Anda di halaman 1dari 35

GEOTHERMAL

LAHENDONG SULAWESI UTARA

DISUSUN OLEH :

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL


YOGYAKARTA
2016

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
BAB II PEMBAHASAN
II.1 GEOLOGI REGIONAL
II.2 FISIOGRAFI
II.3 STRUKTUR GEOLOGI
II.4 STRATIGRAFI
BAB III. ISI
III.1 STRUKTUR GEOLOGI LAPANGAN PANASBUMI
LAHENDONG
III.2 STRUKTUR TEKTONIK
III.3 STRATIGRAFI LAPANGAN PANASBUMI
LAHENDONG
III.4 RESERVOIR LAHENDONG
III.5 PRODUKTIFITAS LAHENDONG

III.6 EVALUASI RESERVOIR DAN OPERASIONAL AREA


LAHENDONG
III.7 MONITORING GEOKIMIA
III.8 KENDALA OPERASIONAL
III.9 DISTRIBUSI TEMPERATUR
III.10 GEOTHERMAL MODEL
BAB IV PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa karena atas limpahan rahmat, serta hidayah-Nya maka laporan tugas
geothermal inidapat terselesaikan tepat pada waktunya. Tugas geothermal ini
disusun untuk lebih mengetahui tentang potensi sumber daya alam khususnya
energi panas bumi baik itu menjadi sumber air panas ataupun gas bumi , yang
nantinya bisa mengidentifikasi pemanfaatannya secara efisien
Pada kesempatan kali ini saya selaku penyusun laporan ingin
mengucapkan treima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1 selaku dosen pembimbing mata kuliah Petrografi.
2. selaku dosen pembimbing mata kuliah Petrografi.
3. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan
ini.
Masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam peenyusunan
tugas ini, sehingga diharapkan kritik daan saaran yang membangun agar dalam
penyusunan tugas yang selanjutnya bisa lebih baik lagi.
Semoga tugas ini bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta,13 april 2016

Penyusun

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR II.1 FISIOGRAFI DAERAH LAHENDONG SULAWESI UTARA


GAMBAR II.2 PEMBAGIAN JALUR FISIOGRAFI SULAWESI (SMITH,
1983)
GAMBAR III.1 KELURUSAN DAN STRUKTUR GEOLOGI LAPANGAN
PANASBUMI LAHENDONG (UTAMI, 2011)
GAMBAR III.2 PETA GEOFISIKA PROSPEK AREA LAHENDONG
GAMBAR III.3 CROSS SECTION A-A SHOWING THE WELLS,
GEOLOGICAL STRUCTURES, TEMPERATURE AND ALTERATION
ZONES.
GAMBAR III.4 PETA GEOLOGI REGIONAL LEMBAR MANADO,
SULAWESI UTARA (DIMODIFIKASI DARI EFFENDI DAN
BAWONO, 1997)
GAMBAR III.5 PETA ZONA RESERVOIR LAHENDONG
GAMBAR III.6 HISTOGRAM SIMULASI MONTE CARLO CADANGAN
AREA LAHENDONG
GAMBAR III.7 DIAGRAM ALIR UAP DAN BRINE LAHENDONG
GAMBAR III.8 GRAFIK PERUBAHAN KIMIA SUMUR LHD-10
GAMBAR III.9 GRAFIK PERUBAHAN KIMIA SUMUR LHD-11
GAMBAR III.10 SECTION E-W SHOWING THE DEPTH OF CIRCULATION
LOSS DURING DRILLING IN THE EACH WELL
GAMBAR III.11 3D VIEW OF TEMPERATURE DISTRIBUTION IN
LAHENDONG GEOTHERMAL FIELD
GAMBAR III. 12 GEOTHERMAL MODEL OF LAHENDONG
GEOTHERMAL FIELD (MODIFIED FROM SIAHAAN, 2000).

BAB 1
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Hochstein dan Browne (2000) mendefinisikan sistem panasbumi sebagai
perpindahan panas secara alami dalam volume tertentu di kerak bumi dimana
panas dipindahkan dari sumber panas ke zona pelepasan panas.
Sistem panasbumi merupakan daur hidrologi yang dalam perjalanannya,
air berhubungan langsung dengan sumber panas yang bertemperatur tinggi
sehingga terbentuk air panas atau uap panas yang terperangkap pada suatu
reservoir berupa batuan porous dengan permeabilitas tinggi. Sistem panasbumi
dengan suhu tinggi terletak pada tempat-tempat tertentu. Batas-batas pertemuan
lempeng yang bergerak merupakan pusat lokasi kemunculan hidrotermal magma.
Transfer energi panas secara konduktif pada lingkungan tektonik lempeng
diperbesar oleh gerakan magma dan sirkulasi hidrotermal. Energi panasbumi 50%
berada dalam magma, 43% dalam batu kering panas (hot dry rock) dan 7% dalam
sistem hidrotermal. Secara umum dapat dikatakan proses yang menghasilkan
pembentukan anomali geothermal adalah proses transfer panas ke permukaan
bumi yang disebabkan oleh magma. Panas yang dibawa ini kemudian disimpan
sementara di dalam kerak bumi dekat permukaan <10km (Muffler, 1976,
Raybach-Muffler, 1981). Adapun syarat sistem panasbumi menurut DiPippo
(2005) adalah sumber panas, permeabilitas, fluida, clay cap, dan recharge.
Konsep tektonik lempeng menjelaskan bahwa magma yang menuju
permukaan bumi umumnya berada di sepanjang tepian lempeng (plate
boundaries). Sehingga sumberdaya panasbumi yang disebabkan oleh aktivitas
magmatik atau intrusi magma diduga akan berada di sepanjang daerah pemekaran
lempeng (spreading ridges), daerah subduksi (convergent margin), dan peluruhan
batuan di tengah lempeng (interplate melting anomalies). Prinsip dari
pembentukan sistem panasbumi selalu memerlukan sirkulasi air yang memadai.
Daur hidrologi di daerah panasbumi dimulai dari air hujan yang masuk ke dalam

tanah, kemudian membentuk aquifer air, lalu terpanasi oleh sumber panas dalam
bumi. Fluida panas ini naik ke permukaan melalui retakan-retakan batuan
membentuk sumber-sumber airpanas dan keluar sebagai uap atau airpanas yang
disemburkan. Airtanah yang mengalami pemanasan akan keluar dengan dorongan
arus konveksi melalui jalur-jalur struktur yang ada. Sistem panasbumi dapat
dijumpai pada daerah dengan gradien geotermal normal atau diatas normal,
terutama pada bagian sekitar tepi lempeng dimana gradien geotermal biasanya
memiliki kisaran suhu yang lebih tinggi daripada suhu rata-rata (Dickson dan
Fanelli, 2004).

