Anda di halaman 1dari 32

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

BAB I
ISTILAH, PENGERTIAN DAN TEMPAT/KEDUDUKAN
HAN DALAM PEMBIDANGAN HUKUM

Oleh:

Henny Juliani
Fakultas hukum
Universitas diponegoro

Pengertian
Istilah:
AS-Inggris : Administrative Law
Belanda :
Administratief Recht
atau Betuurs Recht
Jerman : Verwaltungs Recht
Perancis : Droit Administratief
Indonesia : Belum Seragam

Sarjana,a.l :
I. E.Utrecht :
.Hukum tata usaha negara Indonesia
.Hukum administrasi negara
Indonesia
II. Prajudi Atmosudirdjo:
. Hukum Administrasi Negara
III. P.M. Hadjon:
. Hukum Administrasi

Perundang-undangan:
UU No.14 Tahun 1970, Pasal 10 : PTUN
UU No.5 Tahun 1986 tentang PTUN atau
UU Peradilan Administrasi Negara (Pasal 144)
Kurikulum FH:
Tahun 1972 :Surat Keputusan menteri P&K
No.0198/U/1972 tanggal 30 Desember
1972 : HTP
Tahun 1983 :Surat Keputusan Dirjen Dikti
Depdikbud No.30 Tahun 1983 : HAN

Pembedaan HAN dengan HTN


Batasan HAN: semua peraturan
hukum yang mengatur
hubungan timbal balik
antara pemerintah
dengan yang diperintah.
Objek HAN dan HTN sama yaitu:
Mengatur negara serta alat-alat
perlengkapannya.

Pembedaannya
Prof.J.Oppenheim:
o HTN : keseluruhan aturan-aturan hukum yang
mengadakan alat-alat perlengkapan negara dan
mengatur kekuasaan alat perlengkapan tersebut.
Jadi pada asasnya mengatur negara dalam
keadaan diam.
o HAN : keseluruhan aturan hukum yang mengikat
alat-alat perlengkapan negara jika alat-alat
perlengkapan itu menjalankan kekuasaannya.
Jadi pada asasnya mengatur negara dalam
keadaan bergerak.

Pendapat tersebut diikuti oleh Dr. H. J. Romeyn:


HAN : mengatur negara dalam keadaan
dinamis
HTN : mengatur negara dalam keadaan statis
Teori tersebut disanggah oleh Kranenburg :
Pembedaan antara HTN dan HAN
sesungguhnya tidak bersifat prinsipiil,
melainkan berdasarkan suatu Doelmatig
Arbeids Verdeling akibat perkembangan
sejarahnya

HTN meliputi:
Peraturan-peraturan tentang struktur umum
negara.
Grondwet serta UU organik
Perundang-undangan propinsi, gemeente dan
water schappen di Nederland.
HAN adalah:
Peraturan-peraturan khusus dari badan-badan
pemerintahan, begitu juga hukum kepegawaian,
hukum perburuhan, perundang-undangan sosial
serta mengenai pengajaran dan wajib militer dsb.

Prof.Mr. Usep Ranuwidjaja :


HTUN (HTP) adalah hukum mengenai
susunan, tugas dan wewenang perhubungan
kekuasaan itu satu sama lain,
perhubungannya dengan pribadi-pribadi
hukum lainnya dan alat-alat perlengkapan
tata usaha negara sebagai pelaksanaan
segala usaha negara.
HTN adalah hukum mengenai organisasi
negara pada umumnya yang termasuk
hukum tata usaha negara.

Prof.Dr.Mr. Prajudi Atmosudirdjo,


membedakan:
HAN heteronom yang datangnya dari
atas, dari lembaga-lembaga politik
yaitu badan-badan konstitutif.
HAN otonom yang tumbuh karena
diciptakan oleh administrasi negara
sendiri.

Definisi HAN dari Beberapa Sarjana


1.

2.

J. M. Baron De Gerando
Droit Administratief adalah semua peraturan
hukum yang mengatur hubungan antara pemerintah
dengan yang diperintah.
W. F. Prins
Bahwa untuk sebagian HAN merupakan pembatasan
terhadap kebebasan pemerintah jadi merupakan
jaminan bagi mereka yang harus taat kepada
pemerintah; akan tetapi untuk sebagian besar HAN
mengandung arti pula bahwa mereka itu dibebani
berbagai kewajiban yang jelas bagaimana dan sampai
dimana batasnya, dan berhubungan dengan itu
wewenang pemerintah menjadi luas dan tegas juga.

3.

4.

