Anda di halaman 1dari 36

FISIOLOGI PEMBUNGAAN DAN BUAH

MAKALAH
Diajukan sebagai salah satu tugas terstruktur pada Mata Kuliah Fisiologi
Tumbuhan
Dosen :
Hadiansah, M. Pd

Oleh:
Kelompok 5
Cecep Dian R

(1132060015)

Dewi Sartika

(1132060018)

Enny Apriliani

(1132060023)

Inawati

(1132060031)

Inggit Gunarti

(1132060034)

Kiki Zakiah Khairany

(1132060040)

Suherna

(1132060075)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah, Tuhan Yang
Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat
menyelesaikan Makalah Fisiologi Pembungaan dan Buah ini.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat
dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita
mengenai ruang lingkup cangkupan fisiologi pembungaan dan
buah. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas
terdapat banyak kekurangan-kekurangan. Untuk itu, penulis
berharap adanya saran dan usulan demi perbaikan di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada yang sempurna tanpa adanya
saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami siapapun
yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini
dapat berguna bagi penulis dan semua yang membacanya.
Bandung, April 2016
Penulis

Fisiologi Pembungaan dan Buah Fisiologi Tumbuhan 1


Pendidikan Biologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2016

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................i
Daftar Isi........................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................1
1. 1. Latar Belakang......................................................................1
1. 2. Rumusan Masalah.................................................................1
1. 3. Tujuan Penulisan....................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................3
2. 1. Pembungaan.........................................................................3
2. 1. 1. Definisi Pembungaan...................................................3
2. 1. 2. Mekanisme Pembungaan.............................................3
2. 1. 3. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Proses
Pembungaan............................................................................9
2. 1. 4. Perkembangan Organ Reproduktif.............................14
2. 2. Pembuahan.........................................................................17
2. 2. 1. Definisi Pembuahan...................................................17
2. 2. 2. Perkembangan Buah Dan Biji....................................21
2. 2. 3. Ripening Phase (Fase Kematangan Buah Dan Biji)....22
2. 2. 4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Buah
22
2. 2. 5. Proses Pembuahan Abnormal....................................23
BAB III SIMPULAN........................................................................24
Daftar Pustaka

25

Fisiologi Pembungaan dan Buah Fisiologi Tumbuhan 2


Pendidikan Biologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Tanaman tentu akan senatiasa tumbuh dan berkembang.
Pertumbuhan

generative

pada

tanaman

ditandai

dengan

peristiwa pembungaan. Di mana pembungaan ini juga memiliki


mekanisme

tersendiri.

Peristiwa

ini

juga

tidak

lepas

dari

pengaruh dari beberapa factor, baik dari dalam maupun dari luar
tubuh tanaman. Faktor dalam merupakan faktor yang berasal
dari tanaman itu sendiri seperti kandungan-kandungan hormon
pada tanaman itu sendiri sedangkan faktor luar merupakan
faktor lingkungan yang mempengaruhi dari proses pembungaan
tanaman tersebut.
Pembungaan pada tanaman dipengaruhi oleh faktor dalam
tanaman sendiri dan faktor luar tanaman/lingkungan. Tanaman
belum dapat berbunga/ menghasilkan bunga jika tanaman masih
relatif

muda.

Sedangkan

pada

tanaman

yang

sudah

besar/dewasa, pertumbuhannya telah mengalami perubahan dari


fase

vegetatif

ke

fase

generatif.

Benih

atau

biji

yang

dimaksudkan adalah benih atau biji sejati (true seed) yaitu benih
atau biji yang dibentuk dari proses seksual pada tanaman.
Buah adalah organ tumbuhan berbunga yang merupakan
perkembangan

lanjutan

dari bakal

buah (ovarium).

Buah

biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan


bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah,
yakni sebagai pemencar biji tumbuhan.
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai pembungaan dan
buah, maka pada makalah ini akan dibahas hal-hal berikut yang
terpapar rumusan masalah.
1. 2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dipaparkan adalah


sebagai berikut:
1) Pembungaan
1. Apa yang dimaksud dengan pembungaan?
2. Bagaimana mekanisme pembungaan?
3. Apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses
pembungaan?
4. Bagaimana perkembangan organ reproduktif?
2) Pembuahan
1. Apa yang dimaksud dengan pembuahan?
2. Bagaimana perkembangan buah dan biji?
3. Apa saja ripening phase (fase kematangan buah dan biji)?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
buah?
5. Bagaimana proses pembuahan abnormal?
1. 3. Tujuan Penulisan
Berikut tujuan penulisan makalah ini:
1) Pembungaan
1. Mengetahui pengertian pembungaan;
2. Mengetahui mekanisme pembungaan;
3. Mengetahui

faktor-faktor

yang

berpengaruh

terhadap

proses pembungaan;
4. Mengetahui perkembangan organ reproduktif;
2) Pembuahan
1. Mengetahui definisi pembuahan;
2. Mengetahui perkembangan buah dan biji;
3. Mengetahui ripening phase (fase kematangan buah dan
biji);
4. Mengetahui

faktor-faktor

produktivitas buah;

yang

mempengaruhi

5. Mengetahui beberapa proses pembuahan abnormal.


6.

