Anda di halaman 1dari 21

PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN DENGAN


METODE DU-NOUY

KELOMPOK 5
Ni Ayu Sukerti

(1313031004)

I Putu Suamba Yoga

(1313031034)

Retno Puji Asih

(1313031066)

Made Sri Astuti

(1313031071)

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2016

A. JUDUL
Penentuan Tegangan Permukaan dengan Metode Du-Nouy
B. TUJUAN
1. Menentukan tegangan permukaan cairan/gas dan cairan/cairan.
2. Memperhatikan efek surface active agent terhadap (tegangan permukaan).
C. DASAR TEORI
Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (fluida)
yang berada dalam keadaan diam (statis). Tegangan permukaan terjadi karena permukaan zat
cair cenderung untuk menegang sehingga permukaannya tampak seperti selaput tipis. Hal ini
dipengaruhi oleh adanya gaya kohesi antara molekul air. Sebagai contoh, akan ditinjau cairan
yang berada di dalam sebuah wadah seperti berikut.

Gambar 1. Gaya tarik molekul-molekul dalam cairan


Pada cairan, setiap molekul akan bergerak dibawah pengaruh molekul sekelilingnya.
Sebuah molekul yang terletak di dalam cairan sepenuhnya dikelilingi oleh molekul lain yang
akan menariknya (Brady, 1999). Molekul cairan biasanya saling tarik menarik. Di bagian
dalam cairan, setiap molekul cairan dikelilingi oleh molekul-molekul lain di setiap sisinya;
tetapi di permukaan cairan, hanya ada molekul-molekul cairan di samping dan di bawah. Di
bagian atas tidak ada molekul cairan lainnya. Karena molekul cairan saling tarik menarik satu
dengan lainnya, maka terdapat gaya total yang besarnya nol pada molekul yang berada di
bagian dalam cairan. Sebaliknya, molekul cairan yang terletak dipermukaan ditarik oleh
molekul cairan yang berada di samping dan bawahnya. Akibatnya, pada permukaan cairan
terdapat gaya total yang mengarah ke bawah. Karena adanya gaya total yang arahnya ke
bawah, maka cairan yang terletak di permukaan cenderung memperkecil luas permukaannya,
dengan menyusut sekuat mungkin. Hal ini yang menyebabkan lapisan cairan pada permukaan
seolah-olah tertutup oleh selaput elastis yang tipis. Fenomena ini kita kenal dengan istilah

tegangan permukaan (surface tension) suatu cairan, yaitu jumlah energi yang dibutuhkan
untuk menarik atau memperluas permukaan sebesar satu satuan luas (Chang, 2003).
Dalam hal ini, energi yang paling terendah (paling stabil) untuk sejumlah volume cairan
adalah bila luas permukaannya paling minimum. Pada keadaan ini molekul permukaan
dengan energi tinggi paling sedikit jumlahnya. Disamping itu, semua cairan akan berusaha
memperkecil luas permukaannya. Sifat cenderung untuk memperkecil permukaan inilah yang
mungkin dalam laboratorium. Dimana besarnya tegangan permukaan cairan tergantung dari
kekuatan gaya tarik antar molekul-molekulnya. Bila gaya tarik besar, maka tegangan
permukaannya juga besar (Brady, 1999).
Sebagai contoh yaitu tetes air cenderung berbentuk seperti balon (yang merupakan
gambaran luas minimum sebuah volum) dengan zat cair berada di tengahnya. Hal yang sama
juga terjadi pada jarum baja yang memiliki rapat massa lebih besar dari air tetapi jarum dapat
mengambang di permukaan zat cair. Fenomena ini terjadi karena selaput zat cair dalam
kondisi tegang, tegangan fluida ini bekerja paralel terhadap permukaan dan timbul dari
adanya gaya tarik menarik antara molekulnya. Apabila tegangan permukaan suatu cairan
hendak diukur, maka perlu dipilih metode yang sesuai, pengukuran tegangan permukaan atau
tegangan antar muka dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu (Sukarjo, 1989):
1

Metode kenaikan kapiler


Tegangan permukaan diukur dengan melihat ketinggian air/cairan yang naik melalui suatu
kapiler. Metode kenaikan kapiler hanya dapat digunakan untuk mengukur tegangan
permukaan tidak bisa untuk mengukur tegangan antar muka.

