Anda di halaman 1dari 30

PEMBAHASAN

Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan


PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) merupakan standar yang
digunakan dalam pelaporan keuangan di Indonesia. PSAK digunakan sebagai
pedoman akuntan untuk membuat laporan keuangan. Sedangkan untuk
penyajian laporan keuangan diatur tersendiri pada PSAK 1.
PSAK 1 menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan
umum (general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut laporan
keuangan agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode
sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain. Pernyataan ini
mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan
keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan.
Ruang lingkup dari PSAK 1 ini adalah penyusunan dan penyajian laporan
keuangan bertujuan umum sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.
Pernyataan ini tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan
entitas syariah. Penyajian Laporan Keuangan Syariah diatur tersendiri dalam
PSAK 101.

Revisi PSAK 1 Tahun 2013


Penyusunan PSAK 1 mengadopsi standar-standar yang terdapat pada IAS 1
(Internatioanl Accounting Standard). Dalam perkembangannya, PSAK mengalami
perubahan/penyesuaian dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan
kebutuhan informasi ekonomi. Terkait penyusunan PSAK 1, revisi terakhir dibuat
pada tahun 2013 dan akan berlaku efektif mulai tanggal 1 Januari 2015.
Perubahan antara PSAK No. 1 Tahun 2013 dengan PSAK sebelumnya yaitu PSAK
No. 1 Tahun 2009 didasarkan atas:
Perbaikan dengan penggunaan istilah yang lebih tepat
Pengaruh perkembangan PSAK lain yang belum dikeluarkan tahun 2009
Mengikuti perubahan terakhir IAS 1 Tahun 2010 yaitu pemisahaan penghasilan
komprehensif lain dan penyajian informasi komparatif
Sikronisasi dengan IAS terkait format
Pendekatan penyajian standar dengan revisi tidak menyajikan ulang semua
standar
Efektif berlaku 1 Januari 2015, tidak ada penerapan dini
Terdapat perbedaan IAS 1 dengan PSAK 1.
Perubahan PSAK No. 1 Tahun 2013 pada dasarnya mencakup hal-hal sebagai
berikut:
Perubahan judul Laporan Pendapatan Komprehensif Lain menjadi Laporan Laba
Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain. Perubahan judul ini mengikuti

perubahan terakhir IAS 1 tahun 2010 yang memisahkan penghasilan


komprehensif lain dari laporan laba rugi.
Penambahan pengaturan mengenai persyaratan penyajian dan pengungkapan
informasi komparatif minimun dan informasi komparatif tambahan.
Penyajian laporan dalam dua bagian yaitu Laba Rugi dan Penghasilan
Komprehensif Lain. Hal tersebut juga terkait dengan perubahan terakhir IAS 1
tahun 2010 yang memisahkan penghasilan komprehensif lain dari laporan laba
rugi.
Pemisahan penghasilan komprehensif yang akan direklasifikasi ke laporan laba
rugi periode berikutnya setelah penghentian pengakuan dengan OCI yang tidak
akan direklasifikasi ke laporan laba rugi.
Pemisahan pajak pengasilan atas pos yang disajikan dalam OCI yang akan
direklasifikasikan ke laporan laba rugi dan yang tidak direklasifikasi ke dalam
laporan laba rugi.
Sinkronisasi dengan terbitnya PSAK lain seperti PSAK 65 Konsolidasian dan PSAK
4 Laporan Keuangan Tersendiri.
Secara umum perbedaan antara ED PSAK 1 (2013): Penyajian Laporan Keuangan
dengan PSAK 1 (2009): Penyajian Laporan Keuangan adalah sebagai berikut:
Hal

PSAK 1 2013

PSAK 1 2009

Judul
Laporan

Laporan Laba Rugi dan


Penghasilan Komprehensif Lain

Laporan Laba Rugi


Komprehensif

Definisi

Tidak memberikan definisi: Laba


Rugi, Pemilik, Penyesuaian
Reklasifikasi, Total Laba Rugi
Komprehensif

Memberikan definisi

Laporan posisi keuangan

Laporan posisi keuangan

Laporan laba rugi dan


penghasilan komprehensif lain

Laporan laba rugi


komprehensif

Laporan perubahan ekuitas

Laporan perubahan ekuitas

Laporan arus kas

Laporan arus kas

Catatan atas laporan keuangan

Catatan atas laporan


keuangan

Komponen
Laporan
keuangan

Informasi kompratif
Informasi
komparatif

Menambahkan persyaratan
penyajian dan pengungkapan :
Informasi komparatif minimum
Informasi komparatif tambahan

Laba Rugi, Pemilik,


Penyesuaian Reklasifikasi,
Total Laba Rugi Komprehensif

Tidak terdapat pengaturan


tersebut

Penyajian
penghasilan
komprehens
if lain

Disajikan berdasarkan kelompok:

Disajikan dalam kelompok

1. Pos-pos yang akan


direklasifikasi ke laba rugi

Penghasilan komprehensif lain

2. Pos-pos yang tidak akan


direklasifikasi ke laba rugi

Dalam PSAK 1 ini, terdapat perbedaan dengan ketentuan IFRS, dimana tidak
semua ketentuan dalam IAS 1 diadopsi dalam PSAK 1. PSAK 1: Penyajian Laporan
Keuangan mengadopsi IAS 1 Presentation of Financial Statements per 1 Januari
2013 kecuali:
IAS 1 paragraf 2 yang menjadi PSAK 1 paragraf 02 tentang ruang lingkup dengan
penambahan kalimat yang menyatakan bahwa PSAK 1 tidak berlaku untuk
entitas syariah, karena penyajian laporan keuangan syariah diatur dalam PSAK
101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
IAS 1 paragraf 5 yang menjadi PSAK 1 paragraf 05 tentang ruang lingkup dengan
menghilangkan kemungkinan penerapan bagi entitas sektor publik karena
pelaporan keuangan entitas sektor publik diatur dalam standar akuntansi
pemerintah bukan Standar Akuntansi Keuangan.
IAS 1 paragraf 7 yang menjadi PSAK 1 paragraf 07 tentang definisi Standar
Akuntansi Keuangan dengan menambahkan peraturan regulator pasar modal
untuk entitas yang berada di bawah pengawasannya, karena untuk sinkronisasi
dengan peraturan perundang-undangan di pasar modal.
IAS 1 paragraf 10 yang menjadi PSAK 1 paragraf 11 dengan menghilangkan
kalimat yang memperkenankan entitas menggunakan judul lain untuk komponen
laporan keuangan, supaya menciptakan keseragaman untuk judul komponen
laporan keuangan.
Tambahan di paragraf 16 tentang tanggung jawab atas laporan keuangan,
karena peraturan perundang-undangan tidak mengatur pihak yang bertanggung
jawab atas laporan keuangan untuk semua entitas, tetapi hanya untuk sebagian
entitas.
IAS 1 paragraf 1922 tentang penerapan penyimpangan dari suatu Standar
Akuntansi Keuangan tidak diadopsi, karena tidak sesuai dengan konteks di
Indonesia. Pengaturan IAS 1 paragraf 2324 diadopsi menjadi PSAK 1 paragraf
2122 mengenai pengungkapannya, tetapi dengan menghilangkan kalimat but
the relevant regulatory framework prohibits departure from the requirement
dalam IAS 1 paragraf 23.
IAS 1 paragraf 54(f) tentang aset biolojik tidak diadopsi, karena IAS 41
Agriculture belum diadopsi.
IAS 1 paragraf 139 yang menjadi PSAK 1 paragraf 139 tentang tanggal efektif
dengan meniadakan penerapan dini, karena penerapan dini tersebut hanya akan
dapat dilakukan dengan tepat jika seluruh pengaturan dalam IFRS diadopsi
secara bersamaan menjadi SAK. Adopsi IFRS menjadi SAK di Indonesia dilakukan
secara bertahap.

IAS 1 paragraf 139A, 139B, dan 139C tentang ketentuan transisi tidak diadopsi
karena paragraf tersebut tidak relevan.
IAS 1 paragraf 140 tentang penarikan IAS 1 (2003) karena hal tersebut tidak
relevan.

