Anda di halaman 1dari 12

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN

DERMATITIS PERIORAL

I.

PENDAHULUAN

Defenisi
Dermatitis perioral adalah penyakit inflamasi dan papulopustular kronik
dan vesikel dermatitis wajah. Biasanya terjadi pada anak-anak dan wanita
pertengahan umur. Gejala klinis dan gambaran histologi dari lesinya itu mirip
dengan penyakit rosasea. Pasien dengan penyakit seperti ini memerlukan
pengobatan sistemik atau topikal, atau keduanya, kemudian evaluasi faktor yang
mendasari penyakitnya. Dermatitis perioral adalah erupsi eritematosa yang
persisten yang terdiri dari papul kecil dan jerawat dengan distribusi pertama kali
di sekitar mulut. 1,2
Epidemiologi
Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1950-1960, dan dapat
didiagnosis pada tahun 1970. Dari tahun ke tahun terjadi penurunan penemuan
kasus baru, penurunan ini dikarenakan penggunan obat steroid topikal pada wajah.
Perioral dermatitis biasanya paling sering terjadi pada wanita, granuloma dari
perioral dermatitis ditemukan biasanya pada anak-anak dengan umur pubertas.
Dermatitis perioral dapat terjadi sedini mungkin yaitu 6 bulan. Prevalensi yang
tinggi itu terdapat pada anak-anak afrika, namun belum terdapat penelitian yang
mendukung temuan ini. Umur yang paling sering terkena penyakit ini adalah
umur 16-45 tahun, bisa terjadi pada anak-anak dan wanita dewasa. 2,3,4
Etiologi
Penyebab pasti dari dermatitis perioral belum diketahui. Namun penyebab
paling umum yang telah diidentifikasi adalah penggunaan kortikosteroid topikal
pada daerah wajah. Dermatitis perioral dapat terjadi oleh karena penggunaaan

kortikosteroid inhaler terutama disekitar hidung. Pasien yang memiliki riwayat


atopik sangat rentan terhadap dermatitis perioral melalui cahaya ultraviolet, panas,
dan angin yang dapat memperburuk dermatitis perioral. Di sisi lain, tabir surya
fisik dengan SPF (sun protection factor) yang tinggi juga dapat menyebabkan
perioral dermatitis. Faktor atau agen yang mungkin menjadi penyebab lainnya
adalah kulit kering, tungau Demodex folliculorum wajah, fusobacteria, kosmetik,
berat krim pelembab (terutama yang dengan petrolatum atau paraffin base), propil
gallate (aditif makanan antioksidan), fluorinated dan pasta gigi tartar - kontrol,
kontrasepsi oral, propolis (produk lebah madu), dan merkuri yang terkandung
dalam fillings amalgam. Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak-anak dengan
immunodeficiency, terutama pada mereka dengan leukemia. 5
Pengunaan flourinated steroid topikal merupakan penyebab paling sering,
baik itu dari penggunaan krim, salep, atau inhaler. Selain itu, meskipun agen
infeksi seperti Candida spp, Demodex, dan bakteri fusiform telah dicurigai namun
tidak ada satupun yang dapat medukung teori tersebut. Berbagai iritasi primer dan
faktor kontak alergi dapat di curigai namun belum dapat dibuktikan, seperti pasta
gigi dan adanya kontak intim dengan jenggot dari pasangan. Produk kosmetik
terutama pengalas bedak memungkinkan timbulnya efek. 2,6
Meskipun terdapat laporan didapatkan dari saudara kandung yang terkena,
belum ada catatan yang spesifik mengenai kecenderungan genetik dari penyakit
ini, juga tidak adanya catatan yang jelas mengenai pemaparan lingkungan yang
spesifik secara konsisten. Dari catatan penyakit ini lebih dominan pada wanita
muda, namun tidak ada bukti yang membuktikan bahwa penyakit ini dapat
disebabkan oleh hormonal. 3
Penyebab perioral dermatitis secara ringkas dapat dilihat dari tabel
berikut1:

Obat-obatan

Steroid topikal
Steroid inhaler

Kosmetik
Faktor fisik
Faktor mikrobiiologi
Faktor lain

Fluorinated pada pasta gigi


Salep dan krim perawatan kulit
Sinar UV
Panas
Angin
Bakteri fusiform spirilla
Spesies candida
Faktor hormonal (kontrasepsi oral)
Gangguan gastrointestinal (malabsorpsi)
Stres emosional

Tabel 1. Etiologi dermatitis perioral 1

Patogenesis
Hubungan dermatitis perioral dengan penyalahgunaan obat kortikosteroid
telah ditetapkan. Mungkin ada lebih dari salah satu penyebab dermatitis perioral.
Etiologi dermatitis perioral tidak diketahui. Namun, penggunaan steroid topikal
tidak sesuai akan memberikan perubahan kulit yang kecil dari wajah sering
mendahului manifestasi dari penyakit ini. Hal ini tidak dapat ditemukan pada
semua pasien. Setelah dermatitis perioral berkembang, krim kortikosteroid
tampaknya membantu, tetapi gangguan tersebut muncul kembali ketika
pengobatan dihentikan. Bahkan, dermatitis perioral biasanya datang kembali
bahkan lebih buruk dari itu sebelum penggunaan krim steroid. Penggunaan
inhalasi semprotan resep steroid yang digunakan dalam hidung dan mulut juga
dapat menyebabkan dermatitis perioral. 1
Penyebab umum lainnya adalah fluorinated pada pasta gigi, pengunaan
krim wajah yang berlebihan dan pelembab berat, terutama dengan berbahan dasar
petrolatum atau dasar parafin, dan isopropil miristat. Faktor fisik seperti sinar
ultraviolet, panas, dan angin memperburuk dermatitis perioral. 1
Banyak peneliti menganggap bahwa infeksi mungkin menyebabkan
dermatitis perioral. Faktor mikrobiologis adalah fusiform bakteri Spirilla,
Candida spp, Demodex folliculorum, dan jamur lain didapatkan setelah dikultur
dari lesi. Kehadiran mereka tidak memiliki relevansi klinis yang jelas. Faktor
hormonal yang diduga karena adanya kerusakan pramenstruasi diamati.
3

Kontrasepsi oral dapat menjadi faktor. Gangguan gastrointestinal, seperti


malabsorpsi, juga dipertimbangkan. Dermatitis perioral juga terjadi pada anakanak yang immunocompromised, terutama pada penderita leukimia.1
Gejala Klinis
Penyakit ini terbatas hanya pada kulit. Lesinya berupa kelompok
papulovesikel, papulopustul dengan dasar eritem, dan kumpulan folikuler disertai
papul yang kemerahan. Papul dan pustul biasanya didapatkan di daerah perioral.
Daerah yang dominan terdapat lesi perioral adalah area perioral, lipatan
nasolabial, bagian lateral dibawah kelopak mata. Pada varian yang ekstrim,
Dermatitis perioral bisa menyerupai penyakit lupus, infiltrat granulomatous
memiliki yellowish. Yang sering dilihat pada dermatitis perioral adalah adanya
perbatasan kulit normal yang berbatasan dengan lesi kulit di bibir. Tipe perioral,
diskrit sampai sedang berupa papul eritematous dan pustula ditemukan sirkuler,
dengan zona normal dari 3 sampai 5 mm di bawah bibir bawah. 1
Karakteristik dari dermatitis perioral yaitu erupsi dimulai secara tiba-tiba
didaerah nasolabial kemudian menyebar secara cepat ke perioral tetapi hanya di
sepanjang garis bibir, kondisi ini akan berlangsung secara terus menerus secara
berselang atau langsung. Biasanya bisa menyebar ke bagian kepala, kelopak mata,
dahi, dan dibagian bawah alis mata, kadang sering muncul lesi periokular.
Pruritus, nyeri serta rasa terbakar merupakan salah satu gejala yang menonjol.
Lesi terdiri dari monoformik papul dan jerawat kecil kemerahan dan skala
variabel. Sabun yang keras, sinar matahari serta kontak dengan air menyebabkan
ketidaknyamanan.2
Lesi kulitnya berupa papulopustul eritematous dengan dasar eritematous
dengan ukuran 1-2 mm, berkelompok tidak teratur. Lesi meningkat dan
membentuk satelit, lesi yang muncul juga bisa berubah plak eksematous dengan
skala yang kecil, tidak didapatkan komedo. 4

Gambar 1. Makula eritema, papul dan dan skuama disekitar areaa perioral. 2

Gambar 2. Papul-papul kecil disekitar mata. Predileksi dermatitis perioral biasanya pada dagu
namun dapat pula berada dibagian bawah mata pada wanita umur 64 tahun. 4

II.

