Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL PENELITIAN

Pengaruh Konversi Lahan Dalam Pembangunan Bendungan


Jatigede terhadap Keberadaan Situs-situs Bersejarah
di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat

DISUSUN OLEH:
DWI WULANDARI OKTOVIANIS
NIM. 13040274079

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUKUM
JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pembangunan pada hakekatnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Dalam pelaksanaannya pembangunan itu selalu melibatkan lingkungan. Tidak ada
pembangunan yang tidak melibatkan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial.
Artinya bahwa pendekatan terhadap hakekat pembangunan bersifat perpaduan antara segi
ekonomi dan segi sosial (Soemarwoto, 1973). Dari segi fisik melibatkan sumber daya
lahan yang menjadi tumpuan hidup penduduk dan dari segi sosial penduduk harus pindah
karena tergusur. Salah satu pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan
bendungan.
Bendungan merupakan tempat penampungan air super besar yang dibuat dengan
cara membendung aliran sungai. Air yang telah ditampung tersebut kemudian
dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Pada

dasarnya

pembangunan

bendungan

mengandung

beberapa

tujuan,

diantaranya untuk irigasi dalam pengembangan sektor pertanian, Pembangkit Listrik


Tenaga Air (PLTA), pariwisata, air minum dan pengendalian banjir (Soemarwoto, 1983).
Ada sekitar kurang lebih 500 bendungan di Indonesia, satu diantaranya adalah
Bendungan Jatigede. Bendungan ini terletak di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa
Barat. Bendungan ini merupakan Bendungan terbesar ke-2 setelah Bendungan Jatiluhur.
Waduk Jatigede di Sumedang dirancang memiliki daerah genangan seluas 4.900 hektare
dengan kecepatan aliran air sekitar 3,5 kubik per detiknya sehingga jangkauan
penggunaan airnya cukup luas mulai dari Sumedang, Majalengka, hingga ke Cirebon.
Pada pembangunan waduk Jatigede, tujuan utamanya adalah pengendalian banjir
dan irigasi bagi daerah hilir yang mencakup 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Indramayu,
Cirebon dan Kabupaten Majalengka. Secara makro pembangunan waduk Jatigede
membawa implikasi penting bagi perkembangan ekonomi keempat daerah dan bagi
Kabupaten Indramayu misalnya, tidak hanya berdampak terhadap ekonomi rumah tangga
akan tetapi juga penduduk merasa aman dari ancaman banjir.
Gagasan pembangunan Waduk Jati Gede pertama kali dibicarakan oleh
pemerintahan Presiden Soekarno pada 1967. Namun pada 1979, pemerintah menunda
pembangunan waduk Jati Gede karena tidak memiliki dana.

Namun pada Oktober 2005, pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa mereka


bersedia mengucurkan dana 199,8 USD atau sekitar Rp 2,04 triliun untuk membiayai
pembangunan waduk.
Bersama kontraktor lokal Wijaya Karya, Waskita Karya, Hutama Karya, dan
Pembangunan Perumahan, perusahan Tiongkok SinoHydro merampungkan Waduk Jati
Gede.
Pembangunan mega proyek yang diperkirakan menelan dana yang sangat besar
ini, sejak awal penggagasannya hingga proses pembangunannya saat ini terus menuai
banyak pro dan kontra dari berbagai pihak. Pro dan kontra ini bermunculan terkait dengan
dampak yang diperkirakan akan ditimbulkan dari pembangunan Bendungan ini, terutama
dampaknya terhadap keberadaan puluhan situs-situs bersejarah masyarakat Kabupaten
Sumedang,Jawa Barat. Akibat dari pembangunan Bendungan ini diperkirakan akan
membawa perubahan terhadap keberadaan situs-situs yang sudah ada puluhan, ratusan
bahkan ribuan tahun lamanya. Dampak tersebut tentunya akan sangat dirasakan terutama
oleh masyarakat yang bertempat tinggal di daerah sekitar lokasi pembangunan
Bendungan Jatigede ini.
Permasalahan inilah yang kemudian mendorong penulis untuk mengetahui
seberapa besar persentase pengaruh konversi lahan dalam pembangunan bendungan
Jatigede terhadap keberadaan situs-situs bersejarah di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Secara sederhana, permasalahan ini dapat diamati dengan melihat secara langsung
kondisi lingkungan setempat. Pertanyaan yang muncul berkaitan dengan permasalahan di
atas adalah Apakah pembangunan bendungan Jatigede dengan mengkonversi lahan
membawa dampak perubahan terhadap keberadaan situs-situs bersejarah di Kabupaten
Sumedang Provinsi Jawa Barat? sehingga pembangunan ini menimbulkan pro dan
kontra sejak awal penggagasannya, dan Seberapa besar persentase pengaruh
dilakukannya konversi lahan dalam pembangunan Bendungan Jatigede ini terhadap
keberadaan situs-situs bersejarah Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat?
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan
judul Pengaruh Konversi Lahan Dalam Pembangunan Bendungan Jatigede terhadap
Keberadaan Situs-situs Bersejarah di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan di atas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah:
1.2.1

