Anda di halaman 1dari 11

Fraktur Terbuka Tibia

i.

Pendahuluan
Membahas tentang fraktur terbuka pada regio cruris 1/3 dextra tengah yang di alami
seorang laki-laki berusia 30 tahun. Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang
memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. selain mencegah
infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak.
beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu
operasi yang dilakukan dengan segera, secara hati-hati, debrideman yang berulang-ulang,
stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik
yang adekuat.

ii.

Skenario
Seorang laki laki berusia 30 tahun dibawa ke UGD RS dengan keluhan luka terbuka pada
kaki kanannya setelah mengalami kecelakaan sepeda motor 1 jam yang lalu. Menurut warga, saat
sedang mengendarai sepeda motornya, pasien tersebut ditabrak oleh mobil yang melaju dari arah
kanan, lalu pasien terlempar dari sepeda motornya dan sempat terguling beberapa meter. Saat
mengendarai sepeda motornya, pasien menggunakan helm

iii.

Rumusan Masalah
Laki-laki berusia 30 tahun dengan keluhan luka terbuka pada kaki kanannya setelah
mengalami kecelakaan sepeda motor 1 jam yang lalu.

iv.

Analisis Masalah
Mind map

Medika
non
Medika
Penatalaksanaan
mentosa
mentosaKomplikasi

Penunjang
FisikPemeriksaan

Prognosis

Anamnesis

Pencegahan

Laki-laki berusia 30 tahun


dengan keluhan luka
terbuka pada kaki
kanannya

Working Diagnosis
Fraktur Terbuka Tibia Dextra

1
3

tengah bagian ventral

Manifestasi klinik

Pembahasan

Patofisiologi
Epidemiologi

Etiologi

Anamnesis
Dalam anamnesis hal pertama yang perlu ditanyakan kepada pasien adalah mengenai
identitas pasien (tanyakan nama lengkap dan cocokkan dengan tabel nama, tanyakan tanggal
lahir atau umur, jenis kelamin, nama orang tua atau suami atau istri atau penanggung jawab,
pendidikan, pekerjaan, alamat, suku bangsa dan agama) dan pastikan bahwa setiap rekam
medis, catatan, hasil tes, dan sebagainya memang milik pasien tersebut. Tahap berikutnya
adalah anamnesis keluhan utama. Anamnesis keluhan utama biasanya memberikan informasi
terpenting untuk mencapai diagnosis banding, dan memberikan wawasan vital mengenai
gambaran keluhan yang menurut pasien paling penting.1
Riwayat penyakit sekarang juga sangat penting untuk ditanyakan kepada pasien.
Riwayat penyakit sekarang merupakan cerita yang kronologis yang berkaitan dengan keadaan
kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat. Anamnesis
2

selanjutnya mengenai riwayat penyakit dahulu, obat dan alergi. Anamnesis bagian ini
memberikan kita informasi mengenai semua masalah medis yang pernah timbul sebelumnya
dan terapi yang pernah diberikan terhadap pasien, obat apa yang sedang atau sudah
dikonsumsi pasien, apakah pasien alergi terhadap sesuatu, dan apakah pasien merokok
ataupun mengkonsumsi alkohol. Setelah itu, seorang dokter juga penting untuk menanyakan
riwayat pribadi pasien yang mencakup data-data sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebiasaan.
Selain riwayat pribadi, riwayat keluarga dan sosial serta riwayat bepergian juga sangat
penting untuk ditanyakan kepada pasien. Anamnesis ini membuat kita mendapat informasi
mengenai penyakit apa saja yang pernah diderita oleh kerabat pasien, latar belakang pasien
serta pengaruh penyakit yang mereka derita terhadap hidup dan keluarga mereka.1
Identitas

