Anda di halaman 1dari 24

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR 1

RUMAH BUBUNGAN TINGGI, KALIMANTAN SELATAN

DOSEN : YUNITA ARDIANTI S, ST, MT.

OLEH JURUSAN ARSITEKTUR:

1.
2.
3.
4.
5.

GHANDA PRADANA
GLADYS GALUH C.
BUNGA IMAZIZAH E.
MUTIARA MARTHA
TIO BINTANG RIYANTO

: 04.2013.1.02661
: 04.2013.1.02644
: 04.2013.1.02649
: 04.2013.1.02703
: 04.2013.1.02711

INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA


TAHUN 2013-2014

RUMAH BUBUNGAN TINGGI, KALIMANTAN SELATAN


A. Prinsip-Prinsip Umum Rumah Bubungan Tinggi

Ciri-Ciri
Menurut Tim Depdikbud Kalsel, ciri-cirinya :
A. Atap Sindang Langit tanpa plafon
B. Tangga Naik selalu ganjil
C. Pamedangan diberi

Lapangan

kelilingnya

dengan Kandang Rasi berukir


Bentuk arsitektur dan pembagian ruang rumah
tradisional Bubungan Tinggi mempunyai kesamaan
prinsip

antara

satu

dengan

lainnya,

dengan

perbedaan-perbedaan kecil yang tidak berarti.


Dari sini dapat dilihat bahwa rumah tradisional
Bubungan Tinggi tersebut mempunyai keterikatan
dengan nilai tradisional masyarakatnya.

Jadi meskipun pada awalnya bentuk tersebut dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan fungsi
dan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi karena sifatnya yang berulang-ulang kemudian
dari bentuk fungsional tersebut berubah menjadi bentuk yang tradisional.
Masyarakat Banjar di Kalimatan Selatan memiliki beberapa rumah adat yang khas
dan unik, salah satunya adalah Rumah Bubungan Tinggi. Dulu, rumah adat ini merupakan
tempat tinggal Sultan Banjar sehingga menduduki tingkat tertinggi dari seluruh tipe rumah
adat Banjar lainnya. Disebut Rumah Bubungan Tinggi karena bubungan atapnya berbentuk
lancip dengan sudut 45o menjulang tinggi ke atas. Rumah Bubungan Tinggi ini diperkirakan
sudah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah
atau yang bergelar Panembahan Batu Habang (15961620 Masehi).
Rumah banjar bubungan tinggi adalah bangunan yang tertua dari seluruh tipe rumah
tradisional. Pada masa kerajaan banjar, Bubungan tinggi dikenal sebagai istana sultan
Banjar. Oleh karena itu, rumah ini dinilai sebagai bangunan yang paling utama dari rumahrumah adat lainnya. Rumah ini menjadi salah satu rumah tradisional suku Banjar (rumah
Banjar) di Kalimantan Selatan dan bisa dibilang merupakan ikonnya Rumah Banjar karena
jenis rumah inilah yang paling terkenal karena menjadi maskot rumah adat khas provinsi
Kalimantan Selatan. Di dalam kompleks keraton Banjar dahulu kala bangunan rumah
Bubungan Tinggi merupakan istana kediaman raja (bahasa Jawa: kedhaton).

B. ORGANISASI RUANG
Pada rumah bubungan tinggi di Kalimantan Selatan, diperoleh adanya 5 kelompok
ruang yang selalu ada, yaitu ruang pelataran (teras), panampik (ruang tamu), paledangan
(ruang keluarga), anjung (ruang pribadi), dan pedapuran (dapur).
Kelima

jenis ruang tersebut

juga selalu diatur penempatannya membentuk

simbol/tanda + atau dikenal dengan nama simbol cacak burung. Simbol cacak burung ini
dipercaya merupakan
Biasanya simbol

simbol penolak bala, dan sering juga digunakan untuk pengobatan.

ini dilukis

pada

dahi anak-anak

yang sedang sakit menggunakan

ramuan kunyit. Pada bangunan, keyakinan adanya keselamatan hidup menjadi dasar
digunakannya bentuk ini. Adapun kepercayaan simbol cacak burung ini aslinya adalah
kepercayaan Dayak Ngaju.

