Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH BIOLOGI REPRODUKSI

WATER BIRTH

Disusun oleh:

1.

Ghinaa Kholidaziyah

(P17424309020)

2.

Indah Sulistiyowati

(P17424309021)

3.

Intan Artiningtyas

(P17424309022)

4.

Jedha Berlina Larasati

(P17424309023)

5.

Lilis Indrayati

(P17424309024)

6.

Mugi Mumpuni

(P17424309025)

POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG


PRODI DIII KEBIDANAN PURWOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2009/2010
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang selalu melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul Water
Birth.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ulfah Musdalifah, S. Kep. Ns., yang
telah menjadi dosen pembimbing kami yang dengan sabar memberikan pengarahan dan
masukan demi tersusunnya makalah ini. Tak lupa kami juga mengucapkan beribu terima kasih
kepada rekan-rekan Prodi DIII Kebidanan Purwokerto dan kepada semua pihak yang telah
mendukung dan membantu kami.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kami
memohon maaf yang seikhlasnya. Tak lupa kami juga terus mengharap kritik dan saran untuk
meningkatkan kualitas makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................................

KATA PENGANTAR...............................................................................................

DAFTAR ISI.............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................................

B. Tujuan Penulisan............................................................................................

C. Sistematika Penulisan.....................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian.......................................................................................................

B. Sejarah Water Birth........................................................................................

C. Kriteria Persalinan di Air............................................................................... 10


D. Persiapan........................................................................................................ 10
E. Alasan Paling Umum Keluar dari Kolam...................................................... 11
F. Asuhan Persalinan.......................................................................................... 12
G. Kedaruratan.................................................................................................... 14
H. Masalah Kebidanan........................................................................................ 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................... 18
B. Saran............................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 19

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologi normal. Kelahiran bayi
merupakan peristiwa sosial, di mana ibu dan keluarga menantikannya selama 9 bulan.
Ketika proses persalinan di mulai, peranan ibu adalah sangat penting untuk melahirkan
bayinya, sedangkan peran petugas kesehatan adalah memantau persalinan, mendeteksi
dini adanya komplikasi, di samping bersama-sama keluarga memberikan bantuan,
dukungan pada ibu bersalin. Persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya
serviks, dan janin akan turun ke dalam jalan lahir. Sedangkan kelahiran merupakan proses
dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran
normal merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan/aterm (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin.
Dahulu proses persalinan di kenal hanya persalinan normal atau spontan
(pervaginam), dan seksio sesarea (perabdominal), namun kini proses persalinan
pervaginam telah berkembang yang bertujuan memberi rasa nyaman, aman dan
menyenangkan,

bahkan

dapat

mengurangi,

meniadakan

perasaan

cemas

dan

menegangkan.
Berbagai alternatif metode persalinan pervaginam di dunia telah dikembangkan seperti
metode Lamaze, akupuntur, yoga, dll, salah satu yang populer sekarang ini adalah
persalinan dalam air yang di kenal sebagai water birth.
Salah satu hal penting yang terjadi pada proses persalinan adalah nyeri persalinan.
Besarnya rasa nyeri bersifat sangat individual. Dalam proses persalinan hal inilah yang
paling dirasakan tidak menyenangkan bahkan menakutkan bagi ibu. Nyeri pada proses
persalinan terjadi akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata, sehingga dapat
dikatagorikan sebagai nyeri akut. Mengurangi rasa nyeri dapat diatasi dengan cara
farmakologi (dengan obat) dan non farmakologi (tanpa obat), salah satunya dengan cara
ibu hamil berendam dalam air hangat yang lebih di kenal dengan water birth yaitu
persalinan dalam air.
Berbagai keuntungan bagi ibu dan bayi merupakan salah satu daya tarik dari metode
ini. Di samping adanya beberapa penelitian klinik yang menyokong penggunaannya.
4

