Anda di halaman 1dari 39

i

LAPORAN PRAKTIKUM
HASIL HUTAN BUKAN KAYU
EKSTRAKTIF TANIN DARI KULIT KAYU MAHONI
(Swietenia Mahagoni sp)

Oleh :
RIA SANTANOVA GIRSANG
CCA 113 036

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN KEHUTANAN
2015

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karuniaNya lah laporan mata kuliah Hasil Hutan Bukan Kayu ini
dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Adapun unsur dari laporan ini
yaitu agar mahasiswa/i dapat mengerti dan mempraktekkan Pengekstrakan Tanin.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembina mata kuliah ini,
yaitu bapak Renhart Jemi. Dan tidak lupa pula penulis mengucapkan banyak
terima kasih kepada kelompok V (lima) serta Asisten dosen yang mengawasi dan
teman-teman kelompok yang lain, atas kerjasama nya dalam kegiatan praktikum
serta pengelolaan data dalam laporan ini.
Penulis juga menyadari dalam pembuatan laporan ini, baik dalam
pemilihan kata maupun penyusunan materi masih terdapat kejanggalan. Maka
dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam
kesempurnaan laporan ini.

Palangka Raya, Desember 2015

Penulis

ii

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
DAFTAR TABEL ...............................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................iv
I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..............................................................................1
1.2 Tujuan Praktikum..........................................................................2

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mahoni (Swietenia Mahagoni Jack) ............................................4
2.2 Tanin .............................................................................................5
2.3 Ekstraktif kayu (Kulit, Daun, Buah) Mahoni................................7
2.4 Nyamuk Aedes Aegypti ................................................................8

III.

METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat ........................................................................13
3.2 Alat dan Bahan..............................................................................13
3.3 Cara Kerja .....................................................................................15

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Ekstrak Tanin Dari Kulit Kayu Mahoni........................................18
4.2 Penentuan Kadar Tanin .................................................................20
4.3 Pengujian Aktivitas Larvasida ......................................................22

V.

PENUTUP
5.1 Kesimpulan ...................................................................................32
5.2 Saran..............................................................................................32

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii

iv

DAFTAR TABEL

Judul

Halaman

Tabel 1. Alat dan bahan praktikum 1 ....................................................................13


Tabel 2.alat dan bahan praktikum 2 ......................................................................13
Tabel 3. Alat dan bahan praktikum 3 ....................................................................14
Tabel 4. Kadungan kadar tanin .............................................................................20
Tabel 5. Mortalitas nyamuk Aedes Aegypti .........................................................24
Tabel 6. Perhitungan analisis regresi linear ..........................................................27
Tabel 7. Persamaan Regresi ..................................................................................30

iv

DAFTAR GAMBAR

Judul

Halaman

Gambar 1. Pohon Mahoni .....................................................................................4


Gambar 2. Batang Pohon Mahoni.........................................................................4
Gambar 3. Struktur Tanin Terhidrolisis ................................................................6
Gambar 4.Struktur Tanin Terkondensasi ..............................................................6
Gambar 5. Bentuk Nyamuk Aedes Aegypti.........................................................11
Gambar 6. Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti ................................................12
Gambar 7. Grafik mortalitas dan konsentrasi .....................................................25
Gambar 8. Grafik peningkatan Regresi.................................................................30

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hasil Hutan Bukan Kayu

akhir-akhir ini dianggap semakin penting

setelah produktivitas kayu dari hutan alam semakin menurun. Perubahan


paradigma dalam pengelolaan hutan semakin cenderung kepada pengelolaan
kawasan (ekosistem hutan secara utuh), juga telah menuntut diversifikasi hasil
hutan selain kayu. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berasal dari bagian pohon
atau tumbuh-tumbuhan yang memiliki sifat khusus yang dapat menjadi suatu
barang yang diperlukan oleh masyarakat, dijual sebagai komoditi ekspor atau
sebagai bahan baku untuk suatu industri.
Mengingat pemungutannya tidak memerlukan perizinan yang rumit
sebagaimana dalam pemungutan hasil hutan kayu (timber), masyarakat hutan
(masyarakat yang tinggal di sekitar hutan) umumnya bebas

memungut

dan

memanfaatkan HHBK dari dalam hutan. Masyarakat tidak dilarang memungut


dan memanfaatkan HHBK baik di dalam hutan produksi maupun hutan lindung,
kecuali di dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam (Departemen
Kehutanan 1990).
Oleh karena itu, selain menjadi sumber devisa bagi negara, HHBK seperti
rotan, daging binatang, madu, damar, gaharu, getah, serta tanin dan berbagai
macam minyak tumbuhan, bahan obat-obatan, dan lain sebagainya merupakan
sumber

penghidupan

bagi

jutaan

masyarakat

hutan. Masyarakat

hutan

memanfaatkan HHBK baik secara konsumtif (dikonsumsi langsung) seperti


binatang buruan, sagu, umbi-umbian, buah-buahan, sayuran, obat-obatan, kayu
bakar

maupun secara produktif (dipasarkan untuk memperoleh uang) seperti

ektraksi tanin, minyak atsiri serta bahan ekstrak lainnya.


Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat
larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Hasil
ekstraksi disebut dengan ekstrak, yaitu sediaan pekat yang diperoleh dengan
mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan
pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan.
Jenis pohon yang berbeda menghasilkan struktur tanin yang berbeda.
Beberapa negara telah mencoba menggunakan perekat berbahan dasar tanin pada
tingkat percobaan untuk tahap produksi secara komersial. Sementara di Indonesia
telah diteliti pembuatan perekat tanin dari kulit pohon Mahoni (Swietenia
mahagoni Jack) , Akasia (Acacia decurrens Willds), bakau (Rhizophora spp) dan
tancang (Prunilva spp) dalam skala laboratorium untuk kayu lapis. Pembuatan
perekat tanin formaldehida didasarkan pada reaksi antara tanin dengan
formaldehida yang membentuk polimer.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Mengetahui prosedur ekstraksi sederhana tanin dari bahan alami yang
mengandung tanin dan kadar tanin dalam bahan alami.
2. Untuk mengetahui aktivitas larvasida setelah diuji dengan tanin dan
campuran senyawa lainnya dan persentase kematian larvasida.

II.

2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Mahoni (Swietenia mahagoni Jack)


Tanaman mahoni (Swietenia mahagoni Jack) merupakan salah satu

tanaman yang dianjurkan untuk pengembangan HTI (Hutan Tanaman Industri).


Mahoni dalam klasifikasinya termasuk famili Meliaceae. Ada dua spesies yang
cukup dikenal yaitu: Swietenia macrophyla (mahoni daun lebar) dan

S.

mahagoni (mahoni daun sempit) (Khaeruddin, 1999).


Menurut Khaeruddin (1999), tanaman mahoni tersusun dalam sistematika
sebagai berikut:

Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Kelas

: Dicotiledone

Ordo

: Rotales

Genus

: Swietenia

Spesies

: Swietenia mahagoni Spp

Gambar 1. Pohon Mahoni

Gambar 2. Batang pohon Mahoni

Swietenia mahagoni yang berasal dari benua Amerika yang beriklim tropis
sudah lama dibudidayakan di Indonesia dan sudah beradaptasi dengan iklim tropis
di Indonesia. Nama asing dari tanaman ini adalah West Indian Mahogany.
Tanaman mahoni banyak ditanam di pinggir jalan atau di lingkungan rumah dan
halaman perkantoran sebagai tanaman peneduh. Tanaman ini tumbuh secara liar
di hutan-hutan atau di antara semak-semak belukar.
Tanaman mahoni yang digunakan sebagai bahan pestisida alami adalah
jenis mahoni Switenia Mahagoni. Buah tanaman

mahoni terlihat

muncul

diujung-ujung ranting berwarna coklat dan termasuk jenis tanaman pohon tinggi
sekitar 10-30 m, percabangannya banyak, daun majemuk menyirip genap, duduk
daun tersebar. Helaian anak daun bulat telur, elips memanjang, ujung daun dan
pangkal daun runcing panjangnya sekitar 1-3 cm, berbentuk bola dan bulat telur
memanjang berwarna coklat panjangnya 8-15 cm dengan lebar 7-10 cm. Mahoni
dapat tumbuh dengan baik di tempat yang terbuka dan terkena cahaya matahari

secara langsung, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, yaitu dengan
ketinggian 1000 m diatas permukaan laut (Sutarni, 1995).
2.2

Tanin

Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagai senyawa polipenol yang mempunyai


berat molekul tinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan gugus lainnya (seperti
karboksil) sehingga dapat membentuk kompleks dengan protein. Menurut teori
warna, struktur tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol
sebagai kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom
(pengikat warna) dapat menyebabkan warna coklat. Tanin merupakan senyawa
yang dapat larut dalam air, gliserol, alkohol, dan hidroalkohol, tetapi tidaklarut
dalam petroleum eter, benzene dan eter.
Senyawa tanin termasuk kedalam senyawa poli fenol yang artinya senyawa
yang memiliki bagian berupa fenolik. Senyawa tanin dibagi menjadi dua yaitu
tanin yang terhidrolisis dan tanin yang terkondensasi.
2.2.1 Tanin Terhidrolisis (hydrolysable tannins)
Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk jembatan
oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam
sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ini adalah gallotanin yang
merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat dengan asam galat. Selain
membentuk gallotanin, dua asam galat akan membentuk tanin terhidrolisis yang
bisa disebut Ellagitanins.Berat molekul galitanin 1000-1500,sedangkan Berat
molekul Ellaggitanin 1000-3000. Ellagitanin sederhana disebut juga ester asam

hexahydroxydiphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah menjadi asam galic


jika dilarutkan dalam air. Asam elagat merupakan hasil sekunder yang terbentuk
pada hidrolisis beberapa tanin yang sesungguhnya merupakan ester asam
heksaoksidifenat.

Gambar 1. Struktur tanin terhidrolisia yang membentuk asam galat dan asam
etagat.
2.2.2 Tanin terkondensasi (condensed tannins)
Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi
meghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer
flavonoid yang merupakan senyawa fenol. Oleh karena adanya gugus fenol, maka
tannin akan dapat berkondensasi dengan formaldehida. Tanin terkondensasi
sangat reaktif terhadap formaldehida dan mampu membentuk produk kondensasi
Tanin terkondensasi merupakan senyawa tidak berwarna yang terdapat pada

seluruh dunia tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Tanin


terkondensasi telah banyak ditemukan dalam tumbuhan paku-pakuan. Nama lain
dari tanin ini adalah Proanthocyanidin.
Proanthocyanidin merupakan polimer dari flavonoid yang dihubungan
dengan melalui C8 dengan C4. Salah satu contohnya adalah Sorghum procyanidin,
senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin.