Gambar Simbol Cacak Burung dan


Penerapannya pada Susunan Ruang
Keterangan:
1. Ruang Pelataran
2. Ruang Panampik
3. Ruang Paledangan
4. Ruang Anjung
5. Ruang Pedapuran

Gambar Kelompok Ruang pada Rumah Bubungan Tinggi

Keberadaan 5 jenis ruang tersebut dapat dilihat dari nama ruang dan fungsi ruang:
1. Ruang pelataran berfungsi sebagai teras sekaligus halaman untuk berbagai aktivitas.
Keberaadaan ruang pelataran menjadi kebutuhan disebabkan kondisi lingkungan alam
yang berawa-rawa.
2. Ruang panampik merupakan ruang tamu untuk berbagai aktivitas sosial, seperti
upacara/ritual keagamaan yang memang sangat sering dilakukan oleh masyarakat
Banjar.
3. Ruang paledangan merupakan ruang privat, yang khusus

untuk

seluruh

anggota

keluarga berkumpul.
4. Ruang anjung merupakan ruang tidur dan aktivitas pribadi lainnya, seperti ibadah,
dll.
5. Bagian paling belakang adalah ruang pedapuran yang menjadi pusat aktivitas kaum
perempuan, seperti memasak, menjaga anak, mengerjakan aktivitas rumahan, dll.
Ciri lain yang dapat dilihat dari keberadaan anjung di sisi kiri dan kanan. Keberadaan
ruang anjung adalah ciri khas rumah Banjar, sehingga terkadang dikenal juga dengan
sebutan rumah baanjung. Dalam kenyata- annya rumah masyarakat biasapun (rumah
rakyat) tidak jarang menggunakan anjung.

Gambar Anjung pada Rumah


Bubungan Tinggi, sebagai Ciri Khas Rumah Masyarakat Suku Banjar.

Selanjutnya

Palatar Balakang

pada

setiap

jenis

ruang terbagi lagi atas ruang yang lebih

- 1,30

kecil,

namun

ruang

tidak

menggunakan

tersebut terbentuk
dinding

pemisah.

Untuk membedakannya (mengenali dan

Pedapuran

penyebutan)

- 1,27

biasanya

dikenal

dari

penanda; seperti kolom, balok lantai, atau


ketinggian lantai.
Panampik Padu
- 0,94

Anjung Jurai

Panampik Dalam

Anjung Jurai

0,30

0,00

0,30

Gambar Tampak Samping Rumah Bubungan


Tinggi
Anjung Kiri

Panampik Panangah

0,30

0,00

Anjung
Kanan
0,30

Panampik Basar
0,00
Panampik Tangah
0,00

Gambar Denah Rumah Bubungan Tinggi


Panampik Kacil
0,00

Lapangan
Pamedangan
- 0,98
Surambi Sambutan
- 1,03

Surambi Muka
- 1,13

Gambar Tampak 3 Dimensi Rumah Bubungan


Tinggi

C. TEKNIK KONSTRUKSI
Struktur kosntruksi rumah bumbungan tinggi Kalimantan Selatan
Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan kayu.
Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan bahan
konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu.
Sesuai dengan bentuk serta konstruksi bangunan rumah adat Banjar tersebut maka
hanya kayulah yang merupakan bahan yang tepat dan sesuai dengan konstruksi
bangunannya.
Dengan kekayaan akan bahan kayu yang dimiliki tanah Kalimantan, maka bangunan
rumah Banjar khususnya Bubungan Tinggi didominasi oleh hasil alam tersebut.

Bagian Konstruksi Pokok


Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu :
1. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk.
2. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut Anjung.
3. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi.
4. Bubungan atap sengkuap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit.
5. Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan.
Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruanganruangan yang berjenjang lantainya. Secara struktural bentuk fisik dari rumah Bubungan
Tinggi terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan kepala tidak berbeda dengan
bangunan tradisional pada umumnya. Pada bagian kaki atau pondasi digunakan log
kayu yang berdiameter hingga 50 cm dengan teknik pemasangan yang dinamakan
Kalang Pandal.
Bagian Pondasi dilanjutkan dengan bagian struktural penyalur beban atap ke
pondasi yaitu tiang dan pembalokan. Kayu Ulin digunakan dalam bagian ini dengan
rata-rata tinggi tiang adalah 12 meter dan panjang pembalokan / tongkat adalah 5
meter, serta masing-masing penampang kayu berdimensi 20 x 20 cm2.

