Anda di halaman 1dari 8

POTENSI TELUK PALU SEBAGAI KAWASAN WISATA

Oleh:
NADHIA MAHARANY SIARA 135060601111003

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

POTENSI TELUK PALU SEBAGAI KAWASAN WISATA


Nadhia Maharany Siara
Abstrak
Tulisan ini membahas tentang potensi Teluk Palu sebagai kawasan wisata.
Wisata Teluk Palu dengan potensi sumber daya alam dan buatan yang tinggi
menjadikannya semakin terkenal. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan
pengetahuan tentang potensi wisata Teluk Palu. Diharapkan dengan adanya
tulisan ini dapat menjadi acuan atau referensi oleh pengambil kebijakan
(pemerintah) untuk pengembangan potensi kawasan wisata Teluk Palu . Hasil
studi menunjukan dengan adanya wisata Teluk Palu berdampak pada
peningkatan ekonomi masyarakat karena wisata Teluk Palu menjadi kawasan
perdagangan dan jasa, juga memberdayakan masyarakat sekitar tanpa
melupakan kearifan local, selain itu juga wisata Teluk Palu telah menjadi
public space dan hasil studi menunjukan bahwa Teluk Palu sangat berpotensi
untuk menjadi kawasan wisata.
Kata kunci: Teluk Palu, Kota Palu, Potensi Wisata
PENDAHULUAN
Kota Palu merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik Kota Palu luas wilayah Kota Palu sebesar 395,06
km 2

(Bappeda & PM Kota Palu, 2010). Kota Palu yang menjadi pusat

kegiatan pemerintahan dan perekonomian menjadikan Kota Palu sebagai


kota yang paling maju di Sulawesi Tengah. Kota Palu juga memiliki potensi
wisata yang cukup tinggi karena Kota Palu memiliki landscape yang unik.
Kota Palu dibelah aliran sungai yang mengalir dari arah selatan sedangkan di
sisi barat dan timur merupakan pengunungan indah yang ceruk lonjongnya
ke arah utara membentuk garis pesisir teluk yang menawan. Dimensi
gunung, sungai, laut dan pesisir teluk membuat kota ini dijuluki dengan
empat dimensi.
Terdapat garis pantai yang panjang di Kota Palu, di sepanjang garis
pantai ini terdapat wilayah pesisir yang merupakan daerah pertemuan antar
laut dan darat sehingga memiliki potensi sumber daya alam dan buatan
yang besar. Kawasan wisata Teluk Palu merupakan kawasan wisata bahari
yang memiliki panorama indah. Kawasan wisata ini cocok untuk olahraga

selancar angin, ski air dan sebagainya. Di pantai ini juga pengunjung dapat
menikmati terbenamnya matahari di antara Gunung Talise dan menyaksikan
para nelayan menjala ikan. Pada malam hari kawasan wisata ini banyak
dikunjungi masyarakat untuk menikmati makanan dan minuman khas Kota
Palu.

Adanya potensi wisata Teluk Palu memberikan pengaruh

terhadap

masyarakat sekitar, khususnya di bidang ekonomi. Masyarakat menjadi


terberdayakan dengan adanya wisata Teluk Palu ini.
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi wisata Teluk Palu. Diharapkan
dengan adanya tulisan ini dapat menjadi acuan atau referensi oleh
pengambil kebijakan (pemerintah) untuk pengembangan potensi kawasan
wisata

Teluk

Palu.

PEMBAHASAN
Profil Teluk Palu
Teluk Palu memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan

sebagai

tempat wisata. Secara administrasi daerah pantai Teluk Palu dipisahkan oleh
dua wilayah administrasi yaitu Kabupaten Donggala memanjang mulai dari
Kelurahan Loli sampai Desa Tanjung Karang, kemudian mulai dari Desa Wani
hingga sampai Desa Toaya. Sementara wilayah Kota Palu mulai dari
Kelurahan Watusampu sampai Kelurahan Pantoloan. .
Kawasan Teluk Palu terletak antara 03.13 00.51 lintang selatan dan
antar 119.34 120.10 bujur timur. Sementara luas daratan kawasan Teluk
Palu 2.158,62

km 2

Donggala 1.763,56

ditambah luas dari empat kecamatan

di Kabupaten

km 2 . Kawasan darat Teluk Palu terdiri dari tujuh

kecamatan yaitu Kecamatan Palu Utara, Kecamatan Mantikulore, Kecamatan


Palu Timur, Kecamatan Palu Barat sedangkan untuk Kabupaten Donggala
yaitu Kecamatan Banawa, Kecamatan Sindue, Kecamatan Tantovea dan
Kecamatan Tawaili yang terdapat di 24 kelurahan atau desa (Ansar, 2011).