BAB 2
PEMBAHASAN
II.1 GEOLOGI REGIONAL
Geologi regional daerah penelitian, yang meliputi fisiografi regional,
stratigrafi regional, dan struktur geologi regional yang ada di daerah penelitian .
II.2 FISIOGRAFI
Lapangan panas bumi
Lahendong terletak di sekitar
30 km sebelah selatan dari
Manado, di lengan utara Pulau
Sulawesi

.Pulau

Sulawesi

terbentuk akibat subduksi aktif


di

bagian

timur

selatan

(Mollusca laut) dan bagian


utara (Celebes laut).
Secara regional, bidang
ini terletak di margin barat dari
Tondano

Depresi

yang

membentang sekitar 20 km di
arah utara-selatan dan membuka ke barat. Dalam depresi ini adalah tepi melingkar
Pangolombian dalam bentuk dan struktur penting dalam sistem panas bumi
Lahendong.
Menurut Hamilton (1979), Sukamto (1975a; 1975b), dan Smith (1983)
telah membagi wilayah Sulawesi ke dalam tiga bagian fisiografi , untuk wilayah
sulawesi utara sendiri masuk ke dalam Busur Vulkanik Neogen (Neogene
Volcanic Arc), terdiri dari kompleks basement Paleozoikum Akhir dan
Mesozoikum Awal pada bagian utara dan tengahnya, batuan melange pada awal
Kapur Akhir di bagian selatan (Sukamto, 2000), sedimen flysch berumur Kapur
Akhir hingga Eosen yang kemungkinan diendapkan pada fore arc basin

(cekungan muka busur) (Sukamto, 1975a;1975c) pada bagian utara dan selatan,
volcanic arc (busur vulkanik) berumur Kapur Akhir hingga pertengahan Eosen,
sekuen batuan karbonat Eosen Akhir sampai Miosen Awal dan volcanic arc (busur
vulkanik) Miosen Tengah hingga Kuarter (Silver dkk, 1983). Batuan plutonik
berupa granitik dan diorit berumur Miosen Akhir hingga Pleistosen, sedangkan
batuan vulkanik berupa alkali dan kalk-alkali berumur Paleosen sampai
Pleistosen. Sulawesi bagian barat memiliki aktifitas vulkanik kuat yang
diendapkan pada lingkungan submarine sampai terestrial selama periode pliosen
hingga kuarter awal di bagian selatan , namun pada sulawesi utara aktifitas
vulkanik masih berlangsung hingga saat ini

Gambar II.2 Pembagian jalur fisiografi Sulawesi (Smith, 1983)

II.3 Struktur Geologi


Studi pada distribusi struktur geologi dari Lahendong Geothermal

lapangan telah dilakukan oleh Pertamina sejak tahun 1982. Pemetakan geologi
wilayah yang di lakukan oleh Ganda dan Sunaryo (1982). Kemudian pada tahun
1987, Geoservice mempelajari geologi dan struktur lapangan berdasarkan foto
udara. Robert (1987) menyusun data Geoservice bersama-sama dengan data.
Survei resistivitas dilakukan oleh Pertamina pada tahun 1988. Foto udarat dan
interfretasi manifestasi permukaan evaluasi dilakukan oleh Siahaan (1999).
Tektonik , lima struktur utama yang yang ditemui di lapangan panas bumi
Lahendong. Struktur yang rim Pangolombian, struktur sesar NE-SW, EW, NWSE dan N- S.
Struktur Pangolombian adalah tepi kaldera yang ditafsirkan untuk
memberikan permeabilitas yang baik di lapangan. Struktur seasr NE-SW adalah
sesar normal dan lateral, bertindak sebagai sumbu vulkanik besar. Struktur sesar
EW adalah lateral dan kesalahan transcurrent. Sesar NW-SE dan sesar NS adalah
sesar normal yang ditafsirkan memberikan permeabilitas yang baik untuk sistem
panas bumi (Robert, 1987). struktur sesar penting mengendalikan sistem panas
bumi di lapangan adalah F-1 di sumur pad LHD-4 dan 13 dan F-2 dan
Pangolombian rim untuk sumur pad LHD-5. Ketiga bantalan dengan baik adalah
tempat produksi, sedangkan dengan baik pad LHD-7 di bagian barat memiliki
sumur reinjeksi.
Struktur geologi dan penampang ditunjukkan dalam Gambar 2 dan 6. Nah
LHD-1 dan 2 memotong sesar NW-SE dan berpotongan SW pada kedalaman 350
m dan 650 m, tetapi tidak berpotongan dengan struktur utama di kedalaman .
Tidak ada struktur produktif berpotongan dengan baik LHD-3. Nah LHD-4
memotong utama F-1 struktur di kedalaman 2.200-2.250 m dan juga LHD-5
memotong struktur F-2 di 1170-1220 m (Gambar 6). LHD-6 memotong sebuah
NW-SE F-9 sesar pada kedalaman 780 m, tetapi gagal untuk memotong struktur
permeabel di bagian produksi. Nah LHD-7 memotong Pangolombian Rim pada
kedalaman 1.950 m. Tidak ada struktur sesar terbuka berpotongan dengan sumur
LHD-8, 11 dan 12. (Koestono et al.) ini menunjukkan rendah untuk tidak
permeabilitas karena silisifikasi di patah tulang juga. Nah LHD-10 memotong
sesar F-6 dan juga LHD-13 berpotongan sesar F-1 (Azimudin dan Hartanto,
1997). Nah LHD-14 memotong sesar F-1 di 1470 m. Nah LHD-17 berpotongan F-

8 sesar di dekat permukaan. Nah LHD-18 berpotongan sesar F-1 di 1468 m.