Gambar 2.struktur monomer flavanoid terkondensasi


2.3 Ekstraktif Kayu (Kulit, Daun, Buah) Mahoni
2.3.1 Pengertian Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau
cairan dengan bantuan pelarut. Campuran bahan padat maupun cair (biasanya
bahan alami) sering kali tidak dapat atau sulit dipisahkan dengan metode pemisah
mekanik, misalnya karena komponennya bercampur secara homogen. Campuran
bahan yang tidak dapat atau sukar dipisahkan dengan metode pemisahan mekanik
adalah dengan metode ekstraksi (Achmadi, 1990).

Menurut Sjstrm (1995) komponen kayu beranekaragam, meskipun biasanya


merupakan bagian kecil, larut dalam pelarut-pelarut organik netral atau air, yang
disebut ekstraktif. Ekstraktf terdiri atas jumlah yang sangat besar dari senyawasenyawa tunggal tipe lipofil maupun hidrofil. Ekstraktif dapat dipandang sebagai
konstituen kayu yang tidak struktural, hampir seluruhnya terbentuk dari senyawasenyawa ekstraseluler dan berat molekul randah. Tipe konstituen yang mirip
disebut eksudat, yang dibentuk oleh pohon melalui metabolisme sekunder setelah
kerusakan mekanik atau penyerangan oleh serangga atau fungi. Meskipun ada
kesamaan terdapatnya ekstraktif kayu di dalam famili, ada perbedaan- perbedaan
yang jelas dalam komposisi bahkan di antara spesies-spesies kayu yang sangat
dekat.
2.3.2 Peran Zat Ekstraktif
Syafii

(2000)

meyatakan

bahwa

zat-zat

ekstraktif

yang

dikenal

menghambat pelapukan adalah senyawasenyawa fenolik, dengan keefektifan


yang ditentukan oleh macam dan jumlah zat ekstraktif yang ada. Zat ekstrsktif
yang bersifat racun memberikan karakteristik terhadap pelapukan pada kayu. Hal
ini dibuktikan bahwa ekstrak dari kayu teras lebih bersifat racun daripada bagian
kayu gubal pada pohon yang sama dan ketahanan terhadap pelapukan kayu teras
akan berkurang jika diekstraksi dengan air panas atau dengan pelarut organik.
Sejumlah senyawa aktif telah diidentifikasi dari sejumlah tanaman keras
sebagai anti rayap dan anti fungi. Senyawa tersebut berupa zat ekstraktif yaitu
senyawa suatu senyawa yang mengisi rongga sel kayu. Zat ekstraktif ini berperan
dalam keawetan alami kayu terhadap serangan biologis yaitu berupa senyawa
polipenol, terpenoid dan tanin (Findlay, 1987 dalam Sari, dkk, 2004). Zat
ekstraktif tidak hanya terdapat dalam bagian kayu tetapi juga terdapat pada kulit,
daun, buah, dan biji. Findlay (1987 dalam Sari, dkk, 2004) menjelaskan bahwa

beberapa kayu dari hutan tropika mengandung zat ekstraktif yang bersifat racun.
Lebih lanjut dikatakan bahwa senyawa fenolik yang terdapat pada kayu teras,
kulit dan xylem, bersifat racun atau anti fungi yang dapat melindungi pohon dari
gangguan perusak kayu.
Diperkirakan masih banyak tumbuhan berkhasiat obat yang belum
diketahui kandungan senyawa aktifnya, sehingga diperlukan penelitian khusus.
Agar pengobatan secara tradisional dapat dipertanggungjawabkan maka
diperlukan penelitian ilmiah seperti penelitian di bidang farmakologi, toksikologi,
identifikasi dan isolasi zat kimia aktif yang terdapat dalam tumbuhan. Tumbuhan
dapat digunakan sebagai obato-obatan karena tumbuhan tersebut menghasilkan
suatu senyawa yang memperlihatkan aktifitas biologis tertentu. Senyawa aktif
biologis itu merupakan senyawa metabolit sekunder yang meliputi alkaloid,
flavonoid, terpenoid dan steroid (Sjstrm, 1995)
2.3.3 Penggolongan Zat Ekstraktif
Ekstraktif terdiri atas komposisi bahan kimia yang bervariasi, seperti
getah, lemak, polisakarida, minyak, pati, senyawa alkaloid, dan tannin. Istilah ini
berasal dari ekstraksi (sebagian kecil) dari kayu dengan air panas atau air dingin
atau dengan pelarut organik netral, seperti alkohol, benzene, aseton atau eter.
Proporsi zat ekstraktif bervariasi mulai kurang dari 1% (jenis kayu popral) hingga
lebih dari 10% (jenis kayu red wood) dari berat kering kayu. Zat ekstraktif
beberapa spesies pohon tropis berkisar antara 20%. Variasi ini tidak hanya
disebabkan oleh perbedaan spesies, tetapi juga perbedaan pada bagian satu pohon
yang sama, misalnya antara kayu gubal dan kayu teras (Sjstrm, 1995).
Achmadi (1990) mengelompokkan zat ekstraktif menjadi fraksi lipofilik dan
hidrofilik, walaupun batasnya kurang jelas. Yang termasuk fraksi lipofilik adalah:
lemak, waxes, terpene, terpenoid dan alkohol alifatik tinggi. Cara pemisahannya
dapat dilakukan dengan pelarut non polar, seperti etil eter atau diklorometana.
Sedangkan fraksi hidrofilik meliputi senyawa fenolik (tanin dan lignin),
karbohidrat terlarut, protein,vitamin dan garam anorganik. Bahan jenis kayu yang