Metode tersiometer Du-Nouy


Metode cincin Du-Nouy bisa digunakan untuk mengukur tegangan permukaan ataupun
tegangan antar muka. Prinsip dari alat ini adalah gaya yang diperlukan untuk melepaskan
suatu cincin platina iridium yang dicelupkan pada permukaan sebanding dengan tegangan
permukaan atau tegangan antar muka dari cairan tersebut.
Pada dasarnya, tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya suhu dan zat terlarut. Dimana keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan
mempengaruhi besarnya tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada pada
permukaan cairan berbentuk lapisan monomolekuler yang disebut dengan molekul surfaktan
(Bird, 1986).
Efek permukaan dapat dinyatakan dalam bahasa fungsi Helmholt dan Gibbs. Hubungan
antara fungsi-fungsi ini dan luas permukaan adalah kerja yang diperlukan untuk mengubah
sejumlah tertentu luas ini dan luas permukaan adalah kerja yang diperlukan untuk mengubah

sejumlah tertentu luas ini dan kenyataan bahwa pada kondisi berbeda dA dan dG sama
dengan kerja yang dilakukan dalam mengubah energi sistem. Kerja yang dilakukan dalam
mengubah sangat kecil d luas permukaan suatu sampel sebanding dengan d (dw = do).
Koefisien disebut dengan tegangan permukaan (erg/cm2 atau J/m2). Pada volume dan
temperatur tetap, kerja pembentukan permukaan dapat dikenali dengan perubahan fungsi
Helmholtz (Atkins, 1993) yang dinyatakan dengan dA = d. Karena fungsi Helmholtz
berkurang (d < 0), maka secara alamiah permukaan cenderung untuk menyusut atau
mengkerut dan menyebabkan permukaan cairan seakan-akan menjadi tegang (Sukardjo,
1989). Jadi, tegangan muka adalah gaya (dyne) yang bekerja sepanjang 1 cm pada permukaan
zat cair. Besarnya gaya ke bawah akibat tegangan permukaan diukur dengan rumus berikut
ini.
F = 4R
dimana merupakan tegangan muka; nilai adalah sebesar 3,14; R adalah jari-jari cincin;
dan F adalah gaya untuk memisahkan permukaan cairan. Pada saat cincin lepas, dapat
dituliskan persamaan:
F1 = F2
F1 = 4R

F
4 R

Karena tegangan permukaan merupakan perbandingan antara gaya tegangan permukaan


dengan satuan panjang, maka satuan tegangan permukaan adalah Newton per meter (N/m)
atau dyne per centimeter (dyn/cm).
1 dyn/cm = 10-3 N/m = 1 mN/m
Metode Du-Nouy selain untuk mengukur tegangan muka, juga dipakai untuk mengukur
tegangan muka antara dua fasa cair, misalnya tegangan muka antara minyak dengan air.
Dengan metode Du-Nouy, cincin logam yang digunakan pada permukaan cairan diangkat ke
atas dengan memakai torsion wire. Gaya yang diperlukan untuk tepat memutuskan film
cairan diukur pada skala yang dihubungkan dengan torsion wire tersebut.
Untuk sistem ideal, gaya baru bisa memutuskan film cairan bila besarnya sama dengan
4R. Persamaan ini hanya berlaku untuk cairan yang mempunyai sudut kontak () sama
dengan nol. Dalam prakteknya bentuk cairan film yang diangkat lingkaran logam berbeda

dari sistem ideal dan mempengaruhi harga tegangan permukaan yang diperoleh, sehingga
diperlukan faktor koreksi yang berkisar antara 0,751,02.
Pembacaan skala pada tensiometer menghasilkan tegangan permukaan nyata dan tegangan
permukaan nyata antara dua cairan. Untuk mendapatkan tegangan permukaan yang
sebenarnya, dipergunakan rumus:
=SxF
Keterangan:
= tegangan permukaan sebenarnya
S = tegangan permukaan nyata
F = faktor koreksi
Faktor koreksi F tergantung pada ukuran diameter cincin logam, ukuran diameter
logam yang dipergunakan, tegangan permukaan nyata, tegangan permukaan nyata antara dua
cairan, serta massa jenis dari kedua fasa. Hubungan faktor di atas dapat dinyatakan dalam
berbagai bentuk, salah satu dari bentuk tersebut dapat digunakan untuk membuat kurva faktor
koreksi:
( F a) 2

F 0.725

4b
S
x
K
2
D-d
(R )

0.01452
1.679r
0.04534
2
R
C (D d )

Keterangan:
F = faktor koreksi
R = jari-jari cincin logam (cm)
r = jari-jari logam pembuat cincin (cm)
S = tegangan permukaan nyata (dyne per cm)
D = berat jenis cairan yang di bawah (gram/cm-3)
d = berat jenis cairan yang di atas
K = 0.04534 1.679 r/R
C = keliling cincin logam (cm)
a = 0.725
b = 0.0009075

