Anda di halaman 1dari 62

ISBN :

BAHAN AJAR

EVOLUSI
Penyusun :

Drs. Dharmono, M.Si


(Dosen Ps. Pend. Biologi PMIPA FKIP Unlam)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2008

Evolusi

PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan bahan ajar
ini sesuai dengan rencana dan waktu yang ditentukan.
Dalam melaksanakan pembuatan bahan ajar ini penulis banyak mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak baik dari segi moril maupun materiil. Oleh sebab itu pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unlam Banjarmasin yang
memberikan dukungan untuk pembuatan bahan ajar ini.
2. Seluruh rekan-rekan tenaga pengajar Biologi di Program Studi Pendidikan Biologi
PMIPA FKIP Unlam yang telah banyak memberikan masukan dan bantuan dalam
pembuatan bahan ajar ini.
3. Semua pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung dalam
pembuatan bahan ajar ini..
Kami menyadari bahwa hasil pembuatan bahan ajar ini masih belum sempurna,
oleh sebab itu kritik dan saran demi perbaikan di masa datang sangat kami harapkan.
Semoga hasil pembuatan bahan ajar ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan
peningkatan mutu sumber daya manusia.
Banjarmasin, 18 Nopember 2008

Tim Penyusun

Evolusi

DAFTAR ISI

Prakata
Daftar Isi
Ringkasan Isi
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Ruang Lingkup
BAB II. MATERI PEMBELAJARAN
Bagian 1. Sejarah Kehidupan
Bagian 2. Mekanisme Seleksi
Bagian 3. Mekanisme Spesies dan Speciasi
Bagian 4. Mekanisme Adaptasi
Bagian 5. Mekanisme Isolasi
Bagian 6. Mekanisme Mutasi
Bagian 7. Evolusi Molekuler
Bagian 8. Evolusi Manusia
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Evaluasi

Evolusi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bumi tempat segenap makhluk hidup termasuk manusia telah terbentuk kira-kira.
600.000.000 tahun lalu bersamaan dengan planet-planet lain yang membentuk tatasurya
dengan matahari sebagai pusatnya. Sejarah kehidupan di bumi baru dimulai sekitar
3.500.000.000 tahun lalu dengan munculnya micro-organisma sederhana yaitu bakteri
dan ganggang. Kemudian pada 1.000.000.000 tahun lalu baru muncul organisme bersel
banyak. Pada sekitar 540.000.000 tahun lalu secara bertahap kehidupan yang lebih
komplek mulai berevolusi.
Evolusi berkaitan dengan cara mencari tahu tentang perubahan organisme hidup
yang hidup di alam secara sistematis, sehingga Evolusi bukan hanya penguasaan
kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja
tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Evolusi diharapkan dapat menjadi wahana
bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan mahkluk hidup lain yang ada
disekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam
kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman
langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami organisme
secara ilmiah. Evolusi diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu
peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang mahkluk
hidup di sekitarnya.
Evolusi diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan
manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan
Evolusi perlu dilakukan secara bijaksana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Di

Evolusi

tingkat SMP dan SMA diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains,
lingkungan, teknologi, dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman
belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep Evolusi dan
kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran Evolusi sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific
inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta
mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu
pembelajaran Biologi di SMP dan SMA menekankan pada pemberian pengalaman belajar
secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap
ilmiah.
Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk
membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh
guru. Oleh sebab itu pengembangan wawasan terhadap perkembangan ilmu Evolusi perlu
dilakukan oleh guru bidang Biologi.
Bahan Ajar Evolusi ini bertujuan agar peserta didik / pengajar Mata pelajaran
Biologi di SMP / SMA memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan
keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya
2. Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala, konsep dan prinsip
Evolusi yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3. Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan
bertindak ilmiah serta berkomunikasi
4. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga, dan
melestarikan lingkungan serta sumber daya alam

Evolusi

5. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya


sebagai salah satu ciptaan Tuhan
6. Meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan Biologi sebagai dasar untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

B. Ruang Lingkup
Bahan Ajar ini disusun untuk memperlancar kegiatan belajar di Program Studi
Pendidikan Biologi khususnya pada mata kuliah Evolusi. Secara singkat BAhan Ajar ini
terdiri atas 2 bab , yaitu : Bab I Pendahuluan. Pada bagian ini diuraikan tentang deskripsi
modul, tujuan penyusunan modul dan kompetensinya. Bab II Pembelajaran. Pada bagian
ini diuraikan tentang uraian materi. Dafrtar Pustaka dan Indeks merupakan bagian
terakhir dari buku ajar.

Evolusi

BAB II
MATERI PEMBELAJARAN
BAGIAN 1. SEJARAH KEHIDUPAN
Kompetensi Dasar :
Peserta didik mampu memahami tentang sejarah kehidupan dalam upaya untuk
mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep dan prinsip kehidupan yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Standar Kompetensi
1. Peserta didik dapat menjelaskan teori-teori asal mula kehidupan
2. Peserta didik dapat menjelaskan konsep-konsep perubahan mahkluk hidup
Uraian Materi
Kapan, dimana dan dengan cara yang bagaimana kehidupan di planet kita ini
berawal ? adalah pertanyaan yang tetap menggoda para ilmuwan. Terutama ilmuan
biologi merasa memikul tangung jawab untuk dapat memberi jawaban yang memuaskan.
Ada yang berteori kehidupan ini bermula 300 juta tahun yang lalu sebagai bahan
organik dan terjadi di perairan yang dangkal. Ini hanyalah teori yang disusun oleh manusia
karena memang tak pernah ada seorang manusia yang menyaksikan awal munculnya
kehidupan ini.
Teori disusun oleh para ahli berdasar hasil pengamatan, perhitungan untuk dapat
digunakan menjelaskan bagaimana suatu kejadian atau gejala muncul. Munculnya
kehidupan adalah suatu kejadian : perkembangbiakan, keanekaragaman, adanya hubungan
struktur dan fungsi sel adalah gejala kehidupan.
Terlepas dari segala teori yang dijelaskan oleh banyak ahli Biologi, ada tiga
hipotesis teori asal mula kehidupan. Hipotesis tersebut dikemukakan dimana kehidupan
terjadi setelah proses evolusi atau pembentukan bumi ini selesai.

Evolusi

A. Teori Penciptaan Terpisah


Para penganut teori ini berpendapat bahwa semua kehidupan yang ada sekarang ini
diciptakan secara terpisah atau sendiri-sendiri sesuai dengan perkembangan kondisi bumi
yang terjadi dan sifat tidak berubah sepanjang masa atau dengan kata lain setiap
organismeyang ada sekarang memiliki nenek moyang sendiri-sendiri yang tidak berbeda
dengan organisme yang ada saat ini. Hipotesis ini memiliki kelemahan karena bila
organisme tercipta secara demikian, maka sampai sekarang masih terdapat penciptaan
organisme baru sementara yang terjadi adlah munculnya spesies baru merupakan bentuk
variasi organisme yangtelah ada. Misalnya adanya Hisbiscus rosasinensis yang meiliki
kelopak bunga kuning merupakan hasil perkawinan silang antara Hisbiscus rosasinensis
merah dengan putih. Dengan demikian teori tidak dapat menjelaskan adanya proses
variasi dan perubahan yang terjadi pada setiap jalur perkembangan setiap spesies.

B. Teori Transformisme
Teori ini menjelaskan bahwa semua kehidupan yang ada di muka bumi ini
diciptakan secara terpisah atau sendiri-sendiri akan tetapi selalu mengalami perubahan
sepanjang waktu atau sendiri-sendiri sesuai dengan perkembangan kondisi bumi yang
terjadi tetapi mengalami perubahan sepanjang masa atau dengan kata lain setiap
organismeyang ada sekarang memiliki nenek moyang sendiri-sendiri yang

berbeda

dengan organisme yang ada saat ini. Hipotesis ini juga memiliki kelemahan karena bila
organisme tercipta secara demikian, maka sampai sekarang masih terdapat penciptaan
organisme baru sementara yang terjadi adlah munculnya spesies baru merupakan bentuk
variasi organisme yangtelah ada

Evolusi

C. Teori Evolusionisme
Teori Evolusinisme menyatakan bahwa asal mula kehidupan adalah organisme
bersel satu ang terus mengalami perubahan dan variasi yang akan menghasilkan
organisme baru sampai adanya keanekaragaman organisme yang terdapat sekarang ini.
Teori ini mendapat sorotan tajam dari kaum religius, terutama yang mempemalasalhkan
kejadian manusia. Toei ini juga memiliki kelemahan karena bukti yang tersedia dari
organisme bersel satu yang ditemukan sangat terbatas baik dari segi jumlah maupun
tempat ditemukannya. Sementara itu bila mengkaji proses terbentuknya bumio,maka
keadaan bumi saat itupun memiliki perbedaan kondisi di setiap habitat yang terjadi,
sehinga bila ditinjau secara ekologi maka diduga juga terjadi keaneragaman orgnanisme
bersel satu saat itu mulai yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Bila itu
terjadi maka teori evolusionismepun tidak bia menjelaskan tentang asal mula kehidupan.
Perbandingan ketiga teori tersebut dapat dilhat pada gambar berikut ini.
Masa

Masa

KH
Teori Penciptaan Terpisah

Masa

KH
Teori Transformisme

KH
Teori Evolusniomisme

Dengan memlajari teori Transformisme dan teori evolusionisme, , maka banyak


ahli Evolusi sekarang ini mulai memunculkan pendapat baru tentang asal mula kehidupan.
Yaitu dengan menggabungkan kedua teori tersebut, bahwa setiap organisme yang ada
sekarang ini memiliki nenek moyang bersel satu sendiri-sendiri, akibat adanya variasi
kondisi bumi yang mengakibatkan perbeedaan kompleksitas orgsnisme bersel satu saat
itu. Organsime ber satu tersebut merupakan bakal organisme atau Encusor yang akan
berkembang bila kondisi alam telah sesuai. Hal tersebut dapat menjelaskan bahwa
organisme sel satu nenek moyang manusia baru berkembang setelah kondisi bumi berada

Evolusi 10

dalam kondisi yang paling optimal atau dengan kata lain nenek moyang manusia adalah
organisme bersel satu adalah yang terakhir muncul di permukaan bumi karena sel tersebut
memerlukan kondisi terbaik. Secara skematis dapat dilihat padagambar berikut ini.
Masa

KH

Kalau dlam ilmu sejarah kita mengenal jaman-jaman dengan nama-nama


khususnya. Misal Jaman Batu, Jaman Majapahit, Trus ada yang membagi lagi dengan
Kala, Masa dan sebagainya. Dalam ilmu geologi juga mirip. Ada yg disebut jaman,
kala, periode dan sebagainya.
Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa PraKambrium.
Nah sekarang apa saja yg dipercaya oleh ahli geologi, apa yg terjadi dengan mahluk hidup
pada masa-masa itu.

Masa Arkeozoikum (4,5 - 2,5 milyar tahun lalu)


Masa Arkeozoikum (Arkean) Masa Kehidupan Purba merupakan masa awal
pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen.
Batuan masa ini ditemukan di beberapa bagian dunia yang lazim disebut kraton/perisai
benua. Coba perhatikan, masa ini adalah masa pembentukan kerakbumi. Jadi
kerakbumi terbentuk setelah pendinginan bagian tepi dari balon bumi (bakal calon
bumi). Plate tectonic / lempeng tektonik yang menyebabkan gempa itu terbentuk pada
masa ini. Lingkungan hidup mas itu tentunya mirip dengan lingkungan disekitar mata-air
panas.
Batuan tertua tercatat berumur kira-kira 3.800.000.000 tahun. Masa ini juga
merupakan awal terbentuknya Indrosfer dan Atmosfer serta awal muncul kehidupan
primitif di dalam samudera berupa mikro-organisma (bakteri dan ganggang). Fosil tertua

Evolusi 11

yang telah ditemukan adalah fosil Stromatolit dan Cyanobacteria dengan umur kira-kira
3.500.000.000 tahun.

