Anda di halaman 1dari 113

TESIS

STUDI ADSORPSI LOGAM TEMBAGA (Cu), BESI (Fe) DAN NIKEL (Ni)
PADA LIMBAH CAIR BUATAN MENGGUNAKAN ADSORBEN
NANOPARTIKEL MAGNETIK COBALT FERRITE (CoFe2O4)

STUDY ON ADSORPTION OF Cu(II), Mn(II) AND Ni(II)


FROM ARTIFICIAL WASTE WATER USING ADSORBENT
OF COBALT FERRITE NANOPARTICLES (CoFe2O4)

FEMILA AMOR NURDILA


13/PPA/351262/04150

PROGRAM STUDI S2 FISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2015

TESIS
STUDI ADSORPSI LOGAM TEMBAGA (Cu), BESI (Fe) DAN NIKEL (Ni)
PADA LIMBAH CAIR BUATAN MENGGUNAKAN ADSORBEN
NANOPARTIKEL MAGNETIK COBALT FERRITE (CoFe2O4)

STUDY ON ADSORPTION OF Cu(II), Mn(II) AND Ni(II)


FROM ARTIFICIAL WASTE WATER USING ADSORBENT
OF COBALT FERRITE NANOPARTICLES (CoFe2O4)

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh derajat


Master of Science Ilmu Fisika

FEMILA AMOR NURDILA


13/PPA/351262/04150

PROGRAM STUDI S2 FISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2015
i

ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Dia memberikan hikmah (ilmu yang berguna) kepada siapa yang


dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mendapat hikmah itu Sesungguhnya ia
telah mendapat kebajikan yang banyak. Dan tiadalah yang menerima
peringatan melainkan orang- orang yang berakal. (Q.S. Al-Baqarah: 269)
Kesuksesan berawal dari mimpi, dimulai dari niat dalam
hati, digapai dengan penuh tekad dan kegigihan diri
Ketika hidup ini hanya untuk diri sendiri, Maka ia akan terasa sangat
singkat dan tak bermakna. Tapi ketika hidup ini kita persembahkan untuk
orang lain, Ia akan terasa panjang, dalam dan penuh makna. (Sayyid
Quthb)

Karya ini aku persembahkan untuk:


ibuku:
engkau adalah segalanya bagiku, perjuanganmu menjadi
motivasiku, doa-doamu melancarkan setiap langkahku, kau yang
membangkitkanku disaat jatuhku,
ayahku:
Di dalam diammu aku yakin terpendam doa-doa akan
keberhasilanku, di dalam ketegasanmu tersimpan kasih sayang yang
begitu besar untukku, pengalaman hidupmu memotivasiku untuk lebih
maju, akan aku buktikan aku bisa. Terima kasih bapakku sayang
Adikku:
Canda tawa kita meramaikan isi rumah, pertengkeran tanda kasih
sayang yang membuat kehangatan di rumah kita, makasih adikku
sayang, terus semangat belajar, raih cita-citamu.

iii

iv

PRAKATA

Assalamu alaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga karya sederhana yang berjudul Studi Adsorpsi
Logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) dalam Limbah Cair Buatan Menggunakan
Adsorben Nanopartikel Cobalt Ferrite (CoFe2O4) ini dapat diselesaikan dengan
baik. Tesis ini disusun untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar Master of
Science (M.Sc) dari program S2 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada. Dalam penulisan tesis ini penulis
banyak mendapatkan arahan, bantuan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Dr. Edi Suharyadi M. Eng, selaku Dosen Pembimbing Tesis atas semua
arahan dan bimbingannya.

2.

Dr. Ahmad Kusumaatmaja, Dr. Mirza Satriawan dan

Dr.

Fahrudin

Nugroho selaku Tim Dosen Penguji atas semua masukannya.


3.

Bapak (Edi Priyanto) dan Ibu (Nuryati) tercinta yang tidak henti-hentinya
memberi dukungan berupa materi, moral, doa, semangat, dan cinta kasih
mulia yang tak ternilai, yang penulis tidak akan pernah mampu
membalasnya.

4.

Seluruh staf pengajar Program Studi Fisika (Pak Agung, Pak Arief, Pak
Kamsul, Pak Rosyid, Pak Pekik, Ibu Chotimah, Pak Mitra, Pak Guntur, Pak
Mirza, Pak Harsoyo, dll.).Assoc. Prof. Dr. Takeshi Kato dan Prof. Dr.
Satoshi Iwata (Department of Quantum Engineering, Nagoya University,
Japan).

5.

Para staff laboratorium Fisika Material & Instrumentasi (Pak Supriyanto dan
Ibu Widyastuti) dan Para staff TU Program S2 Fisika (Pak Ngadri, Pak
Darsono, dll), atas pelayanannya.

6.

Kelompok penelitian nanopartikel purifikasi (Nining Sumawatiasri, Tika


Erna Putri, Dewi Setiawati, Wahyu Waskitoaji) yang sudah membantu
penelitian ini.

vi

7.

Teman-teman seperjuangan Fisika Material Angkatan 2013 yang sudah


memberi semangat dan motivasi.

8.

Teman-teman grup nanomaterial semua yang sudah bekerja keras di


laboratorium bersama-sama (Mahasiswa S1 maupun S2).

9.

Teman-teman S2 fisika angkatan 2013 semuanya.

10.

Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya tulisan ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kata sempurna, oleh

karena itu penulis masih mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sekalian.
Penulis juga berharap semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan.
Yogyakarta, 3 Juni 2015
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................
PERNYATAAN ........................................................................
PRAKATA ................................................................................
DAFTAR ISI .............................................................................
DAFTAR GAMBAR ................................................................
DAFTAR TABEL ....................................................................
DAFTAR SIMBOL DAN KONSTANTA ................................
INTISARI..................................................................................
ABSTRACT................................................................................

i
ii
iii
iv
v
vii
ix
xi
xii
xiii
xiv

BAB I PENDAHULUAN .........................................................


1.1. Latar Belakang ....................................................
1.2. Perumusan Masalah .............................................
1.3. Batasan Masalah .................................................
1.4. Tujuan Penelitian .................................................
1.5. Manfaat Penelitian ...............................................
1.6. Sistematika Penulisan ..........................................

1
1
4
4
4
5
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................

BAB III LANDASAN TEORI .................................................


3.1. Dasar-dasar Kemagnetan Bahan...........................
3.2. Ferrimagnetik.......................................................
3.3. Nanopartikel
Magnetik
dan
Sifat
Superparamagnetik...............................................
3.4. Konsep Kurva Histerisis.......................................
3.5. Nanopartikel Cobalt Ferrite (CoFe2O4)................
3.6. Enkapsulasi CoFe2O4 dengan Polyethylene
Glycol (PEG) .......................................................
3.7. Metode Kopresipitasi ...........................................
3.8. Adsorben Nanopartikel Magnetik.........................
3.9. Metode Adsorpsi..................................................
3.10. Gaya Van der Waals.............................................
3.11. Metode Karakterisasi Material .............................
3.11.1 X-Ray Diffraction (XRD)...........................
3.11.2 Transmission Electron Microscope(TEM) .
3.11.3 Vibrating Sample Magnetometry(VSM).....
3.11.4 Infra-red Spectroscopy ..............................
3.12. Atomic Adorptions Spectroscopy (AAS)...............
3.13. Logam Berat .......................................................

12
12
13

20
21
22
24
26
28
28
30
32
34
36
38

BAB IV METODE PENELITIAN ..........................................

40

vii

14
17
18

4.1.
4.2.
4.3.
4.4.

Bahan Penelitian ..................................................


Alat Penelitian .....................................................
Skema Penelitian..................................................
Tahap Pelaksanaan Penelitian...............................
4.4.1 Persiapan Alat...........................................
4.4.2 Sintesis Nanopartikel CoFe2O4 .................
4.4.3 Pembuatan Limbah Cair Buatan................
4.4.4 Purifikasi Limbah Cair .............................
4.5. Teknik Pengolahan Data ......................................
4.6. Pengujian Hasil Purifikasi ....................................

40
40
40
41
41
41
42
43
44
50

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................


5.1 Hasil Sintesis Nanopartikel Cobalt Ferrite ...........
5.2 Karakterisasi Cobalt Ferrite menggunakan XRD .
5.3 Karakterisasi Cobalt Ferrite menggunakan TEM .
5.4 Pengukuran Sifat Kemagnetan Cobalt Ferrite
dengan VSM ........................................................
5.5 Mekanisme Adsorbsi ion logam Cu(II), Fe(II) dan
Ni(II) ...................................................................
5.6 Pengaruh Suhu Terhadap Penurunan Kadar
Logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II)............................
5.7 Pengaruh Lama Pengadukan Terhadap Penurunan
Kadar Logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) .................
5.8 Pengaruh Konsentrasi Adsorben Terhadap
Adsorpsi Logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II).............
5.9 Pengaruh Readsorpsi Terhadap Penurunan Kadar
Logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II)............................
5.10 Pengaruh Fungsionalisasi Nanopartikel dengan
PEG-4000 ............................................................
5.10.1 Karakterisasi CoFe2O4+PEG-4000 XRD...
5.10.2 Karakterisasi
CoFe2O4+PEG-4000
menggunakan TEM .................................
5.10.3 Pengukuran
Sifat
Kemagnetan
CoFe2O4+PEG-4000 dengan VSM...........
5.10.4 Karakterisasi
CoFe2O4+PEG-4000
Menggunakan FTIR..................................
5.10.5 Pengaruh Enkapsulasi Adsorben dengan
PEG-4000 Terhadap Penurunan Kadar
Logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) ................

51
51
52
53
55
56
58
60
61
63
64
64
68
70
72
76

BAB VI KESIMPULAN ...........................................................


6.1 Kesimpulan..........................................................
6.2 Saran....................................................................

79
79
79

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................

81

LAMPIRAN ..............................................................................

85

viii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Pengaruh konsentrasi CoFe2O4-rGO (A) Pb(II), (B)
Hg(II).......................................................................
Gambar 2.2 Efek pH terhadap penyerapan dari (A) Pb(II) dan
(B) Hg(II) pada CoFe2O4-rGO..................................
Gambar 3.1 Arah domain magnetik pada ferrimagnetik...............
Gambar 3.2 Transisi pada nanopartikel magnetik dari
ferromagnetik ke superparamagnetik........................
Gambar 3.3 Respon terhadap medan magnet dari partikel
magnetik: (a) Partikel magnetik pada suhu dibawah
TB dan (b) Partikel magnetik pada suhu lebih tinggi
dari TB ......................................................................
Gambar 3.4 Kurva histeresis (Callister dan Rethwisch, 2009)......
Gambar 3.5 Struktur CoFe2O4 (Moussy, 2013)............................
Gambar 3.6 Struktur PEG (John dkk, 2013) ................................
Gambar 3.7 Proses adsorpsi menggunakan adsorben magnetik
(Willet, 2009)...........................................................
Gambar 3.8 Proses pemisahan sedimen hasil adsorpsi dengan
bantuan medan magnet eksternal (Willet, 2009) .......
Gambar 3.9 Diagram X-Ray Difraktometer; T = sumber sinar-X,
S = sampel, C = detektor, O = Sumbu dimana
sampel dan detektor berotasi (Callister dan
Rethwisch, 2009) .....................................................
Gambar 3.10 Difraksi Bidang sinar-X (Callister dan Rethwisch,
2009) .......................................................................
Gambar 3.11 Skema Transmission Electron Microscope(TEM) ....
Gambar 3.12 Diagram Skematik Instrumen VSM (Panchal, 2011)
Gambar 3.13 Sistem optik pada Spektrofotometer Infra Merah
(Pavia dkk, 2009) .....................................................
Gambar 3.14 Proses atomisasi (Day dan Underwood, 2001)..........
Gambar 4.1 Diagram alir pengumpulan data................................
Gambar 4.2 Skema sintesis adsorben nanopartikel CoFe2O4 ........
Gambar 4.3 Ilustrasi spektrum puncak CoFe2O4 dari pengujian
XRD ........................................................................
Gambar 4.4 Ilustrasi penentuan FWHM pengujian XRD .............
Gambar 4.5 (a) Contoh gambar hasil pengujian TEM (b) Ilustrasi
grafik hubungan ukuran butir yang terukur dengan
frekuensi relatif ........................................................
Gambar 4.6 Contoh gambar hasil pengujian TEM .......................
Gambar 4.7 Ilustrasi kurva histerisis hasil pengujian VSM ..........
Gambar 4.8 Ilustrasi pembesaran skala kurva histerisis untuk
menentukan nilai koersivitas sampel (a) kurva
histeresis (b) setelah perbesaran skala.......................

ix

10
10
14
15

16
18
19
20
24
24

28
30
31
33
35
37
41
42
45
46
47
48
48
49

Gambar 5.1 Nanopartikel CoFe2O4 yang dihasilkan dari


proses sintesis dengan metode kopresipitasi (a)
nanopartikel CoFe2O4 dalam medium cair di atas
medan magnet dan (b) nanopartikel CoFe2O4 fasa
padat ........................................................................
Gambar 5.2 Pola spektrum XRD Sampel CoFe2O4 ......................
Gambar 5.3 Hasil TEM sampel CoFe2O4 .....................................
Gambar 5.4 Distribusi ukuran nanopartikel CoFe2O4 ...................
Gambar 5.5 Kurva histerisis pengujian VSM CoFe2O4 ................
Gambar 5.6 Mekanisme pertukaran ion antara permukaan
adsorben dengan ion logam (Carabante dkk, 2012)...
Gambar 5.7 (a) Limbah sebelum adsorpsi, (b) limbah setelah
adsorpsi....................................................................
Gambar 5.8 Pola spektrum XRD sampel CoFe2O4+PEG-4000
(1:1) .........................................................................
Gambar 5.9 Ilustrasi proses pelapisan nanopartikel dengan PEG4000.........................................................................
Gambar 5.10 Hasil TEM sampel CoFe2O4 yang telah dilapisi
PEG-4000 ................................................................
Gambar 5.11 Distribusi ukuran naopartikel CoFe2O4 dilapisi PEG4000.........................................................................
Gambar 5.12 Kurva histerisis pengujian VSM CoFe2O4+PEG4000(1:1) .................................................................
Gambar 5.13 Skema ilustrasi hubungan ukuran nanopartikel
dengan koersivitas (Zhao, 2007)...............................
Gambar 5.14 Spektrum FTIR CoFe2O4, PEG-4000 dan sampel
CoFe2O4+PEG-4000 ................................................
Gambar 5.15 Ilustrasi hubungan antara ukuran dan luas total
permukaan partikel...................................................
Gambar 5.16 Ilustrasi penyerapan logam pada permukaan partikel
dengan ukuran tertentu .............................................

51
52
54
54
55
57
57
65
66
68
69
70
71
73
77
77

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1
Tabel 3.2
Tabel 3.3
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 4.4
Tabel 4.5
Tabel 5.1
Tabel 5.2
Tabel 5.3
Tabel 5.4
Tabel 5.5
Tabel 5.6
Tabel 5.7
Tabel 5.8

Komposisi PEG dan sifatnya....................................


Luas permukaan adsorben nanopartikel magnetik.....
Batas ambang maksimum logam berat dalam air ......
Sampel dengan variasi suhu .....................................
Sampel dengan variasi konsentrasi adsorben ............
Sampel dengan variasi lama pengadukan..................
Sampel dengan readsorpsi ........................................
Sampel dengan variasi enkapsulasi dengan PEG4000.........................................................................
Pengaruh suhu terhadap penurunan kadar logam
Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) ...........................................
Pengaruh lama pengadukan terhadap penurunan
kadar logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) .......................
Pengaruh konsentrasi adsorben terhadap penurunan
kadar logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) .......................
Pengaruh readasorpsi terhadap penurunan kadar
logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II).................................
Rasio volume fasa pada sampel nanopartikel
CoFe2O4+PEG-4000 ...............................................
Hasil
analisis
nanopartikel
CoFe2O4
dan
CoFe2O4+PEG-4000 (1:1)........................................
Jenis ikatan dan bilangan gelombang pada sampel
CoFe2O4, PEG-4000, dan CoFe2O4+PEG-4000 ........
Pengaruh pelapisan adsorben dengan PEG-4000
terhadap penurunan kadar logam Cu(II), Fe(II) dan
Ni(II) .......................................................................

xi

21
23
38
43
43
44
44
44
59
60
62
63
66
67
74
76

DAFTAR SIMBOL DAN KONSTANTA

Suseptibilitas

Magnetisasi

Medan magnet eksternal

Induksi magnet

Permeabilitas dalam vakum

Permeabilitas dalam medium

Permeabilitas relatif

Ms

Magnetisasi saturasi

Mr

Magnetisasi remanen

Hc

Medan koersivitas

Waktu relaksasi

Waktu awal

Energi barrier

k BT

Energi termal

Volume

Suhu

TB

Suhu Blocking

Waktu pengukuran

Tetapan kekisi

Waktu

Frekuensi sudut

Frekuensi dalam Hertz

Sudut

Jarak antar bidang kristal

Panjang gelombang

Diameter partikel

Lebar garis pada full width high maximum (FWHM)

xii

STUDI ADSORPSI LOGAM TEMBAGA (Cu), BESI (Fe) DAN NIKEL (Ni)
PADA LIMBAH CAIR BUATAN MENGGUNAKAN ADSORBEN
NANOPARTIKEL MAGNETIK COBALT FERRITE (CoFe2O4)
oleh
FEMILA AMOR NURDILA
13/351262/PPA/04150

INTISARI
Adsorpsi logam tembaga (Cu), besi (Fe), dan nikel (Ni) telah berhasil dilakukan
pada limbah cair buatan menggunakan nanopartikel magnetik cobalt ferrite
(CoFe2O4). Nanopartikel CoFe2O4 disintesis menggunakan metode kopresipitasi
dan digunakan sebagai adsorben untuk menurunkan kadar logam Cu(II), Fe(II)
dan Ni(II) dalam limbah cair buatan. Pengaruh suhu (ruang, 60, 90 dan 120),
konsentrasi adsorben (2,5 gr/L, 5,0 gr/L, 7,5 gr/L, 10,0 gr/L), lama pengadukan (1
jam, 3 jam, 5 jam), readsorpsi, dan pelapisan adsorben dengan Polyethylen glycol
(PEG-4000) (1:1) terhadap penurunan kadar logam dilakukan dalam penelitian
ini. Penurunan kadar logam maksimum untuk Cu(II) dan Ni(II) terjadi pada suhu
90 oC masing-masing sebesar 99,59% dan 99,95%. Logam Cu(II) dan Ni(II)
berhasil diadsorpsi hingga 99,54% dan 99,91% menggunakan adsorben dengan
konsentrasi 10,0 gr/L dan 5,0 gr/L. Sedangkan pengaruh lama pengadukan
terhadap penyerapan ion logam berfluktuatif. Peningkatan penyerapan logam juga
tampak saat dilakukan proses pengulangan (readsorpsi) hingga 100%. Namun saat
menggunakan adsorben yang dilapisi PEG-4000(1:1) menurunkan kapasitas
adorpsi ion logam. Adsorpsi ion Fe(II) pada setiap variasi mencapai 100% semua,
ini mengindikasikan bahwa adsorpsi logam Fe(II) tidak terpengaruh terhadap
perubahan konsentrasi adsorben, suhu, lama pengadukan, readsorpsi dan
pelapisan adsorben. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
nanopartikel CoFe2O4 dapat digunakan sebagai salah satu adsorben untuk
menurunkan kadar logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) dalam limbah cair buatan.
Kata kunci : adsorpsi, adsorben dan CoFe2O4.

xiii

STUDY ON ADSORPTION OF Cu(II), Mn(II) AND Ni(II)


FROM ARTIFICIAL WASTE WATER USING ADSORBENT
OF COBALT FERRITE NANOPARTICLES (CoFe2O4)
By
Femila Amor Nurdila
13/351262/PPA/04051

ABSTRACT

Adsorption of metals ions Cu(II), Fe(II), Ni(II) from artificial waste water using
cobalt ferrite (CoFe2O4) nanoparticles have been investigated. CoFe2O4 have been
successfully synthesized using coprecipitation method and used for removal
metals ions Cu(II), Mn(II) and Ni(II). Ability of removing metal ions with
CoFe2O4 against temperature (RT, 60, 90 and 120), adsorbent dosage (2,5 gr/L,
5,0 gr/L, 7,5 gr/L, 10,0 gr/L), contact time (1 hour, 3 hour, 5 hour), re-adsorption
and by addition of PEG-4000 as coating agent of adsorbent have been studied.
The adsorption process of Cu(II) and Ni(II) was found maximum at 90 oC with
percent of sorption 99,59% for Cu(II) and 99,96% for Ni(II). Metal ions Cu(II)
and Ni(II) have been adsorp until 99,54% and 99,91% by adsorbent dosage 10,0
gr/L and 5,0 gr/L. But, the effect of contact time to removal metal ions is
fluctuation. Fe(II) adsorption by CoFe2O4 nanoparticles was found not
significantly effected by adsorbent dosage, temperature and contact time. Readsorption process also made the ability of removing metals ions increasing. The
effectivity of adsorption by CoFe2O4 nanoparticles can be increased by
readsorption, but the addition of adsorbent with Polyethylene Glycol resulted in
the decrease of removing metals ions. Preliminary results indicate that CoFe2O4
nanoparticles may be used as an adsorbent for removal of Cu(II), Fe(II) and Ni(II)
from artificial wastewater.
Key words : adsorption, adsorbent and CoFe2O4.

xiv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pencemaran logam berat sangat berbahaya bagi lingkungan. Banyak laporan

yang memberikan fakta betapa berbahayanya pencemaran lingkungan terutama


oleh logam berat pada kawasan perairan, baik akibat penggunaan airnya untuk
konsumsi sehari-hari maupun ketika mengkonsumsi biota air tawar yang hidup di
perairan tercemar tersebut (USDA NRCS, 2000).
Pencemaran logam berat berasal dari banyak sumber tetapi sebagian besar
berasal dari pemurnian logam, misalnya peleburan biji tambang dan pengolahan
bahan bakar nuklir. Selain itu pencemaran logam berat juga berasal dari
pembuangan limbah industri seperti industri metallurgical, penyamakan kulit,
pertambangan, dan industri pembuatan baterai, yang semua industri tersebut
mengandung satu atau lebih racun logam berat dengan konsentrasinya terkadang
lebih tinggi daripada batas yang diizinkan (Shen dkk, 2009). Logam berat
memiliki sifat toksik dan takterdegradasi secara biologis (nonbiodegradable)
(Kapoor, 1999), oleh karena itu logam ini mengendap sebagai residu di dalam
tubuh. Jenis logam berat yang memiliki tingkat toksisitas tinggi antara lain adalah
merkuri (Hg), kadmium (Cd), tembaga (Cu), perak (Ag), nikel (Ni), timbal (Pb),
arsen (As), kromium (Cr), natrium (Na), seng (Zn), dan mangan (Mn) (Kim,
2003).
Logam Cu(II), Mn(II), Fe(II), dan Ni(II) termasuk logam trace essential
yang ditemukan mencemari lingkungan khususnya air akibat penggunaan
peptisida atau dari limbah industri besi dan baja. Ketiganya merupakan jenis
logam pada jumlah tertentu dibutuhkan oleh tubuh namun pada jumlah yang
berlebihan bersifat sangat toksik. Sifat toksik logam berat ini mungkin disebabkan
bentuk ion logam bebas Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) membentuk senyawa kompleks
dengan ligan pada permukaan membran sel makhluk hidup (Moreno dkk, 2010).

