Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa,
dan bernegara di dalam negeri dan isu-isu mutakhir dari luar negeri yang dapat mempengaruhi
kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia merupakan hal-hal yang harus segera ditanggapi
dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang pendidikan.
Beberapa hal yang melatar belakangi penyusunan kurikulum baru antara lain:

Adanya peraturan penundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap


paradigma pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah antara lain
pembaharuan dan divensifikasi kurikulum, serta pembagian kewenangan pengembangan
kurikulum.

Perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu
cepat telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian segera dan serius.

Kondisi masa sekarang dan kecenderungan di masa yang akan datang perlu dipersiapkan
generasi muda termasuk peserta didik yang memiliki kompetensi yang multidimensional.

Pengembangan kurikulum harus dapat mengantisipasi persoalan-persoal-an yang


mempunyai kemungkinan besar sudah dan/atau akan terjadi.

Kurikulum yang dibutuhkan di masa depan adalah kurikulum yang mampu memberikan
keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan,
ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan. Oleh karena itu
kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan
secara nasional. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap
penerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, persatuan dan kesatuan, kepastian
hukum, kehidupan beragama dan ketahanan budaya, pembangunan daerah,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, serta pengelolaan lingkungan.

Kurikukulum Berbasis Kompetensi ini sebenarnya memiliki justifikasi didaktis pedagogis


yang kuat untuk menggantikan Kurikulum 1994, karena pendidikan dengan kurikulum
1994 ternyata tidak melahirkan unjuk kerja siswa secara bermakna. Siswa banyak tahu
informasi, tetapi tidak bermakna bagi kehidupannya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Dan Konsep Kurikulum

Kurikulum dapat dipahami sebagai alat sentral bagi keberhasilan pendidikan. Peran ini
menjadi kunci bagaimana pendidikan akan diarahkan. Ini berkaitan erat dengan proses
pembelajaran sebagai ruang beraktivitas belajar anak didik supaya mereka mendapat bekal
pengetahuan yang baik dan mampu membangun kekuatan kecerdasan baik kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Diakui maupun tidak, kurikulum harus dibangun dengan sedemikian cerdas,
mencakup segala kebutuhan anak didik, dan meliputi segenap alat penggali dan pengembangan
potensi sekaligus bakat anak didik sehingga mampu melakukan pertunjukan diri terhadap bakat
dan potensi yang dimiliki. Pendidikan akan melahirkan generasi muda yang berkualitas, berdaya
saing tinggi, dan bisa berkompetisi secara elegan.
1. Pengertian Kurikulum
Kurikulum yang berasal dari kata Kurikulum yang berarti lintasan untuk balap kereta
kuda yang biasa dilakukan oleh bangsa Romawi pada zaman kaisar Gaius Julius Caesar di abad
pertama tahun masehi. Namun, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan suatu konsep
yang abstrak. Sehingga kemudian melahirkan banyak pengertian tentang kurikulum, diantaranya:
1. Schubert berpendapat sederhana bahwa kurikulum sebagai mata pelajaran, muatan hasil belajar,
adanya unsur reproduksi kebudayaan dan pembangunan sosial, serta pentingnya kecakapan
hidup.
2. Kurikulum merupakan seperangkat rancangan nilai, pengetahuan dan ketrampilan yang harus
ditransfer kepada peserta didik dan bagaimana proses transfer tersebut harus dilaksanakan.
3. Kurikulum sebagai sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan guna mencapai tujuan
pendidikan.
4. Kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota
yang produktif dalam masyarakatnya.
Beragam pengertian tersebut selalu akan menampilkan hal-hal yang berbeda, bahkan
sering pula bertentangan. Namun, pada dasarnya sama sebagai bentuk upaya untuk memberikan
atau menggali pengetahuan, pengalaman yang ada dalam diri masing-masing peserta didik agar
mampu menghadapi masa depan dengan lebih gemilang dengan materi, metode, fasilitas yang
telah ada.
Sementara itu, Mochtar Buchori mengatakan bahwa kurikulum sebagai blue print (cetak
biru), sebagai suatu penggambaran terhadap sosok manusia yang diharapkan akan tumbuh
setelah menjalani semua proses pendidikan, pengajaran dan pelatihan yang digariskan dalam
kurikulum. Ibarat suatu proses pendirian bangunan kurikulum merupakan sketsa awal yang
menggambarkan bangunan tersebut akan didirikan dalam bentuk model yang telah dibayangkan
dan diinginkan oleh pemiliknya. Adapun kuatnya suatu bangunan, bagusnya suatu model yang
telah digambarkan sebelumnya sangat bergantung kepada kecanggihan para tukang yang
menggarap bangunan tersebut, termasuk juga mutu meteri yang digunakan untuk mendirikan
bangunan itu. Para tukang ini sebagai pendidik, sedangkan materi bangunan ialah seluruh bahan
yang digunakan untuk melaksanakan proses pendidikan terhadap siswa yang sedang menjalani
proses pertumbuhan menjadi sosok manusia ideal yang dicita-citakan. Dengan demikian,
kurikulum bukanlah satu-satunya faktor penentu yang mendukung lahirnya jati diri seseorang di