Masa Proterozoikum (2,5 milyar - 290 juta tahun lalu)


Proterozoikum artinya masa kehidupan awal. Masa Proterozoikum merupakan
awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang
dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (enkaryotes dan prokaryotes).
Enkaryotes ini bakal menjadi tumbuhan dan prokaryotes nantinya bakal menjadi
binatang.
Menjelang akhir masa ini organisme lebih kompleks, jenis invertebrata bertubuh lunak
seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut-laut dangkal, yang buktibuktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama.
Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa PraKambrium.

Jaman Kambrium (590-500 juta tahun lalu)


Kambrium berasal dari kata Cambria nama latin untuk daerah Wales di Inggeris
sana, dimana batuan berumur kambrium pertama kali dipelajari. Banyak hewan
invertebrata mulai muncul pada zaman Kambrium. Hampir seluruh kehidupan berada di
lautan. Hewan zaman ini mempunyai kerangka luar dan cangkang sebagai pelindung.
Fosil yang umum dijumpai dan penyebarannya luas adalah, Alga, Cacing, Sepon, Koral,
Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Artropoda (Trilobit). Sebuah daratan yang
disebut Gondwana (sebelumnya pannotia) merupakan cikal bakal Antartika, Afrika, India,
Australia, sebagian Asia dan Amerika Selatan. Sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan
Tanah Hijau masih berupa benua-benua kecil yang terpisah.
Jaman Ordovisium (500 - 440 juta tahun lalu)
Zaman Ordovisium dicirikan oleh munculnya ikan tanpa rahang (hewan bertulang
belakang paling tua) dan beberapa hewan bertulang belakang yang muncul pertama kali
seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak Laut), Asteroid (Bintang Laut), Krinoid
(Lili Laut) dan Bryozona. Koral dan Alaga berkembang membentuk karang, dimana
trilobit dan Brakiopoda mencari mangsa. Graptolit dan Trilobit melimpah, sedangkan
Ekinodermata dan Brakiopoda mulai menyebar. Meluapnya Samudra dari Zaman Es
merupakan bagian peristiwa dari zaman ini. Gondwana dan benua-benua lainnya mulai
menutup celah samudera yang berada di antaranya.

Evolusi 12

Jaman Silur (440 - 410 juta tahun lalu)


Zaman silur merupakan waktu peralihan kehidupan dari air ke darat. Tumbuhan
darat mulai muncul pertama kalinya termasuk Pteridofita (tumbuhan paku). Sedangkan
Kalajengking raksasa (Eurypterid) hidup berburu di dalam laut. Ikan berahang mulai
muncul pada zaman ini dan banyak ikan mempunyai perisai tulang sebagai pelindung.
Selama zaman Silur, deretan pegunungan mulai terbentuk melintasi Skandinavia,
Skotlandia dan Pantai Amerika Utara

Jaman Devon (410-360 juta tahun lalu)


Zaman Devon merupakan zaman perkembangan besar-besaran jenis ikan dan
tumbuhan darat. Ikan berahang dan ikan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di dalam
lautan. Serbuan ke daratan masih terus berlanjut selama zaman ini. Hewan Amfibi
berkembang dan beranjak menuju daratan. Tumbuhan darat semakin umum dan muncul
serangga untuk pertama kalinya. Samudera menyempit sementara, benua Gondwana
menutupi Eropa, Amerika Utara dan Tanah Hijau (Green Land).

Jaman Karbon (360 - 290 juta tahun lalu)


Reptilia muncul pertama kalinya dan dapat meletakkan telurnya di luar air.
Serangga raksasa muncul dan ampibi meningkat dalam jumlahnya.. Pohon pertama
muncul, jamur Klab, tumbuhan ferm dan paku ekor kuda tumbuh di rawa-rawa
pembentuk

batubara.

Pada zaman ini benua-benua di muka bumi menyatu membentuk satu masa daratan yang
disebut Pangea, mengalami perubahan lingkungan untuk berbagai bentuk kehidupan. Di
belahan bumi utara, iklim tropis menghasilkan secara besar-besaran, rawa-rawa yang
berisi dan sekarang tersimpan sebagai batubara.

Jaman Perm (290 -250 juta tahun lalu)


Perm adalah nama sebuah propinsi tua di dekat pegunungan Ural, Rusia.
Reptilia meningkat dan serangga modern muncul, begitu juga tumbuhan konifer dan
Grikgo primitif. Hewan Ampibi menjadi kurang begitu berperan. Zaman perm diakhiri
dengan kepunahan micsa dalam skala besar, Tribolit, banyak koral dan ikan menjadi
punah.
Benua Pangea bergabung bersama dan bergerak sebagai satu massa daratan, Lapisan es
menutup Amerika Selatan, Antartika, Australia dan Afrika, membendung air dan

Evolusi 13

menurunkan muka air laut. Iklim yang kering dengan kondisi gurun pasir mulai terbentuk
di bagian utara bumi.

Jaman Trias (250-210 juta tahun lalu)


Gastropoda dan Bivalvia meningkat jumlahnya, sementara amonit menjadi umum.
Dinosaurus dan reptilia laut berukuran besar mulai muncul pertama kalinya selama zaman
ini. Reptilia menyerupai mamalia pemakan daging yang disebut Cynodont mulai
berkembang. Mamalia pertamapun mulai muncul saat ini. Dan ada banyak jenis reptilia
yang hidup di air, termasuk penyu dan kura-kura. Tumbuhan sikada mirip palem
berkembang

dan

Konifer

menyebar.

Benua Pangea bergerak ke utara dan gurun terbentuk. Lembaran es di bagian selatan
mencair dan celah-celah mulai terbentuk di Pangea.

Jaman Jura (210-140 juta tahun lalu)


Pada zaman ini, Amonit dan Belemnit sangat umum. Reptilia meningkat
jumlahnya. Dinosaurus menguasai daratan, Ichtiyosaurus berburu di dalam lautan dan
Pterosaurus merajai angkasa. Banyak dinosaurus tumbuh dalam ukuran yang luar biasa.
Burung sejati pertama (Archeopterya) berevolusi dan banyak jenis buaya berkembang.
Tumbuhan Konifer menjadi umum, sementara Bennefit dan Sequola melimpah pada
waktu ini. Pangea terpecah dimana Amerika Utara memisahkan diri dari Afrika
sedangkan Amerika Selatan melepaskan diri dari Antartika dan Australia.
Jaman ini merupakan jaman yang paling menarik anak-anak setelah difilmkannya Jurrasic
Park.

Jaman Kapur (140-65 juta tahun lalu)


Banyak dinosaurus raksasa dan reptilia terbang hidup pada zaman ini.
Mamalia berari-ari muncul pertama kalinya. Pada akhir zaman ini Dinosaurus,
Ichtiyosaurus, Pterosaurus, Plesiosaurus, Amonit dan Belemnit punah. Mamalia dan
tumbuhan berbunga mulai berkembang menjadi banyak bentuk yang berlainan. Iklim
sedang mulai muncul. India terlepas jauh dari Afrika menuju Asia.
Jaman ini adalah jaman akhir dari kehidupan biantang-binatang raksasa.

Zaman Tersier (65 - 1,7 juta tahun lalu)


Pada zaman tersier terjadi perkembangan jenis kehidupan seperti munculnya
primata dan burung tak bergigi berukuran besar yang menyerupai burung unta, sedangkan
fauna laut sepert ikan, moluska dan echinodermata sangat mirip dengan fauna laut yang

Evolusi 14

hidup sekarang. Tumbuhan berbunga pada zaman Tersier terus berevolusi menghasilkan
banyak variasi tumbuhan, seperti semak belukar, tumbuhan merambat dan rumput.
Pada zaman Tersier - Kuarter, pemunculan dan kepunahan hewan dan tumbuhan saling
berganti seiring dengan perubahan cuaca secara global

Zaman Kuarter (1,7 juta tahun lalu - sekarang)


Zaman Kuarter terdiri dari kala Plistosen dan Kala Holosen. Kala Plistosen mulai
sekitar 1,8 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 10.000 tahun yang lalu. Kemudian
diikuti oleh Kala Holosen yang berlangsung sampai sekarang. Pada Kala Plistosen paling
sedikit terjadi 5 kali jaman es (jaman glasial). Pada jaman glasial sebagian besar Eropa,
Amerika utara dan Asia bagian utara ditutupi es, begitu pula Pegunungan Alpen,
Pegunungan Cherpatia dan Pegunungan Himalaya Di antara 4 jaman es ini terdapat jaman
Intra Glasial, dimana iklim bumi lebih hangat. Manusia purba jawa (Homo erectus yang
dulu disebut Pithecanthropus erectus) muncul pada Kala Plistosen. Manusia Modern yang
mempunyai peradaban baru muncul pada Kala Holosen.
Flora dan fauna yang hidup pada Kala Plistosen sangat mirip dengan flora dan fauna yang
hidup sekarang.

Evolusi 15

BAGIAN 2. MEKANISME SELEKSI


Kompetensi Dasar :
Peserta didik mampu memahami tentang seleksi yang terjadi pada mahkluk hidup dalam
upaya untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep dan prinsip kehidupan
yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Standar Kompetensi
1. Peserta didik dapat menjelaskan konsep seleksi
2. Peserta didik dapat menjelaskan jenis-jenis seleksi yang merupakan
mekanisme evolusi
Uraian Materi
Seleksi merupakan mekanisme perubahan evolusioner yang terjadipada organisme
baikyang dilakukan oleh perubahan alam ataupun mekanisme yang dikembangkan oleh
organisme itu sendiri. Oleh sebab itu seleksi dikaji melalui dua hal yaiotu seleksi alam
dan seleksi spesies.
A. Seleksi Alam
Prinsip selelsi alam merupakan hasil yang disimpulkan dari variasi yang
diwariskan, perkembangbiakan, dan pergulatan untuk tetap hidup. Bagaimana seleksi
alam dapat menjadi mekanisme perubahan evolusi? Persoalan ini dapat dijelaskan oleh
tiga hal.
Pertama, seleksi alam merupakan suatu proses: tiap generasi organisme dapat
terkena dampak lingkungan yang selektif. Ada beberapa anggotanya yang musnah atau
gagal menghasilkan turunan, namun adapula yang barhasil.
Kedua, seleksi alam dan adaptasi jelas saling berjalin seperti dua sisi keping
mata uang. Suata organisme dikatakan mampu beradaptasi pada kondisi hidupnya apabila
organisme itu berhasil melewati halangan dari generasi ke generasi. Bagi biolog,

Evolusi 16

meskipun satu - satunya definisi umum untuk adaptasi adalah kemampuan reproduksi,
biasanya orang dapat menunjuk secara khusus pada atribut atribut tertentu yang
mendukung kemampuan itu, sesuai dengan lingkungan hidup organisme terebut.
Ketiga, seleksi alam jelas dipahami sebagai suatu proses yang beroperasi pada suatu
populasi organisme. Bagi individu individu, masalahnya semata mata adalah berhasil atau
gagal dalam melakukan reproduksi: mereka merupakan amunisi proses seleksi.
Seleksi alam merupakan mekanisme perubahan evolusioner yang terjadipada
organisme akibat perubahan alam. Berbeda dari proses perubahan geologis, seleksi alam
tidak mudah diamati, namun dapat disimpulkan dari bermacam macam pengamatan.
Argumen ini dibangun dari tiga generalisme yang tampaknya tidak saling bertalian
mengenai sifat sifat organisme.
Generalisasi pertama : individu anggota setiap spesies agak berbeda
dibandingkan individu lain dalam hal karakteristik ganda, yaitu struktur dan perilakunya.
Bahkan penganut teori kekekalan spesies yang paling tegar pun menerima secara baik
fakta yang dapat dipastikan dengan segera ini. Tidak seorang pun yang beranggapan
bahwa semua individu suatu spesies dicetak dalam cetakan yang sama (O 45)
Generalisasi kedua : variasi individu hingga tingkat tertentu bersifat menurun,
artinya, diteruskan dari genrasi ke generasi. Barangkali cara yang benar untuk melihat
persoalan tersebut secara menyeluruh adalah dengan memandang pewarisan tiap sifat
sebagai suatu aturan, sedangkan tidak diwariskan suatu sifat sebagai suatu anomali.
Generalisasi terakhir : prinsip Malthus menyatakan bahwa organisme
berkembang biak pada laju yang melebihi kemampuan lingkungan yang mereka huni,
sehingga banyak yang harus mati.
Dalam The Origin Of Species edisi berikutnya, Darwin memperkenalkan
ungkapan Herbert Spencer Survival of the fittest ( yang terunggul akan tetap hidup)

Evolusi 17

untuk mengemas gagasan seleksi alam.

