Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN

BRONKOPNEUMONIA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 13

AKADEMI KEPERAWATAN KABUPATEN


LAMONGAN
2005

DAFTAR KELOMPOK 13

1. M. FAHRUR ROHAJI
2. NUR MARIFAH

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN


BRONKOPNEUMONIA
1.7.1

LANDASAN TEORI

1.2

PENGERTIAN
1)

Bronchopneumonia adalah suatu peradangan pada paru dimana tidak


saja

jaringan

paru

tetapi

juga

pada

bronchioli.

Jumiarni

Ilyas,dkk,1993;105)
2)

Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacammacam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. (Ngastiyah,
1997;39)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bronkopneumonia adalah
suatu peradangan pada jaringan paru dan bronkioli yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing.

1.3

ETIOLOGI
Menurut Jumiarni Ilyas, dkk,1993;105, penyebab dari bronkopneumonia
adalah:
1) Bakteri, seperti stapilococcus, streptococcus
2) Virus, seperti virus influenza
3) Jamur, seperti candida albicans
4) Aspirasi karena makanan, benda asing
Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya bronkopneumonia adalah penyakit
menahun, trauma paru, berat badan anak yang turun karena KKP.

1.4

PATOGENESIS
Menurut

Dra.

Jumiarni

bronkopneumonia adalah:

Ilyas,

dkk,1993;105,

perjalanan

penyakit

1) Pada anak (usia lebih dari 1 tahun),yang gizinya baik, biasanya timbul
karena komplikasi dari ISPA yang ditandai dengan suhu tubuh meningkat,
batuk hebat, sesak nafas, gelisah, sianosis, penurunan kesadaran.
2) Pada bayi (kurang dari 1 minggu), pneumonia timbul karena aspirasicairan
ketuban atau sekret jalan lahir ibunya sewaktu dilahirkan. Dicurigai bila
bayi menjadi lemah, tidak mau minum, dan sesak nafas.
1.5

PATOFISIOLOGI
Kuman yang masuk bersama sekret ke dalam paru melalui saluran nafas dapat
menyebabkan reaksi radang berupa sembab seluruh alveoli yang terkena
disusul infiltrasi sel radang mulai dari stadium kongesti sampai dengan
stadium resolusi. Gambaran dari stadium-stadium tersebut adalah bakteri atau
kuman yang masuk kedalam paru-paru melalui jalan pernafasan.
1. Stadium kongesti
Kapiler melebar dan kongesti serta didalam alveolus terdapat eksudat
jernih, bakteri dalam jumlah banyak
2. Stadium hepatisasi merah
Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat, warna merah, tidak
mengandung udara
3. Stadium hepatisasi kelabu
Lobus tetap padat warna merah menjadi pucat kelabu, permukaan alveoli
suram diliputi fibrin dan leukosid terjadi fagositosis dan kapiler tiada lagi
kongesti.
4. Stadium resolusi
Eksudat berkurang, makrofag bertambah dan leukosid nekrose dan
degenerasi lemah, fibrin direabsorbsi dan menghilang

Bakteri, virus, jamur, aspirasi

Saluran pernafasan
Paru-paru terinfeksi (parenchim)
LAS
Bersihan
jalan nafas

Sekret
Oedema

Perubahan
pola nafas

Ekspansi
paru
RR, Nadi
meningkat

Kerusakan
pertukaran gas

IWL
meningkat

Suplai O2 ke
jaringan
berkurang
Fatique

Perfusi jaringan
menurun

Intoleransi
aktivitas

Kapiler melebar dan kongesti sertaN. Vagus


didalam alveolus terdapat eksudat
jernih, bakteri dalam jumlah banyak
Muntah
(Stadium kongesti)
Diare
Lobus dan lobulus yang terkenaNutrisi
menjadi padat, warna merah, tidak
mengandung
udara
(Stadium
hepatisasi merah)
Lobus tetap padat warna merah menjadi
pucat kelabu, permukaan alveoli suram
diliputi fibrin dan leukosid terjadi
fagositosis dan kapiler tiada lagi
kongesti.(Stadium hepatisasi kelabu)

