Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Dasar - dasar Ilmu Tanah :

Kadar Kapur Setara Tanah


ACARA IX
KADAR KAPUR SETARA TANAH
ABSTRAKSI
Praktikum Dasar-Dasr Ilmu tanah acara IX dengan judul percobaan kadar kapur setara tanah dilaksanakan
pada hari sabtu, 5 April 2014 di Laboratorium Tanah Umum, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan kadar kapur setara tanah dengan metode calsimetri
dan titrasi (cottenie). Alat dan bahan yang digunakan adalah timbangan analitik, pipet 5ml dan 50ml, buret
dan statif, erlenmeyer 250ml, pemanas, contoh tanah kering udara 0,5 ml dan 2 ml. Metode calsimetri
menggunakan khemikalia larutan HCl 2N dan pada metode titrasi (cottienie) dengan menggunakan
khemikalia H2SO4 0,5 N, NaOH 0,5 N, dan indikator PP (phenolphlatin). Keberadaan kapur tanah dapat
dipengaruhi oleh bahan induk dan iklim. Dari percobaan kadar kapur setara tanah didapat hasil untuk
metode calsimetri kadar kapur tanah entisol 2,40% , alfisol 1,013%, ultisol 1,19%, mollisol 2,59%, dan
vertisol 7,21%. Sedangkan untuk metode titrasi (cottienie) kadar kapur tanah entisol 2,53%, alfisol 2,1398%,
ultisol 1,3025%, mollisol 4,73% dan vertisol 6,26%.
Kata kunci : kadar kapur,praktikum,metode kalsimetri,metode titrasi.

PENGANTAR
Keberadaan kapur tanah erat kaitannya dengan keberadaan kalsium atau magnesium. Magnesium
berasal dari mineral fero-magnesium dan kalsium dari feldspor dan akumulasi bahan
kapur(karbonat), dolomit, kalsit, dan gipsum sebagai mineral sekunder. Kandungan Ca dan Mg
yang tinggi dalam tanah berhubungan dengan taraf perkembangan tanah tersebut. Semakin kuat
pelindian, semakin kecil kandungan kedua hara tersebut. Kandungan kapur tanah dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain komposisi batuan induk dan iklim. Kedua faktor ini
berhubungan dengan kadar lengas tanah, terbentuknya lapisan-lapisan tanah, dan tipe vegetasi.
Pengaruh kapur terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman dapat ditinjau dari 2 segi, yang
pertama ialah pengaruh langsung yaitu kapur sebagai sumber hara Ca dan Mg dan yang kedua
ialah pengaruh tidak langsung yaitu berupa perbaikan sifat dan ciri tanah. Manfaat dari
pengapuran tanah antara lain untuk menaikan harga pH tanah, menyediakan Ca dan Mg untuk
tanaman, yang berperan pada serapan dan pergerakan unsur P didalam jaringan tanaman,
meperbaiki struktur tanah serta memperbaiki pembentukan bintil-bintil akar. Bahan kapur
pertanian ada 3 macam, yaitu CaCO3atau CaMg( CO3 )2, CaO atau MgO, dan Ca( OH )2 atau
Mg( OH )2. Kapur yang disarankan adalah CaCO3 atau CaMg( CO3 )2 yang digiling dengan
kehalusan 100% melewati saringan 20 mesh dan 50% melewati saringan 80- 100 mesh ( Safuan,
2005 ).
Dua faktor utama yang menentukan kualitas kapur partikel (mesh) adalah ukuran dan
komposisi kimia. Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan di mana materinya larut (laju
reaksi). Komposisi kimia menentukan nilai bahan pengapuran yang menetralkan asam-atau
jumlah asam yang telah ditentukan bahan dapat menetralkan. Murni kalsium karbonat (CaCO3)
adalah standar untuk semua bahan pengapuran dan memiliki nilai menetralisir asam 100 persen.
Ketika bahan pengapuran dievaluasi, dibandingkan dengan kalsium karbonat, dan nilainya
menetralkan disebut Kalsium Karbonat Setara (CCE) nilai atau CCE persen. Faktor lain yang
menentukan kualitas bahan pengapuran adalah kadar air tersebut. Kadar air persen menentukan
berapa banyak bahan kimia reaktif telah diganti dengan air. Oleh karena itu, kadar air yang lebih

