Anda di halaman 1dari 9

Makalah AIK

Disusun Oleh

: Apriyadi Budi Santoso


Deri Supriadi

Materi

: As-Sunnah dan Ijtihad

Dosen Pembimbing : Titin Yenny S.Ag, M.Hum

TAHUN AJARAN 2015-1016


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PALEMBANG

Daftar Isi
1. Bab I Pendahuluan
a. Latar belakang1.1
b. Rumusan Masalah..1.2
c. Tujuan penulisan.1.3
2. Bab II Pembahasan
a. As Sunnah2.1
b. Ijtihad...2.2
3. Bab III Kesimpulan..
a. Kesimpulan...3.1
b. Saran.3.2

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin
terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama
mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya,
Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung.
Sumber ajaran islam adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan
yang mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat yang apabila dilanggar akan menimbulkan
sanksi yang tegas dan nyata (Sudarsono, 1992:1). Dengan demikian sumber ajaran islam ialah
segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat islam.
Ajaran Islam adalah pengembangan agama Islam. Agama Islam bersumber dari AlQuran yang memuat wahyu Allah dan al-Hadis yang memuat Sunnah Rasulullah. Komponen
utama agama Islam atau unsur utama ajaran agama Islam (akidah, syariah dan akhlak)
dikembangkan dengan rakyu atau akal pikiran manusia yang memenuhi syarat runtuk
mengembangkannya.
Mempelajari agama Islam merupakan fardhu ain , yakni kewajiban pribadi setiap
muslim dan muslimah, sedang mengkaji ajaran Islam terutama yang dikembangkan oleh akal
pikiran manusia, diwajibkan kepada masyarakat atau kelompok masyarakat.
Allah telah menetapkan sumber ajaran Islam yang wajib diikuti oleh setiap muslim.
Ketetapan Allah itu terdapat dalam Surat An-Nisa (4) ayat 59 yang artinya : Hai orang-orang
yang beriman, taatilah (kehendak) Allah, taatilah (kehendak) Rasul- Nya, dan (kehendak) ulil
amri di antara kamu ....
Menurut ayat tersebut setiap mukmin wajib mengikuti kehendak Allah, kehendak
Rasul dan kehendak penguasa atau ulil amri (kalangan) mereka sendiri. Kehendak Allah
kini terekam dalam Al-Quran, kehendak Rasul terhimpun sekarang dalam al Hadis, kehendak
penguasa (ulil amri) termaktum dalam kitab-kitab hasil karya orang yang memenuhi syarat
karena mempunyai kekuasaan berupa ilmu pengetahuan. Pada umumnya para ulama fikih
sependapat bahwa sumber utama hukum islam adalah Alquran dan hadist. Dalam sabdanya
Rasulullah SAW bersabda,
Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selamanya,
selama kalian berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku. Dan disamping itu
pula para ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai salah satu dasar hukum islam, setelah
Alquran dan hadist. Berijtihad adalah berusaha sungguh-sungguh dengan memperguna kan
seluruh kemampuan akal pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia yang memenuhi
syarat untuk mengkaji dan memahami wahyu dan sunnah serta mengalirkan ajaran,
termasuka ajaran mengenai hukum (fikih) Islam dari keduanya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja sumber hukum islam ?
2. Bagaimana kedudukan As-Sunnah dn ijtihad dalam sumber hukum islam itu?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai sarana pembelajaran untuk lebih
memahami sumber-sumber hukum islam. Melalui makalah ini diharapkan dapat menjadi
penambah wawasan agar lebih mengetahui apa saja sumber hukum islam itu. Selain itu
penulisan makalah ini ditujukan pula untuk memenuhi tugas mata kuliah agama islam
kemuhammaddiyahan (AIK)

Bab II Pembahasan
3.1 As-Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam
Dalam tradisi hukum Islam, hadits berarti segala perkataan, perbuatan dan
keizinan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi para ulama Ushul Fiqh, membatasi
pengertian hadits hanya pada ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW yang berkaitan
dengan hukum, sedangkan bila mencakup, pula perbuatan dan taqrir yang berkaitan
dengan hukum, maka ketiga hal ini mereka namai dengan Sunnah. Tidak semua
perbuatan Nabi Muhammad merupakan sumber hukum yang harus diikuti oleh
umatnya, seperti perbuatan dan perkataannya pada masa sebelum kerasulannya.
Seperti yang kita ketahui, bahwa Al-Quran merupakan sumber hukum
primer/utama dalam Islam. Akan tetapi dalam realitasnya, ada beberapa hal atau
perkara yang sedikit sekali Al-Quran membicarakanya, Al-Quran membicarakan
secara global saja, atau bahkan tidak dibicarakan sama sekali. Di sinilah peran dan
kedudukan Hadits sebagai tabyin atau penjelas dari Al-Quran atau bahkan menjadi
sumber hukum sekunder/kedua_setelah Al-Quran.
Perintah meneladani Rasulullah SAW ini disebabkan seluruh perilaku Nabi
Muhammad SAW mengandung nilai-nilai luhur dan merupakan cerminan akhlak
mulia. Apabila seseorang bisa meneladaninya maka akan mulia pula sikap dan
perbutannya. Hal tersebut dikarenakan Rasulullah SAW memilki akhlak dan budi
pekerti yang sangat mulia.

