Anda di halaman 1dari 43

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesuburan tanah adalah suatu konsep atau ilmu yang memepelajari
dan mengidentifikasi keadaan tanah dan kandungan unsur hara yang ada
didalamnya dan apakah unsur hara tersebut dapat dimanfaatkan oleh
tanaman ataupun tidak. Pengertian dari tanah itu sendiri ada suatu media
yang tersusun atas bahan-bahan mineral hasil pelapukan dan bahan organik
dari hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan. Suatu tanah dikatakan
subur apabila kandungan unsur hara yang tersedia bagi tanaman dapat
digunakan oleh tanaman dan tersedia dengan cukup. Semakin banyak
kandungan unsur hara di dalam tanah yang tersedia dan dapat
dimanfaatkan oleh tanaman maka tanah tersebut dikatakan subur.
Unsur hara dalam tanah sendiri meliputi unsur hara makro dan
unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur hara makro yaitu
unsur hara yang ada didalam tanah yang dibutuhkan tanaman dalam
jumlah yang banyak atau besar dan berpengaruh langsung terhadap
pertumbuhan tanaman. Unsur-unsur hara makro antara lain C, H, O, N, P,
K, S, Ca, dan Mg. Selain itu, terdapat juga unsur hara mikro yaitu unsur
hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah sedikit dan tidak
berpengaruh langsung pada pertumbuhan tanaman. Unsur-unsur mikro ini
antara lain Mo, B, Fe, Mn, Zn, Cu, dan Na. Semua unsur ini sangat penting
bagi tanaman terutama unsur hara makro karena berpengaruh langsung
terhadap pertumbuhan tanaman.
Unsur hara yang terkandung di dalam tanah tidak seluruhnya
tersedia bagi tanaman, dalam tanah dapat terjadi defisiensi suatu unsur
hara yang dapat menyebabkan gejala kekurangan unsur pada tanaman.
Terjadinya defisiensi ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain
leaching (pencucian) ataupun juga pengikatan oleh clay. Oleh karena itu,
untuk menanggulangi defisiensi tersebut dapat dilakukan pemupukan
untuk unsur hara yang kekurangan yang dapat diketahui dari gejala yang
timbul pada tanaman maupun dari dilakukannya analisis pada tanah

tersebut. Pemupukan ini dapat diberikan untuk melakukan pencegahan


terhadap gejala yang muncul karena defisiensi suatu unsur hara tersebut.
Oleh karena itu, dengan dilakukannya praktikum kesuburan tanah ini maka
penulis dapat menganalisis sifat kimia tanah yang diambil dari lahan
pertanaman sebagai sampel serta dapat melihat dan mengetahui pengaruh
dari tindakan pemupukan ataupun pengelolaan terhadap pertumbuhan dan
hasil tanaman yang ditanam.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum kesuburan tanah ini antara
lain:
1. Mahasiswa bisa melakukan analisis beberapa sifat kimia tanah.
2. Mahasiswa mampu melihat pengaruh dari tindakan pemupukan atau
pengelolaan terhadap pertumbuhan atau hasil tanaman.
C. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Kesuburan Tanah ini dilaksanakan dalam dua kegiatan
utama, yaitu :
1. Percobaan Penanaman di Lahan
Hari, tanggal : Sabtu, 28 Maret 2015
Waktu
: 07.00 WIB Selesai
Tempat
: Lahan Percobaan Fakultas Pertanian UNS, Desa
Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten
Karanganyar.
2. Analisis di Laboratorium
Hari, tanggal : Kamis, 4 Juni 2015
Waktu
: 07.00 WIB Selesai
Tempat
: Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas
Pertanian UNS

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanah Alfisol
Tanah Alfisol adalah tanah yang sangat lapuk, tekstur berat dan
kadang-kadang lekat, struktur gumpal dan bahan organik rendah, nisbah

silika atau sesquioksida (SiO2/ R2O3) realatif tinggi, kejenuhan basa sedang
sampai tinggi dan kadang-kadang mengandung konkresi kapur dan besi.
Alfisol ditemukan di daerah-daerah datar sampai berbukit. Tekstur tanah
alvisol agak bervariasi dari lempung sampai liat, dengan struktur gumpal
bersusut (Hardjowigeno 2003).
Sebagian besar Alfisols mempunyai tekstur tanah yang ringan pada
horison permukaannya dan sering mempunyai kandungan liat kurang dari
20%. Lebih lanjut, Alfisols pada wilayah tropik sub humid dan semi arid
mempunyai fraksi endapan yang rendah, mempunyai struktur yang lemah,
serta dapat dengan mudah mengalami slaking, pengerasan dan pemadatan.
Dikarenakan oleh faktor utama rendahnya aktifitas liat (misalnya kaolinit
dan ilit) serta kandungan bahan organik yang rendah, maka sebagain besar
dari Alfisols juga akan dengan mudah mengeras (hard-setting), misalnya
saja kegiatan pengerasan tanah menjadi massa yang tidak berstruktur
karena pengeringan (Risnasari 2002).
Bahan organik dalam tanah Alfisol terdiri dari bahan organik kasar
dan bahan organik halus atau humus. Lapisan I pada tanah Alfisol
mempunyai humusyang terdiri dari hancuram bahan organik kasar serta
senyawa-senyawa baru yang baru dibentuk dari hancuran bahan organik
tersebut melalui kegiatan mikroorganismedi dalam tanah. Humus
merupakan senyawa yang resisten (tidak mudah hancur), berwarna hitam
atau cokelat yang memiliki daya menahan air dan unsur hara yang tinggi.
Humus adalah senyawa kompleks yang agak resisten, pelapukan berwarna
cokelat, amorfus, bersifat koloid dan berasal dari jaringan tumbuhan atau
binatang yang telah dimodifikasikan atau disintesiskan oleh berbagai jasad
mikro. Dalam jaringan tumbuhan terdapat pula lemak, minyak, lilin dan
dammar dalam jumlah yang kecil. Jumlah dan sifat komponen-komponen
organik dalam sisa-sisa tumbuhan sangat berpengaruh menentukan
penimbunan bahan organik dalam tanah. Terutama lapisan I tanah Alfisol
memiliki kandungan humus yang lebih banyak sehingga kandungan bahan
organiknya lebih tinggi dari lapisan dibawahnya (Saifuddin 2002).

Lahan kering tanah Alfisol sangat potensial untuk pengembangan


budidaya kacang tanah. Tanah Alfisol mempunyai keunggulan sifat fisika
yang relatif bagus, tetapi tanah Alfisol umumnya miskin hara tanaman
baik yang makro maupun mikro dan hanya kaya akan hara Ca dan Mg.
Produktivitas lahan umumnya relatif rendah sebagai akibat kandungan
humus yang sudah sangat rendah, terutama yang sudah cukup lama
dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan. Tanah Alfisol di Indonesia
sekitar 7 juta hektar tersebar di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Namun
demikian berapa luas lahan kering Alfisol yang sudah dimanfaatkan untuk
budidaya tanaman pangan belum diperoleh data yang jelas (Ispandi 2004).
Stabilitas agregat tanah (SA03B) untuk alfisol tergolong mantap.
Kondisi ini dapat difahami bahwa dilihat dari selisih nilai yang begitu
besar antara stabilitas agregat di atas 2 mm (SA20B) dengan stabilitas
agregat di atas 0,3 mm (SA03B) yang mendekati 50%, menunjukkan
bahwa agregat yang terbentuk didominasi oleh agregat-agregat yang
berukuran kurang dari 2 mm, dan agregat ini bila terlepas mudah terangkut
oleh aliran air permukaan (Handayani 2002).
B. Pupuk KCl, Pupuk Kandang, Urea, NPK, Pupuk SP
Pupuk KCl adalah pupuk yang mengandung unsur hara makro
yaitu unsur K dan unsur hara mikro yaitu Cl. Secara umum, kalium sangat
berperan dalam merangsang pertumbuhan akar tanaman. Perakaran yang
optimal akan mendukung suplai unsur hara ke dalam jaringan tanaman
sehingga akan mendukung pertumbuhan tanaman jagung. Selain itu un-sur
K sangat mempengaruhi laju peman-jangan batang terutama pada jaringan
yang aktif membelah pada bagian ujung tanaman (jaringan
meristem).Bahwa secara alamiah K berdifusi lewat tanah ke akar tanaman
yang tumbuh pada daerah perakaran dan K memberikan efek yang nyata
terhadap pertumbuhan tanaman (Masdar 2003).
Pupuk kandang dapat diartikan sebagai semua produk buangan dari
hewan ternak yang dapat digunakan untuk menambah hara, memperbaiki
sifat fisik dan biologi tanah. Pemeliharan ternak diberi alas sekam pada