Adakah pengaruh konversi lahan dalam pembangungan Bendungan Jatigede


terhadap Keberadaan Situs-situs bersejarah di Kabupaten Sumedang Provinsi

1.2.2

Jawa Barat?
Seberapa besar persentase pengaruh konversi lahan dalam pembangungan
Bendungan Jatigede terhadap kondisi lingkungan sosial di Kabupaten
Sumedang Provinsi Jawa Barat?

1.3 Tujuan penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Untuk mengetahui pengaruh konversi lahan dalam pembangungan
Bendungan Jatigede terhadap kondisi lingkungan fisik di Kabupaten
1.3.2

Sumedang Provinsi Jawa Barat.


Untuk mengetahui pengaruh konversi lahan dalam pembangungan
Bendungan Jatigede terhadap kondisi lingkungan fisik di Kabupaten
Sumedang Provinsi Jawa Barat.

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Konversi Lahan


2.1.1 Pengertian Konversi Lahan
Utomo dkk (1992) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai
konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari
fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang menjadi
dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Alih
fungsi lahan dalam artian perubahan/penyesuaian peruntukan penggunaan, disebabkan
oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi
kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan
akan mutu kehidupan yang lebih baik.
Menurut Kustiawan (1997), konversi lahan berarti alih fungsi atau mutasinya
lahan secara umum menyangkut trnsformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan
dari satu pengunaan ke pengunaan lainnya.
Menurut Irawan (2005) Konnversi lahan pertanian pada dasarnya terjadi
akibat adanya persaingan dalam pemanfaatan lahan pertanian dengan non pertanian.
Sedangkan persaingan dalam pemanfaatan lahan tersebut muncul akibat adanya tiga
fenomena ekonomi dan sosial yaitu : a) keterbatasan sumberdaya lahan, b)
pertumbuhan penduduk, dan c) pertumbuhan ekonomi.
Sihaloho (2004), membagi konversi lahan kedalam tujuh pola atau tipologi,
antara lain:
1. Konversi gradual berpola sporadis; dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu lahan
yang kurang/tidak produktif dan keterdesakan ekonomi pelaku konversi.
2. Konversi sistematik berpola enclave; dikarenakan lahan kurang produktif,
sehingga konversi dilakukan secara serempak untuk meningkatkan nilai tambah.
3. Konversi lahan sebagai respon atas pertumbuhan penduduk (population growth
driven land conversion); lebih lanjut disebut konversi adaptasi demografi, dimana
dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, lahan terkonversi untuk memenuhi
kebutuhan tempat tinggal.
4. Konversi yang disebabkan oleh masalah sosial (social problem driven land
conversion); disebabkan oleh dua faktor yakni keterdesakan ekonomi dan perubahan
kesejahteraan.
5. Konversi tanpa beban; dipengaruhi oleh faktor keinginan untuk mengubah hidup
yang lebih baik dari keadaan saat ini dan ingin keluar dari kampung.
6. Konversi adaptasi agraris; disebabkan karena keterdesakan ekonomi dan keinginan
untuk berubah dari masyarakat dengan tujuan meningkatkan hasil pertanian.

