Anda di halaman 1dari 19

TUGAS PERBEKALAN STERIL

HANDLING CYTOTOCITY

Disusunoleh :
KELOMPOK VI / KELAS A
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Desi Purnama sari


Ira Yuliana
Nurul Kamilah Sadli
Siti Rohmattilah Hasyim
Isrohatun Syadiah
Yessy Gladiani Sutrisno

(G1F013021)
(G1F013025)
(G1F013027)
(G1F013033)
(G1F013035)
(G1F013071)

\
KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini, lebih dari 50 agen antineoplastik yang jenisnya berbeda
digunakan, senagai agen alkylating, antimetabolime, inhibitor mitosis, generator
radikal bebas dan inhibitor topoisomerase II. Studi laboratorium klinis
membuktikan bahwa obat ini merupakan mutagen dan teratogen, dimana obat ini
menjadi pilihan untuk pasien yang mengalami kanker.
Obat antineoplastik menunjukkan adanya aktivitas mutagen pada bakteri
secara invitro dan

pada mamalia secata in vivo. Oleh karena itu, terdapat

kekhawatiran kemungkinan adanya efek yang berbahaya terhadap kesehatan


pekerja yang bertugas dalam penanganan obat antineoplastik ini. Beberapa
penelitian menyebutkan bahwa karyawan atau pekerja yang terlibat dalam
penanganan obat ini mempunyai kemungkinan terkena efek yang berbahaya.
Hansen dan olsen (1994) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa
terdapat peningkatan prevalensi tumor pada pekerja yang menangani obat
sitotoksik, dan pada penelitian Skov, dkk (1990) juga menyebutkan terdapat
peningkatan resiko kanker kulit non-melanoma dan non-hodkinns limfoma yang
ditemukan pada pekerja yang menangani obat sitotoksik. Dalam penelitian yang
lain Skov dkk. (1992) melaporkan bahwa risiko leukemia relatif meningkat
secara signifikan namun hanya pada dua kasus, kasus yang lainnya adalah
myeloblastic akut dan leukemia myeloid kronis.
Meningkatnya penggunaan antineoplastik menjadikan adanya kebutuhan
untuk dapat mengatur manajemen yang tepat untuk menghindari resiko yang
disebabkan oleh efek sitotoksik obat ini. Hanya sedikit studi efek biologis obat
antineoplastik pada pekerja yang terpapar. Oleh karena itu, dalam penelitian ini
dilakukan pemeriksaan efek biologis pada pekerja yang terpapar obat antikanker
dengan cara menguji penyimpangan kromoson dan mikronukleus pada perawat
Tunisia yang terpapar dari Rumah Sakit Farhat Hached. Evaluasi efek sitotoksik

yang digunakan yaitu dengan menggunakan indeks peningkatan proliferasi pada


perawat. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menilai resiko dan
berkontribusi dalam penanganan efek sitotoksik obat antineoplastik.
B. Tujuan
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menilai resiko efek sitotoksik
dalam penanganan obat anti neoplastik pada perawat di Tunisia.
C. Tinjauan Pustaka
Pengertian Sitostatika
Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel sel secara
fraksional (fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil daan 10 % tidak
berhasil. (King, 2000).Bahan Sitostatika adalah zat/obat yang merusak dan
membunuh sel normal dan sel kanker, serta digunakan untuk menghambat
pertumbuhan tumor malignan. Istilah sitostatika biasa digunakan untuk setiap zat
yang mungkin genotoksik, mutagenik, onkogenik, teratogenik, dan sifat
berbahaya lainnya. Sitostatika tergolong obat beresiko tinggi karena mempunyai
efek toksik yang tinggi terhadap sel, terutama dalam reproduksi sel sehingga
dapat menyebabkan karsinogenik, mutagenik dan tertogenik. Oleh karena itu,
penggunaan obat sitstatika membutuhkan penanganan khusus untuk menjamin
keamanan, keselamatan penderita, perawat, profesional kesehatan, dan orang lain
yang tidak menderita sakit. Tujuan penanganan bahan sitostatika adalah untuk
menjamin penanganannya yang tepat dan aman di rumah sakit (Mangan., 2003).
Penanganan sitostatika harus memperhatikan (Mulyadi, 1997) :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tehnik aseptik
Pemberian dalam biological safety cabinet
Petugas yang bekerja harus terlindungi
Jaminan mutu produk
Dilaksanakan oleh petugas yang terlatih
Adanya Protap

Standar kerja yang harus dipersiapkan meliputi (Mulyadi, 1997) :


1. Tehnik khusus penanganan sitostatika

2.
3.
4.
5.
6.