ayam, jerami pada sapi, kerbau dan kuda, maka alas tersebut akan
dicampur menjadi satu kesatuan dan disebut pupuk kandang pula.
Berdasarkan sifatnya pupuk kandang dibagi menjadi dua yaitu pupuk
kandang padat dan cair. Pupuk kandang padat yaitu kotoran ternak yang
berupa padatan termasuk yang belum dikomposkan, sebagai sumber hara
N bagi tanaman dan dapat memperbaiki sifat kimia, biologi dan fisik
tanah. Sedangkan pupuk kandang cair merupakan bentukan cair dari
kotoran hewan yang masih segar yang bercampur dengan urin hewan atau
kotoran hewan yang dilarutkan dalam air dalam perbandingan tertentu.
Pupuk kandang yang masih segar jika dicampur dengan air dan dijadikan
pupuk kandang cair memiliki kandungan hara yang lebih baik dibanding
dengan pupuk kandang padat (Suwarno 2003).
Pupuk urea adalah pupuk kimia yang mengandung Nitrogen (N)
berkadar tinggi. Unsur Nitrogen merupakan zat hara yang sangat
diperlukan tanaman. Pupuk Urea berbentuk butir-butir kristal berwarna
putih, dengan rumus kimia NH2(CONH)2, merupakan pupuk yang mudah
larut dalam air dan sifatnya sangat mudah menghisap air (higroskopis),
karena itu sebaiknya disimpan di tempat kering dan tertutup rapat. Pupuk
urea mengandung unsur hara N sebesar 46% dengan pengertian setiap 100
kg urea mengandung 46 kg Nitrogen. Unsur hara nitrogen yang
terkandung dalam pupuk urea memiliki kegunaannya bagi tanaman yaitu,
membuat daun lebih banyak mengandung butir hijau daun (chlorophyl),
dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, dapat menambah kandungan
protein tanaman dan dapat dipakai untuk semua jenis tanaman, baik
tanaman pangan, holtikultura, tanaman perkebunan, usaha peternakan dan
usaha perikanan (Muhfandi 2011).
Pupuk NPK adalah pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat
yang mengandung unsur hara utama nitrogen, fosfor, dan kalium. Pupuk
NPK merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang paling umum
digunakan. Pupuk NPK mempunyai berbagai bentuk, yang paling khas
adalah pupuk padat yang berbentuk granul atau bubuk. Ada juga pupuk
NPK yang berbentuk cair, beberapa keuntungan dari pupuk cair adalah

efek langsung dan jangkauannya yang luas. Pupuk NPK adalah suatu jenis
pupuk majemuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara yang
digunakan untuk menambah kesuburan tanah. Pupuk majemuk yang sering
digunakan adalah pupuk NPK karena mengandung senyawa ammonium
nitrat (NH4NO3), ammonium dihidrogenfosfat (NH4H2PO4), dan kalium
klorida (KCl). Kadar unsur hara N, P, dan K dalam pupuk majemuk
dinyatakan dengan komposisi angka tertentu. Misalnya pupuk NPK 10-2015 berarti bahwa dalam pupuk itu terdapat 10% nitrogen, 20% fosfor
(sebagai P2O5) dan 15% kalium (sebagai K2O) (Abdillah 2008).
Pupuk SP atau SP 36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari
batuan fosfat yang ditambang. Kandungan unsur haranya dalam bentuk
P2O5 SP36 adalah 46 % yang lebih rendah dari TSP yaitu 36 %. Dalam air
jika ditambahkan dengan ammonium sulfat akan menaikkan serapan fosfat
oleh tanaman. Kekurangannya dapat mengakibatkan pertumbuhan
tanaman menjadi kerdil, lamban pemasakan dan produksi tanaman rendah
(Situmorang dan Untung 2001).
C. Kesuburan Tanah
Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah utnuk mendukung
pertumbuhan tanaman secara optimal sehingga tanamn yang ditanam dapat
menghasilkan produksi yang optimal. Pada dasarnya kesuburan tanah
merupakan tolak ukur dari tingkat hasil panen atau tingkat produktivitas
suatu tanaman yang ditanam diareal tersebut. Hasil panen atau
produktivias dari tanaman tersebut diukur dangan bobot kering yang
diambil pada luasan tertentu dengan satuan waktu tertentu pula (Reijntjes
Coen, et al 2002).
Kesuburan tanah itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu kesuburan
tanah aktual dan juga kesuburan tanah potensial. Kesuburan tanah aktual
adalah kesuburan tanah yang hakiki. Sedangkan kesuburan tanah potensial
adalah kesuburan tanah maksimum yang dapat dicapai dengan intervensi
teknologi yang mengoptimalkan semua faktor. Intervensi teknologi yan
gdapat mengoptimalkan semua faktor tersebut diantaranya: (1) terdapat

keseimbangan antara tambahan hasil panen atau nilai tambah ekonomi dari
komoditi sesuai yang diharapkan dengan tambahan biaya yang harus
dikeluarkan, (2) kemampuan masyarakat untuk membiayai intervensi
tersebut, (3) keterampilan masyarakat dalam menerapkan teknik intervensi
tersebut secara berkesinambungan. Ketiga faktor intervensi tersebut tidak
dapat diterapkan apabila salah satu dari ketiganya tidak dimiliki oleh
petani sendiri, karena ketiga faktor intervensi tersebut saling
mempengaruhi (Distan 2011).
Hampir semua proses dan kejadian dalam tanah dapat terjadi
karena pengaruh air sebagai mediumnya. Semua proses-proses yang
menciptakan kesuburan tanah atau sebaliknya mendorong terjadinya
degradasi tanah seperti hidrolisis, pelarutan yang dapat menuju pada
proses pencucian dalam tanah dan juga proses reduksi semuanya
dilakukan oleh air. Salah satu contoh adalah proses reduksi, proses ini
terjadi karena air menutup jalan masuknya udara kedalam tanah
(Tejoyuwono et al 2006).
Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu
sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau
binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami
perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan
kimia. Bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang
terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan,
biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan
organik yang stabil atau humus. Bahan organik memiliki peran penting
dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman,
sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah
dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya
kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang
umum terjadi. Bahan organik tanah juga merupakan salah satu indikator
kesehatan tanah. Tanah yang sehat memiliki kandungan bahan organik
tinggi, sekitar 5%. Tanah yang tidak sehat memiliki kandungan bahan

organik yang rendah. Kesehatan tanah penting untuk menjamin


produktivitas pertanian (Suriadi dan Nizam 2005).
Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchange
capacity (CEC) merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan
pada permukaan koloid yang bermuatan negative. Berdasarkan pada jenis
permukaan koloid yang bermuatan negative, KTK dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu KTK koloid anorganik atau KTK liat, KTK koloid
organik dan KTK total atau KTK tanah (jumlah total kation yang dapat
dipertukarkan dari suatu tanah baik kation pada permukaan koloid organik
maupun kation pada permukaan koloid anorganik). Besarnya KTK tanah
tergantung pada tekstur tanah, tipe mineral liat tanah, dan kandungan
bahan organic. Semakin tinggi kadar liat atau tekstur semakin halus maka
KTK tanah akan semakin besar. Demikian pula pada kandungan bahan
organic tanah, semakin tinggi bahan organik tanah maka KTK tanah akan
semakin tinggi (Mukhlis 2007).
D. Tanaman Jagung
Jagung manis (sweet corn) merupakan komoditas palawija dan
termasuk dalam keluarga (famili) rumput-rumputan (Gramineae) genus
Zea dan spesies Zea mays saccharata. Jagung manis memiliki ciri-ciri
endosperm berwarna bening, kulit biji tipis, kandungan pati sedikit, pada
waktu masak biji berkerut. Produk utama jagung manis adalah buah/
tongkolnya, biji jagung manis mempunyai bentuk, warna dan kandungan
endosperm yang bervariasi tergantung pada jenisnya, biji jagung manis
terdiri atas tiga bagian utama yaitu kulit biji (seed coat), endosperm dan
embrio. Jagung tergolong tanaman C4 dan mampu beradaptasi dengan
baik pada faktor pembatas pertumbuhan dan produksi.Salah satu sifat
tanaman jagung sebagai tanaman C4, antara lain daun mempunyai laju
fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman C3, fotorespirasi dan
transpirasi rendah, efisien dalam penggunaan air (Koswara 2009).
Syarat pertumbuhan tanaman jagung adalah tumbuh dalam
keadaan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata.

Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air.
Sebaiknya ditanam awal musim hujanatau menjelang musim kemarau.
Membutuhkan sinar matahari, tanaman yangternaungi, pertumbuhannya
akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidakoptimal. Suhu
optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan
persyaratantanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya
humus akan berproduksioptimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan
ketersediaan air baik, kemiringan tanahkurang dari 8 %. Daerah dengan
tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukanpembentukan teras
dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggianoptimum
antara 50-600 m dpl. Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik
dan fisiologi (benih hibryda). Syarat dalam pemilihan benih adalah biji
yang mempunyai daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih +
20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam,sebaiknya direndam dalam POC
NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam) (Rukmana 2001).
Tanaman jagung yang mengasorpsi P dalam jumlah relatif sedikit
daripada hara N dan K. Pola akumulasi P tanaman jagung hampir sama
dengan akumulasi hara N. Pada fase awal, pertumbuhan akumulasi P
relatif lambat, namun setelah berumur 4 minggu meningkat dengan cepat.
Pada saat keluar bunga antan, akumulasi P pada tanaman jagung mencapai
35% dari seluruh kebutuhannya. Selanjutnya akumulasi meningkat hingga
menjelang tanaman dapat di panen. Gejala kekurangan P biasanya tampak
pada fase awal pertumbuhan. Tanaman yang kekurangan P, daunnya
berwarna keunguan. Kekurangan P juga menyebabkan perakaran tanaman
menjadi dangkal dan sempit penyebarannya serta batang menjadi lemah.
Selain itu, pembentukan tongkol jagung menjadi tidak sempurna dengan
ukuran kecil dan barisan biji tidak beraturan dengan biji yang kurang
berisi (Sutanto 2005).
Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun.
Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol
produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Buah Jagung siap
panen Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu

tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan


jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada
bunga betinanya (protandri) (Nuning 2012).
Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan
hewan. Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua
terpenting setelah padi. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di
dunia, jagung menduduki urutan ke 3 setelah gandum dan padi. Di daerah
Madura, jagung banyak dimanfaatkan sebagai makanan pokok. Akhirakhir ini tanaman jagung semakin meningkat penggunaannya. Tanaman
jagung banyak sekali gunanya, sebab hampir seluruh bagian tanaman
dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan (Warisno 2005).

III.

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Praktikum Lapang
1. Alat
a. Cangkul/ Cethok
b. Ember
c. Tali rafia
d. Pathok
e. Tugal
f. Meteran
2. Bahan

a. Biji Jagung Manis


b. Pupuk N
3. Prosedur Kerja
a. Pengolahan Tanah
Pengolahan dilakukan dengan mencangkul tanah pada kedalaman
olah, kemudian menggemburkan dan meratakannya serta
dibersihkan dari sisa-sisa tanaman pengganggu.
b. Pembuatan Petak
Pembuatan petak dengan ukuran 2 x 3 meter.
c. Penanaman
Menanam biji jagung manis 2 biji per lubang tanam dengan jarak
tanam 25 x 75 cm.
d. Pemupukan
Pemupukan dilakukan sesuai perlakuan untuk setiap kelompok
sesuai groupnya masing-masing. Dosis pupuk: UREA 300kg/ha,
SP36 150 kg/ha, KCl 50 kg/ha, Pupuk kandang 20 ton.
Cara Pemupukan :
Pupuk kandang diberikan sekali pada saat pengolahan tanah.
Pupuk N, diberikan 2 X, pemupukan 1 saat 1 minggu setelah tanam
dan pemupukan kedua 1 bulan setelah tanam.
Pupuk P diberikan 2 minggu setelah tanam.
Pupuk K diberikan 1 bulan setelah tanam bersamaan pemupukan
ke 2.
e. Pengamatan
1) Tinggi Tanaman
Diukur dari pangkal batang tanaman (batas antara akar dan
batang) hingga ujung dau tertinggi (helaian dan ditangkupkan),
dilakukan 1 minggu sekali.
2) Berat Brangkasan Segar

Brangkasan segar meliputi seluruh daun yang telah dipanen


untuk tanaman jagung. Seluruh bagian tanaman dibersihkan
dan ditimbang berat brangkasan segarnya.
3) Berat Brangkasan Kering
Berat brangkasan yang sudah dioven pada suhu 70C hingga
bobot menjadi konstan ( 48 jam)
f. Pemanenan saat Pertumbuhan Vegetatif Maksimum
Setelah tanaman mencapai pertumbuhan maksimum yang ditandai
dengan keluarnya bunga (kira-kira 45 hari) dilakukan pengambilan
sampel tanaman sebanyak 2 sampel per petak.
Pada saat yang sama juga dilakukan pengambilan sempel tanah
untuk analisis beberapa sifat kimia tanah di laboratorium. Sampel
tanah maupun tanaman selanjutnya dibawa ke laboratorium,
diproses untuk dianalisis lebih lanjut.
g. Penanganan Sampel Tanaman dan Tanah
1) Daun jagung dibersihkan dari tanah, lalu diangin-anginkan
supaya layu. Selanjutnya dipotong agak kecil lalu dimasukkan
dalam oven dengan suhu 60C samapi kering. Setelah kering
sampel ditimbang lalu digrinding dan disimpan dalam kantong
plastik diberi label sesuai dengan kode perlakuannya dan siap
untuk dianalisis. Analisis jaringan meliputi N, P, K jaringan
tanaman dengan metode Kjeldahl untuk N jaringan, P dan K
jaringan dengan metode ekstraksi HNO3 pekat dan HclO4 pekat.
2) Tanah yang telah diambil dari lapang, dibersihkan dari
perakaran lalu di kering anginkan. Selanjutnya setelah kering
angin, ditumbuk dan disaring dengan saringan berdiameter 0,5
mm, hasil saringan disimpan dalam kantong plastik diberi label
dan selanjutnya dianalisis.
h. Pemanenan hasil
Pemannenan dilakukan apabila jagung manis sudah siap dipanen
dengan cara memetik tongkolnya.
B. Praktikum Laboratorium
1. Kadar Lengas
a. Alat

1) pH meter
2) tissue
3) botol semprot
b. Bahan
1) Ctka
2) Botol/ flakon
3) Alat penggojog
4) Aquades
5) Labu ukur
c. Prosedur Kerja
1) Menimbang botol timbang kosong (a)
2) Menimbang contoh tanah 5 gr dan memasukkannya ke dalam
botol timbang
3) Menimbang botol timbang dan contoh tanah (b)
4) Mengoven selama 4 jam pada suhu 105C
5) Mendinginkan dalam eksikator lalu menimbang botol timbang
(c)
6) Menghitung kadar lengas tanah
kadar lengastanah=

(bc)
100
(ca)

2. Kapasitas Tukar Kation


a. Alat
1) Erlenmeyer
2) Alat penggojog
3) Kertas saring
4) Corong
5) Pipet ukur labu destilasi
6) Destilator
7) Buret dan statif
8) Timbangan
b. Bahan
1) Ctka 0,5 mm
2) Amonium asetat 1 N
3) Alkohol 95%
4) NaCl 10%
5) NaOH 45%
6) HCl 0,1 N
7) Asam Borat 2%
8) Indikator campuran (BCG dan MR)
9) Aquades
10) Butir Zn
c. Prosedur Kerja

1) Menimbang Ctka 0,5 mm 10 gr, lalu dimasukkan dalam


erlenmeyer
2) Menambahkan amonium asetat dan menggojok selama 10
menit
3) Mencuci dengan amonium asetat 8 kali dan ctka dicuci lagi
dengan alkohol 10 cc sebanyak 5 kali kemudian filtrat dibuang
4) Mencuci dengan HCl 10% 10 cc sebanyak 8 kali dan
memindahkan filtrat kedalam labu destilasi
5) Mengencerkan dengan aquades sempai volume 150 cc
6) Melakukan destilasi dengan penampung 10 cc Asam Borat 2%
dan menambah indikator campuran sebanyak 2 tetes
7) Menunggu hasil destilasi sampai volume 40 cc
8) Hasil destilasi dititrasi dengan HCl 0,1 N sampai warna
kehijauan
9) Mencatat jumlah HCl (ml/cc) yang digunakan untuk titrasi
+ /kg
cc HCl N HCl
KTK =
100 cmol
berat tana h
Keterangan: Hasil destilasi bisa hanya diambil 10 cc tetapi
hasil titrasi dikalikan 4
3. Bahan Organik
a. Alat
1) Labu takar 50 ml
2) Gelas piala 50 ml
3) Gelas ukur 25 ml
4) Pipet drop
5) Pipet ukur
b. Bahan
1) Ctka 0,5 mm
2) K2Cr2O7 1 N
3) Asam sulfat pekat
4) Asam fosfat pekat
5) FeSO4 0,5 N
6) Indikator DPA
7) Aquadest
c. Prosedur Kerja
1) Menimbang ctka 0,5 mm seberat 0,5 gr dan memasukkan ke
dalam labu takar 50 ml.
2) Menambahkan K2Cr2O7 1N sebanyak 10 ml

3) Menambahkan dengan hati-hati lewat dinding 10 cc Asam


Sulfat pekat setetes demi setetes, hingga menjadi berwarna
jingga. Apabila muncul warna kehijauan, tambahkan lagi
K2Cr2O7 dan H2SO4 pekat dengan volume yang diketahui.
Lakukan hal yang sama untuk blanko (tanpa tanah)
4) Menggojog dengan memutar dan mendatar selama 1 menit, lalu
mendiamkannya selama 30 menit.
5) Menambahkan asam fosfat 85% dan mengencerkan dengan
aquadest hingga tanda tera (vol 50 ml) dan digojog sampai
homogen
6) Mengambil 5 ml larutan bening dan menambah 15 ml aquadest
serta indikator DPA sebanyak 2 tetes, kemudian menggjognya
bolak balik sampai homoge
7) Menitrasi dengan FeSO4 0,5 N hingga warna hijau cerah.
Kadar C=

