Anda di halaman 1dari 13

A.

CIRI-CIRI BELAJAR
Ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan
(kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).
2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi
akibat interaksi dengan lingkungan.
4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak
karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.
Kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997)
mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional)
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari
individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang
bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya
pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat,
dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar.
Contohnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia
menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu
juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah
terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
2. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya
merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh
sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu,
akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.

Contohnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang


Hakekat Belajar. Ketika dia mengikuti perkuliahan Strategi Belajar Mengajar, maka
pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang Hakekat Belajar akan dilanjutkan dan
dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan Strategi Belajar Mengajar.
3. Perubahan yang bersifat efektif dan fungsional
Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna.
Artinya, perubahan tersebut membawa makna dan manfaat tertentu bagi siswa dan siswi.
Perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relative menetap
dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan
dimanfaatkan. Perubahan fungsional

diharapkan memberi manfaat yang luas untuk

kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang
maupun masa mendatang. Contohnya seorang mahasiswa belajar tentang psikologi
pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat
dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun
mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia
menjadi guru.
Perubahan efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong
timbulnya perubahan positif lainnya. Sebagai contoh, jika seorang siswa/siswi belajar
menulis, maka di samping ia akan mampu merangkaikan kata dan kalimat dalam bentuk
tulisan, ia juga akan memperoleh kecakapan lainnya seperti membuat catatan,mengarang
surat, dan bahkan menyusun karya sastra atau karya ilmiah.
4. Perubahan yang bersifat positif
Perubahan yang bersifat positif adalah perubahan perilaku yang terjadi secara
normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Dalam belajar, perubahan-perubahan itu
selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya.
Dengan demikian, makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin
baik perubahan yang diperoleh.
Contohnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan
menganggap bahwa dalam dalam proses belajar mengajar tidak perlu mempertimbangkan
perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta
didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami

dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip prinsip perbedaan individual maupun


prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.
5. Perubahan yang bersifat aktif
Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan
sendirinya, melainkan karena usaha individu itu sendiri. Untuk memperoleh perilaku
baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.
Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi
pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji
buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan
dan sebagainya
6. Perubahan yang bersifat pemanen
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini
berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan
keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri
mahasiswa tersebut. Contoh lain, kecakapan seorang anak dalam memainkan piano
setelah belajar, tidak akan hilang, melainkan akan terus dimiliki dan bahkan makin
berkembang bila terus dipergunakan atau dilatih.
7. Perubahan yang bertujuan dan terarah
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik
tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin
dicapai dalam jangka waktu pendek dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan
keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan
dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru
yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan.
Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Dengan demikian, perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah pada tingkah laku
yang telah ditetapkannya.
8. Perubahan perilaku secara keseluruhan

Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan


semata. Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi
perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia
akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan,
keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.
Sebagai contoh, mahasiswa belajar tentang Teori-Teori Belajar, disamping
memperoleh informasi atau pengetahuan tentang Teori-Teori Belajar, dia juga
memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai Teori-Teori Belajar.
Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan Teori-Teori Belajar.
Contoh lainnya, jika seseorang anak telah belajar naik sepeda, maka perubahan yang
paling tampak adalah dalam keterampilan naik sepeda itu. Akan tetapi, ia telah
mengalami perubahan-perubahan lainnya seperti pemahaman tentang cara kerja sepeda,
pengetahuan tentang jenis-jenis sepeda, pengetahuan tentang alat-alat sepeda, cita-cita
untuk memiliki sepeda yang lebih bagus, kebiasaan membersihkan sepeda, dan
sebagainya.
B. WUJUD BELAJAR
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan
hasil belajar dapat berbentuk :
1. Informasi verbal
Informasi verbal ialah penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis
maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan
sebagainya.
2. Kecakapan intelektual
Kecakapan intelektual ialah keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan
lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol
matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam
membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan
hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
3. Strategi kognitif

Strategi kognitif ialah kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan


pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi
kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara cara berfikir agar terjadi
aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran,
sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
4. Sikap
Sikap ialah hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam
tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain, sikap adalah keadaan dalam diri
individu yang akan memberikan kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu
obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai
pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
5. Kecakapan motorik
Kecakapan motorik ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol
oleh otot dan fisik.

Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :
1. Kebiasaan
Kebiasaan adalah suatu cara bagi individu untuk bertindak. Kebiasaan terjadi secara
otomatis pada diri individu tanpa harus berfikir terlebih dahulu. Kebiasaan merupakan
suatu hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar. Artinya setiap individu yang telah
mengalami suatu proses belajar akan terlihat dalam kebiasaan sehari-harinya. Misalnya
seseorang yag telah belajar mengetik. Proses selama belajar mengetik akan membentuk
suatu kebiasaan tersendiri dalam hal mengetik pada pribadi yang melakukan
pembelajaran itu. Misalnya ia akan terbiasa mengetik dengan sepuluh jari. Mengetik
dengan sepuluh jari merupakan suatu kebiasan yang diperoleh setelah proses belajar itu.
Kebiasaan dapat diperoleh dari hasil belajar dan pengalaman yang dialami oleh
seseorang. Untuk itulah orang tua dan guru bertugas untuk menanamkan kebiasaan yang
baik pada anak didiknya.

Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebiasaan-kebiasaanya akan nampak,
berubah. Menurut Bughard (1973), kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan
kecenderungan respons dengan menggunakan stimulis yang berulang-ulang. Dalam
proses belajar, pembiasaan, juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan.
Karena proses penyusutan/pengurangan inilah, muncul suatu pola tingkah laku yang
relative menetap dan otomatif. Contoh peserta didik belajar bahasa berkali-kali
menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga
akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
2. Keterampilan
Berbeda dengan kebiasaan, keterampilan merupakan kegiatan-kegiatan yang bersifat
neuromuscular artinya kegiatan yang dilakukan dengan kesadaran yang tinggi. Oleh
karena itu keterampilan memerlukan kesadaran intelektual yang tinggi. Keterampilan
sangat erat kaitannya dengan kegiatan motorik. Karenanya sering disebut juga sebagai
keterampilan motoris atau sensory motor type of skill. Kegiatan mengendarai mobil,
melukis, dan menjahit merupakan contoh dari kegiatan ini dan kesemuanya memerlukan
kordinasi gerakan atau kordinasi sensoris motoris yang tinggi.
Ciri-ciri terampil tidaknya seseorang dalam melakukan suatu kegiatan, yaitu:
1. Ketelitian, yang ditandai dengan jumlah kesalahan minimum
2. Kordinasi system respons yang harmonis
3. Kecepatan, yang ditandai dengan lamanya waktu yang diperlukan dalam
menyelesaikan suatu kegiatan dengan tingkat kesalahan minimum dengan kata lain
tidak asal-asalan.
Sebagai contoh adalah seseorang yang memiliki keterampilan bermain gitar. Kita dapat
melihat ketelitiannya dalam bermain, kordinasi system yang harmonis sehingga ia dapat
bermain dengan lihai, dan kecepatannya dalam memindahkan tangannya dari satu kunci
menuju kunci lain. Hal serupa juga dapat kita lihat pada saat seseorang sedang melukis,
bersepeda, menyetir, dam masih banyak lagi.
3. Pengamatan
Pengamatan adalah satu bentuk belajar yang dilakukan olah manusia. Pengamatan
merupakan sebuah proses penangkapan dan penerjemahan pesan yang ada pada stimuli

melaui alat indra. Dengan kata lain, pengamatan yakni proses menerima, menafsirkan,
dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga
peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. Pengamatan adalah salah satu hal
yang penting dalam proses belajar karena pengamatan akan memunculkan definisi. Jika
pengamatan yang dilakukan salah, maka definisi yang dimunculkan pun pasti salah.
Pengamatan dimulai dari proses diskriminasi dan generalisasi. Diskriminasi adalah proses
untuk membedakan sesuatu. Contohnya adalah ketika seorang anak sedang melakukan
pengamatan terhadap warna. Ketika ia melihat warna merah, maka ia akan
membedakannya dari warna lainnya. Ia akan memisahkan warna merah dari warna yang
lain dan dari proses diskriminasi itu ia akan dapat mengambil kesimpulan dari
pengamatan yang ia lakukan. Akhirnya ia dapat menyimpulkan apa itu warna merah.
Sedangkan generalisasi adalah sebuah pengamatan dengan cara mencari persamaan dari
benda-benda yang diamati.
Berkat pengalaman belajar siswa akan mencapai pengamatan yang benar-benar objektif
sebelum mencapai pengertian. Pengamatan salah akan mengakibat timbulnya salah pula.
4. Berfikir asosiatif dan Daya ingat
Berfikir asosiatif yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya
dengan menggunakan daya ingat. Berfikir asosiatif merupakan proses pembentukan
hubungan antara rangsangan dan respon. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa kemampuan
siswa untuk melakukan hubungan asosiatif yang benar amat dipengaruhi oleh tingkat
pengertian atau pengetahuan yang diperoleh hasil belajar. Secara sederhana, asosiatif
dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk menghubungkan data-data yang telah
diperoleh. Proses asosiatif hanya akan terjadi apabila antara data yang dimiliki baik itu
yang lama maupun yang baru memiliki hubungan yang logis.
Menurut Sarlito W. Sarwono : berpikir asosiatif yaitu proses berpikir di
mana suatu ide merangsang timbulnya ide-ide lain. Jalan pikiran dalam
proses berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya.
Jadi ide-ide itu timbul atau terasosiasi (terkaitkan) dengan ide
sebelumnya secara spontan. Jenis berpikir ini disebut juga jenis berpikir
divergen (menyebar) atau kreatif, umumnya pada para pencipta, penemu, penggagas dan

