Anda di halaman 1dari 6

Lapora Praktikum Dasar - dasar Ilmu Tanah :

Reaksi Tanah
ACARA VIII
REAKSI TANAH
ABSTRAKSI
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah acara VIII dengan judul Reaksi Tanah (pH Tanah) dilaksanakan di
Laboratorium Tanah Umun, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta pada hari Senin, 24 Maret 2013. Percobaan ini dilakukan untuk menetapkan pH tanah dari
berbagai jenis tanah. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode elektrode gas
(elektrometri), yaitu dengan menggunakan pH meter. Untuk mengukur pH aktual, tanah dicampur dengan
aquades. Sedangkan pH potensial, tanah dicampur dengan KCl. Reaksi tanah (pH tanah) menunjukkan
perimbangan konsentrasi asam-basa dalam tanah. Reaksi tanah merupakan sifat kimia yang penting untuk
diamati karena berpengaruh terhadap serangkaian proses-proses kimiawi dalam tanah seperti proses
pembentukan mineral lempung, reaksi kimia dan biokimia tanah, dan status hara dalam tanah. Nilai pH
tanah setiap jenis tanah berbeda-beda tergantung pada bahan induk, iklim, bahan organik, dan perlakuan
manusia. Dalam percobaan diukur dua macam pH yaitu pH aktual dan pH potensial. Dari hasil percobaan
didapat pH potensial tanah Entisol 5,18, Alfisol 6,79, Ultisol 5,20, Mollisol 6,08, dan Vertisol 7,15. Sedangkan
untuk pH aktual Entisol 6,26, Alfisol 7,83, Ultisol 6,14, Mollisol 7,12, dan Vertisol 8,16.
Kata kunci : reaksi tanah, pH tanah, elektrometri, pH aktual

PENGANTAR
Tanah merupakan komponen penting bagi pertanian.Tanaman akan dapat tumbuh degan baik
apabila kondisi tanah sesuaidengan kebutuhan tanaman. Salah satu faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah (pH tanah). Reaksitanah (pH tanah) ini sangat erat
kaitannya dengan kesuburan tanah yang nantinya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman dan berdampak pada produktivitas tanaman.
Reaksi tanah menunjukkan reaksi asam dan basa di dalam tanah. Reaksi tanah tersebut
akan mempengaruhi proses-proses di dalam tanah, seperti laju dekomposisi bahan organic,
mineral, pembentukan mineral lempung,dan secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan
tanaman lewat pengaruhnya terhadap ketersediaan unsure hara. Suatu tanah dapat bereaksi asam
atau alkalis tergantung pada konsentrasi ion H dan OH. Reaksi pertama akan terjadibila kadar ion
H lebih besar dibanding ion OH dan sebaliknya. Untuk mencirikan reaksi tanah tersebut dipakai
istilah pH yang diartikansebagai nilai logaritma negative darikonsentrasi ion H (Mass, 1996).
Reaksi Tanah (pH tanah) merupakan salahsatu parameter tanah yang paling sering
digunakan sebagai acuan proses kimiatanah. Metode pengukuran pH inidilakukan karena
peralatannya yang murah, nilainya mudah dibaca, dan dapat mengetahui adanya elemen yang
penting atau racun bagi pertumbuhan tanaman. pH tanah berfungsi dalam penentuan aktivitas
hidrogen (H+) dalam larutan dan mengukur intensitas keasaman. Tanah memilik i nilai pH
berkisar dari 3,5 sampai lebih dari 10 (Peverill et al., 2001). Untuk memperoleh ketersediaan
hara yang optimum bagi pertumbuhan tanaman dan kegiatan biologis di dalam tanah, maka pH
tanah harus dipertahankan pada pH sekitar 6,0 7,0 (Yohanes, 2012).
pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung
unsur hara seperti Nitrogen (N), Kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan
dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit. Jika pH

larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi
tanaman. Jika pH larutan antara 6,0-7,0 Pospor akan tersedia bagi tanaman (Siradz, 2006).
Nilai pH akan mempengaruhi kelarutan atau ketersediaan unsur hara. Pada nilai pH
sekitar netral, kelarutan unsur hara makro seperti P dan K tinggi, sedangkan kelarutan unsur hara
mikro seperti Al dan Fe rendah. Penentuan pH tanah dapat dikerjakan secara elektrometrik dan
kalorimetrik, baik di dalam laboratorium maupun di lapangan. Elektrometrik reaksi tanah
ditentukan antara lain dengan pH meter Beckman, sedangkan kalorimetrik dapat dikerjakan
dengan kertas pH, pasta pH, dan larutan universal (Hidayanto et al., 2004).
Tanah asam terkadang dianggap tidak subur karena menyebabkan penurunan ketersediaan
beberapa nutrisi dan peningkatan logam berat ke tingkat beracun. Dalam hal ini, curah hujan
yang tinggi dapat menyebabkan tanah menjadi asam (Shi et al., 2009). Logam berat menyerap ke
tanah sangat dipengaruhi oleh pH tanah solusi. Limbah industri dengan terkonsentrasi tinggi
membuat kondisi pH tidak terkendali (Fonseca et al., 2009).
METODOLOGI
Pada Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah Acara VIII dengan judul Reaksi Tanah (pH
Tanah) yang dilaksanakan pada tanggal 24 Maret 2014 di Laboraturium Tanah Umum Jurusan
Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, alat-alat dan bahan-bahan yang
digunaka adalah contoh tanah kering udara halus ( 2mm), aquadest, larutan KCL 1N, alat pH
meter, dua buah cepuk pH, gelas ukur, timbangan, dan kertas stik pH universal. Alat alat dan
bahan tersebut diproses dengan metode elektode gelas (elektrometri) dan metode kolorimetri.
Metode tersebut digunakan untuk mengetahui nilai pH dari masing-masing tanah.
Dalam praktikum kali ini, dilakukan beberapa langkah-langkah. Langkah pertama
adalah tanah kering udara 2mm ditimbang sebanyak 10 gram dan dimasukkan ke dalam cepuk
pH dan dibuat dua kali ulangan. Setelah itu, kedua cepuk pH tersebut diberi label (aquadest dan
KCL). Pada cepuk pH berlabel aquadest ditambahkan aquadest sebanyak 25ml, sedangkan pada
cepuk pH berlabel KCL ditambahkan KCL sebanyak 25ml yang diukur dengan gelas ukur.
Setelah aquadest dan KCL dimasukkan, lalu diaduk secara merata dan didiamkan selama 30
menit. Setelah didiamkan selama 30 menit, lalu pH tanah diukur dengan pH meter dan kertas pH
sehingga didapatkan nilai pH pada setiap cepuk pH.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 8.1 pH Aktual dan pH Potensial Tanah Golongan A1
No
Jenis Tanah
pH aktual (H2O)
pH potensial (KCl)
1
Alfisol
6,20
5,18
2
Entisol
6,14
5,20
3
Mollisol
7,83
6,79
4
Vertisol
8,16
7,15
5
Ultisol
7,12
6,08
Reaksi tanah merupakan ukuran keasaman dan kebasaan suatu larutan tanah dimana pH
tanah sendiri merupakan indikator pelapukan tanah, kandungan mineral dalam batuan induk,
lama waktu dan intensitas pelapukan, terutama pelindihan kation-kation basa dari tanah. Dalam
tanah berkeadaan asam, ion H+akan terkandung lebih banyak dibanding ion OH -. Begitu juga
sebaliknya, dalam tanah berkeadaan basa, ion OH- yang terkandung lebih banyak dibandingkan
dengan ion H+.