( BA ) nFeSO 4 3
100
10
100
100
77
berat tanah (mg)
100+ KL

Kadar Bah an Organik=

100
kadar C
58

B = Blanko
A = Baku
KL = Kadar Lengas
4. N Total Tanah
a. Alat
1) Gelas Arloji
2) Timbangan analitik
3) Tabung Kjeldahl
4) Erlenmeyer
5) Buret
6) Labu destilasi
b. Bahan
1) Ctka 0,5 mm
2) H2SO4 pekat
3) CuSO4 dan K2SO4 (perbandingan 20:1)
4) Aquadest
5) H2SO4 0,1 N atau H2BO4 10%

6) Indikator Methyl red


7) NaOH 0,1 N atauNCl 0,1 N
8) Butir Zn
c. Prosedur Kerja
1) Destruksi
a) Menimbang dengan gelas arloji bersih/kertas contoh tanah
kering angin berdiameter 0,5 mm 1 gr
b) Memasukkan ke tabung Kjeldahl dan menambahkan 6 ml
H2SO4 pekat
c) Menambahkan campuran serbuk K2SO4 dan CuSO4 1
sendok kecil
d) Melakukan destruksi hingga campuran homogen yaitu asap
hilang dan larutan menjadi putih kehijauan atau tidak
berwarna
2) Destilasi
a) Setelah larutan dalam tabung Kjeldahl dingin,
menambahkan aquades 30 ml dan menuangkan dalam
tabung destilasi (tanah tidak ikut), tambahkan 2 butir Zn
dan 20 ml NaOH pekat.
b) Mengambil larutan penampung 10 ml (merupakan
campuran H2SO4 0,1 N dan 2 tetes methyl red) pada beker
glass atau erlenmeyer (larutan penampung sudah dibuatkan)
c) Melakukan detilasi hingga volume larutan penampung 40
ml.
3) Titrasi
a) Mengambil larutan penampung 10 ml dan melakukan titrasi
pada beker glass hasil destilasi, dengan NaOH 0,1 N
sampai warna hampir hilang/kuning bening.
b) Melakukan prosedur diatas untuk blanko
c) Menghitung nilai N total tanah.
N total tana h=

( B A ) N NaOH 14 4
100
100
berat tanah (mg)
100+ KL

5. P Tersedia Tanah
a. Alat
1) Gelas Ukur
2) Timbangan analitik

3) Tabung reaksi
4) Corong
5) Kertas saring Whatman
6) Erlenmeyer
7) Pipet ukur
8) Spektrofotometer
b. Bahan
1) Ctka 0,5 mm
2) Larutan HCl 0,025 N
3) Larutan NH4F 0,03 N
4) Amonium Molibdat
5) Larutan SnCl2
6) Larutan standar P
c. Prosedur Kerja
1) Mengencerkan larutan standar P (dilakukan co-ass)
2) Menimbang 0,5 gr tanah kering angin kemudian
memasukkannya ke dalam flakon
3) Menambah 7 ml larutan Bray I (0,025 N HCl + 0,03 N NH4F),
4)
5)
6)
7)
8)

lalu menggojognya selama 1 menit


Menyaring dengan kertas Whatman sampai jernih
Mengambil 2 ml filtrat dan menambah 5 ml aquades
Menambah 2 ml amonium molybdat hingga homogen
Menambah 1 ml SnCl2 dan menggojognya (sebelum ditembak)
Mengukur dengan Spektrofotometer pada panjang gelombang
600 nm

ppm P=

ppm P larutan tanah 35


100
berat tana h(gr)
100+ KL

6. K Tersedia Tanah
a. Alat
1) Gelas ukur
2) Tabung reaksi
3) Timbangan analitik
4) Corong
5) Flame Photometer
b. Bahan
1) Ctka 0,5 mm
2) Lithium Khlorida (LiCl2) 0,05 N
3) Amonium astetat 1 N pH 7
c. Prosedur Kerja
1) Menimbang contoh tanah 2,5 gr
2) Menambah amonium asetat 25 ml dan menggojog selama 30
menit

3) Menyaring ekstrak dan mengambil 5 ml


4) Menambah 5 ml LiCl2 dan menjadikan volume 50 ml dengan
aquades
5) Menembak dengan flamefotometer
ppm K LarutanTana h
K Terse dia Tana h=

50 50

5 100

100
Berat Tana h(mg)
100+ KL

7. N Jaringan Tanaman
a. Alat
1) Neraca analitik tiga digital
2) Tabung digestion
3) Alat destilasi
4) Labu didih 250 ml
5) Erlenmeyer 100 ml
6) Tabung reaksi
b. Bahan
1) Asam Sulfat pekat
2) Natrium Hidroksida
3) Asam Borat
4) Petunjuk Conwey
5) Batu didih
c. Prosedur Kerja
1) Destruksi
a) Menimbang sampel tanaman dengan kertas bersih dan
kering sebanyak 0,1 gr
b) Memasukkan ke dalam tabung Kjeldahl dan menambahkan
3 ml H2SO4 pekat
c) Menambahkan campuran serbuk CuSO4 dan K2SO4 1
sendok kecil
d) Melakukan destruksi hingga campuran homogen yaitu asap
hilang dan larutan menjadi putih kehijauan atau tidak
berwarna
2) Destilasi
a) Menambahkan aquades 30 ml, setelah larutan dalam tabung
Kjeldahl dingin dan menuangkan dalam tabung destilasi,
tambahkan 2 butir Zn dan 20 ml NaOH pekat
b) Membuat larutan penampung 10 ml campuran H3BO3 4% +
indikator campuran pada gelas piala (sudah dibuatkan)

c) Melakukan destilasi hingga volumme larutan penampung


40 ml
3) Titrasi
a) Mengambil larutan hasil destilasi 10 ml dan melakukan
titrasi dengan HCl 0,1 N (sampai warna menjadi kuning)
b) Melakukan prosedur di atas untuk blanko
c) Menghitung nlai N jaringan
N pupuk =

(B A) NHCl 14 4
100
berat sampel (mg)

8. P Jaringan Tanaman
a. Alat
1) Tabung reaksi
2) Penggojog tabung
3) Spektrofotometer
4) Timbangan analitik
b. Bahan
1) Asam Nitrat pekat
2) HClO4 pekat (60%)
3) Pereaksi P
c. Prosedur Kerja
1) Membuat larutan standar P
2) Menimbang 0,2 gr sampel jaringan dan memasukkannya dalam
tabung reaksi
3) Menambahkan 2 ml HNO3 pekat dan HClO4 0,6 ml
4) Memanaskan di atas pemanas sampai larutan jernih dan jangan
sampai kering lalu mendinginkannya
5) Menambahkan aquades sampai volume menjadi 10 ml
6) Menyaring larutan dengan kertas Whatman
7) Mengambil 1 ml filtrat dan mengencerkan larutan sampai 10
ml
8) Menambahkan 2 ml HNO3 2 N
9) Menambahkan 1 ml vanidium molybdat, gojog, dan diamkan
selama 30 menit
10) Menembak dengan spektrofotometer dan menghitung kadar P
ppm P = y x pengenceran
ket: y = perhitungan dari hasil pembacaan setelah
dimasukkan dalam persamaan regresi
9. K Jaringan Tanaman
a. Alat
1) Tabung reaksi
2) Timbangan

3) Pemanas
4) Flamefotometer
b. Bahan
1) Sampel Jaringan
2) HNO3 pekat dan HClO4 0,6
3) Kertas Whatman
c. Prosedur Kerja
1) Membuat larutan standar K
2) Menimbang 0,2 gr sampel jaringan dan memasukkannya dalam
tabung reaksi
3) Menambahkan 2 ml HNO3 pekat dan HClO4 0,6 ml
4) Memanaskan diatas pemanas sampai larutan jernih dan jangan
5)
6)
7)
8)

sampai kering lalu mendinginkannya


Menambahkan aquades sampai volume menjadi 10 ml
Menyaring larutan dengan kertas Whatman
Mengambil 2 ml filtrat dan mengencerkan hingga 10 ml
Mengamati dengan flamefotometer dan menghitung K jaringan
tanaman.
Catatan : analisis K dengan mengambil 1 ml filtrat dari
ekstrak P, diencerkan hingga 10 ml (bebas/volume yang
diketahui), dibaca dengan Flamefotometer dan dibandingkan
dengan standar.
K jaringan tanaman (ppm) = hasil pembacaan x
pengenceran

IV.