tinggi mengurangi efektivitas bahan pengapuran berdasarkan berat, yaitu satu ton kering kapur
akan menetralisir asam lebih dari satu ton kapur basah. Namun, penelitian telah menunjukkan
bahwa persen 4-5 persen kadar air di dalam tanah sebuah kapur pertanian meningkatkan
keseragaman penyebaran dengan mengurangi meniup denda (<mesh 100) partikel dibandingkan
dengan benar-benar kering (<1 persen) pengapuran material. Faktor terakhir menentukan kualitas
bahan pengapuran isi Mg. Oleh karena itu, kombinasi ukuran partikel, CCE, penanganan
karakteristik, dan konten magnesium menentukan nilai dari bahan pengapuran tertentu untuk
situasi pertanian tertentu (Alley, 2009).
Masalah masalah yang berkaitan dengan keasaman tanah, perlahan akan menurunkan
material organik, miskin gumpalan dan fiksasi N 2 oleh tanaman legum, kekurangan Ca dan Mg,
Al dan Mn bersifat toxic dapat diobati dengan kapur. Batu kapur dalam tanah, kapur, tanah
campuran antara liat dengan kapur dan ampas yang digunakan sebagai material konsituen utama
CaCO3 dengan beberapa kapur oksida (CaCO) dan hidrat kapur (Ca(OH) 2). Walaupun
Ca(OH)2tergolong basa kuat reaksi dengan melarutkan CO2 dari tanah udara ke bentuk
Ca(HCO3)2 supaya menghasilkan reaksi sempurna (White,2006).
Penambahan kapur menimbulkan muatan positif (kation) dalam air pori. Penambahan
kation ini memungkinkan terjadinya proses tarik menarik antara an-ion dari partikel tanah
dengan kation dari partikel kapur serta kation dari partikel kapur dengan anion dari partikel air
(proses pertukaran ion/cation exchange). Proses ini mengganggu proses tarik menarik antara anion dari partikel tanah dengan kation dari partikel air serta proses tarik menarik antara an-ion dan
kation dari partikel air, sehingga partikel tanah kehilangan daya tarik antar partikelnya.
Berkurangnya daya tarik antar partikel tanah dapat menurunkan kohesi tanah.Penurunan kohesi
ini menyebabkan mudah terlepasnya partikel tanah dari ikatannya. Penambahan kapur yang
semakin banyak akan menyebabkan semakin turunnya nilai kohesi. Dengan turunnya nilai kohesi
akan menyebabkan turunnya nilai batas cair pada tanah (Wiqoyah, 2006). Namun apabila
berlebihan, pengapuran dapat berdampak negatif berupa penurunan ketersediaan Zn, Mn, Cu, B
yang dapat menyebabkan tanah menjadi devisiensi keempat unsur ini, serta dapat mengalami
keracunan Mo (Hanafiah, 2005).
Kapur yang mengandung sejumlah besar Mg dapat mengurangi Ca: rasio Mg dalam
tanah. Kapur dari dolomit mengandung Mg 10 sampai 15%, sedangkan kalsit kapur mengandung
kurang dari 1% Mg. The University of Missouri program uji tanah, yang menggunakan filosofi
SL, merekomendasikan dan menerapkan bahan penetral yang efektif (ENM) kapur untuk
meningkatkan pH tanah garam menjadi antara 6,1 dan 6,5, yang pH garamnya sasaran kisaran
untuk kapas. ENM digunakan untuk menunjukkan efektivitas pengapuran bahan yang didasarkan
pada kalsium karbonat diukur kesetaraan dan ukuran partikel. Jika tanah yang kekurangan Mg,
kapur dolomit dapat direkomendasikan untuk memperbaiki keasaman tanah dan meningkatkan
Mg tanah (Stevens, 2005).
METODOLOGI
Praktikum acara IX yang berjudul Kapur Tanah dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 April 2014 di
Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Pada metode calsimeter bahan yang digunakan adalah contoh tanah kering udara
0,5 mm dan HCl 2 N, sedangkan alat yang dipakai adalah timbangan analitik, pipet 5 mL dan 50
mL, calcimeter, erlenmeyer 250 ml, dan pemanas. Pada metode titrasi bahan yang digunakan
adalah contoh tanah kering udara 0,5 mm, H2SO4 0,5 N, NaOH 0,5 N dan indikator

