Anda di halaman 1dari 9

Kelompok 1

Bella
Hanif
Yolan
Barri
Sarah

Skenario 11
Perempuan hamil 29 minggu, melahirkan pervaginam, bayi
laki-laki dengan berat 1000 gr setelah membrane ketuban
pecah dari seorang ibu primigravida berusia 17 tahun dan
tidak pernah melakukan ANC. Bayi tersebut dirawat di
neonatal intensive care unit di mana bayi menerima
perawatan rutin untuk bayi lahir dengan berat badan rendah
termasuk ventilasi mekanis, kateterisasi tali pusar, dan
evaluasi sepsis.
Bayi kondisinya baik sampai hari ke-5 , ketika bayi menarik
napas dalam, tampak retraksi subkostal ringan, tekanan nadi
melebar, namun tidak ada peningkatan kebutuhan oksigen
dan tidak ada tanda klinis sianotic. Terdengar murmur yang
kontinu disepanjang perbatasan sternal kiri. Radiografi dada
menunjukkan kongesti vaskular paru.

ANALISA TRIGGER
Nama : seorang bayi
Umur : 6 hari
Lahir dari ibu primigrvida secara pervaginam pada
umur kehamilan 29 minggu (premature)
Kondisi membaik sejak lahir sampai hari ke 5
Namun pada hari ke 5 tampak ketika bayi menarik
nafas dalam tampak retraksi subkostal ringan, tekanan
nadi melebar tetapi tak ada peningkatan kebutuhan
oksigen dan sianosis
Terdengar murmur yang kontinu sepanjang sternal kiri
Radiografi dada menunjukkan kongesti vaskular paru

Diagnosa
Gangguan napas ringan atau
respiratory distress syndrome
Ditandai dengan adanya retraksi
ringan dan kongesti vaskular paru
yang mengakibatkan meningkatnya
kerja pernapasan

Penyebab gangguan napas


Obstruksi jalur napas
Atelektasis
Kebocoran udara
Pneumonia
efusi

Faktor predisposisi pada BBL


Paru bayi yang masih immatur
Depresi neonatal
Bayi dari ibu DM
Bayi lahir dengan operasi sesar
Bayi lahir dengan ketuban pecah
Bayi dengan kulit berwarna

Diagnosa banding
-Transient tachypnea of the
newborn(TTN)
-Persistent pulmonary hypertension in
newborn(PPHN)
-Pneumonia
-Sindroma aspirasi mekonium

Pemeriksaan penunjang
Analisis gas darah untuk menentukan
adanya gagal napas akut di tandai
dengan PaCO2 > 50 mmHg, PaO2 <
60 mmHg
Pemeriksaan radiologis untuk melihat
kelainan yang terjadi

Tatalaksana
Berikan Oksigen bila terjadi sesak nafas pada bayi
Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam
berikutnya
Bila dalam pengamatan gangguan napas
memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya
terapi untuk kemungkinan sepsis dan tangani
gangguan napas sedang atau berat
Berikan ASI bila bayi mampu menghisap, bila
tidak berikan asi peras
Kurangi pemberian oksigen secara bertahap bila
ada perbaikan gangguan napas.