Air merupakan komponen dasar kehidupan di bumi ini, 90% bumi terdiri atas air, 60%
tubuh orang dewasa mengandung air, 90% tubuh bayi terdiri atas air. Menurut Aristoteles
pada abad ke-6 sebelum masehi menyimpulkan bahwa air merupakan The First Principle
Of Life, air sangat bernilai bagi sumber alam, Air memelihara kehidupan ini. Mackey,
2001 Thoughout Time And Throughout The World, Water Has Held Spiritual, Medicinal,
And Therapeutic Value. Water Signifies A Rebirth Or New Birth Of The Individual And
Is A Symbol Of New Life.
Metode persalinan water birth atau persalinan dalam air sejak beberapa dekade lalu
telah ada di beberapa negara seperti Perancis, Rusia, New Zealands, namun di Indonesia
baru di kenal bulan Oktober 2006, sementara di Bali populer 20 Juli 2007. Bagaimana
persiapan, kriteria, dan proses kelahiran di air dalam membantu proses persalinan akan
dibicarakan dalam makalah ini.

B. Tujuan Penulisan
Makalah ini kami susun dengan tujuan:
a. Memenuhi tugas mata kuliah Biologi Reproduksi.
b. Mengetahui bagaimana persiapan, criteria, dan proses kelahiran di air.
c. Mengetahui cara melakukan asuhan persalinan dalam pelaksanaan waterbirth.

d. Mengetahui keuntungan dan kelemahan water birth

C. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan tata urutan sebagai berikut: bab
I yang meliputi: latar belakang, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II yang
berisi: pengertian, kriteria persalinan di air, persiapan, alasan paling umum keluar dari
kolam, asuhan persalinan, kedaruratan, dan masalah kebidanan. Bab III yang meliputi:
kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Water Birth merupakan salah satu metode alternatif persalinan pervaginam, dimana
ibu hamil aterm tanpa komplikasi bersalin dengan jalan berendam dalam air hangat (yang
dilakukan pada bathtub atau kolam) dengan tujuan mengurangi rasa nyeri kontraksi dan
memberi sensasi rasa nyaman.
Pengurangan rasa nyeri dapat diatasi dengan cara farmakologi (dengan obat-obatan)
dan non farmakologi (tanpa obat), salah satu diantaranya dengan cara ibu hamil saat
persalinan berendam dalam air hangat atau yang di kenal dengan water birth. Metode ini
di percaya mampu memberi banyak keuntungan bagi ibu dan bayi yang merupakan salah
satu metode persalinan alternatif yang aman.
Melahirkan dalam air akan mempermudah adaptasi bayi dari rahim ibu (yang berisi air
ketuban) ke dunia luar. Diharapkan, transisi dari rahim ibu ke dunia luar tidak terlalu
drastis, sehingga dapat mengurangi kemungkinan perlukaan pada janin. Selain itu, metode
ini diharapkan dapat mengurangi stres pada ibu, nyeri persalinan, kontraksi rahim akan
menjadi lebih efektif, elastisitas perineum bertambah, sehingga robekan atau laserasi jalan
lahir menjadi minimal. Posisi ibu saat melahirkanpun akan lebih mudah dan dapat di ubah
sesuai dengan kenyamanan ibu.
Water Birth merupakan suatu metode persalinan yang aman bagi kesehatan ibu dan
bayi, pada janin aterm dengan presentasi kepala. Water birth menjadi lebih populer di
kalangan ibu dan bidan dikarenakan adanya kemampuan air untuk mengapungkan ibu
dalam kolam dan pada penanganan nyeri penggunaan air hangat untuk persalinan alamiah
bersifat tidak invasif, efektif, dan aman. Survey mayor Alderlice et al, 1995
menyimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti bahwa persalinan dalam air kurang aman jika
dibandingkan persalinan konvensional.