Tidak ada kerugian sirkulasi ditemukan di sumur LHD-19. Nah LHD-20 dan 21
berpotongan sesar F-2 di 1048 dan 1355 m, masing-masing. Nah LHD-22
memotong Pangolombian Rim di 2107. Nah LHD- 23 memotong Pangolombian
Rim di 1.703-2.000 m seperti yang ditunjukkan oleh jumlah sirkulasi loss dan
struktur target yang menarik bagi bagian utara sistem waduk di bidang ini
II.4 Stratigrafi
Lahendong terdiri dari batuan vulkanik dan ditandai dengan lapisan stratogunung berapi interbedded klasik piroklastik rock, andesit dan basalt andesit lava.
Sebuah peta geologi awal dibuat oleh Ganda dan Sunaryo (1982) dan studi rinci
lebih lanjut dari struktur ditambahkan oleh Siahaan (2000). Studi geologi dibagi
litologi ke 7 formasi yang berbeda; menurut tertua untuk batu termuda mereka
terdiri dari:
Tondano Formasi (Tt): Interlayers dari breksi piroklastik, andesit lava, dan tuf.
Batuan ini diukir morfologi pada bagian timur selatan dari lapangan. Litologi ini
adalah unit tertua di lapangan(Tf):.
Tondano Tuff Unit ini terdiri terutama tuff dan batu apung terbentuk selama
pembentukan kaldera Tondano. Hal ini dapat dibandingkan dengan ignimbrit yang
terbentuk selama ledakan menentu gunung berapi Tondano(Qlk):.
Lengkoan Lava Lengkoan pegunungan terletak di sisi utara dari prospek dan
terutama terdiri dari lava andesit. Tubuh lava ini dianggap membentuk batas
antara Lahendong dan Tompaso prospek(Qrd1):.
Rindengan 1 Serangkaian lapisan interbedded dari breksi piroklastik, lapili, tuff.
Unit ini membentuk morfologi datar dan mencakup sebagian besar dari daerah
prospek(Qrd2):.
Rindengan 2 Interlayers dari lava andesit dan breksi; bom vulkanik dan lapili
dari proximals ke gunung Rindengan(QSP):.2
Sempu lapisan interbedded dari breksi piroklastik dan andesit lava dari pusat
vulkanik Sempu terletak di bagian selatan dari lapangan(Qal):.

Danau Tondano penyimpanan alluvium dan danau deposit yang terdiri dari batu
pasir butir halus dengan lapisan tipis tuf. Sedimen ini terjadi di sekitar Danau
Tondano di sisi timur lapangan

BAB III
ISI

III. 1 Struktur Geologi Lapangan Panasbumi Lahendong


Handoko (2010) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa struktur geologi
lapangan panasbumi Lahendong diinterpretasikan dari foto udara. Beberapa
struktur ditemukan sebagai berikut:
1

Kelurusan regional dengan trend timurlaut baratdaya dan barat laut

tenggara;
Sesar timurlaut baratdaya memotong Gunung Damaah, G. Masarang,
dan komplek gunungapi Tampusu-Kasuratan, dan komplek Sempu-

3
4

Soputan.
Sesar normal menghadap baratdaya puncak Gunung Lengkoan.
Sesar yang memiliki trend baratlaut-tenggara memotong Sungai Bapaluan,

area manifestasi Tempang, dan pegunungan di tenggara Lembeyan; serta


Sesar timur-barat melalui dua alterasi regional Batukolok, di Gunung
Rindengan, dan Tompaso, dan Tempang.

Sesar-sesar ini memiliki pengaruh yang besar terhadap sistem hidrologi di daerah
panasbumi Lahendong dan fitur kenampakang utama pada manifestasi panasbumi
Lahendong.

Gambar III.1 Kelurusan dan struktur geologi lapangan panasbumi Lahendong


(Utami, 2011)

III.2 Struktur Tektonik


Studi pada distribusi struktur geologi dari Lahendong Geothermal
lapangan telah dilakukan oleh Pertamina sejak tahun 1982. Pemetakan geologi
wilayah yang di lakukan oleh Ganda dan Sunaryo (1982). Kemudian pada tahun
1987, Geoservice mempelajari geologi dan struktur lapangan berdasarkan foto
udara. Robert (1987) menyusun data Geoservice bersama-sama dengan data.
Survei resistivitas dilakukan oleh Pertamina pada tahun 1988. Foto udarat dan
interfretasi manifestasi permukaan evaluasi dilakukan oleh Siahaan (1999).

Gambar III.2 peta geofisika prospek area lahendong


Tektonik , lima struktur utama yang yang ditemui di lapangan panas bumi
Lahendong. Struktur yang rim Pangolombian, struktur sesar NE-SW, EW, NWSE dan N- S. Struktur Pangolombian adalah tepi kaldera yang ditafsirkan untuk
memberikan permeabilitas yang baik di lapangan. Struktur seasr NE-SW adalah
sesar normal dan lateral, bertindak sebagai sumbu vulkanik besar. Struktur sesar
EW adalah lateral dan kesalahan transcurrent. Sesar NW-SE dan sesar NS adalah
sesar normal yang ditafsirkan memberikan permeabilitas yang baik untuk sistem
panas bumi (Robert, 1987). struktur sesar penting mengendalikan sistem panas
bumi di lapangan adalah F-1 di sumur pad LHD-4 dan 13 dan F-2 dan
Pangolombian rim untuk sumur pad LHD-5. Ketiga bantalan dengan baik adalah
tempat produksi, sedangkan dengan baik pad LHD-7 di bagian barat memiliki
sumur reinjeksi.

Struktur geologi dan penampang ditunjukkan dalam Gambar 2 dan 6. Nah


LHD-1 dan 2 memotong sesar NW-SE dan berpotongan SW pada kedalaman 350
m dan 650 m, tetapi tidak berpotongan dengan struktur utama di kedalaman .
Tidak ada struktur produktif berpotongan dengan baik LHD-3. Nah LHD-4
memotong utama F-1 struktur di kedalaman 2.200-2.250 m dan juga LHD-5
memotong struktur F-2 di 1170-1220 m (Gambar 6). LHD-6 memotong sebuah
NW-SE F-9 sesar pada kedalaman 780 m, tetapi gagal untuk memotong struktur
permeabel di bagian produksi. Nah LHD-7 memotong Pangolombian Rim pada
kedalaman 1.950 m. Tidak ada struktur sesar terbuka berpotongan dengan sumur
LHD-8, 11 dan 12. (Koestono et al.) ini menunjukkan rendah untuk tidak
permeabilitas karena silisifikasi di patah tulang juga. Nah LHD-10 memotong
sesar F-6 dan juga LHD-13 berpotongan sesar F-1 (Azimudin dan Hartanto,
1997). Nah LHD-14 memotong sesar F-1 di 1470 m. Nah LHD-17 berpotongan F8 sesar di dekat permukaan. Nah LHD-18 berpotongan sesar F-1 di 1468 m.
Tidak ada kerugian sirkulasi ditemukan di sumur LHD-19. Nah LHD-20 dan 21
berpotongan sesar F-2 di 1048 dan 1355 m, masing-masing. Nah LHD-22
memotong Pangolombian Rim di 2107. Nah LHD- 23 memotong Pangolombian
Rim di 1.703-2.000 m seperti yang ditunjukkan oleh jumlah sirkulasi loss dan
struktur target yang menarik bagi bagian utara sistem waduk di bidang ini
(Gambar) .