Definisi
Dalam pernyataan Standar ini terdapat istilah-istilah yang dijelaskan sebagai
berikut:
Laporan keuangan bertujuan umum adalah laporan keuangan yang ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah Pernyataan dan Interpretasi yang
disusun oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia.
Ketidakpraktisan. Penerapan suatu persyaratan dianggap tidak praktis jika
entitas tidak dapat menerapkannya setelah melakukan usaha yang memadai.
Catatan atas laporan keuangan berisi informasi tambahan atas apa yang
disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan pendapatan komprehensif,
laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan perubahan ekuitas dan laporan
arus kas.
Pendapatan komprehensif lain berisi pos-pos pendapatan dan beban (termasuk
penyesuaian reklasifikasi) yang tidak diakui dalam laba rugi dari laporan
pendapatan komprehensif sebagaimana dipersyaratkan oleh SAK lainnya.
Pemilik adalah pemegang instrumen yang diklasifikasikan sebagai ekuitas.
Laba rugi adalah total pendapatan dikurangi beban, tidak termasuk komponenkomponen pendapatan komprehensif lain.
Penyesuaian reklasifikasi adalah jumlah yang direklasifikasi ke bagian laba rugi
periode berjalan yang sebelumnya diakui dalam pendapatan komprehensif lain
pada periode berjalan atau periode sebelumnya.
Total laba rugi komprehensif adalah perubahan ekuitas selama satu periode yang
dihasilkan dari transaksi dan peristiwa lainnya, selain perubahan yang dihasilkan
dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik.

Tujuan Laporan Keuangan


Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan
kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan
informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas
yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam
pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil
pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang
dipercayakan kepada mereka.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan
informasi mengenai entitas yang meliputi:

aset;
liabilitas;
ekuitas;
pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;
kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai
pemilik;dan
arus kas.
Informasi tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas
laporan keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas
masa depan dan, khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas
dan setara kas.

Komponen Laporan Keuangan


Laporan keuangan dianggap lengkap apabila memenuhi komponen-komponen
sebagai berikut:
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Laporan Laba Rugi Komprehensif
Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Arus Kas
Catatan atas Laporan Keuangan
Laporan Posisi Keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika
entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif.
Semua komponen laporan keuangan tersebut harus disajikan oleh entitas secara
lengkap dengan tingkat keutamaan yang sama. Selain keenam laporan tersebut,
entitas diperbolehkan juga menyajikan laporan keuangan tambahan yang dinilai
penting oleh entitas untuk disajikan. Manajemen entitas bertanggung jawab atas
penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas tersebut.

Karakteristik Umum Laporan Keuangan


Laporan keuangan memiliki 8 (delapan) karakteristik umum, yaitu:
Penyajian secara wajar dan Kepatuhan terhadap SAK
Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan,
dan arus kas suatu entitas.Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara
jujur dampak dari transaksi, peristiwa lain, dan kondisi sesuai dengan definisi
dan kriteria pengakuan asset, liabilitas, pendapatan dan beban yang diatur
dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Penyajian
yang wajar juga mensyaratkan entitas untuk:

Memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi sesuai PSAK 25 (revisi 2009)


Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan kesalahan.
Menyajikan informasi secara relevan, andal, dapat dibandingkan dan mudah
dipahami.
Memberikan pengungkapan tambahan jika kesesuaian dengan syarat khusus
PSAK dinilai tidak cukup bagi pengguna laporan keuangan.
Apabila entitas tersebut telah menyusun Laporan Keuangan sesuai dan patuh
pada SAK, maka entitas tersebut membuat pernyataan eksplisit dan tanpa
kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan.Dalam hal kebijakan akuntansi entitas yang digunakan tidak tepat,
entitas tidak dapat memperbaiki kebijakan akuntansi yang digunakan maupun
mengungkapkannya dalam CaLK ataupun materi penjelasan.
Pengecualian terhadap kepatuhan entitas terhadap aturan PSAK (kasus yang
jarang terjadi) dapat dibolehkan apabila dengan dipatuhinya PSAK dapat
memberikan interpretasi berbeda atas laporan keuangan, dan oleh karenanya,
entitas harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi pemahaman
yang salah tersebut dengan mengungkapkan nama PSAK terkait, sifat ketentuan,
dan alasan mengapa manajemen menyimpulkan bahwa kepatuhan terhadap
ketentuan dimaksud akan memberikan pemahaman yang salah yang
bertentangan dengan tujuan laporan keuangan. Selain itu, entitas juga
mengungkapkan untuk masing-masing periode yang disajikan, penyesuaian
terhadap masing-masing pos dalam laporan keuangan yang dipandang perlu
oleh manajemen untuk mencapai penyajian yang wajar. Dalam hal ini, pihak
manajemen harus mempertimbangkan alasan tujuan laporan keuangan tidak
tercapai dalam kondisi tersebut dan bagaimana perbedaan kondisi entitas
dengan kondisi entitas lain yang mematuhi persyaratan.
Kelangsungan Usaha
Entitas menyusun laporan keuangan dengan didasarkan pada asumsi
kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan untuk melikuidasi entitas
atau menghentikan perdagangan, atau tidak mempunyai alternative lain yang
realistis selain melakukannya.Apabila entitas menyusun laporan keuangan tidak
berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan fakta
tersebut, bersama dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan
keuangan dan alasan mengapa entitas tidak dipertimbangkan sebagai entitas
yang dapat menggunakan asumsi kelangsungan usaha.
Dalam mempertimbangkan apakah dasar akrual kelangsungan usaha adalah
tepat, manajemen memperhatikan semua informasi masa depan, paling sedikit
(namun tidak dibatasi untuk) dua belas bulan dari akhir periode pelaporan.
Dasar Akrual
Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.
Materialitas dan Agregasi
Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang material.Entitas
menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi berbeda
kecuali pos tersebut tidak material.Suatu pos mungkin tidak cukup material

untuk disajikan terpisah dalam Laporan keuangan tetapi material untuk disajikan
terpisah dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Saling Hapus
Entitas tidak diperbolehkan melakukan saling hapus atas aset dan liabilitas atau
penghasilan dan beban, kecuali disyaratkan atau diizinkan oleh suatu PSAK.
Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensif atau laporan posisi keuangan
atau dalam laporan laba rugi terpisah (jika disajikan) mengurangi kemampuan
pengguna laporan keuangan baik untuk memahami transaksi, peristiwa dan
kejadian lain yang telah terjadi maupun untuk menilai arus kas entitas di masa
depan, kecuali jika saling hapus mencerminkan substansitransaksi atau
peristiwa.
Frekuensi Pelaporan
Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif)
setidaknya secara tahunan. Jika akhir periode pelaporan entitas berubah dan
laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih
pendek daripada periode satu tahun, sebagai tambahan terhadap periode
cakupan laporan keuangan, maka entitas mengungkapkan:
alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek;
dan
fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat
dibandingkan secara keseluruhan
Informasi Komparatif
Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya
untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan,
kecuali dinyatakan lain oleh SAK.Informasi komparatif yang bersifat naratif dan
deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali jika
relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
Apabila entitas mengubah penyajian atau pengklasifikasian pos-pos dalam
laporan keuangan, maka entitas mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali
reklasifikasi tersebut tidak praktis untuk dilakukan. Jika entitas mereklasifikasi
jumlah komparatif, maka entitas mengungkapkan:
Sifat reklasifikasi;
jumlah masing-masing pos atau gabungan beberapa pos yang direklasifikasi; dan
alasan reklasifikasi
Jika reklasifikasi jumlah komparatif tidak praktis untuk dilakukan, maka entitas
mengungkapkan alasan tidak mereklasifikasi jumlah tersebut, dan sifat
penyesuaian yang akan dilakukan jika jumlah tersebut direklasifikasi.
Konsistensi Penyajian
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode
dilakukan secara konsisten, kecuali setelah terjadi perubahan yang signifikan
terhadap sifat operasi entitas atau mengkaji ulang atas laporan keuangan,
terlihat secara jelas bahwa penyajian atau pengklasifikasian yang lain akan lebih

tepat untuk digunakan dengan mempertimbangkan kriteria untuk penentuan dan


penerapan kebijakan akuntansi dalam PSAK 25 (Revisi 2009) tentang Kebijakan
Akuntansi,Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan atau perubahan
tersebut diperkenankan oleh suatu PSAK.