BAB II
PEMBAHASAN
2. 1. PEMBUNGAAN
2. 1. 1. Pengertian Pembungaan
Fenologi perbungaan suatu jenis tumbuhan adalah salah
satu karakter penting dalam siklus hidup tumbuhan karena pada
fase itu terjadi proses awal bagi suatu tumbuhan untuk
berkembang biak. Suatu tumbuhan akan memiliki perilaku yang
berbeda-beda pada pola perbungaan dan perbuahannya, akan
tetapi pada umumnya diawali dengan pemunculan kuncup bunga
dan diakhiri dengan pematangan buah (Tabla dan Vargas, 2004).
Menurut Sitompul dan Guritno (1995) pengamatan fenologi
tumbuhan yang seringkali dilakukan adalah perubahan masa
vegetatif ke generatif dan panjang masa generatif tumbuhan
tersebut. Ini biasanya dilakukan melalui pendekatan dengan
pengamatan umur bunga, pembentukan biji dan saat panen.
Pembungaan merupakan salah satu tanda bahwa tanaman
memasuki fase generatif. Fase generatif merupakan fase dimana
tanaman melakukan pertumbuhan dengan melibatkan sel gamet.
Fase generatif ini dimulai saat tanaman mulai melakukan
pembentukan

bunga

hingga

pemasakan

buah.

Didalam

pembungaan kegiatan yg paling penting adalah memanipulasi


proses peralihan dari fase vegetatif ke fase generatif tanaman.
2. 1. 2. Mekanisme Pembungaan
1. Induksi bunga (evokasi)
Induksi bunga merupakan tahap pertama dari proses
pembungaan. Dimana dalam induksi ini terjadi suatu manipulasi
jaringan meristem vegetatif yang diprogram untuk mulai berubah
menjadi meristem reproduktif dimana perubahan ini terjadi
secara mikrokopis di dalam sel. Perubahan ini dapat dideteksi

secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan


protein, yang dibutuhkan dalam pembelahan dan diferensiasi sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya induksi bunga
ada 2 yaitu faktor internal yang berupa faktor genetis suatu
tanaman dan faktor eksternal yang terdiri dari :
a. Vernalisasi
Vernalisasi merupakan suatu keadaan dimana suhu
lingkungan suatu tanaman rendah yang digunakan
untuk merangsang pembungaan.
b. Thermoperiodism
Suatu keadaan dimana suhu pada malam hari
rendah kemudian berubah menjadi tinggi dan terjadi
secara berulang.
c. Fotoperiodisme
Fotoperiodism ini merupakan lamanya siang dan
malam. Fotoperiodism ini sangat erat kaitannya dengan
fotoperiode kritis. Fotoperiodism ini membagi tanaman
menjadi tiga kelompok yaitu tanaman hari panjang,
tanaman hari pendek, dan tanaman hari netral.
d. Kimiawi dan status nutrisi
Setelah

tanaman

terinduksi

ke

pembungaan,

transisi morfologis meristem dari vegetatif ke keadaan


pembungaaan disebut dengan inisiasi pembungaan.
Inisiasi

pembungaan kurang mendapatkan perhatian

dalam penelitian pembungaan dibandingkan dengan


induksi pembungaan. Hal ini disebabkan karena kedua
tahapan tersebut umumnya memerlukan kondisi yang
serupa,

sehingga

sering

sulit

dibedakan

antar

keduanya. Tetapi perbedaan tersebut dapat terlihat


nyata pada rumput-rumputan di daerah musim sedang.
Tahap induksi dan inisiasi biasanya jelas berbeda dan
mempunyai persyaratan fotoperiode dan suhu yang

jelas berbeda, yang secara alami keduanya dipisahkan


oleh musim dingin.
Menurut Gardner dan Loomis (1991) induksi pembungaan
adalah produksi rangsangan

pembungaan (suatu perubahan

kimiawi pada ujung pucuk) sebagai respon terhadap faktor luar


yang diperlukannya, misalnya temperatur dingin (tidak tumbuh)
dan hari pendek musim gugur untuk rumput Orchard. Sedangkan
inisiasi

pembungaan

adalah

permulaan

pembungaan

atau

transformasi dari titik tumbuh yang telah terinduksi, tetapi


secara

morfologis

berbentuk

pembungaan

sebagai

diperlukannya

seperti

respon
hari

vegetatif
terhadap

panjang

menjadi
faktor

(malam

pemula

luar

yang

pendek)

dan

temperatur yang cukup hangat pada musim semi (pada rumput


Orchard).
Perubahan pada titik tumbuh akan nampak jika dilihat
secara mikroskopik pada bagian meristematis yang mengalami
perubahan dari vegetatif ke pertumbuhan reproduktif. Secara
mikroskopis akan nampak bahwa bagian ujung meristematis
pertumbuhan

vegetatif

nampak

runcing,

sedangkan

jika

pertumbuhan beralih ke pertumbuhan reproduktif akan dimulai


dengan pertumbuhan ujung meristem yang mulai mendatar dan
akhirnya terbentuk primordia sepal.
2. Inisiasi bunga
Adalah tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk
kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis
untuk pertama kalinya.Transisi dari tunas vegetatif menjadi
kuncup reproduktif ini dapat dideteksi dari perubahan bentuk
maupun ukuran kuncup, serta proses-proses selanjutnya yang
mulai membentuk organ-organ reproduktif.
Inisiasi
keadaan