Perlengkapan pelindung (baju, topi, masker, sarung tangan)


Pelatihan petugas
Penandaan, pengemasan, transpotasi
Penanganan tumpahan obat sitostatika
Penanganan limbah

Sarana dan Prasarana yang diperlukan untuk penanganan sitostatika yaitu


(Mulyadi, 1997):
a. Ruang
1. Persyaratan Ruang Aseptik: Ruang tidak ada sudut atau siku, Dinding
terbuat dari epoksi, Partikel udara sangat dibatasi : kelas 100, 1000, 10.000
partikel/liter, Aliran udara diketahui dan terkontrol, Tekanan ruangan
diatur, Suhu dan kelembaban udara terkontrol (suhu : 18-22 derajat celcius
dan kelembaban 35-50%), Ada Hepa filter.
2. Ruang Transisi: Ruangan ini terletak antara ruang cuci tangan dan ruang
aseptik, di ruanngan ini petugas menggunakan perlengkapan steril.
3. Ruang Cuci Tangan: Ruangan ini digunakan untuk membersihkan tangan
sebelum dan sesudah melakukan penanganan obat sitostatatika.
b. Alat
1. Pass Box: Jendela antara ruang administrasi dan ruang aseptik berfungsi
untuk keluar masuknya obat kedalam ruang aseptik
2. Laminan Air Flow (LAF): LAF yang digunakan untuk pecampuran
sitostatika adalah tipe : Biological Safety Cabinet (BSC). Validasi hepa
filter dilakukan setiap 6 bulan dengan jalan kalibrasi. Hepa filter diganti
setiap 4 tahun sekali. Aliran udara yang masuk kedalam LAF harus konstan
3. Kelengkapan APD ( Alat pelindung diri)
Kelengkapan ini terdiri dari :
a. Baju: Terbuat dari bahan yang tidak mengandung serat harus
menutupi seluruh anggota badan kecuali muka
b. Topi: harus menutupi kepala sampai leher
c. Masker: harus mempunyai kaca plastik
d. Sarung tangan: digunakan rangkap dua dan terbuat dari bahan latex
e. Sepatu: terbuat dari bahan yang tidak tembus benda tajam
4. Biological Safety cabinet (BSC): Alat ini digunakan untuk pencampuran
sitostatika yang berfungsi untuk melindungi petugas, materi yang
dikerjakan dan lingkungan sekitar. Prinsip kerja dari alat ini adalah :

tekanan udara di dalam lebih negatif dari dari tekanan udara diluar
sehingga aliran udara bergerak dari luar ke dalam BSC. Didalam BSC
udara bergerak vertikal membentuk barier sehingga jika ada peracikan obat
sitostatika tidak terkena petugas. Untuk validasi alat ini harus dikalibrasi
setiap 6 bulan. (depkes, 2009)
Tehnik Penanganan sediaan Sitostatika :
1. Penyiapan
Proses penyiapan sediaan sitostatika

sama

dengan

proses

penyiapan

pencampuran obat suntik. Penyiapan sediaan sitostatika sama dengan proses


penyiapan jarum suntik.
Memeriksa kelengkapan dokumen (formulir) permintaan dengan prinsip 5

BENAR (benar pasien, obat dosis, rute dan waktu pemberian)


Memeriksa kondisi obat-obatan yang diterima ( nama obat, jumlah, nomor

batch, tanggal kadaluarsa), serta melengkapi formulir permintaan.


Melakukan konfirmasi ulang kepada pengguna jika ada yang tidak jelas atau

tidak lengkap.
Menghitung kesesuaian dosis.
Memilih jenis pelarut yang sesuai.
Menghitung volume pelarut yang digunakan.
Membuat label obat berdasarkan nama pasien, nomor rekam medis, ruang
perawatan dosis, cara pemberian, kondisi penyimpanan, tanggal pembuatan,

dan tanggal kadaluarsa campuran (contoh label obat, lampiran 1).


Membuat label pengiriman terdiri dari : nama pasien, nomor rekam medis,

ruang perawatan, jumlah paket (contoh label pengiriman, lampiran 2).


