Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejak tahun 1995 infeksi Tuberkulosis yang menjadi salah satu masalah kesehatan
dunia telah diupayakan pengendaliannya dengan strategi DOTS (Direct Observed
Treatment, Shorcourse chemoterapy). Strategi DOTS ini telah diterapkan oleh banyak
negara termasuk di Indonesia. Penemuan dan penyembuhan pasien, serta prioritas
diberikan pada pasien TB tipe menular merupakan fokus utama DOTS. DOTS pada
tahun 2005 dikembangkan menjadi Strategi STOP TB, yang kemudian di tahun 2013
banyak usulan dari negara-negara anggota WHO untuk membuat strategi baru, karena
angka insidensinya yang masih tinggi dan penurunan insidensi di tiap tahunnya yang
masih 1-2% (Kemenkes RI, 2014).
Insidensi global penyakit TB tahun 2012 mencapai 122 per 100.000 penduduk.
Terdapat 8,6 juta kasus TB di tahun 2012 menurut laporan WHO di tahun 2013.
Laporan yang sama juga menyebutkan 13% TB dengan HIV positif dan 75% kasus
ditemukan di Afrika. Kematian akibat TB juga sangat tinggi yaitu 410.000 pada tahun
2012. Morbiditas dan mortalitas TB pada Pria dan Wanita tidak berbeda jauh
(Kemenkes RI, 2011).
TB pada anak pada tahun 2012 secara global mencapai 6% dari seluruh kasus atau
530.000 kasus TB anak per tahun. Kematian anak akibat TB dari total kematian akibat
TB di dunia mencapai 8%. Sebenarnya penyakit TB dapat dicegah tetapi angka
kesakitan dan kematiannya masih cukup tinggi. Banyak hal yang menyebabkan beban
masalah TB, seperti masalah sosial dan ekonomi, komitmen politik dan pendanaan,
perubahan demografik hingga besarnya permasalahan kesehatan lain (Kemenkes RI,
2014).
Potensi penularan oleh orang yang positif terinfeksi bakteri Myobacterium
tuberculosis (TB) cukup tinggi yaitu 65%. Penularan TB terjadi melalui percik renik
dahak penderita, saat penderita batuk maupun bersin. Gejala TB yang muncul biasanya
demam dan batuk lama, penurunan berat badan, malaise, hingga diare. Gejala lain yang
spesifik pada organ juga dapat terlihat, seperti spondilitis TB mengakibatkan klinis
adanya penonjolan tulang belakang yang disebut gibbus (Kemenkes RI, 2014). Kejadian

spondilitis TB cukup tinggi, 11 % dari kasus TB di luar paru adalah TB osteoartikular,


dan setengahnya merupakan kasus spondilitis TB (Faried, dkk., 2015).
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan tugas ini adalah sebagai berikut.
1.

Untuk

lebih

memahami

spindilitis

TB

mulai

dari

definisi

hingga

penatalaksanaanya.
2.

Untuk belajar dan membiasakan diri mahasiswa dalam menulis secara struktural
dan ilmiah.

BAB II
PEMBAHASAN
DEFINISI
Spondilitis TB atau TB spinal atau osteomielitis vertebra TB atau penyakit Pott
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Myobacterium tuberculosis yang
menyerang korpus vertebra. Spondilitis TB berpotensi menyebabkan morbiditas yang
serius, termasuk defisit neurologi, dan deformitas tulang belakang yang permanen
(Faried, dkk., 2015). Penyakit Pott merupakan sebutan lain dari spondilitis TB yang
dideskripsikan oleh Percivall Pott pada tahun 1779 dengan klinis spondilitis klasik
(Ansari, dkk., 2013). Kasus pertama TB spinal sebenarnya ditemukan pada mumi mesir
kuno berusia 5.000 tahun (Rasouli, dkk., 2015).
EPIDEMIOLOGI
TB spinal (penyakit Pott) adalah yang paling umum serta salah satu bentuk paling
berbahaya dari TB tulang dan menyumbang 50% dari semua kasus TB tulang.
Meskipun persimpangan torakolumbalis yang menjadi situs paling umum dari
keterlibatan tulang belakang pada kasus TB spinal, tetapi setiap bagian dari tulang
belakang dapat dipengaruhi. Selanjutnya, timbul komplikasi neurologis di TB pada
tulang belakang yang bervariasi dari 10% menjadi 43% (Rasouli, dkk., 2015).
Spondilitis TB (TB spinal) biasanya terjadi pada usia 30-40 tahun atau di bawah
40 tahun lebih sering. Rata-rata usia yang mengalami spindilitis TB adalah 32 tahun.
Namun, pada penelitian terbaru di Jepang menyebutkan adanya peningkatan kasus
spondilitis TB pada usia di atas 70 tahun dari 31,2 % pada 1994 menjadi 41,5 % pada
2002 (Trecarichi, dkk., 2012).
Faktor resiko dalam beberapa penelitian telah didapatkan penyakit DM (5-25%
kasus) dan gagal ginjal kronis (2-31% kasus). Terapi kortikosteroid berkepanjangan juga
dilaporkan menjadi faktor resiko (3-13% kasus). TB adalah infeksi oportunistik yang
paling umum dan mematikan terkait dengan penyakit HIV, dan TBC tulang lebih sering
pada pasien HIV-positif dibandingkan HIV-negatif. Di Afrika Selatan, dilaporkan
tingkat seropositif HIV yaitu 28% dari total kasus Spondilitis TB, dan hasil yang sama
ditemukan di USA. Maka demikian, ketika menemukan pasien dengan sakit punggung