Faktor yang mempengaruhi nilai pH tanah adalah bahan induk, iklim, bahan organik,
serta perlakuan manusia. Bahan induk masam mendorong terbentuknya tanah yang bersifat
masam sehingga pH nya akan bersifat asam, sedangkan bahan induk basis akan membentuk
tanah bersifat basis, sehingga pH nya akan bersifat basa. Iklim juga ikut berpengaruh untuk
menentukan ph suatu tanah. Pada iklim didaerah basah (curah hujan tinggi) akan mendorong
berkembangnya tanah yang bersifat masam, sedangkan iklim di daerah kering (curah hujan
rendah) akan mendorong berkembangnya tanah yang bersifat basis. Selanjutnya adalah bahan
organik. Tanah yang memiliki kandungan bahan organik sedikit, akan memiliki nilai pH yang
tinggi dan bersifat basa, sedangkan tanah yang memiliki kandungan bahan organik banyak akan
memiliki nilai pH yang rendah sehingga bersifat asam akibat banyaknya asam-asam organik
hasil proses humifikasi. Faktor keempat adalah perlakuan manusia terhadap pH yaitu pada
penggunaan pupuk dan bahan amelioran. Bila pupuk yang digunakan mempunyai sifat fisiologis
masam, maka akan menurukan pH tanah sedangkan bila pupuk yang digunakan menggunakan
bahan amelioran yang bersifat basis (kapur), maka pH tanah akan meningkat. Faktor lain yang
mempengaruhi ph tanah yaitu karena adanya sifat misel. Sifat misel yang berbeda-beda dalam
mendisosiasikan ion H terjerap menyebabkan PH tanah berbeda pada koloid yang berbeda,
walaupun kejenuhan basanya sama. Koloid organik mudah mendisosiasikan ion H ke dalam
larutan tanah. Pada kejenuhan basa 50%, kisaran PH tanah organik antara 4,5 5,0, liat silikat
5,2 5,9 dan hidrus oksida 6,0 7,0. Banyaknya kation yang terjerap juga berperan dalam
penentuan PH tanah. Koloid yang mengandung natrium (Na) lebih tinggi mempunyai nilai PH
yang lebih tinggi pula pada kejenuhan basa yang sama.
Berdasarkan hasil percobaan, didapat nilai ph aktual (H2O) berbagai jenis tanah dimulai
dari yang terbesar hingga terkecil yaitu vertisol > alfisol > mollisol > entisol > ultisol. Sedangkan
untuk ph potensial (KCl) urutan nilainya dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah vertisol >
alfisol > mollisol > ultisol > entisol.
Tanah Vertisol memiliki ph aktual sebesar 8,16 sedangkan ph potensialnya sebesar 7,15. Kedua
ph tersebut merupakan ph tertinggi dibanding dengan jenis tanah lainnya. Dalam hal ini berarti vertisol
memiliki kecenderungan basa. Hal ini disebabkan karena vertisol memiliki kandungan lempung
montmorillonit yang tinggi dimana lempung ini memiliki tingkat kejenuhan yang tinggi. Kejenuhan basa
mencerminkan perbandingan kation basa dengan kation hidrogen dan alumunium. Dengan kejenuhan
basa yang tinggi, vertisol memiliki pH yang tinggi pula. Selain itu, tanah ini terbentuk dari induk batuan
napal yang banyak mengandung kapur (Ca 2+) sehungga bersifat basis. Apabila dibandingkan
dengan menurut Prasetyo (2007) dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Volume 9 halaman 20-31,
Vertisol memiliki nilai pH berkisar antara 5,5 sampai 7,4. Hal itu dapat terjadi karena secara kimiawi
Vertisol tergolong tanah yang relatif kaya akan hara karena mempunyai cadangan sumber hara yang
tinggi. Dengan demikian, tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation tinggi dan pH netral hingga
alkali.

Mollisol memiliki nilai ph aktual sebesar 7,12 sedangkan ph potensialnya sebesar 6,08.
Mollisol memilki kandungan lempung yang cukup besar pula seperti vertisol. Tanah ini memiliki
kejenuhan basa lebih dari 50% sehingga memiliki kecendrungan pH netral sampai basa. Namun
pada nilai ph potensial terlihat bahwa mollisol cenderung memperlihatkan ph yang asam. Hal
ini menunjukan bahwa tanah mollisol memiliki daya potensial yang tinggi untuk berubah
menjadi asam karena penambahan KCl. Apabila dibandingkan dengan teori pH tanah Mollisol
sudah sangat mendekati yaitu 6,4-7,5 (Szreniawska et al., 1996)
Alfisol memiliki nilai ph aktual sebesar 7,83sedangkan ph potensial bernilai 6,79. Tanah
ini merupakan tanah yang memiliki status basa rendah dengan kebutuhan kejenuhan basa sebesar
35% atau lebih. Sumber keasaman tanah ini berasal dari hidroksi aluminium. Selain itu, tanah ini

