Anda di halaman 1dari 12

Laporan konsistensi tanah

ACARA VIII
KONSISTENSI TANAH
I.
TUJUAN
1. Menetapkan Batas Cair tanah (BC)
2. Menetapkan Batas Lekat tanah (BL)
3. Menetapkan Batas Gulung tanah (BG)
4. Menetapkan Batas Berubah Warna tanah (BBW)
Menghitung Jangka Olah Tanah (JO)
Menghitung Indeks Plastisitas Tanah (IP)
Menghitung persediaan air maksimum dalam tanah (PAM)
.
II.
DASAR TEORI
Konsistensi merupakan sifat fisik tanah yang menunjukan derajat adhesi dan
kohesi partikel-partikel tanah pada berbagai tingkat kelengasan. Sifat fisik yang ditunjukan pada
konsistensi berupa keliatan (plasticity), keteguhan (friability), dan kelekatan (stickness).
Penentuan nilai konsistensi dikelompokan menjadi dua, yaitu kualitatif (biasanya di lapangan
dan di laboratorium) dan kuantitatif (di laboratorium) dengan pendekatan angka Atterberg yaitu
batas cair (BC), batas gulung (BG), batas lekat (BL), dan batas berubah warna (BBW). Angkaangka Atterberg mempunyai hubunganantara kadar lengas (%) dengan konsistensi
tanah (Handayani, Suci. 2007).
BC merupakan kadar lengas pada saat tanah mulai mengalir bebas tanpa
tekanan atau jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah. BLadalah kadar lengas pada
saat tanah basah tidak mengalir pada alat logamatau kadar air dimana tanah mulai tidak dapat
melekat lagi pada benda lain. BG merupakan kadar lengas tanah pada saat tanah mulai dapat
dibentukatau kadar air dimana gulungannya tidak dapat lagi digolek-golekkan. BBW merupakan
kadar lengas pada saat tanah mulai mengering dan tidak dapat menyediakan lengas untuk
tanaman (Handayani, Suci. 2007 dan Agus, Cahyono. 2008).
Konsistensi tanah penting untuk menentukan cara pengolahan tanah yang baik, juga
penting bagi penetrasi akar tanaman di lapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan lengas.
Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan ke dalam konsistensi gembur ( mudah diolah ) sampai
teguh ( agak sulit dicangkul ). Dalam keadaan kering, tanah dibedakan ke dalam konsistensi
lunak sampai keras. Dalam keadaan basah dibedakan plastisitasnya yaitu dari plastis sampai
tidak plastis ataupun kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai lekat. Dalam keadaan lembab
atau kering konsistensi tanah ditentukan dengan meremas segumpal tanah. Bila gumpalan
tersebut mudah hancur, maka tanah akan dikatakan berkonsistensi gembur bila lembab atau
lunak waktu kering. Bila tanah sukar hancur dengan remasan tersebut, tanah dikatakan
berkonsistensi teguh ( lembab ) atau keras ( kering )(Hardjowigeno, 1987).

Konsistensi tanah dapat ditetapkan secara langsung di laboratorium berdasarkan angkaangka Atterberg. Angka Atterberg adalah persentase berat lengas tanah yang diukur pada saat
tanah mengalami perubahan konsistensi.
Adapun Evaluasi Angka-Angka Atterberg adalah sebagai berikut :
Harkat
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
Ekstrim tinggi
(Hardjowigeno,1987).

Plastisitas
BG) (%)
0-5
6-10
11-17
18-30
31-43
> 43

(BC- Jangka olah (BL- Batas


mengalir
BG) (%)
(BC-BBW) (%)
1-3
< 20
4-8
21-30
9-15
31-45
16-25
46-70
26-40
71-100
>40
>100