pembungaan

induksi

dan

adalah

umumnya

ekspresi
terjadi

morfologis
dalam

dari

bagian

meristematis tanaman. Secara morfologis, konversi dari suatu


ujung

vegetatif

ke

suatu

pembungaan

dari

satu

bentuk

permulaan ke anthesis adalah relatif berjalan secara bertahap


dan berurutan. Menurut Lang (1952) pembagian tahapan proses
pembentukan bunga dapat dipisahkan menjadi 4 tahap setelah
tahap induksi pembungaan menurut Copeland (1976), yaitu:
1. Inisiasi pembungaan, diferensiasi ke primordia
pembungaan;
2. Organisasi pembungaan, diferensiasi ke
pembentukan individu-individu bunga;
3. Pemasakan bunga meliputi beberapa proses yang
berurutan: pertumbuhan bagian-bagian bunga,
diferensiasi ke jaringan sporogenous, meiosis, pollen
dan perkembangan embriosac;
4. Anthesis
3. Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga
mekar)
Ditandai

dengan

terjadinya

diferensiasi

bagian-bagian

bunga. Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan


mikrosporogenesis

untuk

penyempurnaan

dan

pematangan

organ-organ reproduksi jantan dan betina.


4. Anthesis
Merupakan

tahap

ketika

terjadi

pemekaran

bunga.

Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ


reproduksi jantan dan betina, walaupun dalam kenyataannya
tidak selalu demikian. Ada kalanya organ reproduksi, baik jantan
maupun betina, masak sebelum terjadi anthesis, atau bahkan
jauh

setelah

terjadinya

anthesis.

Bunga-bunga

bertipe

dichogamy mencapai kemasakan organ reproduktif jantan dan


betinanya dalam waktu yang tidak bersamaan.

Contoh : Tahap perkembangan organ reproduksi E. pellita


(Ratnaningrum, 1998)
Tahap perkembangan
Phase 1: Inisiasi bunga dan perkembangan kuncup bunga
Tahap 1
Diferensiasi tunas reproduktif membentuk tangkai

Waktu
29

Tahap 2

dan kuncup perbungaan


Pembesaran dan pembengkakan kuncup ke

hari
17

Tahap 3

ukuran maksimal
Gugurnya selubung kuncup, sehingga

hari
12

terbentuklan perbungaan dengan 7 bunga tunggal


Phase 2: Perkembangan bunga menuju anthesis
Tahap 1
Gugurnya selubung outer operculum

hari

Tahap 2
Tahap 3
Tahap 4

39

Pembengkakan bunga menuju ukuran maksimal

hari
25

Perubahan warna dari hijau menjadi kuning terang

hari
23

Anthesis terjadi karena terbukanya outer

hari
5 jam

operculum
Phase 3: Penyerbukan dan pembuahan
Tahap 1
Proses perkembangan dari anthesis menuju bunga

5 hari

terserbuki
Perubahan morfologis dari struktur bunga menjadi

19

Tahap 2

buah muda
hari
Phase 4: Perkembangan buah muda menuju kemasakan buah dan biji
Tahap 1
Pembesaran buah muda menuju ukuran maksimal
65
Tahap 2

Perkembangan buah menuju kemasakan dan


penyebaran biji

TOTAL

hari
63
hari
302
hari

1a

1b

1c

1d

1e
1f
1g
1h
Phase 1: Inisiasi bunga dan perkembangan kuncup bunga

2a

2b

2c

2d

2e

2f

2g

2h

2I

2j
2k
Phase 2 : perkembangan bunga menuju anthesis

3a

3b
3c
Phase 3 : Penyerbukan dan pembuahan

4a

4b

3d

4c
4d
4e
Phase 4: Perkembangan buah muda menuju kemasakan buah
dan biji
2. 1. 3. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap
Proses Pembungaan
1. Faktor Eksternal
a. Suhu
Pada spesies temperate dingin, suhu yang relatif tinggi
pada musim panas dan awal musim gugur tampaknya dapat
merangsang

inisiasi

bunga.

Fungsi

suhu

di

sini

adalah

mematahkan dormansi kuncup. Pada spesies temperate hangat,


subtropis dan tropis, pengurangan relatif pada suhu justru lebih
bermanfaat. Pada apokat suhu optimal untuk perkembangan
bunga adalah 25oC. Jika tanaman ditempatkan pada suhu 33 oC
sepanjang siang hari, selanjutnya akan terjadi penghambatan
perkembangan bunga pada tahap diferensiasi tepung sari.
Pada Acacia pycnantha suhu di atas 19 oC menghambat
baik mikrosporogenesis maupun makrosporogenesis. Pada jeruk,
suhu di atas 30oC dilaporkan telah merusak perkembangan
kuncup

bunga.Suhu

tinggi

hingga

batas

ambang

tertentu

dibutuhkan oleh meristem lateral (primordia bunga) untuk mulai


membentuk kuncup-kuncup bunga dan melangsungkan proses
pembungaan. Selisih antara suhu max di siang hari dengan suhu
min di malam hari akan mempengaruhi proses terbentuknya
bunga:

selisih

yang

besar

akan

mempercepat

terjadinya

pembungaan. Suhu tinggi akan meningkatkan aktivitas metabolik


dalam tubuh tanaman: fotosintesis, asimilasi, dan akumulasi
makanan untuk mensuplai energi pembungaan.
b. Curah Hujan/Kelembaban
Stres air dapat memacu inisiasi bunga, terutama pada
tanaman pohon tropis dan subtropis seperti leci dan jeruk.
Pembungaan melimpah pada tanaman kayu tropis genus Shorea
juga telah dihubungkan dengan terjadinya kekeringan pada
periode

sebelumnya.Namun,

hasil

yang

berlawanan

telah

teramati pada spesies iklim-sedang seperti pinus, apel dan


zaitun.
Kebanyakan pembungaan di daerah tropis terjadi saat
transisi dari musim hujan menuju kemarau.Pada musim hujan
tanaman melakukan aktivitas maksimal untuk menyerap hara
dan air, agar dapat mengakumulasikan cadangan makanan dan
menyimpan energi sebanyak-banyaknya.
c. Cahaya
Cahaya mempengaruhi pembungaan melalui dua cara,
yaitu intensitas cahaya dan fotoperiodisitas (panjang hari).
1) Intensitas Cahaya
Berhubungan dengan tingkat fotosintesis: sumber
energi

bagi

proses

pembungaan.

Intensitas

cahaya

mempunyai pengaruh yang lebih besar dan efeknya lebih


konsisten dari pada panjang hari. Pengurangan intensitas
cahaya akan mengurangi inisiasi bunga pada banyak
spesies pohon. Pada spesies monoesi dan dioesi, yang
hanya mempunyai bunga-bunga berkelamin-satu (singlesex), intensitas

cahaya dapat memberikan efek yang

berbeda pada inisiasi bunga betina dan jantan.Intensitas


cahaya yang tinggi merangsang inisiasi bunga betina pada
walnut dan pinus,

sedangkan intensitas

cahaya

yang

rendah, yang biasanya disebabkan oleh naungan kanopi,


lebih merangsang terbentuknya bunga jantan.
2) Fotoperiodisitas (panjang hari)
Merupakan perbandingan antara lamanya waktu siang
dan malam hari.Di daerah tropis panjang siang dan malam
hampir sama. Makin jauh dari equator (garis lintang besar),
perbedaan antara panjang siang dan malam hari juga makin
besar. Misalnya pada garis 60o LU:
Musim panas: siang hari hampir 19 jam, malam hari 5 jam.
Musim dingin: siang hari hanya 6 jam, malam hari 18 jam.
Sehubungan dengan fotoperiodisitas tersebut, pada
daerah-daerah 4 musim, tanaman dapat dibedakan menjadi:
-Tanaman berhari pendek;
-Tanaman berhari panjang dan
-Tanaman hari netral.
Tanaman yang butuh hari pendek untuk mengawali
pembungaannya, namun selanjutnya butuh hari panjang
untuk melanjutkan proses pembungaan itu. Tanaman yang
dapat

berbunga

direncanakan

setiap

untuk

waktu.

Pengaruh

diaplikasikan

pada

hari-pendek

spesies

pohon

temperate, mengingat bahwa inisiasi bunga secara normal


terjadi pada musim gugur seiring dengan berkurangnya
panjang hari.
d. Unsur Hara
Keberadaan unsur hara dalam tanah berhubungan dengan
ketersediaan suplai energi dan bahan pembangun bagi proses
pembentukan dan perkembangan bunga.
1 Carbon/protein ratio
Kuncup
keseimbangan

bunga

terbentuk

carbon/protein.Hal

setelah
ini

tanaman

berhubungan

mencapai
dengan

kemampuan tanaman untuk melakukan asimilasi, akumulasi

makanan, dan alokasi/distribusi hasil asimilasi Panjang tunas


merupakan faktor penting pada inisiasi bunga pecan. Efek ini
mungkin berhubungan dengan peningkatan cadangan makanan
pada tunas yang lebih panjang.
2 Nitrogen ratio
Carbon sebagian besar diperoleh dari mobilisasi cadangan
makanan dan hasil fotosintesis. Konsentrasi carbon yang tinggi
menentukan ketersediaan energi dan akumulasi makanan untuk
pembentukan bunga. Nitrogen memberikan dampak positif :
ekspansi percabangan, dampak negatif: memacu pertumbuhan
vegetative.
2. Faktor Internal
a Fitohormon
1 Auxin
Merupakan respon terhadap cahaya. Disintesis di
jaringan
terjadinya

meristematik
pembelahan

apikal
pada

(ujung),
meristem

Menstimulir
apikal

mempengaruhi proses perpanjangan ujung tanaman.


2 Ethylene
Disintesis oleh daun. Diransfer ke tunas lateral
memulai proses induksi bunga.
3 Cytokinin
Disintesis pada jaringan endosperm, ujung akar, dan
xylem. Ditransfer ke daun melalui jaringan xylem.Berfungsi
untuk meningkatkan energi metabolisme ditransfer
untuk membentuk kuncup-kuncup bunga.Mengendalikan
proses translokasi menjamin ketersediaan energi untuk
pembungaan. Mematahkan dominansi apikal. Berperan
dalam memacu inisiasi bunga, dan dijumpai pada level
lebih tinggi pada akar Douglas-fir yang sedang berbunga,
dibanding pohon yang tidak berbunga.