: Seorang laki-laki umur 30 tahun

Keluhan utama

: Fraktur terbuka pada region cruris dextra 1/3 tengah bagian ventral

Pemeriksaan fisik
pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis untuk menghindari kesalahan.
Jika mungkin, gunakan rungan yang cukup luas sehingga pasien dapat bergerak bebas saat
pemeriksaan gerakan atau berjalan. Tehnik inspeksi dan palpasi di lakukan untuk
mengevaluasi integritas tulang, postur tubuh, fungsi sendi, kekuatan otot, cara berjalan dan
kemampuan pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Dasar pengkajian bergantung pada
keluhan fisik pasien dan riwayat kesehatan dan semua petunjuk fisik yang ditemukan.
Pemeriksaan harus melakukan eksplorasi lebih lanjut. Hasil pemeriksaan fisik harus
didokumentasikan dengan cermat. Hal-hal yang perlu dikaji pada skelet tubuh yaitu adanya
deformitas dan ketidakkesejajaran yang dapat disebabkan oleh penyakit sendi pertumbuhan
tulang abnormal, hal ini dapat disebabkan oleh adanya tumor tulang, pemendekan
ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak sejajar secara anatomis. Angulasi
abnormal pada tulang panjang, gerakan pada titik bukan sendi, teraba krepitasi pada titik
gerakan abnormal menunjukan ada nya patah tulang. 2
Pemeriksaan penunjang
Sinar-X

Pemeriksaan sinar-X penting untuk mengevaluasi kelainan musculoskeletal. Sinar-X


menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, erosi dan perubahan hubungan tulang. Sinar-X
multiple di perlukan untuk pengkajian paripurna struktur yang sedang diperiksa. Sinar-X
korteks tulang dapat menunjukan adanya pelebaran, penyempitan dan tanda iregularitas.
Sinar-X sendi dapat menunjukan adanya cairan, iregularitas, penyempitan dan perubahan
struktur sendi. Pemeriksaan sinar-X tulang tidak memerlukan persiapan khusus bagi pasien. 2
CT Scan
Computed tomography (CT scan) merupakan prosedur yang menunjukan rincian
bidang tertentu dari tulang yang sakit dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau
cedera ligament atau tendon. Pemeriksaan ini di gunakan untuk mengidentifikasi fikasi lokasi
dan panjangnya patah tulang di daerah yang sulit di evaluasi misalnya asetabulum.
Pemeriksaan dilakukan dengan atau tanpa zat kontras dan berlangsung sekitar 1 jam. Pasien
perlu diberikan penjelasan bahwa akan terdengar suara mesin CT scan, dan bunyi ini tidak
berbahaya sehingga pasien tidak merasa takut saat pemeriksaan dilakukan. 2
MRI
Magnetic resonance imaging (MRI) adalah teknik pencitraan khusus yang noninvasif, menggunakan medan magnet, gelombang radio dan computer untuk melihat
abnormalitas berupa tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak, seperti otot, tendon dan
tulang rawan. Oleh karena yang di gunakan electromagnet, pasien yang mengenakan implant
logam, brace atau pacemaker tidak dapat menjalanin pemeriksaan ini. Perhiasan harus di
lepas, pasien yang menderita klaustrofobia biasanya tidak mampu menghadapi rungan
tertutup pada peralatan MRI tanpa penerangan.2
Penyebab fraktur tulang
penyebab fraktur tulang yang paling sering adalah trauma, terutama pada anak-anak
dan dewasa. Jatuh dan cedera olahraga adalah penyebab umum fraktur traumatic. Pada anak,
penganiayaan harus dipertimbangkan ketika mengevaluasi fraktur, terutama apabila terdapat
riwayat fraktur sebelumnya atau apabila riwayat fraktur saat ini tidak meyakinkan. Beberapa
fraktur dapat terjadi setelah trauma minimal atau tekanan ringan apabila tulang lemah. Hal ini
disebut fraktur patologis. Porosis atau individu yang mengalami tumor tulang, infeksi atau
penyakit lain. Fraktur stress dapat terjadi pada tulang normal akibat stress tingkat rendah
yang berkepanjangan atau berulang. Fraktur stress yang juga disebut fraktur keletihan
4