kronis, kecurigaan tinggi pada spondilitis TB harus digali juga kecurigaan riwayat TB,
yang dilaporkan dalam proporsi yang berkisar antara 5% sampai 100% dari pasien yang
didiagnosis dengan Spondilitis TB (Trecarichi, dkk., 2012).
ETIOLOGI
Etiologi spondilitis TB adalah bakteri kelompok Myobacterium. Bakteri dalam
kelompok ini antara lain, M. africanum, M. bovis, M. leprae, M. tuberculosis dan
lainnya. Myobacterium tuberculosis adalah spesies yang menjadi penyebab penyakit
spondilitis TB (Kemenkes RI, 2014).
M. tuberculosis merupakan bakteri tahan asam yang memiliki bentuk batang
panjang 1-10 mikron, lebar 0,2-0,6 mikron. Kuman ini tahan terhadap suhu rendah
sehingga dapat hidup lama pada 4 derajat hingga minus 70 derajat selsius. M.
tuberculosis peka terhadap panas matahari dan sinar ultraviolet. Sebagian besar kuman
akan mati pada waktu beberapa menit setelah terpapar langsung sinar ultraviolet.
Kuman juga mati pada dahak dengan suhu 30o C -37o C dalam waktu kurang lebih
seminggu. Dieprlukan media khusus untuk mengembangbiakan kuman, yaitu
Lowenstein Jensen dan Ogawa. Pada pemeriksaan di bawah mikroskop dengan
pewarnaan Ziehl Neelsen kuman nampak bentuk batang berwarna merah (Kemenkes
RI, 2014).
PATOGENESIS
Ada dua jenis dari TB tulang belakang yang berbeda, bentuk klasik atau
spondilodisitis, dan bentuk atipikal yang semakin umum sebagai spondilitis tanpa
keterlibatan disc intervertebra. Pada orang dewasa, keterlibatan disc intervertebralis
adalah sekunder yang menyebar dari vertebra terinfeksi berdekatan sedangkan pada
anak-anak dapat terjadi terutama karena sifat vaskularisasi dari disc intervertebralis.
Lesi dasar dalam penyakit Pott adalah kombinasi dari osteomielitis dan arthritis,
biasanya mempengaruhi lebih dari satu vertebra. Aspek anterior dari badan vertebral
yang berdekatan dengan plat subkondraium biasanya juga terlibat. TB tulang belakang
dapat mencakup salah satu dari berikut: kerusakan tulang yang progresif yang
menyebabkan runtuhnya vertebra dan kifosis, pembentukan abses (karena perluasan
infeksi ke dalam ligamen berdekatan dan jaringan lunak), penyempitan kanal tulang

