Anda di halaman 1dari 12

TUGAS AKHIR MATA KULIAH HUKUM PERSAINGAN USAHA

Hukum Acara Persaingan Usaha

disusun oleh:
FADHILAH RIFANI PUTRI
1206222061
(PARALEL)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2015

Hukum persaingan usaha adalah bagian kecil dari hukum ekonomi yang juga
memiliki dimensi di bidang-bidang hukum, antara lain hukum perdata dan hukum pidana.
Dimensi publik dari hukum persaingan usaha ini dapat terlihat jelas pada bagian asas dan
tujuan, serta adanya sanksi yang mana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Banyak
ahli hukum yang berpandangan bahwa hukum persaingan usaha merupakan bagian dari ranah
hukum perdata. Namun, pendangan tersebut tidak diatur secara tegas dalam Undang-Undang.
Pengkategorian hukum acara persaingan usaha termasuk dalam bagian dari ranah hukum
perdata dapat dilihat dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2005 tentang Tata
Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU (Komisi Pengawas
Persaingan Usaha). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hukum ekonomi memiliki
dimensi hukum publik dan hukum perdata (privat). Hukum persaingan usaha sendiri
merupakan bagian dari hukum ekonomi dan merupakan bidang hukum yang memiliki seluruh
aspek pembidangan hukum kovensional. Oleh karena itu, hukum persaingan usaha memiliki
kondisi dimensial yang sama atau dengan kata lain hukum persaingan usaha juga memiliki
dimensi di bidang-bidang hukum yakni hukum perdata dan hukum pidana.
Indonesia sebagai salah satu negara yang mengatur secara khusus mengenai hukum
persaingan usaha, menetapkan sanksi penanganan perkara pelanggaran terhadap hukum
persaingan usaha dengan berdasarkan pada:
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat.
2. HIR/Rbg atau Hukum Acara Pedata.
3. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
4. Peraturan Perundang-Undangan yang tidak bertentangan dengan Undang- Undang
Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat.
5. Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1999 tentang Komisi Pengawas Persaingan
Usaha.
6. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan
Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha.
7. Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010 tentang Tata
Cara Penanganan Perkara di Komisi Pengawas Persaingan Usaha.

Dalam perkembangannya tata cara penanganan perkara dalam persaingan usaha


merupakan suatu dimensi pelaksana penyelesaian atau penanganan suatu perkara di bidang
persaingan usaha yang meliputi sumber hukum acara yang dipergunakan, prinsip-prinsip
penanganan perkara dan tata cara penanganan perkara persaingan usaha. Untuk mengawasi
pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat dibentuk suatu komisi. Pembetukan ini didasarkan pada Pasal
34 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat dibentuk suatu komisi yang menyatakan bahwa pembentukan
susunan organisasi, tugas, dan fungsi komisi ditetapkan melalui Keputusan Presiden. Komisi
ini kemudian dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1999 tentang
Komisi Pengawas Persaingan Usaha dan saat ini dikenal dengan nama Komisi Pengawas
Persaingan Usaha atau disingkat KPPU. Namun, dengan terbentuknya komisi yang berfokus
kepada penegakkan hukum Antimonopoli dan persaingan usaha bukan berarti tidak ada
lembaga lain yang berwenang menangani perkara tersebut. Dalam hal ini Pengadilan Negeri
(PN) dan Mahkamah Agung (MA) masih diberikan kekuasaan dan kewenangan untuk
menangani perkara yang berkaitan dengan Antimonopoli dan persaingan usaha.
Pasal 35 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menjelaskan tugas-tugas dari KPPU antara lain adalah:
1. Melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya
praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam
Pasal 4 sampai dengan Pasal 16;
2. Melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha
tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 17 sampai dengan Pasal 24;
3. Melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalahgunaan posisi
dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sampai dengan
Pasal 28;
4. Mengambil tindakan sesuai dengan wewenang KPPU sebagaimana diatur dalam
Pasal 36;
5. Memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan Pemerintah yang
berkaitan dengan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;

6. Menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan Undang-Undang


ini;
7. Memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja KPPU kepada Presiden dan
Dewan Perwakilan Rakyat.
Agar dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, Pasal 36 Undang- Undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
memberikan wewenang kepada KPPU untuk:
1. Menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang dugaan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
2. Melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau tindakan
pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat;
3. Melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek
monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat
atau oleh pelaku usaha atau yang ditemukan oleh KPPU sebagai hasil dari
penelitiannya;
4. Menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan tentang ada atau tidak
adanya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
5. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
ketentuan undang-undang ini ;
6. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan setiap orang yang dianggap
mengetahui pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini;
7. Meminta bantuan penyidik untuk meghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli atau
setiap orang yang tidak bersedia memenuhi panggilan KPPU;
8. Meminta keterangan dari instansi pemerintah dalam kaitannya dengan
penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar
ketentuan undang-undang ini;
9. Mendapatkan, meneliti dan atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna
penyelidikan dan atau pemeriksaan;
10. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak pelaku
usaha lain atau masyarakat ;
11. Memberitahukan putusan KPPU kepada pelaku usaha yang diduga melakukan
praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;

12. Menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang
melanggar ketentuan Undang-undang ini.
KPPU merupakan suatu badan peradilan dalam arti kekuasaan kehakiman yang dimaksud
Pasal 24 dan seterusnya dari Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan
Kehakiman. KPPU bukan suatu peradilan seperti peradilan pajak yang jelas pegangannya ke
Pengadilan Tata Usaha (TUN) atau Peradilan Hak Asasi Manusia (HAM) yang jelas
pegangannya ke Pengadilan Negeri. KPPU benar-benar merupakan lembaga yang
mempunyai kewenangan yang sangat luas sekali tetapi di dalam kewenangan yang luas itu
ada upaya-upaya yang disediakan terkait dengan badan peradilan.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat tidak mengatur secara jelas hukum acara bagi KPPU dalam
melakukan fungsi penyelidikan dan pemeriksaan baik kepada pelaku usaha, saksi ataupun
pihak lain. Namun, berdasarkan Pasal 35 huruf f Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dapat diartikan
bahwa KPPU dapat membuat dan menentukan hukum acaranya sendiri. Berkaitan dengan hal
tersebut pada tanggal 6 September 2000 KPPU menerbitkan Keputusan KPPU Nomor
05/Kep/IX/2000 tentang Tata Cara Penyampaian Laporan dan Penanganan Dugaan
Pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Hal ini memperlihatkan bahwa Keputusan
KPPU Nomor 05/Kep/IX/2000 merupakan hukum acara dan juga pedoman bagi KPPU untuk
melaksanakan fungsi penyelidikan dan pemeriksaan sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 36
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat.
Untuk mendapatkan kebenaran dibutuhkan keyakinan. Agar dapat menimbulkan
keyakinan, maka Komisi harus memastikan ada tidaknya perbuatan yang menyebabkan
terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha. Dalam proses mencari kepastian tersebut,
Komisi berwenang memanggil pelaku usaha dengan alasan yang cukup diduga telah
melakukan pelanggaran. Yang dimaksud dengan dugaan yang cukup beralasan adalah dugaan
yang dihasilkan dari proses penyelidikan yang dilakukan oleh Komisi. Pelaku usaha diberi
hak untuk menngemukakan pendapatnya sebagai upaya pembelaan diri terhadap tuduhan
Komisi. Setelah adanya dugaan dan mendengarkan pembelaan pelakau usaha, demi
mendapatkan kebenaran materiil, maka Komisi dapat melakukan pembuktian dengan cara
memanggil saksi, saksi ahli dan setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran. Selain
itu, akta juga dapat dipergunakan sebagai alat bukti. Setelah semua tahap penyelidikan,

mendengarkan pembelaan dari pelaku usaha dan melakukan pembuktian, maka Komisi dapat
mengambil keputusan. Keputusan tersebut dapat berupa ada tidaknya pelanggaran yang
dilakukan pelaku usaha yang diperiksa atau ada tidaknya kerugian di pihak pelaku usaha lain
sebagai akibat dari pelanggaran tersebut.
Dalam melakukan tugasnya mengawasi pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, KPPU
berwenang untuk melakukan penyelidikan dan/atau pemeriksaan kepada pelaku usaha, saksi,
ataupun pihak lain yang diduga melakukan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak
sehat atas dasar:
a. Laporan
Pemeriksaan atas dasar laporan adalah pemeriksaan yang dilakukan karena
laporan dari setiap orang, atau pihak yang dirugikan sebagai aibat terjadinya
pelanggaran Undang-Undang Persaingan Usaha sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 38 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Menurut ketentuan Pasal
38, laporan adanya pelanggaran terhadap Undang-Undang Persaingan Usaha
dibuat secara tertulis dan dilengkapi dengan keterangan tentang peristiwa
pelanggaran serta kerugian yang ditimbulkannya. Pelapor juga harus memberikan
identitas dirinya dan sifatnya adalah rahasia. Untuk mengetahui apakah
pemeriksaan yang dilakukan oleh KPPU karena adanya laporan ataupun atas dasar
inisiatif dari KPPU, dapat dilihat dari nomor perkaranya. Untuk perkara atas dasar
laporan nomor perkara tersebut adalah Nomor Perkara/KPPU-L (Laporan)/Tahun.
b. Inisiatif KPPU
Pemeriksaan atas dasar inisiatif adalah pemeriksaan yang dilakukan atas dasar
inisiatif dari KPPU sendiri. Berdasarkan Pasal 36 huruf c Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat menyatakan bahwa wewenang KPPU meliputi melakukan penyelidikan
dan/atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek monopoli dan/atau
persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat atau oleh pelaku
usaha atau yang ditemukan oleh Komisi sebagai hasil dari penelitiannya.
Mengenai ketentuan inisiatif KPPU ini juga disebutkan dalam Pasal 40 ayat (1)
Undang-Undang Persaingan Usaha bahwa Komisi dapat melakukan pemeriksaan