DIAGNOSIS

a. Diagnosis klinis
Diagnosis bisa ditegakkan dari melihat gejala klinisnya. Dari anamnesis
yang baik, dapat didapatkan riwayat penggunaan kortikosteroid lokal jangka
panjang. Gambaran klinisnya juga khas. Gambaran klinis yang lebih dominan
adalah papul eritematous dan papulopustul didaerah perioral. Lebih dari 98%
mengalami Fenomena Rebound. Semua gejala dapat menghilang secara bertahap
dan kekambuhan akan terjadi dengan penggunaan kortikosteroid yang berulang. 1
b. Diagnosis Laboratorium
Tidak ada kelainan yang dapat diharapkan dari pemeriksaan laboratorium.
Tes Prick dan tes imunoglobulin E disangka gabungan dari acrolergen telah
digunakan sebagai tes untuk disfungsi sawar kulit.

Dari hasil penelitian di

Jerman, pasien-pasien dengan dermatitis perioral akan mengalami kehilangan


cairan pada lapisan transdermal yang signifikan dibandingkan dengan pasien yng
mengalami peyakit rosasea dan kelompok kontrol yang terindikasi mengalami
gangguan sawar darah kulit. Jenis tes seperti ini tidak rutin digunakan.1
Pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan yaitu kultur untuk
mengetahui apakah ada infeksi dari Staphylococcus aureus. 4
c. Histologi
Dari pemeriksaan histologi dari lesi papul terlihat perubahan eksematous
menjadi akantosis, edema epidermal, dan parakeratosis. Terdapat pembuluh darah
yang ektatik dan limfosit, sedikit edema, dan jarang terjadi infiltrasi limfatik
perivaskuler. Daerah pinggiran folikel rambut

biasanya edema dan banyak

terdapat sel inflamasi. Kadang-kadang abses folikel dapat dilihat. Pada abses
mengandung banyak leukosit polimorfonuklear. Adanya serat elastis menandakan
adanya degenerasi elastis. Tungau Demodex kadang-kadang dapat ditunjukkan
namun yang tak terduga. 1
Pemeriksaan lesi papular kemudian memperlihatkan adanya difus
hipertrofi dari jaringan ikat disertai dengan hiperplasia folikel sebaceous. Kadangkadang di dermis, ada diskrit granuloma sel epiteloid dari jenis non-kaseosa
dengan dominasi perifollicular dan sel giant Langerhans. Kaseosa granulomata
adalah karakteristik dari perioral granulomatosa dermatitis. 1

Gambar 3. Diskrit granuloma sel epiteloid dari jenis nonkaseosa dengan dominasi perifollicular
dan sel giant Langerhans.

Gambar 4. Kaseosa granulomata adalah karakteristik dari perioral granulomatosa dermatitis.

Diagnosis Banding
a) Rosasea
Rosasea atau sering disebut akne rosacea adalah penyakit kulit kronis
pada daerah sentral wajah (yang menonjol/cembung) yang ditandai dengan
kemerahan pada kulit dan telangiektasis disertai episode peradangan yang
memunculkan erupsi papul, pustul dan edema. Tempat predileksinya di sentral
wajah, yaitu hidung, pipi, dagu, kening, dan alis. Kadang-kadang meluas ke leher
bahkan sampai pergelangan tangan dan kaki. Lesi umumnya simetris. Gejala
umumnya berupa eritema, telangiektasis, papul, edema, dan pustul. 7

Gambar 5. Rosasea.

b) Akne Vulgaris
Akne vulgaris merupakan penyakit peradangan menahun folikel
pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri.
Gambaran klinis akne vulgaris sering polimorf, terdiri atas berbagai kelainan kulit
berupa komedo, papul, pustul, nodul, dan jaringan parut yang terjadi akibat
kelainan aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotrofik maupun yang
hipertrofik. Predileksi dari akne vulgaris itu sendiri adalah muka, bahu, dada
bagian atas,dan punggug bagian atas, lokasi lain juga bisa misalnya leher, lengan
atas, dan glutea kadang-kadang terkena. 7

