Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH FARMAKOLOGI

OBAT ANTIJAMUR
Disusun untuk memenuhi tugas Farmakologi yang dibina
oleh Dr. Rahmatubagus

Disusun Oleh:
1 Efi Ratna Sari
(1413206018)
2 Mohammad Dhani P
(14132060
3 Shintya Larasati
(14132060

S1 FARMASI
STIKes KARYA PUTRA BANGSA
TULUNGAGUNG
2016

OBAT ANTIJAMUR

Page 1

)
)

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar...............................................ii
Daftar Isi.........................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................1
1.2 Tujuan.................................................................1
BAB II ISI
2.1 Pengertian Jamur....................................................2
2.2 Anatomi Fungi/jamur..............................................5
2.3 Klasifikasi Fungi......................................................6
2.4 Infeksi Jamur ..........................................................11
2.5 Penggolongan Infeksi Jamur...................................12
2.6 Obat Antijamur.......................................................13
2.6.1 Golongan Azol.....................................................13
2.6.2 Golongan Polien...................................................21
2.6.3 Golongan Lain......................................................30
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................34
DAFTAR PUSTAKA......................................................35

KATA PENGANTAR

OBAT ANTIJAMUR

Page 2

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah Farmakologi tentang OBAT ANTIJAMUR.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihah sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini.Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari seenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah mikrobiologi ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah mikrobiologi tentang antijamur ini
dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Tulungagung, 30 April 2016

Penyusun

OBAT ANTIJAMUR

Page 3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jamur merupakan mikroorganisme eukaryotik. Para mikologis
memperkirakan terdapat sekitar 1,5 juta spesies jamur. Sekitar 400 spesies di
antaranya potensial penyebab infeksi pada manusia (Nasronudin, 2011).
Infeksi jamur terjadi pada tempat yang sedikit menerima aliran darah,
seperti pada kulit, kuku, dan rambut. Hal ini menyebabkan distribusi obat ke
daerah itu sangat sulit jika diberikan secara sistematik. Jamur membelah atau
berkembang biak lambat dibandingkan bakteri, padahal peristiwa membelah
merupakan saat yang tepat bagi mikroba untuk membunuh fungi.
Terjadi atau tidaknya infeksi jamur sangat ditentukan oleh hospest
mengingat banyak infeksi jamur bersifat oportunistik. Kebanyakan jamur
sangat resisten terhadap obat-obat anti bakteri. Hanya sedikit bahan kimia
yang diketahui dapat menghambat jamur pathogen pada manusia,dan banyak
diantaranya relatif toksik.
Kebutuhan untuk mendapatkan obat anti jamur yang lebih baik di
tekankan dengat sangat meningkatnya insiden infeksi jamur, baik lokal
maupunmeluas pada pasien yang kurang imun. Mengingat tempat infeksi
jamur di daerah yang vaskularisasinya (aliran darah) sangat rendah maka
pemberian obat secara topical sangat penting. Dengan demikian sangat
penting adanya antifungi lokal maupun antifungi sistemik.
1.1 Tujuan
1. Mengetahui Anatomi, Klasifikasi, dan golongannya Jamur
2. Mengetahui Obat obat golongan antijamur dan nama obatnya

BAB II

OBAT ANTIJAMUR

Page 1

ISI
2.1 Fungi (jamur)
Jamur merupakan protista nonfotosintesis yang tumbuh dan bercabang,
jalinan filamen (hifa) yang dikenal dengan sebutan miselium (mycelium).
Meskipun hifa memiliki sekat sekat, namun sekat ini berlubang sehingga inti
dan sitoplasma bisa leluasa melewatinya. Jadi secara utuh, organisme ini adalah
coenocytes (bentukan berinti
banyak dengan sitoplasma saling
berhubungan) berada dalam deretan
tabung tabung yang bercabang.
Tabung tabung ini dibentuk dari
polisakarida seperti khitin yang
mirip dengan dinding sel. Bentuk
miselial disebut mold; jenis lain
seperti ragi, tidak membentuk
miselium tapi mudah dikenali
sebagai fungi melalui proses
reproduksi seksualnya dan dari adanya bentuk bentuk peralihan (Geo dkk,
2005).Pada umumnya jamur dibagi menjadi 2 yaitu: khamir (Yeast) dan kapang
(Mold)
a. Khamir.
Khamir adalah bentuk sel tunggal dengan pembelahan secara pertunasan.
Khamir mempunyai sel yang lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi
khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar.khamir sangat
beragam ukurannya,berkisar antara 1-5 m lebarnya dan panjangnya dari 5-30
m atau lebih. Biasanya berbentuk telur,tetapi beberapa ada yang memanjang
atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas, namun
sekalipun dalam biakan murni terdapat variasi yang luas dalam hal ukuran dan

OBAT ANTIJAMUR

Page 2

bentuk.Sel-sel individu, tergantung kepada umur dan lingkungannya. Khamir


tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ penggerak lainnya
1. Khamir Murni
Khamir yang dapat berkembang biak dengan cara seksual dengan
pembentukan askospora khamir ini diklasifikasikan sebagai Ascomycetes
(Saccharomyces cerevisae, Saccharomyces carlberges is, Hansenula
anomala, Nadsonia sp).
2. Khamir Liar
Khamir murni yang biasanya terdapat pada kulitanggur. Khamir ini mungkin
digunakan dalam proses fermentasi, meskipun galur yang diperbaiki telah
dikembangkan yang menghasilkan anggur dengan rasa yang lebih enak
dengan bau yang lebih menyenangkan. Khamir liar yang ada dikulit anggur
dimatikan dengan penambahan dioksida belerang pada buah anggur yang
telah dihancurkan. Inokulum galur khamir yang dikehendaki ditambahkan
kemudian untuk memfermentasi air perasan anggur.
3. Khamir Atas
Khamir murni yang cenderung memproduksi gas sangat cepat sewaktu
fermentasi,sehingga khamir itu dibawa kepermukaan. Khamir atas mencakup
khamir yang digunakan dalam pembuatan roti,untuk kebanyakan anggur
minuman dan bir inggris (Saccharomyces cereviceae).
4. Khamir Dasar
Khamir murni yang memproduksi gas secara lebih lamban pada bagian awal
fermentasi. Jadi sel khamir cenderung untuk menetap pada dasar. Galur
terpilih digunakan dalam industri bir lager (Saccharo myces carlsbergensis).
5. Khamir Palsu atau Torulae
Khamir yang didalamnya tidak terdapat atau dikenal tahap pembentukan
spora seksual. Banyak diantaranya yang penting dari segi medis
(Cryptococcus neoformans, Pityrosporum ovale, Candida albicans).
b.

Kapang.
Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian miselium dan
spora (sel resisten, istirahat atau dorman). Miselium merupakan kumpulan
beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 m,
dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 m. Disepanjang
setiap hifa terdapat sitoplasma bersama.
Ada 3 macam morfologi hifa:

OBAT ANTIJAMUR

Page 3

a. Aseptat atau senosit, hifa


seperti ini tidak
mempunyai dinding sekat
atau septum
b. Septat dengan sel-sel
uninukleat, sekat membagi
hifa menjadi ruang-ruang
atau sel-sel berisi nucleus
tunggal. Pada setiap
septum terdapat pori
ditengah-tengah yang
memungkinkan perpindahan nucleus dan sitoplasma dari satu ruang keruang
yang lain.setiap ruang suatu hifa yang bersekat tidak terbatasi oleh suatu
membrane sebagaimana halnya pada sel yang khas, setiap ruang itu biasanya
dinamakan sel
c. Septat dengan sel-sel multinukleat, septum membagi hifa menjadi sel-sel
dengan lebih dari satu nukleus dalam setiap ruang.
Jamur tidak dapat hidup secara autotrof, melainkan harus hidup secara
heterotrof. Jamur hidup dengan jalan menguraikan bahan-bahan organik
yang ada dilingkungannya. Umumnya jamur hidup secara saprofit,artinya
hidup dari penguraian sampah sampah-sampah organic seperti bangkai, sisa
tumbuhan, makanan dan kayu lapuk, menjadi bahan-bahan anorganik. Ada
pula jamur yang hidup secara parasit artinya jamur mendapatkan bahan
organic dari inangnya misalnya dari manusia, binatang dan tumbuhan.
Adapula yang hidup secara simbiosis mutualisme, yakni hidup bersama
dengan orgaisme lain agar saling mendapatkan untung, misalnya
bersimbiosis dengan ganggang membentuk lumut kerak.
Jamur uniseluler misalnya ragi dapat mencerna tepung hingga terurai
menjadi gula, dan gula dicerna menjadi alkohol. Sedangkan jamur
multiseluler misalnya jamur tempe dapat mengaraikan protein kedelai
menjadi protein sederhana dan asam amino. Makanan tersebut dicerna

OBAT ANTIJAMUR

Page 4

diluar sehingga disebut pencernaan ekstraseluler, sama seperti pada bakteri.


