Anda di halaman 1dari 7

http://www.google.co.

id/#hl=id&q=kekerasan+seksual+pada+wanita&meta=&
aq=4&aqi=g8&aql=&oq=kekerasan+seksual&gs_rfai=&fp=983862b504061180
Kekerasan Terhadap Wanita
Posted by G.1.E 12 November, 2008
DEFINISI
Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang berakibat kesengsaraan atau
penderitaan-penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk
ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenangwenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.
Seringkali kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidakadilan
jender. Ketimpangan jender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki di
masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki. Hak
istimewa yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai barang
milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara
kekerasan.
Perempuan berhak memperoleh perlindungan hak asasi manusia. Kekerasan terhadap
perempuan dapat berupa pelanggaran hak-hak berikut:
Hak atas kehidupan

Hak atas persamaan

Hak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi

Hak atas perlindungan yang sama di muka umum

Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan fisik maupun mental yang sebaikbaiknya
Hak atas pekerjaan yang layak dan kondisi kerja yang baik

Hak untuk pendidikan lanjut

Hak untuk tidak mengalami penganiayaan atau bentuk kekejaman lain, perlakuan atau
penyiksaan secara tidak manusiawi yang sewenang-wenang.
Kekerasan perempuan dapat terjadi dalam bentuk:
Tindak kekerasan fisik

Tindak kekerasan non-fisik

Tindak kekerasan psikologis atau jiwa


Tindak kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau menganiaya
orang lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku
(tangan, kaki) atau dengan alat-alat lainnya.
Tindak kekerasan non-fisik adalah tindakan yang bertujuan merendahkan citra atau
kepercayaan diri seorang perempuan, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang
tidak disukai/dikehendaki korbannya.
Tindak kekerasan psikologis/jiwa adalah tindakan yang bertujuan mengganggu atau menekan
emosi korban. Secara kejiwaan, korban menjadi tidak berani mengungkapkan pendapat,
menjadi penurut, menjadi selalu bergantung pada suami atau orang lain dalam segala hal
(termasuk keuangan). Akibatnya korban menjadi sasaran dan selalu dalam keadaan tertekan
atau bahkan takut.
PELECEHAN SEKSUAL

Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang
dilakukan secara sepihak dan tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasaran.
Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti di tempat kerja, di
kampus/sekolah, di pesta, tempat rapat, dll.
Pelaku pelecehan seksual bisa teman, pacar, atasan di tempat kerja, dokter, dukun, dsb.
Akibat pelecehan seksual, korban merasa malu, marah, terhina, tersinggung, benci kepada
pelaku, dendam kepada pelaku, shok/trauma berat, dll
Langkah-langkah yang perlu dilakukan korban:
Bicara kepada orang lain tentang pelecehan seksual yang terjadi

Membuat catatan kejadian (tanggal, jam, saksi)

Memberi pelajaran kepada pelaku

Melaporkan tindakan pelecehan seksual

Mencari bantuan/dukungan kepada masyarakat


PEMERKOSAAN
Perkosaan adalah hubungan seksual yang terjadi tanpa diinginkan oleh korban. Seorang lakilaki menaruh penis, jari atau benda apapun ke dalam vagina, anus, atau mulut perempuan
tanpa sekehendak perempuan itu, bisa dikategorikan sebagai tindak perkosaan.
Perkosaan dapat terjadi pada semua perempuan dari segala lapisan masyarakat tanpa
memperdulikan umur, profesi, status perkawinan, penampilan, atau cara berpakaian.
Berdasarkan pelakunya, perkosaan bisa dilakukan oleh:
Orang yang dikenal: teman, tetangga, pacar, suami, atau anggota keluarga (bapak,
paman, saudara).
Orang yang tidak dikenal, biasanya disertai dengan tindak kejahatan, seperti
perampokan, pencurian, penganiayaan, atau pembunuhan.
Tindak perkosaan membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara
emosional, korban perkosaan bisa mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, menyalahkan
diri sendiri, rasa takut berhubungan intim dengan lawan jenis, dan kehamilan yang tidak
diinginkan. Secara fisik, korban mengalami penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit kepala,
tidak nyaman di sekitar vagina, berisiko tertular PMS, luka di tubuh akibat perkosaan dengan
kekerasan, dan lainnya.
Perempuan yang menjadi korban perkosaan sebaiknya melakukan langkah-langkah berikut:
Jangan mandi atau membersihkan kelamin sehingga sperma, serpihan kulit ataupun
rambut pelaku tidak hilang untuk dijadikan bukti
Kumpulkan semua benda yang dapat dijadikan barang bukti, misalnya: perhiasan dan
pakaian yang melekat di tubuh korban atau barang-barang milik pelaku yang tertinggal.
Masukkan barang bukti ke dalam kantong kertas atau kantong plastik.
Segera lapor ke polisi terdekat dengan membawa bukti-bukti tersebut, dan sebaiknya
dengan keluarga atau teman.
Segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat (dokter, puskesmas, rumah sakit) untuk
mendapatkan surat keterangan yang menyatakan adanya tanda-tanda persetubuhan
secara paksa (visum)
Meyakinkan korban perkosaan bahwa dirinya bukan orang yang bersalah, tetapi pelaku
yang bersalah.
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Adalah kekerasan yang terjadi dalam lingkungan rumah tangga. Pada umumnya, pelaku
kekerasan dalam rumah tangga adalah suami, dan korbannya adalah istri dan/atau anakanaknya.
Kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan
psikologis/emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan ekonomi.
Secara fisik, kekerasan dalam rumah tangga mencakup: menampar, memukul, menjambak
rambut, menendang, menyundut dengan rokok, melukai dengan senjata, dsb
Secara psikologis, kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga termasuk penghinaan,
komentar-komentar yang merendahkan, melarang istri mengunjungi saudara maupun temantemannya, mengancam akan dikembalikan ke rumah orang tuanya, dll.
Secara seksual, kekerasan dapat terjadi dalam bentuk pemaksaan dan penuntutan hubungan
seksual.
Secara ekonomi, kekerasan terjadi berupa tidak memberi nafkah istri, melarang istri bekerja
atau membiarkan istri bekerja untuk dieksploitasi.
Korban kekerasan dalam rumah tangga biasanya enggan/tidak melaporkan kejadian karena
menganggap hal tersebut biasa terjadi dalam rumah tangga atau tidak tahu kemana harus
melapor.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan bila menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga,
sbb:
Menceritakan kejadian kepada orang lain, seperti teman dekat, kerabat, lembagalembaga pelayanan/konsultasi
Melaporkan ke polisi