sebagainya dalam bidang ilmu, seni, pemasaran, dan sebagainya. Jenis-jenis berpikir
asosiatif adalah:
Asosiasi Bebas: satu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, yaitu hal apa saja
tanpa ada batasnya. Misalnya, ide tentang makanan dapat merangsang timbulnya
beberapa ide, misalnya tentang restoran, dapur, nasi, anak yatim yang belum sempat
diberi makan, atau apa saja.
Asosiasi Terkontrol: Satu ide tertentu akan menimbulkan ide mengenai hal lain dalam
batas-batas tertentu. Misalnya, ide tentang membeli mobil, akan merangsang ide-ide
lain, misalnya tentang harganya, pajaknya, pemeliharaannya, mereknya, atau modelnya.
Tetapi, tidak merangsang ide tentang hal-hal lain di luar itu, seperti peraturan lalu lintas,
polisi lalu lintas, mertua yang sering meminjam barang-barang piutang yang belum
ditagih, dan sebagainya.
Melamun: Mengkhayal bebas, sebebasnya tanpa batas, juga mengenai hal-hal yang
tidak realistis. Misalnya, berkhayal jadi orang kaya, jadi Superman, atau jadi Putri Salju.
Anak kecil sering kali belum dapat membedakan antara khayalan dan realita sehinggga
kalau dia menceritakan, misalnya tentang sahabat yang ada dalam khayalannya kepada
ibunya, ibu-ibu yang tidak paham akan jiwa anak, sering kali memarahi anaknya dan
menganggapnya sebagai pembohong. Di sisi lain, banyak temua-temuan penting dalam
ilmu pengetahuan yang dimuali dari lamunan. Newton misalnya, menemukan teori
tentang daya tarik bumi setelah ia melamun tentang mengapa buah apel bisa jatuh
sehingga bisa menimpa kepalanya.
Mimpi: Ide-ide tentang berbagai hal yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur.
Mmimpi ini kadang-kadang terlupakan paada waktu bangun, tetapi kadang-kadang masih
dapat diingat. Mimpi bisa merupakan kilas balik peristitwa-peristiwa masa lalu, namaun
bisa juga berupa harapan-harapan yang tak terpenuhi, atau bahkan tak bermakna sama
sekali. Sigmun Freud pakar psikoanalisis, menyatakan bahwa mimpi sangat
penting karena berisi dorongan-dorongan dari alam bawah sadar yang
tidak dimunculkan dalam kesadaran karena dilarang oleh Super-ego.

Freud suka menggali isi mimpi pasien-pasiennya untuk dianalisis dengan menggunakan
teknik analisis mimpi.
Berpikir Artistik merupakan proses berpikir yang sangat subjektif. Jalan pikiran sangat
diperngaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan keadaan
sekita. Hal ini sering dilakukan oleh para seniman dalam mencipta karya-karya seninya.
Berfikir asosiatif hanya mungkin terjadi apabila seseorang telah belajar tentang
data yang ia dapatkan. Misalnya seseorang hanya akan mengasosiasikan bandung dengan
Konfrensi Asia Afrika apabila ia telah mempeajari sejarah KAA. Selain itu, kemampuan
berfikir asosiatif juga dipengaruhi oleh beberapa fakrtor diantaranya materi yang
dipelajari, sifat dan bentuk proses belajar, cara belajar, daya ingatan dan lain-lain.
Daya ingatan juga menjadi manifestasi dalam perbuatan belajar. Daya ingatan
menyimpan informasi yang telah diperoleh siswa selama proses pembelajaran itu. Jadi,
siswa yang telah mengalami proses belajar akan ditandai dengan
bertambahnya simpanan materi (pengetahuan dan pengertian) dalam
memori, dan meningkatnya kemampuan menghubungkan materi
tersebut dengan situasi yang sedang dihadapi.

