Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN


SISTEM INTEGUMEN: TINEA KRURIS

1.
2.
3.
4.

PROGRAM STUDI NERS TAHAP


AKADEMIK

5. STIKes SANTA ELISABETH MEDAN


6. T.A 2013/2014

7. BAB 1
8. PENDAHULUAN
9. 1.1 Latar Belakang
10. Infeksi jamur superfisialis termasuk penyakit kulit yang peling
sering dijumpai diseluruh dunia, baik pada indivdu yang sehat maupun
dengan daya tahan tubuh menurun. Sekitar 10-20 % populasi mengalami
infeksi jamur superfisisalis. Meskipun penyakit ini tidak fatal, namun sering
bersifat kronis dan kumat-kumatan, serta dapat menyebabkan gangguan
kenyamanan dan menurunkan kualitas hidup penderitanya
11. Dermatofitosis merupakan infeksi jaringan yang mengandung
keratin, disebabkan oleh jamur dermatofita. Infeksi dermatofitosis dikenal
dengan nama tinea, diklsifiksikan sesuai lokasi anatomik.
12. Tinea kruris merupakan dermatofitosis yang mengenai daerah
lipatan paha, termasuk genitalia, daerah pubis, perineum dan perianal. Tinea
kruris merupakan dermatofitosis yang sering dijumpai dimana pada frekuensi
bentuk klinis infeksi jamur superfisial.
13. Insidensi Tinea kruris cukup tinggi di Indonesia, bahkan di seluruh
dunia, karena menyerang masyarakat luas. Kelainan ini dapat bersifat akut
atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur
hidup (Budimulja, 1999).
14. Kondisi geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan
suhu dan kelembaban yang tinggi akan memudahkan tumbuhnya jamur,
sehingga infeksi oleh karena jamur di Indonesia pada umumnya, di Sumatera
Utara pada khususnya banyak ditemukan. Oleh karena itu, golongan penyakit
kulit karena infeksi jamur menempati urutan kedua terbanyak dari insiden
penyakit kulit di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU), Rumah Sakit Umum
Pusat (RSUP) H. Adam Malik, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.
Pirngadi Medan (Nasution M.A., 2005).

15. Jumlah penderita dermatofitosis pada tahun 1996 sampai 1998


sebanyak 4.162 orang dari 20.951 penderita baru penyakit kulit yang
berkunjung ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK USU, RSUP
H. Adam Malik, RSUD dr. Pirngadi Medan. Dan pada tahun 2002 penyakit
dermatofitosis merupakan penyakit kulit yang menduduki urutan pertama
dibandingkan penyakit kulit yang lain (Nasution M.A., 2005).
16.
17.
18. 1.2 Tujuan Penulisan
19.

1.2.1 Tujuan Umum

20.

Mampu menjelaskan konsep medis maupun konsep

keperawatan mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan


gangguan sistem Integumen: Tinea Kruris
21.

1.2.2 Tujuan Khusus

Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan sistem

Integumen: Tinea Kruris


Mampu membuat diagnosa keperawatan pada klien dengan

gangguan sistem Integumen: Tinea Kruris


Mampu melakukan intervensi keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem Integumen: Tinea Kruris

22.

23.
24.

BAB 2

TINJAUAN TEORI

25.

2.1 KONSEP MEDIS

26.

2.1.1 Defenisi
27. Tinea Kruris ( Jock Itch) merupakan infeksi jamur pada

lipatan paha yang dapat melus ke paha bagian dalam dan daerah pantat (
Brunner Suddarth. 2001).
28. Tinea kruris adalah penyakit dermatofitosis (penyakit pada
jaringan yang mengandung zat tanduk) yang disebabkan infeksi
golongan

jamur

Epidermophython

dermatofita(Trichopyhton
fluccosumTrichophyton

rubrum

(90%)

mentagrophytes

dan
(4%),

Trichopyhton tonsurans) pada daerah kruris (sela paha, perineum,


perianal, gluteus, pubis) dan dapat meluas ke daerah sekitarnya.
Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat
merupakan

penyakit

yang

berlangsung

seumur

hidup ( Arif

Muttaqin.2011).