Potensi Wisata Teluk Palu


Kawasan teluk merupakan salah satu andalan wisata di Kota Palu. Hal ini
disebabkan

keindahan pemandangan alamnya,

Jika berada di kawasan

tersebut, kita dapat dengan leluasa menikmati pemandangan gunung,


sungai, teluk dan laut, tanpa halangan apapun.
Hal ini ditunjang oleh berbagai sarana dan prasarana di sekitarnya yakni
berupa jalan lingkar pantai Teluk Palu yang diresmikan pada tahun 2006,
juga terdapat Jembatan Palu IV, yang berfungsi untuk melengkapi Jembatan
Palu I, II, dan III yang sebelumnya telah dibangun.

Adanya beberapa

jembatan di Kota Palu inilah yang menghubungan antara Kecamatan Palu


Barat dengan kecamatan lainnya. Selain itu beberapa kawasan perhotelan
juga banyak dibangun di sekitar wilayah teluk ini, termasuk pusat
perbelanjaan Palu Grand Mall. Hal lain yang juga turut meramaikan kawasan
teluk ini adalah adanya pedagang yang berjualan di sekitarnya dengan
berbagai aneka makanan tradisional khas Kota Palu. Saat ini di kawasan ini
telah dibangun Anjungan Pantai Talise sebagai salah satu public space di
Kota Palu dan terus dilakukan penataannya. Anjungan Pantai Talise ini
banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Palu untuk berolahraga pada
hari minggu dan hari libur lainnya.

Penataan kawasan ini dilakukan

sedemikian rupa sehingga masyarakat dapat leluasa memanfaatkannya


serta dapat berinteraksi satu sama lain.

Itulah salah satu tujuan ruang

publik, sebagaimana dikemukakan oleh Kusumawijaya (2006) bahwa ruang


publik dapat berupa taman, tempat bermain, jalan, atau ruang terbuka.
Ruang publik kemudian didefinisikan

sebagai ruang atau lahan umum,

dimana masyarakat dapat melakukan kegiatan

publik fungsional maupun

kegiatan sampingan lainnya yang dapat mengikat suatu

komunitas, baik

melalui kegiatan sehari-hari atau kegiatan berkala.


Selain itu pada waktu tertentu di kawasan ini sering diadakan berbagai
event lokal seperti konser, Festival Teluk Palu, reuni akbar dan lain
sebagainya, bahkan event berskala nasional seperti pada tanggal 13
Desember

2013

nanti

yakni

Hari

Nusantara

2013

(http://www.dkp.sulteng.go.id/v2/index.php?
option=com_content&view=article&id=194:hari-nusantara-2013-dipusatkandi-pantai-talise&catid=3:sekretariat&Itemid=64 diakses pada 21 Oktober
2013).
Kawasan wisata Teluk Palu khususnya di koridor Jl. Yos Sudarso juga
dicanangkan menjadi titik pusat perhatian pengamat (point of interest)
terutama dari arah luar kota. Kawasan ini pula dapat dijadikan sebagai pintu
gerbang (welcome street) yang menuju pusat kota (Amar, 2006).
Wisata Teluk Palu sebagai Peningkat Ekonomi Masyarakat
Wisata Teluk Palu juga memberikan pengaruh terhadap aspek ekonomi
masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Sebelum wisata Teluk Palu ini
berkembang pesat ekonomi masyarakat di sekitarnya masih tergolong
rendah. Berikut tabel besaran pendapatan rata-rata sebelum dan sesudah
pembangunan

Jalan

Lingkar

Pantai

Teluk

Palu

Tabel 1 Besaran Pendapatan Rata-rata Sebelum & Sesudah Pembangunan


Jalan Lingkar Pantai Teluk Palu (JLPTP)

(JLPTP)

(Sumber Abu, 2011)

Terlihat dari tabel di atas bahwa total rata-rata pendapatan masyarakat


sebelum

dibangun

JLPTP

meningkat

dari

Rp.