B. Sejarah Water Birth


Penggunaan kolam air hangat untuk persalinan relatif merupakan suatu fenomena baru
di negara-negara barat. Selama tahun 1960-an, Peneliti Rusia Igor Charkovsky yang
7

meneliti tentang keamanan dan kemungkinan manfaat water birth di Uni Soviet. Di Akhir
tahun 1960-an, Ahli Obstetri Perancis Frederick Leboter mengembangkan teknik baru
berendam di air hangat untuk memudahkan transisi bayi dari jalan lahir ke dunia luar, dan
dapat mengurangi efek trauma yang mungkin terjadi.
Ahli obstetri Perancis lainnya, Michel Odent, pada 1970-an menggunakan persalinan
dalam air hangat untuk mengurangi nyeri persalinan pada ibu, dan sebagai jalan untuk
proses persalinan normal. Odent meneliti tentang kemungkinan manfaat bagi bayi yang
lahir melalui metode water birth.
Pada tahun 1700, ilmuwan mulai mengenal dan mengidentifikasi khasiat air sebagai
hydrotherapy. Water Cures, sebuah buku yang diterbitkan di London tahun 1723,
menggambarkan keuntungan air yang digunakan dalam berbagai kondisi, termasuk
persalinan dan kelahiran. Pada penelitian kuno, orang-orang mesir akan memilih bayi-bayi
yang lahir di air karena diyakini dapat menjadi imam dan pendeta. Suku Minoans di pulau
Crete bahkan menggunakan pura suci sebagai tempat untuk melaksanakan water birth.
Pada bekas reruntuhan seni lukis dinding suku Minoans digambarkan dolphin atau lumbalumba, yang mana terdapat hubungan khusus antara manusia dengan lumba-lumba dalam
hal persalinan di air. Bahkan suku Indian di California mendapatkan bahwa lumba-lumba
akan mendekat dan menunggu wanita yang melahirkan di air laut dangkal sampai lahir.
Suku-suku Indian di Utara, Selatan dan pusat Amerika sama dengan di Maoris New
Zealand dan orang-orang Samoan di Pasifik mengenal persalinan di laut dangkal dan
sungai. Kuhunas dari pulau Hawaii ribuan generasinya telah melahirkan di air.
Dokumen modern pertama ditemukan pada suatu desa di Perancis tahun 1805 dan
secara lengkap pada kumpulan jurnal medis di Perancis, dimana terjadi pengurangan yang
signifikan ibu bersalin dengan distosia (yang tidak mengalami kemajuan dalam proses
persalinannya) akan menjadi lebih progresif dengan menggunakan metode persalinan
water birth, di mana bayi akan lahir lebih mudah. Laporan berikutnya tentang water birth
makin meluas sampai era tahun 1960, ketika mulai digunakan di Uni Soviet.
Pada awal tahun 70-an Dr. Michel Odent; kepala instalasi bedah rumah sakit
Pithiviers, Perancis, pertama kali memperkenalkan keuntungan dari persalinan dan
kelahiran di dalam air. Ia mencatat bahwa banyak wanita ingin menggunakan water birth
selama persalinan untuk mendapatkan Labor Became Easier, More Comfortable, Less
Painful, And More Efficient.
8