Caranya,sel-sel yang bekerja mengeluarkan enzim pencernaan. Enzim-enzim
itulah yang bekerja menguraikan molekul-molekul kompleks menjadi
2.2

molekul-molekul sederhana.
ANATOMI PADA FUNGI (JAMUR)
Jamur tidak memiliki klorofil, sel pada jamur ada yang uniseluler,ada
pula yang mutiseluler. Dinding sel pada jamur terdiri dari kitin. Jamur
multiseluler terbentuk dari rangkaian sel membentuk benang seperti kapas,
yang disebu benang hifa. Hifa memiliki sekat-sekat yang melintang, tiap-tiap
sekat memiliki satu sel, dengan satu atau beberapa inti sel. Namun adapula
hifa yang tidak memiliki sekat melintang, yang mengandung banyak inti dan
disebut senositik. Ada tidaknya sekat pada hifa ini dijadikan dasar dalam
penggolongan jamur. Hifa ada yang berfungsi sebagai pembentuk alat
reproduksi. Misalnya, hifa yang tumbuh menjulang ke atas menjadi
sporangiofor yang artinya
pembawa sporangium.sporangium artinya

kotak

spora. Didalam sporangium terisi spora.

Ada pula

hifa yang tumbuh menjadi konidiofor yang


artinya pembawa konidia,

yang dapat

menghasilkan konidium.
Kumpulan hifa membentuk

jaringan benang

yang dikenal sebagai miselium. Miselium


inilah yang tumbuh menyebar diatas substrat
dan berfungsi sebagai penyerap makanan dari lingkungannya.

2.3 KLASIFIKASI JAMUR

1. Zygomycota

OBAT ANTIJAMUR

Page 5

Zygomycota adalah jamur yang menggunakan zigosporangium sebagai


alat reproduksi seksual dan zigospora sebagai hasil reproduksi seksual. Selain itu,
zygomycota juga dapat melakukan reproduksi aseksual dengan fragmentasi
miselium atau spora aseksual (spora vegetatif) yang dihasilkan oleh sporangium.
Contoh zygomycota adalah Rizopus stolonifer, Rhizopus oligosporus (jamur
tempe), dan Rhizopus oryzae (jamur tapai). Berikut adalah ciri-ciri zygomycota:
1. Memiliki hifa soenositik (bersekat dan tidak bersekat)
2. Alat reproduksi seksual berupa zigosporangium
3. Membentuk zigospora
4. Dinding sel tersusun dari zat kitin
5. Hidup saprofit
6. Miselium bercabang banyak
7. Mempunyai haustoria
8. Tidak memiliki zoospora

OBAT ANTIJAMUR

Page 6

9. Spora berupa sel-sel berdinding

2. Ascomycota

Ascomycota adalah jamur yang berkembang biak dengan membentuk


spora di dalam selnya yang disebut askus. Askus berbentuk seperti kantung
kecil. Alat reproduksi aseksual berupa hifa. Contoh ascomycota adalah
Saccharomyces cerevisiae (fermentasi alkohol) dan Aspergillus flavus
(penghasil racun aflatoksin). Berikut adalah ciri-ciri ascomycota:
1.

Hifa bersekat

2.

Alat reproduksi seksual berupa askus

3.

Umumnya hidup saprofit

4.

Perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan


konidium, fragmentasi, dan pertunasan

5.

Memiliki banyak inti sel

6.

Sebagian besar multiseluler

7.

Spora tidak berflagela

8.

Bentuk tubuh seperti mangkuk


OBAT ANTIJAMUR

Page 7

3. Basidiomycota

Basidiomycota adalah jamur yang bereproduksi aseksual dengan


membentuk spora di atas sel yang disebut basidium. Reproduksi seksual
dilakukan dengan membentuk spora konidia. Contoh basidiomycota adalah
Volvariella volvacea (bahan makanan), Puccinia graminis (penyakit pada tebu),
dan Ustilago scitamanae (parasit pada Graminae). Berikut adalah ciri-ciri
basidiomycota:
1. Hifa bersekat
2. Multiseluler
3. Vegetatifnya memiliki satu inti haploid
4. Memiliki basidiokarp
5. Badan buah berbentuk seperti payung atau kuping
6. Umumnya hidup saprofit
7. Beberapa jenis dapat dijadikan sumber makanan

OBAT ANTIJAMUR

Page 8

4. Deuteromycetes

Jamur ini disebut juga jamur tidak sempurna (fungi


imperfecti) karena kelompok jamur ini tidak diketahui cara
reproduksi generatifnya sehingga disebut juga jamur imperpekti.
Hifa berukuran bersekat-sekat dan tubuhnya mikroskopis
Ciri-ciri Deuteromycota
Hifa bersekat, tubuh berukuran mikroskopis
Bersifat parasit pada ternak dan ada yang hidup saprofit
pada sampah
Reproduksi aseksual dengan konidium dan seksual belum
diketahui.
Banyak yang bersifat merusak atau menyebabkan
penyakit pada hewan hewan ternak, manusia, dan
tanaman budidaya.
Jamur Deuteromycota yang tergolong pada jamur imperfeksi
banyak yang menimbulkan penyakit, misalnya, jamur

OBAT ANTIJAMUR

Page 9

Helminthosporium oryzae, dapat merusak kecambah,


terutama menyerang buah dan menimbulkan nodanoda
hitam pada daun inang; Sclerotium rolfsii merupakan
penyakit busuk pada berbagai tanaman. Jenis jamur dalam
kelompok Deuteromycota yang menguntungkan adalah
jamur oncom (Monilia sitophila atau sekarang bernama
Neurospora sitophila
Pada manusia, jamur anggota Divisi Deuteromycota
umumnya menyebabkan penyakit seperti Aspergillus nidulans &
Aspergillus niger menyebabkan penyakit pada telinga (otomikosis). Candida
sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia. Deuteromycetes,
menyebabkan penyakit kulit (dermatomikosis). Jamur penghasil racun :
Aspergillus flavus , penghasil racun oflaktoksin , Amanita phaloides,
penghasil racun falin, yang dapat merusak sel darah merah. Pneumonia
carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru manusia.
Aspergillus Flavus Ada pula Aspergillus parasit yang menimbulkan penyakit
Aspergillosis yang menyerang paru-paru terhadap manusia, Aspergillus
Rumigatus adalah penyebab infeksi saluran pernapasan manusia, Tinea
versicolor, yaitu penyebab penyakit panu pada kulit. Microsporium, yaitu
penyebab penyakit pada kurap, rambut dan kuku. Epidermophyton
floocossum, yaitu penyebab penyakit pada kaki atlet . Epidermophyton ,
Mikrosporium , & Trighophyton , ketiga jamur ini penyebab penyakit kurap

5. Chytridiomycota

OBAT ANTIJAMUR

Page 10

Chytridiomycota adalah jamur yang bereproduksi dengan zoospora. Divisi


ini sering disebut sebagai peralihan antara protista dan fungi. Chytridiomycota
dinyatakan termasuk ke dalam kingdom fungi setelah membandingkan susunan
DNA pada divisi tersebut. Contoh chytridiomycota adalah Synchytrium
endobioticum (patogen pada umbi kentang), Chytridium, dan Physoderma
maydis (noda pirang pada jagung). Berikut adalah ciri-ciri chytridiomycota:
1. Sebagian besar hidup di air
2. Beberapa bersifat saprofitik
3. Bersifat parasit pada invertebrata di air
4. Mendapatkan nutrisi dengan cara absorpsi
5. Dinding sel tersusun atas senyawa chitin
6. Memiliki hifa senositik
7. Bereproduksi dengan membentuk zoospora berflagel
2.4

