi kemungkinan adanya pilihan
cara tindakan lain dan bahkan tindakan yang telah dirumuskan semula itu masih mungkin
disesuaikan apabila dianggap kurang menguntungkan pada saat tertentu lainnya.
c.

Unsur-Unsur Perencanaan

Sehubungan dengan tingkat kepentingan dan lingkup strategi permasalahannya, maka rencana tata
ruang disusun secara bertahap dan dalam jenjang cakupan yang berurutan. Secara sistematis
jenjang cakupan rencana ini dimulai dari lingkup yang lebih luas dan substansinya menyeluruh
hingga ke jenjang cakupannya semakin terinci (detailed). Semakin kecil cakupan wilayahnya,
maka rencana tersebut semakin terinci dan semakin tertuju kepada segi fisik yang lebih nyata.
Pada awalnya penyusunan rencana kota di Indonesia telah diatur melalui Permendagri No. 2 Tahun
1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota. Mengingat peraturan perundang-undangan
yang telah ada belum dapat menampung tuntutan perkembangan pembangunan, maka Pemerintah
mengeluarkan Undang-undang No. 24 Tahun 1992 dan disempurnakan dengan Undang-undang
No. 26 tahun 2007 mengenai Penataan Ruang. Tata ruang yang dimaksud dalam undang-undang
tersebut adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak.
Mengacu pada UU No 26 Tahun 2007, jenis rencana tata ruang dibedakan berdasarkan sistem,
fungsi utama kawasan, wilayah administrasi, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan.
1. Penataan ruang berdasarkan sistem terdiri atas sistem wilayah dan sistem internal perkotaan.
2. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan lindung dan kawasan
budidaya.
3. Penataan ruang berdasarkan wilayah administratif terdiri atas penataan ruang wilayah
nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan penataan ruang wilayah kabupaten/kota.
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-4

4. Penataan ruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan perkotaan
dan penataan ruang kawasan pedesaan.
5. Penataan ruang berdasarkan nilai strategis kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan
strategis nasional, penataan ruang kawasan strategis provinsi, dan penataan ruang kawasan
strategis kabupaten/kota.
Setiap tingkatan rencana tata ruang tersebut memiliki cakupan wilayah perencanaan yang berbeda
dengan maksud yang berbeda pula. Definisi dan cakupan wilayah perencanaan, maksud, dan skala
ketelitian peta yang digunakan setiap tingkatan rencana tata ruang berdasarkan Undang-Undang
No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang .Dalam setiap proses perumusannya, rencana tata
ruang kota tersebut selalu mengacu kepada kebijakan-kebijakan lain yang secara luas terkait dalam
suatu struktur kebijakan pembangunan, yang dimulai dari kebijakan skala nasional, regional
hingga kebijakan pembangunan kota itu sendiri.
Perencanaan tata ruang menurut Undang-undang No. 26 tahun 2007 dilakukan untuk
menghasilkan :
Rencana umum tata ruang, secara hirarki terdiri atas:
1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
2. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi
3. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, dan Kota
Rencana rinci tata ruang, secara hirarki terdiri atas:
1. Rencana Tata Ruang Pulau, atau kepulauan dan rencana tata ruang kawasan strategis
nasional
2. Rencana Tata Ruang Kawasan strategis provinsi
3. Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/kota dan rencana tata ruang strategis
kabupaten/kota dijadikan dasar bagi penyusunan rencana tataruang kawasan perbatasan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-5

4.1.1 Kaitan Rencana Tata Ruang dengan Rencana Program Pembangunan


Rencana pembangunan harus dilakukan dengan pendekatan wilayah. Oleh karena itu, rencana tata
ruang harus dijabarkan secara jelas sehingga mampu mengarahkan pembangunan, menetapkan
fungsi dan peran setiap kawasan (bagian suatu ruang) dalam wilayah atau ruang secara
keseluruhan. Selain itu rencana tata ruang harus dapat menjadi acuan lokasi bagi program-program
/ proyek - proyek pembangunan. Oleh karenanya, rencana tata ruang diharapkan dapat menjadi
pedoman untuk mengarahkan jenis lokasi investasi pada suatu kawasan.
Pada skala nasional, rencana-rencana pembangunan yang memuat kebijakan nasional diturunkan
dalam suatu program pembangunan nasional lima tahunan yakni Program Pembangunan Nasional
(PROPENAS). Program lima tahunan ini kemudian dirinci lagi menjadi Program Pembangunan
Tahunan (PROPETA).
Tingkatan rencana seperti dijelaskan diatas, dimiliki pula oleh daerah, yakni dengan adanya
rencana pembangunan yang bersifat jangka panjang disebut Pola Dasar Pembangunan Daerah
(POLDAS). Poldas dirinci ke dalam program pembangunan daerah jangka menengah/lima tahun,
yakni Program Pembangunan Daerah (PROPEDA). Program jangka menengah ini selanjutnya
dijabarkan lagi ke dalam Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (REPETADA). Ketiga
dokumen perencanaan ini menjadi referensi pokok dalam pelaksanaan program-program
pembangunan di daerah.
Pada pembangunan di daerah (kota/kabupaten), Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota
(RDTRWK) merupakan dimensi ruang dari Poldas dan Propeda, serta menjadi acuan bagi
penyusunan Repetada. Poldas dan Propeda memuat arahan kebijakan pengembangan sektorsektor, sementara pengembangan sektor memerlukan ruang sebagai wadah kegiatannya. Dengan
demikian, rencana tata ruang akan terkait langsung dengan Poldas dan Propeda, dengan arahan
ruangnya secara langsung (untuk sektor tertentu) maupun tidak langsung. Kebijaksanaan tata
ruang dalam Poldas dan Propeda masih bersifat makro (berupa struktur) dan belum dapat
memberikan arahan pemanfaatan ruang secara definitif. Dengan rencana tata ruang, maka investasi
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-6

atau kegiatan pembangunan dapat diarahkan ke dalam ruang yang sesuai. Selain itu, rencana tata
ruang dapat menjadi acuan bagi keterkaitan atau kesinambungan antar sektor dan antar ruang di
wilayah perencanaannya, maupun acuan bagi penyusunan rencana yang lebih rinci serta perijinan
pemanfaatan ruang. Dengan kata lain, rencana tata ruang merupakan bagian dari penataan ruang
yang merupakan penjabaran dari tujuan pembangunan dalam aspek keruangan.

4.1.2 Lingkup Perencanaan Tata Raung


a. Wawasan Tata Ruang
Tata ruang mempunyai kaitan pengertian dengan kata spatial, artinya segala sesuatu yang
mempunyai kaitan dengan keruangan. Pandangan para pakar wawasan pengertian tata ruang
terkait dengan segala sesuatu yang berada di dalam ruang sebagai wadah menyelenggarakan
kehidupan. Annos Raport misalnya, menekankan tata ruang merupakan lingkungan fisik dimana
terdapat hubungan organisatoris antara berbagai macam obyek dan manusia yang yang terpisah
dalam ruang-ruang tertentu.
Gambar 4.1
Kaitan Rencana Tata Ruang dengan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kota

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-7

Pakar lain, Larry Witzling sudah lebih jauh memberikan arti Tata Ruang sebagai sesuatu yang
berupa hasil perencanaan fisik. Ia menekankan bahwa di dalam tata ruang terdapat suatu distribusi
dari tindakan manusia dan kegiatan untuk mencapai tujuan sebagaimana yang dirumuskan
sebelumnya. Tata ruang dalam hal ini merupakan jabaran dari suatu produk perencanaan fisik.
Dalam pandangan yang berbeda I Made Sandy mengatakan penataan ruang baru bisa ada, setelah
tanah peruntukan dan dikuasai oleh calon yang akan menggunakan tanah itu untuk proyek. Jadi
ruang sama artinya dengan tanah. Dengan menganggap ruang sebagai genus dan tanah sebagai
species maka yang bisa ditata adalah tanah bukan ruang.
Menurut Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, tidak selalu berkonotasi
sesuatu yang sudah berencana. Tata ruang diartikan sebagai wujud struktural dan pola pemanfaatan
ruang, baik yang direncanakan maupun tidak. Pengertian wujud struktural dan pemanfaatan ruang
ini menunjukan adanya hirarki dan keterkaitan pemanfaatan ruang. Sedangkan rencana tata ruang
itu sendiri diartikan sebagai hasil perencanaan tata ruang, berupa strategi dan arahan kebijaksanaan
dan memperuntukan (alokasi) pemanfaatan ruang yang secara struktural menggambarkan ikatan
fungsi lokasi yang terpadu bagi berbagai kegiatan.
Berdasarkan hal-hal diatas, menurut Prof. Djoko Sujarto ruang dalam artian segala sesuatu yang
berkaitan dengan wawasan ruang di bumi (jagad raya) ini adalah semua bagian bumi yang dimulai
dari pusat titik bumi, yang mengandung berbagai potensi sumber daya alam, air dan lain-lain,
permukaan bumi dengan berbagai cara pemanfaatan dan penggunaan lahan, pemanfaatan
kemampuan berproduksinya lahan, kemungkinan pemanfaatan nilai strategis lahan dan air serta
pemanfaatannya serta bagian di atas bumi yaitu angkasa dengan berbagai potensi cara
pemanfaatannya dan masalahnya. Semua ini dalam upaya penataan ruang (spatial planning) perlu
diatur demi menjaga agar segala pemanfaatannya dapat efisien dan efektif.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-8

b. Unsur Pokok Tata Ruang


Selanjutnya Lichfield, Rapoport, dan Poteous mengemukakan bahwa di dalam wujud tata ruang
terdapat suatu tatanan sistemik yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu ruang atau lingkungan
yang menjadi wadah di mana berbagai unsur kehidupan dengan kegiatannya berlangsung aktivitas
fungsional yang menunjang kegiatan usaha dan kegiatan manusia serta kemudahan berinteraksi
antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya secara internal maupun eksternal.
Pada masa lalu suatu produk perencanaan wilayah dan kota seakan akan hanya sekedar suatu
peta dengan gambaran berbagai peruntukan kegiatan fungsional wilayah atau kota yang
direncanakan dikembangkan di wilayah atau kota tersebut. Oleh karena itu pada masa tersebut
perencanaan pada dasarnya lebih dilandaskan kepada pertimbangan pertimbangan aspek fisik
saja. Dengan demikian maka peranan kerekayasaan atau engineering sangat dipentingkan. Dapat
dilihat misalnya produk perencanaan, terutama perencanaan kota disusun hanya mendasarkan
kepada pertimbangan pertimbangan pengagihan lahan (land allocation) dengan prasarana
penunjangnya (jalan dan utilitas umum, rancangan kerekayasaan. Gagasan ini digambarkan di
atas peta dengan berbagai skala sesuai dengan kedalaman substansinya. Sedikit sekali didasarkan
kepada pertimbangan-pertimbangan yang hakiki yang menyangkut aspek perilaku kehidupan dan
kegiatan usahanya. Jadi kegiatan kehidupan dan kegiatan usaha justru harus merujuk kepada
pengagihan yang sudah ditetapkan sebagai rencana induk kota yang telah disusun tersebut.
Pada kenyataannya apa yang direncanakan adalah untuk memenuhi kegiatan kehidupan yang
menyeluruh yang menyangkut kegiatan non fisik saja serta yang tidak spasial. Perwujudan fisik
dan spasial pada hakekatnya merupakan manifestasi dari tuntutan kebutuhan kehidupan yang
menyeluruh tersebut.
Perwujudan fisik seyogyanya merupakan pernyataan dari kebutuhan masa yang akan datang yang
seutuhnya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-9

c.

Wawasan Tata Ruang Pertimbangan Utama Dalam Perencanaan Fisik

Donald Foley mengembangkan suatu pola pikir yang mengkaitkan antara 3 pertimbangan utama
di dalam perencanaan fisik yaitu adanya pertimbangan normatif; pertimbangan fungsional dan
pertimbangan fisik. Ketiga pertimbangan ini perwujudannya adalah berupa suatu wujud yang
bukan keruangan atau a-spasial dan yang bersifat keruangan atau spasial.
Di dalam proses pertimbangan perencanaan memang tidak selalu bahwa secara ideal ketiga unsur
pertimbangan dasar ini harus dilakukan. Hal ini tergantung kepada kebutuhan perencanaan
tersebut. Di Indonesia pandangan tentang tata ruang ini juga telah menjadi dasar di dalam
perencanaan dan pemanfaatan ruang. Pengertian dan wawasan tata tata ruang ini telah mulai
dikembangkan saat Indonesia menggagaskan Undang Undang Tata Ruang pada tahun 1981.
Skenario Penyusunan Tata Ruang
Beberapa skenario penyusunan rencana berdasarkan pola pikir tersebut dapat dikemukakan

sebagai berikut ini:


Beberapa Pandangan Tentang Tata Ruang
Di dalam gagasan ini dikemukakan bahwa penataan ruang merupakan suatu proses
perencanaan ruang, pemanfaatan ruang serta pengendalian pemanfaatan ruang. Jadi penataan
ruang merupakan penataan bagian bagian ruang yang disediakan untuk digunakan sebagai
tempat benda-benda kegiatan dan perubahan. Dengan demikian maka dalam penataan ruang

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-10

akan terkandung dua komponen yang membentuk tata ruang yaitu wujud struktural dan pola
pemanfaatan ruang.
Kalau yang ditata itu penggunaan ruang adalah permukaan bumi berupa lahan maka hasilnya
dapat dikatakan sebagai tata guna lahan. Kalau yang ditata itu penggunaan ruang yang
menyangkut air maka hasilnya dapat dikatakan sebagai tata guna air. Kalau yang ditata itu
penggunaan ruang angkasa maka hasilnya dapat disebut sebagai tata guna udara atau angkasa.
Kalau yang ditata itu penggunaan ruang yang berisi daratan, air dan sebagian angkasa maka
secara keseluruhan disebut sebagai tata guna ruang atau tata ruang (spatial planning).
Seorang geograf I Made Sandy dalam hubungan penataan ruang ini mengemukakan bahwa
penataan ruang baru bisa ada setelah tanah diperuntukan untuk kegiatan atau kegiatan kegiatan
kehidupan tertentu dan dikuasai oleh calon yang akan menggunakan untuk kegiatan tersebut.
Jadi dalam hal ini ruang berarti tanah. Dengan anggapan bahwa ruang sebagai genus dan tanah
sebagai species, yang dapat ditata menurut I Made Sandi bukanlah ruang tetapi tanah di mana
menata tanah berarti menata ruang.
Pada Undang Undang No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dikatakan Tata ruang
merupakan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang , baik direncanakan maupun tidak
direncanakan.
Sedangkan penataan ruang merupakan suatu proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Sedangkan Rencana Tata Ruang merupakan hasil
perencanaan tata ruang. Batasan ini menyangkut wilayah perkotaan maupun wilayah bukan
perkotaan atau perdesaan.
Batasan Ruang Dalam Wawasan Tata Ruang
Di dalam wawasan tata ruang ini terkandung pengertian batasan ruang yang tercakup di dalam
usaha penataannya yaitu ruang daratan, ruang laut dan ruang udara sebagai suatu kesatuan
ruang.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-11

Ruang daratan adalah bagian bagian permukaan bumi yang dibatasi oleh garis batas pantai
ke arah dalam. Pada daratan ini termasuk batasan ruang permukaan diatas permukaan dan
di bawah permukaan. Pada bagian atas permukaan tercakup batasan wilayah untuk
pengembangan unsur unsur kebutuhan hidup sampai batas tertentu ke bagian atas dan ke
bagian bawah permukaan tercakup bagian wilayah bawah tanah yang layak untuk
pembangunan. Bagian wilayah bawah tanah ini dapat mencapai kedalaman antara 100
sampai 120 meter.
Ruang Lautan adalah mencakup bagian wilayah laut yang dapat dimanfaatkan di dalam
kehidupan dari segi fungsinya maupun dari segi nilai produksinya. Dengan mengacu kepada
kesepakatan internasional ruang lautan ini mencakup suatu wilayah perairan dan teritorial laut
sejauh 12 mil laut dari garis batas pantai. Dalam hubungannya dengan pemanfaatan nilai
produk kelautan batas ini dapat sampai ke batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Ruang udara, dengan mengacu kepada konvensi internasional dapat mencakup :
Ruang udara dan antariksa dan yang merupakan bagian integral dari udara yang mengelilingi
dan melingkupi bumi. Sekalipun masih memungkinkan untuk menetapkan batasan udara
sampai suatu batas atmosfir bumi (kira kira 33 kilometer). Namun demikian ada suatu
konvensi Indonesia yang menetapkan wilayah teritorial udara ini sejauh 1 kilometer dari
permukaan bumi ke arah angkasa.
Dengan dasar ini maka yang terliput ke dalam Wilayah Nasional dari segi tata ruang ini adalah
Ruang Kehidupan yang mencakup :
Ruang Daratan yaitu bagian permukaan bumi kering yang dibatasi oleh pantai dengan
kedalaman ke bagian bawah permukaan sedalam 100 meter.
Ruang Lautan adalah bagian wilayah laut dalam dan laut teritorial dan bagian bawah dasarnya.
Ruang Udara adalah ruang di atas permukaan bumi yang tercakup ke dalam wilayah nasional
sejauh 1 kilometer ke arah atas permukaan bumi.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-12

4.1.3 Pemahaman Tentang Pengembangan Wilayah


Globalisasi yang antara lain ditandai dengan integrasi perekonomian dunia dan kemajuan di bidang
teknologi informasi, komunikasi dan transportasi adalah kenyataan yang harus dihadapi bangsabangsa di dunia, termasuk juga Indonesia. Seiring dengan proses tersebut terjadi pula pergeseran
pada paradigma pengembangan wilayah sekarang ini, seperti proses perencanaan yang top-down
menuju bottom-up, desentralisasi, penguatan institusi lokal dan perhatian pada masalah
lingkungan.
Otonomi daerah yang telah dijalankan di Indonesia telah memberikan kewenangan yang lebih luas
kepada daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Dengan kewenangan yang lebih besar ini diharapkan pengembangan wilayah yang sesuai dengan
karakteristik wilayah itu sendiri. Implikasi yang dapat timbul dari hal tersebut adalah adanya
persaingan antar wilayah untuk dapat memasarkan produk unggulan yang dimilikinya.
Pengembangan wilayah (regional development) sebagai upaya untuk memacu kondisi sosialekonomi, budaya dan geografis yang sangat berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya
(Firman,1999).
Kebutuhan akan informasi yang akurat tentang potensi dan kondisi wilayah sangat diperlukan
untuk dapat melakukan analisis wilayah. Dalam pemanfaatan potensi wilayah, perlu
dipertimbangkan agar tidak mengeksploitasi sumberdaya tetapi lebih kepada upaya optimalisasi
sumberdaya dengan tanpa mengorbankan sumberdaya di masa mendatang (Ahmadjayadi dalam
Munir, 2002). Karenannya ada enam upaya penting yang perlu dilakukan, yaitu :
1. Melakukan deskripsi jenis-jenis potensi wilayah secara sistematis, misalnya potensi
wilayah yang berkaitan dengan pertanian, pariwisata, kehutanan, perikanan, pertambangan
dan tenaga kerja.
2. Melakukan klasifikasi jenis-jenis potensi wilayah secara

sistematis, misalnya

pengelompokan potensi wilayah di bidang perikanan, pertanian, pariwisata.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-13

3. Melakukan deskripsi di mana setiap potensi wilayah berada, yaitu melakukan deskripsi di
mana setiap potensi wilayah yang sudah diklasifikasikan tersebut.
4. Melakukan deskripsi jumlah ketersediaan potensi wilayah, yaitu melakukan identifikasi
dengan memberikan deskripsi berapa jumlah jenis potensi wilayah yang sudah
diklasifikasikan di setiap lokasi.
5. Melakukan deskripsi pengembangan potensi wilayah, yaitu melakukan identifikasi dengan
memberikan deskripsi pengembangan potensi wilayah yang telah dikembangkan dengan
orientasi pemikiran akan adanya nilai tambah terhadap potensi wilayah.
6. Melakukan deskripsi perubahan-perubahan atas potensi wilayah yang telah diidentifikasi,
yaitu melakukan identifikasi dengan memberi deskripsi terhadap jenis potensi wilayah
yang telah berubah (Munir, 2002).
Pengenalan wilayah merupakan hal penting untuk dapat melakukan pengembangan wilayah,
karena wilayah terbentuk melaui suatu keterkaitan antar aktifitas yang ada di dalamnya melalui
suatu hubungan fungsional antar aktifitas tersebut. Untuk mencapai hal tersebut dalam
pengembangan wilayah perlu dilaksanakan dengan mengoptimalkan beberapa prinsip yaitu:
1. Mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang tersedia, mulai dari sumberdaya alam,
sumberdaya manusia, maupun sumberdaya sosial dengan tujuan keuntungan komparatif.
2. Pengembangan wilayah memerlukan desentralisasi fungsi, yakni adanya distribusi
kegiatan.
3. Apabila pengembangan kegiatan ekonomi pada suatu wilayah ditujukan sebagai basis
ekspor dengan pemasaran luar negeri, diperlukan aksesibilitas yang tinggi (Riant Nugroho
dalam Munir, 2002).
Dalam pengembangan wilayah ada tiga sasaran utama yang banyak dicanangkan baik oleh
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
memperluas kesempatan berusaha serta menjaga agar pembangunan dapat tetap berjalan secara
berkesinambungan (Alkadri et al, 1999).

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-14

Jika dilihat praktik pengembangan wilayah di Indonesia selama ini, terutama sebelum otonomi
daerah, banyak kebijakan yang sifatnya top-down. Pengembangan wilayah di Indonesia antara lain
ditandai

dengan

kehadiran

Rencana

Tata

Ruang

Wilayah

(RDTRWP/RDTRWK), Rencana Pengembangan Kawasan Pembangunan

Propinsi/Kabupaten
Ekonomi Terpadu

(KAPET) sebagai upaya untuk mengurangi kesenjangan antara Kawasan Barat Indonesia dengan
Kawasan Indonesia Timur.
Dalam rencana pengembangan wilayah tersebut terlihat skala yang sangat besar, dilakukan secara
top-down dengan inisiatif dari pemerintah pusat, dan sangat mengandalkan investasi dari luar
sebagai pendorongnya (Firman,1999).

4.1.4 Pemahaman Tentang Pengembangan Sektoral


Pendekatan sektoral merupakan pendekatan aktifitas ekonomi di dalam suatu wilayah dibagi
menjadi sektor-sektor yang dianalisis secara terpisah. Dalam pendekatan sektoral, untuk tiap sektor
semestinya dibuat analisis sehingga dapat memberi jawaban mengenai sektor tertentu. (Tarigan,
2004) :
1. Sektor apa yang memiliki competitive advantage di wilayah tersebut.
2. Sektor yang menjadi sektor basis dan non basis.
3. Sektor yang memiliki nilai tambah tinggi.
4. Sektor yang memiliki forward linkage dan backward linkage tinggi.
5. Sektor yang perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan minimal wilayah tersebut.
6. Sektor yang banyak menyerap tenaga kerja
Atas dasar beberapa kriteria di atas, selanjutnya dapat ditetapkan sektor yang dapat dikembangkan
di wilayah tersebut. Pendekatan sektoral yang sebenarnya berupaya meningkatkan optimasi
penggunaan ruang dan potensi sumberdaya wilayah dan hubungannya dengan pemanfaatan,
produktifitas dan konservasi bagi kelestarian lingkungan, masih berjalan sendiri-sendiri serta lebih
menitikberatkan pada kepentingan sektor itu sendiri tanpa terlalu memperhatikan kepentingannya

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-15

dengan sektor lainnya (Riyadi, 2002). Contoh pendekatan sektoral adalah dalam pengembangan
pertanian adalah analisis kesesuaian lahan pertanian berdasarkan penilaian terhadap sifat dan
kondisi tanah, iklim dan morfologi dengan menggunakan standar dan kriteria FAO yang
dimodifikasi oleh PPT Bogor.
4.1.5 Pemahaman Mengenai Pengembangan Ekonomi Wilayah
Setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain. Oleh
sebab itu perencanaan pembangunan ekonomi suatu daerah pertama-tama perlu mengenali
karakter ekonomi, sosial dan fisik daerah itu sendiri, termasuk interaksinya dengan daerah lain.
Dengan demikian tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk
semua daerah. Namun di pihak lain, dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi daerah, baik
jangka pendek maupun jangka panjang, pemahaman mengenai teori pertumbuhan ekonomi
wilayah, yang dirangkum dari kajian terhadap pola-pola pertumbuhan ekonomi dari berbagai
wilayah, merupakan satu faktor yang cukup menentukan kualitas rencana pembangunan ekonomi
daerah.
Keinginan kuat dari pemerintah daerah untuk membuat strategi pengembangan ekonomi daerah
dapat membuat masyarakat ikut serta membentuk bangun ekonomi daerah yang dicita-citakan.
Dengan pembangunan ekonomi daerah yang terencana, pembayar pajak dan penanam modal juga
dapat tergerak untuk mengupayakan peningkatan ekonomi. Kebijakan pertanian yang mantap,
misalnya, akan membuat pengusaha dapat melihat ada peluang untuk peningkatan produksi
pertanian dan perluasan ekspor. Dengan peningkatan efisiensi pola kerja pemerintahan dalam
pembangunan, sebagai bagian dari perencanaan pembangunan, pengusaha dapat mengantisipasi
bahwa pajak dan retribusi tidak naik, sehingga tersedia lebih banyak modal bagi pembangunan
ekonomi daerah pada tahun depan.
Pembangunan ekonomi daerah perlu memberikan solusi jangka pendek dan jangka panjang
terhadap isu-isu ekonomi daerah yang dihadapi, dan perlu mengkoreksi kebijakan yang keliru.
Pembangunan ekonomi daerah merupakan bagian dari pembangunan daerah secara menyeluruh.
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-16

Dua prinsip dasar pengembangan ekonomi daerah yang perlu diperhatikan adalah (1) mengenali
ekonomi wilayah dan (2) merumuskan manajemen pembangunan daerah yang pro-bisnis.

4.1.6 Konsep Penataan Ruang Pasca Undang-Undang No. 26 Tahun 2007


a. Hal Pokok yang diatur dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 yang baru diberlakukan membawa perubahan yang cukup
signifikan dalam proses penataan ruang. Beberapa hal mendasar yang berubah antara lain: matra
laut dan ruang bawah tanah yang diatur dalam penataan ruang, hirarki dan kedalaman rencana tata
ruang, jangka waktu perencanaan hingga 20 tahun untuk semua jenjang rencana, pengaturan
pengendalian yang cukup jelas melalui zoning regulation, insentif dan disienstif, pemberian sanksi
hukum, dan sebagainya.
Berikut hal-hal menonjol yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007:
1. Penataan Ruang dibutuhkan untuk mewujudkan ruang Nusantara yang Aman, Nyaman,
Produktif dan Berkelanjutan.
2. Perwujudan Tujuan Penataan Ruang dilakukan dengan Strategi Umum seperti Penyiapan
Kerangka Strategis Pengembangan Penataan Ruang Nasional dan Strategi Khusus berupa
penyiapan kawasan perbatasan, Pemberian Insentif dan Disinsentif, Pengenaan Sanksi, dan
lain-lain.
3. Produk perencanaan tata ruang tidak hanya bersifat Administratif akan tetapi juga
mengatur perencanaan tata ruang yang bersifat Fungsional dan di klasifikasikan ke dalam
Rencana Umum dan Rencana Rinci Tata Ruang.
4. Penataan Ruang Wilayah Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota dilakukan secara
Berjenjang dan Komplementer sehingga saling melengkapi satu dengan yang lain,
bersinergi, dan tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dalam penyelenggaraannya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-17

5. Undang-undang Penataan Ruang telah mengakomodasi perkembangan lingkungan


strategis seperti pengaturan Ruang Terbuka Hijau (Rth) di Perkotaan dan Daerah Aliran
Sungai (DAS), Standar Pelayanan Minimal (SPM), integrasi penataan ruang Darat, Laut,
dan Udara, Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Penataan Ruang Kawasan Perkotaan dan
Perdesaan, dan Aspek Pelestarial Lingkungan Hidup.
6. Untuk menjamin pelaksanaan UU Penataan Ruang yang tertib dan konsisten telah diatur
Ketentuan Peralihan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), dan Kelembagaan Penataan
Ruang.
Dengan telah diakomodasikannya berbagai issue strategis penataan ruang di dalam UU Penataan
Ruang, diharapkan nantinya penyelenggaraan penataan ruang dapat lebih berdayaguna dan
berhasilguna.
b. Strategi Umum dan Strategi Implementasi Penyelengaraan Penataan Ruang
Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman,
nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional
dengan:
1. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
2. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan
dengan memperhatikan sumberdaya manusia; dan
3. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaaatan ruang.
Strategi Umum
1. Menyelenggarakan penataan ruang wilayah nasional secara komprehensif, holistik,
terkoordinasi, terpadu, efektif dan efisien dengan memperhatikan faktor-faktor politik,
ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan kelestarian lingkungan hidup

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-18

2. Memperjelas pembagian wewenang antara Pemerintah, pemerintah provinsi, dan


pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan penataan ruang
3. Memberikan perhatian besar kepada aspek lingkungan/ekosistem
4. Memberikan penekanan kepada aspek pengendalian pemanfaatan ruang.
Strategi Implementasi
1. Penerapan prinsip-prinsip komplementaritas dalam rencana struktur ruang dan rencana
pola ruang RDTRW Kabupaten/Kota dan RDTRW Provinsi.
2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RDTRW) harus dapat dijadikan acuan pembangunan,
sehingga RDTRW harus memuat arah pemanfaatan ruang wilayah yang berisi indikasi
program utama jangka menengah lima tahunan.
3. Pemanfaatan ruang harus mampu mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang
berkelanjutan dan tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.
4. Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan kawasan perbatasan,
perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, dan pengenaan sanksi.
5. Penegakan hukum yang ketat dan konsisten untuk mewujudkan tertib tata ruang.

c. Penyelengaraan Penataan Ruang


Pembagian Kewenangan yang lebih Jelas antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang diatur dalam UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007, sebagaimana terlihat pada skema berikut:

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-19

Gambar 4.2
Pembagian Kewenangan dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang

4.1.7 Konsep Perencanaan Partisipatif


a.

Pengertian Partisipatif

Partisipasi diterjemahkan dari asal kata participation, dimana oleh Pei (1976) didefinisikan sebagai
"take a part" atau ikut serta. Karenanya, partisipasi dapat pula diterjemahkan sebagai pengikutsertaan atau Peran Serta. Berdasarkan pemahaman umum ini, pihak-pihak yang terlibat dalam
upaya peran serta, dengan kata lain berpartisipasi, selanjutnya melakukan kerjasama dalam
mencapai suatu tujuan yang melibatkan kepentingan-kepentingan masing-masing pihak.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh Bank Dunia (World Bank Theory of Participation,
1997), partisipasi merupakan suatu proses dimana pihak-pihak terlibat akan saling mempengaruhi
dan bertukar kontrol atas inisiatif pembangunan dan keputusan serta sumberdaya yang
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-20

berpengaruh terhadapnya. Selanjutnya pihak-pihak yang terlibat dalam proses partisipasi tersebut
disebut sebagai stakeholder. Karenanya, pemahaman mengenai partisipasi akan selalu berkaitan
dengan pemahaman mengenai stakeholder, kepentingan-kepentingannya, serta pelibatannya.
Perencanaan partisipatif di Indonesia didefinisikan sebagai upaya perencanaan yang dilakukan
bersama antara unsur pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini, peran masyarakat ditekankan
pada penentuan tingkat kebutuhan, skala prioritas, dan alokasi sumber daya masyarakat. Definisi
tersebut selanjutnya dilengkapi dengan pemahaman dari UNDP, dimana perencanaan partisipatif
atau participation planning merupakan upaya perencanaan yang melibatkan/mengikutsertakan
seluruh stakeholder yang ada. Dalam definisi tersebut, stakeholder selaku pemeran serta dapat
terdiri dari kelompok pemerintah, swasta, dan masyarakat umum. Dengan pemahaman tersebut,
perencanaan secara partisipatif sudah tentu melibatkan berbagai komunitas secara menyeluruh.
Upaya perencanaan partisipatif menghadirkan proses perencanaan terstruktur yang terdiri dari
aspek-aspek:
1. kerjasama guna membangun konsensus
2. komunikasi kelompok stakeholder yang efektif, serta
3. proses implementasi rencana guna mengubah berbagai ide/pemikiran menjadi kegiatan
yang produktif dan penyelesaiannya yang maksimal.
b. Mekanisme Pembangunan Partisipatif
Paradigma pembangunan partisipatif memperlihatkan berbagai kelebihan dari model
pembangunan partisipatif. Guna memperoleh keluaran yang diinginkan dari suatu proses
partisipasi, maka dirumuskan suatu mekanisme pembangunan secara partisipatif. Dalam
mekanisme tersebut dijelaskan, langkah-langkah yang perlu diambil dalam proses pembangunan
partisipatif adalah:
1. Persiapan sosial
2. Survey Swadaya (permasalahan umum, potensi, dan kendala)
3. Kesepakatan prioritas permasalahan yang akan ditangani
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-21

4. Kesepakatan penggalangan dan alokasi sumber daya


5. Kesepakatan rencana
6. Proses implementasi
7. Pemanfaatan hasil pembangunan
8. Evaluasi

c.

Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang

Pengertian peranserta masyarakat menurut Peraturan Pemerintah No.69 tahun 1996 tentang
Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam
Penataan Ruang, lebih diarahkan untuk peranserta bebas, belum pada peranserta spontan yang
penekanannya pada berbagai kegiatan masyarakat, yang timbul atas kehendak dan keinginan
sendiri di tengah masyarakat, untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan
ruang.
Konsekuensinya, Pemerintah berkewajiban menyediakan forum dan atau wadah formal untuk
menampung kehendak dan keinginan berperanserta masyarakat tersebut sejak tata ruang sedang
disusun, dan dari dasar hukum yang ada, forum dan wadah formal ini belum secara khusus
dimunculkan. Sebagian besar isi pasal yang terlihat adalah lebih merupakan proses pembantuan
masyarakat kepada penata ruang dan penyuluhan penataan ruang kepada masyarakat.
Bentuk peran serta masyarakat yang diindikasikan dalam Peraturan Pemerintah No.69 tahun 1996
adalah:
1. Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan.
2. Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah bangunan.
3. Pemberian masukan dalam perumusan rencana tata ruang.
4. Pemberian informasi, saran, pertimbangan, atau pendapat dalam penyusunan strategi dan
arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang.
5. Pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana.
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-22

6. Kerjasama dalam penelitian dan pengembangan.


7. Bantuan tenaga ahli.
8. Bantuan dana.
Peran serta masyarakat tersebut terkait erat dengan hirarki serta tahapan dari penataan ruang yang
dilakukan. Matriks berikut ini mengemukakan perbandingan kemungkinan serta potensi kontribusi
peranserta masyarakat di dalam proses penataan ruang.
Proses penataan ruang sampai saat ini masih lebih bersifat top down, dimana peran pemerintah
masih sangat dominan. Pada perencanaan level makro seperti RDTRW Propinsi, RDTRW
Kabupaten/Kota, mekanisme top down ini dirasakan masih memungkinkan, mengingat substansi
dari rencana tersebut lebih pada strategi serta arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Namun
untuk rencana pada level mikro seperti Rencana Detail, Rencana Teknik, perlu dilakukan proses
bottom up mengingat interaksi dan aspirasi dari masyarakat akan lebih diperlukan.
Bentuk keterlibatan masyarakat dalam penataan ruang sampai saat ini masih sangat pasif, tidak
lebih dari sekedar dimintai konsultasi yang diwakili oleh DPRD. Padahal esensinya, masyarakat
dalam pengertian ini adalah orang seorang, kelompok orang, termasuk masyarakat hukum adat
atau badan hukum, bukan DPRD.
Keterlibatan pasif masyarakat dalam proses perencanaan yang dalam hal ini berupa public input
yang belum efektif serta tidak menciptakan komunikasi dua arah yang lebih interaktif. Dilihat dari
proses penataan ruang, bentuk keterlibatan masyarakat tidak dilakukan secara komprehensif.
Dengan demikian pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana berlangsung tidak efektif
karena dilakukan bukan pada tahap awal tetapi pada saat keputusan untuk merencanakan
ditetapkan.
Demokratisasi dalam penataan ruang dalam bentuk pemberdayaan masyarakat untuk menentukan
sendiri tingkat keterlibatannya diperlukan agar perencana dapat lebih luwes untuk menyiapkan
pendekatan perencanaan dan teknik metodologi yang paling tepat untuk digunakan untuk masing
masing kasus, serta teknik peranserta yang akan dipilih.
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-23

Oleh karenanya, siapa yang harus terlibat secara lebih aktif dalam tahap selanjutnya, serta siapa
yang harus ikut dalam kerja sama dalam penelitian dan pengembangan, bantuan tenaga ahli, dan
bantuan dana, ditentukan bersama-sama dengan masyarakat sejak awal proses. Penunjukkan
kalangan tertentu dari masyarakat yang lebih siap oleh masyarakat itu sendiri menjadi dasar
pembangunan kepercayaan masyarakat.
Aspek-aspek teknis yang perlu diperhatikan dalam pelibatan masyarakat dalam perencanaan tata
ruang :
1. Beberapa pertanyaan yang harus dijawab sehubungan dengan peran serta masyarakat :
Siapa yang harus dilibatkan dan berperan aktif?
Kapan masyarakat harus mulai terlibat?
Bagaimana bentuk pelaksanaan peranserta masyarakat ?
2. Bentuk penyelenggaraan peran serta masyarakat :
Diskusi kelompok kecil; jumlah peserta sedikit, cenderung terarah/terfokus, inklusif dari
komunitas yang lebih luas, memerlukan waktu yang sangat panjang
Rapat umum; jumlah pemeran serta besar, sulit untuk mengarahkan pada isu-isu tertentu,
cenderung mengesampingkan sektor-sektor tertentu dari komunitas, artikulasi perorangan,
dan kelompok-kelompok yang berkepentingan mungkin sangat dominan
Konferensi; pemeranserta adalah kalangan terpilih, teknik pendahuluan yang baik untuk
menggambarkan isu-isu yang muncul, boros waktu bagi partisipan, cukup waktu bagi
perencana untuk memberikan respon interaksi
Lokakarya bagi kelompok-kelompok kecil; dapat digunakan di setiap tahapan proses,
menjanjikan keterlibatan dan kontribusi aktif.
Seminar, relatif menyerupai penyelenggaraan konferensi
3. Beberapa bentuk peran serta yang bersifat perorangan misalnya adalah :
Wawancara: dapat lebih terwakili langsung dan personal, tetapi boros dari segi waktu

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-24

Pendapat tertulis atau verbal; komitmen dapat ditunjukkan secara formal, sarana yang baik
bagi para kelompok per-lobby
Jalur khusus telepon; luwes dari segi waktu, interaksi langsung
Survey kuesioner; memberikan data/fakta tertulis, dalam hal tertentu dapat digunakan
untuk mengukur reaksi masyarakat, akan tetapi interaksi terbatas/kurang.
Bentuk lain: observasi, pameran, membuka kantor informasi di lapangan, dan penggunaan
media massa.
4. Pengelompokkan bentuk peran serta masyarakat dalam kelompok lebih besar:
Publicity (dalam rangka membangun dukungan masyarakat )
Public education (dalam rangka diseminasi informasi)
Public interaction (dalam rangka membangun komunikasi dua arah)
Public Partnership (dalam rangka mengamankan saran dan consent)

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-25

Tabel 4.1
Potensi Kontribusi Masyarakat dalam Penataan Ruang
HIRARKI RENCANA

Tahap
Penataan

Kegiatan

Ruang

Nas Prop Kab/Kot Kawasa


.

Perencanaan

Proses Teknis merencana

Penetapan rencana

Pengesahan rencana

rencana dan perangkat insentif -

Penyusunan dan pengusulan proyek

Pengawasan

Penertiban

Pemanfaatan Penyuluhan dan sosialisasi rencana


Penyusunan program
Penyusunan peraturan pelaksanaan

disinsentif

Pelaksanaan program dan proyek


Pengendalian Perijinan rencana pembangunan

Peninjauan kembali rencana


Keterangan potensi kontribusi masyarakat :
= sedang

d.

+ = tinggi

= rendah

Stakeholder Dalam Penataan Ruang

Stakeholder apabila diterjemahkan secara umum dapat diartikan sebagai pemegang keputusan.
Definisi yang lebih lengkap dari stakeholder mungkin bisa dilihat dari beberapa teori umum
mengenai apa dan siapa stakeholder, terutama dalam dunia perencanaan. Arnold Meltsner (1976)
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-26

menjelaskan bahwa dalam suatu proses analisa kebijakan, permasalahan yang berkaitan dengan
program/kebijakan tersebut harus dianalisa dalam konteks: aktor-aktor yang terlibat
(stakeholders), kepercayaan/pengertian dan motivasi para aktor tersebut, sumber daya yang
dimiliki mereka, serta beberapa variabel lainnya yang berkaitan dengan tingkat kepentingan para
aktor serta kemampuan masing-masing untuk mempengaruhi suatu program/kebijakan. Dari
penjelasan Meltsner ini terlihat bahwa stakeholder dapat didefinisikan sebagai aktor-aktor yang
terlibat, memiliki motivasi tertentu, serta memiliki kemampuan untuk mempengaruhi suatu
program / kebijakan.
Definisi stakeholder dari World Bank dapat melengkapi teori Meltsner di atas tadi. Menurut Wolrd
Bank Participation Sourcebook, stakeholder adalah mereka yang terpengaruh oleh suatu hasil
implementasi kebijakan baik secara negatif maupun positif, serta mereka yang dapat
mempengaruhi hasil implementasi kebijakan tersebut.
Aktor-aktor penting atau stakeholder secara umum, sesuai dengan teori Good Governance, terdiri
dari 3 kelompok utama, yaitu:
1. Pemerintah (Government), sebagai representatif negara yang memiliki kemampuankemampuan legislatif, yudikasi, dan pelayanan publik, fungsinya menjaga supremasi
hukum dan keamanan nasional, menghasilkan program program kebijakan publik,
mengumpulkan dana / penghasilan untuk membiayai pelayanan publik dan infrastruktur,
budgeting dan implementasinya, serta menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
2. Masyarakat (Civil Society), termasuk didalamnya organisasi-organisasi non-pemerintah
(LSM), organisasi professional, grup-grup individu dan semua warga negara, yang
fungsinya dalam Good Governance antara lain memobilisasi kelompok kelompok
masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan berbagai aktivitas ekonomi dan
politik lainnya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-27

3. Swasta (Private Sector), dapat terdiri dari perusahaan-perusahaan dengan berbagai skala,
dari yang paling kecil (tradisional) hingga perusahaan besar / multinasional, termasuk pula
BUMN, dan individu yang berusaha.
Ketiga kelompok stakeholder di atas merupakan aktor-aktor yang memiliki kepentingan maupun
kemampuan untuk mempengaruhi suatu kebijakan, baik dalam penataan ruang maupun
pengelolaan lahan perkotaan.

4.2 Tinjauan Mengenai Pengembangan Wilayah


Globalisasi yang antara lain ditandai dengan integrasi perekonomian dunia dan kemajuan di bidang
teknologi informasi, komunikasi dan transportasi adalah kenyataan yang harus dihadapi bangsabangsa di dunia, termasuk juga Indonesia. Seiring dengan proses tersebut terjadi pula pergeseran
pada paradigma pengembangan wilayah sekarang ini, seperti proses perencanaan yang top-down
menuju bottom-up, desentralisasi, penguatan institusi lokal dan perhatian pada masalah
lingkungan.
Otonomi daerah yang telah dijalankan di Indonesia telah memberikan kewenangan yang lebih luas
kepada daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Dengan kewenangan yang lebih besar ini diharapkan pengembangan wilayah yang sesuai dengan
karakteristik wilayah itu sendiri. Implikasi yang dapat timbul dari hal tersebut adalah adanya
persaingan antar wilayah untuk dapat memasarkan produk unggulan yang dimilikinya.
Pengembangan wilayah (regional development) sebagai upaya untuk memacu kondisi sosialekonomi, budaya dan geografis yang sangat berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya
(Firman,1999).
Kebutuhan akan informasi yang akurat tentang potensi dan kondisi wilayah sangat diperlukan
untuk dapat melakukan analisis wilayah. Dalam pemanfaatan potensi wilayah, perlu
dipertimbangkan agar tidak mengeksploitasi sumberdaya tetapi lebih kepada upaya optimalisasi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-28

sumberdaya dengan tanpa mengorbankan sumberdaya di masa mendatang (Ahmadjayadi dalam


Munir, 2002). Karenannya ada enam upaya penting yang perlu dilakukan, yaitu:
1. Melakukan deskripsi jenis-jenis potensi wilayah secara sistematis, misalnya potensi
wilayah yang berkaitan dengan pertanian, pariwisata, kehutanan, perikanan, pertambangan
dan tenaga kerja.
2. Melakukan klasifikasi jenis-jenis potensi wilayah secara sistematis, misalnya
pengelompokan potensi wilayah di bidang perikanan, pertanian, pariwisata.
3. Melakukan deskripsi di mana setiap potensi wilayah berada, yaitu melakukan deskripsi di
mana setiap potensi wilayah yang sudah diklasifikasikan tersebut.
4. Melakukan deskripsi jumlah ketersediaan potensi wilayah, yaitu melakukan identifikasi
dengan memberikan deskripsi berapa jumlah jenis potensi wilayah yang sudah
diklasifikasikan di setiap lokasi.
5. Melakukan deskripsi pengembangan potensi wilayah, yaitu melakukan identifikasi dengan
memberikan deskripsi pengembangan potensi wilayah yang telah dikembangkan dengan
orientasi pemikiran akan adanya nilai tambah terhadap potensi wilayah.
6. Melakukan deskripsi perubahan-perubahan atas potensi wilayah yang telah diidentifikasi,
yaitu melakukan identifikasi dengan memberi deskripsi terhadap jenis potensi wilayah
yang telah berubah (Munir, 2002).
Pengenalan wilayah merupakan hal penting untuk dapat melakukan pengembangan wilayah,
karena wilayah terbentuk melaui suatu keterkaitan antar aktifitas yang ada di dalamnya melalui
suatu hubungan fungsional antar aktifitas tersebut. Untuk mencapai hal tersebut dalam
pengembangan wilayah perlu dilaksanakan dengan mengoptimalkan beberapa prinsip yaitu:
1. Mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang tersedia, mulai dari sumberdaya alam,
sumberdaya manusia, maupun sumberdaya sosial dengan tujuan keuntungan komparatif.
2. Pengembangan wilayah memerlukan desentralisasi fungsi, yakni adanya distribusi
kegiatan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-29

3. Apabila pengembangan kegiatan ekonomi pada suatu wilayah ditujukan sebagai basis
ekspor dengan pemasaran luar negeri, diperlukan aksesibilitas yang tinggi (Riant Nugroho
dalam Munir, 2002).
Dalam pengembangan wilayah ada tiga sasaran utama yang banyak dicanangkan baik oleh
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
memperluas kesempatan berusaha serta menjaga agar pembangunan dapat tetap berjalan secara
berkesinambungan (Alkadri et al, 1999).
Jika dilihat praktik perngembangan wilayah di Indonesia selama ini, terutama sebelum otonomi
daerah, banyak kebijakan yang sifatnya top-down. Pengembangan wilayah di Indonesia antara lain
ditandai dengan kehadiran Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi/Kabupaten (RTRWP/RTRWK),
Rencana Pengembangan Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (KAPET) sebagai upaya
untuk mengurangi kesenjangan antara Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan Indonesia
Timur.
Dalam rencana pengembangan wilayah tersebut terlihat skala yang sangat besar, dilakukan secara
top-down dengan inisiatif dari pemerintah pusat, dan sangat mengandalkan investasi dari luar
sebagai pendorongnya (Firman,1999).
4.3 Tinjauan Mengenai Pengembangan Sektoral
Pendekatan sektoral merupakan pendekatan aktifitas ekonomi di dalam suatu wilayah dibagi
menjadi sektor-sektor yang dianalisis secara terpisah. Dalam pendekatan sektoral, untuk tiap sektor
semestinya dibuat analisis sehingga dapat memberi jawaban mengenai sektor tertentu. (Tarigan,
2004) :
1. Sektor apa yang memiliki competitive advantage di wilayah tersebut.
2. Sektor yang menjadi sektor basis dan non basis.
3. Sektor yang memiliki nilai tambah tinggi.
4. Sektor yang memiliki forward linkage dan backward linkage tinggi.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-30

5. Sektor yang perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan minimal wilayah tersebut.
6. Sektor yang banyak menyerap tenaga kerja
Atas dasar beberapa kriteria di atas, selanjutnya dapat ditetapkan sektor yang dapat dikembangkan
di wilayah tersebut. Pendekatan sektoral yang sebenarnya berupaya meningkatkan optimasi
penggunaan ruang dan potensi sumberdaya wilayah dan hubungannya dengan pemanfaatan,
produktifitas dan konservasi bagi kelestarian lingkungan, masih berjalan sendiri-sendiri serta lebih
menitikberatkan pada kepentingan sektor itu sendiri tanpa terlalu memperhatikan kepentingannya
dengan sektor lainnya (Riyadi, 2002). Contoh pendekatan sektoral adalah dalam pengembangan
pertanian adalah analisis kesesuaian lahan pertanian berdasarkan penilaian terhadap sifat dan
kondisi tanah, iklim dan morfologi dengan menggunakan standar dan kriteria FAO yang
dimodifikasi oleh PPT Bogor.
4.4 Tinjauan Mengenai Pembangunan Berkelanjutan
Definisi konsep pembangunan berkelanjutan diinteprestasikan oleh beberapa ahli secara berbedabeda. Namun demikian pembangunan berkelanjutan sebenarnya didasarkan kepada kenyataan
bahwa kebutuhan manusia terus meningkat. Kondisi yang demikian ini membutuhkan suatu
strategi pemanfaatan sumberdaya alam yang efesien. Disamping itu perhatian dari konsep
pembangunan yang berkelanjutan adalah adanya tanggungjawab moral untuk memberikan
kesejahteraan bagi generasi yang akan datang, sehingga permasalahan yang dihadapi dalam
pembangunan adalah bagaimana memperlakukan alam dengan kapasitas yang terbatas namun
akan tetap dapat mengalokasikan sumberdaya secara adil sepanjang waktu dan antar generasi
untuk menjamin kesejahteraannya.
Penyusutan yang terjadi akibat pemanfaatan masa kini hendaknya disertai suatu bentuk usaha
mengkompensasi yang dapat dilakukan dengan menggali kemampuan untuk mensubstitusi
semaksimal mungkin sumberdaya yang langka dan terbatas tersebut sehingga pemanfaatan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-31

sumberdaya alam pada saat ini tidak mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan
dating (intergenerational equity).
Definisi Pembangunan berkelanjutan menurut Bond et al. (2001) pembangunan berkelanjutan
didefinisikan sebagai pembangunan dari kesepakatan multidimensional untuk mencapai kualitas
hidup yang lebih baik untuk semua orang dimana pembangunan ekonomi, sosial dan proteksi
lingkungan saling memperkuat dalam pembangunan. Bosshard (2000) mendefinisikan
pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang harus mempertimbangkan lima prinsip
kriteria yaitu: (1) abiotik lingkungan, (2) biotik lingkungan, (3) nilai-nilai budaya, (4) sosiologi,
dan (5) ekonomi. Marten (2001) mendefinisikan sebagai pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa
mengorbankan kecukupan kebutuhan generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan tidak
berarti berlanjutnya pertumbuhan ekonomi, karena tidak mungkin ekonomi tumbuh jika ia
tergantung pada keterbatasan kapasitas sumberdaya alam yang ada.
4.5 Tinjauan Mengenai Perencanaan Tata Ruang
Dalam Undang undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang disebutkan bahwa
pelaksanaan penataan ruang merupakan upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui
pelaksanaan Perencanaan Ruang, Pemanfaatan Ruang dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
Perencanaan Tata Ruang merupakan proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang
meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk
mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang. Beberapa kaidah
yang terkait dengan pemanfaatan ruang antara lain:
1.

Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta


pembiayaannya.

2.

Pemanfaatan ruang dapat dilaksanakan dengan pemanfaatan ruang, baik pemanfaatan


ruang secara vertikal maupun pemanfaatan ruang di dalam bumi.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-32

3.

Program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya termasuk jabaran dari indikasi


program

utama

yang

termuat

di

dalam

rencana

tata

ruang

wilayah.

Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu indikasi
program utama pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang.
4.

Pelaksanaan pemanfaatan ruang di wilayah disinkronisasikan dengan pelaksanaan


pemanfaatan ruang wilayah administratif sekitarnya.

5.

Pemanfaatan ruang dilaksanakan dengan memperhatikan standar pelayanan minimal dalam


penyediaan sarana dan prasarana.

Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang yang
dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta
pengenaan sanksi. Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, dapat
diberikan insentif dan/atau disinsentif oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Insentif diberikan
sebagai upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan
rencana tata ruang, berupa:
1.

Keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi silang, imbalan, sewa ruang dan urun
saham.

2.

Pembangunan serta pengadaan infrastruktur,

3.

Kemudahan prosedur perijinan, dan / atau

4.

Pemberian penghargaan kepada nasyarakat, swasta dan / atau pemerintah daerah.

Disinsentif diberikan sebagai upaya untuk mencegah, membatasi pertumbuhan dan mengurangi
kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang, berupa:
1.

Pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan
untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang, atau

2.

Pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi dan penalti.

Produk rencana tata ruang diklasifikasikan sebagai rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata
ruang. Rencana umum tata ruang secara hierarkhi terdiri atas: Rencana Tata Ruang Wilayah

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-33

Nasional (RTRWN), Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten / Kota. Rencana rinci tata ruang disusun sebagai perangkat operasional rencana umum
tata ruang, termasuk di dalamnya sebagai dasar dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

4-34

BAB 5
PENDEKATAN TEKNIS
5.1 Metodelogi
5.1.1 Pendekatan Penyusunan
a.

Pengelolaan Tepadu
Pengelolaan wilayah Kota Cimahi terpadu (integrated coastal zone management ICZM)
adalah pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental
service)yang terdapat di wilayah perencanaan, dengan cara melakukan penilaian menyeluruh
(comprehensive assessment) tentang kawasan beserta sumber daya alam dan jasa-jasa
lingkungan yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan dan
kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya, guna mencapai
pembangunan yang optimal dan berkelanjutan (Dahuri et al. 2001). Pengelolaan ini
dilakukan dengan kontinyu dan dinamis dengan mempertimbangkan segenap aspek sosial
ekonomi budaya dan aspirasi masyarakat (stakeholder) serta memperhatikan konflik
kepentingan dan konflik pemanfaatan kawasan yang mungkin ada (Sorensen dan Mc Creary
dalam Dahuri et al. 2001).
Batas wilayah untuk kepentingan pengelolaan perencanaan terdapat dua macam, yaitu batas
untuk wilayah perencanaan dan batas untuk wilayah pengaturan atau pengelolaan seharihari. Wilayah perencanaan meliputi seluruh daerah daratan (hulu) apabila terdapat kegiatan
pembangunan yang dapat menimbulkan dampak secara nyata terhadap lingkungan dan
sumber daya. Sementara dalam pengelolaan wilayah sehari-hari (day to day management),

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-1

pemerintah (pihak pengelola) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan atau menolak


suatu kegiatan pembangunan setempat. Sehingga untuk wilayah pengaturan menjadi
tanggung jawab bersama antara instansi pemerintahan dan masyarakat.
Pengelolaan (management) terdiri dari tiga tahap utama yaitu : perencanaan, implementasi,
monitoring dan evaluasi, maka nuansa keterpaduan tersebut perlu diterapkan sejak tahap
perencanaan hingga evaluasi. Selain itu keterpaduan juga harus mencakup tiga dimensi yaitu
dimensi sektoral, bidang ilmu serta keterkaitan ekologis. Pada dimensi keterpaduan sektoral,
mensyaratkan adanya koordinasi tugas, wewenang dan tanggung jawab antar sektoral.
Keterpaduan dari sudut pandang bidang keilmuan dimaksudkan bahwa pengelolaan wilayah
perencanaan harus dilaksanakan atas dasar pendekatan interdisiplin ilmu (ekonomi, ekologi,
teknik, sosiologi, hukum, dll) yang relevan.
b. Pendekatan Normatif
Pendekatan normatif dalam pekerjaan ini menekankan pada kajian terhadap produk
peraturan dan kebijakan baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah yang terkait dengan
Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya
Dukung lingkungan di Kota Cimahi. Pendekatan normatif

yang digunakan dalam

penyusunan pekerjaan ini, pada dasarnya merupakan pendekatan yang digunakan untuk
merumuskan suatu kebijakan dan strategi berdasarkan data dan informasi yang tersedia serta
mengacu pada produk peraturan dan perundangan yang terkait dengan substansi pekerjaan
ini, yaitu terkait dengan rencana pengembangan kawasan potensial, arahan pemanfaatan
ruang kawasan dan arahan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Terkait dengan
pekerjaan ini, pendekatan normatif ini tidak dipandang sekedar sebagai pendekatan untuk
merumuskan kebijakan yang sifatnya konseptual. Pendekatan ini dilakukan mulai dari
bagaimana kondisi dan permasalahan kawasan dilihat sampai dengan perumusan kebijakan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-2

dan strategi yang tepat untuk kondisi dan permasalahan yang ada. Oleh sebab itu perlu juga
dengan membandingkan kondisi eksisting dengan kriteria dan standar yang ada.
Konsep dasar dari pendekatan normatif adalah bahwa proses pembangunan kawasan
bertumpu pada prosedur/skema tertentu, dengan memperhatikan seluruh faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi keberhasilan pencapaian atas tujuan yang akan dicapai. Landasan
normatif dalam melaksanakan pekerjaan ini, dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu landasan
normatif yang bersifat umum, yaitu produk-produk peraturan di tingkat pusat yang berlaku
untuk seluruh wilayah kajian, dan landasan normatif yang bersifat kewilayahan, yaitu
produk-produk peraturan di tingkat daerah yang hanya berlaku di level wilayah kajian.
Pada dasarnya pendekatan normatif dalam pekerjaan ini akan digunakan dalam seluruh
proses pelaksanaan kegiatan. Baik itu pada proses penyusunan maupun dalam peningkatan
kegiatan pekerjaan ini. Pendekatan normatif akan digunakan dalam setiap kegiatan yang
terkait dengan kajian dan analisis kebijakan dan strategi serta produk-produk peraturan
daerah yang dijadikan acuan dalam pengembangan dan pembangunan kawasan perencanaan.
Pendekatan normatif dalam kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder,
seperti ketentuan perundangan dan kebijakan, identifikasi guna lahan, identifikasi
kelembagaan, kajian literatur mengenai kasus terkait, standar-standar dan literatur yang yang
berkaitan dengan PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS

seperti guna lahan,

pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang, eksterior bangunan, bangunan-bangunan


dan prasarana.

c. Pendekatan Sistem Dalam Penyelesaian Persoalan


Pada dasarnya pendekatan ini mendasarkan pemahaman bahwa setiap apa yang ada di alam
semesta adalah merupakan sistem yang terdiri dari subsistem-subsistem / komponen/elemen
yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan sistem, yaitu menuju keseimbangan sistem
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-3

(steady state). Apabila sistem mengalami gangguan, maka sistem akan berinteraksi antar
subsistemnya untuk menuju pada keseimbangan baru. Keseimbangan baru ini dapat
merupakan kondisi yang berbeda dengan kondisi semula atau dapat menuju kondisi
sementara dan kemudian kembali pada kondisi semula. Jumlah sistem yang ada di alam
semesta tidak terbatas, karena sistem yang satu dapat menjadi subsistem lainnya yang lebih
besar. Demikian seterusnya sampai jumlah tak hingga. Demikian juga suatu sistem besar
memiliki subsistem yang lebih kecil, dan seterusnya subsistem yang lebih kecil tersebut juga
memiliki subsistem lagi yang lebih kecil. Demikian seterusnya sampai jumlah tak hingga.
Pendekatan ini digunakan dalam Rencana Tata Ruang Kecamatan, agar apa yang
dirumuskan dapat menjadikan sistem yang sudah terbentuk sebelumnya menuju
keseimbangan baru yang lebih sempurna dan memberikan efek positif bagi manusia dari
berbagai aspek.

d.

Pendekatan Ekstraploitatif
Pendekatan ektraploitatif yaitu pendekatan perencanaan atas dasar fakta dan kecendrungan
perkembangan yang terjadi akibat pendayagunaan aspek fisik, sosial dan ekonomi, baik
dalam struktur tata ruang kawasan maupun regional yang selama ini telah terjadi.
Asumsi Pendekatan Ekstrapolatif
1. Keajegan (persistence): Pola yang terjadi di masalalu akan tetap terjadi di masa
mendatang. Misal jika konsumsi energi di masa lalu meningkat, iaakan selalu meningkat
di masa depan.
2. Keteraturan (regularity): Variasi di masa lalu akansecara teratur muncul di masa depan.
Misal jika banjir besar di Jakarta terjadi setiap 16 tahun sekali, pola yang sama akan
terjadi lagi.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-4

3. Keandalan (reliability) dan kesahihan (validity)data: Ketepatan ramalan tergantung


kepada keandalan dan kesahihan data yg tersedia. Misal data tentang laporan kejahatan
seringkali tidak sesuaidengan insiden kejahatan yg sesungguhnya, data ttg gajibukan
ukuran tepat dari pendapatan merupakan masyarakat.

e.

Pendekatan Partisipatif dan Fasilitatif


Dalam proses kegiatan pekerjaan ini, selain berkaitan dengan dokumen-dokumen
perencanaan pembangunan (development plan) dan perencanaan ruang (spatial plan) serta
produk-produk kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang terkait lainnya, tidak
terlepas dari keterlibatan pemerintah daerah, masyarakat dan stakeholder kota lainnya,
sebagai pengendali, pelaksana dan pemanfaat dan sebagai pihak yang terkena dampak positif
maupun negatif dari pelaksanaan pembangunan kota itu sendiri. Oleh karena itu dalam
penyusunan pekerjaan ini digunakan beberapa model pelibatan para pelaku pembangunan
untuk mengikutsertakan pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan ini.
Pada dasarnya Penyusunan kegiatan pekerjaan ini dilakukan secara partisipatif dengan
melibatkan seluruh stakeholder yang terkait dengan pengembangan kawasan. Pelibatan
seluruh stakeholder terkait diakomodasi melalui forum-forum diskusi dan konsultasi publik,
untuk memperoleh saran, masukan dan penyepakatan terhadap rumusan kebijakan dan
strategi yang disusun. Dengan demikian selain melalui penjaringan aspirasi, pelibatan
stakeholder dalam kegiatan penyusunan pekerjaan ini juga dilakukan dengan melaui
pembahasan-pembahasan melalui forum-forum diskusi dan konsultasi publik untuk
mengkaji lebih lanjut hasil analisis dan perumusan strategi yang dibuat. Manfaat penggunaan
pendekatan tersebut adalah untuk meminimalkan konflik berbagai kepentingan yang berarti
juga mendapatkan hasil akhir yang menguntungkan untuk semua pihak. Keuntungan lainnya

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-5

yang akan diperoleh adalah jaminan kelancaran implementasi hasil kajian ini di kemudian
hari.
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, Pemerintah Kota melalui Dinas Tata Ruang Permukiman
dan Kebersihan Kota Cimahi bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan penyusunan
pekerjaan ini. Peran fasilitasi ini antara lain dilakukan dengan memberikan pendampingan
kepada daerah serta seluruh stakeholder terkait kegiatan penyusunan pekerjaan ini. Beberapa
aspek yang terkait dengan pendekatan partisipatif dan fasilitatif dalam kegiatan penyusunan
pekerjaan ini dijelaskan berikut:
1.

Kemitraan
Kegiatan penyusunan pekerjaan ini, adalah pendekatan yang bercirikan top down
namun sekaligus memiliki nuansa partnership atau kemitraan. Berbeda dengan
paradigma sentralisasi dalam mekanisme pengambilan keputusan publik pada konsep
otoriter, mekanisme top down dalam bantek lebih didasarkan pertimbanganakan
adanya kebutuhan memberikan bantuan secara teknis (technical assistance) sehingga
akan dapat meningkatkan kapasitas aparat Pemerintah Daerah.
Pendekatan kemitraan (partnership) disini diartikan sebagai adanya posisi kemitraan
antara Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Dinasterkait dan Pihak
Konsultan. Meskipun ada perbedaan tingkatan, namun masing-masing pihak berusaha
untuk dapat bekerjasama dan memberikan pemahaman kesetaraan hubungan, sehingga
dapat terjalin kerjasama yang kompak untuk mencapai tujuan bersama.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-6

2.

Perencanaan Partisipatif
Bentuk Peran serta masyarakat dalam penataan ruang menurut hirarkhi rencana yang
diindikasikan dalam PP No. 69 Tahun 1996 (Pasal-Pasal di BAB III dari PP 69/96):

Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan.

Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan.

Pemberian masukan dalam perumusan rencana tata ruang.

Pemberian informasi, saran, pertimbangan, atau pendapat dalam penyusunan


strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang.

Pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana.

Kerja sama dalam penelitian dan pengembangan.

Bantuan tenaga ahli.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh Bank Dunia (World Bank Theory of
Participation, 1997), partisipasi merupakan suatu proses dimana pihak-pihak terlibat
akan saling mempengaruhi dan bertukar kontrol atas inisiatif pembangunan dan
keputusan serta sumberdaya yang berpengaruh terhadapnya. Selanjutnya pihak-pihak
yang terlibat dalam proses partisipasi tersebut disebut sebagai stakeholder. Karenanya,
pemahaman mengenai partisipasi akan selalu berkaitan dengan pemahaman mengenai
stakeholder, kepentingan-kepentingannya, serta pelibatannya.
Perencanaan partisipatif di Indonesia didefinisikan sebagai upaya perencanaan yang
dilakukan bersama antara unsur pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini, peran
masyarakat ditekankan pada penentuan tingkat kebutuhan, skala prioritas, dan alokasi
sumber daya masyarakat. Definisi tersebut selanjutnya dilengkapi dengan pemahaman
dari UNDP, dimana perencanaan partisipatif merupakan upaya perencanaan yang
melibatkan/mengikutsertakan seluruh stakeholder yang ada. Dalam definisi tersebut,
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-7

stakeholder selaku pemeran dapat terdiri dari kelompok pemerintah, swasta, dan
masyarakat umum. Dengan pemahaman tersebut, perencanaan secara partisipatif
sudah tentu melibatkan berbagai komunitas secara menyeluruh.
Upaya perencanaan partisipatif menghadirkan proses perencanaan terstruktur yang
terdiri dari aspek-aspek:

Kerjasama guna membangun konsensus

Komunikasi kelompok stakeholder yang efektif, serta

Proses implementasi rencana guna mengubah berbagai ide / pemikiran menjadi


kegiatan yang produktif dan penyelesaiannya yang maksimal.

Dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan pekerjaan ini akan dilakukan serangkaian


kegiatan diskusi/seminar dan pengumpulan data/ informasi. Pendekatan perencanaan
partisipatif pada intinya merupakan usaha penyelesaian persoalan yang menjadi target
pekerjaan secara aktif dengan melakukan pelibatan semua stakeholder terkait, baik
sektoral maupun wilayah di tingkat daerah, serta para pakar dan pihak lainnya.
Model perencanaan partisipatif dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan pekerjaan ini
dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan, sebagaimana telah diungkapkan dalam
pengantar bab di atas, yaitu diskusi dan konsultasi publik. Model diskusi yang
digunakan dalam perencanaan partisipatif ini adalah focus group discussion (FGD) dan
konsultasi publik.
Pendekatan partisipasi stakeholder yang digunakan untuk penyelesaian kegiatan ini
bukan sekedar mengajak para stakeholder tersebut untuk mendengar dan memberi
masukan saja. Para stakeholder juga didorong untuk ingin tahu hingga akhirnya
bersedia untuk terlibat aktif memberikan masukan. Keikutsertaan tersebut sudah
mengarah pada suatu kebutuhan bukan lagi suatu paksaan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-8

Namun demikian disadari bahwa penggunaan perencanaan partisipatif akan


menimbulkan berbagai persoalan dalam prosesnya, terutama masalah keterbatasan
waktu. Masalah ini akan dicoba diminimalkan melalui persiapan materi dan
pelaksanaan yang matang, sehingga kesepakatan dapat dengan segera dicapai tanpa
mengurangi kebebasan stakeholders untuk mengeluarkan aspirasi dan pendapatnya.
3.

Perencanaan Kapasitas
Mengingat dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan pekerjaan ini dilakukan secara
partisipatif, maka diharapkan adanya keterlibatan stakeholder secara utuh dalam tiap
proses pelaksanaan pekerjaan. Bahwasannya keterlibatan tersebut diharapkan tidak
hanya bersifat pasif namun juga aktif dari para stakeholder yang terkait. Oleh sebab
itu diperlukan adanya kapasitas dan pemahaman yang cukup memadai mengenai
persoalan-persoalan yang terkait dengan pengembangan dan pembangunan kawasan
dan solusi-solusi strategis atas persoalan tersebut.
Mengingat hal-hal diatas, maka konsultan akan memfasilitasi peningkatan kapasitas
dan pemahaman para stakeholder terkait dengan rencana pemanfaatan ruang kawasan,
pembangunan dan pengembangan kawasan serta pengendalian pemanfaatan ruang
kawasan. Diketahui dalam menyelenggarakan kegiatan penyusunan pekerjaan ini
diperlukan sebuah teamwork yang solid, bersifat multisektoral dan komprehensif.
Teamwork yang dibangun bukan merupakan implikasi dari sebuah power sharing
tetapi lebih merupakan team work yang bersifat kemitraan dan sinergis. Oleh
karenanya mengingat kompleksnya masalah juga, maka para pelaku dituntut untuk
berbagi peran dan fungsi di dalam penyelenggaraan kegiatan penyusunan pekerjaan
ini.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-9

f.

Pendekatan Teknis Akademis


1.

Perencanaan Eksploratif
Pendekatan eksploratif dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan pekerjaan ini
digunakan untuk mendapatkan gambaran yang seluas-luasnya mengenai persoalanpersoalan yang terkait pemanfaatan, pembangunan, pengembangan dan pengendalian
kawasan.
Pendekatan eksploratif bercirikan pencarian yang berlangsung secara menerus.
Pendekatan ini akan digunakan baik dalam proses pengumpulan data & informasi
maupun dalam proses analisis.

Dalam proses pengumpulan data & informasi, pendekatan eksploratif digunakan


mulai dari kegiatan inventarisasi dan pengumpulan data awal, hingga eksplorasi
literatur yang diperlukan dalam mendukung kegiatan perumusan. Sifat
pendekatan

eksploratif

yang

menerus

akan

memungkinkan

terjadinya

pembaharuan data dan informasi berdasarkan hasil temuan terakhir.

Pendekatan eksploratif juga memungkinkan proses pengumpulan data yang


memanfaatkan sumber informasi secara luas, tidak terbatas pada ahli yang sudah
berpengalaman dalam bidangnya ataupun pelaku pembangunan yang terkait
langsung dengan upaya pengendalian pemanfaatan ruang,

namun juga dari

berbagai literatur dalam dan luar negeri, baik dalam bentuk buku maupun tulisan
singkat yang memuat mengenai teori-teori ataupun studi-studi terkait dengan
pengendalian pemanfaatan ruang. Dalam pendekatan eksploratif ini sangat
memungkinkan diperoleh informasi-informasi tambahan dari sumber yang tidak
diprediksi sebelumnya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-10

Eksplorasi dalam proses analisis dilakukan guna mengelaborasi perumusan kebijakan


dan strategi pengembangan kota dan penyusunan strategi pengembgangan
permukiman dan infrastruktur permukiman. Proses eksplorasi ini mendorong kepada
pemahaman yang mendalam terhadap aspek yang dikaji, melalui seluruh dokumen dan
informasi yang berhasil dikumpulkan.
2.

Pendekatan Komprehensif
Pendekatan Komprehensif memandang bahwa untuk menghasilkan suatu produk
Kebijakan dan Strategi yang baik perlu adanya pemahaman yang menyeluruh
mengenai wilayah dan persoalan yang akan direncanakan atau dipecahkan, tidak hanya
pada saat pengumpulan data dan analisis saja, melainkan sampai pada kebijakan dan
strategi yang dibangun. Kata komprehensif dalam konteks pendekatan ini merujuk
pada upaya memahami suatu permasalahan dari sudut pandang semua aspek
kehidupan mulai dari aspek ekonomi, politik, sosial budaya, sampai dengan
pertahanan keamanan. Semua aspek tersebut dalam cara pandang ini dilihat sebagai
satu kesatuan rantai kehidupan yang saling terkait satu dengan yang lain. Selain itu
kata komprehensif juga mengandung pemahaman bahwa suatu wilayah dimana
persoalan tersebut akan dipecahkan dipandang sebagai satu kesatuan sistem yang di
dalamnya terdiri dari berbagai sub sistem-sub sistem yang saling terkait, termasuk
dalam kaitannya dengan lingkup wilayah administrasi (konstelasi regional, nasional,
dan internasional).
Dalam kaitannya dengan keterkaitan antar aspek ini, dalam pendekatan yang bersifat
komprehensif dipandang sebagai suatu bentuk konsep kedinamisan dimana aspek
kehidupan yang satu mempengaruhi aspek kehidupan yang lain dan begitu seterusnya.
Tidak dapat ditentukan aspek mana yang menjadi awal dan akhir. Semua aspek dapat
menjadi sebab dan menjadi aibat yang saling terkait. Aspek-aspek kehidupan tersebut

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-11

dalam penanganannya didasarkan pada suatu kerangka acuan yang disebut dengan
keterpaduan.
3.

Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan


Pendekatan pembangunan berkelanjutan merupakan suatu pendekatan dalam
perencanaan yang memandang bahwa pembangunan bukan merupakan suatu kegiatan
yang sesaat melainkan suatu kegiatan yang berlangsung secara kontinyu dan tidak
pernah berhenti seiring dengan perkembangan jaman. Pendekatan ini menekankan
pada keseimbangan ekosistem, antara ekosistem buatan dengan ekosistem alamiah.
Dalam perencanaan pembangunan kesesuaian ekologi dan sumber daya alam penting
artinya agar pembangunan yang terjadi tidak terbatas dalam tahun rencana yang
disusun saja.
Pendekatan

pembangunan

berkelanjutan

dalam

kegiatan

bertujuan

untuk

menghasilkan suatu konsep kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang


berwawasan lingkungan, namun bukan berarti menjadikan kepentingan lingkungan
sebagai

segala-galanya. Dalam

pendekatan ini

yang dipentingkan adalah

keseimbangan antara pembangunan lingkungan dan non-lingkungan (ekonomi, sosial,


teknologi, dan sebagainya) sehingga dicapai suatu kondisi pembangunan yang
harmonis. Dalam pendekatan ini ada tiga prinsip dasar yang dipegang, yaitu (Haughton
dan Hunter, 1994) :

Prinsip persamaan antar generasi, yaitu pengaruh pada kemampuan generasi yang
akan datang untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi mereka harus
dipertimbangkan. Prinsip ini dikenal juga sebagai principle of futurity.

Prinsip keadilan sosial, yaitu keberlanjutan mensyaratkan bahwa pengontrolan


keseluruhan distribusi sumber daya harus merata.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-12

Prinsip tanggungjawab transfontier, yaitu bahwa dampak dari aktivitas manusia


seharusnya tidak melibatkan suatu pemindahan geografis yang tidak seimbang
dari masalah lingkungan. Dalam prinsip ini terdapat perlindungan terhadap
kualitas dari lingkungan.

Dalam pendekatan pembangunan berkelanjutan ini terkait juga dengan penciptaan


keberlanjutan masyarakat / komunitas (sustainable communities) tempat dimana suatu
komunitas ingin tinggal dan bekerja pada masa sekarang dan masa yang akan datang.
Konsep pembangunan berkelanjutan akan dapat terus berlanjut jika terdapat
masyarakat yang terus berlanjut pula. Dalam sustainable communities, masyarakat
menciptakan suatu komunitas seperti yang dikehendaki oleh masyarakat sehingga
dapat tercipta suatu keberlanjutan dalam komunitas tersebut. Sustainable communities
ini akan dapat dikembangkan dimana banyak pemain dalam peran yang berbedabeda dan dengan ketertarikan dan nilai yang berbeda dalam suatu aliran informasi yang
berharga dan mereka memiliki kesempatan untuk bergabung dalam suatu proses
pembelajaran dan respon inovatif terhadap perubahan lingkungan dan perubahan
lainnya (Innes dan Booher, 2000).
g.

Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif dilakukan untuk menyeimbangkan pendekatan normative sehingga
diperoleh sebuah perencanaan yang komprehensif dan berkelanjutan. Aspek kualitatif yang
muncul di lokasi kegiatan seperti aspek sosial, budaya, dan politik lokal harus dapat
dipertimbangkan sehingga dapat mencerminkan keunikan lokal di setiap lokasi kegiatan dan
menghasilkan sebuah produk pengaturan yang memiliki visi berkelanjutan. Kajian kualitatif
dapat dilakukan dengan menggunakan metode desk study dan dapat menggunakan data
sekunder dan primer. Selain itu pendekatan kualitatif juga dilakukan melalui kajian terhadap

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-13

persepsi dan preferensi terhadap materi Zoning Regulation baik dari hasil wawancara,
kuisioner maupun diskusi. Pencatatan lapangan, dokumentasi visual dan digital dan
sejenisnya diperlukan untuk mengidentifikasi guna lahan maupun kegiatan pemanfaatan
ruang. Kedua data tersebut dielaborasikan ke dalam analisisanalisis keruangan,
pemanfaatan ruang, dan hal lain yang berkorelasi dengan kegiatan penyusunan pekerjaan ini.
Hasil dari pengolahan data secara desk study dari dua pendekatan tersebut dipertajam dengan
diskusi dan konsultasi dengan stakeholder lain (Pemerintah Pusat dan Daerah, masyarakat
lokal, swasta, LSM, dan perguruan tinggi) sehingga memenuhi aspek partisipatif dan dengan
demikian aspek kesepakatan dalam produk pengaturan dapat tercapai.
1.

Pendekatan Pengembangan Wilayah


Dalam pendekatan ini akan dilakukan penelaahan terhadap kegiatan penyusunan
pekerjaan inidalam kaitannya dengan tata ruang wilayah perencanaan. Selain itu akan
mencoba mengetahui hubungan interaksi antar wilayah yang menjadi objek penelitian
di wilayah perencanaan.
Di masa datang keberhasilan penataan ruang sangat tergantung pada kebijakan
pemerintah daerah terutama dalam menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi. Oleh
karena itu, setiap pemerintah daerah harus mampu mengembangkan visi
pengembangan wilayahnya masing-masing sesuai dengan citra, nilai, arah dan tujuan
yang akan memberikan arah masa depan wilayah yang bersangkutan.
Pada tingkat nasional, dengan karakteristik wilayah yang terdiri dari 300-an daerah
otonom, maka visi pengembangan wilayah yang sejalan dengan tuntutan perubahan
yang terjadi adalah menciptakan wilayah-wilayah/unit-unit otonom dalam suatu
jaringan (network) yang kuat, dimana tiap unit-unit otonom tersebut diarahkan untuk
mampu bersaing menjadi pusat dari jaringan tersebut. Sebagai konsekuensinya, setiap
daerah harus mampu memiliki keunggulan yang spesifik. Dengan demikian, arah

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-14

pengembangan wilayah menjadi lebih jelas yakni mengarah pada penciptaan


spesialisasi. Sedangkan pada tingkat daerah, dalam mengembangkan visinya, setiap
daerah dituntut untuk mampu :

Mengidentifikasikan kapabilitas dan tindakan dari daerah lainnya sebagai wilayah


pesaing

2.

Mengenali penggerak dan pengaruh dari lingkungan ekstemal.

Menilai kebutuhan, hambatan dan kapabilitas wilayahnya sendiri.

Deliniasi Kawasan Perencanaan


Dalam pendekatan ini akan dilakukan penelaahan kembali mengenai kawasan
perencanaan yang akan menjadi wilayah kajian ditinjau dari beberapa faktor antara
lain:

Kebijaksanaan pengembangan daerah, khususnya daerah perkotaan yang berada


di sekitar wilayah perencanaan yang memberikan kecenderungan perkembangan
terhadap kawasan perencanaan.

Kondisi Fisik buatan, yaitu meninjau kondisi pembangunan setiap daerah yang
memiliki tingkat perkembangan tinggi yang mempengaruhi terhadap penyatuan
fisik terhadap kawasan perkotaan.

Kondisi sosial perekonomian, yaitu perkembangan ekonomi makro di setiap


daerah yang berdekatan kawasan perencanaan

3.

Identifikasi Potensi dan Permasalahan


Pada dasarnya setiap perkembangan dan pertumbuhan suatu wilayah menginginkan
perkembangan dan pertumbuhan wilayah ke arah yang lebih baik dan berkualitas.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-15

Maka sebagai bahan untuk mengetahui bagaimana arah perkembangan wilayah untuk
selanjutnya, maka harus diketahui beberapa potensi dan permasalahan yang terdapat
di wilayah perencanaan diantaranya melalui:

Review potensi dan permasalahan berdasarkan Pengembangan Kawasan Strategis


yang masuk ke dalam wilayah perencanaan yang telah ada sebelumnnya.

Pengkajian mengenai data dan informasi mengenai karakteristik wilayah


perencanaan berdasarkan data dan informasi yang terbaru.

4.

Pendekatan Secara Aspiratif Terhadap Pengembangan Kawasan


Perubahan strutur dan tata ruang wilayah merupakan suatu proses dalam paradigma
perkembangan wilayah itu sendiri. Maka dalam proses pembangunan dan
pengelolaannya akan melibatkan beberapa elemen yang terkait didalamnya antara lain
stakeholder yang berada di wilayah perencanaan. Keterlibatan tersebut dapat
dijabarkan sebagai berikut:

Pemerintah Pusat sebagai pembantu pemerintah daerah dalam merumuskan Pola


Pemanfaatan Ruang.

Pemerintah daerah sebagai pelaksana pembangunan dan pengelola sumberdaya


yang terdapat di wilayahnya.

Swasta yang berperan sebagai penanam modal yang berpengaruh terhadap


implementasi pembangunan secara fisik dan perekonomian baik makro maupun
mikro.

Masyarakat.

5.1.2 Kerangka Pemikiran


Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-16

Kerangka pemikiran penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi


dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi merupakan rangkaian dari pemikiran dan kegiatan
untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan maksud dan tujuan dari pekerjaan. Kerangka
pemikiran ini ini dapat juga dianggap sebagai alur penyelesaian pekerjaan yang merupakan dasar
dalam pembuatan metodologi pengelolaan pekerjaan, yang dapat memberikan gambaran
metodologi penyelesaian pekerjaan secara garis besar serta menunjukkan keterkaitan antara
materi/proses satu dengan lainnya. Sedangkan detail metodologi pada tiap tahapan diterangkan
pada Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan (sesuai dengan kerangka pemikiran tersebut), dan metoda
serta teknik yang digunakan.
5.1.3 Metodelogi Pelaksanaan Pekerjaan
Dalam tahap identifikasi persoalan dan potensi pengembangan ini dipilih beberapa metode yang
didasarkan pada kebutuhan penanganan Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi . Metode identifikasi
persoalan dan potensi pengembangan merupakan metode-metode pengumpulan data dan informasi
terkait dengan persoalan-persoalan pengembangan pertanian sebagai masukan untuk kegiatan
analisis.
A. Studi Dokumen dan Literatur
Pada dasarnya pekerjaan Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek
Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi ini dititikberatkan pada kegiatan kajian

terhadap seluruh dokumen dan literatur terkait pengembangan kawasan perkotaan Kecamatan
Kawasan pesisr, baik itu berupa dokumen kebijakan dan strategi, rencana, jurnal, teori, hingga
berbagai jenis peraturan perundang-undangan terkait. Untuk itu, diperlukan metode studi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-17

dokumen dan literatur yang akan menginventarisasi dan mengeksplorasi berbagai dokumen
tersebut.

Studi dokumen dan literatur ini dilakukan dengan cara melaksanakan kajian terhadap
dokumen dan literatur yang sangat kuat relevansinya dengan pekerjaan ini, yang dalam hal ini
berupa: (i) kajian terhadap peraturan perundangan (ii) review atau kajian terhadap kebijakan
dan pemanfaatan ruang, dan pengembangan Kecamatan di wilayah perencanaan (iii) review
atau kajian terhadap dokumen-dokumen perencanaan terkait (iv) review atau kajian terhadap
hasil studi atau penelitian yang terkait sebagai masukan dalam penyusunan kegiatan ini.
B. Observasi Lapangan
Secara umum observasi lapangan dilakukan untuk memahami persoalan-persoalan terkait
kondisi Kawasan Perkotaan Kecamatan yang ada secara nyata di lapangan. Persiapan survei
dan observasi di lokasi amatan. Untuk itu perlu dilakukan beberapa kegiatan persiapan, antara
lain:
Identifikasi stakeholder terkait dan berwenang dalam masalah Kawasan Kecamatan
Kawasan pesisr. Kegiatan ini dapat dilakukan berbarengan dengan kegiatan koordinasi dan
sosialisasi.
Upaya memperoleh contact person di daerah untuk menunjang pelaksanaan kegiatan dan
penyesuaian jadwal kegiatan.
Need assessment survey, guna memperoleh rincian kebutuhan pelaksanaan pekerjaan serta
menyusun rancangan pelaksanaan kegiatan survei dan observasi di kawasan perencanaan
serta penyiapan perangkat pendukung kegiatan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-18

Penyiapan tim survei, yaitu pembagian tim pelaksana survey yang terdiri dari tenaga ahli
sesuai pekerjaan.
Adapun dalam pelaksanaan survey dan observasi di lokasi amatan, digunakan metode survei
sekunder dan survey primer sebagaimana dijelaskan berikut:
Survei Sekunder, dilakukan terhadap instansi

pemda/institusi terkait dengan

pengembangan Kawasan Kabupaten dilakukan guna memperoleh data mengenai


perkembangan, serta berbagai dokumen terkait lainnya.
Survei Primer, dilakukan dengan 2 teknik survey, yaitu:
o Observasi lapangan, dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting di
lokasi amatan serta pemahaman karakteristik kawasan,
o Ground

truth

survei,

merupakan

metoda

teknis

yang

bertujuan

untuk

membandingkan/mengkonfirmasi data/informasi sekunder dengan kondisi nyata di


lapangan. Metode ini dapat memperlihatkan adanya perubahan tertentu dalam rentang
waktu antara suatu data sekunder dikompilasikan oleh instansi terkait dengan
perkembangan yang telah terjadi hingga saat terakhir (waktu dilakukannya survey
primer)
Data-data yang diperlukan dari Survei Sekunder, antara lain:
1. Peraturan Perundang-Undangan terkait Penataan Ruang
a. Undang-undang terkait penataan ruang,
b. Peraturan Pemerintah
c. Peraturan Menteri
d. Peraturan Pemerintah Daerah.
2. Studi-studi terkait Kawasan perencanaan:
a. Revisi PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS Kota Cimahi,
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-19

b. Penyusunan rencana penataan ruang terkait lainnya


3. Kondisi dan Perkembangan Fisik Lingkungan/Sumber Daya Alam
a. Tpografi dan Morfologi Wilayah
b. Morfologi Wilayah
c. Iklim
d. Hidrologi/DAS

Air Permukaan

Air Tanah

Mata Air

Geologi, Kegempaan dan Gunung Berapi


o Bahaya Lingkungan Beraspek Geologi
o Hubungan Antara Sifat Fisik Tanah/Batuan Dengan Kejadian Gerakan Tanah
Jenis Tanah dan Kedalaman Efektif Tanah

Potensi Tambang

Potensi Objek wisata Alam

e. Sistem Permukiman dan Pusat-Pusat Pelayanan Dalam Wilayah


f. Sistem Pusat Dalam Struktur Ruang Wilayah
g. Kondisi Pusat Pelayanan dan Pola Pelayanan
h. Penggunaan Lahan

Sebaran Penggunaan Lahan (Land Use)

Dinamika/Kecenderungan Pergeseran/Alih Fungsi Lahan

i. Pola Ruang

Kawasan Lindung

Kawasan Budidaya

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-20

Fisik Lingkungan/Sumber Daya Alam

4. Kondisi dan Perkembangan Kependudukan/Sumber Daya Manusia


a.

Jumlah, Persebaran, dan Komposisi Penduduk

b.

Pertumbuhan dan Perkembangan Penduduk

c.

Prediksi Jumlah Penduduk

d.

Sosial Budaya

Kependudukan

Kesejahteraan Sosial

Ketenagakerjaan

Kebudayaan

5. Kondisi dan Perkembangan Prasarana dan Sarana/Sumber Daya Buatan


a. Prasarana Transportasi/Prasarana Jalan
b. Prasarana Energi Listrik
c. Prasarana Telekomunikasi
d. Prasarana Pengairan/Irigasi
e. Sarana/Fasilitas Pelayanan (Fasos-Fasum)

Fasilitas Pendidikan

Fasilitas Kesehatan

Fasilitas Peribadatan

Fasilitas Ruang Terbuka Hijau/Taman

Fasilitas Terminal Umum Angkutan Jalan

Fasilitas Pemakaman

Kondisi/perkembangan Ekonomi
a. Struktur Ekonomi
b. Pertumbuhan Ekonomi

Peranan PDRB Kecamatan Dalam Sektor Lapangan Usaha

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-21

Peranan Sektor Basis Ekonomi

Proyeksi PDRB Kota Cimahi

c. Prospek Perkembangan Ekonomi dan Sektor Unggulan


6. Kelembagaan Pembangunan
a. Kelembagaan Pemerintah Daerah
b. Kelembagaan Non-Pemerintah yang Berpartisipasi
Sedangkan data-data dan informasi yang didapat dari Survei Primer atau pengamatan
lapangan yaitu: pertama: untuk mengatahui atau klarifikasi kondisi data yang diperoleh dari
survei sekunder, kedua: untuk mendapatkan data yang tidak diperoleh dari survei sekunder,
dan ketiga untuk mengetahui kondisi atau kualitas data yang diperoleh dari survei sekunder.
Adapun data-data dari survai primer diantaranya:
1.

Kondisi Fisik Dasar/Lingkungan


a. Kondisi Topografi atau permukaan tanah
b. Kondisi Hidrologi dan Daerah Aliran Sungai
c. Kondisi Kawasan Mata Air
d. Kondisi lokasi/kawasan Rawan Bencana
e. Potensi Objek Wisat
f. Potensi Tambang

2.

Kondisi Sarana, Prasarana dan Utilitas


a. Kondisi/Perkembangan Sarana

Sarana Perniagaan/Perbelanjaan

Sarana Pendidikan

Sarana Kesehatan

Sarana Peribadatan

Sarana Olah Raga

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-22

Sarana Permakaman

Sarana Parkir

Sarana Pemakaman

b. Kondisi/Perkembangna Prasarana

Prasarana Pembuangan Air Limbah

Prasarana Pembuangan Air Hujan

Prasarana Pembuangan Sampah

Prasarana Jaringan Jalan

c. Kondisi Perkembangan Utilitas

3.

Jaringan Air Bersih

Jaringan Listrik

Jaringan Telephon

Jaringan Gas

Penerangan Jalan Umum

Perekonomian
i. Kondisi kawasan potensi pertanian
ii. Kondisi kawasan Perdagangan dan Jasa
iii. Kondisi kawasan industri kecil/sedang, dll.

C. Wawancara
Metode wawancara merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan data dan informasi
langsung dari pelaku yang mengalami secara langsung kejadian-kejadian yang terkait dengan
perkembangan suatu obyek atau ruang khususnya kawasan perencanaan. Kegiatan ini dipilih
dengan alasan, yaitu :

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-23

Pewawancara dapat menggali tidak saja apa yang diketahui dan dialami subjek yang diteliti,
tetapi juga apa yang tersembunyi jauh di dalam diri subjek penelitian. Apa yang ditanyakan
kepada informan bisa mencakup hal-hal yang bersifat lintas waktu, yang berkaitan dengan
masa lampau, masa sekarang, dan juga masa mendatang
Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur. Artinya pelaksana
kegiatan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa, tanpa terikat oleh
suatu susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tetapi untuk lebih
mengarahkannya, sudah disiapkan guideline pertanyaan inti untuk lebih lanjut dikembangkan
secara spontan sesuai dengan perkembangan situasi wawancara itu sendiri.
Dalam penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya
Dukung lingkungan di Kota Cimahi ini, wawancara dilakukan pada responden-responden
terpilih berdasarkan pengalaman mereka terkait persoalan Kawasan Perkotaan Kecamatanan
Kawasan pesisr dan sebagai daerah pengamatan. Informasi utama yang digali antara lain
meliputi isu-isu dan permasalahan sarana prasarana di Kawasan perencanaan serta
perkembangannya. Disamping itu dalam wawancara tersebut dapat pula diselipkan
penjaringan aspirasi dengan meminta saran dan pendapat mengenai permasalahan yang
terjadi.
D. Penjaringan Aspirasi
Pada dasarnya metode penjaringan aspirasi merupakan bagian dari pendekatan partisipatif
dalam pekerjaan Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi. Penjaringan aspirasi ini dilakukan untuk

mengakomodasi aspirasi dan kepentingan masyarakat dan stakeholder lainnya yang belum
terakomodir bisa dilakukan melalui penjaringan aspirasi atau survey dan wawancara yang
dilaksanakan. Dalam penjaringan aspirasi ini usulan, masukan, saran dan kritik atau keberatan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-24

dari masyarakat dan stakeholder terkait lainnya diterima dengan disesuaikan dengan maksud
dan tujuan studi secara keseluruhan.
5.2 Metodelogi Pengumpulan Data
Sebelum melaksanakan kegiatan pengumpulan data untuk penyusunan perencanaan,
perencana harus mampu merumuskan data apa saja yang akan didapat di lapangan yang
menunjang terhadap kedalaman materi rencana yang akan disusun.
a. Persiapan Survey Lapangan
1. Penelaahan materi penyusunan kegiatan pekerjaan
2. Pembuatan daftar data yang akan dicari di lapangan.
3. Pembuatan model-model untuk pengumpulan data di lapangan.
4. Pembuatan Peta dasar skala 1:25.000.
5. Pembuatan program kerja survey lapangan.

b. Survey lapangan
Observasi fisik lapangan untuk mengenali karakteristik struktur kawasan secara keseluruhan
dan secara lebih detail pada wilayah perencanaan, mengevaluasi mengenai kebijakan struktur
tata ruang. Mengumpulkan data penunjang yang diperlukan dalam kegiatan penyusunan
pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
1. Data Keadaan fisik dasar yang meliputi keadaan topografi, kemiringan tanah, geologi,
daya dukung hidrologi, sumber air untuk seluruh wilayah.
2. Informasi data tersebut perlu dilengkapi dengan kedalaman peta skala 1 : 25.000 yang
dilengkapi dengan kedudukan tepat dari kawasan. Kedudukan ini perlu diperkuat oleh
hasil interprestasi foto udara atau pengukuran atau pengecekan ground control atau
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-25

benchmark sehingga jelas kedudukan unsur tersebut terhadap koordinatnya. Bila perlu
diadakan pengukuran untuk memperoleh beberapa titik pengikat berupa titik holigon atau
garis poligon.
3. Data penggunaan ruang yang menggambarkan karakteristik penebaran bentuk-bentuk
fisik buatan manusia, yaitu meliputi:
Perincian jenis penggunaan lahan yang masih ada (melalui data sekunder).
Struktur dan kualitas bangunan untuk masing-masing jenis penggunaan ruang.
Kepadatan bangunan pada setiap jenis penggunaan ruang.
Kedudukan/peran/estetika bangunan pada lingkungan kawasan yang bersangkutan.
Data tersebut disajikan dalam bentuk peta

kedalaman skala 1 : 25.000 dan

menggunakan perbedaan warna atau kode serta dilengkapi dengan tabel-tabel data.
Data keadaan kawasan untuk menggambarkan pola kualitas jaringan jalan di
kawasan perencanaan yaitu meliputi:
- Panjang dan lebar menurut fungsinya
- Jenis dan kondisi perkerasan jalan.
- Kondisi fasilitas jalan lainnya seperti saluran air limbah, saluran pengeringan dan
lain-lain.
- Data tersebut disajikan dalam bentuk peta dengan kedalaman skala 1 : 25.000 dan
menggunakan perbedaan warna atau kode serta dilengkapi dengan tabel-tabel
data.

Data mengenai tanah meliputi data pola pemilikan tanah secara umum dan perkiraan
umum harga atau nilai pada skala 1 : 25.000.

Data mengenai aspek kependudukan sebagai bahan evaluasi kebijaksanaan


kependudukan yang telah ditetapkan. Data tersebut meliputi :
-

Data jumlah penduduk kota 5 tahun terakhir.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-26

Data distribusi jumlah penduduk diuraikan dalam unit data kota dalam wilayah
administratif terkecil untuk 5 tahun terakhir.

Data penduduk berdasarkan usia kerja untuk seluruh kota untuk 5 tahun terakhir.

Data distribusi jenis struktur tenaga kerja diuraikan dalam unit data kota terkecil
(kelurahan/desa) untuk 5 tahun terakhir.

Data mengenai sarana dan prasarana utama kawasan yang meliputi :


- Pola distribusi fasilitas pendidikan, peribadatan, kesehatan dan rekreasi beserta
intensitas fungsi pelayanannya, pergudangan dan sebagainya.
- Sistem distribusi dan kapasitas sumber air bersih/ air minum.
- Sistem pembuangan air limbah dan jaringan drainase kota.
- Sistem pembuangan sampah, jaringan listrik dan telepon.

c.

Teknik Survey
1. Data Primer
Untuk mengumpulkan data primer ini perlu dilakukan survey lapangan langsung (on site)
meliputi :

Observasi
Observasi merupakan suatu langkah untuk mengenali lebih dekat mengenai kondisi
wilayah perencanaan terutama berkaitan dengan kondisi fisik yang ada di wilayah
studi. Adapun pengertian lain mengenai observasi ini adalah merupakan pengamatan
dan pencatatan dengan sistematik mengenai fenomena-fenomena yang diselidiki
secara visual. Sedangkan dalam artian lebih luas, observasi sebenarnya tidak hanya
terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak
langsung.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-27

Observasi lapangan sangat ditentukan oleh kondisi dan karakter lapangan, ada yang
cukup diobservasi saja, ada yang harus diperdalam untuk mengetahui karakter objek
secara lebih menRinci atau lebih teknis, dan ada juga kemungkinan yang perlu
didukung dengan wawancara atau interview. Hasil survey/observasi lapangan ini
merupakan data primer. Beberapa contoh panduan survey/observasi lapangan
dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut ini :
- Survey Perubahan Penggunaan Lahan. Survey ini dilakukan dengan
pengamatan langsung kelapangan dengan menggunakan peta dasar (Peta foto
udara atau peta rupa bumi dan peta yang telah dimodifikasi sesuai kebutuhan).
- Survey Infrastruktur dan Bangunan. Survey ini dilakukan dengan pengamatan
langsung kelapangan dengan melakukan plotting dan sketsa lokasi, melalui
wawancara terhadap stakeholder setempat maupun dengan foto / shootting.
- Survey Transportasi/Lalu Lintas. Survey ini dilakukan dengan pengamatan
langsung ke lapangan dengan menggunakan form isian yang telah disesuaikan
kebutuhan analisa melalui traffic counting untuk perhitungan LHR pada jalanjalan utama maupun persimpangan, serta dengan survey asal dan tujuan
perjalanan.

Tahap Penyelidikan Detail


Survey Visual, Survey visual merupakan suatu kegiatan pengamatan terhadap
keadaan di lapangan atas dasar penglihatan pengamatan surveyor secara langsung.
Selanjutnya hasil pengamatan itu direkam dalam bentuk suatu penilaian kualitatif di
atas peta dasar, lembaran survey atau bentuk pemotretan.
Tujuan dari survey ini adalah untuk mendapatkan gambaran aktual mengenai situasi
dan kondisi aspek visual yang diamati, nantinya akan digunakan sebagai faktor
pertimbangan dalam penyusunan alternatif pengembangan fisiknya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-28

Dengan demikian, rencana yang akan dihasilkan tidak hanya memberikan pedoman
pengembangan tata ruang fisik yang optimal dari segi struktur dan pola tata ruang
tetapi juga keserasian dari segi estetika visual.

