Anda di halaman 1dari 5

SEMANGAT KEMERDEKAAN BARU,

MENUNTUT PERANAN KEMEPIMPINAN KAUM MUDA

Imam B. Prasodjo,
Sosiolog FISIP-UI, Direktur Yayasan Nurani Dunia

Setelah 63 tahun Republik Indonesia berdiri, semakin disadari bahwa proyek


membangun Indonesia bukanlah mudah. Menghidupkan the Indonesian Dream
memerlukan wawasan, kesungguhan, kreativitas, dan kesinambungan. Mimpi
membangun bangsa besar yang sejahtera mustahil dilakukan bila para pemimpinnya
memiliki visi kerdil, berfikiran pendek, dan kemampuan organisasi terbatas. Indonesia
sejahtera hanya mungkin lahir dari buah tangan para pemimpin besar yang mampu
menerjemahkan kompleksitas masalah ke dalam solusi yang memungkinkan
diselesaikan bersama. Besarnya kualitas pemimpin itu nampak pada buah pikiran dan
sepak terjang yang dilakukannya sejak mereka berusia muda.
Lihatlah apa yang telah dilakukan Sukarno. Terlepas setuju atau tidak terhadap
aliran politik yang diyakininya, di saat Sukarno berusia 25 tahun, buah fikiran
besarnya telah tampak di kepalanya. Dalam kumpulan tulisannya Dibawah Bendera
Revolusi (1963), Sukarno muda yang saat itu hidup dalam zaman penjajahan, tanpa
mengenal lelah menulis dengan bahasa berkobar-kobar, berupaya menggalang
persatuan rakyat untuk melepaskan belenggu penjajahan. Ia memberi landasan azas
perjuangan, mempertegas stategi, dan merinci taktik. Melalui goresan tangannya, ia
coba ramu ideologi-ideologi besar yang menjadi faham berbagai golongan yang hidup
subur saat itu., Ia coba persatukan fikiran para tokoh pergerakan untuk
menghantarkan sebuah semangat, mendirikan sebuah negeri bernama Indonesia.
Sementara Sukarno membakar api perjuangan di tanah air untuk membebaskan
penjajahan, di luar negeri Mohammad Hatta yang juga sama-sama berusia muda tak
kalah lantang menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Dalam salah satu pidatonya di
"Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan" di Gland, Swiss, 1927,
Hatta yang saat itu berusia 25 tahun, berceramah dengan judul L 'Indonesie et son
Probleme de I' Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan). Pada usia
semuda itu, Hatta bersama teman-temannya Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo,
dan Abdul Madjid Djojodiningrat berjuang merealisasikan apa yang terbaik untuk
bangsanya, dan berakibat pada hukuman penjara. Perjuangan semacam ini terus
meluas dilakukan oleh anak-anak muda Indonesia saat itu.
Dari hasil kerja panjang semacam ini, maka di bulan suci Ramadhan 17 Agustus
1945, Sukarno (44 tahun) dan Mohammad Hatta (43 tahun), atas nama bangsa
Indonesia, mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah
pun mencatat, Sukarno-Hatta saat itu tidak berjuang sendiri. Mereka dikelilingi oleh
para pejuang lain yang berusia relatif muda, seperti Mr.Supomo (42), Mr. Mohammad
Yamin (42 tahun), Tan Malaka (48), Mr. A.A. Maramis (48), Mr. Achmad Soebardjo
Djojoadisurjo (49), dan Abikoesno Tjokrosoejoso (48). Saat teks proklamasi
dibacakan, para pejuang lebih muda usia pun telah bermunculan seperti Mohammad
Natsir (37), Sutan Syahrir (36), Mr. Mohammad Roem (37 tahun), dan KH. Wahid
Hasyim (31 tahun). Praktis, masa-masa awal kemerdekaan, Indonesia hanya
menyisakan sedikit saja ruang bagi para tokoh yang tergolong lanjut usia seperti Ki
Hadjar Dewantara (56). H. Agus Salim (61 tahun), dan Dr. K.R.T. Radjiman
Wedyodiningrat (66). Praktis, Indonesia lahir karena semangat para emimpin yang