10

mempunyai kadar resin tinggi, misalnya resin (damar) yang banyak terdapat pada
famili Dipterocarpaceae. Resin ini berfungsi patologis (melindungi terhadap
kerusakan, terdapat pada saluran resin) dan fungsi fisiologis (cadangan energi,
terdapat dalam sel-sel jari-jari) yang sering ditemukan pada daun.
2.4 Nyamuk Aedes Aegypti
2.4.1 Klasifikasi Nyamuk Aedes Aegypty
Kedudukan nyamuk Aedes aegypti dalam klasifikasi hewan menurut
Soegijanto (2006) adalah :
Filum

Artropoda

Kelas

Insekta

Ordo

Diptera

Sub Ordo

Nematocera

Infra Ordo

Culicomorpha

Superfamili

Culicoidea

Famili

Culicidae

Sub famili

Culicinae

Genus

Aedes

Spesies

Aedes aegypti

11

2.4.2 Ciri khas Nyamuk Aedes Aegypti antara lain :

Gambar 5. Bentuk nyamuk Aedes Aegypti


Warna

: Hitam dengan bintik-bintik putih seperti zebra

Jarak terbang

: 100 meter

Tempat istirahat

: Tempat gelap dan lembab

Waktu menggigit

: Pagi dan sore

Nyamuk betina mempunyai kebiasaan menggigit beberapa orang. nyamuk


Aedes Aegypti dapat bertelur sebanyak 100 buah, diletakkan pada dinding tandon
air (bukan di permukaan air). Nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak di
genangan air.

12

2.4.3 Siklus hidup nyamuk

Gambar 6. Siklus Hidup Nyamuk


Dalam keadaan kering telur aedes Aegypti dapat bertahan hingga beberapa
bulan, tetapi bila tergenang air akan menetas dalam waktu 1-2 hari, menjadi larva
(jentik atau uget-uget) sampai dengan hari ke-4, hari ke-5 menjadi kepompong
atau pupa, Larva stadium III atau IV lebih mudah diamati dari stadium lain
(Asiah, 2008), alat-alat tubuhya sudah terbentuk lengkap (Nurcahyati, 2008) dan
bersifat relatif stabil terhadap pengaruh luar (Sari, 2008). Hari ke-6 menetas, hari
ke-7 dewasa.
Siklus nyamuk Aedes Aegypti mulai dari telur sampai dewasa dibutuhkan
waktu 7-9 hari. Umur nyamuk betina rata-rata 8-15 hari dan yang jantan 6 hari
lalu mati sendiri. Nyamuk Aedes Aegypti (betina) dapat menularkan Virus
Dengue (Virus DBD) setelah menghisap darah seseorang yang terkena DBD.
Ludah nyamuk tersebut terinfeksi virus dan akan ditularkan ketika nyamuk
tersebut menggigit orang lain.

13

III.

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Hasil Hutan Bukan kayu dilaksanakan di Laboratorium
Teknologi Hasil Hutan di Jurusan Kehutanan Universitas Palangka Raya, pada
tanggal 2 Desember 17 Desember 2015.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Ekstraksi Tanin
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ialah:
Tabel 1 . Alat dan Bahan Praktikum 1
No

Alat dan bahan

Jumlah

Satuan

Kulit kayu mahoni

Kg

Pisau

Buah

Belender

Unit

Gelas ukur 10 ml

Unit

Gelas piala 100 ml

Unit

Timbangan analitik

Unit

Kertas saring

Unit

Alkohol

Unit

NaOh

Liter

14

2.2.2 Penentuan Kadar Tanin


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ialah:
Tabel 2 . Alat dan Bahan Praktikum 2
No

Alat dan bahan

Jumlah

Satuan

1.

Ekstrak tanin

200

ml

2.

Serbuk kayu

10

Gram

3.

Oven

Unit

4.

Timbangan analiti

Unit

5.

Cawan

Buah

3.2.3 Pengujian Aktivitas Larvasida


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ialah:
Tabel 3. Alat dan Bahan Praktikum 3
No

Alat dan bahan

Jumlah

Satuan

1.

Pial

Buah

2.

Gelas ukur

10 ml

3.

Pipet volimetrik

4.

Metanol

100

ml

5.

DMSO

100

ml

15

3.3

Cara Kerja
3.3.1 Ekstraksi Tanin
Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Bersihkan kulit kayu mahoni, dan yang digunakan kulit bagian dalam
2. Buat kulit serbuk tersebut dengan ukuran lolos 30 mesh tertahan 40 mesh.
3. Keringkan serbuk tersebut sampai diperoleh kadar air nya kering udara
(12-15%)
4. Rendam serbuk kayu tersebut sebanyak 250 gram dalam alkohol dengan
perbandingan 1:2.
5. Perendaman selama 24 jam, untuk beberapa waktu rendemen tersebut
aduk supaya serbuk terendam merata.
6. Pisah antara filtrat dan hasil ekstrak taninnya.
7. Keringkan hasil ekstrak tersebut pada suhu 40 C sampai diperoleh
ekstrak berupa kristal.
8. Hitungkan rendemen tanin yang diperoleh dengan membagi berat ekstrak
yang diperoleh (a) dengan berat serbuk yang dilakukan ekstraksi (b) ,
dimana persamaannya sebagai berikut:
Rendemen (%) = (a/b) x 100%
3.3.2 Penentuan Kadar Tanin
Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

