Anda di halaman 1dari 18

Makalah Ayam Broiler(Ras Pedaging)

DISUSUSN OLEH :

- NUR MAHAR HAKIKI


- KANDA JUANDA
- AGUSLINAWATI
- PUTRI

DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAHRAGA


SMA NEGERI 2 KABUPATEN TEBO 2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala
rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun tugas Makalah Budidaya
Ternak Unggas tentang Pemeliharaan Ayam Broiler.
Makalah ini telah diupayakan agar dapat sesuai apa yang diharapkan dan dengan
terselesainya Makalah ini sekiranya bermanfaat bagi setiap pembacanya. Makalah ini penulis
sajikan sebagai bagian dari proses pembelajaran agar kiranya kami sebagai siswa dapat
memahami betul tentang perlunya sebuah tugas agar menjadi bahan pembelajaran.
Selesainya makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan kerjasama berbagai teman-teman.
Oleh karena itu, kami mengucapkan rasa syukur yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha
Esa, serta ucapan terima kasih kepada Guru Ekonomi yaitu Pak Gatut Edi susanto dan Temanteman berkat kerjasamanya sehingga Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini jauh dari kesempurnaan dan dengan segala
kerendahan hati kami mohon kritik dan saran yang bersifat membangun, sehingga apa yang kita
harapkan dapat tercapai. Dan merupakan bahan kesempurnaan untuk makalah ini selanjutnya.
Besar harapan penulis, semoga makalah yang penulis buat ini mendapat ridho dari Tuhan Yang
Maha Esa

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak pada

peningkatan konsumsi produk peternakan (daging, telur, susu). Meningkatnya kesejahteraan dan
tingkat kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi khususnya protein hewani juga turut
meningkatkan

angka

perminataan

produk

peternakan. Daging

banyak

dimanfaatkan

olehmasyarakat karena mempunyai rasayang enak dan kandungan zat gizi yangtinggi.Salah satu
sumber daging yangpaling banyak dimanfaatkan olehmasyarakat Indonesia adalah ayam.Daging
ayam yang sering dikonsumsi oleh masyarakat diperoleh dari pemotongan ayam broiler, petelur
afkir, dan ayam kampung.
Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani asal ternak dan
merupakan komoditas unggulan.Industri ayam broiler berkembang pesat karena daging ayam
menjadi sumber utama menu konsumen.Daging ayam broiler mudah didapatkan baik di pasar
modern maupun tradisional.Produksi daging ayam broiler lebih besar dilakukan oleh rumah
potong ayam modern dan tradisional.Proses penanganan di RPA merupakan kunci yang
menentukan kelayakan daging untuk dikonsumsi. Perusahaan rumah potong ayam (RPA) atau
tempat pendistribusian umumnya sudah memiliki sarana penyimpanan yang memadai, namun
tidak dapat dihindari adanyakontaminasi dan kerusakan selama prosesing dan distribusi.
Mengingat tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan pangan, menuntut
produsen bahan pangan termasuk pengusaha peternakan untuk meningkatkan kualitas

produknya.Walaupun kualitas karkas tergantung pada preferensi konsumen namun ada standar
khusus yang dijadikan acuan.Karkas yang layak konsumsi harus sesuai dengan standar SNI
mulai dari cara penanganan, cara pemotongan karkas, ukuran dan mutu, persyaratan yang
meliputi bahan asal, penyiapan karkas, penglolahan pascapanen, bahan pembantu, bahan
tambahan, mutu produk akhir hingga pengemasan.Untuk itu perlu ada penerapan manajemen
yang baik sejak masih di sektor hulu sampai ke sektor hilir.