1. Dasar Alasan As-Sunnah Sebagai Sumber Hukum


1. Setiap Mumin harus taat kepada Allah dan kepada Rasulullah.(Al-Anfal: 20, Muhammad:
33, an-Nisa: 59, Ali Imran: 32, al- Mujadalah: 13, an- Nur: 54, al-Maidah: 92).
2. Orang yang menyalahi Sunnah akan mendapatkan siksa. (Al-Anfal: 13, Al- Mujadilah: 5,
An-Nisa: 115).
3. Berhukum terhadap Sunnah adalah tanda orang yang beriman.(An-Nisa: 65).
Alasan lain mengapa umat Islam berpegang pada hadits karena selain memang di
perintahkan oleh Al-Quran, juga untuk memudahkan dalam menentukan (menghukumi)
suatu perkara yang tidak dibicarakan secara rinci atau sama sekali tidak dibicarakan di dalam
Al Quran sebagai sumber hukum utama.

2. Sunnah menurut terminologis [istilah], ada beberapa definisi


A. Menurut ulama Muhsaditsin:
B. Menurut ulama ushul figh:
C. Menurut ulama figh[fuqaha]:
Makna lain [sinonim] dari sunnah adalah hadits, khabar dan atsar, namun mungkin
terdapat sedikit perbedaan, untuk mengetahui lebih jelasnya kami uraikan sebagai berikut:
a. Hadits.
Menurut bahasa berarti komunikasi, cerita atau percakapan. Sedangkan menurut istilah iyalah

segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw dari perkataan, perbuatan, taqriri atau sifat.
(yuslem 2003 : 36)
b.Khabar.
khabar adalah sinonim dari hadits, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. Dari
perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat, yang bersumber dari Nabi atau dari orang lain.
[Yuslem 2003: 35]
c. Atsar.
Secara bahasa atsar berarti sisa atau peninggalan sesuatu. Sedang pengertian menurut istilah
ada dua, yaitu:
1. atsar adalah : Sinonim menurut hadits, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Nabi saw.
2. atsar adalah : Sesuatu yang disandarkan kepada shabat dan tabiin, yang terdiri atas
perkataan. [Yuslem 2003: 46]
3. Macam-macam as-sunnah
A. As-sunnah ditinjau dari bentuknya, ada tiga yaitu :
1]. Qauli, yaitu sunnah berupa perkataan Nabi saw,
2]. Fili, yaitu seluruh perbuatan yang dilaksanakan oleh Nabi saw,
3] Taqriri yaitu perkataan atau disetujui oleh Nabi saw, hukumnya sama dengan perkataan
atau perbuatan Nabi saw, hukumnya sama dengan perkataan atau perbuatan Nabi sendiri.
B. As-Sunnah ditinjau dari Jumlah Perawi, ada dua:
1] mutawatir, yaitu sunah atau hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi disetiap
tingkatan [thabaqah], yang mana mereka mustahil sepakat untuk berbohong dan riwayat itu
harus bersifat indrawi [masyhur]. [Nashir 1994: 4]. Dan sunnah mutawatir ini terbagi tiga,
yaitu:
A. Mutawatir lafzi: Suatu hadis yang sama bunyi lafaz menurut perawi, juda menurut
hukum dan maknanya.
B. Mutawatir maknawi: Hadits yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya, tapi dapat diambil
dari kesimpulannya satu makna umum,
C. Mutawatir amali: Sesuatu yang dengan mudah dapat diketahui hal itu berasal dari agama
dan telah mutawatir di antara kaum muslimin, bahwa Nabi melakukannya atau merintahkan
untuk melakukannya. Misalnya:
Kami melihat di mana saja bahwa sholat zuhur itu dilakukan dengan empat rekaat dan kita
tau bahwa hal itu adalah perbuatan yang di perintah oleh islam dan kita mempunyai sangkaan
yang kuat bahwa Nabi saw melaukannya atau memerintahkan demikian. [M. Mudzakir 2004:
69-72].
2. Ahad, yaitu hadits yang jumlah perawinya di setiap tingkatan tidak sampai ketingkat
mutawir. [Nashir 1994: 4]. Hadits ahad ini terbagi tiga, yaitu:
a. Masyhur : hadits yang diriwayartkan oleh tiga orang perawi atau lebih dan tidak memenuhi
syarat-syarat hadits mutawir.
B. Aziz: Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang perawi saja, walaupun didalam satu perawi
tingkatan.