Salah satu metode yang efektif untuk mengatasi masalah pencemaran air
oleh logam berat yang sudah sejak lama dikenal secara luas yaitu purifikasi atau
pemurnian. Banyak metode yang dapat digunakan untuk purifikasi limbah salah
satunya metode adsorpsi. Metode adsorpsi bergantung pada kemampuan
permukaan adsorben untuk menarik molekul-molekul gas, uap, atau cairan. Oleh
karena itu, secara prinsip metode adsorpsi dapat digunakan untuk mengatasi
pencemaran air oleh logam berat (Moreno dkk, 2010). Adsorben yang digunakan
dalam metode adsorpsi ini menggunakan adsorben berbasis nanopartikel.
Adsorben berbasis nanopartikel memiliki ukuran lebih kecil dari 1 mikron dan
berpotensi sekecil atom dengan panjang molekul sekitar 0,2 nm.
Berbagai

jenis

adsorben

nanopartikel

nonmagnetik

telah

berhasil

dikembangkan dan terbukti mampu mengadsorpsi ion logam berat antara lain
kitosan, zeolit, dan karbon aktif. Salah satu contoh penelitian yang dilakukan oleh
Aritonang pada tahun 2009, menggunakan adsorben nanopartikel kitosan
diperoleh bahwa penyerapan logam Cu(II) pada larutan teh hitam dengan waktu
kontak 30 menit mencapai 93,66%. Namun pada kenyataanya bahan nonmagnetik
ini (zeolit dan karbon aktif) tergolong mahal dan sulit untuk diproduksi
(Dhermendra dan Tiwari, 2008). Untuk itu, selama sepuluh tahun terakhir
penelitian secara ekstensif diarahkan untuk mencari jenis adsorben yang relatif
lebih murah dan mudah didapatkan.
Penggunaan adsorben berbasis nanopartikel magnetik memiliki kelebihan
dalam proses penyerapan logam. Dibandingkan adsorben berukuran bulk pada
volume yang sama adsorben nanopartikel memiliki luas permukaan partikel yang
besar sehingga memiliki kapasitas besar untuk mengadsorpsi logam. Dengan
kapasitas adsorben yang besar logam dapat terserap secara maksimal. Sifat
superparamagnetik pada adsorben magnetik berorde nano juga memicu adsorben
bersifat lebih responsif terhadap medan magnet eksternal yang mempengaruhinya
dibandingkan adsorben dengan ukuran butir dalam orde mikrometer atau lebih
besar. Penggunaan adsorben nanopartikel magnetik juga memiliki kelebihan
dibandingkan dengan adsorben nanopartikel nonmagnetik yaitu lebih mudah
dalam proses pemisahan sedimen hasil adsorpsi dari air hasil penjernihan.

Adsorben

berbasis

nanopartikel

magnetik

memiliki

fungsionalisasi

permukaan yang besar, yang mampu mengikat, menyerap, dan membawa


senyawa lain seperti obat, protein, dan senyawa lainnya. Selain itu, permukaan
adsorben berbasis nanopartikel magnetik dapat diubah tergantung pada kehadiran
reaktan dan senyawa yang terserap (Abhilash, 2010). Ada berbagai macam contoh
nanopartikel magnetik antara lain Fe3O4, CoFe2O4, MgFe2O4, NiFe2O4, dan
ZnFe2O4.
Pemanfaatan adsorben nanopartikel magnetik CoFe2O4 dipilih karena
memiliki keunggulan berupa sifat kemagnetannya. CoFe2O4 mempunyai sifat
anisotropy magnetocrystalin cubic tinggi (Zhao, 2007). Selain itu CoFe2O4 juga
mempunyai nilai magnetisasi saturasi yang tinggi dibandingkan MnFe2O4,
NiFe2O4 dan CuFe2O4 (Hu dkk, 2007). Karena CoFe2O4 memiliki sifat magnetik
yang kuat sehingga proses pemisahan sedimen hasil adsorpsi dengan
menggunakan adsorben nanopartikel CoFe2O4 lebih mudah dilakukan. CoFe2O4
juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya mudah beragregasi, ukuran dan
bentuk tidak terkontrol dengan baik. Sehingga perlu dilakukan modifikasi
permukaan, tujuannya untuk menambah stabilitas kimia, dispersibilitas,
biokompatibilitas,

menyeragamkan

bentuk,

dan

ukuran

sampel.

Dalam

memodifikasi permukaan dapat menggunakan bahan polimer dan bahan


nonmagnetik.
Polyethylene Glycol (PEG) adalah polimer sintetik yang memiliki sifat
stabil, higroskopik (mudah menguap), dan dapat mengikat material seperti pigmen
dan lainnya. Oleh sebab itu, PEG dapat digunakan untuk membungkus melapisi
material tertentu yang kemudian dikenal dengan istilah enkapsulasi (Lu dkk,
2007). Nanopartikel magnetik yang dilapisi PEG akan memiliki kestabilan dan
solubilitas yang baik dalam dispersi cairan, serta aglomerasi dapat dicegah.
Pada penelitian ini dilakukan studi adsorpsi logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II)
menggunakan adsorben nanopartikel magnetik CoFe2O4 untuk melihat efektifitas
penggunaan nanopartikel magnetik CoFe2O4 dalam mengadsorpsi ion logam
dibawah pengaruh variasi parameter purifikasi (suhu, konsentrasi adsorben,
readsorpsi, dan pengaruh enkapsulasi adsorben CoFe2O4 dengan PEG-4000 (1:1).

1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka

rumusan masalah dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:


1.

Bagaimanakah melakukan sintesis nanopartikel CoFe2O4 dengan metode


kopresipitasi ?

2.

Bagaimanakah efektifitas penggunaan adsorben nanopartikel magnetik


CoFe2O4 dalam mengadsorpsi logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) dalam limbah
cair buatan ?

3.

Bagaimanakah pengaruh parameter purifikasi seperti suhu, konsentrasi


adsorben, lama pengadukan, readsorpsi, enkapsulasi adsorben dengan PEG
(1:1) terhadap penurunan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) dalam
limbah cair buatan ?

4.

Bagaimanakah tingkat efektifitas penurunan kadar logam berat dalam


limbah cair dengan metode adsorpsi menggunakan adsorben nanopartikel
magnetik CoFe2O4 ?

1.3

Batasan Masalah
Pembahasan dalam penelitian ini dibatasi hanya pada pengkajian penurunan

kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) dalam limbah cair buatan di bawah
pengaruh parameter purifikasi (suhu, konsentrasi adsorben, lama pengadukan,
amplifikasi, dan enkapsulasi adsorben dengan PEG-4000 (1:1).
1.4

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini ialah :

1.

Mensintesis nanopartikel CoFe2O4 dengan metode kopresipitasi.

2.

Menghitung penurunan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) dalam limbah
cair buatan yang diadsorpsi dengan menggunakan adsorben nanopartikel
magnetik CoFe2O4.

3.

Mempelajari pengaruh variasi parameter purifikasi (suhu, konsentrasi


adsorben, lama pengadukan, readsorpsi, dan enkapsulasi adsorben dengan

PEG (1:1) terhadap penurunan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) dalam
limbah cair buatan.
4.

Mengukur tingkat efektifitas penurunan kadar logam berat dengan metode


adsorpsi menggunakan adsorben nanopartikel magnetik CoFe2O4.

1.5

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait

kemampuan nanopartikel magnetik CoFe2O4 sebagai adsorben dalam menyerap


dan menurunkan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) yang terlarut dalam
limbah cair buatan. Sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai salah satu
solusi alternatif untuk menanggulangi pencemaran limbah cair oleh logam berat
dan dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya dalam mengembangkan
nanopartikel CoFe2O4 sebagai adsorben magnetik untuk mengadsorpsi jenis ion
logam berat lainnya yang belum pernah diteliti sebelumnya.
1.6

Sistematika Penulisan
Proposal tesis ini ditulis dengan sistematika sebagai berikut :

1.

Bab I menjelaskan latar belakang dilakukannya penelitian mengenai


penggunaan nanopartikel magnetik CoFe2O4 sebagai adsorben untuk
menyerap logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II), rumusan masalah, batasan
masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

2.

Bab II berisikan tinjauan pustaka yang menjelaskan berbagai penelitian


terdahulu mengenai metode adsorpsi, CoFe2O4, dan aplikasinya sebagai
adsorben dalam mengatasi permasalahan pencemaran air oleh logam berat.

3.

Bab III menjelaskan teori dasar mengenai terminologi magnetik,


ferromagnetik, superparamagnetik, metode kopresipitasi, nanopartikel
magnetik CoFe2O4, teknik karakterisasi nanopartikel magnetik CoFe2O4
dengan XRD dan FTIR, adsorben nanopartikel magnetik, enkapsulasi
CoFe2O4 dengan PEG, metode adsorpsi, logam berat serta perhitungan
prosentase penurunan kadar logam dalam limbah cair.

4.

Bab IV menjelaskan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian,
prosedur penelitian, dan teknik pengolahan data.

5.

Bab V menjelaskan tentang hasil dan pembahasan dari hasil penelitian.

6.

Bab VI berisi tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, serta
saran untuk penelitia berikutnya.

7.

Daftar pustaka mencantumkan seluruh pustaka yang diacu dan lampiran


berisi data-data yang diperoleh dalam penelitian, dokumentasi, dan
publikasi yang disajikan dalam jurnal nasional.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Adsorpsi logam Cu(II), Fe(II), Mn(II), dan Ni(II) pernah dilakukan oleh
Moreno dkk, pada tahun 2010, adsorben yang digunakan adalah karbon aktif yang
berasal dari tulang sapi. Adsorpsi dilakukan dibawah pengaruh pH, konsentrasi,
waktu kontak, dan ukuran partikel adsorben. Hasilnya, pH, konsentrasi, waktu
kontak, dan ukuran partikel sangat berpengaruh penting pada proses adsorpsi
dengan menggunakan adsorben karbon aktif dari tulang sapi. Adsorpsi meningkat
dengan meningkatnya waktu kontak dan mencapai maksimum pada waktu kontak
20 menit. Adsorpsi sangat dipengaruhi oleh pH dengan adsorpsi maksimum
terjadi pada pH 5,1. Ketika konsentrasi naik, adsorpsi logam juga mengalami
kenaikan. Penelitian ini menggunakan dua model adsorpsi untuk analisis data.
Adsorpsi isotherm dijelaskan dengan model isothermal Langmuir dan model
isotherm Freundlich. Adsorpsi isotherm ini dapat menjelaskan tipe adsorpsi
apakah termasuk pada singglelayer adsorption atau monolayer adsorption. Dari
hasil fitting, model Langmuir isoterm lebih cocok untuk menjelaskan proses
adsorpsi. Model Langmuir isoterm menjelaskan bahwa adsorpsi yang terjadi
merupakan singglelayer adsorption.
Ai dkk (2011), melakukan penelitian penyisihan methylene blue (MB)
dengan menggunakan adsorben komposit montmorillonite/CoFe2O4. Penelitian
dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari pH dan waktu kontak terhadap
adsorpsi MB pada limbah cair. Adsorpsi meningkat seiring dengan peningkatan
nilai pH. Sedangkan untuk pengaruh dari waktu kontak meningkat dengan cepat
dengan peningkatan waktu kontak dan setelah 40 menit adsorpsi meningkat
dengan perlahan ini diindikasikan disebabkan karena adanya decoloration dari
MB oleh komposit.
Pada tahun 2013, Huang dkk melakukan penyisihan logam Sr2+
menggunakan adsorben komposit clinoptilolite/CoFe2O4 dari limbah cair dengan

metode adsorption. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pH dan


konsentrasi adorben. Pada pH antara 2-10 penyerapan relatif stabil, namun pada
pH>10 penyerapan meningkat. Pada pH rendah, Sr2+ berkompetisi dengan ion
hidrogen sepanjang exchange site. Meskipun demikian, dengan penambahan pH,
kompetisi tersebut berkurang dan muatan ion positif Sr2+ dapat bertukar dengan
kation dan dapat diserap pada permukaan yang bermuatan negatif pada
clinoptilolite, dikarenakan kuatnya gaya interaksi elektrostatik. Efisiensi
penyisihan logam meningkat dari 24,84% sampai 45% ketika konsentrasi
adsorben meningkat dari 1,25 sampai 20 g/L. Kapasitas adsorpsi Sr2+ menurun
dengan meningkatnya konsentrasi adsorben. Penurunan adsorbsi ini mungkin
karena situs aktif pada adsorben mencapai saturasi. Bertambahnya konsentrasi
adsorben akan menyediakan lebih banyak gugus fungsi dan situs aktif. Adsorpi
Sr2+ mencapai keseimbangan pada waktu kontak 1200 menit.
Pada tahun 2014, Wei dkk melakukan penelitian penyisihan logam uranium
dari limbah cair dengan metode adsorpsi dengan variasi pH, waktu kontak, dan
massa adsorben. Adsorben yang digunakan dalam penelitian ini adalah CoFe2O4
yang disiapkan dengan metode solvothermal dengan suhu 180 C dan diperoleh
ukuran partikelnya 30 nm. Hasil dari proses adsorpsi menunjukkan bahwa
adsorpsi maksimum mencapai 96,8% pada konsentrasi adsorben 50 mg/L saat pH
6 dan massa adorbennya 0,05 gram.
Pada tahun 2014, Dey dkk melakukan penelitian penyisihan logam As(III)
dari limbah cair dengan metode adsorpsi. Adsorben yang digunakan dalam
penelitian yaitu Cobalt ferrite nanoparticles aggregated schwertmannite (CNSH).
Proses adsorpsi dilakukan dengan variasi waktu kontak (60 menit-250 menit),
konsentrasi adsorben, temperatur dan pH. Hasilnya menunjukkan bahwa pada
variasi waktu kontak, adsorpsi naik sampai 60 menit dan relatif stabil pada kisaran
waktu kontak 180 menit sampai 250 menit. Variasi konsentrasi adsorben
(0,25g/L, 0,5 g/L, 0,75 g/L, 1,0 g/L, 1,5 g/L, 2,0 g/L). Adsorpsi naik dengan
semakin besarnya konsentrasi adsorben, hal ini dikarenakan semakin besar luas
permukaan dan tersedianya situs adsorpsi yang semakin banyak. Adsorbsi
maksimum ion logam arsenik pada konsentrasi adsorben 1 g/L. Variasi pH

dilakukan pada sekitar pH 3-11. Persentase adsorpsi naik dengan naiknya pH,
mencapai maksimum ketika pH 5,3 dan kemudian adsorpsi turun perlahan sampai
pH 9. Ketika pHnya 3 (pH<pHzpc=3,7), adsorpsi arsenik naik karena permukaan
dari adsorben bermuatan positif berinteraksi dengan muatan negatif ion arsenik
dan mencapai maksimum pada pH 5,3. Penurunan adsorpsi arsenik pada pH 9
(pH>pHpzc) permukaan adsorben menjadi negatif. Pengaruh temperatur (25 oC, 40
o

C dan 60 oC) naik dari 94,8% ke 95,8% diindikasikan proses endotermik pada

adsorpsi.
Pada tahun 2014, Zhang dkk telah melakukan penelitian penyisihan logam
Pb(II) dan Hg(II) dari limbah cair dengan metode adsorpsi. Adsorben yang
digunakan adalah CoFe2O4-rGO (Cobalt Ferrite-reduced Graphene Oxide).
Penelitian dilakukan dengan memvariasi nilai konsentrasi dari adsorben, waktu
kontak, temperatur dan pH. Hasil yang diperoleh bahwa efisiensi pemisahan
logam Pb(II) dan Hg(II) semakin meningkat seiring dengan peningkatan
konsentrasi CoFe2O4-rGO seperti pada gambar 2.1. Pada pH rendah (pH<5,0)
efisiensi pemisahan logam menurun, mungkin karena adanya gaya tolak antara
permukaan CoFe2O4-rGO yang bermuatan positif dan ion positif logam. Pada
pH>4,0 efisiensi pemisahan logam Pb(II) dan Hg(II) mengalami peningkatan dan
penyisihan terbaik mencapai 85%, dikarenakan adanya gaya ikat antara
permukaan CoFe2O4-rGO bermuatan negatif dan ion positif logam seperti terlihat
pada gambar 2.2. Adsorpsi mencapai kesetimbangan pada waktu kontak 80 menit
untuk Pb(II) dan 60 menit untuk Hg(II). Sedangkan pengaruh temperatur di
analisis dengan persamaan Langmuir dan Freudlich. Dari hasil perhitungan
menunjukan bahwa Langmuir isotherm model dapat menjelaskan lebih baik dari
model Freundlich untuk menjelaskan pengaruh temperatur.

10

Gambar 2.1. Pengaruh konsentrasi CoFe2O4-rGO (A)Pb(II), (B)Hg(II)


(Zhang dkk, 2014)

Gambar 2.2. Efek pH terhadap penyerapan dari (A) Pb(II) dan (B) Hg(II)
pada CoFe2O4-rGO (Zhang dkk, 2014)
Pada tahun 2013, Sulanjari juga telah melakukan penelitian sintesis
CoFe2O4 dengan dienkapsulasi silika dan Polyethylene Glycol (PEG) dengan
metode kopresipitasi. Derajat kristalinitas dan ukuran nanopartikel CoFe2O4
meningkat setelah dienkapsulasi dengan PEG-4000 dan silika. Setelah dilakukan
dilakukan proses enkapsulasi nanopartike CoFe2O4 dengan PEG-4000 dan silika,
sampel mengalami kenaikan koersivitas, penurunan magnetisasi saturasi dan
magnetisasi remanen. Ukuran partikel sebelum dienkapsulasi 8,80,02 nm,
setelah dienkapsulasi dengan PEG-4000 (konentrasi 33%) ukuran partikel menjadi

11

10,630,03 nm dengan nilai koersivitasnya 78,95 Oe. Enkapsulasi dengan PEG4000 mencapai nilai koersivitas tertinggi pada konsentrasi 75% dengan nilai 78,95
Oe. Sedangkan untuk yang dienkapsulasi dengan silika pada konsentrasi 50%
diperoleh nilai koersivitas 122,02 Oe, magnetisasi saturasinya 22,49 emu/g,
magnetisasi remanennya 2,52 emu/g.
Membandingkan penelitian sebelumnya, penelitian kali ini fokus mengkaji
proses adsorpsi dengan menggunakan adsorben berupa nanopartikel magnetik
CoFe2O4 untuk menurunkan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) dalam
artificial limbah cair dibawah pengaruh parameter purifikasi yaitu variasi suhu,
konsentrasi, lama pengadukan, readsorpsi, dan enkapsulasi adsorben dengan PEG
(1:1).

BAB III
LANDASAN TEORI
3.1

Dasar - Dasar Kemagnetan Bahan


Magnetisasi pada bahan pada umumnya bergantung pada medan magnetik,

namun demikian ada sebagian kecil bahan yang dapat memiliki magnetisasi
secara spontan tanpa kehadiran medan magnet luar. Magnetisasi pada dasarnya
adalah momen yang ditimbulkan oleh gerakan orbital spin sebuah elektron dan
interaksi elektron tersebut dengan elektron-elektron lainnya. Magnetisasi yang
dimiliki oleh bahan dapat disebabkan oleh medan magnet luar yang
mempengaruhinya sering disebut sebagai magnetisasi induksi, selain itu terdapat
pula magnetisasi yang ada walaupun tanpa medan magnet luar yang dikenal
sebagai magnetisasi remanen.

Bila medan magnet eksternal H diberikan pada suatu material magnetik

maka momen magnetik pada material tersebut akan termagnetisasi dimana

magnetisasi M dapat didefinisikan sebagai total momen dipol magnetik m yang

dihasilkan persatuan volume, V yang dituliskan sebagai M . Magnetisasi M


V

pada material isotropik sebanding dengan medan magnet eksternal H yang


dituliskan sebagai,

M H ,
dengan merupakan

suseptibiltas

magnetik

(3.1)
yang

didefinisikan

sebagai

magnetisasi yang dihasilkan per satuan medan magnet eksternal (Murugeshan


dalam Naalweh, 2013). Untuk bahan isotropik, berupa skalar biasa. Tetapi untuk

bahan anisotropik, M tidak selalu searah dengan H sehingga biasanya


dinyatakan dalam bentuk tensor (Tauxe, 1998).

Respon material setelah diberikan medan magnet eksternal H dinamakan

induksi magnetik, B . Hubungan antara B dan H menunjukkan sifat kemagnetan

dari suatu material (Spaldin, 2003), yang dinyatakan sebagai,

12

13

(3.2)
B H ,
dengan adalah permeabilitas magnetik merupakan salah satu parameter yang
umumnya digunakan untuk mengukur kualitas material magnetik.
Besarnya permeabilitas medium adalah 0 1 . Ini sering digunakan
sebagai permebilitas relatif r dengan r

sehingga dapat dituliskan

hubungan antara permeabilitas dengan suseptibilitas dapat dinyatakan pada


persamaan 3.3 berikut,

r 1 .

(3.3)

Induksi magnetik akan timbul sebagai efek adanya medan magnet eksternal

H yang mempengaruhi material magnetik. Hubungan antara medan magnet

eksternal H , induksi magnet B dan magnetisasi M dalam sistem satuan


internasional dapat dituliskan sebagai,

B o H M 0 1 H ,

(3.4)

dengan 0 adalah permeabilitas ruang hampa ( 4 10 7 H/m). Magnetisasi M

dan medan magnet eksternal H memiliki satuan yang sama yaitu ampere per

meter (Am-1). Kuat medan magnet B memiliki satuan Weber per meter persegi

(Wb/m2) atau Tesla (T) (Spaldin, 2003). Pada ruang hampa M 0 , 0 ,

0 , dan r 1 maka akan diperoleh persamaan 3.5. berikut,

B o H .

(3.5)

3.2 Ferrimagnetik
Material ferrimagnetik merupakan material dengan susunan dipol magnetik
mirip dengan antiferromagnetik di mana momen magnetik yang berdekatan
arahnya antiparalel, tetapi magnetisasinya tidak nol. Hal ini disebabkan karena
dua subkekisi dalam bahan ferrimagnetik memiliki perbedaan magnitudo. Sifat
ferrimagnetik terdapat dalam material seperti ferrit yang komponen utamanya
ialah oksida logam. Sifat ferrimagnetik juga memiliki kemiripan dengan sifat
ferromagnetik karena keduannya memiliki loop histeresis serta memiliki
magnetisasi spontan.

14

Gambar 3.1. Arah domain magnetik pada ferrimagnetik


3.3 Nanopartikel magnetik dan Sifat Superparamagnetik
Superparamagnetisme merupakan fenomena pada material magnetik berupa
sifat magnetik yang berbagi antara material paramagnetik dan ferromagnetik
(Shen, 1994). Superparamagnetik merupakan sifat material yang memiliki
magnetisasi besar ketika diberi medan magnet dari luar, namun ketika tidak ada
medan magnet dari luar nilai rata-rata magnetisasinya adalah nol. Material
superparamagnetik muncul ketika ferromagnetik atau ferrimagnetik berukuran
kecil (skala nanometer). Ketika butir sangat kecil, material secara acak dapat
membalik arah di bawah fluktuasi termal. Akibatnya, bahan secara keseluruhan
tidak termagnetisasi kecuali di bawah pengaruh medan magnet. Partikel
superparamagnetik memiliki energi barrier lebih rendah dibandingkan pada
partikel bulk, sehingga memungkinkan untuk mengalami perubahan arah spin.
Proses

transisi

perubahan

suatu

partikel

superparamagnetik ditunjukkan oleh Gambar 3.2.

bulk

ferromagnetik

menjadi

15

Gambar 3.2. Transisi pada nanopartikel magnetik dari ferromagnetik ke


superparamagnetik (Xu, 2009)
Pada partikel yang terpengaruh oleh medan magnetik luar menunjukkan
bahwa medan magnet eksternal dapat menghilangkan magnetisasi partikel.
Terdapat dua mekanisme pembalikan magnetisasi, yaitu rotasi spin dan rotasi
partikel (Alvarez, 2004). Partikel superparamagnetik memiliki energi barrier
lebih

rendah

dibandingkan

pada

partikel

bulk

ferromagnetik.

Partikel

superparamagnetik memiliki energi termal yang cukup untuk melakukan


perubahan

arah

magnetisasi

seluruh

kristal.

Adanya

fluktuasi

termal,

menyebabkan arah momen partikel berubah terhadap waktu.