terhadap pelaku usaha apabila ada dugaan terjadi pelanggaran undang-undang ini
walaupun tanpa adanya laporan.
Selanjutnya terhadap dugaan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha
terhadap Undang-Undang Persaingan Usaha meliputi tahapan-tahapan pemeriksaan di KPPU.
Berdasarkan Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010 tentang
Tata Cara Penanganan Perkara di Komisi Pengawas Persaingan Usaha disebutkan bahwa
Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh investigator dan/atau Majelis
Komisi yang dibantu oleh Panitera untuk memeriksa dan meminya keterangan Pelapor,
Terlapor, Pelaku Usaha, Pihak lain yang terkait, Saksi, Ahli, dan Instansi Pemerintah. Adapun
tahapan-tahapan Pemeriksaan di KPPU yang dapat dibagi menjadi dua tahapan pemeriksaan,
yakni:
a. Pemeriksaan Pendahuluan
Pengertian pemeriksaan pendahuluan kemudian dijabarkan dalam ketentuan Pasal
1 angka 8 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010
tentang Tata Cara Penanganan Perkara di Komisi Pengawas Persaingan Usaha
yang menyatakan bahwa Pemeriksaan Pendahuluan adalah serankaian kegiatan
yang dilakukan oleh Majelis Komisi terhadap laporan dugaan pelanggaran untuk
menyimpulkan perlu atau tidaknya dilakukan Pemeriksaan Lanjutan. Untuk dapat
memulai suatu pemeriksaan pendahuluan, KPPU akan menetapkan terlebih dahulu
dengan surat keputusan atau Penetapan untuk dapat dimulainya suatu pemeriksaan
pendahuluan. Pemeriksaan pendahuluan disebutkan dalam Pasal 39 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat dimana jangka wakatunya 30 hari sejak tanggal
surat penetapan dimulainya suatu pemeriksaan pendahuluan. Untuk pemeriksaan
berdasarkan inisiatif, jangka waktu pemeriksaan pendahuluan dihitung sejak
tanggal surat penetapan Majelis Komisi untuk memulai pemeriksaan pendahuluan.
Sedangkan untuk pemeriksaan berdasarkan laporan, KPPU terlebih dahulu wajib
melakukan penelitian terhadap kejelasan laporan. Apabila laporan telah lengkap,
KPPU akan mengeluarkan penetapan yang berisi tentang dimulainya waktu
pemeriksaan pendahuluan dan jangka waktu pemeriksaan pendahuluan. Jangka
waktu pemeriksaan dihitung sejak tanggal surat penetapan Komisi.
b. Pemeriksaan Lanjutan