Bagian lantai bertumpu pada tiang utama dan balok gelagar, dengan bentuk
lembaran kayu ulin setebal 2 hingga 3 cm. lantai tersebut dipasang dengan kerapatan
yang berbeda-beda antara 0,25 0,5 cm khususnya di area surambi, anjung,
padapuran dan pelatar belakang, sementara selebihnya dipasang secara rapat.

Gb 3.Ilustrasi sistem struktur kayu yang diterapkan dalam rumah Bubungan Tinggi

Gb 4. Ilustrasi sistem Pondasi yang diterapkan dalam rumah Bubungan Tinggi

Ruangan

Ruangan-ruangan yang berjenjang

lantainya ialah :
1. Palatar (pendopo atau teras),

ruangan depan yang merupakan


ruangan rumah yang pertama
setelah menaiki tangga masuk.
Ukuran luas ruangan ini adalah 7

2
5

x 3 meter. Palatar disebut juga


Pamedangan.
2. Pacira,

yaitu

ruang

antara

(transisi) yang terbagi dua bagian


yaitu pacira dalam dan pacira
luar.

Pacira

Dalam

berfungsi

untuk menyimpan alat pertanian,


menangkap

ikan

dan

pertukangan. Kedua pacira ini


hanya dibedakan oleh posisinya
saja. Pacira Luar tepat berada di
muka

pintu

depan

(Lawang

Hadapan).
3. Panampik Kacil, yaitu ruang tamu muka merupakan ruangan yang agak kecil
setelah masuk melalui Lawang Hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya
lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan.
Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.

4. Panampik Tangah yaitu ruang tamu tengah merupakan ruangan yang lebih luas
dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang
lantai ini disebut Watun Jajakan.
5. Panampik Basar atau Ambin Sayup, yaitu ruang tamu utama merupakan
ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan
lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut
Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas
ruangan 7 x 5 meter.
6. Palidangan atau Ambin Dalam, yaitu ruang
bagian dalam rumah yang berbatas dengan
panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi
dengan lantai panampik basar (tapi ada juga
beberapa

rumah

panampik

basar

yang
lebih

membuat
rendah

dari

lantai
lantai

palidangan). Karena dasar kedua pintu yang


ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai
maka watun di sini disebut Watun Langkahan.
Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang
besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini
disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.
7. Panampik Dalam atau Panampik Bawah, yaitu
ruangan

dalam

yang

cukup

luas

dengan

permukaan lantai lebih rendah daripada lantai


palidangan

dan

sama

tingginya

dengan

permukaan lantai panampik tangah. Ambang


lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan.
Luas ruang 7 x 5 meter.
8. Padapuran atau Padu, yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan.
Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya
disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga
sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran
ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat
mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau
pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.

Ukuran
Tampak

Belakang

Rumah Adat

Banjar
Tentang ukuran tinggi, lebar dan
panjang setiap rumah adat Banjar
pada umumnya relatif berbeda-beda.
Hal

ini

disebabkan

oleh

karena

ukuran pada waktu itu didasarkan


atas

ukuran

depa

atau

jengkal.

Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah
sendiri,sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda. Ada kepercayaan di
sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil
bilangan ganjil. Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran
panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layanglayang puncak dan lain-lain. Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat
Banjar pada umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter
dan lebar anjung masing-masing 5 meter. Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter
yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan; sedangkan jarak lantai terendah rata-rata
1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.

D. MATERIAL

BAHAN DAN TEKNOLOGI BANGUNAN


Dengan kekayaan akan bahan kayu yang dimiliki tanah Kalimantan, maka bangunan
rumah Banjar khususnya Bubungan Tinggi didominasi oleh hasil alam tersebut.
Beberapa hasil kayu yang digunakan antara lain:
1. Kayu

Ulin.

kayu

Merupakan

dengan

keawetan

yang

tingkat
tinggi

serta paling tahan air dan


panas, digunakan untuk
tiang,

tongkat,

gelagar,

hingga rangka pintu dan


jendela serta rangka atap.
2. Kayu Galam dan Kapur Naga.
Biasanya
pondasi
untuk

digunakan
rumah

tanah

yang

untuk
baik

rawa-rawa.

Kedua jenis kayu ini memiliki


ketahanan hingga 70 tahun
jika tumbuh di daerah berawa
dan 60 tahun jika berasal dari
tanah kering.

Kayu galam

3. Kayu Lanan. Merupakan kayu untuk bahan dinding.

4. Kayu Damar Putih. Kayu ini biasanya


digunakan untuk material pembalokan /
gelagar.