Lingkup Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap berbagai obyek di daerah studi yang dianggap
penting berdasarkan kesan visual yang ditonjolkan. Obyek tersebut dapat berupa
suatu unsur atau elemen bentukan alamiah atau juga buatan manusia. Elemen-elemen
tersebut adalah:
- Path : yaitu garis atau jalur sirkulasi yang digunakan sebagai tempat pergerakan
manusia, seperti : jalan, jalan setapak dan jalur rel.
- Nodes : yang merupakan pusat dari kegiatan, yaitu pertemuan atau persilangan
dari path atau titik konsentrasi seperti pusat transportasi.
- Edge : berupa garis pembatas atau tepian yang membedakan suatu kawasan atau
wilayah lainnya. Bentukan dapat berupa: sungai, deretan bangunan, jalur jalan
yang memisahkan dua bagian dari permukiman.
- District : yang berupa suatu bagian luas atau sedang dari suatu kawasan studi
dengan karakteristik yang umum atau sama misalnya : kawasan pusat kota,
kawasan perdagangan dan sebagainya.
- Land Mark: yang merupakan obyek fisik seperti menara, bangunan tanda lalu
lintas, gunung atau bukit yang membantu memberikan identifikasi dari titik
penelitian arah tersebut.
Kelima elemen yang disebutkan di atas merupakan sarana untuk menunjukkan
identitas atau citra dari suatu kota.

Teknik Pengamatan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-29

Pengamatan dilakukan dengan mengamati secara langsung keadaan di lapangan.


Dalam hal ini, surveyor harus melakukan perjalanan di lapangan, terutama pada jalurjalur jalan raya utama. Selanjutnya pada titik-titik tertentu yang dianggap mempunyai
arah pandangan yang jelas, dilakukan perekaman obyek pandangan (dalam bentuk
kelima elemen tersebut di atas) yang harus dicatat adalah :
- Posisi tempat surveyor melakukan pengamatan.
- Waktu pengamatan.
- Penilaian terhadap obyek pengamatan.
Dalam hal ini, bila dirasakan perlu untuk merekam obyek yang dimaksud dengan
lebih jelas, dapat pula dibantu dengan teknis pemotretan. Dengan demikian
perlengkapan yang diperlukan untuk melaksanakan survey visual ini adalah :
- Peta dasar dan lembaran survey.
- Kompas dan alat tulis.
- Jam dan kamera.
- Kendaraan.
Survey Kondisi Bangunan, survey ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran
tentang keadaan fisik kota. Hal-hal yang perlu diamati adalah :
-

Jenis penggunaan lahan.

Keadaan bangunan (jenis kontruksi, bentuk, jumlah lantai).

Kelengkapan utilitas, meliputi ada atau tidaknya jaringan air bersih,listrik,


telepon dan drainase.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-30

2. Wawancara
Wawancara ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran secara langsung, keinginan
atau aspirasi masyarakat tentang bentuk kawasan studi yang diinginkan sehingga dapat
menjadikan masukan dalam kegiatan perencanaan. Dari hasil wawancara ini dapat
diketahui tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh, sehingga dapat dilakukan
pendekatan-pendekatan dalam pelaksanaan rencana kelak. Wawancara juga dilakukan
dengan membuat kebijaksanaan (decision maker) untuk memperoleh informasi mengenai
arah kebijaksanaan daerah dan pola dasar pembangunan daerah.
3. Data Sekunder
Data sekunder ini diperoleh melalui survey intansional dan kajian kepustakaan, yaitu
mengumpulkan data-data yang relevan dari suatu instansi yang berwenang dan
terkaitserta sumber-sumber lain yang dapat dijadikan literature dalam proses pelaksanaan
pekerjaan. Untuk melaksanakan survey ini dibutuhkan suatu check list instansional yang
memuat nama-nama instansi yang berwenang serta data-data yang dibutuhkan dari
masing-masing instansi tersebut. Hasil dari survey ini adalah uraian, data angka atau peta
mengenai keadaan kawasan.
4. Kompilasi Data
Kompilasi data merupakan tahap seleksi data, tabulasi data dan mengelompokkan atau
mensistematisasikan data hasil survey sesuai dengan kebutuhan. Data-data yang disajikan
secara garis besar meliputi data makro dan data mikro.
Data makro meliputi: aspek kebijaksanaan regional dalam hal ini Kawasan perencanaan
Kota Cimahi yang berpengaruh nantinya pada perkembangan kawasan sekitarnya

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-31

khususnya baik aspek kependudukan, aspek perekonomian, aspek sumber daya alam,
aspek pelayanan fasilitas dan utilitas.
Data mikro meliputi: aspek fisik dasar, penggunaan lahan dan fungsi bangunan, aspek
kependudukan, sosial dan kebudayaan, sistem transportasi, aspek perekonomian kota
dengan fokus masalah kegiatan komersial, aspek pelayanan fasilitas sosial dan utilitas
kota, aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah desain perkotaan, nilai bangunan atau
estetika kota dan sebagainya.

5.2.1 Metode Analisis dan Perumusan Ketentuan Teknis


Suatu wilayah/kawasan dapat dianggap sebagi suatu organisasi yang bersifat dinamis dan
mengalami mekanisme pertumbuhan dan perkembangan. Proses pertumbuhan dan
perkembangan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam wilayah (internal
faktor) maupun dari luar wilayah (eksternal faktor).
Suatu penataan kawasan menghendaki masukan yang berupa pengetahuan mengenai ciri
dan karakter kawasan tersebut. Masukan ini selanjutnya diolah dalam suatu proses yang
menghasilkan pola tindakan dalam pembangunan yang terencana yang selanjutnya disebut
sebagai proses analisis.
Tahap analisis merupakan salah satu kelengkapan dalam proses perencanaan yang tujuan
kegiatannya adalah untuk memahami permasalahan beserta gambaran tentang hal-hal yang
merupakan pedoman pemikiran tentang upaya pemecahan masalah maupun peningkatan
suatu keadaan yang dinilai cukup memenuhi kriteria.
Dalam mendukung proses analisis, diperlukan kompilasi (ketersediaan) data yang akurat
sebagai input yang meliputi informasi-informasi berkaitan dengan kebutuhan penyusunan
pekerjaanini. Melengkapi tahapan tersebut selanjutnya disusun suatu dokumen analisis yang

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-32

pada dasarnya memberikan uraian, penjelasan, penilaian, serta perhitungan dan prediksi
keadaan daerah perencanaan dalam kurun waktu perencanaan.
Pada dasarnya, prediksi tersebut adalah analisa terhadap kecenderungan perkembangan dan
berbagai faktor serta variabel yang berpengaruh dalam mekanisme perkembangan dan
pertumbuhan kawasan perkotaan. Hasil dari tahapan tersebut akan digunakan sebagai dasar
penentuan strategi perencanaan jangka panjang, baik dalam dimensi penataan ruang fisik
maupun pengembangan kegiatan sektoral.

a. Analisis Kajian Terhadap Kebijakan Terkait


Analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan
informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberi landasan dari para pembuat
kebijakan dalam membuat keputusan. (E.S. Quade (Alm.), mantan kepala Departemen
Matematika di perusahaan Rand). Analisis kebijakan digunakan oleh para analisis
profesional di bidang pemerintahan maupun bisnis untuk membantu para pengambil
keputusan menyelesaikan setiap masalah dan mengambil manfaat dari setiap
kesempatan yang ada. Karena setiap masalah dan kesempatan itu sangat berbeda-beda,
prosesnya pun amatlah fleksibel, maka hal ini memberikan peluang kepada para analisis
untuk mengulangi langkah-langkah yang telah dilakukan untuk membuat perubahan
apabila dianggap perlu. Proses tersebut dirancang untuk dapat menghasilkan analisisanalisis yang relevan, berwawasan, dan akurat dan untuk mencapai hal ini secara tepat
sesuai dengan anggaran yang tersedia.
Dalam praktek, analisis kebijakan itu jauh lebih bersifat keahlian dan bukan suatu ilmu
pengetahuan teoritis. Seorang analisis kebijakan yang baik selalu mengandalkan diri
pada proses yang dapat dipertahankan, metode yang tepat, dan pertimbangan yang
didasarkan pada pengalamannya. Satu bagian penting untuk belajar menjadi seorang
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-33

analisis kebijakan adalah dngan cara bergelut dengan masalah-masalah yang nyata dan
rumit. Ciri seorang analisis profesional yang ulung adalah kemampuannya untuk
menerapkan teori-teori dan metode-metode yang relatif bersifat abstrak.
Untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan perencanaan kebijakan, adalah sangat
penting untuk menunjuka apa yang justru tidak termasuk di dalamnya. Kebanyakan
orang jauh lebih mengenal apa yang disebut perencanaan menyeluruh atau
komprehensif

dibanding

dengan

perencanaan

kebijakan,

mungkin

mereka

menganggapnya sebagai suatu jenis perencanaan yang komprehensif, tetapi kedua hal
ini tidaklah serupa sama sekali perbedaan antara keduanya terletak pada hal-hal sebagai
berikut:

Ruang Lingkup. Perencanaan kebijakan ditujukan pada masalah tertentu, sementara salah
satu prinsip perencanaan komprehensif adalah mempertimbangkan semua aspek dari
suatu sistem secara simultan, apakah suatu masalah khusus atau kesempatan yang
berkaitan dengan aspek tersebut sudh diketahui atau belum. Sebaliknya perencanaan
kebijakan lebih memusatkan diri pada masalah-masalah khusus saja.

Produk. Para perencana komprehensif pada umumnya mengembangkan satu rencana.


Akan tetapi, hasil yang diperoleh dari perencanaan kebijakan, terdiri dari perencanaan
kebijakan, terdiri dari momerandum, kertas kerja, rancangan peraturan perundangundangan, dan bahkan catatan-catatan mengenai pembicaran telepon, sehingga produkproduk ini benar-benar berbeda dan biasanya terbatas ruang lingkupnya dibanding dengan
perencanaan itu sendiri.

Klien. Klien atau nasabah dari perencanaan komprehensif tradisional adalah kepentingan
umum, para perencana mencoba menerka kecnderungan hubungan dan pendapat dari
klien yang masih di awang-awang ini dan menafsirkan pendapatan-pendapatan ini jika

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-34

mereka lihat terdapat kecocokan. Sebaliknya, klien dari perencanaan kebijakan sangat
jelas

Waktu. Cakrawala waktu perencanaan komprehensif tradisional adalah jangka panjang.


Hampir semua perencanaan komprehensif menguraikan suatu keadaan di masa 20 tahun
yang akan datang atau malah lebih. Cakrawala waktu perencanaan kebijakan biasanya
jauh lebih pendek sesuai dengan apa yang menjadi perhatian klien itu sendiri.

Politik. Perencanaan komprehensif tradisional menganut sutau pendekatan apolitis dalam


proses penerapannya, sementara perencanaan kebijakan kemungkinan bisa saja bersifat
sangat politis. Suatu pemerintah daerah modern perlu untuk membuat baik perencanaan
komprehensif maupun perencanaan kebijakan. Hampir semua klien swasta hanya akan
tertarik pada kedua.

Suatu kota atau kawasan perkotaan akan memiliki keterkaitan dengan wilayah yang lebih luas
guna mendukung perkembangannya. Perkembangan kota atau kawasan perkotaan tersebut
tidak terlepas dari fungsi dan keefektifan yang dapat terlihat pada wilayah pelayanannya. Oleh
karena itu untuk melihat kebijakan pembangunan pada kawasan perencanaan, perlu dilakukan
tinjauan kebijaksanaan yang terkait dengan kawasan perencanaan.

b. Analisis Identifikasi Kendala, Peluang dan Potensi Pengembangan Kawasan

Analisa SWOT pada kegiatan ini dilakukan melalui analisis interaksi faktor internal (strength
/ kekuatan dan weakness / kelemahan) dan eksternal (opportunity / peluang dan threat /
ancaman) dengan mengalikan antara kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Dari hasil
perkalian kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman tersebut akan diperoleh beberapa jenis
strategi, antara lain : strategi SO, strategi ST, strategi WT, dan strategi OT.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-35

Gambar Matrix SWOT

Membuat strategi adalah menggabungkan elemen internal dengan elemen eksternal untuk
mendapatkan alternatif yang paling menguntungkan.
1.

Strategi SO (Strengths + Opportunities)


Strategi ini yang termurah karena dengan modal sedikit dapat mendorong kekuatan yang
ada.

2.

Strategi ST (Strengths + Threats)


Strategi ini agak mahal karena dengan modal yang paling sedikit, dapat diatasi ancaman
yang sudah ada, pertimbangan yang dipakai adalah memaksimalkan utility institusi tetapi
juga barhati-hati.

3.

Strategi WO (Weaknesses + Opportunities)


Adalah strategi pemerataan (investasi) atau pemberian subsidi (divestasi), yang agak
lebih sulit karena orientasinya memihak pada kondisi yang paling lemah tetapi
dimanfaatkan untuk menangkap peluang.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-36

4.

Strategi WT (Weaknesses + Threaths)


Strategi ini yang paling sulit karena orientasinya memihak pada yang paling lemah atau
paling terancam dengan meminimalkan kerugian.
a. SWOT Skenario Trend
Skenario pengembangan ini pada intinya merupakan kajian ilmiah secara mendalam
terhadap variabel-variabel kondisi lapangan yang terdiri dari:
Variabel fisik alamiah,
Variabel tata guna lahan dan pola pemanfaatan ruang,
Variabel penduduk,
Variabel sarana perkotaan, yang meliputi :
Variabel sistem jaringan prasarana utilitas, yang meliputi :
Variabel ekonomi, yang meliputi :
Variabel tata bangunan, yang meliputi :
Data kondisi ketinggian bangunan eksisting dan pola skyline
Data nilai harga lahan
Data rata-rata maksimal dan minimum besar kapling tiap penggunaan lahan
Data garis sempadan bangunan dan jalan setiap penggunaan lahan dalam tiap blok
peruntukan.
b. SWOT Skenario Target
Skenario pengembangan ini pada intinya merupakan kajian ilmiah secara mendalam
terhadap variabel-variabel Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung, yang terdiri
dari :

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-37

1.

Tujuan pengembangan kawasan fungsional perkotaan

2.

Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan

3.

Rencana Distribusi Penduduk Kawasan Perkotaan

4.

Rencana Struktur Pelayanan Kegiatan Kawasan Perkotaan

5.

Rencana Sistem Jaringan Pergerakan

6.

Rencana Sistem Jaringan Ulilitas

7.

Rencana Blok Pemanfaatan Ruang (Block Plan)

8.

Pedoman pelaksanaan pembangunan kawasan perkotaan

9.

Rencana Penanganan Blok Peruntukan

10. Rencana Penanganan Prasarana dan Sarana perkotaan


11. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang
12. Legalisasi Produk Rencana
c. SWOT Skenario Moderat
Skenario pengembangan ini pada intinya merupakan kajian ilmiah secara mendalam
terhadap gabungan antara variabel kondisi lapangan dengan variabel Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota Bandung.
Penentuan Posisi Pembangunan
Salah satu teknik penentuan posisi pembangunan dalam metode SWOT yaitu dengan
melakukan penilaian untuk mengetahui posisi obyek pada kuadran SWOT. Dari
penilaian tersebut diketahui koordinat pada sumbu X dan sumbu Y, sehingga diketahui
posisinya sebagai berikut :
a. Kwadran I (Growth), adalah kuadran pertumbuhan dimana pada kuadran ini terdiri
dari dua ruang yaitu :

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-38

1) Ruang A dengan Rapid Growth Strategy yaitu strategi pertumbuhan aliran cepat
untuk diperlihatkan pengembangan secara maksimal untuk target tertentu dan
dalam waktu singkat
2) Ruang B dengan Stable Growth Strategy yaitu strategi pertumbuhan stabil
dimana pengembangan dilakukan secara bertahap dan target disesuaikan
dengan kondisi.
b. Kwadran II (Stability), adalah kuadran pertumbuhan dimana pada kuadran ini
terdiri dari dua ruang yaitu :
c. Ruang C dengan Agresif Maintenance Strategy dimana pengelola obyek
melaksanakan pengembangan secara aktif dan agresif.
d. Ruang D dengan Selective Maintenance Strategy dimana pengelolaan obyek adalah
dengan pemilihan hal-hal yang dianggap penting.
e. Kwadran III (Survival), adalah kuadran pertumbuhan dimana pada kuadran ini
terdiri dari dua ruang yaitu :
1) Ruang E dengan Turn Around Strategy yaitu strategi bertahan dengan cara
tambal sulam untuk operasional obyek
2) Ruang F dengan Guirelle Strategy yaitu strategi gerilya, sambil operasional
dilakukan, diadakan pembangunan atau usaha pemecahan masalah dan
ancaman.
f. Kwadran IV (Diversification), adalah kuadran pertumbuhan dimana pada kuadran
ini terdiri dari dua ruang yaitu sebagai berikut :
1) Ruang G dengan Concentric Strategy yaitu strategi pengembangan obyek
dilakukan secara bersamaan dalam satu naungan atau koordinator oleh satu
pihak

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-39

2) Ruang H dengan Conglomerate Strategy yaitu strategi pengembangan masingmasing kelompok dengan cara koordinasi tiap sektor itu sendiri.

Analisis Fisik
Dalam analisis fisik digunakan pendekatan terhadap beberapa model analisis yaitu sebagai
berikut :
1. Analisis Daya Dukung Lahan
Metode analisis yang digunakan untuk menilai daya dukung lingkungan fisik alamiah
ini adalah metode context analysis (analisis tautan) melalui teknik superimpose atau
overlay diagram informasi. Metode analisis tautan ini menurut Edward T. White
adalah kegiatan riset praperancangan yang memusat pada kondisi-kondisi yang ada,
dekat dan potensial pada dan di wilayah perencanaan sebagai jaringan yang kompleks
dan aktif. Analisis tautan merupakan suatu penyelidikan atas seluruh situasi yang
mempengaruhi lahan yang akan direncanakan. Peran utama dari analisis tautan dalam
perancangan adalah memberi kita informasi mengenai daya dukung lingkungan
sebelum memulai konsep-konsep perencanaan dan perancangan pengembangan
kawasan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-40

Adapun kriteria analisis daya dukung lahan adalah sebagai berikut:


Gambar 5.1
Super Impose

Kemiringa

Geologi
Jenis

tanah
Hidrologi

KRITERIA PENILAIAN

Tofografi

Klimatolo

gi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-41

2. Kriteria Topografi
Berdasarkan The urban, rural regional planning field (1980) bahwa kegiatan bududaya
perkotaan dapat dikembangkan pada ketinggian regional > 1.000 m dpl. Berdasarkan
ketentuan KBU bahwa kegiatan budidaya di atas kontur 750 m dpl dibatasi dengan
KDB maksimum 20 % dan Koefisien Wilayah Terbangun (KWT) yang disesuaikan
dengan perhutungan indek konservasi potensial (IKP).

3. Kriteria Kemiringan Lahan


Pemahaman lengkap terhadap kemiringan lahan (slope) tidak hanya memberi
petunjuk terhadap pemilihan rute lintasan tetapi juga menyatakan susunan keruangan
dan kestabilan pondasi bangunan di wilayah perencanaan. Kriteria kemiringan lahan
yang akan digunakan sebagai pedoman dan dasar pertimbangan peruntukan lahan bagi
Wilayah Perencanaan dapat dilihat pada rangkaian tabel di bawah ini.

4. Kriteria Geologi
Pertimbangan terpenting dalam unsur geologi adalah rintangan fisiografik yaitu unsurunsur alamiah yang merintangi atau membahayakan berbagai jenis pembangunan.
Unsur-unsur rintangan ini berkaitan dengan fungsi yang akan direncanakan seperti
gerakan tanah, sesar, gempa, dan bahaya vulkonologi.
5. Kriteria Jenis Tanah

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-42

Pemahaman yang ekstensif terhadap kondisi tanah pada sebuah wilayah perencanaan
akan membantu untuk menentukan kesesuaian guna lahan tapak dan kestabilan
konstruksi pondasi bangunan.

6. Kriteria Hidrologi
Hidrologi suatu daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : geologi,
vegetasi, tata guna tanah, dan curah hujan. Apabila terdapat luas areal vegetasi yang
cukup besar maka akan semakin luas areal peresapan hujan ke dalam tanah, sebaliknya
apabila areal vegetasi sempit akan mempercepat erosi dan akan menimbulkan
sedimentasi dalam perairan sungai, bahkan dapat menghambat kecepatan air hujan
yang meresap ke dalam tanah, dimana peresapan air ke dalam tanah ditentukan oleh
kondisi geologi setempat.
Analisis hidrologi yang dimaksud di sini adalah menganalisis data yang berkaitan
dengan kondisi keairan, baik air permukaan maupun air tanah. Untuk itu penyajian
data hidrologi ini dibedakan atas air permukaan dan air tanah.
Air permukaan adalah air yang muncul atau mengalir di permukaan seperti mata air,
danau, sungai, dan rawa. Pada data air permukaan ini masing-masing jenis sumber air
tersebut hendaknya diikuti besaran atau debitnya, sehingga dapat terlihat potensi air
permukaan secara umum. Khusus untuk sungai disajikan lengkap dengan Wilayah
Sungai (WS) dan Daerah Aliran Sungai (DAS) nya, karena masing-masing WS
umumnya mempunyai karakteristik berbeda, demikian juga dengan DAS yang
diharapkan dapat memberikan gambaran potensi sungai sampai orde yang terkecil.
Data sungai ini juga dilengkapi dengan pola aliran, arah aliran air permukaan pada
masing-masing DAS serta kerapatan sungai yang secara tidak langsung akan
memperlihatkan aktivitas sungai tersebut baik pengaliran maupun pengikisannya.
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-43

Data air permukaan ini dapat diperoleh pada instansi pengairan setempat ataupun
pusat, dilengkapi dengan pengamatan lapangan yang menunjukkan kondisi keairan
sesaat pada waktu pengamatan yang akan menunjukkan potensi air pada musim
tertentu (penghujan atau kemarau, tergantung waktu pengamatan). Sedangkan untuk
data mata air kemungkinan juga dapat diperoleh dari peta hidrologi yang dikeluarkan
oleh Badan Pertanahan Nasional.
Air Tanah, dapat dipisahkan atas air tanah dangkal dan air tanah dalam, yang masingmasing diupayakan diperoleh besaran potensinya. Air tanah dangkal adalah air tanah
yang umum digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih berupa sumursumur, sehingga untuk mengetahui potensi air tanah bebas ini perlu diketahui
kedalaman sumur-sumur penduduk, dan kemudian dikaitkan dengan sifat fisik
tanah/batunya dalam kaitannya sebagai pembawa air. Selain besarannya air tanah ini
perlu diketahui mutunya secara umum, dan kalau memungkinkan hasil pengujian
mutu air dari laboratorium. Sedangkan air tanah dalam yakni air tanah yang
memerlukan teknologi tambahan untuk pengadaannya, secara umum dapat diketahui
dari kondisi geologinya, yang tentunya memerlukan pengamatan struktur geologi
yang cermat.
Kondisi air tanah ini dapat diperoleh dari penelitian hidro-geologi baik yang dilakukan
oleh Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral, maupun instansi lainnya yang berkaitan dengan keairan seperti
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum, ataupun juga
dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada uraian berikut :
Data hidrologi merupakan data yang terkait dengan tata air yang ada, baik di
permukaan maupun di dalam tanah/bumi. Tata air yang berada di permukaan tanah
dapat berbentuk badan-badan air terbuka seperti sungai, kanal, danau/situ, mata air,
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-44

dan laut. Sedangkan tata air yang berada di dalam tanah (geohidrologi) dapat
berbentuk aliran air tanah atau pun sungai bawah tanah. Data tata air diperlukan untuk
dapat melihat dan memperkirakan ketersediaan air untuk suatu wilayah. Informasi
yang dibutuhkan dari data hidrologi ini adalah kuantitas dan kualitas air yang ada.
Data kuantitas terkait dengan pola dan arah aliran serta debit air yang ada dari masingmasing badan air. Sedangkan data kualitas terkait dengan mutu air (dilihat dari sifat
fisik, kimia dan biologi). Namun data yang terkait dengan kondisi hidrologi ini
biasanya sukar didapat karena harus melakukan pengambilan data primer/pengamatan
langsung. Data sekunder biasanya didapat dari instansi yang terkait dengan
lingkungan dan PAM. Data umum hidrologi yang biasa tersedia adalah peta lokasi
badan air (sungai, danau, laut) yang dapat dilihat dari peta rupabumi. Dari peta ini
biasanya bisa didapat informasi wilayah sungai dan daerah aliran sungai, termasuk
pola dan arah alirannya. Gambar berikut ini merupakan contoh peta daerah aliran
sungai.
7. Kriteria Klimatologi
Kondisi udara secara geografis tergantung dari garis lintang, pengaruh masa daratan,
masa air vegetasi, lamanya penyinaran matahari, dan ketinggian tempat. Nilai
perubahan temperatur terhadap ketinggian disebut "Temperature Lapse rate", yaitu
dengan setiap kenaikan tempat sebesar 100 meter, temperatur akan turun sebesar
0,6C.
Analisis klimatologi memerlukan data iklim berdasarkan hasil pengamatan pada
stasiun pengamat di wilayah yang bersangkutan dan/atau daerah sekitarnya, meliputi:
1) Curah hujan,
2) Hari hujan,
3) Intensitas hujan,
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-45

4) Temperatur rata-rata,
5) Kelembaban relatif,
6) Kecepatan dan arah angin,
7) Lama penyinaran (durasi) matahari.
Data klimatologi ini dapat diperoleh pada stasiun meteorologi dan geofisika di
wilayah dan/atau kawasan atau daerah sekitarnya yang terdekat, atau pada kabupaten
dalam bentuk laporan, atau dapat juga diperoleh pada Badan Meteorologi dan
Geofisika Pusat di Jakarta. Seperti pada uraian berikut :
Kedalaman data yang dibutuhkan dalam analisis ini adalah pengamatan selama 10
tahun (bila tersedia). Bila data yang diperoleh tidak mencapai kedalaman tersebut,
sebaiknya dikumpulkan data semaksimum yang tersedia, dengan contoh penyajian
seperti yang disajikan pada Tabel di bawah. Adapun Kendala umum yang sering
terjadi dalam pengumpulan data klimatologi adalah kelengkapan data yang minim,
karena ketiadaan data/pengukuran dari stasiun klimatologi terdekat.
8. Analisis Penggunaan Lahan
Analisis penggunaan lahan di wilayah dan/atau kawasan perencanaan perlu diketahui
secara terinci, terutama sebaran bangunan yang bersifat tidak meluluskan air/kedap
air. Hal ini berkaitan erat dengan rasio tutupan lahan yang ada saat ini yang nantinya
digunakan dalam penghitungan ketersediaan air tanah bebas.
Selain untuk mengetahui rasio tutupan lahan, data penggunaan lahan juga diperlukan
untuk mengetahui pengelompokan peruntukan lahan, termasuk aglomerasi fasilitas
yang akan membentuk pusat kota serta bangunan-bangunan yang memerlukan
persyaratan kemampuan lahan tinggi, yang akan digunakan dalam penentuan
rekomendasi kesesuaian lahan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-46

Di samping itu dengan mengetahui sebaran penggunaan lahan di wilayah ini, maka
akan terlihat pada daerah-daerah mana penggunaan lahan yang ternyata menyimpang
dari kesesuaiannya atau melampaui kemampuannya, sehingga dapat dijadikan
masukan juga dalam memberikan rekomendasi kesesuaian lahan ini. Data penggunaan
lahan disajikan berupa peta penggunaan lahan/tata guna lahan.
Data penggunaan lahan (Land Use) didapat dari kombinasi berbagai data dan peta
seperti:
-

Peta Rupa bumi (terdapat informasi lahan permukiman, sawah, kebun/tegalan,


hutan, rawa, danau, sungai)

Peta citra satelit (terdapat informasi penutupan lahan yang dapat dibedakan
karakter vegetasi dan non vegetasi)

Peta foto udara (terdapat informasi yang lebih detil seperti kawasan perumahan,
perdagangan/perniagaan, industri, sawah/ladang, perkebunan, hutan, kolam,
tambak, dan lainnya)

Pengamatan lapang (observasi) dan informasi/wawancara masyarakat secara


langsung.

c. Analisis Fisik Binaan (Kawasan Budidaya)

Analisis Keseuaian Lahan


Analisis kesesuaian lahan dilakukan untuk mengetahui potensi atau nilai suatu areal untuk
penggunaan tertentu. Dalam hal ini, untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk kegiatan
pengembangan perkotaan dapat digunakan Skala Mabbery.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-47

Penentuan KDB, KLB dan Sempadan Bangunan


Bertujuan untuk mengetahui intensitas penggunaan ruang berdasarkan hasil perhitungan
luas penggunaan tanah, jumlah bangunan, luas lantai bangunan (KDB dan KLB),
ketinggian bangunan, dan yang lainnya. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) merupakan
perbandingan antara luas lahan terbangun dengan luas lahan keseluruhan dan dinyatakan
dalam persen (%).
Pengaturan terhadap Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dilakukan untuk menjaga
keseimbangan aliran permukaan dan kestabilan muka air. Semakin tinggi KDB-nya maka
aliran air permukaan akan semakin meningkat dan muka air tanah semakin menurun.
KLB merupakan batas maksimum ketinggian bangunan yang diperbolehkan, sedangkan
sempadan bangunan merupakan batas muka, pinggir maupun belakang bangunan terhadap
area sekelilingnya.
Tabel 5.2
Hubungan Fisik Penggunaan Lahan Berdasarkan Peruntukannya
No
1.

Jenis

Kriteria

Peruntukan
Kawasan

Hutan

Lindung
2.

Kawasan Industri

3.

Perumahan
Permukiman

dan

Kemiringan > 40 % (Inmendagri 8/ 1985)

Ketinggian > 2000 m dpl


4 Tidak berada di areal pertanian

Kemiringan < 15 %

Tidak berada di rawan bencana atau rendah


erosi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-48

No

Jenis

Kriteria

Peruntukan

Jaringan primer dan sekunder prasarana


lingkungan

4.

Jalan

5.

Pusat Perdagangan

6.

7.

8.

9.

Rencana tata ruang yang rinci

Tidak berada di rawan bencana

Kemiringan < 5 %

Berada di kawasan kota

Kemiringan 0 5 %

Tidak di daerah erosi atau rawan bencana alam

Kemiringan 0 50 %

Tidak di daerah erosi atau rawam bencana alam

Kawasan Resapan

Curah hujan yang cukup tinggi

Air

Mampu menyerapkan air secara besar-besaran

Daratan sekeliling tepian proporsional dengan

Jalan Kereta Api

Rekreasi Umum

Kawasan

Sekitar

Waduk

bentuk dan kondisi fisik danau/waduk ( antara


50-100 m dari titik pasang tertinggi ke arah
barat )

10.

11.

Kawasan

Kemiringan < 40 %

Tanaman Pangan

Ketinggian < 1000 m

Lahan kering

Kedalaman efektf lapisan tanah > 30 cm

Kawasan

Kemiringan < 40 %

Tanaman Tahunan

Ketinggian < 2000 m

Kedalaman efektif lapisan tanah > 30 cm

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-49

Jenis

No
12.

Kriteria

Peruntukan
Kawasan

Kemiringan < 15 %

Peternakan

Ketinggian < 2000 m

Jenis tanah dan iklim yang sesuai untuk padang


rumput alamiah

d.