Berdasarkan Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010


tentang Tata Cara Penanganan Perkara di Komisi Pengawas Persaingan Usaha
disebutkan bahwa Pemeriksaan Lanjutan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh Majelis Komisi terhadap adanya dugaan pelanggaran untuk
menyimpulkan ada atau tidak adanya bukti pelanggaran. Dalam pemeriksaan
lanjutan, Komisi memeriksa alat bukti yang diajukan oleh Investigator, Pelapor,
dan Terlapor. Serta Ketua Majelia Komisi memanggil Saksi, Ahli Bahasa, Ahli
dan/atau Pemerintah untuk hadir dalam Pemeriksaan Lanjutan. Tahap pemeriksaan
lanjutan merupakan tahap berikutnya setelah tahap pemeriksaan pendahuluan.
Sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan, KPPU mengeluarkan surat keputusan
untuk dimulainya pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan lanjutan dilakukan oleh
KPPU bila telah ditemukan adanya indikasi praktek monopoli atau persaingan
usaha tdak sehat, atau apabila KPPU memerlukan waktu yang lebih lama untuk
melakukan penyelidikan dan pemeriksaan secara lebih mendalam mengenai kasus
yang ada. Pasal 43 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menentukan bahwa jangka
waktu pemeriksaan lanjutan adalah 60 hari sejak berakhirnya pemeriksaan
pendahuluan, dan dapat diperpanjang paling lama 30 hari. Pelaku usaha yang
sedang diperiksa oleh KPPU mempunyai status hukum yang berbeda, apabila
pemeriksaan perkara berdasarkan adanya laporan, maka pelaku usaha yang
diperiksa disebut sebagai terlapor. Sedangkan untuk perkara yang berdasarkan
inisiatif, pelaku usaha yang diperiksa disebut sebagai saksi.
Tahap pemeriksaan yang dilakukan oleh KPPU terlebih dahulu diawali dengan
menyampaikan panggilan kepada pelaku usaha, saksi atau pihak lain untuk hadir dalam
proses pemeriksaan. Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan, pemeriksaan pertama adalah
pemeriksaan prosedur administratif yang meliputi pemeriksaan identitas dan pembacaan hak
yang dimiliki oleh pelaku usaha, saksi atau pihak lain. Pemeriksaan kedua adalah
pemeriksaan pokok permasalahan yang meliputi pemeriksaan oleh KPPU dan pemberi
kesempatan pada pelaku usaha utuk menyampaikan keterangan atau dokumen. Pemeriksaan
ketiga adalah pemeriksaan pembuktian yang meliputi keterangan saksi, keterangan ahli, surat
dan/atau dokumen, petunjuk, keterangan terlapor/saksi pelaku usaha.
Dalam Pasal 43 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat disebutkan bahwa Komisi wajib

memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang Persaingan
Usaha selambat-lambatnya 30 hari terhitung sejak selesainya pemeriksaan lanjutan dan/atau
perpanjangan pemeriksaan lanjutan. Penjelasan Pasal 43 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
menyatakan bahwa pengambilan keputusan diambil dalam suatu sidang Majelis yang
beranggotakan sekurang-kurangnya 3 orang anggota Komisi. Sebelum menjatuhkan putusan,
Komisi melakukan Musyawarah Majelis Komisi untuk menilai, menganalisa, menyimpulkan,
dan memutuskan perkara berdasarkan alat bukti yang cukup tentang telah terjadi atau tidak
terjadinya pelanggaran terhadap Undang-Undang yang terungkap dalam Sidang Majelis
Komisi. Selanjutnya, apabila terbukti terjadi pelanggaran, Majelis Komisi dalam Putusan
Komisi menyatakan terlapor telah melanggar ketentuan Undang-Undang dan menjatuhkan
sanksi administratif sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Persaingan Usaha. Putusan
komisi harus dibacakan dalam sidang yang terbuka untuk umum dan segera diberitahukan
kepada pelaku usaha sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 43 ayat (4) Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Penjelasan Pasal 43 ayat (4) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pemberitahuan
kepada pelaku usaha tersebut adalah penyampaian petikan putusan komisi kepada pelaku
usaha atau kuasa hukumnya. Dengan berpegang kepada efisiensi waktu, maka Komisi harus
berusaha memberitahukan putusan tersebut kepada pelaku usaha yang bersangkutan pada hari
yang sama dengan hari pembacaan putusan yang terbuka untuk umum. Selain itu, dengan
mengingat pendeknya waktu yakni 14 hari yang dimiliki pelaku usaha untuk mengajukan
upaya hukum, maka pemberitahun dapat dilakukan dengan email atau fax tanpa harus dengan
in person.
Selanjutnya, dalam hal suatu putusan Komisi telah berkekuatan hukum tetap, maka
kepada pelaku usaha diberi waktu selama 30 hari sejak ia menerima pemberitahuan putusan
untuk melaksanakan putusan tersebut dan membuat laporan pelaksanaan putusan serta
menyampaikan laporan tersebut kepada Komisi. Putusana Komisi juga dapat dimintakan
penetapan eksekusinya ke Pengadilan Negeri. Pelaku usaha yang tidak menerima dan juga
tidak mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri, maka KPPU menyerahkan putusan
kepada Penyidik untuk melakukan penyidikan sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 44
ayat (4) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Upaya hukum keberatan terhadap putusan KPPU hanya dapat diajukan kepada pelaku
usaha terlapor terhadap Pengadilan Negeri ditempat kedudukan usaha pelaku usaha tersebut,
hal ini telah diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2005
tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan Komisi Pengawas
Persaingan Usaha. Selain itu, Pasal 1 anga 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat juga menyatakan hal tersebut.
Apabila keberatan yang diajukan lebih dari 1 pelaku usaha untuk putusan KPPU yang sama,
dan memiliki kedudukan hukum yang sama, maka perkara tersebut harus didafatarkan dengan
nomor yang sama. Nemun, jika keberatan yang diajukan berbeda tempat kedudukan
hukumnya, KPPU dapat mengajukan permohonan tertulis kepada Mahkamah Agung untuk
menunjuk salah satu Pengadilan Negeri disertai dengaan usulan Pengadilan mana yang akan
memeriksa keberatan tersebut. Pengadilan Negeri dalam hal ini harus memeriksa keberatan
tersebut dalam waktu 14 hari terhitung sejak diterimanya keberatan tersebut. Ketua
Pengadilan Negeri wajib menunjuk hakim yang sedapat mungkin mempunyai pengetahuan
yang cukup khususnya di bidang persaingan usaha. KPPU dalam hal ini wajib menyerahkan
putusan dan berkas perkaranya kepada Pengadilan Negeri yang memeriksa perkara keberatan
pada hari sidang pertama. Pemeriksaan dilakaukan tanpa melalui proses mediasi. Dalam hal
Majelis Hakim berpendapat perlu adanya pemeriksaan tambahan, maka melalui putusan sela
Majelis Hakim memerintahkan kepada KPPU untuk dilakukan pemeriksaan tambahan.
Sedangkan, dalam hal perkara dikembalikan sisa waktu pemeriksaan keberatan ditangguhkan.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Pengadilan Negeri, maka Pengadilan Negeri wajib
memberikan putusan dalam waktu 30 hari sejak dimulainya pemeriksaaan keberatan. Putusan
Pengadilan Negeri dalam pemeriksaan perkara keberatan dapat berupa:
a. Menguatkan putusan KPPU
b. Membatalkan putusan KPPU
c. Membuat putusan sendiri
Apabila ditinjau dari sifatanya, putusan Pengadilan Negeri dalam perkara keberatan dapat
berupa putusan declaratoir dan putusan condemnatoir. Putusan declaratoir terjadi jika
perjanjian yang dibuat pelaku usaha batal, makatidak diperlukan tindakan hukum apapun
untuk mengeksekusi putusan. Sedangkan putusan condemnatoir terjadi jika pelaku usaha