1.2

Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui permasalahan-permasalahan

yang terjadi di peternakan ayam niaga pedaging, rumah potong ayam dan pasar yang berkaitan
dengan rendahnya kualitas karkas ayam niaga pedaging serta mencari solusi pemecahannya.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1

Ayam Broiler(Ras Pedaging)


Ayam broiler merupakan hasil teknologi yaitu persilangan antara ayam Cornish dengan

Plymouth Rock. Karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging,
konversi pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai penghasil
daging dengan serat lunak. pertambahan berat badan yang ideal 400 gram per minggu untuk
jantan dan untuk betina 300 gram per minggu.
Ayam broiler adalah ayam yang mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar,
pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah. ayam Broiler
dalam klasifikasi ekonomi memiliki sifat-sifat antara lain : ukuran badan besar, penuh daging
yang berlemak, temperamen tenang, pertumbuhan badan cepat serta efisiensi penggunaan
ransum tinggi.
Ayam broiler adalah ayam tipe pedaging yang telah dikembangbiakan secara khusus
untuk pemasaran secara dini. Ayam pedaging ini biasanya dijual dengan bobot rata-rata 1,4 kg
tergantung pada efisiensinya perusahaan. ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam betina
muda yang berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan tertentu, mempunyai
pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan timbunan daging yang banyak. Ayam
broiler merupakan jenis ayam jantan atau betina yang berumur 6 sampai 8 minggu yang
dipelihara secara intensif untuk mendapatkan produksi daging yang optimal. Ayam broiler
dipasarkan pada umur 6 sampai 7 minggu untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan

permintaan daging. Ayam broiler terutama unggas yang pertumbuhannya cepat pada fase hidup
awal, setelah itu pertumbuhan menurun dan akhirnya berhenti akibat pertumbuhan jaringan yang
membentuk tubuh. Ayam broiler mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan dibandingkan
dengan jenis ayam piaraan dalam klasifikasinya, karena ayam broiler mempunyai kecepatan
yang sangat tinggi dalam pertumbuhannya. Hanya dalam tujuh atau delapan minggu saja, ayam
tersebut sudah dapat dikonsumsi dan dipasarkan padahal ayam jenis lainnya masih sangat kecil,
bahkan apabila ayam broiler dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi hasilnya pada umur
enam minggu dengan berat badan mencapai 2 kilogram per ekor.
Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang dikehendaki pada waktu yang
tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat. Kandungan energi pakan yang tepat dengan
kebutuhan ayam dapat mempengaruhi konsumsi pakannya, dan ayam jantan memerlukan energy
yang lebih banyak daripada betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi pakan lebih
banyak,.Hal-hal yang terus diperhatikan dalam pemeliharaan ayam broiler antara lain
perkandangan, pemilihan bibit, manajemen pakan, sanitasi dan kesehatan, recording dan
pemasaran. Banyak kendala yang akan muncul apabila kebutuhan ayam tidak terpenuhi, antara
lain penyakit yang dapat menimbulkan kematian, dan bila ayam dipanen lebih dari 8 minggu
akan menimbulkan kerugian karena pemberian pakan sudah tidak efisien dibandingkan
kenaikkan/penambahan berat badan, sehingga akan menambah biaya produksi.
membagi tiga tipe fase pemeliharaan ayam broiler yaitu fase starter umur 0 sampai 3
minggu, fase grower 3 sampai 6 minggu dan fase finisher 6 minggu hingga dipasarkan.
Ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang
kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin
sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan

berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan
yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman
yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.
Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di Indonesia. Strain merupakan
sekelompok ayam yang dihasilkan oleh perusahaan pembibitan melalui proses pemuliabiakan
untuk tujuan ekonomis tertentu. Contoh strain ayam pedaging antara lain CP 707, Starbro,
Hybro.

2.2.

Perkandangan
Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan kenyamanan bagi ayam,

mudah dalam tata laksana, dapat memberikan produksi yang optimal, memenuhi persyaratan
kesehatan dan bahan kandang mudah didapat serta murah harganya. Bangunan kandang yang
baik adalah bangunan yang memenuhi persyaratan teknis, sehingga kandang tersebut biasa
berfungsi untuk melindungi ternak terhadap lingkungan yang merugikan, mempermudah tata
laksana, menghemat tempat, menghindarkan gangguan binatang buas, dan menghindarkan ayam
kontak langsung dengan ternak unggas lain.
Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok untuk
terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensive, berdaya guna dan berhasil guna. Ayam
akan terus menerus berada di dalam kandang, oleh karena itu kandang harus dirancang dan ditata
agar menyenangkan dan memberikan kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam-ayam yang berada
di dalamnya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah pemilihan tempat
atau lokasi untuk mendirikan kandang serta konstruksi atau bentuk kandang itu sendiri. Kandang
merupakan modal tetap (investasi) yang cukup besar nilainya, maka sedapat mungkin semenjak