Konsistsnsi tanah menunjukkan kekuatan daya adhesi dan kohesi butir-butir ta


Nah dengan benda lain.Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan tanah terhadap gaya yang
akan mengubah bentuk. Gaya-gaya tersebut dapat berupa usikan, misalnya
pencangkulan, dan pembajakan. Tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik
umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah (Hardjowigeno,1992).
Jumlah air tertinggi yang bermanfaat bagi tanaman ditunjukkan oleh BC, dan
yang terendah oleh BBW. Agar tanah dapat ditumbuhi tanaman harus mempunyai kadar air yang
terletak diantara kedua nilai batas tersebut. Diantara BL dan BG merupakan kadar air dimana
tanah mudah diolah (dicangkul, digaru), sehingga dinamakan jangka olah (JO). Antara BC dan
BG merupakan kadar air tanah di mana tanah menunjukan derajat keteguhan
(DT) (Darmawijaya, Isa. 1997).

III.
ALAT DAN BAHAN
a) Batas Cair
1. 1 buah alat Casagrande
2. 1 buah cawan penguap diameter 12 cm
3. 1 buah colet
4. 1 buah botol pemancar air
5. 4 buah cupu
6. 1 buah timbangan analitis
7. 1 buah dapur pengering

8.
9.
10.
b)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
c)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
d)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

IV.
a)

1 buah eksikator
1 helai kertas grafik semilog
Contoh tanah : mediteran
Batas Lekat
1 buah colet yang mengkilat bersih dan permukaannya rata (sebaiknya dari nikel)
2 buah cupu
1 buah botol pemancar air
1 buah timbangan analitis
1 buah dapur pengering
1 buah eksikator
Contoh tanah : mediteran (pasta tanah sisa acara BC)
Batas Gulung
1 buah lempeng kaca seluas telapak tangan
3 buah penimbang
1 buah botol pemancar air
1 buah pengering
1 buah timbangan analitik
1 buah eksikator
Contoh tanah : mediteran (pasta tanah sisa acara BL atau BC)
Batas Berubah Warna
1 buah papan kayu dengan salah satu permukaan lebarnya rata dan halus, kira-kira berukuran 10
x 15 cm
1 buah colet
2 buah cupu
1 buah dapur pengering
1 buah timbangan analitis
1 buah eskikator
Contoh tanah : mediteran (sisa pasta tanah acara BT atau BL)

CARA KERJA
BATAS CAIR
1. Alat Casagrande disiapkan dengan 2 buah sekrup pengatur dan dengan bagian ekor colet tinggi
jatuh cawan diatur setinggi 1 cm.
2. Sejumlah tanah diambil secukupnya ( + 100gr) dalam cawan penguap. Dengan menggunakan
colet tanah dicampur dengan air yang ditambahkan sedikit demi sedikit dengan cupu pemancar
sehingga diperoleh pasta yang homogen.
3. Sebagian pasta tanah diletakkan di atas cawan alat casagrande dan permukaannya diratakan
dengan colet sampai tebal pasta+1cm. Kemudian dengan colet pasta tanah dibelah sepanjang
sumbu simetris cawan. Waktu membelah pasta, colet dipegang sedemikian sehingga pada saat
setiap kedudukannya ia selalu tegak lurus pada permukaan cawan dan ujung colet selalu tertekan
di permukaan cawan. Di dasar alur pembelahan harus terlihat permukaan cawan yang bersih dari
tanah selebar ujung colet (2mm).