INFEKSI JAMUR

OBAT ANTIJAMUR

Page 11

Infeksi karena jamur disebut sebagai MIKOSIS.yang umumnya bersifat


kronis, dapat ringan pada permukaan kulit (mikosis kutan)dan dapat pula
menembus kulit,menimbulkan mikosis sub kutan.
Mikosis yang paling sulit diobati ialah mikosis sistemik yang sering
menimbulkan kematian Insiden infeksi jamur meningkat pada sejumlah
penderita dengan penekanan sistim imun seperti penderita kanker transplantasi
dan penderita AIDS Penderita ini sering menderita jamur oportunistik seperti
meningitis kriptokokus, atau aspergilus.
Mikosis sistemik seperti : blastomikosis, koksidiodomikosis,
histoplasmos merupakan masalah besar dibeberapa daerah. Penggunaan anti
neoplastik dan imunosupresan memberikan kesempatan pada jamur sistemik
untuk berkembang dengan cepat. Perbedaan antara jamur dan bakteri terletak
pada dinding sel jamur mengandung, kitin, polisakarida dan ergosterol pada
membran sel. Karena ini terjadi perbedaan obat yang digunakan antara
antibiotik dan anti jamur.
Menurut kamus Farmakologi, definisi antijamur (antifungi) yaitu:
1. Destruktif terhadap fungus, atau menekan reproduksi atau pertumbuhan,
efektif melawan infeksi fungus.
2. Agen yang destruktif terhadap fungus, atau menekan reproduksi atau
pertumbuhan, efektif melawan infeksi fungus.
Obat anti jamur juga disebut dengan obat-obat antimikotik, dipakai untuk
mengobati dua jenis infeksi jamur : infeksi jamur superfisial pada kulit atau
selaput lendir dan infeksi jamur sistemik pada paru-paru atau system saraf
2.5

pusat.
PENGGOLONGAN INFEKSI JAMUR
Secara klinis infeksi jamur dapat digolongkan menurut lokasi infeksinya
yaitu :
1. Mikosis sistemik (infeksi jamur sistemik) terdiri dari DEEP MYCOSIS
sperti : aspergilos, blastomikosis
koksidiodomikosis, kriptokokosi, histoplamosis, mukormikosis ,
parakoksidio idomikosis, kandidiasis Dan sub cutan mycosis mis:
(kromomikosis,misetoma,sporotikosis)
2. Dermatofit yaitu infeksi jamur yang menyerang :
- kulit
OBAT ANTIJAMUR

Page 12

- rambut
- kuku
biasanya disebabkan oleh ; epidermafiton dan mikrosporum
3. Mikosis muko kutan :
yaitu infeksi jamur pada mukosa dan lipatan kulit yang lembab biasanya
disebabkan kandida.
Menurut indikasi obat - obat anti jamur dibagi menjadi:
1. Anti jamur infeksi sistemik antara lain
Amfoterisin
Flusitosin
Imidazol (ketokonazol,flukonazol,mikonazol ) dan hidroksistilbamidin.

2. Anti jamur untuk infeksi dermatofit dan mukokutan antara lain:

griseofulvin.
Gol imidazol (mikonazol, klotrimazol, ekonazol, isokonazol, tiokonazol,
bifonazol) ,nistatin,tolnafat dan anti jamur topikal lainya (kandisidin,
asam undesilinat,dan natamisin.
Infeksi jamur terjadi di tempat yang sedikit menerima aliran darah
seperti kulit, kuku dan rambut. Hal ini membuat distribusi obat ke daerah
itu sangat sulit jika diberikan secara sistemik, maka pemberian secara
lokal sangat penting. Infeksi jamur sangat ditentukan oleh peran hospes,
karena banyak infeksi jamur bersifat oportunistik.
Menurut indikasi klinis obat-obat anti jamur dapat dibagi atas dua
golongan, yaitu antijamur untuk infeksi sistemik dan antijamur untuk
infeksi dermatofit dan mukokutan.
Antijamur dapat digolongkan menjadi beberapa golongan meliputi
golongan azol, golongan polien dan golongan lain.

2.6.1

2.6 OBAT ANTIJAMUR


Golongan azol
Antijamur azol merupakan senyawa sintetik dengan aktivitas spektrum yang
luas, yang diklasifikasi berdasarkan kandungan atom nitrogennya yaitu :
Dua atom Nitrogen yaitu imidazol (mikonazol, ketokonazol,
klotrimazol)

OBAT ANTIJAMUR

Page 13

Tiga atom nitrogen yaitu triazol (itrakonazol, flukonazol,


vorikonazol)

Mekanisme kerja obat golongan azol


Kerja antijamur secara tidak langsung (golongan azol) adalah
menghambat biosintesis ergosterol yang merupakan sterol
utama untuk mempertahankan integritas membran sel
jamur. Bekerjadengan cara menginhibisi enzim sitokrom P
450, C-14--demethylase yang bertanggung jawab merubah
lanosterol menjadi ergosterol, hal ini mengakibatkan dinding
sel jamur menjadi permeabel dan terjadi penghancuran
jamur.
Golongan azole bersifat fungistatik tetapi preparat terbaru
mempunyai sifat fungisida terutama untuk jamur filamentous. Toksisitas
golongan azole sangat bervariasi tergantung spesifitas dalam mengikat
ergosterol pada sel jamur. Karena besarnya toksisitas, absorpsinya kurang
baik, serta aktivitas spektrum moderat maka ketokonazole sekarang sudah
jarang digunakan (Nasronudin, 2011).
a. Mikonazol
Mikonazole merupakan turunan imidazol sintetik yang
relative stabil, mempunyai spectrum antijamur yang lebar
terhadap jamur dermatofit. Obat ini berbentuk Kristal putih,
tidak berwarna, tidak berbau larut dalam pelarut organic.
Aktifitas antijamur
Mikonazole menghambat aktivitas antijamur Trichophyton,
Epidermophyton, Microsporum, candida, dan Malassezia
furtur. Mikonazole in vitro efektif terhadap beberapa kuman
Gram positif.
Farmakodinamik
Mikonazole masuk kedalam sel jamur dan menyebabkan
kerusakan dinding sel sehingga permeabilitas terhadap

OBAT ANTIJAMUR

Page 14

berbagai zat intrasel meningkat. Mungkin pula terjadi


gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan
peroksida dalam sel jamur yang akan menyebabkan
kerusakan. Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan
tanduk akan menetap disana sampai 4 hari.
Indikasi
Mikonazole topical diindikasikan untuk dermatosis, tinea
versikolor dan kandidiasis mukokutan.