Analisis Sosial Kependudukan


Kependudukan merupakan sekumpulan orang dalam jumlah besar dengan karakteristik,
tingkah laku, struktur/komposisi yang berbeda-beda serta memiliki ikatan faktor budaya yang
erat. Pada hakekatnya pengertian penduduk lebih ditekankan pada komposisi penduduk.
Pengertian ini mempunyai arti yang sangat luas, tidak hanya meliputi pengertian umur,
kelamin dan lain-lain. Tetapi juga klasifikasi tenaga kerja dan watak ekonomi, tingkat
pendidikan, agama, dan angka stasistik lainnya yang menyatakan distribusi frekuensi.
Penduduk merupakan Faktor utama perencanaan, sehingga pengetahuan akan tingkah laku
dan perkembangan penduduk merupakan bagian pokok dari perancangan.
Pertumbuhan penduduk merupakan keseimbangan yang dinamis antara kekuatan-kekuatan
yang menambah dan kekuatan-kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. Pertumbuhan
penduduk dipengaruhi oleh 4 komponen, yaitu: kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas),
migrasi masuk (in-migration), migrasi keluar (out-migration).
Struktur dan Persebaran Penduduk
Pengelompokkan penduduk berdasarkan Ciri-ciri tertentu dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-50

Biologis, meliputi umur dan jenis kelamin


Sosial, antara lain meliputi tingkat pendidikan, status perkawinan.
Ekonomi, meliputi penduduk yang aktif secara ekonomi, lapangan pekerjaan, jenis
pekerjaan, serta tingkat pendapatan.
Geografis besarkan tempat tinggal, daerah perkotaan, pedesaan, propinsi, kabupaten,
dan lain-lain.
Struktur Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Umur dan jenis kelamin merupakan karakteristik penduduk yang pokok. Struktur ini
mempunyai pengaruh penting terhadap tingkah laku maupun ekonomi. Dalam demografi
distribusi umur penduduk dapat digolongkan antara lain menurut umur satu tahunan
maupun lima tahunan. Stuktur umur yang ideal akan tercapai jika proporsi setiap golongan
umur terhadap total populasi adalah seimbang, dengan kata lain jumlah penduduk dalam
setiap kelompok umur adalah sama atau Datang dengan seimbang. Dengan kondisi tersebut
jumlah yang berusia kurang dari 15 tahun dan diatas 65 tahun (beban tanggungan bagi
penduduk usia produktif, antara 16-65 tahun) akan menjadi sedikit, dan mampu ditanggung
oleh penduduk usia produktif. Yang lebih penting lagi, minimalnya jumlah penduduk di
bawah usia 15 tahun akan menjadi syarat perlu bagi pertumbuhan penduduk yang kecil
dimasa datang (syarat cukupnya setiap ibu tidak melahirkan tidak terlalu banyak atau
idealnya melahirkan dengan tingkat penggantian atau replacement fertility rate).
Migrasi Penduduk
Migrasi merupakan salah satu dari alasan dasar yang mempengaruhi pertumbuhan
penduduk. Pengertian migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap
dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/Negara ataupun batas
administratif. Migrasi juga sering diartikan sebagai perpindahan yang dilakukan dari suatu
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-51

daerah ke daerah lain. Ada beberapa jenis migrasi yang perlu diketahui, diantaranya adalah
:
Migrasi Masuk (In Migration), yaitu masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan
(area of destination).
Migrasi Keluar (Out Migration), yaitu perpindahan keluar dari suatu daerah asal (area
of origin).
Urbanisasi, yaitu bertambahnya proporsi penduduk yang berdiam di daerah kota yang
disebabkan oleh proses perpindahan penduduk ke kota dan atau akibat dari perluasan
daerah kota.
Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari suatu daerah untuk menetap ke daerah
lain yang ditetapkan di dalam Wilayah Republik Indonesia guna kepentingan
pembangunan Negara.
Pada dasarnya ada dua pengelompokkan faktor yang menyebabkan seseorang melakukan
migrasi, yaitu:
Faktor Pendorong yang timbul dari tempat asal, seperti berkurangnya sumber daya,
menyempitnya lapangan kerja, adanya tekanan/deskriminasi politik, agama atau suku,
ketidakcocokkan adat istiadat, jenis pekerjaan atau perkawinan, serta bencana alam
Faktor Penarik yang timbul dari tempat tujuan, seperti adanya kesempatan lapangan
kerja, adanya pendapatan dan pendidikan yang lebih baik, keadaan lingkungan yang
lebih baik, adanya aktivitas-aktivitas yang menarik.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-52

Laju Pertumbuhan Penduduk


Dalam menentukan laju pertumbuhan penduduk yang merupakan prosentase rata-rata
pertambahan penduduk dari tahun ke tahun dilakukan dengan menggunakan persamaan
rumus.
Matriks Antara Hubungan Jumlah Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk dan
Kepadatan Penduduk
Berbagai aktivitas penduduk akan mempengaruhi perkembangan daerah karena pada
dasamya pembangunan ditujukan sebesar-besarnya untuk memenuhi kepentingan
penduduk. Perkembangan penduduk pada suatu kawasan pada umumnya di setiap tahun
mengalami peningkatan. Untuk interval kelas yang digunakan dalam pengklasifikasian laju
pertumbuhan penduduk digunakan metoda pengkelasan sebagai berikut:

Interval Kelas =

r TINGGI r RENDAH
Banyak Interval 1

Sebagai hasil analisis yang telah dilakukan, maka langkah selanjutnya yaitu melihat
sejauhmana keterkaitan antara jumlah penduduk, laju pertumbuhan dan tingkat kepadatan
yang terjadi di kawasan perencanaan, serta guna mengelompokan/mengklasifikasikan
kelurahan-kelurahan yang ada kedalamnya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dibawah ini.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-53

Tabel 5.3
Contoh Ilustrasi
Matrik Jumlah Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk
dan Kepadatan Penduduk Per-Kelurahan Pada Suatu Kawasan
Kepadatan
Kelurahan

Laju pertumbuhan

Tinggi

Sedang

Rendah

JP Tinggi

JP Tinggi

JP Tinggi

Balokang

JP Rendah

JP Rendah

JP Rendah

JP Tinggi

JP Tinggi

JP Tinggi

Mekarsari

Banjar,

Pataruman

Tinggi

Hegarsari

Kelurahan

Situbatu,

Sedang

Batulawang,
Binangun,

Rendah

Langensari

JP Rendah

JP Rendah

JP Rendah

JP Tinggi

JP Tinggi

JP Tinggi

Kujangsari

Purwaharja,
Mekarharja

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-54

Ciberureum,
Neglasari,
Mulyasari,
Karyamukti,
Karangpanimbun,
Raharja,
Rejasari,
Waringinsari,
-

JP Rendah

Bojongkantong

JP Rendah

Muktisari

JP Rendah

Keterangan : JP = Jumlah Penduduk

Sex Ratio dan Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)


Sex Ratio adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya
penduduk perempuan pada suatu daerah dari waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam
bentuk pernyataan yang menyebutkan banyaknya penduduk laki-laki per 100
perempuan. Sex ratio dapat dicari dengan menggunakan rumus:

Sex Ratio =

Jumlah Penduduk laki laki


X 100 %
Jumlah Penduduk Perempuan

(Sumber: Harto Nurdin, Dasar-dasar Demografi, 2000, Struktur dan Persebaran


Penduduk)

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-55

Jika di suatu daerah sex ratio penduduk > 100%, berarti didaerah tersebut lebih banyak
penduduk laki-laki dibandingkan dengan penduduk perempuan. Sebaliknya, jika sex
rationya < 100%, berarti daerah tersebut didominasi oleh penduduk perempuan.
Akibat dari sex ratio penduduk > 100%, maka kecenderungan produktivitas penduduk
dimasa yang akan datang akan berkurang karena jumlah ibu yang melahiran sedikit.
Sedangkan akibat dari sex ratio penduduk < 100%, maka kecenderungan produktivitas
akan meningkat dimasa yang akan datang. Dari tabel dibawah ini, sex ratio yang tertinggi
terdapat di Kecamatan Purwaharja, dengan rata-rata sex ratio sebesar 103%. Sedangkan
sex ratio yang terendah terdapat di Kecamatan Pataruman sebesar 95%. Agar lebih jelas
dapat dilihat dibawah ini.
Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) adalah angka yang menyatakan
perbandingan antara banyaknya orang yang tidak produktif (umur dibawah 15 tahun dan
65 tahun keatas) dengan banyaknya orang yang termasuk usia produktif (umur 15 - 64
tahun). Angka beban tanggungan dapat di rumuskan sebagai berikut:

Dependency Ratio =

P0 14 P65
P15 64

X 100

Keterangan :
P 0 14 =

Jumlah penduduk berumur 0 - 14 tahun (usia tidak produtif)

P 15 64 =

Jumlah penduduk berumur 15 - 64 tahun (usia produktif)

P 65+

Jumlahpenduduk berumur 65 tahun keatas (usia tidak produktif)

(Sumber : Harto Nurdin, Dasar-dasar Demografi,2000, Struktur dan Persebaran


Penduduk)

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-56

Jika dependency ratio > 100% akibatnya pendapatan per kapita kota tersebut sangat rendah
karena penduduk usia produktif sangat sedikit daripada penduduk usia tidak produktif.
Sebaliknya jika dependency ratio < 100% akibatnya pendapatan kota tersebut tinggi.
Proyeksi Penduduk
Perencanaan mencakup penduduk, dibuat untuk penduduk, dan dilakukan oleh penduduk,
salah satunya adalah perkembangannya. Perkembangan yang dimaksudkan mencakup
pengertian yang luas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kualitatif, proyeksi
penduduk ke masa depan berarti meramalkan mutu penduduk di masa depan. Sedangkan
secara kuantitatif proyeksi penduduk dilakukan secara eksak dengan meramalkan jumlah
penduduk di masa depan yang tidak terlepas dari keadaan penduduk di masa lampau.
Dalam proses proyeksi yang dilakukan, dapat digunakan 3 buah metode analisis yaitu
metode eksponensial,metode lung polynomial dan metode regresi linier. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat dalam uraian berikut ini:
Metode Eksponensial
Metoda ini digunakan dengan asumsi bahwa tingkat presentasi pertumbuhan penduduk
adalah konstan, yang berarti tiap satuan waktu pertambahan penduduk akan menjadi besar
dan lebih besar lagi. Metode ini ditunjukkan dengan persaman yaitu:
P o + n = P o (1 + r) n

Dimana :
Po + n

= jumlah penduduk pada tahun n

Po

= jumlah penduduk pada tahun awal (dasar)

= pertumbuhan penduduk rata-rata

= periode waktu dalam tahun

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-57

Sumber:- Suwardjoko Warpani, Analisis Kota dan Daerah, Tahun 1980


- Dasar-dasar Demografi (lembaga demografi fak.ekonomi UI., 1981)

Keuntungan dari metode eksponensial adalah bahwa perkembangan jumlah penduduk


dianggap akan bertambah dengan sendirinya diakibatkan dari jumlah pertumbuhan secara
spontan dengan adanya pengembangan-pengembangan pada kota tersebut. Adapun
kerugiannya yaitu tidak mempertimbangkan empiris bahwa sesudah waktu tertentu jangka
panjang derajat pertambahan relatif menurun.

Metode Lung polinomial


Untuk proyeksi jumlah penduduk selanjutnya, metoda yang digunakan dalam proyeksi
penduduk yaitu dengan menggunakan metoda lung polynomial. Metode lung Polinomial
digunakan dengan memakai proyeksi berbentuk garis lurus, yaitu dengan melihat rata-rata
pertambahan jumlah penduduk tiap tahun pada masa yang lampau sampai sekarang.
Persamaan metoda ini adalah:
t 1

P(t+n) = Pt + b (n) ;

(t 1)

Keuntungan metoda ini adalah relatif sederhana penggunaannya karena memakai proyeksi
garis lurus, dengan melihat rata-rata pertambahan jumlah penduduk tiap tahun pada masa
yang lampau sampai sekarang.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-58

Kerugian metoda ini adalah karena masa yang lampau digunakan untuk memperkirakan
perkembangan jumlah penduduk yang akan datang. Dengan kata lain laju perkembangan
penduduk dianggap tetap. Untuk perkiraan jangka pendek hal ini masih mungkin dapat
dibenarkan, tetapi untuk jangka panjang jelas kurang dapat dipercaya ketepatannya.
(Rencana Umum Tata Ruang Kota, Analisis Kota dan Daerah, Suwardjoko Warpani,
Penerbitan ITB, Bandung, 1980)

Metode Regresi Linier


Metode ini digunakan ketika populasi di daerah studi menunjukkan tingkat pertumbuhan
penduduk yang hampir sama dan dengan asumsi bahwa polanya akan tetap sama untuk
masa yang akan datang. Perkiraan jumlah penduduk atau proyeksi penduduk dengan
pendekatan statistik yang banyak digunakan adalah dengan cara regresi linier. Teknik
regresi linier ini memiliki atau memberikan penyimpangan minimum atas data penduduk
masa lampau.
Secara matematika garis regresi dinyatakan dengan persamaan :

Pt + x = a + b (x)
Dimana :
Pt + x

jumlah penduduk tahun (t + x)

tambahan tahun terhitung dari tahun dasar

a, b =

tetapan yang diperoleh dari rumus sebagai berikut :

n
n n
n. xi yi xi yi
i 1 i 1
b i 1
2
n
n
2
n. xi xi
i 1
i 1

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-59

a
Sumber:

i 1

i 1

yi b. xi
n
- Suwardjoko Warpani, Analisis Kota dan Daerah, Tahun 1980

- Dasar-dasar Demografi (lembaga demografi fak.ekonomi UI., 1981)

Pengaruh Pertumbuhan Populasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi


Peningkatan populasi diakibatkan oleh tingkat kelahiran, penurunan tingkat kematian, dan
kelebihan migrasi terhadap emigrasi. Pengaruh pertumbuhan populasi terhadap
pertumbuhan ekonomi bisa dikategorikan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan
penghambat pertumbuhan ekonomi. Menurut Adam Smith dalam Wealth of Nations
mengemukakan penduduk merupakan sumber angkatan kerja yang diperlukan dalam
pembangunan meskipun perannya pasif mengikuti perkembangan perekonomian.
Diferesiansi Sosial
Diferensiasi sosial adalah wujud keanekaragaman budaya dalam hal-hal corak dan tingkat
perkembangan masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa, atau daerah-daerah dan
kehidupan sosial, ekonomi, dan politik pada umumnya. Untuk memudahkan pemahaman
pelapisan sosial atau stratifikasi sosial membedakan masyarakat ke dalam kelas-kelas atau
tingkat-tingkat dari bawah ke atas atau secara hierarkis, sedangkan diferensiasi sosial tidak
mengenal adanya tingkatan-tingkatan dalam ras, agama, dan lain-lain. Perbedaan tersebut
terjadi secara sejajar.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-60

Diferensiasi Sosial Berdasarkan Ras


Menurut Koentjaraningrat adalah suatu golongan manusia yang memiliki ciri tubuh
tertentu dengan suatu frekuensi yang besar. Sedangkan menurut kamus besar Bahasa
Indoensia Ras adalah golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik maupun rukun bangsa.
Penggolongan ras manusia yang terbesar di muka bumi.
Diferensiasi Sosial Berdasarkan Agama
Perkembangan ilmu dan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan keimanan dan
ketaqwaan. Agama merupakan tuntunan hidup bagi umat manusia didunia dan sebagai
bekal di akhirat. Tuntunan hidup tersebut selain agama ada juga keyakinan terhadap
animisme dan dinamisme. Diferensiasi masyarakat ke dalam golongan-golongan agama di
Indonesia berdasarkan Pasal 29 UUD tahun 1945 terdapat lima golongan agama, yaitu:
Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Budha.
Diferensiasi Sosial Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan kategori sosial yang diperoleh manusia secara otomatis. Para
biologis beranggapan bahwa pria secara biologis tidak lebih tinggi dari wanita dalam
berbagai kesempatan yang berhubungan dengan ekonomi, sosial, politik dan hak istimewa.
Kita menyadari bahwa hingga dewasa ini masih ada perbedaan sosial antara pria dan wanita
yang penting anak laki-laki daripada anak perempuan.
Pranata Sosial
Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas
untuk memenuhi kompleksitas kebutuhan dalam kehidupan masyarakat (Yunan, 1996, hal

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-61

14). Adapun batasan pranata sosial adalah suatu sistem norma yang mengatur segala
tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan pokoknya dalam kehidupan masyarakat.
Ciri-ciri pranata sosial, yaitu:
Setiap pranata sosial memiliki simbol sendiri.
Pranata memiliki tata tertib dan tradisi baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
Pranata sosial memiliki sosialnya sendiri
Pranata sosial mempunyai alat perlengkapan yang digunakan untuk mengukur tujuan.
Usia pranata sosial lebih panjang daripada orang-orang yang membentuknya.
Kebudayaan
Sistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan, berisi ide-ide atau
gagasan-gagasan manusia yang hidup bersama dalam suatu masyarakat. Gagasan-gagasan
tersebut saling berkaitan dan menjadi suatu sistem. Jadi, yang dimaksud dengan sistem
sosial budaya adalah satu kesatuan dari unsur-unsur budaya yang secara bersama-sama
membentuk suatu sistem untuk mencapai suatu tujuan. Komponen-komponen dari sistem
sosial budaya yaitu sistem kepercayaan atau religi, sistem kultur masyarakat, sistem mata
pencaharian hidup, peralatan dan perlengkapan hidup, bahasa, kesenian/adat istiadat, dan
ilmu pengetahuan.
e.

Analisis Sosial Budaya

Analisis sosial budaya merupakan analisis terhadap kondisi sosial budaya masyarakat akibat
adanya suatu pembangunan ataupun aktivitas kegiatan dan bertujuan untuk mengetahui kondisi
sosial dan budaya masyarakat.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-62

Analisis sosial budaya akan menilai kondisi sosial budaya yang mengalami perubahan ataupun
tidak mengalami perubahan akibat adanya suatu kegiatan dan atau proses pembangunan.
Analisis sosial budaya dapat diartikan sebagai Kajian untuk mengenali struktur sosial budaya serta
prasarana dan sarana budaya; kajian ini dilakukan untuk mencapai pemanfaatan sumber daya alam
secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bersifat lahiriah, batiniah
atau spiritual (PU,2011).
Sosial dalam arti masyarakat atau kemasyarakatan berarti segala sesuatu yang bertalian dengan
sistem hidup bersama atau hidup bermasyarakat dari orang atau kelompok orang yang didalamnya
sudah tercakup struktur, organisasi, nilai-nilai sosial, dan aspirasi hidup serta cara mencapainya.
Budaya mencakup mencakup obyek, lokasi, struktur, kelompok struktur, fitur alam dan lanskap
yang dapat dipindahkan atau tidak dapat dipindahkan yang memiliki kepentingan paleontologi,
sejarah, arsitektur, agama dan keindahan.
Benda budaya lainnya mencakup kuburan modern, pohon keramat, batu keramat, kuil, dan
bangunan bersejarah (Amin, 2009). budaya merupakan suatu hal yang erat kaitannya dengan
masalah sosial masyarakat. Budaya akan selalu beriringan dengan kondisi sosial masyarakat,
karena kondisi sosial masyarakat akan selalu berpengaruh dan mempengaruhi kondisi sosial
kemasyarakatan.
Untuk mengetahui kondisi sosial budaya dapat diamati kondisi yang ada pada komponenkomponen masyarakat. Komponen adalah unsur-unsur atau bagian-bagian yang ada di dalam
sistem. Jadi kaitan dengan masyarakat, maka komponen itu menjadi bagian-bagian yang ada dalam
masyarakat yang bersifat fungsional artinya komponen itu dapat memberikan transformasi
(perubahan demi terjalannya suatu proses agar termaknai).
Komponen Utama dalam Kebudayaan di Masyarakat (Sakwati,2010):
a. Kebudayaan Material : Mengacu pada semua ciptaan manusia yang konkret
b. Kebudayaan Nonmaterial : Ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi kegenerasi.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-63

Dalam menganalisis suatu kondisi sosial budaya masyarakat, perlu diperhatikan system sosial
yang ada pada masyarakat. Dalam sistem sosial pada umumnya terdapat proses yang saling
mempengaruhi. Hal ini dikarenakan adanya saling keterkaitan antar suatu unsur dengan unsur
lainnya. Ciri utama sistem sosial yaitu menerima unsur-unsur dari luar (eksternal), namun juga
menimbulkan terjalinnya ikatan antar unsur yang satu dengan lainnya serta pertukaran antara
sistem sosial dengan lingkungannya. Dalam suatu system sosial terjadi proses-proses sosial, yang
meliputi:
a. komunikasi
b. memelihara tanpa batas
c. perjalinan system
d. sosialisasi
e. pengawasan social
f. Pelembagaan
g. pengawasan social
Unsur-unsur terbesar dari kebudayaan yang universal yang pasti bisa ditemukan di semua
kebudayaan di dunia, baik yang hidup dalam masyarakat pedesaan yang terpencil maupun dalam
masyarakat perkotaan yang besar dan kompleks. Unsur-unsur universal tersebut antara lain:
a. sistem religi dan upacara keagamaan
b. sistem dan organisasi kemasyarakatan
c. sistem pengetahuan
d. bahasa
e. kesenian
f. sistem mata pencaharian hidup
g. teknologi dan peralatan
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-64

Untuk melakukan analisis sosial budaya pada masyarakat dapat dilakukan dengan memperhatikan
perubahan-perubahan yang terjadi dari unsur-unsur universal diatas tersebut.
f.

Analisis Perekonomian
Suatu kota atau kawasan terlihat berkembang itu terlihat dari ekonomi kotanya, untuk melihat
perkembangannya itu dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut.
1. Laju Pertumbuhan Ekonomi
Tingkat pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang relatif mudah dalam
mengidentifikasi hasil pembangunan, khususnya pembangunan perkotaan dari berbagai
sektor. Dimana, Laju Pertumbuhan Ekonomi sangat penting untuk menentukan kemajuan
pembangunan kota. Laju pertumbuhan ekonomi suatu kota dapat dilihat berkembang atau
turun dapat terlihat dari pendapatan perkapitanya.
Laju Pertumbuhan Ekonomi ini disebut juga indeks berantai, baik harga berlaku maupun
harga konstan. Pada umumnya yang sering digunakan adalah LPE harga konstan karena
menggambarkan pertumbuhan produksi riil dari masing-masing sektor. Data LPE sangat
banyak digunakan dalam evaluasi dan untuk menyusun strategi pembangunan terutama
di daerah-daerah. Laju pertumbuhan ekonomi diperoleh dengan cara membagi nilai sektor
atau subsektor PDRB tahun berjalan dengan tahun sebelunya dikurangi satu, dikalikan
100%. (Sumber : BPS. Buku-buku Kota dan Kabupaten dalam Angka)
2. Struktur Perekonomian
Laju pertumbuhan ekonomi suatu kota dapat dilihat berkembang atau turun dapat terlihat
dari pendapatan perkapitanya. Pendapatan perkapita yaitu pendapatan rata-rata suatu kota
yang berasal dari PDRB suatu kota dibagi jumlah penduduk.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-65

3. Sebaran Kegiatan Sektor


Suatu kota terlihat berkembang selain dilihat dari pendapatan perkapita, tetapi juga dilihat
dari kemampuan struktur perekonomian yang mampu memberikan kontribusi terhadap
sektor-sektor lain juga memberikan kontribusi yang besar terhadap total PDRB suatu
kota, sehingga saling berkaitan antara pendapatan perkapita dengan struktur
perekonomian. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi yang besar maka akan
mempengaruhi terhadap basarnya PDRB dan pendapatan perkapita juga akan meningkat,
juga sebaliknya. Struktur perekonomian kota akan berkembang apabila terjadi
Peningkatan kontribusi, Penurunan kontribusi, Kontribusi tetap. Struktur peronomian
yang ada di suatu kota yaitu biasanya
Sektor Pertanian
Pertambangan dan galian
Industri
Listrik, gas, air minum
Bangunan dan kontruksi
Perdagangan
Angkutan dan komunikasi
Lembaga keuangan dan persewaan
Jasa-jasa
4. Pola Aliran Barang
Pola aliran barang merupakan suatu sistem distribusi barang yang dihasilkan dari sektor
basisnya maupun non basisnya, dimana barang yang diproduksi dapat merata dan
optimal dalam penyalurannya sehingga dapat memenuhi keseluruh pusat pelayanan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-66

Salah satu perwujudan antar daerah ialah adanya pertukaran antar daerah yang dapat
berwujud barang, uang, maupun jasa. Maka, analisis aliran barang dapat digunakan
sebagai salah satu ukuran intensitas hubungan suatu daerah dengan daerah lain. Lebih
dari itu dapat pula diketahui tingkat ketergantungan daerah yang diselidiki pada daerah
lain, atau peranan daerah yang diselidiki atas daerah lain yang lebih luas.
Analisis aliran barang mempunyai nilai yang jelas karena karena memperlihatkan
hubungan antara produksi industri, tenaga kerja dan penduduk dalam kegiatan
perekonomian. Analisis aliran barang beguna untuk mengidentifikasi perkembangan
potensi (sumber daya) dan industri. (Warpani, Suwardjoko. 1980. Analisis Kota dan
Daerah. ITB, hal 71)

5. Kegiatan Ekonomi
Dalam kehidupan ekonomi, yang penting adalah produksi barang dan jasa, penyaluran
dan pertukaran barang tersebut, dan konsumsinya. Dalam kehidupan sehari-hari dikenal
beberapa macam kegiatan ekonomi, yaitu: ( Jayadinata,T Johara. 1999. Tata Guna
Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan & Perkotaan, Wilayah. ITB)
Kegiatan ekonomi dalam produksi menurut prosesnya terjadi atas empat kelompok,
yakni:
- Kegiatan produksi rayah (extractive) yang terdiri atas segala kegiatan produksi,
dimana manusia hanya mengambil/ memindahkan/mengumpulkan semua barang
yang telah tersedia dalam alam. Contoh: perburuan, perikanan laut, penebangan
kayu dihutan alam, pengumpulan hasil hutan, pertambangan dan sebagainya.
- Kegiatan produksi budidaya (reproductive industries) yang meliputi segala
kegiatan produksi, dimana manusia harus mengadakan usaha tertentu dulu,
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-67

sebelum dapat mengambil hasilnya. Usaha tertentu itu dilakukan manusia dengan
bantuan alam, yaitu [roses alam. Contoh kegiatan budidaya adalah: pertanian,
perkebunan, peternakan, perikanan darat, penebangan kayu dihutan buatan, dan
sebagainya.
- Kegiatan produksi industri (manufactural industries), yaitu kegiatan manusioa
dalam mengubah barang mentah menjadi barang yang lebih berguna atau barang
industri, yaitu barang setengah jadi dan barang jadi. Dalam kegiatan industri akan
terdapat penambahan nilai atau value adding (penambahan nilai ini terjadi juga
dalam kegiatan ekonomi lain. Added value =nilai tambah).
- Kegiatan produksi jasa (facility industries) yang meliputi segala kegiatan, dimana
manusia memberikan jasanya baik secara langsung maupun melalui alat tertentu
dalam segala kegiatan ekonomi yang telah disebut diatas itu.
Dalam penggunaan sehari-hari terdapat istilah produksi Untuk kegiatan ekonomi
tersebut biasanya digunakan istilah:
- Produksi primer (termasuk kegiatan produksi ekstraktif dan reproduktif), yaitu
produksi yang menggunakan sumber daya alam terutama tanah;
- Produksi sekunder (yaitu kegiatan industri) ialah produksi yang mengubah barang
mentah menjadi barang industri;
- Produksi tersier (kegiatan produksi fasilitatif), yaitu produksi jasa.
Pada aspek ekonomi ini beberapa metode analisis yang dapat dipakai adalah sebagai
berikut:
Analisis Perekonomian Berdasarkan Location Quotient (LQ)
Analisis sektorsektor ekonomi dengan menggunakan metode Location Quotient
dilakukan untuk mengetahui arah dan pertumbuhan suatu wilayah melalui ekspor
wilayah. Ekspor tersebut merupakan perpindahan barang dan jasa dari suatu wilayah ke

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-68

wilayah yang lain (membutuhkan). Jadi untuk mengetahui sektor-sektor ekonomi, perlu
mengetahui arah dan pertumbuhan barang dan jasa yang ada di suatu daerah. Apakah
sektor-sektor ekonomi yang ada di daerah tersebut sudah memilki orientasi ekspor
(basis) atau belum (non basis). Terjadinya sektor basis pada dan pendapatan adalah
suatu fungsi permintaan dari luar (exogeneous), yaitu permintaan dari luar yang
mengakibatkan terjadinya ekspor dari daerah tersebut. Analisis perkembangan sektorsektor pada suatu kawasan dapat dilakukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan
koefisien LQ dari tahun ke tahun. Apabila perkembangan LQ suatu sektor cenderung
meningkat setiap tahunnya berarti sektor tersebut dapat terus dikembangkan pada
kawasan perencanaan sebagai sektor unggulan. Untuk menganalisis LQ sektor-sektor
tersebut pada kawasan prencanaan diperlukan data PDRB sektor-sektor, serta data
PDRB sektor-sektor eksternal. Indikator yang digunakan adalah, apabila nilai koefisien
LQ > 1 maka sektor tersebut merupakan sektor basis/surplus dan memiliki orientasi
ekspor sehingga bisa dijadikan sektor unggulan dan apabila nilai koefisien LQ suatu
sektor 1, maka sektor tersebut merupakan sektor non basis (bukan unggulan).
Perhitungan analisis LQ adalah sebagai berikut:

Keterangan :
Xr = Nilai produksi sektor i pada daerah internal
Rr = Total produk sector pada daerah internal
Xn = Nilai produksi sektor i pada ekternal
Rn = Total sector pada adaerah ekternal

Analisis Perekonomian Berdasarkan Shift dan Share


Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-69

Analisa shift-share adalah suatu teknik yang digunakan untuk menganalisa data statistik
regional, baik berupa pendapatan per kapita, output, tenaga kerja maupun data lainnya.
Metode ini juga digunakan untuk mengamati struktur pasar perekonomian daerah dan
perubahannya secara deskriptif dengan cara menekankan pada bagian-bagian
pertumbuhan sektor atau industri di daerah, dan memproyeksikan kegiatan ekonomi di
daerah tersebut dengan data yang terbatas. Dalam Analisa ini, pertumbuhan kegiatan di
suatu daerah pada dasarnya ditentukan oleh tiga hal, yaitu:
1. National Share/National Growth Effect (N), yaitu pertumbuhan daerah
dibandingkan dengan pertumbuhan nasional. Jika daerah tumbuh seperti rata-rata
nasional, maka peranannya terhadap nasional akan tetap.
2. Proportional Shift/Sectoral Mix Effect/Composition Shift (M), yaitu perbedaan
pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan nasional sektoral dan
pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan nasional total. Daerah
dapat tumbuh lebih cepat/lambat daripada rata-rata nasional jika mempunyai
sektor/industri yang tumbuh lebih cepat/lambat dari nasional. Dengan demikian
perbedaan laju pertumbuhan dengan nasional disebabkan oleh komposisi sektoral
yang berbeda.
3. Differential Shift/Regional Share/Competitive Effect(S), yaitu perbedaan antara
pertumbuhan daerah secara aktual dengan pertumbuhan daerah jika menggunakan
pertumbuhan sektoral nasional. Daerah dapat saja mempunyai keunggulan
komparatif dibandingkan dengan daerah lain, karena lingkungannya mendorong
suatu sektor tertentu untuk tumbuh lebih cepat. Lingkungan disini dapat berarti
lahan, tanaga kerja, maupun keahlian tertentu.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-70

Berdasarkan keadaan di atas, maka dibuatkan perumusan shift share secara kuantitatif.
Pertumbuhan daerah pada dasarnya dipengaruhi oleh share nasional, proporsional shift
dan differensial shift atau :

Jika M dan S positif, menunjukkan bahwa komposisi kegiatan di daerah sudah baik
untuk daerah yang bersangkutan. Sebaliknya, jika M negatif atau S negatif menunjukkan
bahwa komposisi kegiatan belum cukup baik, namun masih mungkin ditingkatkan
dengan membandingkannya dengan komposisi nasional. Dalam menentukan komoditas
unggulan, maka komponen S dan M ini akan digunakan sebagai kriteria kinerja
komoditas pada tahap pertama. Komponen S yang positif menunjukkan keunggulan
komoditas tertentu dibandingkan dengan komoditas serupa di daerah lain dalam satu
lingkup nasionalnya. sedangkankomponen M yang positif menunjukkan komposisi
industri yang sudah relatif baik terhadap pertumbuhan perekonomian wilayahnya.
g.

Analisis Transportasi
Perencanaan transportasi adalah salah satu usaha pada sistem transportasi agar prasarana
transportasi yang ada dapat digunakan secara optimal. Prasarana transportasi dapat berupa
pelabuhan laut, pelabuhan udara, terminal, stasiun, jalan dan lain sebagainya. Maksud
perencanaan transportasi adalah mengatasi masalah transportasi yang terjadi sekarang dan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-71

yang mungkin terjadi di masa mendatang. Tujuan dasar dari perencanaan transportasi adalah
memperkirakan jumlah serta lokasi kebutuhan akan transportasi (misalnya menentukan total
pergerakan baik untuk angkutan umum ataupun angkutan pribadi) pada masa mendatang atau
pada tahun rencana yang akan digunakan untuk berbagai kebijakan investasi perencanaan
transportasi. Sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mencapai tujuannya adalah
tata guna tanah, ekonomi, sosial-budaya, teknologi transportasi dan lain sebagainya.
Banyaknya lalu lintas dan pepergian antar zone selalu bertambah karena prasarana
hubunganpun terus meningkat, misalnya pembuatan jalan baru dan penataan jalan lama atau
meningkatkan prasarana dan sarana adalah jawaban atas kebutuhan perhubungan antar zone.
Disamping itu, sering pula timbul satu dua zone lain yang memperoleh manfaat dari padanya.
Tambahan jumlah lalu lintas ini dapat dipilah-pilah atas 3 bagian :

Tambahan wajar lalu lintas, yaitu tambahan akibat bertambahnya penduduk dan
kendaraan.

Lalu lintas bangkitan, yaitu tambahan akibat berkembanganya kepentingan sebagai


akibat bertambahnya kesempatan melakukan perjalanan.

Perkembangan lalu lintas, yaitu tambahan akibat adanya jalan baru.

Ada 10 faktor yang menjadi penentu bangkitan lalu lintas dan semuanya sangat
mempengaruhi volume lalu lintas serta penggunaan sarana perangkutan yang tersedia, yaitu
Maksud Perjalanan, Pengahasilan Keluarga, Pemilikan Kendaraan., Guna Lahan di tempat
Asal., Jarak dari PKK, Jauh Perjalanan, Moda Perjalanan, Penggunaan Lahan, Guna Lahan di
Tempat Tujuan. Di dalam perencanaan transportasi dikenal 3 tingkatan perencanaan
transportasi, yaitu :

Perencanaan Operasional. Pada tahap ini pekerjaan yang dilakukan adalah membuat
denah untuk persimpangan, penyeberangan untuk pejalan kaki, daerah parkir,

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-72

penempatan bagi pemberhentian bus, membuat metoda pembelian karcis, langkahlangkah keselamatan dan lain-lain.

Perencanaan Teknis. Pekerjaan yang berhubungan dengan tingkat ini adalah pola-pola
manajemen lalu-lintas, pembangunan jalan-jalan lokal, pengendalian parkir,
pengorganisasian transportasi umum, koordinasi dalam memberlakukan tarif dan lain
sebagainya.

Perencanaan Strategis. Tingkat ini berkaitan erat dengan struktur dan kapasitas jalan
utama dan sistem transportasi umum, keterkaitan transportasi dengan tata guna tanah,
keseimbangan antara permintaan dan penawaran, keterkaitan antara tujuan-tujuan
transportasi dengan ekonomi, tujuan-tujuan lingkungan dan sosial untuk suatu kota.
Semuanya ini merupakan masalah yang sulit dan tidak mudah untuk dimengerti.