4. Alas casagrande diputar pada pemutarnya sedemikian ceptanya sehingga cawan terketuk-ketuk
sebanyak dua kali tiap detik. Banyak ketukan untuk menutupi kembali sebagian alur sepanjang
1cm dihitung. Kemudian diulangi langkah ketiga, cawan diketuk-ketukan lagi dan banyak
ketukan untuk menutupi kembali alurnya seperti tadi dihitung. Pekerjaan ini diulang-ulang lagi
sampai setiap kali diperoleh banyaknya ketukan yang tetap.
5. Setelah dapat diperoleh banyaknya ketuakn yang tetap antara 10 sampai 40, ambilah sejumlah
pasta tanah disekitar bagian alur yang menutup sebanayk kira-kira 10gr dan ditetapkan kadar
lengasnya seperti dalam acara kadar lengas.
Catatan :
Jika diperoleh hasil yang banyak ketukannya kurang dari 20 maka berarti pastanya terlalu basah
dan kalau lebih dari 40 ketukan pastanya terlalu kering, dalam kejadian pertama kebasahan
dikurangi dengan jalan menambah kering sedikit dan dalam kejadiankedua pastanya ditambah
air.
6. Kerjakan lagi langkah ke-3 s/d ke-5, sehingga keseluruhannya dperoleh empat kali pengamatan
dengan ketukan yang berbeda-beda, yaitu dua buah pengamatan berketukan di bawah 25 dan dua
buah lainnya di atas 25.
Catatan :
Untuk dapat memperoleh 4 buah pengamatan itu ada 2 cara:
a. Pengamatan dimulai dari keadaan pasta yang kering (ketukan lebih banyak) ke keadaan basah
(ketukan lebih sedikit) denagan jalan menambah air pada pasta tanah setelah selesai suatu
pengamatan.
b. Berlawanan dari cara a yaitu dimulai dari keadaan yang lebih basah ke keadaan yang lebih
kering dengan jalan membiarkan pasta tanah agak kering setiap selesai suatu pengamatan.
b)

BATAS LEKAT
1. Diambil sisa pasta tanah acara BC, digumpalkan dalam tangan dan ditusukkan colet kedalamnya
sedalam 2,5 cm dengan kecepatan 1 cm/detik. Dapat juga dijalankan dengan menggumpalkan
pasta dengan ujung colet sepanjang 2,5 cm ada di dalamnya dan kemudian colet ditarik secepat
0,5 detik.
2. Diperiksa permukaan coletnya :
a. Bersih, tidak ada tanah lebih kering dari BL.
b. Tanah atau suspensi tanah melekat, berarti pasta tanah lebih basah dari BL.
3.
Dari hasil pemeriksaan dalam langkah ke-2, tetntukan apakah pasta tanah dibasahi atau
dikurangi kelembabannya, dan diulangi langkah 1 hingga sampai mencapai keadaan di
pemukaan colet di sebelah ujungnya melekat suspensi tanah seperti dempul sepanjang kira-kira
1/3 dikali dalamnya penusukan kira-kiar 0,8 cm.
4. Diambil tanah sekitar, tempat tusukan sebanyak kira-kira 10 gram dan ditetapkan kadar
lengasnya seperti dalam acara kadar lengas.
5. Dikerjakan lagi langkah-langkah 1 s/d 4 sebagai duplo. Hasil duplo dengan yang pertama tidak
berselisih lebih dari 1 %. Kalau lebih, harus diulangi lagi sampai diperoleh 2 pengamatan yang
selisihnya tidak lebih dari 1 %.

c)

BATAS GULUNG

1. Diambil pasta tanah kira-kira 15 gram dan buat bentuk seperti sosis, letakkan di atas lempeng
kaca dan gerakkan telapak tangan maju mundur, sosis tanah digolek-golekan sampai berbentuk
tambang. Jarak penggolekan ialah dari ujung jari sampai pangkalnya dan kembali. Pada waktu
menggolek jari-jari melakukan gerakan menjarang.
2. Diperiksa tambang tanah yang terbentuk.
3. Diulangi langkah 1 dengan lebih dulu menambah atau mengurangi kelembaban pasta tanah
(tergantung hasil langkah ke-2) sampai dicapai keadaan, tambang tanah itu akan mulai retakretak / putus-putus pada waktu mencapai tebal 3 mm.
4. Diambil tambang yang retak-retak / putus-putus itu dan tetapkan kadar lengasnya seperti dalam
acara kadar lengas.
5. Dikerjakan 2 kali langkah-langkah ke-1 s/d ke- 4 sebagai duplo dan triplo
d)