4 Gibberellin
Disintesis

pada

primordia

akar

dan

batang.

Ditranslokasikan pada xylem dan floem. Menstimulir proses


perpanjangan internodia dan buku-buku pada batang.
Asam giberelik mempunyai efek penghambatan yang
sangat

kuat

terhadap

pembungaan

berbagai

pohon

angisperma termasuk tanaman-tanaman buah temperate,


rhododendron, jeruk dan mangga. Pada Citrus sinensis,
GA3 dapat menyebabkan kuncup-kuncup dorman yang
sesungguhnya potensial berbunga kembali sepenuhnya ke
tingkat vegetatif, sampai tiba waktunya pembentukan
kelopak bunga. telah memperkenalkan sebuah model yang
melibatkan giberelin pada pengendalian inisiasi bunga apel
secara hormonal. Giberelin yang dihasilkan oleh biji-biji
yang sedang berkembang dalam buah muda diduga telah
menghambat pembentukan bunga, dan dengan demikian
mengurangi pembungaan pada musim semi berikutnya.
Pada umumnya, zat penghambat-tumbuh, seperti
Chlormequat Cycocel; (2-cloroethyl) trimethylammonium
chloride, Alar dan TIBA (tri-iodobenzoic acid), mengurangi
pertumbuhan vegetatif dan memacu pembungaan pada
spesies pohon angiosperma. Gimnosperma tampaknya
memberikan

reaksi

pertumbuhan

yang

telah

berbeda.

meningkatkan

Penghambat
pembungaan.

Sebaliknya, Giberelin akan memacu pembungaan pada


banyak.Penelitian

terbaru

telah

memunculkan

dugaan

bahwa tipe giberelin mungkin merupakan faktor penting


dalam respon fisiologis pada tanaman. Dengan demikian
aspek pengaruh giberelin pada pembungaan tanaman
berkayu

menahun

atau

perenial

membutuhkan

pengamatan lebih lanjut, mengingat minimnya metode


deteksi dan produksi giberelin saat ini.

b Genetik
Pembungaan dipengaruhi juga oleh faktor genetik. Hal ini
terkait dengan tanaman itu sendiri. Apabila indukannya baik
maka proses pembungaan berlangsung cepat.

2. 1. 4. Perkembangan Organ Reproduktif

Pembelahan Reduksi

Bunga induk betina

Bunga induk jantan

Diploid (2n)

Diploid (2n)

Putik

Benang sari

Diploid (2n)

Diploid (2n)

Bakal biji

Kepala sari

Diploid (2n)

Diploid (2n)

Nucellus dari bakal biji

Kandung serbuk sari

Diploid (2n)

Diploid (2n)

Meiosis

Meiosis

Pembelahan reduksi

Pembelahan reduksi

Terbentuk 4 inti sel (tetrade)

Terbentuk 4 inti sel (tetrade),

3 inti mati
1 inti hidup (haploid)

Semuanya hidup (haploid)

Kandung embrio dengan

Sebutir serbuk sari dengan

1 inti sel haploid

1 inti sel haploid

Pembelahan membujur (mitosis 3 x)

Pembelahan membujur (mitosis 2 x)

- 1x = 2 inti
- 2x = 4 inti
- 3x = 8 inti
masing-masing inti haploid
Di dalam kandung embrio terdapat 8
inti (haploid) :
-

3
2
1
2

inti
inti
inti
inti

antipodal (mati)
sinergida (mati)
sel telur (hidup)
polar (hidup)

ANGIOSPERMAE
Jantan

- 1x = 1 inti veg. + 1 inti generatif


- 2x = 1 inti veg. + 2 inti sperma
masing-masing inti haploid

Di dalam tabung serbuk sari terdapat


3 inti (haploid):
- 1 inti vegetatif (mati)
- 2 inti sperma (hidup)

Betina

a) Jantan
Ketika tepung sari (pollen) matang, secara otomatis
kepala sari (anthera) akan pecah dan menghamburkan
butiran-butiran tepung sari yang matang. Kematangan

tepung sari berhubungan dengan penurunan kadar air dan


penyusutan jaringan pada kepala sari, yang merupakan
fungsi higroskopis untuk membuka kantung tepung sari.
Mekanisme

ini

diduga

merupakan

fungsi

alami

dari

tanaman untuk menghamburkan tepung sarinya demi


kepentingan penyebaran alam dan regenerasi (Griffin dan
Sedgley, 1989).
Butiran tepung sari tersusun atas empat komponen
mendasar:
-

exine atau lapisan dinding terluar


mengandung protein

intine atau lapisan dinding dalam

pollenkit atau mantel

colpi atau lubang germinasi

memberi warna pollen


mengandung lemak

Secara visual, tepung sari yang matang dapat


dideteksi dari perubahan warna dan kelekatan (stickiness)
butiran-butirannya (Griffin dan Sedgley, 1989; Ghazoul,
1997). Perubahan warna permukaan butiran tepung sari
dari kuning pucat menjadi kuning terang mengindikasikan
adanya peningkatan sporopollenin bagian dari exine yang
merupakan

ciri

spesifik

dari

suatu

spesies

yang

mempengaruhi kenampakan luarnya; dan pollenkit yang


basah, lengket dan berwarna; mengandung lemak, protein,
karbohidrat, pigmen, senyawa fenolik dan enzim.
Peningkatan

kelekatan

butiran

tepung

sari

mengindikasikan bahwa tepung sari tersebut telah siap


untuk berkecambah dengan melakukan proses hidrasi dan
melepaskan

protein.