Struktur dan Isi Laporan Keuangan


Pernyataan ini mensyaratkan pengungkapan khusus dalam laporan posisi
keuangan atau laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika
disajikan), atau laporan perubahan ekuitas dan mensyaratkan pengungkapan
dari pos-pos lain dalam laporan keuangan.Pernyataan ini terkadang
menggunakan istilah pengungkapan dalam arti luas, meliputi pos-pos yang
disajikan dalam laporan keuangan.
Identifikasi Laporan Keuangan
Entitas mengidentifikasikan laporan keuangan secara jelas dan membedakannya
dari informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama. SAK hanya berlaku
untuk laporan keuangan, dan tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam
laporan tahunan, dokumen yang disampaikan kepada regulator, atau dokumen
lain. Entitas mengidentifikasikan secara jelas setiap laporan keuangan dan
catatan atas laporan keuangan. Disamping itu, entitas menyajikan informasi
berikut ini secara jelas, dan mengulang nya jika dibutuhkan sehingga dapat
dipahami :
Nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain, dan setiap
perubahan informasi dari akhir periode laporan sebelumnya
Apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas
Tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan
keuangan atau catatan atas laporan keuangan
Mata uang pelaporan
Pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan
Entitas pada umumnya menyusun laporan keuangan dengan menyajikan
informasi mata uang dalam unit ribuan atau jutaan.Hal ini diperkenankan
sepanjang entitas mengungkapkan tingkat pembulatan dan tidak menghilangkan
informasi yang material.

Laporan Posisi Keuangan (Neraca)


Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut :
Aset tetap
Properti investasi
Aset tidak berwujud
Aset keuangan
Investasi dengan menggunakan metode ekuitas

Persediaan
Piutang dagang dan piutang lainnya
Kas dan setara kas
Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan asset
yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki
untuk dijual: asset tidak lancer yang dimiliki untuk dijual dan operasi yang
dihentikan
Utang dagang dan terutang lain
Provisi
Liabilitas keuangan
Liabilitas dan aset untuk pajak kini
Liabilitas dan aset pajak tangguhan
Liabilitas yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai
dimiliki untuk dijual
Kepentingan nonpengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas
Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas
induk

Entitas mempertimbangkan apakah pos-pos tambahan disajikan secara terpisah


didasarkan pada penilaian dari :
Sifat dan likuiditas aset
Fungsi dari aset tersebut dalam entitas
Jumlah,sifat dan jangka waktu liabilitas

Pembedaan aset lancar dan tidak lancar serta liabilitas jangka pendek dan
jangka panjang :
Entitas mengungkapkan jumlah yang diharapkan dapat dipulihkan atau
diselesaikan setelah lebih dari dua belas bulan untuk setiap pos aset dan
liabilitas yang menggabungkan jumlah yang diharapkan akan dipulihkan atau
diselesaikan :
Tidak lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan
Lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan
Informasi mengenai tanggal perkiraan realisasi aset dan liabilitas berguna dalam
penilaian likuiditas dan solvabilitas entitas. PSAK 50 (revisi 2006): Instrumen
keuangan: Penyajian dan Pengungkapan mensyaratkan pengungkapan tanggal
jatuh tempo aset keuangan dan liabilitas keuangan.

Aset Lancar dan Tidak lancar


Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar, jika :
Entitas mengharapkan akan merealisasikan aset, atau bermaksud untuk menjual
atau menggunakan dalam siklus operasi normal
Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan
Entitas mengharapkan akan merealisasikan aset dalam jangka waktu dua belas
bulan setelah periode pelaporan
Kas atau setara kas, kecuali aset tersebut dibatasi pertukaran atau
penggunaannya untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya dua belas
bulan setelah periode pelaporan.
Entitas mengklasifikasikan aset yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai
aset tidak lancar. Pernyataan ini menggunakan istilah tidak lancar , pernyataan
ini tidak melarang penggunaan istilah lainnya sepanjang pengertiannya jelas.
Siklus operasi entitas merupakan jangka waktu antara perolehan aset untuk
pemrosesan dan realisasinya dalam bentuk kas atau setara kas.Ketika siklus
operasi normal entitas tidak dapat diidentifikasikan secara elas, maka
diasumsikan selama dua belas bulan.Aset lancar mencakup aset yang dijual,
dikonsumsi atau direalisasikan sebagai bagian siklus operasi normal meskipun
aset tersebut tidak diharakan untuk direalisasikan dalam jangka waktu dua belas
bulan setelah periode pelaporan, aset lancar juga mencakup aset yang dimiliki
untuk diperdagangkan.
Liabilitas
Liabilitas merupakan kewajiban membayar kepada pihak lain yang disebabkan
adanya transaksi di masa lalu. Menurut Kieso (2008) liabilitas memiliki 3 (tiga)
karakteristik yaitu:
Kewajiban sekarang
Diperoleh dari kejadian di masa lalu
Penyelesaiannya menggunakan sumber daya yang dimiliki entitas.

Liabiliitas Jangka Pendek


Menurut PSAK 01 terdapat 4 (empat) Kriteria Liabilitas Jangka Pendek, yaitu:
Diselesaiakan dalam siklus operasi normal;
Tujuannya untuk diperdagangkan;
Jatuh tempo 12 bulan setelah periode pelaporan ; atau
Penyelesaian hutang tidak dapat ditunda sekurang-kurangnya dari 12 bulan
setelah periode pelaporan.

Pengecualian terhadap kriteria tersebut antara lain:

Pengecualian untuk hutang dagang, beberapa akrual untuk biaya karyawan, dan
biaya operasi lain tetap digolongkan sebagai hutang jangka pendek meskipun
jatuh temponya lebih dari 12 bulan setelah periode pelaporan.
Jika Jatuh tempo kurang dari 12 bulan meskipun perjanjian awal pinjaman lebih
dari 12 bulan dan terdapat perjanjian perpanjangan pembayaran setelah periode
pelaporan dan sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan hutang jangka
pendek
Jika hutang jatuh temponya kurang dari 12 bulan lagi akan tetapi entitas
menginginkan (dan memiliki diskresi) untuk memperpanjang selama min. 12
bulan setelah setelah periode pelaporan. hutang jangka panjang
Jika Hutang jangka panjang yang harus segera dibayar diakibatkan entitas
melanggar ketentuan perjanjian pinjaman jangka panjang hutang jangka
panjang

Macam-macam liabilitas jangka pendek


Hutang dagang
Hutang berjangka
Bagian hutang jangka panjang yang segera jatuh tempo
Hutang deviden
Pendapatan diterima dimuka
Hutang Pajak Penjualan dan Pajak Penghasilan

Peristiwa yang terkait liabilitas jangka pendek yang memerlukan pengungkapan


sebagai peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian yaitu:
Pembiayaan kembali berbasis jangka panjang
Perbaikan pelanggaran perjanjian pinjaman jangka panjang
Pemberian tenggang waktu pembayaran oleh pemberi pinjaman untuk
memperbaiki pelanggaran perjanjian pinjaman jangka panjang yang berakhir
sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan
Liabilitas Jangka Panjang
Menurut PSAK 01, liabilitas yang tidak termasuk dalam kategori liabilitas jangka
pendek maka akan diklasifikasikan sebagai sebagai hutang jangka panjang.
Hutang jangka panjang antara lain:
Hutang wesel jangka panjang
Hutang obligasi
Hutang hipotek

Ekuitas
Hal-hal yang diungkapkan dalam laporan posisi keuangan atau laporan
perubahan ekuitas atau CALK :
Untuk setiap jenis saham
Jumlah saham modal dasar
Jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh dan yang diterbitkan tetapi
tidak disetor penuh
Nilai nominal saham
Rekonsiliasi jumlah saham yang beredar pada awal dan akhir periode
Hak, keistimewaan, dan pembatasan setiap jenis saham
Saham yang dikuasai entitas sendiri, entitas anak, atau entitas asosiasi
Saham yang dicadangkan untuk penerbitan hak opsi
Penjelasan mengenai sifat dan tujuan setiap pos cadangan dalam ekuitas
Entitas yang modalnya tidak terbagi dalam saham, seperti persekutuan atau unit
perwalian, mengungkapkan informasi yang setara sesuai dengan poin a di atas,
yang memperlihatkan perubahan selama suatu periode dari setiap jenis
kepentingan ekuitas, serta hak, keistimewaan, dan pembatasan yang melekat
pada setiap kepentingan ekuitas.