Efek Samping
Efek samping berupa iritasi, rasa terbakar, dan maserasi
memerlukan penghentian terapi.
Sediaan dan Posologi
Obat ini tersedia dalam bentuk krim 2% dan bedak tabur
yang dipakai dua kali sehari selama 2 4 minggu. Krim 2 %
untuk penggunaan intravaginal diberikan sekali sehari pada
malam hari selama 7 hari. Gel 2% tersedia untuk kandidiasis
oral. Mikonazole tidak boleh dibubuhkan dimata.
b. Ketokonazol
Ketokonazol mempunyai aktivitas antijamur terhadap Candida, Coccidioides
immitis, Cryptococcusneoformans, H. capsulatum, B. dermatitidis,
Sporothrixspp, dan Paracoccidioides brasiliensis. Dalam plasma, 84%
ketokonazol berikatan dengan protein plasma terutama albumin, 15%
berikatan dengan sel darah dan 1% dalam bentuk bebas. Ketokonazol
dimetabolisme secara ekstensif oleh hati. Sebagian besar ketokonazol
diekskresi bersama cairan empedu ke lumen usus dan hanya sebagian kecil
yang keluar bersama urin
Farmakodinamik
Ketokonazole bekerja menghambat biosintesis ergosterol yang merupakan
sterol utama untuk mempertahankan integritas membrane sel jamur. Bekerja
OBAT ANTIJAMUR

Page 15

dengn cara menginbisi enzim sitokrom p 450, C-14- alfa demethylase yang
bertanggung jawab merubah lanosterol, hal ini akan mengakibatkan dinding
sel jamur menjadi permiabel dan terjadi penghancuran jamur.
Farmakokinetik
Absorbsi: diserap baik melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar
plasma yang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur.
Penyerapan melalui saluran cerna akan berkurang pada penderita dengan pH
lambung yang tinggi,pada pemberian bersama antacid.Distribusi: distribusi
ketokonazol luas melaui urin, saliva, sebum, kelenjar keringat eccerine,
serebrum, cairan pada sendi dan serebrospinal fluid. Namun, ketokonazole
99% berikatan dgn plasma protein sehingga level pada CSF rendah.
Ekskresi : Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu ke
lumen usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin,
semuanya dalam bentuk metabolit yang tidak aktif
Efek samping
Efek toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B.Mual dan muntah
merupakan ESO paling sering dijumpai. ESO jarang : sakit kepala, vertigo,
nyeri epigastrik, fotofobia, parestesia, gusi berdarah, erupsi kulit, dan
trombositopenia
Indikasi
. Ketokonazol efektif untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi dan jaringan
lemak., tetapi obat ini efektif untuk kriptokokus nonmeningeal. Dan terbukti
bermanfaat pula pada parakoksidioidomikosis, bebrapa bentuk
koksidioidomikosis, dermatomikosis dan kandidosis (mukokutan, vaginal dan
oral).
Kontraindikasi
Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena pada tikus, dosis
80 mg/kgBB/hari menimbulkan cacat pada jari hewan coba tersebut
c. Klotrimazol

OBAT ANTIJAMUR

Page 16

Klotrimazol berbentuk bubuk tidak berwarna yang praktis tidak larut dalam
air, larut dalam alcohol dan kloroform.
Klotrimazol mempunyai efek antijamur dan anti bakteri dengan mekanisme
kerja mirip mikonazole dan secara topical digunkan untuk pengobatan tinea
pedis, kruris, dan korporis yang disebabkan oleh T rubrum, T mentagrophytes,
E floccosum dan M. canis dan untuk tinea versiokolor. Juga untuk infeksi kulit
dan vulvovaginitis yang disebabkan oleh C. albicans.
Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1 %
bentuk dioleskan dua kali sehari. Krim vaginal 1% atau tablet vaginal 100 mg
digunakan sehari sekali pada malam hari selama 7 hari atau tablet vaginal 500
mg, dosis tunggal. Pada pemakaian topical dapat terjadi rasa terbakar. Eritema,
urtikaria.
d. Itrakonazol
Itrakonazol merupakan azole terpilih terutama untuk infeksi jamur
endemik, juga digunakan untuk infeksi yang disebabkan oleh beberapa
infeksi jamur oportunistik dan beberapa infeksi jamur superficial dan
sistemik. Itrakonazol dapat dimanfaatkan untuk pengobatan blastomikosis,
histoplasmosis, kandidiasis kutaneus, koksidioidomikosis, sporotrikhosis,
pseudaleskheriasis, onikhomikosis, tinea versikolor, aspergilosis indolent
(Nasronudin, 2011)
Mekanisme kerja
Seperti halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim
yang dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi ini
menyebabkan akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di
dalam sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang
berhubungan dengan membrane. Aktivitas antijamurnya diduga lebih besar
dan efeksampingnya lebih kecil dari pada ketokonazole
Farmakokinetik
Itrakonazol akan diserap lebih sempurna melalui saluran cerna, bila
diberikan bersama dengan makanan. Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan
menghasilkan kadar puncak sebesar 0,5 g/ml. Kadar ini lebih rendah dari
kadar ketokonazole dengan dosis sama, tapi kadar itrakonazole dalam

OBAT ANTIJAMUR

Page 17

jaringan lebih tinggi. Waktu paruh eliminasi obat ini 36 jam (setelah 15 hari
pemakaian).
Sediaan dan dosis
Itrakonazol tersedia dalam kapsul 100 mg.
Untuk dermatofitosis diberikan dosis 1 x 100mg/hari selama 2-8 minggu.
Kandidiasis vaginal diobati dengan dosis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari.
Pitiriasis versikolor memerlukan dosis 1 x 200 mg/hari selama 5 hari.Infeksi
berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari.
Indikasi
Itrakonazole memberikan hasil memuaskan untuk indikasi yang sama
dengan ketokonazole antara lain terhadap blastomikosis, histoplasmosis,
koksidiodomikosis, parakoksidioidomikosis, kandidiasis mulut dan
tenggorokan serta tinea versikolor. Berbeda dari ketokonazoel, itrakonazole
mungkin bermanfaat pada terapi terhadap sporotrikosis limfokutan dan
beberapa aspergilosis.
Efek samping
Kemerahan, pruritus, lesu, pusing, edema, parestesia10-15% penderita
mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu dihentika
e. Flukanozol
Flukonazol dapat diberikan secara oral maupun intravena. Sering digunakan
untuk pengobatan berbagai infeksi jamur termasuk Candida sp,
C.neoforman, koksidioides immitis dan beberapa infeksi jamur oportunistik.
Efek farmakologis flukonazol sangat sempurna tetapi aktivitas spektrumnya
paling sempit di antara azole yang lain, termasuk tidak mempunyai aktivitas
Aspergillus (Nasronudin, 2011).
Farmakodinamik
Flukonazol derivat tiazol anti jamur yang poten,spesifik menghambat
pembentukan sterol pada membran sel jamur dan spesifik yang tinggi pada
enzim enzim Cytochrome P 450 dependent. Secara farmakologi aktif
terhadap mikosis yang umum disebabkan oleh Cryptococcus
neoformis,infeksi jamur intrakranial ,mikrosporum
Farmakologi
Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C14 alpha-demethylation (biosintesis ergosterol) jamur yang

OBAT ANTIJAMUR

Page 18

sangat selektif. Pengurangan ergosterol, yang merupakan


sterol utama yang terdapat di dalam membran sel-sel jamur,
dan akumulasi sterol-sterol yang mengalami metilase
menyebabkan terjadinya perubahan sejumlah fungsi sel
yang berhubungan dengan membran. Secara in vitro flukonazol
memperlihatkan aktivitas fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans
dan Candida spp.

Farmakokinetik
Flukonazol merupakan antijamur yang poten, yang bekerja spesifik
menghambat pembentukan sterol pada membrane sel jamur. Obat ini
diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya makanan
ataupun keasaman lambung. Kadar puncak 4-8 g dicapai setelah beberapa
kali pemberian 100 mg. Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi
melalui ginjal melebihi 90% bersihan ginjal.
Sediaan dan dosis
Flukonazol tersedia untuk pemakaian per oral dalam kapsul yang
mengandung 50 dan 150mg. Dosis yang disarankan 100-400 mg per
hari. Kandisiasis vaginal dapat diobati dengan dosis tunggal
150 mg.
Indikasi
Kegunaan Terapi : Fluconazole dapat digunakan untuk
mengobati candidosis mukosa dan candidosis cutaneous.
Selain itu, obat ini juga efektif untuk perawatan berbagai jenis
gangguan dermatophytosis dan pityriasis versicolor.
Fluconazole adalah jenis ramuan obat yang menjanjikan bagi
perawatan penyakit candidosis stadium lanjut/berat pada
pasien yang tidak menderita neutropenia, namun sebaiknya
tidak digunakan sebagai pilihan utama pada pasien
neutropenia kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu.
Fluconazole telah terbukti bermanfaat untuk perawatan
prophylaktat terhadap penyakit candidosis yang diderita oleh
pasien pengidap neutropenik. Fluconazole tidak tidak efektif
OBAT ANTIJAMUR