Eksudat
berkurang,
makrofag
bertambah dan leukosid nekrose dan
degenerasi lemah, fibrin direabsorbsi
dan menghilang (Stadium Resolusi)

Volume cairan berkurang

GAS
Hipotalamus
Peningkatan
suhu

1.6

GAMBARAN KLINIS
Menurut Ngastiyah; 1997; 41, gambaran klinis bronkopneumonia biasanya
didahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari
suhu tubuh dapat naik secara mendadak sampai 39-40o C dan disertai kejang
karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu, pernafasan cepat
dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung serta sianosis sekitar hidung
dan mulut, kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak
ditemukan pada permulaan penyakit, tapi setelah beberapa hari mula-mula
kering kemudian menjadi produktif.
Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosa dengan pemeriksaan fisik
tetapi dengan adanya nafas dangkal dan cepat, pernafasan cuping hidung, dan
sianosis sekitar hidung dan mulut dapat diduga adanya bronchopneumonia.
Hasil pemeriksaan fisik tergantung pada luas daerah auskultasi yang terkena.
Pada perkusi sering tidak ditemukan kelainan sedang pada auskultasi mungkin
hanya terdengar ronchi basah, nyaraing halus atau sedang. Bila sarang
bronchopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi terdengar
mengeras. Pada stadium resolusi ronchi terdengar lagi.

1.7

KOMPLIKASI
Komplikasi yang terdapat terjadi yaitu emfiema, otitis media akut,
atelekstatis, emfisema dan meningitis. Komplikasi ini tidak terjadi bila
diberikan antibiotik secara tepat.

1.8

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.7.1

Foto thorax
Pada foto thorax pada bronchopneumonia terdapat bercak infiltrat pada
satu atau beberapa lobus

1.7.2

Laboratorium
Menurut Ngastiyah; 1997; 41, pemeriksaan laboratorium pada kasus
broncopneumonia meliputi :

Gambaran darah tepi menunjukkan leukositosis,


dapat mencapai 15.000-40.000/mm3 dengan pergeseran kekiri. Kuman
dapat dibiakkan dari usapan tenggorok atau darah.

Urine bisanya berwarna lebih tua, mungkin


terdapat albuminuria ringan karena suhu yang naik dan sedikit thorax
hialin.

Analisa

gas

darah

arteri

terjadi

asidosis

metabolic dengan atau tanpa retensi CO2 .


1.9

PROGNOSA
Menurut Ngastiyah; 1997; 41, prognosa dari kasus bronchopneumonia adalah
dengan pemberian antibiotik yang tepat dan akurat, mortalitas dapat
diturunkan sampai kurang dari 1 %. Bila pasien disertai malnutrisi energi
protein (KEP) dan pasien yang datang terlambat angka mortaltasnya masih
tinggi.

1.10

PENATALAKSANAAN

1.9.1

Medik
Pengobatan yang diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi
tetapi hal itu perlu waktu dan perlu terapi secepatnya maka diberikan. :
1)

Peniccillin

50.000

U/kg

BB/

hari

ditambah kloramfenikol 50-70 mg/kg/BB/hari atau diberikan


antibiotik yang mempunyai spectrum luas seperti ampisillin.
Pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari.
2)

Pemberian oksigen dan cairan intra vena


biasanya diberikan campuran glukosa 5 % dan NaCl 0,9 % dalam
perbandingan 3:1 ditambah larutan Kcl 10 mEq/500 ml/botol infus

3)

Karena sebagian besar pasien berada


dalam keadaan asidosis metabolic akibat kurang makan dan
hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai hasil analisa darah
arteri. Pada bronchopneumonia ringan tidak usah dirawat di RS

1.9.2

Keperawatan
Sering kali pasien bronchopneumonia yang dirawat di RS datang
sudah dalam keadaan payah, dispnea, pernafasan cuping hidung dan
gelisah
Masalah yang perlu diperhatikan adalah menjaga kelancaran
pernafasan, kebutuhan istirahat, kebutuhan nutrisi atau cairan,
mengontrol suhu tubuh, mencegah komplikasi, dan kurangnya
pengetahuan orang tua terhadap penyakit.