Gambar III.3 Cross section A-A showing the wells, geological structures,
temperature and alteration zones.

III.3

Stratigrafi Lapangan Panasbumi Lahendong

Gambar III.4 Peta Geologi Regional lembar Manado, Sulawesi Utara


(dimodifikasi dari Effendi dan Bawono, 1997)
Berdasarkan Peta Geologi Regional lembar Manado, Sulawesi Utara
(Effendi dan Bawono, 1997), daerah penelitian memiliki tatanan stratigrafi dari
yang tertua hingga termuda sebagai berikut:
1

Batuan Gunungapi (Tmv)


Terutama terdiri dari breksi, lava, dan tuf. Aliran lava pada umumnya

berkomposisi

andesit

sampai

basal.

Breksi

berbutir

sangat

kasar,

berkomposisi andesit, sebagian bersifat konglomerat, mengandung sisipan


tuf, batupasir, batulempung, dan lensa batugamping. Fosil foraminifera kecil
ditemukan

dalam

sisipan

lempung

napalan

yaitu

Globorotalia

periphereacuta, G. mayeri, dan G. praemenardii, yang menunjukan umur


Miosen Tengah (Kadar, D.G., komunikasi tertulis, 1974).
2

Tufa Tondano (QTv)


Klastika kasar gunungapi yang tertutama berkomposisi andesit,

tersusun dari komponen menyudut hingga menyudut tanggung, tercirikan


oleh banyak pecahan batugamping; batuapung lapili, breksi, ignimbrit sangat
padat, berstruktur aliran. Satuan ini terdapat di sekitar Danau Tondano di

bagian

utara

daerah

Minahasa;

membentuk

punggungan

yang

menggelombang rendah. Tuf bersifat trakhit yang sangat lapuk, berwarna


putih hingga kelabu kekuningan, terdapat di dekat Kp. Popontelan dan di S.
Sinengkeian. Di daerah pantai antara Paslaten dan Sondaken, satuan ini juga
membentuk punggungan menggelombang rendah. Endapan piroklastika ini
diperkirakan berasal dari dan terjadi sebagai hasil letusan hebat pada waktu
pembentukan Kaldera Tondano. Satuan ini berumur Pliosen Pleistosen.
3

Batuan Gunungapi Muda (Qv)


Lava, bom, lapili dan abu; membentuk gunungapi strato muda antara

lain: G. Soputan, G. Mahawu, G. Lokon, G. Klabat, G. Tongkoko; lava yang


dikeluarkan oleh G. Soputan dan G. Lokon terutama berkomposisi basal,
sedangkan G. Mahawu dan G. Tongkoko berkomposisi andesit; di Kp.
Tataaran dan Kp. Kiawa terdapat aliran obsidian, yang mungkin masingmasing berasal dari G. Tompusu dan G. Lengkoan. Satuan ini berumur
Plistosen Holosen.
4

Endapan Danau dan Sungai (Qs)


Pasir, lanau, konglomerat dan lempung napalan. Perselingan lapisan

pasir lepas dan lanau, lapisan berangsur, setempat silang siur; konglomerat
terususun dari pecahan batuan kasar menyudut tanggung, lempung napalan
hitam mengandung moluska di Kayuragi (Koperberg, 1928) mungkin
termasuk satuan ini. Satuan ini membentuk undak dengan permukaan
menggelombang. Umur satuan ini adalah Plistosen.

III. 4 Reservoir Lahendong


Reservoir Area Lahendong dengan proven area seluas 8 km2 dan terbagi
menjadi dua zona produktif utama, yaitu di sebelah selatan yang diproduksikan
oleh sumur - sumur di cluster LHD-4 dan LHD-13, serta di sebelah utara yang
diproduksikan oleh sumur - sumur di cluster LHD-5 dan LHD-24. Peta zona
reservoir Lahendong dapat dilihat pada Gambar .

Gambar III.5 Peta Zona Reservoir Lahendong

Cadangan

terbukti

reservoir

Lahendong

berdasarkan

uap

yang

terkumpul/terproduksikan di kepala sumur adalah sebesar 80 MW dengan potensi


pengembangan sebesar 150 MW. Sedangkan berdasarkan simulasi Monte Carlo,
Area Lahendong memiliki potensi cadangan 125 155 MW, seperti gambar di
bawah :

gambar III.6 Histogram Simulasi Monte Carlo Cadangan Area Lahendong

Area Lahendong mempunyai karakteristik reservoir low permeability


dimana jarang terdapat total loss circulation pada pemboran sumur-sumur yang
ada. Berdasarkan data statistik hanya 60 persen dari sumur-sumur di Lahendong
yang mendapatkan total loss pada pemboran, dan 15 persen yang hanya
mendapatkan zona partial loss selama pemboran. Sedangkan selebihnya tidak
mendapatkan zona loss selama pemboran. Kedalaman feed zone rata-rata adalah
1600 1800 meter.
Dengan Feed Zone yang ada, area Lahendong memiliki potensi reservoir
temperatur tinggi dengan temperatur reservoir berkisar mulai dari 290 320 oC.
Temperatur zona produktif selatan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan di
zona produktif utara. Heat Source utama diperkirakan ada di selatan sekitar zona
produktif selatan sebagai daerah upflow sedangkan daerah outflow diperkirakan
ke arah zona produktif utara Tekanan reservoir berada untuk Area Lahendong,
berada pada kisaran 130 160 kscg.

Terdapat perbedaan karakteristik fluida produksi dari sumur-sumur


produksi di zona utara dan selatan dimana zona selatan yang terdiri dari sumur
produksi memproduksikan fluida yang lebih kering dibandingkan dengan yang
diproduksikan di zona utara. Dryness sumur- sumur produksi di zona selatan
berkisar 80-90 %, sedangkan dryness sumur-sumur produksi di zona utara
berkisar 25-35 %.