Kapur Naga

5. Bambu (masyarakat setempat


mengenalnya dengan Paring).
Merupakan

bahan

yang

kebanyakan digunakan untuk


lantai area dapur atau zona
servis.

6. Daun Rumbia untuk penutup atap, namun dalam


perkembangannya,

Kayu

Ulin

yang

biasa

digunakan untuk konstruksi juga dipakai dalam


bentuk penutup atap (yang dipotong tipis dan
kecil) agar lebih tahan menghadapi tekanan
lingkungan seperti angin kencang dan cuaca yang
ekstrim.
RAGAM HIAS
Ragam hias yang diterapakan dalam rumah Bubungan tinggi menggunakan
metode ukir atau dikenal dengan istilah Tatah. Terdapat tiga jenis tatah yang terdapat
dalam Bubungan Tinggi yaitu; Tatah Surut (ukiran berbentuk relief), Tatah Babuku
(ukiran tiga dimensi) dan Tatah Baluang atau Bakurawang (ukiran tembus pada
lembaran kayu). Terdapat tiga model atau motif tatah yang terdapat di sudut-sudut
Bubungan Tinggi antara lain:
1. Motif Flora seperti Sulur-suluran, Kambang Barapun, Kambang dalam
Jambangan, dan Kambang Malayap. Motif flora ini sendiri memilki kelompokkelompok berdasarkan jenis buah-buahan, bunga-bungaan dan tanaman khusus
(tanaman yang bagi masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai makanan sekaligus
obat-obatan).
2. Motif Fauna seperti motif Babulungan Hayam Jagau (ayam jantan), Cacak
Burung, Gigi Ikan Gabur, Kumbang, Wanyi (sarang tawon), burung enggang dan
naga. Penggambaran fauna dalam motif ukiran ini dilakukan secara abstrak,
tidak utuh menyerupai wujud aslinya dikarenkan larangan agama.
3. Motif Kaligrafi sebagai ekspresi dari latar belakang kepercayaan yang dianut
yaitu agama Islam.
Terdapat 11 (sebelas) bagian bangunan yang biasa diberi ukiran, sebagai berikut:

1) Pucuk Bubungan
Pada rumah tradisional tipe Bubungan Tinggi terdapat pada pucuk bubungan
tinggi yang lancip, yang disebut Layang-layang. Layang-layang dalam jumlah
yang ganjil (lima) dengan ukiran motif tumbuhan paku alai, bogam, tombak atau
keris. Pada rumah tipe Palimasan ornamen berbentuk sungkul dengan motif
anak catur, piramida dan bulan bintang.
Ukiran Jamang sebagai mahkota bubungan terdapat pada rumah tipe
Palimbangan, Balai Laki, Balai Bini dan tipe Cacak Burung. Jamang dalam
bentuk simetris itu biasanya dengan motif anak catur dengan kiri-kanannya paku
alai, halilipan atau babalungan ayam.
Ornamen juga ditemukan pada tawing layar (tampuk bubungan) rumahrumah

tipe

Bubungan

Tinggi,

Palimbangan

dan

Cacak

Burung.

Ornamen yang terdapat pada tawing layar ini selalu dalam komposisi yang
simetris.
2) Pilis atau Papilis
Pilis atau Papilis terdapat pada tumbukan kasau yang sekaligus menjadi
penutup ujung kasau bubungan tersebut. Juga pada banturan (di bawah cucuran
atap) serta pada batis tawing (kaki dinding) bagian luar.
Banyak motif yang dipergunakan dalam ukiran lis ini, antara lain motif rincung
gagatas, pucuk rabung, tali bapintal, dadaunan, dalam berbagai kreasi, kumbang
bagantung (distiril), paku alai, kulat karikit, gagalangan, i-itikan, sarang wanyi,
kambang cangkih, teratai, gigi haruan, dll.
3) Tangga
Sebagai sarana penting dalam bangunan terdepan dan pertama ditemukan
saat akan memasuki rumah, maka tangga diberi ragam hias yang menarik.
Pada puncak pohon tangga umumnya terdapat ornamen dengan motif buah
kanas (nenas). Terdapat juga dengan motif kembang melati yang belum mekar,
tongkol daun pakis, belimbing, payung atau bulan sabit. Pada panapih tangga
biasanya terdapat motif tali bapintal, dadaunan, buah mingkudu dan sulursuluran.
Pada pagar tangga biasanya dipergunakan ukiran tali bapintal atau garisgaris geometris.
Berbagai motif dalam ragam hias yang banyak terdapat pada kisi-kisi pagar
tangga, dipergunakan motif bogam melati, galang bakait, anak catur, motif huruf
S, geometris dan berbagai kreasi campuran dari motif-motif tersebut.
4) Palatar