phenolphtalein (PP), sedangkan alat yang digunakan adalah timbangan analitik, pipet volum 5 ml
dan 50 ml, buret dan statif, erlenmeyer 250 ml, dan pemanas.
Metode calsimeter mula-mula calcimeter kosong, bersih, dan kering ditimbang (a
gram), contoh tanah 0,5 mm ditimbang seberat 5 gram, lalu dimasukan kedalam calsimeter,
kemudian calsimeter ditimbang beserta tanah (b gram). Pada calcimeter dimasukan HCl pada
tempatnya sampai hampir penuh. Dijaga agar keran disebelah bawah tempat HCl tertutup rapat
hingga HCl tidak menetes, ditimbang (c gram). Kran HCl dibuka perlahan hingga HCl menetes,
setetes demi stetes sambil digoyangkan mendatar agar reaksi sempurna. Setelah HCl habis
calcimeter dihanggatkan sebentar (1 menit) diatas api kecil, kemudian diangkat dari api kecil ,
dibiarkan selama 30 menit lalu ditimbang (d gram). Perhitungan CaCO3 menggunakan rumus:
CaCO3
=
Keterangan :
KL : Kadar Lengas (%)
(b-a) : Berat kering angin (gram)
Metode titrasi langkah pertama, sampel tanah 0,5 mm seberat 5 gram dimasukan kedalam labu
ukur. Ditambahkan 20 ml H2SO4 0,5 N dengan pipet volume. Selanjutnya digoyang goyang
secara mendatar dan memutar agar reaksi merata,lalu dipanaskan di atas api kecil selama 3
menit.Setelah dipanaskan ,langkah selanjutnya ialah didinginkan dan ditambahkan aquadets
sampai tanda batas.Labu ukur kemudian disumbat lalu digojok gojokdengan cara dibolak
balik hingga homogen,dan dibiarkan mengendap.Dari campuran larutan tersebut diambil 10 ml
larutan jernih dengan menggunakan pipet volum dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer 50
ml.berikutnya ditambahkan 15 ml aquadest dan 5 tetes indicator PP kemudian digoyang
goyang agar merata.Langkah terakhir ,larutan yang telah dibuat ditotrasi dengan NaOH 0,5
N.Titrasi dihentikan bila larutan berubah jadi kemerahan atau sama dengan blangko.Blangko
dibuat dengan langkah yang sama nmun tanpa ada penambahan tanah.Perhitungan CaCO3
menggunakan rumus:
CaCO3 =

N.NaOH
: Normalitas NaOH
Va
: Volume NaOH untuk titrasi blanko (ml)
Vb
: Volume NaOH untuk titrasi sampel baku (ml)
KL
: Kadar Lengas
1000
: konversi dari gram ke
miligram
50
: Konversi 1 mgrek kapur keberat kapur

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 9.1. Hasil Kadar Kapur Setara Tanah Golongan A1
Jenis Tanah
Calsimetri
Titrasi
Entisol

2,40 %

2,1398%

Alfisol

1,013%

2,53%

Ultisol

1,19%

1,3025%

Mollisol

2,59%

4,73%

Vertisol

7,21%

6,26%

Contoh perhitungan Alfisol :


a = 153,23 gram
b = 158,23 gram
c = 191,78 gram
d = 191,76 gram
A.Metode Calsimetri