Page 19

untuk mengobati aspergillosis dan mucormycosis. Fluconazole


merupakan jenis obat-obatan yang ampuh untuk mengatasi
meningitis cryptococcal, tetapi tidak boleh dijadikan prioritas
utama untuk pasien pengidap AIDS kecuali jika terdapat
alasan-alasan tertentu. Fluconazole terbukti lebih efektif dan
lebih dapat ditoleransi dibandingkan amphotericin B untuk
mengobati atau mencegah terjadinya cryptococcosis pada
pasien penderita AIDS. Fluconazole saat ini menjadi jenis obat
yang menjadi pilihan banyak dokter untuk mengobati pasien
penderita meningitis coccidioidal. Syaratnya, pasien tersebut
harus tetap mengkonsumsi fluconazole selama hidupnya agar
mencegah munculnya kembali penyakit yang sama.
Flukonazol dapat mencegah relaps meningitis oleh
kriptokokus pada penderita AIDS setelah pengobatan dengan
Amfoterisin B. Obat ini juga efektif untuk pengobatan
kandidiasis mulut dan tenggorokan pada penderita AIDS.
Efek samping
Gangguan saluran cerna merupakan ESO paling banyak,
Reaksi alergi pada kulit, eosinofilia, sindrom stevensJohnson.
f. Vorikonazol
Obat ini adalah anti jamur baru golongan triazole yang di
indikasikan untuk aspergilosis sistemik dan infeksi jamur
berat yang disebabkan oleh scedosporium apiospermum dan
fusarium sp. Obat ini juga mempunyai efektifitas yang baik
terhadap candida sp, cryphtococcus sp dan dermatopit sp
termasuk untuk infeksi candida yang resisten terhadap
flukonazole.
Farmakokinetik
obat ini tidak linier akibat terjadinya saturasi
metabolisme.Vorikonazol dimetabolisme oleh sitokrom P450
di hati dan metabolit utamanya adalah N-oksida yang tidak
aktif. Sekitar 80% vorikonazol diekskresikan dalam urine.
OBAT ANTIJAMUR

Page 20

Indikasi
Pengobatan aspergilosis invasif; kandidemia pd pasien non
neutropenia; infeksi invasif serius oleh Candida (termasuk C
krusei); kandidiasis esofageal; infeksi jamur serius yg
disebabkan Scedosporium apiospermum & Fusarium spp
termasuk Fusarium solani
Dosis dan sediaan
Dosis muat oral untuk pasien dengan berat badan >40 kg ialah 400mg dan
untuk pasien yang berate nya < 40 kg diberikan 200 mg. Dosis must oral
irat juga diberikan hanya 2 kali dengan interval 12 jam. Pengobatan lalu
dilanjutkandengan pemberian oral 200 mg tiap 12 jam bagi pasien dengan
berat badan > 40 kg.Untuk pasien dengan berat badan kurang dari 40 kg
diberikan dosis pemeliharaan 2kali 100 mg sehari. Pengurangan dosis
diperlukan pada pasien dengan gangguan fungsi hati. Pengobatan yang
dimulai dengan pemberian IV ini, secepatnya harus dialihkan ke pemberian
oral.
Efek samping
Efek samping terpenting dari obat ini ialah gangguan pengelihatan sementara
berupa pengelihatan kabur atau fotofobia yang terjadi pada sekitar 30%
pasien. Efek samping lainnya ialah reaksi fotosensitivitas dan kenaikkan
kadar transaminase serum yang bersifat sementara.
2.6.2

Golongan polien
Golongan Polien bekerja dengan mengikat ergosterol di sel

membran jamur yang akan menyebabkan kerusakan


permeabilitas sel dan pada akhirnya jamur akan mati. Obat
pilihan dari anti jamur polien untuk mengobati infeksi jamur sistemik
adalah amfoterisin B. Diperkenalkan pada tahun 1956 dan masih terus dipakai
pada saat sekarang dengan pengawasan ketat akibat toksisitasnya, amfoterisin B
efektif dalam melawan berbagai penyakit jamur, termasuk histoplasmosis,
kriptokokosis, koksidioidomikosis, aspergilosis, blastomikosis, dan kandidiasis
(infeksi sistemik). Amfoterisin B tidak diabsorbsi melalui saluran

OBAT ANTIJAMUR

Page 21

gastrointestinal; oleh karena itu, diberikan intervena dalam dosis rendah untuk
mengobati infeksi jamur sistemik (Joyce, 1996).
Berikut adalah antijamur yang termasuk golongan polien:
a. Amfoterisin
Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi Streptomyces nodosus
98% campuran ini terdiri dari amfoterisin B yang mempunyai aktivitas
antijamur. Amfoterisin B merupakan obat terpilih pada semua infeksi jamur,
tetapi terdapat keterbatasan yaitu pada toksisitasnya. Efek toksik pada ginjal
terjadi pada pasien yang mendapatkan terapi amfoterisin. Formulasi lipid
dapat mengurangi toksisitas amfoterisin B. Ada 3 formulasi amfoterisin saat
ini yaitu : amfoterisin B liposomal, amfoterisin B kompleks lipid, dan
amfoterisin dispersi koloid (Nasronudin, 2011).
Amfoterisin mempunyai spektrum aktivitas terhadap Aspergillus, B.
dermatitidis, Candida, C. neoformans, C.immitis.H. capsulatum, Mucor, P.
brasiliensis. Amfoterisin tidak larut dalam air, dan tidak diabsorpsi dari
saluran cerna.
Amfoterisin adalah salah satu obat anti jamur yang
termasuk kedalam golongan polyene. Obat ini biasa
digunakan untuk membantu tubuh mengatasi infeksi jamur
serius. Amfoterisin A dan B adalah hasil fermentasi
Streptomyces nodosus, actinomyces yang ditemukan di
tanah. 98 % campuran ini terdiri dari amfoterisin B yang
mempunyai aktivitas anti jamur. Kristal seperti jarum atau
prisma berwarna kuning jingga, tidak berbau dan tidak
berasa. Amfoterisin merupakan antibiotik polien yang
bersifat basa amfoter lemah, tidak larut dalam air, tidak
stabil, tidak tahan suhu diatas 370C. Tetapi dapat bertahan
sampai berminggu-minggu pada suhu 40C.
Amfoterisin bekerja dengan menyerang sel yang
sedang tumbuh dan sel matang. Aktifitas anti jamur nyata
pada pH 6,0 7,5. Aktifitas anti jamur akan berkurang pada

OBAT ANTIJAMUR

Page 22

Ph yang lebih rendah. Amfoterisin bersifat fungistatik atau


fungisidal tergantung dengan dosis yang diberikan dan
sensitivitas jamur yang dipengaruhi.
Obat ini digunakan untuk pengobatan infeksi jamur seperti:
a.

Koksidiodomikosis

b.

Parakoksidioidomikosis

c.

Aspergilosis

d.

Kromoblastomikosis

e.

Kandidiosis

f.

Maduromikosis (misetoma)

g.

Mukormikosis (fikomikosis)

Amfoterisin juga dapat diberikan secara topikal.


Amfoterisin B merupakan obat terpilih untuk blastomikosis
selain
hidrosistilbamidin yang cukup efektif untuk sebagian besar
pasien dengan lesi kulit yang tidak progresif.
Kontra Indikasi
a.

Pasien yang memiliki riwayat hipersensitif

b.

Gangguan fungsi ginjal

c.

Ibu menyusui

d.