Palatar merupakan bagian depan rumah yang cukup menarik bialamana


diberikan ragam hias dengan ukiran-ukiran. Ragam hias tersebut terdapat pada
jurai samping kin dan kanan atas. batis tawing dan kandang rasi.
Ornamen pada jurai biasanya mengambil motif hiris gagatas, pucuk rabung,
daun paku atau sarang wanyi.
Pada batis tawing (kaki dinding) ornamen mengambil motif dadaunan, sulursuluran atau buah mengkudu. Kandang rasi yang berfungsi sebagai pagar
pengaman, pada lawang atasnya

dihiasi dengan ragam sulur-suluran,

sementara kisi-kisinya biasanya sama dengan motif kisi-kisi yang terdapat pada
kandang rasi tangga, yaitu motif anak catur, geometris, bogam melati,
gagalangan

dan

pelbagai

kreasi

campuran

bebarapa

motif

tersebut.

Kandang rasi yang sederhana dengan lis-lis reng yang sejajar, reng bersilang
atau bersilang ganda yang dapat membentuk gambaran rencong gagatas.
5) Lawang
Lawang atau pintu utama terdapat di ruang belakang palatar pada watun
sambutan. Dua buah lawang kembar terletak pada samping kiri dan kanan
tawing halat. Ketiga buah lawang ini biasanya diberikan ornamen yang indah.
Bagian-bagian lawang tersebut adalah :

Dahi lawang dengan ukiran tali bapintal dalam bentuk lingkaran bunder telur.
Komposisi bagiannya dilengkapi dengan motif sulur-suluran dan bunga-bungaan
dengan kaligrafi Arab, antara lain dengan tulisan Laa ilaaha illallah,
Muhammadar rasulullah, Allah dan Muhammad.

Jurai lawang berbentuk setengah lingkaran atau bulan sabit dengan kombinasi
tali bapintal, sulur-suluran, bunga-bunga dan kaligrafi Arab. Tulisan dengan
bentuk berganda dengan komposisi arah kiri ke kanan dan arah kanan ke kiri.

Daun lawang selalu menempatkan motif tali bapintal, baik pada pinggiran kusen
pintu tersebut, maupun hiasan bagian dalam. Tali bapintal pada bagian dalam
berbentuk bunder telur atau hiris gagatas. Pada keempat sudut daun lawang
tersebut banyak dipergunakan ornamen dengan motif pancar matahari dengan
kombinasi dadaunan, di antaranya motif daun jaruju.

6) Lalungkang
Lalungkang atau jendela pada umumnya menempatkan ornamen sederhana,
yang berada pada dahi lalungkang tersebut. Ukiran sederhana tersebut berupa
tatah bakurawang dengan motif bulan penuh, bulan sahiris, bulan bintang,
bintang sudut lima, daun jalukap atau daun jaruju. Kadang-kadang tatah

bakurawang tersebut ditempatkan pada daun lalungkang bagian atas dan tidak
diperlukan lagi pada dahi lalungkang.
7)

Watun
Watun sebagai sarana pinggir lantai terbuka, yang diberikan ornamen adalah
pada panapihnya, yaitu dinding watun tersebut. Ornamen tersebut biasanya
untuk panapih watun sambutan, watun jajakan dan watun langkahan yang ada
pada ruangan panampik kacil, panampik tangah dan panampik basar. Terdapat
ukiran dengan motif tali bapintal, sulur-suluran, dadaunan, kambang taratai,
kacapiring, kananga, kambang matahari, buah-buahan.

8)

Tataban
Tataban terletak pada sepanjang kaki dinding bagian dalam ruang panampik
basar. Ukiran yang terdapat disitu adalah pada panapih tataban tersebut. Pada
umumnya sepanjang tataban tersebut mempergunakan ornamen dengan motif
tali bapintal pada posisi pinggirnya. Motif lain terdapat dadaunan dan sulursuluran dalam ujud yang kecil sepanjang jalur tataban tersebut.