Emulsifier atau zat pengemulsi didefinisikan sebagai senyawa yang mempunyai


kemampuan aktivitas pemukaan (surface activity agents) sehingga dapat menurunkan
tegangan permukaan (surface tension) cairan. Detergen sintesis modern didesain untuk
meningkatkan kemampuan air membasahi kotoran yang melekat pada pakaian, yaitu dengan
menurunkan tegangan permukaan air. Misalnya, air murni tidak membasahi dan bentuk
butiran air ini tidak banyak berubah, tetapi tetes air yang mengandung detergen (surfaktan)
akan membasahi lilin dan butir air akan menyebar (luas permukaan bertambah).
Suhu mempengaruhi nilai tegangan permukaan. Umumnya ketika terjadi kenaikan suhu,
nilai tegangan permukaan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena ketika suhu
meningkat, molekul cairan bergerak semakin cepat sehingga pengaruh interaksi antar molekul
cairan berkurang. Akibatnya nilai tegangan permukaan juga mengalami penurunan.
Berikut ini beberapa nilai tegangan permukaan yang diperoleh berdasarkan percobaan.
Tabel 1. Tegangan permukaan beberapa zat cair
Zat cair yang
bersentuhan dengan udara
Air
Air
Air
Air
Air
Air
Air sabun
Minyak zaitun
Air raksa
Oksigen
Neon
Helium
Aseton
Etanol
Gliserin
Benzena

Suhu (oC)
0
20
25
60
80
100
20
20
20
-193
-247
-269
20
20
20
20

Tegangan Permukaan
(mN/m = dyne/cm)
75,60
72,80
72,20
66,20
62,60
58,90
25,00
32,00
465,00
15,70
5,15
0,12
23,70
22,30
63,10
28,90

Berdasarkan data tegangan permukaan, tampak bahwa suhu mempengaruhi nilai


tegangan permukaan fluida. Umumnya ketika terjadi kenaikan suhu, nilai tegangan
permukaan mengalami penurunan (bandingkan nilai tegangan permukaan air pada setiap suhu
adalam tabel di atas). Hal ini disebabkan karena ketika suhu meningkat, molekul cairan
bergerak semakin cepat sehingga pengaruh interaksi antar molekul cairan berkurang.
Akibatnya nilai tegangan permukaan juga mengalami penurunan.

Deterjen merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak
bumi. Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut (Lohat, 2009):
1

Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai
ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif
ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan
kotoran yang menempel pada permukaan bahan.

Builder (Permbentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan


cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.

Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan
meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas.

Additives adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik
Minyak dan air tidak saling melarutkan sehingga jika ditambahkan deterjen seolah-

olah minyak dan air akan melarut, dimana deterjen akan mengemulsi atau mengsuspensi
bahan organik dalam air. Hal ini dapat mengakibatkan tegangan permukaan pada larutan
tersebut menurun.
D. ALAT DAN BAHAN
Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam praktikum
No.
1
2
3
4
5
6

Nama Bahan
Aquades
Detergen
Detergen
Detergen
Minyak goreng
Kloroform murni

Konsentrasi
0,05 %
0,10 %
0,15 %
-

Jumlah
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya

Ukuran
100 mL
50 mL
100 mL
-

Jumlah
1 set
1 buah
5 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Tabel 3. Alat yang digunakan dalam praktikum


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Alat
Tensiometer Du-Nouy
Cawan Petri
Gelas kimia
Batang pengaduk
Spatula
Kaca arloji
Gelas ukur
Labu ukur
Pipet tetes
Termometer

E. PROSEDUR KERJA DAN HASIL PENGAMATAN


No
A
1

Prosedur Kerja
Hasil Pengamatan
Penentuan Tegangan Permukaan Larutan Murni/Udara
Merangkai alat tensiometer seperti Rangkaian alat tensiometer seperti pada
gambar berikut.

gambar di bawah ini.

Gambar 3. Alat tensiometer

Cincin

pada

tensiometer

memiliki

diameter sebesar 1,85 cm, sehingga

Gambar 2. Rangkaian alat tensiometer

jari-jari cincin adalah sebesar 0,925 cm.


2

Memasukkan aquades ke dalam cawan

Aquades berupa larutan bening tidak

petri. Lalu, mengukur suhu aquades

berwarna dimasukkan ke dalam cawan

menggunakan termometer. Selanjutnya

petri.

memasukkan cincin ke dalam aquades


dan cincin dijaga agar tidak saling
bersentuhan dengan dinding cawan.
Skala

pada

tensiometer

kemudian

dicatat.

dilakukan

berulang-ulang

diamati,

Pengamatan
untuk

Gambar 4. Pengukuran tegangan

memperoleh hasil yang akurat.

permukaan aquades

Dilakukan

tiga

kali

pengulangan

pengukuran dan diperoleh hasil sebagai


berikut.
Suhu aquades = 29oC
Skala awal tensiometer = 0 mN/m
Skala pengulangan 1 = 24,9 mN/m
Skala pengulangan 2 = 18,4 mN/m
Skala pengulangan 3 = 19,3 mN/m

Langkah yang sama pada prosedur

Rata-rata = 20,8 mN/m


Kloroform

kerja no.2 di atas dilakukan juga pada

Kloroform merupakan larutan bening

larutan murni lainnya yaitu kloroform

tidak berwarna dan baunya menyengat.

dan minyak goreng.

Kloroform dimasukkan ke dalam cawan


petri.

