Anda di halaman 1dari 9

TUGAS ORAL MEDICINE

Oleh :
Rulya Eka P

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


INSTITUT ILMU KESEHATAN
BHAKTI WIYATA KEDIRI
2016

1. Linea Alba
Linea alba (garis putih) adalah temuan intraoral yang umum terjadi, tampak
berupa garis gelombang putih yang menonjol dengan panjang bervariasi dan terletak
mencolok pada garis oklusi di mukosa bukal. Umumnya, garis putih yang tidak
bergejala ini mempunyai lebar 1-2 mm dan meluas horizontal dari molar kedua
sampai ke regio kaninus mukosa bukal, berakhir pada kakikulus angularis. Lesi
paling sering ditemukan bilateral dan tidak bisa dihilangkan dengan digosok. Lesi
berkembang

sebagai

respons

terhadap

aktivitas

gesekan

gigi-gigi,

yang

mengakibatkan epitel menjadi menebal (hiperkeratotik). Kondisi ini sering


dihubungkan dengan lidah krenasi dan dapat merupakan tanda dari tekanan,
bruksisme, clenching, atau trauma menghisap. Keadaan klinisnya sangat diagnostik.
Keadaan ini tidak membutuhkan perawatan (Langlais and Miller, 2013).

Gambar 1. Linea alba


2. Coated Tongue
Coated tongue atau lidah berselaput merupakan penampilan klinis pada dorsum
lidah yang tampak seperti tertutup oleh suatu lapisan biasanya berwarna putih atau

warna lain sesuai dengan jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi. Selaput ini
terdiri dari papila filiformis yang memanjang sehingga memberikan gambaran seperti
selaput tebal pada lidah dan akan menahan debris serta pigmen yang berasal dari
makanan, minuman, rokok, dan permen (Setiani dan Sufiawati, 2005).

Gambar 2. Coated tongue


3. Fissured Tongue
Fissured tongue disebut juga lingua fissurata, lingua plicata, scrotal tongue dan
grooved tongue. Fissured tongue merupakan malformasi klinis berupa alur-alur atau
lekukan-lekukan pada permukaan dorsal lidah. Bagian lidah yang berfisur tidak
memperlihatkan adanya papila-papila yang normal. Penyebabnya tidak diketahui
dengan jelas, diduga kuat merupakan kelainan yang diturunkan (Setiani dan
Sufiawati, 2005).
Lidah berfisura adalah kondisi yang umum relatif terjadi, yang tampak berupa
alur-alur atau fisura linear pada dorsum lidah. Pada anak-anak, sering berhubungan
dengan kelainan yang diturunkan dan merupakan komponen dari sindrom
Melkersson-Rosenthal (lidah berfisura, bibir bengkak, dan paralisis wajah. Pada

orang dewasa, umumnya berhubungan dengan xerostomia. Beberapa obat terapeutikterutama

agen

antidepresi,

antihistamin,

antihipertensi,

dan

obat

jantung,

dekongestan, obat penyekat ganglionik, serta penenang-menimbulkan xerostomia dan


lidah berfisura (Langlais and Miller, 2013).
Lidah berfisura dapat mempunyai penampilan yang bervariasi. Pada beberapa
keadaan tampak alur yang mencolok di garis tengah dan beberapa alur lateral yang
bercabang-cabang. Pada keadaan lain tampak adanya alur multipel, bergelombang
dan tidak teratur. Fisura sering kali mempunyai kedalaman 2-5 mm dan lebar yang
bervariasi, yang semakin menyempit mendekati bagian tepi. Terdapat pulau-pulau
papila diantara fisura, yang dapat terlihat kering, atrofik, atau geografik. Sebagian
besar pasien tidak bergejala, meskipun beberapa diantaranya melaporkan adanya rasa
tidak nyaman ringan atau rasa terbakar. Kondisi ini jinak dan tidak membutuhkan
pengobatan. Meskipun demikian, pasien harus di dorong untuk menyikat daerah yang
terkena guna meminimalkan akumulasi sisa makanan dan bakteri (Langlais and
Miller, 2013).

Gambar 3. Fissured tongue

4.

Median rhomboid glossitis


Median rhomboid glossitis dahulu dianggap cacat perkembangan dari turunan

tuberkulum impar yang tidak sempurna. Teori ini tidak lagi dianggap sahih. Sekarang
median rhomboid glossitis dianggap sebagai daerah berbentuk romboid atau oval
yang berwarna merah di lidah, yang berasal dari infeksi C.albicans yang kronis.
Lokasi yang paling umum adalah di garis tengah dorsum lidah, persis anterior dari
papila sirkumvalata. Ukuran dan bentuknya bervariasi, tetapi sering kali tampak
sebagai lesi merah, berbatas jelas, dengan ukuran 1-1,25 cm, dengan tepi yang tidak
teratur, tetapi membulat. Keadaan ini terjadi pada individu paruh baya dan jarang
terjadi pada anak-anak. Tidak ada predileksi rasial. Prevalensinya sering lebih tinggi
pada pasien yang menderita diabetes melitus, imunosupresi, atau mendapatkan
pengobatan antibiotik spektrum luas (Langlais and Miller, 2013).
Lesi awal median romboid glositis berupa bercak merah seperti daging, yang
polos, halus, dan tidak mempunyai papila filiformis. Dengan berjalannya waktu, lesi
menjadi granular dan lobular (Langlais and Miller, 2013).
Median romboid glositis mudah dikenali melaluin gambaran klinisnya, lesi
yang khas, dan sifatnya yang asimptomatik. Pengenalan dan pengobatan dinin dengan
agen antijamur biasanya akan dapat menghilangkan lesi ini. Median romboid glositis
tahap akhir biasanya tidak bergejala dan tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan
antijamur karena lesi sudah menjadi fibrotik dan hipovaskular (Langlais and Miller,
2013).