III.5 Produktifitas Lahendong


Sampai saat ini, Suplai uap untuk PLTP Lahendong Unit 1, 2 dan 3 berasal
dari 9 sumur produksi yang terdapat di 3 kluster produksi. Dari zona selatan,
terdapat kluster LHD-4 yang terdiri dar 5 sumur produksi, yaitu sumur LHD- 8,
LHD-10, LHD-11, LHD-12 dan LHD-15 serta kluster LHD-13 yang terdiri dari 2
sumur produksi, yaitu sumur LHD-17 dan LHD-18.
Dari zona utara, terdapat kluster LHD-5 yang terdiri dari 2 sumur produksi,
yaitu sumur LHD- 5 dan LHD23. Sementara itu, di zona utara juga terdapat
kluster pengembangan yaitu kuster LHD-24 yang terdiri dari 2 calon sumur
produksi, yaitu sumur LHD-24 dan LHD-28. Nama kluster merupakan sumur
pertama yang dibor di kluster tersebut.
Sumur-sumur produksi di zona selatan, yang terdiri dari dua kluster,
menyuplai uap untuk pembangkitan PLTP Lahendong Unit 1 dan Unit 2.
Sedangkan sumur-sumur produksi di zona utara, yaitu di kluster LHD-5,
menyuplai uap untuk PLTP Lahendong Unit 3. Satu kluster pengembangan di
zona utara yaitu kluster LHD- 24 rencananya akan menyuplai uap untuk PLTP
Unit 4.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa zona selatan memiliki
karakter fluida sumur yang lebih kering, sehingga satu sumur injeksi di kluster
LHD-7, yaitu sumur LHD-7, cukup untuk menginjeksikan brine dari sumursumur produksi di kluster LHD-4 dan LHD-13 serta kondensat dari PLTP
lahendong Unit 1 dan Unit 2. Injeksi air ke sumur LHD-7 merupakan cold
injection, dimana fluida dikumpulkan dan didinginkan terlebih dahulu di cooling
pond yang terdapat di kluster LHD-13. Sementara itu, zona utara yang lebih

basah, membutuhkan 3 sumur injeksi, yaitu sumur LHD-19, LHD-20, LHD-21


yang berada di kluster LHD-5, untuk menginjeksikan brine dari sumur-sumur
produksi di kluster LHD-5 dan kondensat dari PLTP Lahendong Unit 3. Skema
injeksi pada 3 sumur injeksi terakhir merupakan hot injection. Namun untuk ke
depannya, mulai akhir tahun 2011, semua injeksi brine dan kondensat akan
diarahkan pada sumur-sumur injeksi di kluster LHD-7, dimana selain sumur
LHD-7, juga telah dibor sumur LHD-36 dengan skema cold injection. Skematik
laju alir uap dan brine di Area Lahendong dapat dilihat pada gambar . Adapun
penambahan sumur produksi yang akan menyuplai PLTP Lahendong Unit 4, tidak
akan mengubah strategi injeksi yang sudah ada

Gambar III.7 Diagram Alir Uap Dan Brine Lahendong

III. 6 Evaluasi Reservoir Dan Operasional Area Lahendong


Dimulai dari tahun 2001, saat ini Area Lahendong menyuplai uap lebih
kurang 450 ton/jam untuk 3 PLTP yang sudah ada. Dengan tulang punggung
produksi berasal dari zona produksi selatan yaitu di kluster LHD-4 dan kluster
LHD-13, menunjukkan bahwa setelah beroperasi selama 10 tahun, terjadi
penurunan TKS (Tekanan Kepala Sumur) di sumur-sumur produksi di kluster
LHD-4. Namun besaran TKS-nya masih berkisar antara 19 29 Kscg sehingga

masih dapat diandalkan untuk menyuplai uap ke PLTP Lahendong Unit 1 dan Unit
2. Sedangkan pada kluster LHD-13 dua sumur produksi yang ada, yaitu LHD-17
dan LHD-18 juga mengalami decline TKS dengan bukaan penuh, namun saat ini
masih dapat beroperasi dengan TKS 12-13 Kscg. Sementara itu di zona utara,
karena relatif belum lama dalam menyalurkan uap, belum terlihat adanya
penurunan TKS pada sumur-sumur produksinya.
Permasalahan yang sering terjadi pada lapangan uap dua fasa adalah
pengukuran laju air fluida per sumur, terutama bila dalam satu kluster, ada
beberapa sumur produksi yang bergabung pada satu separator. Area Lahendong
pun memiliki kesulitan yang sama sehingga tidak memiliki data laju alir fluida per
sumur sampai akhirnya dilakukan TFT (Tracer Flow Test) di tahun 2010 pada
sumur-sumur produksinya. Hasil TFT pada tahun 2010 yang dibandingkan dengan
hasil uji produksi sumur-sumur produksi di Area Lahendong sedikitnya dapat
memberikan dua gambaran Area Lahendong saat ini. Gambaran pertama, adalah
seperti halnya pemantauan TKS, sumur-sumur produksi di Area Lahendong pun
sudah mengalami penurunan produksi. Penurunan produksi terbesar dialami pada
sumur-sumur produksi di kluster LHD-4, kemudian kluster LHD-13 dan terakhir
di kluster LHD-5. Hal ini sesuai dengan urutan umur produksi sumur dan
kecenderungan penurunan TKS sumur-sumur produksi tersebut. Adapun decline
rata-rata sumur produksi di Area Lahendong adalah 3 - 4 % pertahun. Gambaran
kedua adalah kecenderungan terbentuknya steam cap pada zona produksi selatan
yang ditandai dengan meningkatnya dryness sumur-sumur produksi yang
mengarah ke tengah zona reservoir dan menurunnya dryness sumur-sumur
produksi yang mengarah ke luar zona reservoir.
Pembentukan steam cap dan menurunnya dryness jelas terlihat pada dua
sumur produksi, yaitu sumur LHD-15 dan sumur LHD-10. Sumur LHD-15 yang
mengarah ke tengah zona reservoir saat ini memproduksikan fluida satu fasa uap.
Sementara itu, sumur LHD-10 yang mengarah keluar zona reservoir justru
mengalami perubahan karakteristik fluida yang sangat signifikan dimana ketika
uji produksi, LHD-10 merupakan sumur dominasi uap dengan dryness 84%, saat
ini menjadi sumur dominasi air dengan dryness 30%.
Area Lahendong sudah dua kali melakukan Tracer Test untuk menganalisa