1
relatif muda usia. Ini membuktikan, perubahan radikal tak mungkin dilakukan tanpa
kehadiran kaum muda.
Selain usia muda, para tokoh saat itu juga memiliki kualitas berfikir yang
terhitung luar biasa, bahkan untuk ukuran saat ini. Walaupun hidup di alam
penjajahan, banyak dari mereka yang telah tamat kuliah, mendalami ilmu hukum,
teknik, kedokteran, dan ekonomi. Penguasaan mereka terhadap bahasa asing juga luar
biasa, bahkan tak sedikit yang menguasai lebih dari satu bahasa asing. Karena itu, tak
mengherankan bila mereka tidak saja lihai dalam berpidato dan berdebat, tetapi juga
piawai dalam menulis. Ini semua dimungkinkan karena mereka luas pengetahuannya
karena banyak membaca, banyak berdiskusi, dan kreatif dalam berfikir.
Saat ini kita masih bisa menyaksikan betapa kaya warisan pengetahuan mereka.
Rumah mereka selalu dilengkapi dengan perpustakaan pribadi, lengkap dengan buku-
buku penting di zamannya. Seluruh peninggalan para tokoh pejuang ini jelas
merupakan warisan yang tak ternilai harganya. Sayang pemerintah saat ini, terlihat
kurang menghargai warisan sejarah yang sangat berharga ini sehingga rumah mereka,
buku-buku dan tanda penghargaan peninggalan mereka, banyak yang tak terawat.
Bahkan banyak warisan itu yang terpaksa dijual oleh ahli warisnya untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Mungkin ini indikasi ketidak-fahaman pemerintah saat ini terhadap
nilai sejarah perjuangan.
Dengan kapasitas para pemimpin seperti inilah, Indonesia berdiri dan dibangun.
Dengan sepenuhnya meyadari betapa beragamnya masyarakat, para pendiri negeri
berketetapan untuk membangun Indonesia sebagai negara-bangsa modern (modern
nation state). Rekatnya semangat berbangsa dan bernegara, sejak awal dirancang atas
dasar kesamaan cita-cita yang tertuang pada konstitusi, bukan atas ikatan-ikatan
primordial, baik suku, agama, ras atau kedaerahan. Dalam rumusan pembukaan UUD
1945 disebutkan:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh
keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat
Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”

Kemudian, cita-cita luhur dirumuskan kalimat demi kalimat bahwa pembentukan


suatu Pemerintah Negara Indonesia tak lain dimaksudkan untuk merealisasikan cita-
cita kehidupan bersama, yakni:

“...melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah


Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial...”

Inilah the Indonesian Dream yang ingin diwujudkan. Inilah cita-cita yang menjadi
perekat mengapa kita setia dan sepakat bergabung dalam satu bangsa, satu
Pemerintahan Negara Indonesia.

***

Kini, 63 tahun sudah bangsa ini berjalan sejak Proklamasi Kemerdekaan 17


Agustus 1945. Di tahun 2008 ini, untuk kesekian kalinya kita sebagai bangsa perlu
kembali menengok kebelakang dan melakukan refleksi diri. Setiap kali dilakukan
perayaan kemerdekaan, kita selalu diingatkan untuk menyadari kembali bahwa bangsa