Belifante
HAN berisi peraturan-peraturan yang
menyangkut administrasi. . Berarti juga
pemerintahan. . Pemerintah juga
dipandang sebagai fungsi pemerintahan
yang merupakan tugas penguasa yang tidak
termasuk pembentukan UU maupun
peradilan.
De Goede
Keseluruhan peraturan yang berhubungan
dengan pemerintahan. HAN adalah HTP.

5.

6.

Prof. R. Malieuix
HAN adalah serangkaian peraturan-peraturan
yang mengatur organisasi dan tugas-tugas
pemerintahan, serta hubungan administrasi itu
dengan perseorangan atau warga masyarakat.
Ivor Jennings
HAN sebagai hukum yang berhubungan dengan
aparatur pemerintahan, hukum pemerintahan
lokal, hukum tentang industri yang
dinasionalisasi dan kewenangan-kewenangan
yang dimiliki oleh para pejabat.

7.

Prof. Mr. Kusumadi Pudjosewojo


HTP adalah keseluruhan aturan
hukum yang menentukan cara
bagaimana negara sebagai
penguasa menjalankan usaha-usaha
untuk memenuhi tugas-tugasnya,
atau cara bagaimana penguasa itu
seharusnya bertingkah laku dalam
mengusahakan tugasnya.

8.

Drs. E. Utrecht, SH
HAN itu memberikan kaidah-kaidah yang
membimbing turut serta pemerintah
dalam pergaulan sosial dan ekonomi,
yaitu kaidah-kaidah yang oleh
pemerintah sendiri diberi sanksi dalam
hal pelanggaran. Kaidah-kaidah tersebut
mengatur hubungan antara alat-alat
pemerintahan (bestuursorganen)
dengan individu dan masyarakat.

9.

Prof. Dr. Mr. Prajudi Admosudirdjo


HAN heterogen yang datangnya dari
atas, dari lembaga politik yaitu
badan-badan konstitutif yang
mengatur seluk beluk organisasi dan
fungsi administrasi negara dan HAN
otonom yaitu hukum operasional
yang dicipta oleh pemerintah dan
administrasi negara sendiri.

10. Rochmat

Soemitro
HAN dan HTP itu meliputi segala
sesuatu mengenai pemerintahan,
yaitu seluruh aktivitas pemerintah
yang tidak termasuk pengundangan
dan peradilan.

ASAS-ASAS HAN
Asas-asas hukum dalam HAN adalah:
a. Asas legalitas, bahwa setiap perbuatan
administrasi berdasarkan hukum
b. Asas detournement de pouvoir, asas
menyalahgunakan kekuasaan,
penyalahgunaan jabatan atau wewenang
dalam segala bentuk (abus de droit).
c. Asas exes de pouvoir, asas tidak boleh
menyerobot wewenang badan administrasi
negara yang satu oleh yang lainnya

d.

e.

f.

Asas non diskriminatif, asas


kesamaan hak bagi setiap penduduk
negara
Asas upaya memaksa atau
bersanksi, sebagai jaminan pentaat
kepada HAN
Asas freies ermessen, asas
kebebasan yang diberikan kepada
badan-badan administrasi dalam
menyelesaikan masalah yang

Asas-asas HAN ini ditonjolkan


dengan maksud
a.
b.

c.

d.

Untuk dipakai sebagai dasar dalam pembentukan


HAN
Agar dapat dipakai sebagai pedoman bagi para
pejabat administrasi negara dalam menjalankan
tugas administrasi negaranya
Untuk mendapat sesuatu kerjasama dan
koordinasi yang rasional di antara para pejabat
administrasi negara tersebut
Untuk memelihara kewibawaan (gezag) dari
administrasi negara dan memelihara
kepercayaan masyarakat terhadap administrasi
negara

Menurut Soehardjo Ss.


Asas konstitutif HAN adalah:
Asas exceptionel (perkecualian dalam

keadaan tertentu).
Asas pencabutan hak dengan ganti-rugi.
Asas pemerintahan yang baik.

Asas regulatif HAN adalah:


Salus publica (kesejahteraan rakyat).

TEMPAT/KEDUDUKAN HAN
Sebelum abad XIX

HUKUM

PUBLIK

HTN

HUKUM
PIDANA

PRIVAT

HUKUM
PERDAT
A

HUKUM
DAGANG

Sesudah abad XIX

HUKUM

PUBLIK

HAN

HTN

PRIVAT

HUKUM
PIDANA

HUKUM
PERDATA

HUKUM
DAGANG

PANDANGAN PEMBAGIAN TUGAS


NEGARA

RM MAC IVER
Negara itu adalah ciptaan/anak hukum dan

sebaliknya, hukum itu adalah ciptaan negara

Jadi ada 2 jenis hukum:


Hukum yang menciptakan negara yaitu HTN atau

hukum konstitusi (constitutional law)


