Anda di halaman 1dari 10

BLOK 17: Neuropsikiatri

PENUGASAN I: NEURODEGENERATIF

Guillain-Barr Syndrome

OLEH:
Lalu Muhammad Kamal Abdurrosid
H1A013034

Dosen Pengampu: dr. Ilsa Hunaifi., Sp.S

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2016

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan

........................................................
........................................................

2
2

........................................................
........................................................
........................................................
........................................................
........................................................

3
3
3
4
6

A. Kesimpulan

........................................................

DAFTAR PUSTAKA

........................................................

PARKINSON DISEASE
A.
B.
C.
D.
E.

Definisi
Epidemiologi
Patofisiologi
Manifestasi Klinis
Penatalaksanaan

PENUTUP

Latar Belakang

Sindroma Guillain-Barre (SGB) atau yang dikenal dengan Acute Inflammatory


Idiopathic olyneuropathy (AIIP) atau Acute Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy
(AIDP) adalah suatu penyakit pada susunan saraf yang terjadi secara akut dan menyeluruh
akibat autoimun, terutama mengenai radiks dan saraf tepi, bisa juga mengenai saraf otak yang
didahului oleh infeksi. (Merkies, I.S.J. & Kieseier, B.C., 2016 dan Lin, J.-H. et al., 2015)
Pada tahun 1916, Guillain, Barre, dan Strohl mempublikasikan penelitian mereka,
ketiga orang ini menemukan kelainan patologis yaitu adanya disosiasi albuminositologi di
dalam cairan serebrospinal dan disertai dengan radikuloneuritis. Guillain tetap berpendapat
bahwa apa yang mereka bertiga kemukakan sebenarnya adalah Landrys paralysis . Tahun
1927, Draganescu dan Claudian memberi nama penyakit ini sebagai Guillain Barre
Syndrome (Sudulagunta, S.R. et al., 2015).

Tujuan Penulisan

Mahasiswa dapat mengetahui informasi terkait definisi dan epidemiologi,


patogenesis/patofisiologi, gambaran/manifestasi klinis, serta penatalaksanaan dari
penyakit Gullain-Barre Syndrome

Mahasiswa dapat belajar dan membiasakan diri untuk menulis secara struktural dan
ilmiah

Sebagai wahana menambah ilmu pengetahuan

Sebagai salah satu media penilaian blok neuropsikiatri

Definisi
SGB adalah suatu polineuropati yang bersifat akut yang sering terjadi setelah 1
sampai 3 minggu setelah infeksi akut. Merupakan adalah suatu kelainan sistem kekebalan
tubuh manusia yang menyerang bagian dari susunan saraf tepi dirinya sendiri dengan
karekterisasi berupa kelemahan atau arefleksia dari saraf motorik yang sifatnya progresif
(Lin, J.-H. et al., 2015 dan Van den Berg, B. et al., 2014).
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia pada setiap musim, menyerang semua umur.
Insidensi SGB bervariasi antara 0.6 sampai 1.9 kasus per 100.000 orang pertahun. SGB
sering sekali berhubungan dengan infeksi akut non spesifik. Insidensi kasus SGB yang
berkaitan dengan infeksi ini sekitar antara 56% - 80%, yaitu 1 sampai 4 minggu sebelum
gejala neurologi timbul seperti infeksi saluran pernafasan atas atau infeksi gastrointestinal.
Kelainan ini juga dapat menyebabkan kematian, pada 3 % pasien, yang disebabkan oleh
gagal napas dan aritmi (Mweshi, M. et al., 2016).
Etiologi
Penyebab SGB tidak diketahui, tetapi sering dihubungkan dengan penyakit infeksi,
seperti infeksi saluran nafas dan saluran cerna. Virus yang paling sering menyebabkan
penyakit ini adalah Cytomegalovirus (CMV), HIV, Measles dan Herpes Simplex Virus.
Sedangkan untuk penyebab bakteri paling sering oleh Campylobacter jejuni.