Pada pasien yang mengonsumsi obat antineoplastik


Infus amfoterisin B seringkali meninbulkan beberapa efek

samping seperti kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam,


menggigil, hipotensi, lesu, anoreksia, nyeri otot, flebitis, kejang
dan penurunan fungsi ginjal. 50% pasien yang mendapat dosis
awal secara iv akan mengalami demam dan menggigil.
Keadaan ini hamper selalu terjadi pada penyuntikan amfoterisin
B tapi akan berkurang pada pemberian berikutnya. Reaksi ini
dapat ditekan dengan memberikan hidrokortison 25-50 mg dan

OBAT ANTIJAMUR

Page 23

dengan antipiretik serta antihistamin sebelumnya. Flebitis


dapat dikurangi dengan menambahkan heparin 1000 unit
kedalam infuse.
Farmakodinamik
Amfoterisin B bekerja dengan berikatan kuat dengan
ergosterol (sterol dominan pada fungi) yang terdapat pada
membran sel jamur. Ikatan ini akan menyebabkan membrane
sel bocor dan membentuk pori-pori yang menyebabkan bahan-bahan
esensial dari sel-sel jamur merembas keluar sehingga terjadi
kehilangan beberapa bahan intrasel dan mengakibatkan
kerusakan yang tetap pada sel. Efek lain pada membrane sel
jamur yaitu dapat meninbulkan kerusakan oksidatif pada sel
jamur.
Farmakokinetik
Amfoterisin sedikit sekali diserap melalui saluran cerna. Suntikan yang
dimulai dengan dosis 1,5 mg/hari lalu ditingkatkan secara bertahap sampai
dosis 0,4-0,6 mg/kgBB/hari akan memberikan kadar puncak antara 0,5-2
g/mL pada kadar mantap. Waktu paruh obat ini kira-kira 24-48 jam pada dosis
awal yang diikuti oleh eliminasifase kedua dengan waktu paruh kira-kira 15
hari sehingga kadar mantapnya baru akan tercapai setelah beberapa bulan
pemakaian. Obat ini didistribusikan luas ke seluruh jaringan. Kira-kira 95%
obat beredar dalam plasma, terikat pada lipoprotein. Kadar amfoterisin B
dalam cairan pleura, peritoneal, sinovial dan akuosa yang mengalami
peradangan hanya kira-kira2/3 dari kadar terendah dalam plasma. Amfoterisin b
juga dapat menembus sawar uri, sebagian kecil mencapai CSS, humor vitreus
dan cairan amnion. Ekskresi melalui ginjal sangat lambat, hanya 3% dari
jumlah yang diberikan selam 24 jam sebelumnya ditemukan dalam urine.
Indikasi

OBAT ANTIJAMUR

Page 24

Untuk pengobatan infeksi jamur seperti koksidioidomikosis,


parakoksidoidomikosis, aspergilosis, kromoblastomikosis dan
kandidosis. Blastomikosism. keratitis mikotik.
Posologi
Dosis yang direkomendasikan untuk pemberian amfoterisin B
lipid kompleks yaitu 5 mg/kg BB dan di infuskan dengan ratarata 2,5 mg/kg BB/jam. Obat ini telah diberikan pada individu
selama 11 bulan dengan dosis kumulatif 50 g tanpa efek
samping toksik yang signifika. Dosis awal amfoterisin B
kolloidal dispersion yaitu 1,0 mg/kg BB dan jika dibutuhkan
dosis dapat ditingkatkan menjadi 3,0-4,0 mg/kg BB. Formula ini
di infuskan dengan rata-rata 1 mg/kg BB/jam. Obat ini telah
diberikan pada individu dengan dosis kumulatif 3 gr tanpa
efek samping toksik yang signifikan.
b. Nistatin
Nistatin merupakan obat antijamur yang berpotensi tinggi dan memiliki
spektrum yang luas yang digunakan sebagai obat topikal untuk mikosis
mukotaneus. Obat nistatin ini terlalu toksik untuk diberikan secara parenteral
sehingga hanya diberikan secara topikal. Nistatin saat ini tersedia dalam bentuk
krim, salep, supositoria, dan bentuk lain untuk digunakan pada kulit dan
membran mukosa, dan saluran cerna tidaklah bermakna. Akibatnya, toksisitas
nistatin kecil, meskipun penggunaan oralnya seringkali dibatasi oleh rasanya
yang tidak enak. Nistatin aktif terhadap sebagian besar spesies kandida dan
paling sering digunakan untuk menekan infeksi kandida intertriginosis
(Katzung, 2007).
Farmakodinamik
Nistatin merupakan antijamur yang bekerja lokal, tidak diabsorpsi sistemik,
diisolasi dari bakteri Streptomyces noursei pada tahun 1950. Nistatin bekerja
dengan mengikat ergosterol yang merupakan komponen utama dinding sel
jamur. Pada konsentrasi yang cukup, akan membentuk pori pada membran sel

OBAT ANTIJAMUR

Page 25

jamur yang menyebabkan kebocoran kalium dan kematian sel jamur


(Kicklighter, 2002). Pemberian nistatin oral bertujuan menurunkan kolonisasi
jamur di saluran cerna.
Farmakokinetik
Nistatin adalah antibiotik makrolida polene dari Streptomyces noursei. Struktur
nistatin mirip dengan struktur amfoterisin B. Nistatin tidak diserap di membran
mukosa atau kulit. Obat ini terlalu toksik untuk pemberian parenteral. Bila
diberikan per oral, absorpsinya sedikit sekali dan kemudian diekskresi melalui
feses. Spektrum antijamurnya sebenarnya juga mencakup jamur-jamur sistemik,
namun karena toksisitasnya, nistatin hanya digunakan untuk terapi infeksi
kandida pada kulit, membran mukosa dan saluran cerna. Nistatin efektif untuk
kandidiasis oral, kandidiasis vaginal dan esofagitis karena kandida. Nistatin
terdapat dalam sediaan obat tetes atau suspensi, tablet oral, tablet vagina, dan
suppositoria. Berikut rincian farmakokinetik dari nistatin sediaan oral dan
topikal.
Sedian topikal
Absorpsi
Nistatin dalam bentuk pasta digunakan topikal pada daerah kulit yang terinfeksi
dan tidak ada indikasi penyerapan di kulit yang menyebabkan paparan sistemik
terhadap nistatin. Hal ini sejalan dengan pengamatan untuk antibiotik polene
lainnya. Nistatin tidak diserap di lapisan mukosa ketika dioleskan sehingga
toksisitas sistemik tidak diharapkan dari sediaan topikal.
Distribusi
Nistatin tidak dipenetrasi di kulit sehingga penentuan evaluasi distribusi
farmakokinetik standar tidak akan sesuai, karena tidak akan ada paparan
sistemik terhadap nistatin.
Metabolisme
Belum ada systemic review pada metabolisme nistatin. Pada dasarnya,
berdasarkan pengalaman klinis panjang dengan senyawa ini fakta ini dianggap
tidak penting dalam klinis.

OBAT ANTIJAMUR

Page 26

Ekskresi
Nistatin tidak dipenetrasi di kulit, penentuan standar farmakokinetik eliminasi
tidak akan sesuai, karena tidak akan ada paparan sistemik terhadap nistatin.
Sediaan Oral
Absorpsi
Ada penyerapan langsung di mukosa sehingga terdapat paparan sistemik
terhadap nistatin. Penyerapan langsung yang terbatas tersebut tidak cukup
untuk menghasilkan efek baik efek kemoterapi sistemik atau toksisitas apapun.
Interaksi nistatin dan polene lain dengan garam empedu yang menyebabkan
bioavailabilitas oral yang buruk untuk senyawa ini.
Distribusi
Paparan sistemik setelah pemberian oral adalah minimal sebagaimana
dibuktikan oleh pemulihan sangat rendah di urin 1,0% pada 24 jam (dosis
tidak diberikan), dan konsentrasi rendah dan tidak menentu dalam serum.
Metabolisme
Konsentrasi nistatin bertahan dalam air liur selama kurang lebih 2 jam setelah
mulai larutnya 400.000 unit nistatin secara langsung. Belum ada systemic
review yang dilakukan terhadap metabolisme nistatin.
Ekskresi
Proporsi nistatin lebih tinggi di feses dan ini adalah kasus dalam penelitian
yang dilaporkan oleh Drouhet; 32% dari dosis nistatin itu dalam tinja dan
<1,0% dalam urin. Dalam penelitian in vitro, ditunjukkan bahwa nistatin
kehilangan aktivitas dalam plasma, darah dan larutan air.
Interaksi Obat
Nistatin bersinergi dengan antibiotik lain seperti tetrasiklin tetapi mekanisme
yang mendasari masih belum jelas, mungkin sebagian disebabkan oleh
peningkatan permeabilitas membran yang disebabkan oleh polene.
Hal tersebut mendukung pandangan bahwa tidak ada efek merusak yang
diharapkan jika agen terapi itu harus dipakai bersamaan dengan nistatin
Efek Samping :

OBAT ANTIJAMUR

Page 27

Jarang:
-

Nystatin dapat ditolerir oleh semua umur, termasuk untuk


pemakian jangka lama.