1.7.2

LANDASAN ASUHAN KEPERAWATAN

2.1

PENGKAJIAN
2.1.1

Identitas klien
Terjadi terutama pada bayi kurang dari 1 minggu dan anak kurang dari
1 tahun
Tempat tnggal keluarga yang menyebabkan bronkopneumonia,
misalnya sekitar pabrik atau llingkungan banyak debu serta kebiasaan
yang mendukung terjadinya penyakit

2.1.2

Keluhan utama
Sesak nafas

2.1.3

Riwayat penyakit sekarang


Didahului dengan infeksi traktus respiuratorius atas selama beberapa
hari, suhu tubuh dapat naik secara mendadak sampai 39-40

C dan

disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah,


dispnea, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping
hidung serta sianosis sekitar hidung dan mulut, kadang-kadang disertai
muntah dan diare.
2.1.4

Riwayat penyakit dahulu

Infeksi saluran nafas bagian atas yang dialami dapat disebabkan oleh
bahan-bahan lain, misalnya aspirasi minyak, mineral, inhalasi bahan
bakar organic (uap kimia), debu pabrik.
2.1.5

Riwayat penyakit keluarga


Ada anggota keluarga menderita penyakit paru-paru atau penyakit
pernafasan

lainnya

keadaan

ini

dapat

memberikan

petunjuk

kemungkinan penyakit tersebut diuraikan.


2.1.6

Riwayat psikososial spiritual


Riwayat psiko merupakan respon anak terhadap penyakit dan dampak
dari hospitalisasi sesuai dengan tahap perkembangannya yaitu takut
dan menangis bila didekati oleh orang yang tidak di kenal.

2.1.7

ADL ( Activity daily life )


(1)

Pola nutrisi didapatkan penurunan nafsu makan dan


muntah

(2)

Pola istirahat didapatkan kelemahan karena sesak dan


suhu lebih tinggi sehingga harus lebih banyak istirahat.

(3)

Pola aktivitas terganggu karena sesak dengan adanya


terapi istirahat di tempat tidur, kelelahan akibat peningkatan
upaya bernafas.

(4)

Pola eliminasi kadang-kadang diare sedangkan pada


eliminasi urine tidak ada gangguan.

(5)

Pola personal higiene pemenuhannya dengan bantuan


keluarga karena klien harus beristirahat dan beraktivitas terbatas.

2.1.8

Pemeriksaan
Pemeriksaan dimulai dari kepala sampai kaki dan pada pasien
bronchopneumonia adalah senbagai berikut :
(1)

Pemeriksaan umum

Kesadaran compos mentis sampai koma, keadaan umum lemah


dan gelisah, suhu tubuh 39-40

C, nadi cepat dan lemah,

respirasi cepat dan dangkal, BB sesuai dengan umur.

(2)

Pemeriksaan fisik
-

Kepala dan leher pemeriksaannya meliputi


keadaan kepala, rambut, mata, hidung terdapat kesukaran
bernafas, pernafasan cuping hidung, sianosis di sekitar mulut,
pada leher terdapat gerakan supra sternal.

Dada didapatkan perkusi redup, adanya suara


nafas tambahan, ronchi halus pada sisi yang sakit tetapi temuan
ini jarang ditemukan pada anak yang besar. Pada sisi paru-paru
yang berlawanan suara pernafasan mungkin berlebihan,
retraksi pada tulang supra klavikula, ruang intercostae dari
subsostae, tachipnea serta tachicardi serta adanya getaran yang
berlebihan pada palpasi.

Abdomen distensi, menonjal, distensi lambung,


akibat udara yang tertekan. Hati mungkin lebih membesar
akibat pergeseran dari diafragma kebawah kalau ada gagal
jantung kongesti yang menyertai.