Gambar 6. Akne vulgaris

c) Dermatitis seboroik
Dermatitiis seboroik adalah istilah yang dipakai untuk segologan keainan
kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi ditempat-

tempat seboroik. Predileksinya bisa terjadi di sekitar

supraorbital, skuama-

skuama halus dapat terlihat di alis, dengan kulit dibawahnya eritematosa dan
gatal. Selain itu, dermatitis seborik juga bisa mengenai liang telinga luar, lipatan
nasolabial, daerah sternal, areola mammae, lipatan dibawah mammae,
interskapular, umbilikus, lipatan paha dan daerah anogenital. Pada daerah pipi dan
hidung serta dahi dapat berupa papul-papul.7

Gambar 7. Dermatitis seboroik

III.

PENATALAKSANAAN

a. Non-Medikamentosa
Hal terpenting untuk mengobati penyakit ini adalah menghentikan
penggunaan obat kortikosteroid topikal. Selain itu penggunaan kosmetik juga
harus di hentikan. Pasien harus berhati-hati dengan dampak pemberhentian
pengunaan kortikosteroid topikal. 2
b. Medikamentosa
Untuk terapi medikamentosa, ada beberap terapi yang dapat diberikan yaitu
antibiotik oral, antibiotik topikal, metronidazol topikal, asam azelaik topikal,
sulfacetamide-sulfur topikal, dan calsineur inhibitor topikal (seperti tacrolimus,
pimecrolimus) dapat mengobati dermatitis perioral. 8
Di beberapa kasus, terapi yang efektif itu adalah dengan pemberian tetrasiklin
oral, doksisiklin, atau minosiklin, yang diminum selama 8-10 minggu, dengan
ulangi lagi selama 2 sampai 4 minggu. Pada anak-anak umur dibawah 8 tahun,

pasien alergi tetrasiklin, eritromisin sangat dianjurkan digunakan. Tidak jarang


pasien meneruskan penggunaan terapi antibiotik sistemik dengan dosis rendah
selama berbulan-bulan atau kadang-kadang bertahun-tahun dan dikontrol. Pada
kasus yang berat, penggunaan isotretinoin dapat dipertimbangkan. 3
Terapi

antibiotik

topikal,

yang

paling

sering

digunakan

adalah

metronidazol, pengunaannya bisa dikombinasi dengan antibiotik sistemik. Ada


kasus yang sedang, pengunaan metronidasol topikal saja sudah cukup. Hasil
umumnya bisa dilihat 23 bulan. Selain itu bisa juga digunakan klindamisin
topikal atau eritromisin, sulfur prepisitatum topikal, dan asam azelaik topikal. 3
Terapi pada penyakit ini ada dua lini. Terapi lini pertama yang diberikan
yaitu : (1). Topikal : Metronidasol dengan dosis disesuaikan, (2). Sistemik :
Tertasiklin 250-500mg, dosisiklin 50-100 mg, minosiklin 50-100 mg. Terapi lini
kedua : (1). Topikal : Eritromisin atau klindamisin, sulfur presipitatum, asam
azelaik dengan dosis disesuaikan. (2). Sistemik : Eritromisin 400 mg atau 30-50
mg/kgBB/hari. 3
Pengobatan dermatitis perioral dapat menjadi pengalaman yang sulit bagi
pasien dan dokter . Pilihan rejimen pengobatan didasarkan lebih kepada pendapat
ahli dari pada uji klinis. Penghentian semua agen topikal (atau nol terapi)
merupakan suatu pendekatan yang ditetapkan, namun memburuknya awal
dermatitis perioral terhambat oleh kepatuhan pasien. Antibiotik topikal seperti
metronidazole dan eritromisin atau pimecrolimus topikal ditetapkan pilihan
pengobatan walaupun memiliki efek rebound mungkin. Agen sistemik seperti
tetrasiklin atau eritromisin derivatif adalah direkomendasikan dalam kasus yang
parah atau berulang.9
Penelitian

terbaru

yang

dilakukan

oleh

British

Association

of

Dermatologists pada Juni 2014 menghasilkan bahwasanya praziquantel salep 3%


sebagai monoterapi efektif memperbaiki gejala POD (perioral dermatitis) dan
memperbaiki QOL (quality of life). Hal ini didasarkan pada penelitian case
control menggunakan pasien dewasa sebanyak 46 orang yang diterapi praziquantel
selama 4 minggu dan follow up selama 4 minggu dan dinilai berdasarkan IGA
Investigator Global Assessment (IGA) dan Perioral Dermatitis Severity Index