29.
30.

2.1.2 Etiologi
31.

Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum

(90%) dan Epidermophython fluccosumTrichophyton mentagrophytes

(4%), Trichopyhton tonsurans (6%). Tinea kruris biasanya timbul


akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain. Penularan juga dapat
terjadi melaluikontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau
tidak langsung melalui benda yang mengandung jamur, misalnya
handuk, lantai kamar mandi, tempat tidur hotel dan lain-lain.
32.

2.1.3 Patofisiologi
33. Cara penularan jamur dapat secara langsung maupun tidak
langsung. Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut
yang mengandung jamur. Penularan tidak langsung dapat melalui
tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebab
juga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk
atau

spreipenderita

atau

autoinokulasi(

inokulasi

dengn

mikroorganisme dari tubuh sendiri) dari tinea pedis, tinea inguium,


dan tinea manum. Jamur ini menghasilkan keratinase( pemecahan
kreatinin) yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi
kestratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau
cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini
menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis
dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola
radial distratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan
batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula
berbentuk

papula

yang

reaksiperadangan.Beberapa

berkembang

faktor

yang

menjadi

berpengaruh

suatu
terhadap

timbulnya kelainan di kulit adalah:


34. a. Faktor virulensi dari dermatofitaVirulensi ini bergantung
pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik.
Selainafinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan
yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian
dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut,
Epidermophython fluccosum paling sering menyerang liapt paha
bagiandalam.

35. b. Faktor trauma Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih
susah untuk terserang jamur.
36. c.

Faktor suhu dan kelembapan kedua faktor ini jelas

sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi


atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela
jari paling sering terserang penyakit jamur.
37. d. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan. Faktor ini
memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden
penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah
sering ditemukan daripadagolongan ekonomi yang baik.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.

52.

2.1.4 Phatway Kebiasaan yang menimbulkan paparan


terhadap jamur seperti : menggunakan
pakaian berbahan dasar tidak
menyerap keringat

53.

54.

Penularan langsung ( secara fonitis, rambut


yang mengadung jamur) dan pneularan tidak
55.
langsung ( pakaian berdebuh, tanaman)

Defesiensi pengetahuan

56.
Poliferasi pada kulit yang lembab di sekitar paha

57.
Tinea kruris

58.

59. Jamur yang menghasilkan


keratin

60.
Memudahkan invasi ke

61. stratum korneo


62.

Hifa tumbuh ke stratum

63.
Berdifusi ke jaringan efidermis

64.
65.

Reaksi peradangan

66.
Timbul pulau pulau
yang berbatas
67. tegas

Reaksi antigen antibody


Peradangan Lokal

68.

Perubahan tekstur kulit


Aktivitas makrofag

69.
Gg Citra
70.
Tubuh

Pelepasan mediator kimia

71.

Merangasang ujung ujung saraf


nosisiotik

72.
Gg. Rasa
aman

Menimbulkan rasa
Erosi
kulit
Kerusakan integritas
kulit

Mencoba bebagai
jenis obat tanpa
konsultasi ke
pelayanan

73.

2.1.5 Manifestasi Klinis


74.Gambaran klinis Tinea kruris khas, penderita merasa gatal
hebat pada daerah kruris. Ruam kulit berbatas tegas, eritematosa, dan
bersisik. Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak
hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat
garukan dan daerah bersisik.

75.

2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik


a. Pemeriksaan Dengan Sediaan Basah
76.

Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama

dari bagian tepi lesi dengan memakai scalpel atau pinggir gelas
taruh di obyek glass tetesi KOH 10-15 % 1-2 tetes tunggu 1015 menit untuk melarutkan jaringan lihat di mikroskop dengan
pembesaran 10-45 kali, akan didapatkan hifa, sebagai dua garis
sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora berderet
(artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau sudah diobati, dan
miselium
b. Pemeriksaan Kultur Dengan Sabouraud
77.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan
klinis pada medium saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol
dan cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) untuk menghindarkan
kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. Identifikasi jamur
biasanya antara 3-6 minggu
78.
79.
c. Punch Biopsi
80.
Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis
namun sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan
Peridoc AcidSchiff, jamur akan tampak merah muda atau
menggunakan pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak
coklat atau hitam
d. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan
adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata

81.

2.1.7 Penatalaksanaan Medis

1. Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea cruris adalah:


1) Golongan Azol
1) Clotrimazole (Lotrimin, Mycelec)
82.
Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan
dalam pengobatan tinea cruris karena bersifat broad spektrum
antijamur yang mekanismenya menghambat pertumbuhan
ragi dengan mengubah permeabilitas membran sel sehingga
sel-sel jamur mati. Pengobatan dengan clotrimazole ini bisa
dievaluasi setelah 4 minggu jika tanpa ada perbaikan klinis.
Penggunaan pada anak-anak sama seperti dewasa. Obat ini
tersedia dalam bentuk kream 1%, solution, lotion. Diberikan
2 kali sehari selama 4 minggu. Tidak ada kontraindikasi obat
ini, namun tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukan
hipersensitivitas, peradangan infeksi yang luas dan hinari
kontak mata.
2) Mikonazole (icatin, Monistat-derm)
83.
Mekanisme kerjanya dengan selaput dinding sel
jamur yang rusak akan menghambat biosintesis dari
ergosterol sehingga permeabilitas membran sel jamur
meningkat menyebabkan sel jamur mati. Tersedia dalam
bentuk cream 2%, solution, lotio, bedak. Diberikan 2 kali
sehari selama 4 minggu. Penggunaan pada anak sama dengan
dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan
hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.
3) Econazole (Spectazole)
84.
Mekanisme kerjanya efektif terhadap infeksi yang
berhubungan dengan kulit yaitu menghambat RNA dan
sintesis,

metabolisme

protein

sehingga

mengganggu

permeabilitas dinding sel jamur dan menyebabkan sel jamur


mati. Pengobatan dengan ecnazole dapat dilakukan dalam 2-4
minggu dengan cara dioleskan sebanyak 2kali atau 4 kali
dalam sediaan cream 1%.. Tidak dianjurkan pada pasien yang
menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.

4) Ketokonazole (Nizoral)
85.
Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan
imidazole yang bersifat broad spektrum akan menghambat
sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat
menyebabkan

sel

jamur

mati.

Pengobatan

dengan

ketokonazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tidak


dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas,
hindari kontak dengan mata.
5) Oxiconazole (Oxistat)
86.
Mekanisme oxiconazole kerja yang bersifat broad
spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga
komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati.
Pengobatan dengan oxiconazole dapat dilakukan selama 2-4
minggu. Tersedia dalam bentk cream 1% atau bedak kocok.
Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama
dengan orang dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang
menunjukkan hipersensitivitas dan hanya digunakan untuk
pemakaian luar.
6) Sulkonazole (Exeldetm)
87.
Sulkonazole merupakan obat jamur yang memiliki
spektrum luas. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis
ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel,
sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Tersedia dalam
bentuk cream 1% dan solutio. Penggunaan pada anak-anak
12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa (dioleskan
pada daerah yang terkena selama 2-4 minggu sebanyak 4 kali
sehari).
88. b. Golongan Alinamin
1) Naftifine (Naftin)
89.
Bersifat broad spektrum anti jamur dan merupakan
derivat sintetik dari alinamin yang mekanisme kerjanya
mengurangi sintesis dari ergosterol sehingga menyebabkan
pertumbuhan sel amur terhambat. Pengobatan dengan

naftitine dievaluasi setelah 4 minggu jika tidak ada perbaikan


klinis. Tersedia dalam bentuk 1% cream dan lotion. .
Penggunaan pada anak sama dengan dewasa ( dioleskan 4
kali sehari selama 2-4minggu).
2) Terbinafin (Lamisil)
90.
Merupakan derifat sintetik dari alinamin yang
bekerja menghambat skualen epoxide yang merupakan enzim
kunci dari biositesis sterol jamur yang menghasilkan
kekurangan ergosterol yang menyebabkan kematian sel
jamur. Secara luas pada penelitian melaporkan keefektifan
penggunaan

terbinafin.

