Anda di halaman 1dari 7

Pendahuluan

Munculnya kembali kasus gizi buruk yang diawali di Provinsi NTT dan NTB dan
kemudian diikuti oleh provinsi lainnya menunjukan bahwa masalah gizi selain merupakan
masalah kesehatan masyarakat juga terkait dengan masalah sosial dan budaya.Gizi buruk
adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein (KEP)
dalam asupan makanan sehari-hari. Seorang penderita gizi buruk tidak mendapatkan
minimum angka kecukupan gizi (AKG). Anak balita merupakan kelompok yang paling rawan
terhadap terjadinya kekurangan gizi.
Kekurangan gizi dapat terjadi dari tingkat ringan sampai tingkat berat. Apabila jumlah
asupan gizi balita sesuai dengan kebutuhan disebut seimbang (gizi baik), sedangkan apabila
asupan zat gizi lebih rendah dari kebutuhan disebut gizi kurang, sedangkan apabila asupan
zat gizi sangat kurang dari kebutuhan disebut gizi buruk. Anak Balita yang sehat atau kurang
gizi dapat diketahui melalui perbandingan antara berat badan menurut umur atau berat badan
menurut tinggi. Apabila sesuai dengan standar anak disebut gizi baik, apabila sedikit di
bawah standar disebut gizi kurang, sedangkan jika jauh di bawah standar disebut gizi buruk.
Apabila gizi buruk disertai dengan tanda-tanda klinis seperti ; wajah sangat kurus, muka
seperti orang tua, perut cekung, kulit keriput disebut Marasmus, dan bila ada bengkak
terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab disebut Kwashiorkor. Marasmus dan
Kwashiorkor atau Marasmus Kwashiorkor dikenal di masyarakat sebagaibusung lapar.
UNPAD.AC.ID

Pembahasan
1. Identifikasi Istilah
Marasmic kwashiorkor
-

a. Marasmus:
Tampak sangat kurus
Wajah seperti orang tua
Iga gambang perut cekung
Otot paha mengendor ( Baggy Pant)
Mengecilnya(artrofi) otot lengan dan tungkai
b. Kwasiorkor
Bengkak ( Edema) seluruh tubuh ( terutama pada kedua punggung kaki)
Wajah bulat (moon face) dan sembab

Cengeng / rewel/apatis
Perut buncit ( Acites)
Bercak kulit yang luas dan kehitaman/ bintik kemerahan
c. Marasmik-Kwashiorkor:

Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik Kwashiorkor dan
Marasmus, dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak
mencolok.1 posyandu

2. Rumusan Masalah
a.
b.
c.
d.
e.

Program Posyandu tidak berjalan dengan optimal


Tingkat gizi buruk balita mencapai 60%
Tingkat kematian bayi dan balita cukup tinggi (IMR = 80/1000)
Hampir seluruh ibu- ibu tidak mngenal program KB
Tingkat pendidikan penduduk rata-rata tidak lulus SD

3. Mind Mapping

Visi indonesia sehat


2010

Paradigma sehat

Kesehatan lingkungan

Posyandu

Demografi dan KB

Gizi masyarakat

Gizi buruk bayi dan


balita

Promosi kesehatan

Promotif

Preventif

4. Hipotesis
-

Visi Indonesia Sehat 2010 belum tercapai karena program pelayanan kesehatan belum
berjalan optimal

5. Pembahasan kasus
Paradigma Sehat
Adalah model kebijakan pembangunan kesehatan baru yang bersifat holistik,
melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersifat sektor
dan upayanya lebih diarahkan kepada pemeliharaan, peningkatan, perlindungan
kesehatan, (promotip), dan pencegahan terhadap ancaman penyakit(preventip), bukan
hanya penyembuhan orang sakit (kuratip) dan pemulihan kesehatan setelah sembuh
dari penyakit (rehabitatip)