10

(PODSI) serta kualitas hidup (QOL) ditentukan oleh Dermatologi Indeks Kualitas
Hidup ( DLQI ) menunjukkan PODSI secara signifikan lebih rendah pada
kelompok praziquantel dibandingkan kelompok yang lain, baik selama
pengobatan dan periode follow up. Berarti rata-rata IGA menunjukkan signifikan
secara statistik pada praziquantel sebagai monoterapi. Keuntungan terapi
praziquantel atas plasebo pada minggu ke 4 (P < 0,001) . Kelompok praziquantel
mengalami peningkatan yang lebih besar dalam mean DLQI . Akan tetapi tidak
ada yang merugikan pada kedua cara tersebut.10
Prognosis
Kebanyakan pasien mengalami remisi permanen setelah penggunaan
antibiotik spektrum luas yang singkat. Namun jika tidak diobati terutama jika
steroid topikal memprovokasi dapat memperparah dermatitis perioral dan dapat
bertahan selama bertahun-tahun. 2

DAFTAR PUSTAKA
1.

Lipozencic, J., Ljubojevic, S., Perioral Dermatitis, Journal Of Clinics in


Dermatology. 2011, Elsevier. p. 157-161

2.

Burns, T., et al., Rosacea, Perioral Dermatitis and Similar Dermatoses, in


Rooks Textbook of Dermatology. 2010, Blackwell Publishing London. p.
43.11 - 12.

3.

Goldsmith, L.A., et al., Perioral Dermatitis, in Fitzpatricks Dermatology in


General Medicine. 2012, McGraw-Hill: New York. p. 925 - 928.

4.

Wolff, K., Johnsun, RA., Perioral Dermatitis, in Fitzpatricks Color Atlas &
Synoppsis of Clliinical Dermatology. 2009, McGraw-Hill: New York. p.1415.

5.

Leung, AKC, and Barankin, Benjamin., Multiple Erythematous Papules on a


6-year-Olds Face. Consultant For Pediatricians, October 2013. Available on
www.PediatricsConsultant360.com

11

6.

James, W.D., P.R. Gross, and T.G. Berger, ACNE : Perioral Dermatitis, in
Andrew's Disease of The Skin : Clinical Dermatology. 2006, Elsevier:
Philadephia. p. 249.

7.

Djuanda A., Warsitaatmadja, SM., Dermatitis Eritroskuamosa, Akne, Erupsi


Akneiformis, Rosasea, Rinofima.. In: Juanda PDdA, Hamzah dM, Aisah
PDdS, eds.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 6 th ed. Jakarta: Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesi; 2010. p.200-201, 254-255, 261.


8.

Rosso, J.Q.D., Management of Papulopustular Rosacea and Perioral


Dermatitis with Emphasis on Iatrogenic Causation or Exacerbation of
Inflammatory Facial Dermatoses. Journal of Clinical Aesthetic Dermatology,
2011. 4(8): p. 2030.

9.

Ehmann, L., Reinholz, M., Maier, T., Lang, M., and Wollenberg, A. Efficacy
and Safety Results of a Drug-Free Cosmetic Fluid for Perioral Dermatitis :
The Toleriane Fluide Efficcy in Perioral Dermatitis (TOLPOD) Study.
Journal

of

Annals

of

Dermatology.

2014.

Available

on

http://www.ncbi.nlm.nih.gov
10. MR, Briechbe., VP, Fedotov., A, Jillella., VV Gladichev., and DM,
Pukhaskaya. Topical Praziquantel as New Treatment for Perioral
Dermatitis : Results of a Randomized Vehicle-Controlled Pilot Study. 2014.
Available on : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24825135

12