BATAS BERUBAH WARNA


1. Diratakan pasta tanah dengan colet, tipis dan licin, di atas permukaan papan kayu yang rata dan
halus. Bentuknya dibuat jorong dan pelan-pelan menipis dari tengah ke tepi. Bagian tengah
tebalnya kira-kira 3 mm.
2. Didiamkan dalam tempat yang teduh dan jauh dari sumber panas. Lengas dalam pasta pelanpelan akan menguap dan penguapan lebih cepat di bagian yang tipis (tepi). Pada waktu lengas
menguap, pori-pori yang ditinggalkan oleh lengas akan diisi oleh udara, maka warna tanah akan
memuda. Pemudaan ini akan berjalan mulai daritepi dan dengan pelan-pelan menjalan ke tengah.
3. Setelah jalur mudah dicapai lebarnya kira-kira 0,5, maka jalur muda diambil dengan colet
bersama-sama dengan jalur disampingnya yang masih gelap, juga selebar kira-kira sama banyak
dari 2 tempat sekeliling. Juga menentukan jorong untuk mendapat hasil rata-rata yang lebih baik.
Untuk dijadikan pedoman, warna muda di salah satu sudut papan kayu diletakkan selapis tipis
contoh tanah kering udara yang digunakan dalam acara ini sebagai pembanding.
V.
a.

HASIL PENGAMATAN
Batas Cair
Pengamata Berat Cupu
n ke
(a gram)
20 ketukan
18 ketukan
36 ketukan
40 ketukan

6
5,9
5,8
5,9

Berat Basah
Tanah + Cupu (b
gram)
20,7
11,1
9,6
10,7

Berat Kering
Tanah + Cupu
(c gram)
11,7
9,7
7,6
8,8

Berat Basah

Berat Kering

Kadar Lengas
(%)
157,89
36,84
111,11
65,52

b. Batas Lekat
Berat Cupu

Kadar Lengas

Pengamatan
ke
1
2
c.

(a gram)
7,5
7,4

Tanah + Cupu
(b gram)
12,5
12,6

Tanah + Cupu
(c gram)
11
11,1

(%)

Berat Basah
Tanah + Cupu
(b gram)
9,9
8,9

Berat Kering
Tanah + Cupu
(c gram)
9,1
8,5

Kadar Lengas
(%)

Berat Basah
Tanah + Cupu
(b gram)
21,1
31,6

Berat Kering
Tanah + Cupu
(c gram)
16,4
25,5

Kadar Lengas
(%)

42, 86
40,54

Batas Gulung
Pengamatan
ke
1
2

Berat Cupu
(a gram)
7
6,6

38,10
21,05

d. Batas Berubah Warna


Pengamatan
ke
1
2

Berat Cupu
(a gram)

PERHITUNGAN
Perhitungan Kadar Lengas (KL)
Rumus umum KL =
a) Kadar Lengas BC
KL BC 20 ketukan =
=
= 157,89%
KL BC 18 ketukan =
=
= 36,84%
KL BC 36 ketukan =
=
= 111,11%
KL BC 40 ketukan =
=
= 65,52%
Rata-rata kadar lengas BC
BC = (
=(
= 92,84%
b) Kadar Lengas BL
KL BL1 =

7,3
7,2

51,65
33,33

=
= 42,86%
KL BL2 =
=
= 40,54%
Rata-rata kadar lengas BL
BL = (
=(
= 41,7%
c) Kadar Lengas BG
KL BG1 =
=
= 38,10%
KL BG2 =
=
= 21,05%
Rata-rata kadar lengas BG
BG = (
=(
= 29,58%
d) Kadar Lengas BBW
KL BBW1 =
=
= 51,65%
KL BBW2 =
=
= 33,33%
Rata-rata kadar lengas BBW
BBW = (
=(
= 42,45%
Perhitungan Batas Cair
Perhitungan BC menggunakan 3 cara, yaitu:
a. Rumus umum
b. Persamaan regresi
c. Grafik
a. Perhitungan dengan Rumus Umum
Log BC = log KLN + 0,121 log N - 0,16015
Log BC20 = log 157,89 + 0,121 . log 20 0,16915
= 2,198 + (0,121 . 1,30) 0,16915
= 2,198 + 0,1573 0,16915
= 2,19
BC20 = anti log 2,19 = 154,88%