Melengkapi dokomen pencampuran
2. Pencampuran
Proses pencampuran sediaan sitostatika:
Memakai APD sesuai PROSEDUR TETAP
Mencuci tangan sesuai PROSEDUR TETAP
Menghidupkan biological safety cabinet (BSC) 5 menit sebelum digunakan.
Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi BSC sesuai PROSEDUR TETAP
Menyiapkan meja BSC dengan memberi alas sediaan sitostatika.
Menyiapkan tempat buangan sampah khusus bekas sediaan sitostatika.
Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan menyemprot alkohol 70%.
Mengambil alat kesehatan dan bahan obat dari pass box.

Meletakkan alat kesehatan dan bahan obat yang akan dilarutkan di atas meja

BSC.
Melakukan pencampuran sediaan sitostatika secara aseptis.
Memberi label yang sesuai pada setiap infus dan spuit yang sudah berisi

sediaan sitostatika
Membungkus dengan kantong hitam atau aluminium foil untuk obat-obat

yang harus
terlindung cahaya.
Membuang semua bekas pencampuran obat kedalam wadah pembuangan

khusus.
Memasukan infus untuk spuit yang telah berisi sediaan sitostatika ke dalam

wadah untuk pengiriman.


Mengeluarkan wadah untuk pengiriman yang telah berisi sediaan jadi

melalui pass box.


Menanggalkan APD sesuai prosedur tetap (lampiran 4):
1. Cara Pemberian
Cara pemberiaan sediaan sitostatika sama dengan cara pemberiaan obat suntik
kecuali intramuskular
2. Penanganan tumpahan dan kecelakan kerja
a. Penanganan tumpahan
Membersihkan tumpahan dalam ruangan steril dapat dilakukan petugas
tersebut

atau

meminta

pertolongan

orang

lain

dengan

menggunakan chemotherapy spill kit yang terdiri dari:


Membersihkan tumpahan di dalam BSC
- Serap tumpahan dengan kassa untuk tumpahan cair atau handuk
-

basah untuk tumpahan serbuk.


Tanggalkan sarung tangan dan buang, lalu pakai 2 pasang sarung

tangan baru.
Angkat hati-hati pecahan tajam dan serpihan kaca sekaligus dengan

alas kerja/meja/penyerap dan tempatkan dalam wadah buangan.


Cuci permukaan, dinding bagian dalam BSC dengan detergent, bilas
dengan

aquadestilata menggunakan kassa. Buang kassa dalam

wadah pada buangan.


Ulangi pencucian 3 x.
Keringkan dengan kassa baru, buang dalam wadah buangan.
Tutup wadah dan buang dalam wadah buangan akhir.

Tanggalkan APD dan buang sarung tangan, masker, dalam wadah

buangan akhir untuk dimusnahkan dengan inscenerator.


Cuci tangan.

BAB II
ISI
A. Metode
a. Subyek
Penelitian ini melibatkan 20 perawat (4 laki-laki dan 16 perempuan)
dari departemen kanker rumah sakit Farhat Hached Sousse (Tunisia).
Setiap peserta menyelesaikan kuesioner standar yang menutupi rinci medis,
keluarga dan sejarah diet, termasuk variabel yang diketahui mempengaruhi
point terakhir sitogenetika (merokok, alkohol dan konsumsi obat, penyakit
virus, vaksinasi baru dan X-ray pemeriksaan diagnostik).
Karakteristik demografi terkena dan kontrol populasi yang terlibat
dalam penelitian ini dilaporkan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Demografi

Kelompok terpapar (usia rata-rata 35,85 8,05 tahun; kisaran: 2657) terdiri dari 2 perokok dan 18 non perokok yang telah bekerja di
departemen onkologi Rumah Sakit Farhat Hached. sehari-hari atau hampir
setiap hari dengan obat antineoplastik (persiapan larutan suntik untuk infus,
pemberian obat antineoplastik, penanganan cairan tubuh pasien yang
menjalani kemoterapi). Subyek terkena ditangani keragaman obat
antineoplastik seperti Bleomycin, melfalan (Alkeran), Cisplatin, Busulfan
(Myleran) dan Cyclophosphamid (Endoxan). Penanganan dengan
waktu 6 jam / hari. Waktu paparan adalah 6, 14 5 (kisaran 1-16). 55%
yang terkena memiliki durasi paparan kurang dari 5 tahun dan hanya 25%
durasi 10 tahun. Semua yang terkena mengatakan bahwa mereka
menggunakan