Individu yang mampu tetap hidup dan

berproduksi ditandai sebagai lebih unggul

daripada yang tidak : seleksi alam

merupakan penyusutan diferensial pada individu-individu yang susunannya berlainan.


Seleksi alam beroperasi atas dasar kemampuan reproduksi individu-individu
variasi yang bermanfaat adalah variasi yang memungkinkan satu individu menghasilkan
lebih banyak turunan kepada generasi berikutnya. Jadi seleksi alam menyiratkan
organisme yang mementingkan diri sendiri
Seleksi alam merupakan suatu perantara perubahan adaptif yang berlangsung
dari generasi ke generasi. Dengan bergantinya generasi, makin berbedalah bentuk-bentuk
suatu spesies dari leluhurnya. Mudah untuk dilihat bagaimana mahluk hidup akhirnya
dapat begitu jauh berbeda dari leluhurnya , meskipun organisme itu berasal dari leluhur
yang sama. Hubungan timbal balik yang rumit antarorganisme akan menjamin bahwa
kekangan yang berlaku pada beberapa anggota suatu spesies jelas berbeda dari kekangan
yang berlaku pada beberapa anggota suatu spesies jelas berbeda dari kekangan yang
berlaku pada anggota- anggota yang lain. Misalnya, Hubungan yang menentukan bahwa
bertambahnya jumlah burung pemakan serangga lewat serangkaian tahapan antara dapat
mengubah sebaran ternak. Oleh karena itu , suatu spesies akan cenderung beradaptasi
secara berbeda terhadap kondisi yang berbeda yang biasanya terdapat pada bagian-bagian
yang berlainan dalam jangkauannya. Kelompok-kelompok individu suatu spesies tunggal,
yang perbedaan satu sama lainnya terletak pada cara beradaptasi pada relung-relung yang
agak berbeda, disebut Varietas . Perubahan adaptif suatu varietas mempengaruhi
organisme-organisme lain yang berinteraksi dengan varietas tersebut. Penghunian
maksimum ditentukan oleh heterogenitas maksimum, sehingga pemencaran spesies
tampaknya juga mensyaratkan adanya pelipat gandaan jumlah spesies.

Evolusi 18

Memang ada pengaruh sangat kuat yang berusaha melawan kecenderungan


pemencaran ini, yaitu pengaruh reproduksi seksual. Dengan berpadunya sifat yang
diwariskan oleh dua individu, proses seksual menghasilkan turunan dengan siatnya yang
biasanya, merupakan perpaduan sifat kedua induknya.
A. Seleksi stabil (stabilizing selection )

Seleksi

0 10 20

30 40 50

0 10 20 30 40 50

(ukuran fenotif )

( ukuran fenotip)

B. Seleksi terarah (directional selection )

Seleksi

0 10 20 30 40 50

0 10

(ukuran fenotif )

20 30 40 50

( ukuran fenotip)

B. Seleksi terganggu

Seleksi

0 10

20

30

(ukuran fenotif )

40

50

0 10 20 30 40 50
( ukuran fenotip)

Gambar 2.6 Perubahan Populasi akibat proses seleksi Alam

Evolusi 19

Pada Stabilizing Selection hasil seleksi menunjukan bahwa variabilitas terjadi di


sekitar mean tetapi tidak merubah letak mean alam distribusi fenotip tersebut.
Pada Directional Selection, hasil seleksi menunjukan bahwa mean populasi
bergeser kearah yang lebih besar, tetapi tinggi puncak tetap sama dengan semula. Pada
Disruptive Selection terjadi dua puncak pada distribusi fenotip sebagai hasil seleksi.
Tidak dapat dipungkiri lagi ide Darwin tentang seleksi alam merupakan konsep biologi
yang sangat penting. Ide

seleksi alam sebagai mekanisme evolusi didasarkan pada

beberapa ide , 2 diantaranya ialah:


(a) Mahluk hidup yang dilahirkan jauh lebih banyak dari pada mahluk hidup yang dapat
bertahan pada keadaan lingkungan dengan makanan terbatas.
(b) Ketersediaan kebutuhan hidup yang terbatas mengakibatkan terjadinya kompetisi
diantara mahluk hidup. Kompetisi terjadi sangat hebat diantara individu-individu yang
sama jenisnya, karena mereka mempunyai keperluan-keperluan/kebutuhan hidup yang
sama atau hampir sama.
Salah satu asumsi Darwin yang mendasari hipotesisnya bahwa spesies baru
muncul melalui proses seleksi alam adalah: semua spesie cenderung bereproduksi seperti
deret ukur dari generasi ke generasi berikutnya yang terjadi adalah 8,

16,

32,

64,

128 dan seterusnya.

B. Seleksi Spesies
Seleksi spesies merupakan proses seleksi yang dilakukan oeh spesies itu sendiri
dalam menghadapi tekanan alam agar tetap hidup dan survival. Proses ini terjadi pada
tingkat spesies dan memerlukan waktu yang sangat lama untuk mengetahui proses evolusi
yang terjadi. Keturunan dari seleksi spesies memiliki kemiripan dengan orang tuanya atau
nenek moyangnya. Mekananisme seleksi spesies misalnya dengan adanya kompetisi antar

Evolusi 20

anggota spesies itu sendiri baik dalam memperebutkan sumber daya maupun pasangan,
contoh yang lain adalah efiesensi kelahiran. Ikan akan mengeluarkan banyak telur, tetapi
hanya sedikit yang dapat hidup sampai dewasa. Sebaliknya pada mamalia tingkat tinggi
hanya melahirkan satu atau dua keturunan yang betul-betul dapat hidup dan berkembang.

Evolusi 21

BAGIAN 3. SPESIES DAN MEKANISME SPESIASI

Kompetensi Dasar :
Peserta didik mampu memahami tentang konsep spesies dan spesiasi yang terjadi pada
mahkluk hidup dalam upaya untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep
dan prinsip kehidupan yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari.
Standar Kompetensi
1. Peserta didik dapat menjelaskan konsep spesies dan spesiasi
2. Peserta didik dapat menjelaskan macam-macam spesiasi yang merupakan
mekanisme evolusi
Uraian Materi
1. Pembentukan Spesies
Pengertian Spesies sekarang ini dititikberatkan pada dimungkinkannya
pertukaran gena antar anggota populasi atau antar varian. Pengertian ini mengandung
konsekuensi bahwa meskipun ada perbedaan morfologik, fisiologik ataupun perilaku,
namun bila pertukaran gena tetap dimungkinkan maka kedua organisme yang bertukar
gena itu termasuk dalam satu spesies. Dengan demikian variasi yang ada merupakan
variasi intra spesifik.
Dalam cakupan yang luas tidak dimungkinkannya pertukaran gena disebabkan
adanya hambatan (barier), misalnya barier geografik, disebut allpolfik, bila
berlangsung dalam waktu yang lama dapat menjurus pada terjadinya isolasi
reproduksi. Hal ini disebabkan oleh adanya penimbunan pengaruh faktor-faktor
ekstrensik, sehingga terjadi isolasi faktor instrinsik. Bila kejadian tersebut terus

Evolusi 22

berlanjut, dapat terjadi kedua populasi tersebut meskipun sudah berada dalam satu
lingkungan lagi (simpatrik), tetapi tidak mau mengadakan pembuahan.
Secara garis besarnya isolasi intrinsik dapat dibedakan :
2.

Mekanisme yang menyebabkan terhalangnya perkawinan

3.

Mekanisme yang mencegah terjadinya hibrida, dan

4.

Mekanisme yang mencegah kelangsungan hibrida.


Dari definisi operasional spesies peta perkembangan konservatif, melalui

beberapa bentuk isolasi reproduksi terlihat adanya kemungkinan perkembangan yang


sifatnya kreatif. Dengan kata lain dari satu segi ada kecenderungan bahwa spesies itu
tidak akan mengalami perubahan, namun dari segi lain terlihat bahwa ada peluang
untuk

munculnya

spesies

baru

dalam

situasi

dimana keadaan sekitarnya

memungkinkan.
Dalam situasi yang tidak mengalami perubahan yang berarti keturunan yang
berasal dari spesies yang telah ada cenderung untuk lebih mampu bertahan, sedangkan
hibridanya lebih-lebih yang mengandung penyimpangan yang agak banyak dari
induknya cenderung untuk mengalami eliminasi dalam waktu singkat atau perlahanlahan. Sebaliknya dalam keadaan dimana situasi berubah, maka ada kecenderungan
untuk terjadi yang sebaliknya.

5. Macam-Macam Spesiasi
Berikut ini akan diuraikan beberapa gagasan yang menuju pada pembentukan spesies
baru.
1. Spesiasi Akibat Polipoida
Hugo de Uries ahli genetika yang terkenal karena teori mutasinya,
menemukan kenyataan bahwa ada kemungkinan perubahan jumlah kromosom

Evolusi 23

pada makhluk hidup, yang sebagaimana diketahui sesungguhnya cenderung untuk


tidak merubah dan karenanya dinyatakan sebagai hal yang menciri makhluk yang
bersangkutan.
Peristiwa

bertambahnya

kromosom

dapat

terjadi

melalui

proses

penggandaan (doubling) yang terjadi pada hibiridanya, misalnya peristiwa


allopoida seperti suatu spesies yang mempunyai gen A, disebut individu AA,
disilangkan dengan individu BB, hibridanya mengandung gen A dan B,
karenanya membentuk sinapsis AB pada meiosis sehingga menyebabkan stand.
Karena sesuatu hal dapat terjadi penggandaan gen hingga pada hibridanya
terkandung gen yang berpasangan, AABB. Individu ini infertile dan ternyata tidak
dapat disilangkan dengan induknya, karenanya orang menempatkannya sebagai
spesies baru.
Dikaitkan dengan proses evolusi maka bentuk allopoliploidda ini
memegang peranan yang lebih besar dibanding dengan diploida dan
autoploidanya. Berdasarkan hal ini maka budidaya tanaman tertentu untuk
mendapatkan jenis unggul orang memiliki dan mengarah pada bentuk-bentuk
poliploida.

2. Radiasi Adaptif
Kenyataan yang menunjukkan bahwa dijumpai angka ragam spesies ini,
sedang fosil yang terekam menunjukkan bahwa jumlah spesies yang ada pada
dahulu tidak sebanyak itu, membawa orang pada kesimpulan bahwa terjadi proses
pembelahan exolutif spesies.
Terjadi radiasi evolusioner yang juga dapat disebut evolusi divergen, yang erat
hubungannya dengan kemampuan beradaptasi disamping tidak dimungkinkannya

Evolusi 24

persilangan antara spesies pendatang dengan spesies yang sudah ada, atau antara
sesama spesies pendatang yang berlainan spesies.
Contoh nyata dari radiasi adaptif ini adalah burung finch di kepulauan
Galapagos. Orang berteori bahwa burung ini berasal dari Amerika Selatan,
berjarak

+ 900 km yang secara kebetulan tergoncang angin. Keadaan yang

gersang dan terpencil menyebabkan bahwa antara penghuni kepulauan tersebut


terjadi kompetisi. Spesialisasi dalam menggunakan bahan makanan adalah suatu
cara yang terhormat dalam menghindari diri dari kekalahan berkompetisi. Dari
sinilah kemudian lahir bermacam-macam burung finch, diantaranya spesies
yang hidup di tanah dan spesies lainnya yang ada yang hidup di pohon.
3. Divergensi, Konvergensi dan Pergantian
Telah disebutkan dalam pembahasan tentang radiasi adaptif, bahwa dari
satu spesies dapat berkembang menjadi beberapa spesies. Apabila dibuat garis
yang menghubungkan spesies asal dengan bentuk-bentuk perkembangannya,
maka terlihat garis-garis yang menyebar (divergen), sehingga peristiwa ini
dikenal dengan peristiwa divergensi. Dalam perkembangan yang sifatnya
divergensi kemiripan-kemiripannya semakin lama semakin berkurang.
Kebalikan dari evolusi divergen adalah evolusi kovergen. Pada peristiwa
ini asal-usul dari makhluk yang berevolusi. Pada dasarnya jauh, jauh berbeda,
namun kemudian bila hidup di tempat yang sama yang memerlukan persyaratan
hidup yang khusus, maka dapat terjadi adaptasi yang mirip.
Dalam perjalanan kehidupan suatu spesies dari masa ke masa dalam waktu
ribuan bahkan jutaan tahun tidak semua spesies dapat mampu mencapai puncak.
Mengenai kepunahan ini dikenal dengan kepunahan yang diikuti pergantian dan
ada kepunahan yang tidak diikuti pergantian. Contohnya seperti ichthyosarus

Evolusi 25

yang saat ini telah punah, yang dalam perkembangannya digantikan oleh dotphin
(lumba-lumba), ataupun kepunahan pterosaurus yang dalam perkembangannya
digantikan kekelawar yang kita kenal saat ini.