Mekanisme

hidrasi

inilah

yang

dianggap paling menentukan dalam mengawali terjadinya


proses penyerbukan, yang merupakan rangkaian dari
proses interaksi jantan-betina (male-female interaction),

perkecambahan tepung sari (pollen germination) dan


pembentukan buluh tepung sari (pollen tube growth)
(Griffin dan Sedgley, 1989).
b) Betina
Masa reseptif putik biasanya ditandai dengan :
-

perubahan warna putik menjadi lebih terang

pembesaran pori-pori pada kepala putik

tangkai putik berangsur menjadi lurus

permukaan putik memproduksi sekresi


Secara visual, reseptivitas putik dapat dideteksi dari
perubahan kelekatan (stickiness), warna dan bentuk, baik
pada kepala maupun tangkai putik (Griffin dan Sedgley,
1989; Owens dkk, 1991).
Kepala putik yang reseptif tampak berwarna lebih
terang

dan

lengket

dikarenakan

adanya

peningkatan

sekresi ekstraseluler (Ghazoul, 1997). Menurut Owens dkk


(1991), sekresi ekstraseluler tersebut mengandung lemak
dan protein. Sekresi ini berperan sebagai medium yang
berfungsi untuk menangkap butiran tepung sari, serta
merupakan

penentu

keberhasilan

pembentukan

buluh

tepung sari (pollen tube) yang akan membawa sel kelamin


jantan menuju ke ovary (Griffin dan Sedgley, 1989).
Reseptifnya putik juga ditandai oleh perubahan
warna permukaan putik dari hijau menjadi kuning terang,
yang dimulai dari pangkal tangkai putik (stylus). Makin
terangnya

warna

putik

menunjukkan

bahwa

sel-sel

epidermis terluar sedang berkembang untuk meningkatkan


produksi

sekresi,

dan

pori-pori

membesar

untuk

meningkatkan kemampuan sekresi.


Kepala putik (stigma) yang berangsur membengkak
merupakan tanda bahwa jaringan transmisi yang ada pada

bagian tersebut mulai memperbesar rongga-rongganya,


untuk mempersiapkan diri dalam membentuk buluh tepung
sari

(pollen

tube).

Pembengkakan

kepala

putik

juga

merupakan mekanisme alami untuk meningkatkan luas


bidang penempelan tepung sari ketika terjadi proses
penyerbukan.
Tangkai putik yang berangsur menjadi lurus juga
merupakan suatu mekanisme alami untuk mempersiapkan
diri dalam membentuk buluh tepung sari (pollen tube).

Foto mikroskopik kepala putik sebelum reseptif (A), saat reseptif (B)
dan lewat reseptif (C)

GYMNOSPERMAE

Jantan

Betina

Masa reseptif biasanya ditandai dengan :


-

Perubahan warna female cone menjadi lebih terang

Scales terbuka perlahan-lahan dan akan tertutup kembali


dalam waktu yang singkat

2. 2. PEMBUAHAN
2. 2. 1. Definisi Pembuahan
Interaksi

jantan-betina

(male-female

interaction)

merupakan tahapan pertama pada proses pembuahan, yaitu


tahap ketika terjadi interaksi antara sekresi ekstraseluler yang
diproduksi oleh kepala putik yang reseptif, dengan permukaan
butiran tepung sari yang masak.

ANGIOSPERMAE

Proses interaksi :
o Putik yang reseptif memproduksi sekresi ekstraseluler
o Butiran tepung sari yang masak jatuh pada kepala putik

o Proses hidrasi : butiran tepung sari menyerap sekresi putik


melalui lubang germinasi
o Hidrasi

menyebabkan

pollen

membengkak,

akhirnya

lubang germinasi pecah dan membebaskan lemak


o Exine dan intine membebaskan protein
o Proses

perkecambahan

pollen

lubang

germinasi

mendorong protein dari exine masuk ke dalam pori-pori


jaringan transmisi yang ada pada putik
o Pembentukan pollen tube : formasi dinding pollen tube
dimulai, selanjutnya protein dari intine ikut membentuk
dinding pollen tube
o Selama terjadinya interaksi ini, jaringan transmisi yang ada
pada putik menebal dan memperbesar pori-porinya, untuk
membuka jalan bagi pollen tube yang akan membentang
dari kepala putik hingga mikrofil.

