Anda di halaman 1dari 16

SISTEM OTOT DAN INTEGUMEN PADA IKAN

Disusun Oleh :
Octaverina Rezki Tamara

(155080307111)

Rifqi Muhlis Saidi

(155080307111006)

M. Rizky Pratama

(155080307111008)

Widya Shakina Pramesti

(155080307111010)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kami ucapkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Tak
lupa sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW, yang telah membimbing kita menuju jalan yang terang
benderang yaitu Adinul Islam.
Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen serta temanteman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moril maupun
materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata
bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian, kepada dosen serta temanteman, yang kadangkala hanya menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar
harapan kami jika ada kritik dan saran

yang membangun untuk lebih

menyempurnakan makalah-makah kami dilain waktu.


Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudahmudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, temanteman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau
mengambil hikmah dari judul ini Sistem Otot dan Integumen pada Ikan
sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.
Malang,

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................1
BAB I.................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN...................................................................................................3
1.1 Latar Belakang............................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................4
1.3 Tujuan.........................................................................................................4
BAB II................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN.....................................................................................................5
2.1 PENGERTIAN SISTEM OTOT...................................................................5
2.2 Macam Sistem Otot Ikan.............................................................................5
2.2.1 Otot Jantung (Cardiac Muscle).............................................................5
2.2.2 Otot Bergaris (Striated Muscle).............................................................6
2.2.3. Otot Polos (Smooth Muscle)................................................................6
2.3. Bagian-Bagian Otot Ikan............................................................................7
2.4. Tipe Otot.....................................................................................................8
2.5. Letak Otot...................................................................................................8
2.6 Integumen pada Ikan...................................................................................9
2.7 Sistem Integumen pada Ikan.......................................................................9
2.7.1 Kulit.......................................................................................................9
2.7.2 Sisik....................................................................................................10
2.8 Kelenjar Beracun.......................................................................................12
2.9 Warna pada Sistem Integumen.................................................................12
3. Organ Cahaya pada Sistem Integumen......................................................13
BAB III................................................................................................................ 15
PENUTUP.......................................................................................................... 15
3.1. Kesimpulan..............................................................................................15
3.2 Saran........................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan,
melindungi dan menginformasikan ikan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem
ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar. Kata ini berasal dari
bahasa latin intergum yang berarti penutup.
Secara ilmiah kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar
menutupi dan melindungi permukaan tubuh. Kulit sebagai pelindung tubuh
terhadap bahaya. Integumen merupakan suatu system yang sangat bervariasi;
padanya terdapat sejumlah organ ataupun struktur tertentu dengan fungsi yang
bermacam-macam. Sistem integumen dapat dianggap terdiri dari kulit yang
sebenarnya dan derivat-derivatnya. Gigi pada ikan hiu, scute, keel dan beberapa
tulang tengkorak pada ikan merupakan modifikasi dari sisik.
Kulit yang sebenarnya yaitu lapisan penutup yang umumnya terdiri dua
lapisan utama, letaknya sebelah luar dari jaringan ikat kendur yang meliputi otot
dan struktur permukaan lain. Sedangkan derivate integumen yaitu struktur
tertentu yang secara embryogenetik berasal dari salah satu atau kedua lapisan
kulit sebenarnya. Struktur ini dapat berupa struktur yang lunak, seperti kelenjar
eksresi, tetapi dapat juga berupa struktur keras dari kulit ini, dinamakan
eksoskelet..
Sehubungan dengan bervariasinya integumen pada vertebrata khusunya
ikan, maka fungsinya pun bermacam-macam pula, antara lain: pelindung
terhadap gangguan mekanis, fisis, organis atau penyesuaian diri terhadap faktorfaktor yang mempengaruhi kehidupannya, termasuk pelindung terhadap hewan
lain yang merupakan musuhnya; kulit juga digunakan sebagai alat ekskresi dan
osmoregulasi dan sebagai alat pernapasan pada beberapa jenis ikan tertentu.
Sistem Urat Daging (Otot) pada ikan Pekerjaan urat daging atau otot
untuk setiap aktifitas kehidupan hewan seharihari sangat penting. Dari mulai
gerakan tubuh hingga kepada peredaran darah, kegiatan utama gerakan tubuh
disebabkan karena keaktifan otot tersebut. Secara fungsional otot ini dibedakan