4. Opurtinisme dalam Konvergensi


Pada perkembangan evolusi konvergen sering dijumpai adanya bentuk
yang berbeda meskipun fungsi yang diemban sama. Bentuk yang berbeda tersebut
dapat terjadi karena pada dasarnya bentuk asalnya memang berbeda. Sebagai
contoh adanya bentuk sayap dari beberapa hewan seperti pterosaurus, burung,
kelelawar, serangga dan lainnya yang mempunyai bentuk yang berbeda satu sama
lain tetapi mengembang fungsi yang sama, yaitu untuk terbang. Dalam hal ini
sering tidak hanya bentuknya saja yang berbeda tetapi juga kerjanya. Peristiwa ini
dikenal sebagai opurtinisme, yaitu opurtunisme dalam konvergensi.
Adanya peristiwa analogi dan homologi organ tubuh makhluk hidup dapat
dikaitkan dengan evolusi konvergen, divergen dan menyangkut pula paham
opurtunisme.

5. Spesiasi Aseksual
Batasan spesiasi yang mengacu pada kemungkinan pertukaran gen, tidak
selamanya dapat diterapkan. Sebagai contoh adalah spesiasi pada makhluk yang
berkembang biak dengan aseksual.
Pada makhluk yang berkembang biak secara aseksual perkembangan yang
menuju pada pembentukan spesies baru adalah bertumpu pada terjadinya variasi
dan adaptasi. Struktur dan fungsi tubuh dan bagian-bagian tubuh merupakan
indikator perkembangan pembentukan spesies baru.

Evolusi 26

6. Spesiasi Fosil
Untuk menentukan persamaan spesies jelas tidak dapat menggunakan
kriteria pertukaran gen. Bagaimana mungkin kalau jarak masa hidupnya
adakalanya terpaut waktu ribuan bahkan jutaan tahun. Struktur dan fungsi
memegang peranan penting untuk penetapan kedudukan suatu individu dalam
suatu spesies.

Evolusi 27

BAGIAN 4. MEKANISME ADAPTASI

Kompetensi Dasar :
Peserta didik mampu memahami tentang adaptasi yang terjadi pada mahkluk hidup dalam
upaya untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep dan prinsip kehidupan
yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Standar Kompetensi
1. Peserta didik dapat menjelaskan konsep adaptasi
2. Peserta didik dapat menjelaskan jenis-jenis adaptasi yang merupakan
mekanisme evolusi
Uraian Materi
Mahluk hidup daam satu batas waktu tertentu mempunyai kemampuan
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri itu secara umum
disebut adaptasi. Kemampuan beradaptasi ini penting artinya untuk kelangsungan
hidup.
Berkaitan erat dengan adaptasi ialah evolusi. Evolusi menjelaskan
perkembangan mahluk hidup secara bertahap dalam jangka waktu lama dari bentu
sederhama menuju bentuk yang kompleks. Perkembangan itu bersifat terarah dan sifat
yang berubah dapat diturunkan.
Adaptasi dapat terjadi dengan beberapa cara, baik melalui proses fisiologi,
morfologi, dan tingkah laku.
1.Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan
hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a. Gigi-gigi khusus

Evolusi 28

Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring
besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung
pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya.
b. Moncong
Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika
Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang
merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak
bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya.
Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat dijulurkan jauh keluar
mulut untuk menangkap serangga.
c. Paruh
Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan
ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya.
d. Daun
Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar,
memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga
dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan
insektivora, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh
unsur yang diperlukan.
e. Akar
Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang
terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk
bernapas.

Evolusi 29

2. Adaptasi fsiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk
mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.
a. Kelenjar bau
Musang dapat mensekresikan bau busukdengan cara menyemprotkan cairan
melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari
musuhnya.
b. Kantong tinta
Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh
datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat
melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita.
c. Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan
warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu
serta keadaan sekitarnya.
3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku.
Contohnya sebagai berikut :
a. Pura-pura tidur atau mati
Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini
sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.
b. Migrasi
Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang

Evolusi 30

sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang
berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat
Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan
mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa
biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah
menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut.

Evolusi 31

BAGIAN 5. MEKANISME ISOLASI

Kompetensi Dasar :
Peserta didik mampu memahami tentang isolasi yang terjadi pada mahkluk hidup dalam
upaya untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep dan prinsip kehidupan
yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Standar Kompetensi
1. Peserta didik dapat menjelaskan konsep isolasi mahkluk hidup
2. Peserta didik dapat menjelaskan jenis-jenis isolasi mahkluk hidup yang
merupakan mekanisme evolusi
Uraian Materi
Dua atau lebih variasi dalam suatu spesies bereproduksi secara seksual yang telah
berubah menjadi variasi-variasi baru yang lolos seleksi dan telah menjadi beberapa gene
pool baru, tidak akan berkembang menjadi spesies baru andaikata tidak terjadi peristiwa
lain yaitu peristiwa yang memisahkan satu variasi baru yang lainnya (Corebima, 1989).
Pemisahan akan sangat bermanfaat untuk mencegah terciptanya keseragaman antar variasi
melalui hibridisasi. Peristiwa pemisahan itulah yang dikenal sebagai peristiwa isolasi dan
ini merupakan peristiwa kunci terbentuknya spesies baru.
Dengan peristiwa isolasi maka memungkinkan terjadinya evolusi. Hanya saja
perlu disadari bahwa proses isolasi ini merupakan faktor tak langsung dari evolusi. Isolasi
ini memberikan peran dalam hal memisahkan varian-varian yang dihasilkan agar tidak
terjadi hibridisasi kembali yang memungkinkan pembauran gene pool yang telah berbeda.
Sehingga akhirnya varian-varian akan berkembang ke arah sendiri-sendiri dan apabila
suatu ketika bertemu dalam satu tempat (simpatrik) tidak akan terjadi pertukaran gen.

Evolusi 32

Meskipun ada perbedaan morfologik, fisiologik ataupun perilaku, namun bila


pertukaran gena tetap dimungkinkan maka kedua organisme yang bertukar gena itu
termasuk dalam satu spesies. Dengan demikian variasi yang ada merupakan variasi intra
spesifik.Dua populasi yang dipisahkan oleh barier geografik, disebut allopatrik, bila
berlangsung dalam waktu yang lama, dapat menjurus pada terjadinya isolasi reproduksi.
Hal ini disebabkan oleh adanya penimbunan pengaruh faktor-faktor ekstrinsik, sehingga
terjadi faktor-faktor intrinsic. Bila kejadian tersebut berlanjut, dapat terjadi kedua
populasi tersebut meskipun sudah berada dalam satu lingkungan lagi (simpatrik), tetap
tidak mampu mengadakan pembuahan.
Sebagian besar spesiasi menunjukkan cara dan peristiwa terbentuknya spesies baru
secara perlahan-lahan. Akan tetapi ada mekanisme lain tentang cara terbentuknya spesies
baru, sekalipun frekuensinya rendah. Mekanisme itu melalui mutasi besar. Mutasi besar
memungkinkan peristiwa munculnya spesies baru secara cepat, dan mekanisme itu saat ini
dikenal dengan poliploidi.
Mekanisme isolasi intrinsic, dapat dibedakan
1. Mekanisme yang menyebab terhalangnya perkawinan
2. Mekanisme yang mencegah terjadinya hibrida
3. Mekanisme yang mencegah kelangsungan hibrida.
Kemungkinan-kemungkinan mekanisme isolasi intrinsic
* Mekanisme yang mencegah terjadinya perkawinan
1. Isolasi Ecogeographi
2. Isolasi Habitat
3. Isolasi Iklim/ musim
4. Isolasi kelakuan
5. Isolasi Mekanis

Evolusi 33

* Mekanisme yang beroperasi pada orang tua/ induk (mencegah fertilisasi)


a. Mekanisme yang mencegah terbentuknya hibrida
1. Isolasi gametes
2. Isolasi Gametis
3. Isolasi Perkembangan
4. Ketidakmampuan hibrida untuk hidup
b. Mekanisme yang mencegah kelangsungan hibrida
1. Sterilitas hibrida
2. Eliminasi hibrida yang bersifat selektif
* Mekanisme yang beroperasi pada hibrida, mencegah keberhasilannya.
a. Isolasi Ecogeografik
Dua populasi yang terpisah oleh barier geografik yang lama, pada suatu waktu
telah menjadi sangat berbeda secara morfologik ataupun secara anatomic sehingga pada
saat terdapat dalam keadaan tidak terpisah keduanya tidak simpatrik lagi. Contohnya :
Platanus occidentalis dan Platanus orientalis yang secara artifisal dapat saling
diserbukkan tetapi penyerbukan secara alami tidak terjadi. Keduanya tidak hanya terpisah
secara geografik tetapi juga secara genetic.
b. Isolasi Habitat
Dua populasi simpatrik yang menghuni habitat yang berbeda, dalam kenyataannya
akan kawin dengan populasi yang sama, disbanding dengan populasi yang berbeda.
Contohnya, Bufo fowleri dan Bufu americanus. Keduanya dapat kawin dan menghasilkan
keturunan yang fertile. Namun kecenderungannya Bufo fowleri akan kawin dengan Bufo
americanus. Pilihan ini ada hubungannya dengan pilihan tempat tinggalnya.
c. Isolasi Musim/ kawin

Evolusi 34

Terpisah secara ecogeografik, maka pada Pinus radiata dan Pinus muricata,
keduanya juga dapat diserbukkan secara artificial namun secara alami pembuahan tidak
mungkin terjadi. Peristiwa ini disebabkan karena masa ber bunga Pinus radiata terjadi
pada bulan februari. Sedangkan Pinus muricata pada bulan April. Hal ini juga terjadi pada
hewan, seperti pada Rana, yang disebabkam masa aktif perkawinannya berbeda.
d. Isolasi Kelakuan
Dalam kegiatan reproduksi, tidak akan terjadi kekeliruan perkawinan antara
spesies yang berbeda-beda. Di alam dapat dijumpai beraneka ragam itik, namun karena
ciri perilaku saat kawin berbeda-beda terjadilah isolasi reproduksi
e. Isolasi Mekanis
Isolasi reproduksi yang didasarkan atas apa yang disebut isolasi bmekanis dapat
terjadi bila jenis jantan mempunyai ukuran tubuh yang terlalu besar bagi jenis betinanya.
Antara hewan dan tumbuhan juga dijumpai adanya kecocokan misalnya antara bentuk
kelompok bunga dan binatang penyerbuknya.
f. Isolasi Gametik
Peristiwa dimana tidak terjadi pembuahan disebut isolasi gametik. Pada tanaman
hal semacam ini juga dapat terjadi karena inti serbuk sari tidak dapat mencari inti sel
telur.
g. Isolasi Perkembangan
Langkah yang lebih maju dapat terjadi, artinya polinasi terjadi dengan sukses, juga
diikuti fertilisasi (tidak seperti pada isolasi gametik)., tetapi embrio tidak dapat tumbuh
dan segera mati. Ini terjadi pada Rana pipiens, dan juga sering ditemukan pada ikan, yang
karena telur yang berada di air terbuahi oleh sperma yang berasal dari ikan lain spesies.
h. Ketidakmampuan hidup hibrid

Evolusi 35

Karena tidak dapat bertemunya gamet, dengan kata lain tidak terjadi fertilisasi,
tidak dapat berkembangnya embrio.
Pada peristiwa dijumpai bahwa sampai ada pembentukan embrio, segala sesuatunya
berjalan dengan baik, dan embrio yang terbentukpun dapat tumbuh, namun
pertumbuhannya tidak dapat mencapai usia reproduksi, biasanya cacat atau lemah dan
kemudian mati. Dengan demikian hybrid yang terjadi tidak menghasilkan keturunan.
i. sterilisasi Hibrida
Hibrid dapat tumbuh dengan baik dan mencapai umur reproduksi. Namun
kemudian ternyata bahwa hybrid tersebut tidak mampu mempunyai keturunan, streril.
j. Eliminasi Hibrida melalui seleksi
Hibrida yang fertile, mempunyai keturunan dan keduanya dapat bertahan hidup
dan beranak-pinak, dapat dianggap atau dinyatakan sebagai suatu spesies, spesies baru.
Kenyataan menunjukkan bahwa hibrida dan keturunannya kurang dapat
mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya, sehingga dalam kurun waktu yang tidak
lama segera akan mengalami kepunahan.
Dikatakan bahwa antara kedua induk dalam perkawinannya terjadi pertukaran
gena namun tidak keseluruhan gena dapat bertukar. Pada umumnya perkawinan yang
terjadi antara spesies yang sama keturunannya lebih banyak dan lebih adatif disbanding
dengan keturunan hibridnya. Akibatnya, seperti tersebut di atas keturunan hibrida tersebut
akhirnya tereliminasi oleh alam, punah.