aliran

laminar

keselamatan

hood

ketika

mereka

mempersiapkan obat anti-kanker. 70% dari perawat menggunakan sarung


tangan, 10% gaun digunakan dan 15% digunakan masker. 5% dari terkena
bekerja tanpa perlindungan individu.
Kelompok kontrol (n = 20) (4 laki-laki dan 16 perempuan) dipilih
dari departemen administrasi rumah sakit yang sama. Usia rata-rata adalah
33, 8 8, 37, kisaran: 21-45 tahun. Mereka tidak memiliki riwayat pajanan

jenis senyawa genotoksik. Semua yang sehat pada saat pengambilan


sampel darah. Tak satu pun dari mereka yang melaporkan mengkonsumsi
alkohol. Satu tahun sebelum sampel darah dikumpulkan, subjek kontrol
umumnya tidak mengalami diagnostik X-ray. Mereka tidak mengambil
obat yang mungkin mempengaruhi hasil.
b. Sitokinesis diblokir mikronukleus (CBMN) assay
Sampel darah 5 ml diperoleh dengan menggunakan tabung
vacutainer heparinized dan dijaga pada suhu kamar selama kurang dari 6
jam. dimulai dengan menambahkan 0,7 ml darah keseluruhan 9,3 ml RPMI
dilengkapi dengan 25% serum janin sapi, heparin (50 U/ml), antibiotik
(penisilin 100 UI/ml dan streptomisin 100 g / ml) dan 1% PHA untuk 72
jam dalam inkubator CO2 dilembabkan pada 37 C.
Cytochalasin B ditambahkan ke kultur (5g/ml) 44 h setelah
stimulasi PHA. Pada 72 jam, sel-sel menjadi sasaran perlakuan hipotonik
ringan (KCl 0,075 M), tetap dua kali dengan metanol / asam asetat (3/1),
kemudian dioleskan pada sebelum dibersihkan slide mikroskop dan udara
kering. Pewarnaan dilakukan dengan 5% Giemsa di mili-Q air selama 15
menit. Slide Stained kemudian dicetak oleh mikroskop cahaya pada 1000 x
pembesaran. Untuk setiap slide, 2000 Giemsa-bernoda limfosit binucleated
dengan sitoplasma terpelihara dengan baik yang mencetak gol untuk
kehadiran mikronukleus sesuai dengan kriteria yang telah dijelaskan
sebelumnya (Fenech, 2000).
c. Uji penyimpangan kromosom dan analisis kinetika proliferasi limfosit
Uji penyimpangan kromosom dilakukan pada sampel darah perifer
yang diperoleh dari 20 perawat penanganan obat antikanker dan 20
kontrol subyek sehat. Dengan diambil 2 ml darah vena dikumpulkan di
heparinized, lalu kultur disiapkan di RPMI 1640 media dilengkapi dengan

20% bovine serum dan 1% PHA. Mitomycin C ditambahkan (25 ng / ml)


pada saat inisiasi kultur. Kultur diinkubasi 72 jam pada 37 C (5% CO2).
Colchicin,5? G / ml ditambahkan 45 menit sebelum panen sel dan
memperbaiki. Sel dikumpulkan dengan sentrifugasi tersedak dengan
larutan hipotonik (0.075 M KCl) untuk 7 menit, dan tetap dua kali dengan
asam asetat / metanol (1: 3, v / v). Slide udara kering dan diwarnai dengan
larutan Giemsa 5%. Akhirnya, 100 metaphases dianalisis untuk
mengevaluasi

frekuensi

penyimpangan

chromosomomal

seperti

chromosomic dan chromatidic pecah atau pertukaran gambar. (PRI)