Secara makro, berarti bahwa pembangunan semua sektor harus memperhatikan


dampaknya terhadap bidang kesehatan, paling tidak harus memberikan kontribusi
positif bagi pengembangan perilaku dan lingkungan sehat.
Secara mikro, berarti bahwa pembangunan kesehatan lebih menekankan upaya
promotip dan preventip tanpa mengesampingkan upaya kuratip dan rehabilitatip.
Tujuan paradigma sehat yaitu penyelarasan kebijakan pembangunan kesehatan dengan
UU No.23 tahun 1992 pasal 3 yang menyebutkan bahwa pembangunan kesehatan
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan bagi setiap setiap
orang dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
-Visi Indonesia sehat 2010
Tujuan pembangunan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan
kesehatan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan
Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan
lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta meningkatnya derajat
kesehatan di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Visi pembangunan kesehatan Indonesia Sehat 2010 merupakan salah satu agenda
pembangunan nasional untuk mewujudkan sumber daya manusia yang sehat,
cerdas, produktif dan mandiri. Selanjutnya dalam pembangunan di bidang gizi
dirumuskan visi mewujudkan keluarga sadar gizi untuk mencapai status gizi
masyarakat/keluarga yang optimal.
Pencapaian visi yang dikemukakan diatas diselenggarakan melalui implementasi
berbagai program pembangunan kesehatan, pangan dan gizi. Khususnya
pembangunan bidang gizi sudah dimulai sejak tahun 1980 dengan strategi dan
kebijakan yang melibatkan berbagai sektor terkait.
Kesehatan lingkungan
Adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan
lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Lingkungan dibagi
menjadi lingkungan hidup internal dan eksternal. Lingkungan hidup internal adalah
proses fisiologis dan biokimia yang berlangsung dalam tubuh manusia pada saat
tertentu yang juga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dan keadaan yang
terjadi diluar tubuh kelangsungana hidaupnya aau disebut juga bersifat homeostatis.

Contoh, perubahan temperatur dari panas ke dingin. Lingkungan hidup eksternal


adalah segala sesuatu yang berupa benda hidup atau mati, ruang energi, keadaan
sosia , ekonomi maupun budaya yang dapat membawa pengaru terhadap peri
kehidupan manusia dipermukaan bumi ini.2 Jika sanitasi lingkungan buruk maka akan
menguntungkan agen penyakit untuk masuk dan berkembang biak dalam tubuh
manusia. Hal ini berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Oleh karena itu perlu
untuk menjaga higienitas dan sanitasi lingkungan.
Posyandu
Posyandu adalah wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh dan untuk
masyarakat serta yang dibimbing petugas terkait.
Gizi Masyarakat
Masalah gizi merupakan sindroma kemiskinan yang erat kaitannya dengan
masalah ketahanan pangan ditingkat rumah tangga. Peningkatan status gizi
masyarakat memerlukan kebijakan yang menjamin setiap anggota masyarakat dapat
memperoleh makanan yang cukup, baik jumlah dan mutunya. Masalah gizi dapat
disebabkan karena kesadaran gizi masyaraat yang belum memadai. Jika disertai
dengan higienis perorangan dan sanitasi lingkungan yang kurang mendukung aka
menyebabkan timbulnya berbagai penyakit infeksi yang pada akhirnya akan
menurunkan keadaan kesehatan dan gizi.
Meskipun masalah gizi merupakan sindroma kemiskinan, tetapi dalam kasuskasus tertentu pemecahannya dimungkinkan tanpa harus menunggu sampai dicapai
tingkat pertumbuhan ekonomi yang memadai. Misalnya : penanggulangan masalah
kurang vitamin A(KVA), penanggulangan akibat kekurangan yodium (GAKY)
dengan yodisasi garam, penanggulangan anemia dan penanggulangan masalah
miktonutrien lainnya(Zn, Se). Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek
kesehatan saja melainkan aspek-aspek terkait yang lain, seperti ekonomi, sosialbudaya, pendidikan, kependudukan, dan sebagainya. Penanggulangannya harus secara
multisektoral dan multi disiplin.
Promosi Kesehatan
-Promotif
WHO menekankan bahwa promosi kesehatan merupakan suatu proses yang
bertujuan memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan
meningkatkan kesehatan berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri
sendiri ( self empowerment). Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh
dan bersama masyarakat serta sesuai dengan sosial budaya setempat. Sasaran
promosi kesehatan diarahkan pada individu keluarga masyarakat, pemerintah/lintas