16

1. Tentukan bahan terektraksi dengan mengeringkan 50 ml esktrak sampai


kering dan keringkan pada suhu 105 C hingga bobot tetap (T1).
2. Ambil 80 ml ekstrak dan tambahkan 6 gram serbuk kulit kayu dan kocok
selama 60 menit. Saring dan uapkan 50 ml filtrat hingga kering dan
keringkan pada suhu 105 C hingga bobot tetap (T2).
3. Tentukan kelarutan serbuk kulit kayu dengan mencampur 6 gram serbuk
kulit kayu dengan 80 ml air dan kocok selama 60 menit. Saring dan
uapkan 50 ml filtrat hingga kering dan keringkan pada 105 C hingga
bobot tetap (T0).
4. Hitunglah kandungan tanin tersebut dengan menggunakan persamaaan
berikut:

Dimana:

T1 (T2 T0) X 500/W

T1= bahan terektraksi ; T2=Berat ekstrak dengan kulit ; T3= kelarutan


ekstrak.
3.3.3 Pengujian Aktivitas Larvasida
Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Telur nyamuk Aedes aegypti dibiakkan dalam media yang berisi air
2. Telur dari nyamuk Aedesaegypti terus disimpan pada tempat yang lembab
sampai telur menetas menjadi larva dan siap digunakan dalam pengujian.
3. Sepuluh vial (botol kecil) disiapkan untuk proses pengujian , dimana masingmasing konsentrasi dibutuhkan sembilan botol ( pengulangan 3 kali) dan 1

17

(kontrol). Ekstrak tanin ditimbang 0,1 gram , kemudian dilarutkan dengan 10


ml , metanol p.a. dari larutan ini dipipet masing-masing sebanyak 1000 l,
100 l dan 10 l. Masing-masing dimasukkan kedalam botol kecil dan
pelarutnya diuapkan selama 24 aam . Selanjutnya ke dalam masing-masing
botol dimasukkan 2 ml air, 100 l DMSO, 10 ekor larva nyamuk aedes
aegypti dan ditambahkan air sampai volumenya 10 ml sehingga diperoleh
konsentrasi 10 , 100, dan 1000 ppm
4. Untuk kontrol , ke dalam botol kecil dimasukkan 100 l metanol p.a.
kemudian diuapkan selama 24 jam, selanjutnya dimasukkan 100 l DMSO,
10 ekor larva nyamuk Aedes aegypti dan air sampai volumenya menjadi 10
ml. Sehingga diperoleh konsentrasi 0 ppm.
5. Pengamatan terhadap kematian larva nyamuk dilakukan setelah 24 jam.
6. Analisis data dilakukan untuk mencari konsentrasi kematian (LC50).

18

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Ekstrak Tanin dari Kulit Kayu Mahoni


Berdasarkan percobaan kali ini adalah ekstraksi senyawa tanin dari kulit
mahoni yang bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa tanin yang terdapat pada
kulit mahoni. Umumnya, tanin pada mahoni banyak terdapat pada kulit. Tanin
merupakan suatu senyawa fenol yang memiliki berat molekul besar yang terdiri
dari gugus hidroksi dan beberapa gugus yang bersangkutan seperti karboksil
untuk membentuk kompleks kuat yang efektif dengan protein dan beberapa
makromolekul. Tanin terdiri dari dua jenis yaitu tanin terkondensasi dan tanin
terhidrolisis.
Sebelum melakukan percobaan, mula-mula kulit mahoni diambil kemudian
dipotong tipis-tipis dan dijemur sampai kering udara. Hal ini bertujuan untuk
menghilangkan atau mengurangi kadar air yang terkandung di dalam irisan tipis
kulit kayu. Selanjutnya irisan kulit kayu sudah kering diblender tanpa
menggunakan air sampai menjadi serbuk. Setelah serbuk dibelender maka serbuk
disaring lolos 40 mess. Untuk menentukan kadar air pada serbuk maka serbuk
tersebut dioven dengan suhu 50 C. Maka kadar air yang dihasilkan sebagai
berikut:=1+KA/100
=1+15/100 =0,16
=100-16 =99,84 gram
Jadi kadar air dalam serbuk 15 % .
Selanjutnya serbuk diredam selama 24 jam dan diaduk per dua jam agar
serbuknya merata. Adapun perbandingan antara alkohol dan serbuk mahoni yakni

19

1:5 dimana serbuk yang digunakan 99,84 gram dan alkohol 500 ml. Setelah
dilakukan perendaman maka serbuk disaring selama 24 jam hingga semua larutan
yang ada pada serbuk terpisah. Larutan yang didapat berwarna coklat pekat dari
99.84 gram serbuk didapat 130 ml larutan.
Selanjutnya larutan yang 130 ml dioven sampai mengkristal. Sebelum
pengovenan maka terlebih dahulu dilakukan penimbangan gelas piala. Adapun
berat gelas piala awal yaitu a.44,02 gram dan b.43,48. Setelah dioven selama
tujuh hari maka larutan serbuk mengkristal dengan warna coklat kehitam-hitaman.
Perubahan warna ini terjadi diakibatkan lama pengeringan larutan dalam oven.
Jadi berat gelas akhir pada gelas a. 44,87 gram dan gelas b.43,91 gram.
Jadi ekstrak tanin yang didapatkan dari 130 ml larutan yaitu
Tanin= Gelas akhir Gelas awal
Gelas a

= 44,87-44,02

Gelas b

= 43,91 -43,48

=0,85gram

=0,43gram

Total tanin yang diperoleh dari 99,84 serbuk dan setelah menjadi larutan
mnjadi 130 ml , yaitu sebanyak 0,85 + 0,43 yaitu 1,28 gram
Dengan rendemen:
(%) =