9)

Tawing Halat
Tawing Halat sebagai dinding pembatas yang utama merupakan bagian yang
penting bersama-sama dengan dua buah lawang kambar pada kiri kanannya.
Ornamen tawing halat ini hars seimbang dengan ragam hias yang terdapat pada
kedua lawang kambarnya.
Biasanya tidak pernah ketinggalan motif tali bapintal, buah dan daun-daunan
dengan kombinasi kaligrafi Arab, seperti tulisan Laa ilaaha illallah, Muhammadar
rasulullah, Allah, Muhammad, Bismillahir rahmanir rahim. Terdapat pula kaligrafi
Arab Dua Kalimah Syahadat atau nama-nama para sahabat Nabi, Abu Bakar,
Umar, Usman dan AIi, serta ayat-ayat suci Al Quran, antara lain tertulis Pallahu
khairan khapiza wahua arkhamur raahimin (Maka Allah adalah sebaik-baik
Pemelihara dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang).

10) Sampukan Balok


Rumah Banjar tidak mengenal adanya sarana plafon, sehingga tampak
adanya pertemuan balok pada bagian atas. Pertemuan balok tersebut antara
lain pada sampukan ujung tiang atau turus tawing dengan bujuran (tiwa-tiwa).
Pada pertemuan dua atau tiga ujung balok tersebut diberikan ukiran dalam motif
dedaunan dan garis-garis geometris.
11) Gantungan Lampu
Rumah Banjar pada waktu dahulu belum mengenal adanya listrik,
dipergunakan lampu gantung sebagai alat penerangan pada malam hari. Balok
rentang yang ada di atas pada posisi tengah dipasang pangkal tali untuk

gantungan lampu. Pada sekeliling pangkal gantungan lampu tersebut diberi


ukiran bermotif dedaunan dan bunga dalam komposisi lingkaran berbentuk relief
(Dikutip dari isi buku Urang Banjar dan Kebudayaannya).

C. KEARIFAN LOKAL ARSITEKTUR


Sama seperti rumah adat lainnya di Nusantara, rumah adat Kalimantan Selatan ini
juga menyimpan sistem nilai tersendiri. Dahulu, Suku Dayak yang telah memeluk
islamlah yang kemudian dikenal dengan nama Suku Banjar. Oleh karena itu, pengaruh
agama islam pada rumah suku ini cukup kental. Simak saja pada ukiran di badan rumah
yang melambangkan persaudaraan, kesuburan dan persatuan. Jika Anda jeli, Anda juga
bisa menjumpai ukiran kalimat Syahadat, Salawat, nama-nama Khalifah serta potongan
ayat Al-quran pada bagian tertentu dari rumah Banjar. Meski demikian, bukan hal yang
mustahil bagi kita untuk menjumpai rumah Banjar dengan pengaruh agama Hindu dan
Buddha yang masih kental.
Selain nilai-nilai islami, pada rumah Banjar juga masih dijumpai nilai filosofis, yaitu
Pemisahan jenis dan bentuk rumah Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang
bersumber pada kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang
terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah. Rumah Bubungan Tinggi
merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.Penghuni seakanakan tinggal di bagian dunia tengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah. Di
rumah mereka hidup dalam keluarga besar, sedang kesatuan dari dunia atas dan dunia
bawah melambangkan Mahatala dan Jata (suami dan isteri).
Rumah Bubungan Tinggi melambangkan berpadunya Dunia Atas dan Dunia Bawah
Dwitunggal Semesta. Pada peradaban agraris, rumah dianggap keramat karena
dianggap sebagai tempat bersemayam secara ghaib oleh para dewata. Pemujaan
arwah nenek moyang yang berwujud pemujaan Maharaja Suryanata dan Puteri Junjung
Buih merupakan simbol perkawinan (persatuan) alam atas dan alam bawah Kosmogoni
Kaharingan-Hindu. Puteri Junjung Buih sebagai perlambang "dunia Bawah" sedangkan
Pangeran Suryanata perlambang "dunia atas". Pada arsitektur Rumah Bubungan Tinggi
pengaruh unsur-unsur tersebut masih dapat ditemukan. Bentuk ukiran naga yang
tersamar/didestilir (bananagaan) melambangkan "alam bawah" sedangkan ukiran
burung enggang melambangkan "alam atas".

Berikut ini adalah filosofi dari rumah bubungan tinggi :


1.