2
ini adalah bangsa yang terbangun dari hasil serangkaian interaksi panjang, lebih dari
ratusan suku, dengan keragaman ras dan bahasa berbeda, serta menempati wilayah tak
kurang dari 13.000 pulau yang merentang begitu luasnya. Indonesia bukanlah Korea
atau Jepang yang berupakan bangsa dengan komposisi penduduk relatif homogen, dan
tinggal dalam wilayah terkonsentrasi.
Kita juga harus selalu menyadari bahwa bangsa ini terbentuk sebagai hasil dialog
intens dari para tokoh dan warga kelompok agama-agama besar dunia—Islam,
Kristen, Hindu dan Budha—serta pertukaran budaya ratusan agama-agama lokal di
seluruh wilayah Nusantara. Karena itu, hidup dalam bagian Indonesia, diperlukan
software sosial yang mampu menumbuhkan sikap toleransi dan empati tinggi terhadap
kelompok berbeda, dalam satu spirit sesama bangsa. Hidup dalam kompleksitas sosial
yang semakin tinggi secara terus menerus menuntut adanya updating aturan-aturan
sosial-politik agar responsif terhadap perubahan. Indonesia tidak saja membutuhkan
manajemen inovatif yang rasional, tatapi juga memerlukan manajemen perubahan
(changed management) yang mampu mendorong dan beradaptasi terhadap dinamika
yang tumbuh dalam masyarakat.
Namun tak dapat dipungkiri, sejak anugrah kemerdekaan kita terima, nampaknya
bangsa ini telah banyak menyia-nyiakan modal sosial-politik yang telah dibangun.
Sejalan dengan proses menuanya usia para elit politik, perjalanan bangsa mengalami
nasib malang karena harus tersaruk oleh sentralisme politik sejak 1959 (Orde Lama),
dan disambung otoritarianisme panjang orde baru selama 32 tahun (1966-1998).
Sentralisme kekuasaan “demokrasi terpimpin” regim orde lama yang telah
menempatkan “politik sebagai panglima” secara jelas telah menghasilkan benturan-
benturan ideologis yang berakhir dengan pertumpahan darah yang begitu dashyat,
mengorbankan ratusan ribu nyawa rakyat. Derita ternyata berlanjut saat memasuki
pemerintahan Orde Baru yang menekankan pengelolaan negara malalui pembangunan
ekonomi terpusat yang dikawal senjata (lihat Bradly R. Simpson, Economists with
Guns, Standford: Stanford University Press, 2008). Orde baru secara nyata telah
memproduksi ketimpangan sosial-ekonomi yang tajam dan stagnasi kehiduoan
politik. Top-Down Development yang dicanangkan regim Suharto telah melindas
keragaman budaya dan inisiatif lokal. Derita akibat model pembangunan yang bersifat
otoritarian ini secara jelas disuarakan dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara di
Jakarta (15-22 Maret 1999):

Dengan berbagai kebijakan dan hukum yang dikeluarkan, negara secara


tidak adil dan tidak demokratis telah mengambil-alih hak asal usul, hak
atas wilayah adat, hak untuk menegakkan sistem nilai, ideologi dan adat
istiadat, hak ekonomi, dan yang paling utama adalah hak politik
masyarakat adat untuk mempertahankan dan mengembangkan
kebudayaanya yang khas. Perangkat-perangkat kebijakan dan hukum
yang memaksakan uniformitas dan bersifat hegemonistik ini diproduksi
dan digunakan secara sistematis untuk memperkuat dan
mempertahankan kedaulatan negara atas kedaulatan masyarakat adat.

Akibat semua ini, di akhir Orde Baru, kita pun saksikan bersama muncul beragam
ketegangan antar kelompok yang tidak saja berujung pada konflik-konflik vertikal
terbuka (rakyat melawan negara) tetapi juga konflk horizontal (konflik sesama rakyat)
(lihat AshutoshVasney et.al, Pattern of Collective Violence in Indonesia (1999-2003).
Jakarta: UNSFIR, 2004). Sejarah bangsa masih terus berlumur dengan darah.

