Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

Otitis eksterna maligna adalah infeksi difus di liang telinga luar dan struktur lain di
sekitarnya. Biasanya terjadi pada orang tua dengan penyakit diabetes mellitus. Pada penderita
diabetes, pH serumennya lebih tinggi dibanding pH serumen non diabetes. Kondisi ini
menyebabkan penderita diabetes lebih mudah terjadi otitis eksterna.1
Otitis eksterna nekrotik (maligna) sangat jarang dan merupakan penyakit yang berat,
bahkan kadang-kadang mematikan. Penyakit ini terutama terjadi pada pasien tua dengan
diabetes yang tidak terkontrol dan penyebabnya ialah kuman Pseudomonas aeruginosa. Di
daerah tropis, penyakitnya dikenal sebagai sebutan jungle-rot (hutan rimba yang lapuk).2
Otitis Eksterna Maligna adalah infeksi agresif yang melibatkan saluran pendengaran
eksternal dan tulang temporal yang pertama kali dilaporkan dalam literatur oleh Toulmouche
di 1838. Pada tahun 1959 Meltzer dan Kelemen mengidentifikasi kasus osteomielitis tulang
temporal karena pseudomonas dan otitis externa ganas adalah dijelaskan dan ditandai sebagai
entitas klinik unik oleh Chandler pada tahun 1968. Jenis otitis eksterna adalah disebut ganas ,
karena tingkat kematian yang tinggi, perkembangan penyakit agresif dan respon yang buruk
terhadap pengobatan yang tersedia. (Illing E, Malignant Otitis Externa: A Review of Aetiology,
Presentation, Investigations and Current Management Strategies).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI
Telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar
terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai mebran timpani. Daun telinga telinga
terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan
rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam
rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2 -3 cm.
Pada sepertiga bagian luar kulit liang teliga terdapat banyak kelenjar serumen
(kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang
telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang
telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. (Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Edisi Ketujuh, hal 10)

Gambar 1 : Anatomi Telinga (


B. FISIOLOGI
Fungsi telinga adalah mengubah energi suara mekanik menjadi sinyal
bioelektrik. Dengan dua telinga yang berfungsi baik, suara dapat dilokalisasi karena

gelombang suara mencapai masing-masing telinga dengan perbedaan waktu dan


intensitas yang sangat sedikit. Gelombang suara menggetarkan membrane timpani dan
dihantarkan ke sepanjang rangkaian ossicular padat menuju ke venetsra vestibule
(ovalis). Gelombang ini membuat perilife bergerak di dalam cochlea dan
menghasilkan getaran ritmik pada membran basilaris, yang merangsang sel-sel rambut
di neuroepitelium dan membentuk tahapan untuk penghantaran sinyal bioelektrik.
(Peng P, El H.G, Anatomi dan Fisiologi dalam Ilmu THT Esensial Edisi 5, Penerbit
Buku Kedokteran : Jakarta, 2004. Hal 5)
C. DEFENISI OTITIS EKSTERNA
Otitis ekstrena adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang
disebabkan infeksi bakteri, jamur dan virus. Faktor yang mempermudah radang
telinga luar ialah perubahan pH di liang telinga, yang biasanya normal atau asam. Bila
pH menjadi basah, proteksi terhadap infeksi menurun.
Pada keadaan udara yang hangat dan lembab, kuman dan jamur mudah
tumbuh. Predisposisi otitis eksterna yang lain adalah trauma ringan ketika mengorek
telinga. (Hafil, A.F, Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Edisi Ke Tujuh, Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta: 2012, Hal 53)
D. KLASIFIKASI OTITIS EKSTERNA
Otitis Eskterna diklasifikasikan atas :
1) Otitis Eskterna Akut :
a. Otitis Eksterna Sirkumskripta
Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi oleh kuman pada kulit di sepertiga
luar liang telinga yang mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut,
kelenjar sebasea, dan kelenjar serumen. Maka di tempat itu dapat terjadi infeksi
pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel. Kuman penyebab biasanya
Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus.
Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini
disbebakan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar di

bawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri
dapat timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula).
Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran, bila furunkel besar dan
menyumbat liang telinga.
b. Otitis Eksterna Difus
Otitis eksterna difus adalah infeksi pada kulit liang telinga duapertiga dalam.
Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasnya.
Kuman penyebab biasanya golongan Pseudomonas. Kuman lain yang dapat
sebagai penyebab ialah Staphylococcus albus, Escherchia coli, dan sebagainya.
Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang
kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri tekan, terdapat secret
berbau. Secret ini tidak mengandung lendir (musin), seperti secret yang keluar
dari cavum tymphani pada otitis media.
2) Otitis Eksterna Kronis
Infeksi bakteri maupun infeksi jamur yang tidak diobati dengan baik, iritasi kulit
yang disebabkan cairan otitis media, trauma berulang, adanya benda asing,
penggunaan cetakan pada alat bantu dengar dapat menyebabkan radang kronis.
Akibatnya, terjadi stenosis atau penyempitan liang telinga karena terbentuknya
jaringan parut atau sikatriks. (BUKU HIJAU Halaman 53)
E. DEFENISI OTITIS EKSTERNA MALIGNA
Otitis eksterna maligna (OEM) atau otitis eksterna nekrotikans merupakan
infeksi telinga yang berpotensi kematian. Infeksi biasanya dimulai dari meatus
akustikus eksterna (MAE) sebagai otitis eksterna akut (OEA) yang tidak ada respon
terhadap terapi.Infeksi menyebar melalui fissura Santorini ke jaringan lunak dan
pembuluh darah sekitarnya sampai ke tulang dasar tengkorak. Penyebaran infeksi
melalui sistem Haversian tulang padat dapat menimbulkan osteomielitis, terbentuknya
abses multipel, dan sequestra tulang nekrotik. Infeksi dapat mengenai foramen
stilomastoid