Laporan Laba Rugi Komprehensif


PSAK 1 dan IAS 1 merumuskan ketentuan yang serupa atas penyajian dalam
Laporan Laba Rugi dan Komprehensif. Entitas menyajikan seluruh pos
pendapatan dan beban yang diakui dalam satu periode (Paragraf 79 PSAK, 81
IAS):
dalam bentuk satu laporan laba rugi komprehensif; atau
dalam bentuk dua laporan:
laporan yang menunjukkan komponen laba rugi (laporan laba rugi terpisah) dan
laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan komponen pendapatan
komprehensif lain (laporan pendapatan komprehensif).

Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif sekurangkurangnya mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut dalam satu periode
(Paragraf 80 PSAK, 82 IAS):
pendapatan;
biaya keuangan;
bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan
menggunakan metode ekuitas;

beban pajak;
suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari:
laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan dan
keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai
wajar dikurangi biaya untuk menjual atau dari pelepasan aset atau kelompok
yang dilepaskan dalam rangka operasi yang dihentikan;
laba rugi;
setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai
dengan sifat (selain jumlah dalam huruf h;
bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures
yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas; dan
total laba rugi komprehensif.
Selain 9 pos di atas, IAS menambahkan keuntungan dan kerugian dari pelepasan
aset keuangan yang diukur dengan biaya amortisasi sebagai bagian dari pos
yang disajikan.
Pos-pos di bawah ini diungkapkan dalam laporan laba rugi komprehensif sebagai
alokasi laba rugi untuk periode (Paragraf 81 PSAK, 83 IAS):
laba rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:
kepentingan non-pengendali; dan
pemilik entitas induk.
total laba rugi komprehensif periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:
kepentingan non-pengendali dan
pemilik entitas induk.
Entitas dapat menyajikan pos-pos sebagaimana dimaksud dalam paragraf 80
huruf a-f PSAK dan 82 huruf a-f IAS dan pengungkapan sebagaimana dimaksud
dalam paragraf 81a PSAK dan 83a IAS (Paragraf 82 PSAK, 84 IAS). Entitas
menyajikan pos-pos tambahan, judul, dan sub jumlah lain dalam laporan laba
rugi komprehensif dan laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), jika penyajian
tersebut relevan untuk pemahaman kinerja keuangan entitas (Paragraf 83 PSAK,
85 IAS). Karena dampak dari berbagai kegiatan, transaksi, dan peristiwa lain
entitas berbeda dalam frekuensi, potensi keuntungan atau kerugian dan
kemampuan untuk dapat diprediksi, maka pengungkapan unsur-unsur kinerja
keuangan membantu pengguna laporan keuangan dalam memahami kinerja
keuangan yang dicapai dan dalam membuat proyeksi kinerja keuangan yang
dicapai dan dalam membuat proyeksi kinerja keuangan masa depan. Entitas
memasukkan pos-pos tambahan dalam laporan laba rugi komprehensif dan
laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), perubahan istilah yang dipakai dan
perubahan urutan dari pos-pos jika hal ini diperlukan untuk menjelaskan elemen
kinerja keuangan. Entitas mempertimbangkan faktor-faktor termasuk
materialitas, sifat, dan fungsi dari berbagai komponen pendapatan dan beban.
Misalnya, suatu institusi keuangan dapat mengubah istilah untuk memberikan

informasi yang relevan dengan operasinya. Entitas tidak diperkenankan


melakukan saling hapus pendapatan dan beban kecuali memenuhi kriteria
paragraf 30 (Paragraf 84 PSAK, 86 IAS). Entitas tidak diperkenankan untuk
menyajikan pos-pos pendapatan dan beban sebagai pos luar biasa dalam
laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), atau
dalam catatan atas laporan keuangan (Paragraf 85 PSAK, 87 IAS).

Entitas mengakui seluruh pos pendapatan dan beban pada suatu periode dalam
laba rugi kecuali suatu PSAK mensyaratkan atau memperkenankan lain (Paragraf
86 PSAK, 88 IAS). Beberapa SAK menentukan kondisi-kondisi kapan entitas
mengakui pos-pos tertentu di luar laba rugi dalam periode berjalan. PSAK 25
menentukan dua kondisi tersebut, yaitu koreksi kesalahan dan dampak
perubahan kebijakan akuntansi. SAK lainnya mensyaratkan atau
memperkenankan suatu komponen pendapatan komprehensif lain yang
memenuhi defenisi pendapatan dan beban dalam Kerangka Dasar Penyusunan
dan Penyajian Laporan Keuangan dikeluarkan dari laba rugi (Paragraf 87 PSAK,
89 IAS).

Entitas mengungkapkan jumlah pajak penghasilan terkait dengan setiap


komponen dari pendapatan komprehensif lain, termasuk penyesuaian
reklasifikasi, baik dalam laporan pendapatan komprehensif atau catatan atas
laporan keuangan (Paragraf 88 PSAK, 90 IAS). Entitas dapat menyajikan
komponen pendapatan komprehensif lain (Paragraf 89 PSAK, 91 IAS):
jumlah neto dari dampak pajak terkait, atau
jumlah sebelum dampak pajak terkait disertai dengan total pajak penghasilan
yang terkait dengan komponen tersebut.
Entitas mengungkapkan penyesuaian reklasifikasi yang terkait dengan
komponen pendapatan komprehensif lain (Paragraf 90 PSAK, 92 IAS). SAK
lainnya menjelaskan bagaimana dan kapan jumlah yang sebelumnya diakui
dalam pendapatan komprehensif lain direklasifikasi ke laba rugi. Reklasifikasi
yang dimaksud pada pernyataan ini adalah penyesuaian reklasifikasi.
Penyesuaian reklasifikasi dimasukkan dengan komponen pendapatan
komprehensif lain yang terkait pada periode dimana penyesuaian direklasifikasi
ke laba rugi. Misalnya, keuntungan yang direalisasi dari pelepasan aset
keuangan yang dikategorikan sebagai tersedia untuk dijual dimasukkan dalam
laba rugi periode berjalan. Jumlah tersebut mungkin telah diakui dalam
pendapatan komprehensif lain sebagai keuntungan yang belum direalisasi pada
periode berjalan atau periode sebelumnya. Keuntungan yang belum direalisasi
tersebut dikurangkan dari pendapatan komprehensif lain pada periode ketika
keuntungan yang telah direalisasi direklasifikasi ke laba rugi untuk menghindari
memasukkan keuntungan yang belum direalisasi tersebut dua kali dalam total
laba rugi komprehensif. Entitas dapat menyajikan penyesuaian reklasifikasi di
dalam laporan pendapatan komprehensif atau catatan atas laporan keuangan.
Entitas yang menyajikan penyesuaian reklasifikasi pada catatan atas laporan
keuangan menyajikan komponen pendapatan komprehensif lain setelah
penyesuaian reklasifikasi tersebut. Penyesuaian reklasifikasi terjadi dalam hal:

pelepasan kegiatan usaha luar negeri;


penghentian pengakuan aset keuangan tersedia untuk dijual;
lindung nilai atas prakiraan transaksi menimbulkan laba atau rugi.
Penyesuaian ini tidak dilakukan terhadap:
perubahan surplus revaluasi yang diakui berdasarkan psak 16 (revisi 2007) atau
19;
keuntungan dan kerugian aktuarial yang diakui dalam program dana pensiun
manfaat pasti yang diakui berdasarkan paragraf 93a dari psak 24 (komponen
tersebut diakui dalam pendapatan komprehensif lain dan tidak direklasifikasikan
ke laba rugi periode berikutnya).