Dwitunggal Semesta
Maharaja Suryanata Manifestasi dewa
Matahari (Surya).

Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang


mikrokosmos dalam makrokosmos.
Rumah Bubungan Tinggi melambangkan
berpadunya Dunia Atas & Dunia Bawah.

Puteri Junjung Buih Lambang air &


kesuburan tanah.

2.

Pohon Hayat & Payung

2.2222BFDJSKFBK.K,MVBSDJFBDJSBVJBVDSBV

Atap rumah Banjar Bubungan Tinggi yang


menjulang ke atas merupakan citra dasar
sebuah Pohon Hayat yang merupakan
lambang kosmis (pencerminan dimensidimensi dari kesatuan semesta).
Atap rumah Banjar Bubungan Tinggi yang
menjulang ke atas merupakan citra dasar
sebuah Payung yang menunjukkan satu
orientasi kekuasaan ke atas (lambang
kebangsawanan yang biasa menggunakan
Payung Kuning).

3.

Simetris

Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan


Tinggi yang simetris terlihat pada bentuk
sayap bangunan atau anjung yang terdiri
atas Ajung Kanan dan Anjung Kiwa.
Filosofi

simetris

pemerintahan

(seimbang)

Kerajaan

dalam

Banjar,

yang

membagi kementerian menjadi Mantri


Panganan (kelompok menteri kanan) dan
Mantri Pangiwa (kelompok menteri kiri).
Konsep simetris tercermin pada rumah
Bubungan Tinggi.
4.

Kepala - Badan - Kaki

Bentuk rumah Bubungan Tinggi


diibaratkan tubuh manusia yang
terbagi menjadi bagian secara vertikal
yaitu:
Kepala
Badan
Kaki
Anjung diibaratkan sebagai tangan
kanan dan tangan kiri.

5.

Tawing Halat
- Ruang dalam rumah Banjar Bubungan
Tinggi terbagi menjadi ruang yang bersifat
private dan semi private.
- Diantara ruang Panampik Basar yang
bersifat semi private dengan ruang
Palidangan yang bersifat private dipisahkan
oleh Tawing Halat artinya dinding
pemisah.
- Tawing Halat ini bagian tengahnya dapat
dibuka sehingga seolah-olah suatu garis
pemisah transparan antara dua dunia (luar
dan dalam) menjadi terbuka.

6.

Denah Cacak Burung

- Denah rumah Banjar Bubungan Tinggi


berbentuk tanda tambah yang merupakan
perpotongan dari poros-poros bangunan
yaitu dari arah muka ke belakang dan dari
arah kanan ke kiri yang membentuk pola
denah Cacak Burung yang sakral.
- Ruang Palidangan merupakan titik
perpotongan poros-poros bangunan. Secara
kosmologis maka disinilah bagian paling
utama dari rumah Banjar Bubungan Tinggi.
- Tawing Halat melindungi area dalam yang
merupakan titik pusat bangunan yaitu ruang
Palidangan.

Hubungan Akulturasi dengan Budaya Banjar Melalui Rumah Bubungan Tinggi


Rumah bagi masyarakat Banjar bukan sekadar tempat berlindung, tetapi juga
merupakan ekspresi kebudayaan (kearifan lokal), keyakinan, serta bentuk harapan.
Semua bentuk ekspresi tersebut diwujudkan mulai dari tata cara mendirikan rumah,
bentuk rumah, hingga ornamen-ornamennya. Ekspresi kebudayaan terlihat pada tata
cara menentukan ukuran panjang dan lebar rumah yang harus menggunakan
ukuran depa suami (depa: satuan ukuran yang diukur sepanjang kedua belah tangan
mendepang dari ujung jari tengah kiri sampai ke ujung jari tengah kanan, atau sekitar
enam kaki (1,8 meter) dalam jumlah ganjil dengan harapan rumah dan penghuninya
kelak akan mendapatkan kedamaian dan keharmonisan. Selain itu, baik dan buruknya
ukuran sebuah rumah juga ditentukan oleh delapan lambang binatang, yaitu
naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, dan gagak. Panjang ideal sebuah rumah
dilambangkan oleh naga, sedangkan lebar ideal dilambangkan oleh gajah.
Masyarakat Banjar adalah masyarakat yang terjadi dari pencampuran suku Dayak,
Jawa,Melayu, dan Bugis yang mendiami wilayah Kalimantan Selatan. Mayoritasnya
kebanyakan masyarakat Banjar memeluk agama Islam. Tentang pengaruh yang
ditimbulkan agama Islam pada interior rumah Bubungan Tinggi, di desa Telok Selong
kecamatan Martapura Kalimantan Selatan. Interior yang diteliti meliputi organisasi
ruang, elemen pembentuk ruang, dan elemen dekoratif. Karena obyek penelitian sudah
ditentukan maka digunakan bentuk penelitian terpancang dengan studi kasus
tunggal. Agama Islam sebagai sistem religi yang merupakan salah satu unsur
kebudayaan, tercermin pada interior rumah Bubungan Tinggi yang merupakan salah
satu bentuk dari wujud kebudayaan.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa memang terdapat pengaruh Islam pada
rumah Bubungan Tinggi. Ciri-cirinya adalah :
1. Atap Sindang Langit tanpa plafon
2. Tangga Naik selalu ganjil
3. Pamedangan diberi Lapangan kelilingnya dengan Kandang Rasi berukir