HASIL PENGAMATAN, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan, Analisis Data dan Pembahasan Tanah Awal


1. Hasil Pengamatan dan Analisis Data Tanah Awal
Tabel 4.1 Hasil Analisis Tanah Awal Alfisols Jumantono
Parameter
pH H2O
Bahan Organik (%)
C-organik (%)
KTK (cmol(+)/kg)
N total (%)
K total (%)
P tersedia (ppm)

Nilai
5,0
1,15
0,67
1,70
3,05
0,06
0,08

Nilai Harkat
4,5-5,5
1-2
<1
<5
>0,75
<4

Harkat
Masam
Rendah
Sangat rendah
Sangat rendah
Sangat tinggi
Sangat rendah

Sumber : Husna (2014)


2. Pembahasan
Praktikum kesuburan tanah yang dilaksanakan dalam dua acara
utama berupa penanaman tanaman jagung (Zea mays) dengan pemberian
perlakuan yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang telah ditetapkan
sebelumnya untuk setiap kelompok. Selain itu juga berupa kegiatan
analisis laboratorium yang meliputi sifat-sifat tanah, analisis kandungan
hara dalam sampel tanah yang diambil dari lokasi penanaman, serta
analisis unsur hara yang terkandung dalam jaringan daun tanaman.
Analisis tanah awal ini dilakukan untuk melakukan perbandingan antara
pengaruh perlakuan pemberian pupuk yang berbeda yang dilakukan pada
praktikum kesuburan tanah ini.
Tanah yang berada di lahan percobaan FP UNS di Jumantono
merupakan tanah yang termasuk dalam jenis tanah alfisol dimana
diketahui berdasarkan tabel 4.1 tentang analisi tanah awal alfisol
Jumantono dimana pH dari tanah tersebut 5,0 yang berarti tanah tersebut

bersifat masam dengan kandungan BO 1,15 yang berharkat rendah. Selain


itu tanah alfisol Jumantono ini kandungan C-organiknya hanya sebesar
0,67% yang sangat rendah dan KTK 1,70 yang juga sangat rendah. Selain
itu kandungan unsur hara tanah ini antara lain N, K, dan P dimana
kandungan unsur N sangat tinggi yakni 3,05% namun dengan kandungan P
tersedia yang sangat rendah yakni 0,08%. Hal ini dibuktikan dengan
pernyataan Wijanarko (2007) yang menyatakan bahwa pada umumnya
tanah Alfisol berada pada kondisi geografis dan agroklimat yang
mendorong untuk menjadi tanah marjinal. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui karakteristik sifat kimia dan fisika tanah Alfisol di tujuh lokasi
di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH
tanah Alfisol yang diamati bereaksi dari masam hingga netral, dengan
kandungan Corganik rendah, P-tersedia dari sangat rendah hingga sedang,
K-dd dari rendah hingga tinggi, Ca-dd dari sedang hingga sangat tinggi,
Mg-dd dari sedang hingga tinggi, KTK dari sedang hingga sangat tinggi
dan unsur mikro (Fe dan Zn) yang tinggi. Warna tanah Alfisol yang
diamati adalah coklat kemerahan hingga merah gelap, kekuatan tanah yang
relatif rendah yaitu kurang dari 3,75 kg F/cm2, struktur tanah dari butir
hingga tiang dan tekstur tanah dari lempung liat berpasir hingga liat.
Berdasarkan dari bahan organik yang dapat dikatakan sangat
rendah karena kurang dari 2% ini, maka tanah alfisol memerlukan
pengolahan terlebih dahulu untuk dapat meningkatkan kandungan bahan
organiknya. Hal ini karena kandungan bahan organik dalam tanah menjadi
salah satu faktor yang mempengaruhi dan menentukan keberhasilan suatu
budidaya pertanian. Seperti yang dinyatakan oleh Supriyono (2009)
Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang
berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal
ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika
maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan
berdasarkan jumlah C-Organik. Bahan organik tanah sangat menentukan
interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah.

Kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus


dipertahankan tidak kurang dari 2%, agar kandungan bahan organik dalam
tanah tidak menurun karena waktu akibat proses dekomposisi mineralisasi
maka sewaktu pengolahan tanah penambahan bahan organik mutlak harus
diberikan setiap tahun.
Tanah Alfisol sendiri memiliki kandungan unsur N yang sangat
tinggi, namun meski begitu kandungan unsur P dan K dapat dikatakan
sangat rendah. Tingginya kandungan unsur N pada tanah alfisol ini dapat
mengakibatkan gangguan pada tanaman yang ditanam pada tanah ini.
Olehk karena itu, untuk menangani hal tersebut penambahan unsur hara P
dan K yang dapat mengurangi dampak tersebut. Selain itu dengan
penambahan unsur P dan K ini dapat meningkatkan pertambahan dan hasil
dari tanaman yang ditanam. Seperti yang dinyatakan oleh Runhayat (2011)
yang menyatakan bahwa Pengaruh kelebihan hara N dapat dikurangi
dengan pemberian unsur hara dan P yang cukup. Pemberian pupuk K dan
P yang cukup selain dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil juga akan
meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan dan
organisme pengganggu tanaman terutama yang disebabkan oleh bakteri
dan jamur.
B. Hasil Pengamatan, Analisis Data dan Pembahasan Tanah Akhir serta
Jaringan Tanaman
1. Hasil Pengamatan dan Analisis Data Tanah Akhir dan Jaringan Tanaman
Tabel 4.2 Hasil Analisis Tanah Akhir Berbagai Perlakuan pada
Jagung
(Zea mays)
Parameter

Kont

NPK+Pu

Tanah

rol

puk

Bahan

1,47

kandang
3,017

Organik(%)
C-organik(%)

4
0,85
5

1,75

Nilai
NPK

NP

NK

2,68

12,7

1,5

2,813

72
7,40

3
0,8

2,813

KTK

26,5

23,2

23,2

23,2

6,5

(cmol(+)/kg)
N total (%)

0,00

0,829

0,20

0,23

9
0,2

0,924

11,349

8
42,4

5
11,8

2
14,

3,154

17

475

56

K tersedia

25,8

5
19

642,443

(ppm)
P tersedia

3
398,

3
0,5

31,38374

23

53

83
Kadar Lengas 9,84
(%)

0,697

(ppm)
Sumber : Data Rekapan

Tabel 4.3 Hasil Analisis Tanah Akhir Perlakuan pupuk Urea pada Jagung
(Zea mays)
Parameter
Kadar Lengas
Bahan Organik (%)
C-organik(%)
KTK (cmol(+)/kg)
N total (%)
K tersedia (ppm)
P tersedia (ppm)

Nilai
11,8475
12,772
7,408
23,2
0,235
25,83
398,23

Nilai Harkat
>5
>5
17-24
0,21-0,50
26-35
-

Harkat
Sangat tinggi
Sangat tinggi
Sedang
Sedang
Tinggi
-

Sumber: Log-book
Analisis Data :
a. Kadar Lengas
Ulangan 1
( bc )
KL = ( ca ) 100
=

(72,04970,141)
100
(70,14153,996)

= 11,818%
KL rata-rata =

KL 1+ KL 2
2

Ulangan 2
( bc )
KL = ( ca ) 100
=

(72,59470,755)
100
(70,75555,271)

= 11,877%

11,818 +11,877
2

= 11,8475%
b. KTK
KTK =

+/kg
cc HCl N HCl
4 100 cmol
berat tanah
+ / kg

= 2,9 0,1 4 100 cmol


5
= 23,2 cmol(+)/kg
c. Kadar Bahan Organik
( B A ) nFeSO 4 3
100
10
100
100
77
Kadar C =
berat tanah ( mg )
100+ KL
=

( 20,3 ) 0,5 3
100
10
100
100
77
500
100+11,8475

= 7,408%
Kadar BO =

100
k adar C
58
100
7,408
58

= 12,772%
d. N total tanah

N total

( AB ) N NaOH 14
100
100
berat tanah( mg)
100+ KL

( 0,750 ) 0,1 14
100
100
500
100+11.8475

= 0,235%
Grafik 4.1 ppm P larutan tersedia

ppm Larutan P (Tersedia Tanah)


3.5
3

f(x) = 2.68x - 0.12


R = 0.98

2.5

ppm Larutan P
(Tersedia Tanah)

Linear (ppm Larutan P


(Tersedia Tanah))

1.5
1
0.5
0
0

0.2 0.4 0.6 0.8

1.2 1.4

y = 2,681x - 0,115
= 2,618 (0,138) 0,115
= 0,254978
ppm P Larutan = y pengenceran
= 0,254978 10(25)
= 81,59296 ppm
ppm P Tersedia

ppm P larutantanah 35
100
berat tanah(gr )
100+ KL

81,59296 35
100
0, 5
100+11,8475

= 39,823 ppm

Grafik 4.2 ppm K larutan tersedia

ppm Larutan K (Tersedia Tanah)


12
10

ppm Larutan K
(Tersedia Tanah)

f(x) = 0.07x - 0.21


R = 1

Linear (ppm Larutan K


(Tersedia Tanah))