(3)

Pemeriksaan penunjang
Menurut Ngastiyah; 1997; 41, pemeriksaan laborat didapatkan
leukosit meningkat mencapai 15.00-40.000/cm3, urine biasanya
lebih tua dan terdapat albuminuria ringan dan pada analisa gas
darah tepi menunjukkan asidosis metabolic dengan atau beberapa
lobus.

2.2

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa

keperawatan

yang

mungkn

timbul

pada

klien

dengan

bronchopneumonia adalah
(1)

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas; perubahan pola


nafas; kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan produksi mucus
kental pada paru dan ketidak efektifan batuk.

(2)

Hipertermi berhubungan dengan adanya bakteri dan


infasi virus

(3)

Intoleransi

aktifitas

berhubungan

dengan

ketidak

seimbangan antara pemasukan dan pengeluaran oksigen


(4)

Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan


kehilangan cairan yang berlebihan dampak dari usaha peningkatan
proses bernafas

(5)

Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan


kurangnya informasi mengenai proses penyakit dan perawatan dirumah

2.3

INTERVENSI
2.3.1

Dx I

: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas; perubahan

pola nafas; kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan


produksi mucus kental pada paru dan ketidakefektifan batuk
Tujuan : Bersihan jalan nafas, pola nafas, dan pertukaran gas efektif
dengan

criteria

pernafasan

spontan,

suara

nafas

vesikuler,frekwensi pernafasan normal (30-60 x/menit pada


bayi dan 15-30 x pada anak), tidak sesak dan tidak sianosis,
batuk spontan, analia gas darah normal (Pa O 2 80-100 dan Pa
CO2 35-45).
Intervensi:
(1) Lakukan auskultasi suara 2 4 jam
R/ Mengetahui obstruksi pada saluran nafas dan manifestasinya
pada suara nafas

(2) Berikan posisi kepala lebih tinggi dari posisi badan dan kaki.
R/ Penurunan diagfragma dapat membantu ekspansi paru
maksimal
(3) Latih dan anjurkan klien untuk batuk efektif
R/ Batuk merupakan mekanisme alamiah untuk mengeluarkan
benda asing dari saluran nafas dengan baik dan benar.
(4) Ubah posisi klien sesering mungkin tiap 2 jam.
R/

Posisi

klien

yang

tetap

secara

terus-menerus

dapat

mengakibatkan akumulasi sekret dan cairan pada lobus yang


berada di bagian bawah.
(5) Lakukan suction bila perlu.
R/ Peningkatan mucus/lendir di saluran nafas dapat menyumbat
jalan nafas.
(6) Monitor tanda vital tiap 4 jam
R/ Peningkatan

frekwensi

nafas

mengindikasikan

tingkat

keparahan .
(7) Lakukan kolaborasi pemberian oksigen
R/ Kebutuhan oksigen yang masuk ketubuh dapat dibantu dengan
tambahan yang diberikan
(8) Lakukan pemijatan dinding dada dan perut serta pemberian
nebulizer, hati-hati pada anak yang sesak dan suhu tubuh yang
tinggi
R/ Getaran dan pemijatan membantu melepaskan sekret yang
menempel pada dinding saluran nafas, nebulizer merangsang batuk
efektif klien.
(9) Pemberian obat ekspektoran, bronkodilator, mukolitik, dan
pemeriksaan penunjang.

R/

Pelebaran saluran nafas, sekret yang mudah keluar akan

memudahkan klien bernafas, deteksi sejauh mana

kebutuhan

oksigen dapat diberikan dengan pemeriksaan penunjang .


2.3.2

Dx II : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan adanya bakteri


dan invasi virus
Tujuan : Suhu tubuh dan tanda vital klien dalam batas normal dengan
kriteria suhu tubuh normal 365 0 375 0 C (bayi), 36 0 37 0 C
(anak), nadi normal 120 140 x / mnt (bayi), 100 120
x/mnt (anak) dan respirasi normal 30 60 x/mnt (bayi), 30
40 x/mnt (anak)
Intervensi
(1) Monitor suhu tubuh tiap 2 4 jam
R/ Perubahan suhu tubuh dapat mengetahui adanya infeksi
(2) Berikan kompres hangat
R/ Kompres hangat menurunkan panas dengan cara konduksi yaitu
kontak langsung dengan objek.
(3) Berikan antipiretik analgetik sesuai program dokter.
R/ Menurunkan panas di pusat hipotalamus.