Waktu yang diperlukan untuk pembalikan momen magnetik partikel (rotasi
spin) berhubungan dengan anisotropi magnetik material, disebut waktu relaksasi
Neel, dengan persamaan:

KV

o exp
k BT

(3.8)

16

dengan adalah waktu relaksasi rotasi, kB adalah konstanta Boltzmann, adalah


volume partikel, K adalah konstanta anisotropi, dan faktor pre-eksponensial o
berorde 10-9 detik.
Jika m , dengan m merupakan waktu pengukuran pada suatu
eksperimen, maka dalam selang waktu pengukuran tersebut, momen partikel akan
mengalami banyak rotasi sehingga menghasilkan momen magnet rata-rata bernilai
nol. Fenomena inilah yang disebut dengan superparamagnetism. Sebaliknya jika,

m momen partikel hampir tidak memiliki waktu untuk melakukan rotasi


sehingga bersifat seperti frozen-moment. Transisi superparamagnetik menjadi
frozen-moment terjadi pada suhu blocking (TB). Di mana didefinisikan kembali
sebagai,

KV
o exp
k B TB

(3.9)

merupakan karakteristik waktu untuk randomisasi magnetisasi yang terutama


disebabkan oleh pergerakan termal partikel, peristiwa ini dikenal dengan waktu
relaksasi Brown, B (Alvarez, 2004). Pada suhu pengukuran T TB , partikel
magnetik menunjukkan respon cepat terhadap medan magnet, sedangkan T TB ,
respon terhadap medan magnet tertahan yang ditunjukkan oleh Gambar 3.3. Pada
material superparamagnetik B , ini berarti pembalikan magnetisasi terjadi
oleh rotasi sumbu magnetik (Alvarez, 2004).

Gambar 3.3. Respon terhadap medan magnet dari partikel magnetik:


(a) Partikel magnetik pada suhu dibawah TB dan (b) Partikel magnetik
pada suhu lebih tinggi dari TB (Xu, 2009)

17

Pada suatu keadaan ukuran partikel dan temperatur tertentu, partikel


ferromagnetik atau ferrimagnetik dapat bersifat sebagai superparamagnetik.
Relaksasi superparamagnetik dapat dijelaskan menggunakan partikel bola dengan
anisotropi uniaxial sebagai model sistem. Pada anisotropi magnetik, partikel bola,
merupakan pendekatan yang proporsional untuk memberikan bentuk terhadap
volume partikel, V. Energi barrier yang membagi sumbu magnetisasi adalah
energi anisotropi K uV dengan Ku konstanta anisotropi volume. Pada partikel
kecil, ukuran volume partikel adalah kecil dan energi magnetik K uV boleh jadi
sebanding (lebih rendah) terhadap energi termal (Alvarez, 2004),

KuV 25kBT

(3.11).

Magnetisasi bergantung pada ukuran partikel, komposisi, serta temperatur.


Persamaan 3.11 dapat dengan mudah menjawab kemungkinan untuk mengetahui
temperatur kritis yang didefinisikan sebagai temperatur barrier (TB).

TB

K uV
25k B

(3.12)

dengan Ku adalah konstanta anisotropi, adalah V volume nanopartikel, kB adalah


konstanta Boltzman. Di atas temperatur ini maka ferromagnetik atau ferrimagnetik
bersifat sebagai superparamagnetik (Alvarez, 2004).
3.4 Konsep Kurva Hysterisis
Dalam sebuah pengukuran, perubahan magnetisasi material magnetik oleh
medan magnet eksternal direpresentasikan oleh kurva histeresis (hysteresis loop).
Kurva histeresis merupakan acuan dalam mengidentifikasi sifat magnet suatu
material magnetik. Berdasarkan bentuk kurva histeresis (gambar 3.4), material
feromagnetik dan ferimagnetik dibagi menjadi material magnet lunak (soft
magnetik) dan material magnet keras (hard magnetik). Material soft magnetic
merupakan material yang mudah dimagnetisasi dan memiliki koersifitas rendah,
sedangkan hard magnetic bersifat sebaliknya. Kurva histeresis pada material
magnetik dapat dilihat seperti pada gambar 3.4.

18

Gambar 3.4. Kurva histeresis (Callister dan Rethwisch, 2009)


Beberapa istilah pada kurva histeresis yang banyak dipakai sebagai acuan
pengukuran magnetik antara lain koersivitas (Hc), Magnetisasi saturasi (Ms), dan
Magnetisasi remanen (Mr). Koersivitas merupakan besarnya medan magnet yang
dibutuhkan untuk menurunkan magnetisasi pada meterial yang termagnetisasi
hingga magnetisasi kembali nol. Magnetisasi saturasi merupakan besarnya
magnetisasi maksimum yang dicapai pada saat seluruh momen magnetiknya
selaras. Sementara magnetisasi remanen adalah magnetisasi residu dalam material
setelah medan magnet diturunkan hingga sama dengan nol.
3.5 Nanopartikel Cobalt Ferrite (CoFe2O4)
Spinel merupakan struktur kristal yang tersusun dari dua sub struktur, yaitu
struktur tetrahedral dan struktur oktahedral. Pada bagian tetrahedral, ion-ion
logam berlokasi di pusat sebuah tetrahedron dengan sudut-sudutnya ditempati
oleh ion-ion oksigen, sedangkan pada bagian oktahedral, ion-ion logam berlokasi
di pusat oktahedron dengan sudut-sudutnya ditempati oleh ion-ion oksigen.
Berdasarkan distribusi ion-ion logam pada bagian tetrahedral dan oktahedral,
struktur spinel dapat dibedakan menjadi normal spinel, inverse spinel, dan mixed
spinel. Normal spinel tebentuk apabila semua ion logam divalen menempati posisi
tetrahedral dan semua ion logam trivalen menempati posisi oktahedral. Inverse
spinel tebentuk apabila semua ion logam divalen menempati posisi oktahedral,
sedangkan setengah ion-ion logam trivalen menempati posisi oktahedral dan

19

setengah yang lain menempati posisi tetrahedral. Mixed spinel merupakan spinel
yang tidak mengikuti pola normal spinel dan inverse spinel.
Nanopartikel CoFe2O4 merupakan ferrite yang memiliki struktur inverse
spinel. Dengan Fe3+ menempati bagian tetrahedral, dan bagian oktahedral
ditempati Co2+ dan Fe3+. Momen ion tetrahedral saling lurus anti-paralel dengan
ion oktahedral, dan resultan momen saturasi cobalt jumlahnya 2-3 B (1 B =
9,3x10-24 JT-1) (Zhao dkk, 2007). CoFe2O4 memiliki koersivitas yang tinggi,
berbeda dari spinel ferrite yang lain. Pada CoFe2O4 dengan masuknya ion Co2+
menyebabkan kenaikan koersivitas yang dikarenakan kenaikan magnetokristalin
anisotropi dari pasangan ion cobalt dan ferrite. CoFe2O4 memiliki struktur kristal
inverse spinel seperti pada gambar 3.5.
Ditinjau

dari

sifat

kemagnetannya,

CoFe2O4

merupakan

bahan

ferrimagnetik, dengan kemampuan memunculkan sifat superparamagnetik. Pada


suhu kamar, CoFe2O4 memiliki radius blocking superparamagnetik sebesar 13 nm,
konstanta anisotropi 290 kJ/m3, parameter kisi kubik 839 pm, suhu Curie 790 K.
Bahan ini memiliki magnetisasi spontan sebesar 0,45 MA/m (Coey, 2009).

Gambar 3.5. Struktur CoFe2O4 (Moussy, 2013)

20

3.6 Enkapsulasi CoFe2O4 dengan Polyethylene Glycol (PEG)


pelapisan nanopartikel magnetik dapat menggunakan molekul inorganik
atau organik dan polimer. Pelapisan menggunakan polimer yang dikelompokkan
sebagai polimer natural adalah chitosan, dextran, rhamnose, sedangkan polimer
sintetik seperti polyethylene glikol (PEG), polyvinyl alcohol (PVA), polyethylene
imine

(PEI),

polyvinyl

pyrolidone

(PVP).

Bahan

enkapsulasi

dengan

menggunakan molekul organik (oleic acid, oleylamine, dodecylamine dan sodium


oleate) digunakan untuk mempertinggi kelarutan nanopartikel magnetik dalam air.
Polyethylene Glycol (PEG) merupakan polimer kondensasi dari polimer
oksida dan air. PEG adalah polimer sintetik yang memiliki sifat stabil,
higroskopik (mudah menguap), dan dapat mengikat material seperti pigmen dan
lainnya. Oleh sebab itu, PEG dapat digunakan untuk membungkus melapisi
material tertentu (encapsulation) (Datta, 2007). PEG memiliki rumus kimia
H(CH2CH2O)nOH, dengan struktur seperti pada gambar 3.6.

Gambar 3.6. Struktur PEG (John dkk, 2013)


Selain itu PEG juga berfungsi mengontrol ukuran dan struktur pori dari
partikel. PEG dapat berfungsi sebagai template, yang membungkus partikel
sehingga tidak terbentuk agregat lebih lanjut, dikarenakan PEG menempel pada
permukaan partikel dan menutupi ion positif yang bersangkutan untuk bergantung
dan membesar, sehingga pada akhirnya akan diperoleh partikel dengan bentuk
bulatan yang seragam (Zhang dkk, 2008). Bahan PEG biasanya diikuti dengan
angka-angka yang menunjukkan berat molekul rata-ratanya dalam satuan
gram/mol. Misalnya PEG-600, PEG-1000, PEG-4000, PEG-6000 dan PEG-8000.
Berbagai jenis PEG ditunjukkan pada tabel 3.1.

21

No
1
2
3
4
5

Tabel 3.1 Komposisi PEG dan sifatnya


Komposisi
Berat molekul
Penampilan
Titik leleh
rata-rata
fisik
(C)
(g/mol)
PEG-600
570-630
Cair
17-22
PEG-1000
950-1050
Padat
35-40
PEG-4000
3800-4400
Padat
53-58
PEG-6000
5600-6400
Padat
55-60
PEG-8000
7500-8500
Padat
58-65

3.7 Metode Kopresipitasi


Metode kopresipitasi merupakan salah satu metode sintesis senyawa
anorganik yang didasarkan pada pengendapan lebih dari satu substansi secara
bersama-sama ketika melewati titik jenuhnya. Kopresipitasi merupakan metode
yang sederhana karena prosesnya dapat menggunakan suhu rendah dan waktu
yang dibutuhkan relatif lebih singkat. Beberapa zat yang paling umum digunakan
sebagai zat pengendap (kopresipitan) dalam kopresipitasi adalah hidroksida,
karbonat, sulfat, dan oksalat.
Pada metode sintesis, selain metode kopresipitasi juga dikenal metode
kombusi, sitrasi, dan keramik. Perbedaan metode sintesis tersebut di antaranya
adalah pada suhu yang digunakan dalam proses sintesis. Pada metode
kopresipitasi proses sintesis dilakukan pada suhu kurang dari 200 C. Sedangkan
pada kombusi, sitrasi, dan keramik masing-masing bekerja pada suhu di atas 200
C, 500 C, dan 1000 C. Metode kopresipitasi dapat dioperasikan pada suhu
rendah, sehingga dapat dilakukan pada suhu lingkungan dengan mudah (Joy dan
Bhame, 2007).
Pada penelitian ini kopresipitan yang digunakan adalah basa dari kelompok
hidroksida NaOH, dengan garam-garam utama yang digunakan CoCl2.6H2O dan
FeCl3.6H2O dengan persamaan reaksi,
2 FeCl3.6H2O + CoCl2.6H2O + 8 NaOH CoFe2O4 + 8 NaCl + 22 H2O

(3.12).

Apabila dibuat dalam persamaan ion yang terlibat dalam pembentukan


nanopartikel CoFe2O4 maka dapat dituliskan,
Co2++ 2Fe3++ 8OH- CoFe2O4 + 4H2O

(3.13).

22

Dalam proses sintesis kopresipitasi, sering terdapat fasa lain yang terdapat
pada hasil sintesis. Salah satu yang kerap terjadi disebabkan reaksi oksidasi.
Bereaksinya ion-ion sampel dengan ion oksigen memungkinkan munculnya fasa
lain seperti senyawa Fe2O3 yang merupakan material polimorf. Senyawa ini akan
berubah struktur kristalnya dibawah kondisi tertentu. Terdapat empat polimorf
dari Fe2O3 yaitu -Fe2O3, -Fe2O3, -Fe2O3, dan -Fe2O3. Tipe - Fe2O3, dan -

Fe2O3 memiliki sifat ferromagnetik, -Fe2O3 memiliki sifat antiferromagnetik,


sedangkan -Fe2O3 memiliki sifat paramagnetik (Ashar dalam Riyanto, 2012).

Pada proses pengotoran ini, zat pengotor mengendap bersama-sama endapan.


Bentuk atau macam pengendapan bersama ini dapat dibedakan:
1.

Adsorpsi permukaan; zat pengotor teradsorpsi atau terserap pada permukaan


endapan, dapat terjadi pada endapan berbentuk jel, karena luas permukaan
cukup besar. Contoh ikut mengendapnya NaCl pada endapan AgCl.

2.

Inklusi isomorf; zat pengotor masuk kedalam kisi hablur endapan, dan
membentuk hablur campuran

3.

Inklusi tak isomorf; zat pengotor larut dalam endapan dan membentuk lapisan
endapan. Contoh: pengotoran barium sulfat oleh barium nitrat

4.

Oklusi, zat pengotor terkurung dalam hablur endapan. Ini disebabkan karena
hablur berongga dan ruang ini terisi dengan pelarut yang mengandung zat
pengotor. Oklusi terjadi karena serapan pada permukaan hablur yang sedang
tumbuh. Misalnya jika hendak mengendapkan tembaga dengan sulfida,
sedangkan dalam larutan terdapat sejumlah ion seng, meskipun seng sulfida
tidak akan mengendap dalam suasana asam, namun pada endapan tembaga
sulfida dapat ditemukan senyawa seng sulfida.

3.8 Adsorben Nanopartikel Magnetik


Adsorben merupakan zat padat yang dapat menyerap komponen tertentu
dari suatu fase fluida (Carabante, 2012). Kebanyakan adsorben adalah bahanbahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding poripori atau pada titik tertentu di dalam partikel itu. Oleh karena pori-pori biasanya
sangat kecil maka luas permukaan dalam menjadi beberapa orde besaran lebih

23

besar daripada permukaan luar. Pemisahan terjadi karena perbedaan bobot


molekul atau karena perbedaan polaritas yang menyebabkan sebagian molekul
melekat pada permukaan lebih erat daripada molekul lainnya (Hui dkk, 2008).
Selama

dua

dekade

terakhir,

peneliti

dibidang

nanoteknologi

mengembangkan adsorben magnetik berukuran nanometer untuk mengatasi


pencemaran air oleh logam berat. Umumnya, adsorben magnetik mengandung 28
unsur-unsur magnet seperti besi, nikel, dan kobal sehingga memiliki sifat fisis
yang unik, salah satunya terkait dengan sifat kemagnetan yang dimiliki dimana
saat berorde nano, adsorben memiliki sifat superparamagnetik.
Sifat superparamagnetik merupakan sifat yang muncul pada nanomaterial
berorde nano, memiliki satu domain magnet, sehingga partikel tersebut akan
sangat reaktif terhadap medan magnet luar. Namun jika medan magnet luar
dihilangkan sifatnya akan mirip dengan material paramagnetik. Fenomena ini
akan meningkat seiring dengan ukuran dan efek permukaan yang mendominasi
sifat nanopartikel magnetik tersebut (Wu dkk, 2008).
Beberapa adsorben magnetik yang digunakan untuk menanggulangi
pencemaran air oleh logam berat beserta luas permukaannya yang dihitung
dengan teori BET (BrunauerEmmettTeller Theory) terdapat pada tabel 3.2.
Tabel 3.2. Luas permukaan adsorben nanopartikel magnetik berdasarkan
teori BET (Moreno dkk, 2010)
Adsorben nanopartikel
BET Surface Area (m2/g)
magnetik
Fe3O4
60
MgFe2O4
70,3
MnFe2O4
180
CuFe2O4
93,8
NiFe2O4
101,2
CoFe2O4
55,1
Penggunaan adsorben magnetik berukuran nano memiliki kelebihan dalam
proses penyerapan karena memiliki luas permukaan partikel yang besar sehingga
memiliki kapasitas besar untuk mengadsorpsi logam secara maksimal.

24

Sifat superparamagnetik pada adsorben magnetik berorde nano juga memicu


adsorben bersifat lebih responsif terhadap medan magnet eksternal yang
mempengaruhinya dibandingkan adsorben dengan ukuran butir dalam orde
mikrometer atau lebih besar. Sehingga proses pemisahan sedimen hasil adsorpsi
dengan menggunakan adsorben nanopartikel magnetik lebih mudah dilakukan.
Ilustrasi proses adsorpsi menggunakan adsorben magnetik tanpa medan magnet
eksternal ditunjukkan pada gambar 3.7 dan proses pemisahan sedimen dengan
bantuan medan magnet eksternal ditunjukkan pada gambar 3.8.

Gambar 3.7. Proses adsorpsi menggunakan adsorben magnetik (Willet, 2009)

Gambar 3.8. Proses pemisahan sedimen hasil adsorpsi dengan bantuan


medan magnet eksternal (Willet, 2009)
3.9 Metode Adsorpsi
Adsorpsi secara umum adalah proses penggumpalan substansi terlarut
(soluble) yang ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap,
dimana terjadi suatu ikatan kimia fisika antara substansi dengan penyerapannya.
Definisi lain menyatakan adsorpsi sebagai suatu peristiwa penyerapan pada
lapisan permukaan atau antar fase, dimana molekul dari suatu materi terkumpul.

25

Adsorpsi adalah pengumpalan dari adsorbat di atas permukaan adsorben,


sedang aborpsi adalah penyerapan dari adsorbat kedalam adsorben dimana disebut
dengan sorption. Materi atau partikel yang diadorpsi disebut adsorbat, sedangkan
bahan yang berfungsi sebagai pengadsorpsi disebut adsorben (Atkins, 1997).
Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi fisika (disebabkan
oleh gaya Van Der Waals) dan adsorpsi kimia (terjadi reaksi antara zat yang
diserap dengan adsorben, banyaknya zat yang teradsorpsi tergantung pada sifat
khas zat padatnya yang merupakan fungsi tekanan dan suhu).
Kekuatan interaksi adsorbat dengan adsorben dipengaruhi oleh sifat dari
adsorbat maupun adsorbennya. Gejala yang umum dipakai untuk meramalkan
komponen mana yang diadsorpsi lebih kuat adalah kepolaran adsorben dengan
adsorbatnya. Apabila adsorbennya bersifat polar, maka komponen yang bersifat
polar akan terikat lebih kuat dibandingkan dengan komponen yang kurang polar
(Carabante, 2012).
Kekuatan interaksi juga dipengaruhi oleh sifat keras-lemahnya dari adsorbat
maupun adsorben. Sifat keras untuk kation dihubungkan dengan istilah polarizing
power cation, yaitu kemampuan suatu kation untuk mempolarisasi anion dalam
suatu ikatan.
Kation yang mempunyai polarizing power cation besar cenderung bersifat
keras. Sifat polarizing power cation yang besar dimiliki oleh ion-ion logam
dengan ukuran (jari-jari) kecil dan muatan yang besar. Sebaliknya sifat polarizing
power cation yang rendah dimiliki oleh ion-ion logam dengan ukuran besar
namun muatannya kecil, sehingga diklasifikasikan ion lemah. Sedangkan
pengertian keras untuk anion dihubungkan dengan istilah polarisabilitas anion
yaitu, kemampuan suatu anion untuk mengalami polarisasi akibat medan listrik
dari kation. Anion bersifat keras adalah anion berukuran kecil, muatan besar dan
elektronegativitas tinggi, sebaliknya anion lemah dimiliki oleh anion dengan
ukuran besar, muatan kecil dan elektronegativitas yang rendah (Carabante, 2012).
Adsorpsi suatu zat pada permukaan sangat diperlukan oleh kondisi sistem.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu:
1.

Sifat permukaan adsorben

26

Karakter fisik pada adsorben (permukaan, porositas, dll) menentukan


area yang tersedia untuk adsorpsi. Jumlah pori yang banyak dan lebar akan
memperbesar kapasitas adsorpsi. Sedangkan sifat kimia menjelaskan
reaktivitas adsorben terhadap adsorbat.
2.

Konsentrasi adsorbat
Semakin tinggi konsentrasi adsorbat, maka semakin cepat laju
adsorpsinya. Namun, pada kondisi tertentu akan menjadi stabil karena sudah
mencapai titik jenuh sehingga terjadi proses kesetimbangan.

3.

Suhu
Suhu dapat mempengaruhi adsorpsi dengan mengubah sifat dari
komponen dasar sistem adsorpsi seperti adsorbat, adsorben, dan permukaan
dalam interaksinya. Kenaikan suhu menyebabkan reaktivitas energi ion
menjadi semakin besar sehingga lebih banyak ion yang dapat melewati
tingkat energi untuk melakukan interaksi secara kimia dengan pori-pori
permukaan.

4.

Waktu Kontak
Waktu kontak mempengaruhi kapasitas adsorpsi suatu adsorbat.
Waktu kontak yang lebih lama antara adsorben dan adsorbat memungkinkan
terjadinya difusi dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik.
Namun, konsentrasi zat organik akan turun jika waktu kontak telah
optimum.

3. 10 Gaya Van Der Waals


Pada jarak antar molekul yang besar, dimana terjadi keseimbangan antara
gaya tolak dan gaya tarik, terdapat suatu gaya yang disebut gaya Van der Waals.
Gaya Van der waals yang terdapat antara molekul-molekul, merupakan gaya ikat
yang lebih lemah dari ikatan lain.
Dalam fasa cair dan padat terdapat gaya tarik Van der Waals yang relatif
lebih besar dibandingkan dengan gaya tarik dalam fasa gas. Dalam fasa cair gaya
Van der Waals menyebabkan molekul-molekul dapat mengelompok dan dalam

27

fasa pada gaya Van der Waals dapat mengelompokan atom atau molekul dalam
susunan yang teratur di dalam kristal molekulnya.
Gaya Van der Waals terdiri dari beberapa jenis gaya yaitu gaya-gaya
orientasi, induksi dan dispersi (Syarifuddin, 1994).
a.

Gaya orientasi
Gaya orientasi atau gaya tarik antar dipol-dipol. Bila molekul-molekul polar

seperti HCL, H2O, NH3, aseton dan kloroform saling mendekati, maka terdapat
kecenderungan ujung positif suatu dipol menuju ke arah ujung negatif dipol yang
lain. Gaya tarik antar dipol-dipol tersebut dinamakan gaya orientasi (Syarifuddin,
1994).
Gaya orientasi antar dipol-dipol dapat menjelaskan kelarutan senyawa
dalam pelarut yang polar maupun pelarut yang nonpolar. Gaya orientasi dipoldipol tersebut lebih kecil dari gaya atraksi antar ion-ion yang berlawanan
muatannya, karena muatan pada ujung-ujung dipol relatif lebih kecil dari muatan
ion positif atau ion negatif (Syarifuddin, 1994).
b.

Gaya induksi
Gaya induksi timbul karena adanya dipol yang disebabkan induksi oleh ion

positif atau ion negatif terhadap molekul netral.


c.

Gaya dispersi
Gaya dispersi merupakan gaya antar atom-atom, antar molekul yang polar

ataupun yang nonpolar. Gaya dispersi disebut juga gaya London, timbul akibat
terbentuknya dipol sesaat pada atom atau molekul. Pada saat tertentu diantara
sejumlah atom atau molekul terjadi tabrakan yang mengakibatkan atom atau
molekul tertentu mengalami polarisasi, awan elektronnya terganggu, sehingga
dimungkinkan lebih banyak elektron yang berada disalah satu sisi pada atom atau
molekul, shingga terbentuk dipol sesaat. Segera setelah kutub positif terbentuk
pada ujung salah satu atom atau molekul, kutub positif tersebut akan menarik
elektron dari atom atau molekul yang berada didekatnya, sehingga terjadi induki
pada atom atau molekul lain tersebut (Syarifuddin, 1994).

28

3.11 Metode Karakterisasi Material


3.11.1 X-Ray Diffraction (XRD)
Spektroskopi difraksi sinar-X (X-ray difraction/XRD) merupakan salah satu
metode karakterisasi material yang paling tua dan paling sering digunakan hingga
sekarang. Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi fasa kristalin dalam
material dengan cara menentukan parameter struktur kisi serta untuk mendapatkan
ukuran partikel. Diagram skematik XRD ditunjukkan pada gambar 3.9.