Karil Daniel, seorang pembuat film independen merupakan pelopor penelitian


underwater birth tahun 1981. Selama tahun 1980-1990, water birth bertumbuh pesat di
Inggris, Eropa, dan Kanada.Pada tahun 1985, The family Birthing di Upland, California
Selatan yang di pimpin oleh Dr. Michael Rosenthal menyarankan wanita untuk bersalin
dan melahirkan di air. Setelah 5 tahun akumulasi pengalaman water birth, pada tahun 1993
telah terjadi 1000 kelahiran, tanpa komplikasi atau infeksi pada ibu atau bayi.
Pada tahun 1989 Water Birth International Project, Barbara Harper mengembangkan
Topic Of Gentle Alternatives In Childbirth. Pada akhir tahun 1990, 1000 wanita hamil
telah melahirkan di Odents Birthing Center Pithiviers, dan Ide water birth telah
berkembang ke beberapa negara-negara barat. Water Birth pertama kali masuk ke Amerika
Serikat melalui pasangan yang melahirkan di rumahnya, namun segera diperkenalkan ke
dalam lingkungan rumah sakit dan birth centers oleh para ahli obstetri dan bidan terlatih.
Pada tahun 1991, Monadnock Community Hospital di Peterborough, New Hampshire
menjadi rumah sakit pertama yang membuat protokol Water Birth.Water birth kemudian
dipopulerkan oleh Odent. Pada tahun 1990, The Scientific Advisory Committee membuat
pernyataan tentang water birth, dan penekanan pada pentingnya penelitian ilmiah.
Pernyataan tersebut di revisi tahun 1994 yang menunjang pentingnya keamanan pada
persalinan dan kelahiran di air, serta perlunya informasi yang tepat tentang manfaat dan
risiko water birth. Penggunaan metode water birth akhir-akhir ini makin meningkat di
seluruh dunia.Pada 1-2 april 1995 pada Wembley Conference Center di London, Inggris,
menggelar konferensi pertama water birth untuk mengekplorasi masalah-masalah yang
berkembang, dihadiri 39 negara dengan data 19.000 persalinan di dalam air. Konferensi
berlanjut tahun 1996, 2004, dan bulan September 2007.
Menurut British Medicine Journal (BMJ) di Amerika Serikat tahun 1991 terdapat 3
persalinan menggunakan fasilitas water birth, Tahun 2002 terdapat 200 dan jumlahnya
makin terus bertambah. Pada tahun 2005, terdapat lebih dari 300 rumah sakit di Amerika
Serikat mengadopsi protokol water birth. Lebih dari tiga perempat National Health
Service Hospital di Inggris menyediakan pilihan persalinan ini. Di Indonesia masih baru
dan pertama kali diprakarsai oleh Liz Adianti-suaminya Harlizon yang melahirkan dengan
metode Water Birth, selasa 4 Oktober 2006 pukul 06.05 WIB di SanMarie Family
Healthcare, Jakarta di bantu dokter spesialis kandungan dan kebidanan : Dr. T. Otamar
Samsudin, SpOG dan dokter anak : Dr. Keumala Pringgadini, SpA.Sementara di Bali
9

populer setelah salah satu aktris Indonesia Oppie Andaresta melahirkan tanggal 20 Juli
2007 di Klinik Yayasan Bumi Sehat, Desa Nyuh Kuning, Ubud, Bali.

10

C. Kriteria Persalinan di Air


Tiap unit memiliki kriterianya sendiri untuk persalinan di air tetapi asuhan harus
diindividualisasi agar sesuai dengan permintaan ibu. Akhirnya, ibulah yang mengambil
keputusan saat ia sudah mendapat semua informasi lengkap.
Kriteria penggunaan air adalah (RCM, 2000):

Pilihan ibu yang telah mendapat informasi

Kehamilan aterm, normal lebih dari 37 minggu

Kehamilan tunggal, presentasi kepala

Tanda sedasi sistemik

Yaitu tanda di mana seorang ibu menggunakan

agen-agen farmakologik untuk

menghasilkan depresi tingkat kesadaran secara cukup sehingga menimbulkan rasa mengantuk
dan menghilangkan kecemasan tanpa kehilangan komunikasi verbal.

Ketuban pecah spontan kurang dari 24 jam

D. Persiapan
1. Temperatur air
Bak harus diisi dengan kedalaman yang cukup untuk memungkinkan uterus ibu tertutup
semuanya. Temperatur air harus antara 350C dan 370C untuk kala pertama dan 370C untuk
kala kedua dan kelahiran. Suhu permukaan biasanya lebih dingin dari air di kedalaman maka
letakkan termometer lebih dalam agar dapat mengatur dan mempertahankan temperatur.
2. Pembersihan
Kebijaksanaan pengontrolan infeksi lokal harus memenuhi kelahiran di air (RCM, 2000).
Setelah dipakai, bak harus dibilas dari debris dan dicuci dengan bahan yang mengeluarkan
klorin yang efektif terhadap HIV, hepatitis B, dan hepatitis C (Burns & Kitzinger, 2001).
3. Peralatan

Termometer untuk memeriksa temperatur air

Sonicaid tahan-air untuk memantau jantung janin

Bantuan bila sewaktu-waktu ibu harus keluar dari bak dalam kegawatan (hanya
rumah sakit)

Sarung tangan untuk bidan


11

Cermin kecil yang mudah dibawa untuk melihat kemajuan selama kala kedua
persalinan

Stool rendah atau jejakan kaki untuk membantu ibu masuk dan keluar dengan
mudah

Banyak handuk

Minyak esensial murni (aromaterapi) dapat diberikan di bawah pengawasan ahli


aromaterapi. Burns et al. (1999) menganjurkan pemakaian sesendok teh susu lemak
jenuh sebagai bahan dispersi, kemudian ditambahkan ke air untuk membantu
relaksasi.