Log BC18 = log 36,84+ 0,121 . log 18 0,16915


= 1,57 + (0,121 . 1,26) 0,16915
= 1,57 + 0,15246 0,16915
= 1,55
BC18 = anti log 1,55 = 35,48%
Log BC36 = log 111,11 + 0,121 . log 36 0,16915
= 2,05 + (0,121 . 1,56) 0,16915
= 2,05 + 0,18876 0,16915
= 2,07
BC36 = anti log 2,07 = 117,49%
Log BC40 = log 65,52 + 0,121 . log 40 0,16915
= 1,82 + (0,121 . 1,60) 0,16915
= 1,82 + 0,1936 0,16915
= 1,85
BC40 = anti log 1,85 = 70,79%
BC rata-rata = (
=(
= 94,66%
b. Perhitungan dengan persamaan regresi
Jumlah
Log (Banyak
Kadar lengas
Ketukan
Ketukan) {X}
{Y}
20
1,30
157,89
18
1,26
36,84
36
1,56
111,11
40
1,6
65,52

5,72
371,36
X = = = 1,43
Y = = = 92,84
b =
=
=
=
= - 13,33
a = Y bX
= 92,84 (- 13,33).1,43
= 92,81 (- 19,06)
= 111,9
Jadi, persamaan regresinya, Y = a + bX,
dengan X = log 25 (log 25 = 1,39794)
Y = 111,9 + (- 13,33).1,39794
= 111,9 + (- 18,63)
= 93,27

XY

X2

205,26
46,418
173,33
104,83
529,84

1,69
1,59
2,43
2,56
8,27

c.

Perhitungan dengan grafik


Ulangan

1
2
3
4

Tabel Rumus Umum (Cara Titik Tunggal)


Kadar Lengas
Banyak
Log Kadar
Log
(%)
Ketukan
Lengas
Banyak
Ketukan
157,89
20
2,198
1,30
36,84
18
1,57
1,26
111,11
36
2,05
1,56
65,52
40
1,82
1,6
Rata-rata
BC Hasil Perhitungan

Log BC

2,19
1,55
2,07
1,85
1,915
82,22

Y = - 13,33 X +
111,9
= - 13,33 (1,39794) +
111,9
= - 18,63 +
111,9
= 93,27

Perhitungan Dari:
1. Jangka Olah Tanah (JO)
2. Indeks Plastisitas Tanah (IP)
3. Persediaan Air Maksimum (PAM)
Jangka Olah Tanah = BL BG
= 41,7 29,58
= 12,12
Indeks Plastisitas Tanah
= BC BG
= 92,84 29,58
= 63,26
Persediaan Air Maksimum = BC BBW
= 92,84 42,45
= 50,39
VI.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kita mengadakan pengujian dengan menggunakan anggkaangka Atterberg, yaitu: BC, BL, BG, dan BBWpada tanah mediteran.