Dilakukan

tiga

kali

pengulangan

pengukuran dan diperoleh hasil sebagai


berikut.
Suhu kloroform = 29 oC
Skala awal tensiometer = 0 mN/m
Skala pengulangan 1 = 10,2 mN/m
Skala pengulangan 2 = 8,2 mN/m
Skala pengulangan 3 = 11,9 mN/m
Rata-rata = 10,1 mN/m
Minyak Goreng

Minyak goreng berupa cairan bening


berwarna kuning. Minyak dimasukkan
ke dalam cawan petri.

Dilakukan
pengukuran

tiga

kali

dan

pengulangan

diperoleh

hasil

sebagai berikut.
Suhu minyak = 28oC
Skala awal tensiometer = 0 mN/m
Skala pengulangan 1 = 18,0 mN/m
Skala pengulangan 2 = 14,1 mN/m
Skala pengulangan 3 = 15,3 mN/m
B
1

Rata-rata = 15,8 mN/m


Penentuan Tegangan Permukaan Larutan Detergen
Detergen bubuk yang akan digunakan Detergen yang digunakan adalah detergen
disiapkan terlebih dahulu. Detergen merk Attack Easy.
bubuk tersebut kemudian ditimbang
masingmasing sebanyak 0,05 g; 0,10

g; dan 0,15 g.

Gambar 5. Deterjen Attack


Kemudian, detergen ditimbang sebanyak
0,05 gram; 0,10 gram; dan 0,15 gram.

Gambar 6. Penimbangan Deterjen


0,05 gram

Gambar 7. Penimbangan Deterjen


0,15 gram

Setelah

ditimbang,

Gambar 8. Penimbangan Deterjen 0,1


gram
masing-masing Detergen yang sudah ditimbang kemudian

detergen

yang

massanya

berbeda dilarutkan dalam aquades sampai volume

tersebut dilarutkan dengan aquades 100 mL. Larutan yang terbentuk adalah
hingga volumenya 100 mL sehingga bening dan terdapat busa.
diperoleh larutan detergen dengan tiga
konsentrasi yang berbeda yaitu 0,05%;
0,10%; 0,15%.

Gambar 9. Larutan deterjen


dengan konsentrasi 0,05%;
3

Masing-masing

detergen

larutan

0,10%; 0,15%.
Larutan detergen dengan konsentrasi

dimasukkan ke dalam cawan petri

0,05% dimasukkan ke dalam cawan

secara bergantian. Selanjutnya cincin

penguap.

dimasukkan ke dalam larutan detergen

Dilakukan

dan cincin dijaga agar tidak saling

pengukuran

bersentuhan dengan dinding cawan.

sebagai berikut.

Skala

Suhu detergen 0,15 % = 29oC

pada

tensiometer

kemudian

dicatat.

dilakukan

berulang-ulang

diamati,

Pengamatan

tiga
dan

kali

pengulangan

diperoleh

hasil

Skala awal tensiometer = 0 mN/m

untuk

Skala pengulangan 1 = 45,5 mN/m

memperoleh hasil yang akurat.

Skala pengulangan 2 = 44,8 mN/m


Skala pengulangan 3 = 44,8 mN/m

Rata-rata = 45,03 mN/m


Larutan detergen dengan konsentrasi
0,10% dimasukkan ke dalam cawan
penguap.
Dilakukan
pengukuran

tiga
dan

kali

pengulangan

diperoleh

hasil

sebagai berikut.
Suhu detergen 0,10 % = 29 oC
Skala awal tensiometer = 0 mN/m
Skala pengulangan 1 = 38,3 mN/m
Skala pengulangan 2 = 40,0 mN/m

Skala pengulangan 3 = 42,1 mN/m

Rata-rata = 40,13 mN/m


Larutan detergen dengan konsentrasi
0,15% dimasukkan ke dalam cawan
penguap.
Dilakukan
pengukuran

tiga
dan

kali

pengulangan

diperoleh

hasil

sebagai berikut.
Suhu detergen 0,05 % = 28,5oC
Skala awal tensiometer = 0 mN/m
Skala pengulangan 1 = 16,8 mN/m
Skala pengulangan 2 = 12,7 mN/m
Skala pengulangan 3 = 17,2 mN/m
C
1

Rata-rata = 15,57 mN/m


Penentuan Tegangan Permukaaan Campuran Aquades-Minyak
Sebanyak 25 mL minyak ditambahkan Setelah minyak dimasukkan ke dalam
dengan 60 mL aquades. Selanjutnya,

aquades yang ada dalam gelas kimia

campuran tadi dimasukkan ke dalam

terbentuk 2 lapisan, lapisan atas adalah

cawan petri.

minyak dan lapisan bawah adalah


aquades.

Cincin

kemudian

dalam

campuran

perbatasan
dengan

antara
aquades.

ke

dimasukkan
pada

bagian

lapisan

minyak

Skala

pada

Dilakukan
pengukuran

tiga
dan

kali

pengulangan

diperoleh

hasil

sebagai berikut.
Suhu aquades-minyak = 28 oC

tensiometer diamati, kemudian dicatat.