aliran fluida dari sumur-sumur injeksi ke sumur-sumur produksi yang ada. Tracer
Test pertama dilakukan pada tahun 2006 ketika operasional Area Lahendong
hanya suplai uap dari sumur-sumur produksi di kluster LHD-4 ke PLTP
Lahendong Unit 1. Injeksi tracer dilakukan pada sumur injeksi LHD-7 dan
dipantau di sumur-sumur produksi di kluster LHD-4 dengan tracer berupa tritium.
Hasil pemantauan adalah bahwa terjadi interkoneksi antara sumur injeksi LHD-7
dengan sumur-sumur produksi di kluster LHD-4 dengan lama breakthrough
sekitar setahun. Sementara itu, tracer test kedua dilakukan pada tahun 2010
dengan menginjeksikan tritium di sumur injeksi LHD-21 kemudian dipantau pada
beberapa sumur produksi di kluster LHD-4, LHD-5 dan LHD-13. Hasilnya adalah
interkoneksi antara sumur injeksi dengan sumur-sumur produksi di tiap-tiap
kluster dengan interkoneksi terkuat adalah antara sumur injeksi dengan sumur
produksi di kluster LHD-5 yaitu, sumur LHD-21 dengan sumur LHD-5 dan LHD23 dengan lama breakthrough adalah 3 hari.
Bila dihubungkan antara hasil tracer test dengan perubahan karakteristik
reservoir khususnya di zona selatan dimana terbentuk steam cap dan
membasahnya sumur-sumur produksi yang ke arah luar reservoir, ada dua
kemungkinan utama yang penyebab, strategi injeksi yang masih harus dievaluasi
atau pengambilan massa yang cukup besar pada zona reservoir yang
mengakibatkan mulai ikut terproduksikannya marginal water dari luar zona
reservoir. Kedua kemungkinan ini bila dikoreksi dengan hasil pemantauan
datageokimia, menunjukkan bahwa air yang terproduksikan di sumur LHD-10,
sebagian besar merupakan air injeksi dari cluster LHD-7. Untuk itu, ke depannya
perlu dilakukan studi lebih lanjut dengan data yang lebih lengkap untuk
menentukan strategi injeksi yang terbaik bagi Area Lahendong tanpa
mempengaruhi operasionalnya.

III.7 Monitoring Geokimia


Monitoring reservoir lapangan panasbumi Lahendong tidak hanya
dilakukan dengan menggunakan Tracer Flow Test (TFT) tetapi juga melalui
pemantauan unsur unsur kimia seperti Cloride (Cl), Boron (B) dan Non
Condensable Gas (NCG) dan lain lain yang terdapat pada fluida panasbumi.
Sementara kami tidak menggunakan data enthalpy dikarenakan keterbatasan data
mengingat sejak tahun 2011 sumur sudah jarang sekali bahkan beberapa sumur
tidak dilakukan pengukuran Temperature dan Tekanan kondisi statik karena sumur
selalu online untuk memenuhi kebutuhan listrik Sulawesi Utara sekitar 40%.
Unsur unsur kimia tersebut didapatkan dari hasil analisis sampel kimia
Separated Water (SPW) /Brine seperti kandungan Cloride (Cl) dan Steam
Condensate Sample (SCS) seperti kandungan Boron (B) yang diambil dari sumur
sumur produksi di Lapangan Panasbumi Lahendong setiap 4 bulan sekali.
Berdasarkan data kimia dari SPW, SCS dan NCG selama kurang lebih 10
tahun lapangan panasbumi Lahendong beroperasi didapatkan beberapa pola atau
indikasi perubahan sifat ataupun karakteristik di reservoir, yaitu : Sumur sumur
di kluster LHD-4 seperti: LHD-8 : relatif menjadi kering, ada sedikit kondensasi
LHD-10 : menjadi lebih basah (gambar III.8) LHD-11 : menjadi lebih kering
(gambar III.9 ) LHD-12 : menjadi lebih kering LHD-15 : relatih sedikit menjadi
lebih basah Sumur sumur di kluster LHD-13 seperti : LHD-17 : menjadi lebih
kering LHD-18 : menjadi lebih kering Sumur sumur di kluster LHD-5 seperti :
LHD-5 : sudah mendapat pengaruh injeksi LHD-23 : sudah mendapat pengaruh
injeksi.
Berdasarkan interpretasi data kimia fluida sumur sumur produksi
tersebut maka didapatkan pola perubahan yang hampir sama dengan pola
perubahan berdasarkan data Tracer Flow Test (TFT) yang mana pada sumur
sumur di kluster LHD-4 dan LHD-13 yang mengarah ke bagian tengah dan
selatan menjadi lebih kering sedangkan sumur yang mengarah ke bagian relatif
utara seperti sumur LHD-10 (relatif lebih basah). Hal ini bisa terjadi akibat dari
pengaruh air injeksi dingin di kluster LHD-7 atau berlokasi disebelah utara kluster
LHD-4 ataupun dari marginal water yang masuk ke zona reservoir (masih

memerlukan study lebih lanjut untuk menjawab permasalahan tersebut).


Sedangkan untuk sumur sumur produksi di kluster LHD-5 seperti sumur LHD-5
dan sumur LHD-23 terlihat sudah mendapatkan pengaruh air injeksi dari sumur di
sebelahnya yaitu sumur LHD-19, LHD-20 dan LHD-21 yang difungsikan
sementara untuk sumur injeksi karena proses pengeboran sumur injeksi tambahan
baru saja selesai dan pemipaan dari kluster LHD-5 ke LHD-7 sedang dalam
proses pekerjaan. Berdasarkan data kimia fluida dan TFT dari sumur sumur
produksi di Area Lahendong maka sudah terlihat adanya kekeringan di zona
reservoir pada sumur sumur produksi penyuplai PLTP unit 1 dan 2 sehingga
perlu adanya tindak lanjut untuk mengatasi hal tersebut terkait management steam
field.