Konsistensi tanah ditentukan oleh struktur tanah. Pentingnya konsistensi tanah adalah
untuk menentukan cara penggarapan tanah yang efisien dan penetrasi akar tanaman di lapisan
tanah bawahan.
Pada pengamatan batas cair digunakan tiga cara untuk mendapatkan nilai batas cair
dari masing-masing jenis tanah, yaitu dengan grafik, rumus umum ; log BC = log Kln + 0,121
log N 0,16915, dan dengan persamaan regresi : Y = a + bx. Dari ketiga metode tersebut,
perhitungan dengan persamaan regresi merupakan metode yang paling baik karena hasil yang
diperoleh merupakan hasil pengolahan semua data hasil pengamatan sehingga lebih akurat
daripada metode grafik yang memungkinkan adanya data yang tidak tercakup dam metode rumus
umum yang hanya menggunakan data satu kali pengamatan. Namun demikian dari hasil
perhitungan dengan menggunakan ketiga metode tersebut diperoleh hasil yang yang tidak jauh
berbeda. Batas cair yang diperoleh dari perhitungan tersebut menunjukkan kadar lengas
maksimum yang dapat membuat tanah tidak mengalir bersama air, artinya jika tanah-tanah
tersebut memiliki kadar lengas dari batas cairnya lebih rendah maka tanah akan mengalir
bersama dengan air. Pada batas cair ini massa tanah tidak lagi dapat mengalir semata-mata oleh
gaya berat, akan tetapi masih dapat juga meluncur kalau dikenai oleh suatu gaya
penggerak. Gaya penggerak pada percobaan ini ditunjukkan oleh alat casagrande, dimana alat ini
bekerja dengan sistem gerakan yang menghasilkan ketukan-ketukan. Dari hasil ketukan ini maka
didapatkan hasil dari pengukuran kadar lengas yang berbeda. Percobaan ini dilakukan sebanyak
empat kali dengan bermacam ketukan pada masing-masing contoh tanah. Percobaan pertama
pada tanah mediteran menghasilkan 20 ketukan. Percobaan kedua menghasilkan 18 ketukan.
Percobaan ketiga menghasilkan 36 ketukan dan yang keempat menghasilkan 40 ketukan. Dari
contoh tanah yang memiliki hasil ketukan yang berbeda ini kemudian diambil dari alur yang
telah tertutup oleh tanah. Dari situ, kemudian dilakukan pengovenan untuk menentukkan besar
kadar lengas tanah tersebut. Dengan penghitungan menggunakan cara rumus umum maka
didapatkann besar kadar lengas rata-rata tanah mediteran adalah 92,84. Pada perhitungan dengan
persamaan regresi maka kadar lengas tanah mediteran adalah 93,27.
Untuk BL, kita harus menggunakan colet yang bersih, jangan sampai berlemak atau
kasar permukaannya. Jika colet berlemak, maka akan mengganggu menempelnya tanah pada
colet; jika permukaanya kasar, akan menyebabkan tanah sulit melekat. Jika kedua hal ini terjadi,
kita tidak dapat menentukan BL nya. Kelembaban tanah berkaitan dengan kemampuan tanah
dalam menyerap dan menahan air. Jika suatu jenis tanah tidak bersifat lekat maka hal ini
menunjukan bahwa kelembabanya rendah. Jika kecepatan menusuk lebih lambat dari 5cm/detik,
memungkinkan tanah yang seharusnya tidak lengket menjadi lengket. Dan dari praktikum ini
kita mendapatkan nilai BL sebesar 41,7. Alat yang digunakan pada pengamatan adalah colet
yang bersih dan permukaanya rata. Kecepatan penusukan dan penarikan colet penting, sebab
kecepatan pergeseran berpengaruh terhadap kelekatan tanah pada permukaan colet.
Untuk BG, landasan penggolekan harus keras dan rata permukaannya agar pada saat
kita menggolek-golekkan tanah, tekanan yang kita berikan dapat menyebar merata, kepadatan
tanah tetap dapat terjaga. Apabila landasan yang digunakan berserabut tentunya akan
mengganggu permukaan tambang tanah, misalnya memberi kasan retak atau akan mematahkan
tambang tanah yang kita buat walaupun belum mencapai batas gulungnya. Dan dari praktikum
ini kita mendapatkan nilai BG sebesar 29,58.