sektor/politisi/swasta dan petugas atau pelaksana program. Agar lebih spesifik,


sasaran dibagi menjadi sasaran primer ( sasaran yang mempunyai masalah dan
diharapkan mau berperilaku sesuai harapan dan memperoleh manfaat yang besar
dari perubahan perilaku tersebut), sekunder ( individu atau kelompok yang
berpengaruh dan disegani oleh sasaran primer), tertier ( pengambilan kebijakan,
penyandang dana, pihak-pihak yang berpengaruh di berbagai tingkatan).
Strategi promosi kesehatan adalah
Advokasi kesehatan merupakan pendekatan pada penentu kebijakan agar

membuat kebijakan yang berwawasan kesehatan.


Bina suasana merupakan menciptakan suasana kondusif agar tercipta keadaan

sehat
Gerakan

masyarakat

merupakan

upaya

memandirikan

masyarakat

mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat.

-Preventif
Demografi dan KB
Membicarakan masalah kualitas sumber daya manusia tidak terlepas dari perencanaan
keluarga berencana untuk mencapai kesejahteraan. Pertumbuhan penduduk terutama
terjadi di neghara Asia, Amerika Latin, dan Afrika, justru Negara miskin, berlangsung
sangat pesat. Pertumbuhan yang tidak terkendali memberikan dampak semakin
meningkatknya kemiskinan. Kemiskinan merupakan malapetaka manusia yang paling
kejam

karena

memberikan

dampak

yang

sangat

besar

terhadap

berbagai

keehidupan.Kehidupan miskin menyebabkan makin rendah nilai sumber daya manusia


dalam bentuk:4
-

pendidikan karena semakin banyak jumlah penduduk maka kita membutuhkan banyak
fasilitas pendidkan, namun kenyataan fasilitas yang ada sangat terbatas. Hal ini

menyebabkan banyak masyarakat yang kurang mendapat pendidikan.


Perumahan. Jumlah penduduk yang banyak akan mengakibatkan penyediaan lahan

untuk pemukiman semakin sempit.


urbanisasi, Banyaknya masyarakat desa yang berpindah ke kota menyebabkan

banyaknya pemukiman kumuh di daerah kota.


masalah kelaparan, Banyaknya jumlah penduduk tidak sebanding dengan jumlah
pangan yang tersedia. Akibatnya timbul kelaparan penduduk.

lapangan kerja,Dengan laju pertumbuhan penduduk yang pesat, lapangan kerja yang
ada semakin kecil, akibatnya tingkat pengangguran semakin tinggi dan beban

tanggungan pemerintah semakin besar.


masalah pencemaran lingkungan,Pencemaran lingkungan tejadi bila keseimbangan
telah tidak mampu melakukan daur ulang, yang akhirnya merugikan manusia sendiri.
Pencemaran lingkungan ini akibat dari ulah manusia yang membuang sampah dan

limbah dengan sembarangan.


ketegangan poleksosbudhankamnas. Ketegangan dalam lingkungan keluarga akan
berdampak luas ke tingkat nasional. Poleksosbudhankam keluarga akan terlaksana
bila dapat terjamin kualitas keluarga dengan jalan merencanakan keluarga melalui
keluarga berencana.

Banyak sekali malapetaka yang ditimbulkan akibat pertumbuhan penduduk yang pesat,
termasuk masalah kesehatan yang akhirnya berpengaruh terhadap status gizi masyarakat.
Oleh karena itu sangat diperlukan berlangsungnya program keluarga berencana.