Simpulan
1. Masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan, khususnya pada masyarakat Banjar
membawa pengaruh pada perwujudan interior rumah Bubungan Tinggi di Desa Telok
Selong, Kalimantan Selatan. Nilai-nilai Islam mempengaruhi perubahan cara
pandang masyarakat Banjar terhadap penerapan elemen-elemen interior rumah
Bubungan Tinggi seperti penambahan fungsi ruang untuk beribadah. Bentuk-bentuk
elemen dekoratif yang tidak menvisualisasikan makhluk hidup adalah pengaruh nilai
Islam yang sangat jelas di rumah Bubungan Tinggi ini. Selain adanya motif kaligrafi
sebagai upaya masyarakat Banjar untuk mengurai dan mengingat ayat-ayat suci AlQuran dalam kehidupannya dan menghormati keberadan Allah maupun Rasullulah.
2. Pengaruh yang paling dominan terlihat pada elemen dekoratifnya, baik dari jenis,
tatanan maupun peletakkannya. Hal ini berarti rumah sebagai wadah aktifitas
penghuninya baik aktifitas jasmani maupun rohani merupakan bentuk fisik
kebudayaan, yang tentu saja mewujudkan bentuk-bentuk khusus dari pola pikir
penghuninya.

Religi

sebagai

tuntunan

dan

acuan

hidup

tentu

saja

juga

mempengaruhi pola pikir umatnya. Di sini terjadi suatu sistem yang saling
melengkapi, baik rumah yang memiliki peran terhadap pemenuhan tuntutan suatu
religi maupun religi yang memiliki peran terhadap proses pembentukan suatu
bangunan tradisional atau rumah adat.
3. Rumah Bubungan Tinggi adalah salah satu arsitektur tradisional Masyarakat Banjar
yang berasal dari arsitektur masyarakat Melayu yang ada di pesisir.
4. Arsitektur tradisional Masyarakat Banjar dalam perkembangannya dipengaruhi pula
oleh kebudayaan lain (Dayak dan Jawa). Dan sangat dominan dipengaruhi ajaran
Islam (selain masih adanya pengaruh ajaran Hindu dan kepercayaan lain).
5. Kearifan budaya lokal dalam mengatasi kondisi lingkungan alam menjadi faktor
utama bentuk/wujud fisik arsitektur tradisional Banjar secara fisik.

DAFTAR PUSTAKA

http://panglimabanjar.blogspot.com/2012/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html

http://onanraja.blogspot.com/2010/09/hutan-galam-atau-kayu-galam.html

http://goedangdjadoel.com/herbal-kalimantan/getah-kayu-kapur-naga/

http://id.wikipedia.org/wiki/Ulin

http://id.wikipedia.org/wiki/Damar_%28pohon%29

http://ariby.blogdetik.com/2012/11/19/boleh-aku-curhat/

http://id.wikipedia.org/wiki/Bambu

id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Bubungan_Tinggi

id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Baanjun

http://prezi.com/mfbnhe8_3_ip/rumah-adat-bubungan-tinggi/

http://www.indonesiawonder.com/id/tour/wisata-budaya/rumah-adat-bubungan-tinggi

http://kebudayaan1.blogspot.com/2013/10/rumah-adat-kalimantan-selatanrumah.html

http://panglimabanjar.blogspot.com/2012/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html

http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1990/rumah-bubungan-tinggi