Skala awal tensiometer = 0 mN/m

Pengamatan dilakukan berulang-ulang

Skala pengulangan 1 = 40,5 mN/m

untuk memperoleh hasil yang akurat.

Skala pengulangan 2 = 44,4 mN/m


Skala pengulangan 3 = 45,9 mN/m

D
1

Rata-rata = 43,6 mN/m


Penentuan Tegangan Permukaan Campuran Aquades-Kloroform
Sebanyak 30 mL aquades ditambahkan Setelah kloroform dimasukkan ke
dengan 20 mL kloroform. Selanjutnya,

dalam aquades yang ada dalam gelas

campuran tadi dimasukkan ke dalam

kimia, terbentuk 2 lapisan, lapisan atas

cawan petri.

adalah aquades dan lapisan bawah

adalah kloroform.
2

Cincin

dimasukkan

campuran
antara

pada

lapisan

aquades.

Skala

bagian

ke

perbatasan

kloroform
pada

dalam
dengan

Dilakukan
pengukuran

tiga
dan

kali

pengulangan

diperoleh

hasil

sebagai berikut.

tensiometer

Suhu aquades-kloroform = 29,5oC

diamati, kemudian dicatat. Pengamatan

Skala awal tensiometer = 0 mN/m

dilakukan

Skala pengulangan 1 = 55,0 mN/m

berulang-ulang

untuk

memperoleh hasil yang akurat.

Skala pengulangan 2 = 56,3 mN/m


Skala pengulangan 3 = 53,7 mN/m

E
1

Rata-rata = 55,0 mN/m


Penentuan Tegangan Permukaan Campuran Aquades- Minyak -Detergen
Sebanyak 15 mL aquades ditambahkan Setelah minyak, detergen, dan aquades
10 mL minyak dan 0,1 gram detergen.

diaduk dalam gelas kimia kemudian


terbentuk

larutan

yang

berwarna

Larutan tersebut diaduk dan didiamkan

kuning keruh.
Setelah didiamkan campuran aquades-

beberapa saat.

minyak-detergen

Selanjutnya,

campuran

tadi

0,15

berwarna putih keruh


Dilakukan tiga kali

gram

tetap

pengulangan

dimasukkan ke dalam cawan petri dan

pengukuran

kemudian cincin dimasukkan ke dalam

sebagai berikut.

campuran. Skala pada tensiometer

Suhu campuran = 29oC

diamati, kemudian dicatat. Pengamatan

Skala awal tensiometer = 0 mN/m

dilakukan

Skala pengulangan 1 = 50,8 mN/m

berulang-ulang

untuk

memperoleh hasil yang akurat.

dan

diperoleh

hasil

Skala pengulangan 2 = 53,2 mN/m


Skala pengulangan 3 = 50,1 mN/m

F
1

Rata-rata = 51.56 mN/m


Penentuan Tegangan Permukaan Campuran Air- Kloroform-Detergen
Sebanyak 15 mL air ditambahkan 10 Setelah kloroform, detergen,
mL kloroform dan 0,1 gram detergen.

dan

aquades diaduk dalam gelas kimia


kemudian

terbentuk

larutan

yang

berwarna putih keruh.


2

Larutan tersebut diaduk dan didiamkan


beberapa saat.

Setelah didiamkan campuran aquades-

kloroform dan detergen 0,15 gram


3

Selanjutnya,

campuran

tadi

tetap berwarna putih keruh


Dilakukan tiga kali pengulangan

dimasukkan ke dalam cawan penguap

pengukuran

dan kemudian cincin dimasukkan ke

sebagai berikut.

dalam

Suhu campuran = 28oC

campuran.

Skala

pada

dan

diperoleh

hasil

tensiometer diamati, kemudian dicatat.

Skala awal tensiometer = 0 mN/m

Pengamatan dilakukan berulang-ulang

Skala pengulangan 1 = 29,09 mN/m

untuk memperoleh hasil yang akurat.

Skala pengulangan 2 = 33,05 mN/m


Skala pengulangan 3 = 32,00 mN/m
Rata-rata = 31,38 mN/m

Tabel 4. Data Hasil Pengamatan


N

Bahan

o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Aquades
Kloroform
Minyak
Deterjen 0,05 %
Deterjen 0,10 %
Deterjen 0,15 %
Aqaudes-Minyak
Aqaudes-Kloroform
Aquades-minyak-detergen
Aquades-kloroform-detergen

Suhu

Skala

(oC)

(Awal - akhir)

29
29
28
29
29
28,5
28
29,5
29
28

mN
0-20,80
0-10,10
0-15,80
0-45,03
0-40,13
0-15,57
0-43,60
0-55,00
0-51,56
0-31,38

Gaya (F)
mN
20,80
10,10
15,80
45,03
40,13
15,57
43,60
55,00
51,56
31,38

F. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


-

Analisis Data
Tegangan permukaan nyata dapat dihitung dengan persamaan tanpa faktor koreksi

sebagai berikut.
Tanpa Faktor Koreksi
F = 4R .