(fatigue fracture), biasanya menyertai peningkatan yang cepat tingkat latihan atlet atau
permulaan aktivitas fisik yang baru. Karena kekuatan otot meningkat lebih cepat dari pada
kekuatan tulang, individu dapat merasa mampu melakukan aktivitas melebihi tigkat
sebelumnya walaupun tulang mungkin tidak mampu menunjang peningkatan tekanan. 3
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan.
Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau
miring. Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang

jauh dari

tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam
jalur hantaran vektor kekerasan. Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi,
kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari
ketiganya, dan penarikan. 3
Patofisiolgi
ketika tulang patah, sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat
tulang yang patah dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut. Jaringan lunak
biasanya mengalami kerusakan akibat cedera. Reaksi inflamasi iang intens terjadi setelah
patah tulang. Sel darah putih dan sel mast berakumulasi sehingga menyebabkan peningkatan
aliran darah ke area tersebut. Fagositosis dan pembersihan debris sel mati di mulai. Bekuan
fibrin (hematoma fraktur) terbentuk di tempat patah dan berfungsi sebagai jala untuk
melekatnya sel-sel baru. Aktivitas osteoblas segera terstimulasi dan bentuk tulang baru
imatur, yang disebut kalkus. Bekuan fibrin segera di reabsorbsi dan sel tulang baru secara
perlahan mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan
kalus dan secara perlahan mengalami klasifikasi. Penyembuhan memerlukan waktu beberapa
minggu sampai beberapa bulan (fraktur pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat
terganggu atau terlambat apabila hematoma fraktur atau kalus rusak sebelum tulang sejati
terbentuk, atau apabila sel tulang baru rusak selama kalsifikasi dan pengerasan. 3
komplikasi yang dapat terjadi seperti delayed union atau mal-union tulang dapat
terjadi yang menimbulkan deformitas atau hilangnya fungsi. Sindrom kompartemen dapat
terjadi di tandai oleh kerusakan atau destruksi saraf dan pembuluh darah yang disebabkan
oleh pembengkakan dan edema fraktur. Dengan pembengkakan interstisial dan yang itens,
tekanan pada pembuluh darah yang menyuplai daerah tersebut dapat menyebabkan pembuluh
darah tersebut kolaps. Hal ini menimbulkan hipoksia jaringan dan dapat menyebabkan
5

kematian saraf yang mempesarafi daerah tersebut, embolus lemak dapat timbul setelah patah
tulang, terutama tulang panjang. Emboli lemak dapat timbul akibat pajanan sumsunm tulang
atau dapat terjadi akibat aktivitas sistem saraf simpatis yang menimbulkan stimulasi
mobilisasi asam lemak bebas setelah trauma. Embolus lemak yang timbul setelah patah
tulang panjang sering tersangkut di sirkulasi paru dan dapat menimbulkan gawat napas dan
gagal napas.3
Jenis fraktur
Fraktur dapat dibagi menjadi dua macam yaitu, fraktur tertutup ( closed ), bila tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan hubungan dunia luar dan fraktur terbuka
( Open / Compound ), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena
adanya perlukaan dikulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat yaitu derajat I, Luka < 1
cm, Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk, Fraktur sederhana,
tranversal, oblik, atau kominutif ringan, Kontaminasi minimal. Derajat II, Laserasi > 1 cm,
Kerousakan jaringan lunak, tidak luas, fraktur kominutif sedang, kontaminasi sedang
sedangkan derajat III, terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot
dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur komplet patah pada seluruh garis
tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. Fraktur tidak komplet patah hanya pada
sebagian dari garis tengah tulang. Fraktur tertutup fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya
kulit. Fraktur terbuka fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke
patahan tulang.4
1) Greenstick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya
membengkok.
2) Tranversal : Fraktur sepanjang garis tengah tulang.
3) Oblik : Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang.
4) Spiral : Fraktur memuntir seputar batang tulang
5) Kominutif : Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
6) Depresi : Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam

7) Kompresi : Fraktur dimana tulang mengalami kompresi


8) Patologik : Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit
9) Avulsi : Tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendon pada perlekatannya
10) Epifiseal : Fraktur melalui epifisis
11) Impaksi : Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