tidak mau melaksanakan putusan tersebut, maka diperlukan tindakan hukum berupa eksekusi
yakni membayar ganti rugi atau denda.
Pelaku usaha yang tidak dapat menerima putusan Pengadilan Negeri dalam perkara
keberatan, berdasarkan Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, pelaku usaha dalam waktu
14 hari sejak siterimanya putusan keberatan dari Pengadilan Negeri dapat mengajukan kasasi
ke Mahkamah Agung (MA). Hal ini berbeda dengan hukum acara perkara perdata biasa yang
harus melewati terlebih dahulu tahap upaya banding di Pengadilan Tinggi. Mahkamah Agung
dalam tahap ini harus memberikan putusan dalam waktu 30 hari sejak permohonan kasasi
diterima. Selain itu, upaya hukum lain yang dapat dilakukan adalah Peninjauan Kembali
(PK). Tatacara penanganan kasasi dan PK di Mahkamah Agung dilakukan berdasarkan pada
sistem peradilan umum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Mahkamah Agung.

REFERENSI:
-

Lubis, Andi Fahmi. Et al. Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks.

Jakarta: ROV Creative Media, 2009.


Wiradiputra, Ditha. Hukum Acara Persaingan Usaha. Pendidikan Khusus Profesi
Advokat Kerjasam Serikat Pengacara Indonesia dengan Fakultas Hukum Universitas

Muhammadiyah Sumatera Utara, 2007.


Candrasari, Sellya Utami. Alat Bukti Petunjuk Dalam Perkara Penetapan Harga di
Komisi Pengawas Persaingan Usaha dan di Peradilan Umum. Skripsi Sarjana
Universitas Indonesia , 2012.

Indonesia. Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha


Tidak Sehat, UU No. 5 Tahun 1999, LN No. 33 Tahun 1999,TLN No. 3817.

http://www.slideshare.net/endrawah/acara-persaingan-usaha

http://business-law.binus.ac.id/2013/01/20/prosedur-beracara-di-kppu-komisipengawas-persaingan-usaha/

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50b3921742c85/posisi-alat-bukti-saksidalam-hukum-acara-persaingan-usaha