belakang oleh abses, jaringan granulasi atau invasi dural langsung mengakibatkan
kompresi spinal dan defisit neurologis (Rasouli, dkk., 2012).
Penyebaran hematogen dari M. tuberculosis mulai dari paru, atau bisa juga karena
penyebaran bersebelahan atau limfatik dari penyakit pleura. Karena disc intervertebralis
tidak memiliki suplai darah langsung pada orang dewasa, infeksi yang paling
hematogen dari ruang disc adalah hasil dari penyebaran dari tulang yang berdekatan.
Evolusi alami dari infeksi adalah pembentukan granuloma, yang pusatnya cenderung
menjadi nekrotik. Infeksi kemudian dapat berkembang untuk menghancurkan tulang,
menyebabkan rasa sakit dan menyebabkan runtuhnya badan vertebra menyebabkan
gambaran rontgenograpik klasik anterior wedging dari dua badan vertebra yang
berdekatan dengan kerusakan disc intervertebralis. Temuan fisik dari tulang tender,
menonjol atau gibbus adalah presentasi klinis umum (Trecarichi, dkk., 2012).
Lokalisasi dominan di segmen toraks bisa berhubungan dengan seringnya
keterlibatan kelenjar getah bening mediastinum dan pleura di TB paru, yang mana
mikroorganisme dapat mencapai tulang vertebra melalui rute limfatik tersebut. Lesi
tuberkulosis lebih mungkin untuk melibatkan lebih dari dua tulang belakang
dibandingkan dengan spondilodisitis hematogen piogenik. Kasus spindilitis TB elemen
posterior vertebra bisa terlibat lebih sering. Keterlibatan posterior pada 17% dari kasus
spondilitis TB. Pada pasien ini defisit neurologis yang parah umumnya hadir sebagai
klinis. Keterlibatan ruang disc intervertebralis sering dilaporkan, dengan proporsi yang
bervariasi dari 50% menjadi 97,5% (Trecarichi, dkk., 2012).
Bentuk atipikal sekarang bisa menjadi bentuk paling umum dari spondilitis TB.
Jika terjadi abses, maka abses dapat ditemukan di situs jauh dari fokus infeksi, terutama
di selubung otot psoas. Spondilitis TB memiliki evolusi klinis yang lebih lamban dan
kurang menyakitkan daripada infeksi piogenik, karena karakteristik mikrobiologis dari
M. tuberculosis yang pertumbuhannya lambat, kecenderungan untuk lingkungan yang
kaya oksigen, dan tidak adanya enzim proteolitik. Akibatnya, komplikasi neurologis
akibat kompresi sumsum tulang belakang sering terjadi sehingga klinis muncul yaitu
nyeri, mielopati atau paraplegia. Komplikasi neurologis dapat terjadi pada awal
penyakit aktif karena jaringan inflamasi, abses epidural, disc yang menonjol,
pakimengitis, atau subluksasi tulang belakang, tetapi juga setelah bertahun-tahun
terkena Spondilitis TB karena kifosis parah dengan kompresi saraf tulang belakang

yang kronis dan atrofi, dengan atau tanpa reaktivasi infeksi atau terjadi late onset
paraplegia (Trecarichi, dkk., 2012).
GAMBARAN KLINIS
Manisfestasi klinis spondilitis TB adalah nyeri punggung dengan adanya defisit
neurologi, demam ringan, batuk lama dengan darah, penurunan berat badan, keringat
malam hari, nyeri/kaku leher, disfagia, stridor inspiratorik, paraparesis, gangguan usus
besar dan gangguan kandung kemih. Deformitas pada tulang belakang sering muncul
adalah kifosis, skoliosis dan penonjolan gibbus. Pada anamnesis juga ditemukan bahwa
pasien sedang menjalani pengobatan atau riwayat pengobatan antituberkulosis. Selain
itu, ditemukan juga riwayat kontak dengan penderita TB

(Ansari, dkk., 2013;

Trecarichi, dkk., 2012).


DIAGNOSIS
Biopsi memainkan peran berharga dalam diagnosis infeksi TB tulang belakang.
Penggunaan teknik amplifikasi DNA (polymerase chain reaction atau PCR) dapat
memfasilitasi diagnosis cepat dan akurat dari penyakit ini. Kultur organisme lambat dan
mungkin tidak akurat. Namun demikian, itu masih merupakan metode diagnostik yang
berharga untuk mengenali kuman penyebab (Rasouli, dkk., 2012).
Infeksi mikobakteri serta keterlibatan jamur harus dipertimbangkan dalam kasus
infeksi tulang belakang. CT-Scan memberikan detail tulang, sedangkan MRI
mengevaluasi keterlibatan jaringan lunak dan pembentukan abses. Kerusakan tulang
yang signifikan dapat dideteksi pada radiografi polos atau CT scan. Namun,
granulomatosa jaringan jaringan epidural atau tuberculoma dari sumsum tulang
belakang mungkin tidak terdeteksi oleh alat ini. Di antara berbagai jenis modalitas
pencitraan, MRI memiliki kemampuan untuk mendiagnosis penyakit lebih awal dan
lebih akurat daripada foto polos, meskipun tidak spesifik untuk TB tulang belakang.
MRI juga berguna dalam diagnosis dan penilaian respon pengobatan. Dibandingkan
dengan discitis piogenik, fitur yang paling membedakan TB tulang belakang adalah
penghancuran tulang dengan pelestarian relatif dari cakram intervertebralis dan
peningkatan heterogen. Dalam discitis piogenik, kerusakan tulang dan peningkatan
homogen lebih sering ditemukan. Kehadiran abses dan fragmen tulang membedakan

TBC tulang belakang dari neoplasia dan jika ada keraguan biopsi perlu dilakukan
(Rasouli, dkk., 2012).

