Anda di halaman 1dari 5

Fissure Sealant dan PRR

Oleh : Rulya Eka P


a. Penutup Fisur (Fissure Sealant)
Fisur merupakan daerah yang sedikit sekali kebagian manfaat
fluoridasi air minum. Fisur anak-anak yang tiap harinya minum air yang
telah ditambahi fluor ini tetap rentan terhadap karies. Oleh karena itu,
aplikasi bahan penutup fisur untuk mencegah berkembangnya karies di
fisur akan sangat bermanfaat. Suatu penutup fisur dari resin dapat
diaplikasikan pada email setelah emailnya dibersihkan, diisolasi,
dipersiapkan dan dikeringkan.
Karies fisur timbul segera setelah gigi erupsi dan fisur yang luput
dari serangan karies pada periode ini mungkin akan tetap bebas karies.
Dengan demikian, agar aplikasi penutup fisur menjadi efektif, aplikasinya
harus dilakukan segera setelah gigi terlihat muncul di rongga mulut, ketika
erupsinya belum sempurna. Isolasi giginya mungkin sulit dilakukan, tetapi
yang penting isolasi karet dapat mencegah terbasahinya penutup fisur
sehingga tidak mengganggu retensinya.
Sealant merupakan bahan yang diaplikasikan pada pit dan fissure
yang dalam untuk mencgah terjadinya karies. Material resin yang
digunakan sebagai sealant adalah Bis-GMA. Indikasi penggunakan fissure
sealant antara lain untuk gigi yang belum terkena karies, permukaan
oklusal gigi molar, gigiyang baru erupsi, gigi yang dapat diisolasi dan pada
anak dengan resiko karies tinggi, sebaiknya juga dilakukan fissure sealant
pada gigi premolarnya. Sedangkan kontraindikasinya adalah gigi yang
sudah terkena kaies.
Teknik aplikasi fissure sealant adalah sebagai berikut :
1) Pulas permukaan oklusal dengan brush dan pumis hingga bersih.
2) Intruksikan pasien untuk berkumur.

3) Isolasi gigi dengan cotton roll atau isolator karet dan keringkan.
4) Email dietsa dengan larutan atau gel asam fosfat (30%-50%) selama
60 detik.
5) Cuci 20 detik dan keringkan.
6) Reisolasi gigi dengan cotton roll pada 1 kwadran dan keringkan. Jika
permukaan enamel tidak tampak putih, etsa ulang.
7) Aplikasikan bahan sealant (Bis GMA resin), dan hindari gelembung
udara.
8) Polimerisasikan dengan sinnar visible selama 20-30 detik.
9) Periksa oklusid engan articulating paper.
10) Jika ada peninggian gigit, hilanhkan dengan menggunakan round 12fluted carbiede atau bur diamond.
Faktor keberhasilan sealant antara lain etsa yang adekuat; post-etch
washing; permukaan enamel harus bersih dan kering sebelum aplikasi
sealant (jangan sampai terkontaminasi saliva); intensitas dan durasi light
curing untuk komplit polimerisasi.
b. Preventive Resin Restoration (PRR)
Merupakan pengembangan penggunaan sealant oklusal, yang
menyatukan cara pencegahan terapi sealant untuk pit dan fissure yang
rentan karies dengan terapi restorasi karies menggunakan resin komposit
yang terjadi pada permukaan oklusal yang sama. Manfaat dari Preventive
Resin Restoration adalah untuk mempertahankan struktur jaringan yang
sehat dengan cara menumpat fissure yang karies dengan resin komposit
dengan melapisi sealant di atas komposit dan jaringan sekitarnya.
Indikasi penggunaan preventive resin restoration adalah untuk lesi
dangkal sebatas enamel, lesi nsebatas dentin, lesi kelas I yang dangkal
dengan ukuran kecil. Diagnosis untuk karies pit dan fissure sulit sekali
untuk dideteksi karena hamper sama dengan anatomi normal. Namun dapat