4 R

; R jari jari cincin

4 R 4 3,14 0,925 cm
4 3,14 0,925 10 2 m
11,6 10 2 m 0,116m
a) Cairan Murni/Udara
Aquades/Udara (F = 20,8 mN)

20,8 10 3 N
F

4R
0,116 m
20,8x 10 -3 kg.m

0,116m

s 2 179,3 10 3 kg

s2

179,3 gram

s2

Kloroform/Udara (F = 10,1 mN)

10,1 10 3 N
F

4R
0,116 m

87,07 10 3 kg.m
0,116 m

s 2 750,6 10 3 kg

s2

750,6 gram

s2

Minyak Goreng/Udara (F = 15,8 mN)

15,8 10 3 N
F

4R
0,116 m
15,8 10 3 kg.m

0,116 m

s 2 136,2 10 3 kg

s2

136,2 gram

s2

b) Larutan Detergen
Detergen 0,05% (F = 45,03 mN)
45,0310 3 N
F

4R
0,116 m

45,03 10 3 kg.m
0,116 m

s 2 388,2 10 3 kg

Detergen 0,10% (F = 40,13 mN)

s2

388,2 gram

s2

F
40,13 10 3 N

4R
0,116 m

40,13 10 3 kg.m
0,116m

s 2 345,9 10 3 kg

s2

345,9 gram

s2

Detergen 0,15% (F = 15,57 mN)

15,57 10 3 N
F

4R
0,116 m

15,57 10 3 kg.m
0,116m

s 2 134,2 10 3 kg

134,2 gram

s2

Campuran
Aquades-Minyak (F = 43,6 mN)

4 R

43,6 10 3 N
0,116 m
43,6 10 3 kg.m
0,116m

s 2 375,9 10 3 kg

375,9 gram

s2

Aquades-Kloroform (F = 55,0 mN)

55,0 10 3 N

4 R
0,116 m
55,0 10 3 kg.m

0,116 m

s 2 474,110 3 kg

s2

474,1 gram

Campuran aquades , kloroform (CHCl3), dan detergen


F

51,56 10 3 N

4 R
0,116m
51,56 10 3 Kg.m

0,116 m

s 2 444,5 10 -3 Kg

s 2

s2

(F = 51,56 mN)

444,5 gram

Campuran aquades, minyak, dan detergen (F = 31,38 mN)

s 2

31,38 10 3 N
4 R
0,116m
31,38 10 3 kg.m

0,116 m

s 2 270,5 10 3 kg

s2

270,5 gram

s2

Dengan Faktor Koreksi


Tegangan permukaan yang sebenarnya, dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan dengan faktor koreksi sebagai berikut.
=S x F
dimana nilai F (faktor koreksi) dapat dihitung menggunakan rumus berikut.
0,01452 S
1,679 r
F 0,725
0,04534
2
R
C (D d )
dimana, r (platina) = 135 pm = 1,35 x 10-8 cm
R
= 0,925cm
C
= 2r = 2 x 3,14 x 0,925 cm = 5,809 cm

Campuran
-

Air-Kloroform
D (kloroform)
= 1,47 g/mL
d (air)
= 1 g/mL
S
= 7,96 x 10-3 N/m = 7,96 dyne/cm
0,01452 S
1,679 r
F 0,725
0,04534
2
R
C (D d )
0,01452 (7,96 dyne/cm)
1,679 (1,35 x 10 -8 cm)
0,725
0,04534
0,925cm
(5,809 cm) 2 (1,47 1 ) g/cm 3
0,725

0,1156 dyne/cm
0,04553 2,450 x 10 -8
3
15,859 g/cm

0,955

=S x F
= 7,96 dyne/cm x 0,955
= 7,6018 dyne/cm
-

Air-Minyak
D (air) = 1 g/mL
d (minyak) = 0,911 g/mL
S
= 9,29 x 10-3 N/m = 9,29 dyne/cm

F 0,725

0,01452 S
1,679 r
0,04534
2
R
C (D d )

0,725

0,01452 (9,29 dyne/cm)


1,679 (1,35 x 10 -8 cm)