=
=
=
= 1,013 %
B.Metode Titrasi

=
= 0,00384 x 557,2475 %
= 2,1398 %
Kandungan Ca dan Mg yang tinggi dalam tanah kapur berhubungan dengan taraf
perkembangan tanah tersebut, semakin tua tanahnya, akan semakin kecil pula kandungan kedua
zat tersebut. Kadar tinggi berkaitan dengan pH yang netral. Sebagai unsur hara makro Ca dan
Mg mempunyai fungsi yang penting pada tanaman. Kalsium (Ca) berperan sebagai penyusun
dinding sel tumbuhan dan sering pula menetralkan bahan racun dalam jaringan tanaman.
Magnesium (Mg) merupakan komponen dari klorofil dan berperan pula dalam pembentukan
lemak dan minyak pada tumbuhan. Kekurangan kedua zat ini dalam tanah dapat menghambat
perkembangan normal pada jaringan muda.
Pengujian kandungan kapur dalam tanah dapat dilakukan dengan menggunakan metode
kalsimetri dan kolorimetri-titrasi. Alasan digunakannya kedua metode tersebut dikarenakan
kedua metode tersebut dapat dengan mudah dilakukan di laboraturium dan ketelitiannya sudah
cukup tinggi. Metode tersebut juga merupakan metode yang sering digunakan dikarenakan
peralatan dan bahan yang digunakan sebagian besar sudah ada dalam laboraturium.Metode
kalsimetri memiliki kelebihan yaitu lebih murah dan dapat mengukur CO2 yang menguap,
tetapitimbangan harus sensitif. Jika pembacaan pada timbangan tidak akurat maka
akanberpengaruh pada tingkat akurasi hasil yang diperoleh.Untuk kelebihan metode titrasi ialah
metode ini relative murah dan cepat. Namun timbangan harus sensitive dan harus teliti
melihatperubahan warna larutan pada saat proses titrasi berlangsung. Jika pembacaanpada
timbangan tidak akurat dan penentuan volume titran tidak teliti, maka akanberpengaruh pada
hasil yang diperoleh.
Pada metode kalsimetri, prinsip yang digunakan adalah prinsip metode gravimetri yang
menggunakan alat kalsimeter dan khemikalia HCl 2N. Metode ini melakukan perhitungan kadar
CO2 yang menguap. Dilakukan perhitungan CO2 yang menguap dikarenakan pada reaksi yang
terjadi antara kapur tanah dan khemikalia, koefisien molaritas antara kapur tanah dan gas CO2
sama besar yang menujukkan jumlah mol antara kapur tanah dan gas CO2 adalah setara. Selain
itu, juga digunakan khemikalia berupa larutan HCl 2N yang berfungsi sebagai pereaksi kapur
tanah agar menghasilkan CO2 yang kemudian diuapkan. Reaksi yang terjadi pada penambahan
khemikalia tersebut adalah sebagai berikut :
CaCO3 + 2 HCl
CaCl2 + H2O + CO2
Metode kedua yanga digunakan adalah metode titrasi-kolorimetri. Pada metode kali ini,
digunakan khemikalia berupa H2SO4 0,5N , NaOH 0,5N dan indikator phenotptialin(pp).
Larutan H2SO4 yang disugunakan dalam metode ini akan bereaksi dengan kapur tanah sehingga
membentuk CO2 dan sisa H2SO4. Maka dari itu, prinsip dari metode ini adalah menghitung
gram ekivalen H2SO4 awal dengan gram ekivalen H2SO4 sisa yang merupakan jumlah ekivalen
CaCO3 dalam tanah. Sedangkan fungsi dari NaOH adalah sebagai larutan penitrasi H2SO4
dengan menggunakan indikator pp sebagai indikator perubahan sifat dari asam ke basa atau
pendeteksi titik ekivalen larutan.
Perbedaan kadar kapur pada berbagai jenis tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain komposisi bahan induk dan iklim. Kedua faktor ini berhubungan dengan kadar lengas
tanah, terbentuknya lapisan-lapisan tanah, dan tipe vegetasi. Faktor-faktor ini merupakan
komponen dalam perkembangan tanah. Pada umumnya batuan kapur/ kwarstik lebih tahan