terbentuk dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf vulkanis bersifat basa dengan kandungan
bahan organik rendah. Jika dibandingkan dengan percobaan yang lain ternyata hasilnya untuk
nilai ph sudah cocok yaitu Tanah Alfisol memiliki PH sebesar 4,3-7,4 (Beery and Wilding,
1971).
Entisol memiliki ph aktual sebesar 6,26 dan ph potensial sebesar 5,18.Tanah ini
tergolong meiliki kandungan mineral yang cukup tinggi karena mengandung pasir yang cukup
banyak. Kejenuhan basa jenis tanah ini cukup rendah dengan kecenderungan masam sangat kuat
pada PH aktualnya. Tanah ini merupakan tanah yang masih muda dan mengalami perkembangan
sehingga sebagian besar unsur haranya masih dalam bentuk terikat mineral primer (belum
tersedia bagi perakaran tanaman).Tanah ini memiliki kandungan bahan organik yang sangat
rendah kurang dari 0,8 %.Karena masih dalam proses perkembangan tanah ini mempunyai pH
yang bermacam-macam dengan kecenderungan asam hingga netral. Jika dibandingkan dengan
percobaan lain, data untuk nilai ph tanah entisol yang didapat sudah cocok dengan teori yang ada
yaitu tanah Entisol memiliki ph 4,7-5,8 (Melgar et. al., 1992).
Ultisol memiliki ph aktual sebesar 6,14 dan ph potensial sebesar 5,20.Tanah ini
terbentuk dari batuan pasir kuarsa, tuf vulkanik dan breksi beku intrusi yang bersifat asam.
Ultisol memiliki ciri-ciri yang cukup mirip, tetapi yang membedakan adalah ultisol lebih bersifat
masam. Hal ini terjadi karena tanah ini merupakan tanah yang telah berkembang lanjut sehingga
semua unsurnya telah terfeolindi dan kandungan bahan organiknya sangat kecil. Tanah ini
memiliki kesuburan aktual dan potensial yang sangat rendah. Tanah ultisol memiliki status basa
yang rendah dengan prosentase kejenuhan basa sangat rendah yaitu kurang dari 35%. Sumber
keasaman tanah ini disebabkan karena adanya hindrolisa aluminium yang dapat ditukar
(Al3+). Namun, secara teori tanah ultisol seharusnya memiliki nilai ph kecil yaitu kecil dari
5,5. Penyimpangan ini terjadi Apabila dibandingkan dengan percobaan lain, diketahui bahwa
sifat yang dikeluarkan oleh tanal ultisol adalah netral hingga asam. Hal ini sudah cocok terhadap
hasil percobaan yang telah dilakukan. Selain itu diketahui bahwa nilai ph tanah ultisol yaitu 3,16,8 (Dorner et. al., 2010).
pH berhubungan erat dengan unsur hara yang ada pada tanah. Unsur-unsur hara tersebut
mempengaruhi tingkat kesuburan tanah. Tanah yang kaya akan bahan organik cenderung netral
dan sedikit basis. Tanaman akan optimal menyerap unsur hara pada pH netral tanah (6,5).
Tanaman yang berada pada kondisi yang tidak sesuai dengan sifat tanah tanaman akan tumbuh
secara tidak optimal dan bisa mati. Kesesuaian pH tanah dan jenis tanaman dapat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman, karena tanah sebagai tempat penyedia bahan/unsur-unsur hara yang
dibutuhkan tanaman. Reaksi (pH) tanah juga berkaitan erat dengan kesuburan tanah
(ketersediaan unsur hara), baik hara makro maupun hara mikro. Meningkatnya kelarutan ion-ion
Al, dan Fe dan juga meningkatnya aktifitas jasad-jasad renik tanah sangat dipengaruhi oleh
keadaan pH tanah. Pada umumnya unsur hara makro akan lebih tersedia pada pH agak masam
sampai netral, sedangkan unsur hara mikro kebalikannya yakni lebih tersedia pada pH yang lebih
rendah. Tersedianya unsur hara makro, seperrti nitrogen, fosfor, kalium dan magnesium pada pH
6,5. Unsur hara fosfor pada pH lebih besar dari 8,0 tidak tersedia karena diikat oleh ion Ca.
Sebaliknya jika pH turun menjadi lebih kecil dari 5,0 maka fosfat kembali menjadi tidak tersedia.
Hal ini dapat menjadi karena dalam kondisi pH masam, unsur-unsur seperti Al, Fe, dan Mn
menjadi sangat larut. Fosfat yang semula tersedia akan diikat oleh logam-logam tadi sehingga
tidak larut dan tidak tersedia untuk tanaman. Untuk memperoleh ketersediaan hara yang
optimum bagi pertumbuhan tanaman dan kegiatan biologis di dalam tanah, maka pH tanah harus
dipertahankan pada pH sekitar 6,0 7,0 (Yohanes, 2012).