Evolusi 36

BAGIAN 6. MUTASI

Kompetensi Dasar :
Peserta didik mampu memahami tentang mutasi yang terjadi pada mahkluk hidup dalam
upaya untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep dan prinsip kehidupan
yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Standar Kompetensi
1. Peserta didik dapat menjelaskan konsep mutasi
2. Peserta didik dapat menjelaskan jenis-jenis mutasi yang merupakan
mekanisme evolusi
Uraian Materi
Evolusi tidak terbatas pada perubahan proporsi tipe-tipe yang sudah ada, pada dasarnya
unsur-unsur baru kadang muncul. Unsur atau ciri baru yang bisa diwariskan dapat muncul
karena dua mekanisme. Pertama yang disebut mutasi, yang kedua disebut rekombinasi. Mutasi
adalah perubahan fisik gen, yang mengubah efek gen. Peristiwa mutasi tersebut mempunyai
sifat:
a. Jarang terjadi pada proses biasa dari replikasi DNA.
b. Tidak ada cara untk mengetahui manakah gen yang akan mengalami mutasi pada suatu sel
atau dalam suatu generasi.
c. Munculnya secara bebas.
Munculnya gen merupakan peristiwa yang terjadinya secara kemungkinan, sukar
diamati, dan jarang terlihat. Hal itu disebabkan oleh sebagai berikut :
a. Gen yang mengalami mutasi dalam suatu individu tidak menonjolkan diri karena jumlah
gen yang terdapat dalam satu individu banyak sekali.

Evolusi 37

b. Gen yang mengalami mutasi bersifat letal sehingga gejala mutasi tidak dapat diamati sebab
individu segera mati sebelum dewasa.
c. Gen yang mengalami mutasi umumnya bersifat resesif sehingga dalam keadaan heterozigot
tidak akan terlihat.
Jika suatu gen G menimbulkan produksi kimia tertentu, ia dapat bermutasi menjadi gen
G? baru yang dihasilkan oleh kimia yang berbeda. Mutasi diwarisi oleh keturunan individu
dimana mutasi pertama kali muncul. Oleh karena itu mutasi dapat menjadi asal mula perubahan
evolusioner. Gen bermutasi secara spontan, tetapi dengan taraf rendah; taraf khas mutasi kirakira sekali per sejuta generasi. Taraf ini bisa dipercepat melalui perlakuan dan proses tertentu
seperti pengunaaan zat kimia (misalnya, gas mustard), sinar X, dan detonasi bom nuklir.
Macam-macam mutasi sebagai berikut :
Berdasarkan bagian yang akan bermutasi, mutasi dapat dibedakan menjadi dua :
1. Mutasi besar (gross mutation), yaitu mutasi yang ditandai dengan perubahan jumlah
kromosom dan perubahan struktur atau urutan susunan DNA pada kromosom. Mutasi
seperti itu sering disebut mutasi kromosom atau aberasi kromosom.
2. Mutasi kecil (mutasi titik =point mutation), yaitu perubahan yang terjadi pada susunan
kimia molekul DNA atau gen. Karena itu, mutasi ini disebut juga dengan mutasi gen.
Berdasarkan kualitasnya,mutasi dapat dibedakan menjadi :
Mutasi pengaturan ulang, yaitu mutasi yang mengalami perubahan lokasi suatu gen di dalam
genom sering menimbulkan efek posisi.
1. Di dalam sebuah gen ; dua mutasi di dalam gen fungsional yang sama, dapat menghasilkan
efek yang berbeda bergantung pada posisinya apakah mereka berada pada posisi sis atau
trans.
2. Jumlah gen setiap kromosom ; berbagai efek fenotipe dapat dihasilkan jika jumlah replika
gen tidak sama pada kromosom-kromosom homolog.

Evolusi 38

3. Perpindahan lokus gen dapat menimbulkan fenotipe-fenotipe baru, khususnya bila gen itu di
tempatkan kembali dekat heterokromatin:
a. Translokasi yaitu perpindahan kepada suatu kromosom nonhomolog.
b. Inversi yaitu perpindahan di dalam kromosom yang sama.
Berdasarkan asalnya, mutasi dapat dibedakan menjadi :
1. Mutasi spontan, yaitu mutasi yang asalnya tidak diketahui, sering disebut mutasi latar
belakang
2. Kendali genetik : mutabilitas beberapa gen tidak diketahui, dipengaruhi oleh mutan
mutator lain.
3. Mutasi induksi, karena pengaruh lingkungan abnormal.
Berdasarkan tipe sel, mutasi dibedakan menjadi :
1. Mutasi somatik, terjadi pada sel sel nonreproduktif dari tubuh, sering menghasilkan suatu
fenotife mutan hanya pada suatu sektor dari organisme (mosaik atau kimera).
2. Mutasi gametik, terjadi pada sel-sel kelamin, menghasilkan suatu perubahan yang
diwariskan. Mutasi ini dapat mendukung proses evolusi.
Berdasarkan besarnya efek fenotipenya, mutasi dapat dibedakan menjadi :
1. Perubahan pada laju mutasi, beberapa alel hanya dapat dibedakan oleh frekuensi mutasinya.
2. Isoalel, menghasilkan fenotipe-fenotipe yang identik pada kombinasi homozigot atau
heterozigot satu dengan yang lain, tetapi ternyata dapat dibedakan bila dalam kombinasi
dengan alel-alel lain.
3. Mutan yang mempengaruhi daya hidup.
a. Subvital, daya hidup lebih besar dari 10 % tetapi lebih kecil dari 100% dibandingkan
dengan tipe liar.
b. Semiletal,menyebabkan kematian lebih dari 90% tetapi kurang dari 100%.
c. Letal, mematikan semua individu sebelum dewasa.

Evolusi 39

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya mutasi sebagai berikut :


1. Bahan Fisika

: sinar kosmos, sinar ultraviolet, suhu tinggi, serta radiasi berenergi tinggi

seperti sinar X, sinar gamma ( ), dapat meningkatkan frekuensi mutasi.


2. Bahan Kimia : pestisida, asam nitrit, agen alkilase seperti mustard, dimetil, dan
dimetilsulfat.
3. Bahan Biologi : bangsa virus dan bakteri.
Rekombinasi menghasilkan cakrawala

baru dengan merekombinasi berbagai gen

Mendelian yang sudah ada sebelumnya. Percobaan Mendel yang kita bahas hanya berkenaan
dengan satu unsur atau ciri ukuran. Tetapi ukuran bukan satu-satunya unsur kacang polong. Ada
ratusan unsur lain-warna, resistensi terhadap suhu dingin, bentuk daun. Unsur-unsur lain juga
dikontrol oleh gen Mendelian. Apabila keseluruhan gen diteruskan ke generasi selanjutnya, gen
tertentu mungkin diwariskan secara independen, atau mungkin diwariskan sebagai satuan. Gen
diwariskan bersama sebagai satu satuan jika gen-gen tersebut terikat (linked genes). Gen
diwariskan secara independen atau tidak, tergantung pada keadaan gen berada pada kromosom
yang sama. Kromosom adalah struktur molekul yang membawa gen, manakala kromosom
diteruskan dari induk ke dalam gametnya.
Rekombinasi menghasilkan jenis organisme baru dengan merombak perangkat terikat dari
gen. Melalui mekanisme yang disebut persilangan (crossing over), yang dapat disaksikan pada
mikroskop, gen-gen direkombinasi antara pasangan-pasangan kromosom. Mekanisme ini dapat
menghasilkan kombinasi baru gen. Gen-gen ini tidak dapat diwariskan untuk waktu yang lama
karena rekombinasi lebih jauh. Selanjutnya dapat merusak kombinasi lama, tetapi ia tetap dapat
menghasilkan jenis-jenis organisme baru. Rekombinasi barangkali secara khusus penting pada
keadaan evolusioner tertentu. Jika dua mutasi terjadi pada dua gen yang berlainan pada satu
kromosom, kira-kira pada saat yang sama , keduanya pada mulanya barangkali terbawa pada
individu yang berbeda. Tanpa rekombinasi, kedua mutasi mungkin tidak pernah berdampingan

Evolusi 40

dalam kromosom fisik yang sama: salah satu daripadanya muncul untuk kedua kalinya, dalam
progeni muatan yang lain. Bagaimanapun rekombinasi dengan cepat dapat menggabungkan
keduanya bersama-sama. Jika kedua mutasi menimbulkan akibat superior bilamana digabung
bersama ketimbang jika dipisahkan, akibatnya rekombinasi dapat mempercepat taraf mutasi.

Evolusi 41

BGAIAN 7. EVOLUSI MOLEKULER

Kompetensi Dasar :
Peserta didik mampu memahami tentang evolusi molekuler yang terjadi pada mahkluk
hidup dalam upaya untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep dan
prinsip kehidupan yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Standar Kompetensi
1. Peserta didik dapat menjelaskan konsep evolusi molekuler
2. Peserta didik dapat memprediksikankan susunan molekuler nenek moyang
Uraian Materi
DNA mengemban informasi hereditas dalam pengertian bahwa struktur kimia
yang cermat pada DNA yang diangkut dalam sperma dan sel telur menentukan arah yang
akan diikuti oleh perkembangan organisme yang sedang tumbuh. Bentuk kode instruksi
pada DNA dapat salah cetak yang berakibat perubahan genetika yang dapat menimbulkan
mutasi yang selanjutnya akan terjadi suatu evolusi. Pengaruh lingkungan dapat merubah
hasil akhir DNA, namun lingkungan tidak dapat mengubah instruksi yang dikodekan
dalam DNA. Lingkungan suatu organisme memainkan peranan penting dan selektif dalam
evolusi. Jika peranan tersebut nampak konstruktif itu terjadi semata-mata karena
lingkungan memilih varian adaptis dari koleksi organisme yang tersedia.
Sukar untuk memperkirakan berapa kali suatu gen mengalami suatu mutasi,
karena mutasi baru cenderung bersifat resesif sehingga tidak nampak dengan segera.
Perkiraan yang telah dibuat para ahli berkisar antara 10-40 mutasi pada satu lokus gen per
sejuta gamet pergenerasi. Dengan kata lain alel mutan dari gen tertentu dapat diharapkan
terjadi pada 10-40 dari setiap 500.000 anak yang dilahirkan.