dihitung dengan rumus: PRI = (M1 + 2M2 + 3M3) / total jumlah sel
mencetak (. Lamberti et al, 1983) . M1, M2, M3 adalah sel membagi
untuk pertama, kedua dan ketiga kalinya dalam kultur.
d. Analisis statistik
Pengaruh variabel yang berbeda pada setiap biomarker dipelajari
dievaluasi dengan t-test. Analisis regresi multivariat dilakukan untuk
meneliti kemungkinan pengaruh usia, jenis kelamin, merokok, waktu
pemaparan dan PRI pada kromosom frekuensi penyimpangan dan
mikronukleus. Tingkat signifikansi adalah 0,05. Semua analisis dilakukan
menggunakan SPSS versi 16.0.
B. Hasil
Pengukuran MN dilakukan pada 20 pekerja yang terpapar obat anti
kanker dalam 20 kontrol yang cocok. Frekuensi MN secara signifikan lebih
tinggi (p< 0,05) pada kelompok terpapar (9,4 4,35) jika dibandingkan
dengan kelompok kontrol (1,85 0,3) seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 1. Hasil analisis CA diringkas dalam Tabel 2.

Perbandingan

parameter kerusakan kromosom antara terpapar dan kontrol menunjukkan


secara signifikan lebih tinggi (p < 0,05) tingkat total Cas, kromatid dan tipe
kromosom pecah dalam kelompok terpapar dibandingkan kelompok

kontrol Secara khusus, antara individu yang terpapar, jumlah rata-rata total
angka kromosom aberasi adalah 1.85 dibandingkan 0,32 untuk individu
kontrol.

Gambar 1. Distribusi MN 2000 sel binucleated dalam kelompok kontrol dan


kelompok terpapar.
Tabel 2. Frekuensi kromosom aberasi dalam limfosit terhadap perawat dan kontrol

Hal ini menyajikan peningkatan dari kerusakan kromosom antara


subjek pada waktu 5,7 pada individu yang tidak terpapar. Demikian pula,
pertimbangan kromatid dan tipe kromosom aberasi diamati peningkatan
dari waktu 3,75 dan 5. Tidak ada perbedaan yang signifikan di dalam
frekuensi perubahan gambar antara kontrol dan terpapar yang ditemukan.
Analisis regresi berganda dilakukan menggunakan umur, jenis kelamin, dan
waktu pemaparan, merokok, proteksi individu, PRI sebagai variabel bebas,
mengindikasi

tidak

ada variabel

yang

memperngaruhi

kerusakan

kromosom (Tabel 3). Nilai individu terhadap PRI dalam limfosit darah
perifer yang terpapar berada dalam kisaran dari 1,57 hingga 1.97, dengan
rata-rata nilai 1,77 0,10 (Gambar. 2). Subyek kontrol umumnya secara
signifikan memiliki nilai PRI yang tinggi dibandingankan yang terpapar

(Uji Mahasiswa, p < 0,05) dan nilai masing-masing berada dalam kisaran
1.73-1.96 dengan nilai rata-rata 1.840.44.

Tabel 3. Analisis regresi berganda dalam populasi terpapar

Gambar 2. Distribusi PRI dalam kelompok kontrol dan terpapar.


C. Diskusi
Penanganan obat antineoplastik menyebabkan paparan untuk
berbagai alkylating agen, antimetabolites, spindle inhibitor, generator
radikal bebas dan topoisomerase Inhibitor II mekanismetidak diketahui
berinteraksi. Namun, Perlu disebutkan bahwa risiko ini sangat sering
disertai dengan obat yang digunakan dalam anti-kanker, yang dapat
menambahkonsekuensi sitogenetika akhir. Sejak tahun 1986, pedoman
praktik penanganan yang aman harus menjadi tersedia di beberapa negara.
Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan (NIOSH) menerbitkan
sebuah "Alert" dokumen yang ditujukan kepada pekerja penanganan obat
berbahaya (termasuk kemoterapi kanker) (Bouraouiet al., 2011).
Tes sitogenetika dapat digunakan dalamtujuan ini; konseptual dasar
untuk aplikasi adalah bahwa kerusakan DNA adalah kejadian awal dalam
patogenesis penyakit. Dengan demikian, pengawasan sitogenetik dapat
berfungsi sebagai indikator memungkinkan deteksi dini paparan berbahaya.
Biomarker sitogenetik dalam limfosit darah perifer seperti penyimpangan
kromosom(CA), kromatit pertukaran(SCEs) dan mikronukleus (MNS)
telah lama digunakan untuk pemantauan populasi manusia yang terkena