sehingga terjadi paralisis nervus fasialis, jika mengenai foramen

jugularis akan terjadi paralisis N. IX, X, XI dan jika mengenai kanal hipoglosus akan
terjadi paralisis N. XII. ( Laporan Kasus Penatalaksanaan OEM )

Otitis eksterna maligna adalah infeksi difus di liang telinga luar dan struktur
lain di sekitarnya. Biasanya terjadi pada orang tua dengan penyakit diabetes melitus.
Pada penderita diabetes, pH serumennya lebih tinggi dibanding pH serumen non
diabetes. Kondisi ini menyebabkan penderita diabetes lebih mudah terjadi otitis
eksterna. Akibat adanya faktor Immunocompromize dan mikroangiopati, otitis
eksterna berlanjut menjadi otitis eksterna maligna. (Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Edisi Ketujuh, hal 56).
F. ETIOLOGI OTITIS EKSTERNA MALIGNA
Pseudomonas adalah penyebab paling umum dari otitis eksterna maligna.
Jamur otitis eksterna maligna ini sebagian besar disebabkan aspergillus dan candida,
tetapi beberapa organisme yang tidak biasa telah diidentifikasi sebagai penyebabnya
seperti scediosporum apiospermum, dan sympodialis Malassezia. (Illing E, Malignant
Otitis Externa: A Review of Aetiology, Presentation, Investigations and Current Management
Strategies).

G. PATOFISIOLOGI OTITIS EKSTERNA MALIGNA


Saat ini patogenesis terjadinya OEM masih belum jelas, beberapa faktor
predisposisinya adalah mikroangiopati diabetik, faktor imun yang rendah, dan
penyakit kronis. Lebih dari 90% kasus OEM terjadi pada penderita DM tipe 2. 12
Mikroangiopati diabetik dengan kronik hipoperfusi dan resistensi lokal yang menurun
akan meningkatkan risiko infeksi. Penderita biasanya datang dengan otalgi hebat,
nyeri menjalar ke leher, otore dan pendengaran menurun. ( Laporan Kasus
Penatalaksanaan OEM).
Ada tiga stadium OEM yaitu :
1.

2.

3.

Stadium 1 (stadium kardinal) didapatkan otore purulen, otalgi, granulasi MAE,


tanpa paresis N.VII.
Stadium 2 proses infeksi menyebar ke jaringan lunak dasar tengkorak, osteomielitis
dan menekan nervus kranial posterior (N.XI, N.XII).
Stadium 3 sudah terjadi ekstensi intrakranial lebih lanjut yaitu meningitis, epidural
empiema, subdural empiema atau abses otak .

(MALIGNANT OTITIS EXTERNAL-OUR EXPERIENCE Journal )

H. GEJALA KLINIS OTITIS EKSTERNA MALIGNA


Gejala otitis eksterna maligna adalah rasa Gatal di liang telinga yang dengan
cepat diikuti oleh nyeri, sekret yang banyak serta pembengkakan liang telinga.
Kemudian rasa nyeri tersebut akan semakin hebat, liang telinga tertutup oleh jaringan
granulasi yang cepat tumbuhnya. Saraf facial dapat terkena, sehingga menimbulkan
paresis atau paralisi facial.
Kelainan patologik yang penting adalah osteomielitis yang progresif yang
disebabkan oleh kuman Pseudomonas aeroginosa. Penebalan endotel yang mengiringi
diabetes mellitus berat, kadar gula darah yang tinggi yang diakibatkan oleh infeksi
yang sedang aktif, menimbulkan kesulitan pengobatan yang adekuat. (BUKU HIJAU
Hal.56).
Otitis eksterna nekrotikans atau maligna merupakan bentuk otitis eksterna
bacterial fulminan yang sering timbul pada pasien usia lanjut dengan diabetes atau
pasien gangguan imun. P.aeruginosa merupakan pathogen yang paling sering
ditemukan pada otitis eksterna nekrotikans. Pasien biasanya mengeluh nyeri hebat.
Infeksi dapat timbul secara tersembunyi dan membahayakan serta sering menyebar
melebihi batas kulit liang telinga luar serta menimbulkan selulitis, kondritis, osteitis,
dan osteomielitis tulang temporal. Penyebaran intracranial, paralisis nervus facialis
dan kematian dapat terjadi jika pengobatan ditunda. Jaringan granulasi pada liang
telinga merupakan gambaran yang khas. Sekuestrum tulang dan tulang rawan dapat
tampak pada stadium lanjut. (Peng P, Sperling N.M, Nyeri dan Gatal Pada Telinga
dalam Ilmu THT Esensial Edisi 5. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta : 2011.
Hal 125-140)
I. PEMERIKSAAAN FISIK