menjadi dua tipe, yaitu yang dibawah rangsangan otak dan yang tidak dibawah
rangsangan otak. Pada prinsipnya ikan mempunyai tiga macam urat daging atau
otot berdasarkan struktur dan fungsinya, yaitu: otot polos, otot bergaris, dan otot
jantung. Dari penempelannya juga bisa dibedakan menjadi dua yaitu otot
menempel pada rangka yaitu otot bergaris dan yang tidak menempel pada
rangka yaitu otot jantung dan otot polos.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penyusunan makalah ini sebagai berikut:
a. Bagaimanakah fungsi sistem otot pada ikan?
b. Bagaimanakah fungsi integumen pada ikan?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini sebagai berikut:
a. Dapat mengetahui fungsi otot pada ikan
b. Dapat mengetahui fungsi intergumen pada ikan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN SISTEM OTOT


Menurut Buchar (1991), otot sangat penting bagi kehidupan ikan terutama
dalam pergerakan tubuh peredaran darah dan aktivitas tubuh. Kegiatan utama

tubuh ikan, disebabkan karena keaktifan otot yang dimilikinya. Ikan memiliki
susunan otot yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan jenis avertebrata
lainya. Walaupun susunanya lebih sederhana ikan juga didapatkan jenis otot
polos (licin), otot bergaris dan otot jantung. Otot nampak merupakan suatu
kesatuan, tetapi sebenarnya tersusun dari blok urat daging.
Sistem otot pada ikan tersebar hampir di seluruh tubuh sehingga setiap
sistem otot tersebut mempunyai peranan atau fungsi tersendiri sesuai dengan
tempat dimana dia terdapat. Namun demikian, secara umum sistem otot
mempunyai fungsi untuk menggerakkan bagian-bagian tertentu dari tubuh ikan
sehingga secara keseluruhan menyebabkan ikan mampu bergerak atau
berenang.
Terdapat pengertian lain bahwa otot pada ikan adalah urat daging yang
membentuk daging ikan, terdiri dari tiga jenis urat daging yaitu urat daging licin,
urat daging bergaris/rangka, dan urat daging jantung.
2.2 Macam Sistem Otot Ikan

2.2.1 Otot Jantung (Cardiac Muscle)


Jaringan otot jantung memperlihatkan garis-garis melintang pada
serabutnya. Pada otot ini tidak ada serabut yang terpisah, masing-masing
berhubungan satu sama lainnya. Otot jantung berkontraksi kuat dan terus
menerus bekerja, sampai individu ini mati. Kerja otot jantung ini sifatnya
involuntary karena bekerja di luar rangsangan otak. Secara embriologi, otot
jantung merupakan tipe istimewa dari otot polos, dimana sel-selnya menjadi
bersatu seperti syncytium. Otot ini berwarna merah tua, berbeda dengan otot
bergaris yang berkisar antara warna putih hingga warna merah jambu
bergantung pada jenis ikannya. Otot ini disebut pula sebagai myocardium.
Myocardium ini dilapisi oleh selaput pericardium (selaput luar) dan endocardium
(selaput dalam).