Terbenafine

dapat

ditoleransi

penggunaanya pada anak-anak. Digunakan selama 1-4


minggu.
91.

c. Golongan Benzilamin
92.
93.

Butenafine (mentax)
Anti jamur yang poten yang berhuungan dengan

alinamin. Kerusakan membran sel jamur menyebabkan sel


jamur terhambat pertumbuhannya. Digunakan dalam bentuk
cream 1%, diberikan selama 2-4 minggu. Pada anak tidak
dianjurkan. Untuk dewasa dioleskan sebanyak 4kali sehari.
94. 2.1.8 Pencegahan
95.Menurut Nasution M.A. (2005), disamping pengobatan, yang
penting juga adalah nasehat kepada penderita misalnya pada penderita
dermatofitosis, disarankan agar :
a.Memakai pakaian yang tipis.
b.Memakai pakaian yang berbahan cotton.
c.Tidak memakai pakaian dalam yang terlalu ketat.
96.Oleh karena itu, berikan anjuran-anjuran pada pasien agar tidak
terjadi infeksi berulang. Anjurkan pasien menggunakan handuk terpisah
untuk mengeringkan daerah sela paha setelah mandi, anjurkan pasien untuk
menghindari mengenakan celana ketat untuk mencegah kelembaban daerah

sela paha, anjurkan pasien dengan Tinea kruris yang mengalami obesitas
untuk menurunkan berat badan, dan anjurkan pasien untuk memakai kaus
kaki sebelum mengenakan celana untuk meminimalkan kemungkinan
transfer jamur dari kaki ke sela paha (autoinokulasi). Bubuk antifungal,
yang memiliki manfaat tambahan pengeringan daerah sela paha, mungkin
dapat membantu dalam mencegah kambuhnya Tinea kruris.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.

2.2 KONSEP KEPERAWATAN

111.

2.1.1 Pengkajian
a. Identitas
112.
Kaji nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan nomor register.
b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama

113.
Kaji apa alasan klien membutuhkan pelayanan kesehatan
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
114.
Kaji bagaimana kondisi klien saat dilakukan pengkajian.
Klien dengan Tinea kruris biasanya mengeluhkan kulit merah dan
gatal, bersisik dan keluar sedikit cairan dari area yang terkena tinea
kruris.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
115.
Kaji riwayat alergi makanan klien, riwayat konsumsi obatobatan dahulu, riwayat penyakit yang sebelumnya dialami klien.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
116.
Kaji apakah di dalam keluarga klien, ada yang mengalami
penyakit yang sama.
5. Riwayat Psikososial
117.
Kaji bagaimana hubungan klien dengan keluarganya dan
interaksi sosial.
c. Pola Fungsional Gordon
1. Pola persepsi kesehatan - manajemen kesehatan
118.
: pada pola ini kita mengkaji:
Bagaimanakah pandangan klien terhadap penyakitnya?
Apakah klien klien memiliki riwayat merokok, alkohol, dan

konsumsi obat-obatan tertentu?


Bagaimakah pandangan klien terhadap pentingnya kesehatan?

119.
2. Pola nutrisi - metabolik
120.
: pada pola ini kita mengkaji:
Bagaimanakah pola makan dan minum klien sebelum dan selama

dirawat di rumah sakit?