Entonoks portabel, atau pipa entonoks panjang untuk digunakan ibu dengan bebas
di bak.

Peralatan membersihkan

Saringan dan baskom, untuk mengumpulkan benda-benda seperti lendir, darah


atau feses.

Di rumah (selain yang diatas)

Pelapis bak

Baskom dan pompa untuk mengosongkan bak, berlabel kotor

Lembaran plastik untuk dasar bak

E. Alasan Paling Umum Keluar dari Kolam


Dalam suatu studi besar oleh Burns (2001), 47% primigravida yang ditinggalkan di
kolam beberapa saat dalam persalinan, untuk berbagai alasan 53% tetap berada di bak
sampai kelahiran. Air secara konsisten angkanya tidak peduli apakah ibu tetap tinggal di
kolam sampai kelahiran ataupun tidak.

Kemajuan lambat pada kala pertama. Perendaman dalam air pada suhu tubuh
tampaknya memfasilitasi proses kelahiran sampai batas waktu tertentu, biasanya tidka
lebih dari 2-3 jam (Odent 2000 yang menguti eriksson et al., 1997). Bila ibu telah
memasuki kolam terlalu dini, biasanya sebelum dilatasi serviks 5 cm, maka
konsentrasi dapat melambat. Bila ini terjadi, ibu perlu keluar dari kolam, melakukan
mobilisasi, berkemih mengosongkan kandung kemih, makn makanan segar, dan
membiarkan kontraksinya muncul lagi.
12

Kemajuan lambat selama kala kedua persalinan. Biasanya bisa dikoreksi dengan
mengejan dengan posisi berdiri dalam bak, selama waktu percobaan, atau dengan
keluar dan membuat posisi paling efektif bagi masing-masing ibu. Bila kontraksinya
buruk, perlu waktu yang lama untuk kala kedua.

Pilihan pribadi. Sebagian kecil ibu tidak menikmati berada di air jadi jangan biarkan
tetap demikian. Beberapa ibu yang lainnya memutuskan untuk keluar tepat sebelum
melahirkan.

Analgesia tambahan. Selama ibu menggunakan kolam, kecil kemungkinannya


memerlukan analgesia (Broen,1998; Garland & Jones, 2000;Burn, 2001) beberapa ibu
masih meminta tambahan pereda nyeri seperti petidine atau epidural sehingga harus
meninggalkan kolam.

Perubahan kondisi bayi. Bukti adanya gangguan janin, seperti pengeluaran mikoneun
segar atau perubahan jantung janin abnormal.

Perubahan kondisi ibu. Setiap kekhawatiran mengenai kesehatan ibu, seperti


perdarahan, pireksia, hipertensi.

F. Asuhan Persalinan
1. Kala pertama persalinan

Periksa suhu maternal didalam air per jam

Biarkan ibu minum bebas, untuk menghindari dehidrasi karena diuresis meningkat
sebagai akibat berada di air

Temperatur air harus diukur dan dicatat pada partogram maupun catatan ibu,
setengah jam sekali, dan harus diantara 350C dan 370C.

Pemeriksaan vagina biasanya relatif lebih mudah dilakukan dalam bak

2. Kala kedua persalinan

Memantau kesehatan ibu dan janin seperti pada persalinan normal

Aturlah suhu air pada 370C

13

Bidan dapat memasukkan cermin kecil untuk melihat kemajuan selama kala kedua
persalinan

Lakukan pendekatan lepas tangan untuk melahirkan, diperkirakan bahwa


menyentuh kepala bayi dibawah air dapat merangsang bayi untuk mencoba
bernapas

Biarkan kepala lahir. Ibu biasanya akan mengatakan kepada bidan, ia secara naluri
akan menurunkan tangannya untuk menyentuh. Bidan dapat melihat kepala hitam
dibawah air, bila benar-benar tidak yakin, sentuhan singkat dapat memastikannya

Jangan memeriksa tali pusat

Tunggu kontraksi berikutnya. Kemudian ibu biasanya melahirkan bayinya sendiri.