6
4
2
0
0

20 40 60 80 100 120 140 160

y = 0,072x 0,207
= 0,072 (53) 0,207
= 3,609
ppm K Larutan

= y pengenceran
= 3,609 100 (25)
= 11548,8 ppm
ppm K LarutanTanah

ppm K Tersedia

100
Berat Tanah (mg)
100+ KL
11548,8

50 50

5 100

50 50

5 100

100
250
100+11,8475

= 25,83 ppm
Tabel 4.4 Hasil Analisis Jaringan Tanaman berbagai Perlakuan pada
Jagung
Parameter

Nilai
Kontrol

N total

5,4

NPK+Pupuk

NPK

NP

NK

2,73

16,42

20,72

jaringan (%)
K total

4515,58

61444

31358,

jaringan (ppm)
P total jaringan

406317,

4,17
7160,8

956
38213

(ppm)

11

4,715

Kandang

Sumber: Data Rekapan

Tabel 4.5 Hasil Analisis Jaringan Tanaman Perlakuan pupuk Urea pada
Jagung (Zea mays)
Parameter
N total jaringan (%)
K total jaringan (ppm)
P total jaringan (ppm)

Nilai
2,73
4514,58
406317,11

Nilai Harkat
-

Harkat
-

Sumber: Log-book
Analisis Data :
e. N Jaringan Tanaman
( B A) NHCl 14 4
100
N =
berat sampel(mg)
=

(3,90) 0,1 14
100
200

= 2,73%
Grafik 4.3 ppm P Total

ppm Larutan P (Jaringan Tanaman)


7
f(x) = 4.63x + 0.8
R = 0.87

6
5

ppm Larutan P
(Jaringan Tanaman)

Linear (ppm Larutan P


(Jaringan Tanaman))

3
2
1
0
0

0.2

0.4

y = 4,632x + 0,799
= 4,632 (0,1595) + 0,799
= 1,5378

0.6

0.8

1.2

1.4

ppm P Larutan = y pengenceran


= 1,54012 1000 (2)
= 2075,7

ppm P Total

ppm P larutantanah 35
100
berat tanah(gr )
100+ KL

2075,7 35
100
0,2
100+11,8475

= 406317,11 ppm
Grafik 4.4 ppm K Total

ppm Larutan K (Jaringan Tanaman)


12
10

f(x) = 0.07x - 0.21


R = 1

ppm Larutan K
(Jaringan Tanaman)
Linear (ppm Larutan K
(Jaringan Tanaman))

6
4
2
0
0

20 40 60 80 100 120 140 160

y = 0,072x 0,207
= 0,072 (90,5) 0,207
= 6,3082

ppm K Larutan

= y pengenceran
= 6,3082 100 (28)
= 161489,92 ppm

ppm K LarutanTanah
ppm K Total

100
Berat Tanah (mg)
100+ KL
161489,92

50 50

5 100

50 50

5 100

100
200
100+11,8475

= 4515,58 ppm

f. Tinggi Tanaman
Tabel 4.6 Tabulasi Data Dinamika Tinggi tanaman jagung perlakuan
pupuk Urea di Alfisol Jumantono
Sampel Tanaman (cm)
HST

Tanggal

Sampel

Sampel

Sampel

Sampel

Sampel

4-4-2015

6,5

14

11-4-2015

15

19,5

26,5

25,5

27

28

17-5-2015

29

34

41

37

30

42

1-5-2015

57

38

68

42

34

49

9-5-2015

75

42

111

45

49

54

14-5-2015

84

69

145,5

47

82

60

20-5-2015

85

82

180

49

104

67

27-5-2015

126

98

182

49

118

Brangkasan Segar

2000 g (non
sampel)

1000 g (sampel)

Sumber : Logbook

Grafik 4.5 Grafik Tinggi Tanaman


200
180
160
140
Sampel 1

120

Sampel 2

100

sampel 3

80

Sampel 4

60

Sampel 5

40
20
0
0

10

20

30

40

50

60

70

80

2. Pembahasan
a. Kadar Lengas
Pada praktikum yang dilakukan di laboraturium kimia tanah
dengan menggunakan 5 gram tanah 0,5 mm yang telah ditimbang.
Kemudian tanah tersebut dioven selama 4 jam pada suhu 105 C yang
kemudian akan didinginkan di dalam eksikator dan kemudian
ditimbang untuk meperoleh data berat untuk menghitung Kadar
lengasnya.
Praktikum tersebut menggunakan ctka 0,5 mm mempunyai
kadar lengas yang cukup tingi yaitu 11,818% pada ulangan pertama
sedangkan untuk ulangan kedua yaitu 11,877% juga. Hal ini berarti
bahwa tanah menyediakan lengas dalam keadaan lapang (optimum)
sedang. Hal ini dikarenakan ctka 0,5 mm berpartikel lebih halus,
sehingga ctka mempunyai luas permukaan yang luas maka pori mikro
tanah terisi air sedangkan pori makro terisi udara, hal ini menunjukkan
bahwa tanah yang dianalisis mempunyai kadar lengas yang sedang.
Seperti menurut Yunus (2004) yang menyatakan bahwa Kadar lengas
merupakan salah satu sifat fisika tanah untuk mengetahui kemampuan
penyerapan air dan ketersediaan hara pada setiap jenis tanaman.
Kapasitas lapangan (field capacity) adalah kandungan lengas
maksimum yang tersedia untuk pertumbuhan tanaman.
Perhitungan kadar lengas ini kemudian dapat digunakan untuk
mengetahui rata-rata kadar lengas dalam keadaan lapang tersebut.
Dengan diketahui nilai kedua ulangan dari penimbangan tanah setelah
dioven tersebut maka dapat dihitung rata-ratanya. Hasil dari rata-rata
kedua ulangan tersebut yakni 11,8475%. Nilai ini menunjukkan bahwa
kandungan lengas yang disediakan tanah tersebut sedang. Sehinga
cukup baik pula untuk digunakan sebagai media tanam dalam
berdudidaya pertanian. Berdasarkan perbandingan dari tiap perlakuan
diketahui bahwa kadar lengas paling tinggi didapat pada perlakuan

pemberian pupuk NPK dengan nilai 42,417 dan paling rendah pada
tanah dengan perlakuan pupuk NK 3,154.
b. Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Pada praktikum kali ini didapatkan nilai KPK sebesar 023,2%
cmol/kg yang artinya KPK pada tanah di jumantono setelah perlakuan
sejumlah 23,2%. Nilai KPK tinggi adalah pada tanah jenis mineral 2:1,
sedangkan tanah alfisol yang dianalisis adalah tanah dengan jenis
mineral lempung 1:1. Jadi tingkat pertukaran ion di tanah Jumantono
sedang. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Wijanarko (2007) bahwa
KTK pada tanah alfisol jumantono dari sedang hingga sangat tinggi
dan unsur mikro (Fe dan Zn) yang tinggi. Dengan besarnya KTK
sebesar 23,2% ini maka diketahui bahwa kapasitas tukar kation yang
terjadi di tanah alfisol jumantono sedang sehingga dapat dikatakan
bahwa pertukarannya seimbang antara yang tersedia bagi tanaman dan
yang terikat di tanah. Selain itu ketersediaan unsur yang dilepaskan
sedang.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perlakuan pemberian
pupuk yang berbeda-beda, dapat diketahui bahwa sebagian besar tanah
KTKnya sebesar 23,2%. Perlakuan yang mendapat hasil 23,2% antara
lain perlakuan pupuk NPK, pupuk Kandang, dan pupuk N yang
memperoleh hasil yang sama. Sedangkan pada kontrol KTK yang
didapat sebesar 26,5% yang dapat dikatakan cukup tinggi.
c. Bahan Organik
Pada praktikum ini juga digunakan blangko yang berfungsi
sebagai pembanding. Pada tirasi dengan FeSO4 diperoleh bahwa ml
FeSO4 yang diperlukan untuk merubah warna menjadi hijau cerah pada
blangko lebih besar daripada baku. Hal tersebut karena pada blangko
tidak terjadi oksidasi terhadap C. Berdasar hasil dan analisis
pengamatan diperoleh kadar C sebesar 7,408%, yang berarti kadar C
nya tinggi, kemudian kadar bahan organiknya diketahui sebesar