2.2.2 Otot Bergaris (Striated Muscle)


Otot bergaris yang termasuk voluntary muscle atau yang bekerja secara
langsung terdapat pada empat bagian tubuh ikan, yaitu:
1. Occulomotor
- Jumlahnya 3 pasang
- Berfungsi untuk menggerakkan mata
2. Hypobranchial

- Terdapat pada dasar pharynx, rahang dan lengkung insang


- Berfungsi sebagai pengembang
3. Branchiomeric
- Terletak pada wajah, rahang dan lengkung insang
- Berfungsi sebagai pengerut
4. Otot appendicular
- Terletak di dasar sirip
- Berfungsi untuk menggerakkan sirip

2.2.3. Otot Polos (Smooth Muscle)


Serabut otot polos lebih sederhana dan kecil dibandingkan dengan serabut
otot lainnya. Serabut ini tumbuh dari mesenchim embrio. Secara primer berasal
dari mesoderm dengan disertai sel-sel jaringan ikat, kemudian berkembang
menjadi otot polos. Kerja otot polos ini disebut involuntary karena kerjanya tidak
dipengaruhi oleh rangsangan otak. Serabut otot polos pada umumnya tersusun
dalam ikatan, tetapi banyak pula yang tersebar. Kontraksi otot ini lambat dan
kerjanya lama.
Otot polos antara lain terdapat pada:
a) Otot polos yang terdapat pada dinding saluran pencernaan, baik yang
melingkar

maupun

yang

memanjang.

Otot

ini

digunakan

untuk

menggerakkan makanan (gerakan peristaltik); yang lainnya ditemukan


pada saluran kelenjar pencernaan, kantung urine, trakhea dan bronkhi
b)

dari paru-paru.
Otot polos yang terdapat pada saluran peredaran darah, yaitu urat

daging melingkar berguna untuk mengatur tekanan darah.


c) Otot polos yang terdapat pada mata yang digunakan dalam mengatur
akomodasi dengan menggerakkan lensa mata dan mengatur intensitas
cahaya.
d) Otot polos yang terdapat pada saluran ekskresi dan reproduksi digunakan
dalam menggerakkan produk yang ada di dalamnya.
2.3. Bagian-Bagian Otot Ikan
Untuk melihat dengan jelas bagian-bagian urat daging, maka perlu dibuat
sayatan melintang pada tubuh ikan agak ke caudal (potongan tegak lurus melalui
tulang punggung). Setelah terpotong dua maka tampaklah otot-otot yang
tersusun dalam lingkaran-lingkaran konsentris. Potongan otot yang berupa
lingkaran-lingkaran konsentris ini disebabkan karena otot-otot tersebut tersusun
secara rapi dari cranial ke caudal oleh lapisan-lapisan otot yang berbentuk
kerucut dan disebut coni musculi. Coni musculi ini tersusun secara segmental
6

dan disebut myomer (ikan yang masih embrio) atau myotome (ikan yang sudah
dewasa). Antara satu myomer dengan myomer lainnya dipisahkan oleh suatu
pembungkus yang disebut myocommata atau myoseptum. Otot-otot yang
terletak di bagian sebelah kiri dan kanan tubuh dipisahkan oleh suatu sekat yang
disebut septum vertical. Oleh suatu sekat yang disebut septum horisontal atau
horisontal skeletogenous septum, otot-otot pada tubuh ikan terbagi atas dua
daerah yaitu:
Musculi dorsalis atau musculi epaxialis, yaitu kumpulan otot-otot yang
terdapat di sebelah dorsal septum horisontal
Musculi ventralis atau musculi hypaxialis, yaitu kumpulan otot-otot yang
terletak di sebelah ventral septum horisontal
Pada daerah septum horisontal terdapat jaringan otot berwarna merah
banyak mengandung lemak yang disebut mud stripe (red muscle) atau musculus
lateralis superficialis. Otot yang berwarna merah berfungsi untuk meningkatkan
panas tubuh karena dialiri darah yang mengandung oksigen lebih banyak. Jika
suhu laut 19,2C, sedangkan pada otot berwarna putihnya 21,3 29,3C.
Daging merah ikan adalah lapisan daging ikan yang berpigmen kemerahan
sepanjang tubuh ikan di bawah kulit tubuh. Jumlah daging merah bervariasi
mulai kurang dari 1-2 % pada ikan yang tidak berlemak hingga 20% pada ikan
yang berlemak. Diameter sel atau jaringan otot pada daging merah lebih kecil
(Okada, 1990).
Ikan-ikan yang hidup di daerah dingin, misalnya sekitar kutub biasanya
memiliki otot yang berwarna merah juga berkembang baik pada ikan oceanic
yang berenang cepat. Pada suhu perairan 20C ikan terbang (flying fish),
barracuda, macrekel dan ikan sejenisnya mengalami kenaikan suhu hingga 6C
dari suhu perairan.
Reaksi metabolisme, pencernaan dan impulse syaraf pada tubuh ikan
berjalan lebih cepat sehingga ikan akan mempunyai tenaga tiga kali lebih besar.