pula deteksi karies didapatkan dengan gambaran antara lain : lunak pada
dasar pit & fissure, enamel lunak yang mengelupas jika dilakukan
explorasi, dan adanya porus enamel ( oleh karena demineralisasi) terlihat
chalky, opaque bila dikeringkan dengan udara.
Ada 3 tipe preventive resin restoration berdasarkan luas dan dalam lesi
kariesnya,yaitu :
1. Tipe A : karies sebatas enamel
2. Tipe B : karies melibatkan dentin yang kecil dan terbatas
3. Tipe C : karies yang melibatkan dentin yang lebih luas dan dalam.
1. PRR Tipe A
Menggunakan unfilled composit resin
Tehnik aplikasinya :
a. Bersihkan permukaan oklusal
b. Isolasi gigi dengan cotton rolls
c. Hilangkan decalcified enamel pada pit & fissure menggunakan low
speed round bur (no atau )enameloplasty
d. Etsa 20-60, bilas 20 dan keringkan 15
e. Aplikasi sealant, hindari gelembung
f. Polimerisasi sinar 20(atau sesuai aturan pabrik)
2. PRR Tipe B
Menggunakan diluted composit resin
Tehnik aplikasinya :
a. Bersihkan permukaan oklusal
b. Isolasi gigi dengan cotton rolls
c. Hilangkan karies dengan high speed bur, dentin di liner Ca(OH)2
d. Etsa 20-60, bilas 20 dan keringkan 15
e. Aplikasi bonding agent dan komposit
f. Aplikasi sealant

g. Polimerisasi sinar
3. PRR Tipe C
Menggunakan filled composit resin dan sebagian besar membutuhkan
anastesi local.
Tehnik aplikasinya :
a. Bersihkan permukaan oklusal
b. Isolasi gigi dengan cotton rolls
c. Hilangkan karies dengan high speed bur, dentin di liner Ca(OH)2
d. Etsa 20, bilas 20 dan keringkan 15
e. Aplikasi bonding agent dan komposit resin-curing
f. Aplikasi sealant
g. Polimerisasi sinar.
Pada saat mengaplikasikan PRR, lakukan isolasi daerah kerja dengan
menjaga permukaan gigi agar tetap kering agar keberhasilan retensinya
baik. Isolasi dapat dilakukan dengan pemberian cotton roll atau rubber
dam. Namun pada anak kecil, mungkin kurang nyaman jadi memerlukan
upaya lebih oleh operator untuk menjaganya. Untuk preparasi kavitasnya
gunakan bur intan bulat kecil dengan kecepatan rendah untuk membuang
dentin karies sehingga daerah ini harus tidak berwarna dan terasa keras jika
di cek dengan sonde. Selain itu, karies lunak yang menutupi pulpa dibuang,
baik mengguanakan bur kecepatan rendah atau ekskavator tajam.
Pada saat pelapikan (liner) setiap dentin yang terbuka gunakan
dengan Ca(OH)2. Kavitas yang dalam, dapat diberi pelapik kedua berupa
semen ionomer dan lakukan secara hati-hati agar dinding email yang akan
teretsa tidak tertutup. Kemudian dinding email dan permukaan oklusal di
etsa, dan dicuci setelah dilakukan pengeringan selama 20 detik.
Dalam penumpatan atau pengaplikasian gunakan resin komposit
untuk gigi posterior, dan bahan tidak akan terpolimerisasi dengan baik jika

ketebalan resin melebihi 2mm sehingga bahan harus diaplikasikan selapis


demi selapis, serta setiap lapisan dipolimerisasi dengan sinar. Kemudian
aplikasikan bahan penutup ceruk atau pit dan fissure (unfilled resin) dan
meratakannya dengan sonde. Pastikan juga tidak ada gelembung udara dan
kelebihan

bahan

dapat

diambil

dengan

butiran

kapas

sebelum

dipolimerisasi.
Setelah pengaplikasian resin selesai, lakukan evaluasi dengan cara
mengecek oklusi dengan articulator paper, jika ada kelebihan buang dengan
bur dan pulas akhir komposit. Sealant harus diperiksa ulang setiap 6 bulan
dan jika sealant hilang maka prosedur diatas dapat diulang kembali.
Daftar Pustaka
1. Ford, T. R Pitt. 1993. Restorasi Gigi. Jakarta: EGC.
2. Pintauli, Sondang & Tizo Hamada. 2008. Menuju Gigi dan Mulut Sehat
(Pencegahan dan Pemeliharaan). Medan : USUpress.
3. Silverstone L.M. 1982. The use of pit and fissure sealant in dentistry, present

status and future developments. Pediatric Dentistry, 4, 16-21