Anda di halaman 1dari 18

RISIKO OPERASIONAL

PERTEMUAN KE-8

OLEH KELOMPOK :
NI LUH AYU PUTRI CAHYANI

1306205099

KADEK INTAN PERMATA KUSUMA

1306205106

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2016

POKOK BAHASAN :
1. Definisi Risiko Operasional
1.1 Kegagalan Proses Internal
1.2 Risiko Kegagalan Mengelola Manusia ( Karyawan )
1.3 Risiko Sistem
1.4 Risiko Internal
2. Pengukuran Risiko Operasional
3. Menghitung Kerugian Yang Di Harapkan
3.1 Perhitungan Langsung
3.2 Pendekatan Analisis Untuk Menghitung Kerugian yang Diharapkan
3.3 Pendekatan Simulasi
4. Perubahan Karakteristik Risiko Operasional
4.1 Globalisasi
4.2 Otomatisasi
4.3 Terlalu Mengandalkan Teknologi
4.4 Outsourching
4.5 Perubahan Budaya Masyarakat
5. Evaluasi Diri Untuk Mengukur Risiko Operasional

1. DEFINISI RISIKO OPERASIONAL


Tanpa disadari perusahaan itu sebenarnya sudah mengenali risiko operasional, sebagai
contoh perusahaan mengalami kesalahan pencatatan, system pengawasan internal yang kurang
memadai, kegagalan system computer, dll. Risiko tersebut disebut juga risiko yang inherent yaitu
risiko yang muncul karena perusahaan menjalankan bisnisnya. Namun adapun upaya perusahaan
untuk mengelola dan menurunkan risiko operasional misalnya seperti memperbaiki system,
memberikan training terhadap karyawan, dll.
Menurut Basel II ( lembaga yang mengatur perbankan internasional ), risiko operasional
adalah risiko yang timbul karena kegagalan dari proses internal, manusia, system atau kejadian
eksternal.
1.1 Kegagalan Proses Internal
Risiko kegagalan proses internal merupakan risiko yang berkaitan dengan kegagalan
proses atau prosedur internal organisasi. Beberapa contoh risiko tersebut adalah:
1.
2.
3.
4.

Risiko yang diakibatkan kurang lengkapnya dokumentasi, atau dokumentasi yang salah.
Kesalahan transaksi.
Pengawasan yang kurang memadai (lihat diskusi mengenai Baring Bank di bawah ini)
Pelaporan yang kurang memadai sehingga kepatuhan terhadap peraturan internal dan
eksternal tidak terpenuhi.
Baring Bank merupakan contoh yang menarik sebagai ilustrasi bagaimana kegagalan

mengelola risiko operasional akan mempunyai akibat yang serius terhadap organisasi. Kisah
Baring Bank tersebut menjadi cerita klasik yang selalu dibicarakan dikelas manajemen risiko.
Kesalahan Baring Bank adalah terlalu mempercayai salah seorang trader mereka yaitu Nick
Leeson. Nick Leeson bisa mengerjakan dua fungsi sekaligus yaitu fungsi front office (sebagai
trader) dan fungsi back office (melakukan pencatatan atas transaksinya). Ketika dia memperoleh
keuntungan tersebut. Tetapi ketika ia mengalami kerugian dari perdaganganya, ia tentu saja tidak
akan mencatat kerugiannya. Akibat kerugiannya dari tradding-nya tidak terawasi oleh bank,
sampai akhirnya kerugiannya mencapai sekitar $1,3 milliar. Dengan kerugian sebesar itu, praktis
modal bank akan habis untuk menutup kerugian tersebut. Bank sudah bangkrut dalam situasi
tersebut. Karena ia melakukan perdagangan atas nama bank, maka bank harus menanggung
akibatnya. Kenapa dia begitu percaya? Salah satu kemungkinannya adalah karena dia star