100

R (%)

=1,28/99,84 *100

= 1,28 %

Ekstrak tanin dalam kulit dilakukan pada suhu 50 C. Karena pada suhu ini dapat
dikatakan tanin yang besar dan viskositas pelarut rendah (kecil). Hal ini didukung
oleh pendapat Liiri.ct.al. (1982) bahwa ekstrak tanin yang baik yaitu pada suhu

20

50 C- 80 C.
Rendemen yang didapat dari kulit kayu mahoni ini adalah 99,84 %. Hal ini
sama dengan yang diungkapkan oleh Browning (1980) bahwa sejumlah tanin akan
larut dalam air, kelarutan akan bertambah besar apabila dilarutkan dengan suhu
yang lumayan tinggi.
4.2 Penentuan Kadar Tanin
Ekstraksi secara refluks dengan pelarut sebanyak tiga kali. Pertama sekali
dengan mengeringkan 50 ml esktrak dan dikeringkan pada suhu 105 C hingga
bobot nya tetap (T1) dimana 1,28 gram. Pada ekstrak selanjutnya dengan 80 ml
ekstrak dan serbuk kulit serupuk sebanyak 6 gram ,serbuk diaduk selama 60
menit serta disaring dan diuapkan sebanyak 50 ml dengan suhu 105 C hasilnya
disebut dengan bobot tetap (T2) yaitu 2,28 gram. Kelarutan serbuk selanjutnya
dengan mencampurkan 6 gram serbuk dengan air 80 ml , diaduk selama 60 menit
, serta disaring dan diuapkan sebanyak 50 ml dikeringkan dengan suhu 105 C
disebut sebagai bobot tetap (T3) yaitu1,08 gram. Untuk lebih jelas dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 4. Kandungan Kadar pada ekstrak tanin
Kode

Berat Awal( (gram)

BeratAkhir (gram)

Hasil (gram)

T1

87,50

88,78

1,28

T2

42,05

44,33

2,28

T0

41,36

42,44

1,08

21

Pada T1 menghasilkan warna coklat kehitam-hitaman, sedangkan warna


pada T2, larutan dicampur dengan serbuk kulit kerupuk menghasilkan coklat
yang sangat kental dan memiliki endapan. Pada T0 pencampuran antara aquades
dengan serbuk kulit kerupuk menghasilkan warna coklat keruh, berlemak dan
memiliki endapan.
Maka untuk mendapatkan kandungan tanin nya yaitu dengan persamaan
sebagai berikut:
= { 1 ( 2 0)} 500/

= {1,28 (2,28 1,08)} 500/99,84


= {0,85 1,20)} 500/99,84
= 0,08

Keterangan : W= berat awal serbuk.

500
= 40/99,84 = 0,40%
99,84

Untuk mengetahui tanin yang ada dalam kulit kayu mahoni maka dilakukan uji
kualitatif. Hasil pengujian kulit kayu mahoni yang mengandung tanin ditunjukan
dengan adanya endapan berwarna coklat kehitaman ketika dicampur dengan
serbuk kerupuk kulit.
Pada pengujian aquades test terbentuk endapan putih kekuningan
menunjukkan tanin yang menggumpal protein dari dari kerupuk kulit, karena
tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer yang larut dalam
air.(Harborne,1987). Pada penambahan kerupuk kulit positif memberikan warna
coklat kehitaman pada larutan tanin dan terdapat endapan menggupal . Dari tiga
kali pengujian pada kulit mahoni

diperoleh rata-rata kadar tanin pada

22

penimbangan 1yaitu 1,28% ; pada penimbangan kedua yaitu 2,28 % dan pada
penimbangan terakhir 1,08 %.
4.3 Pengujian Aktivitas Larvasida
Sebelum melakukan pengujian aktivitas larvasida terlebih dahulu dilakukan
pengenceran yaitu dengan menggunakan tanin yang telah dicampurkan dengan
alkohol. Penambahan pelarut dalam suatu senyawa dan berakibat menurunnya
kadar

kepekatan

atau

tingkat

konsentrasi

dari

senyawa

yang

dilarutkan/diencerkan. Pengenceran adalah menurunkan atau memperkecil


konsentrasi larutan dengan menambahkan pelarut. Pada proses pengenceran,
volume dan molaritas berubah sedangkan jumlah molnya tetap (Sutresna,2008).
Rumus sederhana pengenceran sebagai berikut :

M1.V1 = M2.V2

Keterangan:
V1 : volume larutan sebelum diencerkan (L atau ml)
M1 : molaritas larutan sebelum diencerkan
V2 : volume larutan setelah diencerkan (L atau ml)
M2 : molaritas setelah diencerkan
Rendemen = 1,28%
M+R= 100-1,28 =99,84 ml Alkohol

23

B.I

M1.V1 = M2.V2
1,28 . 5= 1,28 . V2
V2

1,28/2

= 5 ml

M1.V1 = M2.V2
1,28 . 5 = 0,64 . V2
V2

0,64/2 %

= 10 ml

M1.V1 = M2.V2
1,28 . 5 = 0,32 . V2
V2

0,32/2 %

= 20 ml

M1.V1 = M2.V2
1,28 . 5= 0,16 . V2
V2

= 40 ml

air+ abate

10ml +2 gram

Aquades

= 10 ml

Adapun hasil dari praktikum pengujian aktivitas larvasida yang dilakukan,


disajikan pada tabel dibawah ini :

24

Tabel 5. % Mortalitas Nyamuk Aedes Aegypty


No

Konsentrasi Tanin

% Rata-Rata Mortalitas

1.