Gambar III.8 Grafik Perubahan Kimia Sumur LHD-10

Gambar III.9 Grafik Perubahan Kimia Sumur LHD-11

III.8 Kendala Operasional


Selama 10 tahun beroperasi, sudah menjadi hal yang normal bila Area
Lahendong memiliki beberapa kendala operasional. Namun, kendala operasional
yang utama di Area Lahendong adalah keterbatasan sumur produksi. Hal ini
kemudian ditambah dengan fakta bahwa Area Lahendong sangat diandalkan untuk
menghidupi Sulawesi Selatan dari sisi energi listrik. Hal ini mengakibatkan
kesulitan bagi Area Lahendong sendiri untuk melakukan pengambilan data-data
monitoring sumur-sumur produksi khususnya bila harus melakukan modifikasi
steam gathering system atau mengurangi produksi uap dari salah satu sumur
produksi yang ada.
Padahal data monitoring tersebut sangat dibutuhkan dalam pemantauan
dan peramalan suplai uap Area Lahendong ke depannya. Untuk mengatasi
permasalahan ini, Area Lahendong saat ini mencanangkan beberapa strategi.
Strategi pertama adalah menguji ulang beberapa sumur monitoring dan
sumur injeksi yang diharapkan dapat menambah suplai uap dan menjadi sumur
produksi cadangan. Uji ulang ini sudah relative memberikan hasil pada sumur
LHD-13 yang pada akhirnya akan coba dimasukkan ke steam gathering system.
Saat ini pengujian sedang dilakukan pada sumur-sumur injeksi yang sudah tidak

difungsikan lagi di kluster LHD-5, mengingat semua injeksi brine saat ini sudah
dialirkan ke sumur-sumur injeksi di kluster LHD-7.
Strategi kedua adalah dengan pemasangan separator tambahan untuk
meningkatkan efisiensi separator pada sumur-sumur produksi di kluster LHD-4.
Hal ini didasarkan fakta bahwa produksi fluida terbesar saat ini berasal dari
sumur-sumur produksi di cluster LHD-4 dengan hanya diimbangi dari satu
separator. Hasl studi menunjukkan bahwa dengan penambahan separator
tambahan dapat meningkatkan efisiensi pemisahan uap dan air sehingga
diharapkan dapat meningkatkan suplai uap ke PLTP Lahendong Unit 1 dan Unit 2.
Strategi ketiga adalah dengan perencanaan pemboran sumur make up di setiap
kluster dengan rencana terdekat adalah pemboran sumur make up di kluster LHD5. Alasan utama kluster LHD-5 adalah fakta bahwa hanya ada dua sumur produksi
untuk menyuplai uap ke PLTP Lahendong Unit 3, sehingga permasalahan yang
timbul pada salah satu sumur akan mengakibatkan berhentinya operasional PLTP
Lahendong Unit 3.
Sedangkan strategi keempat adalah dengan memanfaatkan brine yang
ada, yang memiliki temperatur yang cukup, untuk dimanfaatkan melalui Binary
Plant. Hal ini diharapkan dapat dilaksanakan mengingat produksi brine Area
Lahendong yang cukup besar dengan temperature yang relatif masih tinggi. Studi
untuk pelaksanaan rencana ini saat ini masih dilakukan antara Pertamina
Geothermal Energy dengan BPPT dan GFZ Jerman.
Dengan

keempat

strategi

tersebut

diharapkan

dapat

mengatasi

permasalahan utama Area Lahendong sehingga diharapkan pengoperasian Area


Lahendong dari sisi surface dan subsurface dapat dioptimalkan sehingga Area
Lahendong ke depannya dapat terus memberikan kontribusi signifikan baik pada
perusahaan maupun pada stakeholders yang ada, yaitu PLN sebagai customer dan
masyarakat Sulawesi Utara yang menikmati suplai energi bersih untuk kemajuan
daerahnya.

III. 9 Distribusi Temperatur


Suhu formasi di bidang panas bumi Lahendong diukur selama periode
pemanasan-up. Sebagian besar sumur di lapangan panas bumi Lahendong
memiliki suhu mulai dari 250oC ke 350oC kecuali sumur LHD-3, 6, dan juga pad
LHD-7 memiliki suhu di bawah 150oC (Gambar III.10). Sumur ini terletak pada
batas dari sistem panas bumi. Secara umum, korelasi distribusi temperatur antara
baik pad LHD-5 di bagian utara dan LHD-4 dan 13 di bagian selatan
menunjukkan peningkatan suhu (Gambar III.11).
pada pad LHD-4 yang lebih tinggi distribusi temperatur diamati dalam W,
NW dan SW bagian dari pad baik terhadap Mt. Lengkoan dibandingkan dengan
bagian timur. dan pad LHD-5 juga menunjukkan tren yang sama di W dan SW
arah pad baik. Peningkatan distribusi temperatur ini dibuktikan dengan
peningkatan suhu maksimum dari 250oC di sumur LHD-5 untuk 280oC di sumur
LHD-23. Situs ini yang menunjukkan peningkatan distribusi temperatur terjadi di
bawah Linau Lake yang diyakini menjadi pusat zona upflow memiliki suhu>
300Oc.

Gambar III.10 Section E-W showing the depth of circulation loss during drilling
in the each well

Gambar III.11 3D view of temperature distribution in Lahendong geothermal


field
III.10 Geothermal Model

Gambar III. 12 Geothermal model of Lahendong geothermal field (Modified from Siahaan, 2000).

Model panas bumi Lahendong pertama kali dibuat pada tahun 1987.
Barnet (1987) melakukan penilaian reservoir , dan kemudian model geologi
berdasarkan 7 sumur eksplorasi memberikan penekanan untuk struktur dan
distribusi temperatur pembentukan lateral dan vertikal dengan Robert (1987).
Kombinasi dari geologi data, geofisika dan data sumur dimodelkan oleh
Pertamina Geothermal. Model Azimudin dan Hartanto (1997) menekankan data
dengan baik setelah selesai dari 14 sumur, model konseptual oleh Siahaan
Fluida reservoir sumur dalam cairan panas bumi Lahendong terutama
didominasi oleh air Chloride Netral kecuali sumur LHD-1, 3 dan 7. Di bagian
barat, reservoir dangkal dikaitkan dengan cairan asam dan beberapa sumur
menunjukkan zona uap didominasi. Sistem waduk diyakini pusat di sekitar
Lahendong-Kasuratan-Linau