5. Berfikir rasional dan kritis


Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian
dalam menjawab pertanyaan kritis seperti bagaimana (how) dan mengapa (why).
Berfikir rasional merupakan suatu poses berfikir dengan tingkat abstraksi yang tinggi.
Dalam berfikir rasional seseorang dituntut untuk dapat melihat hubungan sebab-akibat,
menganalisa masalah, menarik generalisasi, menarik hukum-hukum dan membuat
ramalan. Selanjutnya berfikir rasional akan sangat berguna dalam memecahkan masalah
(problem approach).
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu:

Pembentukan pengertian merupakan pengertian logis yang dibentuk melalui tiga


tingkat yaitu:
(1) Menganalisa ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis. Objek tersebut kita
perhatikan unsusr-unsurnya satu demi satu.

(2) Membanding-bandingkan ciri-ciri tersebut untuk diketemukan ciri-ciri mana yang


sama, mana yang tidak sama, mana yaang selalu ada dan mana yang tidak selalu ada,
mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki.
(3) Mengabstraksikan, yang menyisihkan, membuang, ciri-cirinya tidak hakiki,

menangkap ciri-ciri yang hakiki; misalnya manusia adalah makhluk yang berbudi.
Pembentukan pendapat, yaitu meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau
lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdeiri dari
pokok kalimat atau subjek dan sebutan atau prediket. Subjek adalah pengertian yang
diterangkan, sedangkan prediket adalah pengertian yang menerangkan; misalnya
rumah itu baru.
Pendapat ada tiga jenis:
(1) Afirmatif yaitu pendapat yang mengayakan, yang secara tegas menyatakan
keadaan sesuatu.
(2) Negatif yaitu pendapat yang menidakkan, yang secara tegas menerangkan tentang
tidak adanya sesuatu sifat pada suatu hal.
(3) Modalitas atau kebarangkalian;

yaitu

pendapat

yang

menerangkan

kebarangkalian, kemungkinan-kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal.


Penarikan kesimpulan atau pembentukan keputusan; adalah hasil perbuatan akal
untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada
tiga macam keputusan:
(1) Induktif:yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju ke
satu pendapat umum.
(2) Deduktif yaitu keputusan yang ditarik dari hal umum ke hal yang khusus.
(3) Analogis yaitu keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau
menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada.

Contohnya : seorang siswa yang sedang mendapati masalah dengan


kelangsungan mengikuti UAS, karena kartu UASnya tidak dapat diambil
atau ditahan. Ia akan berpikir dan mencari tahu (penyebab) mengapa
kartu UASnya ditahan. Lalu ia menganalisis, dan hasil analisisnya
kartunya

ditahan

karena

ia

belum

melunasi

pembayaran

dan

kesimpulan yang di tarik ia harus segera melunasi pembayaran atau


mendatangi staf bagian keadministrasian untuk membuat perjanjian
pembayaran, agar mendapat keringanan sehingga kartu UAS milik
siswa tersebut dapat diambil.

6. Sikap
Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau
buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
Sikap yang dimaksud bukanlah sikap yang merupakan definisi dari ranah afektif. Sikap
yang dimaksud adalah sikap ketika siswa menghadapi objek. Misalnya sikap ketika siswa
sedang menghadapi masalah. Kegiatan belajar akan mempengaruhi sikap seseorang
dalam menghadapi suatu objek.
7. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).
Inhibisi adalah membuang sikap yang tidak berguna ketika
seseorang

sedang

melakukan

interaksi

dengan

lingkungannya,

simpelnya adalah mengendalikan emosi dari tindakan-tindakan yang


tidak perlu. Hal ini dilakukan agar seseorang melakukan tindakan
seefektif mungkin. Dengan kata lain inhibisi merupakan perwujudan
perilaku belajar yang terdapat dalam diri seseorang yang berperan
sebagai pengontrol tindakan-tindakan yang tidak diperlukan, kemudian
menyeleksi atau melakukan tindakan lain yang lebih baik ketika
berinteraksi dengan lungkungannya. Inhibisi juga di sebut sebagai
pemfilter tindakan-tindakan. Contohnya seorang siswa yang telah
paham

betul

lmengenai

bahaya

narkoba,

ia

akan

cenderung

menghindari dan menjauhkan diri dari narkoba, dan tidak akan mau
mengkonsumsi narkoba apalagi mencoba dan membelinya.
Secara