7. Konversi multi bentuk atau tanpa bentuk ; konversi dipengaruhi oleh berbagai
faktor, khususnya faktor peruntukan untuk perkantoran, sekolah, koperasi,
perdagangan, termasuk sistem waris yang tidak dijelaskan dalam konversi demografi.
2.2 Pembangunan
2.2.1 Pengertian Pembangunan
Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai Suatu
usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan
dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas
dalam rangka pembinaan bangsa (nation building).
Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup seluruh
system sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan
teknologi, kelembagaan, dan budaya (Alexander 1994).
Dengan demikian, proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan
masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro
(nasional)

dan

mikro.

Makna

penting

dari

pembangunan

adalah

adanya

kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.


2.2.2

Tujuan Pembangunan
Adapun Tujuan Pembangunan terbagi atas 2 bagian, yaitu :
1. Tujuan Umum Pembangun adalah suatu proyeksi terjauh dari harapan-harapan
dan ide-ide manusia, komponen-komponen dari yang terbaik atau masyarakat
ideal terbaik yang dapat dibayangkan.
2. Tujuan Khusus Pembangunan ialah tujuan jangka pendek, pada tujuan jangka
pendek biasanya yang dipilih sebagai tingkat pencapaian sasaran dari suatu

program tertentu.
2.3 Bendungan
2.3.1 Pengertian Bendungan
Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air
menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan
untuk mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air. Kebanyakan dam
juga memiliki bagian yang disebut pintu air untuk membuang air yang tidak
diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan.
Kementerian Pekerjaan Umum Indonesia mendefinisikan bendungan sebagai
Bangunan yang berupa tanah, batu, beton, atau pasangan batu yang dibangun selain
untuk menahan dan menampung air, dapat juga dibangun untuk menampung limbah
tambang atau lumpur.
2.3.2

Jenis-jenis bendungan

Bendungan dapat diklasifikasikan menurut struktur, tujuan atau ketinggian.


a. Berdasarkan struktur dan bahan yang digunakan, bendungan

dapat

diklasifikasikan sebagai dam kayu, "embankment dam" atau "masonry dam",


dengan berbagai subtipenya.
b. Tujuan dibuatnya termasuk menyediakan air untuk irigasi atau penyediaan air di
perkotaan,

meningkatkan

navigasi,

menghasilkan

tenaga

hidroelektrik,

menciptakan tempat rekreasi atau habitat untuk ikan dan hewan lainnya,
pencegahan banjir dan menahan pembuangan dari tempat industri seperti
pertambangan atau pabrik. Hanya beberapa dam yang dibangun untuk semua
tujuan di atas.
c. Menurut ketinggian, dam besar lebih tinggi dari 15 meter dan dam utama lebih
dari 150 m. Sedangkan, dam rendah kurang dari 30 m, dam sedang antara 30 100 m, dan dam tinggi lebih dari 100 m.
2.4 Situs Sejarah
2.4.1

Pengertian Situs Sejarah


Situs memiliki berbagai pengertian yang berbeda karena selain dibidang
computer dan internet, di dalam dunia sejarah juga terdapat istilah situs. Bila dalam
dunia computer dan internet situs merupakan sebuah website, sebuah alamat yang
bisa kita kunjungi dan berisi informasi tertentu tentang pemilik website, maka kata
situs dalam dunia sejarah berhubungan dengan tempat atau area atau wilayah.
Menurut William Haviland (dalam Warsito 2012 : 25) mengatakan bahwa
tempat-tempat dimana ditemukan peninggalan-peninggalan arkeologi di kediaman
makhluk manusia pada Zaman dahulu dikenal dengan nama situs. Situs biasanya
ditentukan berdasarkan survey suatu daerah.
Lebih lanjut William Haviland (dalam Warsito 2012 : 25) juga mengatakan
bahwa artefak adalah sisa-sisa alat bekas suatu kebudayaan zaman prehistori yang
di gali dari dalam lapisan bumi. Artefak ialah objek yang dibentuk atau diubah oleh
manusia.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Situs diketahui
karena adanya artefak. Ahli erkeologi mempelajari peninggalan-peninggalan yang
berupa benda untuk menggambarkan dan menerangkan prilaku manusia.