12,772% ini termasuk sangat tinggi. Seperti halnya yang dinyatakan


oleh Supriyono (2009) yang menyatakan bahwa kandungan bahan
organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam
menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini
dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia,
fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik
dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik. Bahan organik tanah sangat
menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam
ekosistem tanah. Kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di
tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2%, agar kandungan
bahan organik dalam tanah tidak menurun karena waktu akibat proses
dekomposisi mineralisasi maka sewaktu pengolahan tanah
penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun.
Berdasarkan tabel rekapan dari masing-masing perlakuan
diketahui bahwa perlakuan pupuk N memiliki kandungan bahan
organik paling tinggi bahkan sangat tinggi. Hal ini dapat disebabkan
karena akumulasi tanaman jagung yang mati saat pemupukan pertama,
namun juga dapat diakibatkan karena lahan yang berada di daerah yang
lebih rendah sehingga akumulasi bahan organik terkumpul di lahan
perlakuan N. Sedangkan kandungan BO paling rendah diperoleh pada
perlakuan kontrol dengan persentase sebesar 0,855%. Sedangkan
perlakuan yang lain nilai yang diperoleh berharkat sedang dengan nilai
antara 2-3%.
d. N total tanah
Pengamatan analisis diperoleh hasil bahwa kadar Nitrogen di
dalam tanah alfisol yang ada di Jumantono sebesar 0,235 % yang
artinya N total dalam tanah sedang. Hal ini menunjukkan bahwa
ketersediaan unsur N ditanah pada perlakuan kelompok kami tidak
terlalu tinggi meski telah ditambahkan pupuk urea. Kemungkinan ini
dapat diakibatkan karena unsur N tercuci oleh air hujan ke bawah

sehingga tidak dapat terikat pada tanah dan mengakibatkan tanaman


menjadi kerdil karena kekuarngan unsur N.
Berdasarkan hasil analisis kelompok lain didapatkan data bahwa
nilai tertinggi N total dalam tanah dihasilkan oleh perlakuan NK
dengan nilai 0,924. Sedangkan yang paling rendah yakni pada
perlakuan kontrol. Hal ini dapat terjadi karena masing-masing berbeda
dalam perlakuan pupuk, jadi sumber N juga berbeda dalam jumlah
kualitas dan kuantitasnya. Seperti yang dinyatakan oleh Darmawijaya
(2000) pada tiap horizon tanah terjadi perubahan N total disebabkan
oleh kehilagan N total oleh alih rupa, juga dipengaruhi tingkat
perombakan bahan organik. Sedangkan ke horizon bawah
menunujukkan kenaikan N total ini diduga karena perombakan bahan
organik yang belum intensif.
e. P tersedia tanah
Berdasarkan praktikum dan analisis untuk P tersedia tanah
diperoleh hasil bahwa nilai yang diperoleh dari perlakuan pupuk N
sebesar 39,823 ppm yang sangat tinggi. Hal ini dapat dikarenakan
posisi lahan yang berada di tempat yang lebih rendah sehinga
akumulasi unsur terkumpul di lahan kelompok kami. Selain itu
akumulasi unsur tersebut juga terkumpul berupa P organik dan
anorganik. Seperti yang dinyatakan oleh Rosmarkan dan Naish (2002)
yang menyatakan bahwa P tanah dapat dibedakan menjadi tak tersedia,
potensial tersedia dan segera tesedia. P segera tersedia adalah bentuk P
organik dan beberapa bentuk P anorganik yang relatif tidak tersedia
seperti bentuk P terendapkan (Al-P, Ca-P, dan Mn-P) dan bentuk ini
sering cenderung terakumulasi dalam keadaan stabil dan dalam
keadaan tertentu dapat menjadi tersedia seperti penggenangan pada
tanah sawah.
Berdasarkan analisis dari tiap-tiap kelompok didapatkan hasil
bahwa rata-rata kandungan unsur P tersedia tanah yang diperoleh
berada antara sedang meskipun ada yang sangat rendah dengan nilai

0,553. Dan paling tinggi bernilai 39,823 dan tinggi dengan nilai 31,383
ppm. Sedangkan kelompok lain p tersedia tanah mereka berharkat
sedang.
f. K tersedia tanah
Pada pengamatan ini diperoleh hasil bahwa kandungan K dalam
tanah alfisol sebesar 25,83% yang dapat dikatakan rendah hingga
sedang. Hal ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor yang
menyebabkan kandungan K dalam tanah rendah. Faktor-faktor tersebut
antara lain suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik,
mikrobia pengikat unsur tersebut dari udara, pupuk kandang maupun
pupuk buatan, hasil fiksasi dan limbah industri. Namun, keberadaan
unsur tersebut juga dipengaruhi oleh banyak hal yang membuat unsur
tersebut sedikit atau bahkan menjadi tidak tersedia untuk tanaman,
misalnya karna pencucian atau pelindian dan terikat oleh unsur lain
yang menyebabkan tanah masam tau tidak dapat diserap oleh akar
tanaman.
Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap perlakuan yang
berbeda-beda, kebanyakan diperoleh unsur K tersedia dalam tanah
sangat tinggi dengan nilai diatas 100 ppm. Bahkan terdapat perlakuan
pada perlakuan pupuk NK yang K tersedia tanahnya mencapai 600
ppm lebih. Hal ini menunjukkan bahwa unsur K yang diberikan ke
tanah dari media pupuk terikat dengan optimal didalam tanah sehingga
kandungannya dapat sangat tinggi.
g. N jaringan tanaman
Menurut hakim (2002) unsur N dibutuhkan jaringan tanaman
untuk membentuk asam amino sebagai substrat pertumbuhan. Unsure
N terdapat kurang lebih 80% di alam ini, tetapi hanya sedikit yang
tersedia untuk tanaman. Unsure N berfungsi untuk pembentukan atau
pertumbuhan bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar.
Selain itu, N juga berperan penting dalam hal pembentukan hijau daun

yang berguna sekali dalam proses fotosintesis atau untuk membentuk


protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik serta meningkatkan
mutu tanaman penghasil daun-daunan. Berdasarkan praktikum yang
telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan dari N jaringan tanaman
rata-rata dari kedua sampel pada yaitu 2,73%. Nilai ini dapat dikatakan
tinggi.
Berdasarkan analisis dari kelompok lain yang melakukan
analisis dengan perlakuan yang berbeda-beda dapat diketahui bahwa
kandungan unsur N yang dikatakan berbeda-beda. Kandungan unsur
hara N didalam jaringan ini dapat berbeda karena beberapa faktor.
Faktor-faktor ini antara lain seperti daya serap tanaman serta
kandungan unsur hara di dalam tanah yang mempengaruhi kandungan
di dalam jaringan tanaman.
h. P jaringan tanaman
Menurut Noorjanah (2012) menyatakan bahwa ketersediaan P
ini berperan dalam pembelahan inti sel untukmembentuk sel-sel baru
dan memperbesar sel itusendiri. Akibatnya, pertumbuhan dan
perkembangan tanaman meningkat. Bahwa pemberian pupuk P
meningkatkansecara nyata serapan P dan N tanaman pada umur 28HST
tanaman jagung. Sejalan dengan hal tersebut,bahwa P
mampumeningkatkan proses fotosintesis yang selanjutnyaakan
berpengaruh pula pada peningkatan berat kering tanaman. Berdasarkan
analisis yang dilakukan diperoleh hasil 406317,11 ppm. Nilai ini dapat
dikatakan sangat tinggi.
Berdasarkan analisis yang dilakukan kelompok lain sesuai
dengan perlakuan mereka yang berbeda-beda diperoleh data yang
berbeda-beda pula. Hal ini dapat dipengaruhi oleh daya serap tanaman
terhadap unsur P tersebut dan daya ikat jaringannya. Selain itu juga
dapat dipengaruhi oleh kandungan unsur P yang ada di dalam tanah
yang tersedia bagi tanaman.

i. K jaringan tanaman
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh K jaringan tanaman
sebesar 15,747 ppm pada perlakuan kelompok kami. Nilai ini
merupakan nilai yang tinggi. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh
Raharjo (2010) yang menyatakan 40 - 45% dari K di daun merupakan
unsur yang mobil di dalam tumbuhan dan merupakan ion monovalen
terbanyak yang terdapat di dalam jaringan tumbuhan. Fungsi K di
dalam metabolisme tumbuhan adalah sebagai katalisator dan
memegang peranan penting di dalam sintesa protein dari asam-asam
amino dan hidrat arang. Peranan lain dari K adalah memacu translokasi
hasil fotosintesis dari daun ke bagian lain tanaman.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kelompok lain terhadap
perlakuan yang berbeda-beda dapat diketahui bahwa unsur K yang
dikandung jaringan tanam setiap perlakuan berbeda-beda. Hal ini
dipengaruhi oleh daya serap tanaman dan juga kandungan unsur K
tersedia di dalam tanah yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
j. Tinggi Tanaman
Berdasarkan pengamatan tinggi tanaman yang dilakukan maka
dapat diketahui dan diperoleh data dari pengukuran tinggi tanaman
yang dilakukan setiap minggu. Pada minggu pertama pengukuran
tinggi tanaman dari 6 sampel yang dipilih dan diukur diperoleh data
secara berurutan dari sampel pertama hingga sampel keenam yaitu 6;
5; 8; 6,5; 3. Yang kemudian pada minggu pertama ini diberi perlakuan
pupuk N dengan ditaburkan dan dibenamkan disekeliling tanaman.
Namun pada minggu pertama ini karena terjadi kesalahan maka
tanaman sampel dan tanaman non sampel banyak yang mati sehingga
dilakukan penyulaman. Kemudian pada minggu kedua didapatkan hasil
tingi tanaman yakni 15; 19,5; 26,5; 25,5; 27. Kemudian pada minggu
ke-3 secara berurutan yaitu 29; 34; 41; 37; 30 cm.
Kemudian dilanjutkan pada minggu ke-4 dilakukan pengukuran
tinggi tanaman dan juga pemberian pupuk N kedua. Pada minggu