Gambar 3.9. Diagram X-Ray Difraktometer; T = sumber sinar-X, S =


sampel, C = detektor, O = sumbu dimana sampel dan detektor berotasi
(Callister dan Rethwisch, 2009)
Difraksi sinar-X terjadi pada hamburan elastis foton-foton sinar-X oleh
atom dalam sebuah kisi periodik seperti pada gambar 3.9. Hamburan
monokromatis sinar-X dalam fasa tersebut memberikan interferensi yang
konstruktif. Keuntungan penggunaan sinar-X dalam karakterisasi material adalah
kemampuan penetrasinya, sebab sinar-X memiliki energi sangat tinggi akibat
panjang gelombangnya yang pendek. Sinar-X adalah gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang (0,1-100) namun yang digunakan untuk analisa
kristal adalah sinar-X yang memiliki panjang gelombang (0,5-2,0) . Sinar ini
dihasilkan dari penembakan logam dengan elektron berenergi tinggi. Elektron itu
mengalami perlambatan saat masuk ke dalam logam dan menyebabkan elektron
pada kulit atom logam tersebut terpental membentuk kekosongan. Elektron

29

dengan energi yang lebih tinggi masuk ke tempat kosong dengan memancarkan
kelebihan energinya sebagai foton sinar-X dengan panjang gelombang tertentu
dan disebut dengan berkas sinar-X karakterisasi K dan K .
Metode difraksi sinar-X digunakan untuk mengetahui struktur dari
nanopartikel yang terbentuk. Sampel diletakkan pada sample holder
difraktometer sinar-X. Proses difraksi sinar-X dimulai dengan menghidupkan
difraktometer sehingga diperoleh hasil pola difraksi berupa difraktogram yang
menyatakan hubungan antara sudut difraksi 2 dengan intensitas sinar-X yang
dipantulkan. Untuk difraktometer sinar-X, sinar-X terpancar dari tabung sinar-X.
Sinar-X didifraksikan dari sampel yang konvergen yang diterima slit dalam posisi
simetris dengan respon ke fokus sinar-X. Sinar-X ini ditangkap oleh detektor
sintilator dan diubah menjadi sinyal listrik. Sinyal tersebut, setelah dieliminasi
komponen noisenya, dihitung sebagai analisa pulsa tinggi. Teknik difraksi sinar-X
juga digunakan untuk menentukan ukuran kristal, regangan kisi, dan keadaan lain
yang memiliki orde yang sama. Teknik difraksi sinar-X sangat penting untuk
mengetahui sifat-sifat bahan seperti logam, keramik, polimer dan sebagainya.
Tehnik ini digunakan untuk mengidentifikasi fasa-fasa yang ada pada sampel,
ukuran butir, tekstur, dan struktur kristal. Informasi yang dapat diperoleh berupa
posisi puncak-puncak difraksi, intensitas dan bentuk puncak difraksi. Posisi
spasial dari sinar-X yang didifraksikan oleh sampel mengandung semua informasi
geometri dari kristal. Intensitas sinar-X berhubungan dengan jenis atom dan
susunannya dalam kristal, ketajaman sinar-X yang didifraksikan merupakan
ukuran dari kesempurnaan kristal.

30

Gambar 3.10. Difraksi bidang sinar-X (Callister dan Rethwisch, 2009)


Setiap bahan memiliki pola difraksi tertentu dengan intensitas dan sudut
difraksi (2) yang berbeda-beda. Suatu kristal dapat mendifraksikan sinar-X
karena panjang gelombang sinar-X berada di sekitar jarak antar bidang kristal.
Difraksi terjadi jika interaksi antara sinar-X dengan kisi pada bidang kristal,
menghasilkan interferensi yang konstruktif berupa puncak-puncak intensitas.
Interferensi konstruktif ini terjadi jika panjang gelombang dan sudut difraksi
memenuhi hukum Bragg yaitu

n 2d hkl sin ,

(3.14)

dengan n urutan difraksi, dhkl adalah jarak antar bidang, adalah panjang
gelombang sinar-X, adalah sudut hamburan difraksi.
3.11.2 Transmission Electron Microscopy (TEM)
Transmission Electron Microscopy (TEM) adalah metode lain untuk
mengkarakterisasi nanopartikel. Sementara difraksi sinar-X hasilnya dapat
menyajikan informasi tentang ukuran rata-rata partikel dari kristal berdasarkan
informasi lebar puncaknya. TEM sangat berguna untuk memvisualisasi ukuran
dan struktur morfologi nanopartikel. Lebih jauh lagi, hasil analisis TEM dapat

31

memberikan informasi yang berhubungan dengan distribusi ukuran partikel dan


pola difraksi sampel.
TEM terdiri dari pemercepat elektron (electron gun) dan lensa bersusun
yang terletak pada kolom vacuum. Lensa yang digunakan pada TEM ialah lensa
magnetik yang terdiri atas kumparan yang dialiri arus. Dengan mengatur arus
dalam kumparan lensa maka jarak titik api dapat diatur. Lensa kondensor
digunakan untuk menghimpun berkas elektron yang menyinari spesimen (sampel)
yang diletakkan pada lubang lensa objektif. Lensa objektif berfungsi membentuk
bayangan dengan perbesaran tertentu dibidang objektif lensa proyektor pertama.
Sebagian bayangan ini menjadi objek untuk lensa proyektor pertama dan
menghasilkan bayangan kedua yang diperbesar kembali dibidang objektif lensa
proyektor kedua. Lensa proyektor kedua dapat memperbesar kembali bayangan
pada layar. Dengan demikian dapat diperoleh citra dari objek dengan perbesaran
yang sangat tinggi (Smallman dan Bishop, 1999).

Gambar 3.11. Skema Transmission Electron Microscopy (TEM)

32

Pada difraksi elektron, hukum Bragg seperti yang dinyatakan pada bagian
Persamaan 3.14 dapat juga diterapkan secara normal hanya pada difraksi orde
pertama (n = 1).
Sudut Bragg pada kasus ini adalah sangat kecil karena panjang gelombang
elektron yang digunakan dalam TEM sangat kecil. Sebagai hasilnya, persamaan
hukum Bragg dapat disederhanakan dalam bentuk:

2 d .

(3.15)

Disisi lain, berdasarkan geometri dari TEM, untuk sudut Bragg yang kecil
berlaku,
r
2 ,
L

(3.16)

dengan r menyatakan jarak antara titik pusat difraksi dan titik pusat yang tidak
terdifraksi, serta L adalah jarak lensa/kamera.
Dengan mengkombinasi kedua persamaan di atas maka diperoleh:
rd L .

(3.17)

Nilai jarak antar bidang kristal, d dapat dihitung dari pola difraksi
menggunakan persamaan 3.17.
Analisis terhadap ukuran partikel dilakukan dengan mengukur diameter
Feret (jarak antara dua garis yang sejajar yang merupakan tangent dari profil
partikel) dari Gambar partikel pada mikrograp TEM menggunakan software untuk
analisis gambar (Zhaohui, 2004).
3.11.3 Vibrating Sample Magnetometry (VSM)
Semua bahan mempunyai momen magnet jika ditempatkan dalam medan
magnet. Momen magnet per satuan volume dikenal sebagai magnetisasi.
Vibrating Sample Magnetometer (VSM) merupakan salah satu jenis peralatan
yang digunakan untuk mempelajari sifat magnetik bahan. Dengan alat ini akan
dapat diperoleh informasi mengenai besaran-besaran sifat magnetik sebagai
akibat perubahan medan magnet luar yang digambarkan dalam kurva histeresis,
sifat magnetik bahan sebagai akibat perubahan suhu, dan sifat-sifat magnetik

33

sebagai fungsi sudut pengukuran atau kondisi anisotropik bahan. Skema prinsip
kerja VSM digambarkan pada gambar 3.12.

Gambar 3.12. Diagram skematik instrument VSM (Panchal, 2011)


Pada VSM, sampel ditempatkan pada medan magnet untuk memagnetisasi
sampel sehingga sampel mengalami vibrasi di sekitar coil. Medan magnet yang
diberikan pada sampel bervariasi dari medan kecil sampai sampel mengalami
magnetisasi saturasi pada medan magnet tertentu. Kemudian sampel diberikan
medan magnet lagi dengan orientasi arah yang berlawanan untuk mensejajarkan
arah momen magnet ke arah sebaliknya, sehingga hasil plot data pengukurannya
akan berupa kurva histerisis loop.
Prinsip kerja dari VSM adalah medan magnet yang diberikan sebenarnya
memberikan flux magnetik pada sampel, karena sampel merupakan material
feromagnetik (reaktif terhadap medan magnet) maka arah momen magnetik
sampel akan terpengaruh sehingga sampel mengalami vibrasi pada arah sumbu Z
dapat dilihat pada gambar (3.12). Vibrasi (getaran) ini menyebabkan flux yang
dihasilkan magnet mengalami perubahan. Flux dihasilkan oleh sampel magnet
kira-kira sebesar 1 - 15 kali lebih kecil dari pada flux yang dihasilkan oleh magnet
(Foner, 1985).

34

Flux yang dihasilkan ketika sampel mengalami vibrasi kemudian dideteksi


oleh coil dan informasi ini diteruskan menjadi data digital. Sinyal pada coil sangat
kecil (hanya beberapa nanovolt) sehingga sangat sensitif pada noise sehingga
pengukuran menggunakan VSM diusahakan ditempat yang tenang tanpa ada noise
dari lingkungan (Foner, 1985).
3.11.4 Infra-red Spectroscopy (Spektroskopi Infra Merah)
Spektrometer infra merah merupakan instrumen yang digunakan dalam
karakterisasi bahan melalui identifikasi vibrasi dari ikatan molekul-molekul. Pada
saat suhu normal molekul-molekul dalam keadaan vibrasi yang tetap, setiap ikatan
mempunyai frekuensi regangan dan bengkokan dengan karakteristik dapat
menyerap sinar pada frekuensi tersebut. Vibrasi antara dua atom dapat diibaratkan
dengan vibrasi antara dua bola yang dihubungkan dengan pegas. Dengan
menggunakan analogi ini maka frekuensi vibrasi dari ikatan dapat dihitung seperti
menghitung frekuensi vibrasi pada sistem pegas dengan hukum Hooke. Pada
kasus ini dapat dinyatakan dengan persamaan 3.18.
v

1
2 c

(3.18)

dimana v adalah frekuensi, c adalah kecepatan cahaya ( 3 1010 cm/s), K adalah


tetapan yang brehubungan denga kekuatan pegas (ikatan),

m1 m2
dimana
m1 m2

m1 dan m2 adalah massa kedua bola (atom). Bagan spektrometer infra merah
ditunjukkan pada gambar 3.13.

35

Gambar 3.13. Diagram skematik spektrometer infra merah (Pavia dkk,


2009)
Sinar dari sumber cahaya dipecah menjadi dua berkas cahaya yang sama.
Salah satu dilewatkan melalui cuplikan (berkas cahaya cuplikan), yang lain
berkelakuan sebagai berkas cahaya referensi. Fungsi dari dobel beam adalah
mengukur perbedaan intensitas antara dua berkas cahaya pada setiap panjang
gelombang. Dua berkas cahaya sekarang dipantulkan ke chopper, yang terdiri
atas cermin yang dapat berputar. Bila chopper berputar ia menyebabkan berkas
sinar cuplikan dan referensi dipantulkan bergantian ke grating. Grating berputar
perlahan-lahan dan menmgirimkan frekuensi-frekuensi individu ke detektor yang
mengubah tenaga panas sinar inframerah menjadi tenaga listrik. Bila cuplikan
telah menyerap sinar dari frekuensi tertentu, maka detektor akan menerima
bergantian dari chopper berkas sinar yang kuat (berkas sinar referensi) dan berkas
sinar yang lemah (berkas sinar cuplikan). Setelah sinyal dari detektor diperkuat,
selanjutnya rekorder akan menggambar spektrum yang dihasilkan sampel pada
chart (Pavia dkk, 2009).
Atom-atom di dalam molekul tidak dalam keadaan diam, tetapi biasanya
terjadi peristiwa vibrasi. Hal ini bergantung pada atom-atom dan kekuatan ikatan
yang menghubungkannya. Vibrasi molekul sangat khas untuk suatu molekul
tertentu dan biasanya disebut vibrasi finger print. Vibrasi molekul dapat
digolongkan atas dua golongan besar, yaitu vibrasi regangan (stretching) dan
vibrasi bengkokan (bending). Vibrasi regangan (stretching) yaitu atom bergerak
terus sepanjang ikatan yang menghubungkannya sehingga akan terjadi perubahan

36

jarak antara keduanya, walaupun sudut ikatan tidak berubah. Vibrasi regangan ada
dua macam yaitu regangan simetri dan regangan asimetri. Regangan simetri yaitu
unit struktur bergerak bersamaan dan searah dalam satu bidang datar sedangkan
regangan asimetri yaitu unit struktur bergerak bersamaan dan tidak searah tetapi
masih dalam satu bidang datar
Jika sistem tiga atom merupakan bagian dari sebuah molekul yang lebih
besar, maka dapat menimbulkan vibrasi bengkokan atau vibrasi deformasi yang
mempengaruhi osilasi atom atau molekul secara keseluruhan. Vibrasi bengkokan
(bending) ini terbagi menjadi empat jenis, yaitu Vibrasi Goyangan (Rocking),
Vibrasi Guntingan (Scissoring), Vibrasi Kibasan (Wagging), dan Vibrasi
Pelintiran (Twisting).
3.12 Atomic Absorptions Spectroscopy (AAS)
Atomic

Absorptions Spectroscopy (AAS) ditujukan

untuk analisis

kuantitatif terhadap unsur-unsur logam. Alat ini memiliki sensitivitas yang sangat
tinggi, sehingga sering dijadikan sebagai pilihan utama dalam menganalisis unsur
logam yang konsentrasinya sangat kecil (ppm bahkan ppb). Prinsip dasar
pengukuran dengan AAS adalah penyerapan energi (sumber cahaya) oleh atomatom dalam keadaan dasar menjadi atom-atom dalam keadaan tereksitasi.
Pembentukan atom-atom dalam keadaan dasar atau proses atomisasi pada
umumnya dilakukan dalam nyala. Cuplikan sampel yang mengandung logam M
sebagai ion M+ dalam bentuk larutan garam M+ dan A- akan melalui serangkaian
proses dalam nyala, sebelum akhirnya menjadi atom logam dalam keadaan dasar
Mo (Day dan Underwood, 2001), seperti terlihat pada gambar 3.14.

37

Gambar 3.14. Proses atomisasi (Day dan Underwood, 2001)


Atom-atom dalam keadaan dasar (Mo) akan menyerap energi sumber energi
berupa lampu katode berongga, yang mana jumlah energi yang diserap adalah
sebanding dengan populasi atau konsentrasi atom-atom dalam sampel (Day dan
Underwood, 2001).
Penentuan konsentrasi unsur logam dalam sampel dapat dilakukan dengan
bantuan kurva kalibrasi yang merupakan aluran antara absorbansi terhadap
konsentrasi larutan standar. Hal ini sesuai dengan hukum Lambert-Beer yang
menyatakan bahwa jumlah energi yang diserap (adsorbansi) adalah sebanding
dengan konsentrasi.
Atomic Absorptions Spectroscopy (AAS) merupakan metode yang tepat
untuk menganalisa zat pada konsentrasi yang cukup rendah. AAS mempunyai
beberapa kelebihan seperti kecepatan analisis, ketelitian yang cukup baik dan cara
kerjanya yang spesifik sehingga tidak memerlukan pemisahan terlebih dahulu.
Metode AAS dapat menganalisis suatu unsur secara spesifik karena AAS
dilengkapi dengan lampu katoda yang spesifik. Untuk mendapat analisa yang baik
maka dibutuhkan pada parameter tertentu. Pada AAS, sensitivitas dan batas
deteksi merupakan

dua parameter yang sering digunakan. Sensitivitas

didefinisikan sebagai konsentrasi suatu unsur dalam larutan air (g/mL) yang
mengabsorpsi 1% dari intensitas radiasi yang datang.

38

Umumnya 1% absorpsi setara dengan 99% transmitansi yang berarti nilai


absorbansinya 0,004 sedangkan batas deteksi adalah konsentrasi suatu unsur
dalam larutan yang memberikan signal setara dengan dua kali deviasi standar dari
suatu segi pengukuran standar yang konsentrasinya mendekati blanko (Day dan
Underwood, 2001).
3.13 Logam Berat
Logam berat terletak disudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai
afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92
dari periode 4 sampai 7. Carlos dkk, pada tahun 2013 menyatakan bahwa logam
berat adalah logam yang memiliki densitas lebih besar dari 5 gram/cm3. Logam
berat seperti halnya logam-logam lain memiliki sifat yang sama diantaranya dapat
menghantarkan listrik dan panas, membentuk ion positif bila dilarutkan dalam air,
dan dapat membentuk alloy dengan logam lainnya. Menurut kep. Menkes No.
907/2002 kandungan makimal logam yang diperoleh dalam air (dalam mg/L)
untuk masing-masing logam ditampilkan pada tabel 3.3 sebagai berikut :
Tabel 3.3 Batas ambang maksimum logam berat dalam air
Jenis logam
Kalsium (Ca)
Magnesium (Mg)
Barium (Ba)
Besi (Fe)
Mangan (Mn)
Krom(Cr6+)
Kadmium (Cd)
Tembaga (Cu)
Raksa (Hg)
Seng (Zn)
Timbal (Pb)
Arsen (As)
Selenium (Se)
Nikel (Ni)

Ambang batas maksimum


dalam air (mg/L)
200
150
0,05
1
0,5
0,05
0,01
1
0,001
15
0,1
0,05
0,01
1

Logam berat dikategorikan menjadi tiga menurut Kementrian Negara


Lingkungan Hidup Tahun 2010, yaitu toksisitas tinggi (Hg, Cd, Pb, Cu dan Zn),
toksisitas sedang (Cr, Ni, Co), dan toksisitas rendah (Mn, Fe).

39

Adanya logam berat di perairan berbahaya baik secara langsung terhadap


kehidupan organisme, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan
manusia. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat yaitu:
1. Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan
dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan).
2. Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk ikan dan kerang, dan akan
membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi organisme tersebut.
3. Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi
dari konsentrasi logam dalam air.
4. Mudah tersuspensi karena pergerakan massa air yang akan melarutkan
kembali logam yang dikandungnya ke dalam air, sehingga sedimen menjadi
sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu.

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan untuk membuat nanopartikel CoFe2O4 meliputi
FeCl3.6H2O (ferric chloride hexa-hydrate) Mr=270,29 g/mol, CoCl2.6H2O (cobalt
chloride hexa-hydrate) Mr=237,931 g/mol, NaOH (sodium hydroxide) Mr=39,99
g/mol dan aquades. Untuk membuat artificial limbah cair bahan yang digunakan
meliputi

CuSO4.7H2O

(Mr=187

g/mol),

FeSO4.7H2O

(Mr=182

g/mol),

NiSO4.7H2O (Mr=183 g/mol ), HCl (Mr= 36,5 g/mol) dan aquades. Sedangakan
enkapsulasi CoFe2O4 dilakukan dengan menggunakan Polyethylene glycol-4000.
4.2 Alat Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam proses sintesis CoFe2O4: gelas beker, gelas
ukur, pipet, timbangan digital, spatula, pengaduk magnetic stirrer, magnet
permanen, ultrasonic cleaner, hot plate, dan furnace. Pada proses adsorpsi
limbah cair digunakan peralatan yang meliputi gelas beker, timbangan digital,
spatula, pengaduk magnetic stirrer, magnet permanen dan kertas penyaring. Uji
analisis kandungan logam yang terdapat dalam sampel digunakan AAS (Atomic
Absorption Spectrophotometer) di Laboratorium Kimia UGM. Sedangkan
karakterisasi CoFe2O4 yang meliputi karakterisasi morfologi dan ukuran butir,
struktur kristal, sifat magnetik serta ikatan atomik berturut-turut menggunakan:
1.

X-ray diffractometer (XRD), di Laboratorium Kimia, UGM

2. Transmission Electron Microscopy (TEM), di Laboratorium Kimia, UGM


3. Infra-red Spectroscopy di Laboratorium Kimia, UGM
4. Vibrating Sample Magnetometry (VSM) di Nagoya University Jepang.
4.3 Skema Penelitian
Serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi sintesis
nanopartikel magnetik CoFe2O4, enkapsulasi CoFe2O4 dengan PEG-4000,

40

41

pembuatan artificial limbah cair, serta adsorpsi logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II)
disajikan dalam skema pada gambar 4.1.
Persiapan alat dan bahan
Sintesis nanopartikel CoFe2O4

Pembuatan artificial limbah logam

Enkapsulasi CoFe2O4 dengan


CoFe2O4+
PEG-4000

Variasi
suhu

Variasi
readsorpsi

Adsorpsi
Konsentrasi
CoFe2O4

Variasi waktu
pengadukan

Larutan hasil
Diendapkan dengan magnet permanen
Penyaringan
Atomic Absorption Spectroscopy (AAS)
Gambar 4.1. Diagram alir pengumpulan data
4.4 Tahap Pelaksanaan Penelitian
4.4.1 Persiapan alat
Peralatan yang akan digunakan dalam penelitian disterilisasi menggunakan
aseton. Untuk gelas beker dan gelas ukur proses sterilisasi dengan cara melumuri
dinding gelas dengan aseton setelah itu ditunggu hingga kering dan selanjutnya
dibersihkan dengan aquades. Peralatan lain seperti spatula, pipet, dan magnetic
stirrer proses sterilisasinya dengan cara meletakkannya dalam gelas beker kecil
yang sudah diberi aseton kemudian dengan menggunakan ultrasonic cleaner.
4.4.2 Sintesis nanopartikel CoFe2O4 dengan metode kopresipitasi
Tahap sintesis nanopartikel CoFe2O4 pada penelitian ini akan mengacu pada
penelitian sebelumnya (Setiadi dkk, 2013), yakni menggunakan teknik
kopresipitasi. Proses sintesis seperti yang disajikan pada gambar 4.2. Kemudian

42

sampel nanopartikel dikarakterisasi dan analisis menggunakan XRD, TEM, FTIR


dan VSM.
Mulai
CoCl2.6H2O+FeCl3.6H2O+HCL Dilarutkan dalam aquades
Diaduk (magnetic stirrer)

Diteteskan dalam larutan NaOh

Larutan hasil reaksi dicuci dengan aquades


Pengeringan dengan furnace
Nanopartikel fase kering
Analisa XRD
Tidak

Apakah fasanya CoFe2O4 ?


Ya
Analisa TEM

Analisa VSM

Enkapsulasi dengan PEG


Analisa XRD

Analisa TEM
Tidak

Apakah enkapsulasi berhasil?


Ya
Analisa VSM
Selesai
Gambar 4.2. Skema sintesis adsorben nanopartikel CoFe2O4
4.4.3 Pembuatan limbah cair buatan logam Cu(II), Fe(II), Ni(II)
Proses

pembuatan

artificial

limbah

logam

Cu(II),

Fe(II),

Ni(II)

menggunakan bahan dasar CuSO4.7H2O, FeSO4.7H2O dan NiSO4.7H2O masing-

43

masing 1,5 gram, yang kemudian dilarutkan dalam 1000 ml aquades dan
ditambahkan 20 tetes HCl.
4.4.4 Purifikasi limbah cair menggunakan absorben nanopartikel CoFe2O4
Pada penelitian purifikasi limbah cair menggunakan nanopartikel CoFe2O4
sebagai absorben mengacu pada penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh
Mahmudah pada tahun 2014 dengan beberapa variasi, diantaranya:
1. Sampel dengan variasi suhu
Untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap penurunan kadar logam
Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) maka dibuat empat buah sampel dengan identitas
seperti pada tabel 4.1. berikut ini.
Tabel 4.1. Sampel dengan variasi suhu
Kode CoFe2O4 Suhu
Lama
pH CoFe2O4
(gr)
pengadukan
(gram)
(jam)
A
0,4
RT
3
9
0,8
A1
0,4
60
3
9
0,8
B1
0,4
90
3
9
0,8
C1
0,4
120
3
9
0,8

Volume
limbah
(ml)
80
80
80
80

2. Sampel dengan variasi konsentrasi adsorben


Untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi adsorben terhadap
penurunan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) maka dibuat empat sampel
dengan identitas seperti pada tabel 4.2. berikut ini.
Tabel 4.2. Sampel dengam variasi konsentrasi adsorben
Konsentrasi
Lama pengadukan pH
Suhu
Volume
CoFe2O4
(jam)
limbah (ml)
(gr/ml)
G
0,0025
3
9
RT
80
A
0,0050
3
9
RT
80
H
0,0075
3
9
RT
80
I
0,0100
3
9
RT
80

Kode

3. Sampel dengan variasi lama pengadukan


Untuk mengetahui pengaruh variasi lama pengadukan terhadap
penurunan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) maka dibuat tiga sampel
dengan identitas seperti pada tabel 4.3. berikut ini.