1,28 %

100

2.

0,64 %

95

3.

0,32%

70

4.

0,16 %

50

5.

12 %

100

6.

10 %

25

Setelah dilakukan pengenceran dan pengujian toksisitas pada larva nyamuk


aedes aegypti yang diamati setelah 24 jam pada aqua gelas yang sudah diisi jentik
nyamuk sebanyak 10 ekor di peroleh bahwa larutan konsentrasi 1,28% dan 12 %
lebih banyak mortalitasnya daripada larutan konsentrasi lainnya. Untuk lebih
jelasnya bisa dilihat pada grafik dibawah ini :
Gambar 7. Grafik mortalitas dan konsentrasi kematian larva
120
100
80

No

60

Konsentrasi Tanin (Y)

40

% Rata-Rata
Mortalitas (X)

20
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718

Grafik di atas menunjukkan bahwa larutan tanin pada perlakuan konsentrasi


1,28% mengalami persentasi kematian larva nyamuk yaitu 100 %, pada perlakuan
konsentrasi 0,64 % mengalami persentase kematian 95 %, pada perlakuan
konsentrasi 0,32 % mengalami persentase kematian 70 %, pada perlakuan
konsentrasi 0,16 % mengalami persentase kematian 50 % dan perlakuan 12 %
mengalami persentase kematian 100 % serta pada perlakuan 10 % (Kontrol)
mengalami kematian 0 %. Larutan tanin yang memiliki persentasi kematian
tertinggi pada perlakuan konsentrasi yaitu 01,28% dan 12% sebanyak 100 %. Uji

26

larvasida menunjukkan bahwa tanin kulit kayu akasia bersifat racun terhadap
larva nyamuk Aedes aegypti.
Larva yang terkena racun akan mati karena kekurangan cairan. Racun
kontak adalah larvasida yang masuk ke dalam tubuh larva melalui kulit,
celah/lubang alami pada tubuh (shipon). Larva akan mati apabila bersinggungan
langsung (kontak) dengan larvisida tersebut. Kebanyakan racun kontak juga
berperan sebagai racun lambung (Nugroho, 1997). Peningkatan mortalitas jentik
nyamuk seiring dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak, disebabkan oleh
kandungan dari ekstrak kulit kayu akasia yang bersifat toksik bagi jentik nyamuk
Aedes aegypti. Kandungan yang dapat bersifat toksik tersebut adalah alkaloid,
fenolik, flavonoid, saponin, resin, dan tanin.
Menurut Robinson (1991) dalam Adam (2005), kandungan alkaloid pada
ekstrak larvasida, dapat merangsang kelenjar endokrin untuk menghasilkan
hormon edikson. Peningkatan hormon ini akan menyebabkan kegagalan
metamorfosis pada jentik Aedes aegypti, sehingga fase pupa tidak akan terjadi.
Sementara itu kandungan tanin, akan berperan sebagai racun kontak dan racun
perut, sehingga menyebabkan kematian pada jentik nyamuk Aedes aegypti.
Adapun hasil dari perhitungan regresi linear sederhana tanin dapat dilihat
pada tabel:

27

Tabel 6 . Perhitungan analisis regresi linear sederhana tanin


Konsentrasi %
(Y)
1,28
0,64
0,32
0,16
12
10

% Kematian (X)

X.Y

100
95
70
50
100
0

128
60,8
22,4
8
1200
0

24,40

415,00

1419,20

X2

Y2
10000
1,6384
9025
4900
2500

0,4096
0,1024
0,0256

10000
0
36425

144
100
246,176

Hubungan antara perlakuan (Y) dan % kematian (X) dengan rumus korelasi
sederhana:

n X

n XY X . Y
2

X n Y 2 Y
2

20. (1419,20) (415,00.24,40)

(20.36425) (172225) ((20.246,17) (595,36)

18258

(2407647204)

r= 0,37

28

Persentase kematian larvasida dianalisis dengan analisis regresi sederhana;


adapun

perhitungannnya

untuk

mengetahui

hubungan

antara

perlakuan

(konsentrasi) yang digunakan terhadap persentasi kematian larvasida. Analasis ini


adalah analisis yang paling sederhana untuk menjelaskan hubungan antara kedua
variabel.
Persamaan regresi sederhana yang digunakan adalah :
Y = a + bx

Y = Variabel terikat / Dependent variabel


X = Variabel bebas/ Independent variabel
a = Intersep/ Konstanta
b = koefisien regresi
Dimana nilai a dan b dapat dihitung dengan rumus:
n XY X . Y
b
2
n X 2 X
a

n XY X . Y
n X X

b= 0,032

Y b X

Y b X
n
,

a=0,54

29

Nilai (a) 0,54 dan (b) 0,032 yang berarti bahwa nilai (a) jika perlakuan nol,
maka konsentrasi berguna dan dapat digunakan untuk nilai (b) dapat diartikan
bahwa apabila nilai naik maka besar kematian nyamuk akan berpengaruh terhadap
konsentrasi. Maka perhitungan regresinya sebagai berikut:
Bahan Induk : Y = a + Bx
=0,54 +(0,032*100)
=3,73
P1