2.3.3

Dx II : Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidak


seimbangan antara pemasukan dan pengeluaran oksigen.
Tujuan : Klien mampu meningkatkan aktifitas fisiknya dengan kriteria
mampu

melaksanakan

aktifitas

ringan

dan

mampu

mempertahankan gerak.
Intervensi
(1) Rencanakan periode istirahat sering pada klien untuk penghematan
energi
R/ Istirahat yang cukup dapat mengembalikan tenaga klien secara
bertahap dan mencegah pengeluaran yang berlebihan.

(2) Ciptakan lingkungan yang tenang tanpa stress


R/ Lingkungan yang tenang dapat memberikan rasa nyaman pada
klien.
(3) Ubah posisi secara bertahap dan tingkatan aktivitas sesuai
toleransi
R/ Membantu mobilisasi secara bertahap
(4) Sertakan orang tua dalam meningkatkan kebutuhan istirahat
R/ Istirahat tidur lebih efektif dengan peran serta orang tua.
2.3.4

Dx IV : Resiko kekurangan volume cairan berhubungan


dengan demam. Kehilangan cairan berlebihan dampak
dari usaha peningkatan proses bernafas
Tujuan : Volume cairan tubuh seimbang antara intake dan output
dengan kriteria kebutuhan cairan terpenuhi, urine normal,
turgor kulit baik dan membran mukosa lembab, tidak demam.
Intervensi
(1) Tingkatkan frekwensi pemasukan cairan melalui oral
R/ Membantu mengencerkan sekresi pernafasan dan mencegah
statis cairan tubuh
(2) Libatkan orang tua dalam menemukan cara untuk memenuhi
kebutuhan cairan.
R/ Anak mudah dibujuk oleh orang tuanya dalam memenuhi
kebutuhan cairannya
(3) Monitor pengeluaran urine tiap 8 jam
R/ Mengetahui perbandingan antara pemasukan dan pengeluaran
cairan.
(4) Berikan cairan infus sesuai program dokter
R/ Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
(5) Kolaborasi tentang pemberian antipiretik
R/ Mencegah timbulnya demam.

2.3.5

Dx V: Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan


kurangnya informasi mengenai proses penyakit dan perawatan
di rumah
Tujuan: Secara verbal keluarga dapat menjelaskan proses penyakit,
penyebab dan pencegahan penyakit dengan kriteria klien /
orang tua menunjukkan pemahaman mengenai intruksi
evaluasi dan mengatakan rencana keperawatan untuk istirahat,
cairan, diet, dan perawatan evaluasi.
Intervensi
(1) Berikan penjelasan pada keluarga tentang perlunya istirahat
R/ Meminimalkan gerak sehingga klien tidak kelelahan
(2) Jelaskan perlunya diet bergizi sesuai

dengan usia dan cairan

tambahan.
R/ Diet bergizi dapat menimbulkan kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi
(3) Diskusikan tanda dan gejala distress pernafasan
R/ Keluarga mengetahui lebih dini gejala distress pernafasan
(4) Jelaskan orang tua prosedur drainase postural dan perkusi.
R/ Keluarga dapat melakukannya
(5) Berikan penjelasan pada keluarga tentang komplikasi.
R/ Mengetahui secara adanya komplikasi sehingga dapat dilakukan
segera tindakan pencegahan.
(6) Libatkan keluarga dalam setiap tindakan keperawatan yang akan
dilakukan
R/ Menghindari kesalahpahaman dalam tindakan dan membantu
peran aktif keluarga.
(7) Ajarkan nama antibiotik dan anti piretik, dosis waktu pemberian
dan tujuan serta efek sampingnya pada keluarga

R/ Keluarga dapat memberikan obat yang tepat sesuai kondisi


klien.