44

Kode
E
A
F

Tabel 4.3. Sampel dengan lama pengadukan


Lama pengadukan
CoFe2O4
pH
Suhu
Volume
(jam)
(gr)
limbah (ml)
1
0,4
9
RT
80
3
0,4
9
RT
80
5
0,4
9
RT
80

4. Sampel dengan variasi readsorpsi


Untuk mengetahui pengaruh variasi readsorpsi adsorben terhadap
penurunan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) maka dibuat dua sampel
dengan identitas seperti pada tabel 4.4. berikut ini.
Tabel 4.4. Sampel dengan variasi readsorpsi
Kode Adsorpsi
Lama
CoFe2O4 pH Suhu
Kepengadukan
(gr)
(jam)
A
1
3
0,4
9
RT
D
2
3
0,4
9
RT

Volume
limbah (ml)
80
80

5. Sampel dengan variasi enkapsulasi CoFe2O4 dengan PEG-4000


Untuk mengetahui pengaruh variasi enkapsulasi CoFe2O4 dengan PEG4000 terhadap penurunan kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) maka dibuat
dua sampel dengan identitas seperti pada tabel 4.6. berikut ini.
Tabel 4.5. Sampel dengan variasi dienkapsulasi dengan PEG-4000
Kode
Adsorben
Lama
CoFe2O4 pH Suhu
Volume
pengadukan
(gr)
limbah
(jam)
(ml)
A
CoFe2O4
3
0,4
9
RT
80
I
CoFe2O4+P
3
0,4
9
RT
80
EG-4000
4.5 Teknik Pengolahan Data
Untuk mengetahui fasa yang terbentuk pada sampel yang dihasilkan maka
dilakukan pengujian dengan XRD. Jika fasa CoFe2O4 berhasil terbentuk maka
data hasil XRD akan menunjukkan pola seperti yang ditunjukkan pada ilustrasi
gambar 4.3.

45

Gambar 4.3. Ilustrasi spektrum puncak hasil pengujian XRD


Berdasarkan pola spektrum yang dihasilkan dari XRD tersebut maka dapat
dihitung nilai parameter kisi (a) sampel CoFe2O4 dengan memilih puncak utama
(tertinggi) sebagai acuan. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan
menghitung jarak antar bidang dengan meggunkan persamaan,
d

n
,
2 sin

(4.1)

dengan n adalah urutan difraksi, d adalah jarak antar bidang, adalah panjang
gelombang sinar-X, adalah sudut hamburan difraksi. Untuk menghitung
parameter kisi (a) digunakan persamaan,

h2 k 2 l 2
1

,
d2
a2

(4.2)

dengan a adalah parameter kisi CoFe2O4 sedangkan hkl adalah indeks Miller yang
menggambarkan bidang kristal. Untuk menentukan ukuran butir nanopartikel
digunakan persamaan Scherrer,
t

k
,
B cos

(4.3)

dengan t adalah ukuran butir kristal, k adalah konstanta Scherrer (0,9), adalah
panjang gelombang sinar-X dan B adalah lebar setengah puncak (full width at half
maximum (FWHM) dari spektrum puncak.

46

Penentuan lebar setengah puncak (FWHM) dengan proses memplot data


XRD dalam bentuk grafik kemudian memilih puncak utama sehingga akan
diperoleh lebar puncak utama tertentu. Lebar puncak tersebut berada pada
setengah puncak yang dipilih seperti pada gambar 4.4. Dari lebar puncak akan
diperoleh posisi sudut masing-masing, sehingga diperoleh, FWHM = 2- 1.

Gambar 4.4. Ilustrasi penentuan FWHM pengujian XRD


Pada sintesis nanopartikel dengan kopresipitasi terkadang tidak semuanya
bereaksi ideal. Nanopartikel yang dihasilkan memungkinkan terdapat fasa lain.
Fasa yang terdeteksi dalam karakterisasi XRD yang berupa spektrum XRD akan
dihitung dengan menggunakan metode Hanawalt yang dirumuskan,

% volume fasa yang dicari

Intensitas fasa yang dicari


100%
Jumlah Intensitas semua fasa

(4.4)

Untuk mendapatkan validitas ukuran nanopartikel hasil sintesis maka hasil


perhitungan diatas dikonfirmasi dengan hasil pengamatan dengan menggunakan
TEM.
Transmission Electron Microscope (TEM) digunakan untuk melihat
morfologi dan rentang distribusi ukuran butir sampel. Distribusi ukuran butir
diperoleh dari software ImageJ dengan mengukur diameter masing-masing butir
pada hasil gambar TEM (gambar 4.5.(a)). Hasil pengukuran diameter tersebut

47

kemudian akan di hitung frekuensi relatif dengan menggunakan persamaan


sebagai berikut:

Frekuensi relatif (%)

Jumlah ukuran partikel yang sama


100%
Jumlah seluruh partikel terukur

(4.5)

Selanjutnya, dibuat grafik distribusi ukuran butir, yaitu antara ukuran butir
dengan frekuensi relatifnya menggunakan software Kaleidagraph, sehingga
diperoleh grafik distribusi seperti pada gambar 4.5.(b).

Gambar 4.5. (a) Contoh gambar hasil pengujian TEM (b) Ilustrasi grafik
hubungan ukuran butir yang terukur dengan frekuensi relatif
Selain gambar morfologi sampel, hasil pengujian dengan TEM juga
dilengkapi dengan pola cincin difraksi yang menggambarkan puncak-puncak
kristal dari sampel yang akan mengkonfirmasi hasil XRD sebelumnya seperti
yang di sajikan pada gambar 4.6. Indeks Miller dapat ditentukan dengan cincin
difraksi sampel menggunakan persamaan:

d2

a2
,
h2 k 2 l 2

(4.6)

dengan d adalah jarak antar bidang Bragg, a adalah tetapan kisi, h, k, l adalah
indeks Miller. Nilai d diperoleh melalui persamaan (3.17), sehingga akan
diperoleh nilai h2 + k2 + l2. Hasil ini akan dicocokan dengan database dari
PCPDFWIN untuk mendapatkan indeks Miller.

48

Gambar 4.6. Contoh pola cincin difraksi TEM


Sifat kemagnetan ditentukan dari hasil VSM yang menyajikan kurva
histeresis. Dari kurva histeresis ini dapat diperoleh nilai magnetisasi saturasi (Ms),
koersivitas (Hc), dan magnetisasi remanen (Mr). magnetisasi saturasi merupakan
nilai magnetisasi yang dicapai maksimum karena momen magnetiknya sudah
terorientasi semuanya, sehingga meskipun medan eksternal terus diberikan nilai
magnetisasi tersebut tetap. Koersivitas merupakan besarnya medan magnet yang
dibutuhkan untuk menurunkan magnetisasi pada material yang termagnetisasi
hingga magnetisasi kembali nol. Magnetisasi remanen merupakan magnetisasi
residu dalam material setelah medan magnet eksternal diturunkan sampai sama
dengan nol. Ilustrasi penentukan nilai magnetisasi saturasi, koersivitas dan
magnetisasi remanen ditunjukkan seperti pada gambar 4.7.

Gambar 4.7. Ilustrasi kurva histeresis hasil pengujian VSM

49

Data mentah dari hasil VSM berbentuk notepad. Untuk pengolahan data
VSM tersebut, data dalam bentuk notepad ditransfer dalam Microsoft excel.
Dalam data mentah dari VSM nilai numerik H maksimal 10000 Oe mewakili
15000 Oe dan M maksimal 10000 emu mewakili 10 emu. Oleh karena itu, nilai H
dan M yang sebenarnya ditentukan dengan cara:
Nilai numerik H
15000
10000

(4.7)

Nilai numerik M
1
10
,
massa sampel
10000

(4.8)

dengan H dalam Oe dan M dalam emu/gram.


Selanjutnya, nilai H dan nilai M di plot masing-masing pada sumbu-x dan
sumbu-y sehingga diperoleh kurva histeresis. Magnetisasi remanen ditunjukkan
pada nilai M ketika sumbu-x bernilai nol (H = 0). Magnetisasi saturasi diperoleh
sumbu-y bernilai maksimal (Maksimal = Maksimal). Sedangkan nilai koersivitas
diperoleh dengan cara seperti ditunjukkan pada gambar 4.8.

Gambar 4.8. Ilustrasi pembesaran skala kurva histerisis untuk menentukan


nilai koersivitas sampel (a) kurva histeresis; (b) setelah pembesaran skala

50

Setelah lebar K diperoleh, selanjutnya nilai koersivitas dapat dihitung


dengan menggunakan persamaan:
Hc

K
.
2

(4.9)

4.6 Pengujian hasil purifikasi


Hasil purifikasi yang diperoleh pada setiap variasi parameter purifikasi
diujikan dengan metode AAS di Laboratorium Kimia Analitik, Jurusan Kimia,
FMIPA UGM. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kadar akhir logam yang
terkandung pada setiap sampelnya, dihitung dengan rumus berikut:
%

100%

(4.10).

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Sintesis Nanopartikel CoFe2O4


Nanopartikel

cobalt

ferrite

(CoFe2O4)

disintesis

dengan

metode

kopresipitasi yaitu dengan melarutkan FeCl3.6H2O (ferric chloride hexa-hydrate)


Mr = 270,29 g/mol, CoCl2.6H2O (cobalt chloride hexa-hydrate) Mr = 237,931
g/mol kedalam aquades, sehingga menghasilkan larutan yang mengandung ion
Co2+ dan Fe3+. Pembentukan nanopartikel CoFe2O4 melalui pengendapan dengan
larutan basa NaOH 5M. Parameter yang digunakan dalam sintesis CoFe2O4
menggunakan suhu sintesis 80 oC, lama pengadukan selama 2 jam, dan dengan
kecepatan pengadukan 1000 rpm. Endapan yang didapatkan kemudian dicuci
untuk menetralkan konsentrasi larutan. Selanjutnya diberi medan magnet luar
untuk memisahkan CoFe2O4 dengan garam-garamnya. CoFe2O4 yang masih
berbentuk koloid dikeringkan dengan furnace pada suhu 80 oC selama 2 jam
sehingga didapatkan CoFe2O4 dalam bentuk serbuk.
Hasil sintesis nanopartikel CoFe2O4 berwarna hitam pekat. Warna hitam
pekat pada sampel mengidikasikan bahwa nanopartikel yang dihasilkan oleh
proses sintesis didominasi oleh fasa CoFe2O4. Gambar 5.1 merupakan gambar
hasil sintesis CoFe2O4. Seperti diperlihatkan pada gambar bahwa nanopartikel
menujukan respon terhadap pengaruh medan magnet eksternal.

(a)
(b)
Gambar 5.1. Nanopartikel CoFe2O4 yang dihasilkan dari proses sintesis
dengan metode kopresipitasi (a) nanopartikel CoFe2O4 dalam medium cair
di atas medan magnet dan (b) nanopartikel CoFe2O4 fasa padat

51

52

5.2

Karakterisasi CoFe2O4 menggunakan X-Ray Diffractometer (XRD)


XRD digunakan untuk mengidentifikasi struktur kristalin dari sampel

CoFe2O4. Adapun panjang gelombang sinar-X yang digunakan yaitu 1,5406 .


Kemudian, hasil uji XRD diolah menggunakan software Origin8.
Gambar 5.2 memperlihatkan puncak-puncak yang menunjukan hkl dari
sampel CoFe2O4 yang mengindikasikan terbentuknya fasa CoFe2O4 di dalam
sampel tersebut. Indikasi didasarkan pada nilai parameter kekisi yang telah
diestimasi dari sudut 2 = 35,379o yaitu pada puncak utama dengan indeks (311)
sampel sebesar 8,4090,138 . Nilai ini mendekati nilai parameter CoFe2O4
ukuran bulk 8,3950,005 (Kim dkk, 2003). Sedangkan ukuran partikelnya
adalah 8,450,03 nm yang dihitung dengan persamaan Scherrer.

(220)
-Fe2O3

Intensitas a.u.

1000

1100

900

800
25

30

35

40

45

50

55

60

65

70

2 Theta (derajat)

Gambar 5.2. Pola spektrum XRD Sampel CoFe2O4


Hasil sintesis CoFe2O4 ditunjukan pada pola XRD yang terlihat dari
puncak-puncak difraksi (220), (311), (400), (511), dan (440) yang merupakan ciri
dari fasa CoFe2O4 yang memiliki struktur kristal inverse spinel. Selain fasa ferit
CoFe2O4 sampel hasil sintesis dalam penelitian ini juga muncul fasa lain yang
memiliki struktur dan karakteristik yang berbeda. Fasa tersebut adalah fasa Fe2O3 (hematite) dalam Gambar 5.2. Berdasarkan karakteristiknya fasa -Fe2O3

53

memiliki sifat antiferomagnetik. Kehadiran fasa ini terjadi dengan beberapa


kemungkinan sesuai dengan persamaan,
4CoFe2O4 + O2 4-Fe2O3 + 2Co2O3

(5.1)

2FeCl3 + 6NaOH -Fe2O3 + 6NaCl + 3H2O

(5.2)

2FeCl3 + H2O -Fe2O3 + 6HCl

(5.3)

Persamaan reaksi (5.1) dapat terjadi ketika CoFe2O4 yang telah terbentuk
mengalami reaksi dengan oksigen (oksidasi) yang juga dipengaruhi oleh suhu
panas yang mengakibatkan CoFe2O4 terurai dan berubah fasa menjadi -Fe2O3
dan Co2O3. Selanjutnya persamaan (5.2) dapat terjadi ketika bahan FeCl yang
dicampurkan tidak habis bereaksi dengan CoCl2 karena konsentrasi FeCl3 yang
berlebih. Untuk mencegah dan meminimalisir maka pada proses sintesis harus
memperhatikan koefisien dari persamaan (3.12) sehingga sisa FeCl3 dapat
dimimalisir. Sedangkan persamaan (5.3) dapat terjadi apabila konsentrasi NaOH
(kopresipitan) terlalu kecil sehingga FeCl3 tidak habis bereaksi menghasilkan
CoFe2O4, dan zat sisanya akan bereaksi dengan air dan berpotensi menghasilkan
hematite (-Fe2O3).
Kehadiran fasa -Fe2O3 dianggap sebagai fasa pengotor nanopartikel
CoFe2O4 karena sifatnya yang antiferomagnetik. Kehadiran fasa pengotor ini
berpotensi melemahkan respon kemagnetan sampel saat digunakan sebagai
adsorben.
5.3

Karakterisasi

CoFe2O4

menggunakan

Transmission

Electron

Microscopy (TEM)
Hasil karakterisasi sampel menggunakan TEM jenis JEOL JEM-1400 dari
nanopartikel CoFe2O4 gambar 5.3 sedangkan distribusi ukuran partikel
ditunjukkan pada gambar 5.4.

54

(440)
(511)
(400)
(220)
(311)

Gambar 5.3.
5. Hasil TEM sampel CoFe2O4
Pada pengamatan morfologi untuk sampel CoFe2O4 menunjukan bahwa
sampel memiliki morfologi yang cenderung bulat meski belum bulat sempurna
seperti
ti ditunjukan pada gambar 5.4. Berdasarkan
Berdasarkan gambar tersebut juga terlihat
bahwa sampel juga memiliki kecenderungan teraglomerasi.
Pada pengujian TEM dilengkapi gambar cincin difraksi. Dari pola cincin
difraksi terlihat cincin-cincin
cincin diskrit yang menunjukkan bidang kristal. Pola cincin
difraksi nanopartikel CoFe2O4 menunjukkan terdapat bidangg (440), (511), (400),
(311), dan (220) yang menunjukkan ciri khas bidang kristal CoFe2O4. Bidangbidang kristal pada analisa cincin difraksi ini memperkuat
mperkuat hasil pengujian XRD
bahwa sampel hasil sintesis membentuk fasa CoFe2O4.

40
35

Frekuensi relatif (%)

30
25
20
15
10
5
0
7

9
10
Ukuran butir (nm)

11

12

Gambarr 5.4.
5. Distribusi ukuran nanopartikel CoFe2O4

55

Berdasarkan pengukuran histogram distribusi ukuran CoFe2O4 dari


pencitraan TEM menunjukan bahwa distribusi ukuran yang sempit dan cenderung
monodispersif, seperti pada gambar 5.4. Dari data histogram diperoleh distribusi
ukuran rata-rata nanopartikel CoFe2O4 adalah 90,3 nm.
5.4

Pengukuran sifat kemagnetan CoFe2O4 dengan Vibrating Sample


Magnetometer (VSM)
Pengujian selanjutnya yaitu pengujian sifat kemagnetan. Pada pengujian

sifat kemagnetan dilakukan dengan VSM Riken Denshi co ltd. Berikut merupakan
kurva histeresis pengujian VSM CoFe2O4.

40
30

Magnetisasi (emu/g)

20
10
0
-10

88,56 Oe

-20
-30
-40
4
-1,5 10

-1 10

-5000

5000

1 10

1,5 10

H (Oe)

Gambar 5.5. Kurva histeresis pengujian VSM CoFe2O4


Hasil VSM bisa disajikan dalam bentuk kurva histerisis pada gambar 5.5.
Sampel CoFe2O4 memiliki nilai medan koersif sebesar 85,10 Oe, magnetisasi
remanen sebesar 5,18 emu/g dan magnetisasi saturasi (Ms) sebesar 37,57 emu/g..
Berdasarkan nilai koersivitas sampel menunjukan bahwa nilai koersivitas yang
jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai koersivitas CoFe2O4 ukuran bulk yaitu
980 Oe (Kim dkk, 2003). Koersivitas yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan
ukuran bulk ini mengisyaratkan bahwa nanopartikel hasil sintesis mulai

56

menunjukan sifat superparamagnetik. Akan tetapi sampel ini belum dapat


dikatakan superparamagnetik yang ideal mengingat koersivitasnya yang belum
bernilai nol.

5.5

Mekanisme Adsorpsi Ion Logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) pada


Permukaan Adsorben CoFe2O4
Terikatnya ion logam pada permukaan adsorben karena adanya gaya Van

der Waals. Seperti yang dijelaskan pada bab III bahwa gaya Van der Waals
merupakan interaksi antaramolekul non-polar, antara molekul polar atau antara
molekul non-polar dengan molekul polar. Setiap senyawa kovalen polar memiliki
dipol yaitu muatan yang terpolarisasi menjadi muatan positif dan negatif. Dipoldipol yang berbeda akan saling tarik-menarik, sedangkan yang berlawanan akan
tolak-menolak. Ketika dilarutkan dalam senyawa kovalen polar, senyawa ion akan
menjadi ion positif dan ion negatif. Ion positif akan tarik menarik dengan dipol
negatif, dan sebaliknya.
Cobalt ferrite (CoFe2O4) memiliki pH at the Point of Zero Charge (pHpzc).
pHpzc adalah pH ketika permukaan adsorben bermuatan netral. Berdasarkan data
yang diperoleh dari literatur, CoFe2O4 memiliki pHpzc sebesar 6,9 (Hu dkk, 2007).
Pada pH < pHpzc permukaan adsorben bermuatan positif, sedangkan pada pH >
pHpzc permukaan adsorben menjadi bermuatan negatif (Dey dkk, 2014).
Permukaan CoFe2O4 memiliki permukaan hydroxyl yang mengalami protonasi
pada pH dibawah pHpzc dan terdeprotonasi diatas pHpzc seperti yang ditunjukan
pada persamaan (5.4) dan (5.5),
Fe(II,III)OH + H+ Fe(II,III)OH2+,
+

Fe(II,III)OH - H Fe(II,III)O ,

pH < PZC

(5.4)

pH > PZC

(5.5)

Proses purifikasi pada penelitian ini berada pada pH basa (pH = 9 diatas
pHpzc) sehingga dilihat dari struktur permukaan saat terdeprotonasi, maka
permukaan CoFe2O4 bermuatan negatif dan memiliki potensi yang besar sebagai
penyerap karena gugus OH yang terikat pada permukaannya dapat berinteraksi
dengan komponen adsorbat yang bermuatan positif. Adanya gugus OH, pada
permukaan menyebabkan terjadinya sifat polar pada adsorben CoFe2O4. Sehingga

57

adsorben CoFe2O4 lebih kuat menyerap zat yang bersifat polar dari pada yang
kurang polar.
Mekanisme terikatnya ion logam yang bermuatan positif (kation) pada
permukaan negatif adsorben CoFe2O4 berupa mekanisme pertukaran ion sebagai
berikut :

Gambar 5.6. Mekanisme pertukaran ion antara permukaan adsorben


dengan ion logam (Carabante dkk, 2012)
M+ dan M2+ adalah ion logam, -OH adalah gugus hidroksil dan Y adalah matriks
tempat gugus OH terkait dalam hal ini adalah permukaan CoFe2O4.
Salah satu indikator keberhasilan proses adsorpsi juga ditandai dengan
perubahan warna pada larutan limbah cair buatan (adsorbat).

(a)

(b)

Gambar 5.7. (a) Limbah sebelum diadsorpsi, (b) Limbah setelah diadsorpsi
Perubahan warna yang terjadi pada saat sebelum dan sesudah adsorpsi
mengindikasikan bahwa ion-ion logam yang terdapat dalam limbah diserap oleh
permukaan adsorben CoFe2O4. Limbah yang semula berwarna hijau (gambar
5.7a) berubah menjadi menjadi putih jernih setelah limbah dipisahkan dari
endapan menggunakan kertas saring, seperti yang ditunjukkan pada gambar 5.7b.