Kaji apakah klien alergi terhadap makanan tertentu?
Apakah klien menghabiskan makanan yang diberikan oleh rumah

sakit?
Kaji makanan dan minuman kesukaan klien?
3. Pola eliminasi
121.
: pada pola ini kita mengkaji:
Bagaimanakah pola BAB dan BAK klien ?
Apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi?
Kaji konsistensi BAB dan BAK klien
Apakah klien merasakan nyeri saat BAB dan BAK?
122.
: Klien dengan Tinea kruris, biasanya akan mengalami
nyeri saat akan melakukan BAB/BAK
123.: pada pola ini kita mengkaji:

Bagaimanakah perubahan pola aktivitas klien ketika dirawat di

rumah sakit?
Kaji aktivitas yang dapat dilakukan klien secara mandiri
Kaji tingkat ketergantungan klien
4. Pola istirahat - tidur
124.: pada pola ini kita mengkaji:

Apakah klien mengalami gangguang tidur?


Apakah klien mengkonsumsi obat tidur/penenang?
Apakah klien memiliki kebiasaan tertentu sebelum tidur?

125.: Klien dengan Tinea kruris, akan mengalami kesulitan untuk tidur
dan istirahat karena nyeri yang dirasakan, rasa panas dan gatal-gatal
pada kulit.
5. Pola kognitif - persepsi
126.: pada pola ini kita mengkaji:

Kaji tingkat kesadaran klien


Bagaimanakah fungsi penglihatan dan pendengaran klien, apakah

mengalami perubahan?
Bagaimanakah kondisi kenyamanan klien?
6. Pola persepsi diri - konsep diri
127.: Pada pola ini kita mengkaji:

Bagaimanakah klien memandang dirinya terhadap penyakit yang

dialaminya?
Apakah klien mengalami perubahan citra pada diri klien?
Apakah klien merasa rendah diri?

128.: Dengan keadaan kulitnya yang mengalami kemerahan, klien


merasa malu dengan keadaan tersebut, dan mengalami gangguan pada
citra dirinya.
7. Pola peran - hubungan
129.: pada pola ini kita mengkaji:

Bagaimanakah peran klien di dalam keluarganya?


Apakah terjadi perubahan peran dalam keluarga klien?
Bagaimanakah hubungan sosial klien terhadap masyarakat

sekitarnya?
8. Pola reproduksi dan seksualitas
130.: Pada pola ini kita mengkaji:

Bagaimanakah status reproduksi klien?


Apakah klien masih mengalami siklus menstrusi (jika wanita)?

131.
9. Pola koping dan toleransi stress
132.: Pada pola ini kita mengkaji:
Apakah klien mengalami stress terhadap kondisinya saat ini?
Bagaimanakah cara klien menghilangkan stress yang dialaminya?
Apakah klien mengkonsumsi obat penenang?
10. Pola nilai dan kepercayaan
133.: Pada pola ini kita mengakaji:

Kaji agama dan kepercayaan yang dianut klien


Apakah terjadi perubahan pola dalam beribadah klien?

134.
135.
d. Pemeriksaan Fisik
136.Inspeksi: Warna, suhu, kelembapan, kekeringan
137.Palpasi: Turgor kulit, edema
138.Data fokus:
139.DS: gatal-gatal pada kulit
140.DO: kemerah-merahan, keluarnya cairan dari area yang terkena
tinea kruris
e. Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang
141.
142.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan integritas kulit b/d lembab


2. Gangguan rasa nyaman b/d Penyakit
3. Defisiensi Pengetahuan b/d Tidak familiar dengan sumber informasi
143.

2.2.3 Intervensi Keperawatan

144.

145.

NOC

146.

NIC

N
147.
1

148.

Infection Severity

151.

(0703)
149.

Skin

Care:

Topical

Treatments (3584)
Setelah dilakukan

Bersihkan

dengan

sabun

tindakan keperawatan

selama .......x24 jam

bentuk serbuk pada pasien, jika

mukosa normal dengan

perlu
Persiapkan kebersihan toilet,

jika perlu
Gunakan

untuk area yang luka


Gunkan topikal antijamur pada

Bintik bintik merah pada


kulit(070301)

topikal

antibiotik

Malaise(070311)

Penurunan jumlah

daerah yang terserang jika

leukosit(070327)

perlu
Gunakan topikal anti inflamasi

untuk area yang luka


Inspeksi kulit setiap hari
Dokumentasi tahapan

Kelesuan (070331)
150.