keempat ini tinggi tanaman yang diperoleh yakni 57; 38; 68; 42; dan
34 cm. Pertambahan tinggi tanaman pada minggu ini tidak terlalu
tinggi karena ada kemungkinan pupuk N yang diberikan mengalami
pencucian ke bawah oleh air hujan yang terjadi. Selanjutnya pada
minggu ke-5 dilakukan kembali pengukuran tinggi tanaman dengan
masing-masing tinggi 75; 42; 111; 45; 49 cm. Selain itu pada minggu
kelima ini tanaman-tanaman jagung mulai berbunga. Dan dilanjutkan
kembali pada minggu keenam dimana dilakukan pengukuran tinggi
tanaman yang tingginya antara lain 84; 69; 145,5; 47; dan 82 cm. Pada
minggu keenam ini mulai terbentuk tongkol-tongkol jagung selain itu
mulai terlihat gejala yang muncul akibat kekurangan unsur N antara
lain terdapat tanaman yang kerdil.
Pengukuran tinggi tanaman dilanjutkan pada minggu ketujuh
bersamaan dengan dilakukannya panen sampel daun dan tongkol
tanaman untuk dibrangkas serta pengambilan sampel tanah untuk
dianalisis lab. Pada minggu ketujuh ini tinggi tanaman antara lain 85;
82; 180; 49; dan 104 cm. Kemudian pengukuran terakhir pada minggu
ke-8 dengan tinggi 126; 98; 182; 49; dan 118 cm. Dan pada minggu
kedelapan ini dilakukan pemanenan tanaman secara keseluruhan dan
pembrangkasan basah nonsampel.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan analisis yang telah dilaksanakan maka
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Tinggi tanaman jagung setiap sampel menunjukkan pertumbuhan yg
cukup baik dari perlakuan yang dilakukan, namun ada beberapa tanaman
yang kerdil. Pemupukan pada perlakuan kelompok 13 (pupuk N dan K)
dilakukan bersama tanaman dengan 300kg/ha pupuk urea, SP 36 150kg/ha
dan KCl 50kg/ha. Pemupukan N dilakukan pada saat tanaman berumur
7HST dan 1 bulan setelah tanam. Pemupukan K dilakukan 1 bulan setelah
tanam.
2. Kadar lengas tanah diketahui bahwa ketersediaan air dalam tanah sedikit
yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman, hal ini ditunjukkan dengan kadar
lengas sebesar 42,417%.
3. Nilai KPK tinggi adalah pada tanah jenis mineral 2:1, sedangkan tanah
alfisol yang dianalisis mempunyai KPK sebesar 23,2%. Sehingga daya
jerap (ikat) kation sedang.
4. Faktor yang mempengaruhi KTK antara lain tipe klei, kandungan bahan
organik,dan pH tanah. Bahan organik sangat tinggi pada tanah ini yaitu
sebesar 12,772%.
5. Pengamatan ini diperoleh hasil analisa bahwa kadar Nitrogen di dalam
tanah alfisol sebesar 0,235% yang berarti kadar N tanah tinggi.
6. Nilai P tersedia yaitu sebesar 398,23 ppm, jumlah ini tinggi jika
dibandingkan dengan kebutuhan P pada tanaman.
7. Nilai K tersedia yaitu sebesar 25,83 ppm, jumlah ini sangat tinggi.
8. Hasil analisis Nitrogen jaringan tanaman sebesar 2,73. N berpengaruh
pada pembentukan klorofil dan protein.
9. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan nilai P pada jaringan tanaman
sebesar 406317,11 ppm. Hal ini menunjukkan kandungan P dalam jaringan
tanaman tinggi.
10. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh K jaringan tanaman sebesar
4515,58 ppm.

11. Pertumbuhan tanaman terbaik adalah pada perlakuan pupuk kandang,


karena kandungan unsur hara dalam pupuk kandang lengkap dan dapat
memperbaiki strruktur tanah.
B. Saran
Praktikum kesuburan tanah kali ini sudah cukup baik namun masih perlu
sistematika yang baik dalam koordinasi antar coass misalnya dalam
penentuan format laporan seharusnya diberikan kejelasan secra rinci,
pengumpulan laporan jadi juga harus diberikan waktu yang jelas agar tidak
terjadi kerancuan antara praktikan dan juga co-ass. Praktikum kesuburan
tanah kali ini sudah cukup baik, namun masih perlu sistematika yang baik
dalam koordinasi antar coass misalnya dalam penentuan banyaknya sampel
serta cara kerja di laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA
Abdillah, M. 2008. Studi Pemupukan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium pada
Tanaman. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Darmawijaya, M Isa.2000. Klasifikasi Tanah, Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah
dan Pelaksanaan Pertanian di Indonesia. Penerbit Gajah Mada University
Press. Yogyakarta.
Distan. 2011. Kandungan Unsur Hara Pada Pupuk dan Manfaatnya.
http://distan.riau.go.id/index.php/component/content/article/53-pupuk/141unsur-hara-pupuk. Diakses pada tanggal 14 Juni 2015.
Hakim,.Supono,.dan Rusli. H.D.2002. Dasar-dasar Ilmu Tanah.Universitas
Lampung Press. Lampung.
Handayani. 2002. Kajian Struktur Tanah Lapis Olah : I. Agihan Ukuran dan
Dispersitas Agregat. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 (1).
Hardjowigeno. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta: Penerbit Akademika Presindo.
Ispandi. 2004. Efektivitas Pupuk Pk Dan Frekuensi Pemberian Pupuk K Dalam
Meningkatkan Serapan Hara Dan Produksi Kacangtanah Di Lahan Kering
Alfisol Jurnal Ilmu Pertanian Vol 11 No. 2 Hal 11-14.
Koswara. 2009. Teknologi Pengolahan Jagung (Teori dan Praktek). eBook
Pangan.com
Masdar. 2003. Pengaruh Lama dan Beratnya Defisiensi Terhadap Pertumbuhan
Tanaman Durian. Jurnal Akta Agrosia 6 (2) 60-66.
Muhfandi. 2011. Unsur N dalam Pupuk Urea. www.pusri.wordpress.com. Diakses
pada tanggal 30 Mei 2015.
Muklis. 2007. Analisis Tanah dan Tanaman. Medan: Universitas Sumatera Utara
Press.
Noorjannah 2012.Pengaruh Macam Dan Dosis Pupuk Npk Majemuk Terhadap
Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeisguineensis Jack) Jurnal Media
Sains Vol 4 No 1 Hal 49-55.
Notohadiprawiro Tejoyuwono, Winarso dan Warsito, 2006. Pengelolaan
kesuburan tanah dan peningkatan efisiensi pemupukan. Jurusan ilmu tanah
universitas Gadjah Mada. DIY.Suriadi A, Nazam M. 2005. Penilaian
Kualitas Tanah Berdasarkan Kandungan Bahan Organik. Nusa Tenggara
Barat : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB.
Nuning, Argo Subekti, Syafruddin, Roy Efendi, dan Sri Sunarti. 2012. Morfologi
Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman
Serealia. Maros.
Rahardjo Mono 2010. Pengaruh Pupuk Urea, Sp36, Dan Kcl Terhadap
Pertumbuhan DanProduksi Temulawak (Curcuma Xanthorhiza Roxb) Jurnal
Littri Vol 16 No. 3 Hal 98-105.

Reijntjes dan Coen, 2002. Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input.
Yogyakarta: Gava Media.
Risnasari, Iwan. 2002. Sifat Fisik Tanah-Tanah Utama Di Daerah Tropis. Jakarta:
Penerbit Akademika Presindo.
Rosmarkam A, Naish WY. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta : Kanisius
Ruhnayat, Agus. 2011.Respon Tanaman Lada Perdu Terhadap Pemupukan Npk
Pada Jenis Tanah Inceptisols Dan Ultisols Jurnal Ilmu Pertanian Vol 22
No.1 Hal 23-32.
Rukmana, Rahmat. 2001. Usaha Tani Jagung. Yogyakarta: Kanisius.
Saifuddin. 2002. Kimia Fisika Pertanian. Bandung: CV. Buana.
Situmorang R, Untung S. 2001. Bahan Kuliah Tanah. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.
Supriyono. 2009. Kandungan C-Organik dan N-Total pada Seresah dan Tanah
pada 3 Tipe Fisiognomi (Studi Kasus di Wanagama I, Gunung Kidul, DIY).
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 p: 49-57.
Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta: Kanisius.
Suwarno. 2003. Kesuburan Tanah. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Warisno. 2005. Budidaya Jagung Hibrida. Yogyakarta : Kanisius.
Wijanarko, A., Sudaryono, dan Sutarno. 2007. Karakteristik Sifat Kimia dan
Fisika Tanah Alfisol di Jatim dan Jateng. Iptek Tanaman Pangan. 2(2): 214226.
Yunus, Yuswar 2004. Tanah dan Pengolahan. Bandung: ALFABETA.