Gambar 4. Median rhomboid glossitis

5. Cheek Biting
Cheek Biting adalah suatu lesi akibat kebiasaan seseorang menghisap atau
menggigit pipi kronis (mukosa bukal) disebabkan oleh karena malokusi, kebiasaan
oral atau kurangnya koordinasi dalam penguyahan sehingga dapat menyebabkan
trauma pada area tersebut (Meisawati, 2011).
Etiologi : Faktor psikogenik seperti stress atau cemas, kelainan neuromuskular (Boras
et.al., 2000).
Gambaran klinis : Abrasi epitelium superfisial yang meninggalkan fragmen keputihan
dengan latar belakang kemerahan yang umumnya terbatas pada mukosa labial bawah
dan atau mukosa bukal didekat garis oklusi (Scully and Cawson, 1988).
Diagnosa banding : Linea alba, Kandidiasis Pseudomembran akut (Trush).

Gambar 5. Cheek Biting

6. Papilla Filiformis Prominent


Papila filiformis merupakan papila terkecil dan berjumlah paling banyak.
Papila itu berupa batang-batang ramping, seperti rambut, bertanduk, tampak berwarna
merah, merah muda atau putih tergantung pada derajat iritasi yang dialami lidah.
Bentuk papila filiformis yang menonjol disebut juga papila filiformis prominent.
7. Papilla Fungiformis Prominent
Papila fungiformis lebih sedikit jumlahnya, warna merahnya lebih cerah dan
diameternya lebih lebar dibandingkan dengan papila filiformis. Papila fungiformis
tidak bertanduk, berbentuk bulat atau jamur dan sedikit menonjol. Papila ini juga
berisi kuncup-kuncup pengecap. Papila ini paling banyak terdapat di tepi lateral dan
ujung anterior dari lidah. Kadang-kadang papila fungiformis mengandung pigmen
coklat, terutama melanoderm. Bentuk papila filiformis yang menonjol disebut juga
papila fungiformis prominent
8. Ductus Stensen Prominent
Duktus parotideus Stenson dibentuk oleh duktus-duktus yang berasal dari
lobus-lobus glandula parotis. Duktus parotideus stenson bermuara kedalam
vestibulum oris pada paila parotidea yang berhadapan dengan gigi Molar kedua atas

atau Molar pertama atas. Ductus stensen prominent disebut juga muara duktus
stensen yang menonjol.
Daftar Pustaka
Ali A. 2007. Dermatology a pictorial Review. China: The McGraw-Hill Companies,
20: 363-6.
Avcu N, Kanli A. 2003. The prevalence of tongue lesions in 5150 turkish dental
outpatients. Oral Diseases; 9: 188-9.
Boras, VaniaVucicevic, Ana Cekic-Arambasin, Karmela Svub.2000. Case Report
:Parafuctional Cheek Biting. ActaStomat Croat. (School of Dental Medicine,
University of Zagreb, Croatian Dental Society-Crotian Medical Association),
34, no.3: 335-336.
Bruch, dkk., 2010. Clinical Oral Medicine And Pathology. Humana Press. London. p:
22-23.
Djuanda A, et al. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima. Jakarta:
FKUI.
Eversole, L.R. 2011. Clinical Outline of Oral Pathology: Diagnosis and Treatment.
Ed.4. PMPH. USA. Hal.222-223.
Field A, Longman L. 2003. Tyldesleys oral medicine. 5th ed. Oxford University
Press, p : 68-71.
Hupp JR, Williams TP, Firriolo FJ. 2006. Dental clinical advisor. Missoury: Mosby.
Khozeimeh F and Rasti G. 2006. The Prevalence of Tongue Abnormalities Among
The School Children In Borazjan, Iran. Dental Research Journal. P (3): 1-2.
Langlais and Miller. 2013. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim. Alih
bahasa, Budi Susetyo. Editor Lilian Juwono. Jakarta. Hipokrates. p: 80-83.

Lynch MA, Brightman VJ, Greenberg MS, 1994. eds. Burkets oral medicine
diagnosis and treatment. 9th ed. Philadelphia: J.B. Lippincott Company, 246-7,
250, 254,
Meisawati H.F. 2011.GambaranKlinisdanDiagnosa Banding Cheek Biting.Jakarta :
FKG UPDM (B). 4.
Mojarrad F, Vaziri PB. 2008. Prevalence of tongue anomalies in Hamadan, Iran.
Iranian J Publ Health.p: (37) 101.
Mumcu G, Cimilli H, Sur H, Hayran O, Atalay T. 2005. Prevalence and distribution
of oral lesions: a cross sectional study in Turkey. Oral Diseases; 11: 81-2.
Scully C, Cawson R.A.1988. Atlas Bantu KedokteranGigi :PenyakitMulut. Jakarta:
Hipokrates, p : 59-105.
Setiani T, Sufiawati I. 2005. Laporan penelitian: efektifitas heksetidin sebagai obat
kumur terhadap obat kumur terhadap frekuensi kehadiran jamur candida
albicans pada penderita kelainan lidah. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Padjajaran, p : 3-4, 7.

Anda mungkin juga menyukai