trader. Pada tahun tertentu, dia bisa memberikan keuntungan dari perdagangannya mencapai
sekitar 25% dari total keuntungan bank Baring. Dengan situasi semacam ini banyak yang
mengganggap nahwa dia adalah pahlawan yang penuh keberuntungan, dan melupakan risiko atau
kemungkinan kerugian dari transaksi perdagangannya, yang mempunyai risiko yang tinggi.
1.2 Risiko Kegagalan Mengelola Manusia (Karyawan)
Karyawan merupakan asset penting bagi perusahaan namun juga menjadi sumber risiko
operasional baik dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Contoh yang tidak disengaja
misalnya kesalahan trading di bank UBS Warburg, dan yang sengaja misalnya penggelapan kas
perusahaan atau pembobolan kas bank yang melibatkan karyawan internal. Hal tersebut
mencakup semua elemen organisasi seperti system pengawasan, procedure operasional,
kualifikasi karyawan yang kurang ( moral yang tidak baik )
Untuk itu risiko manusia mengharuskan perusahaan mempunyai karyawan yang
mempunyai kualifikasi, pengalaman, dan integritas yang diperlukan.
1.3. Risiko Sistem
Sistem teknologi bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi organisasi, di lain
pihak sistem tersebut akan memunculkan risiko baru bagi organisasi. Jika perusahaan terlalu
tergantung pada sistem komputer, misal, maka risiko yang berkaitan dengan kerusakan komputer
akan semakin tinggi. Beberapa risiko yang muncul berkaitan dengan sistem adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Kerusakan data.
Kesalahan pemograman.
Sistem keamanan yang kurang baik (misal, bisa dimasuki oleh hacker).
Penggunaan teknologi yang belum teruji.
Terlalu mengandalkan model tertentu untuk keputusan bisnis.
Sebagai contoh, pada waktu The Long Term Capital mengalami kehancuran karena

mempunyai posisi yang sangat besar pada Rubel Rusia. Model matematis mereka memprediksi
probabilitas kejadian semacam ini adalah 0,00001. Tetapi kejadian tersebut tetap terjadi,
sehingga mengejutkan mereka.
1.4. Risiko Eksternal

Risiko ekternal berkaitan dengan kejadian yang bersumber dari luar organisasi, dan diluar
pengendalian organisasi. Kejadian semacam itu biasanya jarang terjadi tetapi mempunyai
dampak yang cukup besar (frekuensi rendah/severity tinggi). Beberapa contoh risiko ekternal
adalah perampokan, serangan teroris, bencana alam.
2. PENGUKURAN RISIKO OPERASIONAL
Ada 2 teknik pengukuran risiko operasional, yaitu frekuensi atau probabilitas terjadinya
risiko dan tingkat keseriusan kerugian atau impact dari risiko tersebut dari itulah dapat diketahui
matriks frekuensi/tingkat untuk risiko-risiko yang ada.
Bagan 11.1 di bawah ini menunjukkan matriks dengan dimensi frekuensi di sumbu
horisontal dan dimensi severity pada sumbu vertikal. Risiko-risiko bisa diklasifikasikan
berdasarkan dimensi-dimensi tersebut. Sebagai contoh, risiko gagal bayar debitur perusahaan
biasanya jarang terjadi. Karena itu risiko tersebut diklasifikasikan sebagai risiko dengan
frekuensi rendah. Tetapi jika terjadi, kerugian yang timbul bisa sangat besar. Karena itu risiko
tersebut diklasifikasikan dengan severity tinggi. Gabungan antara frekuensi rendah dengan
severity tinggi terlihat pada titik C pada bagian diatas. Sebaliknya, kesalahan pemrosesan atau
kesalahan pencatatan transaksi akan sering terjadi (apalagi jika proses pencatatan masih secara
manual). Tetapi tingkat severity dari kesalahan tersebut tidak terlalu tinggi. Karena itu risiko
kesalahan pemrosesan berada pada titik A. Dengan proses semacam itu, kita bisa memperoleh
gambaran mengenai frekuensi dan severity dari suatu risiko, yang selanjutnya mempunyai
implikasi pada bagaimana mengelola risiko tersebut. Sebagai contoh, berikut ini strategi
menghadapi risiko berdasarkan matriks severity (signifinance)/frekuensi (likelihood) (lihat bagan
11.2)
Bagan 11.1. Matriks Severity dan Frekuensi untuk Risiko Gagal Bayar dan Kesalahan
Pemrosesan

Perhatikan

bahwa

matriks

likelihood

(frekuensi)

dan

signifikansi

(severity)

dikelompokkan ke dalam empat kuadran, yaitu:


1.
2.
3.
4.