979.000,71

menjadi

Rp.1.287.000,75. Dapat disimpulkan bahwa Wisata Teluk Palu meningkatkan


ekonomi

masyarakat.

Selain

itu

kawasan

wisata

Teluk

Palu

juga

menggunakan konsep community based ecotourism.


Konsep Community Based Ecotourism di Wisata Teluk Palu
Konsep

community

based

ecotourism

atau

ekowisata

berbasis

masyarakat
merupakan pengembangan wisata dengan melibatkan dan menempatkan
masyarakat lokal sebagai pemegang kendali dalam manajemen dan
pengembangannya sehingga memberikan kontribusi terhadap masyarakat
berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan keberlanjutan
budaya lokal (Untari, 2009).

Wisata Teluk Palu dikelola sendiri oleh masyarakat sekitarnya. Hal ini
ditunjukan dengan adanya pedaganng yang berjualan atau membuka kafe
yang telah ditata oleh pemerintah di sepanjang garis pantai Teluk Palu. Inilah
yang menyebabkan kesejahteraan masyarakat lokal meningkat.
Selain menggunakan konsep ekowisata berbasis masyarakat dalam
pengembangan wisata teluk kita tetap harus memperhatikan aspek kearifan
masyarakat lokal setempat sehingga kawasan wisata ini teap memiliki ciri
khas yang dapat membedakannya dengan kawasan wisata lain. Seperti
pengertian kearifan lokal secara umum maka local wisdom (kearifan lokal)
dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat
bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh
anggota masyarakatnya (Sartini, 2004).
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil studi tulisan ini menunjukan bahwa Teluk Palu
sangat

berpotensi

untuk

menjadi

kawasan

wisata.

Terlihat

dengan

banyaknya potensi seperti ruang publik (Anjungan Pantai Talise), kafe


makanan dan minuman khas Kota Palu di sekitranya dan Jalan Lingkar Pantai
Teluk Palu. Selain itu, Teluk Palu juga menggunakan konsep Ecotourism
Based Ecotourism tanpa mengurangi sedikitpun esensi kearifan lokal
membuat Teluk Palu membuat Teluk Palu menjadi kawasan wisata yang
lengkap.
Saran
Untuk penelitian selanjutnya dengan tema yang hampir sama, penulis
mengharapkan peneliti selanjutnya dapat menjelaskan pengaruh sosial dan
budaya wisata Teluk Palu terhadap masyarakat sekitar.
DAFTAR PUSTAKA

Abu, Asnah. 2011. Pengaruh Jalan Lingkar Pantai Teluk Palu Terhadap
Peningkatan

Pendapatan

Masyarakat

Kelurahan

Lere.

Jurnal

Infrastruktur. II (1): 56-64.


Amar, 2006. Studi Pengembangan Kawasan Talise Koridor JL. Yos Sudarso
Kota Palu. Jurnal SMARTek. IV(2).
Ansar, 2011. Menuju Kebijakan Pengelolaan Teluk Palu yang Harmonis. Media
Litbang Sulteng. IV (2): 142 148.
Kusumawijaya,

Marco.

2004.

Kota

Rumah

Kita.

Borneo

Publications.

Tunggang Langgang Jakarta. Indonesia.


Sartini. 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati.
Jurnal Filsafat, XXXVII(2).
Tim Penyusun Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dan Penanaman
Modal. 2010. Kota Palu dalam Angka 2010. Bepedda & PM. Palu.
Indonesia.
Untari, Rini. 2009. Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di
Zona Wisata Bogor Barat Kabupaten Bogor. Tesis. Tidak diplubikasikan.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
http://www.dkp.sulteng.go.id/v2/index.php?
option=com_content&view=article&id=194:hari-nusantara-2013dipusatkan-di-pantai-talise&catid=3:sekretariat&Itemid=64
pada 21 Oktober 2013).

(diakses