Evolusi 42

Proyek Genom Manusia Hampir Rampung Puluhan Ribu Gen Jadi Objek
Penelitian
SEBUAH penelitian penting di bidang biologi yaitu Proyek Genom Manusia
hampir rampung. Hasilnya kelak sangat berguna dalam memahami gen dalam tubuh
manusia serta untuk dunia pengobatan. Proyek tadi melakukan penelitian tentang urutan
tiga miliar unsur kimiawi yang membentuk gen manusia. Para ahli biologi yang ikut serta
harus bisa melakukan semacam transisi. Secara tradisional, mereka biasanya hanya
meneliti satu macam gen. Sekarang ada puluhan ribu gen yang jadi objek penelitiannya.
Kalau berhasil, 20 tahun lagi para ilmuwan akan bisa menghitung perilaku sebuah
sel atau bahkan satu makhluk hidup. Mereka juga bisa mengalkulasi bagaimana
perubahan di satu unit DNA mempengaruhi kinerja atau kesehatan manusia. Dalam
konferensi di Airlie Center, Washington, AS, bulan lalu, para ahli biologi berkumpul
untuk mengeksplorasi kemungkinan perkembangan penelitian genom untuk 20 tahun ke
depan serta peralatan apa saja yang dibutuhkan. Pokok pembahasannya adalah masalah
komputerisasi ilmu biologi. Ini penting karena proyek genom menuntut komputer
berkemampuan canggih.
Tuntutan ini tampaknya juga akan merombak wujud riset biologi. Riset di masa
depan memerlukan banyak pakar selain ahli biologi, misalnya kelompok insinyur, ahli
matematika, ahli teknologi nano, pembuat program komputer, serta rangkaian komputer
sendiri. Ahli biologi biasanya hanya meneliti satu gen beserta produk proteinnya. Tapi,
karena sekarang sudah tersedia keseluruhan genom untuk penelitian laboratorium, peneliti
bisa membahas satu bagian utuh dari sel organisme. Mulai gen (genom), sel pembuat gen
(transcriptome), protein hasil proses sintesa (proteome), dan unsur kimia yang diproduksi
protein untuk metabolisme sel (metabolome).

Evolusi 43

Jumlah unsur-unsur tadi sangat besar. Manusia dan tikus, misalnya, mempunyai
paling sedikit 30 ribu gen dalam genomnya. Protein jumlahnya lebih banyak lagi, apalagi
kalau kedua unsur dikombinasikan. Protein berinteraksi dengan protein lain dan DNA
melalui jalan yang berliku-liku. Kalau prosesnya bisa dihitung, para ahli biologi akan
mendapat masukan penting tentang perilaku sebuah sel. Tiap tipe sel dalam tubuh hewan
memakai perbendaharaan genomnya sendiri-sendiri. Akibatnya diperlukan semacam peta
untuk menunjukkan di bagian tipe sel mana sebuah gen dimunculkan atau dipertukarkan.
Kategori data lain yang relevan dengan penyakit manusia adalah tentang
bagaimana tiap gen dan variannya mempengaruhi tubuh. Interaksi gen dan tubuh ini
tampak jelas pada pasien yang setelah dilacak ternyata simtom sakit bersumber ke satu
sel. Semua informasi tersebut harus disatukan dalam sebuah basis data yang bisa diuji
silang satu sama lain atau dibandingkan dengan literatur ilmiah sebanyak-banyaknya.
"Sekarang ahli biologi wajib memiliki juga kemampuan di bidang komputer," kata Dr
Barbara World dari California Institute of Technology dalam New York Times Online.
Para peserta konferensi yang diorganisasi oleh National Human Genome Research
Institute ini diberi kesempatan berpendapat soal kemajuan riset genom dalam kurun waktu
20 tahun lagi. Direktur institut tersebut, Dr Francis Collins, mengatakan cara tersebut
ditempuh karena mereka tengah mencari ide proyek baru yang bisa disokong sehubungan
proyek genom hampir selesai. Konsorsium pusat-pusat akademis telah mengumumkan
rumusan urutan genom manusia Juni 2000 dan berencana merampungkannya April 2003.
Bulan ini dipilih karena bertepatan dengan peringatan 50 tahun penemuan struktur DNA
oleh James Watson dan Francis Crick.
Dr Richard Lifton dari Yale memprediksi, dalam 20 tahun lagi peneliti akan
'mampu mengidentifikasi gen dan prosesnya yang berkaitan dengan tiap penyakit

Evolusi 44

manusia'. Satu panel ahli biologi pimpinan Dr Michael Snyder, juga dari Yale,
mengatakan dalam dua dekade nanti mereka akan bisa mengetahui pengaruh perubahan
program genetik pada organisme.
Masalah lain yang kemungkinan bisa dipecahkan adalah bagaimana membangun
sebuah sel, bagaimana organisme bisa tumbuh dari sebuah telur, bagaimana organisme
berinteraksi satu sama lain serta basis biologis dari kognisi dan inteligensi. Kemajuan tadi
bisa didapat lebih cepat karena makin murahnya biaya membuka kode genom manusia.
Biaya persiapan rumusan genom manusia adalah sekitar US$300 juta. Bagaimana kalau
20 tahun lagi biayanya bisa turun jadi US$1.000 untuk tiap genom karena pengaruh
kemajuan teknologi dan ekonomi?
Menurut Dr David Page dari Whitehead Institute yang memimpin panel soal riset
genom berbiaya murah, biaya US$1.000 tadi akan memecahkan dan sekaligus
menciptakan masalah di bidang pengujian genetik manusia. Kalau akses ke data genom
semakin mudah, kata Page, maka dimungkinkan untuk menghubungkan penyakit dengan
pola genetik tertentu. Informasi tadi juga bisa dipakai untuk memprediksi kesehatan
manusia berdasar urutan genomnya. Tapi, data ini juga akan memperlihatkan perbedaan
genetik antara kelompok atau ras yang berbeda.
Masalah lain yang bisa dijernihkan dengan pengetahuan genom adalah soal
evolusi manusia. Manusia adalah "keluaran baru dari satu garis keturunan yang cukup
konservatif," kata Dr Maynard Olson dari University of Washington yang merujuk ke
keluarga monyet dan kera. Orang bisa berbeda dari keluarga, tambah dia, karena
mengalami semacam evolusi yang kerap terjadi di saat spesies mendiami habitat baru.

Evolusi 45

Dalam kasus manusia, habitat barunya adalah perbatasan antara padang sabana
dan hutan belantara di tanah cikal bakal Afrika. Menurut Olson, karena kurang bisa
beradaptasi, manusia lalu perlu semacam kompromi genetik. "Dari sudut pandang medis,
kita mungkin perlu tahu bentuk kompromi tadi serta apa kerugiannya menjadi bagian awal
dari garis evolusi di lingkungan yang terus berubah," ungkap Olson.
Penelitian terhadap gen yang mengkode protein memungkinkan untuk menentukan
perubahan genetis selama proses evolusi. Data yang ditunjukkan berupa bentuk frekwensi
genetik yang diubah menjadi frekwensi allel. Secara umum jika A dan B adalah dua
populasi berbeda dengan frekwensi alel populasi A adalah a1, a2, a3 .an, dan
frekwensi alel B adalah b1, b2, b3 bn, i adalah perbedaan alel antara dua populasi
yang diamati pada lokus K maka persamaan genetik antara dua poluasi (Ik) tersebut dapat
dituliskan rumus sebagai berikut:
ai bi
Ik = ---------------------- ai2 bi2
Dimana:

ai bi = a1b1 + a2b2 + .+ anbn


ai2 = a12 + a22 + ..+ an2
bi2 = b12 + b22 + ..+ bn2

Besarnya nilai Ik menunjukkan :


1. Ik = 0 ; artinya dua populasi secara genetik berbeda pada lokus tersebut
2. Ik = 0 1 ; artinya dua populasi membagi alel bersama meskipun frekwensinya
tidak sama

Evolusi 46

Dengan diketahuinya persamaan genetik dua populasi tersebut maka data ditentukan jarak
antara genetiknya, yaitu :
D = -ln Ik
D = Distance (Jarak) genetik
Ik = Identik (Kesamaan) genetik
Besarnya nilai D menunjukkan substitusi alel per lokus gen yang terjadi dalam pemisahan
evolusi dari 2 jenis populasi.
Penentuan perbedaan genetik antara dua populasi dapat dilihat pada contoh berikut ini:
1. Jika diasumsikan bahwa hanya satu alel yang diobservasi dengan frekwensi 1
pada kedua populasi, maka ai = 1 dan bi = 1, maka :
1 x1
Ik = ---------------------- 1 2 . 12
Ik = 1
D = -ln 1 = ?
2. Jika diasumsikan ada dua alel yang berbeda diobservasi, dimana alel pertama
memiliki frekwensi 1 pada populasi A dan alel kedua memiliki frekwensi 1 pada
populasi B, maka:
a1 = 1

b1 = 0

a2 = 0

b2 = 1

(1x0)(0x1)
Ik = --------------------------- (12 + 02 ) (02 + 1)2
Ik = 0 / 1 = 0
D = -ln 0 = ?

Evolusi 47

3. Jika diasumsikan ada dua alel yang berbeda diobservasi, dimana alel pertama
memiliki frekwensi 0,2 pada populasi A dan alel kedua memiliki frekwensi 0,3
pada populasi B, maka:
a1 = 0,2

b1 = 0,7

a2 = 0,8

b2 = 0,3

(0,2x0,7)(0,8x0,3)
Ik = --------------------------------------- (0,22 + 0,72 ) (0,82 + 0,3)2
Ik = 0,605
D = -ln 0,605 = ?
4. Jika terdapat 3 contoh perbedaan hasil observasi pada satu lokus pada populasi
A adalah berturut-tururt a= 0 1 - 0,68 dan pada populasi B berturut-turut b=1 1
- 0,58. Maka :
Ia = (0+1+0,68) / 3 = 0,893
Ib = (1+1+0,58) / 3 = 0,860
Iab = (0x1 + 1x1 + 0,68x0,58) / 3 = 0,460

(0,460)
Ik = ---------------------------- (0,8932 ) (0,860)2
Ik = 0,525
D = -ln 0,525 = 0,644
Berarti ada 0,644 substitusi alel perlokus gen (644 substitusi alel per 100 loci)
yang terjadi dalam pemisahan evolusi dari 2 jenis populasi tersebut.

Evolusi 48

Dari perhitungan nilai Ik dapat digunakan untuk mengetahui proses evolusi suatu spesies
yaitu dengan menghitung persamaan alel yang sama, contoh :
Spesies A =

Spesies B =

Spesies C =

Spesies A : a=4

b=3

c=2

Spesies B : a=5

b=3

c=2

Spesies C : a=6

b=2

c=2

Maka :

Jika proses evolusi terjadi dari tingkat individu sederhana, maka spesies nenek moyang
(ancusor) adalah spesies C dan yang merupakan spesies modern adalah spesies A.

Evolusi 49

BAGIAN 8. EVOLUSI MANUSIA

Kompetensi Dasar :
Peserta didik mampu memahami tentang evolusi manusia dalam upaya untuk
mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep dan prinsip perubahan manusia
yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Standar Kompetensi
1. Peserta didik dapat menjelaskan konsep evuolusi manusia
2. Peserta didik dapat menjelaskan hipotesis evolusi manusia
Uraian Materi
A. Perkembangan Manusia
Kisah evolusi manusia pun dimulai dengan adanya perubahan iklim. Kira-kira 15
juta tahun yang silam suatu jalur hutan tropik mulai mengering ketika jumlah curah hujan
menurun. Jalur itu membentang dari pantai timur Afrika menembus Arabia dan India
sampai Asia Tenggara. Hutan-hutan yang lebat itu menipis lalu menghilang di seluruh
tempat kecuali di daerah paling basah yang berada di tepi-tepi sungai dan danau sehingga
terbentanglah daerah luas sabana dan tanah hutan terbuka. Pada awal masa perubahan
ekologi ini terjadi evolusi Ramapithecus,
yakni mata rantai antara manusia dan
primata yang lam-lain.
Para

ilmuwan

berpendapat

bahwa

hominid kuno mungkin masih memiliki


rambut sebanyak rambut leluhurnya, tetapi badannya lebih kecil dan giginya sangat
berbeda. Karena hidup di tanah yang tak berhutan lagi atau pada pinggiran hutan,

Evolusi 50

Ramapithecus terpaksa mengganti makanan khas hutan yang biasanya, yakni dedaunan
dan buah-buahan, dengan sayuran dan biji-bijian yang dicarinya di tanah. Mula-mula
Ramapithecus hanya melewatkan waktu sebentar setiap harinya untuk makan di tanah;
waktu selebihnya dihabiskan dengan berkeliaran, bermain-main, tidur dan mencari tempat
berlindung di pepohonan yang sudah dikenalnya. Sikap berdiri tegaknya paling banter
tentu masih sempoyongan, walaupun tentunya sikap tersebut lebih mudah dipertahankan
pada waktu makhluk itu berlari dengan jarak-jarak dekat, namun, karena Ramapithecus
bertampang dan berperi laku mirip kera, banyak ahli antropologi sekarang yakin bahwa
makhluk tersebut sudah membawa bibit-bibit Homo sapiens yang akan datang kemudian.
Para ahli antropologi tidak yakin bagaimana terjadinya evolusi dari Ramapithecus
ke makhluk yang sangat mungkin merupakan keturunannya, yakni Australopithecus.
Kesenjangan dalam catatan fosil selama beberapa juta tahun memberikan peluang untuk
berspekulasi mengenai periode tersebut. Bukti yang ada hanya menunjukkan bahwa
Ramapithecus mungkin telah hidup pada masa hanya delapan juta tahun yang lalu,
sedangkan bukti bagi Australopithecus diketahui hanya dari masa lima juta tahun yang
lalu.
Para ahli biologi evolusi dengan hati-hati berspekulasi bahwa kesenjangan yang
lamanya tiga juta tahun itu ditempati oleh suatu leluhur yang tak dikenal dari
Australopithecus. Tetapi sekalipun para ahli antropologi tidak mengetahui dengan jelas
apa yang terjadi pada Ramapithecus, mereka yakin bahwa Australopithecus adalah
hominid yang sangat sukses. Walaupun sisa tinggalannya hanya terdapat di Afrika, namun
orang telah dapat mengenai empat jenis, dan kini fosil-fosil tetap bermunculan begitu
cepat sehingga kerap kali bagi ilmuwan sulitlah menempatkan semuanya dalam peta
evolusi.