Signifikansi (severity) rendah dan likelihood (frekuensi) rendah.


Signifikansi (severity) tinggi dan likelihood (frekuensi) rendah.
Signifikansi (severity) rendah dan likelihood (frekuensi) tinggi.
Signifikansi (severity) tinggi dan likelihood (frekuensi) tinggi.
Penentuan tinggi rendah severity atau frekuensi bisa dilakukan melalui berbagai cara.

Sebagai contoh, severity atau frekuensi yang lebih besar dibandingkan median atau rata-rata dari
risiko yang ada (dalam daftar) dikelompokkan ke dalam severity atau frekuensi tinggi, dan
sebaliknya. Penentuan tinggi rendah tersebut bisa dilakukan melalui perhitungan angka absolut
tau bisa melalui survei terhadap manajer-manajer perusahaan.
Bagan 11.2 Strategi Menghadapi Risiko Berdasarkan Matriks Severity/Frekuensi

Melalui pertanyaan-pertanyaan seperti itu teridentifikasi letak masing-masing risiko


berdasrkan dimensi signifikansi dan kemungkinan. Selanjutnya, strategi yang tepat bisa
dirumuskan untuk mengelola risiko tersebut.
1. Signifikansi (severity) rendah dan Likelihood (frekuensi) rendah : low control

Pengawasan yang terlalu berlebihan pada jenis risiko ini menimbulkan biaya yang lebih
besar dibandingkan dengan manfaatnya, sehingga akan lebih optimal jika bank tidak
perlu melakukan pengawasan berlebihan.

2. Signifikansi (severity) tinggi dan Likelihood (frekuensi) rendah :detect and monitor

Tipe risiko seperti ini lebih menantang untuk dihadapi. Jika risiko seperti ini muncul,
perusahaan bisa mengalami kerugian yang cukup besar, dan barangkali bisa
mengakibatkan kebangkrutan. Tetapi frekuensi risiko tersebut relatif jarang, sehingga
tidak mudah ditemui / dikenali oleh bank. Karena itu risiko tipe ini paling sulit dipahami
karakteristiknya, dan sulit diprediksi kapan datangnya.
3. Signifikansi (severity) rendah dan Likelihood (frekuensi) tinggi : monito

Tipe risiko semacam ini sering muncul tetapi besarnya kerugian relatif kecil. Biasanya
risiko semacam ini muncul sebagai akibat perusahaan menjalankan bisnisnya. Dengan
kata lain, risiko semacam ini merupakan konsekuensi perusahaan menjalankan bisnisnya.
4. Signifikasi (severity) tinggi dan Likelihood (frekuensi) tinggi: prevent at source

Tipe risiko ini praktis tidak relevan lagi dibicarakan, karena jika situasi semacam ini
terjadi , berarti perusahaan tidak lagi bisa mengendalikan risiko, dan bisa berakibat pada
kebangkrutan.

Alternatif lain dengan menggunakan penggolongan semacam ini.


Bagan 11.3 Strategi Menghadapi Risiko Berdasarkan Matriks Frekuensi/Severity

Strategi untuk menghadapi risiko untuk wilayah-wilayah tersebut adalah seperti berikut
ini:
Wilayah 1: Severity tinggi dan frekuensi tinggi: immediate action
Untuk wilayah ini. Perusahaan harus melakukan penanganan yang agresif dan segera
(immediate action)
Wilayah 2: Severity tinggi dan frekuensi agak tinggi: immediate attention
Untuk wilayah ini. Perusahaan harus segera mengawasi risiko ini (immediate
attention)
Wilayah 3: Severity agak tinggi dan frekuensi agak tinggi: periodic attention
Untuk wilayah ini. Perusahaan bisa melakukan pengawasan secara berkala (periodic
attention)