awal dihindarkan kesalahan-kesalahan dalam pembangunannya, apabila keliru akibatnya akan


menimbulkan problema-problema terus menerus sedangkan perbaikan tambal sulam tidak
banyak membantu.
Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras meliputi: persyaratan
temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60-70%,
penerangan/pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar
mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang, model kandang
disesuaikan dengan umur ayam, untuk anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai
kandang box, untuk ayam remaja 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai kandang box yang
dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa dengan kandang postal atapun kandang bateray. Untuk
kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan
lama.
Persiapan dalam perkandangan adalah :
a.

Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai

sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat.
b.

Pergantian udara dalam kandang.


Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya

kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.


c.

Suhu udara dalam kandang.

d.

Kemudahan mendapatkan sarana produksi


Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan.

e.

Kepadatan Kandang

Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga
energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas
tubuh.
f.

Tipe Kandang

1.

Kandang postal.
Kandang ini tidak terdapat halaman umbaran sehingga dalam pemeliharaan sistem ini

ayam-ayam selalu terkurung sepanjang hari di dalam kandang. Litter yang baik harus dapat
memenuhi beberapa kriteria yakni: memiliki daya serap yang tinggi, lembut sehingga tidak
menyebabkan

kerusakan

dada,

mempertahankan

kehangatan,

menyerap

panas,

dan

menyeragamkan temperatur dalam kandang. Litter merupakan sistem kandang pemeliharaan


unggas dengan lantai kandang ditutup oleh bahan penutup lantai seperti, sekam padi, serutan
gergaji, dan jerami padi. Keuntungan sistem ini adalah biaya relatif rendah, menghilangkan bau
kotoran, jika litter kering maka pembuangan kotoran lebih mudah dan dapat menahan panas
didalam kandang. Kekurangannya adalah penyebaran penyakit lebih mudah, Pengawasan
kesehatan lewat kotoran sulit diamati.
2.

Cage
Bangunan kandang berbentuk sangkar berderet, menyerupai batere dan alasnya dibuat

berlubang (bercelah). Keuntungan sistem ini adalah tingkat produksi individual dan kesehatan
masing-masing terkontrol, memudahkan tata laksana, penyebaran penyakit tidak mudah.
Kelemahannya adalah biaya pembuatan semakin tinggi, ayam dapat kekurangan mineral, dan
sering banyak lalat.
3.

Panggung

Sistem ini biasanya dibuat diatas kolam ikan. Bahan yang biasa digunakan untuk alas
lantai adalah bambu yang dipasang secara berderet agar ayam tidak terperosok. Kelebihannya
adalah sisa pakan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, penyebaran penyakit relatif rendah.
Kekurangannya jika jarak pemasangan bambu untuk alas terlalu lebar, akan dapat mengakibatkan
ayam terperosok, biaya pembuatan relatif mahal.
2.3.

Pakan
Ayam broiler sebagai bangsa unggas umumnya tidak dapat membuat makanannya sendiri.

Oleh sebab itu ia harus makan dengan cara mengambil makanan yang layak baginya agar
kebutuhan nutrisinya dapat dipenuhi. Protein, asam amino, energi, vitamin, mineral harus
dipenuhi agar pertumbuhan yang cepat itu dapat terwujud tanpa menunggu fungsi- fungsi
tubuhnya secara normal. Dari semua unsur nutrisi itu kebutuhan energi bagi ayam broiler sangat
besar.
pakan adalah campuran dari berbagai macam bahan organik maupun anorganik untuk
ternak yang berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan zat-zat makanan dalam proses
pertumbuhan. Ransum dapat diartikan sebagai pakan tunggal atau campuran dari berbagai bahan
pakan yang diberikan pada ternak untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak selama 24 jam baik
diberikan sekaligus maupun sebagian menyatakan ransum adalah kumpulan dari beberapa bahan
pakan ternak yang telah disusun dan diatur sedemikian rupa untuk 24 jam.
Ransum memiliki peran penting dalam kaitannya dengan aspek ekonomi yaitu sebesar
65-70% dari total biaya produksi yang dikeluarkan. Pemberian ransum bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, pemeliharaan panas tubuh dan produksi
.Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari

(Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu
tersedia/tidak dibatasi). Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan
dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama
disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein
minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan
berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya. Efisiensi pakan
dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah,
jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan :
Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama
pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :
Berat total ayam hasil panen = 1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan
sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi).
Konsumsi pakan adalah kemampuan ternak dalam mengkonsumsi sejumlah ransum yang
digunakan dalam proses metabolisme tubuh.menjelaskan bahwa tingkat konsumsi ransum akan
mempengaruhi laju pertumbuhan dan bobot akhir karena pembentukan bobot, bentuk dan
komposisi tubuh pada hakekatnya adalah akumulasi pakan yang dikonsumsi ke dalam tubuh
ternak. Kebutuhan ransum ayam broiler tergantung pada strain, aktivitas, umur, besar ayam dan
temperature.Faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan antara lain umur, nutrisi ransum,
kesehatan, bobot badan, suhu dan kelembaban serta kecepatan pertumbuhan.

Pakan pemula (starter) harus diberi setelah ayam memperoleh minum, pada beberapa hari
pertama pakan dapat diberi dengan cara ditaburkan pada katon box DOC atau tempat pakan
untuk anak ayam. Sisa pakan harus dibuang tiap pagi dan jangan dibuang di litter karena akan
membahayakan kesehatan ayam. Pada 2 hari pertama gunakan air hangat bersuhu 16 sampai 20
0

C. Untuk air minum larutkan 50 gram gula dan 2 gram vitamin (dalam 1 liter air minum untuk

12 jam pertama) Perlu juga memakai meter air agar dapat diketahui dengan pasti berapa banyak
air yang digunakan pada 2 minggu pertama tempat minum dibersihkan 3 kali sehari setelah itu 2
kali sehari (Anonimus, 2004).
Pada ayam broiler fase starter kebutuhan energi adalah 3200 kcal/kg dengan kebutuhan
asam amino methionin 0,38%. Sedangkan pada finisher kebutuhan energi sama tetapi kebutuhan
protein berkurang dan kebutuhan asam amino methionin juga berkurang menjadi 0,32% (NRC.
1994).
Faktor yang dapat mempengaruhi ransum pada ayam broiler, diantaranya yaitu temperatur
lingkungan, kesehatan ayam, tingkat energi ransum yang diberikan sistem pemberian makanan
pada ayam, jenis kelamin ayam dan genetik ayam.
Bentuk fisik ransum yang diberikan pada ayam broiler ada tiga bentuk fisik ransum yang
diberikan yaitu bentuk halus seperti tepung (mesh) yang didalamnya merupakan campuran
berbagai bahan makanan yang telah diramu dalam suatu sistem formula. Ransum berbentuk
butiran lengkap atau pellet yang didasarkan pada sifat ayam broiler yang memang gemar sekali
makanan-makanan butiran dan ransum bentuk butiran pecah atau crumble yang berbentuk
butiran tetapi kecil-kecil.
kualitas pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan
fase finisher (umur 4-6 minggu):

a.

Kualitas pakan fase starter adalah terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%,

Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.


b.

Kualitas pakan fase finisher adalah terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%, serat kasar

4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9% dan energy (ME) 2900-3400 Kcal.

2.4.

Vaksinasi dan Pencegahan Penyakit

2.4.1. Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk
menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada
umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari
dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.
Vaksin adalah mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan
dan mempunyai sifat immunogenik. Immunogenik artinya dapat merangsang pembentukan
kekebalan. Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak dengan tujuan
supaya ternak tersebut kebal terhadap penyakit yang disebabkan organisme tersebut. Vaksin ada
dua macam, yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin aktif adalah vaksin yang
mikroorganismenya masih aktif atau masih hidup. Biasanya vaksin aktif berbentuk sediaan
kering beku, contoh: MEDIVAC ND LA SOTA, MEDIVAC ND-IB dan MEDIVAC GUMBORO
A. Vaksin inaktif adalah vaksin yang mikroorganismenya telah dimatikan. Biasanya berbentuk
sediaan emulsi atau suspensi, contoh: MEDIVAC ND-EDS EMULSION, MEDIVAC CORYZA
B.