2.4

IMPLEMENTASI
Pada tahap pelaksanaan merupakan kelanjutan dari rencana keperawatan yang
telah ditetapkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara
optimal, pelaksanaan adalah wujud dari tujuan keperawatan pada tahap
perencanaan.

2.5

EVALUASI
Evaluasi

merupakan

tahap

dimana

proses

keperawatan

menangkut

pengumpulan data objektif dan subjektif yang dapat menunjukkan masalah


apa yang terselesaikan, apa yang perlu dikaji dan direncanakan, dilaksanakan
dan dinilai apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum, sebagian
tercapai atau timbul masalah baru.

DAFTAR PUSTAKA

Dra. Jumiarni Ilyas,dkk (1993), Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks


Keluarga, Pusat Pendidikan Tenaga Kesahatan Dep. Kes RI, Jakarta
Mcgrow Hill (1995), Perinatal/ Neonatal, USA
Ngastiyah (1997), Perawatan Anak Sakit, Edisi III EGC ,Jakarta.
Staf Pengajar IKA(1985), Ilmu Kesehatan Anak UI , Jakarta

Lampiran 1

PEMBERIAN NEBULIZER DAN PENGHISAPAN LENDIR


PADA BAYI DAN ANAK
1 PEMBERIAN NEBULIZER
1.1

Pengertian
Suatu tindakan keperawatan dengan memberikan tindakan penguapan agar
lendir lebih encer sehingga lendir lebih mudah dihisap

1.2

Tujuan
Memberikan tindakan penguapan agar lebih encer atau untuk pengobatan

1.3

1.4

1.5

Manfaat
1)

Mengencerkan lendir

2)

Mengurangi distress nafas

Indikasi
1)

Penderita tidak dapat mengeluarkan secret secara fisiologis

2)

Penderita dengan depresi pernafasan

3)

Penderita sesak dengan penumpukan sekret

Persiapan
1.5.1

Persiapan alat
1) PZ 0,9 %
2) Obat bronkodilator kalau perlu
3) Nebulizer dengan berbagai bentuk
4) Sarung tangan steril
5) Kain penutup mata

1.5.2

Persiapan pasien
Inform consern

1.6

Pelaksanaan
1)

Cuci tangan

2)

Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga tentangprosedur


nebulizer

3)

Memakai sarung tangan

4)

Posisikan klien sesuai dengan kebutuhan

5)

Melakukan penguapan selama 10-15 menit di saluran jalan nafas

6)

Lepas sarung tangan dan cuci tangan

2 MENGHISAP LENDIR (SUCTION)


2.1 Pengertian
Melaksanakan pembersihan saluran pernafasan lebih kedalam dengan
menggunakan alat penghisap lendir (sekresi) baik melalui hidung, mulut,
maupun trakea
2.2 Tujuan
Saluran pernafasan bebas dari sumbatan semua kotoran atau lendir sehingga
pasien dapat bernafas secara normal
2.3 Indikasi
1) Klien dengan retensi sputum
2) Klien dengan respirator atau endotrakeal tube
3) Klien dengan trakeostomi
2.4 Kontra indikasi
1)

Klien dengan TIK meningkat

2)

Klien dengan odema paru

2.5 Persiapan
2.5.1

Persiapan alat
1)

Mesin penghisap lendir

2)

Selang penghisap lendir

Neonatus

Bayi sampai 6 bulan 6-8 Fr

18 bulan

8-10 Fr

24 bulan

10 Fr

2-4 tahun

10-12 Fr

4-7 tahun

12 Fr

7-10 tahun

12 Fr

10-12 tahun

Dewasa

6-8 Fr

14 Fr
12-16 Fr

3)

Air steril dan PZ dalam tempatnya

4)

Pinset anatomi untuk memegang selang

5)

Spatel atau sudip lidah yang terbungkus kasa

6)

Sarung tangan

7)

Pengalas

2.5.2

Persiapan pasien
1)

Bila sadar dan reflek gag berfungsi, baringkan klien pada posisi
semi fowler dengan kepala miring ke satu sisi untuk penghisapan
oral. Baringkan klien pada posisi fowler dengan leher ekstensi untuk
penghisapan nasal