C. Gharib : Hadits yang diriwayatkan oleh satu perawi saja. [sulaiman 1995: xx]
C. As-sunnah ditinjau dari Kualitasnya
1]Shahih.
Menurut definisi ibn shalah.
Hadits shahih ialah yang bersambung sanadnya dengan periwayatan perawi yang adil dan
dhabith, [yang diterimanya] dari perawi [lain] yang adil dan dhabith hingga ke akhir
[sanad]nya, serta hadits tersebut tidak syadz dan tidak berillat. Dari definisi di atas, maka
ulama menentukan kreteria hadits shahih itu ialah:
1. Sanad hadits tersebut harus bersambung
2. Perawinya adil; Muslim, tidak fasik, baligh dan berakal.
3. Perawinya dhabith; cerdas dan memiliki ketelitian dalam menerima hadits.
4. hadits itu tidak syadz; tidak bertentangan dengan hadits shahih.
5. hadits itu tidak mengandung illat; tidak cacat. [yuslem 2003: 219-221].
2]Hasan.
Menurut at-Tirmizi, hadits adalah setiap hadits yang diriwayatkan dan tidak terdapat pada
sanadnya perawi yang pendusta, dan hadits itu tidak syadz, serta diriwayatkan pula melalui
jalan yang lain. Sedangkan menurut al-thahhan sama dengan definisi ibn Hajar, yaitu: Hadits
yang bersambungsanadnya, dengan perawi yang adil, ringan dhabitnya, tidak syadz dan tidak
berillat.
Dari definisi diatas, maka kreteria hadits itu ada lima, yaitu:
1. Sanad hadits tersebut bersambung.
2. Perawinya adil.
3. Perawinya kwalitas kedhabithannya kurang.
4. Hadits itu tidak syadz.
5. Hadits itu tidak mengandung illat. [yuslem 2003: 229-230].
3]Dhaif.

Menurut ibn shahah, hadits dhaif itu ialah hadits yang yang tidak terhipun padanya sifatsifat hadits Shahih dan hasan.
Kreteria hadits dhaif ialah:
1. sanad hadits itu terputus.
2. Terdapat cacat pada perawi dan matan [redaksi] hadits itu [Yuslem 2003: 237-238].

2.2. IJTIHAD
Ijtihad ialah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah
yang tidak ada ketetapannya, baik dalam Al Quran maupun Hadits, dengan menggunkan
akal pikiran yang sehat dan jernih, serta berpedoman kepada cara-cara menetapkan hukumhukumyang telah ditentukan. Hasil ijtihad dapat dijadikan sumber hukum yang ketiga.
Peranan Ijtihad dalam Perkembangan Masyarakat Islam:
Ijtihad memiliki peranan penting dalam pembinaan hukum Islam; diantaranya :
Agar hukum Islam dapat ditetapkan secara fleksibel sehingga tidak kaku.
Agar dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Dapat memudahkan penerapan ajaran Islam menurut situasi dan kondisi yang ada
Dapat mengembangkan intelektualitas umat Islam sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Dapat meningkatkan dinamika masyarakat Islam yang heterogen, namun senantiasa
hidup toleran dengan ukhuwah Islamiyah.
Metode ijtihad, terbagi dua yaitu;
a. Qiyas, yaitu penerapan hukum perbuatan tertentu kepada perbuatan lain yang
memiliki kesamaan.
b. Masalihun Mursalin, yaitu menetapkan suatu ketentuan hukum yang didasarkan atas
nilai kemaslahatan atau manfaat yang menganjurkan maupun yang melarang, tetapi ia
sejalan atau sesuai dengan tujuan syariat ( agus chazing : 2008 :254 )

Bab 3 Kesimpulan
3.1 Kesimpulan
Kesimpulkan makalah ini adalah bahwa sumber-sumber hukum islam yang disepakati
adalah Al-Quran, Hadist, Ijma, dan Qiyas.
3.2 Saran
Sebelum kita mempelajari agama islam lebih jauh, terlebih dahulu kita harus
mempelajari sumber-sumber ajaran agama islam agar agama islam yang kita pelajri sesuia
dengan alquran
dan tuntunan nabi Muhammad SAW yang terdapat dalam as-sunnah (hadist).