Pada pemakaian dosis besar jarang mengakibatkan diare,


gangguan gastrointestina, mual dan muntah.

Rash termmasuk urtikerja jarang terjadi.

Steven-Johnson syndrome jarang terjadi

Posologi dan Indikasi


a. Candistin
Nistatin 100.000 UI yang diindikasikan untuk terapi kandidiasis pada rongga
mulut. Kontraindikasi pada hipersensitif. Dosis untuk bayi 4x1-2 ml sehari; anak
dan dewasa: sehari 4x1-6 ml diteteskan ke dalam mulut dan ditahan beberapa
waktu sebelum ditelan; bayi dan anak diberikan setengah dosis diteteskan pada
masing-masing sisi mulut; pengobatan sebaiknya dilanjutkan hingga 48 jam
setelah gejala menghilangdan kultur normal kembali. Bila keluhan dan gejala
memburuk atau menetap (hingga 14 hari pengobatan), penderita harus dievaluasi
dan dipertimbangkan untuk diberikan pengobatan alternatif. Kemasan candistin
dalam bentuk botol tetes 12 ml.
b. Cazetin
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi diindikasikan untuk kandidiasis pada rongga
mulut dan saluran pencernaan. Dosis untuk dewasa sehari 4x1-2 ml; bayi dan
anak-anak, sehari 3-4x1 ml. Dosis untuk profilaksis sehari 1x1 ml. Obat cazetin
tersedia dalam kemasan botol 15 ml dan 1 pipet tetes.
c. Decastin
Nistatin 500.000 UI/tab oral, 100.000 UI/tab vaginal. Indikasi penggunaan obat
decastin sebagai pengobatan trikomosasidium. Obat Decastin tersedia dalam
kemasan Dus 100 tab oral; Dus 20x5 tab vaginal.
d. Enystin

OBAT ANTIJAMUR

Page 28

Nistatin 100.000 UI/ml diindikasi sebagai pengobatan kandidiasis oral dan


intestinal. Kontraindikasi terhadap hipersensitivitas. Dosis obat enystin pada
orang dewasa dan anaka-anak sebesar sehari 4x1-2 ml (100.000-200.000 u).
Terapi sebaiknya dilanjutkan sampai 48 jam setelah gejala menghilang.
Kemasannya dalam bentuk botol 12 ml (drops+pipet 1 ml) Rp. 19.500,e. Flasgystatin
Metronidazol 500 mg, Nistatin 100.000 UI indikasi untuk pengobatan infeksi
vagina yang disebabkan oleh trikomoniasis dan kandidiasis ataupun infeksi
campurannya. Kontraindikasi hipersensitif terhadap metronidazole dan nistatin.
Efek samping obat berupa pruritus dan letikaria. Dosis: Ovula: 1 ovula selama 719 hari; krim: 1 aplikator perhari selama 10 hari. Kemasan dalam bentuk tube 25
g krim, Dus 10 ovula.
f. Fungatin
Nistatin 100.000 UI/ml indikasi untuk pengobatan infeksi kandida pada mulut,
esofagus, usus, kandidiasis oral pada bayi baru lahir dari kandidiasis vagina. Hal
yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat fungatin adalah tidak
diperuntukkan untuk infeksi jamur sistemik. Efek samping yang ditimbulkan
berupa mual, muntah, diare, nyeri abdomen berat, iritasi atau sensitasi oral,
urtikaria atau kemerahan pada kulit. Sangat jarang menyebabkan sindroma
Steve-Johson. Dosis orang dewasa yang sariawan dan infeksi rongga mulut
karena Candida albicans 1-4 ml pada lesi 4 kali/hari. Kandidiasis intestinal dan
oral 1-sehari 4x2 ml. Lama terapi selama 14 hari. Kemasan obat ini dalam bentuk
suspensi 12 ml.
g. Kandistatin
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi indikasi untuk pengobatan kandidiasis pada
rongga mulut, kandidiasis pada kerongkongan dan saluran cerna. Profilaksis oral
trush pada bayi baru lahir. Efek samping obat ini adalah diare dan gangguan
gastrointestinal. Dosis pada orang dewasa sebesar 4x1-2 ml sehari, untuk anakanak 3-4x1ml. Sebagai profilaksis, dosisnya sebesar 1x1 ml sehari. Kemasan
obat ini dalam bentuk botol 12 ml suspensi 100.000 UI/ml x 12 ml.

OBAT ANTIJAMUR

Page 29

h. Mycostatin
Nistatin 100.000 UI/ml; 500.000 UI indikasi untuk pengobatan kandidiasis mulut
dan usus yang kontraindikasi hipersensitivitas. Hal yang perlu diperhatikan
dalam penggunaan obat mycostatin adalah pernah dilaporkan adanya sindrom
Steven Johson. Dosis mycostastin sebagai pengobatan kandidiasis mulut dan
usus sebesar sehari 3x 1-2 tab atau sehari 4x1 ml untuk kandidiasis mulut.
Suspensi obat ini sebaiknya dikulum sebelum ditelan. Profilaksis pada bayi baru
lahir terutama bayi prematur sehari 1x1 ml. Kemasan obat ini dalam bentuk botol
12 ml; 100 tab.
i. Myco-Z
Nistatin 100.000 UI/ml dan seng oksida 200 mcg/g indikasi untuk pengobatan
infeksi jamur karena Candida, yang terhadap pada intertigo, interdigital, mikosis,
paronisia, diaper rash dan lain-lain. Kemasannya dalam bentuk tube 10 g salep
dengan harga sebesar Rp. 47.200,-.
j. Nymiko
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi indikasi disesuaikan dengan dosis.
Kontraindikasi hipersensitivitas. Perlu diperhatikan bahwa obat ini sebaiknya
tidak diberikan pada ibu hamil dan menyusui. Efek samping yang ditimbulkan
berupa gangguan saluaran cerna, diare, mual, dan muntah. Dosis untuk infeksi
rongga mulut yang disebabkan Candida albicans (agar dikunur dahulu sebelum
ditelan). Bayi, anak-anak, dan dewasa sehari 4x1 ml suspensi. Obat ini dikemas
dalam bentuk botol 12 ml suspensi dengan harga Rp. 26.930,-.
k. Vagistin
Metronidazol 500 mg, Nistatin 100.000 UI. Indikasi untuk pengobatan vaginitis
disebabkan infeksi Trichomonas vaginalis, Candida albicas, dan bakteri anaerob.
Kontraindikasi dan efek samping berupa hipersensitivitas. Perlu diperhatikan,
hati-hati pada kehamilan trimester pertama. Dosis sebesar 1 ovula setiap hari
diberikan sebelum tidur selama 7-10 hari, dimasukkan ke dalam vagina. Obat ini
dikemas dalam bentuk Dus 3x10 ovula (ISFI, 2013)

OBAT ANTIJAMUR

Page 30

2.6.3 GOLONGAN LAIN


Glongan Alilamin
Bentuk obat lain adalah yang merupakan sintesis ergesterol adalah
allylamine terbinafine. Digunakan pada infeksi primer kulit tetapi kadangkadang digunakan secara kombinasi dengan antijamur yang lain pada infeksi
jamur oportunistik berat (Nasronudin, 2011).
1. Naftifin
Naftifin dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan Candida sp.,
Untuk pengobatan digunakan krim naftifin hidroklorida krim 1% dioleskan
1 kali sehari selama 1 minggu.
2. Terbinafin
Terbinafin dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis, pitiriasis
versikolor dan kandidiasis kutaneus. Digunakan terbinafin krim 1% yang
dioleskan 1 atau 2 kali sehari. Untuk pengobatan tinea korporis dan tinea
kruris digunakan selama 1-2 minggu, untuk tinea pedis selama 2-4 minggu,
untuk kandidiasis kutaneus selama 1-2 minggu dan untuk pitiriasis
versikolor selama 2 minggu
3. Butenafin
Butenafin merupakan golongan benzilamin aktifitas antijamurnya sama
dengan golongan alilamin. Butenafin bersifat fungisidal terhadap
dermatofita dan dapat digunakan untuk pengobatan tinea korporis, tinea
kruris dan tinea pedis, dioleskan 1 kali sehari selama 4 minggu.
2.6.4