Bila tampaknya tidak terjadi, cobalah melepaskan bahu, seperti yang biasa
dilakukan di darat . Bila mungkin, dorong ibu untuk membawa bayinya sendiri
kepermukaan

Bila ibu pada posisi all-fours, bidan kedua dapat membantu melewatkan bayi
melalui tidak disekitar tungkai ibu, dibawah air, dan membawanya dengan lembut
kepermukaan didepan ibu, untuk menghindari terjeratnya tali pusat

Bayi yang lahir di air tidak selalu menangis dan tidak selalu bernafas segera.
Periksa warna bayi, bersikaplah tenang dan bila tidak yakin periksa denyut jantung
dengan meletakkan jari bidan ke dada janin. Bila bidan ragu, gosok bayi dnegan
handuk, atau pindahkan bayi segera ke udara dingin dan biasanya akan
merangsangnya menangis

Yakinkan bahwa tali pusat masih terhubung dan berdenyut. Keadaan ini dapat
berlangsung sampai beberapa waktu. Meskipun bukan merupakan praktik baku,
dianjurkan untuk secara rutin menginspeksi tali pusat saat lahir, untuk meyakinkan
bahwa masih utuh, karena tali pusat yang robek bisa menjadi kegawatan yang
mengancam jiwa untuk bayi bila tidak diketahui

Perbedaan dengan APN adalah :


Pada APN setelah bayi keluar, segera mengeringkan bayi membungkus kepala dan
badan bayi kecuali tali pusat. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm
dari umbilikus bayi. Melakukan urutan pada tali pusat kearah ibu dan memasang klem
14

kedua 2 cm dari klem pertama. Memegang tali pusat diantara 2 klem menggunakan
tangan kiri, dengan perlindungan jari tangan kiri, memotong tali pusat diantara kedua
klem.
Sedangkan pada water birth penundaan pengkleman dan pemotongan tali pusat
sangat bermanfaat dalam proses transisi bayi untuk hidup di luar uterus. Ini akan
memaksimalkan fungsi perfusi jaringan paru. Garland (2000) tidak merekomendasikan
pemotongan dan pengkleman tali pusat sampai bayi mencapai permukaan air
disebabkan oleh meningkatnya risiko hipoksia. Odent (1998) merekomendasikan
pengkleman tali pusat 4-5 menit setelah persalinan. Namun menurut Austin, Bridges,
Markiewicz and Abrahamson (1997) penundaan pengkleman tali pusat dapat
mengakibatkan polisitemia, berdasarkan hipotesa bahwa air hangat mencegah
vasokonstriksi tali pusat sehingga banyak darah ibu tertransfer ke bayi (vasokontriksi
terjadi ketika kontak dengan udara).
3. Kala ketiga persalinan
Biasanya tidak selalu perlu meminta ibu untuk keluar dari bak untuk melahirkan
plasenta kecuali ia menginginkannya atau manajemen aktif kala tiga dimulai. Banyak
ibu merasa bahwa setelah 5 menit pertama atau lebih setelah mengenal bayinya
mereka siap keluar dari air, yang sekarang menjadi agak keruh dan tidak menarik.
Ibu yang memilih untuk tetap berada dalam kolam:
Bila ibu memilih tetap dalam air, jagalah kehangatan air dan bayi dihangatkan
dengan merendam tubuh bayi dalam air dan memberikan handuk pada bahu ibu.
Emboli air bersifat hipotesis dan belum ada yang pernah mencatat dalam literatur.
Tidak selalu mudah mengobservasi kehilangan darah di dalam air, biasanya
tampak perdarahan moderat ketika plasenta lepas yang cenderung tenggelam ke dasar
kolam di sekitar tempat duduk ibu. Namun, bila perdarahan tampak berlebihan, yang
segera menyebar ke dalam air, menunjukan perdarahan postpartum. Bila ragu-ragu,
dianjurkan untuk meminta ibu keluar dari bak sehingga bidan dapat melakukan
observasi kehilangan darah dengan lebih baik.
G. Kedaruratan