Mencari jalan keluar dengan konsultasi psikologis maupun konsultasi hukum

Mempersiapkan perlindungan diri, seperti uang, tabungan, surat-surat penting untuk


kebutuhan pribadi dan anak
Pergi ke dokter untuk mengobati luka-luka yang dialami, dan meminta dokter membuat
visum.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan
Kekerasan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kekerasan atau (bahasa Inggris: Violence ejaan Inggris: [/va()lnt/] berasal dari (bahasa
Latin: violentus yang berasal dari kata v atau vs berarti kekuasaan atau berkuasa) adalah
dalam prinsip dasar dalam hukum publik dan privat Romawi[1] yang merupakan sebuah
ekspresi baik yang dilakukan secara fisik ataupun secara verbal yang mencerminkan pada
tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang yang dapat
dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang[2][3][4] umumnya berkaitan dengan
kewenangannya yakni bila diterjemahkan secara bebas dapat diartinya bahwa semua
kewenangan tanpa mengindahkan keabsahan penggunaan atau tindakan kesewenangwenangan itu dapat pula dimasukan dalam rumusan kekerasan ini.[1]
"The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge
without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without
sacrifice, Politics without principles."

[sunting] Keragaman jenis dan definisi

Kekerasan yang dilakukan perorangan perlakuan kekerasan dengan


menggunakan fisik (kekerasan seksual), verbal (termasuk menghina),
psikologis (pelecehan), oleh seseorang dalam lingkup lingkungannya.
Kekerasan yang dilakukan oleh negara atau kelompok, yang oleh
Max Weber didefinisikan sebagai "monopoli, legitimasi untuk melakukan
kekerasan secara sah" yakni dengan alasan untuk melaksanakan putusan
pengadilan, menjaga ketertiban umum atau dalam keadaan perang yang
dapat berubah menjadi semacam perbuatanan terorisme yang dilakukan
oleh negara atau kelompok yang dapat menjadi salah satu bentuk
kekerasan ekstrem (antara lain, genosida, dll.). [6]
Tindakan kekerasan yang tercantum dalam hukum publik yakni
tindakan kekerasan yang diancam oleh hukum pidana (sosial, ekonomi atau
psikologis (skizofrenia, dll.)).
Kekerasan dalam politik umumnya pada setiap tindakan kekerasan
tersebut dengan suatu klaim legitimasi bahwa mereka dapat melakukannya
dengan mengatas namakan suatu tujuan politik (revolusi, perlawanan
terhadap penindasan, hak untuk memberontak atau alasan pembunuhan
terhadap raja lalim walaupun tindakan kekerasan dapat dibenarkan dalam
teori hukum untuk pembelaan diri atau oleh doktrin hukum dalam kasus
perlawanan terhadap penindasan di bawah tirani dalam doktrin hak asasi
manusia.[7]
Kekerasan simbolik (Bourdieu, Theory of symbolic power),[8]
merupakan tindakan kekerasan yang tak terlihat atau kekerasan secara
struktural dan kultural (Johan Galtung, Cultural Violence)[9] dalam
beberapa kasus dapat pula merupakan fenomena dalam penciptaan
stigmatisasi.

Kekerasan antara lain dapat pula berupa pelanggaran (penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan,
dll.) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti

orang lain, dan - hingga batas tertentu - kepada binatang dan harta-benda. Istilah "kekerasan"
juga berkonotasi kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak.
Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk kekerasan sembarang, yang
mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, dan kekerasan yang
terkoordinir, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak
seperti yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme.
Sejak Revolusi Industri, kedahsyatan peperangan modern telah kian meningkat hingga
mencapai tingkat yang membahayakan secara universal. Dari segi praktis, peperangan dalam
skala besar-besaran dianggap sebagai ancaman langsung terhadap harta benda dan manusia,
budaya, masyarakat, dan makhluk hidup lainnya di muka bumi.
Secara khusus dalam hubungannya dengan peperangan, jurnalisme, karena kemampuannya
yang kian meningkat, telah berperan dalam membuat kekerasan yang dulunya dianggap
merupakan urusan militer menjadi masalah moral dan menjadi urusan masyarakat pada
umumnya.
Transkulturasi, karena teknologi modern, telah berperan dalam mengurangi relativisme moral
yang biasanya berkaitan dengan nasionalisme, dan dalam konteks yang umum ini, gerakan
"antikekerasan" internasional telah semakin dikenal dan diakui peranannya.
Beberapa bentuk kekerasan