masyarakat di kemudian hari. Meskipun begitu, kurikulum menjadi perangkat yang strategis
untuk menyemaikan kepentingan dan membentuk konsepsi dan perilaku individu masyarakat.
2. Konsep Kurikulum
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktek
pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut
pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan
guru atau dipelajari oleh siswa. Pandangan yang muncul sejak zaman Yunani kuno ini, dalam
lingkungan tertentu masih diakui hingga kini, sebagaimana pendapat Robert S. Zais, a
recesourse of subject matters to be mastered. Menurut pendapat ini, kurikulum identik dengan
bidang studi.
Di Indonesia, istilah kurikulum menjadi populer sejak tahun 1950-an yang diperkenalkan
oleh sejumlah kalangan pendidik lulusan Amerika Serikat. Sebelumnya, kita lebih akrab dengan
istilah rencana pembelajaran. Hakekatnya, kurikulum sama dengan rencana pembelajaran dan
yang membedakan hanya cara pandangnya.
Kurikulum sebagai komponen penting dalam pendidikan, harus memiliki tujuan dan
sasaran yang akan dicapai, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan
belajar dan mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar. Perbedaan kurikulum hanya berada
pada penekanan unsur-unsur tertentu. Lebih tegas, Dr. Dede Rosyada, M.A. mengatakan bahwa
kurikulum merupakan inti dari sebuah penyelenggaraan pendidikan.
Guna memahami konsep pemaknaan kurikulum sejatinya sehingga kurikulum betul-betul
diletakkan sebagai pijakan dasar dalam melaksanakan pendidikan secara praktis dan konkret,
maka Sukmadinata dalam Dede Rosyada memiliki beberapa prinsip yang bisa dipegang,
diantaranya:
1.

Kurikulum sebagai substansi, yakni rencana kegiatan belajar para siswa di sekolah,
mencakup rumusan-rumusan tujuan, bahan ajar, proses kegiatan pembelajaran, jadwal,
dan hasil evaluasi belajar. Kurikulum tersebut merupakan konsep yang telah disusun oleh
para ahli dan disepakati oleh para pengambil kebijakan pendidikan serta oleh masyarakat
sebagai bagian dari hasil pendidikan;

2. . Kurikulum sebagai sebuah sistem, yakni merupakan rangkaian konsep tentang


berbagai kegiatan pembelajaran yang masing-masing unit kegiatan memiliki keterkaitan
secara koheren dengan lainnya. Kurikulum itu sendiri memiliki korelasi dengan semua
unsur dalam sistem pendidikan secara keseluruhan;
3.

kurikulum merupakan sebuah konsep yang dinamis, terbuka, dan membuka diri terhadap
berbagai gagasan perubahan serta penyesuaian dengan tuntutan pasar atau tuntutan idealisme
pengembangan peradaban umat manusia.