152.

dalam

integritas jaringan: kulit dan


indikator:

antibakterial jika perlu


Berikan
medikasi

153.

Comfort

Status:

kerusakan kulit
155.
Environtmental

Physical (2010)
154.

Setelah

tindakan
selama

Management
dilakukan

keperawatan
.......x24

gangguan

nyaman

teratasi dengan

kriteria

hasil :

Kontrol Gejala ( 201001)


Posisi nyaman( 201004)
Tingkat energi( 201009)
Gatal(201013)

Comfort

(6482)

Kaji ketidaknyamanan yang

dirasakan oleh klien.


Berikan posisi yang nyaman

pada klien ( meliputi .


Batasi pengunjung saat klien

beristirahat.
Beri lingkungan yang nyaman

dan bersih
Pantau kulit, terkhusus adanya

jam

rasa

dari

penonjolan kulit ke permukaan


sebagai
156.
3

157.

Knowledge

iritasi
159.
Teaching

Disease Process (1803)


158.

Setelah

tindakan

dilakukan
keperawatan

tanda

dari

adanya
:Disease

Process (5602)

Kaji tingkat pengetahuan yang


spesifik berhubungan dengan

selama

.......x24

diharapkan
klien

jam

pengetahuan

meningkat

dengan

kriteria hasil:

Proses

penyakit(180302)
Faktor resiko (180304)
Strategi
untuk

spesifik

proses penyakit
Diskusikan
dengan

tentang penyakitnya
Diskusikan pilihan terapindan

pengobatan
Diskusikan perubahan
hidup
diperlukan

mungkin
mencegah

gating ( rencana diit dan

penyakit (180307)
Keuntungan
manajemen
punyakit(180315)

untuk

gaya

komplikasi di masa yang akan

meminimalkan penyebaran

yang

klien

penggunaan makanan tinggi

serat )
Diskusikan
melakukan

pentingnya
evaluasi

secara

teratur dan jawab pertanyaan


pasien maupun keluarga
160.
161.
162.
163.
164.
165.
166.
167.
168.
169.
170.
171.

172.
173.
174.
175.
176.
177.
178. BAB 3
179. PENUTUP
180. 3.1 Kesimpulan
181. Tinea kruris adalah penyakit dermatofitosis (penyakit pada
jaringan yang mengandung zat tanduk) yang disebabkan infeksi
golongan jamur dermatofita pada daerah kruris (sela paha, perineum,
perianal, gluteus, pubis) dan dapat meluas ke daerah sekitarnya.
Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat
merupakan

penyakit

yang

berlangsung

seumur

hidup ( Arif

Muttaqin.2011). Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum


(90%) dan Epidermophython fluccosumTrichophyton mentagrophytes
(4%), Trichopyhton tonsurans (6%). Gambaran klinis Tinea kruris khas,
penderita merasa gatal hebat pada daerah kruris. Ruam kulit berbatas
tegas, eritematosa, dan bersisik. Bila penyakit ini menjadi menahun,
dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya
cairan biasanya akibat garukan.
182.

3.2 Saran
183. Agar dapat memberikan asuhan keperawatan terutama saat

mengkaji klien haruslah dengan kenyataan atau tanda dan gejala yang klien
rasakan agar tidak salah dalam melakukan diagnosa dan rencana
keperawatannya.

184.

DAFTAR PUSTAKA

185. Brunner Suddarth. 2001. Keperawataan Meedikal Bedah. Volume :3.


Jakarta: EGC
186. Heather T. Herdman. 2012. Diagnosis Keperawatan: Defenisi dan
Kalsifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC
187. Muttaqin Arif.2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen.
Salemba Medika: Jakarta
188.

Mooerhead, Sue. 2008. Nursing Outcomes Classification. St.Louis:

Mosby
189.

Mc, Joanne. 2008. Nursing Interventions Classification. St Louis:

Mosby
190.
191.
192.