Golongan Ekinokandin
1.
Caspofungin merupakan echinocandin pertama yang
digunakan pada manusia. Echinocandin bermanfaat untuk menghambat
sintesis betaglukan pada dinding sel jamur bekerja fungisida terhadap
spesies candida aspergillus tetapi tidak mampu melawan C.neoformans.
Caspofungin hanya tersedia intravena dan memiliki toksisitas minimal
(Nasronudin, 2011).
Caspofungin merupakan obat yang dihasilkan dari
fermentasi produk yang disebut pneumocandin Bo. Obat
ini digunakan pada pasien dengan infeksi aspergillus yang

OBAT ANTIJAMUR

Page 31

berat yang tidak berespon terhadap pengobatan dengan


amphotericin B. Selain itu, caspofungin juga digunakan
sebagai terapi kandidiasis pada esophagus
Efek Samping
Caspofungin merupakan obat yang dapat ditoleransi oleh
sebagian besar pasien, kecuali radang pada pembuluh
darah vena tempat obat ini disuntikkan. Efek samping lain
yang mungkin terjadi adalah mual, muntah, diare
Dosis
Capsofungin diberikan secara suntikan ke pembuluh darah
vena sekali sehari dalam waktu 1 jam. Dosis awal 70 mg,
dilanjutkan dengan 50 mg per hari. Griseofulvin diberikan
dengan dosis 5 15 mg/kg/hari untuk anak dan 0,5 1
g/hari untuk dewasa
Flucytosina (5-fluorocytosina) merupakan bentuk oral fluorinated
pyrimidine yang merupakan konversi ke 5-fluorourasil yang mempunyai
kinerja terhadap sintesis DNA dan RNA jamur. Terutama digunakan
untuk terapi kriptokosis dan kandidiasis. Selama penggunaanya perlu di
follow up terhadap terjadinya efek samping penekanan sumsum tulang

2.

belakang (Nasronudin, 2011).


Mikafungi
Pada tahun 2005, mikafungin disetujui FDA untuk terapi esofagitis
kandida pada pasien HIV.
Pettengell et al. melaporkan pemberian mikafungin 50-100 mg/hari
menyebabkan respon total atau parsial pada 35 dari 36 pasien kandidiasis
esophagus (97,2%) dan insiden efek simpang hanya 2,8% (1 dari 36
pasien). Mikafungin juga bermanfaat untuk terapi aspergilosis invasif.10
Penelitian juga telah dilakukan untuk membandingkan efektifitas
mikafungin dengan flukonazol sebagai antijamur profilaksis pada 882
pasien yang menjalani transplantasi stem sel hemopoietik. Mikafungin
diberikan 50 mg/hari atau flukonazol 400 mg/hari secara acak selama
enam minggu. Hasil penelitian menunjukkan respon mikafungin sebagai
OBAT ANTIJAMUR

Page 32

antijamur profilaksis lebih baik dibanding flukonazol (80% dibanding


73.5%; p = 0.025). Hasil ini konsisten terhadap semua subgroup termasuk
anak dan orang tua, pasien dengan netropenia persisten dan resipien
transplantasi alogenik dan autolog.
2.5.4 GOLONGAN ANTIJAMUR LAIN
1. Flusitosin
Flusitosin efektif terhadap Candida sp., Cryptococcus neoformans,
Cladophialophora carrionii, Fonsecaea sp., Phialophora verrucosa.7
Pada orang dewasa dengan fungsi ginjal yang normal, pemberian flusitosin
diawali dengan dosis 100 mg/kg BB perhari, dibagi dalam 4 dosis dengan
interval 6 jam namun jika terdapat gangguan ginjal pemberian flusitosin diawali
dengan dosis 25 mg/kgBB.7
Efek samping yang sering dijumpai yaitu mual,muntah dan diare.
Trombositopenia dan leukopenia dapat terjadi jika konsentrasi obat di dalam
darah meninggi, menetap (>100 mg/L) dan dapat juga dijumpai jika obat
dihentikan. Peninggian kadar transaminase dapat juga dijumpai pada beberapa
pasien tetapi dapat kembali normal setelah obat dihentikan.
2. Griseofulvin
Griseofulvin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas hanya
untuk spesies Epidermophyton flocossum, Microsporum sp., dan Trichophyton
sp., yang merupakan penyebab infeksi jamur pada kulit, rambut kuku.
Griseofulvin tidak efektif terhadap kandidiasis kutaneus dan pitiriasis versikolor.
Griseofulvin terdiri atas 2 bentuk yaitu microsize (mikrochryristallin)
dan ultramicrosize (ultramicrochrystallin). Bentuk ultramicrosize
penyerapannya pada saluran pencernaan 1,5 kali dibandingkan dengan
bentuk microsize.
Pada saat ini, griseofulvin lebih sering digunakan untuk pengobatan
tinea kapitis. Tinea kapitis lebih sering dijumpai pada anak-anak disebabkan oleh

OBAT ANTIJAMUR

Page 33

Trychopyton tonsurans. Dosis pada anak-anak 20-25 mg/kg/hari (mikrosize), atau


15-20 mg/kg/hari (ultrasize) selama 6-8 minggu.8
Dosis griseofulvin (pemberian secara oral) yaitu dewasa 500-1000 mg/ hari
(microsize) dosis tunggal atau terbagi dan 330-375 mg/hari (ultramicrosize) dosis
tunggal atau terbagi.10 Lama pengobatan untuk tinea korporis dan kruris selama
2-4 minggu, untuk tinea kapitis paling sedikit selama 4-6 minggu, untuk tinea
pedis selama 4-8 minggu dan untuk tinea unguium selama 3-6 bulan.
Efek samping griseofulvin biasanya ringan berupa sakit kepala, mual,
muntah, dan nyeri abdomen. Timbulnya reaksi urtikaria dan erupsi kulit dapat
terjadi pada sebagian pasien.

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Jamur merupakan protista nonfotosintesis yang

tumbuh dan bercabang,


Klasifikasi jamur antara lain: Zygomycota, Ascomycota,

Basidiomycota, Deuteromycetes, dan Chytridiomycota.


Menurut indikasi klinis obat-obat anti jamur dapat
dibagi atas dua golongan, yaitu antijamur untuk infeksi

OBAT ANTIJAMUR

Page 34

sistemik dan antijamur untuk infeksi dermatofit dan

mukokutan.
Antijamur dapat digolongkan menjadi beberapa
golongan meliputi golongan azol, golongan polien dan
golongan lain.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. 2007. Farmakologi


dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Bagian Farmakologi FK UI.
Katzung BG. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi X. Jakarta, Salemba
Medika. Halaman 813.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. 2013. ISO (Informasi Spesialite Obat Indonesia).
Volume 48. Jakarta: PT ISFI
Dr Ramona dumasari.2008.Pengobatan
Dermatomikosis.Departemen Ilmu kesehatan kulit dan
kelamin.Fakultas Kedokteran.USU Press.
file:///D:/MATERIFARMAKOLOGI-OBATJAMURATAU ANTIFUNGI_MURAH
HATI.htm
OBAT ANTIJAMUR

Page 35

https://farmakologi.files.wordpress.com/2011/02/antijamur.pdf
Gunawan, Sulistia Gan. 2009. Farmakologi dan Terapi edisi 5. FK-UI. Jakarta
http://www.scribd.com/doc/57215070/36154284-Uraian-Obat-AntiJamur
Diniawaty Awalin S dan Novel Sasika S. Kamus Farmakologi.2011. Jakarta: Trans
info media.

OBAT ANTIJAMUR

Page 36