1. Prasarana Pengangkutan
Komponen sistem Perangkutan yang pokok adalah prasarana (jalan) dan sarana
(kendaraan). Hal penting yang hars diingat dalam perangktan adalah bahwa setiap sistem
Perangkutan harus dapat mengankut muatan dan membongkarnya lagi pada akhir
perjalanan selain itu perlu diingat pula sepanjang perjalanan, dan tempat asal ke tujuan,
mungkin terpaksa harus digunakan lebih dari satu moda angkutan. Penggantian moda
dilakukan di tempat yang disebut terminal. Sebuah terminal mempunyai empat fungsi
pokok yaitu :

Menyediakan akses ke kendaraan yang bergerak pada jalur khusus.

Menyediakan tempat dan kemudahan perpindahan/pergantian moda angkutan.

Menyediakan sarana simpul lalu lintas, tempat konsolidasi lalu lintas

Menyediakan tempat untuk menyimpan barang.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-73

Selain terminal, prasarana yang paling penting dalam perangkutan adalah jalan. Jalan
adalah suatu prasarana berhubungan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan,
termasuk bangnan pelengkap dan perlengkapanya, yang diperuntkan bagi lalu lintas (UU
No.13 tahun 1980). Jalan mempunyai beberapa bagian yaitu Daerah Manfaat Jalan
(DAMAJA), Daerah Milik Jalan (DAMIJA), dan Daerah Pengawasan alan (DAWASJA).
Berdasarkan perananya, dikenal tiga kelompok jalan (UU No. 13 pasal 4) yaitu Jalan
Arteri, Jalan Kolektor, dan Jalan Lokal.
a. Sarana Pengangkutan
Sepanjang sejarah, perkembangan taknologi perangkutan ini cukup pesat. Pada
umumnya penemuan teknologi perangkutan didasarkan pada pengamatan pergerakan
alami, berjalan kaki, meluncur berenang, terbang dan pemindahan tanah oleh air.
Semua itu belum cukup memenuhi kebuthan masyarakat moderen, maka angkuan
pada umumnya dilakukan dengan menggunakan alat buatan mansia. Pada dasarnya
jenis perangkutan dibagi menjadi tiga yaitu Perangkutan darat, Perangkutan air,
Perangkutan udara. Angkutan darat misalnya dengan kendaaan bermotor, kereta api,
gerobak yang ditarik dengan binatang atau orang. Pada dasarnya kendaraan angkutan
jalan raya terdiri dari dua bagian pokok, yaitu Unit tenaga atau mesin penggerak,
Unit pengangkutatau tempat penumpang dan barang
Angkutan air dilakukan dengan kapal, tongkang, perahu, rakit dan lain-lain. Yang
termasuk angkutan air adalah angkutan laut, danau dan sungai. Bentuk maupun
ukuran kendaraan air cukup beragam mulai dari perahu dayung, rakit sampai kapal
besar yang daya angkutnya besar. Sedangkan untuk angkutan udara hanya dapat
dilakukan dengan pesawat terbang.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-74

b. Kelembagaan
Di Indonesia, ada beberapa departemen yang berhubungan dengan transportasi.
Departemen Dalam Negeri, Departemen Perhubungan, Departemen Pekerjaan
Umum, Departemen Pertahanan dan Keamanan, dan Departemen Keuangan untuk
tingat Nasional. Sedangkan dibawahnya ditingkat pelaksanaan seperti: Bina Marga,
DLLAJR, Polisi lalu lintas dan lain-lain, termasuk perusahaan angkutan. Karena
demikian anyak pihak dan lembaga yang bersangkut paut, maka diperlukan sistem
untuk mengangkut masalah transportasi.
c. Ciri Permasalahan Transportasi
Terbatasnya bahan bakar secara temporer bukanlah permasalahan yang parah akan
tetapi peningkatan arus lalu-lintas dan kebutuhan akan transportasi telah
menghasilkan kemacetan, tundaan, kecelakaan, dan permasalahan lingkungan yang
sudah berada di atas ambang batas. Permasalahan tersebut semakin bertambah parah
melihat kenyataan bahwa meskipun sistem prasarana transportasi sudah sangat
terbatas akan tetapi banyak dari sistem prasarana tersebut yang berfungsi secara tidak
efisien (beroperasi dibawah kapasitas).
d. Ciri Sistem Prasrana Transportasi
Ciri utama sistem prasarana transportasi adalah melayani pengguna, bukan berupa
barang atau komoditas. Sistem prasarana transportasi harus selalu dapat digunakan
dimanapun dan kapanpun, karena jika tidak kita akan kehilangan manfaatnya. Pada
dasarnya sistem prasarana transportasi mempunyai dua peran utama, yaitu :

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-75

Sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan di daerah perkotaan.


Sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan atau barang yang timbul akibat
adanya kegiatan di daerah perkotaan tersebut.
2. Faktor Dalam Pemodelan Transportasi

Struktur Model. Model kontemporer selalu mempunyai banyak parameter untuk


bisa menunjukkan aspek structural model tersebut dan dengan metodologi yang
sudah berkembang sekarang sangat dimungkinkan membentuk model yang sangat
umum yang memiliki banyak peubah.

Bentuk Fungsional. Pemecahan tidak linear akan dapat mencerminkan realita secara
lebih tepat, tetapi membutuhkan lebih banyak sumber daya dan teknik untuk proses
pengkalibrasian model tersebut.

Spesifikasi Peubah. Untuk menjelaskannya diperlukan proses tertentu dalam


menentukan peubah yang dominan antara lain proses kalibrasi dan pengabsahan.

Kalibrasi dan Pengabsahan Model. Suatu model dapat secara sederhana


dinyatakan sebagai fungsi matematika dari beberapa peubah X dan parameter (Y =
f(X, ))

3. Sistem Tata Guna Lahan Transportasi


Sistem transportasi perkotaan terdiri dari berbagai aktifitas seperti bekerja, sekolah,
olahraga, belanja dan bertamu yang berlangsung di atas sebidang tanah (kantor, pabrik,
pertokoan, rumah, dan lain-lain). Potongan lahan ini biasa disebut tata guna lahan.
Sasaran umum perencanaan transportasi adalah membuat interaksi tersebut menjadi
semudah dan seefisien mungkin. Cara perencanaan transportasi untuk mencapai sasaran
umum itu antara lain dengan menetapkan kebijakan tentang hal berikut ini.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-76

Sistem kegiatan. Rencana tata guna lahan yang baik (lokasi took, sekolah,
perumahan, pekerjaan, dan lain-lain yang benar) dapat mengurangi kebutuhan akan
perjalanan yang panjang sehingga membuat interaksi menjadi lebih mudah.
Perencanaan tata guna lahan biasanya memerlukan waktu yang cukup lama dan
tergantung pada badan pengelola yang berwenang untuk melaksanakan rencana tata
guna lahan tersebut.

Sistem jaringan. Hal yang dapat dilakukan misalnya meningkatkan kapasitas


pelayanan prasarana yang ada misalnya, melebarkan jalan, menambah jaringan jalan
baru dan lain-lain.

Sistem Pergerakan. Hal yang dapat dilakukan antara lain mengatur teknik dan
manajemen lalu-lintas (jangka pendek), fasilitas angkutan umum yang lebih baik
(jangka pendek dan menengah), atau pembangunan jalan (jangka panjang).

4. Analisis Sistem Kegiatan Dengan Sistem Jaringan


Hubungan dasar antara sisem kegiatan, sistem jaringan, dan sistem pergerakan dapat
disatukan dalam beberapa urutan tahapan, yang biasanya dilakukan secara berurutan
sebagai berikut :

Aksesibilitas dan Mobilitas. Ukuran potensial atau kesempatan untuk melakukan


perjalanan. Tahapan ini bersifat lebih abstrak jika dibandingkan dengan empat
tahapan berikut, digunakan untuk mengalokasikan masalah yang terdapat dalam
sistem transportasi dan mengevaluasi pemecahan alternatif.

Pembangkit Lalu-Lintas. Bagaimana perjalanan dapat bangkit dari suatu tata guna
lahan atau dapat tertarik ke suatu tata guna lahan.

Sebaran Penduduk. Bagaimana perjalanan tersebut disebarkan secara geografis di


dalam daerah perkotaan (daerah kajian).

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-77

Pemilihan Moda Transportasi. Menentukan faktor yang mempengaruhi pemilihan


moda transportasi untuk tujuan perjalanan tertentu.

Pemilihan Rute. Menentukan faktor yang mempengaruhi pemilihan rute dari setiap
zona asal dan ke setiap zona tujuan.

5. Aksesibilitas dan Mobilitas


Aksesibilitas adalah konsep yang menggabungkan sistem pengaturan tata guna lahan
secara geografis dengan sistem jaringan transportasi yang menghubungkannya. Mobilitas
adalah suatu ukuran kemampuan seseorang untuk bergerak yang biasanya dinyatakan dari
kemampuannya membayar biaya transportasi.
Ada yang menyatakan bahwa aksesibilitas dapat dinyatakan dengan jarak. Jika suatu
tempat berdekatan dengan tempat lainnya, dikatakan aksesibilitas antara kedua tempat
tersebut tinggi. Sebaliknya, jika kedua tempat itu sangat berjauhan, aksesibilitas antara
keduanya rendah. Jadi tata guna lahan yang berbeda pasti mempunyai aksesibilitas yang
berbeda pula karena aktivitas tata guna lahan tersebut tersebar dalam ruang secara tidak
merata (heterogen).
6. Konsep Perencanaan Transportasi
Terdapat beberapa konsep perencanaan transportasi yang telah berkembang sampai saat
ini-yang paling popular adalah Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap.
Model perencanaan ini merupakan gabungan dari beberapa seri sub model yang masingmasing harus dilakukan secara terpisah dan berurutan. Sub model tersebut adalah
Aksesibilitas, Bangkitan dan tarikan pergerakan, Sebaran pergerakan, Pemilihan moda,
Pemilihan rute, Arus lalu-lintas dinamis.
7. Bangkitan dan Tarikan Pergerakan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-78

Bangkitan pergerakan adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah


pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan yang
tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona. Pergerakan lalu-lintas merupakan fungsi tata
guna lahan yang menghasilkan pergerakan lalu-lintas. Bangkitan lalu-lintas ini mencakup
Lalu-lintas yang meninggalkan suatu lokasi, Lalu-lintas yang menuju atau tiba ke suatu
lokasi.
Bangkitan dan tarikan lalu-lintas tersebut tergantung pada dua aspek tata guna lahan Jenis
tata guna lahan, dan Jumlah aktivitas dan intensitas pada tata guna lahan tersebut.
8. Jenis Tata Guna Lahan
Jenis tata guna lahan yang berbeda (permukiman, pendidikan dan komersial) mempunyai
ciri bangkitan lalu-lintas yang berbeda Jumlah arus lalu-lintas, Jenis lalu-lintas (pejalan
kaki, truk, mobil), Lalu-lintas pada waktu tertentu (kantor menghasilkan arus lalu-lintas
pada pagi dan sore hari sedangkan pertokoan menghasilkan arus lalu-lintas di sepanjang
hari.
Jumlah dan jenis lalu-lintas yang dihasilkan oleh setiap tata guna lahan merupakan hasil
dari fungsi parameter sosial dan ekonomi, seperti contoh di Amerika Serikat (Black,
1978) :
1 ha perumahan menghasilkan 60 70 pergerakan kendaraan per minggu.
1 ha perkantoran menghasilkan 700 pergerakan kendaraan per hari.
1 ha tempat parkir umum menghasilkan 12 pergerakan kendaraan perhari.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-79

9. Klasifikasi Jalan
Undang-undang nomor 13 tahun 1980 tentang jalan membedakan antara jalan umum dan
jalan khusus. Jaringan jalan umum di Indonesia dibagi kedalam jaringan jalan primer dan
jalan sekunder. Jaringan jalan primer menghubungkan kota-kota baik besar maupun kecil.
Desa-desa dan pedalaman jaringan jalan sekunder terdiri atas jalan-jalan dalam kota dan
desa kecuali jalan kota yang diklasifikasikan sebagai ruas jalan primer.
Di setiap kelompok jaringan primer dan sekunder, jalan dibagi lagi menurut fungsinya
dalam melayani arus lalu-lintas menjadi jalan arteri, kolektor dan lokal. Dasar klasifikasi
ini adalah ketentuan untuk menjamin tercapainya efisiensi pelayanan transportasi dari
lokasi produksi sampai ke pusat pemasaran dan sebaliknya.
10. Peranan Transportasi Dalam Pengembangan Wilayah dan Kota
Perencanaan transportasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan
wilayah dan kota. Rencana Kota tanpa mempertimbangkan keadaan dan pola perangkutan
yang akan terjadi seagai akibat rencana itu sendiri, akan menghasilkan kesemrawutan lalu
lintas di kemudian hari. Keadaan ini akan membewa akibat berantai cukup panjang
dengan meningatnya jumlah kecelakaan, pelanggaran lalu lintas, menuurunya sopan santn
lalu lintas dan lain-lain.
Setiap kota atau wilayah dapat dipastikan akan berkembang. Perkembangan ini dapat ke
arah positif, yaitu makin maju dan bertumbuhnya kota atau daerah tersebut, tetapi dapat
pula berkembang ke arah negatif, yaitu tidak atau surut dan akhirnya mati. Dari sini
terlihat bahwa perkembangan kota atau wilayah merupakan fungsi waktu.
Kota maupun wilayah berkembang karena bekerjanya semua faktor perkembangan yang
ada di dalamnya serta adanya perkembangan faktor luar. Apabila semua faktor ini
dibiarkan bekerja dengan cirinya masing-masing, maka mungkin sekali perkembanganya
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-80

menuju ke arah yang justru tidak diinginkan. Untuk itu diperlukan perencanaan yang juga
berarti mempengaruhi faktor perkembangan agar resultante perkembangan menuju ke
arah yang dikehendaki perencana.
Salah satu perencanaan yang diperlukan adalah perencanaan transportasi. Disini dapat
disebutkan bahwa pola jaringan jalan dapat mempengaruhi perkembangan tata guna
lahan. Rencana tata guna lahan seharsnya didukung secara langsung oleh rencana pola
jaringan jalan yang merupakan perincian tata guna lahan yang direncanakan. Jaringan
jalan, akan merupakan pengatur lalu lintas, apabila direncanakan secara tepat, dan hal ini
dapat diperkirakan sebelumya berdasarkan penetapan tata guna lahan.
h. Analisis Sarana dan Prasarana
1. Sarana/Fasilitas
Sarana merupakan fasilitas penunjang yang berfungsi untuk menyelenggarakan dan
mengembangkan kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya. Untuk itu sarana hendaknya
ditempatkan pada lokasi yang mudah di jangkau dari lingkungan permukiman dan
lokasinya menyebar secara merata di setiap kelompok masyarakat. Sarana penunjang ini
meliputi sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan, sarana perdagangan dan
jasa, sarana taman, rekreasi dan olah raga, dan sarana penunjang lainnya.
Sarana dapat diartikan sebagai suatu aktivitas atau materi yang melayani kebutuhan
individu atau kelompok individu di dalam suatu lingkungan kehidupan, khususnya untuk
kehidupan fungsional. Kelengkapan dan distribusi sarana ini akan dapat menggambarkan
sampai sejauh mana perkembangan suatu daerah. Keadaan sarana pada suatu kawasan
digambarkan dengan adanya sarana-sarana yang ada antara lain sarana pendidikan,
kesehatan, peribadatan, perdagangan dan jasa, dan lain-lain.
Analisis kebutuhan sarana disesuaikan dengan keadaan, kondisi dan karakteristik sarana
yang ada saat ini, serta akan memperkirakan kebutuhan jumlah sarana dan kebutuhan
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-81

ruangnya untuk masa mendatang. Dalam analisis penentuan jumlah dan sarana ini,
mengacu pada standard yang ada yaitu standar PU/SKBI 2.3.51. 1987 mengenai petunjuk
perencanaan kawasan perumahan kota dan berpedoman pada standar yang dikeluarkan dari
kimpraswil (SK Menteri Permukiman dan Prasarana No. 534/KPTS/M/2001) dengan
didasarkan pada jumlah penduduk pendukung. Adapun perhitungan yang digunakan
adalah:
Indeks pelayanan Indeks daya layan adalah suatu besaran yang dihasilkan dengan cara
membandingkan jumlah penduduk yang dapat dilayani atau perbandingan antara
tingkat ketersediaan sarana dan tingkat kebutuhan penduduk pada waktu yang sama.
Untuk menghitung nilai indeks dapat digunakan rumus:
indekpelayanan

pnddkygdilayani
pddkygseharusnyadilayani

Ketersediaan sarana dapat digunakan rumus:

jumlahsarana

penduduk
pendudukpendukung

a. Sarana Pendidikan
Dalam merencanakan sarana pendidikan harus bertitik tolak dari tujuan-tujuan
pendidikan yang akan dicapai. Sarana pendidikan yang berupa ruang belajar harus
memungkinkan siswa untuk dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan,
serta sikap secara optimal. Dengan demikian pengadaan ruang belajar tidak akan
lepas hubungannya dalam strategi belajar-mengajar berdasarkan kurikulum yang
berlaku. Kebutuhan ruang belajar ditentukan berdasarkan kebutuhan untuk
memberi kesempatan belajar kepada semua anak-anak usia sekolah. Oleh karena
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-82

itu dalam tahap perencanaan perlu diketahui berapa anak-anak yang memerlukan
penampungan dan berapa daya tampung yang tersedia. Berdasarkan Petunjuk
Perencanaan Kawasan Perumahan maka kriteria sarana pendidikan di wilayah studi
diantaranya:
TK (Taman Kanak-Kanak), Taman kanak-kanak adalah sarana paling dasar
yang diperuntukan anak-anak usia 5-6 tahun. Terdiri dari 2 ruang kelas yang dapat
menampung 35 sampai 40 murid per kelas dan ruang-ruang pelengkap lainnya.
Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 1.000 penduduk
dimana kanak-kanak usia 5-6 tahun = 8%. Lokasi sebaiknya di tengah-tengah
kelompok keluarga, digabung dengan taman-taman tempat bermain, balai
pengobatan, pertokoan, sehingga terjadi pengelompokan aktifitas untuk ibu-ibu.
Luas tanah yang dibutuhkan adalah 1.200 m 2 dengan luas lantai 252 m2 (15
m2/murid).
SD (Sekolah Dasar) Sekolah untuk anak-anak usia 6-12 tahun terdiri dari 6 kelas
masing-masing 40 murid. Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini
adalah 1.600 penduduk. Lokasi sebaiknya tidak menyebrang jalan lingkungan dan
masih tetap di tengah-tengah kelompok keluarga. Radius pencapaian dari area yang
dilayani maksimum 1.000 m2. Bila diperlukan penghematan area, fasilitas TK dan
SD dapat digabung dalam 1 komplek dengan SLTP dan SLTA.
SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) Adalah sekolah untuk melayani
anak-anak lulusan SD. Dimana 3 SD dilayani oleh sebuah SLTP yang dipakai
pagi sore. Terdiri dari 2 unit, jadi 6 kelas masing-masing untuk 40 murid. Minimum
penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 4.800 penduduk. Lokasi dapat
digabung dengan lapangan olah raga

atau digabung dengan sarana-sarana

pendidikan lainnya . Tidak harus dipusat-pusat lingkungan. Untuk SLTP dapat

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-83

dipakai pagi dan sore (2 sekolah). Sarana-sarana pelengkap terdiri dari Parkir, dan
Lapangan Olah Raga.
SMU (Sekolah Menengah Umum), SMU adalah kelanjutan dari SLTP di mana 1
SLTP sebaiknya dilayanai oleh 1 SMU yang terdiri dari 6 kelas, masing-masing
untuk 30 murid. Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah
4.800 penduduk, lokasi sama dengan SLTP. Sarana-sarana pelengkap terdiri dari
Parkir, danLapangan Olah Raga.
Akademi/PT (Perguruan Tinggi) Akademi/perguruan tinggi merupakan
kelanjutan dari SMU, dimana minimal sama dengan kota sedang/kecil, 1 perguruan
tinggi untuk setiap 70.000 penduduk.

b. Srarana Kesehatan
Sarana dan prasarana kesehatan merupakan sarana dan prasarana penting untuk
menunjang kehidupan penduduk. Selain pemenuhan kebutuhan pelayanan, perlu
diperhatikan pula mengenai distribusi dan alokasi penyebaran sarana kesehatan di
wilayah perencanaan. Hal ini disebabkan sarana tersebut harus dapat dicapai
dengan cepat dan mudah dari setiap lingkungan perumahan supaya pertolongan
untuk pengobatan dapat dilakukan segera mungkin.
Balai Pengobatan (BP), fungsi utama Balai Pengobatan adalah memberikan
pelayanan kepada penduduk dalam bidang kesehatan. Titik beratnya terletak pada
kesembuhan (currative) tanpa perawatan, berobat dan pada waktu tertentu juga
untuk vaksinasi (preventive). Lokasinya haruslah terletak di pusat lingkungan dekat
dengan pelayanan pemerintahan. Minimum penduduk yang dapat mendukung
sarana ini adalah 3.000 penduduk. Luas tanah yang dibutuhkan 300 m 2. Saranasarana lain yang sebaiknya ada dan mendukung sarana ini adalah Tempat parkir,
Pusat pertokoan, dan Taman kanak-kanak.
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-84

Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) dan Rumah Bersalin, Fungsi utama
dari sarana ini adalah untuk melayani Ibu-Ibu sebelum, pada waktu, dan sesudah
melahirkan serta melayani anak-anak usia 1 s/d 6 tahun. Lokasi haruslah terletak
di tengah-tengah lingkungan keluarga dan dan diusahakan tidak menyebrang jalanjalan lingkungan, radius pencapaian maksimum 2.000 m, dan minimum penduduk
yang dapat mendukung sarana ini adalah 10.000 penduduk (4 RW). Dengan luas
tanah yang dibutuhkan 1.600 m2. Sarana-sarana lain sebagai pelengkap sarana ini
adalah Tempat parkir, Balai pengobatan, Pertokoan dan Apotik.
Rumah Sakit Wilayah, Fungsi utama dari sarana ini adalah memberikan
pelayanan medis kepada penduduk dalam bidang kesehatan baik sebagai pasien
luar maupun pasien menetap (Kuratip, Preventif dan Edukatif). Rumah sakit
sebaiknya tersebar di setiap wilayah dengan dikoordinasi oleh sebuah Rumah Sakit
Umum Pusat, sehingga kasus-kasus yang jarang/khusus cukup ditangani oleh
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP).
Lokasi tidak perlu dikelompokan dengan pusat-pusat wilayah tetapi dipilih daerahdaerah yang cukup tenang dan mempunyai radius yang merata dengan daerah yang
dilayaninya. Minimum penduduk penduduk pendukung adalah 240.000 penduduk
dengan luas tanah yang dibutuhkan 8.64 Ha/86.400 m2. Sarana-sarana lain yang
mendukung/melengkapi sarana ini adalah Tempat parkir (sudah termasuk dalam
luas area), dan Taman.
Apotik, Fungsi utama dari sarana ini adalah untuk melayani penduduk di dalam
bidang obat-obatan. Lokasinya sebaiknya tersebar di antara kelompok keluarga dan
terletak di pusat-pusat RW atau pusat lingkungan. Minimum penduduk yang dapat
mendukung sarana ini adalah 10.000 penduduk dengan luas tanah yang dibutuhkan
sebesar 350 m2

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-85

c. Sarana Peribadatan
Sarana-sarana peribadatan jenis, macam dan besarannya sangat tergantung pada
kondisi setempat. Untuk mendapatkan hasil perencanaan yang sesuai, perlu
dilakukan survey setempat tentang Struktur penduduk menurut umur dan jenis
kelamin, Jenis agama/kepercayaan yang dianut, Cara atau pola melaksanakan
agama dan kepercayaan. Sarana peribadatan untuk agama Islam:
Langgar penduduk pendukung 2500 penduduk dengan luas 300 m2
Mesjid Lingkungan penduduk pendukung 30.000 penduduk dengan luas 1.750 m2
Mesjid Skala Kecamatan penduduk pendukung 120.000 penduduk dengan luas
4.000 m2
Mesjid skala kota penduduk pendukung 1.000.000 penduduk
Sedangkan untuk sarana peribadatan lain seperti gereja, vihara, dan lain sebagainya,
penduduk pendukung 30.000 dengan luas 1.750 m2
d. Sarana Perdagangan dan Jasa
Sarana perdagangan merupakan unsur karya dalam perencanaan wilayah.
Disamping sebagai fasilitas perbelanjaan juga merupakan fasilitas kerja bagi
kelompok yang lain (sebagai mata pencaharian).
Warung, Fungsi utama warung adalah tempat menjual barang-barang keperluan
sehari-hari (sabun, gula, teh, rempah-rempah, dan lain-lain). Lokasinya terletak di
pusat lingkungan yang mudah dicapai dan mempunyai radius maksimum 500 m.
Minimum penduduk pendukung yang dapat mendukung sarana ini adalah 250
penduduk.
Pasar Tradisional, Fungsi utama Pasar tradisional adalah tempat menjual barangbarang keperluan sehari-hari (sembako) dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Lokasinya terletak di pusat lingkungan yang mudah dicapai mempunyai radius
yang merata dengan daerah yang dilayaninya. Minimum penduduk penduduk
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-86

pendukung

adalah

1.000-2.000

penduduk.

Sarana-sarana

lain

yang

mendukung/melengkapi sarana ini adalah Tempat parkir (sudah termasuk dalam


luas area) dan Terminal
Pertokoan, pendukung sarana ini adalah 2.500 penduduk dengan luas tanah 1.200
m2. Fungsi utama sarana ini adalah menjual barang-barang keperluan sehari-hari.
Lokasinya terletak di pusat dan tidak menyeberang jalan lingkungan dekat dengan
taman kanak-kanak atau taman bermain. Minimun penduduk. Sarana-sarana
pelengkap sarana ini adalah :
- Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai bersama kegiatan lain pada
pusat lingkungan.
- Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan aktivitas ibu, Balai pengobatan.
- Pos Keamanan
Pusat Perbelanjaan Lingkungan, Fungsi utama sebagai pusat perbelanjaan di
lingkungan yang menjual keperluan sehari-hari termasuk sayur, daging, ikan, buahbuahan, beras, dll. Terdiri dari pasar dan toko-toko lengkap dengan bengkelbengkel reparasi kecil seperti radio, kompor, setrika, dan lain-lain. Lokasinya pada
jalan utama lingkungan dan mengelompok dengan pusat lingkungan, mempunyai
terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. Minimum penduduk yang dapat
mendukung sarana ini adalah 30.000 penduduk. Luas tanah yang dibutuhkan adalah
13.500 m2. sarana-sarana pelengkap yang seharusnya ada Tempat parkir umum,
Pos polisi, Pos pemadam kebakaran, Kantor pos pembantu dan Tempat ibadah.
Pusat Perbelanjaan dan Niaga skala Kecamatan, Fungsi utama sama dengan
pusat perbelanjaan lingkungan lain hanya dilengkapi sarana-sarana niaga lainnya
seperti kantor-kantor, bank, industri kecil, dan lain-lain. Toko-toko tidak hanya
menjual kebutuhan sehari-hari tapi juga untuk toko-toko lainnya yang terdiri dari

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-87

toko-toko pagar, bengkel reparasi, dan service juga unit-unit produksi dan tempat
hiburan. Lokasinya mengelompok dengan pusat kecamatan, dan mempunyai
pangkalan transpor untuk kendaraan. Minimum penduduk yang dapat mendukung
sarana ini adalah 120.000 penduduk dengan luas tanah yang dibutuhkan adalah
36.000 m2. sarana-sarana pelengkap yang seharusnya ada Tempat parkir umum,
Pos polisi, Pos pemadam kebakaran, Kantor pos pembantu dan Tempat ibadah.
Pusat Perbelanjaan dan Niaga skala wilayah, Fungsi utama sama dengan pusat
perbelanjaan dan niaga yang lebih kecil dengan skala usaha yang lebih besar dan
lengkap. Lokasinya dikelompokkan dengan pusat wilayah dan mempunyai terminal
bis, oplet dan kendaraan-kendaraan jenis angkutan penumpang kecil lainnya.
Minimum penduduk pendukung adalah 480.000 penduduk dengan luas tanah
96.000 m2. Sarana-sarana pelengkap diantaranya Tempat parkir umum, Pos polisi,
Pos pemadam kebakaran, Kantor pos pembantu, dan Tempat ibadah.
Pemakaman, Sarana lainnya yang masih dianggap mempunyai fungsi sebagai
daerah terbuka adalah pemakaman. Besar atau luas tanah pemakaman ini sangat
tergantung dari sistem penyempurnaan yang dianut sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing. Sebagai patokan perhitungan dapat digunakan Angka
kematian setempat, dan Sistem penyempurnaan.

e. Sarana Taman, Rekreasi dan Olah Raga


Taman skala 250 penduduk, Setiap 250 penduduk dibutuhkan minimal 1 taman
dan sekaligur tempat bermain anak-anak dengan sekurang-kurangnya 250 m2.
Lokasi taman diusahakan sedemikian rupa sehingga merupakan faktor pengikat.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-88

Taman Skala 2.500 penduduk, Untuk setiap kelompok 2.500 penduduk


diperlukan sekurang-kurangnya satu daerah terbuka disamping daerah-daerah
terbuka yang sudah ada pada tiap kelompok 250 penduduk. Daerah terbuka
sebaiknya merupakan taman yang dapat digunakan untuk aktivitas-aktivitas olah
raga seperti volley, badminton dan sebagainya. Luas area yang diperlukan untuk ini
adalah : 1.250 m2 atau dengan standar : 0,5 m2/penduduk. Lokasinya dapat
disatukan dengan pusat kegiatan RW di mana terletak TK, Pertokoan, Pos Hansip,
Balai Pertemuan dan lain-lain.
Taman dan lapangan olah raga skala 30.000 penduduk, Sarana ini sangat
diperlukan untuk kelompok 30.000 penduduk (satu lingkungan) yang dapat
melayani aktivitas-aktivitas kelompok di area terbuka, misalnya : pertandingan olah
raga, apel, dan lain-lain. Sebaiknya berbentuk taman yang dilengkapi dengan
lapangan olah raga/sepak bola sehingga berfungsi serba guna dan harus tetap
terbuka. Untuk peneduh dapat ditanam pohon di sekelilingnya. Luas area yang
dibutuhkan

untuk sarana ini adalah : 9000 m2, atau dengan standar : 0,3

m2/penduduk. Lokasi tidak harus di pusat lingkungan tetapi sebaiknya digabung


dengan sekolah sehingga bermanfaat untuk murid-murid sekaligus berfungsi
sebagai peredam gaduh (buffer).
Taman dan lapangan olah raga untuk 120.000 penduduk, Setiap kelompok
penduduk 120.000 penduduk sekurang-kurangnya harus memiliki satu lapangan
hijau yang terbuka. Sarana ini berfungis juga seperti pada kelompok 30.000
penduduk. Begitu juga bentuknya hanya lengkap dengan sarana-sarana olah raga
yang diperkeras seperti tenis, bola basket, juga tempat ganti pakaian dan WC
umum. Luas area yang diperlukan untuk sarana ini adalah 24.000 m2. Lokasinya
tidak harus di pusat Kecamatan. Sebaiknya dikelompokkan dengan sekolah.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-89

Taman dan lapangan olah raga skala 480.000 penduduk, Sarana ini untuk
melayani penduduk sejumlah 480.000 penduduk. Berbentuk suatu kompleks yang
terdiri dari Stadion, Taman-taman/tempat bermain, Area parkir, dan Bangunanbangunan fungsional. Adapun Luas tanah yang dibutuhkan untuk aktivitas ini
adalah 144.000 m2.

2. Prasrana/Utilitas
Prasarana disebut juga suatu kebutuhan pokok penduduk yang utama dan tidak bisa
dilepaskan dari kehidupannya dalam melakukan berbagai macam aktivitas. Adapun yang
termasuk dalam prasarana, yaitu prasarana air bersih, prasarana pembuangan air limbah,
tempat pembuangan sampah, drainase, jaringan listrik, jaringan telekomunikasi dan irigasi.
a.

Prasarana Listrik
Jaringan listrik merupakan suatu kebutuhan penunjang utama bagi kehidupan
manusia dalam melakukan aktivitasnya dan dikelola oleh PLN melalui jaringan kabel
di atas permukaan tanah. Prasarana listrik harus dapat melayani penduduk dalam
melakukan aktivitas ekonomi dan sosial. Pendistribusian prasarana listrik harus dapat
mencukupi kebutuhan penduduk sesuai dengan yang dibutuhkan.
Sistem pelayanan listrik secara garis besar dibagi atas tiga jenis jaringan, yaitu :

Jaringan listrik tegangan tinggi (SUTT 70/150 KV)

Jaringan listrik tegangan menengah (SUTM 6/20 KV)

Jaringan listrik tegangan rendah (SUTR 110/220 KV)

Untuk perhitungan kebutuhan listrik dapat dihitung berdasarkan asumsi yang


disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik prasarana listrik setempat. Berikut
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-90

merupakan contoh Perhitungan kebutuhan listrik pada suatu kawasan perencaan


untuk kebutuhan rumah tangga dihitung berdasarkan asumsi:
1.

kebutuhan listrik rumah tangga adl 150 VA/jiwa atau 0,15 KVA/jiwa

2.

Kebutuhan listrik non rumah tangga adalah 41,5 % yang terbagi untuk :

3.

- Penerangan jalan

: 1,5 %

- Komersil

: 15 %

- Pemerintah dan Pelayanan Umum

: 15 %

- Cadangan

: 10 %

Satu keluarga disumsikan terdiri dari 5 jiwa/KK


Jumlah pelanggan = jumlah penduduk/5 jiwa

4.