Dalam konteks pendidikan Nasional, kurikulum adalah rencana tertulis tentang


kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu dipelajari dan
pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan tersebut, dan evaluasi yang
perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian kemampuan peserta didik, serta
seperangkat peraturan yang berkenaan dengan pengalaman belajar peserta didik dalam
mengembangkan potensi dirinya pada satuan pendidikan tertentu.
Dalam Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Rumusan ini lebih spesifik mengandung
pokok-pokok pikiran, sebagai berikut:

1. Kurikulum merupakan suatu rencana/perencanaan;

2. Kurikulum merupakan pengaturan, yang sistematis dan terstruktur;

3. Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran bidang pengajaran tertentu;

4. Kurikulum mengandung cara, metode dan strategi pengajaran;

5. Kurikulum merupakan pedoman kegiatan belajar mengajar;

6. Kurikulum, dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan;

7. Kurikulum merupakan suatu alat pendidikan.

Rumusan tersebut menjadi lebih jelas dan lengkap, karena suatu kurikulum harus disusun
dengan memperhatikan berbagai faktor penting. Dalam undang-undang telah dinyatakan, bahwa:
Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan
tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan
pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai
dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum, ialah:

Tujuan pendidikan nasional, dijabarkan menjadi tujuan-tujuan institusional, dirinci


menjadi tujuan kurikuler, dirumuskan menjadi tujuan-tujuan instruksional (umum dan
khusus), yang mendasari perencanaan pengajaran.

Perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis yang mencakup psikologi


perkembangan dan psikologi belajar;

Mengacu pada landasan sosiologis dibarengi oleh landasan kultur ekologis.

Kebutuhan pembangunan nasional yang mencakup pengembangan SDM dan


pembangunan semua sektor ekonomi.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta budaya bangsa dengan multi
dimensionalnya.

Jenis dan jenjang pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan
tujuannya.

B. Tujuan Kurikulum Dalam Pendidikan


Kurikulum memiliki posisi sentral dalam setiap upaya pendidikan Klein, 1989:15).
Dalam pengertian kurikulum yang dikemukakan di atas harus diakui ada kesan bahwa kurikulum
seolah-olah hanya dimiliki oleh lembaga pendidikan modern dan yang telah memiliki rencana
tertulis. Sedangkan lembaga pendidikan yang tidak memiliki rencana tertulis dianggap tidak
memiliki kurikulum. Pengertian di atas memang pengertian yang diberlakukan untuk semua unit
pendidikan dan secara administratif kurikulum harus terekam secara tertulis.
Posisi sentral ini menunjukkan bahwa di setiap unit pendidikan kegiatan kependidikan
yang utama adalah proses interaksi akademik antara peserta didik, pendidik, sumber dan
lingkungan. Posisi sentral ini menunjukkan pula bahwa setiap interaksi akademik adalah jiwa
dari pendidikan. Dapat dikatakan bahwa kegiatan pendidikan atau pengajaran pun tidak dapat
dilakukan tanpa interaksi dan kurikulum adalah desain dari interaksi tersebut.
Dalam posisi maka kurikulum merupakan bentuk akuntabilitas lembaga pendidikan
terhadap masyarakat. Setiap lembaga pendidikan, apakah lembaga pendidikan yang terbuka
untuk
setiap
orang
ataukah
lembaga
pendidikan
khusus
haruslah
dapat
mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya terhadap masyarakat. Lembaga pendidikan
tersebut harus dapat memberikan "academic accountability" dan "legal accountability" berupa
kurikulum. Oleh karena itu jika ada yang ingin mengkaji dan mengetahui kegiatan akademik apa
dan apa yang ingin dihasilkan oleh suatu lembaga pendidikan maka ia harus melihat dan
mengkaji kurikulum. Jika seseorang ingin mengetahui apakah yang dihasilkan ataukah
pengalaman belajar yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut tidak bertentangan dengan
hukum maka ia harus mempelajari dan mengkaji kurikulum lembaga pendidikan tersebut.
Secara singkat, posisi kurikulum dapat disimpulkan menjadi tiga. Posisi pertama adalah
kurikulum adalah "construct" yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa
lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Pengertian
kurikulum berdasarkan pandangan filosofis perenialisme dan esensialisme sangat mendukung
posisi pertama kurikulum ini. Kedua, adalah kurikulum berposisi sebagai jawaban untuk
menyelesaikan berbagai masalah social yang berkenaan dengan pendidikan. Posisi ini
dicerminkan oleh pengertian kurikulum yang didasarkan pada pandangan filosofi progresivisme.
Posisi ketiga adalah kurikulum untuk membangun kehidupan masa depan dimana kehidupan

masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa
dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan.
Jenjang Pendidikan Dasar terdiri atas pendidikan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
(SD/MI) dan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) atau program Paket
A dan Paket B. Setiap lembaga pendidikan ini memiliki tujuan yang berbeda. SD/MI memiliki
tujuan yang tidak sama dengan SMP/MTs baik dalam pengertian ruang lingkup kualitas mau pun
dalam pengertian jenjang kualitas. Oleh karena itu maka kurikulum untuk SD/MI berbeda dari
kurikulum untuk SMP/MTs baik dalam pengertian dimensi kualitas mau pun dalam pengertian
jenjang kualitas yang harus dikembangkan pada diri peserta didik.
Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat
(3) menyatakan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
1.

peningkatan iman dan takwa;

2.

peningkatan akhlak mulia;

3.

peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;

4.

keragaman potensi daerah dan lingkungan;

5.

tuntutan pembangunan daerah dan nasional;

6.

tuntutan dunia kerja;

7.

perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

8.

agama;

9.

dinamika perkembangan global; dan

10.

persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan

Secara formal, tuntutan masyarakat terhadap pendidikan juga diterjemahkan dalam


bentuk rencana pembangunan pemerintah. Rencana besar pemerintah untuk kehidupan bangsa di
masa depan seperti transformasi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, reformasi dari
system pemerintahan sentralistis ke system pemerintahan disentralisasi, pengembangan berbagai
kualitas bangsa seperti sikap dan tindakan demokratis, produktif, toleran, cinta damai, semangat
kebangsaan tinggi, memiliki daya saing, memiliki kebiasaan membaca, sikap senang dan
kemampuan mengembangkan ilmu, teknologi dan seni, hidup sehat dan fisik sehat, dan
sebagainya. Tuntutan formal seperti ini harus dapat diterjemahkan menjadi tujuan setiap jenjang
pendidikan, lembaga pendidikan, dan pada gilirannya menjadi tujuan kurikulum.

Posisi kurikulum yang dikemukakan di atas barulah pada posisi kurikulum dalam
mengembangkan kehidupan social yang lebih baik. Posisi ketiga yaitu kurikulum merupakan
"construct" yang dikembangkan untuk membangun kehidupan masa depan sesuai dengan bentuk
dan karakteristik masyarakat yang diinginkan bangsa. Posisi ini bersifat konstruktif dan
antisipatif untuk mengembangkan kehidupan masa depan yang diinginkan. Dalam posisi ketiga
ini maka kurikulum seharusnya menjadi jantung pendidikan dalam membentuk generasi baru
dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan potensi dirinya
memenuhi kualitas yang diperlukan bagi kehidupan masa mendatang.
Posisi kurikulum di jenjang pendidikan tinggi memang berbeda dari jenjang pendidikan
dasar dan menengah. Jika kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah lebih
memberikan perhatian yang lebih banyak pada pembangunan aspek kemanusiaan peserta didik
maka kurikulum pendidikan tinggi berorientasi pada pengembangan keilmuan dan dunia kerja.
C. Manfaat Kurikulum Bagi Guru
Adapun fungsi kurikulum bagi guru atau pendidik adalah;

Pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar para anak didik.

Pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak didik dalam rangka
menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan.

Bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses


pembelajaran. Pembelajaran yang tidak berpedoman pada kurikulum akan berakibat kurang
efektif, sebab pembelajaran adalah proses yang bertujuan, sehingga segala sesuatu yang
dilakukan guru dan siswa untuk mencapai tujuan. Sedangkan tujuan pembelajaran beserta
bagaimana cara strategi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan merupakan komponen
penting dalam sistem kurikulum.
Bagi Kepala Sekolah, kurikulum berfungsi untuk menyusun perencanaan dan program
belajar. Dengan demikian, penyusunan kalender sekolah, pengajuan sarana dan prasarana
sekolah. Menyusun berbagai kegiatan ekstrakulikuler dan kegiatan kegiatan lain.
D. Sejarah Kurikulum Indonesia
Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri
Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu
yang jelas dan mantap. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan
nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984,
1994, 2004, dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya
perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan
bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan
secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua
kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945,
perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam
merealisasikannya.