Ketika pos pendapatan dan beban bernilai material, entitas harus


mengungkapkan sifat dan jumlahnya secara terpisah (Paragraf 95 PSAK, 97 IAS).
Pengungkapan terpisah tersebut disebabkan oleh keadaan (Paragraf 96 PSAK, 98
IAS):
penurunan nilai persediaan menjadi nilai realisasi neto atau penurunan nilai aset
tetap menjadi jumlah yang dapat dipulihkan kembali sebagaimana pemulihan
atas penurunan tersebut;
restrukturisasi atas aktivitas-aktivitas suatu entitas dan setiap liabilitas
diestimasi atas biaya restrukturisasi;
pelepasan aset tetap;
pelepasan investasi;
operasi yang dihentikan;
penyelesaian litigasi;
pembalikan liabilitas diestimasi lain.
Entitas menyajikan analisis beban yang diakui dalam laba rugi dengan
menggunakan klasifikasi berdasarkan sifat atau fungsinya dalam entitas,
manapun yang dapat menyediakan informasi yang andal dan lebih relevan
(Paragraf 97 PSAK, 99 IAS). Entitas dianjurkan untuk menyajikan analisis pada
paragraf 97 pada laporan laba rugi komprehensif atau jika disajikan, pada
laporan laba rugi terpisah (Paragraf 98 PSAK, 100 IAS). Beban disubklasifikasikan
menjadi komponen utama dari kinerja keuangan yang dapat berbeda dalam
frekuensi, potensi keuntungan atau kerugian, dan kemampuan untuk dapat
memprediksi. Analisis ini diberikan dalam bentuk (Paragraf 99-102 PSAK, 101104 IAS):
Metode sifat beban
Entitas menggabungkan beban dalam laba rugi berdasarkan sifat, seperti
penyusutan, pembelian bahan baku, biaya transportasi, imbalan kerja, dan biaya
iklan) dan tidak merealokasikan menurut berbagai fungsi dalam entitas. Metode
ini mudah diterapkan karena tidak memerlukan adanya alokasi beban menurut
klasifikasi fungsional.

Metode fungsi beban (biaya penjualan)


Metode fungsi beban mengklasifikasikan beban berdasarkan fungsinya sebagai
bagian dari biaya penjualan atau biaya aktivitas distribusi (administratif).
Berdasarkan metode ini, entitas sekurang-kurangnya mengungkapkan biaya
penjualan secara terpisah dari beban-beban lainnya. Metode ini dapat
memberikan informasi yang lebih relevan kepada pengguna laporan keuangan
dibandingkan dengan metode sifat beban. Namun, pengalokasikan biaya
berdasarkan fungsi mungkin membutuhkan alokasi secara arbiter dan
pertimbangan yang matang. Entitas yang mengklasifikasikan beban berdasarkan
fungsi mengungkapkan informasi tambahan tentang sifat beban, termasuk
beban penyusutan, amortisasi, dan beban imbalan kerja.
Pemilihan metode analisis (fungsi dan sifat) bergantung kepada faktor historis,
industri, dan sifat entitas. Kedua metode tersebut memberikan indikasi tentang
biaya-biaya yang mungkin berbeda (baik langsung maupun tidak langsung)
dengan tingkat penjualan produk atau produksi entitas. Karena setiap metode
penyajian memiliki manfaat untuk jenis entitas yang berbeda, pernyataan ini
mensyaratkan manajemen untuk memilih penyajian yang andal dan lebih
relevan. Namun, karena informasi atas sifat beban bermanfaat dalam
memprediksi arus kas masa depan, maka pengungkapan tambahan diperlukan
ketika metode fungsi beban digunakan (Paragraf 103 PSAK, 105 IAS).

Laporan Perubahan Ekuitas


Menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:
Total Laba Rugi Komprehensif selama suatu periode, yang menunjukan secara
terpisah total jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan
kepada kepentingan nonpengendali;
Untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian
kembali secara retrospektif yang diakui sesuai dengan PSAK 25 :Kebijakan
Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.
Untuk Setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal
dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan masing-masing perubahan
yang timbul dari:
Laba Rugi;
Masing-masing pos pendapatan komprehensif lain; dan
Transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang
menunjukkan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada
pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada entitas anak yang tidak
menyebabkan hilang pengendalian.
Entitas menyajikan jumlah dividen yang diakui sebagai distribusi kepada pemilik
selama periode dan nilai dividen persaham pada laporan perubahan ekuitas atau
catatan atas laporan keuangan.
Perubahan ekuitas selama satu periode mencerminkan naik turunnya aset neto
entitas selama periode tersebut. Kecuali untuk perubahan:

Transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik dan instrumen


biaya langsungnya
Perubahan keselurhan atas ekuitas selama periode yang menggambarkan jumlah
total penghasilan dan beban yang diakibatkan oleh aktivitas entitas selama
periode tersebut
Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas memberikan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk
menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas dan
kebutuhan entitas dalam menggunakan arus kas tersebut.

Catatan Atas Laporan Keuangan


Catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan berisi informasi
tambahan atas apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan laba
rugi komprehensif laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan
laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan perubahan ekuitas dan laporan arus
kas. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif dari pos-pos
yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dan informasi mengenai pospos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan
tersebut(Revisi 2013) .
Stuktur
Catatan atas laporan keuangan berisi:
menyajikan informasi tentang dasar penyusun laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi yang digunakan
mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK yang tidak disajikan
dibagian manapun dalam laporan keuangan
memberikan informasi yang tidak disajikan dibgaian manapun dalam laporan
keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan
Catatan atas laporan keuangan mempunyai urutan sebagai berikut:
Pernyataan atas kepatuhan terhadap SAK
ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan
informasi tambahan untuk pos-pos yang disajikan dalam laporan perubahan
posisi keuangan dan laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan
perubahan ekuitas dan laporan arus kas, sesuai dengan urutan penyajian
laporan dan penyajian masing-masing pos
pengungkapan lainnya, termasuk:
liabilitas kontinjensi dan komitmen kontraktual yang belum diakui
pengungkapan informasi nonkeuangan, misalnya tujuan dan kebijakan
manajemen risiko keuangan

Entitas dapat menyajikan catatan atas laporan keuangan yang memberikan


informasi tentang dasar penyusuan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi
tertentu sebagai bagian yang terpisah dalam laporan keuangan.
Pengungkapan kebijakan akuntansi
Entitas mengungkapkan dalam ringkasan kebijakan akuntansi signifikan:
dasar pengukuran yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan
kebijakan akuntansi lain yang diterapkan yang relevan untuk memahami laporan
keuangan
Menuangkan dasar pengukuran yang digunakan dalam laporan keuangan adalah
hal yang penting, karena dasar tersebut mempengaruhi analisis pengguna
secara signifikan.
Entitas mengungkapkan kedalam ringkasan kebijakan akuntansi signifikan atau
catatan atas laporan keuangan lain yang telah dibuat manajemen dalam proses
penerapan kebijakan akuntansi dan memiliki dampak yang paling signifikan
terhadap jumlah yang diakui dalam laporan keuangan. Manajemen membuat
beberapa pertimbangan yang secara signifikan dapat mempengaruhi jumlah
yang diakui dalam laporan keuangan, misalnya:
apakah aset keuangan merupakan investasi yang dikategorikan sebagai "dimiliki
hingga jatuh tempo"
kapan secara subtansial seluruh risiko dan manfaat yang signifikan dari
kepemilikan aset keuangan dan aset sewa dialihkan kepada entitas lain;
apakah secara substansial penjualan produk tertentu merupakan perjanjian
pembiayaan dan dengan demikian tidak meningkatkan pendapatan;
apakah subtansi hubungan antara entitas dan entitas bertujuan khusus
menunjukkan bahwa entitas tersebut mengendalikan entitas bertujuan khusus.