Wilayah 4: Severity rendah dan frekuensi rendah: annual evalution


Untuk wilayah ini. Perusahaan bisa lebih longgar, yaitu melakukan pengawasan
dengan jangka waktu panjang, misal tahunan.
Aspek dinamika risiko juga perlu diperhatikan. Risiko bisa berubah dari wilayah 4 ke
wilayah lainnya, misal ke wilayah 2. Sebagai contoh, risiko tuntutan hukum barangkali tidak
begitu kelihatan dimasa lalu. Tetapi dengan semakin sadarnya masyarakat akan hak dan
kewajibannya, risiko tersebut bisa berubah menjadi semakin penting.
3. MENGHITUNG KERUGIAN YANG DIHARAPKAN
3.1. Perhitungan Langsung
Untuk menghitung kerugian yang diharapkan jika risiko tertentu muncul dapat menggunakan
kerangka probabilitas ( frekuensi ) dan severity.

Kerugian Yang Diharapkan=Frekuensi (probabilitas) x severity (besarnya kerugian)


Misalkan kita mengumpulkan data historis untuk melihat kecelakaan kerja. Berikut ini data
bulanan selama 12 bulan.
Tabel 11.1 Data Historis Frekuensi dan Nilai Kerugian
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah
Rata-rata
Nilai kerugian perkecelakaan

Frekuensi

Nilai Kerugian (Rp)

4
6
5
4
6
7
5
6
4
5
6
5
63
5,25

12.000.000
11.000.000
12.000.000
11.000.000
15.000.000
14.000.000
13.000.000
12.000.000
13.000.000
12.000.000
14.000.000
13.000.000
152.000.000
12.666.667
2.412.698

Data tersebut menunjukkan rata-rata kecelakaan setiap bulannya adalah 5,25 kali, dengan
rata-rata nilai kerugian sekitar Rp 12,6 juta perbulannya atau Rp 2.412.698 (152.000.000/63).

Berapa kerugian yang di harapkan dari kecelakaan kerja bulan mendatang? Jika kita
menggunakan nilai rata-rata untuk frekuensi dan nilai kerugian, maka nilai kerugian yang
diharapkan untuk bulan mendatang adalah:
Nilai kerugian yang diharapkan

= (frekuensi) x (severity)
= 5,25 x Rp 2,4 juta
= Rp 12,6 juta

Frekuensi yang diperkirakan menggunakan nilai rata-rata dari frekuensi kecelakaan setiap
bulannya, yaitu 5,25 kali. Severity per kejadian menggunakan nilai kerugian per-peristiwa yaitu
sekita Rp 2,4 juta.
3.2 Pendekatan Analisis Untuk Menghitung Kerugian yang Diharapkan
Dengan mengasumsikan distribusi tertentu ( biasanya normal ) dari kerugian yang akan
terjadi. Keuntungan dari distribusi normal adalah bisa melakukan berbagai hal hanya dengan
mengetahui nilai yang diharapkan dan standar deviasinya. Contoh : tingkat keuntungan yang
diharapkan ( rata-rata ) adalah Rp 10 juta dengan standar deviasi adalah Rp 15 juta. Berapa
kerugian pada interval 95% ?

Bagan 11.4 Kurna Normal


Nilai kerugian pada batas 5% bisa dihitung sebagai
berikut ini.
Nilai kerugian = 10 juta 1,65 (10 juta) = -Rp 6,5 juta
1,65 adalah nilai z yang berkaitan dengan wilayah
probabilitas sebesar 5%. Nilai kerugian yang di
harapkan dengan demikian adalah 6,5 juta rupiah.
Kelemahan dari metode tersebut adalah asumsi distribusi normal sesuai dengan kenyataan.
Dalam kenyataannya distribusi kerugian tidak selalu normal. Biasanya kerugian mempunyai

distribusi lognormal, yaitu distribusi dimana lognatural dari variabel random terbentuk normal,
seperti berikut ini.
Z = { log (X) - } /
Distribusi tersebut mempunyai kecondongan positif (positive skewness). Bagian berikut ini
menjelaskan simulasi, yang bisa lebih sesuai dengan data riil.
3.3. Pendekatan Simulasi
Misalkan setelah mengevaluasi frekuensi munculnya kejadian yang merugikan dapat
disimpulkan bahwa distribusi Poisson bisa menjelaskan frekuensi munculnya kejadian yang
merugikan, dengan nilai yang diharapkan adalah 5 kali terjadinya peristiwa tersebut disetiap
bulannya. Kemudian melakukan evaluasi danseverity kerugian, dan menyimpulkan bahwa
distribusi normal bisa menjelaskan severity kerugian di masa lalu. Misalkan kerugian rata-rata
per peristiwa kerugian adalah Rp 15 juta dengan standar deviasi Rp 2 juta.
Probabilitas Distribusi Poisson (mean = 5 )
Frekuensi
0