58

5.6

Pengaruh Suhu Terhadap Penurunan Kadar Ion Logam Cu(II), Fe(II),


dan Ni(II)
Hasil pengujian pengaruh variasi suhu terhadap prosentase penurunan kadar

ion logam ditunjukan pada tebel 5.1. Pengujian dilakukan pada suhu ruang (30
o

C), 60 oC, 90 oC, dan 120 oC, pada kondisi pH larutan 9 dan pengadukan 3 jam

untuk setiap sampel. Hasilnya menunjukan bahwa penyerapan ion logam yang
dipengaruhi oleh suhu menunjukan adanya kenaikan dibandingkan kadar awalnya.
Penyerapan ion logam Fe(II) konstan yaitu sebesar 100%. Semula prosentase
penurunan kadar ion logam Cu(II) dan Ni(II) pada suhu ruang, masing-masing
99,07% dan 99,90% dan meningkat menjadi 99,70% dan 99,95% pada suhu 60
o

C. Selanjutnya penyerapan ion logam Cu(II) dan Ni(II) pada suhu 120 oC

mengalami penurunan menjadi 98,28% dan 99,34%. Pengaruh suhu tinggi


terhadap adsorpsi menunjukkan semakin rendahnya kapasitas adsorpsi ketika suhu
dinaikkan dikarenakan melemahnya energi ikat antara adsorben dan adsorbat.
Dari data pada tabel 5.1 terlihat bahwa peningkatan nilai suhu sampai 60 oC
menyebabkan adsorpsi logam Cu(II) dan Ni(II) naik, hal ini diindikasikan adanya
proses endotermik dalam adsorpsi (Dey dkk, 2014). Pemanasan sistem adsorpsi
dari suhu ruang ke 60 oC menunjukan peningkatan kapasitas adsorpsi pada ion
logam, terjadi penyerapan panas (endotermik selama adsorpsi). Panas yang
diberikan kepada sistem menyebabkan kenaikan energi kinetik ion-ion di dalam
larutan sehingga mempermudah pergerakan ion menuju situs aktif dari adsorben.
Mane dkk (2007), menyebutkan bahwa diperlukan energi atau panas agar partikel
adsorbat dapat terserap teradsorpsi pada permukaan adsorben.
Adsorbsi maksimum terjadi pada suhu 60 oC. Suhu 60 oC ini merupakan
suhu kritis, kerena pada suhu 60 oC adsorpsi sudah mencapai equilibrium
adsorption. Pada suhu 60 oC ini diasumsukan ada gugus fungsi yang terputus
sehingga menambah situs aktif pada permukaan adsorben (Erenturk dan Malkoc,
2007). Menurut Li dkk tahun 2009 dan Tewari dan Mclean tahun 1971 bahwa
naiknya suhu akan menurunkan nilai pHpzc. Diketahui pada suhu ruang pHpzc
CoFe2O4 adalah 6,9, ketika suhunya naik hingga 60 oC nilai pHpzc nya turun

59

dibawah 6,9. Sehingga diasumsikan pada pH larutan 9 dengan pHpzc < 6,9,
keseluruhan permukaan dari adsorben sudah mengalami deprotonasi jadi
keseluruhan permukaan adsorben bermuatan negatif. Semakin negatif permukaan
adsorben akan meningkatkan gaya tarik elektrostatik antara muatan negatif
adsorben dengan muatan positif adsorbat (Zhou dkk, 2014), oleh karena itu
adsorpsi mencapai adsorpsi maksimal pada suhu 60 oC.
Tabel 5.1. Pengaruh suhu terhadap penurunan kadar Ion logam
Suhu (oC)
Raw
(ppm)
RT
60
90
120
Rata-rata
2,720,01 0,870,00 1,190,01 6,170,01
292,14 (ppm)
Cu
0,61 Prosentase
(99,07
(99,70
(99,59
(98,28
penurunan
0,00)% 0,00)%
0,01)%
0,01)%
Rata-rata
Ttd
Ttd
Ttd
Ttd
306,24 (ppm)
Fe
0,03 Prosentase
(100,00
(100,00
(100,00
(100,00
penurunan
0,00)% 0,00)%
0,00)%
0,00)%
Rata-rata
0,340,03 0,220,03 0,200,03 2,480,01
358,94 (ppm)
Ni
0,70 Prosentase
(99,90
(99,95
(99,95
(99,34
penurunan
0,01)% 0,01)%
0,01)%
0,00)%
*ttd = tidak terdeteksi/dibawah deteksi alat
Para
meter

Pada suhu diatas 90 oC, nilai pHpzc juga akan semakin rendah dibandingkan
pada suhu 60 oC. Namun karena pada suhu 60 oC permukaan dari adsorben sudah
bermuatan negatif, sehingga turunnya nilai pHpzc tidak berpengaruh terhadap
permukaan adsorben. Penurunan adsorpsi pada suhu 90 oC ini diakibatkan energi
kinetik semakin besar. Naiknya energi kinetik ini akan meningkatnya frekuensi
tumbukan antara partikel adsorben, adsorbat maupun antara adsorben dengan
adsorbat (Erenturk dan Malkoc, 2007). Meningkatnya frekuensi tumbukan antar
partikel akan menggangu ikatan yang sudah terbentuk sehingga terjadi desorpsi.
Pada suhu diatas 100 oC terjadi pemutusan rantai hidroksil akibat evaporasi
(penguapan) yang terjadi didalam air sehingga membuat ion-ion logam yang
terikat dipermukaan adsorben terlepas (desorpsi).
Pada tabel 5.1, diperoleh hasil bahwa adsorpsi logam Fe(II) tidak
terpengaruh terhadap perubahan suhu, terlihat dari data untuk ion logam Fe(II)

60

tidak terdeteksi yang artinya bahwa konsentrasi Fe(II) dalam limbah hasil adsorpsi
sangat kecil yang berada di bawah batas deteksi alat (0,02 ppm). Namun logam
Fe(II) ini merupakan logam yang paling besar penyerapannya dibandingkan
Cu(II), dan Ni(II).
5.7

Pengaruh lama pengadukan Terhadap Penurunan Kadar Ion Logam


Cu(II), Fe (II), dan Ni(II)
Waktu pengadukan atau waktu interaksi ion logam dengan adsorben

merupakan parameter yang penting untuk mengetahui kecepatan reaksi adsorpsi.


Tabel 5.2 menunjukkan pengaruh dari lama pengadukan terhadap adsorpsi ion
logam. Penyerapan terbesar terjadi pada ion logam Fe(II). Hal ini menunjukkan
bahwa logam Fe(II) lebih cepat diserap oleh adsorben daripada Cu(II) dan Ni(II) .
Namun perubahan lama pengadukan tidak mempengaruhi penyerapan ion logam
Fe(II).
Tabel 5.2. Pengaruh lama pengadukan terhadap penurunan kadar Ion logam
Lama pengadukan
Para
Raw
meter
material
1 jam
3 jam
5 jam
Rata-rata
1,340,01
1,640,00 2,730,01
(ppm)
Cu 292,140,61
Prosentase
(99,44
(99,07
(99,55
penurunan
0,00)%
0,00)%
0,01)%
Rata-rata
Ttd
Ttd
Ttd
(ppm)
Fe
306,240,03
Prosentase
(100,00
(100,00
(100,00
penurunan
0,00)%
0,00)%
0,00)%
Rata-rata
0,550,00
2,130,03 0,340,05
(ppm)
Ni
358,940,70
Prosentase
(99,41
(99,91
(99,85
penurunan
0,03)%
0,01)%
0,01)%
*ttd = tidak terdeteksi/ dibawah deteksi alat
Prosentase adsorpsi ion logam Cu(II) maksimum terjadi pada lama
pengadukan 5 jam yaitu mencapai 99,55 %. Hal ini menunjukan bahwa waktu
interaksi antara logam dan absorben akan mempengaruhi jumlah logam yang
terikat pada absorben. Semakin lama waktu interaksi jumlah ion logam yang

61

terabsorpsi semakin banyak. Peristiwa ini dapat terjadi karena dengan lamanya
waktu kontak logam dengan permukaan absorben mengakibatkan banyaknya
permukaan absorben yang menjadi aktif dan melakukan penyerapan terhadap
logam. Waktu kontak yang lama antara adsorben dengan adsorbat memungkinkan
semakin banyak terbentuk ikatan antara ion logam dengan permukaan CoFe2O4.
Adsorpsi logam Ni(II) diadsorpsi optimal pada waktu kontak 3 jam, namun
pada waktu kontak 5 jam mengalami penurunan yaitu dari 99,91% menjadi
99,85% dimungkinkan adsorben telah jenuh. Dalam proses adsorpsi didalam
lautan terjadi interaksi dan tumbukan antara adsorbat, adsorbat dengan adsorben
maupun

antar

adsorben.

Sedangkan

meningkatnya

waktu

pengadukan

mengakibatkan waktu kontak adsorbat dengan adsorben semakin lama, sehingga


kemungkinan untuk terjadinya tumbukan akan semakin besar pula. Dengan
adanya tumbukan ini akan menyebabkan ikatan yang sudah tebentuk akan putus.
Ikatan yang terputus menyebabkan akan ada sisi aktif adsorben yang kosong yang
kemudian memungkinkan akan diisi lagi oleh adsorbat yang lain. Hal ini
merupakan fenomena dalam adsorpsi fisika yang menyatakan bahwa proses
adsorpsi bersifat reversibel (Lelifajri, 2010). Reaksi reversibel merupakan reaksi
bolak-balik.
5.8

Pengaruh Konsentrasi Adsorben dalam Proses Adsorpsi Terhadap


Penurunan Kadar Ion Logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II)
Konsentrasi ion logam berhubungan dengan situs aktif yang terdapat pada

permukaan adsorben CoFe2O4. Bertambahnya konsentrasi adsorben akan


meningkatkan situs aktif pada permukaan adsorben. Bila jumlah situs aktif cukup
besar dibandingkan jumlah ion logam maka prosentase ion teradsorpsi akan tinggi
sampai pada jumlah sisi aktif sama dengan jumlah ion logam (Ren dkk, 2013).
Tabel 5.3 menunjukkan hasil pengujian variasi konsentrasi adsorben
CoFe2O4 terhadap penurunan kadar ion logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II). Variasi
konsentrasi adsoben yang dilakukan yaitu 2,5 gr/L, 5,0 gr/L, 7,5 gr/L, 10,0 gr/L
pada suhu ruang, dengan kondisi pH larutan 9 dan lama pengadukan 3 jam untuk
setiap sampel. Dapat dilihat prosentase penurunan kadar ion logam terhadap

62

variasi konsentrasi adsorben maksimum pada konsentrasi 7,5 gr/L untuk ion
logam Cu(II) dan 5,0 gr/L untuk ion logam Ni(II). Sedangkan untuk ion logam
Fe(II) dapat diserap sampai 100% pada setiap variasi konsentrasi adsorben.
Tabel 5.3. Pengaruh konsentrasi adsorben terhadap penurunan kadar ion
logam
Konsentrasi adsorben gr/L
Para
Raw
meter material
2,5
5,0
7,5
10,0
Cu

292,14
0,61

Fe

306,24
0,03

Ni

358,94
0,70

Rata-rata
(ppm)
Prosentase
penurunan
Rata-rata
(ppm)
Prosentase
penurunan
Rata-rata
(ppm)
Prosentase
penurunan

1,78
0,00
(99,54 99,53
0,00)% 0,00%

2,480,01

2,730,01

1,350,01

(99,15
0,01)%

(99,07
0,00)%

Ttd

Ttd

Ttd

100,00
0,00

100,00
0,00

100,00
0,00

1,010,02

0,340,03

0,770,02

(99,72
0,01%

(99,90
0,01)%

(99,79
0,01)%

Ttd
100,00
0,00
0,80
0,01
(99,79
0,00)
%

*ttd = tidak terdeteksi/ dibawah deteksi alat


Konsentrasi adsorben yang besar akan menyediakan situs aktif adsorpsi
yang besar (Huang dkk, 2013). Semakin tinggi konsentrasi adsorben akan
meningkatkan kapasitas adsorpsi ion logam. Hal ini menandakan jumlah situs
aktif adsorpsi pada adsorben masih cukup tersedia untuk mengadsorpsi sejumlah
ion-ion logam yang mengkontaknya, atau dengan kata lain menurunkan terjadinya
perebutan situs adsorpsi di antara ion-ion logam di dalam larutan.
Interaksi yang terjadi antara adsorben dan adsorbat ini melibatkan gaya Van
der Waals yang menyebabkan adsorbat tertarik pada molekul adsorben. Namun
pada kondisi tertentu prosentase teradsorpsi akan konstan bahkan terjadi
penurunan prosentase logam berat karena telah terjadi kejenuhan atau disebut
equilibrium adsorption (Huang dkk, 2013; Santhos dkk, 2015). Kejenuhan ini
karena antara situs aktif adsorpsi pada CoFe2O4 yang bermuatan negatif sudah
terisi penuh oleh adsorbat yang bermuatan positif. Selain itu, tingginya
konsentrasi adsorben dapat menyebabkan aglomerasi pada adsorben sehingga

63

meyebabkan berkurangnya situs aktif pada adsorben dan meningkatkan difusi


adsorben. Interaksi partikel pada kosentrasi adsorben yang tinggi dapat
menyebabkan desorpsi pada beberapa ikatan ion logam dengan permukaan
adsorben (Erenturk dan Malkoc, 2007). Meningkatnya superdifusi (gerakan
adsorben yang cepat) karena adanya pengaruh dari gaya tarik permukaan dan
gerakan random tiap molekul dapat menghalangi partikel adsorbat untuk
berinteraksi dengan permukaan adsorben. Oleh karena itu, superdifusi ini dapat
menurunkan kapasitas adsorpsi.
5.9 Pengaruh Readsorpsi Terhadap Penurunan Kadar Ion Logam Cu(II),
Fe(II), dan Ni(II)
Readsorpsi merupakan parameter penting yang digunakan dalam proses
penyerapan logam. Readsorpsi merupakan proses adsorpsi berulang. Pengujian
readsorpsi dilakukan sebanyak dua kali pada pH larutan 9, suhu ruang (30 oC)
dan waktu pengadukan 3 jam untuk setiap sampel. Hasil pengujian pengaruh
readsorpsi terhadap penurunan kadar ion logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II) disajikan
pada tabel 5.4.
Tabel 5.4. Pengaruh adsorpsi berulang (readsorpsi) terhadap penurunan
kadar ion logam
Adsorpsi
Para
Raw material
meter
Pertama
Kedua
Rata-rata (ppm)
2,730,01
Ttd
Cu
292,14 0,61 Prosentase
(100,000,00)%
(99,070,00)%
penurunan
Rata-rata (ppm)
Ttd
Ttd
Fe
306,24 0,03 Prosentase
(100,000,00)
(100,00,000,00)
penurunan
%
%
Rata-rata (ppm)
0,340,08
Ttd
Ni
358,94 0,70 Prosentase
(99,910,00)%
(100,000,00)%
penurunan
*ttd = tidak terdeteksi/ dibawah deteksi alat
Pada proses adsorpsi pertama, kadar logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II)
berhasil diturunkan hingga 2,72 ppm, 0,0 ppm, dan 0,34 ppm pada proses adsorpsi
pertama. Sedangkan pada adsorpsi kedua, seluruh ion logam teradsorpsi mencapai

64

100%. Hal tersebut karena ion-ion logam Cu(II) dan Ni(II) yang tidak teradsorpsi
pada proses adsorpsi pertama akan diadsorpsi oleh adsorben CoFe2O4 baru yang
masih memiliki banyak situs aktif pada proses adsorpsi kedua. Hasil penelitian ini
memberikan informasi bahwa semakin banyak proses pengulangan, penurunan
kadar logam yang terlarut semakin besar.
5.10 Pengaruh Fungsionalisasi Nanopartikel CoFe2O4 dengan PEG-4000
Pada aplikasi nanopartikel perlu dilakukan modifikasi permukaan.
Modifikasi permukaan ini dilakukan untuk menambah stabilitas kimia,
dispersibiltas, biokompatibilitas, menyeragamkan bentuk dan ukuran sampel.
Pada proses fungsionalisasi nanopartikel dengan PEG-4000 ini dilakukan dengan
mencampurkan nanopartikel CoFe2O4 dan PEG-4000 dengan perbandingan massa
1:1 pada akuades. Pada proses fungsionalisasi ini kemudian diamati kembali
perubahan sifat nanopartikel hasil modifikasi ini kemudian dikarakterisasi
kembali dengan menggunakan FTIR, XRD, TEM dan VSM.
5.10.1 Karakterisasi menggunakan X-Ray Diffractometer (XRD)
Sampel nanopartikel CoFe2O4 yang telah dienkapsulasi menggunakan
PEG-4000 muncul perbedaan intensitas puncak. Perbedaan tersebut terlihat bahwa
selain muncul puncak-puncak yang merupakan karakteristik CoFe2O4, muncul
fasa lain yaitu fasa -FeO(OH) atau yang biasa disebut dengan geothite dan
adanya -FeO(OH) atau yang biasa disebut dengan lepidocrocite seperti yang
terlihat pada gambar 5.8.

65

1000

(111)

Intensitas a.u.

(511)

(440)

(311)

(400)

1100

(220)
-Fe2O3

1200

-FeO(OH)

-FeO(OH)

1300

900

800

700

20

30

40

50

60

70

2 Theta (derajat)

Gambar 5.8. Pola spektrum XRD sampel CoFe2O4+PEG-4000 (1:1)


Adanya fasa baru ini menunjukan telah terjadinya enkapsulasi nanopartikel
CoFe2O4 oleh PEG-4000. Kedua fasa tersebut diprediksi terjadi karena atom-atom
Fe3+ yang mengisi seluruh posisi tetrahedral dan setengah dari oktahedral pada
permukaan nanopartikel bereaksi dengan gugus hidroksil pada PEG-4000 yang
menyebabkan pada interface antara nanopartikel CoFe2O4 dan PEG-4000 muncul
fasa baru -FeOOH dan -FeOOH. Munculnya dua fasa ini sesuai dengan
persamaan reaksi (5.6) dan (5.7) berikut,
Fe3+ + 3OH- -FeO(OH) + H2O
3+

Fe + 3OH -FeO(OH) +H2O

(5.6)
(5.7)

Adanya proses modifikasi permukaan nanopartikel oleh PEG-4000 seperti


diilustrasikan pada gambar 5.9.

66

Gambar 5.9. Ilustrasi proses enkapsulasi nanopartikel dengan PEG


Pola XRD gambar 5.9 terlihat bahwa ketinggian puncak bidang (311) pada
fasa CoFe2O4 memiliki perbedaan sebelum dan sesudah proses enkapsulasi PEG4000. Setelah proses enkapsulasi terlihat bahwa puncak (311) menjadi lebih tajam
dan lebih tinggi dengan ketinggian 131,05 a.u. sedangkan sebelum dienkapsulasi
adalah 97,95 a.u. Hal ini menunjukkan bahwa setelah dienkapsulasi dengan PEG4000 derajat kristalinitas nanopartikel CoFe2O4 menjadi lebih tinggi.
Estimasi rasio volume setiap fasa yang terkandung pada nanopartikel
setelah proses enkapsulasi PEG disajikan dalam tabel 5.5.
Tabel 5.5. Rasio volume fasa pada sampel nanopartikel CoFe2O4 yang
dienkapsulasi dengan PEG-4000
Sampel
Fase ferit
-Fe2O3
-FeO(OH)
-FeO(OH)
CoFe2O4 (%)
(%)
(%)
(%)
CoFe2O4
90,18
9,81
CoFe2O4+PEG
73,17
4,98
16,69
5,14
Berdasarkan rasio pada tabel 5.5 menunjukkan bahwa rasio pengotor dari
fasa lain yang berupa -FeO(OH), -FeO(OH), dan -Fe2O3 yaitu 16,69%, 5,14%,
dan 4,98%. Hal ini tentu akan menyebabkan adanya perubahan sifat kemagnetan
nanopartikel dibanding sebelum proses enkapsulasi, karena -FeO(OH) dan Fe2O3 bersifat antiferromagnetik sedangkan -FeO(OH) bersifat paramagnetik
(Gubin, 2009). Jika rasio ketiga fasa tersebut dijumlah sebagai estimasi rasio
pengotor, maka diperoleh rasionya sebesar 26,81%. Dengan rasio pengotor yang
cukup besar maka perlu dianalisa perubahan sifat kemagnetannya dengan
pengujian VSM. Naiknya derajat kristalinitas dan munculnya fasa baru ini pada

67

sampel dapat mempengaruhi sifat kemagnetan sampel. Sifat kemagnetan sampel


ini akan mempengaruhi dalam proses pengendapan sedimen hasil adsorpsi pada
larutan hasil adsorpsi. Semakin sulit sampel dimagnetisasi akan mengakibatkan
semakin sulit dan lama sedimen mengendap. Ketika proses pemisahan sedimen
dengan larutan akan sulit dilakukan karena sedimen tidak terikat kuat pada
magnet luar yang diberikan, sehingga ada kemungkinan sedimen endapan tidak
terpisah sempurna dengan larutan.
Selain digunakan untuk mengidentifikasi orientasi kristal, data XRD juga
dapat digunakan untuk menghitung ukuran partikel. Ukuran partikel dihitung
dengan menggunakan persamaan Scherrer sebagaimana tertulis pada persamaan
(4.3). Persamaan Scherrer sebenarnya adalah memprediksi ukuran kristal dalam
material, bukan ukuran partikel. Jika satu partikel mengandung sejumlah kristal
kecil (kristalin), maka informasi yang diberikan oleh persamaan Scherrer adalah
ukuran kristalin tersebut, bukan ukuran partikel. Namun, untuk partikel berukuran
nanometer, biasanya satu partikel hanya mengandung satu kristalin. Dengan
demikian, ukuran kristalin yang diprediksi dengan persamaan Scherrer juga
merupakan ukuran partikel. Tabel 5.6 merupakan estimasi ukuran partikel
nanopartikel CoFe2O4 dan CoFe2O4 yang dienkapsulasi PEG-4000 (1:1).
Tabel 5.6. Hasil analisa nanopartikel CoFe2O4 dan CoFe2O4+PEG-4000 (1:1)
Sampel
Ukuran
Lattice
Intensitas
Ketinggian
Partikel
Parameter
Puncak Ferit intensitas puncak
(nm)
()
CoFe2O4
(311) (a.u.)
(a.u)
CoFe2O4
8,450,03
8,4090,138
280,016
97,95
CoFe2O4+PEG 10,620,08 8,3710,333
486,416
131,05
Adanya pergeseran sudut 2 puncak utama bidang (311) setelah
dienkapsulasi dengan dengan PEG-4000 mengindikasikan adanya perubahan
ukuran nanopartikel dan perubahan parameter kisi. Terlihat dari tabel 5.6 ukuran
butir nanopartikel menurun setelah dienkapsulasi. Hal ini dikarenakan konsentrasi
PEG-4000 yang digunakan dalam takaran yang besar, dimungkinkan terjadi
proses self-assembly yang menyebabkan dalam satu butir nanopartikel yang

68

termodifikasi PEG-4000
4000 terdapat lebih dari satu butir CoFe2O4 sehingga ukuran
nanopartikel menjadi cenderung polidispersi.
polidispersi
Parameter kisi (a)) adalah sebagai fungsi dari ukuran kristal (partikel), yang
ditampilkan dalam tabel 5.6. Nilai
ilai parameter kisi ini mendekati nilai parameter
kisi CoFe2O4 ukuran bulk yaitu 8,3950,005
0,005 (Kim dkk, 2003). Nilai ini
menguatkan bahwa sampel mengkristal dengan baik
baik dan membentuk fasa
CoFe2O4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pergeseran sudut 2
2 puncak utama
bidang (311) ke arah kanan disebabkan karena naiknya ukuran butir dan nilai
parameter kisi. Naiknya nilai parameter kisi ini diasumsikan terjadi pergeseran
atom
m karena penambahan material lain yaitu PEG-4000
PEG 4000 ke dalam nanopartikel
CoFe2O4. Disamping itu, juga diprediksi adanya perbedaan nilai parameter kisi
karena adanya interaksii elektrostatik antara keduanya.
5.10.2 Karakterisasi

CoFe2O4+PEG-4000

menggunakan

Transmission

Electron Microscopye
Microscop (TEM)
Hasil karakterisasi sampel CoFe2O4 dienkapsulasi PEG-4000
4000 ditunjukkan
pada gambar
ambar 5.4 sedangkan distribusi ukuran partikel ditunjukkan pada gambar
g
5.11.
(440)
(511)
(400)
(111)
(220)
(311)

Gambar 5.1
10. Hasil TEM sampel CoFe2O4 + PEG-4000
Berdasarkan gambar
ambar 5.10 terlihat perbedaan morfologi nanopartikel
CoFe2O4 sebelum dan sesudah dienkapsulasi PEG-4000. Morfologi nanopartikel
CoFe2O4 terlihat teraglomerasi sebelum terlapisi PEG-4000 (gambar 5.3).
5.3)
Sedangkan, setelah enkapsulasi terlihat lebih terdispersi (tersebar) dan aglomerasi
nanopartikel jauh berkurang. Dengan nanopartikel terdispersi serta minimnya

69

aglomerasi maka nanopartikel tidak akan beragregasi yang bisa menyebabkan


ukuran nanopartikel meningkat. Pada aplikasi purifikasi, semakin besar
nanopartikel akan menyebabkan luas permukaannya semakin sempit dan akan
menurunkan kapasitas adorpsi logam.
CoFe2O4 dienkapsulasi PEG-4000 pola cincin difraksi menunjukkan
terdapat bidang (440), (511), (111), (400), (311), dan (220). Hal ini memperkuat
hasil pengujian XRD bahwa setelah dienkapsulasi PEG-4000 nanopartikel masih
berada pada fasa CoFe2O4.
Profil cincin difraksi setelah dienkapsulasi terlihat cincin-cincin diskrit yang
lebih rapat, ini menunjukkan bahwa sampel setelah dienkapsulasi dengan PEG4000 semakin polikristal. Hal ini memperkuat hasil XRD bahwa setelah
enkapsulasi terdapat tambahan puncak baru yang berarti semakin banyak puncak
semakin polikristal.
Distribusi ukuran partikel CoFe2O4 dienkapsulasi PEG-4000 disajikan pada
gambar 5.11.