Sumber estimasi ketidakpastian


Entitas mengungkapkan informasi tentang asumsi yang dibuat mengenai masa
depan, dan sumber utama dari estimasi ketidakpastian lainnya pada akhir
periode pelaporan, yang memiliki risiko signifikan yang mengakibatkan
penyesuaian material terhadap jumlah tercatat aset dan laibilitas dalam periode
pelaporan berikutnya. Berkaitan dengan aset dan laibilitas tersebut, catatan atas
laporan keuangan memasukkan rincian atas: 1) sifat dan 2) jumlah tercatat pada
akhir periode pelaporan.
Penetapan jumlah tercatat dari beberapa aset dan liabilitas mensyaratkan
estimasi pengaruh ketidakpastian atas peristiwa masa depan terhadap aset dan
liabilitas tersebut pada akhir pelaporan. misalnya, dalam hal tidak tersedianya
harga pasar kini yang diobservasi, maka:
estimasi berorientasi masa depan diperlukan untuk mengukur jumlah terpulihkan
atas kelompok aset tetap,

dampak keusangan teknologi atas persediaan, provisi yang bergantung pada


hasil masa depan dari proses litigasi yang masih berjalan, dan
liabilitas imbalan kerja jangka panjang seperti kewajiban pensiun.
Estimasi tersebut memasukkan asumsi tentang penyesuaian risiko atas arus kas
dan tingkat diskonto, peubahan gaji di masa depan, dan perubahan harga
dimasa depan yang mempengaruhi biaya lain.
Asumsi dan sumber estimasi ketidakpastian lainnya membutuhkan
pertimbangan manajemen yang paling sulit, subjektif atau kompleks, sehingga
potensi dilakukannya penyesuaian material terhadap jumlah tercatat aset dan
liabilitas semakin meningkat.
Tidak disyaratkan bagi aset dan liabilitas dengan risiko signifikan bahwa jumlah
tercatat aset dan liabilitas tersebut dapat berubah secara material selama
periode tahun berikutnya, dan perubahan tersebut tidak berasal dari asumsi atau
sumber estimasi ketidakpastian lain pada akhir periode pelaporan.
Entitas menyajikan pengungkapan tersebut dalam suatu cara yang dapat
membantu pengguna laporan keuangan untuk memahami yang telah dibuat
manajemen tentang masa depan dan tentang sumber estimasi ketidakpastian
lain, sifat dan luasnya informasi yang diberikan bervariasi sesuai dengan sifat
asumsi dan kondisi lainnya. contoh pengungkapan yang dibuat adalah sebagai
berikut:
Sifat asumsi atau estimasi ketidakpastian lain;
sensitivitas jumlah tercatat terhadap metode, asumsi dan estimasi yang
mendasari penghitungan jumlah tercatat tersebut, termasuk alasan atas
sensitivitas tersebut;
penyelesaian yang diharapkan atas ketidakpastian dan kisaran hasil yang
mungkin selama periode pelaporan berikutnya atas jumlah tercatat aset dan
liabilitas yang terpengaruh; dan
penjelasan tentang perubahan yang dilakukan terhadap asumsi sebelumnya
yuang terkait dengan aset dan liabilitas tersebut, jika ketidakpastian tetap belum
dapat diselesaikan.
pernyataan ini tidak mensyaratkan entitas untuk mengungkapkan informasi
anggaran atau prakiraan dalam membuat pengungkapan tersebut.
Pengungkapan mengenai pertimbangan tertentu yang dibuat oleh manajemen
dalam rangka menerapkan kebijakan akuntansi tidak terkait dengan
pengungkapan sumber estimasi ketidakpastian.

Modal
Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan
keuangan untuk mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan proses entitas dalam
mengelola permodalannya.Entitas mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
informasi kuantitatif tentang tujuan, kebijakan, dan proses entitas dalam
mengelola permodalannya, termasuk:

uraian tentang apa yang dikelola sebagai modal;


ketika entitas diharuskan untuk memenuhi persyarata permodalan eksternal,
sifat persyaratan dan bagaimana persyaratan tersebut diimplementasikan dalam
pengelolaan permodalaan; dan
bagaimana entitas memenuhi tujuannya dalam mengelola permodalan.
ringkasan data kuantitatif mengenai apa yang dikelola sebagai modal. beberapa
entitas menganggap liablitas keuangan sebagian dari modal dan entitas lain
menganggap modal tidak termasuk beberapa komponen ekuitas.
setiap perubahan 2 (dua) poin diatas dari periode sebelumnya.
apakah selama periode entitas mematuhi setiap persyaratan permodalan
eksternal.
ketika entintas tidak mematuhi persyaratan permodalan eksternal tersebut,
konsekuensi dari ketidakpatuhan harus dituangkan.
Entitas mendasarkan pengungkapan tersebut dari informasi yang diberikan
secara internal kepada personal manajemen kunci.Entitas dapat mengelola
modal dalam beberapa cara dan dapat bergantung pada persyaratan
permodalan yang berbeda. misalnya, entitas konglomerasi mungkin mencakup
entitas yang melakukan kegiatan asuransi dan perbankan dan aktivitas tersebut
mungkin melakukan kegiatan operasi dibeberapa juridiksi. Ketika pengungkapan
keseluruhan atas persyaratan modal dan bagaimana modal dikelola tidak
memberikan informasi yang berguna atau dapat mengacaukan pemahaman
pengguna laporan keuangan atas sumber permodalan entitas, maka entitas
mengungkapkan informasi terpisah untuk setiap persyaratan modal yang berlaku
bagi entitas.

Pengungkapan lain
Entitas mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:
jumlah dividen yang diusulkan atau diumumkan sebelum tanggal penyelesaian
laporan keuangan tetapi tidak diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama
periode serta jumlah dividen pe lembar saham
jumlah dividen preferen kumulatif yang tidak diakui
Entitas mengungkapkan hal-hal berikut ini, jika tidak diungkapkan di bagian
manapun dalam informasi yang dipublikasikan bersama dengan laporan
keuangan:
domisili dan bentuk hukum, negarea tempat pendirian, alamat kantor pusat
entitas (atau lokasi utama kegiatan usaha, jika berbeda dari lokasi kantor)
keterangan mengenai sifat operasi dan kegiatan utama
nama entitas induk dan nama entitas induk terakhir dalam kelompok usaha
bagi entitas yang mempunyai batasan umur, informasi tentang lama umur
entitas

Informasi Komparatif
Informasi Komparatif Minimum
Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya
untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan,
kecuali dinyatakan lain oleh PSAK/ISAK. Informasi komparatif yang bersifat
naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan
kembali jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
Entitas menyajikan, minimal, dua laporan posisi keuangan, dua laporan laba rugi
dan penghasilan komprehensif lain, dua laporan laba rugi terpisah (jika
disajikan), dua laporan arus kas dan dua laporan perubahan ekuitas, serta
catatan atas laporan keuangan yang berhubungan.
Dalam beberapa kasus, informasi naratif yang disajikan dalam laporan keuangan
untuk periode sebelumnya masih tetap relevan pada periode berjalan. Misalnya,
entitas mengungkapkan dalam periode berjalan rincian tentang sengketa hukum
yang dihadapi, namun hasil akhirnya belum diketahui secara pasti pada akhir
periode sebelumnya dan masih dalam proses penyelesaian. Pengguna laporan
keuangan memperoleh manfaat atas pengungkapan informasi adanya
ketidakpastian pada akhir periode pelaporan sebelumnya dan dari
pengungkapan informasi tentang langkah-langkah yang telah dilakukan selama
periode berjalan untuk mengatasi ketidakpastian tersebut.
Tambahan Informasi Komparatif
Entitas dapat menyajikan informasi komparatif sebagai tambahan atas laporan
keuangan komparatif minimum yang disyaratkan PSAK/ISAK, sepanjang
informasi tersebut disusun sesuai dengan PSAK/ISAK. Informasi komparatif ini
dapat berisi terdiri satu atau lebih laporan keuangan, namun tidak terdiri dari
laporan keuangan lengkap. Ketika hal ini terjadi, entitas menyajikan catatan
informasi yang berhubungan dengan laporan tambahan tersebut.
Misalnya, entitas dapat menyajikan tiga laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain (sehingga menyajikan periode berjalan, periode sebelumnya,
dan satu periode komparatif tambahan). Namun demikian, entitas tidak
disyaratkan untuk menyajikan tiga laporan posisi keuangan, tiga laporan arus
kas, atau tiga laporan perubahan ekuitas (yaitu laporan keuangan komparatif
tambahan). Entitas disyaratkan menyajikan, dalam catatan atas laporan
keuangan, informasi komparatif yang terkait dengan laporan tambahan atas
laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.
Entitas menyajikan tiga laporan posisi keuangan seperti pada awal periode
sebelumnya sebagai tambahan atas laporan keuangan komparatif minimum
yang diwajibsyaratkan dalam paragraf 36A jika:
(a) entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif, membuat
penyajian kembali retrospektif atas pos-pos dalam laporan keuangan atau
reklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan; dan