Kebanyakan bidan yang dibekali panduan untuk tata cara aman melahirkan di air
merekomendasikan bidan kedua hadir dalam kelahiran
15

Bidan kemungkinan merasa lebih percaya diri bila mereka telah mempraktikan
melahirkan bayi dalam keadaan darurat yang bersifat hipotesis

Dalam setiap kedaruratan, di rumah atau di rumah sakit, mintalah bantuan segera

1. Masalah tali pusat


a). Jeratan tali pusat
Bidan tidak akan tahu

kalau tali pusat menarik kembali bayi sehingga

bayi gagal dilahirkan, kemudian bidan perlu memeriksa untuk memastikan adanya
tali pusat. Kebanyakan bayi dengan jeratan tali pusat akan mudah dilahirkan pada
tali pusat yang melingkari leher atau tubuh tanpa perlu intervensi apapun. Pada
kasus yang jarang, jeratan tali pusat tidak memungkinakn bayi dilahirkan, jadi
jangan mengklem dan memotong tali pusat di bawah air tetapi ikuti yang berikut:

Keluarkan air secepatnya

Pasang dua klem pada tali pusat dan potong di antara keduanya,

Lahirkan bayi

Jangan menenggelamkan bayi bila telah dilahirkan diluar air

b). Tali pusat robek


Kejadian yang jarang ini bukan sebuah kegawatan bila diketahui dengan
segera. Namun, terkadang sulit mengetahui adanya robekan tali pusat karena air
yang keruh atau posisi ibu dan bayi. Ada beberapa kasus yang tercatat ketika
masalah ini tidak diketahui pada persalinan di air dengan akibat serius bagi bayi
yang terkena.

Angkatlah bayi dengan hati-hati ke gendongan ibu, jangan sampai melakukan


tarikan pada tali pusat pendek

Bila tali pusat robek, raihlah ujung tali pusat bayi segera untuk mencegah
kebocoran darah

Pasang klem yang kuat

Kajilah bayi dan, bila diperlukan, hubungi ahli anak. Mungkin perlu
pemeriksaan Hb setelah lahir.
16

2. Distosia bahu
Pada kasus distosia bahu, ibu harus diminta untuk berdiri agar melahirkan, dimana
pasangan wanita yang melahirkan, berdiri di belakangnya, mengangkat ketiaknya dan
membiarkannya meletakkan berat badan di lengan pasangannya. Bila ini tidak
membantu, ibu harus segera keluar dari bak. Biasanya secara spontan dapat terjadi.
3. Perdarahan postpartum
Sulit untuk mengkaji kehilangan darah dalam bak. Perdarahan postpartum
biasanya terlihat sebagai keluaran merah, terang menyebar cepat dalam air. Ibu
menjadi sangat diam atau mengeluh kram perut dan tampak pucat. Sedikit kehilangan
darah lazim terjadi ketika plasenta lepas. Bila mengkhawatirkan, mintalah ibu keluar
dari bak, klem, dan potong tali pusat segera serta berikan bayi kepasangan agar lebih
mudah. Bidan kemudian menangani kala ketiga secara aktif bila ibu mengalami
perdarahan.
4. Bayi yang tidak responsif
Prosedur yang harus diikuti untuk bayi yang tidak responsif adalah sebagai
berikut:

Klem dan potong tali pusat

Pindahkan bayi ke handuk hangat untuk resusitasi, atau persiapkan tempat


resusitasi bila di rumah

Keringkan bayi sebaik-baiknya

Ikuti asuhan untuk resusitasi neonatus yang diberikan

5. Pingsan
Ibu bisa merasa pingsan, atau benar-benar pingsan. Ternyata sangat ringan
mengangkat ibu yang pingsan di dalam bak, karena air mendukung berat badannya
serta bidan dapat menahan kepala dan bahunya di atas air. Ibu yang pingsan saat
kelahiran jarang terjadi dan cenderung sembuh tanpa efek yang buruk. Namun, bidan
memerlukan banyak orang utnuk mengangkatnya dari bak. Gunakan alat bantu

17

mengangkat atau kerekan yang sesuai bila bidan punya waktu. Pada kelahiran di
rumah, sertakan pasangan-melahirkan untuk membantu mengangkat ibu dari bak.