Berdasarkan banyaknya ion H- yang terdapat di dalam larutan tanah dikenal dua macam
pH, yaitu pH aktual dan pH potensial. pH aktual merupakan pengukur pH tanah dalam larutan air
atau keasaman yang terukur dari ion H- yang terdapat dalam larutan tanah, sedangkan pH
potensial merupakan pengukur pH tanah dalam larutan garam atau kemasaman yang terukur dari
ion H- selain di dalam larutan tanah juga di kompleks jerapan tanah, sehingga pada pH
potensial, ion H- yang terukur lebih banyak dari pada pH aktual. Oleh karena itu, perhitungan
pH= - log (H+) maka
semakin banyak ion H- yang terukur semakin rendah nilai pHnya. Pada praktikum ini,
pH aktual mempunyai bahan pendesak yaitu H2O sedangkan pada pH potensial adalah garam
KCl. Selisih pH potensial dengan pH aktual disebut dengan muatan tanah. Jika nilai pH potensial
lebih besar, maka muatan yang mendominasi adalah muatan negatif, begitu pula sebaliknya. Jika
pH potensial lebih rendah daripada pH aktual, maka muatan positiflah yang mendominasi.
Dalam pengolahan tanah ditemukan kondisi dimana tanah terlalu masam atau tanah
terlalu basa. Kondisi pH tanah terlalu masam untuk menaikannya dapat ditambah bahan
ameliorant yang dapat berupa bahan organik seperti abu vulkan, kapur, tanah mineral dan pupuk
kandang. Pada kondisi tanah yang pHnya basa dapat diturunkan dengan menambahkan
belerang/sulfur/peat moss yang bersifat asam sehingga pH tanah yang basa tadi dapat turun.
KESIMPULAN
1. Urutan tanah dengan nilai pH H2O tertinggi sampai terendah adalah Vertisol, Alfisol, Mollisol,
Entisol, Ultisol dengan nilai pH masing-masing 8,16; 7,83; 6,26; 5,6; 6,14.
2. Urutan tanah dengan nilai pH KCl tertinggi sampai terendah adalah Vertisol, Alfisol, Mollisol,
Ultisol, Entisol dengan nilai pH masing-masing 7,15; 6,79; 6,08; 6,20; 5,18.
DAFTAR PUSTAKA
Beery, M. and L. P. Wilding. 2006. The relationship between soil ph and base saturation percentage for
surface and subsoil horizons of selected mollisols, alfisols, and ultisols in Ohio. The Ohio
Journal of Science 71:43-55.
Drner, J., P. Sandoval, and D. Dec. 2010. The role of soil structure on the pore functionality of an
Ultisol. Journal Soil Science Plant Nutrient 10:495-508.
Fonseca, B., A. Teixeira, H. Figueiredo, dan T. Tavares. 2009. Modelling of the Cr(VI) transport in
typical soils of the North of Portugal. Journal of Hazardous Materils 167:756762.
Hidayanto, M., W.A. Heru, dan F. Yossita. 2005. Analisis tanah tambak sebagai indikator tingkat
kesuburan tambak. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 7: 180-186.
Mass, A. 1996. Ilmu Tanah danPupuk. AkademiPenyuluhPertanian (APP), Yogyakarta.
Melgar, R. J., T. J. Smyth, P. A. Sanchez, and M. S. Cravo. 2007. Fertilizer nitrogen movement in a
Central Amazon Oxisol and Entisol cropped to corn Fertilizer. Research 31:241-252.
Peverill, K.I., L.A. Sparrow, dan D.J. Reuter. 2001. Soil Analysis: An Interpretation Manual. CSIRO,
Australia.

Prasetyo, B. H. 2007. Perbedaan sifat-sifat tanah Vertisol dari berbagai bahan induk. Jurnal Ilmu-Ilmu
Pertanian Indonesia 9: 20-31.
Shi, W., J. Liu, Z. Du, Y. Song, C. Chen, dan T. Yue. 2009. Surface modelling of soil pH. Geoderma
150:113119.
Siradz, S.A. 2006. Degradasi lahan persawahan akibat produksi biomassa. Jurnal Ilmu Tanah dan
Lingkungan 6:47-51.
Szreniawska, M. D., A. Wyczolkowski, B. Jozefaciuk, A Ksiczopolska, J. Szymona, and J.
Stawinski. 2006. Relation between soil structure, number of selected group of soil
microorganism, organic matter content and cultivation system. Agrophysics 10:31-35
Yohanes. 2012. Hubungan pH Tanah dengan Kesediaan Unsur Hara. <http://yohannes1.
blogspot.com/2012/06/hubungan-ph-tanah-dengan-kesediaan.html>. Diakses tanggal 31 Maret
2014.

LAMPIRAN VIII
Tabel 8.2 Nilai pH Tanah Golongan A1
Tanah
Entisol
Ultisol
Alfisol
Vertisol
Mollisol

pH
HO
6,26
6,14
7,83
8,16
7,12

KCl
5,18
5,20
6,79
7,15
6,08

http://denisaputra22.blogspot.com/2014/04/lapora-praktikum-dasar-dasar-ilmutanah.html