2)

Bila tidak sadar, baringkan klien dengan posisi lateral menghadap


pada anda untuk penghisapan oral atau nasal

2.6 Pelaksanaan
2.6.1

Siapkan peralatan di samping tempat tidur

2.6.2

Cuci tangan

2.6.3

Berikan penjelasan pada klien dan keluarganya

2.6.4

Tempatkan handuk pada bantal atau di bawah dagu


klien

2.6.5

Berikan oksigen terlebih dahulu sebelum dilakukan


suction

2.6.6

Tuangkan air steril atau normal salin ke dalam wadah


yang steril

2.6.7

Gunakan tangan yang telah memakai sarung tangan,


sambungkan kateter ke mesin penghisap

2.6.8

Basahi ujung keteter dengan larutan steril, pasang


penghisap dengan ujungnya terletak dalam larutan

2.6.9

Penghisapan :
1)

Orofaringeal:
Dengan perlahan masukkan kateter ke dalam mulut klien dan
arahkan ke orofaring. Jangan lakukan penghisapan selama
pemasangan
Nasofaringeal:
Dengan perlahan masukkan kateter ke salah satu lubang hidung.
Arahkan ke arah medial sepanjang dasar rongga hidung. Jangan
dorong paksa kateter, dan jangan lakukan penghisapan selama
pemasangan.

2)

Sumber port penghisap dengan ibu jari. Dengan


perlahan rotasi kateter saat anda menariknya. Keseluruhan prosedur
tidak boleh lebih dari 15 detik.

3)

Bilas kateter denagn larutan steril dengan


meletakkannya dalam larutan dan lakukan penghisapan

4)

Bila klien tidak mengalami distress pernafasan,


biarkan istirahat 20-30 detik sebelum memasukkan ulang kateter

5)

Bila klien mampu minta klien untuk bernafas


dalam dan batuk diantara penghisapan

6)

Hisap secret pada mulut atau di bawah lidah


setelah penghisapan orofaring atau nasofaring

7)

Buang kateter dengan membungkusnya dalam


tangan anda yang menggunakan sarung tangan dan lepaskan sarung
tangan untuk membungkus kateter

Lampiran 2

8)

Cuci tangan

9)

Catat jumlah, konsistensi, warna, dan bau secret


serta respon klien terhadap prosedur

FISIOTERAPI NAFAS

Pengertian
Fisioterapi nafas adalah suatu usaha untuk mengeluarkan secret dari dalam paruparu atau trakea untuk mempertahankan fungsi otot-otot pernafasan

Tujuan
1)

Untuk mempertahankan,
memperbaiki, dan mencapai keefektifan dari seluruh bagian paru-paru,
termasuk relaksasi otot-otot pernafasan

2)

Untuk mencegah kolaps dari bagian


paru-paru yang disebabkan oleh terhambatnya sekresi secret

3)

Mengindarkan terjadinya
bronkopneumonia dan komplikasi lainnya

Indikasi
3.1

PPOM
1)

Asma

2)

Bronkitis kronis

3)

Emfisema

3.2

Pasca

operasi

thorak,

system kardiovaskuler
3.3

Berbaring lama

3.4

Neuromuskular

dengan

reflek batuk menurun


3.5

Klien yang tergantung alat


ventilasi

Kontra indikasi
1) Kelainan faal hemostasis
2) Klien dengan TIK meningkat
3) Preoperasi karsinoma paru
4) Hemoptoe
5) Panas

Persiapan klien dan alat

1)

1) Klien diberitahu tindakan yang akan dilakukan


2) Atur posisi klien sesuai dengan daerah mana yang akan dilakukan fisioterapi
3) Stetoskop
4) Bantal
5) Handuk
6) Bedak talk
7) Tissue
8) Sarung tangan

Macam-macam fisioterapi nafas


6.1

Latihan pernafasan (breathing exercise)


1)

Tujuan

Membantu melancarkan pengeluaran secret dan merangsang terjadinya


batuk serta mendapatkan pengembangan yang maksimal dari paru yang
terkena penyakit
2)

Bentuk latihan
(1)

Pernafasan diafragma
Melatih klien bagaimana cara bernafas dalam dengan menggunakan
diafragma
Cara:

Tarik nafas lewat hidung, dihembuskan lewat mulut


secara pelan-pelan.