0
,
04534

0,925 cm
(5,809 cm) 2 (1 0,911) g/cm 3

0,725

0,1348908 dyne/cm
0,04553 2,45 x 10 -8
3
3,00325 g/cm

1,0257

=S x F
= 9,29 dyne/cm x 1,0257
= 9,528 dyne/cm
Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan pengukuran tegangan permukaan cairan dengan
menggunakan alat tensiometer. Praktikum ini bertujuan untuk menentukan tegangan
permukaan cairan/gas dan cairan/cairan serta memperhatikan efek surface active
agent terhadap tegangan permukaan. Pada praktikum ini dilakukan pengukuran
tegangan permukaan aquades/udara, minyak goreng/udara, kloroform/udara, larutan
detergen (konsentrasi 0,05%, 0,1% dan 0,15%), campuran aquades-minyak, campuran
aquades-kloroform, campuran aquades-minyak-detergen, serta campuran aquadeskloroform-detergen.
Pengukuran tegangan permukaan dilakukan dengan menuangkan cairan pada
wadah berupa cawan penguap, kemudian cincin aluminium dari alat tensiometer
dicelupkan ke permukaan cairan (pada pengukuran tegangan permukaan cairan/gas)
dan dicelupkan sampai batas antara dua lapisan cairan campuran (pada pengukuran
tegangan permukaan cairan/cairan). Pengukuran diulangi sebanyak tiga kali kemudian
dihitung rata-rata tegangan permukaan yang diperoleh berdasarkan pengukuran.
Adapun data hasil pengukuran tegangan permukaan disajikan dalam tabel berikut.
Berdasarkan percobaan pengukuran tegangan permukaan terhadap cairan
murni diperoleh tegangan permukaan aquades sebesar 179,83 g/s2 dimana gaya yang
diperlukan adalah sebesar 20,8 mN. Sedangkan tegangan permukaan cairan murni
kloroform adalah sebesar 750,6 g/s 2 dan gaya yang diperlukan untuk mengangkat
cincin sebesar 10,1 mN. Untuk tegangan permukaan minyak adalah 136,2 g/s 2 dengan
gaya yang diperlukan untuk mengangkat cincin sebesar 15,8mN.
Tegangan permukaan suatu cairan berbanding terbalik dengan luas permukaan
cairan, dapat diketahui luas permukaan aquades lebih kecil dibandingkan luas
permukaan kloroform dan minyak goreng. Kecilnya luas permukaan air disebabkan

kekuatan molekul satu dengan molekul lainnya. dengan kuatnya interaksi antara
molekul-molekul air menyebabkan luar permukan air lebih besar dari kloroform dan
minyak. Molekul air (H2O) merupakan molekul polar dengan atom O yang bersifat
elektronegatif dan mampu membentuk ikatan hidrogen dengan atom H dari molekul
air yang lain (ikatan antar molekul). Hal ini yang menyebabkan gaya tarik antar
molekul air sangat kuat sehingga luas permukaannya kecil. Sedangkan, molekul
kloroform dan minyak merupakan senyawa yang bersifat nonpolar. Sifat nonpolar
pada minyak disebabkan karena adanya rantai alkil yang panjang, dengan adanya
rantai alkil yang panjang menyebabkan interaksi molekul pada gugus karboksil
rendah, dengan mempunyai interaksi molekul lemah. dengan interaksi molekul lemah,
luas permukaan menjadi lebar dan mempunyai jarak yang jauh, dengan mempunyai
jarak yang jauh menyebabkan tegangan permukaan menjadi rendah. Begitu juga
dengan senyawa kloroform yang bersifat nonpolar. Tiga buah atom Cl yang terikat
pada atom C menyebabkan senyawa ini menjadi kurang polar. Dengan demikian, gaya
tarik antar molekulnya lebih lemah. Sehingga luas permukaan kloroform lebih besar
dan tegangan permukaanya menjadi lebih kecil.
Pengukuran selanjutnya yaitu pengukuran tegangan permukaan campuran.
Campuran pertama yang digunakan adalah larutan detergen. Dalam hal ini konsentrasi
larutan detergen yang digunakan bervariasi . Data ini dapat dilihat pada besarnya
tegangan permukaan larutan detergen 0,05% berdasarkan percobaan tegangan
permukaan sebesar 388,2 g/s2 dengan gaya yang diperlukan 45,03 mN, pada
konsentrasi 0,10% tegangan permukaan larutan sebesar 345,9 g/s2 dengan gaya yang
diperlukan sebesar 40,13 mN, pada konsentrasi 0,15 % tegangan permukaan larutan
detergen 134,2 g/s2 dengan gaya yang diperlukan 15,57 mN. semakin besar
konsentrasi deterjen, tegangan permukaan semakin kecil, luas pemukaan semakin
besar. Pada pengukuran tegangan permukaan larutan detergen, penambahan detergen
pada zat murni aquades dapat menurunkan tegangan permukaan zat tersebut. Hal ini
disebabkan dalam detergen terkandung surfaktan yang berfungsi sebagai emulsifier.
Emulsifier ini dapat meningkatkan kemampuan air (aquades) membasahi kotoran.
Jika di dalamnya terkandung surfaktan, maka bentuk butiran air murni (aquades) akan
berubah (menyebar). Penggunaan surfaktan memiliki banyak manfaat terutama
penggunaan detergen untuk membersihkan kotoran pakaian. Bila tegangan permukaan
air turun akibat penggunaan surfaktan, maka akan semakin mudah melarutkan
kotoran. Dalam hal ini, makin besar konsentrasi detergen dalam larutan maka

