Anda di halaman 1dari 2

Membangun peradaban bangsa

Leo Sutrisno

Tema peringatan Hari Pendidikan Nasional 2010 adalah “Pendidikan karakter untuk
membangun peradaban bangsa”. Menurut panitia upacara peringatan dilakukan tanggal 2
Mei 2010, hari Minggu pukul 08.00 hingga selesai.

Pemerintah Daerah Provinsi/Kota/Kabupaten, Dinas Pendidikan Provinsi?


Kota/Kabupaten, dan semua penyelenggara pendidikan diminta melaksanakan upacara
ini. Tujuan upacara peringatan adalah mewujudkan kesadaran bermasyarakat dan
bernegara, serta meningkatkan komitmen untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang
berkualitas dan berkarater.

Mungkin ada baiknya, saat ini, para pengambil kebijakan, para guru dan dosen, para
siswa dan mahasiswa, serta masyarakat umum yang peduli dengan pendidikan duduk
santai dan mengambil napas dalam-dalam, menenangkan hati, menjernihkan pikiran.
Selanjutnya, mari kita cermati istilah ”Sumber Daya manusia” (SDM).

Para ahli managemen, para praktisi managemen menggunakan istilah SDM ini dalam satu
tarikan napas yang sama dengan sumber dana, serta sumber-sumber (resources) yang lain
dalam suatu perusahaan. Di mata mereka SDM itu sama tingkat dengan sumber-sumber
yang lain. Itu berarti, mereka (dan kita juga menerima) telah mendegradasi manusia.

Karena sudah didegradasi, maka mereka dapat memperlakukan ’manusia’ itu sama
dengan sumber-sumber yang lain. Manusia, di mata para manager dapat dikelola sama
dengan sumber-sumber yang lain. Artinya, dapat ditingkatkan, dapat dikurangkan, dapat
dipindahkan bahkan dapat dibuang jika sudah tidak produktif lagi.

Kalau pemerintah, cq Kementerian Pendidikan Nasional sungguh ingin membangun


peradaban bangsa, ada baiknya dimulai dari ’membuang’ istilah Sumber Daya Manusia
ini. Dengan begitu, manusia tidak lagi disamakan tingkatnya dengan sumber-sumber
yang lain. Manusia harus tidak lagi disebut sumber daya manusia.

Kalau kita sungguh akan membangun peradaban bangsa maka kita perlu menyingkirkan
keinginkan untuk mengelola negara ini secara korporasi. Itu berarti, manusia Indonesia
tidak dipandang sebagai sumber daya tetapi sebagai pelaku peradaban itu sendiri.
Manusia Indonesia adalah subjek yang membangun perdaban. Manusia Indonesia bukan
objek para ’manager’ mengara ini.

Dalam pandangan ini, maka tema peringatan Hari Pendidikan Tahun 2010 ini juga perlu
diperbaiki menjadi ’....mewujudkan manusia (Indonesia) yang berkualitas dan
berkarakter”. Bukan ’sumber daya yang berkarakter’.

Ada tiga prinsip dasar yang perlu ditegakkan jika ingin menjadi manusia yang beradab
yaitu: sikap baik, keadilan, dan hormat pada diri sendiri. Sikap baik mengatakan bahwa
pada dasarnya kita harus mendekati siapa saja dan apa saja dengan positif. Prinsip sikap
baik mendahului dan mendasari semua prinsip-prinsip moral yang lain. Prinsip keadilan
merujuk kewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua orang lain
yang berada dalam situasi yang sama dan menghormati hak semua fihak yang
bersangkutan. Sedangkan, prinsip hormat terhadap diri sendiri menegaskan bahwa
manusia wajib untuk selalu memperlakukan diri sebagai sesuatu yang bernilai pada
dirinya sendiri. Setiap manusia dituntut agar tidak membiarkan diri diperas, diperalat,
diperbudak orang lain atau kekuasaan atau harta.

Selanjutnya, untuk menjadi manusia (Indonesia) yang berkarakter maka semua orang
secara individual harus mengedepankan : kejujuran, tanggung jawab, kemandirian moral,
keberanian moral, dan kerendahan hati. Jika setiap orang Indonesia menumbuh-
kembangkan sikap-sikap ini niscaya kita akan menjadi pribadi yang kuat. Kita akan
mempunyai sikap kepribadian moral yang kuat.

Sebagai penutup, dalam perjalanan ke daerah, Jumat 30 April 2010 yang lalu saya
bertemu dengan seorang wanita lajang dalam usia sikitar 20-30 tahun. Ia mengelola
sebuah Taman Kanak Kanak (TK) secara swadana di sebuah desa.Bersama tiga orang
kawannya ia melayani sekitar 20-30 anak.

Untuk menjalankan kegiatan itu, mereka hanya mengandalkan SPP anak didiknya.
Tetapi, karena di desa yang juga belum maju maka dapat membayangkan berapa besar
uang pemasukkannya. Namun, itu tidak mematahkan semangat pengandiannya. Ia telah
membuktikan selama 6 tahun. Ia merelakan honorarium sebagai guru tidak tetap di SMA
(Rp. 450.000) untuk dibagi bersama rekan-rekannya yang mengelola TK tersebut. Saya
melihat sosok manusia yang sungguh berkepribadian moral yang kuat. Semoga!

Anda mungkin juga menyukai