40
35

Frekuensi relatif (%)

30
25
20
15
10
5
0
8

10

11

12

13

14

15

Ukuran butir (nm)

Gambar 5.11. Distribusi ukuran nanopartikel CoFe2O4 + PEG-4000


Ukuran nanopartikel CoFe2O4 meningkat setelah enkapsulasi dengan PEG4000 terlihat pada gambar 5.11. Sebelum dienkapsulasi distribusi ukuran rata-rata

70

nanopartikel CoFe2O4 adalah 90,3 nm (gambar 5.4). Sedangkan setelah


enkapsulasi PEG-4000 menjadi 100,3 nm.
5.10.3 Pengukuran sifat kemagnetan CoFe2O4 dengan Vibrating Sample
Magnetometer (VSM)
Perubahan sifat kemagnetan sampel sesudah dienkapsulasi PEG-4000 bisa
dilihat dengan hasil VSM bisa disajikan dalam bentuk kurva histerisis pada
gambar 5.12.

30

Magnetisasi (emu/g)

20

10

-10

133,45 Oe

-20

-30
4
-1,5 10

-1 10

-5000

5000

1 10

1,5 10

H (Oe)

Gambar 5.12. Kurva histeresis pengujian VSM CoFe2O4+PEG-4000 (1:1)


Nanopartikel CoFe2O4+PEG-4000 ini memiliki nilai magnetisasi remanen
2,57 emu/gram, magnetisasi saturasi 23,84 emu/gram, dan medan koersif sebesar
133,45 Oersted. Berdasarkan kurva histeresis pada gambar 5.12 diperoleh nilai
magnetisasi saturasi dan remanen untuk sampel yang dimodifikasi dengan PEG4000 terjadi penurunan nilai dibanding sebelum dimodifikasi. Penurunan nilai
saturasi dan remanen ini disebabkan karena penambahan PEG-4000 pada
nanopartikel.

PEG-4000

merupakan

polimer

dengan

sifat

kemagnetan

paramagnetik. Hal ini menyebabkan terjadi pelemahan pada magnetisasinya.


Selain itu kehadiran fasa -Fe2O3 dan -FeO(OH) yang bersifat antiferromagnetik

71

serta -FeOOH yang bersifat paramagnetik yang terlihat pada hasil pangujian
XRD juga memberikan andil dalam penurunan nilai magnetisasi pada sampel.

Gambar 5.13. Skema ilustrasi hubungan ukuran nanopartikel dengan


koersivitas (Zhao, 2007)
Nilai

koersivitas

pada

CoFe2O4

mengalami

peningkatan

setelah

dienkapsulasi dengan PEG-4000 yaitu dari 85,10 Oe menjadi 133,45 Oe.


Peningkatan nilai koersivitas ini terkait peningkatan ukuran butir nanopartikel
setelah dilakukan enkapsulasi, seperti yang telah dipaparkan pada analisa hasil
XRD dan TEM bahwa setelah dienkapsulasi ukuran nanopartikel bertambah.
Hubungan antara koersivitas dengan ukuran nanopartikel seperti yang ditunjukan
pada gambar 5.13. Jika ukuran nanopartikel dibawah ukuran kritis single domain
maka ketika ukuran partikel nanopartikel bertambah besar koersivitasnya naik.
Pada kasus single domain, nilai koersivitas meningkat dengan ukuran
partikel yang semakin besar. Pada material magnetik, ukuran partikel yang besar
memiliki energi anisotropi yang besar yang mana dapat dikaitkan dengan teori
Stoner-Wohlfarth untuk kasus partikel single domain yaitu E A KV , dengan V
adalah volume partikel. Teori tersebut menunjukkan bahwa ukuran partikel yang
lebih besar maka volume partikel akan lebih besar dan energi anisotropi
meningkat. Pada keadaan tersebut momen magnet pada nanopartikel CoFe2O4
akan sulit untuk termagnetisasi oleh medan eksternal dan ketika didemagnetisasi

72

maka nilai koersivitasnya akan lebih cenderung lebih besar. Meski terjadi
kenaikan koersivitas namun sampel ini masih memiliki kecenderungan
superparamagnetik mengingat nilai koersivitasnya yang masih jauh lebih kecil
dibanding dengan ukuran bulk yaitu 980 Oe (Kim dkk, 2003).
Penurunan nilai saturasi dan remanen serta peningkatan koersivitas ini tentu
saja menjadi kekurangan dari hasil modifikasi permukaan nanopartikel mengingat
dalam banyak aplikasi seperti pada biomedis semakin tinggi tingkat saturasi maka
akan semakin efektif. Pada aplikasi purifikasi melemahnya magnetisasi ini akan
menghambat dalam proses pemisahan endapan sedimen dengan larutan hasil
purifikasi. Sehingga akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengendap.
Selain itu ketika dilakukan pemisahan larutan dengan endapannya ada
kemungkinan nanopartikel yang sudah mengendap ikut terbawa oleh larutan.
Seperti yang dilaporkan oleh Xu dkk (2014), bahwa sampel adsorben
CoFe2O4/activated carbon dengan Ms 5,11 lebih cepat merespon terhadap magnet
luar (60 menit) dibandingkan dengan sampel dengan Ms 17,43 emu/g (90 menit).
Namun meski begitu penambahan PEG-4000 ini memberikan keuntungan pula
sebagai bahan pelapis nanopartikel agar tidak terbentuk agregat akibat adanya
aglomerasi,

meningkatkan

derajat

kristalinitas,

menyeragamkan

bentuk,

menambah stabilitas kimia, dan biokompatibilitas. Untuk mengurangi efek


perubahan nanopartikel dapat dilakukan dengan mengurangi konsentrasi PEG4000 yang digunakan sehingga diperoleh lapisan PEG-4000 yang lebih tipis dan
lebih efektif.
5.10.4 Karakterisasi CoFe2O4 menggunakan Fourier Transform Infra Red
(FTIR)
Berdasarkan karakterisasi FTIR dari sampel yang telah dimodifikasi
diperoleh spektrum seperti pada gambar 5.14. Berdasarkan gambar 5.14
memperlihatkan adanya perbedaan spektrum serapan antara sampel yang telah
dimodifikasi dengan PEG-4000 dengan sampel yang belum dimodifikasi PEG4000 dan juga PEG-4000 murni.

73

(c) CoFe2O4+PEG-4000
(b) PEG-4000
(a) CoFe2O4

(c)

(b)

(a)
4000

3500

3000

2500

2000

1500

1000

500

-1

Bilangan Gelombang (cm )


Gambar 5.14. Spektrum FTIR CoFe2O4, PEG-4000, dan sampel CoFe2O4
yang dienkapsulasi PEG-4000.
Dalam pengujian FTIR terlihat bahwa terdapat puncak-puncak serapan yang
beranekaragam dari sampel uji. Puncak-puncak tersebut menunjukkan gugusgugus serapan sampel yang merupakan karakter dari adanya vibrasi molekul
dalam sampel.
Pada pengujian FTIR pada sampel nanopartikel CoFe2O4 sebelum dilakukan
modifikasi terlihat puncak-puncak serapan pada bilangan gelombang 3425,58,
1627,92, 601,79, dan 408,91 cm-1. Pada bilangan gelombang 3425,58 cm-1
merupakan karakter dari gugus serapan O-H (hidroksida) yang dihasilkan dari
vibrasi stretching antara atom O dengan atom H. Sementara pada bilangan
gelombang 1627,92 cm-1 merupakan gugus serapan O-H bending. Adanya gugus
serapan O-H stretching dan bending ini terjadi karena saat ukuran nanometer,
CoFe2O4 memiliki rasio luas permukaan dan volume yang tinggi. Dengan
demikian, posisi sebagian besar atom-atomnya ada pada permukaan. Hal inilah
yang menyebabkan atom besi sebagai asam Lewis memiliki kecenderungan untuk
membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan molekul air di sekitarnya. Proses

74

ini akan menghasilkan partikel yang terselubungi gugus hidroksil (O-H).


Sementara pada bilangan gelombang 601,79 dan 408,91 cm-1 merupakan gugus
serapan yang berasal dari vibrasi stretching antara ion logam (Fe dan Co) dengan
oksigen (M-O). Pada bilangan gelombang 601,79 cm-1 merupakan gugus serapan
M-O pada posisi tetrahedral sedangkan 408,91 cm-1, M-O pada posisi oktahedral.
Pada sampel PEG-4000 murni menunjukkan puncak-puncak serapan pada
bilangan gelombang 3448,72; 1635,64; 1465,90; 1342,46; 1280,73; 1242,16;
1111,00; 956,69 dan 840,96 cm-1 yang merupakan karakteristik PEG-4000 (De
Palma dkk 2007; Phadatare dkk, 2011). Hasil analisa puncak serapan FTIR
disajikan pada tabel 5.7.
Tabel 5.7. Jenis ikatan (gugus fungsi) dan bilangan gelombang
CoFe2O4, PEG-4000, dan CoFe2O4+PEG-4000
CoFe2O4+PEGNo. Gugus fungsi CoFe2O4 PEG-4000
4000
1
O-H
34125,58
3448,72
3425,58
2
C-H
2885,51
2885,51
3
O-H
1627,92
1635,64
1627,62
4
C-H
1465,90
1465,90
5
C-H
1342,46
1342,46
6
C-H
1280,73
1280,73
7
C-H
1242,16
1242,16
8
C-O-C
1111,00
1111,00
9
C-H
956,69
956,69
10 C-H
840,96
840,96
11 M-Otet
601,79
586,36
12 M-Ooct
408,91
401,19
13 M-O
354,90
Keterangan : M=ion logam, O= oksigen, C= karbon, H= hidrogen

pada sampel
Jenis
vibrasi
Streching
Streching
Bending
Bending
Bending
Bending
Bending
Streching
Bending
Bending
Streching
Streching
Streching

Pada pengujian nanopartikel CoFe2O4 yang telah dimodifikasi PEG-4000


menunjukkan terdapat gugus serapan 3425,58; 2885,51; 1627,92; 1465,90;
1342,46; 1280,73; 1242,16; 1111,00; 956,69 dan 840,96 cm-1 yang merupakan
gugus serapan yang sama yang ditemukan pada PEG murni (De Palma dkk, 2007 ;
Ilie dkk, 2010; Phadatare dkk, 2011). Pada puncak serapan 3425,58 dan 1627,92
cm-1 merupakan puncak serapan O-H stretching dan bending. Pada 1465,90;
1342,46; 1280,73; 1242,16; 956,69 dan 840,96 cm-1 merupakan bilangan

75

gelombang gugus fungsi serapan C-H2 dari vibrasi bending. Untuk bilangan
gelombang 1342,46 cm-1 adalah wagging, 1280,73 dan 1242,16 cm-1 adalah
twisting sementara 956,69 cm-1 dan 840,96 cm-1 adalah rocking (De Palma dkk,
2007; Phadatare dkk, 2011). Selanjutnya gugus serapan C-O-C ditunjukkan oleh
puncak serapan pada bilangan gelombang 1111,0 cm-1 (De Palma dkk, 2007; Ilie
dkk, 2010). Pada puncak serapan 2885,5 cm-1 yang merupakan puncak serapan
CH2 stretching asimetris terlihat adanya penurunan ketajaman puncak serapan,
yang memperkuat

bahwa PEG telah

berhasil melapisi

(meng-coating)

nanopartikel CoFe2O4 (Phadatare dkk, 2011).


Selanjutnya pada bilangan gelombang 586,36 cm-1 dan 401,19 cm-1
merupakan gugus serapan karakteristik dari CoFe2O4 yaitu gugus fungsi M-O
tetrahedral dan oktahedral. Pada bilangan gelombang untuk gugus fungsi M-O
untuk sampel yang telah dimodifikasi ternyata terdapat pergeseran puncak
serapan.

Hal

ini terjadi

karena adanya penambahan

PEG-4000 yang

menyebabkan perubahan frekuensi vibrasi dari molekul CoFe2O4. Pada sampel


ini juga ditemukan puncak baru yaitu puncak pada bilangan gelombang 354,90
cm-1 yang dianalisa sebagai puncak dari vibrasi antara ion logam dengan oksigen
(M-O). Kemunculan puncak baru ini mengindikasikan bahwa terdapat atom Fe
oktahedral yang berada dipermukaan melakukan serapan terhadap PEG.
Kemunculan puncak serapan baru yang berkaitan dengan vibrasi ikatan Fe-O
menunjukkan terjadinya serapan PEG pada permukaan nanopartikel CoFe2O4 atau
terjadi ikatan antara CoFe2O4. Jika dihubungkan dengan hasil analisa XRD,
adanya puncak serapan baru ini diprediksi muncul dari vibrasi pada fasa FeO(OH) dan -FeO(OH) pada sampel. Di mana fasa -FeO(OH) dan -FeO(OH)
salah satunya memiliki gugus serapan antara 365-350 cm-1 (Gehring dan
Hofmeister, 1994). Berdasarkan hasil analisa pengujian FTIR ini menunjukkan
bahwa nanopartikel CoFe2O4 telah berhasil terlapisi oleh PEG-4000.

76

5.10.5 Pengaruh Enkapsulasi Adsorben dengan PEG-4000 Terhadap


Penurunan Kadar Ion Logam Cu(II), Fe(II), dan Ni(II)
Partikel berukuran nanometer memiliki luas permukaan kontak yang lebih
besar dibandingkan ukuran bulk pada volum yang sama (lihat ilustrasi pada
gambar 5.15 dan 5.16). Ukuran partikel yang kecil memiliki luas permukaan
kontak yang lebih besar sehingga dapat mengadsorpsi ion logam lebih banyak
(Yean dan Cong, 2005).
Tabel 5.8. Pengaruh enkapsulasi adsorben dengan PEG-4000 terhadap
penurunan kadar ion logam
Adsorben
Para
Raw
meter
material
CoFe2O4
CoFe2O4 +PEG-4000
Rata-rata
2,730,01
8,470,04
(ppm)
Cu
338,361,70
Prosentase
(99,070,00)%
(97,500,02)%
penurunan
Rata-rata
Ttd
Ttd
(ppm)
Fe
276,721,87
Prosentase
(100,000,00)%
(1000,00)%
penurunan
Rata-rata
0,340,08
1,310,04
(ppm)
Ni
350,582,13
Prosentase
(99,630,00)%
(99,910,01)%
penurunan
*ttd = tidak terdeteksi/dibawah deteksi alat
Pada tabel 5.8 menunjukan pengaruh enkapsulasi adsorben terhadap
kapasitas adsorpsi. Setelah adsorben dienkapsulasi PEG-4000 kapasitas adsorpsi
menurun dari 99,07% menjadi 97,50% untuk ion logam Cu(II) dan dari 99,91%
menjadi 99,63% untuk ion logma Ni(II). Adsorben nanopartikel CoFe2O4 setelah
dienkapsulasi PEG-4000 memiliki ukuran partikel sebesar 10,62 nm yang lebih
besar dibandingkan sebelum dienkapsulasi PEG-4000 yaitu 8,45 nm. Adsorben
dengan ukuran partikel yang besar memiliki luas permukaan kontak yang kecil
dibandingkan ukuran partikel yang lebih kecil pada volume yang sama. Luas
permukaan yang kecil ini akan mengurangi situs aktif dari adsorben sehingga
kapasitas adsorpsinya akan menurun.

77

Gambar 5.15. Ilustrasi hubungan antara ukuran dan luas total permukaan
partikel

Gambar 5.16. Ilustrasi penyerapan logam pada permukaan partikel dengan


ukuran tertentu

78

Dari kelima variasi terlihat adanya kecenderungan yang sama pada urutan
prosentase penurunan konsentrasi ion logam di dalam limbah. Ion logam Fe(II)
dari ke lima variasi merupakan ion logam yang paling besar diserap oleh adsorben
dengan prosentase penurunan konsentrasi mencapai 100%. Jika diurutkan dari
yang paling besar diadsorpsi adalah Fe(II) > Ni(II) > Cu(II). Saat proses adsorpsi
(pengadukan) ada kemungkinan tidak semua ion logam adsorbat (terutama ion
logam Fe(II)) teradsorpsi pada permukaan adsorben.
Proses pemisahan endapan (adsorben yang sudah mengikat adsorbat)
dengan larutan hasil adsorpsi dilakukan dengan menerapkan medan magnet luar.
Adsorben magnetik CoFe2O4 merupakan material ferrimagnetik seperti yang
sudah dijelaskan pada BAB III, namun ketika ukurannya nano muncul sifat baru
yaitu sifat superparamagnetik. Ketika material superparamagnetik diberi medan
magnet luar, material ini akan memiliki sifat magnet yang kuat (menjadi magnet).
Oleh karena itu adsorben CoFe2O4 yang telah menjadi magnet akan dapat menarik
adsorbat yang yang memiliki sifat magnet juga. Adsorbat (Fe(II), Cu(II) dan
Ni(II)) ini memiliki sifat magnet yang berbeda. Walaupun Fe(II) dan Ni(II)
merupakan material ferromagnetik, namun dilihat dari elektron valensinya ion
logam Fe(II) memiliki sifat magnet yang lebih kuat daripada ion logam Ni(II).
Sedangkan ion logam Cu(II) merupakan material paramagnetik. Oleh karena itu
pada saat proses pengendapan dengan diberi medan magnet luar, ion logam Fe(II)
akan tarik pertama dan diikat kuat pada permukaan adsorben magnetik CoFe2O4
dibandingkan ion logam yang lain.

BAB VI
KESIMPULAN
6.1 Kesimpulan
1.

Telah berhasil dilakukan sintesis nanopartikel CoFe2O4 dengan metode


kopresipitasi.

2.

Nanopartikel cobalt ferrite (CoFe2O4) secara efektif dapat digunakan


sebagai adsorben untuk menurunkan kadar ion logam berat Cu(II), Fe(II),
dan Ni(II) dalam limbah cair karena memiliki luas permukaan kontak
yang besar.

3.

Semakin tinggi suhu akan meningkatkan adsorpsi ion logam dan


memcapai maksimum pada suhu 60 oC. Pengaruh lama pengadukan
terhadap adsorpsi ion logam berfluktuatif. Prosentase penurunan kadar
logam terhadap variasi lama pengadukan untuk logam Cu(II) maksimum
pada lama pengadukan 5 jam, sedangkan untuk logam Ni(II) pada lama
pengadukan 3 jam. Semakin tinggi konsentrasi adsorben akan
meningkatkan sisi aktif pada permukaan adsorben, sehingga akan
meningkatkan kapasitas adsorpsi. Proses readsorpsi dapat meningkatkan
kapasitas adsorpi hingga 100%. Namun pelapisan adsorben CoFe2O4
dengan PEG-4000 menurunkan kapasitas adsorpi ion logam, karena
berkurangnya situs aktif pada permukaan adsorben.

4.

Berdasarkan rata-rata penurunan kadar ion logam yang relatif tinggi


dapat disimpulkan bahwa metode adsorpsi secara efektif dapat digunakan
untuk menyisihkan ion logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) dari limbah cair
buatan. Dari hasil perhitungan pada setiap variasi dapat disimpulkan
urutan dari adsorpsi terbesar yaitu ion logam Fe(II)>Ni(II)>Cu(II).

6.2 Saran
Untuk penelitian selanjutnya perlu dikaji secara spesifik mekanisme
interaksi yang terjadi antara adsorben dan adsorbat serta melakukan analisis lebih
mendalam untuk mencari faktor eksternal (pH, suhu, ukuran partikel, dll) mana

79

80

yang paling dominan berpengaruh terhadap kapasitas adsorpsi pada masingmasing ion logam Cu(II), Fe(II) dan Ni(II) secara terpisah.

DAFTAR PUSTAKA
Abhilash, M., 2010, Potential Applications of Nanoparticles, International
Journal of Pharma and Bio Science, vol.1, pp.1.
Ai, L., You, Z. dan Jiang, J., 2011, Removal of Methylene Blue from Aqueous by
Montmorillonite/CoFe2O4 Composite with Magnetic Separation
Performance, Journal of Desalination, vol.266, pp.72-77.
Alvarez, G.S., 2004, Syntesis, Characterisation, and Applications of ron Oxide
Nanoparticles, Doctoral Thesis, Stokholm, Sweden.
Aritonang, S. P., 2009, Studi Penggunaan Kitosan Nanopartikel sebagai Bahan
Penyulut pada Zeolit Alam untuk Menurunkan Konsentrasi Ion Cu(II)
dalam Larutan Teh Hitam, Tesis, Universitas Sumatra Utara.
Atkins., 1997, Removing Heavy Metals From Wastewater, United States of
America : Maryland University.
Callister, W. dan Rethwisch, D.G., 2009, Materials Science And Enginering An
Introduction Eight Edition, United State Of America, pp.800-823.
Carabante, I., 2012, Arsenic (V) Adsorption On Iron Oxide: Implification For Soil
Remediation
and
Water
Purification,
Doctoral
thesis.
Universitetstryckreriet, Lulea.
Carlos, L., Einschlag, F. S. G., Gonzales, M. C. dan Martire, D. O., 2013,
Applications of Magnetite Nanoparticles for Heavy Metal Removal from
Wastewater: Article, Universidad Nacional de La Plata, Argentina.
Coey, J.M.D., 2010, Magnetism and Magnetic Materials, United States of
America, Cambridge University Press.
Datta, A., 2007, Characterization of Polyethylene Glycol Hydrogels for
Biomedical Application, Thesis, University of Pune.
Day, R.A.Jr. dan Underwood, A.L., 2001, Analisis Kimia Kuantitatif
(ditejemahkan oleh Iis Sopyan), Edisi 6, Penerbit Erlangga, Jakarta.
De Palma, R., Peeters, S., Van Bael, M.J., Van den Rul, H., Bonroy, K., Laureyn,
W., Mullens, J., Borghs, G., dan Maes, G., 2007, Silane Ligand
Exchange to Make Hydrophobic Superparamagnetic Nanoparticles water
Dispersible, Chemistry of Materials, vol.19, no.7, pp.1821-1831.
Dhermendra, K. dan Tiwari., 2008, Application of Nanoparticles in Waste Water
Treatment, World Applied Source Journal, vol. 3, pp. 417-433.
Dey, A., Singh, R. dan Purkait, M. K., 2014, CoFe2O4 Nanoparticles Aggregated
Schwertmannite: A Novel Adsorbent for The Efficient Removal of
Arsenic, Jurnal of Water Process Engineering, vol. 3, pp.1-9.
Erenturk, S., dan Malkoc, E., 2007, Removal of Lead(II) by Adsorption Onto
Viscum Album L.: Effect of Temperature and Equilibrium Isotherm
Analyses, Applied Surface Science, vol. 253, pp. 4727-4733.
Foner, S., 1985, Versatile and Sensitive Vibrating-Sample Magnetometer, Rev.
Sci. Instrum, vol. 30, No. 7, pp. 548-557.
Gehring, A.U., dan Hofmeister, A.M., 1994, The Transformation of Lepidocrocite
During Heating: A Magnetic and Spectroscopy Study, Clays and Clay
Minerals, vol.42, no.4, pp.409-415.

81

82

Gubin, S.P., 2009, Magnetic Nanoparticles, Wiley-VCHVerlag GmbH & Co.