terhadap perkembangan tanah. Pelarutan dan kehilangan karbonat diperlukan sebagai pendorong
dalam pembentukan tanah pada batuan berkapur. Garam-garam yang mudah larut (seperti Na, K,
Ca, Mg-Klorida dan sulfat, NaCO3) dan garam alkali yang agak mudah larut ( Ca, Mg )
memiliki karbonat yang akan berpindah bersama air, dan bergantung besarnya air yang dapat
mencapai kedalaman tanah tertentu. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengayaan garam/
kapur pada horison tertentu dan besarnya sangat bervariasi. Karena terdapat perbedaan kelarutan
dan mobilitas tersebut maka yang terendapkan lebih dahulu adalah karbonat. Pada kondisi yang
ekstrem kerak garam dan kapur dapat terbentuk di permukaan tanah. Dari sini menunjukan
bahwa kadar kapur tanah dapat berbeda-beda. Tanah ultisol memiliki kadar kapur dan bahan
organik cukup tinggi sehingga kecenderungan lebih subur daripada keempat tanah yang lain. Mg
da Ca sangat diperlukan tanaman untuk menguatkan batang. Kadar Kapur jenis tanah dari yang
tertinggi sampai yang terendah adalah Alfisol, Entisol, Vertisol, Rendzina dan Ultisol. Tanah
Entisol tidak berbahan induk kapur seperti karsit, dolomit dan lain-lain sehingga kadar kapur
dalam tanah tidak begitu tinggi. Biasanya tanah Entisol memiliki bahan induk abu vulkanik dan
batuan sediment dan pasir (Ayatullah, 2009).
Dari percobaan pengukuran kadar kapur setara tanah terhadap lima jenis sampel tanah
dan didapatkan hasil seperti pada Tabel Hasil Kadar Kapur Setara Tanah. Pada percobaan dengan
menggunakan metode calsimetri didapatkan bahwa Vertisol memiliki kadar kapur setara tanah
paling tinggi yakni sebesar 7,21%, lalu Mollisol 2,59%, lalu Entisol 2,40%, Ultisol 1,19 %, dan
yang paling kecil adalah kadar kapur setara dalam tanah Alfsol 1,013%. Untuk hasil praktikum
dengan menggunakan metode titrasi dengan bantuan perhitungan dalam reaksi kemikalia yang
digunakan, didapatkan hasil bahwa tanah Vertisol memiliki kadar kapur setara tanah paling tinggi
yakni sebesar 6,26%, lalu Mollisol 4,73%, lalu Entisol 2,53%, Alfisol 2,1398 %, dan yang
paling kecil adalah kadar kapur setara dalam tanah Ultisol 1,3025%. Hasil penelitian lain
menunjukkan bahwa tanah Entisol yang termasuk dalam tanah Aluvial dan Regosol mempunyai
tingkat kejenuhan Na > 15%. Kejenuhan Na dalam suatu tanah menunjukkan tingkat kadar kapur
yang ada karena Na bermuatan positif sehingga mengikat lempung yang bermuatan negatif.
Tingkat kejenuhan basa tanah Alfisol adalah 35% (Haryantoantho, 2011). Tanah Ultisol termasuk
tanah yang mempunyai sifat masam sehingga basa sangat diperlukan. Kadar Ca menunjukkan
nilai 11,96 me/100 gram, Mg sebesar 2,22 me/100 gram dan kejenuhan basa mencapai 58%
(Nursyamsi et al., 2008). Tanah Mollisol merupakan tanah yang terdapat langsung di atas batuan
kapur dan mempunyai kejenuhan basa 50% (Adiningsih dan Prihartini, 1986). Tanah Mollisol
mempunyai kandungan Ca tertukar 36,70 me/100 gram, Mg tertukar 0,60 me/100 gram dan
CaCO3 sebesar 7,73% (Nurcholis et al., 2005). Vertisol mempunyai kandungan liat tertinggi
yaitu > 30-60%, mempunyai kandungan bahan organik 1,5-4% serta sumber hara dan pedon >
70% (Haryantoantho, 2011). Vertisol mempunyai kandungan Ca 11,82 me/100 gram, Mg sebesar
3,4 me/100 gram serta kejenuhan basa mencapai 84% (Nurul, 2005).
Dari hasil tersebut, dapat dilihat bahwa kadar kapur setara tanah berbeda-beda tiap
jenisnya dan dapat dilihat pula bahwa kadar kapur setara tanah berbeda dengan menggunakan
dua metode tersebut. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya, yang telah
disebutkan bahwa kadar kapur setara tanah yang tertinggi adalah tanah jenis Vertisol, Mollisol,
Entisol, Ulltisol dan Alfisol. Berdasarkan teori Vertisol dan Mollisol memiliki kadar kapur
tertinggi, Alfisol dan Ultisol memiliki kadar kapur sedang, dan Entisol memiliki kadar kapur
renadah. Sehingga terjadi perbedaan hasil pada tanah entisol. Hal ini dapat terjadi karena adanya
ketidaksterilan alat dari air dan beberapa butir tanah yang menyumbat lubang calcimeter.
Ketidaksterilan alat tersebut mempengaruhi pengukuran berat dan hasil perhitungan dari kadar

kapur setara beberapa jenis tanah. Selain itu, adanya ketidaksesuaian tanah yang digunakan
berasal dari lingkungan berbeda. Keadaan lingkungan asal tanah sangat mempengaruhi tingkat
pH, KPK, dan kadar kapur setara tanah tersebut.
Dengan mengetahui kandungan kapur dalam tanah maka dapat ditentukan kesuburan
tanah yang sangat berpengaruh pada pengolahan lahan, sehingga dapat mengoptimalkan potensi
lahan untuk budidaya pertanian. Kapur tanah dapat berpengaruh langsung pada pertumbuhan dan
produksi tanaman. Keberadaan kapur dalam tanah akan memepengaruhi kejenuhan basa dan
Kapasitas Pertukaran Kation (KPK) tanah, akan tetapi apabila kandungan Ca dalam tanah terlalu
tinggi akan mempengaruhi ketersediaan unsur P dalam tanah karena Ca akan mengikat P,
akibatnya akan mempengaruhi keseimbangan tanah.
Pengaruh tidak langsung dari adanya kapur yaitu berupa perbaikan ciri kimia seperti
pH, Ca,P dan hara lainnya yang mengikat Al dapat