Standar kebutuhan listrik untuk pemukiman adalah sebesar 900 watt/rumah


Kebutuhan daya listrik = jumlah KK x 900 watt

b. Prasrana Telekomunikasi
Sistem komunikasi secara fisik menggunakan kabel, yaitu dengan cara langsung.
Sistem kerjanya yaitu berawal dari central yang kemudian diteruskan ke MDF (Main
Distribution Frame). Rangka pembagi utama yang berfungsi sebagai pembagi
informasi dari central, kemudian dari MDF akan diteruskan melalui kabel primer
yaitu melalui rumah kabel dan langsung melalui DP (Dudukan Penyaluran). Dari
rumah kabel tersambung kedudukan penyaluran dan langsung menuju rumah melalui
kabel penanggal.
c. Prasarana Air Bersih
Kebutuhan air bersih baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, komersial
maupun untuk kebutuhan lainnya dan terpenuhi melalui beberapa sumber, yaitu air

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-91

ledeng yang dikelola oleh PDAM, air sumur bor, sumur galian, air permukaan serta
mata air. Kapasitas air bersih harus mencukupi kebutuhan penduduk jika
menggunakan air bersih dari PDAM, sehingga perlu dilakukan pembangunan saranasarana air bersih.
Dalam mendesain suatu sistem instalasi pengolahan air bersih, yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut :
- Perhitungan perkiraaan kebutuhan air untuk daerah perencanaan semaksimal
mungkin

dapat

memenuhi

kebutuhan

pemakai,

dihitung

berdasarkan

pengalokasian air untuk semua unsur daerah perencanaan


- Nilai kehilangan air yang terjadi selama proses pengolahan dan pendistribusian
Tujuan pengembangan prasarana penyediaan air bersih adalah Melayani wilayah
perkotaan dan produksi tinggi, Menciptakan tarikan perkembangan wilayah, dan
Melayani wilayah-wilayah dengan ketersediaan air yang terbatas (tidak mencukupi
kebutuhan).
Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat dan
aktivitas sosial ekonomi adalah sebagai berikut :
- Harus dapat memenuhi persyaratan kualitas sebagai air minum, baik secara fisik,
kimia dan biologis serta cukup secara kuantitas untuk memenuhi segala kebutuhan
yang diperlukan terutama pada jam puncak. Secara kualitas penyediaan air bersih
harus memenuhi persyaratan fisik, kimiawi dan biologis, yaitu tidak berasa, tidak
berbau, tidak mengandung zat-zat kimia dalam jumlah berlebih serta tidak
mengandung bakteri yang dapat membahayakan kesehatan. Secara kuantitatif,
kapasitas sumber air harus dapat menjamin kontinuitas suplai air dan cadangan
yang cukup terutama pada jam puncak dan hari maksimum serta cadangan air bagi
kebutuhan pemadam kebakaran dan keperluan khusus lainnya.
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-92

- Pendistribusian air dari instalasi dan reservoir ke daerah pelayanan harus dapat
terjamin kontinuitasnya dengan tekanan yang cukup.
Kebutuhan air bersih dapat diperhitungkan berdasarkan standar-standar berikut ini:
a. Standar Kebutuhan rata-rata = 100 l/org/hari
b. Kebutuhan rata-rata rumahtangga = 5 x 100 l/org/hari
c. Fasilitas sosial dan perkantoran = 1/6 kebutuhan rumahtangga
d. Komersial = 1/6 kebutuhan rumahtangga
e. Industri = 1/12 kebutuhan rumahtangga
f. Cadangan kebocoran = 10 % kebutuhan total kegiatan
g. Pemadam kebakaran = 10 % kebutuhan total kegiatan atau menggunakan
perhitungan :

Kebutuhan Domestik = Jumlah Penduduk x Standar Kebutuhan

Kebutuhan Non Domestik = 20-30% Kebutuhan Domestik

Fasilitas Umum/Fas.Sosial = 10-20 % (keb. domestik + Keb. Non Domestik)

Hidran dan Kebocoran = 20-30 % (Keb. domestik + Keb. Non Domestik)

d. Prasarana Irigasi
Irigasi merupakan suatu saluran yang digunakan/dimanfaatkan untuk pengairan
pertanian lahan basah (sawah). Irigasi mempunyai dua sistem pengairan, yaitu :
- Irigasi teknis merupakan suatu saluran pengairan sawah yang menggunakan teknik
pembangunan beton.
- Irigasi non teknis yaitu suatu saluran irigasi secara alami
e. Prasarana Pembuangan Air Limbah
Air limbah merupakan salah satu bentuk sampah dalam wujud cair yang merupakan
sisa dari berbagai kegiatan penduduk. Perencanaan air limbah biasanya dialirkan
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-93

melalui sistem sewerage, yakni saluran pembuangan air limbah yang akhirnya
dibuang pada sungai-sungai terdekat setelah melalui penampungan. Fungsi dari
pengolahan air limbah agar air limbah tersebut tidak menimbulkan polusi pada air
sungai dimana air limbah tersebut dialirkan. Adapun sumber-sumber air limbah, yaitu
:
- Rumah tangga/domestik, Banyaknya antara 70% - 80 % dari pemakaian air
minum/air bersih. Air buangan domestik dapat berupa:
Air buangan Black Water, air buangan yang berasal dari kakus, dimana air
buangan ini mengandung padatan tinja.
Air buangan Grey Water, yaitu air buangan yang berasal dari sumber nonkakus. Misalnya: air bekas mandi, cuci dan sebagainya.
- Kegiatan komersil, Kegiatan bisnis, jasa, perhotelan dan lain-lain yang
menyebabkan pencemaran di perkotaan. Ini mendekati kegiatan rumah tangga dan
industri. Hasil kegiatannya bersifat anorganik dan organik. Air limbah dapat
dibagi dua menurut sifatnya yaitu ;
Organik adalah hasil kegiatan organisme atau alamiah, contoh kotoran manusia.
Anorganik adalah hasil kegiatan yang tidak terdapat di dalam tubuh manusia.
Contoh , pencemaran air limbah yang berasal dari pabrik.
- Kegiatan industri yaitu kegiatan membuang air limbah yang sifatnya anorganik.
- Sumber-sumber lain seperti ; kegiatan perkebunan, pertanian dengan
menggunakan pestisida.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-94

f. Drainase
Drainase merupakan saluran untuk mengalirkan air hujan apabila hujan tiba. Fungsi
drainase pada suatu wilayah dapat menentukan keadaan wilayah dari segi kebersihan
dan estetika, karena jaringan drainase yang berfungsi dengan baik agar terjaganya
badan jalan dari genangan air hujan dan tidak akan menimbulkan banjir. Sistem
drainase harus dapat menampung air hujan dan mengalirkannya secepat mungkin ke
dalam saluran pembuangan. Kecepatan aliran di dalam saluran drainase tidak boleh
merusak badan saluran dan tidak menimbulkan erosi, dengan batasan self cleaning
pada kecepatan maksimum. Saluran drainase dapat berbentuk:
- Saluran Alami, Saluran alami dapat berupa saluran/parit kecil di halaman,
saluran-saluran kecil dan sungai-sungai besar yang ada. Sungai-sungai besar
bahkan dijadikan saluran drainase primer.
- Saluran Buatan, Saluran buatan berupa saluran tersier (saluran pelayanan) dan
sekunder yang dibuat di kawasan-kawasan perumahan, perkantoran dan kawasan
komersial. Saluran ini mengalirkan air hujan dari saluran drainase tersier ke
saluran drainase sekunder dan terakhir menuju saluran drainase primer, dimana
saluran drainase primer berupa sungai-sungai besar yang ada.
Untuk menentukan saluran primer, sekunder dan primer dikeluarkan pedoman
Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu, yaitu :

Saluran Primer

Saluran Sekunder : lebar 0,5-2m

Saluran Tersier

Sumber Buangan

: lebar alas 2 m

: lebar kurang dari 0,5m

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-95

Sumber air buangan dapat terdiri dari : Air limbah (rumah tangga, fasilitas dan
industri). Besarnya volume air limbah yang kan ditampung tergantung pada jumlah
pemakainya (jumlah penduduk beserta segala kebiasaannya). Sumber-sumber
penghasil limbah cair dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a. Pemukiman, besarnya air limbah yang akan dihasilkan diperkirakan sebesar 70%
dari kebutuhan air bersihnya, sedangkan perkembangan/peningkatan volume
limbahnya adalah berbanding lurus dengan peningkatan jumlah penduduknya.
b. Kegiatan komersial

dan industri, besarnya air limbah yang dihasilkan

diperkirakan sebesar 60% dari kebutuhan air bersihnya, sedangkan


perkembangan/peningkatan volume limbahnya berbanding lurus dengan
peningkatan skala industri dan luas tanahnya/lahannya.
c. Kegiatan pendidikan, peribadatan, perkantoran, pelayanan umum dan
sebagainya diperkirakan sebesar 50% dari kebutuhan air bersihnya.
d. Air hujan (air limpasan)
e. Untuk memperhitungkan volume air limpasan yang dihasilkan oleh kota sebagai
dasar penentuan tipe saluran dan penempatannya digunakan rumus sebagai
berikut:

V =c.A.R

Keterangan :
V = Volume air limpasan, m3
c = Koefisien dasar bangunan
A = Luas daerah/area, m2
R = Curah hujan rata-rata, mm/hari

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-96

Sehingga :
Volume Air Buangan = Volume Air Limpasan + Volume
Air Limbah
g. Prasarana Persampahan
Sampah merupakan suatu sisa dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh penduduk
pada suatu wilayah. Sampah tidak dapat dihindarkan dari kegiatan penduduk, tetapi
hal yang lebih penting adalah bagaimana pengelolaan sampah tersebut dilakukan
sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kebersihan. Secara garis besar sampah
dapat digolongkan menjadi:
- Sampah golongan I, yaitu sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang mudah
mengalami pembusukan dan mudah musnah. Contoh : sampah yang berasal dari
sisa pengolahan, sisa makanan, sayur-mayur, dan sebagainya
- Sampah golongan II, yaitu sampah yang terdiri dari dari bahan-bahan yang mudah
dimusnahkan tetapi sukar mengalami pembusukan dan berasimilai dengan tanah.
Contoh : karton, kertas, kayu, dan sebagainya
- Sampah golongan III, yaitu sampah yang sukar dimusnahkan dan tidak mengalami
pembusukan. Contoh : besi, batu, pasir serta bahan-bahan konstruksi lainnya.
Mengingat sampah merupakan salah satu indikator kesehatan dan kebersihan
lingkungan di suatu wilayah maka sampah tersebut dibuang dan diolah sehingga tidak
menimbulkan pencemaran dan membahayakan kehidupan manusia atau penduduk.
Tempat pembuangan akhir adalah untuk tempat terakhir dari pembuangan sampah
dan tempat pengelolaan samapah. Syarat-syarat tempat pembuangan akhir
diantaranya Mempunyai jarak yang jauh dari sumber-sumber air maksimum 5 km,
Bebas banjir dan Harus jauh dari permukiman penduduk. Adapun Jenis-jenis
pengelolaan sampah diantaranya adalah sebagai berikut :
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-97

- Open dumping merupakan jenis pengelolaan tahap akhir sampah yang paling
sederhana.
- Sistem pengurugan sampah merupakan jenis pengelolaan tahap akhir sampah
dengan cara penimbunan.
- Incinerator merupakan tempat pembuangan sampah akhir dengan cara dibakar
dengan suhu 900-1400 derajat celcius.
Untuk menghitung volume sampah kota pertahun yang digunakan sebagai standar
bagi perhitungan kebutuhan Transfer depo/TPS, Tempat pembuangan akhir (TPA)
dan kebutuhan prasarana penunjang lainnya digunakan rumus-rumus berikut ini :

Volume sampah kawasan pertahun (Qk)

Qk = q . P

Dimana : P = Jumlah penduduk


Q = Standar kuantitas timbunan sampah, l/org/hari

Berdasarkan tingkat ekonomi dengan patokan :


a. Ekonomi rendah, q = 1,686 l/org/hari
b. Ekonomi sedang, q = 1,803 l/org/hari
c. Ekonomi tinggi,

q = 1,873 l/org/hari

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-98

i.

Analisis Intensitas Pemanfaatan Lahan


Penetapan intensitas penggunaan lahan merupakan penetapan dari rencana tiga dimensi yang
mencakup penetapan Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Koefisien Dasar Bangunan(KDB)
dan lebar sempadan bangunan. Tujuan dari rencana intensitas ini adalah untuk menciptakan
keseimbangan dan keserasian antara manusia dengan lingkungan serta antara kegiatankegiatan kota dengan lingkungannya sebagai upaya meningkatkan kualitas estetika
lingkungan kota. Penentuan KDB dan KLB merupakan salah satu kriteria yang penting
berhubungan dengan pengendalian lingkungan, karena KDB dan KLB ini akan sangat
berperan dalam membentuk estetika yang terbentuk dari keseragaman persen lahan yang
tertutup oleh bangunan dan ketinggian bangunan dan dasar pertimbangan untuk menetapkan
daya tampung optimal suatu wilayah
Hal-hal yang perlu diketahui dalam proses pembentukan KDB dan KLB, yaitu:
Penentuan KDB didasarkan pada pertimbangan besarnya lahan terbangun dan
kepadatan penduduknya.
KLB merupakan ketentuan tentang jumlah lantai bangunan atau ketinggian bangunan
pada suatu wilayah. Penerapan KLB ini disesuaikan juga dengan daya dukung lahan
yang ada dan intensitas penggunaan lahan suatu wilayah.
Aspek umum yang diperkirakan sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan intensitas
peruntukkan lahan adalah :
Fungsi dari unit-unit lingkungan kawasan perkotaan (setara dengan beberapa desa atau
kelurahan).

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-99

Kondisi fisik dasar untuk setiap unit lingkungan atau setiap blok peruntukkan
kawasan, yang meliputi daya dukung tanah, kondisi geologi, kestabilan tanah dan pola
sirkulasi angin.
Pemanfaatan unsur-unsur visual yang menarik.
Keserasian dan keharmonisan lansekap kota.
Keseimbangan antara unsur-unsur alami dengan unsur-unsur buatan.
Sedangkan aspek-aspek khusus yang diperhatikan adalah sebagai berikut :
Struktur kegiatan untuk setiap unit lingkungan maupun blok peruntukkan.
Struktur jaringan jalan dalam kaitannya dengan penetapan garis sempadan bangunan.
Kecenderungan perkembangan sosial ekonomi yang terjadi di wilayah perencanaan.
Gambar 5.3
Diagram Analisis Penataan Lingkungan Dan Bangunan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-100

1. Analisis Penentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB)


Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka prosentase berdasarkan perbandingan
luas lantai dasar bangunan terhadap luas tanah perpetakan. Koefisien dasar bangunan
diperlukan untuk membatasi luas lahan yang tertutup perkerasan, sebagai upaya untuk
melestarikan ekosistem, sehingga dalam lingkungan yang bersangkutan sisa tanah
sebagai ruang terbuka masih menyerap atau mengalirkan air hujan ke dalam tanah.
Batasan Koefisien Dasar Bangunan adalah :

Batasan KDB adalah suatu nilai hasil perbandingan antara luas seluruh lantai dasar
bangunan dan luas daerah perencanaan

Batasan KDB dinyatakan dalam persen (%)

Analisis KDB pada masing-masing blok peruntukan meliputi tahapan-tahapan sebagai


berikut :
a. Analisis daya dukung lingkungan, yang mengidentifikasi kawasan-kawasan
berdasarkan kemampuan wilayah untuk menampung suatu kegiatan di atasnya, yang
meliputi :

Kawasan Pengendalian Ketat : Kawasan yang diperkenankan untuk memiliki


bangunan di atasnya, namun dengan batasan-batasan tertentu.

Kawasan Intensif : Kawasan yang diperkenankan sebagai kawasan terbangun


dengan kepadatan bangunan tinggi.

Nilai lahan pada suatu kawasan, baik berupa nilai ekonomis maupun nilai
sosial.

Teknik perhitungannya :
Ia = cH ( A ) / 1000

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-101

Dimana :
Ia

= imbuhan alami (sebelum terjadi perubahan fungsi lahan)


(m3/tahun)

= angka koefisien resapan

= curah hujan rata-rata tahunan (mm)

= kawasan terbuka

b. Analisis Kebijakan Kepadatan Bangunan yang terdapat dalam Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Bandung.
Blok peruntukan Analisis Rencana Struktur Tata Ruang, dengan meninjau
sistem pusat pewilayahan. Semakin tinggi hirarki pusat pelayanannya, maka
semakin tinggi pula kepadatan bangunan yang diperbolehkan.
Analisis Pemanfaatan Ruang, dengan meninjau fungsi masing-masing blok
dalam kawasan.
Analisis penentuan Koefisien Dasar Bangunan dengan melalukan analisis super
impose analisis sebelumnya sehingga dapat dihasilkan arahan KDB pada setiap
blok. Sedangkan pengelompokan blok peruntukan berdasarkan KDB dapat
dibagi menjadi:
i.

dengan Koefisien Dasar Bangunan Sangat Tinggi (> 75%),

ii.

Blok peruntukan dengan Koefisien Dasar Bangunan Tinggi (50% sampai


75%),

iii.

Blok peruntukan dengan Koefisien Dasar Bangunan Menengah (20%


sampai 50%),

iv.

Blok peruntukan dengan Koefisien Dasar Bangunan Rendah (5% sampai


20%),

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-102

v.

Blok peruntukan dengan Koefisien Dasar Bangunan sangat Rendah (<


5%).

2. Analisis Koefisien Lantai Bangunan (KLB)


KLB adalah angka perbandingan antara jumlah seluruh luas lantai dari seluruh
bangunan terhadap luas tanah perpetakan/daerah terbangun pada daerah perencanaan
yang dikuasai sesuai dengan rencana kota. KLB ditetapkan sesuai dengan rencana
intensitas pemanfaatan lahan dari suatu unit lingkungan/kawasan berdasarkan rencana
kota yang ada, sekaligus dapat membatasi ketinggian bangunan. Besarnya angka KLB
ditentukan berdasarkan jumlah tingkat bangunan dikalikan dengan KDB.
Kriteria pengembangan dan pengendalian bangunan dalam hal ketinggian di setiap unit
lingkungan akan tergantung pada berbagai faktor, diantaranya sebagai berikut :

Karakteristik fisik di setiap unit lingkungan yang bersangkutan dalam hal ini
mencakup masalah kemiringan tanah, struktur geologi dan hidrologi.

Tingkat penggunaan ruang dan struktur ruang.

Harga dan nilai tanah yang sangat mempengaruhi intensitas kawasan.

Aspek urban desain, kesan ritmik, kesan monumental, sinar matahari serta
kesesuaian dengan lingkungan sekitarnya.

Secara sederhana analisis Koefisien Lantai Bangunan dapat diperoleh dengan metode
perhitungan sebagai berikut :
KLB = Jumlah lantai x KDB
Adapun tahapan analisis untuk menentukan KLB pada masing-masing blok yaitu
sebagai berikut : Analisis daya dukung lingkungan, yang mengidentifikasi kawasankawasan berdasarkan kemampuan wilayah untuk menampung ketinggian bangunan
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-103

yang diperkenankan. Kriteria kemampuan kawasan meliputi pertimbangan aspek : (1)


KKOP-keamanan ketinggian penerbangan, (2) Pencahayaan, (3) Angle-Sudut, dan (4)
Tinggi maksimum bangunan pada umumnya ditentukan berdasarkan ketentuan :

h 1

1
d
2

Analisis penentuan Koefisien Lantai Bangunan dengan melakukan analisis super


impose analisis sebelumnya sehingga dapat dihasilkan arahan KDB pada setiap blok.
Adapun standar yang digunakan untuk mengatur ketinggian bangunan adalah sebagai
berikut :

Blok peruntukan ketinggian bangunan sangat rendah adalah blok dengan


bangunan tidak bertingkat dan bertingkat maksimum 2 lantai (KLB maksimum =
2 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan maksimum 12 m dari lantai dasar:

Blok peruntukan ketinggian bangunan rendah adalah blok dengan bangunan


bertingkat maksimum 4 lantai (KLB max = 4 x KDB) dengan tinggi puncak
bangunan maksimum 20 m dan minimum 12 m dari lantai dasar.

Blok peruntukan ketinggian bangunan sedang dengan bangunan tingkat


maksimum 8 lantai (KLB maksimum = 8 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan
maksimum 36 m dan minimum 24 m dari lantai dasar.

Blok peruntukan ketinggian bangunan tinggi dengan bangunan bertingkat


minimum 9 lantai (KLB = 9 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan minimum
40 m dari lantai dasar.

Blok peruntukan bangunan sangat tinggi dengan bangunan bertingkat minimum


20 lantai (KLB = 9 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan minimum 84 m dari
lantai dasar.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-104

3. Analisis Perpetakan Bangunan


Analisis standar untuk perpetakan bangunan yang terdapat pada setiap blok adalah :
Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi I (di atas 2.500 m2)
Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi II (1.000-2.500 m2)
Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi III (600-1.000 m2)
Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi IV (250-600 m2)
Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi V (100-250 m2)
Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi VI (50-100 m2)
Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi VII (di bawah 50 m2)
Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi VIII (rumah susun/flat)
4. Analisis Sempadan Bangunan
Pengaturan Sempadan Bangunan, adalah lebar ruang bebas bangunan yang dihitung
dari batas dinding bangunan terluar hingga batas pinggir daerah milik jalan, dari jalan
yang ada di depan, di belakang dan di samping bangunan. Maksud pembuatan sempadan
bangunan ini adalah untuk pengaturan ruang terbuka antara jalan dengan bangunan,
bangunan dengan bangunan, untuk sirkulasi penghuni, ventilasi cahaya matahari atau
kemungkinan bahaya kebakaran.
Pada umumnya penetapan sempadan bangunan dipengaruhi oleh aspek-aspek sebagai
berikut :

Luas Petakan Lahan/Kavling; Luas kavling berbanding lurus dengan sempadan


bangunan. Semakin lebar luas kavling semakin besar pula sempadan bangunan
yang ditetapkan, begitu juga sebaliknya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-105

Jenis Penggunaan Bangunan; Bangunan umum, bangunan gudang dan bangunan


pabrik serta bangunan perkantoran, sempadan bangunannya ditetapkan lebih besar
dari bangunan perumahan.

Struktur Jaringan Jalan; Makin tinggi hirarki jalan yang berada dihadapan bangunan
ditetapkan sempadan bangunan lebih besar, begitu juga sebaliknya.

Kepadatan Bangunan; Semakin padat bangunan, semakin kecil sempadan


bangunannya, begitu juga sebaliknya.

Analisis Pengaturan sempadan dilakukan untuk menciptakan keteraturan bangunan dan


mempertimbangkan bahaya kebakaran, sirkulasi udara, cahaya matahari dan sirkulasi
manusia dalam halaman rumah. Berbagai garis sempadan antara lain sebagai berikut :
Garis Sempadan pagar

Untuk jalan dengan lebar lebih dari 10 m berjarak 1,5 m dari siring jalan dan lebar
trotoar

Untuk jalan dengan lebar 6 m s/d 10 m berjarak 1 m dari siring jalan

Untuk jalan dengan lebar kurang dari 6 m berjarak 0,5 m dari siring jalan

Garis Sempadan muka bangunan dan sempadan samping bangunan yang menghadap
jalan minimum berjarak 0,5 m x lebar jalan dan 1 m dari siring jalan
Garis Sempadan samping bangunan bukan jalan dan belakang bangunan, berjarak
minimum 1,5 m dari dinding bangunan.
Untuk memproteksi bangunan terhadap bahaya kebakaran dan memudahkan operasi
pemadaman, maka perlu adanya penentuan terhadap jarak antar bangunan yang
ditentukan berdasarkan tinggi bangunan tersebut. Penentuan jarak antar bangunan (garis
sempadan bangunan) antara lain :
o Tinggi bangunan kurang dari 8 meter, maka jarak minimum antar bangunan
berjarak 3 meter.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-106

o Tinggi bangunan antara 8-14 meter, maka jarak minimum antar bangunan berjarak
3 s/d 6 meter.
o Tinggi bangunan antara 14-40 meter, maka jarak minimum antar bangunan berjarak
6 s/d 8 meter.
o Tinggi bangunan lebih dari 40 meter, maka jarak minimum antar bangunan berjarak
8 meter.
5. Analisis Penanganan Bangunan
Untuk penanganan bangunan perkotaan terdapat 5 (lima) macam bentuk penanganan
yang dapat dilakukan, yaitu :
Peningkatan; dilakukan pada daerah dengan kondisi bangunan yang masih
minimalis sedangkan daerah tersebut mempunyai pemanfaatan ruang yang cukup
tinggi
Perbaikan; dilakukan pada bangunan yang mengalami kerusakan tetapi masih
digunakan sebagai sarana kota seperti kantor, sekolah, dll.
Pembaharuan; dilakukan pada bangunan dengan konstruksi lama yang dibangun
kembali dengan konstruksi baru agar bangunan tersebut lebih kuat/kokoh.
Pemugaran; dilakukan pada bangunan lama yang masih dipakai sampai sekarang.
Pemugaran ini dilakukan untuk menambah kekuatan bangunan tanpa merubah
bentuk asli bangunan
Perlindungan; dilakukan terutama pada bangunan bersejarah/gedung bersejarah.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-107

4. Analisis Sistem Jaringan Jalan


Analisis sistem pergerakan dirumuskan sebagai upaya untuk mengidentifikasi dan
memperkirakan dampak-dampak sistem pergerakan dari adanya suatu kegiatan rencana
pembangunan dan juga sebagai konsekuensi dari adanya :
1) Pertumbuhan
a. Jika diketahui / diharapkan bahwa penduduk di suatu tempat akan bertambah dengan
pesat.
b. Jika tingkat pendapatan meningkat, karena hal ini mengakibatkan meningkatnya
jumlah kendaraan, perumahan, penurunan kepadatan rumah dan lain-lain.
2) Keadaan Lalu Lintas
a. Apabila kesesakan dan kemacetan di jalan meningkat
b. Apabila sistem pemindahan massa tidak ekonomis lagi dan dengan demikian perlu
koordinasi.
3) Perkembangan Wilayah
Apabila pemerintah kota menghendaki mempengaruhi perkembangan dengan perencanaan
transport.
Secara rinci, metode-metode analisis sistem pergerakan yang akan digunakan dalam kegiatan
ini akan diuraikan pada pembahasan sub bab di bawah ini.
c. Analisis Kapasitas Ruas Jalan
Perhitungan Kapasitas Ruas jalan dilakukan dengan menggunakan metode Indonesian
Highway Capacity Manual (IHCM 1997 : III-12) untuk daerah perkotaan, dengan
formulasi sebagai berikut :

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-108

C = Co x FCw x FCsp x FCsf x FCcs (smp/jam)

Keterangan :
C :

Kapasitas ( smp / jam )

Co

FCw

: Faktor koreksi kapasitas untuk lebar jalan

Kapasitas Dasar ( smp /jam)

FCsp : Faktor koreksi kapasitas akibat pembagian arah (tidak berlaku untuk jalan satu
arah)
FCsf

: Faktor koreksi kapasitas akibat gangguan samping

FCcs : Faktor koreksi kapasitas akibat ukuran kota (jumlah penduduk)

Rincian dari masing-masing variabel pada formula di atas, diuraikan sebagai berikut :

Kapasitas Dasar (Co)


Kapasitas dasar Co ditentukan berdasarkan tipe jalan sesuai dengan nilai yang tertera pada
Tabel di bawah ini.
d. Analisis Bangkitan Lalu Lintas
Bangkitan lalu-lintas adalah banyaknya lalu-lintas yang ditimbulkan oleh suatu zone atau
daerah per satuan waktu. Jumlah lalu-lintas bergantung pada kegiatan kota, karena
penyebab lalu-lintas ialah adanya kebutuhan manusia untuk melakukan kegiatan
berhubungan dan mengangkut barang kebutuhannya.

Qt.m.p = a0 + a1x1 + a2x2 + ... + anxn

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-109

Keterangan :
Q = Jumlah lalu-lintas (t,m,p menunjukkan waktu, macam kendaraan, dan maksud
perjalanan)
x1 = Peubah penentu
a1 = Koefisien regresi (i = 0, 1, ..., n)
Produksi pergerakan dapat dihitung berdasarkan persamaan bangkitan lalu-lintas :
Y = k + b1x1 + b2x2 + ... +
bnxn

Keterangan :
Y = Jumlah pergerakan
Xn = Peubah bebas seperti jumlah mobil dalam keluarga, banyaknya anggota
keluarga dan sebagainya.
bn = Koefisien regresi
k = Tetapan/konstanta
e. Beberapa Alternatif Metodologi Distribusi Pergerakan
Selain metode-metode analisis yang telah diuraikan di atas, dirumuskan pula beberapa
alternatif metodologi distribusi pergerakan yang kemungkinan akan digunakan dalam
kegiatan penyusunan rencana tata ruang Kota SWP Gedebage, diantaranya yaitu :

f.

Trip Distribusi ( Distribusi lalu lintas)


Adalah mengenai dari mana dan kemana lalu lintas yang dibangkitkan tersebut tersalur.
Distribusi lalu lintas tidak mengandung arti penyaluran pada macam kendaraan melainkan
hanya mengandung pengertian asal dan tujuan perjalanan.

g. Analisis Fungsi Jalan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-110

1) Sistem Jaringan Jalan Primer, antara lain :


a) Jalan Arteri Primer, dengan syarat :

Kecepatan rencana rata-rata tinggi 60 Km/jam dengan lebar badan jalan tidak
kurang dari 8 m

Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja) yang diukur dari as jalan tidak
kurang dari 20 m

Mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata

Tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik, lalu lintas lokal dan kegiatan
lokal

Mempunyai peran pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan


wilayah di tingkat nasional

Menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat


kegiatan dengan skala nasional

Melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, bervolume besar
dan dan bernilai ekonomis yang tinggi

b)

Jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna

Jalan Kolektor Primer :

Didesain berdasarkan kecepatan rencana rata-rata sedang, dengan ketentuan


paling rendah 40 Km/jam dengan lebar jalan tidak kurang dari 7 m

Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja) yang diukur dari as jalan tidak
kurang dari 15 m

Mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata

Tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik, lalu lintas lokal dan kegiatan
lokal

Jumlah jalan masuk dibatasi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-111

Memiliki fungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri


perjalanan jarak sedang dalam lingkup wilayah

Mempunyai peran pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan


wilayah di lingkup wilayah

Menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat


kegiatan dengan skala wilayah

b) Jalan Lokal Primer :

Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20 Km/jam dengan


lebar jalan tidak kurang dari 6 m

Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja) yang diukur dari as jalan tidak
kurang dari 10 meter

Memiliki fungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat
dalam lingkup skala wilayah tingkat lokal

Jumlah jalan masuk tidak dibatasi

Mempunyai peran pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan


wilayah di lingkup skala wilayah tingkat lokal

Menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat


kegiatan dengan skala wilayah tingkat lokal

2) Jaringan Jalan Sekunder, antara lain :


a) Jalan Arteri Sekunder

Kecepatan rencana 30 Km /jam dengan lebar badan jalan tidak kurang dari 8 m

Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja) yang diukur dari as jalan tidak
kurang dari 20 m

Mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-112

Tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik, lalu lintas lokal dan kegiatan
lokal

Jumlah jalan masuk dibatasi

Mempunyai peran pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat pada
skala perkotaan

Melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, bervolume besar
dan dan bernilai ekonomis yang tinggi

b) Jalan Kolektor Sekunder

Kecepatan rencana 20 Km /jam dengan lebar badan jalan tidak kurang dari 7m

Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja) yang diukur dari as jalan tidak
kurang dari 7 m

Memiliki fungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri


perjalanan jarak sedang di lingkup perkotaan (dalam kota)

Sistem jaringan jalan dengan peran pelayanan distribusi dan jasa untuk
masyarakat di dalam kawasan perkotaan, dan memiliki fungsi sebagai
penghubung antara angkutan utama dengan angkutan setempat

c) Jalan Lokal Sekunder


Kecepatan rencana 10 Km /jam dengan lebar badan jalan tidak kurang dari 5 m
Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja) yang diukur dari as jalan tidak
kurang dari 4 m
Tidak diperuntukan untuk kendaraan roda tiga atau harus mempunyai lebar jalan
tidak kurang dari 3,5 m
Memiliki fungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat
dalam lingkup skala perkotaan tingkat lokal

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-113

Sistem jaringan jalan dengan peran pelayanan distribusi dan jasa untuk
masyarakat di dalam kawasan perkotaan tingkat lokal, dan sebagai penghubung
dengan lingkungan permukiman di kawasan perkotaan
(Sumber: UU no 38 tahun 2004 tentang Jalan)
f. Prasarana Penunjang
a)

Terminal penumpang antar kota


Pengembangan

dan

pengelolaan

terminal

angkutan

antar

kota

perlu

mempertimbangkan faktor-faktor yang terkait dengan kegiatan sistem transportasi


secara keseluruhan, faktor-faktor tersebut adalah :

Lokasi terminal ditempatkan di luar pusat kota atau di daerah pengembangan

Terletak dekat dengan jaringan jalan primer yang melayani lalu lintas regional

Tersedia sistem utilitas yang memadai

Masih dalam jarak yang ekonomis dan efektif dengan kawasan pusat kota,
permukiman dan perkantoran

Terletak pada daerah yang datar dan memiliki lahan yang cukup luas termasuk
kemungkinan pengembangan berikutnya dan harganya terjangkau.

b)

Terminal angkutan penumpang dalam kota


Terminal angkutan dalam kota atau terminal lokal memiliki beberapa kriteria sebagai
berikut

Arus lalu lintas angkutan kota bersifat menyebar ke seluruh wilayah kota

Terletak di dekat jalan kolektor atau jalan fungsi sekunder yang melayani lalu lintas
lokal

Terletak dekat dengan daerah pemukiman yang dilayani atau pusat-pusat kegitaan
lainnya yang membutuhkan pelayanan lalu lintas lokal seperti pusat perdagangan
dan sebagainya

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-114

Terletak di SWP dan sesuai dengan RUTRK daya dukung lahan dan lingkungan
sekitar

j.