Diulangi dengan frekwensi 5-20 kali tarikan nafas dan


hembusan nafas lalu dibatukkan

(2)

Latihan nafas dilakukan tiap 1-2 jam


Batuk

Tujuannya untuk mengeluarkan benda asing dari dalam saluran nafas


secara efisien termasuk mengeluarkan secret dari traktus respiratorius.
Faktor-faktor yang menunjang terjadinya batuk yang adekuat adalah:

SSP yang intake

Kemampuan menarik nafas dalam dan menghembuskan keluar


dengan cepat (minimal 2 kali minite volume)

Fungsi glottis yang normal

Kekuatan otot-otot dinding depan abdomen yang cukup

6.2

Menepuk-nepuk dada (clapping)


1)

Tujuan
Membantu mendorong dalam mengeluarkan secret di dalam paru-paru
yang diharapkan dapat keluar secara gaya grafitasi

2)

Cara
(1)

Cek paru-paru dengan stetoskop

(2)

Menepuk-nepuk pada dinding thorak klien (3-5


menit) pada satu daerah permukaan satu kali fisioterapi

(3)

Penepukan dapat membuat secret terlepas,


sehingga udara dapat keluar ke paru-paru dan secret bisa keluar kearah
bronkus dan trakea

(4)

Klien disuruh batuk

(5)

Pada waktu penepukan memperhatikan keadaan


umum klien dan reaksi klien

6.3

Menggetarkan (fibrating)
1)

Tujuan
(1)

Merangsang terjadinya batuk

(2)

Membantu

melancarkan

pengeluaran sekret
2)

Cara
(1)

Klien disuruh bernafas diafragma

(2)

Letakkan kedua tangan diatas dinding thorak pada waktu klien


mengeluarkan nafas, kita lakukan tindakan menggetarkan tangan

(3)

Setelah dilakukan fibrasi sebanyak 3-4 kali lalu klien disuruh


batuk

3)

Perhatian
(1)

Tindakan ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat


fibrilator

(2)

Cegah terjadinya kerusakan tulang iga dan organ-organ


didalamnya

(3)

Perhatikan klien jangan sampai kesakitan

6.4

Postural drainase
1)

Tujuan
(1)

Dengan postural drainase tidak akan terjadi penimbunan secret


di dalam paru-paru

(2)

Mencegah terhambatnya saluran bronkus, dengan demikian


mencegah kolaps paru

2)

Hal-hal yang perlu diperhatikan


(1)

Perubahan posisi dapat menyebabkan turunnya tekanan darah


pada klien dengan hemodinamik yang belum stabil

(2)

Penempatan posisi klien yang diperlukan hanya dilakukan


sejauh tidak ada kontra indikasi

(3)

Sebaiknya dilakukan sebelum waktu makan (jangan pada saat


perut penuh)

3)

Macam-macam posisi postural drainase


Tujuan:
Untuk mengalirkan lobus posterior bawah
Wajah berbaring, pangul ditinggikan 16-18 inci diatas bantal membuat
sudut 30-45 derajat

Tujuan:
Untuk mengalirkan segmen paru kanan lateral bawah
Berbaring kesamping kiri panggul ditinggikan 16-18 inci diatas bantal

Tujuan:

Untuk mengalirkan segmen paru anterior bawah


Berbaring dengan punggung panggul ditinggikan 16-18 inci diatas bantal

Tujuan:
Untuk mengalirkan area paru atas dan memungkinkan batuk lebih kuat
Duduk tegak atau semi bersandar

Tujuan:
Untuk mengalirkan lobus kiri bawah
Berbaring pada sisi kanan panggul ditinggikan diatas bantal membentuk
sudut 30-45 derajat