Patofisiologi
Pada SGB, gangliosid merupakan target dari antibodi. Ikatan antibodi dalam sistem
imun tubuh mengaktivasi terjadinya kerusakan pada myelin. Alasan mengapa komponen
normal dari serabut mielin ini menjadi target dari sistem imun belum diketahui, tetapi infeksi
oleh virus dan bakteri diduga sebagai penyebab adanya respon dari antibodi sistem imun
tubuh. Hal ini didapatkan dari adanya lapisan lipopolisakarida yang mirip dengan gangliosid
dari tubuh manusia. Berdasarkan adanya sinyal infeksi yang menginisisasi imunitas humoral
maka sel-T merespon dengan adanya infiltrasi limfosit ke spinal dan saraf perifer. Terbentuk
makrofag di daerah kerusakan dan menyebabkan adanya proses demielinisasi dan hambatan
penghantaran impuls saraf. Destruksi pada myelin tersebut menyebabkan sel sel saraf tidak
dapat mengirimkan signal secara efisien, sehingga otot kehilangan kemampuannya untuk
merespon perintah dari otak dan otak menerima lebih sedikit impuls sensoris dari seluruh
bagian tubuh (Van den Berg, B. et al., 2014).
Gejala Klinis
SGB merupakan penyebab paralisa akut yang dimulai dengan rasa baal, parestesia
pada bagian distal dan diikuti secara cepat oleh paralisa ke empat ekstremitas yang bersifat
asendens. Parestesia ini biasanya bersifat bilateral. Refelks fisiologis akan menurun dan
kemudian menghilang sama sekali (Sudulagunta, S.R. et al., 2015 dan Van den Berg, B. et al.,
2014).

Kerusakan saraf motorik biasanya dimulai dari ekstremitas bawah dan menyebar
secara progresif, dalam hitungan jam, hari maupun minggu, ke ekstremitas atas, tubuh dan
saraf pusat. Kerusakan saraf motoris ini bervariasi mulai dari kelemahan sampai pada yang
menimbulkan quadriplegia flacid. Keterlibatan saraf pusat , muncul pada 50 % kasus,
biasanya berupa facial diplegia. Kelemahan otot pernapasan dapat timbul secara signifikan
dan bahkan 20 % pasien memerlukan bantuan ventilator dalam bernafas (Sudulagunta, S.R. et
al., 2015 dan Van den Berg, B. et al., 2014).
Kerusakan saraf sensoris yang terjadi kurang signifikan dibandingkan dengan
kelemahan pada otot. Saraf yang diserang biasanya proprioseptif dan sensasi getar. Gejala
yang dirasakan penderita biasanya berupa parestesia dan disestesia pada extremitas distal.
Rasa sakit dan kram juga dapat menyertai kelemahan otot yang terjadi. terutama pada anak
anak (Sudulagunta, S.R. et al., 2015 dan Van den Berg, B. et al., 2014).
Kelainan saraf otonom tidak jarang terjadi dan dapat menimbulkan kematian.
Kelainan ini dapat menimbulkan takikardi, hipotensi atau hipertensi, aritmia bahkan cardiac
arrest , facial flushing, sfincter yang tidak terkontrol, dan kelainan dalam berkeringat.
Hipertensi terjadi pada 10 30 % pasien sedangkan aritmia terjadi pada 30 % dari pasien
(Sudulagunta, S.R. et al., 2015 dan Van den Berg, B. et al., 2014).
Kerusakan pada susunan saraf pusat dapat menimbulkan gejala berupa disfagia,
kesulitan dalam berbicara, dan yang paling sering adalah bilateral facial palsy (Sudulagunta,
S.R. et al., 2015 dan Van den Berg, B. et al., 2014).
Tata Laksana
Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk SGB, pengobatan terutama secara
simptomatis. Tujuan utama penatalaksanaan adalah mengurangi gejala, mengobati
komplikasi, mempercepat penyembuhan dan memperbaiki prognosisnya (Van den Berg, B. et
al., 2014).
1. Plasma exchange therapy (PE)
Plasmaparesis atau plasma exchange bertujuan untuk mengeluarkan faktor
autoantibodi yang beredar. Pemakaian plasmaparesis pada SGB memperlihatkan hasil
yang baik, berupa perbaikan klinis yang lebih cepat, penggunaan alat bantu nafas
yang lebih sedikit, dan lama perawatan yang lebih pendek. Waktu yang paling efektif
untuk melakukan PE adalah dalam 2 minggu setelah munculnya gejala. Jumlah
plasma yang dikeluarkan per exchange adalah 40-50 ml/kg dalam waktu 7-10 hari
dilakukan empat sampai lima kali exchange.
6