ringkas,

Menurut

Reber

inhibisi

adalah

upaya

pengurangan atau pencegahan timbulnya suatu respons tertentu


karena adanya proses respons lain yang sedang berlangsung. Dalam
hal belajar yang dimaksud dengan inhibisi ialah kesanggupan siswa
untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu, lalu
memilih atau melakukan tindakan yang lainnya yang lebih baik ketika
ia berinteraksi dengan lingkungannya.
Kemampuan siswa dalam melakukan inhibisi pada umumnya diperoleh
lewat proses belajar. Oleh sebab itu, makna dan perwujudan perilaku

belajar seorang siswa akan tampak pula dalam kemampuannya


melakukan inhibisi ini. Contoh seorang siswa yang telah sukses
mempelajari bahaya alkohol akan menghindari membeli minuman
keras. Sebagai gantinya ia membeli minuman sehat.
Contohnya adalah ketika seseorang sedang belajar di dalam kelas, ia
bisa memilih mana yang harus dicatat dan mana yang tidak harus.
Sikap inhibisi mendorongnya untuk tidak menulis hal yang dianggap
tidak perlu. Inhibisi akan membawa seseorang pada tindakan efektif
dan efesien. Dalam proses belajar berlangsung seorang pendidik
hendaklah menanamkan inhibisi ini kepada anak didiknya karena anak
didik adalah generasi masa depan di mana ia yang berperan aktif
dalam menjalani kehidupan futuris.
8. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu)
Menurut Chaplin (1982) : Pada dasarnya, apresiasi

berarti suatu

pertimbangan (judgment) mengenai arti penting atau nilai sesuatu.


Dalam penerapanya, apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan
atau penilaian terhadap benda-benda baik abstrak maupun konkrit
yang memiliki nilai luhur. Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang
pada umumnya di tunjukkan pada karya-karya seni budaya seprti :
seni sastra, seni musik, seni lukis, drama, dan sebagainya.
Tingkat apresiasi seorang siswa terhadap nilai sebuah karya sangat
bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya. Sebagai contoh, jika
seorang

siswa

telah

mengalami

proses

belajar

agama

secara

mendalam maka tingkat apresiasinya terhadap nilai seni baca AlQuran dan kaligrafi akan mendalam pula. Dengan demikian pada
dasarnya seorang siswa baru akan memiliki apresiasi yang memadai
terhadap objek tertentu (misalnya kaligrafi) apabila ia sebelumnya
telah mempelajari materi yang berkaitan dengan objek yang dianggap
mengandung nilai penting dan indah tersebut
Apresiasi adalah suatu sikap menghargai terhadap sesuatu yang
bernilai luhur seperti nilai agama, tatakrama, ilmu pengetahuan dan

sebagainya. Apresiasi seseorang dapat ditentukan dari proses belajar


seseorang tersebut, misalnya seseorang yang belajar maksimal untuk
melukis akan mengapresiasi nilai suatu lukisan dengan sangat tinggi.
Apresiasi adalah suatu sikap menghargai terhadap sesuatu yang bernilai luhur seperti
nilai, agama, tata krama, dan ilmu pengetahuan. Misalnya seseorang yang belajar keras
untuk melukis akan mengapresiasi nilai suatu lukisan dengan sangat tinggi.

9. Perilaku afektif
Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih,
gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak
terlepas dari pengaruh pengalaman belajar. Tingkah laku yang artinya sikap (ranah
afektif), afektif yang berarti perasaan (yang berhubungan dengan perasaan).
Sederhananya, tingkah laku merupakan perwujudan perilaku belajar yang meliputi
perasaan : sedih, senang, bahagia, kecewa, dan lain-lain. Dalam Taksonomy Bloom ada
tiga ranah dalam pendidikan yaitu ranah kognitif, ranah psikomotorik, dan ranah afektif.
Ranah afektif atau sikap akan dibentuk selalu oleh proses pembelajaran. Bahkan jika
ditelaah ulang sesungguhnya tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk mendewasakan
seseorang.
Seorang siswa misalnya dapat dianggap sukses secara efektif dalam belajar agama
apabila ia telah menyenangi dan menyadari dengan ikhlas kebenaran ajaran agama yang
ia pelajari, lalu menjadikannya sebagi sistem nilai diri. Kemudian, pada gilirannya ia
menjadikan sistem nilai ini sebagai penuntun hidup, baik dikala suka maupun duka
(Drajat, 1985).