karsinogenik atau zat mutagenik, serta penelitian diklinik (Bouraouiet al.,


2011).
Pada 1990-an, penelitian kohort dari Skandinavia negara yang
menggunakan data arsip dari berbagai laboratorium aktif di bidang
biomonitoring sitogenetik dievaluasidari tingkatCA, SCEs dan MN dalam
limfosit darah perifer sebagai biomarker dari risiko kanker (Hagmar et al.,
1998). Signifikan hubungan antara frekuensi CA pada orang sehat dan
kejadian selanjutnya atau kematian untuk semua kanker yang diamati.
Hasil signifikandari penelitian kelompok Italia dan Nordic telah
menunjukkan bahwa peningkatan risiko 2,3-2,6 kali lipat untuk orangorang yang terbukti kanker yaitu memiliki lebih tinggi tingkat CA
dibandingkan dengan yang memiliki tingkat rendah dari CA. Selain itu,
risiko tinggi terhadap rendah tingkat CA jelas diketahui dari paparan
karsinogen menunjukkan bahwa peningkatan kerusakan kromosom sendiri
merupakan faktor penyebab kanker (Bouraouiet al., 2011).
CA dalam limfosit darah perifer digunakan secara rutin untuk
menganalisis kerusakan genetik karena lebih dekat mencerminkan
peristiwa serupa di sel yang mengalami karsinogenesis. Penyimpangan
kromosom

termasuk

jenis

penyimpangan

kromosom

dan

jenis

penyimpangan kromatid, yang berbeda satu sama lain secara morfologis.


Tipe penyimpangan kromosom melibatkan lokus yang sama pada kedua
kromatid

pada

satu

atau

beberapa

kromosom,

sedangkan

jenis

penyimpangan kromatid mempengaruhi satu atau beberapa kromatid dari


kromosom atau beberapa kromosom (Bouraouiet al., 2011).
Kedua parameter telah lama digunakan untuk mengevaluasi
kerusakan sel DNA sebagai sarana menilai bahaya kesehatan dalam
pemantauan biologis pekerja yang terpapar. Seperti banyak penelitian lain
kami menemukan dalam kelompok terpapar peningkatan yang signifikan

dari frekuensi mikronukleus. Hasil penelitian sitogenetik sering ambigu.


Sebagai contoh, dalam sebuah studi yang dilakukan di Austria dan di
Swedia tidak ada perbedaan yang signifikan dalam MN di rumah sakit
personil farmasi dan kontrol yang tidak terpajan ditemukan (Bouraouiet al.,
2011).
Di Mesir, kelainan pada mikronukleus dan kromosom ditemukan
meningkat pada limfosit perifer 20 perawat yang menangani obat sitotoksik
dibandingkan dengan20 kelompok kontrol. Berdasarkan analisis CA
menunjukkan bahwa kelompokyang terkena paparan, signifikan mengalami
kenaikan sekitar 5,7 kali lipatkelainan kromosom pada kelompok sebanyak
26perawat yang menangani obat antineoplastik. Pecahnya kromosom dan
kromatid menunjukkan secara signifikanpeningkatan kelompok yang
terpapar.Temuan ini sesuai dengan penelitian lain mengacutingkat tinggi
kerusakan genetik yang ditemukan dalam limfosit darah perifer semacam
ini oleh petugas. Baru-baru inimenunjukkan bahwa tingkat kelainan
kromosom adalah prediksi peningkatan risiko kanker. Dalam penelitian
lain, peningkatan CA struktural ditunjukkan pada perawat onkologi tetapi
dalam penelitian lain tidak ada kerusakan kromosom yang diamati
(Bouraouiet al., 2011).
Namun disisi lain tidak ada hubungan yang ditemukan antara durasi
paparan dan kerusakan kromosom, mungkin karena waktu paparan tidak
akurat dari jumlah yang sebenarnya yang diserap. Tidak adanya korelasi
dapat dijelaskan bahwa 55% petugas yang terkenamemiliki durasi paparan
kurang dari 5 tahun dan hanya 25% yang lebih dari 10 tahun. Rata-rata
durasi paparan untuk kelompok terpapar adalah 12,9tahun (kisaran 1-30
tahun).Di sisi lain, peningkatan kondisi kerja (misalnya penggunaan LAF,
masker dan sarung tangan) menjadi alasan variabilitas dalam tingkat
penyerapanantara subyek. Tetapi seklai lagi, inkonsistensi dalam hasil
sitogenetik tidak berkaitan dengan faktor-faktor ini, karena beberapa

petugas yang bekerja tanpa pelindung memberikan hasil yang negatif dan
beberapa

petugas

yang

bekerja

yang

mengaku

menggunakan

pelindungmenunjukkan hasil yang positif (Bouraouiet al., 2011).