(b) penerapan retrospektif, penyajian kembali retropsektif atau reklasifikasi


memiliki dampak material atas informasi dalam laporan posisi keuangan pada
awal periode sebelumnya.
Dalam kondisi yang digambarkan dalam paragraf 38A, entitas menyajikan tiga
laporan posisi keuangan pada:
(a) akhir periode berjalan;
(b)akhir periode sebelumnya; dan
(c) awal periode

Contoh Kasus :
Kasus Manipulasi Laporan Keuangan PT Kimia Farma

Kronologis
PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di
Indonesia
pemerintah di Indonesia. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen
Kimia Farma melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan
tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta dan Mustofa (HTM). Akan tetapi,
Kementerian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu
besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3
Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated),
karena telah ditemukan kesalahan yang cukup mendasar. Pada laporan
keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar Rp 99,56 miliar,
atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal yang
dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan
berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral
berupa overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit

Pedagang Besar Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan
overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar.
Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang
ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui
direktur produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master
prices) pada tanggal 1 dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah
digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit
distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001. Sedangkan kesalahan penyajian
berkaitan dengan penjualan adalah dengan dilakukannya pencatatan ganda atas
penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang tidak
disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi. Berdasarkan
penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporan
keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun
gagal mendeteksi kecurangan tersebut.
Pihak Bapepam selaku pengawas pasar modal mengungkapkan tentang
kasusPT.Kimia Farma
Dalam rangka restrukturisasi PT.Kimia Farma Tbk, Ludovicus Sensi W selaku
partner dari KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa yang diberikan tugas untuk
mengaudit laporan keuangan PT.Kimia Farma untuk masa lima bulan yang
berakhir 31 Mei 2002, tidak menemukan dan melaporkan adanya kesalahan
dalam penilaian persediaan barang dan jasa dan kesalahan pencatatan
penjualan untuk tahun yang berakhir per 31 Desember 2001. Selanjutnya diikuti
dengan pemberitaan dalam harian Kontan yang menyatakan bahwa kementrian
BUMN memutuskan penghentian proses divestasi saham milik pemerintah
di PT.Kimia Farma
setelah
melihat
adanya
indikasi
penggelembungan
keuntungan dalam laporan keuangan pada semester I tahun 2002.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam diperoleh bukti sebagai berikut :


Terdapat kesalahan penyajian dalam laporan keuangan PT.Kimia Farma, adapun
dampak kesalahan tersebut mengakibatkan overstated laba pada laba bersih
untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 sebesar Rp.32,7 milyar yang
merupakan 2,3% dari penjualan dan 24,7% dari laba bersih PT.Kimia Farma
Tbk.Selain itu kesalahan juga terdapat pada
Unit industri bahan baku, kesalahan berupa overstated pada penjualan sebesar
Rp.2,7 milyar. Unit logistik sentral, kesalahan berupa overstated pada persediaan
barang sebesar Rp.23,9 miliar.
Unit pedagang besar farmasi (PBF), kesalahan berupa overstated pada
persediaan barang sebesar Rp.8,1 milyar. Kesalahan berupa overstated pada
penjualan sebesarRp.10,7 milyar. Kesalahan-kesalahan penyajian tersebut
dilakukan oleh direksi periode 1998 juni 2002 dengan cara :
Membuat dua daftar harga persediaan yang berbeda masing-masing diterbitkan
pada tanggal 1 Februari 2002 dan 3 Februari 2002, dimana keduanya merupakan
master price yang telah diotorisasi oleh pihak yang berwenang yaitu Direktur
Produksi PT.Kimia Farma. Master price per 3 Februari 2002 merupakan master
price yang telah disesuaikan nilainya (mark up) dan dijadikan dasar sebagai
penentuan nilai persediaan pada unit distribusi PT.Kimia Farma per 31 Desember

2001.
Melakukan pencatatan ganda atas penjualan pada unit PBF dan unit bahan baku.
Pencatatan ganda dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan.
Berdasarkan uraian tersebut tindakan yang dilakukan oleh PT.Kimia Farma
terbukti melanggar peraturan Bapepam no. VIII.G.7 tentang pedoman penyajian
laporan keuangan. poin 2, Perubahan Akuntansi dan Kesalahan Mendasar poin 3
Kesalahan Mendasar, sebagai berikut:
Kesalahan mendasar mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis,
kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta
dan kecurangan atau kelalaian.
Pihak-Pihak yang terlibat
manajemen lama PT Kimia Farma Tbk
akuntan publik Hans Tuanakota Mustofa (HTM)
Ludovicus Sensi W rekan KAP Hans Tuanakota Mustofa (HTM) selaku
auditorPT.Kimia Farma.
Direksi lama PT.Kimia Farma periode 1998 juni 2002
Sehubungan dengan temuan tersebut, maka sesuai dengan pasal 102 UU nomor
8 tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 61 PP no.45 tahun 1995 tentang
penyelenggaraan kegiatan bidang pasar modal maka PT.Kimia Farma Tbk,
dikenakan sanksi administratif berupa denda yaitu sebesar Rp.500 juta.
Sesuai Pasal 5 huruf n Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal,
maka:
1. Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 Juni 2002
diwajibkan membayar sejumlah Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk
disetor ke Kas Negara, karena melakukan kegiatan praktek penggelembungan
atas laporan keuangan per 31 Desember 2001.
2. Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku
auditor PT Kimia Farma (Persero) Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp.
100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena atas
risiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang
dilakukan oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tersebut, meskipun telah
melakukan prosedur audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik
(SPAP), dan tidak diketemukan adanya unsur kesengajaan. Tetapi, KAP HTM tetap
diwajibkan membayar denda karena dianggap telah gagal menerapkan
Persyaratan Profesional yang disyaratkan di SPAP SA Seksi 110 Tanggung Jawab
& Fungsi Auditor Independen, paragraf 04 Persyaratan Profesional, dimana
disebutkan bahwa persyaratan profesional yang dituntut dari auditor independen
adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman berpraktik sebagai
auditor independen.
Terjadinya penyalah sajian laporan keuangan yang merupakan indikasi dari
tindakan tidak sehat yang dilakukan oleh manajemen PT. Kimia Farma, yang
ternyata tidak dapat terdeteksi oleh akuntan publik yang mengaudit laporan
keuangan pada periode tersebut.