2.4. Tipe Otot


Tipe otot dibagi berdasarkan bentuk otot dengan melihat sketsa yang ada
dibawah lapisan kulit. Dari arah lateral maka bentuk otot-otot bergaris melintang
disebut dengan lateral skeletal musculature.
Tipe otot dapat dibedakan atas dua yaitu:
a) Tipe cyclostomine, ditemukan pada ikan-ikan Aghnata
b) Tipe piscine, didapatkan pada Chondrichthyes dan Osteichthye

2.5. Letak Otot


Letak otot-otot ikan Osteichthyes dapat ditemukan pada hampir seluruh
bagian tubuhnya. Disini akan dijelaskan pada beberapa bagian penting, antara
lain:
a. Otot pada bagian kepala, terdiri dari:
Otot penggerak rahang
Otot penarik eksternal, berhubungan terutama dengan rahang dan tulang
lengkung insang
Otot penggerak rahang bawah (musculus adductor mandibularis)
Otot elevator palatine.
b. Otot pada bagian sirip
Otot sirip dorsal
Otot sirip ventral
2.6 Integumen pada Ikan
Integumen merupakan sistem pembalut tubuh ikan yang terdiri dari kulit
dan derivat-derivatnya. Kulit selain berfungsi sebagai pembalut tubuh juga
berguna sebagai alat pertahanan pertama terhadap penyaklit, perlindungan dan
penyesuaian

diri

terhadap

faktor-faktor

lingkungan,

alat

ekskresi

dan

osmoregulasi dan alat pernafasan tambahan pada bebeapa jenis ikan. Kulit
sebagai pembungkus pada ikan terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan luar yang
disebut dengan epidermis dan lapisan dalam yang disebut dengan dermis atau
corium. Lapisan dalam dari epidermis merupakan pertumbuhan sel yang aktif.
Lapisan dermis berisi saluran darah, urat saraf, organ peraba dan jaringan
penghubung. Lapisan dermis berperan dalam pembentukan sisik dan erat
kaitannya dalam pembentukan struktur integumen (Manda et al., 2005).
2.7 Sistem Integumen pada Ikan
Menurut Mahardono (1979), sistem integumen pada ikan ada beberapa
macam yaitu.

2.7.1 Kulit
Sama seperti vertebrata lainnya, kulit pada ikan selain sebagai pembalut
tubuh juga berfungsi sebagai :
a. Alat pertahanan pertama terhadap penyakit.
b. Perlindungan dan penyesuaian diri terhadap faktor lingkungan yang
mempengaruhi kehidupan ikan, oleh karena itu dalam kulit terdapat alat
penerima rangsang.
c. Alat eksresi dan osmoregulasi.
d. Alat pernapasan tambahan untuk beberapa jenis ikan.

Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan luar yang disebut Epidermis dan
lapisan dalam yang disebut Dermis atau Corium.
a. Epidermis
Merupakan lapisan luar dari kulit, kulit pada bagian epidermis ini selalu
basah yang disebabkan oleh lendir yang dihasilkan suatu sel kelenjar di bagian
dalam epidermis. Lendir, pada lapisan ini terdapat suatu sel kelenjar berbentuk
piala yang dapat menghasilkan suatu zat (semacam glycopretein) yang
dinamakan mucin. Jika zat tersebut bersentuhan dengan air maka akan berubah
menjadi lendir, dan menyebabkan kulit pada bagian epidermis ini selalu basah.
Pada ikan yang tidak memiliki sisik lendir yang dihasilkan lebih banyak daripada
ikan yang memiliki sisik. Fungsi lendir pada ikan itu sendiri adalah untuk
mengurangi gesekan tubuh dengan air yng membuat ikan dapat berenang lebih
cepat, pada belut lendir digunakan untuk mempertahankan diri dari mangsa
khususnya manusia yang membuat tubuhnya licin dan sulit digenggam. Selain itu
lendir juga berperan dalam proses osmoregulasi sebagai lapisan semipariabel
yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit, serta mencegah infeksi dalam
penutupan luka.
b. Dermis
Lapisan kulit dalam atau dermis akan lebih tebal dari lapisan kulit luar.
Dermis mengandung pembuluh darah, saraf dan jaringan pengikat. Lapisan ini
juga berperan dalam proses pembentukan sisik pada ikan yang bersisik.

2.7.2 Sisik
Sisik sering diistilahkan sebagai rangka dermis karena sisik dibuat di
dalam lapisan dermis. Disamping ikan yang bersisik, juga banyak terdapat ikan
yang sama sekali tidak mempunyai sisik misalnya ikan-ikan yang termasuk subordi Siluridae.
Sisik pada golongan ikan Teleostei merupakan tulang dermal yang
aselular, yang terdiri dari susunan matriks isopedine mineral yang membungkus
serabut-serabut kalogen yang tebal yang tersusun dengan arah posterior.
Terdapat 4 macam sisik yaitu:
a. Sisik Pelacoid
Sisik Placoid atau dermal denticle, yaitu sisik yang biasa dimiliki oleh
kelompok Elasmobranchii dan Chondrichthyes disebut dermal denticle. Sisik ini
9

terbentuk seperti pada gigi manusia dimana bagian ectodermalnya memiliki


lapisan email yang disebut sebagai vitrodentin dan lapisan dalamnya disebut
dentine yang berisi pembuluh dentinal.
b. Sisik Ctenoid
Sisik Ctenoid terdapat pada ikan bertulang sejati (Teleostei) yang mempunyai
jari-jari sirip keras (Acanthopterygii). Berbentuk pipih, tipis dan transparan, tidak
mengandung dentine atau enamel, serta pada bagian posterior terdapat semaam
duri-duri kecil atau Ctenii. Pada bagian luar sisik terdapat tonjolan-tonjolan
melingkar (circuli) dan garis memusat (Radius).
c. Sisik Cycloid
Sisik Cycloid terdapat pada ikan Teleostei yang memiliki jari-jari lunak pada
siripnya (Malacopterygii). Betuk sisik ini lebih bulat dan tidak mengandung
dentine atau enamel. Pada bagian luar sisik terdapat tonjolan-tonjolan melingkar
(circuli) dan garis memusat (Radius). Pada ikan dari daerah subtropis, circuli
dapat digunakan untuk menentukan umur ikan.
d. Sisik Cosmoid dan Ganoid
Sisik Cosmoid
Sisik Cosmoid terdapat pada ikan yang sudah menjadi fosil atau terdapat
pada ikan primitif seperti ikan Latimeria dan sisik ini permukaan luar berlapis
denticulate.

Sisik Ganoid

Sisik Ganoid terdapat pada ikan-ikan Acanthopterygii contohnya ikan


Acipencer serta pada lapisan luar sisik dibentuk dari substansi garam anorganik
yang keras (ganoine).

10
Gambar 1: Macam-macam Sisik

2.8 Kelenjar Beracun


Kelenjar Beracun juga

terdapat pada sistem integumen, dimana kelenjar

beracun ini merupakan derivat kulit yang merupakan modifikasi kelenjar yang
mengeluarkan

lendir.