H. Masalah Kebidanan
Bantuan ibu untuk bersalin dan melahirkan di air harus dipertimbangkan sebagai
kompetensi utama bidan. Perkembangan profesional berkelanjutan di bidang ini harus
dipandang sebagai kebutuhan layanan. (RCM, 2000)
Ada bermacam laporan konsumen bahwa beberapa manajer dan bidan menghalangi
permintaan ibu untuk melahirkan ibu di air, mencari alasan untuk menolak keinginan
mereka (Robinson, 2000). Hanya bidan yang mendukung kelahiran di air yang boleh
dilibatkan dalam asuhan ibu tersebut karena mereka kecil kemungkinannya menghalangi
dan lebih mampu memenuhi kebutuhan ibu untuk memberikan asuhan dalam persalinan.
Semua bidan harus membaca, mengobservasi, dan selalu memperbaharui diri mengenai
kelahiran di air. Bila tidak, mereka akan berada diposisi profesional berbahaya, bila
mereka dipanggil untuk membantu kelahiran di kolam-kelahiran di komunitas, pusat
melahirkan atau rumah sakit terutama dipanggil dalam kedaruratan untuk membantu.
Masalah yang dipertimbangkan meliputi hal-hal sebagai berikut:

Kecilkan lampu sekecil mungkin dan suara tenang

Perhatikan punggung bidan, Membungkuk dari pinggul bila bidan condong ke dalam
bak untuk melahirkan bayi atau melakukan pemeriksaan vagina

Tulislah catatan dengan tinta hitam tahan air

Jangan terus menerus berdiri dan memperhatikan ibu di dalam bak. Duduklah agak
jauh dari bak sehingga tidak menyesakkan

Perhatikan bahaya air dan listrik, terutama di rumah. Kabel dan lampu berbahaya;
sediakan selalu lampu senter dengan baterai penuh

Lakukan kelahiran dalam keadaan darurat hipotesis bersama sejawat.

18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah membaca makalah ini maka dapat disimpulkan:
1. Water Birth merupakan salah satu metode alternatif persalinan pervaginam, dimana
ibu hamil aterm tanpa komplikasi bersalin dengan jalan berendam dalam air hangat.
2. Persiapan yang diperlukan dalam melakukan water birth adalah temperatur air,
pembersihan, dan peralatan.
3. Alasan paling umum keluar dari kolam, meliputi: kemajuan kala I dan kala II lambat,
pilihan pribadi, analgesia tambahan, perubahan kondisi bayi, dan perubahan kondisi
ibu.
4. Asuhan persalinan yang dilakukan meliputi: kala I persalinan, kala II persalinan, kala
III persalinan.
5. Kedaruratan dalam water birth meliputi: masalah tali pusat, distosia bahu, perdarahan
postpartum, bayi yang tidak responsif, dan pingsan.
B. Saran
1. Sebaiknya water birth ini dilakukan hanya oleh wanita yang kehamilannya aterm.
2. Ibu harus senantiasa aktif dalam mencari informasi tentang water birth, sebagai
alternatif dalam persalinannya.
3. Ibu harus cepat-cepat keluar dari air apabila terdapat keterlambatan kemajuan
persalinan dan bila perlu dirujuk apabila membutuhkan bantuan yang segera.
4. Sebaiknya seluruh bidan di Indonesia dibekali panduan untuk tata cara aman
melahirkan di air.
5. Penolong persalinan hendaknya mempertahankan suasana ibu agar selalu rileks dan
tenang.
6. Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan
asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan klien,
selama proses persalinan berlangsung.
7. Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap sopan dan
penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat.

19

DAFTAR PUSTAKA
Chapman, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan: Persalinan & Kelahiran. Jakarta: EGC
Aprillia, Yesie, S.Si.T. Water Birth. 2009. Available at: http://bidankita.com/?p=143.
Accessed: Sunday, August 2nd, 2009
http://en.wikipedia.org/wiki/Michel_Odent

20