Gambar 1. A) Fotopolos lateral, kifosis berat akibat kerusakan dua segmen vertebra
bersebelahan oleh TB di persimpangan torakolumbalis. B) Patologinya, mempengaruhi disc
inervertebralis, badan vertebra, daerah anterior paravertebral (jingga). Elemen posterior juga
terlibat. Hasil dari deformitas yang signifikan, kompresi yang membahayakan sumsum
tulang belakang [diadaptasi dari Rasouli, dkk., 2012].

TATALAKSANA
Tatalaksana dengan pengobatan sistemik dengan obat anti-TB sebelum dan setelah
debridement, debridement dilakukan hati-hati pada seluruh fokus infeksi, dan metode
yang sukses untuk merekonstruksi stabilitas tulang belakang adalah aspek kunci dalam
pengobatan spondilitis tuberkulosa. Untuk pengambilan keputusan dan pengelolaan TB
tulang belakang, dapat secara luas diklasifikasikan sebagai dua kelompok lesi: orangorang dengan komplikasi neurologis dan yang tidak. Pada pasien yang tidak alami
komplikasi neurologi hanya diberi terapi medis, sedangkan pembedahan hanya sedikit
sekali kasus. Berbeda dengan komplikasi neurologi, perlu diombinasi pengobatan medis
dan pembedahan untuk hasil terbaik. Laminektomi dianjurkan pada pasien dengan
penyakit yang kompleks pada daerah posterior dan sindrom tumor tulang belakang.
7

Paraplegia onset lambat dapat dicegah jika didiagnosis dini dan pengobatan yang tepat
(Rasouli, dkk., 2012).
Terapi medis yang diberikan adalah kombinasi rifampicin, isoniazid, etambutol,
dan pirazinamid. American Thoracic Society menganjurkan lama pengobatannya 9
bulan. Canadian Thoracic Society menganjurkan lama pengobatan antara 9-12 bulan.
Pada pengobatan bulan ke-18 merupakan waktu yang efektif untuk melakukan bedah
eksisi pada lesi (Rasouli, dkk., 2012: Mak dan Cheung, 2013).
Pembedahan diindikasikan jika dengan defisit neurologi yang progresif, abses
paravertebral, instabilitas tulang belakang akibat deformitas kifosis (terutama dengan
kifosis sudut 50-60 derajat atau lebih), resistensi terhadap obat anti-TB, dengan HIV,
dan untuk mencegah atau mengatasi paraplegia onset lambat. Jika terdapat indikasi
tersebut, maka pembedahan tidak dapat ditunda karena akan memperparah kifosis.
Selain itu akan muncul komplikasi seperti disfungsi sitem respiratorik, nyeri impaksi
kostopelvik, dan paraplegia (Rasouli, dkk., 2012; Mak dan Cheung, 2013).

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Spondilitis TB/Spinal TB atau dulu awalnya disebut Potts Disease merupakan
penyakit/lesi pada tulang belakang akibat adanya infeksi bakteri Myobacterium
tuberculosa. Penyebarannya dengan cara hematogen dengan awalnya dari paru-paru.
Klinis khas yang muncul adalah deformitas pada tulang belakang, berupa kifosis
ataupun gibbus disertai gejala-gejala infeksi TB lainnya. Pengobatan menggunakan
kombinasi rifampicin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol dengan lama pengobatan
antara 9-12 bulan. Kasus dengan defisit neurologis dianjurkan untuk dilakukan
pembedahan lesi pada 18 bulan pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA
Ansari, Sajid, Raj Kumar R., Kanchan D., dkk. 2013. MR evaluation of spinal
tuberculosis. Al Ameen J Med Sci 6 (3): 219-225.
Faried, Ahmad, Imam H., farid Y., dkk. 2015. Spondylitis Tuberculosis in Neurosurgery
Departement bandung Indonesia. JSM Neurosurg Spine 3(3): 1059.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis.
Diakses tanggal 6 Mei 2016 dari http://spiritia.or.id/dokumen/pedomantbnasional2014.pdf.
Mak, Kin C dan Kenneth M.C. Cheung. 2013. Surgical Treatment of acute

TB

spondylitis: indications and outcomes. Europe Spine Journal 22(4): S603-S611.


Rasouli, M.R., Maryam M., Alexander R.V., dkk. 2012. Spinal Tuberculosis: Diagnosis
and Management. Asian Spine Journal 6(4): 294-308.
Trecarichi, E.M., E. Di Meco, V. Mazzotta, dan M. Fantoni. 2012. Tuberculous
spondylitis: epidemiology, clinical features, treatment, and outcome. European
Review for Medical and Pharmacological Sciences 16(2): 58-72.

10