Kelenjar

beracun

ini

berfungsi

sebagai

alat

mempertahankan diri, menyerang atau melumpuhkan mangsa. Ikan-ikan yang


sistem integumennya mengandung kelenjar beracun antara lain ikan-ikan yang
hidup disekitar karang, ikan lele dan sebangsanya (Siluroidea), dan golongan
Elasmobranchii (Dasyatidae, Chimaeridae, Myliobathidae). Beberapa jenis ikan
buntal (Tetraodontidae) juga terkenal beracun, tetapi racunnya bukan berasal
dari sistem integumennya, melainkan dari kelenjar empedu.
2.9 Warna pada Sistem Integumen
Warna pada ikan dikarenakan oleh schemachrome (karena konfigurasi fisik)
dan biochrome (pigmen pembawa warna). Schemachrome putih terdapat pada
rangka, gelembung renang sisik dan testes; biru dan ungu pada iris mata; warnawarna pelangi pada sisik, mata dan membran usus. Sel khusus yang
memberikan warna pada ikan ada dua macam yaitu iridocyte (leucophore dan
guanophore) dan chromatophone. Chromatophore dasar ada empat jenis yaitu
erythrophore (merah dan jingga), xanthophore (kuning), melanophore (hitam)
dan leucophore (putih).
Warna tubuh pada ikan mempunyai banyak fungsi. Mahardono (1979),
mengelompokkan

fungsi-fungsi

tersebut

dalam

tiga

hal

yaitu

untuk

persembunyian, penyamaran, dan pemberitahuan. Jenis warna persembunyian


meliputi warna pemiripan warna secara umum, pemiripan warna secara berubah,
pemudaran warna, perwarnaan terpecah dan pewarnaan terpecah koinsiden.
Pemiripan warna secara umum antara lain antar ikan dengan latar
belakangnya merupakan karakteristik dasar ikan untuk memiripi bayangan dan
corak habitat dimana mereka tinggal. Pemiripan warna secara berubah
merupakan kemampuan ikan untuk mengubah warna tubuhnya secara perlahanlahan atau cepat seakan-akan untuk dapat menyamai latar belakangnya dengan
lebih sempurna. Beberapa variasi pemiripan warna terjadi bersamaan dengan
tahap-tahap kehidupannya.
Pemudaran warna pada ikan berfungsi untuk mengurangi kejelasan ikan
tersebut dari sekelilingnya sehingga kabur. Salah satu bentuk pemudaran warna
ini ialah counter shadding; dimana ikan mempunyai bagian dorsal yang
11

berwarna lebih gelap daripada bagian vetralnya. Keadaan demikian ini


cenderung membuat mereka tampak seperti bidang datar bagaikan banyangan
(prinsip Thayer)
Perwarnaan

terpecah

merupakan

suatu

upaya

untuk

mengaburkan

pandangan terhadap tubuh ikan. Bila permukaan tubuh ikan mempunyai garisgaris warna atau corak kontras yang tidak teratur, maka garis-garis tersebut akan
cenderung mengaburkan padangan hewan lain yang meliputi ikan itu.
Pewarnaan terpecah koinsiden merupakan suatu kamuflese khusus, dengan
cara membentuk suatu corak yang menyerupai suatu organ tubuh. Sebagai
contoh pada ikan kupu-kupu (Forcipiger longirostris).
Penyamaran merupakan suatu upaya untuk menyerupai suatu benda
tertentu, bukan saja terhadap warna tetapi juga bentuk dan tingkah laku. Ikan
Monocanthus polycanthus dan Oliogoplites saurus tampak menyerupai daun.
Bentuk lepu tembaga (Synanceja horrida) mirip batu.
Yang termasuk biochrome ialah :

Carotenoid; berwarna kuning, merah dan corak lainnya


Chromolipoid; berwarna kuning sampai coklat
Indigoid; berwarna biru, merah dan hijau
Melanin; kebanyakan berwarna hitam atau coklat
Porphyrin atau pigmen empedu; berwarna merah, kuning, hijau, biru dan

coklat
Flavin; berwarna kuning tetapi sering dengan fluoresensi kehijau-hijauan
Purin; berwarna putih atau keperak-peraka
Pterin; berwarna putih, kuning, merah dan jingga