2. Imunoglobulin IV
Intravenous inffusion of human Immunoglobulin (IVIg)

dapat menetralisasi

autoantibodi patologis yang ada atau menekan produksi auto antibodi tersebut. IVIg
juga dapat mempercepat katabolisme IgG, yang kemudian menetralisir antigen dari
virus atau bakteri sehingga T cells patologis tidak terbentuk. Pengobatan dengan
gamma globulin intravena lebih menguntungkan dibandingkan plasmaparesis karena
efek samping/komplikasi lebih ringan. Pemberian IVIg ini dilakukan dalam 2 minggu
setelah gejala muncul dengan dosis 0,4 g / kgBB /hari selama 5 hari. Pemberian PE
dikombinasikan dengan IVIg tidak memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan
dengan hanya memberikan PE atau IVIg.2,5
3. Kortikosteroid
Kebanyakan penelitian mengatakan bahwa penggunaan preparat steroid tidak
mempunyai nilai/tidak bermanfaat untuk terapi SGB. Tetapi, digunakan pada SGB
tipe CIDP.

Kesimpulan
Guillain Barre syndrome ( GBS ) adalah suatu kelainan sistem kekebalan tubuh
manusia yang menyerang bagian dari susunan saraf tepi dirinya sendiri dengankarekterisasi
berupa kelemahan atau arefleksia dari saraf motorik yang sifatnyaprogresif. Kelainan ini
kadang kadang juga menyerang saraf sensoris, otonom,maupun susunan saraf pusat. SGB
merupakan Polineuropati akut, bersifat simetris dan ascenden, yang, biasanya terjadi 1 3
minggu dan kadang sampai 8 minggu setelah suatu infeksi akut.
Gejala klinis SGB berupa kelemahan, gangguan saraf kranial, perubahan sensorik,
nyeri, perubahan otonom, gangguan pernafasan. Sampai saat ini belum ada pengobatan
spesifik untuk SGB, pengobatan terutama secara simptomatis. Tujuan utama penatalaksanaan
adalah mengurangi gejala, mengobati komplikasi, mempercepat penyembuhan dan
memperbaiki prognosisnya.

Daftar Pustaka
Merkies, I.S.J. & Kieseier, B.C., 2016. Fatigue, Pain, Anxiety and Depression in GuillainBarr Syndrome and Chronic Inflammatory Demyelinating Polyradiculoneuropathy.
European
neurology,
75(3-4),
pp.199206.
Available
at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27077919 [Accessed May 8, 2016].
Mweshi, M. et al., 2016. The Prevalence of Guillian-Barre Syndrome and the Rate of
Physiotherapy Referral at the The Prevalence of Guillian-Barre Syndrome and the Rate
of Physiotherapy Referral at the University Teaching Hospital ,. , (January), pp.26.
Available
at:
https://www.researchgate.net/profile/Margaret_Mweshi/publication/287813143_The_Pr
evalence_of_GuillianBarre_Syndrome_and_the_Rate_of_Physiotherapy_Referral_at_the/links/5679819508ae
7fea2e9887fe.pdf?origin=publication_list [Accessed May 8, 2016].
Sudulagunta, S.R. et al., 2015. Guillain-Barr syndrome: clinical profile and management.
German medical science: GMS e-journal, 13, p.Doc16. Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?
artid=4576316&tool=pmcentrez&rendertype=abstract [Accessed May 8, 2016].
Lin, J.-H. et al., 2015. Prognostic factors and complication rates for double-filtration
plasmapheresis in patients with Guillain-Barr syndrome. Transfusion and apheresis
science: official journal of the World Apheresis Association: official journal of the
European Society for Haemapheresis, 52(1), pp.7883. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25544386 [Accessed May 8, 2016].
Van den Berg, B. et al., 2014. Guillain-Barr syndrome: pathogenesis, diagnosis, treatment
and prognosis. Nature reviews. Neurology, 10(8), pp.46982. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25023340 [Accessed March 31, 2016].

10