Fraktur tibia
tibia terpapar terhadap banyak jenis trauma kendaraan, industry, dan atletik. Karena
permukaan anterior tibia terletak subkutis diseluruh panjangnya, maka fraktur tibia sering
merupakan cedera terbuka. Juga karena lokasinya subkutis, maka suplai darah ke tibia kurang
dari pada untuk tulang lain, serta infeksi dan penyatuan tertunda dan non-union lebih lazim
ditemukan. Untuk fraktur korpus tibia yang tertutup, reduksi dicapai secara manual di bawah
anestesi umum atau spinalis serta imobilisasi yang diberikan oleh gips tungkai yang panjang.
Fluoroskopi membantu tercapainya reduksi. Reposisi bertujuan mendapatkan kembali
panjang serta mengoreksi keselarasan rotasi dan sudut. Dengan reduksi memuaskan, maka
memikul berat badan dapat di mulai dalam 3-4 minggu atau bila ada kalus fraktur yang
adekua. Penyembuhan padat bisa timbul dini 12 sampai 14 minggu pada pasien muda, tetapi
penyatuan sampai 6 bulan tidak jarang ditemukan. Untuk fraktur korpus tibia terbuka,
debridement segera, irigasi dan antibiotika diperlukan. Penutupan luka primer biasanya tidak
diindikasikan. Kehilangan kulit tidak jarang ditemukan pada pada trauma keras, serta
penutupan tertunda dengan graft sebagian ketebalan kulit, graft seluruh ketebalan kulit atau
flap otot rotasi mungkin di perlukan. Kebutuhan untuk perawatan luka ini bisa membuat
penatalaksanaan gips sulit di lakukan. Fiksasi dapat dicapai dengan pin rangka transversa di
atas dan di bawah fraktur yang diletakan ke rangka luar yang memungkinkan jalan ke luka.
fiksasi bedah pada fraktur tibia diindikasikan bila reduksi adekuat tidak dapat dicapai atau
dipertahankan dengan metode tertutup dan bila perawatan pasien keseluruhan akan
dipermudah dengan ambulasi dini. Plat dan batang intramedulla telah digunakan untuk fiksasi
interna. Intervasi bedah untuk fraktur tertutup memberikan resiko infeksi dan harus di
7

pertimbangkan terhadap resiko terapi tertutup. Karena pasien fraktur tibia dapat dimobilisasi
segera menggunakan tongkat ketiak, maka intervensi bedah kurang direkomendasikan.5
Penatalaksanaan

Untuk fraktur lengan atau tungkai, tindakan kedaruratan terdiri atas pembidaian
anggota gerak diatas dan di bawah bagian yang dicurigai mengalami fraktur, pembidaian ini
bertujuan untuk imobilisasi, kompres dingin untuk mengurangi rasa nyeri dan edema, elevasi
anggota gerak tersebut untuk megurangi rasa nyeri dan edema, penanganan fraktur berat yang
menyebabkan kehilangan darah meliputi, penekanan langsung untuk mengendalikan
pendarahan, penggantian cairan dengan memasanginfus secepat mungkin untuk mencegah
atau mengatasi syok hipovoemik. Sesudah memastikan diagnosi fraktur, penanganan dimulai
dengan reposisi. Reposisi tertutup meliputi, manipulasi manual, anestesi lokal (lidokain
[xylocaine]), obat analgenik (seperti penyuntikan morfin IM), obat relaksan otot (seperti
diazepam [valium] IV ) atau sedatif (seperti midazolam [versed]) untuk memudahkan
perengangan otot yang diperlukan untuk meuruskan tulang yang patah, kalau raposis tertutup
tudak memungkinkan dikerjakan maka tindaka reposisi terbuka dengan pembedahan
meliputi, imobilisasi fraktur dengan bantuan paku, plat atau skup dan pemasangan gips,
terapi profilaksis tetanus,terapi profilaksis antibiotic, pembedahan untuk memperbaiki
kerusakan pada jaringan lunak, pembersihan atau debridemen luka secara cermat, fisioterapi
sesudah gips dilepas untuk memulihkan mobilitas anggota gerak, kalau pemasangan bidai
tidak berhasil mempertahankan reposisi maka kita dapat melakukan imobilisasi yang
memerlukan traksi kulit atau skeletal dengan menggunakan beban dan katrol. Tindakan ini
dapat meliputi, pemasangan pembalut elastis dan tutup kulit domba untuk memasang alat
traksi kulit pasien (traksi kulit), pemasangan pen atau kawat pada ujng tulang di sebelah
distal fraktur yang kemudian disambung dengan beban untuk memungkinkan traksi dalam
waktu lama ( traksi skeletal). Pertimbangan khusus awasi timbulnya tanda-tand syok pada
pasien fraktur terbuka tulang panjang yang parah, seperti fraktur terbuka femur, pantau tandatanda vital dan waspadai khususnya denyut nadi yang cepat, tekanan darah yang memurun,
pasien yang tampak pucat, serta kulit yang teraba dingin dan basah. Semua gejala ini dapat
menunjukan bahwa pasien berada dalam keadaan syok, beri infus cairan, tenteramkan
kekhawatiran pasien yang mungkin merasa takut dan nyeri, redakan rasa nyeri dengan obat
analgetik jika diperlukan, bantu pasien menetapkan tujuan pemulihan yang realistis. Jika
8