3.
4.
5.
6.

ditukar dan kejenuhan Al dapat berkurang akibat adanya kapur menciptakan suasana
yang baik bagi akar tanaman lingkungan tanah yang baik itu menyebabkan akar akan tumbuh
lebih luas dan serapan hara menjadi lebih efisisen, meningkatnya serapan hara ini akan
mempengaruhi pertumbuhan da produksi tanaman akan meningkat pula.
Manfaat kapur yang diberikan kedalam tanah adalah :
1. Menurunkan pH tanah
2. Menurunkan kelarutan Al
Meningkatkan kandungan unsur hara Ca dan Mg.
Memperbaiki tekstur, struktur dan memantapka agregat tanah
Menurunkan tingkat bahaya erosi karena agregat tanh yang mantap
Memperbaiki sifat biologi tanah seperti aktivitas mikro organisme.
KESIMPULAN
1. Berdasarkan percobaan,diperoleh bahwa urutan tanah yang memiliki kadar kapur paling
tinggi samapai terendah adalah tanah Vertisol (Kalsimetri = 7,21 % , Titrasi = 6,26 %) > tanah
Mollisol (Kalsimetri = 2,59 %, Titrasi = 4,73 %) > tanah Entisol (Kalsimetri = 2,40 % , Titrasi =
2,1398 % ) > tanah Alfisol (Kalsimetri = 1,013 % , Titrasi = 2,53 % ) > tanah Ultisol ( Kalsimetri
= 1,19% , Titrasi = 1,3025 %).
2. Faktor yang mempengaruhi kadar kapur adalah komposisi bahan induk dan iklim.
3. Manfaat kapur tanah adalah memperbaiki sifat kimia,fisika dan biologi tanah
DAFTAR PUSTAKA
Adiningsih,S dan T.Priharni.1986.Pengaruh pengapuran dan inokulan terhadap produksi
dan pembibitan tanaman kedelai pada tanaman padsolik situng II Sumatera Barat.139 150.
Alley, M. 2009.Sources of lime for acid soils in virginia.Virginia Cooperative Extension
Journal: 452-510
Ayatullah,M.S.2009.Kapur
Dalam
Tanah<.http://septaayatullah.blogspot.com/2009/04/kapur-dalam-tanah.html>. Diakses 6 April 2014
Hanafiah, Kemas Ali. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. RajaGrafindo Persada,
Jakarta.

Haryantoantho.2011.Klasifikasi
dunia.html>

Tanah

di

Dunia.<http://www.klasifikasi-tanah-di-

Nurcholis M., E. R. Sasmita, S.G Sutoto. 2005. Kualitas tanah di topografi karst di
Bedoyo Gunungkidul dan hubungannya dengan reklamasi lahan bekas tambang. Fakultas
Geografi Universitas Gadjah Mada. Prosiding Lokakarya Nasional.
Nursyamsi,D.K.;Lorrs,S.; Sobiham, D. A.; Radhim, A.; Sofyan.2008.Pengaruh asam
oksalat
,
,dan
terhadap ketersediaan K tanah.Jurnal Tanah dan Iklim
vol : 28.
Nurul, Faori.2005.Uji Kolerasi Fosforus Tanah Vertisol Gemarang,Jawa Timur dan
Adisol.
Safuan, La Ode. 2005. Pengapuran Tanah. <www. Rudget-tripod. go.id >. Diakses pada
tanggal 6 April 2014.
Stevens Gene , Gladbach Tina, Motavalli Peter, Dunn David. 2005. soil calcium:
magnesium ratios and lime recommendations for cotton. The Journal of Cotton Science 9:6571.
White, Robert E. 2006. Principles and Partice of Soil Science. Fourth Edition.
Blackwell Publishing, Victoria.
Wiqoyah,Q. 2006. Penagruh kadar kapur waktu perawatan dan perendaman terhadap
kuat dukung tanah lempung. Dinamika Teknik Sipil 6:16-243

http://denisaputra22.blogspot.com/2014/04/laporan-praktikum-dasar-dasarilmu3069.html