Pelaksanaan Kegiatan vaksinasi dapat dilakukan dengan cara membagi ayam menjadi 2
kelompok besar dalam sekatan. Ayam kemudian digiring ke dalam 2 sekatan yang terbentuk.
Vaksinasi dilakukan mulai dari pen terakhir hingga pen pertama. Ayam yang telah divaksinasi
diletakan diluar sekatan hingga kemungkinan terjadinya pengulangan vaksinasi dapat
diminimalisir.
Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti tetes mata, hidung,
mulut (cekok), atau melalui air minum. Vaksinasi harus dilakukan dengan benar sehingga tidak
menyakiti, unggas dan mempercepat proses vaksinasi, dan tidak meninggalkan sisa sampah dari
peralatan vaksinasi seperti suntikan, sarung tangan, masker maupun sisa vaksin yang digunakan
(botol vaksin). Unggas yang divaksin harus benar- benar dalam keadaan sehat tidak dalam
kondisi sakit maupun stress sehingga akan mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak terjadi
kematian dalam proses vaksinasi. Tata cara vaksinasi harus ditempat yang teduh, bersih, vaksin
tidak dalam kondisi sakit maupun stress sehingga tidak merusak vaksin. Program vaksinasi untuk
unggas, harus disesuaikan dengan umur dari unggas tersebut dan harus berhati-hati dalam
memvaksin karena sangat sensitif terhadap jarum suntik dan dapat menimbulkan stress dan
kematian mendadak.

5.2.2. Penyakit dan pencegahannya


Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu:
1) Flu Burung
Flu Burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza yang menyerang
burung / unggas / ayam. Virus yang menyebabkan flu burung ini dikenal dengan nama virus
H5N1
(H= Haemagglutinin, N= Neuramidase). Virus ini tidak hanya dapat menular dari burung ke
burung, tapi ternyata dapat pula menular dari burung ke manusia.

Virus Flu burung akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu, daging, dan telur harus
dimasak dengan matang untuk menghindari penularan sebelum dimakan. Kebersihan diri perlu
dijaga pula dengan mencuci tangan dengan anti septik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu
dijaga.
A.
1.
2.
3.
4.

Gejala Flu Burung


Panas lebih dari 38 derajat celcius
Batuk
Sakit tenggorokan
Keluhan pernafasan

B. Cara Penularan
1. Menghirup Udara lebih dari 38 derajat celcius
2. Bersentuhan dengan unggas yang terjangkit penyakit flu burung
C. Cara pencegahan
1. Hindari kontak langsung dengan unggas jenis apapun, dengan bulunya, kotoran, dan
limbahnya.
2. Tidak memelihara unggas di dekat pemukiman penduduk
3. Cucilah tangan dengan air dan sabun setiap sesudah bersentuhan dengan unggas
4. Peternakan harus jauh dari pemukiman penduduk untuk mengurangi resiko penularan
Kira kira seperti itu Gejala Flu Burung, Cara penularan Flu burung, dan Cara
pencegahan Flu burung.
2. Mortalitas
Mortalitas merupakan angka kematian dalam pemeliharaan ternak. Ada banyak hal yang
berpengaruh terhadap mortalitas dalam pemeliharaan unggas. Misalnya, adalah karena penyakit,
kekurangan pakan, kekurangan minum, temperatur, sanitasi, dan lain sebagainya. Penyakit
didefinisikan sebagai segala penyimpangan gejala dari keadaan kesehatan yang normal. Tingkat
kematian yang disebabkan oleh penyakit tergantung dari jenis penyakit yang menyerang unggas.
Dalam pemeliharaan petelur yang berhasil, tingkat kematian 10 sampai 12% dianggap normal
dalam satu tahun produksi. Dalam kelompok pedaging, kematian maksimum per tahun
normalnya adalah sekitar 4%. Setiap kematian yang melebihi angka tersebut harus dianggap
sebagai kondisi yang serius yang harus mendapat perhatian segera dari peternak yang
bersangkutan.