: Y = a + bX
=0,54 +(0,032*95)
=3,57

P2

: Y = a + bX
=0,54 +(0,032*70)
=2,77

P3

: Y = a + bX
=0,54 +(0,032*50)
=2,13

Abate + Air

: Y = a + bX
=0,54 +(0,032*100)
=2,73

Air

: Y = a + bX
=0,54 +(0,032*0) =0.54

30

Tabel 7. Persamaaa Regresi


Konsentrasi
% (Y)
1,28
0,64
0,32
0,16
12
10

% Kematian (X)

Yt= a + bX

100
95
70
50
100
0

3,73
3,57
2,77
2,13
3,73
0,53

Rata rata dari regresi larva nyamuk Aedes aegypti dapat dilihat pada
tabel yaitu pada konsentrasi 01,28 dan 12 % merupakan konsentrasi dengan
persentase kematian nyamuk tertinggi yaitu sebanyak 100 % dan konsentrasi 0,16
% merupakan konsentrasi kematian nyamuk paling rendah yaitu 2,13%.
Untuk lebih jelasnya peningkatan regresi dari setiap pelarut dapat dilihat
pada grafik berikut:
Gambar 8. Grafik peningkatan regresi dari setiap pelarut

Regresi Yt= a + bX
4

3,73

3,5

3,73

3,57

2,77

2,5

2,13

Yt= a + bX

1,5
1
0,53

0,5
0
1

31

Berdasarkan grafik diatas dapat kita ketahui bahwa persamaan regresi


yang didapat naik turun,

hal ini terjadi karena tingkat kematian pada tanin

konsentrasi 1,28 % sama dengan tingkat kematian pada konsentrasi abate itambah
air. Dari grafik juga dapat kita paparkan bahwa tingkat kemampuan antara abate
dengan tanin kulit kayu mahoni sama
Besarnya jumlah kematian larva menunjukkan kuat lemahnya efek
larvasida. Makin besar jumlah kematian larva berarti makin kuat efek larvasida
dan makin sedikit jumlah kematian larva makin lemah efek larvasidanya. Secara
garis besar, kenaikan konsentrasi ekstrak juga diikuti kenaikan jumlah kematian
larva sampai tingkat konsentrasi tertentu seperti bisa dilihat pada grafik . Hal ini
juga menunjukkan hubungan regresi yang linier, seperti yang ditunjukkan pada
kurva regresi. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar
jumlah kematian larva.

32

V.

1.1

PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum pengambilan tanin dari kulit kayu mahoni dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut;


1. Tanin adalah senyawa organik yang terdiri dari campuran senyawa polifenol
kompleks, dibangun dari elemen C, H, dan O serta sering membentuk
molekul besar dengan berat molekul lebih besar dari 2000.
2. Rendemen tanin pada kulit kayu mahoni adalah 1,28% dan kandungan tanin
sebanyak 0.40%
3. Konsentrasi larutan tanin yang menyebabkan kematian hampir 1,28 % dan
12% pada larva nyamuk yaitu pada konsentrasi 100%.
4. Peningkatan mortalitas jentik nyamuk seiring dengan meningkatnya
konsentrasi ekstrak, disebabkan oleh kandungan dari ekstrak kulit kayu
mahoni yang bersifat toksik bagi jentik nyamuk Aedes aegypti. Kandungan
yang dapat bersifat toksik tersebut adalah alkaloid, fenolik, flavonoid,
saponin, resin, dan tanin.
4.2

Saran
Untuk praktikum selanjutnya agar alat-alat yang digunakan dalam tanin

ini lebih dilengkap lagi.


Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan tanin mahoni merupakan
racun yang bersifat mematikan bagi larva nyamuk untuk itu perlu dilakukan
penelitian nyamuk desawa dengan menggunakan tanin kulit kayu mahoni.

33

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, S S., Darmawan, A.S.,(1991), Tanin dari Hutan Tanaman Industri


Sebagai Pencampur Perekat Sintetik Fenol Formaldehida. Laporan
Penelitian No.156/P4M/DPPM/BDXXI/1990, FMIPA IPB, Bogor.
Browning, B. L. 1956. Method of Wood Chemistry. Vol. I, II. Interscience
Publisher. New York.
Coppens, H.A., Santana, M.A.E .,Pastore,F.J, (1980), Tannin Formaldehyde
Adhesives for Exterior Grade Plywood and Particleboard Manufacture.
For. Prod. J.30 (4) : pp.38-42..
Departemen Kehutanan (DEPHUT). 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No. 35
Tahun 2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu.
Harborne, J.B, dkk. 1994. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern
Menganalisis Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB.
Nugroho SP, Srimulyani, Mulyaningsih. Aktivitas larvisida minyak atsiri daun
jukut (Hyptis suaveolens L.) Poit, terhadap larva nyamuk Aedes aegypti
instar IV dan analisis kromatografi gas-spektroskopi massa. Maj Farmasi
Indon 1997: 8(4):160-70.

34

Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB.


Bandung.
Tan, L. 1992. Ekstraksi dan Identifikasi Tanin Kulit Kayu Beberapa Jenis Pohon
serta Penggunaannya sebagai Perekat Kayu Lapis Eksterior. Jurusan IPK.
Program Pasca Sarjana IPB. Bogor. Disertasi (tidak diterbitkan).
Sukrasno, dkk.2005. Detail Penelitian Obat Bahan Alam.http://bahan-alam.fa.itb.
ac.id /detail.php?id= 103.Diakses pada tanggal 22 Oktober 2009.
Womack, M. 1993. The yellow fever mosquito, Aedes aegypti. Wing Beats, Vol