2.4.2

Nilai Historis/Sejarah

Berbicara tentang nilai historis atau nilai sejarah, terlebih dahulu kita harus
mengetahi tentang sejarah itu sendiri. Istilah sejarah berarti pariwisata, kejadian atau
apa yang terjadi di masa lampau. Lebih dari itu sejarah selalu berarti sejarah
manusia.
Peristiwa atau kejadian alam dimana lampau seperti proses terjadinya bumi
tidak termasuk pengertian sejarah. Pengertian sejarah sebagai peristiwa ini
menyangkut makna dasar dari istilah sejarah. Dengan demikian makna dasar sejarah
adalah peristiwa, kejadian, aktivitas manusia yang terjadi pada masa lampau.
Menurut R.G Collingwood (dalam Daliman 2012 : 2) mengatakan sejarah
sebagai kisah atau rerum gestarum (kisah dari peristiwa yang telah terjadi). Sejarah
sebagai kisah adalah sejarah dalam pengertian subjektif. Sejarah sebagai kisah
adalah rekaan hasil rekonstruksi manusia.
Dalam pengertian sejarah di atas, ada batasan yang menjadi pedoman tentang
makna sejarah. Bahwa sejarah adalah sebuah peristiwa yang pernah terjadi dimasa
lalu, dimana rangkaian peristiwa tersebut disusun berdasarkan urutan waktu, proses
kejadian serta disertai keterangan tempat dimana sebuah kejadian terjadi. Hal inilah
yang menjadi sebuah pembeda antara pengertian dari sejarah dan kisah fiksi. Sebab,
kisah sejarah merupakan sebuah kondisi nyata yang sudah pernah dialami oleh
seseorang dimasa lalu pada suatu waktu. Sementara, fiksi hanyalah sebuah kisah
yang berisi imajinasi dari seorang penulisnya.

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Sugiyono (2008:13)
menyatakan bahwa Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi
atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara
random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data
bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan. Dalam penelitian kuantitatif ini menggunakan metode survei.

3.2 Subjek dan Objek penelitian


3.2.1 Subjek Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2005:116) , Subjek penelitian adalah benda,
hal, atau orang tempat data untuk variabel penelitian. Subjek penelitian yang diteliti
adalah Data primer dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumedang
Jawa Barat,dan wawancara dengan Masyarakat Desa di Kabupaten Sumedang Jawa
Barat.
3.2.2 Objek Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2005:29), Objek penelitian adalah variabel
penelitian yaitu sesuatu yang merupakan inti dari problematika penelitian. Objek
penelitian yang diteliti oleh Penulis adalah Pengaruh Konversi Lahan dalam
Pembangungan Bendungan Jatigede terhadap Keberadaan Situs-situs Bersejarah di
Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat.
3.3 Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilakukan di 28 Desa yang terletak di 5 Kecamatan di Kabupaten
Sumedang Provinsi Jawa Barat, dengan rincian lokasi sebagai berikut:
1. Di Kecamatan Jatigede terdapat 5 Desa, yaitu Desa Jemah, Desa Ciranggem,
Desa Mekarasih, Desa Sukakersa, dan Desa Cijeungjing
2. Di Kecamatan Jatinunggal terdapat 2 Desa, yaitu Desa Sinarsari, dan Desa
Pawenang.
3. Di Kecamatan Wadot terdapat 3 Desa, yaitu Desa Wado, Desa Padajaya,
Cisurat, dan Desa Sukapura
4. Kecamatan Darmaraja terdapat 12 desa yaitu Desa Cipaku, Desa Pakualam,
Desa Karangpakuan, Desa Jatibungur, Desa Sukamenak, Desa Leuwihideung,
Desa Cibogo, Desa Sukaratu, Desa Tarunajaya, Desa Ranggon, Desa
Neglasari, dan Desa Darmajaya.
5. Di Kecamatan Cisitu terdapat 4 Desa ,yaitu Desa Pajagan, Desa Ciguntung,
Desa Cisitu, dan Desa Sarimekar.
3.4 Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan datanya adalah dengan dokumentasi dan observasi.
Lebih jauh, data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dari studi lapangan melalui wawancara dan pengamatan
langsung. Sedangkan data sekunder didapatkan dari penelitian kepustakaan yang
ada terkait masalah yang diteliti.

3.5 Teknik Analisis Data


Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisis yang bersifat deskriptif untuk
mengetahui besarnya pengaruh konversi lahan dalam pembangungan Bendungan
Jatigede terhadap kondisi lingkungan sosial di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa
Barat