3. Organ Cahaya pada Sistem Integumen


Terdapat dua sumber cahaya yang dikeluarkan oleh ikan dan keduanya
terdapat pada kulit, yaitu cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri yang hidup
bersimbiose dengan ikan dan cahaya yang dikeluarkan oleh ikan itu sendiri. Ikan
yang dapat mengeluarkan cahaya umumnya tinggal di bagian laut dalam dan
hanya sedikit yang hidup di perairan dangkal. Cahaya yang dikeluarkan oleh
jasad hidup dinamakan bioluminescens.
Sel pada kulit ikan yang dapat mengeluarkan cahaya tersebut sel cahaya
atau photopore (photocyte). Sel ini terdapat pada golongan ikan Elasmobranchii
(Spinax, Etomopterus, Benthobathis moresbyi) dan teleostei (Stomiatidae,
12

Myctophiformes,

Batrachhoididar).

Monocentridae,

Anomalopidae,

Ikan-ikan

famili

Leiognathidae,

Macroridae,

Gadidae,

Serranidae,

dan

Saccopharyngidae mempunyai cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri yang hidup


bersimbiose dengan ikan. Fungsi organ cahaya pada ikan adalah sebagai tanda
pengenal individu ikan sejenis, untuk memikat mangsa, menerangi lingkungan
sekitarnya, mengejutkan musuh dan melarikan diri, sebagai penyesuaian
terhadap ketiadaan sinar di laut dan sebagai ciri ikan beracun.

13

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Sistem otot pada ikan berfungsi untuk mengatur pergerakan ikan


dibantu oleh sistem rangka dan juga berperan memberikan bentuk tubuh
ikan. Otot berfungsi untuk menggerakkan bagian-bagian tertentu dari
tubuh ikan hingga ikan mampu berenang. Ikan bisa berenang karena otototot yang berkontraksi dari sisi ke sisi, depan belakang. Tubuh ikan akan
menekan tekanan air dan bergerak ke depan. Unit fungsional organ listrik
adalah elektroplaks, berupa sel berinti banyak. Organ listrik terdapat pada
ekor (ikan pari listrik), bawah kulit (Teleostei), sirip, belakang mata (star
gazer), atau pada sebagian besar permukaan tubuh (belut listrik).
3.2 Saran
Diharapkan makalah ini dapat menjadi bahan bacaan yang bergunabagi
mahasiswa khususnya jurusan perikanan,sehingga dapat memaham itentang
ikhtiologi perikanan khususnya system otot dan organ yang menghasilkan listrik
pada ikan dengan membandingkan atau menambahkan referensi lain sehingga
dapat di aplikasikan di kehidupan sehari-hari.

14

DAFTAR PUSTAKA
Buchar,R, 1991. Kegiatan Magang Mata Ajaran Iktiologi. IPB, Fakultas Perikanan
Direktorat Pembudidayaan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen
Kelautan dan Perikanan (2004).
Djuhanda, T. 1981. Dunia ikan. Armico Bandung.
Effendie, M. I. 1997. Biologi perkanan. Yayasan Pustaka nusantara. Yogyakarta
Hardanto, 1979. Perikanan Indonesia, PT Cipta Sari Grafika, Bandung
Lerman, M. 1986. Marine Biology. Environment, Diversity, and Ecology. The
Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. California.
Mahardono, 1979. Anatomi Ikan. PT Inter Masa, Jakarta.
Mahardono, 1979. Perikanan Indonesia. PT. Cipta Sari Grafika Bandung.
Manda, R., I. Lukystiowati, C. Pulungan dan Budijono. 2005. Penuntun Praktikum
Ichtyology. Universitas Riau. Pekanbaru.
Rahardjo.M.F dkk, 2011. Ikhtiology, Lubuk Agung, Jakarta.
Soewasono, 1960. Diktat Skeleton dan Circulation. Diktaten Kring Fakultas
Kedokteran, Yogyakarta.
Tim Iktiologi. 1989. Iktiologi. IPB Fakultas Perikanan Jurusan Manajemen
Sumberdaya Perairan. Bogor.

15

Anda mungkin juga menyukai