Untuk BBW, istilah plastis dapat kita artikan liat. Pada selisih BT-BG yang
menunjukan indeks plastis karena diantar BT dan BG tanah bersifat basah, menunjukan sifat liat
tanah. Hubungannya dengan pengolahan tanah adalah menunjukan tingkat keliatan tanah. JO
adalah selisih BL dan BG, BL menunjukan konsistensi lekat sangat tinggi, BG menunjukan batas
konsistensi liat dan tidak liat. Pengolahan tanah tidak baik apabila antara BLA & BL karena
struktur tanah peka terhadap kerusakan. BBW rendah seiring dengan BLB yang tinggi sehingga
tanah mudah diolah karena tersedia rentang kadar lengas tanah yang lebar yang baik untuk
mengolah tanah. Persediaan air tertinggi dalam tanah terjadi apabila pada saat tanah bersifat
sangat liat, kejenuhan kadar air tinggi. Dan dari praktikum ini kita mendapatkan nilai BBW
sebesar 42,45.
Nilai yang diperoleh dari keempat batas konsistensi di atas digunakan untuk
menghitung jangka olah tanah (JO). Indeks plastisitas (IP), dan persediaan air maksimum (PAM).
Dari hasil perhitungan diperoleh jangka olah tanah mediteran sebesar 12,12 %. Tanah
dengan jangka olah tinggi merupakan tanah yang lebih mudah diolah daripada tanah dengan
jangka olah rendah.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tanah mediteran merupakan tanah
yang mudah untuk diolah.
Pada perhitungan indeks plastisitas diperoleh indek plastisitas tanah mediteran sebesar
63,26%. Tanah dengan indeks plastisitas tinggi merupakan tanah yang mudah diolah, karena
tanah mudah tidak mudah pecah ketika diolah.
Dari perhitungan persediaan air maksimum diketahu PAM tanah mediteran sebesar
50,39%. Nilai yang diperoleh menunjukkan kadar air yang tersedia bagi tanaman dapat dikatakan
tanah mediteran memiliki PAM yang baik.Akan tetapi, penentuan PAM dalam praktikum ini
kurang akurat.Hal ini dikarenakan penentuan yang dilakukan pada tanah dalam keadaan yang
tidak alami lagi (tanah telah diaduk dengan air hingga menjadi pasta) sehingga mekanisme
penyerapan air yang terjadi berbeda dengan keadaan alami, dimana banyaknya dan ukuran poripori tanah berperan penting pada Penentuan PAM yang dianggap lebih baik adalah dengan
menghitung perbedaan kadar air pada tegangan 1/3 bar (kapasitas lapang) dengan kadar pada 15
bar (titik layu permanen).
VII.
1.

2.
3.
4.
5.
6.

KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
Konsistensi tanah penting untuk diketahui karena dapa memberitahukan penentuan cara
pengolahan tanha yang baik, untuk mengetahui penetrasi akar yang baik dan kemampuan tanah
menyimpan kelengasannya.
Tanah mediteran merupakan tanah yang paling baik diolah karena nilai IP, JO dan PAM
mediteran tinggi.
Penentuan PAM lebih baik dilakukan dengan menghitung perbedaan kadar air pada tegangan 1/3
bar (kapasitas lapang) dengan kadar pada 15 bar (titik layu permanen).
Pada batas cair dapat diketahui bahwa massa tanah tidak lagi dapat mengalir semata-mata oleh
gaya berat, akan tetapi masih dapat juga meluncur kalau dikenai oleh suatu gaya penggerak.
Kecepatan penusukan dan penarikan colet penting, sebab kecepatan pergeseran berpengaruh
terhadap kelekatan tanah pada permukaan colet.
Apabila tanah memiliki kadar air kurang dari batas berubah warnanya maka tanaman sudah tidak
mampu lagi menyerap air dari tanah tersebut.

7. Hasil perhitungan konsistensi tanah mediteran sebagai berikut


Batas cair
= 92,84%
Batas lekat
= 41,7 %
Batas gulung
= 29,58 %
Batas berubah warna
= 42,45 %
Jangka Olah (JO)
= 12,12 %
Indeks Plastisitas (IP)
= 63,26 %
Persediaan Air Maksimum (PAM)
= 50,39 %
VIII.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, Cahyono . 2008 . Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah Hutan . Fakultas Kehutanan UGM .
Yogyakarta .
Darmawijaya, Isa . 1997 . Klasifikasi Tanah . Gadjah Mada University Press . Yogyakarta .
Handayani, Suci . 2008 . Bahan Asistensi Praktikum Ilmu Tanah . Fakultas Pertanian UGM .
Yogyakarta .
Hardjowigeno, Sarwono. 1987. IlmuTanah. Perguruan Tinggi Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.
Hardjowigeno, Sarwono. 1992. IlmuTanah. PT .Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

http://rimud.blogspot.com/2014/10/laporan-konsistensi-tanah.html