dan

ditandai

dengan

distribusi

permukaan

manifestasi termal. (1999), dan inversi 3D Model magnetotelurik oleh Raharjo, et


al, (2008).
Suhu profil menunjukkan karakteristik yang berbeda. Wells LHD-1, 2 dan
5 di bagian utara telah tajam. Berdasarkan analisis geologi kondisi bawah
permukaan dari Lahendong Panas Bumi Bidang dapat dibagi menjadi tiga lapisan
utama yaitu: zona smektit, zona smektit-klorit dan ilit-prehnite-epidot zona
(Gambar 10). perubahan gradien suhu sekitar 350 m kedalaman yang stabil pada
250 ke 280oC, sedangkan, sebagian besar profil suhu baik pad LHD-4 dan 13 di
bagian selatan menunjukkan perubahan dalam gradien suhu di kedalaman 650 m
di mana gradien stabil pada sekitar 320-340oC.
zona smectite terutama dicirikan dengan munculnya mineral suhu liat
rendah terbentuk pada suhu antara 100 sampai 150oC. Zona ini didominasi oleh
andesit basaltik dan ignimbrit tuff dari Pos Tondano dan
Sumber panas untuk sistem panas bumi di bidang ini diyakini menjadi
magma pendinginan di bawah Mt. Lengkoan dan Mt. Kasuratan (Siahaan, 2005).
Unit Tondano masing-masing. Di bidang Lahendong, zona ini berperilaku
sebagai Caprock dan terutama ditemukan di seluruh sumur LHD-3, LHD-6 dan
LHD-7 (Siahaan, 2005). Lapisan ini ditandai dengan lapisan konduktif memiliki

resistivitas <10 ohmm (Raharjo, et. Al., 2008).


Salah satu aspek penting untuk mempertahankan sistem panas bumi adalah
mengisi ulang dari sistem sekitarnya. Daerah resapan dari sistem ini adalah dari
Mt. Tampusu di timur dan Gunung Lengkoan di SW di ketinggian sekitar 800-900
mdpl (Batan, 1991).

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Selama 10 tahun beroperasi, sudah terjadi penurunan baik TKS maupun
laju alir pada sumur-sumur produksi yang ada di zona produksi selatan
yang menyuplai uap untuk PLTP Lahendong Unit 1 dan 2.
2. Berdasarkan hasil Tracer Flow Test 2010 dan analisa geokimia sumur
produksi, terjadi perubahan karakteristik fluida sumur pada sumur-sumur
produksi di zona produksi selatan, dimana terbentuk steam cap pada
tengah zona reservoir dan menurunnya dryness pada sumur-sumur
produksi yang mengarah keluar zona reservoir, kemungkinan berhubungan
dengan strategi injeksi yang ada.
3. Kurangnya sumur-sumur produksi cadangan menjadi permsalahan utama
bagi Area Lahendong dari sisi operasional maupun pemantauan reservoir
ke depannya karena mengakibatkan sulitnya melakukan manuver sumur
tanpa mengganggu operasional Area Lahendong. 4. Strategi penyelesaian
permasalahan yang ada diharapkan dapat sedikit demi sedikit membawa
Area Lahendong menjadi Area yang ideal sehingga pemantauan bawah
permukaan dapat dilakukan dengan baik untuk menunjang operasional
Area Lahendong ke depannya.

DAFTAR PUSTAKA
-

Azimudin, T. 1999. Re-evaluation of the Lahendong Geothermal Reservoir

Models. Pertamina Internal Report. (in Indonesian).


Utami, P., Browne, P.R.L., Simmons, S.F., and Suroto. 2005. Hydrothermal
Alteration Mineralogy of the Lahendong Geothermal System, North Sulawesi:

a Progress Report. Proc. 27th New Zealand Geothermal Workshop 2005


Barnet, B., 1987.: Reservoir assessment of Lahendong Geothermal Field,

GENZL, SMS, Report for Pertamina, Jakarta.


Batan, 1991, Isotope study of Lahendong geothermal field, North Sulawesi,
Report for Pertamina, Jakarta (In Indonesian)

Geoservice, 1987: Aerial photograph study of the Lahendong, North Sulawesi,


Report for Pertamina, Jakarta (in Indonesian).

Robert, D., 1987: Geology Model of Lahendong Geothermal Field: A guide for
the development of this field, Report for Pertamina, Jakarta.

Siahaan, E.E., 1999: Fault structure evaluation in Lahendong Field based on


aerial photo and landsat imagery, Pertamina Internal Report (in Indonesian)..

Siahaan, E.E., 2000: Mineral alteration study in Lahendong Geothermal Field,


Pertamina Internal Report (in Indonesian).

Siahaan, E.E., 2003: Development Plan of Lahendong and Tompaso


Geothermal Field, Pertamina Internal Report (in Indonesian)..

Siahaan, E.E., 2005: Feasibility study of the Lahendong Geothermal Field for
Power Plant Unit IV and V, Pertamina Internal Report (In Indonesian).

Siahaan, E.E.: Interpretation of Land Sat and Aerial Photo of Lahendong, PT.
Pertamina Geothermal Energy, internal report, unpublished, (2000).

Siahaan, E.E., Soemarinda, S., Fauzi, A., Silitonga, T., Azimudin, T., Raharjo,
I.B. (2005) Tectonism and volcanism study in the Minahasa compartment of

the north arm of Sulawesi related to Lahendong geothermal field, Indonesia.


Proc. World Geoth. Congress. (2005).
-

Koestono, H., Siahaan, E.E., Silaban, M., and Franzon, H.: Geothermal Model
of The Lahendong Geothermal Field, Indonesia,
LAPI-ITB, Re-Assessment Reservoir Area Lahendong, 2009. 2. Thermochem,
Lahendong 2010 Tracer Flow Test Report, 2010 3. BATAN, Laporan Survey
Injeksi Zat Perunut Area Lahendong, 2011 4. Enjinering Area Lahendong,
Laporan

Tahunan Geokimia, 2011 5. Laporan Uji Produksi Sumur LHD-5 6. Laporan


Uji Produksi Sumur LHD-8 7. Laporan Uji Produksi Sumur LHD-10 8.
Laporan Uji Produksi Sumur LHD-11 9. Laporan Uji Produksi Sumur LHD-12
10. Laporan Uji Produksi Sumur LHD-15 11. Laporan Uji Produksi Sumur
LHD-17 12. Laporan Uji Produksi Sumur LHD-18 13. Laporan Uji Produksi
Sumur LHD-23