1. Rencana Pelajaran 1947


Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam
bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris).
Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke
kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.
Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah
kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya
memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar
pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan
pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan
dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
2. Rencana Pelajaran Terurai 1952
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran
Terurai 1952. Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata
pelajaran, kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995.
Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang, Riau.
Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum
1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana).
Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih
menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
3. Kurikulum 1968
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem
kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran
kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyai
keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD,
sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu
pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya
perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan
dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan
pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi
pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta
mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: Mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang
dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati.
Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan
Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9.
Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. Hanya memuat mata
pelajaran pokok-pokok saja, katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan

dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat
diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
4. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif.
Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO
(management by objective) yang terkenal saat itu, kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur
Pembinaan TK dan SD Depdiknas.
Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap
satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus
(TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975
banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan
pembelajaran.
5. Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan
proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut Kurikulum 1975 yang
disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu,
mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa
Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).
Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan,
Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta
sekarang Universitas Negeri Jakarta periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara
teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan
reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan
CBSA.
6. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum
sebelumnya. Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984,
antara pendekatan proses, kata Mudjito menjelaskan.
Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban
belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal
disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian,
keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga
mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma
menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran
Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.
7.

Kurikulum 2004
Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai
berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila
dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional
masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu

lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman
dan kompetensi siswa.
Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota
besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak
paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.
8. KTSP 2006
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi
pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004.
Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan
pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini
disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan
kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan
oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti
silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah
koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota. (TIAR)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Fungsi kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendididkan.dalam hal ini, alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan
yang diharapkan.
Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan
Negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi,
baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri. Dsdengan
demikian, dinegara kita tidak sama dengan Negara-negara lain, untuk itu, maka: 1) Kurikulum
merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, 2) Kuriulum merupakan program
yang harus dilaksanakan oleh guru dan murid dalam proses belajar mengajar, guna mencapai
tujuan-tujuan itu, 3) kurikulum merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses
belajar mengajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Secara singkat, posisi kurikulum dapat disimpulkan menjadi tiga. Posisi pertama adalah
kurikulum adalah "construct" yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa
lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Pengertian
kurikulum berdasarkan pandangan filosofis perenialisme dan esensialisme sangat mendukung

posisi pertama kurikulum ini. Kedua, adalah kurikulum berposisi sebagai jawaban untuk
menyelesaikan berbagai masalah social yang berkenaan dengan pendidikan. Posisi ini
dicerminkan oleh pengertian kurikulum yang didasarkan pada pandangan filosofi progresivisme.
Posisi ketiga adalah kurikulum untuk membangun kehidupan masa depan dimana kehidupan
masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa
dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan.
B. Saran
Sesuai dengan perkembangan dan ilmu pengetahuan sebaiknya kurikulum disesuaikan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kurikulum perlu dikembangkan secara dinamis sesuai
dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Perubahan kurikulum harus mengacu
pada sumber hukum yaitu pancasila dan Undang-undang dasar 1945.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.Sanjaya. 2006.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan, Pengembangan Standar
dan Kompetensi Dasar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
Indonesia

Kompetensi

Sanjaya. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.


Kencana Prenada Media Group 2006).

(Jakarta:

Haryati, Mimin. 2007. Model dan Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan
Pertama. Gaung Persada Press Jakarta. Jakarta

Pendidikan. Edisi

Mulyadi, Usman, dkk. 1988. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Edisi


Aksara. Jakarta.

Pertama. Bina

Wahid, Aliaras, dkk. 2006. Membangun Karakter dan Kepribadian Melalui


Kewarganegaraan. Edisi Pertama. Graha Ilmu. Jakarta Barat.

Pendidikan