Oleh karena itu, aturan mengenai penggunaan dan efektivitas
langkah-langkah perindungan selama penanganan obat sitotoksik juga
harusdievaluasi.

Beberapa

subyek

yang

terkena

dianalisis

telah

diidentifikasi bekerja tanpa perlindungan, meskipun merekasebelumnya


mengaku menggunakannya.Paparan ini juga dimungkinkan karena
tumpahan disengaja atau kelalaiandari petugas (Bouraouiet al., 2011).
Respon individu terhadap kerusakan DNA yang disebabkan oleh
agen eksogenjuga disebabkan oleh mekanisme perbaikan DNA. Kehadiran
polimorfisme

genetik

dalam

genterlibat

dalam

proses

ini

dapat

mempengaruhi kinerjanya,seperti XRCC1 dan XRCC3 gen yang terlibat


dalam perbaikan, eksisi, dan rekombinasi homolog DNA. Dalam konteks
ini, tidak ditemukan korelasi antara kerusakan kromosomdan penggunaan
alat pelidung diri. Dalam penelitian ini, tidak adanya korelasi antara
kelainan

kromosom

dan

frekuensi

mikronukleus

menunjukkan

ketidakseimbangan antara prevalensi klastogenik atau non-genotoksik


senyawa ini (Bouraouiet al., 2011).
Namun demikian usia dan merokok meningkatkan CA dan MN.
Merokok
dilimfosit.

secara

signifikan

Kebiasaan

meningkatkan

merokok

frekuensi

menginduksi

mikronukleus

mikronukleus

secara

signifikan. Kurangnya korelasi antara lamanya perawat onkologi pelayanan


dan kecepatan peningkatan MN dan CA merupakan indikasi reversibilitas
dari sebagian besar efek genotoksik yang disebabkan oleh xenobiotik.
Pelindung yang efektif bergantung pada kondisi fisiologi perbaikan DNA.
Dalam penelitian ini, PRI secara signifikan lebih tinggi pada kelompok
control dibandingkan dengan kelompok terpapar.Penurunan PRI dapat

disebabkan oleh penurunan kemampuanlimfosit untuk merespon stimulasi


PHA setelah paparan obat sitotoksik, dan atau peningkatan waktu yang
diperlukan sel-sel untuk melalui siklus sel pertama, mungkinkarena
perpindahan blokade disatu atau lebih dalam siklus sel. Namun tidak ada
korelasi yang menunjukkan hubungan antara PRI dengan CA (Bouraouiet
al., 2011).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
CA dan MN dalam penelitian ini diakui sebagai biomarker dari
paparan obat sitotoksik. Penelitian ini dilakukan di Tunisia, Arab dan
Afrika menggunakan biomarker ini untuk menilai genotoksik dari paparan
obat antineoplastik pada perawat. Data padakelainan kromosom dan

frekuensi mikronukleus memberikan informasi mengenai risiko genotoksik


penanganan obat antineoplastikyang memberikan kontribusi untuk
memperjelas efek obat tersebut. Poin dari penelitian ini
bekerja pada kondisi yang aman dan terkendali

adalah untuk

selama persiapan

danpemberian obat anti-kanker


B. Daftar Pustaka
Bouraoui., Sana B ., Aicha Tabka ., Faten Mrizek ., Najib Saad ., Ali
Elgheza,

l., Hatem ., 2011. Assessment of chromosomal

aberrations, micronuclei and proliferation rate index in peripheral


lymphocytes

from Tunisian nurses handling cytotoxic drugs.

Environmental

Toxicology and Pharmacology. Vol 3(1) : 250-

257.
Depkes RI, 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. http://www.depkes.go.id.
King, R.J.B., 2000, Cancer Biology, Pearson Education, London.
Mangan, Y., 2003, Cara Bijak Menaklukkan Kanker, Agromedia Pustaka,
Jakarta.
Mulyadi, 1997, Kanker (Karsinogen, Karsinogenesia dan Antikanker),
TiaraWacana, Jogjakarta.