ayam dewasa dan merpati mampu bertahan hidup tanpa makan selama 2 sampai 3
minggu. Kehilangan berat akibat kekurangan pakan (kelaparan) pada merpati antara 38 sampai
42% dari berat badan semula, sedangkan pada ayam setelah berpuasa selama 11 hari dan bebas
minum, kehilangan berat 25% dari berat semula. Pemberian pakan yang terkontrol dan teratur
dapat menurunkan mortalitas ayam dan daya hidup bertambah.
Kecukupan air minum pada ayam sangat penting diperhatikan. Ayam lebih baik
mengalami kelaparan daripada kehausan dan kehilangan air. Ayam akan mati apabila kehilangan
air 5 sampai 15% berat hidup. Kematian terjadi pada ayam akibat kekurangan air dinyatakan
sebagai berikut, ayam berumur 8 minggu selama 72 jam, merpati dewasa selama 12 sampai 13
hari, ayam petelur selama 8 sampai 13 hari dan ayam dewasa yang tidak bertelur sampai 32 hari.
Pada periode starter, ayam broiler yang dipelihara pada temperatur rendah (5 0C) terjadi kematian
pada 4 minggu pertama sekitar 18%, karena secara nyata temperature tubuh terlalu rendah di
bawah soll wert.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menekan angka kematian adalah mengontrol
kesehatan ayam, mengontrol kebersihan tempat pakan dan minum serta kandang, melakukan
vaksinasi secara teratur, memisahkan ayam yang terkena penyakit dengan ayam yang sehat, dan
memberikan pakan dan minum pada waktunya.

-Panen

Hasil Utama, untuk usaha ternak ayam pedaging, hasil utamanya adalah berupa daging ayam
Hasil Tambahan, usaha ternak ayam broiler (pedaging) adalah berupa tinja atau kotoran

kandang dan bulu ayam.


-Pasca Panen
1. Stoving
Penampungan ayam sebelum dilakukan pemotongan, biasanya ditempatkan di kandang
penampungan (Houlding Ground)
2. Pemotongan
Pemotongan ayam dilakukan dilehernya, prinsipnya agar darah keluar keseluruhan atau
sekitar 2/3 leher terpotong dan ditunggu 1-2 menit. Hal ini agar kualitas daging bagus, tidak
mudah tercemar dan mudah busuk.
3. Pengulitan atau Pencabutan Bulu
Caranya ayam yang telah dipotong itu dicelupkan ke dalam air panas (51,7- 54,4 0C).
Lama pencelupan ayam broiler adalah 30 detik. Bulu-bulu yang halus dicabut dengan
membubuhkan lilin cair atau dibakar dengan nyala api biru.
4. Pengeluaran Jeroan
Bagian bawah dubut dipotong sedikit, seluruh isi perut (hati, usus dan ampela) dikeluarkan. Isi
perut ini dapat dijual atau diikut sertakan pada daging siap dimasak dalam kemasan terpisah.
5. Pemotongan Karkas
Kaki dan leher ayam dipotong. Tunggir juga dipotong bila tidak disukai. Setelah semua jeroan
sudah dikeluarkan dan karkas telah dicuci bersih, kaki ayam/paha ditekukan dibawah dubur.
Kemudian ayam didinginkan dan dikemas.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Ayam merupakan salah satu ternak yang potensial di daerah kita,dilihat dari segi konsumsi
masyarakat dan kebutuhan masyarakat akan daging dan telur ayam sangat tinggi karena hamper
setiap hari dikonsumsi,sehingga beternak ayam adalah salah satu peluang bisnis yang sangat
menguntungkan jika kita mau menekuninya dengan sungguh sungguh.
Beternak ayam juga memerlukan profesionalisme dan dedikasi yang penuh terhadap
peternakan ayamnya, agar hasil yang didapat juga maksimal dan sangat memuaskan. Dalam arti
kita mendapat keuntungan dari sisi ekonomi dan juga kita akan mendapatkan kepuasan batin dan
itu merupakan kebanggaan tersendiri dari diri kita atas usaha yang kita tekuni.

3.2. Saran
1.Semoga makalah ini dapat menjadi panduan yang berguna bagi para peternak ayam baik
bagi pemula maupun yang professional.
2. Agar para peternak mengetahui bagaimana cara beternak ayam dengan
baik.
3.agar para peternak megetahui tempat yang baik bagi ayam yang diternak