GYNOSPERMAE

o Bunga betina memiliki dua ovule terbuka (telanjang) dalam


tiap scales (macrosporophyll): yang berfungsi menangkap
butiran

tepung

sari

adalah

permukaan

jaringan

integument.
o Ketika

bunga

betina

mencapai

reseptif,

permukaan

jaringan integument memproduksi sekresi ekstraseluler


dan membentuk mikrofil terbuka.
o Ketika jaringan integument membentuk mikrofil terbuka,
terjadi penebalan dan penyusutan pada jaringan scale
yang menyebabkan scale membuka sesaat. Pada saat
itulah butiran tepung sari menempel pada ujung nucellus.
o Proses

hidrasi

pollen

menyerap

air

dari

jaringan

integument, dan perkecambahan pollen terjadi pada ujung


nucellus

o Pollen tube terbentuk dari intine

Bakal buah (ovarium) dapat menjadi buah (fructus) setelah


terjadinya proses pembuahan. Pembuahan (fertilization) adalah
peristiwa peleburan antara inti sperma dengan inti sel telur.
Proses pembuahan (dari bagian-bagian bakal buah menjadi
bagian-bagian buah) :
menjadi

Bagian bakal buah

Bagian buah

1 O (ovum) + 1 inti sperm nuclei

Zygote

1 O (sel telur) + 1 inti sperma

Embrio

2 P (polar nuclei) + 1 sperm Endosperm


nuclei
Cadangan
2 P (inti polar) + 1 inti sperma
makanan
Nu (nucellus)

Perisperm

Inti bakal biji


Ii (integumentum interius)

Tegmen

Selaput dalam bakal biji

Kulit biji
dalam

Ie (integumentum exterius)

Testa

Selaput luar bakal biji

Kulit
luar

biji

bag.

bag.

Ovulum

Semen

Bakal biji

Biji

Carpellum

Pericarpium

Daun buah
Ova (ovary)

Kulit buah
Fructus

Bakal buah

Buah

2. 2. 2. Perkembangan Buah dan Biji

ANGIOSPERMAE
o Cadangan makanan berasal dari 2 polar nuclei (2n) + 1 inti
generatif (n) = endosperm (3n)
o Endosperm (3n) dan embrio (2n) sama-sama berkembang,
biasanya endosperm berkembang terlebih dahulu untuk
menjamin ketersediaan suplai makanan
o Endosperm berangsur mengecil karena diserap oleh embrio
dan ditransfer ke cotyledon

Monocotyl : biji memiliki 1 cotyledon

Dicotyl

: biji memiliki 2 cotyledon

GYMNOSPERMAE
o Cadangan
merupakan

makanan

berasal

perkembangan

dari

endosperm

dari

tapetum

yang

(female

gametophyte) = n
o Karena

endosperm

(n)

sudah

terbentuk

sebelum

pembuahan, maka energi difokuskan untuk perkembangan


embrio (2n)

2. 2. 3. Ripening Phase (Fase Kematangan Buah Dan


Biji)
Terdapat tiga tipe buah, diantaranya adalah:
1 Dry dehiscent fruit: buah bertipe kering, terbuka dengan
sendirinya untuk menghamburkan biji pada saat biji tersebut
masak
2 Dry indehiscent fruit : buah bertipe kering, tertutup (biasanya
berbiji tunggal), dan pada saat masak biji tetap berada di
dalam buah
3

Fleshy fruit : buah berdaging

2.

2.

4.

Faktor-Faktor

yang

Mempengaruhi

Produktivitas Buah
1) Jumlah bunga yang dihasilkan oleh tanaman
Produktivitas bunga pada tiap siklus pembungaan tidak
sama. Hal ini dipengaruhi oleh umur dan kondisi lingkungan.
2) Persentase bunga yang mengalami penyerbukan
Tidak semua bunga yang terbentuk dapat diserbuki. Hal
ini dipengaruhi oleh keberadaan agen penyerbuk, kondisi
lingkungan, dan fertilitas alat reproduksi.
3) Persentase bunga yang mengalami pembuahan
Tidak

semua

melanjutkan

bunga

prosesnya

yang

hingga

telah
ke

diserbuki

pembuahan.

dapat
Hal

ini

dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan genetik, misalnya


mekanisme self-incompatibility.
4) Persentase buah muda yang dapat tumbuh terus hingga
menjadi buah masak
dipengaruhi oleh :
a Embrio, endosperm atau kandung embrio abnormal
b Tanah terlalu kering atau terlalu basah
c Kurang unsur hara terutama N, P, K
d Serangan hama dan penyakit
e Kompetisi masing-masing buah dalam pohon
f

Jumlah biji yang terbentuk

5) Umur buah
Umur buah adalah jangka waktu yang dibutuhkan oleh
bakal buah yang telah terbuahi untuk dapat tumbuh menjadi
buah masak. Umur buah ini spesifik pada tiap species, namun
kondisi

lingkungan

dapat

memperpanjang

memperpendek umur buah yang seharusnya.

atau

2. 2. 5. Beberapa Proses Pembuahan Abnormal


a. Partenogenesis
Sel telur (ovum) dalam bakal biji (ovulum) dalam
kondisi

tertentu

kadang-kadang

dapat

tumbuh

menjadi

embrio tanpa mengalami pembuahan sama sekali. Terbagi


menjadi:

Partenogenesis diploid (apomixis) :


Sel telur tidak mengalami pembelahan reduksi, dan tanpa
pembuahan bisa tumbuh terus menjadi embrio diploid (2n)

Partenogenesis haploid :
Sel telur telah mengalami reduksi terlebih dahulu menjadi
n kromosom. Biasanya tipe ini akan segera mati, sebelum
sempat tumbuh menjadi buah masak.

b. Apogami
Beberapa
(ovulum),

sel

namun

yang
di

terdapat

luar

di

dalam

kandung

embrio

bakal

biji

(saccus

embryonalis), bisa tumbuh menjadi embrio. Sel-sel tsb tidak


pernah mengalami reduksi, sehingga inti selnya adalah
diploid (2n).
Jika sel-sel tersebut masuk ke dalam kandung embrio
dan ikut tumbuh menjadi embrio yang diploid, maka proses
ini

disebut

apogami.