tegangan permukaan akan semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh semakin
tingginya konsentrasi surfaktan yang berfungsi sebagai emulsifier. Semakin banyak
emulsifier, maka semakin banyak gugus aktif yang berikatan dengan molekul air
sehingga gaya kohesi antar molekul air semakin berkurang. Akibat turunnya tegangan
permukaan inilah detergen digunakan untuk memisahkan kotoran yang menempel
pada pakaian.
Pengukuran selanjutnya dilakukan terhadap campuran antara kloroform
dengan air dan campuran antara air dengan minyak. Campuran kloroform dengan air
memerlukan gaya sebesar 55,0 mN dimana tegangan permukaannya sebesar 7,6018
dyne/cm (dengan faktor koreksi) atau 474,1 gram/s 2 (tanpa faktor koreksi) dan
campuran minyak dengan air

memerlukan gaya 43,6 mN dimana tegangan

permukaannya yaitu 1,0257 dyne/cm (dengan faktor koreksi) dan 375,9 gram/s 2
(tanpa faktor koreksi). Jika dibandingkan dengan tegangan permukaan air murni
maka tegangan permukaan campuran zat-zat tersebut adalah lebih kecil daripada zat
murninya. hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi karena minyak dan kloroform
dapat merusak ikatan air menjadi rusak, dengan rusaknya interaksi molekul air dapat
menyebabkan ikatan air lemah dengan campuran.. Sehingga luas permukaan
campuran air dengan kloroform dan air dengan minyak akan menjadi lebih besar dan
tegangan permukaan akan lebih kecil.
Pada percobaan ini juga dilakukan pengukuran tegangan permukaan campuran
air-kloroform, dan detergen serta campuran antara air, minyak dan detergen. Ketika
ditambahkan detergen, tegangan permukaan campuran menjadi semakin kecil, yaitu
campuran air-kloroform-detergen tegangan permukaannya turun menjadi 44,5 g/s 2
dan campuran air-minyak -detergen tegangan permukaannya turun menjadi 270,5
g/s2. Untuk campuran antara minyak dan air, ketika ditambahkan dengan detergen tegangan
permukaannya turun yang

menandakan bahwa detergen mampu menurunkan tegangan

permukaan campuran minyak dan air. Kemampuan detergen menurunkan tegangan


permukaan menyebabkan air dan minyak menjadi campuran yang homogen (melarut). Hal ini
disebabkan karena deterjen mengandung s urfaktan (surface active agent). Dimana

surfaktan ini merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu
hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi
menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang
menempel pada permukaan bahan.
G. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1 a. Tegangan permukaan cairan/gas antara lain:
-

Tegangan permukaan aquades/udara adalah 179,3 g/s2.

Tegangan permukaan kloroform/udara adalah 750,6 g/s2.

Tegangan permukaan minyak /udara adalah 136,2 g/s2.

b. Tegangan permukaan cairan/cairan antara lain:

Tegangan permukaan larutan detergen 0,05% adalah 388,2 g/s2.

Tegangan permukaan larutan detergen 0,10% adalah 345,9 g/s2.

Tegangan permukaan larutan detergen 0,15% adalah 134,2 g/s2.

Tegangan permukaan campuran aquades-kloroform adalah 474,1 g/s2.

Tegangan permukaan campuran aquades-minyak adalah 375,9 g/s2.

Tegangan permukaan campuran aquades-kloroform-detergen adalah 444,5 g/s2.

Tegangan permukaan campuran aquades-minyak-detergen adalah 270,5 g/s2.

Penambahan surface active agent (surfaktan) ke dalam aquades dapat mengurangi


tegangan permukaan () dimana semakin besar konsentrasi detergen maka semakin
kecil tegangan permukaan sehingga semakin besar luas permukaanya.

H. DAFTAR PUSTAKA
Bird, T. 1986. Penuntun Praktikum Kimia Fisik untuk Universitas. Terjemahan Kwee Ie
Tjien. 1987. Experiments in Physical Chemistry. Jakarta: Gramedia
Brady, J. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Edisi Kelima Jilid Satu. Alih bahasa
Sukmariah Maun, dkk. Jakarta: Binarupa Aksara.
Chang, R. 2003. Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid Satu. Alih bahasa Muhamad Abdulkadir,
dkk. Jakarta: Erlangga.
Lohat, A. 2009. Tegangan Permukaan. Tersedia pada http://www.gurumuda.com/tegang
an-permukaan/. Diakses pada 30 April 2015.
Retug, N. & Sastrawidana, D. 2004. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Singaraja: IKIP
Negeri Singaraja.
Suardana, I N., Retug, N., & Subagia, I W. 2002. Kimia Fisika II. Singaraja: IKIP Negeri
Singaraja
Sukardjo. 1989. Kimia Fisika. Jakarta : Bina Aksara

Anda mungkin juga menyukai