Evolusi 51

Leluhur manusia mulai berkembang secara terpisah dari leluhur kera besar sekitar
10 hingga 5 juta tahun yang lalu. Hal ini menandai permulaan perkembangan hominid.
Para ahli antropologi berpendapat bahwa hominid pertama termasuk mahkluk yang
menyerupai manusia disebut Australopithecines. Australopithecines pertama muncul
sekitar 4 juta tahun yang lalu di afrika. Australopithecines kelihatan sangat berbeda dari
manusia modern. Wajahnya lebih menyerupai simpanze, tetapi mereka dapat berdiri dan
berjalan diatas ke dua kakinya. Gigi taringnya lebih kecil dan kurang tajam dibandingkan
dengan gigi taring kera besar. Wajahnya lebar dan menonjol. Besar otaknya sekitar
sepertiga ukuran manusia modern. Gerahamnya besar dan rata cocok untuk mengunyah
makanan. Makanannya adalah buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian,
dan serangga.
Australopithecines termasuk dalam golongan
Australopithecus.

Spesies

paling

awal

dari

Australopithecus adalah Australopithecus anamensis


yang muncul di Afrika sebelah timur sekitar 4 juta
tahun yang lalu. Spesies ini kemudian berkembang
sekitar 3,7 juta tahun yang lalu menjadi Australopithecus afarensis. Fosil yang ditemukan
di Hadar Ethiopia memiliki tinggi 107 cm dan berat sekitar 27 kg, berjenis kelamin
wanita dan diberi nama Lucy ukuran otaknya sama besar dengan ukuran otak simpanze.
Sekitar 3 juta tahun yang lalu Australopithecus africanus menggantikan Australopithecus
afarensis. Fosil mahkluk ini memiliki tengkorak yang lebih bulat dan otak yang sedikit
lebih besar dibandingkan A. afarensis. Namun dalam hal yang lain tidak ada perbedaan.
Secara evolusioner Australopithecus africanus berkembang menjadi dua spesies, A. boisei
dan A. robustus. Keduanya dikenal sebagai australopithecines

yang tegap. Mereka

Evolusi 52

memilili geraham yang lebih besar dan rahang yang sangat kuat dibandingkan dengan
ketiga spesies Australopithecus.
Ketiga

spesies

yang

lebih

awal

disebut

australopithecines

ramping.

Australopithecines tegap muncul sekitar 1,5 hingga 1 juta tahun yang lalu. Spesies
australopithecus sangat dekat hubungannya dengan hominid yang lebih awal Ardipithecus
ramidus, yang hidup di Ethiopia sekitar 4,4 juta tahun yang lalu. Manusia awal adalah
perkembangan dari australopithecine tegap sekitar 2 juta tahun yang lalu. Homo habilis
adalah spesies manusia yang paling tua.
Homo habilis memiliki otak yang jauh lebih besar dibandingkan dengan
australopithecine, tetapi hanya setengah ukuran otak manusia modern. Gerahamnya lebih
kecil dan wajahnya tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan australopithecine.
Makanan mereka buah, serangga, tanaman lainnya dan daging sebagai tambahan. Homo
habilis jantan memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Homo habilis
betina.
Lebih dari 1 juta tahun yang lalu Homo habilis berkembang menjadi species
manusia yang lebih maju dan disebut Homo erectus. Spesies ini berdiri tegak dengan
ketinggian 150 cm, memiliki tengkorak yang lebih tebal, dahi yang lebar dan rahang yang
besar dan tak berdagu. Tengkoraknya memiliki tonjolan alis, geraham yang lebih kecil,
wajah yang lebih kecil, dan wajah yang tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan
Homo habilis. Dalam perjalanan evolusinya Homo erectus, ukuran otak betul-betul
berkembang hingga mencapai ukuran sedikit lebih kecil dari otak manusia modern.
Homo erectus jantan memiliki ukuran lebih besar dari Homo erectus betina.

Evolusi 53

Beberapa fosil Homo erectus yang paling


awal ditemukan di Afrika, berumur lebih
dari 1 juta tahun yang lalu. Beberapa
anggota spesies bermigrasi dari Afrika ke
Asia dan Eropa. Homo Erectus sampai di
pulau Jawa 1 juta tahun yang lalu,
barangkali lebih dari 1 juta tahun yang lalu. Sekitar 600 ribu tahun yang lalu spesies ini
telah menyebar ke Asia Utara. Homo Erectus sampai di Eropa sekitar 700 tahun yang lalu.
Homo erectus barangkali adalah manusia pertama yang menguasai penggunaan
api. Orang-orang ini juga telah menggunakan pakaian. Dengan berpindah ke utara dan
berjumpa dengan dinginnya musim dingin mereka membutuhkan api dan pakaian. Homo
erectus lebih trampil menggunakan alat dibandingkan dengan Homo habilis. Mereka
menciptakan kapak tangan dari batu. Fosil sisa-sisa binatang banyak ditemukan di lokasi
penemuan fosil Homo erectus. Para ilmuwan belum yakin apakah binatang ini mati
dibunuh predator atau diburu manusia. Makanan utama Homo erectus adalah buahbuahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, serangga, dan binatang kecil.
Sekitar 400 ribu hingga 300 ribu tahun yang lalu Homo erectus berkembang
menjadi spesies baru manusia yang disebut Homo sapiens. Karena proses evolusi itu
berjalan secara bertahap, para ilmuwan sulit menentukan secara tepat kapan Homo
Sapiens pertama kali muncul.
Kata Homo sapiens berarti manusia yang bijaksana. Semua manusia yang hidup
saat ini termasuk dalam spesies Homo sapiens. Tetapi Homo sapiens yang paling awal
jauh berbeda dari manusia modern.

Evolusi 54

Homo sapiens pertama sangat mirip dengan Homo erectus. Perbedaan utama
diantara mereka adalah dimilikinya tengkorak yang lebih tinggi dan lebih bulat. Namun
seperti halnya Homo erectus, Homo sapiens pertama memiliki wajah yang lebar yang
menonjol disekitar mulut dan hidung, mereka juga memiliki tulang alis yang besar dan
rendah, juga dahi yang menonjol. Orang ini tidak memiliki dagu, satu hal yang hanya
dimiliki manusia modern.
Ukuran otak Homo sapiens awal bervariasi secara luas, ada yang seperti Homo
erectus akhir, dan ada yang mendekati ukuran manusia modern. Homo sapiens awal kirakira memiliki tinggi yang sama dengan
manusia modern. Perbedaan ukuran antara
jantan dan betina yang sangat menonjol
seperti pada hominid awal mulai berkurang
pada Homo sapiens.
Manusia Neanderthal adalah satu tipe awal
Homo sapiens yang hidup di Eropa dan Timur tengah mulai 130 ribu hingga 35 ribu tahun
yang lalu. Tipe-tipe yang berbeda dari Homo sapiens awal tinggal di bagian Afrika, Eropa
dan Asia selama periode ini.
Manusia Neanderthal memiliki badan yang besar dan berotot. Mereka memiliki wajah
yang menonjol, tulang alis yang besar dan dahi yang rendah. Sebagian besar tidak
memiliki dagu, tetapi memiliki otak yang besar, rata-rata ukuran otaknya lebih besar dari
manusia modern.
Mereka lebih pintar berburu dan membuat alat dibandingkan dengan manusia awal
prasejarah. Mereka kadang berburu kuda, rusa kutub, dan mamot, tetapi mereka lebih

Evolusi 55

trampil menangkap kelinci dan binatang kecil lainnya.

Neanderthal membuat peralatan

batu yang bervariasi, yang digunakan untuk memotong binatang, memasak, mengupas
kulit binatang, dan mengukir kayu. Neanderthal adalah manusia pertama yang
menguburkan mayat mereka.
Manusia modern pertama muncul sekitar 100 ribu tahun yang lalu di Timur tengah
dan Afrika. Manusia ini memiliki dagu, dahi yang tinggi, dan wajah yang lebih kecil dan
tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan wajah awal Homo sapiens. Manusia modern
awal juga tidak memiliki tulang alis besar dan memiliki tengkorak yang lebih tinggi dan
lebih bulat. Para ilmuwan mengklasifikasikan manusia modern sebagai Homo sapiens
sapiens, yakni sub spesies dari Homo sapiens. Para ahli Antropologi yakin bahwa manusia
modern pertama adalah perkembangan dari tipe awal Homo sapiens.
B. Pengungkapan Asal-Usul Manusia Melalui DNA Mitokondria
Penelusuran asal-usul manusia seperti mendapatkan darah baru, setelah selama
puluhan tahun para ilmuwan berkutat menghubung-hubungkan riwayat fosil yang
didapatkan di berbagai belahan bumi. Darah baru itu adalah penerapan teknologi genetika
dengan menggunakan DNA mitokondria (mtDNA) untuk mencari tahu hubungan
kekerabatan antarpopulasi. Terobosan itu membuka pintu gerbang menuju pengungkapan
cikal-bakal manusia modern atas dasar persamaan genetik.
Roots adalah buku yang sangat terkenal di Amerika. Buku ini mengisahkan
perjuangan seorang keturunan budak asal Afrika yang berhasil mendapatkan jejak nenek
moyangnya di tanah kelahirannya. Dari kisahnya kita tahu, manusia punya naluri dasar
untuk menelusuri asal-usulnya.

Evolusi 56

Dalam skala yang lebih luas pencarian asal-usul manusia modern dalam konteks
evolusi, masih belum tuntas hingga kini. Para ahli arkeologi dan paleontologi tak kenal
lelah menelusuri jejak nenek moyang manusia dengan memelototi jejak, alat-alat, dan
fosil-fosil yang ditemukan. Demikian pula para pakar kebudayaan berusaha menyisir
pertalian antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Namun, bukti-bukti yang
didapat umumnya masih kurang memuaskan, karena sebagian masih berdasarkan dugaan.
Homo dan Australopithecus
Kendati begitu para pakar paleoantropologi sudah selangkah maju pada tahap
penggambaran global asal-usul manusia dalam suatu pohon keturunan. Itu pun dengan
satu catatan, penyederhanaan dan asumsi-asumsi yang tidak disepakati semua ilmuwan.
Satu hal yang mereka akur adalah adanya dua kelompok besar (genera) yang diperkirakan
muncul pada sekitar 4 juta tahun silam.
Salah satu dari dua kelompok itu adalah genus Homo atau manusia. Genus ini
muncul dalam kurun waktu 2 juta - 0,5 juta tahun lalu. Anggota dari genus ini paling
kurang terdiri atas tiga spesies: Homo habilis, Homo erectus, dan Homo sapiens.
Sampai titik ini para pakar yang bergelut dengan fosil kembali berbeda pemikiran
ihwal bagaimana genus Homo menggantikan genus Australopithecus. Genus yang muncul
lebih awal mendiami sebagian besar kawasan Afrika pada sekitar 4 juta tahun lalu.
Berbeda dengan Homo yang lebih modern, secara fisik Australopithecines, salah satu
anggota dari genus ini, mempunyai bentuk badan seperti kera dengan volume otak yang
lebih kecil dibandingkan dengan Homo. Tetapi mereka sudah amat piawai menggunakan
dua kaki, ciri khas yang persis sama dengan manusia.
Pada tahun 1925, ahli anatomi Raymond Dart adalah orang pertama yang
menggambarkan fosil Australopithecines. Fosil itu ditemukan di gua batu kapur Taung,
Afrika Selatan. Salah satunya berupa tengkorak berumur sekitar 2,5 juta tahun yang

Evolusi 57

diduga dari kepala seorang bocah. Dart mencatat bahwa lubang tempat sumsum tulang
belakang keluar dari otak berada di dasar tengkorak. Bagi Dart ini menunjukkan, bocah
itu berdiri tegak dan berjalan dengan menggunakan dua kaki. Dart memberi nama spesies
baru ini Australopithecus africanus, yang berarti kera asal selatan Afrika.
Australopithecines yang berumur lebih tua juga ditemukan, sementara tujuh
spesies

lain

berhasil

diidentifikasi.