KGaA, Weinheim.
Huang, Y., Weiqing, W., Qiming, F. dan Faqin, F., 2013, Preparation of Magnetic
Clinoptilolite/CoFe2O4 Composites for Removal of Sr2+ from Aqueous
Solution: Kinetic, Equilibrium, and Thermodynamic Studies, Journal of
Saudi Chemical Society, article,pp.1-9.
Hui, C., Shen, C., Yang, T., Bao, L., Tian, J., Ding, H., Li, C. dan Gao, H. J.,
2008, Large Scale Fe3O4 Nanoparticle Soluble in Water Synthesized by
a Facile Method, J. Phys. Chem, vol. 112, pp. 11336-11339.
Hu, J., Trene, M.C.L., Chen, G., 2007, Conparative Study of Various Magnetic
Nanoparticles For Cr(VI) Removal, Science Direct, Separation
Purification Technology, vol. 56, pp. 249-156.
Joy, P. A. dan Bhame, S. D., 2007, Enchanced Magnetostrictive Properties of
CoFe2O4 Synthesized by an Auto Combustion Method, Sensors and
Actuators A: Physical, vol.137, pp.256-261.
John, S., Kuruvilla, M. dan Joseph, A., 2013, Surface Morphological and
Impedance Spectroscopic Studies on The Interaction of Polyethylene
Glycol (PEG) and Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) with Mild Steel in Acid
Solutions, Springer, vol. 39, pp. 1169-1182.
Kapoor, T. V. dan D.R. Cullimore., 1999, Removal of Heavy Metals Using the
Fungus Aspergillus Niger, Bioresource Technology, Sciencedirect,
vol.70, pp.95.
Kim, D. S., 2003, The Removal by Crab Shell of Mixed Heavy Metal Ions in
Aqueous Solution, Bioresource Technology, vol. 87, pp. 355.
Kim, Y.I, Kim, D., dan Lee, C.S., 2003, Synthesis and Characterization of
CoFe2O4 Magnetic Nanoparticles Prepared by Temperature-controlled
Coprecipitation Method, Physica B, vol.337, pp. 4251.
Lelifajri, 2010, Adsorpsi Ion Logam Cu(II) Menggunakan Lignin dari Limbah
Serbuk Kayu Gergaji, Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, vol. 7,
pp. 126-129.
Li, J., Hu, J., Sheng, G., Zhao, G., dan Huang, Q., 2009, Effect of pH, Ionic
Strength, Fereign Ions and Temperature On The Adsorption of Cu(II)
From Aqueous Solution to GMZ Bentonite, Colloids and Surface A:
Physicochemical And Engineering Aspects, vol. 349, pp.195-201.
Lu, A.H., Salabas, E. L.dan Schuth, F., 2007, Magnetic Nanoparticles: Syntesis,
Protection, Functionalization,and Application, Angenwadte Chemistry
of Sciences, vol. 46, pp. 12-14.
Mane, V.S., Mall, I.D.,dan Srivastava, V.C., 2007, Kinetic and equilibrium
isotherm studies for the adsorptive removal of brilliant green dye from
aqueous solution by rice husk ash. Journal of Environmental
Management, vol.84, pp.390400.
Mahmudah, D., 2014, Studi Adsorpsi Logam Cu(II), Mn(II) dan Ni(II) dalam
Artificial Limbah Cair dengan Menggunakan Asorben Nanopartikel
Magnetit (Fe3O4), Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

83

Moreno, J. C., Gomez, G. R. dan Giraldo L., 2010, Removal of Mn, Fe, Ni, and
Cu Ions from Wastewater using Cow Bone Charcoal, Journal Materials,
vol. 3, pp. 452-466.
Moussy, J. B., 2013, From Epitaxial Growth of Ferrite Thin Films to SpinPolarized Tunneling, IOP Publishing, Jurnal of Physics D:Applied
Phyics, vol. 46, pp.1-27.
Naalweh, F.M.M., 2013, Synthesis of Nano-Sized Cobalt Oxide Nano-Particles
Stabilized in Surfactant and Polymer Matrix and their Magnetic
Properties, Tesis, An-Najah National University, Palestine.
Phadatare, M.R., 2012, Studies on Polyethylene Glycol Coating on NiFe2O4
Nanoparticles for Biomedical Applications, Journal of Magnetism and
Magnetic Materials, vol.324, pp.770-772.
Panchal, N.R., 2011, Study and Characterisation of Some Hexa-Ferrite Systems,
Doctoral Thesis, Gujarat University, Ahmedabad, India.
Pavia, L. D., Lampman, M. G., Kriz, S. G., dan Vyvyan, R.J., 2009, Introduction
to Spectroscopy Fourth Edition. Department of Chemistry, Western
Washington University, Bellingham, Washington.
Paliwal, V., Nasrazadani, S., Banerjee, R., 2006, Study of lead sorption on
magnetite at high temperatures, Tesis, University of North Texas, USA.
Rahmi, 2009, Aplication of Modified Khitosan for Adsorbent Ionic Cu2+ Metal in
Diesel Oil, Natural Jurnal, vol 9, no.2.
Ren, Y., Abbood, H. A., He, F., Peng, H., Huang, K., 2013, Magnetic EDTAModified Chitosan/SiO2/Fe3O4 Adsorbent: Preparation, Characterization,
and Application in Heavy Metal Adsorption, Chemical Engineering
Journal, Elsevier, vol.226, pp.300-311.
Riyanto, A., 2012, Sintesis Nanopartikel Fe3O4 dan Potensinya sebagai Material
Aktif pada Permukaan Sensing Biosensor Berbasis SPR, Tesis, Program
Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Santhos, C., Kollu, P., Felix, S., Velmurugan, V., Jeong, S. K., dan Grace, A. N.,
2015, CoFe2O4 and NiFe2O4@graphene Adsorbents for Heavy Metal
Ions-Kinetics and Thermodynamic Analysis, RSC Advances, vol.5,
pp.28965-28972.
Setiadi, E. A., 2013, Fabrikasi dan Karakterisasi Struktur Kristal dan Sifat
Kemagnetan Nanopartikel Cobalt Ferrite (CoFe2O4) Beserta Proses
Fungsionalisasinya dengan PEG-4000, Tesis, Program Pascasarjana,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Shen, Y. F., Tang, J., Nie, Z.H., Wang, Y.D., Ren, Y. dan Zuo, L., 2009, Tailoring
Size and Structural Distortion of Fe3O4 Nanoparticles for the
Purification of Contaminated Water, Bioresource Technology, vol.100,
pp.4139-4146.
Sulanjari, A., 2013, Kajian Sifat Kemagnetan pada Nanopartikel Cobalt Ferrite
Dienkapsulasi Polyethylene Glykol dan Silika, Tesis, UGM.
Smallman, R.E. dan Bishop, R.J., 1999, Modern Physics Metallurgy and
Materials Engineering, Great Britain, Bath Press.
Shen, T., 1994, Superparamagnetic Contrast Agents for Magnetic Resonance
Imaging, Doctoral Thesis, Massachusitts Institute of Technology, USA.

84

Spaldin, N.A., 2003, Magnetic Materials: Fundamentals and Applications, New


York, Cambridge University Press.
Syarifuddin, N., 1994, Ikatan Kimia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Tauxe, L., Gee., J.S., dan Staudigel, H., 1998, Flow Direction in Dikes From
Anisotropi of Magnetic SusceptibilitasData: The Bootsrap Way, Journal
of Geophysical Research, Vol.103.
Tewari, P.H., dan Mclean, A.W., 1971, Temperature Dependence of Point of Zero
Charge of Alumina and Magnetite, Journal of Coloid and Interface
Science, vol. 40, no. 2, pp. 267-272.
USDA NRCS., 2000, Heavy Metal Soil Contamination.
http://www.il.nrcs.usda.gov/engineer/urban/PDF/Appendix_B/U03.PDF.
(Diunduh pada tanggal 1 Maret 2014)
Wei, J., Xiaofei, J., Qi, L., Zhanshaung, L., Lianhe, L. dan Jun, W., 2014,
Magnetic Separation of Uranium by CoFe2O4 Hollow Spheres, Chemical
Engineering Journal, Elsevier, vol. 241, pp.228-234.
Willett, T, C., 2009, Magnetic Adsorbents Displaying Switchable Ion-Exchange
Behaviour, Tesis, University of Birmingham.
Wu, W., He, Q. dan Jiang., C., 2008, Magnetic Iron Oxide Nanoparticles: Syntesis
and Surface Functionalization Strategies, Journal of Nanoscalereslett,
vol. 3, pp.397415.
Xu, C., 2009, Modification of Superparamagnetic Nanoparticles for Biomedical
Applications, Dissertation, Brown University, Providence, Rhode Island.
Xu, J., Xin, P., Gao, Y., Hong, B., dan Jin, H., 2014, Magnetic Properties and
Methylene Blue Adsorptive Performance of CoFe2O4/Actived Carbon
Nanocomposites, Materials Chemistry and Physics, Elsevier,
vol.147,pp.915-919.
Zhang, F., Su, Z., Wen F. and Li, F., 2008, Shyntesis and Characterization of
Polystyrene-graft Magnetic Nanoparticles, Colloid Polym, vol.286, pp.
837-841.
Zhang, Y., Liangguo, Y., Weiying, X., Xiaoyao, G., Limei, C. dan Liang, G.,
2014, Asorption of Pb(II) an Hg(II) from Aqueous Solution Using
Magnetic CoFe2O4-Reduced Graphene Oxide, Journal of Molecular
Liquids, Elsevier, vol.191, pp.177-182.
Zhao, L., Yang, H., Cui, Y., Zhao, X. dan Feng, S., 2007, Study of Preparation
and Magnetic Properties of Silica-Coated Cobalt Ferrite
Nanocomposites, Springer, vol.42, pp.4110-4114.
Zhaohui, Z., 2004, Formation and Properties of Ferrite-Based Nanoparticles and
Nanocomposite, Doctoral Thesis, National University of Singapore.
Zhou, L., Ji, L., Ma, P.C., Shao, Y., Zhang, H., Gao, W., dan Li, Y., 2014,
Developmet of Carbon Nanotubes/CoFe2O4 Magnetic Hybrid Material
For Removal of Tetrabromobisphenol A and Pb(II), Journal of
Hazardous Materials, Elsevier, vol. 265, pp. 104-114.
Yean, S. dan Cong, L. 2005. Effect of Magnetite Particle Size on Adsorption and
Desorption of Arsenite and Arsenate, Journal of Material Research
Society, vol.20.

LAMPIRAN I
ANALISA PERHITUNGAN
A.

Perhitungan Tetapan Kisi dari XRD


Perhitungan tetapan kisi dihitung dengan menggunakan persmaan Bragg,
d

n
2 sin

(6.1)

a d h2 k 2 l 2

n
2 sin

(6.2)

h2 k 2 l 2

(6.3)

(6.4)

n
h 2 k 2 l 2 cos
a
2
2 sin

(6.5)

Dengan,
n = urutan difraksi (dalam hal ini n = 1)
d = jarak antar bidang Bragg
= panjang gelombang sinar-X
= sudut hamburan difraksi,
= ralat didapatkan melalui program origin8
a = parameter kisi CoFe2O4
hkl = indeks Miller yang menggambarkan bidang kristal
Tabel 6.1. Parameter kisi CoFe2O4 dan CoFe2O4+PEG-4000
Nama sampel

Sin

h2 k 2 l 2

aa ()

()
CoFe2O4

17,6850,005 0,3037

1,54

3,3166

8,4090,138

CoFe2O4+PEG-

17,7670,012 0,3051

1.54

3,3166

8,3710,333

4000

85

86

B.

Perhitungan Estimasi Ukuran Diameter Butir dari XRD


t

k
D cos

(6.6)

Dengan,
t = ukuran butir kristal
k = konstanta Scherrer (0,9)
= panjang gelombang sinar-X
D = lebar setengah puncak (full width at half maximum = fwhm) spektrum
puncak (dalam hal ini puncak bidang (311))
Tabel 6.2. Estimasi ukuran butir CoFe2O4 dan CoFe2O4+PEG-4000
Nama

Cos

()

D(rad)

t t
(nm)

sampel
CoFe2O4

17,6850,005 0,9881

1,54

0,9

0,01659

8,450,03

CoFe2O4+P

17,7670,012 0,9523

1,54

0,9

0,013703 10,620,08

EG-4000
C.

Perhitungan Estimasi Volume Fasa dari XRD


Fasa yang terdeteksi oleh spektrum XRD akan dihitung dengan metode

Hanawalt yang dirumuskan,


% volume fasa yang dicari

int ensitas fasa yang yang dicari


100%
jumlah int ensitas semua fasa

(6.7)

Tabel 6.3 Estimasi fasa Ferit


Intensitas Puncak
Sampel
CoFe2O4
CoFe2O4+
PEG-4000

(111)

(220)

(311)

(400)

(511)

(440)

29,19

98,65

42,19

51,87

58,09

Intensitas
ferrite
(a.u.)
280,01

65,70

111,00

145,71

48,74

45,83

69,41

486,41

87

D. Perhitungan Ukuran Diameter Butir dari TEM


Perhitungan pengukuran butir TEM, dengan melihat distribusi ukurannya
Tabel 6.4. Distribusi ukuran CoFe2O4
Rentang

Pembulatan

Frekuensi

Frekuensi relatif

ukuran(nm)

(nm)

(butir)

(%)

6,5-7,4

7,5-8,4

10

8,5-9,4

19

38

9,5-10,4

10

13

26

10,5-11,4

11

18

11,5-12,4

12

50

100

Jumlah

Tabel 6.5. Distribusi ukuran CoFe2O4+PEG-4000


Rentang

Pembulatan

ukuran(nm)

(nm)

7,5-8,4

5,00

8,5-9,4

11,67

9,5-10,4

10

21

35

10,5-11,4

11

14

23,33

11,5-12,4

12

13,33

12,5-13,4

13

6,67

13,5-14,4

14

3,33

14,5-15,4

15

1,67

50

100

Jumlah

Frekuensi (butir)

Frekuensi relatif
(%)

88

Rata-rata diameter butir dan ralat pengukuran dihitung dengan persamaan


berikut:

x x x
dengan ,

x i
n

dan

1 nxi2 x i
n
n 1

(6.8)

Dimana x = diameter rata-rata, n = banyak pengukuran, dan x =


ketidakpastian.
E.

Perhitungan Indeks Miller Cincin Difraksi dari TEM


Penentuan bidang-bidang kristal melalui cincin difraksi dilakukan dengan

menggunakan persamaan,

Rd L

a2
d 2
h k2 l2

(6.9)

dengan,
R = jarak cincin difraksi dari pusat lingkaran
d = jarak antar bidang Bragg
= panjang gelombang yang digunaan pada TEM ( = 3,35 x 10-3 nm)
L = jarak lensa ( 284,29 nm )
a = tetapan kisi
hkl = indeks Miller

(6.10)

89

Sampel CoFe2O4

5
4
1

Gambar 6.1
6 Cincin difraki sampel CoFe2O4
Tabel 6.6.
6.6 Indeks Miller sampel CoFe2O4
No
1
2
3
4
5

R (nm)
6,3438
5,7688
4,5415
3,7505
3,2476

(nm)

L (nm)

d (nm)

Indeks Miller (hkl)


(

3,35 10

-3

284,29

0,1501

440

3,35 10

-3

284,29

0,1650

511

3,35 10

-3

284,29

0,2097

400

3,35 10

-3

284,29

0,2539

311

3,35 10

-3

284,29

0,2932

220

Sampel CoFe2O4+PEG-4000
+PEG

5
1 2

3 4

Gambar 6.2.. Cincin difraksi sampel CoFe2O4+PEG-4000

90

Tabel 6.7 Indeks Miller sampel CoFe2O4+PEG-4000


No

R (nm)

6,4361

5,9621

4,6083

3,7443

3,1886

6
F.

(nm)

2,1449

L (nm)

d (nm)

Indeks Miller (hkl)

3,35 10

-3

284,29

0,1479

440

3,35 10

-3

284,29

0,1597

511

3,35 10

-3

284,29

0,2066

400

3,35 10

-3

284,29

0,2543

311

3,35 10

-3

284,29

0,2986

220

3,35 10

-3

284,29

0,4440

111

Perhitungan Ralat Purifikasi


Kadar akhir logam yang terkandung pada setiap sampelnya, dihitung dengan

rumus berikut :

% penurunan

Kadar awal Kadar akhir


100 %
Kadar awal

(6.11)

Perhitungan ralat % penurunan dengan memisalkan, kadar awal = a, kadar


akhir = b, jadi persamaan ( 7. 11) menjadi:
%

a b
100%
a

(6.12)

Ralatnya,
2

%
%
%
a
b

b
a
2

% 2 a b
a

(6.13)

(6.14)

Rata-rata kadar ion logam dan ralat pengukuran dihitung dengan persamaan
berikut:

x x x
n

x
i 1

nn 1

(6.15)

91

Tabel 6.8 Perhitungan Ralat Untuk Data Limbah


No Ion
Logam

Pengukuran
( xi )
292,759
292,759
290,915

Cu

876,433

x
Fe

918,63

x
Ni

1076,819

292,144
306,240
306,250
306,140
306,210
358,940
357,039
360,840

xi x

x i x 2

0,6146667
0,6146667
-1,2293333

0,37781511
0,37781511
1,51126044

0,614667

2,2668906
0,03
0,04
-0,07

0,0009
0,0016
0,0049

0,0351188

0,0074
-0,1166677
-1,166667
1,283333

1,111E-07
1,3611111
1,6469444

0,7096556

3,021667

358,939

Tabel 6.9 Perhitungan Ralat Pengukuran dan Persentase Untuk Sampel


Sampel A1 dengan parameter normal (pH 9, lama pengedukan 3 jam,
konsentrasi 5,0 gr/l)
No Ion
%
%
xi x
( xi )
xi x 2 x
Logam
2,706
-0,0186 0,0003484 0,010682 99,067342 0,004149
1
Cu

x
Ni

2,743
0,01833
2,725
0,00033
8,174
2,724667
0,181
-0,1583
0,371
0,03166
0,466
0,12666
1,018
0,339333

0,0003361
1,111E-07
0,0006846
0,0250694
0,0010027
0,0160444

0,083782

99,905464

0,008398

92

Tabel 6.10 Perhitungan Ralat Untuk Sampel Pada Variasi Suhu (T=60 oC)
No Ion
Logam

Pengukuran
( xi )

xi x

x i x 2

Cu

-0,005
-0,005
0,011

2,8444E-05
2,8444E-05
0,00011378

0,00533

99,700
37197

0,00193
1393

x
Ni

0,870
0,870
0,886
2,626

-0,005
-0,005
0,011

0,0000
0,0000
0,0001138

0,22567

99,947
13139

0,00956
575

0,87533
0,870
0,870
0,886
2,626
0,87533

0,0001707

Tabel 6.11 Perhitungan Ralat Untuk Sampel pada Variasi Suhu(T=90 oC)
No Ion
Logam

Pengukuran
( xi )

xi x

x i x 2

Cu

-0,011
0,022
-0,011

0,000121
0,000484
0,000121
0,000726

0,011

99,591
63415

0,00687
9573

x
Ni

1,182
1,215
1,182
3,579

-0,034
0,069
-0,034

0,001178
0,004715
0,001178

0,0343

99,946
69633

0,00956
552

1,193
0,157
0,260
0,157
0,574
0,19133

0,00707

Tabel 6.12 Perhitungan Ralat Untuk Sampel pada Variasi Suhu (T=120 oC)
No Ion
Logam

Pengukuran
( xi )

xi x

x i x 2

Cu

-0,015
0,031
-0,015

0,0002351
0,0009404
0,0014106
0,0014106

0,015

97,28

0,00687
9573

x
Ni

6,160
6,206
6,160
18,526

-0,033
0,004
0,030

0,0011111
0,0000134
0,0008801

0,01828

99,34

0,00527
297

6,17533
2,449
2,486
2,512
7,447
2,48233

0,002004

93

Tabel 6.13 Perhitungan Ralat Untuk Sampel dengan variasi lama


pengadukan 1 jam
No Ion
Pengukuran x i x x x 2
x
%
%
i
Logam
( xi )
1,631
-0,013 0,00016044 0,00633 99,437 0,00247
1
Cu

x
Ni

1,650
1,650
4,931

0,006
0,006

0,00004011
0,00004011

-0,037
0,063
-0,027

0,0013444
0,0040111
0,0007111

37021

0056

99,405
30196

0,01700
983

1,64367
2,029
2,135
2,240
6,200
2,410

0,03179

0,006067

Tabel 6.14 Perhitungan Ralat Untuk Sampel dengan variasi lama


pengadukan 5 jam
No Ion
Pengukuran x i x x x 2
x
%
%
i
Logam
( xi )
1,265
0,028
0,000784
0,01779 99,553 0,00766
1
Cu

x
Ni

1,342
1,304
4,011

0,005
-0,033

0,000025
0,001089
0,001898

0,551
0,556
0,556

1,1111E-05
2,7778E-06
2,7778E-05

75277

6666

99,854
8543

0,00975
489

1,337
0,451
0,556
0,556
1,663
0,55433

0,00167

1,667E-05

Tabel 6.15 Perhitungan Ralat Untuk Sampel dengan variasi konsentrasi


adsorben 2,5 gram/liter
x
No Ion
%
%
x i x x i x 2
( xi )
Logam
1

Cu

x
Ni

2,451
2,512
2,471
7,424

-0,024
0,027
-0,004

0,0005601
0,0007471
1,344E-05
0,0013207

0,01484

99,15177
655

0,00639945

1,01
-0,018
0,946
-0,032
1,079
0,051
3,085
0,02565

0,0003361
0,0010454
0,0025671

0,02565

99,71797
346

0,01071077

2,47467

0,0039487

94

Tabel 6.16 Perhitungan Ralat Untuk Sampel dengan variasi konsentrasi


adsorben 7,5 gram/liter
No Ion
x
%
%
( x i ) x i x x i x 2
Logam
1

Cu

x
Ni

1,370
1,349
1,329
4,048

0,021
0,000
-0,020

0,00042711
1,1111E-07
0,00041344
0,00084066

0,01183

99,53812
099

0,00405177
4

0,745
-0,022
0,812
0,045
0,745
-0,022
2,302
0,767333

0,00049878
0,00199611
0,00049878

0,02233

99,78622
815

0,00623619

1,34933

0,0029926

Tabel 6.17 Perhitungan Ralat Untuk Sampel dengan variasi konsentrasi


adsorben 10,0 gram/liter
No Ion
x
%
%
( xi )
x i x x i x 2
Logam
1

Cu

x
Ni

1,778
1,787
1,769
5,334

0,0000
0,009
-0,009

0,0
8,1E-05
8,1E-05
0,000162

0,0052

99,39138
769

0,00219165
6

8,7111E-05
1,7778E-06
0,00011378

0,00581

99,78638
462

0,0016784

1,778
0,812
0,009
0,804
0,001
0,792
-0,011
2,408
0,80267

0,0002026

95

Tabel 6.18 Perhitungan Ralat Untuk Limbah


No Ion Logam

Pengukuran ( x i )

Cu

340,947
355,138
339,011
1015,100

x
Fe

830,288

x
Ni

1051,74

338,365
277,678
273,729
279,729
276,729
354,227
346,885
350,581

xi x

x i x 2

2,582
-3,227
0,646

6,665002778
10,41568044
0,416885444

1,70771

17,4975686
1,039
-3,634
2,596

2,582
-3,227
0,646

1,87193

3,696
-3,696
0,000

13,660416
13,660416
0,0000000

2,13389

27,320832

350,581

Tabel 6.19 Perhitungan Ralat Untuk Sampel dengan variasi enkapsulasi


adsorben dengan PEG-4000
No Ion
x
%
%
( xi )
x i x x i x 2
Logam
1

Cu

x
Ni

8,379
8,530
8,492
25,401

-0,088
0,063
0,025

0,007744
0,003969
0,000625
0,012338

0,04534

97,4976
7263

0,01841470

0,000
0,073
-0,072

1,1111E-07
0,00528044
0,00523211

0,04185

99,7710
4673

0,00172134

8,467
1,314
1,387
1,242
3,943
0,04285

0,0105126

96

LAMPIRAN B

Gambar 6.3.
FeCl3.6H2O

Gambar 6.6. Proses


Stirrer

Gambar 6.9. Sampel


setelah difurnace

Gambar 6.4. CoCl2.6H2O

Gambar 6.7. Proses


pengendapan

Gambar 6.10. Serbuk


sampel setelah digerus.

Gambar 6.5. Larutan


NaOh yang diteteskan
campuran FeCl3.6H2O
+CoCl2.6H2O

Gambar 6.8. Furnace


CoFe2O4

97

LAMPIRAN C
PUBLIKASI

Seminar Nasional Fisika HFI


25 April 2015, Yogyakarta

Studi Adsorpsi Logam Tembaga (Cu), Besi (Fe) Dan Nikel (Ni) Pada
Limbah Cair Buatan Menggunakan Adsorben Nanopartikel Magnetik Cobalt
Ferrite (CoFe2O4)

98