Solusi
Terkait
Manipulasi
Laporan
Keuangan
PT
Kimia
Farma
Berdasarkan kronologis yang telah kami baca, seharusnya akuntan publik
bertindak secara independen karena mereka adalah pihak yang bertugas
memeriksa dan melaporkan adanya ketidakwajaran dalam pencatatan laporan
keuangan. Dalam UU Pasar Modal 1995 disebutkan apabila di temukan adanya
kesalahan, selambat-lambamya dalam tiga hari kerja, akuntan publik harus
sudah melaporkannya ke Bapepam. Dan apabila temuannya tersebut tidak
dilaporkan maka auditor tersebut dapat dikenai pidana, karena ada ketentuan
yang mengatur bahwa setiap profesi akuntan itu wajib melaporkan temuan kalau
ada emiten yang melakukan pelanggaran peraturan pasar modal. Sehingga perlu
dilakukan penyajian kembali laporan keuangan PT. Kimia Farma Tbk. dikarenakan
adanya kesalahan pencatatan yang mendasar, akan tetapi kebanyakan auditor
mengatakan bahwa mereka telah mengaudit sesuai dengan standar profesional
akuntan publik. Akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa ikut bersalah dalam
manipulasi laporan keuangan, karena sebagai auditor independen akuntan publik
Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) seharusnya mengetahui laporan-laporan yang
diauditnya itu apakah berdasarkan laporan fiktif atau tidak.
Berkaitan dengan sikap Skeptisme Profesional seorang auditor, sehingga jika
akuntan publik tersebut tidak menerapkan sikap skeptisme profesional dengan
seharusnya hingga berakibat memungkinkannya tidak terdeteksinya salah saji
dalam laporan keuangan yang material yang pada akhirnya merugikan para
investor.
Seorang auditor seharusnya professional, jujur dan lebih teliti dengan bidangnya
untuk menghindari kesalahan laporan keuangan yang diauditnya karena
Bapepam sebagai lembaga pengawas pasar modal bekerjasama dengan
Direktorat Akuntansi dan Jasa Penilai Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan
yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi para akuntan publik untuk
mencari bukti-bukti atas keterlibatan akuntan publik dalam kesalahan
pencatatan laporan keuangan baik disengaja ataupun tidak disengaja.
Dampak Terhadap Profesi Akuntan
Aktivitas manipulasi pencatatan laporan keungan yang dilakukan manajemen
tidak terlepas dari bantuan akuntan. Akuntan yang melakukan hal tersebut
memberikan informasi yang menyebabkan pemakai laporan keuangan tidak
menerima informasi yang fair. Akuntan sudah melanggar etika profesinya.
Kejadian manipulasi pencatatan laporan keuangan yang menyebabkan dampak
yang luas terhadap aktivitas bisnis yang tidak fair membuat pemerintah campur
tangan untuk membuat aturan yang baru yang mengatur profesi akuntan
dengan maksud mencegah adanya praktik-praktik yang akan melanggar etika
oleh para akuntan publik.

Kesimpulan
Pada akhirnya semua hal ini kembali kepada masing-masing individu auditornya
dalam melaksanakan jasa profesionalnya yang menuntut sikap independensi,
obyektifitas, kejujuran, integritas yang tinggi, serta kemampuan profesional
dalam bidangnya

Masalah yang terjadi untuk kasus PT.Kimia Farma, Tbk


Saat audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan
adanya laba bersih sebesar Rp 132 Miliyar dan laporan tersebut diaudit oleh
Hans Tuanakota dan Mustofa(HTM), tetapi Kementrian BUMN dan Bapepam
menilai bahwa laba bersihnya mengandung unsure rekayasa, oleh sebab itu
dilakukan audit ulang pada 3 Oktober 2002 ternyata laba bersih hanya sebesar
Rp 99.56 Miliyar. Ada 2 hal kesalahan penyajian pada persediaan dan kesalahan
penyajian pada penjualan.
Kesalahan penyajian pada persediaan timbul karena adanya nilai yang terdapat
pada daftar harga persediaan digelembungkan. Melalui direktur produksinya
menerbitkan dua buah daftar harga persediaan pada tanggal 1 dan 3 February ,
dimana tanggal 3 February dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit
distribusi PT.Kimia Farma, Tbk
Kesalahan ke dua penyajian pada penjualan adalah dengan dilakukannya
pencatatan ganda atas penjualan dengan tidak melakukan disampling oleh
akuntan pada unit- unit.
Selain itu juga tidak ditemukan adanya laporan kesalahan dalam penilaian
persediaan barang dan jasa dan kesalahan pencatatan penjualan yang berakhir
per 31 Desember 2001, yang diikuti adanya pemberitaan dalam harian Kompas
bahwa Kementrian memutuskan penghentian proses divestasi saham pada
PT.Kimia Farma, Tbk
Hukuman bagi kasus PT.Kimia Farma, Tbk adalah
Dilihat dari pihak yang terlibat :
1.Manajemen Lama PT.Kimia Farma, Tbk
2.Akuntan public Hans Tuanakota Mustofa(HTM)
3.Auditor PT.Kimia Farma, Tbk
4.Direksi Lama PT.Kimia Farma, Tbk
Maka sesuai dengan pasal 102 UU Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal.
Pasal 61 PP No.45 tahun 1995 tentang penyelenggaraan kegiatan bidang pasar
modal maka PT.Kima Farma, Tbk dikenakan sangsi administrasi berupa denda
yaitu sebesar Rp 500.000.000

Pasal 5 huruf n Undang-undang No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, maka:
1.Direksi Lama PT.Kimia Farma, Tbk diwajibkan membayar sejumlah Rp
1.000.000.000 utnuk disetor ke Kas Negara, karena melakukan kegiatan praktek
penggelembungkan atas laporan keuangan per 31 Desember 2001.
2.Auditor PT.Kimia Farma, Tbk diwajibkan membayar sejumlah Rp 100.000.000
untuk disetor ke Kas Negara, karena atas resiko audit yang tidak berhasil
mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT.Kimia Farma,

Tbk tersebut meskipun telah dilakukan prosedur audit sesuai dengan SPAP,
tetapi KAP HTM tetap diwajibkan membayar denda karena dianggap telah gagal
menerapkan Pesyaratan Profesional yang disyaratkan di SPAP SA Seksi 110
(Tanggung Jawab & Fungsi Auditor Independen) paragraph 4 Persyaratan
Profesional dimana disebutkan bahwa persyaratan professional yang dituntut
dari auditor independen adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman
berpraktik sebagai auditor independen.

Prinsip Etika Profesi Akuntansi Kasus PT. Kimia Farma, Tbk adalah
1.Tanggung jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional, setiap anggota
mempunyai peran penting dalam masyarakat. Anggota juga harus selalu
bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan sesame anggota untuk
mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan
menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri.
KASUS: Setiap anggota tidak menjalankan fungsi perannya dengan baik , tidak
mempunyai rasa tanggung jawab atas setiap kewajibannya menjalankan tugas
dengan benar dimana terbukti bahwa dikorupsinya laba bersih hingga Rp 32.6
Miliyar.
2.Integritas
Karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional, kualitas yang
melandasi kepercayaan public dan patokan bagi anggota dalam menguji
keputusan yang diambilnya antara lain bersikap jujur dan berterus terang tanpa
harus mengorbankan rahasia penerima jasa.
KASUS:Anggota tidak berterus terang dalam penyajian laporan keuangan baik
pada penyajian berdasarkan persediaan barang maupun penyajian berdasarkan
penjualan di PT.Kimia Farma, Tbk.
3.Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan
ketekunan serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan
dan keterampilan profesioanl pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan
bahwa klien memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling
mutakhir. Hal ini mengandung bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
kemampuannya.
KASUS: Pada seorang auditor tidak menjalankan prinsip yang sesuai dengan
SPAP jadi tidak dikatakan layak sebagai seorang auditor dikarenakan auditor
PT.Kimia Farma, Tbk tidak melaukan teknik disampling pada unit-unit . Sesuai
dengan SPAP SA Seksi 110 (seorang auditor menuntut orang yang benar-benar
memiliki pendidikan dan berpengalaman berpraktik sebagai auditor
idenpenden).
4.Perilaku Profesional

Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi


harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada
penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain seperti staf, pemberi kerja dan
masyarakat umum.
KASUS :Anggota tidak berlaku konsisten dalam berperilaku etika untuk
dipandang baik yang terbukti dengan tidak tertib dilakukannya kaedah-kaedah
sebagai mana sesuai dengan peraturan yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

_____.2009. Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK) No.1 : Penyajian Laporan


Keuangan. Jakarta: IAI.
_____.2013. ED Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK) No. 1 : Penyajian Laporan
Keuangan. Jakarta: IAI.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/PSAK-1-Penyajian-LaporanKeuangan-Revisi-2013-up21012014.pptx

http://liaaaajach.wordpress.com/2013/01/19/contoh-contoh-kasus-pelanggaranetika-profesi-akuntansi/

Pelaporan Korporat
Penyajian Laporan Keuangan Menurut PSAK

Disusun oleh :
Peggy Anna Theodora Ambarita 01044881517009

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016