fraktur tersebut memerukan imobilisasi yang lama dengan pemasangan traksi, atur kembali
posisi tubuh pasien dengan sering untuk meningkatkan kenyamannanya dan mencegah
dekubitus. Bantu pasien melakukan latihan otot untuk mencegah atrofi. Dorong pasien agar
mau bernafas dalam dan batuk untuk menghindari peneumonia hipostatik. Anjurkan pasien
agar mau minum dengan cukup untuk mencegah stasis urine dan konstipasi. Awasi
kemungkinan timbul tanda-tandan batu ginjal (sakit pinggang, mual dan muntah). Lakukan
perawatan gips yang baik dan sangga anggota gerak yang di gips itu dengan bantal, dorong
dan bantu pasien untuk secapat mungkin mulai bergerak menurut kemampuanya, sesudah
gips dibuka, rujuk pasien kepada petugas fisioterapi untuk memuihkan mobilitas anggota
gerakan.6

Komplikasi Dini

Komplikasi dini berupa Compartment syndrome, terutama terjadi pada fraktur


proksimal tibia tertutup. Komplikasi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan
gangguan vaskularisasi tungkai bawah yang dapat mengancam kelangsungan hidup tungkai
bawah. Yang paling sering terjadi yaitu anterior compartment syndrome.
Penanganannya dalam waktu kurang dari 12 jam harus dilakukan fasiotomi.

Komplikasi Lanjut
1. Malunion:
Biasanya terjadi pada fraktur yang komunitif sedang imobilisasinya longgar, sehingga
terjadi angulasi dan rotasi. Untuk memperbaikinya perlu dilakukan osteotomi.
2. Delayed union:
Terutama terjadi pada fraktur terbuka yang diikuti dengan infeksi atau pada fraktur
yang komunitif. Hal ini dapat diatasi dengan operasi tandur alih tulang spongiosa.
9

3. Non union:
Disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang tibia disertai dengan infeksi. Hal
ini dapat diatasi dengan melakukan bone grafting menurut cara Papineau.
4. Kekakuan sendi:
Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang terlalu lama. Pada persendian kaki
dan jari-jari biasanya terjadi hambatan gerak. Hal ini dapat diatasi dengan fisioterapi.
Prognosis
Prognosis dari fraktur region cruris untuk kehidupan adalah baik. Pada sisi fungsi dari
kaki yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke perfoma semula,namun hal ini sangat
tergantung dari gambaran frakturnya, macam terapi yang dipilih, dan bagaimana respon tubuh
terhadap pengobatan.

Kesimpulan
Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia yang bisa
disebabkan oleh benturan keras oleh kecelakaan. Fraktur terbuka pada tibia termasuk luka
kompleks, sehingga tentunya penanganannya juga tidak sederhana. Sebagai dokter umum,
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap diperlukan jika terjadi fraktur. Selain itu,
pemeriksaan radiologis juga penting .Penatalaksanaan dari fraktur tergantung dari kondisi
frakturnya, bisa dengan operatif maupun non operatif.

Daftar Pustaka
1. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga, 2007.h.116.
2. Suratun, Heryati, Manurung S. Klien gangguan sistem musculoskeletal. Jakarta. EGC.
3.
4.
5.
6.

Cetakan 1; 2008. h. 18-26.


Corwin EJ. Patofisologi. Jakarta. EGC. Edisi 3. Cetakan 1; 2009. h. 336-8
Patel RP. Radiologi. Jakarta. Penerbit Erlangga. Edisi kedua; 2006. h. 222
David C. Buku ajar bedah. Jakarta. EGC. Cetakan pertama; 2005. h. 385
Kowalak JP, Welsh W, Mayer B. Buku ajar patofisiologi. Jakarta, EGC, Cetakan
pertama; 2011. h. 403-6
10

11

Anda mungkin juga menyukai