Apogami

dapat

mengakibatkan

terjadinya poli-embrioni, yaitu terbentuknya banyak embrio


dalam satu biji.
c. Partenokarpi
Bakal buah kadang-kadang dapat tumbuh menjadi buah
tanpa didahului dengan penyerbukan dan pembuahan. Buah
yang terbentuk tidak berisi biji sama sekali.

BAB III
SIMPULAN
1. Pembungaan

atau

Fenologi

perbungaan

suatu

jenis

tumbuhan adalah salah satu karakter penting dalam siklus


hidup tumbuhan karena pada fase itu terjadi proses awal
bagi suatu tumbuhan untuk berkembang biak.
2. Tahap dari pembungaan yaitu diawali dengan tahap induksi
(evokasi), inisiasi, perkembangan kuncup menjadi anthesis,
anthesis, penyerbukan dan pembuahan, yang terakhir
perkembangan buah muda seperti kemasakan buah dan
biji.
3. Dalam fase pembungaan terdapat faktor internal dan
faktor

eksternal

yang

mempengaruhi

proses

dari

pembungaan. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari


tanaman

berbunga

itu

sendiri

misalnya

fitohormon,

sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari


luar tanaman itu sendiri misalnya faktor lingkungan seperti
cahaya, kelembaban, intensitas cahaya, suhu, dan unsur
hara.
4. Bakal buah (ovarium) dapat menjadi buah (fructus) setelah
terjadinya proses pembuahan. Pembuahan (fertilization)
adalah peristiwa peleburan antara inti sperma dengan inti
sel telur. Proses pembuahan (dari bagian-bagian bakal
buah menjadi bagian-bagian buah).
5. Pada Angiospermae cadangan makanan berasal dari 2
polar nuclei (2n) + 1 inti generatif (n) = endosperm (3n),
sedangkan pada gymnospermae cdangan makanan berasal
dari endosperm yang merupakan perkembangan

dari

tapetum (female gametophyte) = n.


6. Terdapat tiga tipe buah, yaitu dry dehiscent fruit, dry
indehiscent fruit dan fleshy fruit.

7. Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

produktivitas

buah,

diantaranya adalah jumlah bunga yang dihasilkan oleh


tanaman,

persentase

penyerbukan,

prsentase

bunga
bunga

yang
yang

mengalami
mengalami

pembuahan, persentase buah muda yang dapat tumbuh


terus hingga menjadi buah masak dan umur buah.
8. Beberapa

proses

pembuahan

abnormal,

parthenogenesis, apogami, partenokarpi.

antara

lain

Daftar Pustaka
Campbell. 2010. Biologi. Jakarta: Erlangga
Copeland,

L.

O.

1976.

Principles

of

Seed

Sciences

and

History

and

Technology. Burger Publishing Co, Minnesota.


Dressler,

R.L.

1981.

The

Orchids

Natural

Classification. Cambridge: Harvard University Press.


Fewless,

G.

2006.

Phenology.

hhtp://www.uwgb.edu/biodiversity/phenology

/index.htm.

Diakses pada 14 Maret 2014.


Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi
Tanaman Budidaya. Terjemahan. UI Press. Jakarta.
Ghazoul, J. 1997. Field Studies of Forest Tree Reproductive
Ecology. ASEAN-Canada Forest Tree Seed Center Project.
Muak-Lek, Saraburi. Thailand.
Griffin, A.R., dan Sedgley, M. 1989. Sexual Reproduction of Tree
Crops. Academic Press Inc. Harcourt Brace Jovanovich
Publisher. San Diego, USA.
http://elisa.ugm.ac.id/community/show/fisiologi_tumbuhan/#!/sec
tion/39/1460124272 (diakses pada 08 April 2016)
Owens, J.N., Sornsathapornkul, P., dan Thangmitcharoen, S. 1991.
Studying Flowering And Seed Ontogeny In Tropical Forest
Trees. ASEAN-Canada Forest Tree Seed Centre. Muak-lek,
Saraburi 18180. Thailand
Ratnaningrum,

Y.W.N.

1998.

SKRIPSI.

Studi

Fenologis

Pembungaan, Penyerbukan dan Pembuahan Eucalyptus


pellita F. Moell. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta.
Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan
Tanaman. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Tabla, V.P. dan C.F. Vargas. 2004. Phenology and phenotypic
natural selection on the flowering time of a deceit-pollinated

tropical orchid, Myrmecophila christinae. Annals of Botany,


94(2): 243-250.
Tim pengampu 2011. Bahan Ajar Ilmu Dan Teknologi Benih.
http://www.unhas.ac.id. Diakses pada 8 April 2016.