Hukum ciptaan negara yaitu hukum biasa (ordinary
law). Disebut demikian karena sifat-sifatnya sebagai
hukum adalah jelas dalam arti bilamana terjadi
pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuannya
maka penegakannya dapat dilakukan oleh badan
peradilan

POSISI HAN DALAM KESELURUHAN TATA


HUKUM
Hukum tata negara (constitutional law)
Hukum umum (ordinary law)
Hukum perdata
materiil

HAN materiil

Hukum pidana
Materiil

Hukum perdata
formil

HAN formil kontensius


Hukum pidana formil
non kontensius

Kontensius
: Ketentuan-ketentuan bagaimana berperkara di
pengadilan
Non Kontensius: Beracara di luar pengadilan yaitu di luar sengketa.
Misalnya :
ijin, surat keberatan. (diperlukan keahlian tersendiri)

DWIPRAJA (DICHOTOMI MENURUT DONNER)


Dikemukakan oleh Presthus, Hans Kelsen
dan Logemann.
Presthus
. Policy making, ialah penentuan haluan negara.
. Task executing, ialah pelaksanaan tugas menurut haluan
yang telah ditetapkan oleh negara.
Hans Kelsen
. Politik sebagai etik, yaitu memilih tujuan kemasyarakatan.
. Politik sebagai teknik, yaitu bagaimana merealisasi tujuan
tersebut.
Logemann
. Menentukan tujuan yang tepat.
. Melaksanakan tujuan tersebut secara tepat pula.

TRIPRAJA / TRIAS POLITICA


(MENURUT MONTESQUIEU)
Sebenarnya lebih banyak menyangkut bidang
politik ketatanegaraan. Kekuasaan negara
dibagi 3 yaitu: kekuasaan Legislatif, eksekutif,
dan yudikatif. Pandangan tersebut
mendasarkan pada asas untuk mencegah
salah satu kekuasaan mendominasi yang lain.
Teori tersebut berkembang menjadi ajaran
konstitusi (konstitusionalisme) berpegang pada
pemisahan kekuasaan dibarengi dengan
pengawasan timbal balik secara seimbang
(check and balances) di antara ketiga
kekuasaan tersebut.

Teori Residu/Catur Praja


Van Vollenhoven berpendapat:
. Bahwa tempat HAN di dalam kerangka hukum
seluruhnya ditentukan dengan jalan mengurangi
semua norma hukum dengan HTN materiil,
hukum perdata materiil, pidana materiil, sisanya
adalah HAN / HTP.
HAN meliputi:
. Hukum pemerintahan (bestuurrecht)
. Hukum peradilan (justitierecht)
. Hukum kepolisian (politierecht)
. Hukum perundang-undangan (regelaarrecht)

Hukum peradilan dibagi menjadi 4


macam:
Hukum acara ketatanegaraan
Hukum acara keperdataan
Hukum acara kepidanaan
Hukum acara administrasi negara

Perincian HAN dalam 4 bidang oleh Van


Vollenhoven disebut dengan Catur Praja
oleh Wongsonegoro.

Teori Van Vollenhoven dikembangkan


oleh Dr. H.J Stellinga menjadi Panca
Praja:
Administratiefrecht voor de wetgeving

(HAN untuk Perundang-undangan)


Administratiefrecht voor het bestuur
(HAN untuk Pangreh)
Administratiefrecht voor de politie
(HAN untuk Kepolisian)
Administratiefrecht voor de rechtsprak
(HAN untuk Peradilan)
Administratiefrecht voor de burgers
(HAN untuk Warga Negara)

Menurut Prof. Mr. Notohamidjojo,


kekuasaan negara menurut UUD 1945
sebelum amandemen dibagi menjadi 7 :
1. MPR
2. PEMERINTAHAN NEGARA
3. DPA
4. DPR
5. MAHKAMAH AGUNG
6. BPK
7. KEJAKSAAN AGUNG

Sapta Praja di atas apabila tanpa


Kejaksaan Agung berubah menjadi Sad
Praja.

Menurut Drs. CST. Kansil, kekuasaan


pemerintahan negara berdasarkan UUD
1945 dibagi menjadi 5 bagian, yaitu:
1. Kekuasaan menjalankan perundang2.
3.

4.
5.

undangan. (eksekutif)
Kekuasaan membentuk perundangundangan. (legislatif)
Kekuasaan memberikan pertimbangan
kenegaraan kepada pemerintahan.
(Konsultatif)
Kekuasaan mengadakan pemeriksaan
keuangan negara. (eksaminatif / inspektif)
Kekuasaan mempertahankan Perundangundangan. (yudikatif)