Tersedianya sistem utilitas yang memadai

Analisis Tapak
Dalam analisis ini diperlukan beberapa analisis secara deskriptif terhadap faktor tapak yang
akan bermanfaat dalam proses perencanaan dan perancangan. Sedangkan untuk mengetahui
tingkat kelayakan kawasan sebagai kawasan layak bangun atau tidak, maka akan diterapkan
analisis tapak. Adapun variabel analisis tapak tersebut terdiri dari topografi, jenis tanah (soil),
geologi, hidrologi, klimatologi, vegetasi, kebisingan, dan best view.
Penyelidikan tapak yang dilakukan bersamaan dengan formulasi tujuan dapat menjamin
refleksibilitas pemanfaatan potensi tapak serta pemaduan bentuk-bentuk alam atau buatan
pada rancangannya. Analisis tapak pada hakekatnya terdiri atas dua komponen dasar yaitu:

Observasi tapak guna mengumpulkan semua fakta yang berhubungan dari sumber
informasi.

Penafsiran atau penilaian akan tiap-tiap data untuk mengetahui relevansinya terhadap
tujuan studi.

Adapun analisis tapak yang dibahas dalam pekerjaan ini meliputi: analisis kemiringan, analsis
vegetasi, analisis aliran air, best view, analisis pencahayaan matahari, analisis kebisingan, dan
analisis orientasi angin.
Analisis Kemiringan
Analisis kemiringan akan sangat membantu untuk mengetahui daerah-daerah yang penting
pada tapak untuk lokasi bangunan, jalan, tempat parkir dan lain-lain. Analisis kemiringan
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-115

juga dapat menunjukkan apakah suatu konstruksi layak untuk dilaksanakan. Pola
kemiringan lahan secara menyeluruh yang dihasilkan dari analisis kemiringan akan sangat
membantu dalam menetapkan penggunaan lahan yang terbaik pada berbagai bagian tapak.
Dengan berpedoman pada skala Mabbery, 1972 yang menyebutkan bahwa lahan terbangun
memiliki kemiringan lahan dari 0 -15 % maka penentuan daerah layak bangunan
berpedoman pada skala tersebut.
Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi di wilayah studi digunakan untuk berbagai kepentingan, misalnya
penyaring debu, penahan angin, dan penyeimbang iklim lingkungan. Analisis ini dapat
diterapkan di wilayah studi dengan menanam berbagai jenis tanaman disepanjang jalur
lintasan kendaraan bermotor maupun lintasan pejalan kaki yang dapat mengantisipasi
daripada polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor pada umumnya. Selain itu juga
vegetasi ini berfungsi sebagai peneduh atau penyeimbang ekosistem lingkungan.
Analisis Aliran Air
Pola aliran air pada tapak dapat berpengaruh pada perancangan tapak, dimana unsur-unsur
hidrografis mempunyai sifat menunjang pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan
lahan, dan mempunyai peran utama dalam pembuatan sistem drainase tapak dengan
memanfaatkan pola drainase daerah aliran air yang ada. Aliran air ini mengikuti pola kontur
yang mengalir dari kontur paling tinggi menuju kontur paling rendah.
Best View
Analisis best view digunakan untuk menentukan kearah mana tapak menghadap. Analisis
ini berkaitan dengan pandangan visual dan estetika dimana pemandangan dapat menjadi
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-116

pusat orientasi suatu bangunan. Pemandangan harus muncul dan terlihat sepenuhnya hanya
dari titik yang saling menguntungkan. Tapak alami memiliki sungai yang berpotensi
dijadikan orientasi best view.
Gambar 5.4
Orientasi Bangunan Terhadap Best View

Analisis Pencahayaan Matahari


Analisis pencahayaan matahari berkaitan dengan pencahayaan pada ruang. Dimana cahaya
dapat langsung menyilaukan atau dapat terdiri dari cahaya pantulan dan cahaya yang tak
berbayang. Analisis terhadap pencahayaan matahari dapat digunakan untuk penempatan
kekuatan penerapan bangunan, warna dan tekstur bangunan serta penempatan lampulampu di jalan. Seperti pada umumnya matahari bergerak dari arah timur ke arah barat.
Dengan mengetahui tingkat penyinaran matahari dan pola peredaran matahari, maka akan
dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam perancangan kawasan terutama dalam pola

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-117

penataan bangunan untuk memperoleh tingkat kenyamanan dalam melaksanakan berbagai


aktifitas. Untuk lebih jelasnya mengenai pola peredaran matahari dapat dilihat pada gambar
berikut ini.
Gambar 5.5
Orientasi matahari

Analisis Kebisingan
Sumber kebisingan utama berasal dari kendaraan bermotor di jalan raya yang mengelilingi
lokasi tapak. Untuk mengurangi kebisingan tersebut dapat dilakukan dengan penanaman
vegetasi, upaya land scape, pengaturan jalan pencapaian masuk dan organisasi ruang.
Untuk lebih jelasnya mengenai sumber kebisingan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-118

Gambar 5.6
Zona kebisingan

Analisis Orientasi Angin


Umumnya bangunan pada tapak diorientasikan pada kemudahan pencapaian ke jalan raya
dan jalan lingkungan. Disarankan bagian bangunan yang sempit dapat diarahkan atau
dihadapkan pada datangnya angin. Hal ini dilakukan untuk menghindari angin kencang
yang dapat merusak. Dan upaya pengelak hempasan angin dapat dilakukan dengan
pengaturan penempatan vegetasi. Untuk lebih jelasnya mengenai orientasi angin dapat
dilihat pada gambar berikut:

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-119

k.

Analisis Kelembagaan dan Keuangan


Metode analisis kelembagaan dan sumber pembiayaan ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Kesiapan lembaga pemerintah dan non pemerintah dalam menjalani otonomi daerah.
2. Kesiapan sumber daya manusia dalam pengelolaan lembaga pemerintahan dan non
pemerintahan.
3. Efisiensi lembaga-lembaga pemerintah dan non pemerintah yang dibutuhkan dalam
otonomi daerah.
4. Menggali dan mencari sumber-sumber pendanaan dalam rangka otonomi daerah.
5. Pengelolaan/manajemen sumber-sumber pembiayaan pembangunan.
6. Mengetahui pemasukan dan pengeluaran belanja daerah.

l.

Analisis Hubungan Fungsional Antar Berbagai Elemen Kawasan


Kajian analisis tersebut didasarkan kepada hubungan tingkat kepentingan antara elemenelemen pembentuk ruang yang terintegrasi dalam suatu kawasan dan dinyatakan dalam
kriteria rank (dekat, sedang, jauh), seperti terlihat pada Gambar 5.13. Hasil dari analisis
tersebut dapat digunakan dalam peletakan elemen-elemen antar bangunan sesuai tingkatan
hubungan fungsionalnya.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-120

Gambar 5.8
Contoh Matriks Hubungan Fungsional

m. Analisis Perancangan Kota


Analisis perancangan kota akan dilakukan dengan beberapa metode analisis yaitu

Analisis figure and ground. Analisis figure and ground adalah analisis untuk memahami
permasalahan pola perkotaan dengan hubungan antara bentuk yang dibangun (building
mass) dan ruang terbuka (open space). Analisis figure/ground adalah alat yang baik untuk
:
- mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola-pola tata ruang perkotaan (urban fabric)
- mengidentifikasi masalah keteraturan massa/ruang pekotaan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-121

Analisis linkage. Analisis lingkage adalah analisis untuk memahami hubungan-hubungan


dan gerakan-gerakan (dinamika) rupa kota yang dianggap sebagai generator kota. Analisis
lingkage adalah alat yang baik untuk memperhatikan dan menegaskan hubungan-hubungan
dan gerakan-gerakan sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric).
Linkage perkotaan dapat diamati dengan cara dan pendekatan yang berbeda, diantaranya
adalah :
-

Linkage yang visual

Linkage yang structural

Linkage bentuk yang kolektif

Analisis Place. Analisis Place adalah analisis untuk memahami seberapa besar kepentingan
tempat-tempat perkotaan terbuka terhadap sejarah, budaya dan sosialisasinya. Analisis
place adalah alat yang baik untuk:
-

memberi pengertian mengenai ruang kota melalui tanda kehidupan perkotaannya

memberi pengertian mengenai ruang kota secara konstektual

Ketiga metode analisis tersebut akan dikuatkan dengan pendekatan AnalisisResponsive


Environments. Yang dikembangkan oleh Ian Bentley dkk.Analisis Responsive
Environments meliputi:
-

Analisis Permeabilitas. Analisis permeabilitas berkaitan dengan analisis kemudahan


pencapaian bagi setiap orang. Analisis untuk mengkaji permasalahan rute-rute akses
jalan, mengidentifikasi potensi yang dimiliki untuk mengembangan akses serta
kebutuhan dan kelayakan untuk mengembangan akses antara satu tempat dengan tempat
yang lain.

Analisis keanekaragaman. Analisis keanekaragaman berkaitan dengan analisis


keanekaragaman tataguna lahan. Berkaitan dengan tingkat permintaan untuk tipe

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-122

tataguna yang berbeda-beda pada tapak, dan menentukan seberapa luas suatu campuran
tataguna yang ekonomis dan fungsional yang layak dimiliki.
-

Analisis kejelasan. Analisis kejelasan berkaitan dengan permasalahan seberapa jelas


pemahaman masyarakat terhadap suatu ruang, seberapa mudah masyarakat dapat
memahami tataletaknya.

Analisis kekuatan. Analisis kekuatan berkaitan dengan analisis tempat yang dapat
dipakai untuk banyak maksud yang berbeda-beda memberi kepada pemakainya lebih
banyak pilihan dari pada tempat yang rancangannya membatasi mereka ke suatu tata
guna lahan tunggal. Lingkungan yang memiliki kekuatan adalah lingkungan yang
memberikan banyak pilihan.

Analisis kesesuaian visual. Analisis kesesuaian visual adalah analisis untuk


mengidentifikasi kesesuaian antara satu tempat/bangunan dengan tempat/bangunan
yang lainnya. Bagaimana kesesuaian tersebut didukung oleh system jaringan jalan,
streetscape, landscape, citycolouring dsb.

Analisis kekayaan. Analisis kekayaan berkaitan dengan analisis keanekaragaman pada


tatanan lebih rinci, seperti tata bangunan, desain, bahan dan teknik kontruksi.

Analisis personalisasi. Analisis personalisasi berkaitan dengan seberapa besar


masyarakat teraktualisasikan karakternya dalam hasil rancangan tata ruang kota.

n. Analisis Partisipasi
Analisis partisipasi adalah suatu metode untuk melibatkan masyarakat berpartisipasi dalam
program pembangunan. Apabila dilihat dari definisinya, partisipasi sebagai suatu pendekatan
dan kumpulan teknik untuk memberdayakan pelaku dalam menganalisa mengembangkan dan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-123

berbagi pengetahuan tentang kehidupan setempat keadaan dan sumber dayanya untuk
bertindak dengan lebih baik. Adapun teknik-teknik partisipasi sebagai berikut:
1. Informasi Data Sekunder. Informasi sekunder adalah data yang dipublikasi atau tidak
dipublikasikan yang dikumpulkan oleh orang lain sebelumnya yang berhubungan dengan
sasaran RRA/PRA.
2. Pemetaan Partisipatif. Tujuan pemetaan partisipasi adalah memperoleh orientasi awal
bersama dengan masyarakat. Pemetaan ini manjadi titik tolak pembahasan bersama untuk
mengidentifikasi masalah-masalah dan potensi yang ada.
3. Wawancara Semi Terstruktur. Wawancara semi terstruktur adalah suatu bentuk wawancara
yang hanya menggunakan beberapa pertanyaan pokok (topik dan sub topik) sebagai
pedoman. Pertanyaan-pertanyaan pokok tersebut telah disiapkan sebelumnya (tetapi bukan
dalam bentuk kuesioner) dan dijadikan acuan untuk membuat pertanyaan ketika
melaksanakan wawancara.
4. Diskusi Kelompok Terarah. Diskusi kelompok terarah mengarahkan diskusi dalam suatu
kelompok orang yang mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang sama mengenai
analisis dan penelitian suatu topik untuk mengfokuskan masalah-masalah dan kesempatan
yang dihadapi oleh kelompok atau untuk membahas persoalan-persoalan yang terjadi di
antara kelompok-kelompok.
5. Observasi Langsung. Observasi langsung merupakan suatu metode perolehan informasi
yang mengandalkan pengamatan langsung di lapangan baik yang menyangkut obyek,
kejadian, proses, hubungan atau kondisi penduduk.
6. Potongan Melintang / Transek. Potongan melintang atau transek ini adalah potongan
melintang dari suatu gambaran daerah/desa studi yang melukiskan keadaan lingkungan di
satu wilayah berdasarkan topografi dan penggunaan lahan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-124

Gambar 5.9
Daur program partisipasi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

5-125

BAB 6
RENCANA KERJA
6.1 Tahap Kegiatan / Pekerjaan
Lingkup kegiatan dalam Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi ini terdiri atas
kegiatan pra persiapan penyusunan, persiapan penyusunan, pengumpulan data, pengolahan
data, dan perumusan konsepsi Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis .
1. Pra persiapan penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis meliputi:

penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK)/TOR;

penentuan metodologi yang digunakan; dan

penganggaran kegiatan Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan


Strategis .

2. Persiapan penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis meliputi:


Tujuan dari langkah persiapan dalam Penyusunan Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Perencanaan
Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di
Kota Cimahi adalah dalam rangka memobilisasi seluruh sumber daya yang ada guna
mencapai tujuan yang dikehendaki di dalam kerangka acuan. Dengan demikian
langkah awalnya adalah pemahaman terhadap tujuan studi yang kemudian dijabarkan
ke dalam metoda pendekatan dan selanjutnya dituangkan ke dalam mekanisme
pelaksanaan kegiatannya. Dengan demikian kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan
pada bagian ini adalah:
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek
Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-1

Pemahaman terhadap kerangka acuan kerja

Pemahaman terhadap materi pengembangan kawasan

Pemahaman terhadap tujuan dan lingkup kegiatan

Pengenalan awal terhadap permasalahan kawasan perencanaan

Perumusan data-data yang dibutuhkan

Perumusan metodologi pendekatan

Penyusunan jadwal pelaksanaan kegiatan

Perumusan rencana survey

Perumusan mekanisme pelaksanaan kegiatan

3. Pengumpulan Data
Untuk keperluan pengenalan karakteristik wilayah perencanaan, penyusunan rencana
struktur ruang dan rencana pola ruang, dilakukan pengumpulan data primer dan data
sekunder.
Pengumpulan data primer setingkat kecamatan dilakukan melalui:
a. penjaringan aspirasi masyarakat yang dapat dilaksanakan melalui penyebaran
b. angket, temu wicara, wawancara orang per orang, dan lain sebagainya; dan/atau
c. pengenalan kondisi fisik dan sosial ekonomi secara langsung melalui kunjungan ke
kecamatan kecamatan.
d. Diskusi, konsultasi dan koordinasi
Diskusi meliputi :

diskusi intern yang dilaksanakan antara pihak konsultan dengan Dinas Tata
Ruang Permukiman dan Kebersihan (Dinas Tarkimsih) Kota Cimahi selaku
pemberi tugas, dan Tim Teknis Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis

selaku tim pengarah teknis dan substansi PERENCANAAN

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-2

PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS yang terdiri atas Bappeda,


Dinas Tarkimsih (Bidang Tata Ruang);

Diskusi intern dilakukan dengan Dinas Tarkimsih dan Tim Teknis


PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS untuk
membahas kemajuan dan hasil pekerjaan yang telah disusun oleh Konsultan
baik itu untuk laporan pendahuluan, laporan antara, dan laporan akhir.

Sebelum dan sesudah dilakukan diskusi, Konsultan (pihak ke-3) diharuskan


melakukan asistensi hasil pekerjaan dengan pihak Dinas Tarkimsih Kota
Cimahi yang membahas antara lain perbaikan dan penyempurnaan hasil
laporan pekerjaan tersebut.

Adapun tahapan diskusi dilakukan dalam 3 (tiga) tahap :

Tahap I dilakukan diskusi/ pembahasan laporan pendahuluan, yang berisi


pembahasan dan penyepakatan substansi yang akan dimuat dalam
penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi
dan Daya Dukung lingkungan di Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi.

Tahap II dilakukan diskusi/ pembahasan laporan antara, yang berisi


pembahasan dan penyempurnaan hasil analisis potensi dan permasalahan
yang ada, konsep rencana struktur ruang maupun pola ruang serta konsep
pemanfaatan

ruang dan

pengendalian

pemanfaatan

ruang maupun

kelembagaan kawasan.

Tahap

III

dilakukan

diskusi/

pembahasan

laporan

akhir,

untuk

penyempurnaan dan penyepakatan konsep rencana yang dipilih sampai


dengan hasil akhir Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek
Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota
Cimahi.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-3

4. Pengolahan dan Analisis Data


Pengolahan dan analisis data untuk penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi
meliputi:
a. Analisis karakteristik wilayah Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
Kedudukan dan peran Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis dalam
konteks wilayah lebih luas
Keterkaitan antar Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis dan antarkawasan dalam Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
Keterkaitan antar komponen ruang dalam Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis
Karakteristik fisik wilayah dan lingkungan Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis
Karakteristik sosial kependudukan
Karakteristik perekonomian
Kemampuan keuangan daerah
b. Analisis Potensi dan Masalah Pengembangan Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis
Analisis pusat-pusat pelayanan/ kegiatan
Analisis kebutuhan ruang
Analisis daya dukung
Analisis daya tampung
Analisis perubahan pemanfaatan ruang
c. Analisis daya dukung dan daya tampung (termasuk prasarana/ infrastruktur
danutilitas) dan daya tampung lingkungan hidup yang, meliputi :
Karakteristik umum fisik wilayah (letak geografis, morfologi wilayah, dsb)
Potensi rawan bencana alam (longsor, banjir, bencana alam geologi)
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek
Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-4

Potensi sumber daya alam (migas, panas bumi dan air tanah)
Kesesuaian penggunaan lahan
Kesesuaian intensitas pemanfaatan ruang dengan daya dukung fisik dan daya
dukung prasarana/ infrastruktur dan utilitas pada kawasan
d. Analisis kualitas kinerja kawasan dan bangunan.

5. Perumusan KONSEPSI Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis : memuat


rancangan konsep berdasarkan analisis yang dilakukan, sekurang-kurangnya meliputi :
a. Tujuan, kebijakan dan strategi pengembangan Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis ;
b. Rencana struktur ruang dan pola ruang Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis ;
c. Rencana pengembangan kawasan potensial, yang memiliki prospek baik aspek
ekonomi maupun kelestarian lingkungan yang mengitegrasikan rencana tata
ruang dengan rencana pembangunan daerah dan sektoral guna mencapai tujuan
pengembangan kawasan yang lebih baik.
d. Arahan pemanfaatan ruang Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis bagi
pelaksanaan program-program pembangunan dan pengembangan kegiatan
investasi di kawasan;
e. Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang kawasan;
f. Konsep penataan ruang dalam rangka pengelolaan Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis .

6.2 Keluaran
Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya
Dukung lingkungan di Kota Cimahi diharapkan menghasilkan keluaran berupa dokumen
materi teknis Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis berupa Rencana Umum
Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek
Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-5

Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis yang dilengkapi peta-peta dengan tingkat


ketelitian minimal berskala skala minimal 1 : 25.000, yang selanjutnya menjadi
landasan bagi penyusunan Rencana Detail yang dilengkapi dengan peta-peta dengan
tingkat ketelitian berskala1 : 5.000. Keluaran pekerjaan adalah dokumen materi teknis
Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung
lingkungan di Kota Cimahi, dengan sistematika Penyajian Laporan sekurang-kurangnya
sebagai berikut :
BAB I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Dasar Hukum Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis
1.3 Tinjauan Terhadap Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
Kabupaten
1.4 Tinjauan Kebijakan dan Strategi Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan
1.5 Tujuan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis

BAB II Ketentuan Umum


2.1 Istilah dan Definisi
2.2 Kedudukan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
2.3 Fungsi dan Manfaat Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
2.4

Kriteria

dan

Lingkup

Wilayah

Perencanaan

Perencanaan

Pengembangan Kawasan Strategis Aspek dan Daya Dukung


Lingkungan di kota Cimahi
BAB III Tujuan Penataan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
BAB IV Rencana Struktur Ruang
BAB V Rencana Pola Ruang
BAB VI Ketentuan Pemanfaatan Ruang

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-6

6.3 Kelengkapan Dokumen Hasil Pekerjaan


Kelengkapan Dokumen yang termuat dalam hasil pekerjaan penyusunan materi teknis
PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS di Kota Cimahi adalah
sebagai berikut:
1. Buku data dan analisis yang dilengkapi peta-peta dan sekurang-kurangnya meliputi:
a. Potensi dan masalah pengembangan kawasan perkotaan dan perdesaan.
b. Peluang dan tantangan pengembangan
c. Kecenderungan perkembangan
d. Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan perkotaan dan perdesaan.
e. Intensitas pemanfaatan ruang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung
(termasuk prasarana/infrastruktur maupun utilitas)
f. Teridentifikasinya indikasi arahan penanganan kawasan dan bangunan
2. Buku materi teknis Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan
Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi yang disajikan dalam format A4;
3. Album peta yang disajikan dengan skala atau tingkat ketelitian minimal 1: 25.000 dalam
format A2 yang dilengkapi dengan data peta digital terbaru (up to date) yang memenuhi
ketentuan sistem informasi geografis (GIS) yang dikeluarkan oleh

lembaga yang

berwenang (Badan Informasi Geospasial). Peta-peta tersebut ditampilkan dari awal


proses pengolahan data dengan ekstensi *.shp, dan untuk hasil peta laporan akhir
harus menyertakan peta-peta tersebut dalam format .shp dan *.dwg agar dapat
digunakan untuk keperluan lain berkaitan dengan pekerjaan; Untuk format peta
terlampir.
4. Album peta sekurang-kurangnya terdiri atas:
1) Peta Profil Wilayah Perencanaan
a) Peta orientasi
b) Peta batas administrasi
c) Peta dasar topografi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-7

d) Peta guna lahan


e) Peta rawan bencana
f) Penetapan sebaran penduduk
g) Peta-peta tematik lainnya yang dirasa perlu untuk ditampilkan dalam album peta.
2) Peta Rencana Tata Ruang (PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN
STRATEGIS ) Kecamatan
a) Peta rencana struktur ruang
b) Peta rencana pola ruang

6.4 Tahap Pelaporan


Laporan yang harus disusun oleh konsultan dalam melaksanakan pekerjaan ini adalah:
1. Laporan Pendahuluan
Berisi kerangka umum kajian dan program kerja yang akan dilakukan,
kebutuhan data serta rencana survei dan target pencapaiannya. Secara
garis besar Laporan Pendahuluan akan berisi hal-hal sebagai berikut:

Kerangka Pikir Kajian dan Sistematika Pembahasan yang dillengkapi


dengan metodologi, kebutuhan tenaga ahli, serta jadwal kerja.

Review terhadap peraturan perundang-undangan pemerintah dan


pemerintah daerah yang menyangkut kawasan strategis aspek fungsi
dan daya dukung lingkungan

Selain memuat pemuktahiran laporan pendahuluan dari hasil


desiminasi laporan pendahuluan, Laporan Antara juga berisi hasil
kegiatan survei, kompilasi datadan pemetaan serta progres analisis
sesuai dengan metoda yang telah ditetapkan pada metodologi.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya: 1 (satu) bulan sejak
SPMK diterbitkan sebanyak 10(sepuluh) buku laporan.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-8

2. Laporan Antara
Berisi identifikasi data dan analisis tahap awal kawasan strategis aspek
fungsi dan daya dukung lingkungan. Laporan harus diserahkan selambatlambatnya: 2 (dua) bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 10 (sepuluh)
buku laporan.
3. Laporan Akhir
Berisi hasil analisis data dilengkapi dengan raperda kawasan strategis
aspek fungsi dan daya dukung lingkungan. Laporan beserta album peta
harus diserahkan selambat-lambatnya: 3 (tiga) bulan sejak SPMK
diterbitkan sebanyak 20 ( dua puluh) buku laporan dan cakram padat
(compact disc)

6.5 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


Seluruhnya kegiatan Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi ini harus diselesaikan
selama 90 (sembilan puluh) hari kalender.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-9

I. TAHAP PERENCANAAN AWAL


1.1. Koordinasi
1.2.Penyusunan instrument
Kegiatan
1.3.Penyerahan
LaporanPendahuluan
II. TAHAP PENGUMPULAN
DATA
1.1 Penyiapan Kuesioner;
1.2 Survey/Pengumpulan Data
III. TAHAP ANALISIS
3.2. Pengolahan dan Analisis Data
IV. TAHAP PELAPORAN
4.1. Diskusi&Revisi
4.2. Penyerahan Laporan

Waktu Penyelesaian Pekerjaan

6.6 Tenaga Ahli Yang Dibutuhkan


Bentuk organisasi kerja ini bertitik tolak dari tujuan yang hendak dicapai,
yaitu diselesaikannya Pekerjaan Perencanaan Pengembangan Kawasan
Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota
Cimahi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-10

Untuk menangani tugas pelaksanaan pekerjaan, Konsultan mengusulkan


Daftar Tenaga seperti tercantum pada tabel halaman berikut dimana personil
tersebut masing-masing sudah berpengalaman di dalam bidangnya sehingga
kami yakin akan dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan ini dengan hasil
yang memuaskan.
Dengan struktur dan tata kerja tersebut maka diharapkan pekerjaan akan
dapat diselesaikan dengan sempurna dan tepat pada waktunya sesuai
Kerangka Acuan Kerja.
A. Tenaga Ahli
a. Team Leader (Perencanaan Wilayah dan Kota)
Ahli Madya Planologi sebagai Team Leader, Lulusan Sarjana Teknik PWK Strata
1 (S1), pengalaman bekerja minimal 6 tahun, bersertifikat keahlian/profesi; tugas
dan tanggung jawab Team Leader adalah sebagai berikut:
b. Ahli Teknik Lingkungan
Ahli Madya Lingkungan Lulusan Sarjana Teknik Sipil/Transportasi Strata 1 (S1),
pengalaman bekerja minimal 5 tahun, bersertifikat keahlian/profesi;
c. Ahli Geologi
Ahli Madya Geologi Lulusan Sarjana Geologi Strata 1 (S1), pengalaman bekerja
minimal 5 tahun, bersertifikat keahlian/profesi
d. Ahli Legal Drafter
Ahli hukum lulusan Sarjana Hukum Strata 1 (S1), pengalaman kerja 5 Tahun.

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-11

B. Tenaga Assisten
a.

Asisten Ahli Teknik Lingkungan

b. Asisten Ahli Planologi

C. Tenaga Pendukung
a. Operator komputer
b. Sekertaris / Administrasi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek


Fungsi dan Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-12

6.8 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli


Tabel 6.2
Jadwal Penugasan Tenaga Ahli
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama Personil

Jadwal Penugasan
Tenaga Ahli
Bln 1 Bln 2 Bln 3

Team Leader
Ahli Teknik Lingkungan
Ahli Geologi
Ahli Legal Drafter
Asisten Ahli Teknik Lingkungan
Asisten Ahli Planologi
Operator Komputer
Sekretaris/Administrasi
TOTAL

Masukan Penuh Waktu


Masukan Paruh Waktu

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

6-13

OB
3
3
3
1
3
3
3
3
19

6.9. Komposisi Tim dan Penugasan


Tabel 6.3
Komposisi Tim dan Penugasan

No

Nama

Perusahaan

Tenaga Ahli
Lokal/Asing

Lingkup Keahlian

Posisi Yang

Uraian Pekerjaan

Diusulkan

Jumlah
Orang Bulan

Tenaga Ahli

Dr. Ir. Firmansyah,


MT

PT. Sae Citra


Endah

Lokal

Ahli Perencanaan
Wilayah dan Kota

Team Leader

Ir. Budi Heri


Pirngadi, MT

PT. Sae Citra


Endah

Lokal

Ahli Teknik

Ahli Teknik

Lingkungan

Lingkungan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

Merencanakan, mengkoordinasikan dan


mengendalikan semua kegiatan dan personil yang
terlibat dalam pekerjaan ini sehingga pekerjaan dapat
diselesaikan dengan baik;
Mempersiapkan petunjuk pelaksanaan kegiatan, baik
dalam tahap pengumpulan data, pengolahan dan
penyajian akhir dari hasil keseluruhan pekerjaan;
Memberikan masukan alternatif solusi problematik
yang muncul, agar proses teknis perencanaan dapat
berjalan seefisien mungkin.
Penanggung jawab teknis pelaksanaan secara
keseluruhan.
Berkoordinasi dengan Tim Perencana dan para tenaga
ahli lainya terkait dengan kondisi dan validasi
dilapangan.
Mengkoordinasikan tenaga pendukung terkait baik
dilapangan maupun di studio.

6-14

No

Nama

Perusahaan

Tenaga Ahli
Lokal/Asing

Lingkup Keahlian

Posisi Yang

Uraian Pekerjaan

Diusulkan

PT. Sae Citra


Agus Setyanto, ST

Endah

Lokal

Ahli Geologi

Ahli Geologi

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

Memberikan materi /petunjuk teknis sesuai bidang


keahliannya pada setiap tahap perencanaan.
Bertanggung jawab penuh atas hasil perencanaan dan
desainya sesuai dengan bidang keahlian baik
dokumen tertulis maupun dokumen gambar.
Membantu Team Leader dalam Penyusunan laporan
untuk setiap tahap kegiatan.
Melakukan koordinasi dan asistensi dengan pemberi
pekerjaan sesuai dengan bidang keahliannya.
Membantu dan bertanggungjawab kepada Team
Leader untuk menyusun kajian terhadap potensi,
permasalahan, kendala serta kekuatan kawasan
perencanaan
Membantu dan bertanggungjawab kepada Team
Leader untuk menyusun Analisis Peruntukkan Lahan
Membantu dan bertanggungjawab kepada Team
Leader untuk menyusun Analisis Intensitas
Pemanfaatan Lahan
Membantu dan bertanggungjawab kepada Team
Leader untuk menyusun konsep pengembangan
kawasan
Membantu dan bertanggungjawab kepada Team
Leader untuk menyusun konsep peraturan zonasi
Membantu dan bertanggungjawab kepada Team
Leader untuk menyusun konsep klasifikasi zonasi

6-15

Jumlah
Orang Bulan

No

Nama

Perusahaan

Tenaga Ahli
Lokal/Asing

Lingkup Keahlian

Posisi Yang

Uraian Pekerjaan

Diusulkan

Rini Irianti Sundary,


SH, M.Hum

PT. Sae Citra


Endah

Lokal

Ahli Hukum

Ahli Legal
Drafter

Eka Wardhani, ST,


MT

PT. Sae Citra


Endah

Lokal

Ahli Teknik
Lingkungan

Asisten Ahli
Teknik
Lingkungan

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

Membantu dan bertanggungjawab kepada Team


Leader untuk menyusun konsep peruntukan kawasan
lindung
Membantu dan bertanggungjawab kepada Team
Leader untuk menyusun peta zonasi
Membantu dan bertanggungjawab kepada Team
Leader untuk mengkonsep rumusan tujuan, kebijakan
dan strategi pengembangan kawasan
Membantu Team Leader dalam menyusun laporan
Berkoordinasi dengan Tim Perencana dan para tenaga
ahli lainya terkait dengan kondisi dan validasi
dilapangan.
Mengkoordinasikan tenaga pendukung terkait baik
dilapangan maupun di studio.
Memberikan materi /petunjuk teknis sesuai bidang
keahliannya pada setiap tahap perencanaan.
Bertanggung jawab penuh atas hasil perencanaan dan
desainya sesuai dengan bidang keahlian baik
dokumen tertulis maupun dokumen gambar.
Membantu dan bertanggung jawab terhadap Ahli
Teknik Lingkungan untuk melakukan tinjauan
terhadap kebijakan pengembangan tata ruang baik
secara makro maupun secara mikro,
Membantu dan bertanggung jawab terhadap Ahli
Teknik Lingkungan untuk menyusun kegiatan untuk
membuat gambaran umum kawasan perencanaan

6-16

Jumlah
Orang Bulan

No

Nama

Perusahaan

Tenaga Ahli
Lokal/Asing

Lingkup Keahlian

Posisi Yang

Uraian Pekerjaan

Diusulkan

PT. Sae Citra

Dewi Kuraesin, ST

Hary Akbar

Tatin Rosmiati

Endah

PT. Sae Citra


Endah
PT. Sae Citra
Endah

Lokal

Ahli Planologi

Lokal

Operator Komputer

Lokal

Sekretaris

Asisten Ahli
Planologi

Operator

Komputer
Sekretaris

Ustek Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis Aspek Fungsi dan


Daya Dukung lingkungan di Kota Cimahi

Membantu dan bertanggung jawab terhadap Ahli


Perencanaan Wilayah untuk melakukan tinjauan
terhadap kebijakan pengembangan tata ruang baik
secara makro maupun secara mikro,
Membantu dan bertanggung jawab terhadap Ahli
Perencanaan Wilayah untuk menyusun kegiatan
untuk membuat gambaran umum kawasan
perencanaan
Penyediaan hardware dan software dalam
menunjangn kegiatan
Mengurus administrasi keuangan kantor pada
kegiatan terkait
Mengurus keuangan kantor

6-17

Jumlah
Orang Bulan