Beberapa

spesies

ini

dinamai

Robust

australopithecines, lantaran menunjukkan roman muka dan rahang yang berat. Lucy
merupakan salah satu spesies yang paling pas untuk menggambarkan spesies ini. Ia
berumur 3,18 juta tahun dan merupakan bagian dari Australopithecus afarensis.
Lucy ditemukan oleh ahli paleoantropologi asal Amerika Donald Johanson tahun
1974 di Ethiopia. Fosilnya dianggap bisa menggambarkan manusia paling tua dan
lengkap. Bahkan para ilmuwan ketika itu sudah menganggapnya sebagai ibu dari umat
manusia.
Namun, bukti ilmiah mengindikasikan, Lucy bukanlah nenek moyang manusia
modern. Secara genetis, ia berbeda dengan manusia masa kini. Para ahli paleoantropologi
punya hipotesis, asal muasal manusia modern adalah "Hawa". Ia bukanlah manusia
pertama yang diceritakan dalam kisah penciptaan di kitab suci. Hawa dalam pandangan
para paleoantropolog adalah wanita yang hidup di Afrika antara 100.000 - 300.000 tahun
lalu.
Ia membawa salah satu tipe DNA mitokondria (Deoxyribonucleic acid di dalam
mitokondria - "pabrik energi" di dalam sel yang memasok sekitar 90% energi agar sel,
jaringan, organ, dan sistem tubuh dapat berfungsi), bagian dari sejumlah kromosom yang
berfungsi meneruskan faktor keturunan dari sel induk kepada sel turunan. Dalam hal ini,
mtDNA hanya diturunkan kepada wanita. Setelah mengkaji variasi genetik di dalam

Evolusi 58

mtDNA dalam berbagai populasi, para ilmuwan menyimpulkan, kita semua merupakan
turunan dari satu nenek moyang, wanita "Hawa" di atas.
Kesimpulan itu membuka cakrawala baru bahwa manusia modern kemungkinan
bukanlah keturunan dari manusia purba semacam Homo sapiens yang hidup 500.000
tahun lalu. Atau bahkan, spesies yang lebih tua seperti Homo habilis (2,5 - 1,6 juta tahun
lalu), Homo ergaster (1,8 - 1,4 juta tahun lalu), dan Homo erectus (1,5 juta tahun lalu).
Soalnya secara fisik Homo sapiens tampak sangat berbeda dengan manusia modern. Lebih
tegap dengan wajah lebih lebar, dan kening mata menonjol.
Max Ingman, doktor genetik asal Amerika Serikat dalam tulisan bertajuk
Mitochondrial DNA Clarifies Human Evolution mengungkapkan hal senada dengan
pendapat para paleoantropolog bahwa manusia modern berevolusi dari salah satu tempat
di Afrika antara kurun waktu 100 - 200 ribu tahun lalu. Dari situ moyang manusia masa
kini itu lantas menyebar dan mendiami tempat-tempat di luar Afrika. Gen manusia
modern ini tidak bercampur dengan gen spesies manusia kuno. Teori penyebaran manusia
ini dikenal dengan hipotesis Out of Africa dan disokong oleh bukti-bukti genetik yang
telah ditemukan.
Nenek moyang Jawa-Bali
Di Indonesia mtDNA dipakai untuk melacak jejak gen manusia purba. Hal itulah
yang dikerjakan oleh Wuryantari, lulusan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada
(UGM) tahun 1990. Ia melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan apakah manusia
dari situs Plawangan (Jawa Tengah) yang hidup sekitar 2.400 - 3.500 tahun lalu dan
Gilimanuk (Bali) sekitar 2.320 - 1.215 tahun lalu merupakan nenek moyang populasi
orang Jawa dan Bali masa kini.
Setelah bergelut selama 22 bulan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta,
Juni 2001 Wuryantari dalam disertasi berjudul Haplotipe DNA Mitokondria Manusia

Evolusi 59

Prasejarah Jawa dan Bali: Sejarah Populasi dan Kekerabatannya menyimpulkan,


manusia purba yang hidup di Plawangan dan Gilimanuk mempunyai kekerabatan dekat
dan mirip dengan manusia Jawa dan Bali yang sekarang ada. Juga, ternyata, manusia
prasejarah dari dua situs itu merupakan keturunan ras Asia atau Mongoloid dengan ciri
Polinesia.
Menurut Prof. dr. Sangkot Marzuki, MSc., PhD., Direktur Lembaga Eijkman,
penelitian terhadap DNA mitokondria sebenarnya sudah cukup lama dilakukan di luar
negeri. Di Indonesia, penelitian serupa mulai dikerjakan di Eijkman, Jakarta, tahun 1993,
mengenai keanekaragaman genom manusia di Indonesia. "Sasarannya untuk melihat
kedekatan kekerabatan di antara sejumlah etnik di Indonesia," jelas Prof. Sangkot.
Menurut Wuryantari, sebagai negara kepulauan, Indonesia didiami oleh lebih dari
438 kelompok etnik (populasi) yang tersebar di 17.500 pulau. Masing-masing populasi itu
memiliki ciri khas, baik morfologi, bahasa (dialek), maupun budaya. Berdasarkan ciri-ciri
tersebut, populasi Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok
yang mendiami Indonesia bagian barat yang mendapatkan pengaruh kuat gen mongoloid
(Austronesia), dan kelompok yang mendiami Indonesia bagian timur yang mendapat
pengaruh kuat dari gen melanesid (Austroloid).
Bagi Tari, panggilan akrab Wuryantari, penggunaan mtDNA sebagai sampel
bukanlah tanpa sebab. "Rangkaian informasi genetik yang terkandung dalam DNA
mitokondria dapat menggambarkan karakteristik suatu populasi dan sangat mungkin
merekonstruksi sejarah evolusi," jelasnya.
Tari yang dibimbing oleh dr. Herawati Sudoyo, PhD., Dr. H. Truman
Simanjuntak, dan Prof. Sangkot disokong oleh sejumlah peneliti yang percaya bahwa
mtDNA sangat berperan dalam penelusuran asal-usul manusia dari sisi ibu (maternal),
karena mtDNA hanya didapat dari dan diturunkan oleh ibu kepada anak perempuannya.

Evolusi 60

Pewarisan sepihak (ayah tidak ikut campur) ini membuat rekombinasi tidak dijumpai
pada mtDNA. Demikian juga, dalam penelusuran gen yang membawa berbagai penyakit
yang diturunkan, mtDNA telah terbukti terlibat dalam sejumlah pewarisan penyakit
tersebut.
Kendati begitu, pewarisan sifat genetik tidak selamanya berakibat suatu penyakit.
Sejumlah mutasi dan variasi lain di dalam gen ternyata juga dapat terjadi secara alamiah
dan tidak membawa akibat buruk kepada si pemilik, kecuali menyebarkan variasi individu
yang khas. Sifat ini dikenal sebagai polimorfisme genetik. Dalam penelusuran asal-usul
manusia dan pencarian hubungan kekerabatan antarberbagai ras dan suku, sifat
polimorfisme inilah yang dipakai untuk menentukan atau membedakan ras yang satu
dengan yang lain.
Lantaran mtDNA dapat berubah oleh adanya proses mutasi sehingga menghasilkan
suatu variasi, dan karena variasi tersebut diwariskan, jauh-dekatnya kekerabatan
kelompok etnik dapat dilihat dari persamaan variasi yang dimiliki suatu populasi. Variasi
mtDNA di dalam populasi dapat berupa penggantian (substitusi), penyisipan (insersi), atau
penghapusan (delesi) basa pada satu atau beberapa nukleotida tanpa menyebabkan suatu
kelainan atau penyakit.
DNA mitokondria tersusun atas 16.569 unit pasangan basa (nukleotida) dalam
setiap lingkarannya. Setiap unit merupakan kombinasi dari basa-basa adenin (A), guanin
(G), sitosin (C), dan timin (T). Dengan kecepatan mutasi 5 - 10 kali lebih cepat daripada
DNA inti, molekul mtDNA sangat polimorfik alias beragam.
Dalam penelitiannya, Wuryantari yang menyelesaikan S1-nya dengan predikat
cum laude itu menggunakan beberapa penanda genetik yang lazim digunakan dalam
mempelajari populasi. Tujuannya, untuk menentukan karakteristik genetik yang menandai

Evolusi 61

suatu populasi berdasarkan variasi susunan basa di daerah mtDNA dan polimorfisme di
bagian lain mtDNA dari sampel fosil-fosil itu.
Selain itu, penelitian juga untuk menjawab apakah ada hubungan antara manusia
prasejarah dari kedua situs itu dengan manusia Jawa dan Bali sekarang. Indikatornya
adalah dengan mencari adanya delesi 9-pb pada daerah tertentu dan motif Polinesia pada
DNA mitokondria. Sementara untuk membuktikan bahwa fosil tersebut berjenis kelamin
wanita, Tari menggunakan penanda gen amilogenin.
Adanya variasi susunan basa di daerah HVR-I pada D-Loop mtDNA pada pasangan
basa di urutan ke-16189, 16217, 16261, dan 16519 memberikan gambaran bahwa
manusia yang ditemukan di Plawangan dan Gilimanuk tersebut sama-sama merupakan
keturunan ras Asia dengan ciri Polinesia. Manusia Plawangan dan Gilimanuk tersebut
memiliki haplotipe mtDNA kelompok M-a dan B*. Hal ini menunjukkan, keduanya
mendapat pengaruh kuat gen Mongoloid (berbahasa Austronesia).
Kode-kode dan istilah-istilah genetika di atas yang dipakai Wuryantari dalam
kesimpulannya memang tidak gampang dipahami oleh masyarakat awam. Tetapi deretan
kode dan istilah-istilah itu mengungkapkan bahwa jumlah mutasi pada mtDNA merupakan
cermin kekerabatan dua kelompok. Semakin besar jumlah variasi yang memisahkan dua
kelompok etnik, semakin jauh jarak kekerabatan antara kedua kelompok tersebut. Bahkan
kalau ada dua orang yang mtDNA-nya persis sama, kekerabatan di antara keduanya
sangatlah dekat. Mungkin satu ibu, satu nenek, atau satu nenek moyang.

Evolusi 62

DAFTAR PUSTAKA

Ridley, M. Masalah-Masalah Evolusi. Airlangga Press. Jakarta. 1986


Futuyama. Evolution Biologi. Mc. Grow Hill & Son Press. New York. 1972
Joko, S. Bahan Kuliah Pengantar Evolusi. Jurusan Biologi ITB Bandung. 1998.
Ruth, M. Evolusi. Tira Pustaka Jakarta. 1984
Sastrodihardjo,S. Teori Evolusi. Departemen Biologi ITB Bandung. 1980
Suryo. Genetika. Gajahmada University Press Jogjakarta Press. 1984.
Fernandez, B. Sejarah Singkat Bumi Dan Kehidupannya.. http; WordPress.com. Akses : 4 Februari
2007.