3
***
Pada 17 Agustus 2008 ini, kita mensyukuri hadirnya era reformasi yang telah
menginjak hampir satu dasa warsa. Tak dapat dipungkiri, secercah harapan tumbuh.
Berbagai perubahan telah terjadi membuka jalan bagi perbaikan-perbaikan. Regim
otoritarian yang semula hidup di atas sistem politik korup, kini telah dicoba diperbaiki
dengan penerapkan sistem pemilu dan pilkada langsung yang lebih demokratis.
Birokrasi militer dan sipil yang semula menjadi perpanjangan kekuasaan, kini telah
dicoba diamputasi sehingga perananan mereka dalam politik diharapkan netral.
Sentralisme kekuasaan yang berakibat pada jauh negara terhadap rakyat, kini dicoba
diperbaiki dengan menerapkan kebijakan otonomi daerah. Model pembangunan
sentralistis yang menindas, kini secara bertahap dicoba digantikan oleh model
pembangunan partisipatif. Dan yang paling terasakan faedahnya, pers yang semula
terbelenggu, kini secara nyata telah berubah menjadi pers bebas, tak lagi dikontrol
ketat oleh pemerintah.
Namun harus diakui pula, berbagai perubahan ini tak serta membawa
kehidupan lebih baik bagi rakyat banyak. The Indonesian Dream tidak dapat begitu
saja terbangun. Pasca reformasi, Indonesia ternyata harus menanggung beban hutang
politik yang cukup besar akibat banyak kasus pelanggaran HAM yang telah
dilakukan. Sementara itu, sejak reformasi terjadi dan silih bergantinya pemerintah,
angka kemiskinan tetap saja tinggi (16-17%), dan demikian juga tingkat
pengangguran (9-10%). Masalah sosia juga belum tampak membaik, terlihat dengan
semakin melebarnya ketimpangan ekonomi (Gini rasio 0.29, 0.32, 0.32, 0.37, dan
0,35, berturut-turut pada 2002, 2003, 2004, 2005, dan 2006). Sementara itu, dunia
pendidikan kita juga belum menggembirakan. Masih banyak gedung sekolah yang
ambruk, guru yang langka, dan terbatasnya buku. Dalam survey the Organization for
Economic Cooperation and Development, Paris (2003), kualitas kemampuan pelajar
Indonesia terdeteksi menempati posisi terendah sejajar dengan pelajar Tunisia, Brazil
dan Mexico. Kemampuan di bidang matematika, sains, membaca dan menyelesaikan
masalah, tertinggal jauh dari para pelajar Finlandia, Korea Selatan, Hongkong, dan
Jepang yang menempati posisi teratas di dunia. Di bidang kesehatan, Indonesia juga
masih terpuruk, bahkan dibanding dengan kondisi kesehatan negara-negara tetangga
yang masih dalam kategori negara berkembang. Pada 2000-2005, angka kematian
bayi di Indonesia masih tergoling tinggi, yaitu adalah 43,0 kematian pada tiap 1,000
kelahiran—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan keadaan di Malaysia (10,0),
Thailand (20,0), Philipina (28,0), dan bahkan Vietnam (30,0). Jelas, Indonesia kini,
masih tersaruk-saruk dengan beragam masalah. Masalah lama belum terselesaikan,
masalah baru muncul, termasuk krisis lingkungan, energi, dan krisis pangan.
Untuk mengatasi semua tantangan ini, Indonesia jelas memerlukan kerja
kolektif. Akankah Pemilu 2009 membawa perubahan? Mungkin, kini saatnya kita
menyambut kedatangan pemimpin-pemimpin muda visioner yang inspiratif yang
mampu bekerjasama secara kolektif. Bila kita menginginkan perubahan substansial,
kita tidak dapat lagi sepenuhnya menggantungkan nasib bangsa ini kepada para tokoh
yang telah terlalu lama malang melintang, tak mampu melakukan perubahan. Kita
perlu evaluasi serius peran para tokoh yang diperkirakan masih akan berupaya
muncul menguasai panggung politik nasional saat ini, termasuk SBY yang kini telah
memasuki usia mendekati 60 tahun, atau juga Megawati (61), Wiranto (61), Sutiyoso
(64), Akbar Tanjung (63), dan Abdurrahman Wahid (68). Kita merindukan masuknya
bursa calon-calon pemimpin muda berusia 40an, sebagaimana dulu usia Sukarno,
Hatta, Sjahrir. Natsir dan kawan-kawannya saat mulai berkiprah menduduki
pemerintahan di awal kemerdekaan. Hanya saja perlu disadari, peran kaum muda

4
tidak harus terpaku pada perebutan jabatan-jabatan pemerintahan belaka. Peran
dominan kaum muda harus menyebar di semua lini, baik dalam dunia politik, bisnis,
budaya dan sosial.
Dengan semangat mendorongan kaum muda Indonesia untuk mengambil
peran lebih besar di semua lini kehidupan berbangsa, kita berharap agar peringatan
kemerdekaan tahun ini akan membawa angin segar bagi upaya-upaya baru dalam
merealisasikan the Indonesian Dream. Semoga!***