Probabilitas
0,0067

ProbabilitasKumulatif
0,0067

AngkauntukSimulasi
0

0,0337

0,0404

1-4

0,0842

0,1246

5-12

0,1404

0,2650

13-27

0,1755

0,4405

28-44

0,1755

0,6160

45-62

0,1462

0,7622

62-76

0,1044

0,8666

77-86

0,0653

0,9319

87-93

0,0363

0,9682

94-96

10

0,0181

0,9863

96-97

11

0,0082

0,9945

97

12

0,0034

0,9979

98

13

0,0013

0,9992

99

14

0,0005

0,9997

15

0,0002

0,9999

0,9999
Keterangan :
Kolom 2 distribusi probablitas Poisson dengan nilai yang diharapkan 5
Kolom 3 probabilitas kumulatif ( baris 1, nilainya 0,0404 = 0,0067 + 0,0337 )
Kolom 4 angka 0-99 untuk mewakili angka yang akan disimulasikan

Tabel 11.3 Distribusi Normal Kumulatif

Berdasarkan data di atas dapat dilakukan simulasi dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menghasilkan angka random untuk frekuensi munculnya kerugian dengan menggunakan

distribusi Poisson dengan nilai yang diharapkan adalah 5

2. Menghasilkan angka random untuk severity kerugian dengan menggunakan distribusi

normal.
3. Mengalihkan

frekuensi dengan severity untuk menghasilkan total kerugian yang

diharapkan pada periode tertentu ( bulanan ).

4. Mengulangi langkah 1 sampai dengan 3 beberapa kali ( misal 100 kali atau 1000 kali )

Misalkan menghasilkan 10 angka random untuk 1 dan 2 ( simulasi dengan 10 run ). Untuk
langkah 1, 10 angka random tersebut bisa dilihat pada kolom 1 pada tabel dibawah ini

Angka

Frekuensi

Angka Random

random

yang

( probabilitas

Nilai Z

probabilitas
1
24

diberikan
2
3

normal kumulatif )
3
8693

4
1.12

5
17.24

diharapkan
6
51.72

34

6259

0.32

15.64

62.56

30

7768

0.76

16.52

66.08

98

12

305

-1.86

11.28

135.36

29

4289

-0.18

14.64

58.56

71

5813

0.21

15.42

92.52

8587

1.07

17.14

17.14

40

5495

0.12

15.24

60.96

20

3769

-0.31

14.38

43.14

36

6822

0.47

Severit
y

15.94
Rata-rata =

Standar deviasi =

Kerugian
yang

63.76
65.18
31.12485

Keterangan :
Kolom 2 frekuensi yang berkaitan dengan angka ( angka 24 ada diantara 13-27 yang
berkaitan dengan frekuensi 3 )
Kolom 3 angka random dari 0 sampai 9999

Kolom 4 nilai Z yang berkaitan ( lihat tabel kumuatif probabilitas noramal, angka yang
mendekati 0,8686 adalah 1,12 )
Kolom 5 nilai kerugian ( severity )
Z=(X-)/
Jika = 15 juta, standar deviasi = 2 juta, maka z= 1,12, X = ?
X = (1,12) X (2juta) + 15juta = 17,24 ( nilai kerugian pada baris tersebut )
Jika kolom3 dibawah 5000 maka nilai Z = 0,9990 (angka random/10000)
Misal : pada angka sebesar 305 maka nilai Z = (0,9990 (305/10000)) = -1,86
Kolom 6 kerugian yang diharapkan ( kolom 2 x kolom 5 )
4. PERUBAHAN KARAKTERISTIK RISIKO OPERASIONAL

Setiap risiko bisa berubah karateristiknya dari waktu ke waktu. Misalkan pada jaman
dulu pencatatan transaksi dilakukan secara manual ( karyawan menuliskan harga dan jumlah unit
yang diperdagangkan di kertas ), cara tersebut dapat memunculkan risiko kesalahan pencatatan.
Frekuensi kesalahan cukup sering karena karyawan sering lelah namun biasanya mengakibatkan
kerugian yang relative kecil.
Sekarang ini sudah banyak cara manual seperti itu diganti dengan pencatatan
terkomputerisasi dengan demikian frekuensi kesalahan dapat diturunkan namun akan muncul
jenis risiko baru. Apabila terjadi kegagalan atau kelemahan pada system computer maka
kerugian yang muncul akan sangat besar. Contohnya, serangan virus atau pembobolan terhadap
system computer perusahaan mempunyai frekuensi yang relative rendah. Tetapi jika hal tersebut
terjadi, kerugian yang timbul akan cukup besar. Ilustrasi diatas menunjukkan bahwa risiko
operasional

berubah

dari

frekuensi

tinggi/signifikansi

rendah

menjadi

frekuensi

rendah/signifikansi tinggi.
Faktor yang menyebabkan perubahan karateristik :
4.1 Globalisasi
Globalisasi keuangan dunia didorong oleh liberalisasi ekonomi dunia. Liberalisasi
artinya penghilangan pembatas-pembatas aliran modal. Globalisasi juga semakin meningkatkan
frekuensi dan severity ( signifikansi ) dari suatu risiko, karena kejadian di satu negara akan cepat
merambat ke negara lain.

4.2 Otomatisasi
Dengan semakin berkembangnya teknologi komputer, perusahaan semakin lama semakin
mengandalkan teknologi komputer untuk melakukan banyak hal, termasuk mengotomatisasi
transaksi.

4.3 Terlalu Mengandalkan Teknologi


Kemajuan teknologi memungkinkan organisasi melakukan banyak hal, seperti membantu
membuat basisi data, membantu perhitungan harga instrumen keuangan ( bahkan instrumen
keuangan yang sangat kompleks ). Di satu sisi, teknologi semacam itu bisa membantu proses
bisnis menjadi lebih cepat , lebih andal. Tetapi di lain pihak, situasi tersebut memunculkan risiko
baru.
4.4 Outsourching
Outsourcing merupakan tren bisnis akhir akhir ini. Outsourcing berarti menggunakan
jasa pihak luar untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaan perusahaan. Outsourcing dilakukan
dengan pertimbangan efisiensi ( bisa menurunkan biaya ). Jika melakukan pekerjaan sendiri ,
karena sesuatu hal ( misalkan keahlian yang tidak ada atau skala ekonomi yang kurang ), bagi
perusahaan, akan lebih menguntungkan jika menggunakan jasa dari pihak luar untuk pekerjaan
tertentu.

4.5 Perubahan Budaya Masyarakat


Masyarakat semakin lama semakin pandai, semakin sadar kan hak dan kewajibannya.
Kesadaran tersebut cenderung meningkatakan risiko litigasi, dimana masyarakat akan berusaha
menuntut apabila merasa dirugikan. Perubahan budaya masyarakat bisa meningkatkan risiko
gugatan hukum.
4.6 Evaluasi Diri Untuk Mengukur Risiko Operasional
Evaluasi diri ( self-assessment ) bisa dilakukan oleh anggota organisasi untuk melihat
seberapa besar risiko operasional yang dihadapi oleh organisasi.

Diskusi:
1. Bagaimana cara perusahaan agar bisa mengelola risiko operasional?
Jawab:
1. Metodologi
Metodologi Manajemen Risiko Operasional: adalah cara atau pendekatan yang
dilakukan untuk melaksanakan tahapan manajemen risiko yang meliputi identifikasi,
pengukuran, pengendalian dan pemantauan risiko. Secara umum terdapat tiga
perangkat manajemen risiko operasional yang banyak dipergunakan untuk
mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan dan memantau risiko operasional, yaitu :
a) Risk Assessment. b) Risk Indicator. c) Data Base. Ketiga perangkat ini saling
melengkapi

berbagai

perspektif

manajemen

risiko:

seperti forward

looking vshistorical; quantitative vs qualitative.


2. Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan salah satu infrastruktur penting
dalam implementasi manajemen risiko. Pengembangan SIM untuk memenuhi
kebutuhan manajemen risiko dilakukan melalui dua komponen, yaitu sistem dan
informasi. Sistem adalah suatu proses atau mekanisme perolehan, pengolahan,
penyampaian informasi baik dilakukan secara manual maupun dengan bantuan
teknologi. Sedangkan informasi itu sendiri, melingkupi jenis, isi, stuktur informasi,
yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Cost-benefit analysis dalam memilih
sistem informasi manajemen harus tetap dipertimbangkan. Jangan sampai biaya yang
dikeluarkan menjadi lebih mahal dari risiko yang akan dimitigasi. Pemilihan SIM
dapat dilakukan secara bertahap.
3. Limit
Limit diperlukan sebagai tindakan untuk mengendalikan risiko. Limit yang ditetapkan
didasarkan atas kompetensi, pengalaman, latar belakang pendidikan.Penetapan limit
risiko disesuaikan dengan kondisi sumber daya manusia dari perusahaan yang
bersangkutan.
4. Sistem Pengawasan
Sistem pengawasan dapat berupa: i) Organisasi dan pengawasan komisaris dan
direksi. ii) Kebijakan dan prosedur untuk mengarahkan proses manajemen risiko. iii)
Metodologi manajemen risiko. iv) Sistem informasi manajemen risiko beserta
perangkat pendukungnya. v) Sistem pengendalian risiko dan penetapan limit.vi)
Penguatan fungsi internal control. vii) Pengembangan budaya manajemen risiko dan

program komunikasi manajemen risiko. Tuntutan stakeholders telah memaksa adanya


kebutuhan untuk menerapkan manajemen risiko operasional yang terbaik. Bila
dilakukan dengan tepat, perusahaan akan menghemat modal. Di satu sisi, kondisi ini
membuat

peran dan fungsi professional risk manager semakin diperlukan,

seperti: Chief Risk Officer, Risk Based Auditor, Risk Based Supervisor.
2. Apa saja contoh dari risiko operasional yang berkaitan atau bersumber dari manusia?
Jawab:
1. Kecelakaan kerja, khususnya kecelakaan kerja karena kecerobohan atau kurang
pengalaman dari karyawan.
2. Terlalu tergantung pada karyawan tertentu, sehingga jika karyawan tersebut
meninggal atau berpindah kerja, perusahaan menghadapi masalah.
3. Integritas karyawan yang kurang, sehingga karyawan tersebut bisa menggelapkan
uang perusahaan, atau melakukan aktivitas yang berada di luar wilayah otoritasnya.
3. Bagaimana cara perusahaan untuk mengatasi biaya risiko operasional?
Jawab:
Untuk mengatasi biaya risiko operational suatu perusahaan harus membuat analisa
mencakup:
1. Menghitung dan memetakan bentuk risiko yang sedang dan akan dihadapi
2. Memperhitung biaya yang harus dialokasikan menyangkut pengelolaan risiko
3. Memutuskan pembentukan mekanisme seperti apa yang layak diterappkan untuk
mengelola risiko
4. Memutuskan dari mana sumberdana yang dapat dialokasikan untuk mendukung
penyelesaian operational risk ini
4. Bagaimana teknik untuk mengukur risiko operasional?
Jawab:
Teknik untuk mengukur risiko operasional adalah dengan menggunakan dua klasifikasi:
1. Frekuensi atau probabilitas terjadinya risiko.
2. Tingkat keseriuasan kerugian atau impact dari risiko tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafi, Mamduh M, Dr,. M.B.A. 2009. Manajemen Risiko Edisi Kedua.Yogyakarta. UPP-STIM
YKPN
http://tugaskuliahanakmenej.blogspot.co.id/2011/12/risiko-operasional-manajemen-risiko.html

Anda mungkin juga menyukai